Anda di halaman 1dari 32

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sistem Informasi Manajemen (SIM). Anda pasti pernah mendengarnya. Dalam bayangan
mungkin berhubungan dengan perusahaan-perusahaan. besar. Pendapat ini memang tak salah,
namun SIM juga tak hanya sering digunakan oleh perusahaan, lembaga pendidikan seperti
universitas juga menggunakan SIM. Sebenarnya apakah SIM itu?
SIM adalah serangkaian sub-sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi yang
secara rasional mampu menstransformasikan data sehingga menjadi informasi dengan
berbagai cara guna meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer
dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan . Dengan kata lain SIM adalah sebagai suatu sistem
berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan
yang sama. Dalam teori SIM, komputer bukan prasyarat mutlak bagi sebuah SIM, namun
dalam praktek SIM yang baik tidak akan ada tanpa bantuan kemampuan pemrosesan
computer. Bagaimanapun untuk melakukan koordinasi dalam SIM akan lebih terbantu jika
melibatkan computer.
Berbagai perusahaan kini memerlukan SIM. Dengan pengelolaan SIM yang tepat, tentunya
perusahaan berikut akan berkembang. Namun meskipun telah mengeluarkan biaya yang
besar, pengembangan SIM pada suatu perusahaan tidak berhasil. Oleh karena itu diperlukan
evaluasi apa sajakah yang dapat menyebabkan kegagalan pada pengembangan SIM tersebut.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan penulis membuat karya tulis ini adalah untuk mengetahui seperti apakah SIM itu
sebenarnya dan faktor-faktor apakah saja yang dapat menjadi penyebab gagalnya
pengembangan SIM di perusahaan.
1.3 Identifikasi Masalah
1) Seperti apakah konsep dari sebuah Sistem Informasi Manajemen?
2) Bagaimanakah tingkat evolusi dari Sistem Informasi Manajemen?

3) Mengapa banyak organisasi/perusahaan yang gagal mengembangkan sistem


informasinya?
4) Bagaimanakah perkembangan Sistem Informasi Manajemen di Indonesia saat ini?

1.4 Pembatasan Masalah


Karena pembahasan dari Sistem Informasi Manajemen amat luas, maka penulis membatasi
permasalahan yang akan dibahas pada makalah ini, yaitu:
1) Konsep dari sebuah Sistem Informasi Manajemen.
2) Alasan yang menjadi penyebab gagalnya organisasi/perusahaan mengelola Sistem
Informasi Manajemennya sendiri

1.5 Rumusan Masalah


1) Definisi serta konsep dari Sistem Informasi Manajemen.
2) Faktor-faktor penyebab gagalnya perusahaan/organisasi mengembangkan Sistem
Informasi Manajemennya sendiri.

BAB II
METODELOGI PENELITIAN
2.1 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada tanggal 21 Mei 2012.
2.2 Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu menjabarkan permasalahan yang
berkenaan dengan penelitian pada Buku Modul Manajemen Universitas Pamulang Lilis
Suryani, SE.
2.3 Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah melakukan studi
kepustakaan dan browsing di internet.
2.4 Studi Kepustakaan
Penulis menggunakan studi kepustakaan yaitu dengan cara membaca buku, serta mencari
sumber-sumber di internet yang berkaitan dengan permasalahan.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 KONSEP SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Sistem informasi Manajemen (SIM) adalah serangkaian sub sistem informasi yang
menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu yang mampu mentransformasi data
sehingga menjadi informasi lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas yang
sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kriteria mutu yang telah ditetapkan. Menurut
beberapa ahli SIM adalah:

Robert G. Murdick & Joel E Ross


Proses komunikasi dimana input dan output yang direkam, disimpan dan diproses
untuk pengambialn keputusan, mengenai perancangan, pengoperasian dan
pengendalian.

Gordon B Davis
Sistem manusia dan mesin yang terpadu untuk menghasilkan informasi guna
mendukung operasi manajemen dan fungsi pengambilan keputusan dalam suatu
organisasi.

Dari definisi diatas dapat diuraikan lebih lanjut bahwa:


1. Sistem Informasi Manajemen memiliki sub-sitem informasi. Sistem Informasi
Manajemen adalah serangkaian sub-sistem, dimana sub-sistem tersebut mendukung
tercapainya sasaran Sistem Informasi Manajemen dan organisasi sebagian dari subsistem berperan hanya dalam satu kegiatan atau lapisan manajemen, sementara yang
lainya berperan ganda.
2. Sistem Informasi Manajemen di koordinasikan secara terpusat untuk menjamamin
bahwa data yang di proses dapat di operasikan secara terencana dan terkoordinasi.
Semuanya untuk menjamin bahwa informasi melewati dan menuju sub-sistem yang
diperlukan, serta menjamin bahwa sistem informasi bekerja secara efisien.

3. Sistem Informasi Manajemen mentransformasikan data kedalam informasi. Apabila


data diolah dan berguna bagi manajer untuk tujuan tertentu, maka ia akan menjadi
informasi.
4. Sistem Informasi Manajemen sesuai dengan gaya manajer Sistem Informasi
Manajemen dikembangkan lewat pengenalan atas sifat dan gaya manajerial dari
personil yang akan menggunakannya. Para perancang sistem apabila akan
mengembangkan Sistem Informasi Manajemen hendaknya mempertimbangkan faktor
manusiawi dengan cermat. Apabila tidak demikian, maka sistem yang dihasilkan tidak
efektif.
Untuk lebih memahami definisi dari SIM, perhatkan model definisi SIM dibawah ini:

Pemroses informasi berada pada sebelah kiri. Ia mencakup komputer dengan database yang
berisi data dan infomasi yang berasal data dan informasi yang berasal dari internal dan
lingkungan dan juga perpustakaan software. Unsur penting lain yang walaupun tidak nampak
pada model tersebut adalah staf spesialis infomasi.

Pemroses informasi memberikan informasi dalam tiga bentuk dasar kepada pemakai SIM.
Pemakai, yang ditampilkan di tengah dengan diagram organisasi ditempatkan pada tingkat
organisasional dan dalam semua area fungsi.
Sisi sebelah kanan dari model menunjukkan bagaimana informasi digunakan dalam
pemecahan masalah. Tanda panah besar yang menghubungkan ketiga bentuk informasi
dengan langkah pemecahan masalah menunjukkan bagaimana pemakai menerapkan output
SIM. Informasi tersebut memberi keterangan kepada masalah, bukan kepada keputusan
tertentu, dan ia diperuntukkan bagi manajer untuk menentukan bagaimana informasi tersebut
akan digunakan.
Kegiatan dari manajemen yang merupakan salah satu bagian dari SIM, yaitu:
Proses manajemen didefinisikan sebagai aktivitas-aktivitas:

Perencanaan, formulasi terinci untuk mencapai suatu tujuan akhir tertentu adalah
aktivitas manajemen yang disebut perencanaan. Oleh karenanya, perencanaan
mensyaratkan penetapan tujuan dan identifikasi metode untuk mencapai tujuan
tersebut.

Pengendalian, perencanaan hanyalah setengah dari peretempuran. Setelah suatu


rencana dibuat, rencana tersebut harus diimplementasikan, dan manajer serta pekerja
harus memonitor pelaksanaannya untuk memastikan rencana tersebut berjalan
sebagaimana mestinya. Aktivitas manajerial untuk memonitor pelaksanaan rencana
dan melakukan tindakan korektif sesuai kebutuhan, disebut kebutuhan.

Pengambilan Keputusan, proses pemilihan diantara berbagai alternative disebut


dengan proses pengambilan keputusan. Fungsi manajerial ini merupakan jalinan
antara perencanaan dan pengendalian. Manajer harus memilih diantara beberapa
tujuan dan metode untuk melaksanakan tujuan yang dipilih. Hanya satu dari beberapa
rencana yang dapat dipilih. Komentar serupa dapat dibuat berkenaan dengan fungsi
pengendalian.

Berikut ini merupakan karakteristik dari SIM :


1. Merupakan salah satu dari 5 sub sistem dalam CBIS (Computer Based Information
System/Sistem Informasi Berbasis Komputer).

2. Merupakan tujuan untukmempertemukan seluruh informasi yang diperlukan oleh


manajer pada semua tingkat organisasi.
3. Merupakan seluruh fungsi sistem informasi didalam suatu sub sistem input, database
dan sub sistem output.
4. Memberikan gambaran terhadap atitude eksekutif dengan penyediaan komputer untuk
membantu pemecahan masalah organisasi.
Kemampuan sebuah Sistem Informasi Manajemen, meliputi :
Pengetahuan tentang potensi kemampuan sistem informasi yang dikomputerisasi akan
memungkinkan seorang manajer secara sistematis menganalisis masing-masing tugas
organisasi dan menyesuaikannya dengan kemampuan komputer.
SIM secara khusus memiliki beberapa kemampuan teknis sesuai yang direncanakan baginya.
Secara kolektif kemampuan ini menyangkal pernyataan bahwa komputer hanyalah mesin
penjumlah atau kalkulator yang berkapasitas tinggi, sebenarnya komputer tidak dapat
mengerjakan sesuatu ia hanya mengerjakan lebih cepat. Sistem informasi komputer dapat
memiliki sejumlah kemampuan jauh diatas sistem non komputer. Dan kemampuan ini telah
merevolusikan proses manajemen yang menggunakan informasi yang dihasilkan oleh sistem
yang telah ada. Beberapa kemampuan teknis terpenting dalam sistem komputer :
1. Pemrosesan data batch
2. Pemrosesan data tunggal
3. Pemrosesan on-line, real time
4. Komunikasi data dan switching pesan
5. Pemasukan data jarak jauh dan up date file
6. Pencarian records dan analisis
7. Pencarian file
8. Algoritme dan model keputusan
9. Otomatisasi kantor.
Dengan kata lain SIM adalah sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan
informasi bagi beberapa pemakai dengan kebutuhan yang sama. Sebenarnya secara teori,
komputer bukanlah persyarat mutlak bagi sebuah Sistem Informasi Manajemen (SIM),
namun dalam praktek agaknya menjadi suatu kepercayaan bahwa Sistem Informasi
7

Manajemen yang baik tidak akan berjalan lancar tanpa bantuan kemampuan sebuah
komputer, sehingga timbulah sistem informasi berbasis komputer (CBIS). Berikut ini
merupakan bagan yang menjelaskan SIM sebagai sub unit suatu sistem
Computer-Based
Information System (CBIS)

Export System

Office Automation
System

Decission
Support
System

Management
Information
System (MIS)

Data
Proccesing
System

Bagan diatas menunjukkan SIM sebagai subsistem Sistem Informasi Berbasis Komputer
Para pemakai biasanya membentuk suatu entitas organisasi formal, perusahaan atau sub unit
dibawahnya. Informasi menjelaskan perusahaan atau salah satu sistem utamanya mengenai
apa yang terjadi di masa lalu, apa yang terjadi sekarang dan apa yang mungkin terjadi di
masa yang akan datang. Informasi tersebut tersedia dalam bentuk laporan periodik, laporan
khusus dan ouput dari model matematika. Output informasi digunakan oleh manajer maupun
non manajer dalam perusahaan saat mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah.

3.2 PENGERTIAN SISTEM INFORMASI PERUSAHAAN

Sistem Informasi Perusahaan adalah suatu sistem berbasis komputer yang dapat melakukan
semua tugas akuntansi standar bagi semua unit organisasi secara terintegrasi dan
terkoordinasi. Disebut juga EntIS (Enterprise Information System).

Pengertian Lain:
Platform teknologi yang bisa menyatukan semua informasi dari berbagai bagian menjadi satu
informasi secara logical, sehingga perusahaan/organisasi mendapatkan informasi yang
dibutuhkan dengan mudah.

Enterprise Information System ( EntIS )


Alasan penggunaan Enterprise karena sistem ini mencangkup seluruh set proses yang
digunakan oleh organisasi, Manufaktur, Penjualan, Pembeliaan Dan fungsi bisnis lainnya.

Tujuan EntIS :
Mengumpulkan dan menyebarkan data ke seluruh proses yang terdapat di sebuah organisasi.
EntIS menyediakan data yang digunakan manajer untuk membuat sebuah keputusan dalam
merencanakan dan mengendalikan proses bisnis.

Contoh EntIS :
ERP, merupakan sistem yang memungkinkan manajemen atas seluruh sumber daya
manufaktur (MRP) yang berasal dari area manufaktur.

Evolusi Sistem Informasi Perusahaan


Dimulai dengan ide untuk membuat suatu tempat penyimpanan yang dapat diakses oleh
seluruh resource yang ada di dalam perusahaan.
Tahun 1960, Sistem Pengolahan Transaksi Berevolusi menjadi Sistem Informasi
Manajemen (SIM). Alasan penggunaan Sistem Informasi Manajemen (SIM) karena
para manajer tidak puas hanya menghitung apa yang telah terjadi di dalam bisnis,
mereka ingin mengendalikan
bisnis di masa depan. Berevolusi menjadi Sistem Pencatatan Kebutuhan Material

(MRP). MRP pertama kali dikembangkan di area manufaktur untuk mengawasi


permasalahan pengendalian persediaan yang rumit.
MRP II

Menyatukan proses bisnis yang sebelumnya dipandang sebagai proses-prose


yang
Terpisah. Menyatukan berbagai proses berarti mengintegrasikan berbagai
sistem
Informasi terpisah untuk proses tersebut.

Menggambarkan perubahan pola pikir manajemen untuk memperlakukan


berbagai
Prose yang terpisah tetapi berkaitan erat sebagai satu kesatuan.
Enterprise Resource Planning (ERP) merupakan seluruh sistem informasi
mengenai berbagai proses di dalam batas perusahaan dikonsolidasi.

Perkembangan Sistem Informasi di Perusahaan


Bagi perusahaan konservatif yang memutuskan untuk melibatkan teknologi informasi dalam
aktivitasnya sehari-hari, perjalanan implementasi yang ada merupakan sebuah evolusi.
Sebelum teknologi informasi memiliki fungsi yang strategis dalam arti kata dapat secara
signifikan meningkatkan kepuasan pelanggan terhadap produk atau jasa yang diberikan
perusahaan, teknologi informasi harus melalui skenario tertentu yang dimulai dengan
peranannya sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi perusahaan. Kecepatan evolusi
yang harus dilalui sangat bergantung kepada bagaimana manajemen dapat menilai dan
meningkatkan fungsi teknologi informasi bagi perusahaannya.
Jarang sekali terlihat sebuah perusahaan yang langsung dapat memanfaatkan teknologi
informasi yang dimilikinya menjadi sesuatu yang strategis. Biasanya cara manajemen
memandang teknologi informasi dan benefit yang diharapkan dari penggunaannya melalui
sebuah skenario evolusi serupa. Sebuah lembaga riset internasional mendeskripsikannya
sebagai suatu inovasi penggunaan teknologi informasi di perusahaan. Secara umum, ada lima
tahapan evolusi yang biasa dilalui sebuah organisasi (Primozic et.al., 1991).
Terhadap lima tahapan evolusi ini, secara garis besar, pemanfaatan teknologi informasi dapat
dilihat dari dua sudut: fokus atau harapan manajemen akan benefit yang harus diberikan

10

teknologi informasi, dan penggunaan atau fungsinya sehari-hari untuk memenuhi harapan
tersebut.
Permasalahan pertama yang biasa ditemui oleh para manajer di perusahaan adalah problem
efisiensi proses kerja atau aktivitas operasional setiap hari. Permasalahan ini sangat klasik
dihadapi perusahaan tradisional sampai modern karena semuanya melibatkan urusan
administrasi. Mulai dari hal-hal yang paling kritikal seperti fungsi keuangan (tentu saja untuk
sebuah perusahaan baru, kontrol terhadap arus uang yang masuk dan keluar adalah masalah
yang harus diprioritaskan), sampai dengan urusan paperworks (manajemen dokumentasi).
Secara tidak ragu-ragu perusahaan akan menanamkan investasinya untuk membeli komputer
jika jelas terbukti bahwa urusan administratif akan menjadi lebih murah, lebih baik, dan lebih
cepat dalam tiga hal pokok: efisiensi, efektivitas, dan kontrol internal.

Sumber: Keneth Primozic et.al, 1991

Tahap kedua dalam evolusi disebut sebagai leveraging investment dimana komputer atau
teknologi informasi dipandang sebagai suatu asset perusahaan yang menguntungkan
dibandingkan dengan penggunaan teknologi serupa (value for money). Biasanya
perbandingan tersebut dilihat dari seberapa menguntungkan dari segi finansial seandainya
11

teknologi informasi menggantikan teknologi terdahulu dalam proses penciptaan produk atau
pelayanan yang ditawarkan perusahaan. Sebutlah penggunaan internet phone yang jauh lebih
murah karena untuk komunikasi interlokal atau internasional hanya akan dibebankan pulsa
lokal. Contoh lainnya adalah penggunaan email yang dapat menghemat biaya pengiriman
dokumen-dokumen melalui kurir lokal atau internasional.
Tahap evolusi ketiga yang dilalui adalah ketika teknologi informasi sudah dilibatkan secara
langsung dalam proses penciptaan produk atau jasa sehingga secara nature meningkatkan
kualitas produk atau jasa yang ditawarkan. Kriteria cukup jelas di sini untuk mengukur
seberapa jauh tingkat efektivitas teknologi informasi yang dimiliki. Manajemen akan melihat
apakah dengan diimplementasikannya sistem teknologi informasi akan dapat meningkatkan
pendapatan atau revenue perusahaan atau tidak (company growth). Salah satu ukuran yang
sering digunakan adalah dengan melihat perubahan pada market share. Jenis-jenis teknologi
informasi yang popular dimanfaatkan pada periode ini adalah yang secara langsung
meningkatkan kepuasan pelanggan, terutama yang berhubungan dengan pelayanan kepada
customers. Contohnya adalah call center atau hot line di industri perbankan yang dapat
melayani pertanyaan-pertanyaan sampai dengan instruksi transaksi yang diinginkannasabah
(sehingga yang bersangkutan tidak harus berlelah-lelah datang dan antri di bank). Contoh
lainnya adalah pembelian berang melalui mail order yang dapat dengan mudah dilakukan
melalui internet.
Periode keempat adalah tahapan dimana perusahaan yang sudah mature akan
mempertimbangkan untuk memperbaiki kinerja internal perusahaan. Caranya adalah dengan
memfokuskan diri pada kualitas pengambilan keputusan. Decision Support System dan
Executive Information System adalah dua jenis aplikasi teknologi informasi yang
mendominasi perusahaan-perusahaan modern yang ingin meningkatkan kualitas manajemen
dalam menunjang proses pengambilan keputusan. Filosofi yang dipergunakan sehubungan
dengan hal ini cukup simple dan straightforward. Data akan diolah menjadi informasi,
informasi akan menjadi knowledge, dan knowledge inilah yang akan menjadi modal utama
untuk meningkatkan kinerja perusahaan karena merupakan basis dalam pengambilan
keputusan. Tidak sedikit perusahaan-perusahaan yang memutuskan untuk melakukan
perubahan besar-besaran seperti restrukturisasi, business process reengineering, total quality
management, change management, danprogram-program manajemen perubahan lainnya
untuk memperbaiki kinerja perusahaan. Teknologi informasi sebagai fasilitas penunjang
12

dalam pengambilan keputusan dilihat sebagai salah satu komponen utama yang menjadi
pedoman dalam pendefinisian sistem dan prosedur perusahaan yang baru.
Era kelima yang merupakan evolusi terakhir yang dialami terutama oleh perusahaan yang
bergerak di bidang jasa. Pada tahap ini, perusahaan secara agresif melakukan eksploitasi
pengembangan teknologi informasi untuk menjangkau para pelanggan atau calon pelanggan
di mana saja, kapan saja, 24-jam sehari, dan 7 hari seminggu. Bahasa populernya adalah
bahwa di era globalisasi, teknologi menawarkan dunia industri untuk menembus batas ruang
dan batas waktu. Sesuai dengan teori supply chain management yang menekankan
pentingnya hubungan langsung antara pelanggan dan perusahaan dapat dengan mudah
dilakukan melalui utilisasi teknologi informasi tercanggih.
Contohnya adalah home banking yang menawarkan nasabah untuk dapat melakukan transaksi
perbankan dari rumah (seperti transfer uang, pembayaran listrik dan telepon, melihat saldo,
dan lain sebagainya). Di Amerika, nasabah yang bersangkutan diberikan disket untuk
diinstalasi ke dalam komputernya masing-masing sehingga transaksi dapat dilakukan dari
rumah melalui internet. Bahkan belakangan ini sudah ada bank yang bekerja sama dengan
perusahaan TV kabel untuk menghasilkan produk home banking melalui Web-TV. Contoh
teknologi lain adalah electronic commerce yang menawarkan masyarakat untuk belanja
kebutuhannya seperti buku, pakaian, komputer, alat-alat kantor, dan lain-lain - melalui
internet, atau lebih dikenal dengan istilah home shopping. Di bidang jasa lainnya, rumah sakit
menawarkan fasilitas tele medicine yang menghubungkan dokter dengan pasiennya di mana
saja melalui jaringan komputer multimedia.
Jika dianalisis lebih jauh, kelima era tersebut dapat dikategorikan menjadi dua. Pada kedua
era pertama, terlihat bahwa tujuan perusahaan melibatkan penggunaan teknologi informasi
adalah untuk menghemat pengeluaran atau biaya-biaya perusahaan (reducing the cost by
saving money). Pada era globalisasi dimana teknologi informasi merupakan salah satu kunci
keberhasilan usaha, perusahaan yang masih berada pada kedua tahap evolusi ini dapat
digolongkan sebagai perusahaan tradisional. Sementara golongan kedua adalah tahap-tahap
dimana teknologi informasi sudah dipergunakan untuk meningkatkan pendapatan (revenue)
perusahaan (make money). Bahkan untuk beberapa industri, teknologi informasi mutlak
dibutuhkan untuk berkompetisi. Tanpa keberadaannya, akan mustahil perusahaan dapat
survive (remain in business) karena tidak dapat bersaing dengan perusahaan-perusahaan

13

sejenis. Dapatkah sebuah bank retail saat ini menjaring nasabah sebanyak-banyaknya tanpa
memiliki fasilitas ATM?

Penerapan Sistem Informasi Perusahaan


Terdapat 3 (tiga) hal yang perlu diperhatikan oleh perusahaan ketika memulai untuk
menerapkan sistem informasi perusahaan (EntIS), yaitu :
1) Pemilihan Penjual Perangkat Lunak
2) Pelatihan Pemakai
3) Pendekatan Peralihan

Pengembangan/Penerapan Sistem Informasi di Perusahaan. Contoh: PT Kokoh Inti


Arebama
Penerapan sistem informasi terintegrasi di suatu perusahaan tidaklah semudah yang
dibayangkan, terlebih di Indonesia dengan tingkat pembajakan software yang begitu tinggi
menyebabkan orang memandang software adalah suatu produk yang sangat murah. Oleh
karena itu jika suatu perusahaan ingin membuat suatu sistem informasi terintegrasi biasanya
mereka akan terkejut dengan harganya yang dianggap terlalu mahal dan segera membatalkan
rencana tersebut, walaupun sebenarnya tingkat efisiensi yang akan diperoleh akan jauh lebih
tinggi dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk pembangunan sebuah sistem.

Selain itu masih banyak perusahaan-perusahaan, terutama yang belum menerapkan ISO, tidak
memiliki bisnis proses yang baku. Masih banyak terjadi, dimana satu karyawan memiliki
pekerjaan rangkap di beberapa divisi yang berbeda, terutama pada perusahaan keluarga
dimana hampir seluruh keputusan diambil oleh satu orang saja, hal ini menyebabkan sistem
informasi tidak bisa diterapkan. Biasanya dalam penerapan suatu sistem informasi, langkah
pertama adalah menganalisa ataupun memperbaiki bisnis proses yang sudah ada agar menjadi
lebih baik. Oleh karena itu diperlukan seorang pimpinan perusahaan yang open minded, yang
bisa menerima perkembangan teknologi, yang memiliki visi misi perusahaan untuk terus
berkembang. Hal inilah yang merupakan modal dasar dalam penerapan sistem informasi,
tanpa adanya hal tersebut, hasil terbaik tidak akan bisa didapat walaupun banyak biaya yang
sudah dikeluarkan dan banyak hal yang sudah dikorbankan.

14

Faktor dominan lain yang menjadi penghalang adalah user, para karyawan, terutama generasi
tua yang sudah terbiasa melakukan pekerjaan secara manual secara bertahun-tahun. Mereka
sangat sulit menerima sistem baru yang akan diterapkan. Terlebih banyak diantara mereka
yang gaptek dimana hampir tidak pernah bersentuhan dengan komputer. Hal ini akan
menyebabkan ketakutan pada diri mereka jika sistem informasi diterapkan, mereka tidak
dapat berbuat apa-apa dan menjadi tersingkir. Peran user terbesar adalah ketika sistem
informasi selesai dibuat dan akan disosialiasikan. Kebanyakan perusahaan hanya memikirkan
biaya pembuatan sistem informasi saja, padahal biaya untuk sosialisasi sistem biasa jauh
lebih besar daripada biaya pembuatannya. Mayoritas user pada saat sosialisasi akan mencoba
menghindar dan menolak dengan berbagai alasan seperti sibuk, tidak mengerti, nanti saja dll.
Oleh karena itu diperlukan tindakan tegas dan teladan dari segenap direksi dan pimpinan
manajerial untuk menerapkan sistem informasi secara menyeluruh, bahkan banyak
perusahaan yang menerapkan jika tidak mau menggunakan sistem baru, silahkan
mengundurkan diri. Dengan adanya dorongan seperti ini maka mau tidak mau user akan
menggunakan sistem informasi tersebut dan sistem informasi akan menjadi berguna bagi
perusahaan, karena sebaik-baiknya suatu sistem informasi, jika tidak dipakai akan sia-sia
belaka.
Contoh:
Guna mendukung ambisi menjadi distributor bahan bangunan terbesar di Indonesia, PT
Kokoh Inti Arebama mengganti sistem TI inti buatan sendiri dengan aplikasi dari vendor
besar. Awalnya sistem yang dibangun sendiri merupakan sistem yang sederhana dan
hubungan antar cabangnya belum tersambung secara online. Tetapi seiring dengan kebutuhan
yang semakin besar, maka mereka memutuskan untuk mencari suatu sistem yang bisa
memenuhi kebutuhan dari sisi kontrol internal, serta informasi yang cepat dan akurat bagi
manajemen. Setelah melakukan benchmarking dengan perusahaan lain yang sejenis, dan
mengundang vendor solusi IT (SAP, Oracle dan Microsoft), akhirnya diputuskan untuk
menggunakan solusi dari Microsoft. Karena solusi dari Microsoft ini dinilai cukup sesuai
dengan kebutuhan dan sistem ini user-friendly.

Implementasi sistem ERP ini mempunyai sasaran yaitu pengintegrasian antara sistem logistik
dengan sistem manajemen penjualan, pemasaran dan keuangan dan mengintegrasikan
cabang-cabangnya. Dalam pengimplementasiannya tidak ada masalah dari para karyawan
karena sistemnya yang sudah user-friendly, lagipula mereka juga telah mengantisipasi
15

kemungkinan yang dapat menghambat seperti melakukan pendekatan antara lain dengan
pemberian dukungan secara top-down ke semua jajaran operasional; mengadakan
prapelatihan bagi kepala cabang dan administrasi sebelum dilakukan pelatihan untuk enduser; serta melakukan demo aplikasi ke seluruh user di cabang melalui kepala cabang.

Secara keseluruhan, melalui implementasi sistem ERP ini diharapkan tercipta suatu sistem
kontrol yang baik dari pusat ke cabang. Karena segala sesuatunya dapat dimonitor dari pusat
secara online dan real time melalui layar komputer. Melalui pola tersentralisasi ini, kantor
pusat dapat memantau jenis barang yang dijual, kondisi stok barang hingga pemberian kredit
ke pelanggan, serta pembuatan laporan keuangan menjadi lebih cepat. Dari sisi efisiensi,
adanya peningkatan seperti waktu yang dibutuhkan untuk pembuatan keputusan menjadi
lebih cepat karena pelaporan dari cabang/gudang lebih cepat dan dapat dipantau secara
langsung dari layar komputer.

Adapun rencana ke depannya dari PT Kokoh Inti Arebama ini adalah untuk Go Public. Untuk
mendukung rencana tersebut, mereka terus melakukan pembenahan infrastruktunya seperti
implementasi aplikasi bergerak lewat PDA, menggunakan aplikasi Sales Force Automation,
pemanfaatan sistem Business Inteligence oleh manajemen untuk kebutuhan tren analisis dan
pengambilan keputusan, penggunaan teknologi RFID di gudang untuk mempermudah
administrasi di sistem, dan integrasi B2B dengan rekan kerjanya dan pelanggannya dengan
penggunaan jaringan Internet untuk pemesanan barang. (SWA No. 26/XXIII/ 6-18
DESEMBER 2007).

Kegagalan Sistem Informasi Perusahaan


Kegagalan sistem informasi perusahaan mencakup proyek yang ditinggalkan sebelum
penerapannya, sehingga organisasi kembali menggunakan system informasi
perusahaan terdahulu.
Langkah-langkah yang dapat diambil organisasi untuk meminimalkan kemungkinan
kegagalan sistem informasiperusahaan :

Mengerti kerumitan organisasi.

Mengenali proses yang dapat menurun nilainya bila standarisasi dipaksakan.

Mencapai konsensus dalam organisasi sebelum memutuskan untuk


menerapkan sistem informasi perusahaan.
16

Sistem Informasi Perusahaan dan Web


1. Kemudahaan Penggunaan

Web browser umum digunakan oleh pekerja kantor serta memiliki interface yang
mudah disesuaikan dengan kebutuhan pemakai.

Komunikasi ke pelanggan atau mitra bisnis melalui web browser membuat


perangkat lunak ERP tidak perlu dipasang pada komputer organisasi.

World Wide Web dapat menyediakan Web portal tempat umum dimana para
pengunjung web dapat menjalankan aplikasi dan jasa lain untuk berbagai aplikasi
dari penjual ERP.

2. Masalah Pelanggan

Perbedaan metode interaksi bisnis-kebisnis dengan interaksi bisnis-kekonsumen


dapat menciptakan kesulitan bagi organisasi yang menggunakan aplikasi ERP.

Untuk mempermudah masalah, organisasi dapat memilih hanya memperbolehkan


transaksi bisnis-ke-bisnis untuk berhubungan dengan sistem informasi perusahaan
mereka.

Masa Depan Sistem Informasi Perusahaan


Pertumbuhan industri ERP lebih dari 30 persen per tahun, sehingga sulit untuk membuat
prediksi ke masa depan. Ada dua arah yang sedang ditempuh industri tersebut untuk
membuat prediksi ke masa depan, yaitu :
1) Pengembangan sistem informasi perusahaan yang lebih cepat.
2) Perubahan yang lebih luas dari perencanaan sumber daya perusahaan menjadi
manajemen sumber daya perusahaan (gerakan untuk merencanakan dan
mengendalikan berbagai proses bisnis dengan mengendalikan deskripsi proses dan
data).
3.3 TUJUAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
Tujuan SIM adalah Menyediakan informasi yang dipergunakan dalam perencanaan,
pengendalian, pengevaluasian serta dalam pengambilan keputusan. Pada dasarnya sistem
informasi manajemen ialah berhubungan dengan laporan di masa datang. Lain dengan sitem
informasi akuntansi yang lebih menekankan pada laporan masa lalu. Contoh pengambilan
keputusan seperti suatu perusahaan yang memperkirakan keadaan ekonomi di masa datang.
17

Apabila keadaan ekonomi makin memburuk maka dampak masayarakat terhadap daya beli
juga menurun. Hal ini membuat manajer perusahaan harus berpikir bagaimana mengatur
biaya-biaya produksi yang harus dikeluarkan. Apabila perusahaan menjual barang maka
harus dipikirkan berapa harga barang yang dapat ditawarkan serta berapa harga perolehan
yang harus diperkirakan. Sehingga peranan manajer disini sangat besar dalam mengambil
keputusan manajemen bagi perusahaan.
SIM yang baik adalah SIM yang mampu menyeimbangkan biaya dan manfaat yang akan
diperoleh artinya SIM akan menghemat biaya, meningkatkan pendapatan serta tak terukur
yang muncul dari informasi yang sangat bermanfaat.
Organisasi harus menyadari apabila mereka cukup realistis dalam keinginan mereka, cermat
dalam merancang dan menerapkan SIM agar sesuai keinginan serta wajar dalam menentukan
batas biaya dari titik manfaat yang akan diperoleh, maka SIM yang dihasilkan akan
memberikan keuntungan dan uang.
Secara teoritis komputer bukan prasyarat mutlak bagi sebuah SIM, namun dalam praktek
SIM yang baik tidak akan ada tanpa bantuan kemampuan pemrosesan komputer. Prinsip
utama perancangan SIM : SIM harus dijalin secara teliti agar mampu melayani tugas utama.
Tujuan sistem informasi manajemen adalah memenuhi kebutuhan informasi umum semua
manajer dalam perusahaan atau dalam subunit organisasional perusahaan. SIM menyediakan
informasi bagi pemakai dalam bentuk laporan dan output dari berbagai simulasi model
matematika.

3.4 PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI DI SUATU PERUSAHAAN UNTUK


MENUNJANG STRATEGISNYA

Persaingan merupakan kunci penentu keberhasilan sebuah organisasi bisnis. Strategi


persaingan yang diterapkan oleh bisnis/industri mampu memberikan keunggulan organisasi,
dengan memperhatikan faktor biaya, mutu dan kecepatan proses. Keunggulan kompetitif
akan membawa organisasi pada kemampuan mengendalikan pasar dan meraih keuntungan
usaha. Strategi bisnis menjadi pusat yang mengendalikan strategi organisasi dan strategi

18

informasi. Perubahan pada salah satu strategi membutuhkan penyesuaian, agar tetap
setimbang.
Hubungan antara strategi kompetitif perusahaan dan manfaat penggunaan sistem informasi
dikembangkan melalui beberapa lapisan, mulai dari perencanaan, analisa dan perancangan.
Sejalan dengan semakin luasnya pemanfaatan teknologi informasi di lingkungan bisnis, maka
pemisahan antara teknologi informasi dan strategi kompetitif perusahaan semakin tidak
terlihat. Hal ini karena seluruh strategi kompetitif perusahaan harus memiliki teknologi
informasi.
Strategi perusahaan berbasis sistem informasi perlu dibuat karena sumber daya yang dimiliki
perusahaan sangat terbatas, sehingga harus dimanfaatkan secara optimal. Strategi ini juga
digunakan untuk meningkatkan daya saing atau kinerja perusahaan karena para kompetitor
memiliki sumberdaya teknologi yang sama dan memastikan bahwa aset teknologi informasi
dapat dimanfaatkan secara langsung maupun tidak langsung dalam meningkatkan
profitabilitas perusahaan, baik berupa peningkatan pendapatan mapun pengurangan biaya.
Selain itu, strategi perusahaan berbasis sistem informasi digunakan untuk mencegah
terjadinya kelebihan atau kekurangan investasi serta menjamin bahwa teknologi informasi
yang direncanakan benar-benar menjawab kebutuhan bisnis perusahaan akan informasi.
Menurut OBrien (2005), peran strategis sistem informasi dalam organisasi adalah
memperbaiki efisiensi operasi, meningkatkan inovasi organisasi dan membangun sumber
daya informasi yang strategis. Ketiga peran strategis ini dapat mendukung organisasi dalam
meningkatkan keunggulan kompetitif dalam bersaing. Dalam sebuah organisasi non-profit,
peran strategis yang dimaksud adalah meningkatkan efisiensi dalam pelaksanaan pekerjaan
dan meningkatkan kinerja dalam melakukan aktivitas pelayanan.
Sistem informasi yang diaplikasikan oleh perusahaan untuk menunjang strateginya dapat pula
digunakan untuk melihat kecenderungan tren bisnis di masa depan. Dengan adanya sistem
informasi, maka perusahaan dapat mengantisipasi perubahan-perubahan yang mungkin
terjadi dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang karena adanya perubahan orientasi
bisnis. Disamping itu, sistem informasi yang unggul akan menciptakan barriers to entry pada
kompetitor karena adanya kerumitan teknologi untuk memasuki persaingan pasar.

19

Dari sisi internal perusahaan, penggunaan sistem informasi bukan saja akan meningkatkan
kualitas serta kecepatan informasi yang dihasilkan bagi manajemen, tetapi juga dapat
menciptakan suatu sistem informasi manajemen yang mampu meningkatkan integrasi di
bidang informasi dan operasi diantara berbagai pihak yang ada di perusahaan. Sistem ini
dapat berjalan dengan baik apabila semua proses didukung dengan teknologi yang tinggi,
sumberdaya yang berkualitas, dan yang paling penting adalah komitmen perusahaan. Sistem
informasi secara umum memiliki beberapa peranan dalam perusahaan, diantaranya sebagai
berikut.
1. Minimize Risk. Setiap bisnis memiliki resiko, terutama berkaitan dengan faktor-faktor
keuangan. Pada umumnya resiko berasal dari ketidakpastian dalam berbagai hal dan
aspek-aspek eksternal lain yang berada diuar kontrol perusahaan. Saat ini berbagai jenis
aplikasi telah tersedia untuk mengurangi resiko-resiko yang kerap diahadapi oleh bisnis,
seperti forecasting, financial advisory, planning expert, dan lain-lain. Selain itu, kehadiran
teknologi informasi merupakan sarana bagi manajemen dalam mengelola resiko yang
dihadapi.
2. Reduce Cost. Peran teknologi informasi sebagai katalisator dalam berbagai usaha
pengurangan biaya operasional perusahaan akan berpengaruh terhadap profitabilitas
perusahaan. Terdapat empat cara untuk mengurangi biaya operasional melalui penerapan
sistem informasi, yakni eliminasi proses yang dirasa tidak perlu, simplifikasi proses,
integrasi proses sehingga lebih cepat dan praktis, serta otomatisasi proses.
3.

Added Value. Teknologi informasi dapat menciptakan value bagi pelanggan perusahaan.
Penciptaan value ini tidak sekedar untuk memuaskan pelanggan, tetapi juga untuk
menciptakan loyalitas pelanggan dalam jangka panjang.

4. Create New Realities. Pesatnya teknologi internet menghasilkan suatu arena bersaing
baru bagi perusahaan di dunia maya. Hal ini ditunjukkan dengan maraknya penggunaan
e-commerce, e-loyalty, e-customer, dan lain-lain dalam menanggapi mekanisme bisnis di
era globalisasi informasi.
Dengan semakin berkembangnya peranan teknologi informasi dalam dunia bisnis, maka
menuntut manajemen untuk menghasilkan sistem informasi yang layak dan mendukung
kegiatan bisnis. Untuk itu, dituntut sebuah perubahan dalam bidang manajemen sistem
informasi. Perubahan yang terjadi adalah dengan diterapkannya perencanaan strategis sistem

20

informasi. Seiring dengan perkembangan dunia bisnis, peningkatan perencanaan strategis


sistem informasi menjadi tantangan serius bagi pihak manajemen sistem informasi.
Perencanaan strategis sistem informasi diperlukan agar sebuah organisasi dapat mengenali
target terbaik untuk melakukan pembelian dan penerapan sistem informasi manajemen, serta
memaksimalkan hasil investasi dari teknologi informasi. Sebuah sistem informasi yang baik
akan membantu sebuah organisasi dalam pengambilan keputusan untuk merealisasikan
rencana bisnisnya. Dengan demikian, penerapan teknologi informasi untuk menentukan
strategi perusahaan adalah salah satu cara yang paling efektif dalam untuk meningkatkan
performa bisnis. Strategi sistem informasi dipengaruhi oleh strategi-strategi lain yang
diterapkan perusahaan dan selalu memiliki konsekuensi. Empat komponen infrastruktur
sistem informasi menjadi kunci strategi sistem informasi

1. Peranan Sistem Informasi


Sampai pada tahun 1960-an, peran sistem informasi masih sederhana yakni, memproses
transaksi, menyimpan data, accounting dan aplikasi proses data elektronik (electronic data
processing) lainnya. Kemudian pada tahun 1970-an, informasi spesifikasi awal produk yang
dibuat oleh information reporting systems tidak dapat memenuhi kebutuhan pengambilan
keputusan manajemen. Oleh karena itu dibuatlah konsep decision support systems (DSS).
Peranan baru ini adalah menyediakan dukungan interaktif kepada manajemen untuk proses
pengambilan keputusan mereka.
Memasuki tahun 1980-an, perkembangan yang cepat dari tenaga proses mikrokomputer,
aplikasi perangkat lunak dan jaringan telekomunikasi menimbulkan apa yang disebut dengan
end user computing. Kemudian konsep executive information systems (ESS) dibangun,
dimana sistem informasi ini memberikan jalan yang mudah bagi manajemen atas untuk
mendapatkan informasi kritikal yang diinginkan ketika sedang dibutuhkan. Pengembangan
dan aplikasi dari teknik kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memberi gebrakan
baru dalam sistem informasi bisnis. Sistem pakar atau expert systems (ES) dan sistem
berbasis pengetahuan membuat peran baru bagi sistem informasi.
Sebuah peran baru yang penting lagi bagi sistem informasi muncul di tahun 1980-an dan
diharapkan terus berlanjut sampai ke tahun 1990-an. Peran tersebut adalah konsep peran
21

strategis (strategic role) dari sistem informasi yang disebut strategic information systems
(SIS). Pada konsep ini, sistem informasi diharapkan dapat memainkan peranan langsung
dalam mencapai tujuan atau sasaran strategis dari perusahaan. Hal ini memberikan tanggung
jawab baru bagi sistem informasi di dalam bisnis, apalagi di era globalisasi seperti sekarang
ini.
Hampir di seluruh sektor bisnis di dunia ini menggunakan sistem informasi di perusahaan
mereka. Bukan hanya itu, mereka pun selalu berusaha melakukan berbagai macam cara untuk
menggembangkan sistem informasi yang digunakan di perusahaan mereka. Hal tersebut
disebabkan karena sistem informasi memegang peranan yang cukup penting dalam bisnis
mereka. Adapun peranan dan fungsi utama dari sistem informasi adalah :
1. Mendukung Operasi Bisnis .
Mulai dari akuntansi sampai dengan penelusuran pesanan pelanggan, sistem informasi
menyediakan dukungan bagi manajemen dalam operasi/kegiatan bisnis sehari-hari.
Ketika tanggapan/respon yang cepat menjadi penting, maka kemampuan Sistem
Informasi untuk dapat mengumpulkan dan mengintegrasikan informasi keberbagai fungsi
bisnis menjadi kritis/penting.
2. Mendukung Pengambilan Keputusan Managerial.
Sistem informasi dapat mengkombinasikan informasi untuk membantu manager
menjalankan menjalankan bisnis dengan lebih baik, informasi yang sama dapat
membantu para manajer mengidentifikasikan kecenderungan dan untuk mengevaluasi
hasil dari keputusan sebelumnya. Sistem Informasi akan membantu para manajer
membuat keputusan yang lebih baik, lebih cepat, dan lebih bermakna.
3.

Mendukung Keunggulan Strategis.


Sistem informasi yang dirancang untuk membantu pencapaian sasaran strategis
perusahaan dapat men-ciptakan keunggulan bersaing di pasar.
Penjelasan lebih mendalam mengenai fungsi utama sistem informasi dalam suatu
organisasi akan dijelaskan pada bagian klasifikasi sistem informasi di bawah ini:

4. Klasifikasi Sistem Informasi


22

Pada prakteknya, berbagai peranan tersebut diintegrasi menjadi suatu gabungan atau fungsisilang (cross-functional) sistem informasi yang menjalankan berbagai fungsi, lebih jelasnya
diperlihatkan pada gambar 1 berikut.

5.

Sistem Informasi untuk Operasi Bisnis

Sistem Informasi Operasi memproses data yang berasal dari dan yang digunakan dalam
kegiatan usaha. Peranan sistem informasi untuk operasi bisnis adalah untuk memproses
transaksi bisnis, mengontrol proses industrial, dan mendukung komunikasi serta produktivitas
kantor secara efisien.

Transaction Processing Systems

Transaction processing systems (TPS) berkembang dari sistem informasi manual


untuk sistem proses data dengan bantuan mesin menjadi sistem proses data elektronik
(electronic data processing systems). TPS mencatat dan memproses data hasil dari
transaksi bisnis, seperti penjualan, pembelian, dan perubahan persediaan. TPS
menghasilkan berbagai informasi produk untuk penggunaan internal maupun
eksternal. Sebagai contoh, TPS membuat pernyataan konsumen, cek gaji karyawan,
kuitansi penjualan, order pembelian, formulir pajak dan rekening keuangan. TPS juga
memperbaharui database yang digunakan perusahaan untuk diproses lebih lanjut oleh
SIM.

Process Control Systems


Sistem informasi operasi secara rutin membuat keputusan yang mengendalikan proses
operasional, seperti keputusan pengendalian produksi. Hal ini melibatkan process

23

control systems (PCS) yang keputusannya mengatur proses produksi fisik yang secara
otomatis dibuat oleh komputer.

Office Automation Systems

Office automation systems (OAS) mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan


mengirim data dan informasi dalam bentuk komunikasi kantor elektronik. Contoh dari
office automation (OA) adalah word processing, surat elektronik (electronic mail),
teleconferencing, dan lain-lain.

6. Sistem Informasi untuk Pengambilan Keputusan Manajemen.


Sistem informasi manajemen atau SIM (management information system) adalah sistem
informasi yang dirancang untuk menyediakan informasi akurat, tepat waktu, dan relevan
yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan oleh para manajer. Konsep SIM adalah
meniadakan pengembangan yang tidak efisien dan penggunaan komputer yang tidak efektif.
Konsep SIM sangat penting untuk sistem informasi yang efektif dan efisien oleh karena:

Menekankan pada orientasi manajemen (management orientation) dari pemrosesan


informasi pada bisnis yang bertujuan mendukung pengambilan keputusan manajemen
(management decision making).

Menekankan bahwa kerangka sistem (system framework) harus digunakan untuk


mengatur penggunaan sistem informasi. Penggunaan sistem informasi pada bisnis
harus dilihat sebagai suatu integrasi dan berhubungan, tidak sebagai proses yang
berdiri sendiri.

Secara garis besar SIM terdiri dari 3 macam, yakni:

Information Reporting Systems


Information reporting systems (IRS) menyediakan informasi produk bagi manajerial
end users untuk membantu mereka dalam pengambilan keputusan dari hari ke hari.
Akses data IRS berisi informasi tentang operasi internal yang telah diproses
sebelumnya oleh transaction processing systems. Informasi produk memberi
gambaran dan laporan yang dapat dilengkapi (1) berdasarkan permintaan, (2) secara
periodik, atau (3) ketika terjadi situasi pengecualian. Sebagai contoh, manajer
24

penjualan dapat menerima laporan analisa penjualan setiap minggunya untuk


mengevaluasi hasil penjualan produk.

Decision Support Systems


Decision support systems (DSS) merupakan kemajuan dari information reporting
systems dan transaction processing systems. DSS adalah interaktif, sistem informasi
berbasis komputer yang menggunakan model keputusan dan database khusus untuk
membantu proses pengambilan keputusan bagi manajerial end users. Sebagai contoh,
program kertas kerja elektronik memudahkan manajerial end user menerima respon
secara interaktif untuk peramalan penjualan atau keuntungan.

Executive Information Systems

Executive information systems (EIS) adalah tipe SIM yang sesuai untuk kebutuhan
informasi strategis bagi manajemen atas. Tujuan dari sistem informasi eksekutif
berbasis komputer adalah menyediakan akses yang mudah dan cepat untuk informasi
selektif tentang faktor-faktor kunci dalam menjalankan tujuan strategis perusahaan
bagi manajemen atas. Jadi EIS harus mudah untuk dioperasikan dan dimengerti
(Obrien, 2000).

7. Sistem Informasi untuk Keuntungan Strategis


Sistem informasi dapat memainkan peran yang besar dalam mendukung tujuan strategis dari
sebuah perusahaan. Sebuah perusahaan dapat bertahan dan sukses dalam waktu lama jika
perusahaan itu sukses membangun strategi untuk melawan kekuatan persaingan yang berupa
(1) persaingan dari para pesaing yang berada di industri yang sama, (2) ancaman dari
perusahaan baru, (3) ancaman dari produk pengganti, (4) kekuatan tawar-menawar dari
konsumen, dan (5) kekuatan tawar-menawar dari pemasok. Kelima faktor tersebut merupakan
hal-hal yang harus diperhatikan dalam membangun upaya peamsaran yang mengarah kepada
competitive advantage strategies. Hubungan kelima faktor tersebut dapat digambarkan seperti
pada gambar 2 berikut.

25

Lingkungan Persaingan Dari Sebuah Industri


Beberapa strategi bersaing yang dapat dibangun untuk memenangkan persaingan adalah:
1) Cost leadership (keunggulan biaya) menjadi produsen produk atau jasa dengan
biaya rendah.
2) Product differentiation (perbedaan produk) mengembangkan cara untuk
menghasilkan produk atau jasa yang berbeda dengan pesaing.
3) Innovation menemukan cara baru untuk menjalankan usaha, termasuk di dalamnya
pengembangan produk baru dan cara baru dalam memproduksi atau mendistribusi
produk dan jasa.

3.5 PERAN STRATEGIS UNTUK SISTEM INFORMASI


Sistem informasi manajemen (SIM) dapat menolong perusahaan untuk (1) meningkatkan
efisiensi operasional, (2) memperkenalkan inovasi dalam bisnis, dan (3) membangun sumbersumber informasi strategis.
1. Meningkatkan efisiensi operasional. Investasi di dalam teknologi sistem informasi
dapat menolong operasi perusahaan menjadi lebih efisien. Efisiensi operasional
membuat perusahaan dapat menjalankan strategi keunggulan biaya (low-cost
leadership).
Dengan menanamkan investasi pada teknologi sistem informasi, perusahaan juga
dapat menanamkan rintangan untuk memasuki industri tersebut (barriers to entry)
26

dengan jalan meningkatkan besarnya investasi atau kerumitan teknologi yang


diperlukan untuk memasuki persaingan pasar.
Selain itu, cara lain yang dapat ditempuh adalah mengikat (lock in) konsumen dan
pemasok dengan cara membangun hubungan baru yang lebih bernilai dengan mereka.
2. Memperkenalkan inovasi dalam bisnis. Penggunaan ATM (automated teller
machine) dalam perbankan merupakan contoh yang baik dari inovasi teknologi sistem
informasi. Dengan adanya ATM, bank-bank besar dapat memperoleh keuntungan
strategis melebihi pesaing mereka yang berlangsung beberapa tahun.
Penekanan utama dalam sistem informasi strategis adalah membangun biaya
pertukaran (switching costs) ke dalam hubungan antara perusahaan dengan konsumen
atau pemasoknya. Sebuah contoh yang bagus dari hal ini adalah sistem reservasi
penerbangan terkomputerisasi yang ditawarkan kepada agen perjalanan oleh
perusahaan penerbangan besar. Bila sebuah agen perjalanan telah menjalankan sistem
reservasi terkomputerisasi tersebut, maka mereka akan segan utnuk menggunakan
sistem reservasi dari penerbangan lain.
3. Membangun sumber-sumber informasi strategis. Teknologi sistem informasi
memampukan perusahaan untuk membangun sumber informasi strategis sehingga
mendapat kesempatan dalam keuntungan strategis. Hal ini berarti memperoleh
perangkat keras dan perangkat lunak, mengembangkan jaringan telekomunikasi,
menyewa spesialis sistem informasi, dan melatih end users.
Sistem informasi memungkinkan perusahaan untuk membuat basis informasi strategis
(strategic information base) yang dapat menyediakan informasi untuk mendukung
strategi bersaing perusahaan. Informasi ini merupakan aset yang sangat berharga
dalam meningkatkan operasi yang efisien dan manajemen yang efektif dari
perusahaan. Sebagai contoh, banyak usaha yang menggunakan informasi berbasis
komputer tentang konsumen mereka untuk membantu merancang kampanye
pemasaran untuk menjual produk baru kepada konsumen.
3.6 FAKTOR-FAKTOR SERTA INDIKATOR YANG MENUNJUKAN GAGALNYA
SIM DALAM ORGANISASI/PERUSAHAAN

27

1. Faktor-faktor yang menyebabkan SIM kurang berkembang dalam


organisasi/perusahaan
Dengan adanya SIM ini, sebuah perusahaan mengharapkan suatu sistem yang dapat bekerja
secara cepat dan akurat sehingga produktivitas kerja di perusahaan lebih meningkat. Namun
karena beberapa faktor tertentu, terkadang malah perusahaan mengalami kegagalan.
Pengembangan SIM canggih berbasis komputer memerlukan sejumlah orang yang
berketrampilan tinggi dan berpengalaman lama dan memerlukan partisipasi dari para manajer
organisasi. Banyak organisasi yang gagal membangun SIM karena :
1. Pengorganisasian perusahaan yang kurang wajar
2. Kurangnya perencanaan yang memadai
3. Kurang personil yang handal
4. Kurangnya partisipasi manajemen dalam bentuk keikutsertaan para manajer dalam
merancang sistem, mengendalikan upaya pengembangan sistem dan memotivasi
seluruh personil yang terlibat.
Untuk meraih keberhasilan dalam pengembangan SIM, perlu diperbaikinya system lama,
terutama jika disebabkan beberapa hal berikut ini,
1. Adanya permasalahan-permasalahan (problems) yang timbul di sistem yang lama.
Permasalahan yang timbul dapat berupa :

Ketidakberesan sistem yang lama. Ketidakberesan dalam sistem yang lama


menyebabkan sistem yang lama tidak dapat beroperasi sesuai dengan yang
diharapkan.

Pertumbuhan organisasi. Kebutuhan informasi yang semakin luas, volume pengolahan


data semakin meningkat, perubahan prinsip akuntansi yang baru menyebabkan harus
disusunnya sistem yang baru, karena sistem yang lama tidak efektif lagi dan tidak
dapat memenuhi lagi semua kebutuhan informasi yang dibutuhkan manajemen.

2. Untuk meraih kesempatan-kesempatan. Dalam keadaan persaingan pasar yang ketat,


kecepatan informasi atau efisiensi waktu sangat menentukan berhasil atau tidaknya
28

strategi dan rencana-rencana yang telah disusun untuk meraih kesempatan-kesempatan


dan peluang-peluang pasar, sehingga teknologi informasi perlu digunakan untuk
meningkatkan penyediaan informasi agar dapat mendukung proses pengambilan
keputusan yang dilakukan oleh manajemen.

3.

Adanya instruksi dari pimpinan atau adanya peraturan pemerintah. Penyusunan sistem
yang baru dapat juga terjadi karena adanya instruksi instruksi dari atas pimpinan ataupun
dari luar organisasi, seperti misalnya peraturan pemerintah

2.

Indikator Diperlukannya Pengembangan SIM


1. Keluhan pelanggan
2. Pengiriman barang yang sering tertunda
3. Pembayaran gaji yang terlambat
4. Laporan yang tidak tepat waktu
5. Isi laporan yang sering salah
6. Tanggung jawab yang tidak jelas
7. Waktu kerja yang berlebihan
8. Ketidakberesan kas
9. Produktivitas tenaga kerja yang rendah
10. Banyaknya pekerja yang menganggur
11. Kegiatan yang tumpang tindih
12. Tanggapan yang lambat terhadap pelanggan
13. Kehilangan kesempatan kompetisi pasar
14. Persediaan barang yang terlalu tinggi
15. Pemesanan kembali barang yang tidak efisien
16. Biaya operasi yang tinggi
17. File-file yang kurang teratur
18. Keluhan dari supplier karena tertundanya pembayaran
19. Tertundanya pengiriman karena kurang persediaan
20. Investasi yang tidak efisien
21. Peramalan penjualan dan produksi tidak tepat
22. Kapasitas produksi yang menganggur
23. Pekerjaan manajer yang terlalu teknis, DLL.
29

SIM yang baik adalah SIM yang mampu menyeimbangkan biaya dan manfaat yang akan
diperoleh artinya SIM akan menghemat biaya, meningkatkan pendapatan serta tak terukur
yang muncul dari informasi yang sangat bermanfaat.
Organisasi harus menyadari apabila mereka cukup realistis dalam keinginan mereka, cermat
dalam merancang dan menerapkan SIM agar sesuai keinginan serta wajar dalam menentukan
batas biaya dari titik manfaat yang akan diperoleh, maka SIM yang dihasilkan akan
memberikan keuntungan dan uang.

30

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan masalah diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Sistem Informasi Manajemen adalah adalah serangkaian sub sistem informasi
berbasis komputer yang menyeluruh dan terkoordinasi, sehingga menjadi informasi
lewat serangkaian cara guna meningkatkan produktivitas, yang kegiatannya meliputi
perencanaan, kemudian diimplementasikan, melakukan pengendalian, dan tentunya
juga dilakukan pengambilan keputusan.
2. SIM adalah sebagai suatu sistem berbasis komputer yang menyediakan informasi bagi
beberapa pemakai dengan kebutuhan yang sama. Informasi tersebut tersedia dalam
bentuk laporan periodik, laporan khusus dan ouput dari model matematika. Output
informasi digunakan oleh manajer maupun non manajer dalam perusahaan saat
mereka membuat keputusan untuk memecahkan masalah.
3. Banyak perusahaan/ organisasi yang gagal karena disebabkan oleh berbagai faktor
seperti kurangnya perencanaan, kurangnya personil handal serta perlunya perbaikan
pada sistem lama.
4. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan indikator pengembangan SIM, seperti keluhan
pelanggan, pembayaran gaji yang terlambat, dll.
4.2 Saran
Melihat dari berbagai faktor penyebab gagalnya SIM di perusahaan, penulis menyarankan
bahwa untuk memperoleh keberhasilan dalam pengelolaan SIM di perusahaan, sebaiknya
dilakukan evaluasi terhadap manajemen perusahaan tersebut, guna mengetahui lebih lanjut
faktor manakah yang paling mempengaruhi perkembangan SIM di perusahaan dan kemudian
dicari solusi yangpaling tepat untuk menanganinya.

31

DAFTAR PUSTAKA
E.S, Margianti dan D. Suryadi H.S. Seri Diktat Kuliah Sistem Informasi Manajemen. Jakarta:
Gunadarma.
wsilfi.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/9882/Pengembangan%2BSistem%2B1%2B2.p
df+gagalnya+perusahaan+mengembangkan+sistem+informasi&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=
ADGEEShtanExhxOF-1Ke-k4BCUz8l6UXxgcpxGr3PRSrW_xN3bpjSHy8atTvwTBG6LTqO88S4MmfKSgVdbk2FxhmX4Nxb1oypL_vhZYi3oDdlD
XZvXIWvf41RGmqNBH2lMtxKNap9o4&sig=AHIEtbQmEwWK3dLGcnLvposbpBALzS
WrHQ
http://oktadymalik.multiply.com/journal/item/43
http://library.usu.ac.id/download/fe/akuntansi-mutia.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_Informasi_Manajemen
http://chanisia.wordpress.com/2010/01/01/sistem-informasi-pada-perusahaan/
http://joejoe.blogdetik.com/2010/12/25/tujuan-sistem-informasi-manajemen/
http://rizma.blogstudent.mb.ipb.ac.id/2011/01/10/penggunaan-sistem-informasi-dalammenunjang-strategi-perusahaan/
http://martinhaendranata.blogspot.com/2008/01/pengembanganpenerapan-sisteminformasi.html

32