Anda di halaman 1dari 47

Akhlak Terhadap Orang Tua dan Guru Menurut Agama, Etika dan Budaya

Akhlak Terhadap Orang Tua dan Guru Menurut Agama, Etika dan Budaya

A.

Akhlak kepada orang tua menurut agama

Seorang anak dilarang membentak, memarahi atau bersuara keras terhadap kedua
orang tua.

Lebih bertambah umur kedua orang tua, hendaknya lebih diperhatikan oleh anak
anaknya.
Kedua hal diatas sesuai dengan Firman Allah dalam Qs. Al Isra : 23
Dan tuhanmu telah mewajibkan supaya kamu jangan menyembah selain dari pada Nya
dan berbuat baiklah kamu kepada kedua ibu bapak .Apabila mereka atau salah seorang dari
mereka telah tua, janganlah kamu berkata kepada keduanya dengan perkataan ah dan
jangalah engkau gertak mereka tetapi ucapkanlah kepada mereka dengan kata kata yang
sopan lagi lembut
Diperintahkan kepada setiap anak agar selalu merendahkan diri kepada kedua orang
tua dengan penuh kasih sayang, sesuai dengan firman Allah dalam Qs. Al Isra : 24
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya (ibu bapak) dengan penuh kasih sayang
-Diperintahkan kepada seorang anak agar selalu mendoakan kedua orang tua dengan doa

Ya Allah ampunilah aku dan ibu bapakku serta kasihanilah mereka berdua
sebagaimana mereka berdua telah mengasuh aku diwaktu kecil
-Jangan durhaka kepada orang tua karena hal itu akan mendatangkan murka Allah dan tidak
akan masuk surga, sebagaimana disebutkan dalam Hadits
Keridlaan Allah dalam keridlaan ibu bapak dan murka Allah dalam kemurkaan ibu
bapak.(HR.At-Thabrani)
Dan juga terdapat dalam hadist
Segala dosa akan dapat ditangguhkan Allah balasannya sampai hari kiamat, kecuali dosa
durhaka kepada ibu bapak. Maka Allah akan menyegerakan akibatnya kepada pelakunya
didunia sebelum ajalnya tiba.(HR.At- Thabrani dan Hakim)
Dan dalam hadist

Tiga golongan manusia yang tidak akan masuk surge : orang yang mendurhakai ibu
bapaknya, pelacur yang tidak punya malu, wanita yang menyerupai kaum pria.(HR.AnNasaI dan Hakim)
-Disunahkan agar tetap berbuat baik kepada kedus orang tua walaupun keduanya atau salah
satunya telah meninggal yaitu dengan :
1) Mendoakan rahmat bagi keduanya
2) Memohon ampun atas dosa dosa keduanya
3)Melaksanakan janjinya yang belum dilaksanakan
4)Menyambung shillaturrahmi kepada sahabat sahabat orang tua.
(hal diatas sesuai dengan HR.Abu Daud )
-Allah memerintahkan agar berbakti kepada kedua orang tua , barang siapa tidak berbuat baik
kepada kedua orang tua maka ia telah berbuat durhaka dan perbuatan durhaka adalah sifat
syaithan.
Sebagaimana tedapat dalam Qs. Maryam :14 dan 44

Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan bukanlah ia orang yang
sombonglagi durhaka(Qs.Maryam :14)

Wahai bapakku , janganlah kamu menyembah syaithan, sesungguhnya syaithan itu durhaka
kepada tuhan yang maha pemurah.(Qs.Maryam : 44)
-Demikian pentingnya akhlak kepada ibu sehingga sehingga Rasullulah SAW bersabda
:Bahwa surga itu berada dibawah telapak kaki ibu.(HR.An-NasaI dan Ibnu Majah)
-Dalam penghormatan kepada ibu bapak akan membawa dampak positif bagi perkembangan
jiwa anak anak kita kelak

Berbuat baiklah kepada bapakmu, niscaya kamu akan diperlakukan demikian oleh anak
anakmu.(HR.At-Thabrani dan Hakim).
Perintah ihsan diletakkan oleh Allah dalam al quran langsung sesudah perintah beribadah
hanya kepada Nya dan berbuat baik kepada ibu bapak .
Sebagaimana firman Allah:

Dan ingatlah Ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil yaitu:Janganlah kamu
menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada ibu bapak.(QS. Al Baqarah: 83)
Allah SWT juga berfirman:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik ) kepada kedua ibu bapaknya , ibunya
telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah dan menyampihnya dalam dua
tahun.Bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapak,hanya kepadaKulah kembalimu (QS.
Luqman:14)
Rosulullah SAW meletakkan birrul walidain sesudah salat tepat waktu dan menempati urutan
kedua dari amalan yang terbaik. Rasulullah bersabda:
Diriwayatkan dari Abu Abdirrahman Abdullah ibn Masud Ra. Dia berkata Aku bertanya
kepada rosulullah :Apa yang disukai oleh Allah SWT? Beliau menjaw ab:Salat tepat pada
waktunya.Aku bertanya lagi:Kemudian apa?Beliau menjawab:Birrul walidain
.Kemudian aku bertanya lagi: Seterusnya apa?Beliau menjawab:Jihad Fi sabilillah. (HR.
Mutafaqun alaih)
Dari QS. Al baqarah : 83 dan Hadits diatas , Allah dan rasulNya menempatkan orang tua
pada posisi yang sangat istimewa, sehingga berbuat baik kepada orang tua menempati posisi
yang mulia, dan durhaka kepada orang tua menempati posisi yang sangat hina.
Bentuk-bentuk birrul walidain
Cara anak agar dapat mewujudkan birrul walidain antara lain:
1.
Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan baik
masalah pendidikan , pekerjaan , jodoh maupun masalah lain asal tidak bertentangan dengan
agama . Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Luqman :15

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak
ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah
keduanya didunia dengan baik.

2.
Menghormati dan memuliakan kedua orang tua dengan penuh kasih sayang dan terima
kasih karena tidak mungkin seorang anak dapat membalas jasa-jasa kedua orang tuanya. Cara
kita menghormati orang tua adalah memanggil dengan panggilan yang menunjukkan hormat,
berbicara dengan lemah lembut dan tidak mengucapkan kata-kata yang kasar (terlebih apabila
mereka sudah berusia lanjut) , dan pamit ketika meninggalkan rumah

3.
Membantu ibu bapak secara fisik dan materiil. Cara membantu orang tua secara fisik
misalnya mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan secara materiil adalah apabila kita sudah
mempunyai penghasilan kita member ikan sebagian penghasilan kepada kedua orang tua.
4.

Mendoakan kedua orang tua agar diampuni dosa-dosanya, diberikan rizki dan lain-lain

5.
Birrul walidain dapat diteruskan meskipun orang tua telah meninggal. Diantaranya :
menyelenggarakan jenazah dengan sebaik- baiknya, melunasi utang- utangnya, melaksanakan
wasiatnya, meneruskan silaturrahim yang dibinanya dimasa hidup mereka, memuliakan
sahabat- sahabatnya dan mendoakannya.
B.

Akhlak Kepada Guru Menurut Agama

Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk
menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Alloh azza wa jalla. Sebagaimana wajib
hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama
perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat agama.

Di antara akhlaq kepada guru adalah memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki
guru, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak
menyayangi orang yang lebih muda. ( HSR. Ahmad dan At-Tirmidzi )

Di antara akhlaq kepada guru adalah mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan
penuh semangat, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, Alloh mudahkan
baginya dengannya jalan menuju syurga. ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi
dan Ibnu Majah )

Di antara akhlaq kepada guru adalah datang ke tempat belajar dengan penampilan yang
rapi, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

Sesungguhnya Alloh itu indah dan suka kepada keindahan.( HR. Ahmad, Muslim dan AlHakim )

Di antara akhlaq kepada guru yaitu diam memperhatikan ketika guru sedang
menjelaskan, sebagaimana hadits Abu Said Al-Khudri ra :

Orang-orang pun diam seakan-akan ada burung di atas kepala mereka. ( HR. Al-Bukhori )

Imam Sufyan Ats-Tsauri rohimahulloh berkata : Bila kamu melihat ada anak muda
yang bercakap-cakap padahal sang guru sedang menyampaikan ilmu, maka berputus-asalah
dari kebaikannya, karena dia sedikit rasa malunya.( AR. Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ilasSunan )

Di antara akhlaq kepada guru adalah bertanya kepada guru bila ada sesuatu yang belum
dia mengerti dengan cara baik. Alloh berfirman :

Bertanyalah kepada ahli dzikr ( yakni para ulama ) bila kamu tidak tahu.( Qs. An-Nahl : 43
dan Al-Anbiya : 7 )

Rosululloh saw bersabda :

Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu ? Bukankah obat dari ketidaktahuan
adalah bertanya ? ( HSR. Abu Dawud )

Dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada faedahnya, sekedar mengolokolok atau yang dilatarbelakangi oleh niat yang buruk, oleh karena itu Alloh berfirman :

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan sesuatu yang bila dijawab
niscaya akan menyusahkan kalian. ( Qs. Al-Maidah : 101 )

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :

Sesungguhnya orang muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya tentang
sesuatu yang tidak diharamkan, lantas menjadi diharamkan lantaran pertanyaannya itu. (
HR. Ahmad, Al-Bukhori dan Muslim )

Ketika bertanya mestinya dilakukan dengan cara dan bahasa yang bagus.

Berkata Imam Maimun bin Mihron : Pertanyaan yang bagus menunjukkan separuh dari
kefahaman. ( AR. Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Al-Jami )

Di antara akhlaq kepada guru adalah menegur guru bila melakukan kesalahan dengan
cara yang penuh hormat, sebagaimana sabda Rosululloh :

Agama adalah nasihat. Kami ( Shahabat ) bertanya : Untuk siapa ? Beliau menjawab :
Untuk mentaati Alloh, melaksanakan Kitab-Nya, mengikuti Rosul-Nya untuk para
pemimpin kaum muslimin dan untuk orang-orang umum. ( HR. Ahmad, Muslim, Abu
Dawud, At-Tirmidzi dll )

C.

Akhlak terhadap orang tua menurut etika :

Orang tua adalah oran yang telah merawat kita, menjaga, memelihara, dan mendidik
kita sejak kecil hingga kita menjadi dewasa. Mereka melakukannya secara sunguh-sungguh
dan penuh kasih sayang demi mengharapkan kehidupan kita yang lebih baik. Bahkan orang
tua dengan susah payah bekerja mencari nafkah untuk membahagiakan kita.
Sedemikian besar peran orang tua dalam hidup kita, sehingga sudah sepantasnya kita
sebagai orang yang berpengetahuan haruslah menjaga etika kita terhadap orang tua. Diantara
bentuk-bentuk perbuatan kita yang sesuai dengan etika adalah :
1.
Selalu taat kepada keduanya dan menjalankan segala perintahnya, asalkan perintah itu
tidak bertentangan dengan ajaran agama dan tidak melanggar hukum yang berlaku di suatu
tempat. Meskipun orang tua kita berbuat aniaya kepada kita, tetaplah kita tidak boleh
menyinggung perasaan mereka ataupun membalas perbuatan yang mereka terhadap kita. Baik
bagaimanapun mereka tetaplah orang tua kita yang telah merawat kita semenjak kita kecil.
Menurut ukuran umum, orang tua tidak akan berbuat aniaya kepada anaknya sendiri. Jikalau
terjadi aniaya, biasanya disebabkan oleh perbuatan si anak yang berbuat keterlaluan kepada
orang tua.
2.
Jika hendak pergi hendaklah meminta izin kepada keduanya. Apabila tidak diizinkan
kita harus menerimanya dengan lapang dada.
3.
Berbicaralah dengan lemah lembut, bermuka manis, dan berseri-seri. Janganlah
meninggikan suara ketika berbicara kepada orang tua dan jangan pula menggunakan katakata yang kasar kepada keduanya.
4.

Perhatikan nasihat-nasihat orang tua dan janganlah memotong pembicaraannya.

5.
Membantu pekerjaan orang tua dengan sekuat tenaga, terutama jika orang tua sudah
berusaha lanjut.
6.

Selalu bersikap baik dan sopan santun baik dalam perbuatan maupun perkataan.

7.
Selalu menyambung silaturahim kepada keduanya meskipun kita dalam perantauan
ataupun kita sudah memiliki keluarga sendiri, selalu menepati janji kita, dan menghormati
sahabat-sahabat orang tua dengan baik.
8.

Selalu mendoakan orang tua agar diampuni dosa-dosanya oleh Allah swt.

Sementara itu menurut imam al-Ghazali, etika anak terhadap orang tuanya adalah sebagai
berikut:
1.

Mendengarkan pembicaraannya.

2.

Melaksanakan perintahnya.

3.

Tidak berjalan di depannya.

4.

Tidak mengeraskan suara ketika berbicara kepadanya.

5.

Menjawab panggilannya.

6.

Berkemauan keras menyenangkan hatinya.

7.

Menundukkan badannya.

8.

Tidak mengungkit kebaikan kita terhadap mereka.

9.

Tidak memandang dengan mata melotot dan tidak menatap matanya.

Itulah sebagian kecil bentuk akhlak anak terhadap orang tua menurut etika

D.

Akhlak Kepada Guru Menurut Etika

Murid adalah orang yang sedang belajar dan menuntut ilmu kepada seorang guru. Demi
untuk keberkahan dan kemudahan dalam meraih dan mengamalkan ilmu atau pengetahuan
yang telah diperoleh dari seorang guru, maka seorang murid haruslah memiliki akhlak atau
etika yang benar terhadap gurunya.
Beberapa contoh etika murid terhadap guru (Muallim), diantaranya adalah sebagai berikut :
1.

Seorang murid hendaklah hormat kepada guru, mengikuti pendapat dan petunjuknya.

2.
Seorang murid hendaklah memberi salam terlebih dahulu kepada guru apabila
menghadap atau berjumpa dengan beliau.
3.
Seorang murid hendaklah memandang gurunya dengan keagungan dan meyakini bahwa
gurunya itu memiliki derajat kesempurnaan, sebab hal itu lebih memudahkan untuk
mengambil manfaat dari beliau.
4.
Seorang murid hendaklah mengetahui dan memahami hak-hak yang harus diberikan
gurunya dan tidak melupakan jasanya.

5.
Seorang murid hendaklah bersikap sabar jika menghadapi seorang guru yang memiliki
perangai kasar dan keras.
6.
Seorang murid hendaklah duduk dengan sopan di hadapan gurunya, tenang,
merendahkan diri, hormat sambil mendengarkan, memperhatikan, dan menerima apa yang
disampaikan oleh gurunya.
Jangan duduk sambil menengok kanan kiri kecuali untuk suatu kepentingan.
7.
Seorang murid hendaklah ketika mengadap gurunya dalam keadaan sempurna dengan
badan dan pakaian yang bersih.
8.
Seorang murid hendaklah jangan banyak bicara di depan guru ataupun membicarakan
hal-hal yang tidak berguna.
9.
Seorang murid hendaklah jangan bertanya dengan tujuan untuk mengujinya dan
menampakkan kepandaian kepada guru.
10. Seorang murid hendaklah jangan bersenda gurau di hadapan guru
11. Seorang murid hendaklah jangan menanyakan masalah kepada orang lain ditengah majlis
guru.
12. Seorang murid hendaknya tidak banyak bertanya, apalagi jika pertanyaan itu tidak
berguna
13. Jika guru berdiri, Seorang murid hendaklah ikut berdiri sebagai penghormatan kepada
beliau.
14. Seorang murid hendaklah tidak bertanya suatu persoalan kepada guru ketika sedang di
tengah jalan.
15. Seorang murid hendaklah tidak menghentikan langkah guru di tengah jalan untuk hal-hal
yang tidak berguna.
16. Seorang murid hendaklah tidak berburuk sangka terhadap apa yang dilakukan oleh guru
( guru lebih mengetahui tentang apa yang dikerjakannya).
17. Seorang murid hendaklah tidak mendahului jalannya ketika sedang berjalan bersama.
18. Ketika guru sedang memberi penjelasan/ berbicara hendaklah murid tidak memotong
pembicaraannya. Kalaupun ingin menyanggah pendapat beliau maka sebaiknya menunggu
hingga beliau selesai berbicara dan hendaknya setiap memberikan sanggahan atau tanggapan
disampaikan dengan sopan dan dalam bahasa yang baik.
19. Apabila ingin menghadap atau bertemu untuk sesuatu hal maka sebaiknya murid
memberi konfirmasi terlebih dahulu kepada guru dengan menelphon atau mengirim pesan,
untuk memastikan kesanggupannya dan agar guru tidak merasa terganggu.
20. Murid haruslah berkata jujur apabila guru menanyakan suatu hal kepadanya.

21. Seorang murid hendaklah menyempatkan diri untuk bersilaturahim ke rumah guru di
waktu-waktu tertentu, sebagai bentuk rasa saying kita terhadap beliau.
22. Meskipun sudah tidak dibimbing lagi oleh beliau ( karena sudah lulus) murid hendaklah
tetap selalu mengingat jasanya dan tetap terus mendoakan kebaikan kebaikan atas mereka.
Bagaimanapun juga guru merupakan orang tua kedua kita setelah orang tua kita yang di
rumah. Mereka adalah orang tua kita saat kita berada di luar rumah. Jadi sebagaiman kita
menghormati orang tua kandung kita, maka kitapun juga harus menghormati guru kita.
Sebagaimana disyiratkan dalam sabda Rasulullah SAW :
Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua dari kami, tidak
mengasihi orang yang lebih kecil dari kami dan tidak mengetahui hak orang alim dari kami.
(HR.Ahmad, Thabrani, dan Hakim dari Ubadah bin Shamit Ra.)
Pelajarilah oleh kalian ilmu, pelajarilah oleh kalian ilmu(yang dapat menumbuhkan)
ketenangan, kehormatan, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang yang kalian menuntut ilmu
darinya. (HR. Thabrani dari Abu Hurairah. Ra)

A.

Kedudukan Guru

Bapak Guru lebih mulia dari bapak kandung . Sebab, Ibu Bapak itu mendewasakan dari
segi jasmani yang bersifat material, sedangkan Bapak/Ibu Guru mendewasakan dari segi
rohani yang bersifat spiritual dan universal.
Para Guru, Ustadz, Ustadzah, atau Mualim, Mursyid, selain mengantarkan kita menjadi
orang yang beramal sholih, mereka termasuk pewaris Nabi-Nabi, justru merekalah penyalur
pusaka dalam menjalankansyariat, akhlak, aqidah, dan mereka pula contoh yang terdekat
dengan kita. Berkaitan dengan hal tersebut, Nabi bersabda :

Ulama adalah penerima pusaka Nabi-Nabi. (HR. al-Tirmizi dan Abu Daud).

Sehubungan dengan hadist tersebut, maka kita diperintahkan untuk menghormati para Ulama,
meski bukan Guru kita. Begitupula dengan para DaI dan Muballigh selaku penyalur risalah
kenabian, yang kini disebut Dawah atau Kulyah Agama. Adapun Ulama yang sebenarnya
adalah yang berilmu, dan beramal dengan ilmunya itu, serta ilmudan amalanya tersebut
sesuai dengan Al-Quran dan Hadist.

B.

Kedudukan Murid

Sabda Nabi Muhammad SAW :

Perhatikanlah perkataan orang yang wajib ditaati antara Ulil Amri kamu dan taatilah perintah
mereka meski yang menjadi Ulil Amri itu seorang budak sahaya asal Habsyi. (HR. Bukhori)

Ulil Amri itu adalah kepala pimpinan urusan, termasuk Guru, suami, Pemerintah.

Guru termasuk ulil amri karena mereka adalah pengganti ibu bapak yang mengasuh kita
dalam pengajaran dan pendidikan yang sangat menentukan garis-garis kehidupan kita yang
akan datang. Nabi SAW. bersabda, yang artinya:
barangsiapa menghormati guru berarti ia menghormati Tuhannya. (HR. Abu al-Hasan alMawardi)
Sebab, Tuhan menyampaikan ilmu kepada manusia lewat Nabi dan Rasul yang kemudian
digantikan oleh ulama; dan guru. Dalam kitab Talim al-Mutaalim disebutkan sebagai
berikut: para pelajar tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat, bila tidak menghormati
ilmu dan memuliakan gurunya.

C.

Hak Murid dan Guru

Dalam agama kita bukan hanya murid saja yang diperintahkan untuk menghormati Gurunya,
tetapi guru juga diharuskan menghargai sang murid, baik itu pendapatnya maupun
pribadinya, karena Nabi SAW bersabda yang artinya :
Hargailah orang-orang yang kamu ajar. (HR. Abul Hasan al-Mawardi)
Maksud hadist ini adalah agar sang murid memperoleh perlakuan yang baik, wajar dari guru/
ustadz secara adil dan mengandung pendidikan tanpa pandang bulu, atau memendang siapa
orang tuanya, anak siapa dia, golongan apa orang tuanya, ada hubungan apa dengannya suku
atau bangsa mana dia.
Guru adalah teladan bagi murid-muridnya, sehingga apabila sekalipun bersifat acuh tak acuh,
bersikap angkuh, dan sinis atau cengis, sungguh itu akan melahirkan sifat dendam dan
kebencian yang terpendam dijiwa murid-muridnya.
Syarat pertama kesuksesan guru mendidik anak muridnya ialah menanamkan kepercayaan
dan rasa cinta serta simpatiknya, maka sekali-kalijangan mengharap remeh terhadap murid.

D.

Murka Terhadap Guru

Dalam sebuah hadist riwayat al-Baihaqi Nabi SAW bersabda :

Siapa yang merendahkan gurunya, akan ditimpakan Allah kepada-Nya tiga bala : 1. Sempit
rezekinya; 2. Hilang manfaat ilmunya; 3. Keluar dari dunia ini tanpa iman (wafat).
Dari hadist ini, kita dilarang meringan ringankan guru, apalagi menghina, mencela atau
menyakiti, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Walaupun guru sekarang
berputar jadi murid kita, sebab walau bagaimanapun Alimnya atau pandainya kita sekarang,
yang namun Guru adalah juga sebagai ayah dari sebagaian Ilmu kita. Sebab, gurulah pada
waktu silam yang membekali dan menuntun kita saat kita masih buta dengan ilmu
pengetahuan, mereka orang pertama yang mengajari kita dalam mengatur cara berfikir,
berpakaian dan lain-lain. Oleh karena itu, celakahlah orang yang tidak menginsyafi budi baik
gurunya dan lupa pada jasa-jasa mereka dari kecil hingga kita dewasa. Bahkan dari dunia
hingga keakirat kelak.

E.

Akhlak Kepada Orang Tua Menurut Budaya

Akhlak kepada orang tua menurut budaya berarti sikap dan perilaku seorang anak kepada
orang tuanya menurut suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama dan
diwariskan dari generasi ke generasi. Akhlak seorang anak kepada orang tuanya tidak lepas
dari peran orang tua itu sendiri dalam memberikan bimbingan serta memperkenalkan budaya
sejak sang anak masih kecil.
Dalam hal ini, kami mengambil contoh dari budaya Jawa karena begitu erat kaitannya dengan
agama Islam. Islam adalah agama yang damai, penuh toleransi. Lakum dinukum waliyadin,
bagiku agamaku, bagimu agamamu. Begitu menurut Islam. Jawa adalah juga suku yang suka
damai, luwes, dan kenyal terbuka terhadap pengaruh luar. Sewu sobat isih kurang, musuh siji
wis kakehan. Seribu sahabat masih kurang, seorang musuh sudah terlalu banyak.
Islam mengajarkan Addinu husnul khuluk. Artinya, agama itu sesungguhnya adalah akhlak
mulia. Seperti petuah Jawa Sing sujud karo Pangeran, sing bekti karo wong tuwa, sing rukun
karo sedulur, sing asih karo sapepada.
Kita semua mesti tunduk dan pasrah kepada Allah SWT, berbakti pada orang tua, rukun
dengan saudara, dan cinta kasih pada sesama makhluk. Itu semua kan cerminan akhlak mulia.
Serupa dengan yang diamanahkan agama Islam: Khairukum, khairukum ti alihi. Artinya,
sebaik-baik manusia adalah orang yang baik terhadap keluarganya, istri, dan anak-cucunya.
Seorang anak akan terbiasa menghormat orang tua atau orang yang lebih tua, misalnya : jalan
sedikit membungkuk jika berjalan didepan orang tua dan dengan sopan mengucap : nuwun
sewu ( permisi), nderek langkung ( perkenankan lewat sini).
Selain berperilaku halus dan sopan, juga berbahasa yang baik untuk menghormati sesama,
apakah itu bahasa halus ( kromo) atau ngoko ( bahasa biasa). Bahasa Jawa yang bertingkat
bukanlah hal yang rumit, karena unggah ungguh basa ( penggunaan bahasa menurut
tingkatnya) adalah sopan santun untuk menghormat orang lain).

Pada dasarnya ada dua tingkatan dalam bahasa Jawa,yaitu : Kromo, bahasa halus dan ngoko,
bahasa biasa. Bahasa kromo dipakai untuk menghormat orang tua atau orang yang perlu
dihormat, sedangkan ngoko biasanya dipakai antar teman.
Semua kata yang dipakai dalam dua tingkat bahasa tersebut berbeda, contoh :
Bahasa Indonesia : Saya mau pergi.
Kromo

: Kulo bade kesah.

Ngoko

: Aku arep lunga.

Dalam percakapan sehari-hari, orang tua kepada anak memakai ngoko, sedang anaknya
menggunakan kromo. Dalam pergaulan dipakai pula bahasa campuran yang memakai katakata dari kromo dan ngoko dan ini lebih mudah dipelajari dalam praktek dan sulit dipelajari
secara teori.
Sebagai catatan penutup perlu ditegaskan bahwa Islam tidak sama sekali menolak budaya
yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dalam penetapan hukum Islam dikenal salah
satu cara melakukan ijtihad yang disebut urf, yakni penetapan hukum dengan mendasarkan
pada budaya yang berkembang dalam masyarakat. Dengan cara ini berarti budaya dapat
dijadikan dasar penetapan hukum Islam dengan syarAkhlak Terhadap Orang Tua dan Guru
Menurut Agama, Etika dan Budaya

A.

Akhlak kepada orang tua menurut agama

Seorang anak dilarang membentak, memarahi atau bersuara keras terhadap kedua
orang tua.
Lebih bertambah umur kedua orang tua, hendaknya lebih diperhatikan oleh anak
anaknya.
Kedua hal diatas sesuai dengan Firman Allah dalam Qs. Al Isra : 23
Dan tuhanmu telah mewajibkan supaya kamu jangan menyembah selain dari pada Nya
dan berbuat baiklah kamu kepada kedua ibu bapak .Apabila mereka atau salah seorang dari
mereka telah tua, janganlah kamu berkata kepada keduanya dengan perkataan ah dan
jangalah engkau gertak mereka tetapi ucapkanlah kepada mereka dengan kata kata yang
sopan lagi lembut
Diperintahkan kepada setiap anak agar selalu merendahkan diri kepada kedua orang
tua dengan penuh kasih sayang, sesuai dengan firman Allah dalam Qs. Al Isra : 24
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya (ibu bapak) dengan penuh kasih sayang
-Diperintahkan kepada seorang anak agar selalu mendoakan kedua orang tua dengan doa

Ya Allah ampunilah aku dan ibu bapakku serta kasihanilah mereka berdua
sebagaimana mereka berdua telah mengasuh aku diwaktu kecil
-Jangan durhaka kepada orang tua karena hal itu akan mendatangkan murka Allah dan tidak
akan masuk surga, sebagaimana disebutkan dalam Hadits
Keridlaan Allah dalam keridlaan ibu bapak dan murka Allah dalam kemurkaan ibu
bapak.(HR.At-Thabrani)
Dan juga terdapat dalam hadist
Segala dosa akan dapat ditangguhkan Allah balasannya sampai hari kiamat, kecuali dosa
durhaka kepada ibu bapak. Maka Allah akan menyegerakan akibatnya kepada pelakunya
didunia sebelum ajalnya tiba.(HR.At- Thabrani dan Hakim)
Dan dalam hadist

Tiga golongan manusia yang tidak akan masuk surge : orang yang mendurhakai ibu
bapaknya, pelacur yang tidak punya malu, wanita yang menyerupai kaum pria.(HR.AnNasaI dan Hakim)
-Disunahkan agar tetap berbuat baik kepada kedus orang tua walaupun keduanya atau salah
satunya telah meninggal yaitu dengan :
1) Mendoakan rahmat bagi keduanya
2) Memohon ampun atas dosa dosa keduanya
3)Melaksanakan janjinya yang belum dilaksanakan
4)Menyambung shillaturrahmi kepada sahabat sahabat orang tua.
(hal diatas sesuai dengan HR.Abu Daud )
-Allah memerintahkan agar berbakti kepada kedua orang tua , barang siapa tidak berbuat baik
kepada kedua orang tua maka ia telah berbuat durhaka dan perbuatan durhaka adalah sifat
syaithan.
Sebagaimana tedapat dalam Qs. Maryam :14 dan 44

Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan bukanlah ia orang yang
sombonglagi durhaka(Qs.Maryam :14)

Wahai bapakku , janganlah kamu menyembah syaithan, sesungguhnya syaithan itu durhaka
kepada tuhan yang maha pemurah.(Qs.Maryam : 44)
-Demikian pentingnya akhlak kepada ibu sehingga sehingga Rasullulah SAW bersabda
:Bahwa surga itu berada dibawah telapak kaki ibu.(HR.An-NasaI dan Ibnu Majah)
-Dalam penghormatan kepada ibu bapak akan membawa dampak positif bagi perkembangan
jiwa anak anak kita kelak

Berbuat baiklah kepada bapakmu, niscaya kamu akan diperlakukan demikian oleh anak
anakmu.(HR.At-Thabrani dan Hakim).
Perintah ihsan diletakkan oleh Allah dalam al quran langsung sesudah perintah beribadah
hanya kepada Nya dan berbuat baik kepada ibu bapak .
Sebagaimana firman Allah:

Dan ingatlah Ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil yaitu:Janganlah kamu
menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada ibu bapak.(QS. Al Baqarah: 83)
Allah SWT juga berfirman:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik ) kepada kedua ibu bapaknya , ibunya
telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah dan menyampihnya dalam dua
tahun.Bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapak,hanya kepadaKulah kembalimu (QS.
Luqman:14)
Rosulullah SAW meletakkan birrul walidain sesudah salat tepat waktu dan menempati urutan
kedua dari amalan yang terbaik. Rasulullah bersabda:
Diriwayatkan dari Abu Abdirrahman Abdullah ibn Masud Ra. Dia berkata Aku bertanya
kepada rosulullah :Apa yang disukai oleh Allah SWT? Beliau menjaw ab:Salat tepat pada
waktunya.Aku bertanya lagi:Kemudian apa?Beliau menjawab:Birrul walidain
.Kemudian aku bertanya lagi: Seterusnya apa?Beliau menjawab:Jihad Fi sabilillah. (HR.
Mutafaqun alaih)
Dari QS. Al baqarah : 83 dan Hadits diatas , Allah dan rasulNya menempatkan orang tua
pada posisi yang sangat istimewa, sehingga berbuat baik kepada orang tua menempati posisi
yang mulia, dan durhaka kepada orang tua menempati posisi yang sangat hina.
Bentuk-bentuk birrul walidain
Cara anak agar dapat mewujudkan birrul walidain antara lain:

1.
Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan
baik masalah pendidikan , pekerjaan , jodoh maupun masalah lain asal tidak bertentangan
dengan agama . Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Luqman :15

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak
ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah
keduanya didunia dengan baik.

2.
Menghormati dan memuliakan kedua orang tua dengan penuh kasih sayang dan terima
kasih karena tidak mungkin seorang anak dapat membalas jasa-jasa kedua orang tuanya. Cara
kita menghormati orang tua adalah memanggil dengan panggilan yang menunjukkan hormat,
berbicara dengan lemah lembut dan tidak mengucapkan kata-kata yang kasar (terlebih apabila
mereka sudah berusia lanjut) , dan pamit ketika meninggalkan rumah
3.
Membantu ibu bapak secara fisik dan materiil. Cara membantu orang tua secara
fisik misalnya mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan secara materiil adalah apabila kita
sudah mempunyai penghasilan kita member ikan sebagian penghasilan kepada kedua orang
tua.
4.

Mendoakan kedua orang tua agar diampuni dosa-dosanya, diberikan rizki dan lain-lain

5.
Birrul walidain dapat diteruskan meskipun orang tua telah meninggal. Diantaranya :
menyelenggarakan jenazah dengan sebaik- baiknya, melunasi utang- utangnya, melaksanakan
wasiatnya, meneruskan silaturrahim yang dibinanya dimasa hidup mereka, memuliakan
sahabat- sahabatnya dan mendoakannya.
B.

Akhlak Kepada Guru Menurut Agama

Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk
menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Alloh azza wa jalla. Sebagaimana wajib
hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama
perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat agama.

Di antara akhlaq kepada guru adalah memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki
guru, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak
menyayangi orang yang lebih muda. ( HSR. Ahmad dan At-Tirmidzi )


Di antara akhlaq kepada guru adalah mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan
penuh semangat, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, Alloh mudahkan
baginya dengannya jalan menuju syurga. ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi
dan Ibnu Majah )

Di antara akhlaq kepada guru adalah datang ke tempat belajar dengan penampilan yang
rapi, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

Sesungguhnya Alloh itu indah dan suka kepada keindahan.( HR. Ahmad, Muslim dan AlHakim )

Di antara akhlaq kepada guru yaitu diam memperhatikan ketika guru sedang
menjelaskan, sebagaimana hadits Abu Said Al-Khudri ra :

Orang-orang pun diam seakan-akan ada burung di atas kepala mereka. ( HR. Al-Bukhori )

Imam Sufyan Ats-Tsauri rohimahulloh berkata : Bila kamu melihat ada anak muda
yang bercakap-cakap padahal sang guru sedang menyampaikan ilmu, maka berputus-asalah
dari kebaikannya, karena dia sedikit rasa malunya.( AR. Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ilasSunan )

Di antara akhlaq kepada guru adalah bertanya kepada guru bila ada sesuatu yang belum
dia mengerti dengan cara baik. Alloh berfirman :

Bertanyalah kepada ahli dzikr ( yakni para ulama ) bila kamu tidak tahu.( Qs. An-Nahl : 43
dan Al-Anbiya : 7 )

Rosululloh saw bersabda :

Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu ? Bukankah obat dari ketidaktahuan
adalah bertanya ? ( HSR. Abu Dawud )

Dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada faedahnya, sekedar mengolokolok atau yang dilatarbelakangi oleh niat yang buruk, oleh karena itu Alloh berfirman :

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan sesuatu yang bila dijawab
niscaya akan menyusahkan kalian. ( Qs. Al-Maidah : 101 )

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :



Sesungguhnya orang muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya tentang
sesuatu yang tidak diharamkan, lantas menjadi diharamkan lantaran pertanyaannya itu. (
HR. Ahmad, Al-Bukhori dan Muslim )

Ketika bertanya mestinya dilakukan dengan cara dan bahasa yang bagus.

Berkata Imam Maimun bin Mihron : Pertanyaan yang bagus menunjukkan separuh dari
kefahaman. ( AR. Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Al-Jami )

Di antara akhlaq kepada guru adalah menegur guru bila melakukan kesalahan dengan
cara yang penuh hormat, sebagaimana sabda Rosululloh :

: ,

Agama adalah nasihat. Kami ( Shahabat ) bertanya : Untuk siapa ? Beliau menjawab :
Untuk mentaati Alloh, melaksanakan Kitab-Nya, mengikuti Rosul-Nya untuk para
pemimpin kaum muslimin dan untuk orang-orang umum. ( HR. Ahmad, Muslim, Abu
Dawud, At-Tirmidzi dll )

C.

Akhlak terhadap orang tua menurut etika :

Orang tua adalah oran yang telah merawat kita, menjaga, memelihara, dan mendidik
kita sejak kecil hingga kita menjadi dewasa. Mereka melakukannya secara sunguh-sungguh
dan penuh kasih sayang demi mengharapkan kehidupan kita yang lebih baik. Bahkan orang
tua dengan susah payah bekerja mencari nafkah untuk membahagiakan kita.
Sedemikian besar peran orang tua dalam hidup kita, sehingga sudah sepantasnya kita
sebagai orang yang berpengetahuan haruslah menjaga etika kita terhadap orang tua. Diantara
bentuk-bentuk perbuatan kita yang sesuai dengan etika adalah :
1.
Selalu taat kepada keduanya dan menjalankan segala perintahnya, asalkan perintah itu
tidak bertentangan dengan ajaran agama dan tidak melanggar hukum yang berlaku di suatu
tempat. Meskipun orang tua kita berbuat aniaya kepada kita, tetaplah kita tidak boleh

menyinggung perasaan mereka ataupun membalas perbuatan yang mereka terhadap kita. Baik
bagaimanapun mereka tetaplah orang tua kita yang telah merawat kita semenjak kita kecil.
Menurut ukuran umum, orang tua tidak akan berbuat aniaya kepada anaknya sendiri. Jikalau
terjadi aniaya, biasanya disebabkan oleh perbuatan si anak yang berbuat keterlaluan kepada
orang tua.
2.
Jika hendak pergi hendaklah meminta izin kepada keduanya. Apabila tidak diizinkan
kita harus menerimanya dengan lapang dada.
3.
Berbicaralah dengan lemah lembut, bermuka manis, dan berseri-seri. Janganlah
meninggikan suara ketika berbicara kepada orang tua dan jangan pula menggunakan katakata yang kasar kepada keduanya.
4.

Perhatikan nasihat-nasihat orang tua dan janganlah memotong pembicaraannya.

5.
Membantu pekerjaan orang tua dengan sekuat tenaga, terutama jika orang tua sudah
berusaha lanjut.
6.

Selalu bersikap baik dan sopan santun baik dalam perbuatan maupun perkataan.

7.
Selalu menyambung silaturahim kepada keduanya meskipun kita dalam perantauan
ataupun kita sudah memiliki keluarga sendiri, selalu menepati janji kita, dan menghormati
sahabat-sahabat orang tua dengan baik.
8.

Selalu mendoakan orang tua agar diampuni dosa-dosanya oleh Allah swt.

Sementara itu menurut imam al-Ghazali, etika anak terhadap orang tuanya adalah sebagai
berikut:
1.

Mendengarkan pembicaraannya.

2.

Melaksanakan perintahnya.

3.

Tidak berjalan di depannya.

4.

Tidak mengeraskan suara ketika berbicara kepadanya.

5.

Menjawab panggilannya.

6.

Berkemauan keras menyenangkan hatinya.

7.

Menundukkan badannya.

8.

Tidak mengungkit kebaikan kita terhadap mereka.

9.

Tidak memandang dengan mata melotot dan tidak menatap matanya.

Itulah sebagian kecil bentuk akhlak anak terhadap orang tua menurut etika

D.

Akhlak Kepada Guru Menurut Etika

Murid adalah orang yang sedang belajar dan menuntut ilmu kepada seorang guru. Demi
untuk keberkahan dan kemudahan dalam meraih dan mengamalkan ilmu atau pengetahuan
yang telah diperoleh dari seorang guru, maka seorang murid haruslah memiliki akhlak atau
etika yang benar terhadap gurunya.
Beberapa contoh etika murid terhadap guru (Muallim), diantaranya adalah sebagai berikut :
1.

Seorang murid hendaklah hormat kepada guru, mengikuti pendapat dan petunjuknya.

2.
Seorang murid hendaklah memberi salam terlebih dahulu kepada guru apabila
menghadap atau berjumpa dengan beliau.
3.
Seorang murid hendaklah memandang gurunya dengan keagungan dan meyakini bahwa
gurunya itu memiliki derajat kesempurnaan, sebab hal itu lebih memudahkan untuk
mengambil manfaat dari beliau.
4.
Seorang murid hendaklah mengetahui dan memahami hak-hak yang harus diberikan
gurunya dan tidak melupakan jasanya.
5.
Seorang murid hendaklah bersikap sabar jika menghadapi seorang guru yang memiliki
perangai kasar dan keras.
6.
Seorang murid hendaklah duduk dengan sopan di hadapan gurunya, tenang,
merendahkan diri, hormat sambil mendengarkan, memperhatikan, dan menerima apa yang
disampaikan oleh gurunya.
Jangan duduk sambil menengok kanan kiri kecuali untuk suatu kepentingan.
7.
Seorang murid hendaklah ketika mengadap gurunya dalam keadaan sempurna dengan
badan dan pakaian yang bersih.
8.
Seorang murid hendaklah jangan banyak bicara di depan guru ataupun membicarakan
hal-hal yang tidak berguna.
9.
Seorang murid hendaklah jangan bertanya dengan tujuan untuk mengujinya dan
menampakkan kepandaian kepada guru.
10. Seorang murid hendaklah jangan bersenda gurau di hadapan guru
11. Seorang murid hendaklah jangan menanyakan masalah kepada orang lain ditengah majlis
guru.
12. Seorang murid hendaknya tidak banyak bertanya, apalagi jika pertanyaan itu tidak
berguna
13. Jika guru berdiri, Seorang murid hendaklah ikut berdiri sebagai penghormatan kepada
beliau.

14. Seorang murid hendaklah tidak bertanya suatu persoalan kepada guru ketika sedang di
tengah jalan.
15. Seorang murid hendaklah tidak menghentikan langkah guru di tengah jalan untuk hal-hal
yang tidak berguna.
16. Seorang murid hendaklah tidak berburuk sangka terhadap apa yang dilakukan oleh
guru ( guru lebih mengetahui tentang apa yang dikerjakannya).
17. Seorang murid hendaklah tidak mendahului jalannya ketika sedang berjalan bersama.
18. Ketika guru sedang memberi penjelasan/ berbicara hendaklah murid tidak memotong
pembicaraannya. Kalaupun ingin menyanggah pendapat beliau maka sebaiknya menunggu
hingga beliau selesai berbicara dan hendaknya setiap memberikan sanggahan atau tanggapan
disampaikan dengan sopan dan dalam bahasa yang baik.
19. Apabila ingin menghadap atau bertemu untuk sesuatu hal maka sebaiknya murid
memberi konfirmasi terlebih dahulu kepada guru dengan menelphon atau mengirim pesan,
untuk memastikan kesanggupannya dan agar guru tidak merasa terganggu.
20. Murid haruslah berkata jujur apabila guru menanyakan suatu hal kepadanya.
21. Seorang murid hendaklah menyempatkan diri untuk bersilaturahim ke rumah guru di
waktu-waktu tertentu, sebagai bentuk rasa saying kita terhadap beliau.
22. Meskipun sudah tidak dibimbing lagi oleh beliau ( karena sudah lulus) murid hendaklah
tetap selalu mengingat jasanya dan tetap terus mendoakan kebaikan kebaikan atas mereka.
Bagaimanapun juga guru merupakan orang tua kedua kita setelah orang tua kita yang di
rumah. Mereka adalah orang tua kita saat kita berada di luar rumah. Jadi sebagaiman kita
menghormati orang tua kandung kita, maka kitapun juga harus menghormati guru kita.
Sebagaimana disyiratkan dalam sabda Rasulullah SAW :
Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua dari kami, tidak
mengasihi orang yang lebih kecil dari kami dan tidak mengetahui hak orang alim dari kami.
(HR.Ahmad, Thabrani, dan Hakim dari Ubadah bin Shamit Ra.)
Pelajarilah oleh kalian ilmu, pelajarilah oleh kalian ilmu(yang dapat menumbuhkan)
ketenangan, kehormatan, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang yang kalian menuntut ilmu
darinya. (HR. Thabrani dari Abu Hurairah. Ra)

A.

Kedudukan Guru

Bapak Guru lebih mulia dari bapak kandung . Sebab, Ibu Bapak itu mendewasakan dari
segi jasmani yang bersifat material, sedangkan Bapak/Ibu Guru mendewasakan dari segi
rohani yang bersifat spiritual dan universal.

Para Guru, Ustadz, Ustadzah, atau Mualim, Mursyid, selain mengantarkan kita menjadi
orang yang beramal sholih, mereka termasuk pewaris Nabi-Nabi, justru merekalah penyalur
pusaka dalam menjalankansyariat, akhlak, aqidah, dan mereka pula contoh yang terdekat
dengan kita. Berkaitan dengan hal tersebut, Nabi bersabda :

Ulama adalah penerima pusaka Nabi-Nabi. (HR. al-Tirmizi dan Abu Daud).

Sehubungan dengan hadist tersebut, maka kita diperintahkan untuk menghormati para Ulama,
meski bukan Guru kita. Begitupula dengan para DaI dan Muballigh selaku penyalur risalah
kenabian, yang kini disebut Dawah atau Kulyah Agama. Adapun Ulama yang sebenarnya
adalah yang berilmu, dan beramal dengan ilmunya itu, serta ilmudan amalanya tersebut
sesuai dengan Al-Quran dan Hadist.

B.

Kedudukan Murid

Sabda Nabi Muhammad SAW :


Perhatikanlah perkataan orang yang wajib ditaati antara Ulil Amri kamu dan taatilah perintah
mereka meski yang menjadi Ulil Amri itu seorang budak sahaya asal Habsyi. (HR. Bukhori)

Ulil Amri itu adalah kepala pimpinan urusan, termasuk Guru, suami, Pemerintah.

Guru termasuk ulil amri karena mereka adalah pengganti ibu bapak yang mengasuh kita
dalam pengajaran dan pendidikan yang sangat menentukan garis-garis kehidupan kita yang
akan datang. Nabi SAW. bersabda, yang artinya:
barangsiapa menghormati guru berarti ia menghormati Tuhannya. (HR. Abu al-Hasan alMawardi)
Sebab, Tuhan menyampaikan ilmu kepada manusia lewat Nabi dan Rasul yang kemudian
digantikan oleh ulama; dan guru. Dalam kitab Talim al-Mutaalim disebutkan sebagai
berikut: para pelajar tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat, bila tidak menghormati
ilmu dan memuliakan gurunya.

C.

Hak Murid dan Guru

Dalam agama kita bukan hanya murid saja yang diperintahkan untuk menghormati Gurunya,
tetapi guru juga diharuskan menghargai sang murid, baik itu pendapatnya maupun
pribadinya, karena Nabi SAW bersabda yang artinya :
Hargailah orang-orang yang kamu ajar. (HR. Abul Hasan al-Mawardi)
Maksud hadist ini adalah agar sang murid memperoleh perlakuan yang baik, wajar dari guru/
ustadz secara adil dan mengandung pendidikan tanpa pandang bulu, atau memendang siapa
orang tuanya, anak siapa dia, golongan apa orang tuanya, ada hubungan apa dengannya suku
atau bangsa mana dia.
Guru adalah teladan bagi murid-muridnya, sehingga apabila sekalipun bersifat acuh tak acuh,
bersikap angkuh, dan sinis atau cengis, sungguh itu akan melahirkan sifat dendam dan
kebencian yang terpendam dijiwa murid-muridnya.
Syarat pertama kesuksesan guru mendidik anak muridnya ialah menanamkan kepercayaan
dan rasa cinta serta simpatiknya, maka sekali-kalijangan mengharap remeh terhadap murid.

D.

Murka Terhadap Guru

Dalam sebuah hadist riwayat al-Baihaqi Nabi SAW bersabda :


Siapa yang merendahkan gurunya, akan ditimpakan Allah kepada-Nya tiga bala : 1. Sempit
rezekinya; 2. Hilang manfaat ilmunya; 3. Keluar dari dunia ini tanpa iman (wafat).
Dari hadist ini, kita dilarang meringan ringankan guru, apalagi menghina, mencela atau
menyakiti, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Walaupun guru sekarang
berputar jadi murid kita, sebab walau bagaimanapun Alimnya atau pandainya kita sekarang,
yang namun Guru adalah juga sebagai ayah dari sebagaian Ilmu kita. Sebab, gurulah pada
waktu silam yang membekali dan menuntun kita saat kita masih buta dengan ilmu
pengetahuan, mereka orang pertama yang mengajari kita dalam mengatur cara berfikir,
berpakaian dan lain-lain. Oleh karena itu, celakahlah orang yang tidak menginsyafi budi baik
gurunya dan lupa pada jasa-jasa mereka dari kecil hingga kita dewasa. Bahkan dari dunia
hingga keakirat kelak.

E.

Akhlak Kepada Orang Tua Menurut Budaya

Akhlak kepada orang tua menurut budaya berarti sikap dan perilaku seorang anak kepada
orang tuanya menurut suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama dan
diwariskan dari generasi ke generasi. Akhlak seorang anak kepada orang tuanya tidak lepas
dari peran orang tua itu sendiri dalam memberikan bimbingan serta memperkenalkan budaya
sejak sang anak masih kecil.

Dalam hal ini, kami mengambil contoh dari budaya Jawa karena begitu erat kaitannya dengan
agama Islam. Islam adalah agama yang damai, penuh toleransi. Lakum dinukum waliyadin,
bagiku agamaku, bagimu agamamu. Begitu menurut Islam. Jawa adalah juga suku yang suka
damai, luwes, dan kenyal terbuka terhadap pengaruh luar. Sewu sobat isih kurang, musuh siji
wis kakehan. Seribu sahabat masih kurang, seorang musuh sudah terlalu banyak.
Islam mengajarkan Addinu husnul khuluk. Artinya, agama itu sesungguhnya adalah akhlak
mulia. Seperti petuah Jawa Sing sujud karo Pangeran, sing bekti karo wong tuwa, sing rukun
karo sedulur, sing asih karo sapepada.
Kita semua mesti tunduk dan pasrah kepada Allah SWT, berbakti pada orang tua, rukun
dengan saudara, dan cinta kasih pada sesama makhluk. Itu semua kan cerminan akhlak mulia.
Serupa dengan yang diamanahkan agama Islam: Khairukum, khairukum ti alihi. Artinya,
sebaik-baik manusia adalah orang yang baik terhadap keluarganya, istri, dan anak-cucunya.
Seorang anak akan terbiasa menghormat orang tua atau orang yang lebih tua, misalnya : jalan
sedikit membungkuk jika berjalan didepan orang tua dan dengan sopan mengucap : nuwun
sewu ( permisi), nderek langkung ( perkenankan lewat sini).
Selain berperilaku halus dan sopan, juga berbahasa yang baik untuk menghormati sesama,
apakah itu bahasa halus ( kromo) atau ngoko ( bahasa biasa). Bahasa Jawa yang bertingkat
bukanlah hal yang rumit, karena unggah ungguh basa ( penggunaan bahasa menurut
tingkatnya) adalah sopan santun untuk menghormat orang lain).
Pada dasarnya ada dua tingkatan dalam bahasa Jawa,yaitu : Kromo, bahasa halus dan ngoko,
bahasa biasa. Bahasa kromo dipakai untuk menghormat orang tua atau orang yang perlu
dihormat, sedangkan ngoko biasanya dipakai antar teman.
Semua kata yang dipakai dalam dua tingkat bahasa tersebut berbeda, contoh :
Bahasa Indonesia : Saya mau pergi.
Kromo
: Kulo bade kesah.
Ngoko
: Aku arep lunga.
Dalam percakapan sehari-hari, orang tua kepada anak memakai ngoko, sedang anaknya
menggunakan kromo. Dalam pergaulan dipakai pula bahasa campuran yang memakai katakata dari kromo dan ngoko dan ini lebih mudah dipelajari dalam praktek dan sulit dipelajari
secara teori.
Sebagai catatan penutup perlu ditegaskan bahwa Islam tidak sama sekali menolak budaya
yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dalam penetapan hukum Islam dikenal salah
satu cara melakukan ijtihad yang disebut urf, yakni penetapan hukum dengan mendasarkan
pada budaya yang berkembang dalam masyarakat. Dengan cara ini berarti budaya dapat
dijadikan dasar penetapan hukum Islam dengan syarat tidak bertentangan dengan ajaran
Islam yang tertuang dalam al-Quran dan hadis Nabi Saw, maka budaya seperti itu dapat
dilakukan dan dikembangkan. Sebaliknya, jika bertentangan dengan ajaran Islam, maka
budaya itu harus ditinggalkan dan tidak boleh dikembangkan.
F.

Akhlak Kepada Guru Menurut Budaya

Meneladani sikap dan siAkhlak Terhadap Orang Tua dan Guru Menurut Agama, Etika dan
Budaya

A.

Akhlak kepada orang tua menurut agama

Seorang anak dilarang membentak, memarahi atau bersuara keras terhadap kedua
orang tua.
Lebih bertambah umur kedua orang tua, hendaknya lebih diperhatikan oleh anak
anaknya.
Kedua hal diatas sesuai dengan Firman Allah dalam Qs. Al Isra : 23
Dan tuhanmu telah mewajibkan supaya kamu jangan menyembah selain dari pada Nya
dan berbuat baiklah kamu kepada kedua ibu bapak .Apabila mereka atau salah seorang dari
mereka telah tua, janganlah kamu berkata kepada keduanya dengan perkataan ah dan
jangalah engkau gertak mereka tetapi ucapkanlah kepada mereka dengan kata kata yang
sopan lagi lembut
Diperintahkan kepada setiap anak agar selalu merendahkan diri kepada kedua orang
tua dengan penuh kasih sayang, sesuai dengan firman Allah dalam Qs. Al Isra : 24
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya (ibu bapak) dengan penuh kasih sayang
-Diperintahkan kepada seorang anak agar selalu mendoakan kedua orang tua dengan doa

Ya Allah ampunilah aku dan ibu bapakku serta kasihanilah mereka berdua
sebagaimana mereka berdua telah mengasuh aku diwaktu kecil
-Jangan durhaka kepada orang tua karena hal itu akan mendatangkan murka Allah dan tidak
akan masuk surga, sebagaimana disebutkan dalam Hadits
Keridlaan Allah dalam keridlaan ibu bapak dan murka Allah dalam kemurkaan ibu
bapak.(HR.At-Thabrani)
Dan juga terdapat dalam hadist
Segala dosa akan dapat ditangguhkan Allah balasannya sampai hari kiamat, kecuali dosa
durhaka kepada ibu bapak. Maka Allah akan menyegerakan akibatnya kepada pelakunya
didunia sebelum ajalnya tiba.(HR.At- Thabrani dan Hakim)
Dan dalam hadist

Tiga golongan manusia yang tidak akan masuk surge : orang yang mendurhakai ibu
bapaknya, pelacur yang tidak punya malu, wanita yang menyerupai kaum pria.(HR.AnNasaI dan Hakim)
-Disunahkan agar tetap berbuat baik kepada kedus orang tua walaupun keduanya atau salah
satunya telah meninggal yaitu dengan :
1) Mendoakan rahmat bagi keduanya
2) Memohon ampun atas dosa dosa keduanya
3)Melaksanakan janjinya yang belum dilaksanakan
4)Menyambung shillaturrahmi kepada sahabat sahabat orang tua.
(hal diatas sesuai dengan HR.Abu Daud )
-Allah memerintahkan agar berbakti kepada kedua orang tua , barang siapa tidak berbuat baik
kepada kedua orang tua maka ia telah berbuat durhaka dan perbuatan durhaka adalah sifat
syaithan.
Sebagaimana tedapat dalam Qs. Maryam :14 dan 44

Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan bukanlah ia orang yang
sombonglagi durhaka(Qs.Maryam :14)

Wahai bapakku , janganlah kamu menyembah syaithan, sesungguhnya syaithan itu durhaka
kepada tuhan yang maha pemurah.(Qs.Maryam : 44)
-Demikian pentingnya akhlak kepada ibu sehingga sehingga Rasullulah SAW bersabda
:Bahwa surga itu berada dibawah telapak kaki ibu.(HR.An-NasaI dan Ibnu Majah)
-Dalam penghormatan kepada ibu bapak akan membawa dampak positif bagi perkembangan
jiwa anak anak kita kelak

Berbuat baiklah kepada bapakmu, niscaya kamu akan diperlakukan demikian oleh anak
anakmu.(HR.At-Thabrani dan Hakim).
Perintah ihsan diletakkan oleh Allah dalam al quran langsung sesudah perintah beribadah
hanya kepada Nya dan berbuat baik kepada ibu bapak .
Sebagaimana firman Allah:

Dan ingatlah Ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil yaitu:Janganlah kamu
menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada ibu bapak.(QS. Al Baqarah: 83)
Allah SWT juga berfirman:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik ) kepada kedua ibu bapaknya , ibunya
telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah dan menyampihnya dalam dua
tahun.Bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapak,hanya kepadaKulah kembalimu (QS.
Luqman:14)
Rosulullah SAW meletakkan birrul walidain sesudah salat tepat waktu dan menempati urutan
kedua dari amalan yang terbaik. Rasulullah bersabda:
Diriwayatkan dari Abu Abdirrahman Abdullah ibn Masud Ra. Dia berkata Aku bertanya
kepada rosulullah :Apa yang disukai oleh Allah SWT? Beliau menjaw ab:Salat tepat pada
waktunya.Aku bertanya lagi:Kemudian apa?Beliau menjawab:Birrul walidain
.Kemudian aku bertanya lagi: Seterusnya apa?Beliau menjawab:Jihad Fi sabilillah. (HR.
Mutafaqun alaih)
Dari QS. Al baqarah : 83 dan Hadits diatas , Allah dan rasulNya menempatkan orang tua
pada posisi yang sangat istimewa, sehingga berbuat baik kepada orang tua menempati posisi
yang mulia, dan durhaka kepada orang tua menempati posisi yang sangat hina.
Bentuk-bentuk birrul walidain
Cara anak agar dapat mewujudkan birrul walidain antara lain:
1.
Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan
baik masalah pendidikan , pekerjaan , jodoh maupun masalah lain asal tidak bertentangan
dengan agama . Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Luqman :15

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak
ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah
keduanya didunia dengan baik.

2.
Menghormati dan memuliakan kedua orang tua dengan penuh kasih sayang dan terima
kasih karena tidak mungkin seorang anak dapat membalas jasa-jasa kedua orang tuanya. Cara
kita menghormati orang tua adalah memanggil dengan panggilan yang menunjukkan hormat,
berbicara dengan lemah lembut dan tidak mengucapkan kata-kata yang kasar (terlebih apabila
mereka sudah berusia lanjut) , dan pamit ketika meninggalkan rumah
3.
Membantu ibu bapak secara fisik dan materiil. Cara membantu orang tua secara
fisik misalnya mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan secara materiil adalah apabila kita

sudah mempunyai penghasilan kita member ikan sebagian penghasilan kepada kedua orang
tua.
4.

Mendoakan kedua orang tua agar diampuni dosa-dosanya, diberikan rizki dan lain-lain

5.
Birrul walidain dapat diteruskan meskipun orang tua telah meninggal. Diantaranya :
menyelenggarakan jenazah dengan sebaik- baiknya, melunasi utang- utangnya, melaksanakan
wasiatnya, meneruskan silaturrahim yang dibinanya dimasa hidup mereka, memuliakan
sahabat- sahabatnya dan mendoakannya.
B.

Akhlak Kepada Guru Menurut Agama

Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk
menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Alloh azza wa jalla. Sebagaimana wajib
hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama
perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat agama.

Di antara akhlaq kepada guru adalah memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki
guru, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak
menyayangi orang yang lebih muda. ( HSR. Ahmad dan At-Tirmidzi )

Di antara akhlaq kepada guru adalah mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan
penuh semangat, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, Alloh mudahkan
baginya dengannya jalan menuju syurga. ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi
dan Ibnu Majah )

Di antara akhlaq kepada guru adalah datang ke tempat belajar dengan penampilan yang
rapi, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

Sesungguhnya Alloh itu indah dan suka kepada keindahan.( HR. Ahmad, Muslim dan AlHakim )

Di antara akhlaq kepada guru yaitu diam memperhatikan ketika guru sedang
menjelaskan, sebagaimana hadits Abu Said Al-Khudri ra :

Orang-orang pun diam seakan-akan ada burung di atas kepala mereka. ( HR. Al-Bukhori )

Imam Sufyan Ats-Tsauri rohimahulloh berkata : Bila kamu melihat ada anak muda
yang bercakap-cakap padahal sang guru sedang menyampaikan ilmu, maka berputus-asalah
dari kebaikannya, karena dia sedikit rasa malunya.( AR. Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ilasSunan )

Di antara akhlaq kepada guru adalah bertanya kepada guru bila ada sesuatu yang belum
dia mengerti dengan cara baik. Alloh berfirman :

Bertanyalah kepada ahli dzikr ( yakni para ulama ) bila kamu tidak tahu.( Qs. An-Nahl : 43
dan Al-Anbiya : 7 )

Rosululloh saw bersabda :


Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu ? Bukankah obat dari ketidaktahuan
adalah bertanya ? ( HSR. Abu Dawud )

Dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada faedahnya, sekedar mengolokolok atau yang dilatarbelakangi oleh niat yang buruk, oleh karena itu Alloh berfirman :

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan sesuatu yang bila dijawab
niscaya akan menyusahkan kalian. ( Qs. Al-Maidah : 101 )

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :



Sesungguhnya orang muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya tentang
sesuatu yang tidak diharamkan, lantas menjadi diharamkan lantaran pertanyaannya itu. (
HR. Ahmad, Al-Bukhori dan Muslim )

Ketika bertanya mestinya dilakukan dengan cara dan bahasa yang bagus.

Berkata Imam Maimun bin Mihron : Pertanyaan yang bagus menunjukkan separuh dari
kefahaman. ( AR. Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Al-Jami )

Di antara akhlaq kepada guru adalah menegur guru bila melakukan kesalahan dengan
cara yang penuh hormat, sebagaimana sabda Rosululloh :

: ,

Agama adalah nasihat. Kami ( Shahabat ) bertanya : Untuk siapa ? Beliau menjawab :
Untuk mentaati Alloh, melaksanakan Kitab-Nya, mengikuti Rosul-Nya untuk para
pemimpin kaum muslimin dan untuk orang-orang umum. ( HR. Ahmad, Muslim, Abu
Dawud, At-Tirmidzi dll )

C.

Akhlak terhadap orang tua menurut etika :

Orang tua adalah oran yang telah merawat kita, menjaga, memelihara, dan mendidik
kita sejak kecil hingga kita menjadi dewasa. Mereka melakukannya secara sunguh-sungguh
dan penuh kasih sayang demi mengharapkan kehidupan kita yang lebih baik. Bahkan orang
tua dengan susah payah bekerja mencari nafkah untuk membahagiakan kita.
Sedemikian besar peran orang tua dalam hidup kita, sehingga sudah sepantasnya kita
sebagai orang yang berpengetahuan haruslah menjaga etika kita terhadap orang tua. Diantara
bentuk-bentuk perbuatan kita yang sesuai dengan etika adalah :
1.
Selalu taat kepada keduanya dan menjalankan segala perintahnya, asalkan perintah itu
tidak bertentangan dengan ajaran agama dan tidak melanggar hukum yang berlaku di suatu
tempat. Meskipun orang tua kita berbuat aniaya kepada kita, tetaplah kita tidak boleh
menyinggung perasaan mereka ataupun membalas perbuatan yang mereka terhadap kita. Baik
bagaimanapun mereka tetaplah orang tua kita yang telah merawat kita semenjak kita kecil.
Menurut ukuran umum, orang tua tidak akan berbuat aniaya kepada anaknya sendiri. Jikalau
terjadi aniaya, biasanya disebabkan oleh perbuatan si anak yang berbuat keterlaluan kepada
orang tua.
2.
Jika hendak pergi hendaklah meminta izin kepada keduanya. Apabila tidak diizinkan
kita harus menerimanya dengan lapang dada.
3.
Berbicaralah dengan lemah lembut, bermuka manis, dan berseri-seri. Janganlah
meninggikan suara ketika berbicara kepada orang tua dan jangan pula menggunakan katakata yang kasar kepada keduanya.
4.

Perhatikan nasihat-nasihat orang tua dan janganlah memotong pembicaraannya.

5.
Membantu pekerjaan orang tua dengan sekuat tenaga, terutama jika orang tua sudah
berusaha lanjut.
6.

Selalu bersikap baik dan sopan santun baik dalam perbuatan maupun perkataan.

7.
Selalu menyambung silaturahim kepada keduanya meskipun kita dalam perantauan
ataupun kita sudah memiliki keluarga sendiri, selalu menepati janji kita, dan menghormati
sahabat-sahabat orang tua dengan baik.
8.

Selalu mendoakan orang tua agar diampuni dosa-dosanya oleh Allah swt.

Sementara itu menurut imam al-Ghazali, etika anak terhadap orang tuanya adalah sebagai
berikut:
1.

Mendengarkan pembicaraannya.

2.

Melaksanakan perintahnya.

3.

Tidak berjalan di depannya.

4.

Tidak mengeraskan suara ketika berbicara kepadanya.

5.

Menjawab panggilannya.

6.

Berkemauan keras menyenangkan hatinya.

7.

Menundukkan badannya.

8.

Tidak mengungkit kebaikan kita terhadap mereka.

9.

Tidak memandang dengan mata melotot dan tidak menatap matanya.

Itulah sebagian kecil bentuk akhlak anak terhadap orang tua menurut etika

D.

Akhlak Kepada Guru Menurut Etika

Murid adalah orang yang sedang belajar dan menuntut ilmu kepada seorang guru. Demi
untuk keberkahan dan kemudahan dalam meraih dan mengamalkan ilmu atau pengetahuan
yang telah diperoleh dari seorang guru, maka seorang murid haruslah memiliki akhlak atau
etika yang benar terhadap gurunya.
Beberapa contoh etika murid terhadap guru (Muallim), diantaranya adalah sebagai berikut :
1.

Seorang murid hendaklah hormat kepada guru, mengikuti pendapat dan petunjuknya.

2.
Seorang murid hendaklah memberi salam terlebih dahulu kepada guru apabila
menghadap atau berjumpa dengan beliau.
3.
Seorang murid hendaklah memandang gurunya dengan keagungan dan meyakini bahwa
gurunya itu memiliki derajat kesempurnaan, sebab hal itu lebih memudahkan untuk
mengambil manfaat dari beliau.
4.
Seorang murid hendaklah mengetahui dan memahami hak-hak yang harus diberikan
gurunya dan tidak melupakan jasanya.

5.
Seorang murid hendaklah bersikap sabar jika menghadapi seorang guru yang memiliki
perangai kasar dan keras.
6.
Seorang murid hendaklah duduk dengan sopan di hadapan gurunya, tenang,
merendahkan diri, hormat sambil mendengarkan, memperhatikan, dan menerima apa yang
disampaikan oleh gurunya.
Jangan duduk sambil menengok kanan kiri kecuali untuk suatu kepentingan.
7.
Seorang murid hendaklah ketika mengadap gurunya dalam keadaan sempurna dengan
badan dan pakaian yang bersih.
8.
Seorang murid hendaklah jangan banyak bicara di depan guru ataupun membicarakan
hal-hal yang tidak berguna.
9.
Seorang murid hendaklah jangan bertanya dengan tujuan untuk mengujinya dan
menampakkan kepandaian kepada guru.
10. Seorang murid hendaklah jangan bersenda gurau di hadapan guru
11. Seorang murid hendaklah jangan menanyakan masalah kepada orang lain ditengah majlis
guru.
12. Seorang murid hendaknya tidak banyak bertanya, apalagi jika pertanyaan itu tidak
berguna
13. Jika guru berdiri, Seorang murid hendaklah ikut berdiri sebagai penghormatan kepada
beliau.
14. Seorang murid hendaklah tidak bertanya suatu persoalan kepada guru ketika sedang di
tengah jalan.
15. Seorang murid hendaklah tidak menghentikan langkah guru di tengah jalan untuk hal-hal
yang tidak berguna.
16. Seorang murid hendaklah tidak berburuk sangka terhadap apa yang dilakukan oleh
guru ( guru lebih mengetahui tentang apa yang dikerjakannya).
17. Seorang murid hendaklah tidak mendahului jalannya ketika sedang berjalan bersama.
18. Ketika guru sedang memberi penjelasan/ berbicara hendaklah murid tidak memotong
pembicaraannya. Kalaupun ingin menyanggah pendapat beliau maka sebaiknya menunggu
hingga beliau selesai berbicara dan hendaknya setiap memberikan sanggahan atau tanggapan
disampaikan dengan sopan dan dalam bahasa yang baik.
19. Apabila ingin menghadap atau bertemu untuk sesuatu hal maka sebaiknya murid
memberi konfirmasi terlebih dahulu kepada guru dengan menelphon atau mengirim pesan,
untuk memastikan kesanggupannya dan agar guru tidak merasa terganggu.
20. Murid haruslah berkata jujur apabila guru menanyakan suatu hal kepadanya.

21. Seorang murid hendaklah menyempatkan diri untuk bersilaturahim ke rumah guru di
waktu-waktu tertentu, sebagai bentuk rasa saying kita terhadap beliau.
22. Meskipun sudah tidak dibimbing lagi oleh beliau ( karena sudah lulus) murid hendaklah
tetap selalu mengingat jasanya dan tetap terus mendoakan kebaikan kebaikan atas mereka.
Bagaimanapun juga guru merupakan orang tua kedua kita setelah orang tua kita yang di
rumah. Mereka adalah orang tua kita saat kita berada di luar rumah. Jadi sebagaiman kita
menghormati orang tua kandung kita, maka kitapun juga harus menghormati guru kita.
Sebagaimana disyiratkan dalam sabda Rasulullah SAW :
Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua dari kami, tidak
mengasihi orang yang lebih kecil dari kami dan tidak mengetahui hak orang alim dari kami.
(HR.Ahmad, Thabrani, dan Hakim dari Ubadah bin Shamit Ra.)
Pelajarilah oleh kalian ilmu, pelajarilah oleh kalian ilmu(yang dapat menumbuhkan)
ketenangan, kehormatan, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang yang kalian menuntut ilmu
darinya. (HR. Thabrani dari Abu Hurairah. Ra)

A.

Kedudukan Guru

Bapak Guru lebih mulia dari bapak kandung . Sebab, Ibu Bapak itu mendewasakan dari
segi jasmani yang bersifat material, sedangkan Bapak/Ibu Guru mendewasakan dari segi
rohani yang bersifat spiritual dan universal.
Para Guru, Ustadz, Ustadzah, atau Mualim, Mursyid, selain mengantarkan kita menjadi
orang yang beramal sholih, mereka termasuk pewaris Nabi-Nabi, justru merekalah penyalur
pusaka dalam menjalankansyariat, akhlak, aqidah, dan mereka pula contoh yang terdekat
dengan kita. Berkaitan dengan hal tersebut, Nabi bersabda :

Ulama adalah penerima pusaka Nabi-Nabi. (HR. al-Tirmizi dan Abu Daud).

Sehubungan dengan hadist tersebut, maka kita diperintahkan untuk menghormati para Ulama,
meski bukan Guru kita. Begitupula dengan para DaI dan Muballigh selaku penyalur risalah
kenabian, yang kini disebut Dawah atau Kulyah Agama. Adapun Ulama yang sebenarnya
adalah yang berilmu, dan beramal dengan ilmunya itu, serta ilmudan amalanya tersebut
sesuai dengan Al-Quran dan Hadist.

B.

Kedudukan Murid

Sabda Nabi Muhammad SAW :

Perhatikanlah perkataan orang yang wajib ditaati antara Ulil Amri kamu dan taatilah perintah
mereka meski yang menjadi Ulil Amri itu seorang budak sahaya asal Habsyi. (HR. Bukhori)

Ulil Amri itu adalah kepala pimpinan urusan, termasuk Guru, suami, Pemerintah.

Guru termasuk ulil amri karena mereka adalah pengganti ibu bapak yang mengasuh kita
dalam pengajaran dan pendidikan yang sangat menentukan garis-garis kehidupan kita yang
akan datang. Nabi SAW. bersabda, yang artinya:
barangsiapa menghormati guru berarti ia menghormati Tuhannya. (HR. Abu al-Hasan alMawardi)
Sebab, Tuhan menyampaikan ilmu kepada manusia lewat Nabi dan Rasul yang kemudian
digantikan oleh ulama; dan guru. Dalam kitab Talim al-Mutaalim disebutkan sebagai
berikut: para pelajar tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat, bila tidak menghormati
ilmu dan memuliakan gurunya.

C.

Hak Murid dan Guru

Dalam agama kita bukan hanya murid saja yang diperintahkan untuk menghormati Gurunya,
tetapi guru juga diharuskan menghargai sang murid, baik itu pendapatnya maupun
pribadinya, karena Nabi SAW bersabda yang artinya :
Hargailah orang-orang yang kamu ajar. (HR. Abul Hasan al-Mawardi)
Maksud hadist ini adalah agar sang murid memperoleh perlakuan yang baik, wajar dari guru/
ustadz secara adil dan mengandung pendidikan tanpa pandang bulu, atau memendang siapa
orang tuanya, anak siapa dia, golongan apa orang tuanya, ada hubungan apa dengannya suku
atau bangsa mana dia.
Guru adalah teladan bagi murid-muridnya, sehingga apabila sekalipun bersifat acuh tak acuh,
bersikap angkuh, dan sinis atau cengis, sungguh itu akan melahirkan sifat dendam dan
kebencian yang terpendam dijiwa murid-muridnya.
Syarat pertama kesuksesan guru mendidik anak muridnya ialah menanamkan kepercayaan
dan rasa cinta serta simpatiknya, maka sekali-kalijangan mengharap remeh terhadap murid.

D.

Murka Terhadap Guru

Dalam sebuah hadist riwayat al-Baihaqi Nabi SAW bersabda :

Siapa yang merendahkan gurunya, akan ditimpakan Allah kepada-Nya tiga bala : 1. Sempit
rezekinya; 2. Hilang manfaat ilmunya; 3. Keluar dari dunia ini tanpa iman (wafat).
Dari hadist ini, kita dilarang meringan ringankan guru, apalagi menghina, mencela atau
menyakiti, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Walaupun guru sekarang
berputar jadi murid kita, sebab walau bagaimanapun Alimnya atau pandainya kita sekarang,
yang namun Guru adalah juga sebagai ayah dari sebagaian Ilmu kita. Sebab, gurulah pada
waktu silam yang membekali dan menuntun kita saat kita masih buta dengan ilmu
pengetahuan, mereka orang pertama yang mengajari kita dalam mengatur cara berfikir,
berpakaian dan lain-lain. Oleh karena itu, celakahlah orang yang tidak menginsyafi budi baik
gurunya dan lupa pada jasa-jasa mereka dari kecil hingga kita dewasa. Bahkan dari dunia
hingga keakirat kelak.

E.

Akhlak Kepada Orang Tua Menurut Budaya

Akhlak kepada orang tua menurut budaya berarti sikap dan perilaku seorang anak kepada
orang tuanya menurut suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama dan
diwariskan dari generasi ke generasi. Akhlak seorang anak kepada orang tuanya tidak lepas
dari peran orang tua itu sendiri dalam memberikan bimbingan serta memperkenalkan budaya
sejak sang anak masih kecil.
Dalam hal ini, kami mengambil contoh dari budaya Jawa karena begitu erat kaitannya dengan
agama Islam. Islam adalah agama yang damai, penuh toleransi. Lakum dinukum waliyadin,
bagiku agamaku, bagimu agamamu. Begitu menurut Islam. Jawa adalah juga suku yang suka
damai, luwes, dan kenyal terbuka terhadap pengaruh luar. Sewu sobat isih kurang, musuh siji
wis kakehan. Seribu sahabat masih kurang, seorang musuh sudah terlalu banyak.
Islam mengajarkan Addinu husnul khuluk. Artinya, agama itu sesungguhnya adalah akhlak
mulia. Seperti petuah Jawa Sing sujud karo Pangeran, sing bekti karo wong tuwa, sing rukun
karo sedulur, sing asih karo sapepada.
Kita semua mesti tunduk dan pasrah kepada Allah SWT, berbakti pada orang tua, rukun
dengan saudara, dan cinta kasih pada sesama makhluk. Itu semua kan cerminan akhlak mulia.
Serupa dengan yang diamanahkan agama Islam: Khairukum, khairukum ti alihi. Artinya,
sebaik-baik manusia adalah orang yang baik terhadap keluarganya, istri, dan anak-cucunya.
Seorang anak akan terbiasa menghormat orang tua atau orang yang lebih tua, misalnya : jalan
sedikit membungkuk jika berjalan didepan orang tua dan dengan sopan mengucap : nuwun
sewu ( permisi), nderek langkung ( perkenankan lewat sini).
Selain berperilaku halus dan sopan, juga berbahasa yang baik untuk menghormati sesama,
apakah itu bahasa halus ( kromo) atau ngoko ( bahasa biasa). Bahasa Jawa yang bertingkat
bukanlah hal yang rumit, karena unggah ungguh basa ( penggunaan bahasa menurut
tingkatnya) adalah sopan santun untuk menghormat orang lain).
Pada dasarnya ada dua tingkatan dalam bahasa Jawa,yaitu : Kromo, bahasa halus dan ngoko,
bahasa biasa. Bahasa kromo dipakai untuk menghormat orang tua atau orang yang perlu
dihormat, sedangkan ngoko biasanya dipakai antar teman.

Semua kata yang dipakai dalam dua tingkat bahasa tersebut berbeda, contoh :
Bahasa Indonesia : Saya mau pergi.
Kromo
: Kulo bade kesah.
Ngoko
: Aku arep lunga.
Dalam percakapan sehari-hari, orang tua kepada anak memakai ngoko, sedang anaknya
menggunakan kromo. Dalam pergaulan dipakai pula bahasa campuran yang memakai katakata dari kromo dan ngoko dan ini lebih mudah dipelajari dalam praktek dan sulit dipelajari
secara teori.
Sebagai catatan penutup perlu ditegaskan bahwa Islam tidak sama sekali menolak budaya
yang berkembang di tengah-tengah masyarakat. Dalam penetapan hukum Islam dikenal salah
satu cara melakukan ijtihad yang disebut urf, yakni penetapan hukum dengan mendasarkan
pada budaya yang berkembang dalam masyarakat. Dengan cara ini berarti budaya dapat
dijadikan dasar penetapan hukum Islam dengan syarat tidak bertentangan dengan ajaran
Islam yang tertuang dalam al-Quran dan hadis Nabi Saw, maka budaya seperti itu dapat
dilakukan dan dikembangkan. Sebaliknya, jika bertentangan dengan ajaran Islam, maka
budaya itu harus ditinggalkan dan tidak boleh dikembangkan.
F.

Akhlak Kepada Guru Menurut Budaya

Meneladani sikap dan sifat guru yang baik akhlaknya, tinggi ilmunya dan patut dicontoh.
Mematuhi dan mengikuti guru.
Tidak boleh meremehkan guru, harus senantiasa mengagungkannya dan meyakini ilmu yang
dimilikinya.
Selalu menghormati dan santun kepada guru walaupun tidak sedang berasa pada lingkungan
sekolah.
Bersikap sabar ketika guru sedang melakukan kesalahan atau tidak sesuai dengan apa yang
kita tahu.
Berterimakasih kepada guru atas segalailmu yang telah diberikan kepada kita.
Berperilaku sopan kepada guru dimanapun kita berada dan kapanpun kita berjumpa.
Berperilaku yang sopan serta lemah lembut kepada guru.
Meminta izin kepada guru apabila ingin berbicara atau berpendapat atau bertanya kepada
guru apabila guru sedang menjelaskan.
fat guru yang baik akhlaknya, tinggi ilmunya dan patut dicontoh.
Mematuhi dan mengikuti guru.
Tidak boleh meremehkan guru, harus senantiasa mengagungkannya dan meyakini ilmu yang
dimilikinya.

Selalu menghormati dan santun kepada guru walaupun tidak sedang berasa pada lingkungan
sekolah.
Bersikap sabar ketika guru sedang melakukan kesalahan atau tidak sesuai dengan apa yang
kita tahu.
Berterimakasih kepada guru atas segalailmu yang telah diberikan kepada kita.
Berperilaku sopan kepada guru dimanapun kita berada dan kapanpun kita berjumpa.
Berperilaku yang sopan serta lemah lembut kepada guru.
Meminta izin kepada guru apabila ingin berbicara atau berpendapat atau bertanya kepada
guru apabila guru sedang menjelaskan.
at tidak bertentangan dengan ajaran Islam yang tertuang dalam al-Quran dan hadis Nabi Saw,
maka budaya seperti itu dapat dilakukan dan dikembangkan. Sebaliknya, jika bertentangan
dengan ajaran Islam, maka budaya itu harus ditinggalkan dan tidak boleh dikembangkan.
F.

Akhlak Kepada Guru Menurut Budaya

Meneladani sikap dan sifat guru yang baik akhlaknya, tinggi ilmunya dan patut dicontoh.
Mematuhi dan mengikuti guru.
Tidak boleh meremehkan guru, harus senantiasa mengagungkannya dan meyakini ilmu yang
dimilikinya.
Selalu menghormati dan santun kepada guru walaupun tidak sedang berasa pada lingkungan
sekolah.
Bersikap sabar ketika guru sedang melakukan kesalahan atau tidak sesuai dengan apa yang
kita tahu.
Berterimakasih kepada guru atas segalailmu yang telah diberikan kepada kita.
Berperilaku sopan kepada guru dimanapun kita berada dan kapanpun kita berjumpa.
Berperilaku yang sopan serta lemah lembut kepada guru.
Meminta izin kepada guru apabila ingin berbicara atau berpendapat atau bertanya kepada
guru apabila guru sedang menjelaskan.
A.

Akhlak kepada orang tua menurut agama

Seorang anak dilarang membentak, memarahi atau bersuara keras terhadap kedua
orang tua.
Lebih bertambah umur kedua orang tua, hendaknya lebih diperhatikan oleh anak
anaknya.

Kedua hal diatas sesuai dengan Firman Allah dalam Qs. Al Isra : 23
Dan tuhanmu telah mewajibkan supaya kamu jangan menyembah selain dari pada Nya
dan berbuat baiklah kamu kepada kedua ibu bapak .Apabila mereka atau salah seorang dari
mereka telah tua, janganlah kamu berkata kepada keduanya dengan perkataan ah dan
jangalah engkau gertak mereka tetapi ucapkanlah kepada mereka dengan kata kata yang
sopan lagi lembut
Diperintahkan kepada setiap anak agar selalu merendahkan diri kepada kedua orang
tua dengan penuh kasih sayang, sesuai dengan firman Allah dalam Qs. Al Isra : 24
Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya (ibu bapak) dengan penuh kasih sayang
-Diperintahkan kepada seorang anak agar selalu mendoakan kedua orang tua dengan doa

Ya Allah ampunilah aku dan ibu bapakku serta kasihanilah mereka berdua
sebagaimana mereka berdua telah mengasuh aku diwaktu kecil
-Jangan durhaka kepada orang tua karena hal itu akan mendatangkan murka Allah dan tidak
akan masuk surga, sebagaimana disebutkan dalam Hadits
Keridlaan Allah dalam keridlaan ibu bapak dan murka Allah dalam kemurkaan ibu
bapak.(HR.At-Thabrani)
Dan juga terdapat dalam hadist
Segala dosa akan dapat ditangguhkan Allah balasannya sampai hari kiamat, kecuali dosa
durhaka kepada ibu bapak. Maka Allah akan menyegerakan akibatnya kepada pelakunya
didunia sebelum ajalnya tiba.(HR.At- Thabrani dan Hakim)
Dan dalam hadist

Tiga golongan manusia yang tidak akan masuk surge : orang yang mendurhakai ibu
bapaknya, pelacur yang tidak punya malu, wanita yang menyerupai kaum pria.(HR.AnNasaI dan Hakim)
-Disunahkan agar tetap berbuat baik kepada kedus orang tua walaupun keduanya atau salah
satunya telah meninggal yaitu dengan :
1) Mendoakan rahmat bagi keduanya
2) Memohon ampun atas dosa dosa keduanya
3)Melaksanakan janjinya yang belum dilaksanakan

4)Menyambung shillaturrahmi kepada sahabat sahabat orang tua.


(hal diatas sesuai dengan HR.Abu Daud )
-Allah memerintahkan agar berbakti kepada kedua orang tua , barang siapa tidak berbuat baik
kepada kedua orang tua maka ia telah berbuat durhaka dan perbuatan durhaka adalah sifat
syaithan.
Sebagaimana tedapat dalam Qs. Maryam :14 dan 44

Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya dan bukanlah ia orang yang
sombonglagi durhaka(Qs.Maryam :14)

Wahai bapakku , janganlah kamu menyembah syaithan, sesungguhnya syaithan itu durhaka
kepada tuhan yang maha pemurah.(Qs.Maryam : 44)
-Demikian pentingnya akhlak kepada ibu sehingga sehingga Rasullulah SAW bersabda
:Bahwa surga itu berada dibawah telapak kaki ibu.(HR.An-NasaI dan Ibnu Majah)
-Dalam penghormatan kepada ibu bapak akan membawa dampak positif bagi perkembangan
jiwa anak anak kita kelak

Berbuat baiklah kepada bapakmu, niscaya kamu akan diperlakukan demikian oleh anak
anakmu.(HR.At-Thabrani dan Hakim).
Perintah ihsan diletakkan oleh Allah dalam al quran langsung sesudah perintah beribadah
hanya kepada Nya dan berbuat baik kepada ibu bapak .
Sebagaimana firman Allah:

Dan ingatlah Ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil yaitu:Janganlah kamu
menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada ibu bapak.(QS. Al Baqarah: 83)
Allah SWT juga berfirman:

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik ) kepada kedua ibu bapaknya , ibunya
telah mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah dan menyampihnya dalam dua
tahun.Bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapak,hanya kepadaKulah kembalimu (QS.
Luqman:14)

Rosulullah SAW meletakkan birrul walidain sesudah salat tepat waktu dan menempati urutan
kedua dari amalan yang terbaik. Rasulullah bersabda:
Diriwayatkan dari Abu Abdirrahman Abdullah ibn Masud Ra. Dia berkata Aku bertanya
kepada rosulullah :Apa yang disukai oleh Allah SWT? Beliau menjaw ab:Salat tepat pada
waktunya.Aku bertanya lagi:Kemudian apa?Beliau menjawab:Birrul walidain
.Kemudian aku bertanya lagi: Seterusnya apa?Beliau menjawab:Jihad Fi sabilillah. (HR.
Mutafaqun alaih)
Dari QS. Al baqarah : 83 dan Hadits diatas , Allah dan rasulNya menempatkan orang tua
pada posisi yang sangat istimewa, sehingga berbuat baik kepada orang tua menempati posisi
yang mulia, dan durhaka kepada orang tua menempati posisi yang sangat hina.
Bentuk-bentuk birrul walidain
Cara anak agar dapat mewujudkan birrul walidain antara lain:
1.
Mengikuti keinginan dan saran orang tua dalam berbagai aspek kehidupan
baik masalah pendidikan , pekerjaan , jodoh maupun masalah lain asal tidak bertentangan
dengan agama . Sesuai dengan firman Allah dalam QS. Luqman :15

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak
ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya dan pergaulilah
keduanya didunia dengan baik.

2.
Menghormati dan memuliakan kedua orang tua dengan penuh kasih sayang dan terima
kasih karena tidak mungkin seorang anak dapat membalas jasa-jasa kedua orang tuanya. Cara
kita menghormati orang tua adalah memanggil dengan panggilan yang menunjukkan hormat,
berbicara dengan lemah lembut dan tidak mengucapkan kata-kata yang kasar (terlebih apabila
mereka sudah berusia lanjut) , dan pamit ketika meninggalkan rumah
3.
Membantu ibu bapak secara fisik dan materiil. Cara membantu orang tua secara
fisik misalnya mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan secara materiil adalah apabila kita
sudah mempunyai penghasilan kita member ikan sebagian penghasilan kepada kedua orang
tua.
4.

Mendoakan kedua orang tua agar diampuni dosa-dosanya, diberikan rizki dan lain-lain

5.
Birrul walidain dapat diteruskan meskipun orang tua telah meninggal. Diantaranya :
menyelenggarakan jenazah dengan sebaik- baiknya, melunasi utang- utangnya, melaksanakan
wasiatnya, meneruskan silaturrahim yang dibinanya dimasa hidup mereka, memuliakan
sahabat- sahabatnya dan mendoakannya.
B.

Akhlak Kepada Guru Menurut Agama


Guru adalah orang tua kedua, yaitu orang yang mendidik murid-muridnya untuk
menjadi lebih baik sebagaimana yang diridhoi Alloh azza wa jalla. Sebagaimana wajib
hukumnya mematuhi kedua orang tua, maka wajib pula mematuhi perintah para guru selama
perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat agama.

Di antara akhlaq kepada guru adalah memuliakan, tidak menghina atau mencaci-maki
guru, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak memuliakan orang yang lebih tua dan tidak
menyayangi orang yang lebih muda. ( HSR. Ahmad dan At-Tirmidzi )

Di antara akhlaq kepada guru adalah mendatangi tempat belajar dengan ikhlas dan
penuh semangat, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

Barangsiapa menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu padanya, Alloh mudahkan
baginya dengannya jalan menuju syurga. ( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi
dan Ibnu Majah )

Di antara akhlaq kepada guru adalah datang ke tempat belajar dengan penampilan yang
rapi, sebagaimana sabda Rosululloh saw :

Sesungguhnya Alloh itu indah dan suka kepada keindahan.( HR. Ahmad, Muslim dan AlHakim )

Di antara akhlaq kepada guru yaitu diam memperhatikan ketika guru sedang
menjelaskan, sebagaimana hadits Abu Said Al-Khudri ra :

Orang-orang pun diam seakan-akan ada burung di atas kepala mereka. ( HR. Al-Bukhori )

Imam Sufyan Ats-Tsauri rohimahulloh berkata : Bila kamu melihat ada anak muda
yang bercakap-cakap padahal sang guru sedang menyampaikan ilmu, maka berputus-asalah

dari kebaikannya, karena dia sedikit rasa malunya.( AR. Al-Baihaqi dalam Al-Madkhol ilasSunan )

Di antara akhlaq kepada guru adalah bertanya kepada guru bila ada sesuatu yang belum
dia mengerti dengan cara baik. Alloh berfirman :

Bertanyalah kepada ahli dzikr ( yakni para ulama ) bila kamu tidak tahu.( Qs. An-Nahl : 43
dan Al-Anbiya : 7 )

Rosululloh saw bersabda :


Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu ? Bukankah obat dari ketidaktahuan
adalah bertanya ? ( HSR. Abu Dawud )

Dan menghindari pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada faedahnya, sekedar mengolokolok atau yang dilatarbelakangi oleh niat yang buruk, oleh karena itu Alloh berfirman :

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan sesuatu yang bila dijawab
niscaya akan menyusahkan kalian. ( Qs. Al-Maidah : 101 )

Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam bersabda :



Sesungguhnya orang muslim yang paling besar dosanya adalah orang yang bertanya tentang
sesuatu yang tidak diharamkan, lantas menjadi diharamkan lantaran pertanyaannya itu. (
HR. Ahmad, Al-Bukhori dan Muslim )

Ketika bertanya mestinya dilakukan dengan cara dan bahasa yang bagus.

Berkata Imam Maimun bin Mihron : Pertanyaan yang bagus menunjukkan separuh dari
kefahaman. ( AR. Al-Khothib Al-Baghdadi dalam Al-Jami )

Di antara akhlaq kepada guru adalah menegur guru bila melakukan kesalahan dengan
cara yang penuh hormat, sebagaimana sabda Rosululloh :

: ,

Agama adalah nasihat. Kami ( Shahabat ) bertanya : Untuk siapa ? Beliau menjawab :
Untuk mentaati Alloh, melaksanakan Kitab-Nya, mengikuti Rosul-Nya untuk para
pemimpin kaum muslimin dan untuk orang-orang umum. ( HR. Ahmad, Muslim, Abu
Dawud, At-Tirmidzi dll )

C.

Akhlak terhadap orang tua menurut etika :

Orang tua adalah oran yang telah merawat kita, menjaga, memelihara, dan mendidik
kita sejak kecil hingga kita menjadi dewasa. Mereka melakukannya secara sunguh-sungguh
dan penuh kasih sayang demi mengharapkan kehidupan kita yang lebih baik. Bahkan orang
tua dengan susah payah bekerja mencari nafkah untuk membahagiakan kita.
Sedemikian besar peran orang tua dalam hidup kita, sehingga sudah sepantasnya kita
sebagai orang yang berpengetahuan haruslah menjaga etika kita terhadap orang tua. Diantara
bentuk-bentuk perbuatan kita yang sesuai dengan etika adalah :
1.
Selalu taat kepada keduanya dan menjalankan segala perintahnya, asalkan perintah itu
tidak bertentangan dengan ajaran agama dan tidak melanggar hukum yang berlaku di suatu
tempat. Meskipun orang tua kita berbuat aniaya kepada kita, tetaplah kita tidak boleh
menyinggung perasaan mereka ataupun membalas perbuatan yang mereka terhadap kita. Baik
bagaimanapun mereka tetaplah orang tua kita yang telah merawat kita semenjak kita kecil.
Menurut ukuran umum, orang tua tidak akan berbuat aniaya kepada anaknya sendiri. Jikalau
terjadi aniaya, biasanya disebabkan oleh perbuatan si anak yang berbuat keterlaluan kepada
orang tua.
2.
Jika hendak pergi hendaklah meminta izin kepada keduanya. Apabila tidak diizinkan
kita harus menerimanya dengan lapang dada.
3.
Berbicaralah dengan lemah lembut, bermuka manis, dan berseri-seri. Janganlah
meninggikan suara ketika berbicara kepada orang tua dan jangan pula menggunakan katakata yang kasar kepada keduanya.
4.

Perhatikan nasihat-nasihat orang tua dan janganlah memotong pembicaraannya.

5.
Membantu pekerjaan orang tua dengan sekuat tenaga, terutama jika orang tua sudah
berusaha lanjut.
6.

Selalu bersikap baik dan sopan santun baik dalam perbuatan maupun perkataan.

7.
Selalu menyambung silaturahim kepada keduanya meskipun kita dalam perantauan
ataupun kita sudah memiliki keluarga sendiri, selalu menepati janji kita, dan menghormati
sahabat-sahabat orang tua dengan baik.
8.

Selalu mendoakan orang tua agar diampuni dosa-dosanya oleh Allah swt.

Sementara itu menurut imam al-Ghazali, etika anak terhadap orang tuanya adalah sebagai
berikut:
1.

Mendengarkan pembicaraannya.

2.

Melaksanakan perintahnya.

3.

Tidak berjalan di depannya.

4.

Tidak mengeraskan suara ketika berbicara kepadanya.

5.

Menjawab panggilannya.

6.

Berkemauan keras menyenangkan hatinya.

7.

Menundukkan badannya.

8.

Tidak mengungkit kebaikan kita terhadap mereka.

9.

Tidak memandang dengan mata melotot dan tidak menatap matanya.

Itulah sebagian kecil bentuk akhlak anak terhadap orang tua menurut etika

D.

Akhlak Kepada Guru Menurut Etika

Murid adalah orang yang sedang belajar dan menuntut ilmu kepada seorang guru. Demi
untuk keberkahan dan kemudahan dalam meraih dan mengamalkan ilmu atau pengetahuan
yang telah diperoleh dari seorang guru, maka seorang murid haruslah memiliki akhlak atau
etika yang benar terhadap gurunya.
Beberapa contoh etika murid terhadap guru (Muallim), diantaranya adalah sebagai berikut :
1.

Seorang murid hendaklah hormat kepada guru, mengikuti pendapat dan petunjuknya.

2.
Seorang murid hendaklah memberi salam terlebih dahulu kepada guru apabila
menghadap atau berjumpa dengan beliau.
3.
Seorang murid hendaklah memandang gurunya dengan keagungan dan meyakini bahwa
gurunya itu memiliki derajat kesempurnaan, sebab hal itu lebih memudahkan untuk
mengambil manfaat dari beliau.
4.
Seorang murid hendaklah mengetahui dan memahami hak-hak yang harus diberikan
gurunya dan tidak melupakan jasanya.
5.
Seorang murid hendaklah bersikap sabar jika menghadapi seorang guru yang memiliki
perangai kasar dan keras.
6.
Seorang murid hendaklah duduk dengan sopan di hadapan gurunya, tenang,
merendahkan diri, hormat sambil mendengarkan, memperhatikan, dan menerima apa yang
disampaikan oleh gurunya.
Jangan duduk sambil menengok kanan kiri kecuali untuk suatu kepentingan.
7.
Seorang murid hendaklah ketika mengadap gurunya dalam keadaan sempurna dengan
badan dan pakaian yang bersih.

8.
Seorang murid hendaklah jangan banyak bicara di depan guru ataupun membicarakan
hal-hal yang tidak berguna.
9.
Seorang murid hendaklah jangan bertanya dengan tujuan untuk mengujinya dan
menampakkan kepandaian kepada guru.
10. Seorang murid hendaklah jangan bersenda gurau di hadapan guru
11. Seorang murid hendaklah jangan menanyakan masalah kepada orang lain ditengah majlis
guru.
12. Seorang murid hendaknya tidak banyak bertanya, apalagi jika pertanyaan itu tidak
berguna
13. Jika guru berdiri, Seorang murid hendaklah ikut berdiri sebagai penghormatan kepada
beliau.
14. Seorang murid hendaklah tidak bertanya suatu persoalan kepada guru ketika sedang di
tengah jalan.
15. Seorang murid hendaklah tidak menghentikan langkah guru di tengah jalan untuk hal-hal
yang tidak berguna.
16. Seorang murid hendaklah tidak berburuk sangka terhadap apa yang dilakukan oleh
guru ( guru lebih mengetahui tentang apa yang dikerjakannya).
17. Seorang murid hendaklah tidak mendahului jalannya ketika sedang berjalan bersama.
18. Ketika guru sedang memberi penjelasan/ berbicara hendaklah murid tidak memotong
pembicaraannya. Kalaupun ingin menyanggah pendapat beliau maka sebaiknya menunggu
hingga beliau selesai berbicara dan hendaknya setiap memberikan sanggahan atau tanggapan
disampaikan dengan sopan dan dalam bahasa yang baik.
19. Apabila ingin menghadap atau bertemu untuk sesuatu hal maka sebaiknya murid
memberi konfirmasi terlebih dahulu kepada guru dengan menelphon atau mengirim pesan,
untuk memastikan kesanggupannya dan agar guru tidak merasa terganggu.
20. Murid haruslah berkata jujur apabila guru menanyakan suatu hal kepadanya.
21. Seorang murid hendaklah menyempatkan diri untuk bersilaturahim ke rumah guru di
waktu-waktu tertentu, sebagai bentuk rasa saying kita terhadap beliau.
22. Meskipun sudah tidak dibimbing lagi oleh beliau ( karena sudah lulus) murid hendaklah
tetap selalu mengingat jasanya dan tetap terus mendoakan kebaikan kebaikan atas mereka.
Bagaimanapun juga guru merupakan orang tua kedua kita setelah orang tua kita yang di
rumah. Mereka adalah orang tua kita saat kita berada di luar rumah. Jadi sebagaiman kita
menghormati orang tua kandung kita, maka kitapun juga harus menghormati guru kita.
Sebagaimana disyiratkan dalam sabda Rasulullah SAW :

Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua dari kami, tidak
mengasihi orang yang lebih kecil dari kami dan tidak mengetahui hak orang alim dari kami.
(HR.Ahmad, Thabrani, dan Hakim dari Ubadah bin Shamit Ra.)
Pelajarilah oleh kalian ilmu, pelajarilah oleh kalian ilmu(yang dapat menumbuhkan)
ketenangan, kehormatan, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang yang kalian menuntut ilmu
darinya. (HR. Thabrani dari Abu Hurairah. Ra)

A.

Kedudukan Guru

Bapak Guru lebih mulia dari bapak kandung . Sebab, Ibu Bapak itu mendewasakan dari
segi jasmani yang bersifat material, sedangkan Bapak/Ibu Guru mendewasakan dari segi
rohani yang bersifat spiritual dan universal.
Para Guru, Ustadz, Ustadzah, atau Mualim, Mursyid, selain mengantarkan kita menjadi
orang yang beramal sholih, mereka termasuk pewaris Nabi-Nabi, justru merekalah penyalur
pusaka dalam menjalankansyariat, akhlak, aqidah, dan mereka pula contoh yang terdekat
dengan kita. Berkaitan dengan hal tersebut, Nabi bersabda :

Ulama adalah penerima pusaka Nabi-Nabi. (HR. al-Tirmizi dan Abu Daud).

Sehubungan dengan hadist tersebut, maka kita diperintahkan untuk menghormati para Ulama,
meski bukan Guru kita. Begitupula dengan para DaI dan Muballigh selaku penyalur risalah
kenabian, yang kini disebut Dawah atau Kulyah Agama. Adapun Ulama yang sebenarnya
adalah yang berilmu, dan beramal dengan ilmunya itu, serta ilmudan amalanya tersebut
sesuai dengan Al-Quran dan Hadist.

B.

Kedudukan Murid

Sabda Nabi Muhammad SAW :


Perhatikanlah perkataan orang yang wajib ditaati antara Ulil Amri kamu dan taatilah perintah
mereka meski yang menjadi Ulil Amri itu seorang budak sahaya asal Habsyi. (HR. Bukhori)

Ulil Amri itu adalah kepala pimpinan urusan, termasuk Guru, suami, Pemerintah.

Guru termasuk ulil amri karena mereka adalah pengganti ibu bapak yang mengasuh kita
dalam pengajaran dan pendidikan yang sangat menentukan garis-garis kehidupan kita yang
akan datang. Nabi SAW. bersabda, yang artinya:
barangsiapa menghormati guru berarti ia menghormati Tuhannya. (HR. Abu al-Hasan alMawardi)
Sebab, Tuhan menyampaikan ilmu kepada manusia lewat Nabi dan Rasul yang kemudian
digantikan oleh ulama; dan guru. Dalam kitab Talim al-Mutaalim disebutkan sebagai
berikut: para pelajar tidak akan mendapat ilmu yang bermanfaat, bila tidak menghormati
ilmu dan memuliakan gurunya.

C.

Hak Murid dan Guru

Dalam agama kita bukan hanya murid saja yang diperintahkan untuk menghormati Gurunya,
tetapi guru juga diharuskan menghargai sang murid, baik itu pendapatnya maupun
pribadinya, karena Nabi SAW bersabda yang artinya :
Hargailah orang-orang yang kamu ajar. (HR. Abul Hasan al-Mawardi)
Maksud hadist ini adalah agar sang murid memperoleh perlakuan yang baik, wajar dari guru/
ustadz secara adil dan mengandung pendidikan tanpa pandang bulu, atau memendang siapa
orang tuanya, anak siapa dia, golongan apa orang tuanya, ada hubungan apa dengannya suku
atau bangsa mana dia.
Guru adalah teladan bagi murid-muridnya, sehingga apabila sekalipun bersifat acuh tak acuh,
bersikap angkuh, dan sinis atau cengis, sungguh itu akan melahirkan sifat dendam dan
kebencian yang terpendam dijiwa murid-muridnya.
Syarat pertama kesuksesan guru mendidik anak muridnya ialah menanamkan kepercayaan
dan rasa cinta serta simpatiknya, maka sekali-kalijangan mengharap remeh terhadap murid.

D.

Murka Terhadap Guru

Dalam sebuah hadist riwayat al-Baihaqi Nabi SAW bersabda :


Siapa yang merendahkan gurunya, akan ditimpakan Allah kepada-Nya tiga bala : 1. Sempit
rezekinya; 2. Hilang manfaat ilmunya; 3. Keluar dari dunia ini tanpa iman (wafat).
Dari hadist ini, kita dilarang meringan ringankan guru, apalagi menghina, mencela atau
menyakiti, baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Walaupun guru sekarang
berputar jadi murid kita, sebab walau bagaimanapun Alimnya atau pandainya kita sekarang,
yang namun Guru adalah juga sebagai ayah dari sebagaian Ilmu kita. Sebab, gurulah pada
waktu silam yang membekali dan menuntun kita saat kita masih buta dengan ilmu
pengetahuan, mereka orang pertama yang mengajari kita dalam mengatur cara berfikir,

berpakaian dan lain-lain. Oleh karena itu, celakahlah orang yang tidak menginsyafi budi baik
gurunya dan lupa pada jasa-jasa mereka dari kecil hingga kita dewasa. Bahkan dari dunia
hingga keakirat kelak.