Anda di halaman 1dari 42

DIAGNOSTIK KLINIK

ANALISA DARAH LENGKAP

DOSEN :
Dra. Refdanita, M.Si, Apt

DISUSUN OLEH :
AYU SYUHADA
11330048

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL
JAKARTA
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat, rahmat,
dan ridho -Nyalah penulis dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Diagnostik Klinik
yang membahas tentang ANALISA DARAH LENGKAP . Terima kasih penulis ucapkan
kepada :
1. Ibu Dra. Refdanita, M.Si, Apt selaku dosen mata kuliah Diagnostik Klinik
2. Rekan- rekan yang memberikan masukkan dan saran kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna serta masih banyak kekurangan. Untuk itu, kritik dan saran sangat dinantikan
guna penyempurnaan makalah ini di masa mendatang.
Penulis juga memohon maaf apabila dalam penulisan makalah ini terdapat kesalahan
dan kekeliruan sehingga membingungkan pembaca dalam memahami maksud penulis.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan serta bermanfaat bagi
penulis maupun pembaca. Semoga Tuhan senantiasa memberikan bimbingan dan
petunjuk kepada kita semua.

Jakarta , 18 Oktober 2014

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mendapatkan informasi yang berguna bagi
dokter dan apoteker dalam pengambilan keputusan klinik. Untuk mengambil keputusan klinik
pada proses terapi mulai dari pemilihan obat, penggunaan obat hingga pemantauan efektivitas
dan keamanan, apoteker memerlukan hasil pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan
tersebut dibutuhkan sebagai pertimbangan penggunaan obat, penentuan dosis, hingga
pemantauan keamanan obat. Sebagai contoh, pada pertimbangan penggunaan dan penentuan
dosis aminoglikosida yang bersifat nefrotoksik diperlukan data kadar aminoglikosida dalam
darah dan serum kreatinin yang menggambarkan fungsi ginjal.

I.2 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberikan wawasan dan
pengetahuan yang mendalam bagi pembaca pada bidang diagnostik klinik khususnya analisa
darah.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Darah


Darah adalah cairan yang terdapat pada makhluk hidup yang berfungsi sebagai alat
transportasi zat seperti oksigen, bahan hasil metabolisme tubuh, pertahanan tubuh dari
serangan kuman, dan lain sebagainya. Beda halnya dengan tumbuhan, manusia dan hewan
level tinggi punya sistem transportasi dengan darah. Darah merupakan suatu cairan yang
sangat penting bagi manusia karena berfungsi sebagai alat transportasi serta memiliki banyak
kegunaan lainnya untuk menunjang kehidupan. Tanpa darah yang cukup seseorang dapat
mengalami gangguan kesehatan dan bahkan dapat mengakibatkan kematian.
Darah pada tubuh manusia mengandung 55% plasma darah (cairan darah) dan 45%
sel-sel darah (darah padat). Jumlah darah yang ada pada tubuh kita yaitu sekitar
sepertigabelas berat tubuh orang dewasa atau sekitar 4 atau 5 liter.
Fungsi Darah Pada Tubuh Manusia :
1. Alat pengangkut air dan menyebarkannya ke seluruh tubuh
2. Alat pengangkut oksigen dan menyebarkannya ke seluruh tubuh
3. Alat pengangkut sari makanan dan menyebarkannya ke seluruh tubuh
4. Alat pengangkut hasil oksidasi untuk dibuang melalui alat ekskresi
5. Alat pengangkut getah hormon dari kelenjar buntu
6. Menjaga suhu temperatur tubuh
7. Mencegah infeksi dengan sel darah putih, antibodi dan sel darah beku
8. Mengatur keseimbangan asam basa tubuh, dll.

2.2 Pemeriksaan Darah Lengkap


Pemeriksaan Darah Lengkap (Complete Blood Count / CBC) yaitu suatu jenis
pemeriksaaan penyaring untuk menunjang diagnosa suatu penyakit dan atau untuk melihat
bagaimana respon tubuh terhadap suatu penyakit. Disamping itu juga pemeriksaan ini sering
dilakukan untuk melihat kemajuan atau respon terapi pada pasien yang menderita suatu
penyakit infeksi.
Pemeriksaan Darah Lengkap terdiri dari beberapa jenis parameter pemeriksaan, yaitu
1. Hemoglobin

2. Hematokrit
3. Leukosit (White Blood Cell / WBC)
4. Trombosit (platelet)
5. Eritrosit (Red Blood Cell / RBC)
6. Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC)
7. Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR)
8. Hitung Jenis Leukosit (Diff Count)
9. Platelet Disribution Width (PDW)
10. Red Cell Distribution Width (RDW)
Pemeriksaan Darah Lengkap biasanya disarankan kepada setiap pasien yang datang ke suatu
Rumah Sakit yang disertai dengan suatu gejala klinis, dan jika didapatkan hasil yang diluar
nilai normal biasanya dilakukan pemeriksaan lanjutan yang lebih spesifik terhadap gangguan
tersebut, sehingga diagnosa dan terapi yang tepat bisa segera dilakukan. Lamanya waktu yang
dibutuhkan suatu laboratorium untuk melakukan pemeriksaan ini berkisar maksimal 2 jam.

1.

Hemoglobin

Hemoglobin adalah molekul protein pada sel darah merah yang berfungsi sebagai media
transport oksigen dari paru paru ke seluruh jaringan tubuh dan membawa karbondioksida dari
jaringan tubuh ke paru paru. Kandungan zat besi yang terdapat dalam hemoglobin membuat
darah berwarna merah.
Dalam menentukan normal atau tidaknya kadar hemoglobin seseorang kita harus
memperhatikan faktor umur, walaupun hal ini berbeda-beda di tiap laboratorium klinik, yaitu
:
Bayi baru lahir : 17-22 gram/dl
Umur 1 minggu : 15-20 gram/dl
Umur 1 bulan : 11-15 gram/dl
Anak anak : 11-13 gram/dl
Lelaki dewasa : 14-18 gram/dl
Perempuan dewasa : 12-16 gram/dl
Lelaki tua : 12.4-14.9 gram/dl
Perempuan tua : 11.7-13.8 gram/dl
Kadar hemoglobin dalam darah yang rendah dikenal dengan istilah anemia. Ada
banyak penyebab anemia diantaranya yang paling sering adalah perdarahan, kurang gizi,

gangguan sumsum tulang, pengobatan kemoterapi dan penyakit sistemik (kanker, lupus,dll).
Sedangkan kadar hemoglobin yang tinggi dapat dijumpai pada orang yang tinggal di daerah
dataran tinggi dan perokok. Beberapa penyakit seperti radang paru paru, tumor, preeklampsi,
hemokonsentrasi, dll.
Fungsi Pemeriksaan Hemoglobin
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami kekurangan darah atau tidak, dapat diketahui
dengan mengukur kadar Hb. Penurunan kadar Hb dari normal berarti kekurangan darah.
Suatu kondisi yang disebut dengan anemia. Adanya anemia biasanya juga disertai dengan
jumlah erotrosit yang menurun dari nilai hematokrot dibawah normal.

2.

Hematokrit
Hematokrit merupakan ukuran yang menentukan banyaknya jumlah sel darah merah

dalam 100 ml darah yang dinyatakan dalam persent (%). Nilai normal hematokrit untuk pria
berkisar 40,7% - 50,3% sedangkan untuk wanita berkisar 36,1% - 44,3%. Seperti telah
ditulis di atas, bahwa kadar hemoglobin berbanding lurus dengan kadar hematokrit, sehingga
peningkatan dan penurunan hematokrit terjadi pada penyakit- penyakit yang sama.

3. Leukosit (White Blood Cell / WBC)


Leukosit merupakan komponen darah yang berperanan dalam memerangi infeksi
yang disebabkan oleh virus, bakteri, ataupun proses metabolik toksin, dll. Nilai normal
leukosit berkisar 4.000 - 10.000 sel/ul darah. Penurunan kadar leukosit bisa ditemukan pada
kasus penyakit akibat infeksi virus, penyakit sumsum tulang, dll, sedangkan peningkatannya
bisa ditemukan pada penyakit infeksi bakteri, penyakit inflamasi kronis, perdarahan akut,
leukemia, gagal ginjal, dll

4.

Trombosit (platelet)
Trombosit merupakan bagian dari sel darah yang berfungsi membantu dalam proses

pembekuan darah dan menjaga integritas vaskuler. Beberapa kelainan dalam morfologi
trombosit antara lain giant platelet (trombosit besar) dan platelet clumping (trombosit
bergerombol).

Nilai normal trombosit berkisar antara 150.000 - 400.000 sel/ul darah.

Trombosit yang tinggi disebut trombositosis dan sebagian orang biasanya tidak ada keluhan.

Trombosit yang rendah disebut trombositopenia, ini bisa ditemukan pada kasus demam
berdarah (DBD), Idiopatik Trombositopenia Purpura (ITP), supresi sumsum tulang, dll.

5. Eritrosit (Red Blood Cell / RBC)


Eritrosit atau sel darah merah merupakan komponen darah yang paling banyak, dan
berfungsi sebagai pengangkut / pembawa oksigen dari paru-paru untuk diedarkan ke seluruh
tubuh dan membawa kardondioksida dari seluruh tubuh ke paru-paru.Nilai normal eritrosit
pada pria berkisar 4,7 juta - 6,1 juta sel/ul darah, sedangkan pada wanita berkisar 4,2 juta 5,4 juta sel/ul darah.Eritrosit yang tinggi bisa ditemukan pada kasus hemokonsentrasi, PPOK
(penyakit paru obstruksif kronik), gagal jantung kongestif, perokok, preeklamsi, dll,
sedangkan eritrosit yang rendah bisa ditemukan pada anemia, leukemia, hipertiroid, penyakit
sistemik seperti kanker dan lupus, dll

6. Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC)


Biasanya digunakan untuk membantu mendiagnosis penyebab anemia (Suatu kondisi
di mana ada terlalu sedikit sel darah merah). Indeks/nilai yang biasanya dipakai antara lain :
MCV (Mean Corpuscular Volume) atau Volume Eritrosit Rata-rata (VER), yaitu volume
rata-rata sebuah eritrosit yang dinyatakan dengan femtoliter (fl)
MCV =

Nilai normal = 82-92 fl

MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) atau Hemoglobin Eritrosit Rata-Rata (HER),


yaitu banyaknya hemoglobin per eritrosit disebut dengan pikogram (pg)
MCH =

Nilai normal = 27-31 pg

(Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) atau Konsentrasi Hemoglobin


Eritrosit Rata-rata (KHER), yaitu kadar hemoglobin yang didapt per eritrosit, dinyatakan
dengan persen (%) (satuan yang lebih tepat adalah gr/dl)
MCHC =

Nilai normal = 32-37 %

7. Laju Endap Darah


Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR) adalah kecepatan
sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan satuan mm/jam. LED
merupakan uji yang tidak spesifik. LED dijumpai meningkat selama proses inflamasi akut,
infeksi akut dan kronis, kerusakan jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid,
malignansi, dan kondisi stress fisiologis (misalnya kehamilan). International Commitee for
Standardization in Hematology (ICSH) merekomendasikan untuk menggunakan metode
Westergreen dalam pemeriksaan LED, hal ini dikarenakan panjang pipet Westergreen bisa
dua kali panjang pipet Wintrobe sehingga hasil LED yang sangat tinggi masih terdeteksi.
Nilai normal LED pada metode Westergreen : Laki-laki : 0 15 mm/jam
Perempuan : 0 20 mm/jam

8. Hitung Jenis Leukosit (Diff Count)


Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis leukosit.
Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi yang khusus dalam
melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit, monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil
hitung jenis leukosit memberikan informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses
penyakit. Hitung jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis
sel. Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai relatif (%)
dikalikan jumlah leukosit total dan hasilnya dinyatakan dalam sel/l. Nilai normal : Eosinofil
1-3%, Netrofil 55-70%, Limfosit 20-40%, Monosit 2-8%

9. Platelet Disribution Width (PDW)


PDW merupakan koefisien variasi ukuran trombosit. Kadar PDW tinggi dapat
ditemukan pada sickle cell disease dan trombositosis, sedangkan kadar PDW yang rendah
dapat menunjukan trombosit yang mempunyai ukuran yang kecil. Red Cell Distribution
Width (RDW)RDW merupakan koefisien variasi dari volume eritrosit. RDW yang tinggi

dapat mengindikasikan ukuran eritrosit yang heterogen, dan biasanya ditemukan pada anemia
defisiensi besi, defisiensi asam folat dan defisiensi vitamin B12, sedangkan jika didapat hasil
RDW yang rendah dapat menunjukan eritrosit yang mempunyai ukuran variasi yang kecil.

Pemeriksaan Kimia Darah


Alat yang dapat digunakan untuk pemeriksaan kimia darah yaitu Reflotron Check
Sistem dengan menggunakan reaksi kimia kering, reagen stick sesuai dgn yg
diinginkan
Pemeriksaan kimia darah meliputi :
1. Glukosa (Sewaktu, Puasa dan 2 jam PP) :
Untuk mengetahui kadar Glukosa darah, sehingga membantu menentukan terapi
pasien diabetes
2. Cholesterol Total, Trigliserida, HDL, LDL :
Untuk mengetahui profil lemak pasien, sehingga membantu menentukan terapi,
memantau terapi, menentukan faktor risiko PJK dan Stroke
3. Small dense-LDL
LDL berukuran kecil dan lebih berbahaya dari LDL, merupakan faktor resiko PJK
dan stroke
4. Ureum (BUN), Kreatinin
Untuk mengetahui fungsi ginjal
5. Asam Urat
Untuk mengetahui adanya penyakit Gout Arthritis (nyeri sendi karena tingginya kadar
asam urat)
6. SGOT, SGPT
Untuk mengetahui fungsi hati, sehingga membantu mendiagnosis kelainan hati
7. Billirubin
Peningkatan kadar billirubin bisa terjadi karena penyakit hati dan empedu (karena
radang / infeksi, sumbatan batu, tumor) atau pemecahan sel darah merah yang
berlebihan

8. Protein Total
Untuk mengetahui apakah seseorang menderita kekurangan protein, untuk
mengetahui fungsi hati (hati merupakan organ yang menghasilkan protein)
9. Albumin
Kekurangan albumin dapat terjadi pada penyakit hati (misalnya serosi), kekurangan
gizi, kebocoran di ginjal (misalnya sindrom nefrotik)
10. Globulin
Penurunan kadarnya berarti terdapat gangguan kekebalan tubuh. Peningkatan kadar
globulin terjadi pada infeksi, penyakit hati dan beberapa keganasan.
11. Cholenesterase (CHE)
Merupakan enzim hati yang dipergunakan untuk membantu menentukan apakah
fungsi sintetis dari hati masih baik
12. Alkali Fosfatase (ALP) Gamma-GT
Meruoakan enzim yang dihasilkan oleh hati dan saluran empedu. Peningkatan
kadarnya berarti kemungkinan ada kelainan (radang, infeksi, batu, tumor) pada hati
dan saluran empedu
13. Protein Elektrophoresis (SPF)
Merupakan test untuk mengetahui proporsi (%) fraksi-fraksi protein dalam darah

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Pemeriksaan Hemoglobin


Banyak cara telah ditemukan untuk menentukan nilai Hb, tetapi sampai sekarang
belum ada satu cara pun yang hasilnya dapat dipercaya 100 %, mudah dikerjakan dan
sederhana. Ada beberapa metode atau cara untuk menetapkan nilai Hb, diantaranya :

Cara Tallquist

Cara Sahli

Cara Cu Sulfat

Cara fotoelektrik kolorimeter, terdiri dari 3 cara, yaitu :


Cara Cyanmethemoglobin
Cara oksihemoglobin
Cara alkali hematin

Cara automatik (misalnya Cell Dyn)

3.1.1. Metode Tallquist


Prinsip pemeriksaan metode ini adalah dengan membandingkan darah asli dengan
suatu skala warna yang bergradasi mulai dari warna merah muda sampai war na merah
(mulai 10 100 %). Ada 10 gradasi warna dan setiap tahapan berbeda 10 %. Pada
bagian

tengah

0skala

warna,

terdapatlubang,

untuk

memudahkan

dalam

membandingkan warna. Cara Tallquist kini sudah ditinggalkan karena tingkat


kesalahannya mencapai 30 50 %
3.1.2. Metode Cu Sulfat
Metode ini digunakan untuk penetapan kadar hemoglobin terkait untuk
mendapatkan donor yang cocok dan sehat, dalam hal ini menjadi tanggung jawab
teknisi yang bekerja dibdang trnansfusi darah.
Prinsip metode ini adalah tes kuanlitatif berdasarkan berat jenis. Darah donor
turun kedalam larutan mendapatkan tembaga sulfat (Cu-Sulfat) dan menjadi terbungkus
dalam kantung tembaga proteinate, yang mencegah setiap perubahan dalam berat jenis
sekitar 15 detik. Jika hemoglobin sama dengan atau lebih dari 12,5 gram/dL. Maka
akan tenggelam dalam waktu 15 detik, yang berarti donor dapat diterima.

Alat dan Bahan


1. Larutan kerja CuSO4 (Cu-Sulfat) dengan berat jenis 1,053
2. Kasa steril dan lancet steril sekali pakai
3. Tabung kapiler yang berisi bepari (75 mm x 1 mm)
4. Wadah dengan larutan natrium hipoklorit 1 % untuk membuang lancet tajam,
tabung kapiler, dan bahan biologis yang berbahay
5. Coplin jar dengan penutupnya
Cara kerja
1. Sebanyak 30 ml larutan Cu-Sulfat ditempatkan dalam botol yang bersih, dan
kering. Tabungnya selalu ditutup dengan penutupnya jika tidak digunakan larutan
kerja diperbarui setelah setiap 25 tes.
2. Ujung jari dibersihkan secara menyeluruh dan dibiarkan kering
3. Jari ditusuk dengan lancet steril sekali pakai (lihat pembahasan pada bagian
koleksi darah kapiler)
4. Biarkan satu tetes darah jatuh dengan ketinggian sekitar 1 cm diatas permukaan
larutan Cu-Sulfat ke dalam tabung
5. Penurunan diamati selama 15 detik
Interprestasi
1. Jika tetssan darah tenggelam dalam waktu 15 dettik, berarti hemoglobin donor
lebih dalam 12,5 g/dL, donor diterima untuk donor darah
2. Namun, jika penurunan darah berada ditengah (yaitu, kadar hemoglobin kurang
dari 12,5 g/dL, dan kemudian munculke permukaan, donor di tangguhkan
3. Jika tetesan darah tenggelam secara perlahan , dan kemudian menuju ke bagian
bawah tabung, berarti meragukan sehingga perlu mengkonfirmasi kadar
hemoglobin donor itu
4. Jika terjadi kegagalan pada tes CuSO4 tersebut, ulangi pemeriksaan hemoglobin
dengan metode Drabklin
5. Dalam kasus jika hemoglobin lebih rendah dari 12,5 g/dL maka donor perku
diberi obat hematinik dan meminta donor tersebut datang lagi untuk memeriksa
ulang setelah satu bulan.

3.1.3. Metode Sahli


Prinsip metode Sahli merupakan satu cara penetapan hemoglobin secara visual.
Darah diencerkan dengan larutan HCL sehingga hemoglobin berubah menjadi asam
hematin. Untuk dapat menentukan kadar hemoglobin dilakukan dengan mengencerkan
campuran larutan tersebut dengan aquades sampai warnanya sama dengan warna
standar di tabung gelas. Pada metode ini tidak semua hemoglobin berubah menjadi
hematin asam seperti karboksihemoglobin, methemoglobin dan sulfhemoglobin,
penyimpangan hasil pemeriksaan cara visual ini sampai 15 30 %, sehingga tidak
dapat untuk menghitung indeks eritrosit. Selain cara Sahli ada pula cara cara lain
yang masih banyak digunakan di laboratorium laboratorium kecil yang tidak
mempunyai fotoklorimeter. Namun, demekianm, yang banyak dipakai laboratorium
klinik adalah cara cara fotoelektrik dan kolorimetrik visual.

Peralatan dan Reagen


Dua tabung standar warna (a)
Tabung pengencet panjang 12 cm, bergaris mulai angka 2 (dibagian bawah) sampai
dengan 22 (dibagian atas) (b)
Pipet Hb, dengan pipet karet panjang 12,5 cm terdapat angka 20 (c)
Pipet HCL (d)
Botol berisi HCL 0,1 N (e)
Batang pengaduk (dari bahan gelas) (f)
Larutan HCL 0,1 N (g)
Aquades

Kesalahan yang sering terjadi


Alat alat kurang bersih
Ukuran pipet kurang tepat perlu dikalibrasi
Warna gelas standar pucat atau kotor. Dll
Pemipetan yang kurang akurat
Kemampuan untuk membedakan warna tidak sama
Sumber cahaya yang kurang baik
Kelelahan mata
Penyesuaian warna larutan yang diperiksa dalam kurang akurat

Beberapa alasan metode Sahli tidak teilti


1. Asam hematin buka larutan sejati
2. Alat tersebut tidak dapat distandarkan
Hemoglobin yang berdasarkan penetapan hematin asam menurut Sahli dibuat oleh
banyak pabrik. Tabung pengencer berbeda diameternya, warna standar berlainan
intensitasnya,dll
3. Kolorimetri secara visual tidak teliti
Kesalahan biasanya mencapai

kadar hemoglobin yang sesungguhnya.

Karena kurang teliti, maka pelaporan hasil pemeriksaan menjadi berselisih yaitu
g/dL. Dengan demikian laporan menjadi misalnya 11, 11 , 12, 12 1/2, 13 g/dL.
Berdasarkan pada tingkat ketelitian tersebut, maka hasil yang dilaporkan dengan
memakai angka desimal seperti 8,2; 14,4; atau 15,5 tidak dapat dibenarkan.
3.1.4. Metode Fotoeletrik kolorimeter
Dengan cara ini, kita mendapatkan hasil kadar Hb dengan lebih teliti dibandingkan cara
visual kesalahannya hanya berkisar 2 %. Penetapan kadar Hb dengan fotoelektrik
kolorimeter ini memiliki banyak cara, antara lain cara cyanmethemoglobin (HiCN),
cara oksihemoglobin (HbO2), serta cara alkali hematin.
A. Metode cyanmethemoglobin
Metode

cyanmethemoglobin

(hemiglobinsianida;

HiCN)

memiliki

keuntungan, yaitu kenyamanan dan standar, dimana larutan mjudah didapat dan
cukup stabil.
Prinsip nya; darah diencerkan dalam larutan kalium sianida dan kalium ferri
sianida. Kalium ferri sianida mengoksidasi Hb menjadi Hi (methemoglobin), dan
kalium sianida menyediakan ion sianida (CN-) untuk membentuk HiCN, yang
memiliki penyerapan maksimum yang luas pada panjang gelombang 540 nm.
Absorbansi larutan diukur dalam spektrofotometer pada panjang gelombang 540 nm
dan dibandiingkan dengan larutan standar HiCN,
Reagen. Pengencer adalah modifikasi reagen Drabkin :
- 0,20 g kalium ferri sianida (K3Fe [CN]6)
- 0,05 g kalium sianida (KCN)
- 0,14 g kalium dihidrogen fosfat (anhidrat) (KH2PO4)
- Detergen Non ionik
- Aquades 1000 mL

Larutan harus jernih dan berwarna kuning muda, memiliki pH 7,0 7,4 dan
memberikan pembacaan nol ketika diukur dalam fotometer pada 540 nm terhadap
blanko. Mengganti natrium bikarbonat (NaHCO3) dengan kalium dihidrogen fosfat
(KH2PO4) dalam reagen Drabkin yang asli akan mempersingkat waktu menjadi 3
menit. Detergen ini meningkatkan lisis eritrosit dan menurukan kekeruhan karena
presipitasi protein.
Larutan pengencer itu sendiri hanya berisi KCN 50 mg/L. Kurang daridosis yang
mematikan untuk orang dengan berat badan 70 kg, namun, karena hidrogen sianida
(HCN) dilepaskan oleh pengamasan, maka paparsn terhadap pengencer asam juga
harus dihindari. Disarankan pembuangan reagen dan sampel ke dalam air di
wastafel. Pengencer disimpan dalam botol gelap pada suhu kamr, tetapi harus selalu
disiapkan secara berkal agar tetap segar,
Alat
- Spektrofotometer
- Pipet 20 L (khusus pipet Hb) dan pipet 5 mL
- Tisu dan tabung reaksi
Cara kerja
1. Kedalam tabung reaksi / botol kecil dimasukkan 5 mL larutan Drabkin
2. Diisap darah kapiler 20 L denga pipet mikro atau pipet Sahli. Kelebihan darah
yang melekat pada bagian luar pipet dihapus dengan kain kasa kering / kertas tisu
3. Darah dalam pipet dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi larutan
Drabkin
4. Pipet dibilas beberapa kali dengan larutan Drabkin tersebut
5. Campur larutan ini dengan cara menggoyang goyangkan tabung secara perlahan
lahan hingga menjadi homogen, dan biarkan selama 3 menit
6. Baca dengan spektrometer pada panjang gelombang 540 nm sebagi blanko
digunakan larutan Drabkin
7. Kadar Hb ditentukan dengan perbandingan antara absorban sampel ngan
absorban standar.
Kalibrasi alat
Biasanya mudah untuk mengkalibrasi fotometer yang akan digunakan untuk
pengukuran hemoglobin, yaitu dengan mempersiapkan kurva standar atau tabel yang

berhubungan dengan absorbansi konsentrasi Hb dalam gram per destikiter.


Absorbansi HiCN standar diukur terhadap reagen blanko, pembacaan absorbansi
dilakukan dari HiCN standar segar dan pengenceran standar ini dalam reagen (1:2,
1:3, dan 1:4) terhadap reagen blanko. Nilai Hb dalam gram per destiliter dihitung
untuk setiap larutan. Pembacaan absorbansi diplot pada kertas grafik linier sebagai
ordinat ordinat terhadap konsentrasi Hb sebagai absis. Titik titik harus
menggambarkan garis lurus yang melewati titik asal. Keuntungan dari metode HiCN
adalah dapat mengukur sebagian besar jenis hemoglobin (Hb, HbO2, Hi dan HbCO,
tetapi tidak SHb). Sampel uji dapat langsung dibandingkan dengan standar HiCN,
dan pembacaan muah dilakukan karena stabilitas dari sampel yang telah diencerkan.
Peningkatan absorbansi yang bukan disebabkan oleh Hb mungkin disebabkan oleh
kekeruhan protein plasma yang abnormal, hiperlipemia. Kekeruhan terjadi bila
jumlah leukosit lebih dari 30 x 103/mL.

Sumber kesalahan
Sumber kesalahan mungkin terdapat pada sampel , metode, peralatan atau
operator.

Teknik

pungsi

vena

yang

tidak

benar

dapat

menyebabkan

hemokonsentrasi, yang akan membuat konsentrasi Hb dan hitung sel terlalu tinggi.
Sampling darah kapiler dapat menghasilkan kesalahan yang sama. Metode HiCN
adalah metode pilihan. Penggunaan standar HiCN untuk kalibrasi instrumen dan
untuk uji itu sendiri akan menghilangkan sumber utama kesalahan. Keakurayan tetap
tidak seragam. Kalibrasi pipet akan mengurangi kesalahan. Fotometer harus
dikalibrasi di laboratorium dari awal sebelum digunakan dan harus diperiksa ulang
dengan sering untuk mengurangi kesalahan. Kesalahan metode ini tidak kurang dari
2 %.
Kesalahan operator
Kesalahan karena faktor manusia dapat dikurangi dengan pelatihan yang baik,
pemahaman tentang signigfikan tes klinis dan kebutuhan metode yang daoat
diandalkan, kepatuhan terdapat intrusksi lisan dan tertulis, serta keakraban dengan
peralatan dan dengan sumber kesalahn. Kesalahan cenderung meningkat dengan
kelelahan dan lebuh sering terjadi di akhir jam kerja. Orang yang sabar dan kritis
dengan lingkungan dan dengan pelatihan, kurang rentan untuk membuat kesalahan.

Perhitungan
Kadar Hb =

x konsentrasi larutan standar x

B. Oksihemoglobin
Metode HbO2 adalah metode yang paling sederhana dan paling cepat untuk
semua

metode

yang

menggunakan

fotometer.

Kerugiannya

adalah

tidak

memungkinkan untuk menyiapkan HbO2 dalam keadaan stabil, sehingga kalibrasi


terhadap peralatan harus elalu dilakukan secara teratur menggunakan larutan HiCN
atau standar sekunder darah. Keandalan metode ini adalah tidak dipengaruhi oleh
meningkatnya bilirubin dalam plasma secara moderat, tetapi hasilnya akan
dipengaruhi oleh adanya HbCO, Hi atau SHb.
Peralatan dan pereaksi
Na-karbonat 0,1 % atau NH4OH 0,04 %
Pipet ukur 5 mL
Mikropipet 20 mikroliter
Tabung reaksi ukuran 75 x 10 mm
Spektrofotometer
Cara kerja
1.

masukkan 20 mL darah kedalam tabung berisi 4 mL (0,4 mL/L amonia; berat


jenis 0,88) untuk menghasilkan pengenceran 201 kali

2.

tutup dengan erat dan campur baik baik dengan cara membolak balikan
tabung beberapa kali. Larutan HbO2 kemudian siap untuk dicocokkan dengan
standar dalam spektrometer terhadap blanko pada panjang gelombang 540 nm
atau melalui fotometer dengan filter warna kuning hjau

3.

jika absorbansi dari larutan melebihi 0,7 maka darah perlu diencerkan lebih lanjut
dengan volume air yang setara kemudian dibaca lagi.

Perhitungan
Hb (g/L) =

x konsentrasi standar x

Larutan amonia segar harus dibuat setiap minggu. Sekali diencerkan, sampel
darah akan stabil pada suhu 20C selama 2 hari, standar harus dari spesimen darah
dengan antikoagulan normal. Konsentrasi hemoglobin pertama kali ditentukan dengan
metode HCN. Darah kemudian 1:201 dengan cara memipet 20 mL. Darah dengan 4
mL amonia.

3.2. Pemeriksaan Hematokrit ( HCT ) = PCV ( Packed Cell Volume )


Nilai hematokrit dapat digunakan sebagai tes skrining sederhana untuk anemia sebagai
referensi kalibrasi untuk metode otomatis hitung sel darah, dan secara kadar untuk
membimbing keakuratan pengukuran hemoglobin. Nilai hematokrit yang dinyatakan dalam
g/L adalah sekitar tiga kali kadar Hb. Sehubungan dengan estimasi dari Hb dan sel darah.
Hambatan penggunaan di laboratorium disebabkan oleh kekurangan sumber daya kebutuhan
sentrifigasi khusus dan tabung kapiler yang dapat diandalkan.
Nilai hematokrit dari sampel adalah perbandingan antara volume eritrosit dengan
volume darah secara keseluruhan. Nilai hematokrit dapat dinyatakan sebagai persentase
(konvensional) atau sebagai pecahan desimal (unit SI), liter/liter (L/L). Asam heparin kerin g
dan etilen diamin tetra asetat (EDTA) adalah antikoagulan yang memuaskan untuk tujuan tes
ini. Sebelum mengambil sampel dari tabung darah vena, penting untuk mencapur darah
secara menyeluruh dengan sempurna. Jumlah inversi yang dibutuhkan untuk mencapai
homogenitas spesimen tergantung pada dimensi wadah. Tabung standar 10 14 x 75 mm,
yang mengandung 5 mL darah, dan bagian kosong paling sedikit 20 % dari volume tabung,
membutuhkan setidaknya delapan inversi. Sampel darah vena dan darah kapiler mempunyai
nilai hematokrit yang sama, nilai keduanya lebih besar daripada hamtokrit total pada tubuh.
Hematokrit dapat dilakukan secara langsung dengan metode makrohematokrit dan
mikrohemtokrit yang keduanya perlu disentrifugasi, atau secara tidak langsung dari hasil
perhitungan mean corpuscular volume (MCV) dikalikan dengan jumlah eritrosit
menggunakan instrumen otomatis. Pada darah yang disimpan pada suhu kamar, akan terjadi
pembengkakan eritrosit. Pada 6 24 jam, yang menyebabkan peningkatan hematokrit dan
MCV. Jumlah eritrosit dan nilai indeks akan stabil selama 24 jam pada suhu 4C pada metode
Wintrobe, digunakan tabung kaca dengan diameter yang sama, kemudian disentrifugasi.
Metode ini sudah tidak digunakan lagi.

Penentuan hematokrit dilakukan dengan disentrifugasi. Tinggi dari kolom eritrosit buffy
coat, dan kolom plasma harus diperhatikan. Buffy coat adalah lapisan merah keabu abuan
antara eritrosit dengan plasma. Dalam buffy coat terdiri dari trombosit dan leukosit. Plasma
berwarna oranye atau hijau, yang menunjukkan peningkatan kadar bilirubin, sedangkan
warna merah muda atau merah menunjukkan terjadinya hemoglobinemia akibat spesimen
mengalami hemolisis. Kesalahan teknik dalam mengumpulkan spesimen darah adalah
penyebab paling sering terjadinya hemolisis. Spesimen yang tampak berawan yang diperoleh
dalam keadaan tidak mengkonsumsi makanan kaya lemak pada satu atau dua jam
sebelumnya, dapat menunjukkan kondisi abnormal tertentu, misalnya nefrosis atau
hiperglobulinemia, terutama krioglobulinemia.
Pengukuran Hematokrit dengan Mikrohematokrit
Darah EDTA atau heparin disentrifugasi, sel - sel eritrositnya akan dimampatkan tingginya
pada kolom eritrosit diukur, yang dinyatakan dalam persentase darah tersebut.
Peralatan

tabung kapiler hematokrit berukuran 75 mm, berdiameter 1 mm. Ada yang berisi heparin
(khusus untuk darah kapiler) dan ada yang tidak berisi antikoagulan (untuk darah
antikoagulan, misalnya darah EDTA). Penggunaan tabung hematokrit yang kapasitas dan
diameteenya lebih kecil dari tabung Wintrobe, sangat tepat untuk pemeriksaan rutin
dalam klinik. Selain itu, tabung tersebut dapat digunakan untuk penampungan darah
kapiler secara langsung. Pada anemia makrolitik, terdapat sedikit kenaikan jumlah
plasma; dengan adanya sferosit pada sferosiasis, talasemia, anemia hipokromik, dan
anemia sel sabit, kenaikkan jumlah plasmanya lebih tinggi lagi.

Lampu spiritus / malam untuk menutup salah satu ujung tabung hematokrit

Sentrifuga yang dapat memutar >16000 rpm

Skala pembaca mikrohematokrit.

Reagen
Heparin (melapisi lumen tabung kapiler)

Sampel
Darah vena / darah kapiler

Cara kerja
1.

Tabung mikrohemtokrit diisi melalui kapiler dari sampel tusukan atau sampel vena,
tabung kapiler harus diisi minimal 5 cm

2.

Bagian ujung yang tertutup dengan sejenis dempul untuk keperluan tersebut

3.

Tabung yang diisi sampel ditempatkan dialur radial mikrohematokrit yang disentrifugasi,
bagian ujung yang tertutup berada jauh dari pusat

4.

Sentrifugasi selama 5 menit pada 10000 12000 rpm sudah memuaskan, kecuali bila
hematokrit melebihi 50 %, makka diperlukan sentrifugasi tambahan selama 5 menit
untuk memastikan plasma yang terperangkap oleh kolom eritrosit sudah minimal.

5.

Tabung kapiler tidak mempunyai skala, oleh karena itu mengukur tinggi kolom eritrosit
harus menggunakan skala pembacaan hematokrit dengan ukuran milimeter dan
menggunakan lensa pembesar.

3.3. Pemeriksaan Leukosit ( WBC = WHITE BLOOD CELL )


Dengan kamar penghitung IMPROVED NEUBAUER
Darah diencerkan dalam pipet leukosi, kemudian dimasukkan kedalam kamar hitung. Jumlah
leukosit dihitung dalam volume tertentu, dengan menggunakan faktor konversi jumlah
leukosit per mL darah. Perhitungan dilakukan untuk semua leukosit yang terdapat dalam
keempat bidang besar pada sudut - sudut kotak seluruh permukaan yang dibagi.
Prinsip
Spesimen yang mengandung elemen selular seperti leukosit dan eritrosit, dicampur
dengan larutan pengencer pada volume tertentu. Larutan pengencer akan melisis eritrosit
sehingga leukosit mudah dihitung. Hitung leukosit secara manual sangat bermanfaaat pada
kasus jumlah leukosit sangat sedikit.
Spesimen
Darah vena dengan antikoagulan EDTA atau darah kapiler

Reagen dan alat


1.

Larutan pengencer leukosit (Tiurk)

2.

Pipet Thoma untuk leukosit dilengkapi aspirator

3.

Bilik hitung Neubauer Improved dan kaca penutup

4.

Kasa alkohol

5.

Mikroskop konvensional

Cara kerja
1.

Dengan pipet Thoma, isap darah sampai tanda 0,5

2.

Selanjutnya dengan pipet tersebut, isap larutan Turk sampai tanda 11 (jangan memipet
dengan mulut), dalam hal ini akan menghasilkan pengenceran 1:20.

3.

Lepaskan tabung aspitor, beri label, dan letakkan pipet pada pipette shaker (bila ada)
atau secara manual selama 5 10 menit untuk memastikan pencampuran berlangsung
baik danleukosit telah lisis sempurna

4.

Bersihkan bilik hitung dan kaca penutup

5.

Ambil pipet yang berisi spesimen yang telah tercampur. Buang 5 6 tetes pertama, satu
tetes berikutnya diletakkan pada bilik hitung. Jangan sampai terjadi gelembung udara
atau kelebihan spesimen dalam bilik hitung

6.

Biarkan beberapa menit bilik hitung yang berisi spesimen agar leukosit mengendap. Agar
tidak kering, bilik hitung dimasukkanm kedalam cawan petri yang berisi kasa basah dan
ditutup

7.

Letakkan bilik hitung pada mikroskop dan lakukan pembacaan dengan pembesaran 10 x.
Leukosit dihitung pada 4 kotak besar disudut. Masing masing kotak tersebut terbagi
menjadi 16 kotak sedang

8.

Mulailah menghitung dari sudut kiri atas, terus kanan; kemudian turun ke bawah dan dari
kanan ke kiri; lalu turun lagi ke bawah dan mulai lagi dari kiri ke kanan. Cara seperti ini
dilakukan pada keempat bidang besar

9.

Kadang kadang ada sel sel yang letaknya menyingung garis batas suatu bidang. Sel
sel yang menyinggung garis batas sebelah kiri atau garis atas, harus dihitung sebaliknya,
sel sel yang menyinggung garis batas kanan atau bawah, tidak boleh dihitung

Perhitungan
Total leukosit = leukosit yang ditentukan x faktor pengenceran x faktor koreksi volume

Pengenceran yang terjadi dalam pipet adalah 20 x. Faktor koreksi volume adalah 2,5 angka
itu berasal dari leukosit yang dihitung dalam 1 L dibagi volume leukosit yang dihitung
(pada bilik hitung) yaitu 0,4 L
Misalnya, ditemukan leukosit sejumlah 180 sel, maka
Jumlah leukosit 180 x 20 x 2,5 = 9000//mL
Atau
180 x 50 = 9000/mL

Nilai normal
4,5 10 x 103 ribu/mL
Kesalah kesalahan pada tindakan menghitung leukosit
1.

Jumlah darah yang diisap ekdalam pipet tidak tepat, karena :


- Bekerja terlalu lambat sehingga ada bekuan darah
- Tidak mencapai garis tanda 0,5
- Memakai dengan paralaks
- Mengeluarkan lagi sebagian darah yang telah diisap karena melewati garis tanda 0,5

2.

Pengenceran dlam pipet salah, karena:


- Kehilangan cairan dari pipet, karena mengalir kembali kedalam botol yang berisi
larutan Turk
- Tidak mengisap cairan tepat sampai garis 11
- Terjadi gelembung udara didalam pipet saat mengisap larutan Turk
- Cairan sedikit terbuang pada saat mengocok pipet atau pada saat mencabut karet
pengisap dari pipet

3.

Tidak mengocok pipet segera setelah mengambil larutan Turk

4.

Tidak mengocok pipet sebelum mengisi kamar hitung

5.

Tidak membuang beberapa tetes pertama dari isi pipet sebelum mengisi kamar hitung

6.

Berkaitan dengan kamar hitung dan teknik menghitung :


- Kamar hitung atau kaca penutu7p kotor
- Ada gelembung yang masuk bersama dengan cairan
- Letak kaca penutup darah
- Meja mikroskop tidak rata air
- Salah menghitung sel yang menyinggung garis garis batas
- Kaca penutup tergeser karena disentuh dengan lensa mikroskop

3.4. Pemeriksaan Trombosit ( PLT = PLATELET )


Trombosit berasal dari fragmentasi sitoplasma mega =kariosit, suatu sel muda besar
yang berada dalam sumsum tulang. Megakariosit matang ditandai oleh proses replikasi
endomiotik inti dan makin besarnya volume plasma, sehingga pada akhirnya sitoplasma
menjadi granular dan terjadi pelepasan trombosit. Setiap megakariosit mampu menghasilkan

3000 4000 trombosit, waktu dari diferensiasi cell sampai dihasilkan trombosit memerlukan
waktu sekitar 10 hari.unsur trombosit pada darah perifer adalah 7 10 hari.
Trombosit adalah sel darah yang tidak berinti, berbentuk cakram dengan diameter 1 4
mikrometer, dan memiliki volume 7 8 fl. Trombosit dapat dibagi dalam 3 daerah (zona),
yaitu zona daerah tepi berperan sebagai adhesi dan agregasi, zona sol gel menunjang
struktur dan mekanisme interaksi trombosit, serta zona

organel yang berperan dalam

pengualaran isi trombosit. Fungsi utama trombosit adalah pembentukan sumbatan mekanis
sebagai repons hemostatik normal terhadap luka vaskular, melalui reaksi adhesi, pelepasan,
agregasi dan fusi, serta aktivitas prokoagulannya. Nilai menurut Deacie adalah 150 400 x
109/L. Bila dipakai metode Rees Ecker, nilai normal trombosit adalah 140 340 x 109/L,
dengan menggunakan Coulter Counter, nilai normalnya adalah 150 350 x 109/L. Dalam
paragraf berikutnya, akan dibahas mengenai bahan yang digunakan dalam pemeriksaan
trombosit dalam laboratorium dan kelainan kelainan trombosit yang mungkin terjadi.
Bahan pemeriksaan
Bahan pemeriksaan adalah darah lengkap, yang dapat diperoleh dari darah kapiler atau
darah vena. Pengambilan darah kapiler untuk orang dewasa dilakukan pada ujung jari tangan
ketiga dan keempat serta pada anak dalam telinga, sedangkan pada bayi dan anak anak,
biasanya dari tumit atau ibu jari kaki. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengambilan sampel
darah kapiler adalah sebelum penusukan dimulai, keadaan setempat perlu diperhatikan
dengan seksama. Hal yang merupakan kontra indikasi adalah adanya beks bekas luka,
peradangan dermatitis, ataupun edema.
Pengambilan darah kapiler dapat dilakukan bila jumlah darah dibutuhkan sedikit saja,
atau dalam keadaan emergensi, karena selain jumlah darah yang diambil sedikit, sehingga
jika terjadi kesalahan dalam pemeriksaan akan sulit untuk menanggulangi. Kesulitan
kesulitan yang sering terjadi dalam pengambilan sampel darah ini adalah apabila kulit
disekitar luka tusukan tidak kering karena alkohol atau keringat, maka tetesan darah yang
keluar tidak dapat mengumpul melainkan menyebar ke seikitarnya sehingga sukar untuk
mengambilnya. Selain itu, bahan darah semacam ini tidak boleh digunakan karena sudah
bercampur dengan bahan lain. Darah tidak dapat keluar dengan lancar. Hal ini biasanya
karena penusukan yang kurang dalam atau peredaran darah setempat kurang baik. Usaha
untuk melancarkan pengeluaran darah dengan memijat akan sia sia karena darah yang
keluar tidak dapat digunakan karena sudah tercampur dengan cairan jaringan, sehingga hasil
pemeriksaan menunjukkan hasil yang lebih rendah dari yang sebenernya.

Pengambilan darah vena untuk orang dewasa dilakukan pada vena di fossa cubiti,
sedangkan pada anak anak atau bayi, bila perlu, darah diambil dari vena jugularis eksterna,
vena femoralis, bahkan dapat diambil dari sinus sagittalis superir. Pengambilan darah vena,
perlu dilakukan dengan hati hati karena bahaya yang dapat terjadi jauh lebih besar daripada
pengambilan darah kapiler. Dalam pengambilan sampel darah vena, perlu diperhatikan
tempat yang akan digunakan untuk pengambilan harus diperiksa dengan seksama, antara lain
letak dan ukuran vena.
Pemeriksaan hitung jumlah trombosit dalam laboraturium dapat dilakukan secara
langsung maupun tidak langsung. Secara langsung menggunakan metode Rees Ecker, metode
Brecher Cronkote, dan Cell Counter Automatic Metode Rees Ecker. Darah diencerkan
dengan larutan BCB (brilliant cresyl blue), sehingga trombosit akan terwarnai terang
kebiruan.
Trombosit dihitung dengan bilik hitung dibawah mikroskop, kemungkinan kesalahan
metode Rees Ecker adalah 16 25 %. Pada metode Brecher Cronkote darah diencerkan
dengan larutan amonium oksalat 1 % untuk melisiskan sel darah merah, kemudian trombosit
dihitung pada bilik hitung menggunakan mikroskop fase kontras. Kemungkinan kesalahan
Brecher Cronkote adalah 8 10 %. Pada metode cell counter automatic, metode ini
menggunakan prinsip flowsitometri. Prinsip tersebut memungkinkan sel sel masuk flow
chamber untuk dicampur dengan diluen, kemudian dialirkan melalui apertura yang berukuran
kecil yang memungkinkan sel lewat satu per atu. Aliran yang keluar dilewatkan medan listri
untuk kemudian sel dipisah pisahkan sesuai muatannya. Teknik dasar pengukuran sel dalam
flowsitometri adalah impedansi listrik (electrical imedance) dan pendar cahaya (light
scattering). Teknik impendansi berdasarkan pengukuran besarnya resistensi elektronik antara
dua elektrode. Teknik pendar cahaya akan menghamburkan , memantulkan atau membiaskan
cahaya berbeda, maka akan menghasilkan pendar cahaya berbeda yang dapat terindikasi.
Pada cell counter automatic, masih terdapat kelemahan apabila ada trombosit yang
bergerombol, trombosit besar (giant), serta adanya kotoran, pecahan eritrosit dan pecahan
leukosit. Dengan demikian, cross check menggunakan sediaan apus darah tepi (SADT)
sangat berarti.
Hitung trombosit secara tidak langsung menggunakan metode fonio an estimasi
dilakukan dengan metode Barbara Brown. Pada metode fonio, dilakukan dengan
menggunakan darah kapiler pada ujung jari yang dicampur dengan larutan magnesium sulfat
14 %, kemudian dibuat SADT dan dilakukan pewarnaan Giemsa. Jumlah trombosit dihitung

dalam 1000 eritrosit, dan jumlah mutlak trombosit dapat diperhitungan dari jumlah mutlak
eritrosit. Cara ini lebih kasar dibandingkan cara langsung.
Prinsip pemeriksaan
Darah kapiler yang mengalir bebas atau campuran darah vena dengan antikoagulan
ditambahkan ke pengencer spesifik pada volume tertentu, larutan pengencer akan melisis
eritrosit tetapi menjaga leukosit dan trombosit tetap utuh. Darah yang diencerkan dimasukkan
ke bilik hitung. Sel dibiarkan selama 10 menit. Supaya mengendap sebelum trombosit
dihitung.

Bahan
Darah vena dengan antikoagulan EDTA atau darah kapiler

Reagen

Amonium oksalat

11,45 g

Bufer fosfat soresen

1,0 g

Thimerosal

0,1 g

Aquades qs sampai

1000 mL

Alat

Pipet kapasitas 20 L

Hemasimeter dan kaca penutup

Mikroskop

Kapas alkohol

Hand counter

Cawan petri dengan kertas saring lembap

Cara kerja
1.

Isaplah darah dengan pipet eritrosit sampai tanda 0,5 dan encerkan dengan larutan
pengencer sampai tanda 101 (pengenceran 200x). Mulai saat ini, trombosit harus selesai
dihitung dalam waktu 30 menit, agar tidak disintegrasi sel sel trombosit

2.

Kocoklah pipet tersebut 3 5 menit

3.

Setelah pipet tersebut dikocok, buanglah 4 tetes pertama da tetesan ke lima diisikan
kedalam bilik hitung. Masukka bilik hitung tersebut kedalam cawan petri yang telah
disiapkan tadi. Biarkan selama 15 menit, agar trombosit mengendap dan tidak terjadi
penguapan

4.

Letakkan bilik hitung dibawah mikroskop dengan perbesaran objektif 100 x kemudian
perbesaran 40 x. Trombosit tampak refraktif dan mengilat berwarna biru muda / nila,
lebih kecil dari eritrosit serta berbentuk bulat, lonjong atau tersebar bergerombol.

Perhitungan
Jumlah trombosit =
Misalnya, ditemukan trombosit sebanyak 230, maka jumlah trombosit / mm3
=

230 x 1000 = 230.000/mm3 = 230 x 103/L

3.5. Pemeriksaan Eritrosit ( RBC = RED BLOOD CELL )


Pengukuran jumlah RBC.
Saat lahir jumlah RBC paling tinggi, berangsur turun saat Dewasa. RBC dibentuk dalam
sumsum tulang pipih & proximal dari tulang panjang. Umur RBC 120 hari dalam peredaran
darah.
Harga normal dari RBC :
-

Laki - laki dewasa

: 4,3 jt 5,9 jt/mL

Wanita dewasa

: 3,9 jt 4,8 jt/mL

Bayi

: 5,0 jt 7.0 jt/mL

Anak usia 3 bulan

: 3,2 jt 4,8 jt/mL

Anak usia 1 tahun

: 3,6 jt 5,2 jt/mL

Usia 10-12 th

: 4,0 jt 5,4 jt/mL

Untuk penghitungan jumlah RBC dapat dipakai cara manual dengan Kamar Hitung Improved
Neubauer setelah diencerkan dgn larutan Hayem.

3.6. Pemeriksaan Indeks Eritrosit


Perhitungan yang menyatakan besarnya volume eritrosit dan konsentrasi hemoglobin
dalam tiap sel. Penggolongan anemia berdasarkan Indeks Erytrosit paling bermanfaat yaitu

anemia mikrositik, normositik dan makrositik, karena : -mengarah mengarah pada sifat defek
primernya menunjukkan kelainan yang mendasari sebelum terjadi anemia yang jelas.

1. M C V (Mean Cell Volume)


didapatkan dari : Hematocrite : jml eritrosit
Nilai Normal : 80 100 fl (dewasa)
76 86 fl ( anak < 1 th)
mikrositosis < 80 100 fl < makrositosis
2. M C H (Mean Cell Haemoglobine)
Mengukur banyaknya Hb yang terdapat dalam satu sel darah merah.
Ditentukan dengan membagi jumlah Hb dalam 1000 ml darah dengan jumlah eritrosit
Per mm3 darah pikogram
Nilai normal :

27 32 pg (dewasa)

23 31 pg ( anak )
Jika nilai kurang dari normal : hipokrom
3. M C H C ( Mean Cell Hb Concentrate )
Kadar rata-rata Hb : volume eritrosit.Kadar Hb/haematocrite

3.7. Pemeriksaan Laju Endap Darah ( LED ) = ESR (erytrocyt sedimentation rate )
Aplikasi, baru baru ini, laju endap darah (LED) tela di laporkan memiliki signifikansi
klinis dengan penyakit sel sabit, osteomielitis, stroke (LED
prognosis yang lebih buruk), kanker postat (LED

memiliki
memiliki insiden

perkembangan penyakit yang lebih tinggi dan kematian), dan penyakit arteri koroner (LED
pada orang kulit putih memiliki risiko tinggi untuk penyakit arteri koroner).
Pada kehamilan, LED cukup meningkat, mulai minggu 10 12, dan kembali normal sekitar 1
bulan setelah melahirkan. LED meningkat secara nyata pada gangguan monokloral protein
darah, seperti beberapa mielona atau makroglobulinrmia, dalam hiperglobulinemia poliklonal
karena peradangan parah dan dalam hiperfibrinogenemia.
LED meningkat pada penyakit inflamasi aktif seperti artritis reumatoid, infeksi kronis,
penyakit kolagen, dan neoplastik. LED ini memiliki sedikit nilai diagnosgtik tetapi dapat
berguna untuk pemantauan penyakit. Pemeriksaan lebih sederhana dibandingkan dengan
pengukuran serum protein, yang cemderung untuk menggantikan LED. Karena hasil LED

sering normal pada pasien dengan neoplasma, penyakit jaringan ikat, dan infeksi, maka hasil
LED yang normal tidak bisa digunakan dalam menyingkirkan kemungkinan diagnostik dan
memantau reumatik polimialgia arteritris temporal, biasanya pertense melebihi 90 mm/jam.
LED digunakan dalam mengevaluasi artetritis temporal, septik artritis, penyakit radang
panggul, dan radang usus buntu. Adanya gejala sistemik (demam, berat badan menurun,
keringet malam). Dalam suatu penelitian, sepertiga dari pasien tanpa disertai gejala, ESR
kurang dari 10 mm/jam, dan menunjukkan prognosis yang sangat baik, tanpa memandang
umur, derajat penyakit atau histopatologi.
Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan LED

Perhatikan segala petunjuk yang telah diberikan pada waktu melakukan pungsi vena
karena statis vena menyebabkan darah mengental (hemokonsentrasi) dan berakibat
kesalahan hasil pemeriksaan.

Penting sekali menempatkan pipet atau tabung laju endap darah dalam setiap benar
benar tegak lurus, selisih sedikit saja dari garis vertikal sudah dapat berpengaruh banyak
terhadap hasil laju endap darah

Oleh karena laju endap darah dipengaruhi oleh jumlah eritrosit, maka nilai laju endap
darah cara Wintrobe perlu dikoreksi terhadap nilai hematokrit. Koreksi semacam ini
memerlukan grafik khusus.

Hasil pemeriksaan laju endap darah menggunakan cara Westergen dan cara Wintrobe
tidak berbeda banyak jika hasil laju endap darah dalam batas batas normal. Akan tetapi,
perbedaan hasil pemeriksaan akan tampak nyata bila dalam kondisi patologis. Oleh
karena itu, international Committee for Standardization in Hematology (ICSH)
merekomendasikan pemeriksaan LED dengan metode Westergen.

Macam macam metode pemeriksaan LED, Pemeriksaan LED dikenal dengan dua
metode, yaitu : Metode Westergen dan Metode Wintrobe
A. Metode Westergen
Metode Westergen banyak digunakan, karena metode ini sangat sederhana. ICSH
merekomendasikan sebagai metode referensi. Hematokrit pasien seharusnya tidak
melebihi 35 % karena kemampuan untuk terjadinya sedimentasi mungkin lebih lambat
pada tabung yang sempit

Prinsip.
Sejumlah darah yang telah ditambah dengan NaCL 0,85 % dala perbandingan (4:1)
apabila didiamkan dalam tabung Westergen dalam posisi tegak lurus, dengan adanya
perbedaan berat jenis antara sel darah dengan plasma, maka sel darah akan mengendap

Bahan.
Darah vena

Peralatan
Tabung Westergen adalah pipet lurus dengan panjang 30 cm, diameter internal 2,55 mm,
dan memuat sekitar 1 mL. Rak Westergen juga digunakan , yang diperlukan untuk
meletakkan tabung pada posisi vertikel

Reagen
larutan natrium sitrat 0,105 mol (kisaran 0,10 0,136) adalah antikoagulan yang
digunakan sebagai larutan pengencer.
Prosedur
1.

Sebanyak 2 mL darah ditambahkan ke 0,5 mL natrium sitrat dan dicampur dengan


cara bolak balik

2.

Pipet Westergen diisi sampai tanda 0 dan ditempatkan vertikal di rak pada suhu
kamar tanpa getaran atau paparan sinar matahari

3.

Setelah tepat 60 menit, jarak dari tanda 0 ke atas kolom eritrosit dicatat dalam
milimeter sebagai nilai LED

4.

Jika batas antara plasma dan sel darah merah kolom adalah kabut yang diukur adalah
kepadatan yang jelas terlihat.

Nilai normal
Nilai normal LED menurut metode Westergen :
Laki laki

: 0 10 mm/jam

Wanita

: 0 15 mm/jam

Anak anak

: 0 15 mm/jam

Orang lanjut usia >60 tahun : 0 20 mm/jam

Modifikasi metode Westergen


Metode Westergen menggunakan sampel darah dengan antikoagulan EDTA, bukan
dengan sitrat. Sebanyak 2 mL darah EDTA diencerkan dengan 0,5 mL natrium sitrat 3,8
% atau dengan 0,5 mL natrium klorida 0,85 %

Sumber kesalahan
Jika konsentrasi antikoagulan lebih tinggi dari yang direkomendasikan, maka LED
mungkin meningkat. Natrium sitat atau EDTA tidak mempengaruhi tingkat sedimentasi
jika menggunakan dalam konsentrasi yang tepat. Heparin mengubah membran potensial
zeta dan tidak dapat digunakan sebagai antikoagulan. Gelembung yang tersisa ditabung
ketika diisi, akan mempengaruhi LED. Hemolisis dapat mempengaruhi LED.
Kemiringan 3 derajat saja akan dapat mempercepat LED sebanyak 30 %. Suhu harus
dalam kisaran 20 25C lebih rendah atau lebih tinggi mengubah LED. Jika darah telah
disimpan dalam keadaan dingin, maka harus disesuaikan dulu untuk mencapai suhu
kamar. Tes harus sudah dilakukan dalam waktu 2 jam setelah sampel darah diperoleh
(atau dalam waktu 12 jam jika EDTA digunakan sebagai antikoagulan dan darah
disimpan pada suhu 4C). Tidak ada metode yang efektif yang dikenal untuk
mengkoreksi anemia pada metode Westergen meskipun hal ini dapat dilakukan dengan
metode Wintrobe.

Alternatif metode untuk mengukur LED


ESR ves MATIC 20 adalah instrumen yang dirancang untuk mengukur 20 sampel
darah secara

otomatis. Darah dikumpulkan dikuvet khusus dan dengan hati hati

dicampur denga sampel, kemudian dibiarkan mengendap untuk jangka waktu tertentu.
Sensor optoelektrikal otomatis akan membaca tingkat sedimentasi eritrosit.
B. Metode Wintrobe
Bahan
Darah vena + antikoagulan
Alat
Tabung Wintrobe dan rak nya
Pipet pasteur
Pipet dan semprit
Kapas dan alkohol

Cara kerja
1. Ambil vena kurang lebih 2 cc atau secukupnya
2. Lepaskan jarum dan semprit dan darah dimasukkan kedalam botol yang berisi
antikoagulan, campur hingga homogen
3. Isi tabung Wintrobe dengan memakai pipet pasteur sampai garis tanda nol. Lakukan
secara hati hatim jangan sampai terjadi gelembung udara
4. Letakkan tabung berdiri vertikal pada rak nya dan catat waktunya sesudah tabung itu
diletakkan berdiri vertikal
5. Catat LED sesudah 1 jam, nyatakan dalam mm/jam
Nilai normal
Laki laki

: 0 -20 mm/jam

Wanita

: 0- 10 mm/jam

Kesalahan dalam pemeriksaan


Tabung atau pipet yang basah
Pembacaan yang tidak tepat
Pencampuran darah dan antikoagulan yang terlalu kuat

Nilai nilai normal dan abnormal LED,


LED akan meningkat setelah 24 jam terjadinya peradangan dan secara bertahap akan
kembali normal dalam 4 minggu setelah penyembuhan.
Tabel 5.1 Nilai Normal LED
Individu

Nilai

Bayi baru lahir

0 -2 mm/jam

Anak anak

3 13 mm/jam

Wanita
Umur 18 50 tahun

1 20 mm/jam

Setiap kenaikan 10 tahun

Naik 2 mm/jam

Laki laki
Umur 18 50 tahun

1 15 mm/jam

Setiap kenaikan 10 tahun

Naik 2 mm/jam

3.8. Pemeriksaan Jenis Sel Darah Putih


Menghitung dan mengelompokan WBC yg tampak dihapusan darah dari 100 200
sel
Berperan dalam diagnosa penyakit
Normal ada 6 jenis WBC matur : Eo / Ba / Neu stab / Neu seg / Limfosit / Mo

ABNORMALITAS
1. Penyimpangan prosentase jenis WBC
Peningkatan Eo : alergi, cacing, Ba : CML, Policitemia Vera, dll
2. Sel plasma : measles, varicella, MM
3. Limfosit abnormal : paling sering Mononukleosis infeksiosa
4. Sel darah putih muda
Dewasa
Anak

: Mieloblas, promieloblas, mielosit AML, CML


: Limfosit ALL

3.9. Metode Pemeriksaan Darah Lengkap


Metode

: Automatic Analyzer (fotometer)

Peralatan : Cell DYN Emeral, Cell DYN 3200, ABX Pentra XL 180, Roller mixer, dan
tabung vacutainer
Sampel
Prinsip

: Darah EDTA
: Sampel darah dicampur antikoagulan EDTA kemudian dilakukan perhitungan
jumlah sel-sel darah, kadar hemoglobin, nilai hematokrit, indeks eritrosit, hitung
jenis leukosit dengan alat Pentra XL 80, Cell DYN Emerald an Call DYN 3200

Prosedur :Pemeriksaan Darah Lengkap (DL) dengan menggunakan alat Cell DYN Emerald.

Sampel dihomogenkan selama 5-10 menit dengan roller mixer.

Klik Ikon New Sampel, kemudian klik next sampel, kemudian ketik nama pasien dan
tempat dirawat. Klik OK.

Tutup tabung sampel dibuka dan kemudian tabung diletakkan dibawah jarum sampel
(sampling nozzle) sampai ujung jarum menyentuh dasar tabung.

Tombol counting ditekan, sehingga jarum sampel akan menyedot sampel sampai
jarum sampel akan tertarik kedalam instrument dan sampel secara otomatis akan
diproses oleh alat ini. Ditunggu sampai hasil diprint otomatis oleh alat

Yang diperiksa adalah beberapa komponen darah yaitu eritrosit (sel darah merah), leukosit
(sel darah putih), dan trombosit (keeping darah). Pada lembar hasil DL, yang umum tercatat
adalah kadar hemoglobin, jumlah trombosit, jumlah leukosit, dan hematokrit (perbandingan
antara sel darah merah dan jumlah plasma darah.). Kadang juga dicantumkan LED (Laju
Endap Darah) dan hitung jenis leukosit.
Hasil DL yang normal adalah (hasil ini bervariasi, tergantung di laboratorium mana kita
periksa) :
1. Kadar Hb : 12-14 (wanita), 13-16 (pria) g/dl
2. Jumlah leukosit : 5000 10.000 /l
3. Jumlah trombosit : 150.000 400.000 /l
4. Hematokrit : 35 45 %
5. LED : 0 10 mm/jam (pria), 0 20 mm/jam (wanita)
Beberapa contoh interpretasi dari hasil pemeriksaan darah lengkap secara sederhana
antara lain bila kadar Hb turun menandakan anemia, leukositnya meningkat melebihi
normal mungkin menandakan terjadinya infeksi, trombositnya turun mungkin saja
menandakan terjadi infeksi virus, dan lain sebagainya. Yang perlu diingat adalah
pemeriksaan ini adalah penunjang dari anamnesa dan pemeriksaan fisik yang dilakukan
oleh dokter. Jadi diagnosis tidak semata-mata dari hasil laboratorium, tapi yang paling
utama adalah dari keadaan klinis pasien itu sendiri.

Hasil Pemeriksaan Darah Lengkap


Ukuran

satuan

Nilai rujukan

Eritrosit

Juta/

4,0 5,0 (P)


4,5 5,5 (L)

Hemoglobin

g/dL

12,0 14,0 (P)


13,0 16,0 (L)

hematokrit

40 50 (P)

45 55 (L)

Hitung jenis

Satuan

Nilai rujukan

Basofil

0,0 1,0

Eosinofil

1,0 3,0

Batang

2,0 6,0

Segmen

50,0 70,0

Limfosit

20,0 40,0

Monosit

2,0 8,0

Laju endap

Mm/jam

< 15 (P)

darah
< 10 (P)
5,0 10,0

Leukosit
MCH/HER

Pg

27 - 31

MCHC/KHER

g/dL

32 - 36

MCV/ VER

Fl

80 - 96

Trombosit

150 400

3.10. Contoh-contoh kelainan dan penyakit pada darah:


1. Trombosis
Trombosis adalah terbentuknya masa pengumpulan darah pada manusia/binatang
hidup. Thrombosis merupakan proses kinetik. Masih perlu dilakukan penelitian mendalam
untuk dapat menyokong dasar rasional untuk maksud pencegahan serta pengobatannya.
Abnormalitas dinding pembuluh darah, perubahan komposisi darah dan gangguan
aliran darah, ketiganya merupakan factor-faktor yang memegang peran penting dalam
patofisiologi thrombosis. Dikenal 2 macam trombisis, yaitu thrombosis vena dan thrombosis
arteri. Trombosis vena terjadi akibat aliran darah menjadi lambat atau terjadinya statis aliran
darah, sedangkan kelainan endotel pembuluh darah jarang merupakan factor penyebab utama
terbentuknya trombosis vena. Trombosis arteri sering terbentuk di sekitar orifisium cabang
arteri dan bifurkasio arteri. Di tempat ini terdapat turbulensi aliran darah, sehingga terjadi
perubahan ateromatosa dan kerusakan endotel. Pengelompokan trombosit lebih mudah
terbentuk, oleh karena itu thrombosis arteri terlihat pucat.
Terapi dan Pengobatan
Telah dikenal beberapa macam obat yang dipakai untuk pencegahan thrombosis.
Obat-obat tersebut adalah heparin, derivate kumarin dan indanedion serta obat-obat
antiagregasi trombosit. Untuk trombusnya dipakai obat trombolitik seperti streptokinase dan
urokinase.
Heparin
Heparin adalah suatu antikoagulan alamiah berupa mukopolisakarida yang
mempunyai daya ikat yang kuat terhadap protein. Untuk efektivitas daya kerja heparin
diperlukan suatu kofaktor heparin yang dikenal dengan nama factor Xa (a=aktif) sehingga
pembentukan thrombin terhambat.
Indikasi pemberian heparin adalah:
1. Thrombosis vena, misalnya untuk pasien setelah suatu infark jantung mendadak.
2. Emboli arteri.
3. Sebagai terapi antikoagulan pemeliharaan, misalnya pada tindakan hemodialisis,
sirkulasi ekstrakorporal.

Low Molecular Weight Heparin (LMWH)


LMWH merupakan hasil fraksinasi atau depolimerisasi heparin. Perubahan berat
molekul ini mengakibatkan beberapa perubahan farmakodinamik bila dibandingkan dengan
heparin standar. LMWH lebih aman, lebih efektif, tidak/jarang menimbulkan perdarahan
akibat heparin serta mudah cara pemberiannya dan tidak perlu pemantauan laboratorium.
Kumarin dan Indanedion
Derivate kumara dan indanedion mempunyai efek yang sama, yaitu antagonis
terhadap biosintesis vitamin K. kerja obat ini tidak dalam sirkulasi tetapi di hepar, dengan
cara mengganggu sintesis faktor-faktor yang tergantung dari vitamin K seperti fibrinogen,
factor VII, IX, dan X. derivate kumarin yang banyak dipakai adalah warfarin dan sintrom.
Obat-obat Penghambat Fungsi Trombosit
Agregasi trombosit secara in vitro terjadi dalam 2 tingkatan. Tingkat pertama adalah
reaksi pembebasan ADP trombosit. Pada tingkat ini reaksi bersifat reversible. Tingkat kedua
adalah tingkat yang irreversible, dimana terjadi pelepasan ADP trombosit beserta komponenkomponen lain trombosit.
Obat AINS seperti asetil salisilat, fenilbutazon, sulfinpirazon akan menghambat reaksi
pembebasan dan agregasi trombosit sekunder yang diinduksi oleh adrenalin dan nonadrenalin
tanpa menghambat agregasi ADP. Pemberian aspirin menyebabkan perpanjangan waktu
perdarahan akibat reaksi asetilasi protein trombosit karena penghambatan enzim plateletcyclooxygenase. Mengenai efek anti thrombosis golongan ini masih diperlukan penelitian
lebih lanjut.
Dipirimadol

dapat

menurunkan

insidensi

thrombosis

eksperimental.

Untuk

memperpanjang masa hidup trombosit, obat ini sering dikombinasikan dengan aspirin.
Terapi Dengan Obat Fibrinolitik
Apabila thrombus sudah menyumbat arteri atau vena, diperlukan terapi dengan obat
trombolitik yang mampu melarutkan trombi dan emboli dengan jalan proteolisis. Sistem
proteolisis terdiri dari 3 komponen, yaitu: pro enzim, plasminogen; activator plasminogen
yang berasal dari endotel; inhibitor alamiah, yng cepat menentukan plasmin atau
menghambat aktivasi plasminogen.
Plasmin dibentuk dari plasminogen (bentuk inaktif dalam sirkulasi). Di samping
fibrin, plasmin mampu menghidrolisis protein lain seperti fibrinogen, protrombin, factor V,

VIII, target utama plasma adalah fibrin. Dalam plasma normal terdapat plasminogen dengan
konsentrasi 10-15 mg/dL.
Terapi trombolitik dilakukan dengan pemberian obat-obatan yang mengaktifkan
system fibrinolitik. Ada 2 macam obat yang sering digunakan dalam klinik, yaitu
streptokinase dan urokinase. Kedua macam obat tersebut merupakan protein yang akan
mengubah plasminogen menjadi plasmin sehingga terjadilah penghancuran fibrin dan lisis
bekuan darah. Streptase dan urokinase jugaa menurunkan viskositas plasma dan agregasi
trombosit.
Streptokinase dan urokinase mempunyai mekanisme kerja berlainan. Apabila kita
memberikan streptokinase, akan terjadi dahulu suatu kompleks berupa streptokinaseplasminogen, dan kompleks inilah yang bekerja sebagai activator plasminogen menjadi
plasmin. Urokinase mempunyai efek langsung sebagai activator plasminogen. Ia mampu
memulai fibrinolisis tanpa membentuk kompleks activator terlebih dahulu. Streptokinase
merupakan protein asing untuk tubuh, sehingga ia bersifat antigenic dan dapat menimbulkan
reaksi anafilaktik pada pasien yang sensitive. Urokinase secara alamiah terdapat pada urin
normal, tidak bersifat antigenik.
Indikasi terapi trombolitik yang utama adalah pada emboli paru yang masif, dan berat
atau mengancam jiwa pasien. Indikasi lainnya adalah infark miokard akut, penyumbatan
arteri dan vena di retina.
2. Sel Lupus Erythematosus
Pada lupus erythematosus disseminate atau systemic lupus erythematosus (SLE) didapat
suatu factor (Faktor LE) dalam fraks gammaglobulin yang berpengaruh terhadap leukosit
yang telah rusak. Leukosit itu berubah menjadi benda homogen dan bulat yang kemudian
difagositosis oleh sebuah leukosit normal.
Untuk mengetahui factor LE itu dikenal beberapa cara yang kebenyakan dari cara
hematologic menggunakan pembentukan sel LE sebagai dasar.
Penetapan Golongan Darah (ABO)
Jka tidak melihat kepada subgroups maka dikenal empat golongan darah :
A

: eritrosit mengandung aglutinogen A dan serum aglutinin anti-B

: eritrosit mengandung aglutinogen B dan serum aglutinin anti-A

: eritrosit tidak berisi aglutinogen, sedangkan serum mengandung aglutinin anti-A dan

anti-B

AB : eritrosit mengandung aglutinogen A dan B, sedangkan serum tidak mengandung


aglutinin anti-A dan anti-B
Penetapan golongan darah menentukan jenis aglutinogen yang ada dalam sel, disamping itu
juga dikenal penetapan jenis aglutinin yang ada dalam serum (reverse grouping serum atau
confirmation grouping). Cara yang terbaik ialah melakukan kedua penetapan, yakni
penetapan aglutnogen dan penetapan aglutinin bersama-sama.
3. Anemia Megaloblastik
-

Ditandai oleh adanya eritroblas yang besar yang terjadi akibat gangguan maturasi inti
sel.

Disebabkan oleh anemia perniciosa sebagai defisiensi dari vit B12, asam folat,
gangguan metabolisme vit B12 dan asam folat, gangguan sintesis DNA akibat dari
defisiensi enzim kongenital dan gangguan setelah pemberian obat.

Terapi:
1. Pemberian vit B12 100-1000mcg secara im
2. Pemberian asam folat 1-5mg perhari peroral
4. Thalasemia

Talasemia merupakan salah satu jenis anemia hemolitik dan merupakan penyakit keturunan
yang diturunkan secara autosomal yang paling banyak dijumpai di Indonesia dan Italia. Enam
sampai sepuluh dari setiap 100 orang Indonesia membawa gen penyakit ini. Kalau sepasang
dari mereka menikah, kemungkinan untuk mempunyai anak penderita talasemia berat adalah
25%.
Thalassemia adalah suatu kelompok anemia hemolitik kongenital herediter yang diturunkan
secara autosomal, disebabkan oleh kekurangan sintesis rantai polipeptid yang menyusun
molekul globin dalam hemoglobin
Mekamisme Terjadinya Penyakit

Molekul globin terdiri atas sepasang rantai- dan sepasang rantai lain yang
menentukan jenis Hb. Pada orang normal terdapat 3 jenis Hb, yaitu Hb A (merupakan
> 96% dari Hb total, tersusun dari 2 rantai- dan 2 rantai- = 22), Hb F (< 2% =
22) dan HbA2 (< 3% = 22). Kelainan produksi dapat terjadi pada ranta-(-

thalassemia),

rantai-(-thalassemia),

rantai-(-thalassemia),

rantai-(-

thalassemia), maupun kombinasi kelainan rantai- dan rantai-(-thalassemia).

Pada thalassemia-, kekurangan produksi rantai beta menyebabkan kekurangan


pembentukan 22 (Hb A); kelebihan rantai- akan berikatan dengan rantai- yang
secara kompensatoir Hb F meningkat; sisanya dalam jumlah besar diendapkan pada
membran eritrosit sebagai Heinz bodies dengan akibat eritrosit mudah rusak
(ineffective erythropoesis).

Diagnosis

Mengenali Riwayat Penyakit atau kelainan sebelumnya : Keluhan timbul karena


anemia: pucat, gangguan nafsu makan, gangguan tumbuh kembang dan perut
membesar karena pembesaran lien dan hati. Pada umumnya keluh kesah ini mulai
timbul pada usia 6 bulan.

Pemeriksaan fisis yang ditemui : Pucat , Bentuk muka mongoloid (facies Cooley),
Dapat ditemukan ikterus, Gangguan pertumbuhan, Splenomegali dan hepatomegali
yang menyebabkan perut membesar

Pemeriksaan penunjangDarah tepi : Hb rendah dapat sampai 2-3 g%; Gambaran


morfologi eritrosit : mikrositik hipokromik, sel target, anisositosis berat dengan
makroovalositosis, mikrosferosit, polikromasi, basophilic stippling, benda HowellJolly, poikilositosis dan sel target. Gambaran ini lebih kurang khas.; Retikulosit
meningkat. Sumsum tulang (tidak menentukan diagnosis) : Hiperplasi sistem
eritropoesis dengan normoblas terbanyak dari jenis asidofil. Granula Fe (dengan
pengecatan Prussian biru) meningkat.

Pemeriksaan khusus : Hb F meningkat : 20%-90% Hb total Elektroforesis Hb :


hemoglobinopati lain dan mengukur kadar Hb F. Pemeriksaan pedigree: kedua
orangtua pasien thalassemia mayor merupakan trait (carrier) dengan Hb A2 meningkat
(> 3,5% dari Hb total).

Pemeriksaan lain : Foto Ro tulang kepala : gambaran hair on end, korteks menipis,
diploe melebar dengan trabekula tegak lurus pada korteks. Foto tulang pipih dan
ujung tulang panjang : perluasan sumsum tulang sehingga trabekula tampak jelas.

Penanganan

Pemberian iron chelating agent (desferoxamine): diberikan setelah kadar feritin


serum sudah mencapai 1000 g/l atau saturasi transferin lebih 50%, atau sekitar 10-20
kali transfusi darah. Desferoxamine, dosis 25-50 mg/kg berat badan/hari subkutan
melalui pompa infus dalam waktu 8-12 jam dengan minimal selama 5 hari berturut
setiap selesai transfusi darah.

Vitamin C 100-250 mg/hari selama pemberian kelasi besi, untuk meningkatkan efek
kelasi besi.

Asam folat 2-5 mg/hari untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat.

Vitamin E 200-400 IU setiap hari sebagai antioksidan dapat memperpanjang umur sel
darah merah.

Bedah : Splenektomi, dengan indikasi: limpa yang terlalu besar, sehingga membatasi
gerak penderita, menimbulkan peningkatan tekanan intraabdominal dan bahaya
terjadinya ruptur. hipersplenisme ditandai dengan peningkatan kebutuhan transfusi
darah atau kebutuhan suspensi eritrosit (PRC) melebihi 250 ml/kg berat badan dalam
satu tahun

Transfusi darah : Hb penderita dipertahankan antara 8 g/dl sampai 9,5 g/dl. Dengan
kedaan ini akan memberikan supresi sumsum tualang yang adekuat, menurunkan
tingkat akumulasi besi, dan dapat mempertahankan pertumbuhan dan perkembangan
penderita. Pemberian darah dalam bentuk PRC (packed red cell), 3 ml/kg BB untuk
setiap kenaikan Hb 1 g/dl.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan

Pemeriksaan Darah Lengkap (Complete Blood Count / CBC) yaitu suatu jenis
pemeriksaaan penyaring untuk menunjang diagnosa suatu penyakit dan atau untuk
melihat bagaimana respon tubuh terhadap suatu penyakit.
Pemeriksaan Darah Lengkap terdiri dari beberapa jenis parameter pemeriksaan, yaitu
1. Hemoglobin
2. Hematokrit
3. Leukosit (White Blood Cell / WBC)
4. Trombosit (platelet)
5. Eritrosit (Red Blood Cell / RBC)
6. Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC)
7. Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR)
8. Hitung Jenis Leukosit (Diff Count)
9. Platelet Disribution Width (PDW)
Pemeriksaan kimia darah meliputi : Glukosa, Cholesterol Total, Trigliserida, HDL, LDL,
Small dense-LDL, Ureum (BUN), Kreatinin, Asam Urat, SGOT, SGPT, Billirubin, Protein
Total, Albumin, Globulin, Cholenesterase (CHE), Alkali Fosfatase (ALP) Gamma-GT,
Protein Elektrophoresis(SPF). Beberapa contoh interpretasi dari hasil pemeriksaan darah
lengkap secara sederhana antara lain bila kadar Hb turun menandakan anemia, leukositnya
meningkat melebihi normal mungkin menandakan terjadinya infeksi, trombositnya turun
mungkin saja menandakan terjadi infeksi virus, dan lain sebagainya. Yang perlu diingat
adalah pemeriksaan ini adalah penunjang dari anamnesa dan pemeriksaan fisik yang
dilakukan oleh dokter. Jadi diagnosis tidak semata-mata dari hasil laboratorium, tapi yang
paling utama adalah dari keadaan klinis pasien itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Rukman.2014. Hematologi dan Transfusi.Jakarta : Erlangga


Chairlan. 2004. Pedoman Teknik Dasar untuk Laboratorium Kesehatan. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC