Anda di halaman 1dari 27

TUGAS ISBD

SISTEM SOSIAL BUDAYA DAN PANDANGAN AKAN


INDIVIDU, KELUARGA, DAN MASYARAKAT

Kelompok 5:
Angga Helmawan

(10111003)

Diah Kurniati

(10111010)

Eka Isdian Ningrum (10111014)


Fitriyah Eka .S.

(10111021)

Siti Asfiatul .C.

(10111042)

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


FAKULTAS FARMASI
INSTITUT ILMU KESEHATAN BHAKTI WIYATA KEDIRI
2014

SISTEM SOSIAL BUDAYA


A. Pengertian Sistem
Sistem berasal dari bahasa Latin (systma) dan bahasa Yunani (sustma)
adalah suatu kesatuan yang terdiri dari komponen atau elemen yang dihubungkan
bersama untuk memudahkan aliran informasi, materi atau energi. Istilah ini
sering dipergunakan untuk menggambarkan suatu setentitas yang berinteraksi,
dimana suatu model matematika sering kali bisa dibuat. Sistem juga merupakan
kesatuan bagian-bagian yang saling berhubungan yang berada dalam suatu
wilayah serta memiliki item-item penggerak, contoh umum misalnya seperti
negara. Negara merupakan suatu kumpulan dari beberapa elemen kesatuan lain
seperti provinsi yang saling berhubungan sehingga membentuk suatu negara
dimana yang berperan sebagai penggeraknya yaitu rakyat yang berada dinegara
tersebut.
Kata "sistem" banyak sekali digunakan dalam percakapan sehari-hari,
dalam forum diskusi maupun dokumen ilmiah. Kata ini digunakan untuk banyak
hal, dan pada banyak bidang pula, sehingga maknanya menjadi beragam. Dalam
pengertian yang paling umum, sebuah sistem adalah sekumpulan benda yang
memiliki hubungan di antara mereka.
B. Pengertian Sistem Sosial
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari
manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan SISTEM
SOSIAL.

Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling


berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut
pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi
dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
Menurut Garna(1994),sistem sosial adalah suatu perangkat peran sosial
yang berinteraksi atau kelompok sosial yang memiliki nilai-nilai, norma dan
tujuan yang bersama. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sistem sosial itu
pada dasarnya ialah suatu sistem dari tindakan-tindakan. Seperti yang
diungkapkan oleh Parsons(1951), Sistem sosial merupakan proses interaksi di
antara pelaku sosial.
C. Pengertian Sistem Budaya
Dalam pergaulan sehari-hari kita menemukan istilah mentalitas.
Mentalitas adalah kemampuan rohani yang ada dalam diri seseorang, yang
menuntun tingkah laku serta tindakan dalam hidupnya. Pantulan dalam tingkah
laku itu menciptakan sikap tertentu terhadap hal-hal serta orang-orang di
sekitarnya. Sikap mental ini sebenarnya sama saja dengan sistem nilai budaya
(culture value system) dan sikap (attitude). Sistem nilai budaya (atau suatu
sistem budaya) adalah rangkaian konsep abstrak yang hidup dalam alam pikiran
sebagian besar suatu warga masyarakat. Hal itu menyangkut apa dianggapnya
penting dan bernilai. Maka dari itu suatu sistem nilai budaya merupakan bagian
dari kebudayaan yang memberikan arah serta dorongan pada perilaku manusia.
Sistem tersebut merupakan konsep abstrak, tapi tidak dirumuskan dengan tegas.
Karena itu konsep tersebut biasanya hanya dirasakan saja, tidak dirumuskan

dengan tegas oleh warga masyarakat yang bersangkutan. Itu lah juga sebabnya
mengapa konsep tersebut sering sangat mendarah daging, sulit diubah apalagi
diganti oleh konsep yang baru. Bila sistem nilai budaya tadi memberi arah pada
perilaku dan tindakan manusia, maka pedomannya tegas dan konkret. Hal itu
nampak dalam norma-norma, hukum serta aturan-aturan. Norma-norma dan
sebagainya itu seharusnya bersumber pada, dijiwai oleh serta merincikan sistem
nilai budaya tersebut. Konsep sikap bukanlah bagian dari kebudayaan. Sikap
merupakan daya dorong dalam diri seorang individu untuk bereaksi terhadap
seluruh lingkungannya. Bagaimana pun juga harus dikatakan bahwa sikap
seseorang itu dipengaruhi oleh kebudayaannya. Artinya, yang dianut oleh
individu yang bersangkutan. Dengan kata lain, sikap individu yang tertentu
biasanya ditentukan keadaan fisik dan psikisnya serta norma-norma dan konsepkonsep nilai budaya yang dianutnya. Namun demikian harus pula dikatakan
bahwa dalam pengamatan tentang sikap-sikap seseorang sulitlah menunjukkan
ciri-cirinya dengan tepat dan pasti. Itulah juga sebabnya mengapa tidak dapat
menggeneralisasi sikap sekelompok warga masyarakat dengan bertolak (hanya)
dari asumsi yang umum saja.
D. Pengertian Sistem Sosial Budaya
Dari penjelasan di atas mengenai pengertian sistem, sistem sosial dan
sistem budaya dapat dinyatakan secara sederhana dalam arti luas bahwa
pengertian Sistem Sosial Budaya yaitu suatu keseluruhan dari unsur-unsur tata
nilai, tata sosial dan tata laku manusia yang saling berkaitan dan masing-masing

unsur bekerja secara mandiri serta bersama sama satu sama lain saling
mendukung untuk mencapai tujuan hidup manusia dalam bermasyarakat.
E. Pengertian Sistem Sosial Budaya Indonesia
Istilah sosial budaya merupakan bentuk gabungan dari istilah sosial dan
budaya. Sosial dalam arti masyarakat, budaya atau kebudayaan dalam arti
sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Sosial budaya dalam arti
luas mencakup segala aspek kehidupan. Karena itu, atas dasar landasan
pemikiran tersebut maka pengertian sistem sosial budaya Indonesia dapat
dirumuskan sebagai totalitas tata nilai, tata sosial dan tata laku manusia
Indonesia yang merupakan manifestasi dari karya, rasa dan cipta didalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara berdasarkan pancasila dan
UUD 1945. Dengan demikian, sistem sosial budaya Indonesia memungkinkan
setiap manusia mengembangkan dirinya dan mencapai kesejahteraan lahir
batinnya selengkap mungkin secara merdeka sesuai dengan kata hatinya dalam
kerangka pola berpikir dan bertindak yang berdasarkan pancasila.
Struktur sistem sosial budaya Indonesia dapat merujuk pada nilai - nilai
yang terkandung dalam pancasila yang terdiri atas:
a) Tata nilai
Struktur tata nilai kehidupan pribadi atau keluarga, masyarakat, bangsa, dan
Negara meliputi berikut ini.

Nilai Agama

Nilai moral

Nilai vital

Nilai material ( raga)

b) Tata Sosial Tata sosial indonesia harus berdasarkan :

UUD 1945

Peraturan perundang-undangan lainnya

Budi pekerti yang luhur dan cita-cita moral rakyat yang luhur

c) Tata laku (Karya)


Tata laku pribadi atau keluarga, masyarakat bangsa dan Negara harus
berpedoman pada ;

Norma Agama

Norma Kesusilaan/kesopanan

Norma Adat istiadat

Norma Hukum setempat

Norma Hukum Nega

Untuk lebih memahami sistem sosial dan budaya Indonesia diperlukan


penguasaan teori karena fungsi teori adalah memberi makna terhadap realitas
sosial. Pendekatan teoritis yang harus dikuasai adalah Pendekatan Struktur
Fungsional dan Pendekatan Konflik.
F. Pendekatan Struktur Fungsional
Sudut pendekatan tersebut menganggap bahwa masyarakat pada dasarnya
terintegrasi di atas dasar kata sepakat para anggotanya akan nilai-nilai
kemasyarakatan tertentu (General agreements). Kesepakatan tersebut memiliki
daya mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan kepentingan diantara para

anggota masyarakat dan memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang


secara fungsional terintegrasi ke dalam suatu bentuk equilibrium (seimbang).
Aliran pemikiran tersebut dianggap sebagai:

Integration approach

order approach

equilibrium approach

structural-functional approach (teori-teori fungsional struktural)

Berikut sejumlah anggapan dasar pendekatan fungsionalisme struktural yang


telah dikembangkan oleh Talcott Parsons :

Masyarakat harus dilihat sebagai suatu sistem daripada bagian-bagian yang


saling berhubungan satu sama lain

Hubungan pengaruh-mempengaruhi diantara bagian-bagian tersebut adalah


bersifat ganda dan timbal balik

Sistem sosial cenderung bergerak ke arah equilibrium yang bersifat dinamis,


meskipun integrasi sosial tidak pernah dapat dicapai dengan sempurna

Sekalipun

disfungsi,

ketegangan-ketegangan

dan

penyimpangan-

penyimpangan senantiasa terjadi, akan tetapi dalam jangka yang panjang.


akhirnya akan teratasi dengan sendirinya melalui penyesuaian-penyesuaian
dan proses institusionalisasi. Integrasi sosial pada tingkatnya yang sempurna
tidak akan pernah tercapai, tetapi setiap sistem sosial akan berproses ke arah
itu .

Perubahan-perubahan di dalam sistem sosial umumnya terjadi secara


gradual. sesuai keadaan Indonesia

Pada dasarnya, perubahan-perubahan sosial timbul atau terjadi melalui 3


macam kemungkinan:

Perubahan yang datang dari luar,

Pertumbuhan melalui proses diferensiasi struktural dan fungsional

Penemuan-penemuan baru oleh anggota masyarakat

Sistem sosial pada dasarnya tidak lain adalah suatu sistem daripada tindakantindakan. Norma-norma sosial itulah yang sesungguhnya membentuk struktur
sosial. Dua macam mekanisme sosial yang paling penting adalah mekanisme
sosialisasi dan pengawasan sosial.
David Lockwood, menegaskan kepada kita kenyataan bahwa, setiap situasi
sosial yang senantiasa mengandung didalam dirinya ada dua hal, yaitu tata tertib
sosial yang bersifat normatif, dan substratum (disposisi-disposisi bagi yang
mengakibatkan timbulnya perbedaan dan kepentingan yang tidak bersifat
normatif) yang melahirkan konflik-konflikpendekatan fungsionalisme struktural
menganggap bahwa disfungsi ketegangan-ketegangan dan penyimpanganpenyimpangan

sosial

mengakibatkan

terjadinya

perubahan-perubahan

kemasyarakatan dalam bentuk tumbuhnya diferensiasi sosial yang semakin


kompleks, akibat pengaruh faktor-faktor yang datang dari luar.
Anggapan semacam itu mengabaikan kenyataan-kenyataan berikut:

Struktur sosial mengandung konflik-konflik dan kontradiksi-kontradiksi


yang bersifat internal

Reaksi dari suatu sistem sosial terhadap perubahan-perubahan yang datang


dari luar tidak selalu bersifat adjustive

Sistem sosial dapat mengalami konflik-konflik sosial yang bersifat vicious


circle

Perubahan sosial tidak selalu terjadi secara gradual

Pendekatan fungsionalisme struktural dipandang oleh banyak ahli sosiologi


sebagai pendekatan yang bersifat reaksioner, oleh karenanya, dianggap kurang
mampu menganalisa masalah-masalah perubahan kemasyarakatan.
G. Pendekatan konflik
Pendekatan konflik memandang bahwa perubahan sosial tidak terjadi
melalui proses penyesuaian nilai-nilai yang membawa perubahan, tetapi terjadi
akibat adanya konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang berbeda
dengan kondisi semula. Pendekatan konflik berpangkal pada anggapan-anggapan
dasar berikut:

Setiap masyarakat senantiasa berada didalam proses perubahan yang tidak


pernah berakhir. perubahan sosial merupakan gejala yang melekat di dalam
setiap masyarakat

Konflik adalah merupakan gejala yang melekat di dalam setiap masyarakat

Setiap unsur didalam suatu masyarakat memberikan sumbangan terhadap


terjadinya disintegrasi dan perubahan-perubahan sosial

Setiap masyarakat terintegrasi di atas penguasaan atau dominasi oleh


sejumlah orang atas sejumlah orang-orang yang lain

Pembagian kewenangan (otoritas) secara tidak merata mengakibatkan dua


macam kategori sosial, yaitu mereka yang memiliki otoritas dan mereka yang
tidak memiliki otoritas. Dalam setiap masyarakat selalu terdapat konflik antara

kepentingan dari mereka yang memiliki kekuasaan otoriatif. Pengertian lebih


bersifat gejala teoritis daripada sebagai kenyataan bersifat empiris. Karena
kepentingan-kepentingan yang tidak selalu disadari adanya, maka disebut
kepentingan-kepentingan

yang

bersifat

laten,

sementara

mereka

yang

mempunyai disebut kelompok semu. Kelompok semu tidak memiliki struktur


hubungan sosial, tetapi anggotanya memiliki kepentingan dan mode tingkah leku
yang sama, yang dapat berkembang menjadi kelompok. dengan demikian,
kelompok semu merupakan sumber dari mana para anggota kelompok
kepentingan berasal. Kelompok kepentingan berkenaan dengan perkumpulanperkumpulan yang bersifat politis. Dahrendorf menyebutkan tiga macam
prasyarat yang bersifat kondisional, yang memungkinkan kelompok semu dapat
terorganisir ke dalam bentuk kelompok kepentingan.

Kondisi-kondisi teknis dari suatu organisasi. munculnya sejumlah orangorang tertentu yang mampu merumuskan dan mengorganisir latent interest
dari suatu kelompok semu menjadi manifest interest berupa kebutuhan yang
secara sadar ingin dicapai orang

Kondisi-kondisi politis dari suatu organisasi. ialah ada tidaknya kebebasan


politik untuk berorganisasi yang diberikan oleh masyarakat

Kondisi-kondisi sosial bagi suatu organisasi. yakni adanya sistem


komunikasi yang memungkinkan para anggota dari kelompok semu
berkomunikasi satu sama lain dengan mudah.

Sebagaimana kita ketahui, konflik timbul sebagai akibat adanya kenyataan


bahwa setiap masyarakat selalu terdapat distribusi otoritas yang terbatas.

10

konsekuensinya,
berkurangnya

bertambahnya
otoritas

pada

otoritas
pihak

pada

lain.

satu

pihak,

Konflik

serta

merta

merupakan

gejala

kemasyarakatan yang akan senantiasa melekat dalam kehidupan setiap


masyarakat dan tidak mungkin dihilangkan.
Bentuk pengendalian konflik:

Konsiliasi (Conciliation)
Suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak
terwujud

melalui

lembaga-lembaga

tertentu

yang

memungkinkan

tumbuhnya pola diskusi dan pengambilan keputusan diantara pihak-pihak


yang berkonflik.
Lembaga-lembaga bersifat efektif jika:
a.

Lembaga-lembaga tersebut bersifat otonom tanpa campur tangan dari


badan lain yang ada di luarnya

b.

Kedudukan lembaga-lembaga tersebut di dalam masyarakat bersifat


monopolistis

c.

Peranan lembaga-lembaga harus sedemikian rupa, sehingga berbagai


kelompok kepentingan yang berlawanan merasa terikat kepada
lembaga, sementara keputusan-keputusannya mengikat kelompokkelompok tersebut

d.

Lembaga harus bersifat demokratis


Kesemuanya hanya mungkin diselenggarakan apabila kelompok yang
saling bertentangan memenuhi 3 prasyarat berikut:

11

Masing-masing kelompok harus menyadari situasi konflik diantara


mereka, maka dari itu perlu dilaksanakan prinsip-prinsip keadilan
secara jujur bagi semua pihak

Pengendalian konflik-konflik dilakukan apabila berbagai kekuatan


sosial yang saling bertentangan terorganisir dengan jelas

Setiap kelompok harus mematuhi aturan permainan

Mediasi (Mediation)
Dimana kedua belah pihak yang bersengketa sepakat menunjuk pihak
ketiga untuk memberikan nasihat-nasihat penyelesaian konflik. Tujuannya untuk
mengurangi irasionalitas yang biasanya timbul dalam konflik, memungkinkan
pihak-pihak yang bertentangan menarik diri tanpa harus malu, dan mengurangi
pemborosan yang dikeluarkan untuk membiayai pertentangan.
Arbitrasi (Arbitration)
Dimana kedua belah pihak yang bertentangan bersepakat untuk menerima
atau terpaksa menerima hadirnya pihak ketiga yang akan memberikan keputusankepurusan tertentu untuk menyelesaikan konflik mereka.

12

PANDANGAN AKAN INDIVIDU, KELUARGA DAN MASYARAKAT

A. Pengertian Individu
1. Individu
Individu berasal dari kata latin individuum yang artinya tidak
terbagi. Individu menekankan penyelidikan kepada kenyataankenyataan hidup yang istimewa dan seberapa mempengaruhi
kehidupan manusia (Abu Ahmadi, 1991: 23). Individu bukan berarti
manusia sebagai suatu keseluruhan yang tidak dapat dibagi, melainkan
sebagi kesatuan yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan.
Individu adalah seorang manusia yang tidak hanya memiliki
peranan khas

di

dalam lingkungan sosialnya,melainkan juga

mempunyai kepribadian serta pola tingkah laku spesifik dirinya.


Terdapat tiga aspek yang melekat sebagai persepsi terhadap individu,
yaitu aspek organik jasmaniah, aspek psikis-rohaniah, dan aspek-sosial
yang bila terjadi kegoncangan pada suatu aspek akan membawa akibat
pada aspek yang lainnya. Individu dalam tingkah laku menurut pola
pribadinya ada 3 kemungkinan: pertama menyimpang dari norma
kolektif kehilangan individualitasnya, kedua takluk terhadap kolektif,
dan ketiga memengaruhi masyarakat (Hartomo, 2004: 64).
Individu tidak akan jelas identitasnya tanpa adanya suatu
masyrakat yang menjadi latar belakang keberadaanya. Individu
berusaha mengambil jarak dan memproses dirinya untuk membentuk

13

perilakunya yang selaras dengan keadaan dan kebiasaan yang sesuai


dengan perilaku yang telah ada pada dirinya.
Manusia sebagai individu salalu berada di tengah-tengah kelompok
individu yang sekaligus mematangkannya untuk menjadi pribadi yang
prosesnya memerlukan lingkungan yang dapat membentuknya
pribadinya. Namun tidak semua lingkungan menjadi faktor pendukung
pembentukan pribadi tetapi ada kalanya menjadi penghambat proses
pembentukan pribadi.
Pengaruh lingkungan masyarakat terhadap individu dan khususnya
terhadap
sebaliknya

pembentukan
individu

individualitasnya

adalah

pun berkemampuan untuk

besar,

namun

mempengaruhi

masyarakat. Kemampuan individu merupakan hal yang utama dalam


hubungannya dengan manusia.
2. Keluarga
Keluarga adalah sekelompok orang yang mendiami sebagian atau
seluruh bangunan yang tinggal bersama dan makan dari satu dapur
yang tidak terbatas pada orang-orang yang mempunyai hubungan
darah saja, atau seseorang yang mendiami sebagian atau seluruh
bangunan yang mengurus keperluan hidupnya sendiri.
Keluarga berasal dari bahasa Sansekerta: kula dan warga
kulawarga yang berarti anggota kelompok kerabat. Keluarga
adalah lingkungan di mana beberapa orang yang masih memiliki

14

hubungan darah, bersatu. Keluarga inti nuclear family terdiri dari


ayah, ibu, dan anak-anak mereka.
a. Pengertian Keluarga
1) Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal
di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling
ketergantungan.(Menurut Departemen Kesehatan RI 1998).
2) Kumpulan beberapa orang yang karena terikat oleh satu turunan
lalu mengerti dan merasa berdiri sebagai satu gabungan yang
hakiki,esensial,

enak

dan

berkehendak

bersama-sama

memperteguh gabungan itu untuk memuliakan masing-masing


anggotanya. (Ki Hajar Dewantara)
3) Keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang
tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau
pengangkatan dan mereka hidupnya dalam suatu rumah tangga,
berinteraksi satu sama lain dan didalam perannya masingmasing

dan

menciptakan

serta

mempertahankan

suatu

kebudayaan.(Menurut Salvicion dan Ara Celis).


Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa keluarga
adalah :
1)

Unit terkecil dari masyarakat

2)

Terdiri atas 2 orang atau lebih

3)

Adanya ikatan perkawinan atau pertalian darah

15

4)

Hidup dalam satu rumah tangga

5)

Di bawah asuhan seseorang kepala rumah tangga

6)

Berinteraksi diantara sesama anggota keluarga

7)

Setiap anggota keluarga mempunyai peran masing-masing

8)

Diciptakan, mempertahankan suatu kebudayaan

b. Fungsi pokok keluarga


Friedman (1992) menggambarkan fungsi sebagai apa yang
dilakukan keluarga. Fungsi keluarga berfokus pada proses yang
digunakan untuk mencapai tujuan keluarga tersebut. Proses ini
termasuk komunikasi diantara anggota keluarga, penetapan tujuan,
resolusi konflik, pemberian makanan, dan penggunaan sumber dari
internal maupun eksternal. Tujuan reproduksi, seksual, ekonomi
dan pendidikan dalam keluarga memerlukan dukungan secara
psikologi antar anggota keluarga, apabila dukungan tersebut tidak
didapatkan maka akan menimbulkan konsekuensi emosional seperti
marah, depresi dan perilaku yang menyimpang. Tujuan yang ada
dalam keluarga akan lebih mudah dicapai apabila terjadi
komunikasi yang jelas dan secara langsung. Komunikasi tersebut
akan mempermudah menyelesaikan konflik dan pemecahan
masalah.

16

Fungsi keluarga menurut Friedman (1992) adalah


1. Fungsi afektif dan koping
Keluarga

memberikan

membantu

anggota

kenyamanan
dalam

emosional

membentuk

anggota,

identitas

dan

mempertahankan saat terjadi stress.


2. Fungsi sosialisasi
Keluarga sebagai guru, menanamkan kepercayaan, niai, sikap,
dan

mekanisme

koping,

memberikan

feedback,

dan

memberikan petunjuk dalam pemecahan masalah.


3. Fungsi reproduksi
Keluarga melahirkan anak, menumbuh-kembangkan anak dan
meneruskan keturunan.
4. Fungsi ekonomi
Keluarga memberikan finansial untuk anggota keluarganya dan
kepentingan di masyarakat.
5. Fungsi fisik
Keluarga memberikan keamanan, kenyamanan lingkungan
yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan dan
istirahat termasuk untuk penyembuhan dari sakit.
Sedangkan fungsi keluarga menurut BKKBN (1992) antara
lain :
1. Fungsi keagamaan : memperkenalkan dan mengajak anak dan
anggota keluarga yang lain dalam kehidupan beragama, dan

17

tugas kepala keluarga untuk menanamkan bahwa ada kekuatan


lain yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain
setelah di dunia ini.
2. Fungsi sosial budaya : membina sosialisasi pada anak,
membentuk norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat
perkembangan anak, meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.
3. Fungsi cinta kasih : memberikan kasih sayang dan rasa aman,
memberikan perhatian diantara anggota keluarga.
4. Fungsi melindungi : melindungi anak dari tindakan-tindakan
yang tidak baik, sehingga anggota keluarga merasa terlindung
dan merasa aman.
5. Fungsi reproduksi : mewneruskan keturunan, memelihara dan
membesarkan anak, memelihara dan merawat anggota
keluarga.
6. Fungsi sosialisasi dan pendidikan : mendidik anak sesuai
dengan tingkat perkembangannya, menyekolahkan anak,
bagaimana keluarga mempersiapkan anak menjadi anggota
masyarakat yang baik.
7. Fungsi ekonomi : mencari sumber-sumber penghasilan untuk
memenuhi

kebutuhan

keluarga,

pengaturan

penggunaan

penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga,


menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga di masa dtang.
8. Fungsi pembinaan lingkungan.

18

c. Tipe/bentuk keluarga
1) Tradisional

Tipe nuclear family (Keluarga inti)


Keluarga yang terdiri dari suami, istri dan anak

Tipe dyad family


Keluarga yang terdiri suami dan istri (tanpa anak) yang
hidup bersama dalam satu rumah.

Keluarga Usila
Keluarga yang terdiri dari suami dan istri yang sudah tua
dengan anak yang sudah memisahkan diri.

The childless family


Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah dan untuk
mendapatkan anak terlambat waktunya yang disebabkan
karena mengejar karier/pendidikan yang terjadi pada
wanita.

The extented family


Keluarga yang terdiri dari tiga generasi yang hidup
bersama dalam satu rumah, seperti nuclear family disertai
: paman, tante, orang tua (kakek-nenek), keponakan.

The single parent family


Keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah atau ibu)
dengan anak, hal ini terjadi biasanya melalui proses

19

perceraian, kematian dan ditinggalkan (menyalahi hukum


pernikahan).

Commuter family
Kedua urang tua bekerja di kota yang berbeda, tetapi salah
satu kota tersebut sebagai tempat tinggal dan orang tua
yang bekerja di luar kota bisa berkumpul pada anggota
keluarga pada saat weekend.

Multigenerational family
Keluarga dengan beberapa generasi atau kelompok umur
yang tinggal bersama dalam satu rumah.

Kin-network family
Beberapa keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah atau
saling berdekatan dan saling menggunakan barang-barang
dan pelayanan yang sama (contoh: dapur, kamar mandi,
telivisi, telepon,dll).

Blended family
Duda atau janda (karena perceraian) yang menikah
kembali

dan

membesarkan

anak

dari

perkawinan

sebelumnya.

The single adult living alone/single adult family

Keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup


sendiri karena pilihannya atau perpisahan (perceraian atau
ditinggal mati).

20

2) Non tradisioanal

The unmarried teenage mother


Keluarga yang terdiri dari orang tua (terutama ibu) dengan
anak dari hubungan tanpa nikah.

The stepparent family


Keluarga dengan orang tua tiri.

Commune family
Beberapa pasangan keluarga (dengan anaknya) yang tidak
ada hubungan saudara yang hidup bersama dalam satu
rumah, sumber dan fasilita yang sama, pengalaman yang
sama,

sosialisasi

anak

dengan

melalui

aktivitas

kelompok/membesarkan anak bersama.

The nonmarital heterosexsual cohabiting family


Keluarga yang hidup bersama berganti-ganti pasangan
tanpa melaui pernikahan.

Gay and lesbian families


Seseorang yang mempunyai persamaan sex hidup bersama
marital pathners.

Cohabiating couple
Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan
pernikahan karena beberapa alasan tertentu.

21

Group-marriege family
Beberapa orang dewasa yang menggunakan alat alat
rumah tangga bersama, yang saling merasa telah saling
menikah saru dengan yang lainnya, berbagi sesuatu
termasuk sexsual dan membesarkan anak.

Foster family
Keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan
keluarga/saudara di dalam waktu sementara, pada saat
orang tua anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk
menyatukan kembali keluarga aslinya.

Homeless family
Keluarga

yang

terbentuk

dan

tidak

mempunyai

perlindungan yang permanen karena krisis personal yang


dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau problem
kesehatan mental.

Gang
Sebuah bentuk keluarga yang destruktif dari orang-orang
muda yang mencari ikatan emosional dan keluarga yang
mempunyai perhatian tetapi berkembang dalam kekerasan
dan kriminal dalam kehidupannya.

22

Berbagai peranan yang terdapat di dalam keluarga adalah sebagai


berikut :

1. Peranan Ayah : Ayah sebagai suami dari istri dan anak-anak,


berperan sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung dan
pemberi rasa aman, sebagai kepala keluarga, sebagai anggota
dari kelompok sosialnya serta sebagai anggota dari kelompok
sosialnya

serta

sebagai

anggota

masyarakat

dari

lingkungannya.
2. Peranan Ibu : Sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu
mempunyai peranan untuk mengurus rumah tangga, sebagai
pengasuh dan pendidik anak-anaknya, pelindung dan sebagai
salah satu kelompok dari peranan sosialnya serta sebagai
anggota masyarakat dari lingkungannya, disamping itu juga
ibu dapat berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam
keluarganya.
3. Peran Anak : Anak-anak melaksanakan peranan psikosial
sesuai dengan tingkat perkembangannya baik fisik, mental,
sosial, dan spiritual.

d. Tugas-tugas Keluarga
Pada dasarnya tugas keluarga ada delapan tugas pokok sebagai
berikut :

1. Pemeliharaan fisik keluarga dan para anggotanya.

23

2. Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.


3. Pembagian tugas masing-masing anggotanya sesuai dengan
kedudukannya masing-masing.
4. Sosialisasi antar anggota keluarga.
5. Pengaturan jumlah anggota keluarga.
6. Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
7. Penempatan anggota-anggota keluarga dalam masyarakat yang
lebih luas.
8. Membangkitkan dorongan dan semangat para anggotanya.

e. Fungsi Keluarga
Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga, sebagai
berikut :
1.

Fungsi Pendidikan. Dalam hal ini tugas keluarga adalah


mendidik dan menyekolahkan anak untuk mempersiapkan
kedewasaan dan masa depan anak bila kelak dewasa.

2.

Fungsi Sosialisasi anak. Tugas keluarga dalam menjalankan


fungsi ini adalah bagaimana keluarga mempersiapkan anak
menjadi anggota masyarakat yang baik.

3.

Fungsi Perlindungan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah


melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik
sehingga anggota keluarga merasa terlindung dan merasa
aman.

24

4.

Fungsi Perasaan. Tugas keluarga dalam hal ini adalah menjaga


secara instuitif merasakan perasaan dan suasana anak dan
anggota yang lain dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar
sesama anggota keluarga. Sehingga saling pengertian satu
sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan dalam keluarga.

5.

Fungsi Religius. Tugas keluarga dalam fungsi ini adalah


memperkenalkan dan mengajak anak dan anggota keluarga
yang lain dalam kehidupan beragama, dan tugas kepala
keluarga untuk menanamkan keyakinan bahwa ada keyakinan
lain yang mengatur kehidupan ini dan ada kehidupan lain
setelah di dunia ini.

6.

Fungsi Ekonomis. Tugas kepala keluarga dalam hal ini adalah


mencari sumber-sumber kehidupan dalam memenuhi fungsifungsi keluarga yang lain, kepala keluarga bekerja untuk
mencari penghasilan, mengatur penghasilan itu, sedemikian
rupa

sehingga

dapat

memenuhi

rkebutuhan-kebutuhan

keluarga.
7.

Fungsi Rekreatif. Tugas keluarga dalam fungsi rekreasi ini


tidak harus selalu pergi ke tempat rekreasi, tetapi yang penting
bagaimana menciptakan suasana yang menyenangkan dalam
keluarga sehingga dapat dilakukan di rumah dengan cara
nonton TV bersama, bercerita tentang pengalaman masingmasing, dsb.

25

8.

Fungsi Biologis. Tugas keluarga yang utama dalam hal ini


adalah untuk meneruskan keturunan sebagai generasi penerus.

9.

Memberikan kasih sayang,perhatian,dan rasa aman diaantara


keluarga, serta membina pendewasaan kepribadian anggota
keluarga.

26

DAFTAR PUSTAKA
Dahrendhorf, Ralf. 1986. Konflik dan konflik dalam masyarakat industri: Sebuah
analisa kritis. Jakarta: Rajawali press. Judul asli: Class 7 Class Confict in
industrial sosiety (1959).
Persons, Talcot (1951). The social system. New york: the free press.
Nasikun. (2007). Sistem sosial Indonesia. Jakarta: Raja grafindo persada.
Wahyu, Ramdani. 2007. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Pustaka Setia.
Wahyu, Ramdani, M.Ag.,M.Si. ISD (Ilmu Sosial Dasar). Pustaka Setia. Bandung :
2007
Soelaeman, M. Munandar. Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial.
Refika Aditama. Bandung : 2004

27