Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH KINETIKA KIMIA

Reaksi dalam Larutan: Pengaruh Kekuatan Ionik pada


Pemusatan dan Pemisahan Elektroforetik

Kelompok 10 :
Caecilia Jessica Unarso

(G84120008)

Aida Juniarti

(G84120014)

Bagus Harjanto Sukra Ardi

(G84110082)

Dosen: Prof. Dr. Dyah Iswantini Pradono, M.Sc.Agr


M Khotib, SSi, MSi

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014

ABSTRAK
Percobaan ini mempersembahkan studi numerik dan eksperimental efek
kekuatan ionik pada pemusatan dan pemisahan elektroforetik. Dilakukan pula
peninjauan pada perkembangan model kekuatan ionik untuk mobilitas dan
aktivitas kimia elektroforesis, serta menyoroti perbedaan kekuatan ionik dalam
konteks simulasi pemusatan dan pemisahan elektroforesis Pada percobaan ini
dilakukan pemasangan sebuah pemecahan numerik dari transpor elektroforesis
dengan model Onsager-Fuoss untuk pergerakan ion yang aktual dan teori DebyeHuckel untuk mengoreksi kekuatan ioniknya. Prediksi model untuk mobilitas
fluoresen sebagai fungsi dari kekuatan ion serta pH yang sebanding dengan data
dari percobaan CZE. Prediksi Simulasi faktor prakonsentrasi dalam mode puncak
ITP juga dibandingkan dengan data eksperimen yang dipublikasikan. Eksperimen
ITP dilakukan untuk mempelajari pengaruh kekuatan ion pada simulasi
pemusatan dan pemisahan. Perbandingan dari data terakhir dengan hasil
simulasi pada 10 dan 250 mM kekuatan ion menunjukkan bahwa model mampu
menangkap perbedaan kualitatif yang diamati dalam bentuk zona ITP analit
secara teratur. Simulasi eksperimen CZE menunjukkan perubahan dalam
kekuatan ion menghasilkan perubahan yang signifikan dalam pemilihan tersebut
dalam selektivitas dan urutan puncak analit. Simulasi efek kekuatan ion dalam
kapiler elektroforesis dibandingkan dengan data eksperimen yang dipublikasikan.
Kata kunci: Elektroforesis kapiler / kekuatan ionik / ITP / Pemisahan / Simulasi

PENDAHULUAN
Pemisahan (separasi) merupakan suatu metode yang digunakan untuk
memisahkan atau memurnikan suatu senyawa atau sekelompok senyawa yang
mempunyai susunan kimia yang berkaitan dari suatu bahan, baik dalam skala
laboratorium maupun skala industri. Metode pemisahan bertujuan untuk
mendapatkan zat murni atau beberapa zat murni dari suatu campuran, sering
disebut sebagai pemurnian dan juga untuk mengetahui keberadaan suatu zat dalam
suatu sampel (analisis laboratorium) (Sanagi 2001).
Capillary Electrophoresis (CE) merupakan metode teknik pemisahan yang
terhitung baru. CE diharapkan dapat melengkapi kekurangan HPLC, seperti
halnya HPLC dapat melengkapi kekurangan Gas Cromatography (GC). CZE
(Capillary Zone Electrophoresis) merupakan metode CE yang paling populer
karena banyak diaplikasikan dalam berbagai bidang. CZE adalah bentuk metode
yang paling sederhana dari CE. Mekanisme pemisahan berdasarkan perbedaan

muatan serta ukuran analit. Dimana kation, anion maupun senyawa netral dapat
bergerak akibat adanya EOF (Electro Osmotic Flow) (Landers 1996).
Isotakoforesis (ITP) merupakan metode yang didasari oleh penggunaan
penyangga diskontinu (terdapat ion-ion dengan mobilitas berbeda) yang
memproduksi kekuatan sinyal yang berbeda pula. Semua ion dan analit harus
bermigrasi pada kecepatan yang sama. Sebuah ion dengan pergerakan yang cepat
dan berada dalam konsentrasi tinggi digunakan sebagai leading ion, sedangkan
ion yang bergerak lambar digunakan sebagai terminating ion (Landers 1996). LE
dan TE merupakan penyangga yang dipilih dalam metode ITP. Ion LE memiliki
mobilitas elektroforetik efektif yang tinggi.
Derajat disosiasi seperti analit merupakan fungsi dari konstanta disosiasi,
pH lokal, dan kekuatan ionik lokal. Derajat disosiasi menenukan derajat ionisasi
dari spesies dan bisa dihubungkan secara langsung dengan efektivitas
mobilitasnya. Pada umumnya, mobilitas ion pada kekuatan ionik yang terbatas
bergantung pada pergerakan ionik penuh pada ion, pergerakan dari ion-ion
berlawanan, muatan ion, komposisi penyangga, dan konstanta disosiasi (Sanagi
2001).

Gambar 1 Hubungan antara mobilitas beberapa elektrolit dengan kekuatan ionik

Onsager memberikan sebuah teori tentang keterkaitan antara konduktivitas


elektrolit kuat dengan konsentrasi, berdasarkan model amoster ionik dari Debye-

Huckel. Model teori Onsager ekuivalen secara fungsional dengan model empiris
Kohlrausch untuk konduktivitas dari suatu elektrolit pada kekuatas ionik yang
terbatas. Persamaan yang dirumuskan adalah = 0 kc1/2, dimana adalah
konduktivitas molar, 0 adalah nilai konduktivitas molar pada pengenceran tak
hingga, c adalah konsentrasi ion, dan k adalah konstanta empiris. Gambar 1
menunjukkan bahwa kation univalen lebih mengalami reduksi mobilitas yang
rendah dibandingkan kation divalen pada peningkatan kekuatan ionik.
Model Onsager menganggap ion sebagai titik muatan dan terbatas untuk
mengencerkan elektrolit yang mengandung dua buah ion yang berbeda
muatannya. Teori orisinil untuk konduktivitas pada kekuatan ionik yang terbatas
ini dapat diekspresikan sebagai = i0 (Ai0 + B) c1/2, dimana adalah
konduktivitas pada kekuatan ionik yang terbatas, i0 mobilitas ionik yang terbatas
pada spesies i pada kekuatan ionik = 0, dan c adalah konsentrasi pelarut. Mobilitas
efektif adalah mobilitas ionik dari elektrolit lemah yang dapat diamati. Mobilitas
efektid ini bergantung pada derajat ionisasi yang bisa dapat diperoleh dengan
penyelesaian komposisi kesetimbangan dari spesies ionik.
Pemisahan dilakukan dengan bantuan medan listrik pada mobilitas
elektroforesis. Analit yang digunakan berupa asam dan basa dapat lemah atau
kuat, atau dapat amfoterik yang dimiliki oleh anionik dan kationik. Tingkat
pemisahan analit tergantung dengan disosiasi antara pH lokal dan kekuatan ion
lokal. mobilitas ion diamati pada kekuatan ion yang terbatas tergantung pada yang
membatasi mobilitas penuh terionisasi ion, mobilitas ion-ion berlawanan, muatan
ionik

(nilai

valensi),

penyangga

Komposisi

dan

disosiasi

ion

konstanta (misalnya pK). Validasi kekuatan ion dengan pengukuran mobilitas ion
dari fluoresen di CZE yang menunjukkan perubahan urutan puncak dalam
elektroforegram serta analisis pengaruh kekuatan ion pada zona ITP.
METODE
Percobaan dilakukan untuk memvalidasi model metode dan mengevaluasi
hasil uji. Eksperimen untuk kekuatan ion tinggi, leading electrolyte (LE) terdiri
atas 250 mM HCl dan 400 mM Tris. Eksperimen untuk kekuatan ionik rendah, LE
terdiri atas 10 mM HCl dan 20 mM Tris. Eksperimen untuk kedua percobaan,

terminating electrolyte (TE) adalah 20 mM HEPES dan 40 mM Tris dan berisi 5


mM dari Analyte MOPS. Semua bahan kimia yang diperoleh dari Sigma-Aldrich
(St. Louis, MO) dan terdilusi dari 1 M larutan stok. Larutan 1% PVP ditambahkan
untuk kedua LE dan TE untuk menekan EOF, dan menambahkan 4 mM Ba (OH)
2 (100 mM larutan stok) ke TE untuk mengendapkan karbon dioksida terlarut
[32].
Penanda fluoresen Fluorescein dan Oregon Hijau asam karboksilat
(OGCA) diperoleh dari dari Invitrogen (Carlsbad, CA). Stok larutan analit
fluoresen dengan konsentrasi 100 mM disiapkan dan diencerkan dalam
TE. Konsentrasi masing-masing adalah 2 mM dan 300 nM untuk eksperimen
kekuatan ion tinggi dan 1 mM dan 300 nM untuk eksperimen kekuatan ion
rendah. Stok larutan dengan konsentrasi 1 mM disiapkan dari kationik pewarna
rhodamin 6G (R6G, Acros Organics, Geel, Belgia), dan digunakan untuk
memvisualisasikan zona dataran tinggi anionik ITP dengan mencampurkan pada
konsentrasi 100 mM dalam LE (lihat keterangan ini pelacak non-fokus (NFT) di
Bagian 3.3. Semua solusi disusun dalam ultra murni DNase / RNase bebas air
suling (Gibco Invitrogen).
Gambar diperoleh menggunakan inverted epifluorescent microscope
(IX70,Olympus, Hauppauge,NY) dilengkapi dengan lampu merkuri, U-MWIBA
filter-kubus dari Olympus (460-490 nm eksitasi, emisi 515 nm dan 505 nm cutoff
dichroic) dan 10X (NA 5 0.4) UPlanApo objektif. Gambar yang ditangkap dengan
menggunakan 12-bit, 1300 1030 pixel array Kamera CCD (Micromax1300,
Princeton Instrumen, Trenton NJ). Kontrol kamera menggunakan Winview32
(Princeton Instrumen) dan gambar diproses dengan MATLAB (R2007b,
MathWorks, Natick, MA). Arus konstan diterapkan (3 dan 0,3 mA untuk ion
berkekuatan rendah atau tinggi) dengan menggunakan High-voltage sourcemeter
(model 2410, Keithley Instrumen, Cleveland, OH).
Gambar 1 menunjukkan informasi pendukung skema dari microfluidic
chip dan protokol injeksi ITP. off-the-shelf microfluidic borosilicate chips (model
NS 95) dari Caliper Life Sciences (Mountain View, CA) yang digunakan memiliki
dimensi saluran dengan lebar 74 mm dan kedalaman 12 mm. Sumur bagian Utara,
Selatan dan Barat chip diisi dengan LE dan vakum digunakan ke sumur bagian

Timur sampai semua saluran telah terisi. Kemudian sumur bagian timur dibilas
beberapa kali dengan air suling dan mengisinya dengan TE, analit dan penanda
campuran. Elektroda ditempatkan di sumur Timur dan Barat serta menerapkan
arus konstan. Pusat bidang pandang mikroskop pada jarak tetap 9 mm dari sumur
bagian timur TE, dan mengatur kamera untuk mengambil gambar secara terus
menerus sampai berhenti secara manual setelah mengamati bahwa gambar zona
telah ditangkap.
PEMBAHASAN
Mobilitas flourescein diukur menggunakan metode CZE. Gambar 2
menunjukkan perbandingan antara mobilitas efektif flourescein eksperimental dan
komputional sebagai fungsi dari kekuatan ionik. Seperti yang telah dibahas
sebeumnya, mobilitas dapat tereduksi pada kekuatan ionik yang tinggi. Model
yang paling baik ditunjukkan pada nilai eksperimentalnya. Pada semua kekuatan
ionik, mobilitas efektif pada pH 9.35 lebih tinggi dibandingkan dengan pH 7.15.
Hal ini karena flourescein adalah asam lemah (pKa-2 = 6.8) dan akan lebih kuat
terdisosiasi pada pH yang lebih tinggi (Bahga et al 2010).

Gambar 2 Pengaruh kekuatan ionik terhadap mobilitas ion flourescein pada pH 2

Pada ITP, fokus sampel ion antara LE dan TE memiliki mobilitas efektif
yang lebih tinggi dan lebih rendah. Peak mode pada ITP mengarah pada mode
pemusatan dimana analit berada dalam konsentrasi yang cukup rendah (dan waktu
pengamatan cukup pendek), dimana analit tida memiliki cukup waktu untuk

membentuk zona plateau. Pada peak mode, ion analit membentuk puncak
konsentrasi yang sempit yang lebarya digunakan untuk menentukan difusi ikatan
pada zona lingkungannya (ikatan antara zona LE dan TE). Difusi antara LE dan
TE menyebabkan timbulnya medan listrik secara langsung dari zona LE yang
memiliki konduktivitas tinggi menuju zona TE yang memiliki konduktivitas
rendah (Schwarz et al 2012).
Jumlah sampel yang terkumpul pada peak mode, Ns , bergantung secara
utama pada perbandingan mobilitas efektif analit pada zona TE kepada anion TE
di zona TE, konsentrasi sampel awal, dan selang waktu antara injeksi dan deteksi.
Laju dari akumulasi samel berdasarkan jarak yang dihasilkan adalah:

dimana VITP = L,lej/le adalah kecepatan dari bidang ITP. Notasi L,le adalah
mobilitas efektif dari ion LE dan le adalah konduktivitas dari zona LE. Pada
kekuatan ionik yang rendah, konsentrasi sampel di zona TE meningkat secara
proporsional seiring konsentrasi LE. Sebagai hasilnya, laju sampel meningkat
seiring peningkatan konsentrasi LE. Hasil total dari percobaan adalah untuk
sampel ion divalen, laju pemusatan meningkat seiring konduktivtas LE pada
kekuatan ionik yang rendah, namun kemudian jenuh dan menurun seiring
kenaikan kekuatan ionik (Bahga et al 2010).
Penelitian sebelumnya oleh Khurana dan Santiago dilakukan pengamatan
tentang reduksi dari laju pemusatan untuk ion divalen Alexa-Flour (AF) pada ITP
mode peak (Gambar 3). Penelitian kali ini membandingkan prediksi dari
akumulasi sampel pada ITP peak mode (yang diperoleh dari simulasi numerik
tanpa pengaruh waktu pada Spresso) dengan pengamatan eksperimental penelitian
Khurana dan Santiago. Gambar 3a menunjukan prediksi numerik dari jumlah mol
yang terakumulasi dari AF sebagai fungsi dari konsentrasi LE. Hal ini dilakukan
untuk menghitung aktivitas dengan (garis tebal) dan tanpa (garis tipis) koreksi
kekuatan ionik. Dari gambar tersebut ditunjukkan bahwa pada kekuatan ionik
yang cukup tinggi, mobilitas ion divalen (AF) menurun sangat drastis daripada TE
yang univalen (asam 3-fenilpropionat). Hal ini menghasilkan penurunan
akumulasi AF pada kekuatan ionik yang tinggi (dari titik jumlah mol maksimum

yang terakumulasi, yaitu pada le = 2 S/m) dan menurun pada konduktivitas LE


yang tinggi.

Gambar 3 Pengaruh kekuatan ion terkait analit divalen (AF) pada ITP peak mode

Data eksperimental dari gambar 4A dan 4C menunjukkan eksistensi dari


zona MOPS, yaitu sebuah analit tunggal yang digunakan sebagai penanda
flouresensi OGCA dan flourescein. Pada kekuatan ionik kedua gambar, zona
MOPS mempunyai lebar yang signifikan dan dibuat terlihat dengan NFT, seiring
pergerakannya dari LE ke TE. Zona MOPS membentuk sebuah ion ruang antara
LE dan TE. Penanda pergerakan mobilitas flourescein memusat ke depan atau
belakang MOPS, seperti yang ditunjukkan oleh kekuatan ionik dari LE (Bahga et
al 2010).
Gambar 4B menunjukkan data eksperimental dan simulasi dari konsentrasi
dua penanda mobilitas untuk kekuatan ionik 250 mM. Dua buah puncak dari dua
penanda mobilitas ini menunjukkan keberadaan analit (MOPS) di antara mereka.
Flourescein adalah ion divalen sehingga mobilitasnya memiliki lebih terpengaruh
oleh kekuatan ionik, sedangkan MOPS bersifat monovalen. Gambar 4 secara
keseluruhan menunjukkan adanya reduksi mobilitas seiring kenaikan kekuatan
ionik.

Gambar 4

Perbandingan dari hasil perhitungan (numerik) dengan eksperimen dari


pemisahan dan deteksi analit sampel menggunakan NFT dan penanda
mobilitas flouresens pada kekuatan ionik tinggi (A, B) dan rendah (C, D)

Pengaruh kekuatan ionik juga dapat menyebabkan perubahan fundamental


dari sinyal elektroferogram CZE. Pemisahan elektroforetik dalam variasi kekuatan
ionik juga dapat menghambat perubahan urutan puncak. Harrold et al melakukan
eksperimen yang menunjukkan pengaruh kekuatan ionik terhadap selektivitas
anion anorganik pada kapiler elektroforesis. Penelitian kali ini melakukan
simulasi berdasarkan kondisi eksperimental dari Harrold et al. Akhir penelitian ini
dilakukan dua simulasi pemisalah elektroforetik dari ion klorida, florida, sulfat,
dan fosfat menggunakan penyangga natrium tetraborat pada pH 9.2, dan pada
kekuatan ionik 1 mM dan 5 mM. Gambar 5 menunjukkan plot percobaan Harrold
et al sepanjang simulasi penelitian kali ini. Untuk anion CZE yang dominan EOF,
ion dengan mobilitas elektroforetik yang tinggi mencapai detektor paling akhir.
Pada kekuatan ionik yang rendah (1mM), penetilian menunjukkan bahwa ion
fosfat (HPO42-) relatif hampir tidak larut dengan forida (F -). Selain itu, ion sulfat

(SO42-) tidak larut dengan klorida (Cl-). Florida, fosfat, klorida, dan sulfat meraih
detektor berturut-turut berdasarkan waktu migrasinya.

Gambar 5 Percobaan Harrold et al dan simulasi penelitian yang telah penulis lakukan
untuk menunjukkan pengaruh kekuatan ionik pada elektroferogram

Bentuk elektroferogram ditentukan oleh mobilitas relatif dari anion. Pada


kekuatan ion yang rendah, mobilitas elektroforetik antara Cl - dan SO42- membuat
mereka sulit untuk bercampur. Namun, SO42- merupakan ion divalen yang
memiliki atmosfer ionik yang lebih kuat dibandingkan dengan Cl - yang
merupakan ion univalen. Oleh karena itu, SO42- mengalami penurunan mobilitas
yang lebih besar ketika terjadi kenaikan kekuatan ionik.
SIMPULAN
Kekuatan ionik berpengaruh pada mobilitas dan aktivitas ion-ion dalam
larutan, khususnya elektrolit lemah. Proses pemisahan elektroforetik dapat
dilakukan dengan CZE dan ITP. Hasil uji CZE menunjukkan bahwa kekuatan
ionik memliki pengaruh terhadap mobilitas ionik flourescein. Hasil uji ITP
menunjukkan bahwa pada kekuatan ionik yang cukup tinggi, mobilitas ion divalen
menurun sangat drastis dibandingkan dengan ion univalen. Eksperimen
menggunakan NFT dan penanda mobilitas flouresen menunjukkan terjadinya
reduksi mobilitas seiring kenaikan kekuatan ionik. Simulasi yang dilakukan
menggunakan elektroferogram menunjukkan bahwa ion divalen mengalami
penurunan mobilitas yang lebih besar dibandingkan ion univalen ketika terjadi
kenaikan kekuatan ionik.

DAFTAR PUSTAKA
Bahga SS, Bercovici M, Santiago JG. 2009. Ionic strength effects on
electrophoretic focusing and separations. Electrophoresis 31: 910919.
Hempel G. 2004. Drug Monitoring and Clinical Chemistry. Amsterdam (NL):
Elseier Science B.V.
Landers JP. 1996. Handbook of Capillary Electrophoresis. Florida (US): CRC
Press.
Sanagi MM. 2001. Teknik Pemisahan dalam Analisis Kimia. Skudai (MY):
Universiti Teknologi Malaysia
Schwarz GG, Rogacs A, Bahga SS, Santiago JG. 2012. On-chip isotachophoresis
for separation of ions and purification of nucleic acids. Journal of
Visualized Experiments 61: 1-8.