Anda di halaman 1dari 9

BAB 4.

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
4.1.2 Tabel Data Climate Stasiun Iklim Kupang

4.1.2 Tabel Data CWR Stasiun Iklim Kupang

4.1.3 Tabel Skema Irigasi Tanaman Jagung

4.2 Pembahasan
Neraca air (water balance) merupakan neraca masukan dan keluaran air
disuatu tempat pada periode tertentu, sehingga dapat digunakan untuk mengetahui
jumlah air tersebut kelebihan (surplus) ataupun kekurangan (defisit). Kegunaan
mengetahui kondisi air pada surplus dan defisit dapat mengantisipasi bencana
yang kemungkinan terjadi, serta dapat pula untuk mendayagunakan air sebaikbaiknya. Manfaat secara umum yang dapat diperoleh dari analisis neraca air
antara lain:
1. Digunakan sebagai dasar pembuatan tempat penyimpanan dan pembagian air
serta saluran-salurannya. Hal ini terjadi jika hasil analisis neraca air didapat
banyak bulan-bulan yang defisit air.
2. Sebagai dasar pembuatan saluran drainase dan teknik pengendalian banjir. Hal
ini terjadi jika hasil analisis neraca air didapat banyak bulan-bulan yang surplus
air.
3. Sebagai dasar pemanfaatan air alam untuk berbagai keperluan pertanian seperti
sawah, perkebunan, dan perikanan.
Model neraca air cukup banyak, namun yang biasa dikenal terdiri atas tiga
model antara lain:

1. Model Neraca Air Umum


Model ini menggunakan data klimatologis dan bermanfaat untuk
mengetahui berlangsungnya bulan-bulan basah (jumlah curah hujan melebihi
kehilangan air untuk penguapan dari permukaan tanah atau evaporasi maupun
penguapan dari sistem tanaman atau transpirasi, penggabungan keduanya
dikenal sebagai evapotranspirasi).
2. Model Neraca Air Lahan
Model ini merupakan penggabungan data klimatologis dengan data
tanah terutama data kadar air pada Kapasitas Lapang (KL), kadar air tanah
pada Titik Layu Permanen (TLP), dan Air Tersedia (WHC = Water Holding
Capacity).
3. Model Neraca Air Tanaman
Model ini merupakan penggabungan data kilmatologis, data tanah dan
data tanaman. Neraca air ini dibuat untuk tujuan khusus pada jenis tanaman
tertentu. Data tanaman yang digunakan adalah data tanaman pada komponen
keluaran dari neraca air.
Pemodelan neraca air tersebut, nantinya dapat digunakan untuk mengukur
dinamika kadar air yang terdapat dalam tanah. Hal tersebut sangat diperlukan
untuk mengetahui jumlah kebutuhan air tanaman untuk dapat berproduksi secara
normal. Hasil analisis neraca air tersebut nantinya dapat dipetakan berdasarkan
wilayah masing-masing dengan menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG)
sehingga dapat diketahui potensi ketersediaan dan kebutuhan air pada wilayah
tersebut.
Neraca air sangat dibutuhkan dalam mengelola kebutuhan air pada lahan
pertanian. Dengan mengetahui kebutuhan airnya, maka selanjutnya dapat
ditentukan jenis tanaman yang dapat ditanam pada wilayah tersebut. Kebutuhan
air irigasi sebagian besar dipasok oleh air permukaan yang dipengaruhi oleh
faktor-faktor seperti klimatologi, kondisi tanah, koefisien tanaman, pola tanam,
pasokan yang diberikan, luas daerah irigasi, efisiensi irigasi, jadwal tanam dan
lain-lain. Kebutuhan air untuk sawah irigasi ditetapkan 1 liter/detik/ha. Angka ini
bila dikonversi dalam mm menjadi 1200 mm/ tahun, jika sawah tersebut hanya

sekali panen dalam satu tahun. Jika dua kali panen dalam satu tahun maka
kebutuhan airnya menjadi 2400 mm/tahun. Jika pada lahan tersebut diselingi
palawija ( 1 kali padi dan 1 kali palawija) maka kebutuhan airnya menjadi 2000
mm/tahun. Sedangkan tanah tegal dengan komposisi tanaman seperti kacang
tanah, jagung, dan singkong dengan rincian kacang tanah dan jagung dapat
dipanen dua kali (musim tanam I dan II) dan pada musim tanam III hanya
tanaman singkong yang ada. Kebutuhan air pada komposisi jenis tanam yang
demikian diperkirakan sebesar 1200 mm/tahun.
Usaha intensifikasi lahan pertanian terutama sangat ditentukan oleh neraca
ketersediaan dan kebutuhan air pertanian. Untuk wilayah yang memiliki neraca
ketersediaan dan kebutuhan air pertanian positif, maka diprediksi daerah tersebut
akan memiliki peluang peningkatan indek pertanaman yang tinggi. Pemanfaatan
sumber air alternatif dan efisiensi pendistribusian air juga diketahui dapat
meningkatkan indeks pertanaman. Dengan penggunaan neraca air, maka dapat
dilakukan identifikasi terhadap potensi ketersediaan air dan kebutuhan air
tanaman pada berbagai skenario pola tanam di lahan irigasi dan non-irigasi serta
dapat mengelompokkan status neraca ketersediaan dan kebutuhan air pertanian
untuk setiap daerah irigasi atau wilayah persawahan sehingga dapat dibuat
inventarisasi daerah-daerah yang dapat ditingkatkan indeks pertanamannya. Data
tersebut juga dapat digunakan untuk mengatur jadwal tanam serta jadwal
pemberian irigasi pada lahan pertanian sehingga produksi tanaman dapat terjaga.
Saat ini sudah mulai banayak dilakukan pemanfaatan teknologi informasi
dalam bentuk aplikasi yang dapat digunakan untuk menghitung neraca air
berdasarkan data iklim yang diperoleh. Aplikasi yang dapat digunakan dalam
analisis neraca air tersebut diantaranya adalah Climwat dan Cropwat. Climwat
dapat digunakan untuk memperoleh data iklim dari berbagai stasiun iklim yang
tersebar di seluruh bagian dunia. Data iklim yang telah diperoleh tersebut nantinya
dapat digunakan untuk menganalisis neraca air dengan memanfaatkan aplikasi
Cropwat. Aplikasi Cropwat dapat menghitung potensi dan kebutuhan air pada
suatu wilayah dan juga dapat menggambarkan skema pengelolaan irigasi yang
dapat disesuaikan dengan rencana pertanaman yang akan dilakukan.

Prosedur perhitungan yang digunakan dalam semua Sofware Cropwat 8.0


didasarkan pada dua publikasi dari FAO Irigasi dan Drainase Series, yaitu, No 56
"Evapotranspirasi Tanaman - Pedoman untuk kebutuhan air tanaman komputasi"
dan Nomor 33 berjudul "Tanggapan Hasil untuk air". Sebagai titik awal, dan
hanya untuk digunakan saat data lokal tidak tersedia, Sofware Cropwat 8.0
termasuk tanaman standar dan data tanah. Ketika data lokal yang tersedia, file-file
data dapat dengan mudah diubah atau yang baru dapat diciptakan. Demikian juga,
jika data iklim lokal tidak tersedia, ini dapat diperoleh untuk lebih dari 5.000
stasiun di seluruh dunia dari Climwat, data iklim terkait. Perkembangan jadwal
irigasi di Sofware Cropwat 8.0 didasarkan pada keseimbangan tanah, air setiap
hari menggunakan pilihan yang ditetapkan pengguna berbagai untuk suplai air dan
kondisi pengelolaan irigasi. Skema pasokan air dihitung sesuai dengan pola tanam
yang ditentukan oleh pengguna, yang dapat berisi hingga 20 tanaman (Allen et al.,
1998).

Grafik 5.1 Data iklim stasiun iklim Kupang.


Berdasarkan tabel data iklim (tabel 4.1.1) maka dapat ditentukan kondisi
iklim pada daerah tersebut. Layaknya daerah lainnya, daerah Kupang memiliki
kondisi iklim dengan suhu normal berkisar antara 200C hingga 340C. Kelembaban
udara rata-rata pertahun pada daerah tersebut adalah 73% dengan kecepatan angin
mencapai 69 kilometer per hari. Lama penyinaran matahari rata-rata pertahunnya
8,8 jam dengan radiasi rata-rata 21,9 MJ/m/hari. Sedangkan evaporasi (ETo) ratarata pertahun adalah 4,59 mm per hari.

Grafik 5.2 Kebutuhan air pada komoditas jagung.


Dari grafik tersebut, dapat diketahui bahwa kebutuhan air pada tanaman
jagung dipengaruhi oleh faktor-faktor evapotranspirasi yaitu penyinaran matahari,
angin, kelembaban udara, tekanan udara, dan temperatur. Evapotranspirasi sering
disebut juga dengan kebutuhan konsumtif tanaman yang merupakan jumlah air
untuk evaporasi dari permukaan areal pertanaman dengan air untuk transpirasi
dari tubuh tanaman. Pada kasus ini, tanaman jagung memerlukan jumlah air
sebanyak 430,6 mm/dec selama masa tanam. Pada awal masa tanam yaitu pada
Mei dekade kedua hingga bulan Juli dekade pertama, tanaman jagung hanya
memerlukan air kurang dari 40 mm/dec. Kebutuhan air tanaman jagung kemudian
meningkat pada bulan Juli dekade kedua sampai bulan Agustus dekade ketiga.
Selanjutnya setelah memasuki masa generatif, kebutuhan air tanaman jagung
mulai menurun. Kebutuhan air tertinggi yaitu 54,9 mm/dec terjadi pada bulan
Agustus dekade ketiga.
Irigasi sudah perlu dilaksanakan sejak awal pertanaman yaitu bulan Mei
dekade kedua dengan jumlah irigasi sebesar 1,2 mm/dec. Kebutuhan irigasi
menjadi meningkat pada bulan-bulan selanjutnya hingga mencapai klimaks pada
bulan Agustus dekade ketiga yaitu sebesar 53,5 mm/dec. Pada bulan Agustus
dekade kedua hingga ketiga, Irigasi yang diperlukan sangat tinggi karena pada
masa tersebut tanaman jagung mulai memasuki masa akhir vegetatif dan mulai
masuk ke fase generatif sehingga kebutuhan airnya sangat tinggi. Disisi lain curah
hujan pada bulan tersebut sangat rendah karena sudah memasuki bulan kering.

Setelah melewati dua dekade dengan kebutuhan irigasi yang tinggi tersebut, pada
dekade selanjutnya yaitu bulan september dekade pertama hingga ketiga
kebutuhan irigasi mulai menurun karena tanaman mulai memasuki fase
pematangan sehingga kebutuhan air tanaman akan sangat rendah. Secara
keseluruhan, tanaman jagung mulai dari awal tanam sampai masa panen
memerlukan air sebanyak 430,6 mm/dec sedangkan air yang tersedia dari hujan
hanya sebesar 52,5 mm/dec sehingga diperlukan irigasi sebanyak 379,1 mm/dec
untuk memenuhi sisa kebutuhan air tanaman.
Berdasarkan tabel data iklim dan data CWR yang telah diperoleh dari
stasiun iklim Kupang, maka selanjutnya dapat diketahui skema irigasi pada usaha
pertanian yang dilakukan di daerah tersebut yang dapat dilihat pada tabel 4.1.3
diatas. Cropwat dengan sendirinya dapat menganalisis skema irigasi berdasarkan
data yang telah dimasukkan. Kali ini, skema irigasi ditujukan untuk pertanaman
jagung di daerah sekitar stasiun iklim Kupang tersebut. Tanaman yang dipilih
termasuk tanaman yang tidak banyak memerlukan air sehingga mampu hidup
pada bulan kering. Dalam pertanaman jagung ini, dibutuhkan hingga sebanyak 4
kali irigasi. Irigasi pertama dapat dilakukan pada 30 hari setelah tanam. Irigasi
kedua dapat dilakukan pada 60 hari setelah tanam. Irigasi ketiga dapat dilakukan
pada 85 hari setelah tanam. Irigasi terakhir dapat dilakukan pada hari ke 120
setelah tanam.

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Neraca air (water balance) merupakan neraca masukan dan keluaran air disuatu
tempat pada periode tertentu, sehingga dapat digunakan untuk mengetahui
jumlah air tersebut kelebihan (surplus) ataupun kekurangan (defisit).
2. Neraca air diperlukan untuk mengetahui ketersediaan dan kebutuhan dalam
suatu perencanaan pertanaman sehingga dapat digunakan untuk menentukan
jenis tanaman yang dapat ditanam serta skema irigasi yang dapat dilakukan.
3. Berdasarkan data iklim dan data kebutuhan air tanaman (CWR) maka dapat
dilakukan perencanaan irigasi sehingga kebutuhan air untuk tanaman jagung
dapat terpenuhi.
4. Curah hujan yang sedikit menyebabkan perlu dilakukan perencanaan irigasi
sebanyak 4 kali dalam pertanaman jagung.

5.1 Saran
Praktikan masih kesulitan dalam menganalisa hasil yang diperoleh pada
aplikasi Cropwat terutama mengenai pembacaan grafik skema irigasi tanaman.
Sebaiknya modul praktikum dapat lebih dilengkapi dan asisten dapat memberikan
materi dengan lebih lengkap sehingga dapat memberikan gambaran kepada
praktikan terutama mengenai cara membahas data yang telah diperoleh.

DAFTAR PUSTAKA

Purnama, S., S. Trijuni, F. Hanafi, T. Aulia dan R. Razali. 2012. Analisis Neraca
Air di DAS Kupang dan Sengkarang. Yogyakarta: Pohon Cahaya.
Allen, R. G., L. S. Pereira, D. Raes, M. Smith. 1998. Crop Evapotranspiration:
Guidelines for Computing Crop Water Requirements. Rome: Food and
Agriculture Organization of the United Nations.