Anda di halaman 1dari 43

HUBUNGAN MOBILISASI DINI DENGAN PROSES PENYEMBUHAN LUKA PADA

PASIEN POST SECTIO CAESAREA DI RUANG NIFAS RSUD PRAYA

A. Data,masalah solusi
1. Variable pertama(mobilisasi dini)
a. Data
Berdasarkan
dilakukan
PRAYA

oleh

terhitung

hasil
calon
dari

studi

peneliti
tanggal

pendahuluan
di

ruang

1-30

yang

Nifas

RSUD

september

2014

terdapat 56 pasien bersalin dengan sectio caesarea.


Dari 56 pasien tersebut memiliki kemampuan untuk mulai
melakukan

mobilisasi

post

section

caesarea

dalam

rentang waktu yang berbeda, misalnya dalam waktu 6-10


jam mampu menggerakkan lengan tangan dan kaki secara
mandiri dan adapula yang dibantu oleh perawat atau
setelah dianjurkan oleh perawat.
b. Masalah
Dari hasil wawancara dengan salah satu perawat di
ruang nifas bahwa ada yang mampu melakukan mobilisasi
setelah dianjurkan oleh perawat dimulai dari 6 jam
setelah operasi ada yang mampu melakukan pergantian
posisi di tempat tidur yaitu miring kiri atau miring

kanan setelah dianjurkan oleh perawat dan ada yang


ditak mau melakukannya, dan sampai hari ke-3 ada yang
sudah bisa berjalan setelah dianjurkan oleh perawat
dan ada yang bahkan tidak berani bergerak dan bangun
dari tempat tidur. Hal ini disebabkan oleh persepsi
klien yang beranggapan bahwa semakin banyak melakukan
pergerakan semakin lama proses penyembuhan.
c. Solusi
Solusi

yang

diberikan

oleh

perawat

setempat

adalah membantu pasien untuk berganti posisi ditempat


tidur dan melibatkan keluarga dalam membantu pasien
bergerak ditempat tidur sampai pasien bisa berjalan
kembali.

2. Variable kedua(proses penyembuhan luka)


a. Data
Berdasarkan
dilakukan
PRAYA

oleh

hasil
calon

terhitung

dari

studi

peneliti
tanggal

pendahuluan
di

ruang

1-30

yang

Nifas

RSUD

september

2014

terdapat 56 pasien bersalin dengan sectio caesarea.


dari

56

persalinan

pasien
melalui

tersebut

yang

operasi

sectio

menjalani
caesarea

lama proses peyembuhan luka yang berbeda.

proses
memiliki

b. Masalah
Sebagian besar pasien post sectio caesarea yang
dirawat diruang nifas RSUD PRAYA memiliki lama proses
penyembuhanluka

yang

berbeda.

Hal

ini

disebabkan

karena sering terjadinya perdarahan, infeksi pada luka


operasi.

c. Solusi
Tindakan

yang

diberikan

oleh

perawat

setempat

adalah observasi dan rawat luka.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan

uraian

data

di

atas

dapat

disimpulkan

rumusan masalah dalam penelitian ini adalah Apakah Ada


hubungan

mobilisasi

dini

dengan

proses

penyembuhan

luka

pada pasien post sectio caesarea di ruang Nifas RSUD PRAYA?

C. Tujuan penelitian
1. Tujuan umum
Untuk

mengetahui

hubungan

mobilisasi

dini

dengan

proses penyembuhan luka pada pasien post sectio caesarea


di ruang Nifas RSUD PRAYA

2. Tujuan khusus
a. Mengidentifikasi

frekuensi

mobilisasi

dini

di

ruang

Nifas RSUD PRAYA.


b. Mengidentifikasi proses penyembuhan luka pada pasien
post sectio caesarea di ruang Nifas RSUD PRAYA.
c. Menganalisa

hubungan

mobilisasi

dini

dengan

penyembuhan luka pada pasien post sectio caesarea di


ruang Nifas RSUD PRAYA.

D. Manfaat penelitian
1. Bagi peneliti
Diharapkan dapat memberikan manfaat pada peneliti
dalam

menambah

pengalaman

dan

pengetahuan

untuk

mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama pendidikan.


2. Bagi profesi keperawatan
Hisil penelitian ini di harapkan dapat memberikan
informasi

atau

mengenai

Hubungan

mobilisasi

luka

pasien

penyembuhan

data

dasar

pada

bagi

peneliti
dini

post

selanjutnya

dengan

sectio

proses

caesarea

di

ruang bersalin RSUD PRAYA.


3. Bagi Rumah sakit
Hasil penelitian ini akan dapat digunakan sebagai
sumber data dan informasi bagi rumah sakit dan dapat

digunakan

sebagai

pengetahuan

memberikan

pelayanan

bagi

kesehatan

perawat

pada

pasien

dalam

terutama

mengenai mobilisasi dini dengan proses penyembuhan luka


pada pasien post sectio caesarea.

E. Keaslian penelitian
Penelintian

serupa

rahmatullah

pada

pengetahuan

dan

tahun
sikap

pernah
2011

ibu

dilakakan

dengan

post

oleh

judul

sectio

siti
gambaran

caesaria

tentang

mobilisasi dini di RSUD Dr.R.Soedjono Selong.Lombok Timur.


Rancangan penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dengan
pendekatan cross sectional. Populasi penelitian ini adalah
semua ibu yang mengalami pembedahan sectio caesaria di RSUD
Dr.R.Soedjono

selong

periode

25

November

2011

sampai

25

Desember 2011 berjumlah 68 orang. Teknik pengambilan sampel


dengan

accidental

bahwa

pengetahuan

sampling.
ibu

Hasil

post

penelitian

sectio

menunjukkan

caesarea

tentang

mobilisasi dini di RSUD.Dr.R Soedjono Selong sebagian besar


memiliki tingkat pengetahuan cukup. Sikap ibu post sectio
caesarea

tentang

mobilisasi

dini

di

RSUD.Dr.Rsoedjono

Selong sebagian besar memiliki sikap dengan kategori cukup.


Sedangkan
Abd.Rahman

penelitian

HS(2014)ingin

sekarang
mengetahui

yang

dilakukan

apakah

ada

oleh

hubungan

mobilisasi dini dengan proses penyembuhan luka pada pasien

post
dalam

sectio

caesarea,

penelitian

Desain

ini

adalah

penelitian

yang

digunakan

survei

analitik

dengan

pendekatan cohort.
Desain survei analitik yaitu suatu penelitian yang
mencoba menggali bagaimana dan mengapa masalah kesehatan
tersebut bisa terjadi, kemudian melakukan analisis hubungan
antara faktor resiko (faktor yang mempengaruhi efek) dengan
faktor efek (faktor yang dipengaruhi oleh resiko), dengan
pendekatan

cohort,

yaitu

suatu

pnelitian

yang

digunakan

untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko


dengan efek melalui pendekatan longitudidal kedepan atau
prospektif.

Artinya,

diidentifikasi

dulu,

faktor

risiko

kemudian

yang

diikuti

akan

dipelajari

kedepan

secara

prospektif timbulnya efek, yaitu penyakit atau salah satu


indikator status esehatan. Teknik sampling yang digunakan
adalah accidental sampling.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Mobilisasi Dini


1. Pengertian
Konsep mobilisasi mulamula berasal dari ambulasi
dini yang merupakan pengembalian secara berangsurangsur
ketahap mobilisasi sebelumnya untuk mencegah komplikasi
sedangkan

mobilisasi

ibu

post

partum

adalah

suatu

pergerakan, posisi atau adanya kegiatan yang dilakukan


ibu setelah beberapa jam melahirkan dengan persalinan
sesarea (Roper, 2000).
Mobilisasi dini adalah kemampuan seseorang untuk
selekas mungkin berjalan bangkit berdiri dan kembali ke
tempat

tidur,

disamping

kursi,

kemampuan

kloset

duduk,

mengerakkan

dan

sebagainya

ekstremitas

atas.

(Suparyanto, 2010).
Wanita

yang

baru

bersalin

memang

memerlukan

istrahat dalam jam-jam pertama post partum akan tetapi


jika persalinan ibu serba normal tanpa kelainan maka
wanita yang baru bersalin itu bukan seorang penderita
dan hendaknya jangan dirawat seperti seorang penderita,
setelah 2 jam post partum seorang ibu nifas normal sudah

harus

bergerak

ditempat

tidur

yaitu

miring

ke

kiri

maupun miring ke kanan (Sarwono, 2007). Setelah 1-2 jam


post partum setelah persalinan dan keadaan ibu normal,
biasanya ibu diperbolehkan untuk mandi dan ke WC dengan
bantuan orang lain. (Bahiyatul, 2009).
Pada

tahap

mobilisasi

dini

ini

ibu

mungkin

memerlukan bantuan karena beberapa ibu merasa nyeri dan


lelah

ketika

pertama

kali

bangun

dari

tempat

tidur

setelah kelahiran pervaginam (Rukiah et al, 2011).

Mobilisasi

dini

adalah

pergerakan

yang

dilakukan

sedini mungkin di tempat tidur dengan melatih bagian


bagian

tubuh

berjalan.

untuk

Menurut

melakukan
Kasdu

peregangan

(2003)

dalam

atau

belajar

Bariah,(2010)

menyatakan mobilisasi dini dapat dilakukan pada kondisi


pasien

yang

membaik.

Pasien

yang

mengalami

operasi

caesar dianjurkan untuk tidak berdiam diri di tempat


tidur tetapi harus menggerakkan badan atau mobilisasi.

Mobilisasi adalah suatu pergerakan dan posisi yang


akan melakukan suatu aktivitas atau kegiatan. Mobilisasi
dini

adalah

membimbing

kebijaksanaan

penderita

keluar

untuk
dari

selekas

tempat

mungkin

tidurnya

dan

membimbingnya

selekas

mungkin

berjalan

(Soelaiman,

2000).

Menurut Carpenito (2000), mobilisasi dini merupakan


suatu

aspek

karena

yang

hal

terpenting

itu

pada

esensial

fungsi

untuk

fisiologis

mempertahankan

kemandirian.

Dari

kedua

definisi

tersebut

dapat

disimpulkan

bahwa mobilisasi dini adalah suatu upaya mempertahankan


kemandirian

sedini

mungkin

dengan

cara

membimbing

penderita untuk mempertahankan fungsi fisiologis.

Mobilisasi mengacu pada kemampuan seseorang untuk


bergerak

dengan

bebas

dan

imobilisasi

mengacu

pada

ketidak mampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas.


Mobilisasi
dengan
klien

dan

banyak

imobilisasi
tingkatan

mengalami

berada

pada

imobilisasi

kemunduran

dan

suatu

parsial.

selanjutnya

rentang
Beberapa

berada

di

antara rentang mobilisasi-imobilisasi, tetapi pada klien


lain,

berada

pada

kondisi

imobilisasi

mutlak

dan

berlanjut sampai jangka waktu tidak terbatas.

Mobilisasi
dalam

dini

mempercepat

merupakan

pemulihan

faktor

paska

yang

bedah

menonjol

dan

dapat

mencegah komplikasi paska bedah. Banyak keuntungan bisa

diraih dari latihan di tempat tidur dan berjalan pada


periode dini paska bedah.

Mobilisasi

sangat

penting

dalam

percepatan

hari

rawat dan mengurangi resiko-resiko karena tirah baring


lama

seperti

terjadinya

dekubitus,

penegangan

otot-otot

di

darah

pernapasan

terganggu,

dan

seluruh

kekakuan

tubuh
juga

atau

dan

sirkulasi

adanya

gangguan

peristaltik maupun berkemih. Sering kali dengan keluhan


nyeri

di

mobilisasi

daerah

operasi

ataupun

dengan

klien

tidak

alasan

takut

mau

melakukan

jahitan

lepas

klien tidak berani merubah posisi.

Disinilah

peran

perawat

sebagai

edukator

dan

motivator kepada klien sehingga klien tidak mengalami


suatu komplikasi yang tidak diinginkan.

2. Rentang gerak dalam mobilisasi


Menurut Carpenito (2000) dalam mobilisasi terdapat
tiga rentang gerak yaitu :
1. Rentang gerak pasif
Rentang

gerak

pasif

ini

berguna

untuk

menjaga

kelenturan otot-otot persendian dengan menggerakkan

otot

orang

lain

secara

pasif

misalnya

perawat

mengangkat dan menggerakkan kaki pasien.


2. Rentang gerak aktif
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot
serta

sendi

secara

dengan

aktif

cara

menggunakan

misalnya

pasien

otot-ototnya

berbaring

dan

menggerakkan kakinya.
3. Rentang gerak fungsional
Berguna untuk memperkuat otot-otot dan sendi dengan
melakukan aktifitas yang diperlukan.

3. Jenis Mobilitas/Mobilisasi
1. Mobilitas penuh, merupakan kemampuan seseorang untuk
bergerak
melakukan

secara

interaksi

sehari-hari.
saraf

penuh

sosial

Mobilitas

motorik

dan

volunter

penuh
dan

bebas
dan
ini

sehingga

dapat

menjalankan

peran

merupakan

fungsi

sensorik

untuk

dapat

mengontrol seluruh area tubuh seseorang.


2. Mobilitas sebagian merupakan kemampuan seseorang untuk
bergerak dengan batasan jelas dan tidak mampu bergerak
secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf
motorik dan sensorik pada area tubuhnya. Hal ini dapat

dijumpai pada kasus cedera atau patah tulang dengan


pemasangan traksi. Pasien paraplegi dapat mengalami
mobilitas

sebagian

kehilangan

kontrol

pada

ekstremitas

motorik

dan

bawah

sensorik.

karena

Mobilitas

sebagian ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu :


a. Mobilitas

sebagian

individu

untuk

temporer,

bergerak

merupakan

dengan

kemampuan

batasan

yang

sifatnya sementara. Hal tersebut dapat disebabkan


oleh trauma reversibel pada sistem muskuloskeletal,
contohnya adalah adanya dislokasi sendi dan tulang.
b. Mobilitas sebagian permanen, merupakan
individu

untuk

bergerak

sifatnya

menetap.

rusaknya

sistem

terjadinya

Hal

saraf

hemiplegia

dengan

tersebut
yang

batasan
disebabkan

reversibel,

karena

kemampuan

stroke,

yang
oleh

contohnya
paraplegi

karena cedera tulang belakang, poliomielitis karena


terganggunya sistem saraf motorik dan sensorik.
4. Faktor yang Mempengaruhi Mobilitas
Menurut Aziz alimul (2006) mobilitas seseorang dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor :

1. Gaya Hidup
perubahan

gaya

hidup

dapat

mempengaruhi

kemampuan

mobilitas seseorang karena gaya hidup berdampak pada


perilaku atau kebiasaan sehari-hari.
2. Proses Penyakit/cedera
Proses
mobilitas

penyakit

karena

dapat

dapat

mempengaruhi

mempengaruhi

kemampuan

fungsi

sistem

tubuh. Sebagai contoh, orang yang menderita fraktur


femur

akan

mengalami

keterbatasan

pergerakan

dalam

ektremitas bagian bawah.


3. Kebudayaan
Kemampuan
dipengaruhi
memiliki

melakukan

kebudayaan.

budaya

mobilitas

Sebagai

sering

dapat

contoh,

berjalan

orang

jauh

juga
yang

memiliki

kemampuan mobilitas yang kuat: sebaliknya ada orang


yang mengalami gangguan mobilitas (sakit) karena adat
dan dan budaya tertentu dilarang untuk beraktivitas
4. Tingkat Energi
Energi adalah sumber untuk melakukan mobilitas.
Agar seseorang dapat melakukan mobilitas dengan baik,
dibutuhkan energi yang cukup.

5. Usia dan Status Perkembangan


Terdapat perbedaan kemampuan tingkat mobilitas
pada tingkat usia yang berbeda. Hal ini dikarenakan
kemampuan atau kematangan fungsi alat gerak sejalan
dengan perkembangan usia.
5. Manfaat Mobilisasi Dini
Menurut Mochtar (2005), manfaat mobilisasi bagi ibu
setelah melahirkan atau pada masa nifas adalah:
a. Penderita

merasa

ambulation.

lebih

Dengan

sehat

dan

bergerak,

kuat

dengan

otot-otot

early

perut

dan

panggul akan kembali normal sehingga otot perut menjadi


kuat kembali dan dapat mengurangi rasa sakit dengan
demikian

ibu

merasa

sehat

dan

membantu

mempercepat

memperoleh kekuatan, mempercepat kesembuhan.


b. Mobilisasi dini memungkinkan mengajarkan segera untuk
ibu merawat anaknya. Perubahan yang terjadi pada ibu
akan

cepat

pulih

misalnya

kontraksi

uterus,

dengan

demikian ibu akab cepat merasa sehat dan biasa merawat


anaknya dengan cepat.
c. Mobilisasi dini penting dianjurkan pada ibu nifas untuk
mengurangi resiko terancam trombosis vena, komplikasi
kandung kemih, konstipasi dan emboli pulmonal.

6. Kerugian bila tidak melakukan mobilisasi

a.

Peningkatan
uterus

yang

suhu
tidak

tubuh.
baik

Karena

sehingga

adanya
sisa

involusi

darah

tidak

dapat dikeluarkan dan menyebabkan infeksi dan salah


satu

dari

tanda

infeksi

adalah

peningkatan

suhu

mobilisasi

dini

tubuh.
b. Perdarahan
kontraksi

yang
uterus

abnormal.
akan

Dengan

baik

sehingga

fundus

uteri

keras, maka resiko perdarahan yang abnormal dapat


dihindarkan, karena kontraksi membentuk penyempitan
pembuluh darah yang terbuka.
c. Involusi

uterus

yang

tidak

baik.

Tidak

dilakukan

mobilisasi secara dini akan menghambat pengeluaran


darah

dan

sisa

plasenta

sehingga

menyebabkan

terganggunya kontraksi uterus.

7. Tahap tahap mobilisasi dini


Menurut
secara

Kasdu

bertahap

(2003)

berikut

mobilisasi

ini

akan

dini

dilakukan

dijelaskan

tahap

mobilisasi dini pada ibu post operasi seksio sesarea:

a. Setelah operasi, pada 6 jam pertama ibu pasca operasi


seksio sesarea harus tirah baring

dulu. Mobilisasi

dini yang bisa dilakukan adalah menggerakkan lengan,


tangan,

menggerakkan

ujung

jari

kaki

dan

memutar

pergelangan kaki, mengangkat tumit, menegangkan otot


betis serta menekuk dan menggeser kaki.
b. Setelah 6-10 jam, ibu diharuskan untuk dapat miring
kekiri

dan

kekanan

mencegah

trombosis

dan

trombo

dapat

mulai

emboli.
c. Setelah

24

jam

ibu

dianjurkan

untuk

belajar untuk duduk.


d. Setelah

ibu

dapat

duduk,

dianjurkan

ibu

belajar

berjalan.
8. Pelaksanaan Mobilisasi Dini
a. Hari ke 1
1) Berbaring

miring

kekanan

dan

kekiri

yang

dapat

dimulai sejak 6-10 jam setelah penderita atau ibu


sadar.
2) Latihan pernafasan dapat dilakukan ibu sambil tidur
terlentang sedini mungkin setelah sadar.

b. Hari ke 2
1) Ibu dapat duduk 5 menit dan minta untuk bernafas
dalam-dalam
batuk

lalu

kecil

menghembuskannya

yang

gunanya

disertai

untuk

batuk-

melonggarkan

pernafasan

dan

sekaligus

menumbuhkan

kepercayaan

pada diri ibu atau penderita bahwa ia mulai pulih.


2) Kemudian

posisi

tidur

terlentang

dirubah

menjadi

setengah duduk.
3) Selanjutnya secara berturut-turut, hari demi hari
penderita atau ibu yang sudah melahirkan dianjurkan
belajar duduk selama sehari.

c. Hari ke 3 sampai 5
1) belajar

berjalan

kemudian

berjalan

sendiri

pada

hari setelah operasi.


2) Mobilisasi

secara

teratur

dan

bertahap

serta

diikuti dengan istirahat dapat membantu penyembuhan


ibu.

B. Konsep Luka
1. Pengertian
Menurut A.Azis Alimul Hidayat (2011), luka adalah
keadaan
dapat

terputusnya

menyebabkan

kontinuitas

terganggunya

jaringan
fungsi

tubuh,

tubuh

yang

sehingga

mengganggu aktivitas sehari-hari.


2. Jenis-Jenis Luka
Berdasarkan

sifat

kejadian,

luka

dibagi

menjadi

dua, yaitu luka disengaja dan luka tidak disengaja. Luka

disengaja

misalnya

luka

terkena

radiasi

atau

bedah,

sedangkan luka yang tidak disengaja adalah luka terkena


trauma. Luka yang tidak disengaja (trauma) juga dapat di
bagi

menjadi

luka

tertutup

dan

luka

terbuka.

Disebut

luka tertutup jika tidak terjadi robekan, sedangkan luka


terbuka jika terjadi robekan dan terlihat seperti luka
abrasio
akibat

(luka

akibat

tusukan)

dan

gesekan),
hautration

luka

puncture

(luka

(luka

akibat

alat

perawatan luka).
Berdasarkan penyebabnya, luka dibagi menjadi dua
yaitu

luka

mekanik

dan

luka

nonmekanik.

Luka

mekanik

terdiri atas:
a. vulnus scissum atau luka sayat akibat benda tajam,
pinggir luka kelihatan rapi.
b. Vulnus contusum, luka memar dikarenakan cedera pada
jaringan bawah kulut akibat benturan benda tumpul.
c. Vulnus kaceratum, luka robek akibat terkena mesin atau
benda lainnya yang menyebabkan robeknya jaringan rusak
yang dalam.
d. Vulnus punctum, luka tusuk yang kecil dibagian luar
(bagian mulut luka), akan tetapi besar di bagian dalam
luka.

e. Vulnus

seloferadum,

luka

tembak

akibat

tembakan

peluru, bagian tepi luka tampak kehitam-hitaman.


f. Vulnus morcum, luka gigitan yang tidak jelas bentuknya
pada bagian luka.
g. Vulnus abrasio, luka terkikis yang terjadi pada bagian
luka dan tidak sampai kepembuluh darah..
Luka nonmekanik terdiri atas luka akibat zat kimia,
termik, radiasi atau sengatan listrik.
3. proses Penyembuhan Luka
Menurut

A.Azis

Alimul

Hidayat

(2011),

proses

penyembuhan luka meliputi empat tahap, yaitu:


1) Tahap respon inflamasi akut terhadap cedera. Tahap ini
dimulai saat terjadinya luka, pada tahap ini terjadi
proses

hemostasis

yang

ditandai

dengan

pelepasan

histamin dan mediator lain lebih dari sel-sel yang


rusak,

disertai

proses

peradangan

dan

migrasi

sel

darah putih ke daerah yang rusak.


2) Tahap destruktif. Pada tahap ini terjadi pembersihan
jaringan yang mati oleh leukosit polimorfonuklear dan
makrofag.
3) Tahap ploriferatif. Pada tahap ini pembuluh darah baru
diperkuat oleh jaringan ikat dan menginfiltrasi luka.

4) Tahap maturasi. Pada tahap ini terjadi repitelisasi,


konstraksi luka dan organisasi jaringan.
4. Faktor Yang Mempengaruhi Penyembuhan Luka
Menurut
penyenbuhan

A.Azis
luka

Alimul

Hidayat

dipengaruhi

oleh

(2011),
berbagai

Proses
faktor,

yaitu:
a. Vaskularisasi,
membutuhkan

mempengaruhi
peredaran

luka

darah

karena

yang

baik

luka
untuk

pertumbuhan atau perbaikan sel.


b. Anemia, memperlambat proses penyembuhan luka mengingat
perbaikan sel membutuhkan kadar protein yang cukup.
Oleh sebab itu,orang yang mengalami kekurangan kadar
hemoglobin

dalam

darah

akan

mengalami

proses

berlangsung

sejalan

penyembuhan luka yang lama.


c. Usia,

kecepatan

perbaikan

dengan

pertumbuhan

Namun

selanjutnya,

sistem

perbaikan

atau

kematangan

proses
sel

sel

penuaan

sehingga

usia

seseorang.

dapat

menurunkan

dapat

memperlambat

proses penyembuhan.
d. Penyakit lain, mempengaruhi proses penyembuhan luka.
Adanya penyakit seperti diabetes militus dan ginjal
dalam memperlambat proses penyembuhan luka.

e. Nutrisi,

merupakan

unsur

utama

dalam

membantu

perbaikan sel, terutama karena tergantung kandungan


zat

gizi

diperlukan

di

dalamnya.

untuk

Sebagai

membantu

contoh,

proses

Vitamin

epitelisasi

atau

penutupan luka dan sitesis kolagen; Vitamin B kompleks


sebagai

kofaktor

pada

sistem

enzim

yang

mengatur

metabolisme protein, karbohidrat dan lemak; Vitamin C


dapat berfungsi sebagai fibroblas, mencegah timbulnya
infeksi dan membentuk kapiler-kapiler darah; Vitamin K
membantu sintesis protombin dan berfungsi sebagai zat
pembekuan darah.
f. Kegemukan, obat-obatan, merokok dan stres mempengaruhi
proses

penyembuhan

banyak

mengkonsumsi

akan

mengalami

luka.

Orang

yang

obat-obatan,

proses

terlalu

merokok

penyembuhan

luka

gemuk,

dan

stres

yang

lebih

lama.
5. Masalah yang terjadi pada luka
Menurut

A.Azis

Alimul

Hidayat

(2011),

Beberapa

masalah yang dapat terjadi dalam proses penyembuhan luka


adalah sebagai berikut:
1) Perdarahan,
disertai

ditandai

perubahan

dengan

tandai

adanya

vital

perdarahan

seperti

kenaikan

denyut nadi, kenaikan pernapasan, penurunan tekanan

darah,

melemahnya

kondisi

tubuh,

kehausan

serta

keadaan kulit yang dingin dan lembab.


2) Infeksi, terjadi bila terdapat tanda-tanda seperti
kulit kemerahan, demam atau panas, rasa nyeri dan
timbul

bengkak,

jaringan

disekitar

luka

mengeras

serta adanya kenaikan leukosit.


3) Dehiscene,

merupakan

seluruhnya
faktor,

dapat

seperti

terjadinya
dengan

yang

dan

suhu

luka

sebagian

dipengaruhi

kegemukan,

trauma

kenaikan

pecahnya

oleh

berbagai

kekurangan

lain-lain.
tubuh(demam),

atau

nutrisi,

Sering

ditandai

takikardia

dan

rasa nyeri pada daerah luka.


4) Eviceration,
dalam

yaitu

kearah

menonjolnya

luar

melalui

organ

luka.

tubuh

Hal

ini

bagian
dapat

terjadi jika luka tidak segera menyatu dengan baik


atau akibat proses penyembuhan luka.

C. Konsep Seksio

sesarea

1. Pengertian Sectio Caesaria


Istilah Seksio sesarea berasal dari perkataan Latin
caedere yang artinya memotong. Pengertian ini sering
dijumpai dalam roman law (lex regia) dan emperors
law

(lex

caesarea)

yaitu

undang-undang

yang

menghendaki supaya janin dalam kandungan ibu-ibu yang


meninggal

harus

keluarkan

dari

dalam

rahim

(Muchtar,2001).
Seksio sesarea adalah suatu cara melahirkan
janin

dengan

melalui

membuat

dinding

sayatan

depan

pada

perut

dinding
atau

uterus
vagina

(Muchtar,2001).
Seksio sesarea adalah suatu persalinan buatan
dimana janin dilahirkan melalui insisi pada dinding
perut

dan

keadaan

dinding

utuh

rahim

serta

dengan

berat

syarat

janin

rahim

diatas

500

dalam
gram

(Prawiharto, 2004).
2. Jenis-Jenis Seksio Sesarea
a. Seksio sesarea transperitoneal
Seksio
dengan

Sesarea

melakukan

memungkinkan

klasik

atau

sayatan

ruangan

yang

korporal

vertikal

lebih

baik

yaitu

sehingga

untuk

jalan

profunda

yaitu

keluar bayi.

Seksio

sesarea

ismika

atau

dengan melakukan sayatan atau insisi melintang dari


kiri

kekanan

pada

segmen

bawah

tulang kemaluan.

b. Seksio Sesarea Ekstraperitonealis

rahim

dan

diatas

Yaitu
dengan

tanpa

demikian

membuka

tidak

peritonium

membuka

parietalis,

kavum

abdominal.

(Muchtar, 2001).
3. Indikasi Seksio Sesarea
a. Plasenta previa sentralis dan lateralis (posterior).
b. Panggul sempit
Holemr

mengambil

batas

terendah

untuk

melahirkan janin vias naturali ialah CV = 8 cm dapat


melahirkan dengan normal, harus diselesaikan dengan
seksio

sesarea.

dengan

partus

CV

antara

8-10

percobaan,

cm

baru

boleh

di

setelah

coba
gagal

dilakukan seksio sesarea sekunder.

c. Disproporsi

sefalo-pelvik

yaitu

tidak

keseimbangan

antara ukuran kepala dan panggul


d. Ruptur uteri mengancam
e. Partus lama
f. Partus tak maju
g. Distosia serviks
h. Pre-eklamsia dan hipertensi
i. Malpersentasi janin
1) Letak

lintang

sependapat):

(Greenhil

dan

Estman

sama-sama

1. Bila ada kesempitan panggul, maka seksio sesarea


adalah

cara

yang

terbaik

dalam

segala

letak

lintang dengan janin hidup dan besar biasa.


2. Semua

primigravida

dengan

letak

lintang

harus

ditolong dengan seksio sesarea, walau tidak ada


perkiraan panggul sempit.
3. Multipara

dengan

letak

lintang

dapat

lebih

ditolong dengan cara-cara lain.

2) Letak bokong, seksio sesarea dianjurkan pada letak


bokong bila ada:

a) Panggul sempit,
b) Primigravida dan,
c) Janin besar dan berharga.

3) Persentasi

dahi

dan

muka

(letak

defleksi)

bila

reposisi dan cara-cara lain tidak berhasil.


4) Persentasi rangkap, bila reposisi tidak berhasil.
5) Gemelli, menurut Eatman seksio sesarea dianjurkan:

a) Bila janin pertama letak lintang atau persentasi


bahu,
b) Bila terjadi interlok,
c) Distosia oleh karena tumor dan,
d) Gawat janin dan sebagainya.

4. Komplikasi
a. Infeksi puerperal
Infeksi puerperal, komplikasi ini bisa bersifat
ringan,

seperti

kenaikan

suhu

selama

beberapa

hari

dalam masa nifas, bersifat berat seperti peritonitis.


Infeksi

puerperalis

adalah

semua

peradangan

yang

disebabkan oleh masuknya kuman-kuman kedalam alat-alat


genetalia

pada

waktu

persalinan

dan

nifas

(Sarwono

Prawirohardjo, 2005:689).

Infeksi

puerperalis

adalah

infeksi

peradangan

pada semua alat genetalia pada masa nifas oleh sebab


apapun

dengan

melebihi

380

ketentuan
C

tanpa

meningkatnya

menghitung

hari

suhu

badan

pertama

dan

berturut-turut selama 2 (dua) hari.

Bermacam-macam jalan kuman masuk ke dalam alat


kandungan

seperti

eksugen,

autogen

dan

endogen.

Penyebab yang terbanyak dan lebih dari 50 % adalah


streptococcus

dan

anaerop

yang

sebenarnya

tidak

patogen sebagai penghuni normal jalan lahir.

Kuman-kuman
puerperalis
aerobic,

antara

yang
lain

staphylococcus

sering

menyebabkan

streptococcus
aurelis,

infeksi

haematilicus

Escherichia

coli,

Clostridium welchii.

Faktor-faktor predisposisi infeksi puerperalis,


diantaranya:

1) Persalinan

yang

berlangsung

lama

sampai

terjadi

persalinan terlantar,
2) Tindakan operasi persalinan,
3) Tertinggalnya plasenta selaput ketuban dan bekuan
darah,
4) Ketuban pecah dini atau pada pembukaan masih kecil
melebihi enam jam dan,
5) Keadaan yang dapat menurunkan keadaan umum, yaitu
perdarahan ante partum dan postpartum, anemia pada
saat kehamilan, malnutrisi, kelelahan dan ibu hamil
dengan penyakit infeksi seperti pneumonia, penyakit
jantung dan sebagainya.

b. Perdarahan

Perdarahan
pembedahan
atau

jika

karena

banyak

bisa

cabang-cabang

atonia

uteri.

timbul
arteri

pada
ikut

terbuka,

Faktor-faktor

mempengaruhi perdarahan setelah persalinan:

1) Perdarahan setelah persalinan dan usia ibu

waktu

yang

Wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah


20 tahun atau lebih dari 35 tahun merupakan faktor
risiko terjadinya perdarahan pasca persalinan yang
dapat mengakibatkan kematian maternal.

Hal
tahun

ini

dikarenakan

pada

reproduksi

seorang

fungsi

berkembang

dengan

sempurna,

usia

dibawah

wanita

sedangkan

20

belum

pada

usia

diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita


sudah

mengalami

reproduksi
terjadinya

penurunan

normal

dibandingkan

sehingga

komplikasi

fungsi

kemungkinan

setelah

persalinan

untuk

terutama

perdarahan akan lebih besar.

Perdarahan

setelah

persalinan

yang

mengakibatkan kematian maternal pada wanita hamil


yang melahirkan pada usia dibawah 20 tahun 2-5 kali
lebih tinggi daripada perdarahan pasca persalinan
yang

terjadi

pada

usia

20-29

tahun.

Perdarahan

setelah persalinan meningkat kembali setelah usia


30-35

tahun

mengalami

penurunan

kemungkinan terjadinya perdarahan

pasca persalinan

menjadi lebih besar.

2)

sehingga

Perdarahan setelah persalinan dan paritas

Paritas

2-3

merupakan

paritas

paling

aman

ditinjau dari sudut perdarahan setelah persalinan


yang dapat mengakibatkan kematian maternal. Paritas
satu dan paritas tinggi (lebih dari tiga) mempunyai
angka

kejadian

perdarahan

pasca

persalinan

lebih

tinggi. Pada paritas yang rendah (paritas satu),


ketidaksiapan ibu dalam menghadapi persalinan yang
pertama

merupakan

faktor

penyebab

ketidakmampuan

ibu hamil dalam menangani komplikasi yang terjadi


selama kehamilan, persalinan dan nifas.

3) Perdarahan setelah persalinan dan antenatal care

Tujuan umum antenatal care adalah menyiapkan


seoptimal mungkin fisik dan mental ibu serta anak
selama

dalam

kehamilan,

persalinan

dan

nifas

sehingga angka morbiditas dan mortalitas ibu serta


anak dapat diturunkan.

Pemeriksaan
tersedianya
tinggi
terjadi

antenatal

fasilitas

terutama

kematian
disebabkan

maternal
karena

rujukan

perdarahan

setelah

yang

yang

persalinan
dapat
dengan

bagi

yang

baik
kasus

selalu

risiko
mungkin

mengakibatkan

diturunkan.
adanya

dan

Hal

ini

antenatal

care

tanda-tanda dini perdarahan yang berlebihan dapat


dideteksi dan ditanggulangi dengan cepat.

4) Perdarahan setelah persalinan dan kadar hemoglobin

Anemia
dengan
normal.
kurang

adalah

penurunan
Dikatakan
dari

suatu

nilai

hemoglobin

anemia

gr%.

keadaan

yang

ditandai

dibawah

nilai

jika

kadar

hemoglobin

Perdarahan

pasca

persalinan

mengakibatkan hilangnya darah sebanyak 500 ml atau


lebih,

dan

jika

adanya

penanganan

mengakibatkan

hal

ini

yang

turunnya

terus
tepat

kadar

dibiarkan
dan

akurat

hemoglobin

tanpa
akan

dibawah

nilai normal.

5) Penanganan perdarahan setelah persalinan

Penanganan perdarahan pasca persalinan pada


prinsipnya adalah hentikan perdarahan, cegah atau
atasi syok, ganti darah yang hilang dengan diberi
infus

cairan

ekspander,

(larutan

Dextran-L,

garam
dan

fisiologis,

sebagainya),

plasma

transfusi

darah,

kalau

perlu

terapi

terbaik

oksigen.

adalah

Walaupun

pencegahan.

demikian,

Mencegah

atau

sekurang-kurangnya bersiap siaga pada kasus kasus


yang

disangka

akan

terjadi

perdarahan

adalah

penting.

Tindakan
sewaktu

pencegahan

bersalin,

namun

tidak

sudah

saja

dimulai

dilakukan
sejak

ibu

hamil dengan melakukan antenatal care yang baik.


Ibu-ibu

yang

perdarahan

mempunyai

post

predisposisi

partum

sangat

atau

riwayat

dianjurkan

untuk

bersalin di rumah sakit. Di rumah sakit, diperiksa


kadar fisik, keadaan umum, kadar Hb (hemoglobin),
golongan
darah.

darah,

Sambil

keperluan

dan

bila

mengawasi

untuk

infus

mungkin

tersedia

persalianan,
dan

donor

dipersiapkan

obat-obatan

penguat

rahim.

Anemia dalam kehamilan, harus diobati karena


perdarahan

dalam

batas

batas

normal

dapat

membahayakan penderita yang sudah menderita anemia.


Apabila sebelumnya penderita sudah pernah mengalami
perdarahan

post

partum,

berlangsung di rumah sakit.

persalinan

harus

Kadar

fibrinogen

perlu

diperiksa

pada

perdarahan banyak, kematian janin dalam uterus, dan


solutio

plasenta.

Komplikasi-komplikasi

lain

seperti luka kandung kencing, embolisme paru-paru,


dan

sebagainya

sangat

jarang

terjadi.

Suatu

komplikasi yang baru kemudian tampak, ialah kurang


kuatnya parut pada dinding uterus, sehingga pada
kehamilan

berikutnya

Kemungkinan

bisa

peristiwa

ini

terjadi
lebih

ruptura

banyak

uteri.

ditemukan

sesudah seksio sesarea klasik.

c. Ruptura uteri

Ruptur uteri dapat terjadi secara komplek dimana


robekan terjadi pada semua lapisan miometrium termasuk
peritoneum

dan

dalam

hal

ini

umumnya

janin

sudah

berada dalam cavum abdomen dalam keadaan mati; ruptura


inkomplet, robekan rahim secara parsial dan peritoneum
masih utuh. Angka kejadian sekitar 0,5%. Ruptura uteri
dapat terjadi secara spontan atau akibat trauma dan
dapat terjadi pada uterus yang utuh atau yang sudah
mengalami

cacat

rahim

(pasca

miomektomi

atau

pasca

sectio caesar) serta dapat terjadi dalam pada ibu yang


sedang inpartu (awal persalinan) atau belum inpartu
(akhir kehamilan)

Kejadian ruptura uteri yang berhubungan dengan


cacat rahim adalah sekitar 40%; ruptura uteri yang
berkaitan dengan low segmen caesarean section (insisi
tranversal) adalah < 1% dan pada classical caesarean
section (insisi longitudinal) kira-kira 4%7%.
5. Perawatan Post Operasi Seksio Sesarea
Perawatan post operasi seksio

sesarea

adalah

sebagai berikut (Liu,2007):


a. Tanda-tanda vital
Tanda-tanda vital harus diperiksa 4 jam sekali,
perhatikan tekanan darah, nadi jumlah urin serta jumlah
darah yang hilang dan keadaan fundus harus diperiksa.
b. Terapi cairan dan diet

Untuk pedoman umum, pemberian 3 liter larutan RL,


terbukti sudah cukup selama pembedahan dan dalam 24 jam
pertama

berikutnya,

meskipun

demikian,

jika

output

urine jauh di bawah 30 ml/jam, pasien harus segera


dievaluasi kembali paling lambat pada hari kedua.
c. Vesika urinarius dan usus

Kateter dapat dilepaskan setelah 12 jam, post


operasi

atau

pada

keesokan

paginya

setelah

operasi.

Biasanya bising usus belum terdengar pada hari pertama

setelah pembedahan, pada hari kedua bising usus masih


lemah, dan usus baru aktif kembali pada hari ketiga.
d. Ambulasi atau mobilisasi dini

Pada

hari

pertama

setelah

pembedahan,

pasien

dengan bantuan perawatan dapat bangun dari tempat tidur


sebentar, sekurang-kurang 2 kali pada hari kedua pasien
dapat berjalan dengan pertolongan.
e. Perawatan luka

Luka

insisi

pembalut

luka

plester

sangat

kulit

dapat

pembedahan.

diinspeksi

yang

setiap

alternatif

menguntungkan,

diangkat
Paling

ringan
secara

setelah

lambat

hari,

hari

hari

sehingga

tanpa

banyak

normal

jahitan

keempat

setelah

ketiga

post

partum,

pasien dapat mandi tanpa membahayakan luka insisi.


f. Laboratorium

Secara rutin hematokrit diukur pada pagi setelah


operasi hematokrit tersebut harus segera di cek kembali
bila terdapat kehilangan darah yang tidak biasa atau
keadaan lain yang menunjukkan hipovolemia.
g. Perawatan payudara

Pemberian

ASI

dapat

dimulai

pada

hari

post

operasi jika ibu memutuskan tidak menyusui, pemasangan

pembalut

payudara

yang

mengencangkan

payudara

tanpa

banyak menimbulkan kompesi, biasanya mengurangi rasa


nyeri.
h. Memulangkan pasien dari rumah sakit

Seorang pasien yang baru melahirkan mungkin lebih


aman bila diperbolehkan pulang dari rumah sakit pada
hari keempat dan kelima post operasi, aktivitas ibu
seminggunya

harus

dibatasi

hanya

untuk

perawatan

bayinya dengan bantuan orang lain.

6. Masalah-Masalah

Keperawatan

Pasien

Post

Seksio

Sesarea
a. Gangguan nyaman: nyeri akut berhubungan dengan agen
cedera

(biologis,

psikologi,

kimia

dan

fisik

(NANDA,2006).
b. Ansietas berhubungan dengan situasi, ancaman pada
konsep

diri,

transmisi

kontak

interpersonal,

kebutuhan tidak terpenuhi (NANDA,2006).


c. Risiko

tinggi

terhadap

cedera

berhubungan

dengan

fungsi biokimia atau regulasi (NANDA,2006).


d. Risiko

tinggi

terhadap

infeksi

berhubungan

trauma jaringan / kulit rusak (NANDA, 2006).

dengan

e. Konstipasi

berhubungan

dengan

penurunan

tonus

otot

(NANDA, 2006).
f. Gangguan

eliminasi

urin

berhubungan

sensorik motorik (NANDA,2011).

dengan

gangguan

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan
data

dengan

tujuan

serta

makna

tertentu

yang

tentuntya

di

dasarkan pada rasional, empiris (teramati) serta sistematis


(Machafoeds;2008).
pada

bagaimana

Pada

bagian

penelitian

metode

penelitian

dilaksanakan

agar

difokuskan

tujuan

atau

masalah dapat dijawab.

A. Subjek penelitian
Subjek penelitian adalah orang yang dapat dimintai
informasi

atau

yang

menjadi

responden

dalam

penelitian

(Suprayitno, 2010). Yang menjadi subjek Pada penelitian


ini adalah semua klien post sectio caesarea yang dirawat
di ruang Bersalin RSUD PRAYA.

B. Objek penelitian
Pengertian

objek

penelitian

secara

umum

merupakan

permasalahan yang dijadikan topik penulisan dalam rangka


menyusun suatu laporan penelitian (Suprayitno, 2010). Objek
dalam penelitian ini adalah mobilisasi post SC.

C. Populasi dan sampel penelitian


a. Populasi penelitian
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau
objek yang diteliti (Notoadmojo;2010), dalam penelitian
ini yang menjadi populasi adalah semua klien post sectio
caesarea

yang dirawat di ruang Bersalin RSUD PRAYA

b. Sampel penelitian
Sampel
yang

adalah

diteliti

sebagian

(Arikunto,

atau

2010).

wakil dari
Dalam

populasi

penelitian

ini

yang menjadi sampelnya adalah klien post sectio caesarea


diruang Bersalin.
Cara perhitungan sampel(Nursalam, 2011):
Rumus :

Keteranga :
n = Jumlah sampel
N = Jumlah populasi
D = Tingkat signifikasi (p)
Cara perhitungan sampel :

49,122 =49

Teknik

sampling

merupakan

teknik

pengambilan

sampel (Sugiyono, 2010). Teknik sampling pada penelitian


ini menggunakan nonprobability sampling dengan Accidental
sampling

yaitu

mengambil

kasus

atau

responden

yang

kebetulan ada atau tersedia di suatu tempat sesuai dengan


konteks penelitian (Notoatmodjo;2010).
D. Desain penelitian
Rancangan
yang

disusun

penelitian
sedemikian

merupakan
rupa

rencana

sehingga

penelitian

peneliti

dapat

memperoleh jawaban terhadap pertanyaan penelitian (Setiadi,


2007).
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini
menggunakan

desain

survey

analitik

dengan

pendekatan

cohort.
Desain survey analitik

yaitu suatu penelitian yang

mencoba mengetahui mengapa masalah kesehatan tersebut bisa


terjadi, kemudian melakukan analisis hubungan antara faktor
resiko (faktor yang mempengaruhi efek) dengan faktor efek
(faktor yang dipengaruhi oleh resiko), dengan pendekatan
cohort,

yaitu

suatu

pnelitian

yang

digunakan

untuk

mempelajari dinamika korelasi antara faktor resiko dengan


efek

melalui

prospektif.

pendekatan

Artinya,

faktor

longitudidal
risiko

yang

kedepan
akan

atau

dipelajari

diidentifikasi

dulu,

kemudian

diikuti

kedepan

secara

prospektif timbulnya efek, yaitu penyakit atau salah satu


indikator status kesehatan. Teknik sampling yang digunakan
adalah accidental sampling (Notoatmodjo,2012).

E. Pengumpulan Data dan Pengelolahan Data


Tehnik
untuk

pengelolahan

mengumpulkan

data

data,

merupakan

perlu

cara

dilihat

peneliti

alat

ukur

pengumpulan data agar memperkuat hasil penelitian (Alimul,


2009).
Adapun tehnik pengumpulan data dan pengelolahan data
dalam penelitian ini meliputi :
1) Tehnik pengumpulan data
Pengumpulan data merupakan suatu proses pendekatan
kepada

subjek

karakteristik

atau

responden

subyek

yang

dan

proses

diperlukan

pengumpulan
dalam

suatu

penelitian (Nursalam, 2003).


Pada

pelaksanaan

penelitian

data,

sehari

sebelum

pelaksana operasi, peneliti menjelaskan teknik atau cara


melakukan

mobilisasi

dini

pada

responden

yang

selanjutnya dilakukan observasi mobilisasi dini 6 jam


pertama setelah operasi, 6-12 jam setelah operasi, 24
jam pertama setelah operasi yang sesuai dengan lembar
observasi mobilisasi dini. Sedangkan data tentang proses

penyembuhan luka peneliti melakukan pada saat responden


melakukan kontrol 1 pada hari ke-3 setelah operasidan
kontrol ke-2 hari ke-6 stelah operasi.
2) Instrumen Penelitian
Instrumen
fasilitas

penelitian

yang

mengumpulkan

merupakan

digunakan

data

agar

oleh

alat

atau

peneliti

pekerjaan

lebih

dalam

mudah

dan

hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cepat, lengkap


dan

sistematis

2002).

sehingga

Instrumen

lebih

digunakan

mudah

dalam

diolah

(Iqbal,

penelitian

data

adalah :
Pedoman Observasi
Pedoman

observasi

merupakan

cara

pengumpulan

data dengan melakukan pengamatan secara langsung pada


responden penelitian untuk mencari perubahan atau halhal

yang

akan

diteliti

(Alimul,

2007).

Pedoman

observasi yang telah dibuat oleh peneliti yang akan


digunakan

untuk

mengetahui

hubungan

Mobilisasi

Dini

Tdengan Penyembuhan Luka Post sectio caesarea Di Ruang


Nifas

RSUD

mobilisasi

PRAYA.
dini

Pedoman

dibuat

obsevasi

sendiri

oleh

pada

hubungan

penulis

yang

mengacu pada tinjauan pustaka tentang penyembuhan luka


post sectio caesarea.

F. Analisa data
Dalam penelitian ini analisa data yang di gunakan adalah
uji spearman rank yaitu digunakan untuk mencari hubungan
antara

variable

indevenden

dan

variable

dependen

bersekala ordinal.
G. Hipnosis
Hypnosis adalah pernyataan awal peneliti mengenai
hubungan antar variable yang merupakan jawaban peneliti
tentang kemungkinan hasil penelitian(setiadi:2007).

DAFTAR PUSTAKA

Alfian.

(2012).

Hubungan

Persepsi

Pasien

tentang

Mobilisasi Dini dengan Tingkat Nyeri Pasien Post Operasi


Seksio Sesarea di Instalasi Ibu dan Bayi RSUD Patut
Patuh Patju Lombok Barat. Skripsi.
Alimul Aziz, A. 2011. Keterampilan Dasar Praktik Klinik
Untuk Kebidanan. Jakarta; Salemba Medika.
Notoatmodjo.

2011.

Metodologi

Penelitian

Kesehatan.

Jakarta: Rineka Cipta.


Nursalam.

2011.

Konsep

dan

penerapan

metodologi

penelitian keperawatan. Jakarta;selemba medika.

ilmu