Anda di halaman 1dari 981

Karya SD.

Liong
JILID 1
BADAI PRAHARA yang melanda gunung Yausan
tetap tak kuasa menahan sesosok tubuh yang pesat
mendaki ke puncak. Tiba di puncak, ia berhenti dimuka
sebuah gedung kuna yang besar. Dari pancaran kilat
yang memecah kepekatan malam, tampak orang itu
bertubuh gagah. Menyelip pedang di pinggang dan
menyanggul sebuah kantung kulit dibahunya. Yang
mengherankan, kepala dan mukanya tertutup sebuah
kedok hitam yang hanya berlubang pada bagian mata
dan mulut.
Gedung itu sebuah bangunan kuna, besar dan
megah. Disekelilingnya dijaga, ketat oleh berpuluh-puluh
orang suku Yau, siap dengan alat supit beracun.
Sejenak berhenti, orang berkedok itu lanjutkan larinya
masuk kedalam gedung, berpuluh-puluh penjaga orang
Yau, serta merta memberi hormat dan membiarkannya
masuk.
Yah .......! secepat masuk kedalam gedung orang itu
segera berseru.
Dari nadanya, menandakan dia masih muda. Tirai
yang menutup dinding ruang tersingkap. Tampak
beberapa orang Yau tegak dikanan kiri sebuah kursi
2

yang diduduki seorang lelaki tua. Wajahnya berwibawa,


tubuh tinggi besar sehingga dalam keadaan duduk,
tingginya tak kurang dan satu setengahmeter! Dia
mengenakan pakaian yang aneh sekali. Sebuah jubah
panjang dari kulit harimau, membungkus dari ujung kaki
sampai keleher. Bagian kepala dan muka yang kelihatan
itu, ditumbuhi rambut, kumis dan jenggot panjang
berwarna merah. Orang berkedok tadi cepat maju
memberi bormat.
Gak Luil seru orang tua itu dengan keras.
Ya !
Bagaimana hasilmu turun gunung kali ini.
Bagus sekali, yah. Setiap kugunakan satu jurus saja,
pedang musuh tentu sudah dapat kupapas kutung. Tak
kurang dari 100 batang kutungan pedang, kubawa
pulang, yah
Cukup banyak ! Lekas keluarkanlah!
Baik,! sahut pemuda berkedok itu. Sekali bahunya
mengendap, kantong kulit bergemerincingan jatuh
menumpah kelantai. Isinya berpuluh-puluh batang
kutungan ujung pedang yang rata sepanjang jari tangan
........
Pemuda bertopeng itu menjemput sebatang ujung
pedang tipis lalu diunjukkan kehadapan siorang tua
aneh. Mata orang tua aneh itu berkilat-kilat memandang
kutungan pedang itu, lalu berseru: Balikkan sebelahnya
Pemuda itu mengia-kan. la membalikkan ujung pedang
kutung itu, agar kelihatan bagian sebelahnya.
Bukan ! seru orang tua itu.
Kuambil yang lainnya kata pemuda itu seraya
menjemput sebatang kutungan ujung pedang lainnya.
3

Lebih2 bukan tjuma sekali


Ya, ya! Kuganti yang lain lagi! seru pemuda itu
seraya mengambil kutungan pedang lainnya. Namun
satu demi satu, pemuda itu mengunjukkan kutungan
pedang yang dibawanya, tetap orang tua aneh itu
mengatakan bukan atau salah. Dalam beberapa kejab,
100 batang kutungan ujung pedang telah ditunjukkan dan
ditolak oleh orang tua aneh itu. Wajah orang tua aneh itu
memandang setiap ujung pedang yang diperlihatkan
kehadapannya dengan penuh ketegangan. Wajahnya
berobah-robah. Sesaat tampak berputus asa, sesaat lagi
mengerut kecewa dan, akhirnya mendengus rawan.
Huak ...... se-konyong2 ia muntah darah dan terjungkal
dari kursinya.
Yah ...... ! Gak Lui menjerit ngeri demi melihat
keadaan ayahnya. Seketika ia rasakan sendi-sendi
tulangnya lemas lunglai. Ayah, yang sejak ia kecil sampai
dewasa,
belum
pernah
menggendong
bahkan
menjamahnya sekalipun tidak pernah, ternyata oh .......
ternyata ...... seorang buntung. Kedua lengannya, sampai
kebatas bahu hilang. Kedua kakinya sampai kebatas
paha, lenyap. Hanya badan dan kepala saja yang masih
ada. Ajahku ternyata seorang manusia yang tinggal
bumbung badan saja ............
Karena terjungkal dari kursi, ia jatuh kelantai dan tak
dapat bangun. Gak Lui cepat menubruk ayahnya,
memeluk dan mulai memberi pertolongan dengan mengurut2 jalan darahnya.
Beberapa saat kemudian, dapatlah ayahnya itu
tersadar. Sesaat membuka mata, orang tua cacad itu
segera mengingau, memaki-maki dirinya sendiri: Hari ini
barulah terbuka mataku........ kepandaianmu ternyata ....
masih terpaut jauh sekali .......ah, akulah ....... yang
4

salah........... !
Yah, mengapa engkau bersalah?
Karena tak seharusnya kusuruh engkau turun
gunung!
Mengapa? Gak Lui makin heran.
Karena bukan saja engkau tak berhasil, malah
memperbanyak musuh2 yang sakti
Tetapi mereka dapat kukalahkan dengan satu jurus
saja. Apakah mereka layak dianggap musuh sakti?
Bahkan beberapa jago ............
Siapa? tukas orang tua buntung itu.
Imam Hwat Lui dari partai Bu-tong-pay, Gan Wi dari
partai Kong- tong-pay dan masih banyak lagi kalau
kusebutkan
Mereka bukan termasuk tokoh yang benar2 sakti,
Hm......., janganlah kau terlalu membanggakan diri
karena dapat memapas kutung pedang lawan-lawanmu
itu. Karena tak tahu ilmu permainan pedang sejurus yang
kau yakinkan selama 10-an tahun itu, maka kalahlah
mereka. Tetapi coba engkau bertemu dengan musuh
yang dapat melayani sampai seratus-duaratus jurus,
masakan engkau masih dapat pulang kemari !
Yah, apakah benar kepandaianku sekarang ini
masih belum mcmadai? tanya Gak Lui.
Menilik
caramu
mengurut
jalandarah
dan
menyalurkan tenaga- dalam tadi, memang begitulah
keadaanmu!
Tergetarlah hati Gak Lui karena dilanda kecewa yang
benar. Serunya: Ah, Gak Lui memang pantas dibunuh
karena telah menyia-nyiakan jerih payah ayah selama
5

belasan tahun...... Tiba2 orang tua itu tersenyum rawan.


Bukan salahmu Lui, ujarnya tetapi karena salah
diriku yang sudah tak bertangan dan berkaki ini sehingga
tak dapat mengajarmu seperti mestinya. Delapan belas
tahun lamanya, engkau kusuruh menderita menerima
pelajaranku ....
Tetapi aku akan berlatih lebih keras lagi. yah
Ah, percuma, orang tua itu menghela napas, jika
tak mendapat guru yang benar2 sakti, percuma saja
segala jerih payahmu belajar ilmu kesaktian!
Jika ayah mengidinkan, aku akan mencari seorang
guru yang sakti.
Ah, sayang sekali. Beberapa sahabatku lama, tentu
sudah banyak yang meninggal dunia. Tetapi jika engkau
hendak mencari guru .... hanya ada seorang saja .......
Siapa, yah?
Li Liong-ci bergelar si Maharaja!
Bagaimanakah kesaktiannya?
Tatkala baru berumur 19 tahun, dia sudah dapat
mengalahkan tokoh2 sakti dari Tujuh partai persilatan
besar. Membasmi 5 Durjana yang mengganggu
ketenteraman dunia persilatan. Menurut penilaian umum,
dia merupakan tokoh yang tiada tandingannya didunia
persilatan!
Apakah cianpwae itu masih hidup?
Tahun ini, dia baru berusia 40-an, sudah tentu masih
hidup.
Kalau begitu tentu dapat kucarinya
Jika dapat diketemukan, Empat Pedang dari Busan,
6

tak sampai .... kemarahan orangtua itu meluap hingga


tak sadarkan diri ia telah kelepasan omong,
membocorkan rahasia peribadinya yang dipendam
selama beberapa tahun.

Walaupun orang tua itu cepat hentikan ucapannya,


tetapi Gak Lui sudah terlanjur mendengar.
7

Yah, siapakah Empat Pedang gunung Busan itu?


serunya terkejut.
Tiba2 wajah orang tua itu berobah bengis,
bentaknya: persetan dengan obrolan kosong Empat
Pedang atau Lima Pedang Tetapi jelas Gak Lui
memperhatikan wajah ayahnya tampak tegang dan lesu.
Dia makin tertarik dan mendesak: Tetapi tadi ayah
sendlri yang mengatakan, jangan membohongi aku
........Ayah!
Orangtua aneh itu tetap tak mau mengatakan.
Tiba2 halilintar meletus diangkasa. Bumi serasa
tergetar keras. la rasakan dadanya ikut berombak karena
darahnya bergolak keras. Ah......, ia menyadari bahwa
malaekat Elmaut tak lama tentu akan menjemputnya. la
gerenyutkan geraham dan dengan kuatkan hati
ditatapnya Gak Lui. Lalu menghela napas: Ah.......,
memang aku bohong kepadamu bahkan bukan hanya
kali ini saja!
Yah ... ? Gak Luil menjerit kaget.
Pertama-tama yang akan kuberitahukan kepadamu
.......
Apa..... yah? Gak Lui makin tegang..
Aku BUKAN ayahmu ! Seketika menggigillah tubuh
Gak Lui mendengar ucapan ayahnya itu. Dengan nada
tenang dan dingin, orangtua itu balas bertanya:
Kalau aku mempunyai bukti, engkau mau percaya
atau tidak?
Ini ....... ini .........!
Sejak kecil engkau kusuruh pakai kedok. Apa
sebabnya ? Karena ...... karena aku takut...... teringat
8

pada....... ayahmu! Dan mengapa selama ini aku tak


pernah menggendongmu, karena .... hatiku merasa
bersalah.......
Tidak membopong aku karena tangan....... tak
leluasa! Memberi kedok pada mukaku, mungkin untuk
menjaga jangan sampai .... musuh mengetahui tukas
Gak Lui. Sanggahan itu diucapkan dengan lantang
seolah-olah hendak menumpahkan isi hatinya.
Airmata orang tua itu berderai-derai membasahi
kedua pipinya. Dengan menggigit gigi erat2 ia berkata
pula: Sekalipun engkau dapat menebak tepat yang
separoh bagian tetapi salah dengan bukti yang kumiliki.
Bukti peninggalan ibumu .........
Apakah itu Gak Lui memekik.
Surat bertulis darah
Di ....... dimana?
Di bajuku, ambillah sendiril
DENGAN TEGANG Gak Lui segera merabah-rabah
baju orangtua itu. Akhirnya ia menemukan sehelai
pakaian bayi. Pakaian baji itu bertulis darah yang sudah
menghitam dan berbunyi:
Bayi ini bernama Gak Lui. Barang siapa kasihan,
harap dipungut sebagai anak ..........
Ibu .......! seketika menjeritlah Gak Lui dan rubuh
pingsan. Entah berselang berapa lama, setelah ditolong
beberapa orang Yau, Gak Lui dapat siuman. Lalu dengan
nada rawan2 pilu ia bertanya kepada orangtua aneh itu:
Gihu, siapakah ayah dan ibu kandungku.......?''
Akan kuberitahukan tetapi engkau harus mentaati
sebuah hal
9

Jangankan hanya sebuah, seribu buah perintahpun


aku akan melaksanakan pesan gihu! kata Gak Lui. Sejak
mengetahui orangtua itu bukan ayah kandungnya, Gak
Lui berganti memanggil Gihu atau ayah angkat.
Simpanlah
dahulu
janjimu
itu.
Sekarang
dengarkanlah. Aku hendak memberitahu ibumu .........
Siapa nama ibuku ......?
Tio Yok-ceng !
Sekarang dimana?
Tak ketahuan rimbanya, entah masih hidup entah
sudah mati.
Apak ciri-ciri-nya...?
Aku tak tahu, yang kuketaltui dia seorang gadis yang
gemar belajar ilmu sastera. tidak suka ilmu silat!
Lalu ayahku ......?
Tokoh pertama dari Empat Pedang Busan. Bernama
Gak Tiang- beng bergelar Pedang Malaekat.
Apakah beliau masih hidup?
Kuyakin dia sudah tiada di dunia lagi.......!
Kalau begitu, gihu tentulah ........
Aku .... aku ..... aku sungguh menyesal sekali
kepada ayahmu. Tak usah diungkit lagi!
Merawat merupakan budi sebesar langit. Aku harus
mengetahui! Gak Lui berseru keras.
Aku merupakan tokoh Empat Pedang yang paling
buncit, bernama Ji Ki-tek dengan gelar si Pedang Laknat
!
10

Dan siapakah paman guru yang masih dua orang


itu?''
Paman gurumu yang kedua adalah Ho Tiong-ing si
Pedang Iblis, sedang yang ketiga adalah seorang
wanita.... Bibi gurumu itu bernama Li Siok-gim bergelar
Pedang Bidadari. Sedang nama2 Malaekat, Iblis,
Bidadari dan Laknat itu merupakan empat serangkai jago
pedang dari gunung Busan.
Apakah kedua beliau itu juga ........ ?
Jika tidak meninggal tentu sudah menjadi orang
cacad......! sahut siorang tua aneh.
Huahkkk .......!, tiba2 Gak Lui muntah darah. Rasa
pilu dan geram bercampur aduk mengoyak dadanya.
Namun ia menggerenyutkan gigi dan bertanya:
Siapakah musuh itu....?
Entahlah!. Jawaban itu membuat Gak Lui terbeliak.
Se runya menegas: Gihu telah menderita luka amat
parah, masakan tak dapat mengetahui siapa musuh gihu
itu?
Aku diserang oleh empat orang yang mengenakan
kerudung muka hitam. Benar2 aku tak dapat melihat
wajah mereka.
Masakan Empat Pedang Busan tak
menghadapi gerombolan orang bertopeng itu?

mampu

Ah .... jika Empat Pedang tak bercerai, tak mungkin


orang berani menyerang!
Jadi, Empat Pedang itu diserang secara terpisahpisah ......
Jangan memutus dulu, dengarkan aku bercerita dari
permulaan. Lebih dulu hendak kututurkan tentang
11

suasana perguruanku....... Gak Lui


seluruh perhatian untuk rnendengarkan.

menumpahkan

Sebenarnya bermula kami berempat ini tak saling


mengenal. Dan masing2 mempunyai kepandaian
sendiri2. Tetapi pada 30 tahun berselang, kami berempat
telah diambil oleh Busan It-ho. Karena kami berempat
sebelumnya memang sudah memiliki ilmu kepandaian
maka guru Busan It-ho menurunkan pelajaran tanpa
ikatan guru dengan murid. Tanpa membedakan nama
dan asal.
Masakan sebelumnya
seorang muridpun.......!

kakek

guru,

tak

punya

Seumur hidup beliau hanya menerima seorang


murid.
Lalu paman guru itu ......?
Aku tak tahu namanya dan tak pernah melihat
wajahnya. Yang kuketahui, murid itu sudah diusir oleh
guru dan tak boleh menggunakan ilmu pelajaran silat
ajaran guru untuk selama- lamanya!
Oh....!
Takut kalau murid itu kelak akan melakukan
kejahatan, maka guru telah mengambil kami berempat
untuk diberi pelajaran. Agar kelak kami, dapat
menundukkan
murid
itu.
Setelah
menurunkan
kepandaiannya, beliaupun menutup mata. Kemudian
kami beranai-ramai mencari murid murtad itu. Asal dia
tetap menggunakan ajaran dari guru, segera akan kami
berantas!
Lalu apakah dapat bertemu? tanya Gak Lui.
Selama 10 tahun didunia persilatan tak terdapat
orang yang menggunakan ilmu ajaran dari perguruan
12

Busan. Kebalikannya kami Empat Pedang telah


tertimpah suatu peristiwa yang tak tersangka-sangka
.......
Peristiwa apakah itu?
Bibi gurumu Si Pedang Bidadari Li Siok-gim semula
oleh guru, telah ditunangkan dengan paman gurumu
yang kedua Pedang Iblis Ko Tiong-ing. Tetapi ternyata
bibi gurumu itu lebih mesra hubungannya dengan,
ayahmu ....
Karena itu paman guru kedua marah'' sambut Gak
Lui.
Tidak.... !
Masakan ayahku ......
Juga tidak......! sahut orangtua aneh itu cepat2.
Ini ...... benar2.aku tak mengerti.
Paman guru keduamu, menganggap tindakan guru
menetapkan perjodohan itu terlalu ter-gesa2. Dan lagi
bibi guru dan ayahmu itu benar2 merupakan sejoli yang
pantas sekali. Oleh karena itu dengan dada lapang,
paman guru keduamu rela membatalkan tali
pertunangan. Tetapi ayahmu ternyata juga seorang lelaki
perwira. Ia anggap perintah guru tak boleh dilanggar.
Pula ia tak mau merampas Cinta orang lain. Maka dia
pun menolak maksud paman guru keduamu. Sedang bibi
gurumu terombang ambing diantara perintah guru
dengan suara hatinya. Aku ...... aku.....
Gihu bagaimana....?
Aku menyetujui tindakan paman guru keduamu.
Karena ayahmu bersikeras menolak, maka timbullah
perselisihan hebat. Kumaki ayahmu sebagai lelaki yang
13

tak bertanggung jawab pada cinta yang suci......!


Lalu...?
Karena malu ditolak cintanya, bibi gurumu marah
dan pulang kekampung halamannya. Paman gurumu
yang keduapun menghilang tiada ketahuan jejaknya.
Ayahmupun pulang kedesanya sedang aku mengembara
kegunung Yausan sini untuk membasmi binatang buas
tetapi akhirnya aku dipuja dan diangkat mereka sebagai
Sin-beng....! Sin-beng artinya malaekat.
Lalu bagaimana dengan ibuku...?
Ayahmu adalah putera tunggal dari ketuarga Gak.
Dia
harus
mempunyai
keturunan
penyambung
keluarganya. Maka menikahlah ia dengan Ibumu.
Setahun kemudian, lahirlah engkau didunia. Beberapa
bulan kemudian lalu timbul peristiwa yang mencurigakan
itu!
peristiwa mencurigakan ..... ? Gal Lui mengulang
kata2 itu.
Lalu.....? Wajah Pedang Laknat Ji Ki-tek itu
menebar merah. Semangatnya tampak agak baik. Diam2
Gak Lui bersukur dulam hati karena mengira ayah
angkatnya itu makin baik keadaannya.
Sejak berpisah pada 20 tahun yang lampau,
Pedang Laknat mulai menutur lagi, tepat pada masa
itulah si Maharaja Li Leng-ci sedang menumpas Lima
Durjana dunia persilatan. Tugas untuk mengikis habis
gerombolan orang jahat lain-lainnya dibebankan pada ke
7 Partai persilatan. Tetapi selama gerakan itu
berlangsung, dalam satu dua tahun itu, bebanapa tokoh
persilatan yang ternama telah hilang tanpa bekas
sehingga menimbulkan kegelisahan dan kecurigaan
14

masing2 partai persilatan.


Masakan Li cianpwe diam saja ?
Sejak menumpas kelima durjana itu, dia lalu
mengundurkan diri dari dunia persilatan. Walaupun
masih terdengar desas-desus tentang dirinya tetapi tiada
seorangpun tahu dimana keberadaanya. Pada saat
partai2 persilatan itu kebingungan, tiba2 ayahmu
menemukan suatu rahasia. Segera dia suruh suhengmu
Gak Ci kegunung Yausan sini memanggil aku.
Gak suheng? Apakah bukan makamnya yang setiap
tahun kujenguk itu ?
Benar...! Dan lagi dia sebenarnya masih engkoh
misannya sendiri. Tubuh Gak Lui gemetar, dendam
hatinya makin meluap: Setelah gihu pergi, lalu ?
Mendengar penuturan Gak Ci tentang pernikahan
ayahmu, hatiku makin penasaran. Maka sengaja ku-ulur
waktu dan lebih dulu kusuruh Gak Ci pulang untuk
menanyakan hal itu lebih jelas baru datang ke Yausan
lagi. Tetapi pada waktu dia datang kemari untuk yang
kedua kalinya, dia pun membawa engkau ........
Ayah-bundaku......?
Rumahmu sudah menjadi tumpukan puing. Ayah
dan ibumu tak tampak. Gak Ci menemukan engkau
didalam semak belukar diluar desa. Dan ketika
membawamu kemari, ia mengetahui bahwa dirinya
sedang diikuti orang. Demi menjaga keselamatanku dan
dirimu, suhengmu tak mau tinggal disini melainkan terus
pergi. Dia hendak gunakan siasat untuk mengalihkan
perhatian musuh. Tetapi ah........, anak itu ........ Tak
berapa lama turun dari gunung ini, dia telah dibunuh
orang .......!''
15

Oh......! menjeritlah Gak


suhengnya yang malang itu.

Lui

meratapi

nasib

Begitu kudengar hal itu, cepat2 aku menuju


ketempat kejadian. Tetapi disitu aku dikepung oleh empat
orang berkedok hitam. Yang seorang hanya melihati di
pinggir, sedang yang tiga menyerang aku. Ternyata
ketiga lawanku itu dapat menggunakan ilmu silat dari
golongan Tujuh partai persilatan. Karena marah, aku
mainkan jurus yang ganas. Dalam tiga jurus kemudian,
berhasillah kupapas kutung pedang mereka. Dan dalam
kesempatan yang bagus, kukiblatkan pedang untuk
menutuk jalan darah pada alis mereka. Tetapi tak
terduga .......
Bagaimana'
Ujung pedangku tak mempan menusuk muka
mereka. Disebelah dalam dari kain kerudung hitam,
masih dilindungi dengan topeng baja......!
Ah .......
Pada saat, ujung pedangku gagal, mereka cepat
menabas dengan pedangnya yang sudah kutung. Cepat2
akupun gunakan jurus Burung-rajawali-merentang-sayap,
melambung keudara. Tetapi pada saat aku sedang
berada di udara, tiba2 terdengar engkau menangis dari
dalam ruangan! Karena perhatianku terpencar, pedang
mereka berhasil memapas kutung kedua kaki dan
tanganku ........... ! Karena dadanya penuh sesak dilanda
luapan kemarahan, Gak Lui sampai tak dapat mengucap
apa2. Dengan wajah mengerut kenangan waktu lampau
yang celaka itu, Pedang Laknat Ji Ki-tek melanjutkan
ceritanya lagi.
Melihat aku rubuh ditanah, ketiga orang bertopeng
besi itu tak mau menyerang lagi. Tetapi orang yang
16

melihat dari pinggir gelanggang tadi rupanya takut kalau


aku belum mati. la bergegas lari menghampiri dan
secepat kilat menusuk tenggorokanku. Tetapi pada saat
ujung pedangnya berkilat ditingpah sinar matahari saat
itu, kulihat ....... kulihat........
Melihat apa....?
Pada ujung pedangnya terdapat guratan huruf
Sepuluh (berbentuk ulang)! Lukisan itu merupakan ciri
khas yang terdapat pada pedang ayahmu
Hai........'' Gak Lui menjerit kaget. Kemudian ia
menyadari, kata2 nya: Jelas lukisan huruf 10 itu, adalah
ciri senjata dari musuh ayah. Gihu suruh aku memapasi
pedang orang karena hendak menyelidiki jejak musuh itu,
bukan?
Dugaanmu tepat .........
Tetapi ternyata aku tak berhasil menemukannya,
kelak aku ........
Justeru untung engkau tak bertemu. Jika ketemu
dengan orang itu .......ah, dosaku makin, besar........!
Gak Lui terkesiap. Mulutnya mengingau seorang diri:
Aku tentu dapat mencarinya ..... aku.......
Lui jangan memutuskan omonganku. Aku masih
belum selesai ber-cerita..... ! Gak Lui tersadar dan
bertanya pula : Pada waktu gihu terluka, bagaimana
dengan pengawal2 orang Yau itu?
Untunglah mereka keburu datang pada saat yang
tepat. Dengan alat2 supit panah beracun, mereka
memaksa kawanan orang berkerudung itu mundur.
Tetapi orang yang hendak membunuh aku itu terlambat
menjaga diri. Sebatang panah beracun dari orang Yau
berhasil mengenai ujung hidungnya!
17

Mati ?
Orang itu tangkas sekali. Cepat ia memapas
hidungnya sendiri karena tahu. bahwa panah orang Yau
itu beracun. Habis itu iapun segera meloloskan diril
Si Hidung Gerumpung! Topeng Besi! Hmm......,
mereka tak mungkin lolos! Gak Lui menghela na-pas.
Gihu tadi mengatakan, kata Gak Lui pula bahwa
ketiga orang bertopeng besi itu masing2 berasal dari
partai persilatan besar. Dari partai manakah mereka itu
sesungguhnya? Pedang Laknat Ji Ki-tek terkesiap. la
gelenglcan kepala : Pokok asal partai pesilatan yang
ternama dalam ilmu pedang, tak perlu menyebutkan
namanya ......!
Me .......mengapa ?
Setelah merenungkan selama 18 tahun, kuyakin
pembunuh yang sebenarnya adalah si Hidung
Gerumpung itu. Tentang ketiga orang bertopeng besi itu,
masih belum, dapat dipastikan.
Artinya.... ?
Karena begitu melihat aku rubuh ditanah, mereka
berhenti menyerang. Hal itu memang mengherankan
Tak ada hal yang patut diherankan, Pendek kata
mereka adalah gerombolan mariusia2 murtad, harus
dilenyapkan ....... !
Belum tentu....! Jika manusia murtad, masakan
mereka tak sampai hati membunuh aku.... Hanya
bagaimana persoalan yang sesungguhnya memang aku
belum dapat menilai ........!
Gak Lui berduka sekali hatinya. Ia mengeratkan gigi
sekeras- kerasnya: Ayah, ibu ...... bibi guru, paman guru,
18

engkoh Ci ........aku bersumpah hendak menuntut balas


pada manusia yang telah menganiayamu itu .........
Terkesiaplah Pedamg Laknat Ji Ki-tek mendengar
sumpah yang diikrarkan Gak Lui. Dari sepasang matanya
memancarlah sinar dendam yang ganas. Tiba2 halilintar
meletus dahsyat. Gedung seolah-olah tergetar.
Lui..!, habislah ceritaku. Engkau harus meluluskan
syaratku kata orangtua itu.
Silahkan gihu
melaksanakannya!

mengatakan,

aku

tentu

akan

Bagus, itulah baru seorang anak yang baik puji Ji


Ki-tek, sekalipun kepandaianmu masih kurang tetapi
diwilayah Yausan sini engkau, sudah tergolong tokoh
nomor satu. Setelah aku mati, warisilah kedudukanku
disini. Jangan engkau turun gunung selama-lamanya,
agar kelak engkau dapat menurunkan anak penyambung
keluargamu!
Ini...., ini..... hampir2 Gak Lui tak percaya apa yang
didengarnya dari mulut orangtua itu, Ini ... tak dapat
kulaksanakan, aku harus pergi
Pedang Laknat membentak marah: Tidak......!
Dengan kepandaian yang engkau miliki saat ini, berarti
hendak bunuh diri jika engkau mau cari musuh itu pula
kedua orangtuamu, bibi dan paman gurumu, belum tentu
sudah meninggal tetapi hanya menyembunyikan diri dari
kejaran musuh itu. Engkau...... engkau perlu apa ........
Gak Lui cepat memeluk ayah-angkatnya itu. Dengan
berlinang- linang airmatanya ia berseru : Janganlah gihu
membohongi aku. Ketahuilah, Gak Lui tak takut mati ......!

Tidak ....! Aku tak mengidinkan engkau menempuh


19

bahaya lagi.....!
Aku takkan menyebut-nyebut asal usulku, dan tetap
menggunakan kerudung muka. Dengan mengandalkan
sebatang pedang .........
Ilmu pedangmu adalah ajaranku. Musuh tentu akan
mengenalinya ......!
Gihu, selamanya aku tak pernah melanggar
peintahmu. Tetapi kali ini, aku hendak mengambil
keputusan sendiri......., tiba2 ia tak dapat melanjutkan
kata-katanya karena saat situ tiba-tiba ayah angkatnya
muntah darah dan darahnya menyembur kemukanya.
Maka Gak Lui basah kuyup dengan darah segar .......
Karena menahan kemarahanlah maka Pedang Laknat
sampai menghambur darah lagi. la tundukkan kepala,
napas terengah- engah, serunya : Engkau ... bersikeras
hendak........pergi?
Aku hendak membalaskan sakit hati orang tuaku !
seru Gak Lui dengan tandas. Tahu bahwa takkan
berhasil jika mencegah kehendak anak itu. Pedang
Laknat Ji Ki-tek paksalkan diri mengangkat kepala. Lalu
berkata dengan terengah-engah : Kalau begitu ...
pergilah....... lebih dulu .... ke ......
Kemana? teriak Gak Lui.
Butong-san ..... mencari .......mencari ......
Mencari siapa ?
Mencari ....... ketuanya ..... Ji Ih totiang ..... tanya ....
tanyakan ..... ,
Tanya apa......? Tiba2 kepala Pedang Laknat Ji Kitek terkulai. Dari ketujuh lubang inderanya, mengalir
darah. Orangtua itu sudah meninggal dalam
cengkeraman dendam penasaran ........!
20

Gak Lui lepaskan pelukannya dan duduk numprah


ditanah.
Kedua
matanya
terlongong-longong
memandang kehampaan. Mulutnya terkancing rapat. Dia
tak menangis, tak menyerang. la rasakan sekeliling
penjuru alam ini hampa, kosong melompong....
Entah berselang berapa lama, tiba2 dipelupuk
matanya terlintas beberapa sosok tubuh orang ...... ayah
angkatnya
....
suhengnya
yang
mati
secara
mengenaskan itu ....... ayah-bundanya yang tak ketahuan
rimbanya .... dan bibi guru serta paman gurunya .........
Wajah mereka kelihatan samar2 berlumuran darah yang
mengerikan. Darah ....! Seketika terjagalah Gak Lui dari
lamunan duka- nestapanya.
SIAPAKAH geragan si Hidung Gerumpung?
Mengapa mereka mencelakai Catur Pedang, atau empat
jago pedang dari Busan. Dan mengapa pula menawan
beberapa tokoh partai persilatan? Dan siapakah pula
gerombolan Topeng Besi itu? Apakah mereka murid2
murtad dari partainya atau memang sudah dikuasai oleh
si Hidung Gerumpung itu ......... ? Demikian pikiran Gak
Lui melalu-lalang dugaan dan tafsiran.
Benaknya melamun dan melayang jauh .............!
Tiba2 dalam lamunan itu, muncullah tiga orang
bertopeng besi. Mereka tertawa dingin macam iblis
menyeringai ........... Pada lain saat, terbayanglah sebuah
wajah yang aneh menyeramkan. Dibagian - tengah dari
wajah orang itu, berlubang besar sehingga tak ada
hidungnya.
Heh....,
mengekeh.

heh......orang

gerumpung

tertawa

Sedang Catur Pedang dari Busan saja, dapat


kubasmi apalagi bocah kemarin sore seperti macammu.
21

Engkau hendak mengantar jiwa bukan? Ha... ha... ha ..


ha....!
Gak Lui marah sekali. Dengan sekuat tenaga ia
meraung: Kubunuh engkau.......! Tring ... ia mencabut
pedang dan disabetkan pada orang gerumpung itu.
Tetapi astaga! Orang gerumpung itu menghilang, dan
iapun hanya menebas angin saja. Seketika ia tersadar
bahwa saat itu dirinya sedang berdiri didepan makam
ayah angkatnya, Pedang Laknat Ji Ki-tek.
Ternyata karena tak kuat menahan luapan marah dan
kesedihan, Gak Lui jatuh pingsan. Selagi ia masih belum
sadar, orang2 Yau itu segera mengubur jenazah Pedang
Laknat. Dan saat itu, Gak Lui sedang berdiri
menyembahyangi makam ayah angkatnya. Tetapi karena
teringat akan peristiwa sakit hati seperti yang diceritakan
ayah-angkatnya, kembali benak Gak Lui terkenang dan
terbenam dalam lamunan seperti diatas.
Ah......., ia mengerang ketika tersadar akan
keadaan disekelilingnya. Yang hendak dibunuhnya tadi
adalah tokoh gerumpung menurut ciptaan khayalannya
belaka.
Seorang wakil orang Yau maju menghampiri, ujarnya:
Sekarang engkau meniadi Malaekat pelindung suku
Yau, harap lekas .......... ........
Gak Lui menyimpan pedangnya lalu menyahut dalam
bahasa Yau : Terima kasih atas budi dan kecintaan
kalian, tetapi aku harus pergi ke Tiong-goan !
Apakah bisa balik kembali kemari ?
Setelah berhasil, sudah tentu aku akan kembali lagi
......
Gak Lui tak dapat melanjutkan kata2nya karena
22

seluruh suku Yau yang hadir di muka makam Pedang


Laknat, serentak berlutut memberi hormat kepada anak
muda yang diangkatnya sebagai Malaekat Pelindung itu.
Kemudian dengan kata2 yang tandas, Gak Lui berdoa
dihadapan nisan Pedang Laknat :
Gak Lui hendak mohon diri. Aku berjanji pasti dapat
mencari ilmu kesaktian yang tiada tandingannya didunia.
Dengan ilmu kepandaian itu aku akan menuntut balas
kepada musuh kita. Setelah itu aku akan kembali lagi
kesini dan akan membuka kedok mukaku ini dihadapan
nisan gihu. Harap gihu mengasoh dengan tenang di alam
baka........
---oo0oo--Badai Prahara sudah reda tetapi langit masih,
tertutup awan hitam........ rembulan dan bintang tak
tampak sama sekali. Dibawah sinar api obor, tampak
berpuluh-puluh orang Yau meninggalkan makam Pedang
Laknat. Setelah menunaikan hormat mereka yang
terakhir kepada Malaekat Pelindungnya, merekapun
berbondong-bondong masuk kedalam hutan. Gak Luipun
pergi dengan membekal dendam penasaran. Dengan
sebilah pedang, ia hendak berkelana mencari guru sakti.
Mungkin dalam perkelanaannya itu ia akan mengikat
lebih banyak musuh dan lebih besar lagi dendamnya.
Namun baginya, tujuan hidup hanyalah hendak
membalas sakit hati terhadap musuh yang telah
membunuh ayah-bunda, suheng dan ayah angkatnya itu
...........
la arahkan langkahnya menuju kegunung Busan
untuk menemui ketua Bu-tong-pay. Selama dalam
perjalanan itu tak pernah ia berhenti merenung dan
23

memikirkan, apa tujuan ayah-angkatnya itu menyuruh dia


menemui ketua Bu-tong-pay. Dan hal apakah yang harus
ditanyakan pada ketua partai itu nanti ?
Mungkin disuruh menanyakan tentang jejak ayahku,
mungkin tentang siapa2 murid Bu-tongpay yang lenyap
...... demikian ia menimang dan menduga- duga
kelanjutan kata2 yang belum sempat diucapkan oleh
Pedang Laknat karena sudah keburu menghembuskan
napas.
Ah....., percuma menduga-duga. Nanti saja kalau
sudah bertemu dengan Ji Ih totiang, baru bilang ......
akhirnya ia menetapkan rencananya.
Sekonyong-konyong, terdengar suara bentakan yang
njaring melengking: Berhenti! Disini tempat terlarang
bagi setiap pengunjung.
Gak Lui berhenti. Memandang kemuka, barulah ia
menyadari bahwa saat itu ia sedang berhadapan dengan
sebuah sumber air yang mengalir dari suatu gundukan
karang yang tinggi. Pada dinding karang raksasa itu
terdapat tulisan tiga huruf Ciat- kiam-coan atau sumber
air Pelecut Pedang.
Seorang imam muda berumur lebih kurang 20-an
tahun, tegak berdiri disamping sebuah batu. Dengan
menghunus pedang, imam muda itu memandang Gak Lui
tajam2. Aku bernama Gak Lui, sengaja datang
mengunjungi gunung ini. Aku bukan seorang pelancong,
Gak Lui memberi keterangan. Imam muda itu
memperkenalkan diri sebagai imam Lian Ti. Kemudian ia
menanyakan siapakah yang hendak dicari Gak Lui.
Ketua Bu-tong-pay ..........
Ah ......... imam muda itu memandang kearah kedok
24

muka aneh yang menutupi wajah Gak Lui, lalu menegas:


Apakah saudara sudah kenal dengan ketua kami?
Belum kenal, sahut Gak Lui, seorang cian-pwe
yang menyuruh aku kemari.
Mohon tanya, siapakah guru saudara?
Maaf tak dapat kuberitahukan.
Dari partai persilatan mana saudara berasal?
ini ...... ini juga maafkan sajalah, Gak Lui agak
tersekat-sekat.
Ada keperluan apakah saudara hendak menemui
kutua kami? tanya imam itu pula. Ah, maaf, tak leluasa
kukatakan.
Kumohon
suhu
suka
melaporkan
kedatanganku ini kepada Ji Ih totiang.........
Heh...., heh......! imam muda itu tertawa dingin
sehingga ucapan Gak Lui terputus, Mengapa suhu
tertawa? tegur pemuda itu.
Kakek guru Ji lh totiang sudah menutup mata
belasan tahun berselang, tak kira saat ini masih ada
orang yang hendak mencarinya!
Gak Lui terbeliak. Kini baru ia menyadari bahwa
karena ayah angkatnya sudah lama tak campur urusan
dunia persilatan, maka akibatnya sekarang ia
ditertawakan orang.
Kalau begitu aku hendak minta bertemu dengan
ketua yang sekarang, kata Gak Lui akhirnya. Bukan
menjawab, kebalikannya imam muda itu malah balas
bertanya: Saudara ini dari aliran Ceng-pay (putih) atau
Sia-pay (hitam) atau mungkin baru saja keluar dari
perguruan sehingga tak mengerti peraturan
Gak Lui tertegun. Beberapa saat kemudian baru ia
25

berkata: Apakah arti ucapan suhu itu?


Perguruan kami Bu-tong-pay, sejak kakek guru
menutup mata, sampai sekarang sudah 15 tahun
menutup pintu tak berhubungan dengan dunia persilatan
lagi. Ketua yang sekarang, Ceng Ki Totiang masih
menjalankan aturan menutup pintu tak berhubungan
dengan dunia persilatan lagi, dan tentu kami akan
melaksanakannya, kecuali ada perubahan untuk
menghapus aturan tersebut.
Demikian imam Lian Ti menjelaskan kepada Gak Lui,
dan dia mengajukan pertanyaannya pada Gak Lui,
katanya : Sebenarnya tugas apa yang sedang sicu
kerjakan, sampai harus sicu mencari Ketua kami ......?
Gak Lui menjadi menjelaskan, bahwa dia mendapat
tugas seorang cianpwee untuk mengambil potongan2
ujung pedang dari tokoh2 ahli pedang di dunia persilatan
.............. baru sampai Gak Lui menjawab .... dia sadar
telah kelepasan omong ......... karena sebelumnya dia
tidak
memberi
penjelasan
mengenai
maksud
kedatangannya ke Butong-pay, selain ingin bertemu
dengan Ketua-nya saja.
Mendengar sepotong penjelasan Gak Lui saja, telah
membuat para penjaga disitu, terbeliak dan cepat
merobah kedudukannya, mengepung anakmuda itu. Dan
pada saat itu barulah terdengar imam Lian Ti berseru
dengan nada penuh keheranan: Si Pemangkas Pedang
yang menggemparkan dunia persilatan itu........ apakah
engkau?
Tak salah! sahut Gak Lui dengan terus terang, Hwat
Lui tojin dari perguruan sini, tentu masih ingat.
Oh....., kiranya paman guru Hwat Li juga ........ baru
imam Lian Ti berkata sampai disitu, tiba2 dari atas
26

puncak gunung terdengar genta ber-talu2 dengan keras.


Lian Ti dan kawan2nya serentak berobah pucat
wajahnya. Rupanya diatas gunung telah terjadi peristiwa
yang genting. Kesempatan itu digunakan Gak Lui untuk
menganjurkan: Dari pada mencegat aku, apakah tidak
sebaiknya suhu melapor kepada ketua!
Lian Ti' merenung sejenak lalu menjawab: Baik,
tunggulah disini Habis berkata ia terus lari keatas.
Sedang ketujuh kawannya masih tetap mengepung Gak
Lui. Gak Luipun menurut. Saat menunggu Gak Lui itu
diam2 : menimang-nimang bagaimana nanti ucapannya
apabila berhadapan dengan ketua Bu- tong- pay
Tak lama tampak beberapa sosok bayangan
berlarian turun dari puncak..... Yang paling depan,
seorang imam berwajah bundar, mulut lebar, memelihara
jenggot panjang. Dia bukan lain tokoh Bu-tong-pay
angkatan kedua yani imam Hwat Lui. Karena pernah
bertempur dan pedangnya terpangkas, kutung oleh Gak
Lui, begitu berhadapan dengan pemuda itu, Hwat Lui
terperanjat sekali. Hwat Lui segera membisiki imam
muda Lian Ti dan kawan- kawannya yang menjaga di
sumber air situ. Setelah Lian Ti dan ketujuh imam pergi,
barulah imam Hwat Lui berkata kepada Gak Lui dengan
nada tegang: Ah, kiranya engkaulah yang bernama Gak
Lui. Tempo hari, engkau pergi keliwat cepat
Soal memangkas pedang, ada sebab lain. Adakah
suhu masih mengingat hal itu? sahut Gak Lui. Hwat Lui
tojin terpaksa tertawa: Karena engkau datang kemari,
maka engkaupun. menjadi tetamu kami. Soal
memangkas pedang itu, baik jangan diungkit dulu !
Oh ..... karena tak mengira bahwa peristiwa diterima
dengan mudah dan cepat oleh Hwat Lui, Gak Luipun
mendesus kaget, ia menegas pula : Apakah suhu benar27

benar sudi merima aku?


Tadi dari sanggar pertapaannya, ketua telah
mengeluarkan perintah : Butong- san akan menghapus
tindakan Menutup pintu. Maka aku turun kemari untuk
menyambut kedatanganmu! Gak Lui makin terkejut,
serunya: Dengan begitu, dapatlah aku menghadap
ketua Ceng Ki totiang?
Ketua hanya memberi perintah membuka larangan
datang ke gunung. Yang akan menerima engkau adalah
imam yang berpangkat Hou-hwat!
Siapakah suhu itu? tanya Gak Lui.
Adik seperguruan dari ketua, yalah Ceng Suan
totiang. Beliaulah yang mengurus segala pekerjaan
digunung ini!
Sejenak
merenung,
Gak
Lui
menyatakan
persetujuannya dan minta segera, dibawa keatas. Imam
Hwat Lui segera mengajaknya naik kepuncak. Tak
berapa lama, tampak beberapa gunduk bangunan. Yang
paling tengah, adalah sebuah bangunan yang dinamakan
Sam-hong-tian, yaitu sebuah gedung besar yang luas
untuk latihan silat. Kira-kira seratus tombak jauhnya
disebelah kiri gedung latihan silat itu, terdapat gedung
Hian bu-gek. Sebuah tempat yang penting juga.
Saat itu diluar gedung Sam-hong-tian, tampak
berbaris berpuluh- puluh murid Bu-tong-pay. Sikap
mereka seolah-olah seperti, sedang menunggu serbuan
musuh yang kuat!
Yang berdiri ditengah, seorang imam tua berumur 60an tahun. Kepala dan lehernya besar, wajah memancar
kewibawaan. Dia adalah Ceng Suan totiang, imam yang
menjabat sebagai Hou-hwat atau Pelindung Gereja dari
28

Bu-tong-san. Dibelakang terdapat dua imam yang lebih


muda yani Hwat Tian dan Hwat Ting, Keduanya
sederajat dengan Hwat Lui totiang, yalah termasuk murid
angkatan kedua dari Bu-tong-pay.
Melihat dirinya disambut oleh tokoh2 Butong-pay
yang sakti, mau tak mau Gak Lui gentar juga hatinya.
Setelah Hwat Lui totiang memperkenalkan pemuda itu
kepada paman gurunya, Ceng Suan totiangpun berkata :
Kudengar Gak sicu menggemparkan dunia persilatan
atas tindakan sicu memangkas ujung pedang, setiap
lawan. Dengan maksud apakah sicu berkunjung kemari?
Ah, kabar itu terlalu dibesar-besarkan. Tentang
persoalan memangkas ujung pedang, memang ada
sebabnya, jawab Gak Lui.
Soal itu nanti saja sicu boleh menerangkan lagi,
yang penting harap sicu suka mengatakan maksud
kedatangan sicu ini, kata Ceng Suan. Sicu adalah
sebutan yang diucapkan oleh kaum paderi atau imam
kepada tetamu atau orang luar.
Kedatanganku ini adalah melaksanakan petunjuk
dari seorang cianpwe untuk meminta petunjuk tentang
beberapa soal.
Silahkan ! Diam2 Gak Lui menimang.
Jika langsung menanyakan tentang peristiwa yang
menimpa ayahnya, ia kuatir akan menimbulkan
kehebohan. Lebih baik ia bertanya dulu tentang urusan
dalam perguruan Bu-tong-pay.
Mohon tanya, totiang. Siapakah tokoh partai totiang
yang telah lenyap pada 20 tahun yang lalu? Adakah
sudah diketahui beritanya? Gak Lui mulai mengajukan
pertanyaan.
29

Mendengar itu seketika menggigillah tubuh Ceng


Suan totiang. Serentak ia memerintahkan para
anakmurid menyingkir. Setelah rombongan murid Butong-pay ini mundur sampai 10 tombak jauhnya, Ceng
Suan totiang segera menatap Gak Lui lekat2. Seolaholah imam tua itu hendak menyelami isi hati Gak Lui.
Tetapi muka Gak Lui tertutup oleh topeng warna hitam
yang berbentuk aneh. Pada bagian mulut diberi lubang
empat pesegi. Waktu bicara gigi Gak Lui dapat terlihat.
Sedang pada bagian mata, pun diberi lubang. Dari kedua
lubang mata itu tampak biji mata sianak muda berkilatkilat memancarkan sinar tajam sekali.
Beberapa saat kemudian barulah penjabat ketua
partai Bu-tong- pay itu berkata dengan nada serius :
Harap sicu suka mengatakan perguruan sicu lebih dulu
baru nanti dapat kupertimbangkan, dapat memberi
jawaban atau ti dak !
Ini .... maafkan. Benar2
memberitahukan ! sahut Gak Lui.

aku

tak

dapat

Apakah engkau dapat membuka kedokmu ?


Akupun sudah melakukan sumpah sehingga tak
dapat membukanya.
Wajah Ceng Suan totiang menampil ketidak puasan.
Serunya dingin : Karena sicu menolak permintaanku
untuk memberitahu asal perguruan sicu, bagaimana sicu
meminta aku supaya menjawab pertanyaan sicu tadi ?
Tetapi totiang tentu luas pengalaman. Dapat
membedakan antara orang jahat dengan orang baik.
Dunia persilatan penuh beraneka ragam kejahatan
dan kelicikan. Apalagi hati orang sukar diduga. Dan
mengingat umurmu baru diantara 20an tahun tetapi
30

menanyakan tentang peristiwa yang telah terjadi pada 20


tahun berselang, makin menimbulkan kecurigaan orang !
Demi menyelidiki peristiwa yang aneh itu, terpaksa
aku harus membicarakan peristiwa yang lampau !
Jawaban Gak Lui itu membuat Ceng Suan totiang
berkilat-kilat matanya. Secepat kilat mengarahkan
pandangan matanya ke mata Gak Lui. Ia berkata : Baik,
dengarkan !
Silahkan.
Yang lenyap itu adalah suteku, sampai sekarang
belum ada beritanya !
Ah......, rupanya totiang bertiga adalah Tiga
Serangkai dari Butong pada masa itu ! seru Gak Lui.
Benar, tetapi gelar itu kini sudah tak berguna lagi.
Gak Lui mengangguk. Wajahnya agak kecewa. Tetapi ia
berlaku setenang mungkin sehingga Ceng Suan totiang
merasa heran. Oleh karena sesungguhnya dengan
keterangan tadi ia hendak menyelidiki reaksi anak muda
itu. Dari reaksi itu dapatlah ia menentukan golongan
Putih atau Hitamkah pemuda itu. Sejenak kerutkan alis,
imam tua itu bertanya : Apakah sicu masih ada lain
pertanyaan lagi ?
Aku mohon bertemu muka dengan ketua partai Butong-san, kata Gak Lui.
Suheng masih menjalankan pertapaan, tak dapat
menerima tetamu !
Jika aku tetap minta bertemu?
Seketika marahlah imam dari Bu-tong-san itu. Tetapi
ia menahan kemarahannya dan berkata : Akulah yang
menjabat pimpinan perguruan. Suheng tak mau
mengurus apa2 lagi. Disamping itu, akupun juga ingin
31

mengajukan pertanyaan, harap sicu suka menjawab !


Silahkan totiang bertanya. Apakah hubungan sicu
dengan tokoh yang bergelar si Raja Persilatan itu?
RAJA PERSILATAN ........... ? Ah........, tak pernah
kudengar nama itu. Yang kuketahui hanya seorang tokoh
bergelar Maharaja Persilatan Li Liong-ci .....
Ceng Suan totiang terkesiap, serunya: Apakah sicu
mempunyai hubungan dengan Maharaja itu?
Tidak....! Hanya mendengar namanya saja
Sikap Ceng Suan totiang berobah tenang kembali
lalu bertanya pula: Kalau sicu tak tahu tentang Maharaja
Persilatan, tentulah sicu juga tak mengetahui tentang
peristiwa pembunuhan atas diri tokoh-tokoh persilatan
yang telah menerima Amanat Maut!
Gak Lui terbeliak. Serentak ia bertanya: Peristiwa itu
benar2 aku tak tahu. Pertanyaan totiang sungguh janggal
bagiku
Maharaja Persilatan, Amanat Maut dan peristiwa
engkau memapasi pedang lawan, terjadi pada waktu
yang bersamaan. Dengan keterangan tadi, kiranya
engkau tentu dapat menarik kesimpulan sendiri !
Gak Lui memekik kaget. Diam2 ia merasa, sepak
terjang Maharaja Persilatan dengan urusan dendam
pembalasan yang hendak dilaksanakan itu, mempunyai
tali hubungan.
Melihat Gak Lui terkejut, Ceng Suan totiang
mendesak Iagi: Lekas terangkan, bagaimana hubungan
yang sebenarnya!
Gak Lui balas memandang tajam, sahutnya : Ketika
tempo hari mengutungi pedang orang, aku sangat
32

terburu-buru sekali sehingga tak sempat menyelidiki hal


itu. Aku sendiripun curiga terhadap Maharaja dan
Amanat Maut. Harap totiang suka maklum persoalannya
!
Apakah engkau minta aku supaya menerangkan ?
Benar ! Ceng Suan totiang sejenak merenung, lalu
berkata: Baiklah ! Tapi ada beberapa hal yang perlu
kukatakan lebih dulu.
Silahkan.
Nanti aku hendak menguji ilmu kepandaianmu,
barang beberapa jurus saja!
Itukah syarat totiang?
Entah apa namanya, tetapi yang penting agar
engkau jangan menganggap remeh pada partai Bu-tongpay!
Baiklah, aku sedia menuruti, harap totiang suka
menerangkan asal usul si Maharaja itu!
Siapa namanya tak jelas, begitupun tak seorang
yang pernah melihatnya!
Seorangpun tak ada?, Gak Lui menegas.
Mungkin hanya tokoh2 sudah mati dibunuhnya,
itulah yang pernah melihatnya. Tetapi yang masih hidup,
tak pernah ada yang melihatnya !.
Siapa2 saja yang dibunuhnya itu?
Semuanya dari tokoh golongan Putih, dan mereka
dibunuh bersama seluruh anggota keluarganya!
Bagaimana dengan Amanat Maut itu ?
Orang itu kejam dan ganas sekali, serta luar biasa
33

congkaknya. Selain menamakan dirinya sebagai


Maharaja
Persilatan,
pun
dalam
surat
yang
dikeluarkannya itu, dia tak mau menggunakan istilah
persilatan atau maklumat tetapi menggunakan istilah
amanat. Barangsiapa yang menerima dan tak mau
menyerah tentu akan dibasmi bersama seluruh
keluarganya !
Adakah tokoh2 yang menerima-surat itu, tiada ada
yang menyerah ?
Sudah tentu, ada, tetapi sukar diketahui siapa
Dengan begitu, surat itu merupakan ancaman yang
menyerah, tetap hidup, dan yang menentang pasti mati!
Benar! sahut imam tua itu lalu tertawa mengekeh,
penuh hamburan nada kemarahan.
Mengapa totiang tertawa ?
Tiba2 Ceng Suan totiang hentikan tawanya,
wajahnya membeku dingin, ujarnya: Aku mentertawakan
ucapanmu itu. Sepatahpun tak salah .......!
Harap totiang suka bicara dengan terus terang. Pada
Amanat Maut itu, selain bertanda tangan Maharaja
Persilatan, hanya terdapat 8 huruf berbunyi 'Yang
menyerah, pasti hidup. Yang menentang pasti...... mati !'
Oh......!, totiang mencurigai aku .............
Yang menimbulkan kecurigaan, bukan hanya itu
saja. Hunuslah pedangmu! seru Ceng Suan totiang.
Melihat imam itu berkeras mencurigai dirinya, Gak Lui tak
dapat berbuat apa2 lagi. Sambil meraba tangkai
pedangnya, ia memandang kesekeling penjuru.
Berpuluh-puluh murid Bu-tong-pay masih tegak berjajar
pada jarak jauh. Mereka jelas belum menerima perintah
membubarkan diri. Diam2 Gak Luipun mengadakan
34

penilaian. Bahwa ia masih cukup kuat untuk menghadapi


penjabat ketua Butong-Pay itu.
Ruang Hian-bu-khek yang tinggi hampir sama
dengan bangunan tiga tingkat, tampak sepi2 saja.
Sebaliknya diruang Sam-hong-tian tampak berserabutan
beberapa sosok tubuh.
Awas, pedang? seru Gak Lui berseru Iantang dan
menusuk kedada Ceng Suan totiang. Ceng Suan
mendengus pelahan. Iapun balas menusuk. Diam2 Gak
Lui girang. Segera ia taburkan pedang membentuk
lingkaran sinar dan secepat kilat membabat pedang
lawan, tring......, tring ....... Namun Sudah 10 lingkaran
sinar pedang telah dihamburkan, lawan tetap masih utuh
pedangnya. Ternyata tetua Bu-tong-pay itupun juga
mememutar pedang jadi lingkaran sinar jang
mengandung pancaran tenaga-dalam bagai banjir
melanda.
Diam2 Gak Lui terkejut. Ia menyadari bahwa dengan
cara bertempur itu, bukan saja ia pasti tak dapat
memangkas kutung senjata lawan, tetapi pun
kebalikannya, pedangnyalah yang akan terbabat jatuh !
Sekonyong-konyong Gak Lui endakan pedang lalu
berganti gerak, tahu2 ia berputar dan menyurut mundur.
Tring ...... terdengar dering senjata pedang beradu keras,
tetapi tahu2 Gak Lui sudah mundur keluar jendela. Ceng
Suan loncat mengejar. Ujung pedang dibabatkan
kebawah mengarah kaki. Tetapi Gak Lui pun bukan
makanan empuk. Ia menarik pulang pedangnya, lalu
enjot tubuh melambung ke udara. Tabasannya luput,
Ceng Suan totiang mendengus. Kemudian ia robah
gerakan
pedangnya
dalam
jurus
Menurut-airmendayung-rakit. Ujung pedangnya kembali mengarah
telapak kaki pemuda itu. Tetapi dalam melambung di
35

udara itu, punggung Gak Lui seolah- olah tumbuh


matanya.
Tring ........ ia tangkiskan pedangnya. Dengan
meminjam tenaga benturan pedang itu, ia melayang
turun tiga tombak jauhnya lalu tegak berdiri bersiap.
Dalam waktu sekejab mata, keduanya saling
melancarkan serangan. Dan kedua-duanya sama
terperanjat ! Gak Lui gunakan jurus istimewa untuk
memangkas pedang lawan. Ia yakin tentu berhasi! Tetapi
ternyata imam itu dapat menghalau dengan lancar.
Sedangkan Ceng Suan pun tak kurang kejutnya. Dengan
peyakinan tenaga-dalam selama berpuluh tahun dan
sudah bersiap, lebih setelah menerima laporan dari Hwat
Lui, namun ternyata lawan yang masih muda belia itu
sanggup menghahadapi tak kurang suatu apa! Kemudian
mereka melanjutkan pertempuran lagi.
Ceng Suan totiang mengeluarkan ilmu simpanan dari
partai Bu- tong-pay. Ia, menyerang dulu, mendahului
gerakan lawan. Pedangnya segera berobah menjadi
dinding sinar pedang yang menelungkupi lawan. Sasaran
utama diarahkan kemuka pemuda itu. Gak Lui tak berani
lengah. Dengan mengeluarkan seluruh kepandaian, ia
melawan mati2an. Pada saat dua lingkaran pedang itu
saling...... bertaut dengan seru disertai dering
gemerincing yang nyaring, tiba2 Ceng Suan mendapat
kesempatan untuk menusukkan ujung pedangnya.
Cret........!, dagu Gak Lui tertusuk .... Pemuda itu
terhuyung-huyung lima langkah. Peluh dingin membasahi
tubuhnya: Sambil mengarahkan ujung pedang kemuka,
ketua Bu-tong-pay itu berseru marah: Mata2 Maharaja
yang berani mati, lekas buang senjatamu dan menyerah!
Harap totiang jangan bicara sembarangan.
36

Hm, jelas engkau salah seorang dari gerombolan


Topeng Besi itu. Apakah masih hendak menyangkal? .
Topeng Besi....?! Gak Lui tergetar hatinya. Dia
sendiri juga tak senang dengan sepak terjang tokoh yang
mengagulkan diri sebagai Maharaja Persilatan itu. Tetapi
karena Ceng Suan to-tiang terus memburunya dengan
serangan2 yang dahsyat, terpaksa ia harus melayani
lebih dulu. Kini karena ada kesempatan bicara, segera ia
berseru menjelaskan. Sama sekali aku bukan anggauta
Topeng Besi! Harap totiang jangan salah faham ........
Topengmu itu tak tembus senjata tajam, apakah
artinya itu? seru Ceng Suan totiang.
Dipedalaman gunung terdapat semacam binatang
aneh yang dinamakan Mogh, sejenis oranghutan yang
mempunyai kulit luar biasa kerasnya dan bertenaga kuat
sekali. Topengku ini terbuat, daripada kulit binatang itu
....
Setengah, kurang percaya, Ceng Suan totiang
berkata dengan nada dingin: Tak peduli bagaimana,
engkau tetap kutahan disini?
Tetapi,aku hendak mencari gerombolain Topeng
Besi dan Maharaja untuk membuat perhitungan ! Hm ....
! Ceng Suan mendengus marah dan menyerang lagi.
Karena tak senang terlibat dalam pertempuran di tempat
itu, Gak Lui loncat dan meluncur turun gunung.
Cepat hadanglah! teriak Ceng Suan totiang. Hwat
Lui dan rombongan anakmurid Butong-pay segera
berhamburan menjaga tempat2 yang penting.
Gak Lui terkejut. Sejenak memandang kesekeliling,
matanya yang tajam ...... segera melihat bahwa gedung
Hian-bu-khek itu sepi tiada orangnya. Dibelakang gedung
37

itu merupakan puncak gunung. Ia memutuskan untuk lari


ke puncak itu kemudian turun dari sebelah belakang
lereng gunung. Maka tiga jurus serangan segera
dilancarkan kearah Ceng Suan totiang. Kebetulan
penjabat ketua Bu-tong-pay itu kuatir kalau pedangnya
terpapas kutung, maka ia menghindar kesamping.
Kesempatan itu tak disia-siakan Gak Lui. Secepat kilat ia
menyelinap lari kearah gedung Hian-bu-khek.
Di luar dugaan, Ceng Suan totiang berkaok-kaok
seperti orang kebakaran jenggot : Lekas hadang mata2
itu. Jangan sampai mengganggu ketua .....
Mendengar ketua Bu-tong-pay berada dalam gedung
itu. Gak Lui makin pesatkan larinya. Dengan beberapa
kali loncatan, dia sudah mencapai gedung itu ! Tetapi
disitu beberapa murid Bu-tong-pay sudah berbaris
menghadang dimuka pintu. Mereka segera. menyerang
pemuda itu. Tring....., tring ...... Gak Lui menangkis. Dan
dengan meminjam tenaga benturan pedang, ia ayunkan
tubuh melambung ke tingkat kadua. Ketika Ceng Suan
totiang tiba, Gak Luipun sudah melayang lagi ke tingkat
yang teratas!
Ceng Suan totiang makin gelisah. Karena bingung ia
sampai lupa akan pertahanan diri. Tanpa banyak pikir
lagi, ia terus loncat keatas. Lalu menusuk ujung kaki Gak
Lui. Melihat kesempatan sebagus itu, Gak Lui tak mau
membuang waktu lagi. Dengan gerakan yang indah, ia
berhasil menindih pedang Ceng Suan.
Betapapun saktinya tetapi saat itu Ceng Suan kalah
posisi. Ia sedang melayang ke udara sehingga kakinya
tak mempunyai pinjakan. Sudah tentu ia tak dapat
bertahan akan tekanan Gak Lui dari atas. Tring ........
ujung pedang Ceng Suan terpapas kutung dan Gak
Luipun terus menyusup ke dalam gedung.
38

Tetapi Ceng Suan totiang bukanlah seorang lemah.


Dia adalah penjabat ketua dari Butong-pay yang
termasyhur.

Ditengah udara, ia empos semangat dan bergeliatan


melenting keatas atap serambi. Lalu balikkan tangan
kanan menghantam. Bagaikan air bah melanda, maka
tenaga-murni Hian bun-cin-gi atau tenaga murni menurut
ajaran kaum agama, mengarah kepunggung Gak Lui.
Saat itu Gak Lui belum sempat mendorong pintu. Tahu2
39

ia rasakan punggung dilanda oleh tenaga yang ribuan


kati beratnya, sehingga bernapaspun sukar rasanya.
Cepat ia balikkan tangan kiri untuk menangkis.
Bhum..............! Terdengar letupan keras dan atap dan
berderak-derak berhamburan pecah Huak......... !Gak Lui
menguak. Mulutnya menyembur darah segar dan
tubuhnya - terdampar membentur pintu. Brak........! pintu
hancur berkeping-keping dan pemuda itu terlempar
kedalam ruangan.
Tenaga sakti dari pukulan Ceng Suan totiang bukan
olah2 hebatnya. Tubuh Gak Lui yang sudah membentur
pecah pintu, tetap tak berhenti melainkan masih
terdampar kebawah kolong ranjang kayu ..............
Ruangan itu sunyi senyap. Ketika terlempar kebawah
kolong, samar2 Gak Lui masih melibat diatas ranjang itu
duduk seorang tua berambut putih ! Pada lain saat Ceng
Suanpun menerobos.
Ciang bunjin engkau...., engkau...., co-hwe-jip-mo,
melihat keadaan orang tua berambut putih itu, serentak
Ceng Suan totiang menjerit. Co-hwe-jip-mo adalah istilah
untuk menyebut orang yang telah tersesat dalam
pertapaan, sehingga darahnya meliar dan tubuhnya
rusak. Akibatnya jika orang itu tidak cacad atau lumpuh
pastilah akan gila. Atau kalau parah, urat2 nadinya putus
dan mati seketika!
Airmata Ceng Suan totiang banjir membasahi
mukanya. Matanya memancar api dendam kemarahan
yang menyala-nyala, memandang kekolong ranjang.
Saat itu Gak Lui rasakan tulang belulangnya seperti
pecah. Mata pudar telinga mengiang-ngiang. Untuk
bergerak saja ia merasa tak punya tenaga lagi. Ia hanya
deliki mata memandang apa yang akan dilakukan Ceng
Suan terhadap dirinya nanti.
40

Ceng Suan totiang kalap sekali. Sebelum melangkah


masuk, ia taburkan pedangnya yang kutung kekolong
ranjang. Gak Lui yang sudah tak berdaya, tak dapat
berbuat apa2 kecuali menunggu ajal. Pada saat pedang
maut yang dilontarkan dengan sepenuh tenaga oleh
Ceng Suan hendak merenggut nyawa pemuda itu,
sekonyong-konyong terdengar hembusan angin dari atas
ranjang. Trang .......pedang kutung itu tertampar jatuh
dilautan. Dan menyusul terdengar seruan perlahan:
Ceng Suan sute, jangan mengamukl
Ciang-bun-jin .... , engkau ..... ,
Aku tak apa2, harap engkau menjaga diluar, jangan
diidinkan orang mengganggu disini,
Ceng Suan totiang tak berani membantah. Terpaksa
ia keluar dari ruangan. Kemudian imam tua itu segera
mempersilahkan Gak Lui keluar dari kolong ranjang.
Buru2 Gak Lui mengiakan dan merangkak keluar TETAPI
apa yang dilihatnya saat itu, hampir membuatnya
menjerit ngeri. Ternyata imam berambut putih itu,
wajahnya merah darah menyeramkan sekali. Jelas dia
telah memasuki Co-hwe-jip-mo sehingga demikian
keadaannya! Gak Lui tak enak hati. Buru2 ia memberitahukan namanya seraya memberi hormat:
Tanpa sengaja wanpwe telah keliru memasuki
tempat pemujaan totiang. Jika ada obat yang dapat
menolong totiang, wanpwe tentu akan mencari
kemanapun juga ....
Ketua Bu-tong-pay itu tertawa tawar: Ini memang
sudah takdir! Bukan kesalahanmu dan tiada obatnya lagi.
Engkau sendiri menderita luka parah, biarlah kuobati dulu
kamu!
Sudah tentu Gak Lui tak sampai hati........, Ia
41

menyurut mundur dan


melindungi tubuhnya.

lintangkan

pedang

untuk

Kalau begitu, silahkan duduk dan bicara!


Kiranya cianpwee tentulah Ceng Ki totiang ....... ?
Benar, sahut imam berambut putih itu:dan engkau
tentulah murid dari si Pedang Aneh Ji Kitek !
Ah, mengapa lo-cianpwe dapat mengetahui ?
Adakah lo-cianpwe dapat mengetahui barang yang
belum terjadi?
Dari celah jendela tadi kusaksikan permainan
pedangmu, segera kudapat menduga. Bukankah dua
jurus permainan pedang yang engkau mainkan tadi
disebut jurus Membelah-emas-memotong- permatatanpa-suara' dan Alap2-pentang-sayap-membenci-langit
?'
Benar......! Aku adalah putra angkat dari beliau, si
orangtua itu !
Tetapi aku sedikit sangsi .......!
Dalam hal apa....... ? Gak Lui heran. Jika engkau
benar2 putera-angkat dari Ji Kitek mengapa
kepandaianmu sedemikian rendahnya....!
Merahlah muka Gak Lui. Dergan rawan ia menjawab
: Ayah-angkatku sudah tak punya kaki dan tangan lagi.
Karenanya .... aku tak dapat mempelajari ilmu
kepandaiannya dengan sempurna ........!
Oh...... ! Ceng Ki totiang terkejut dan buru2 bertanya:
mengapa dia sampai mengalami keadaan yang begitu
menyedihkan?
Dengan suara penuh haru-kedukaan, Gak Lui segara
menuturkan tentang perbuatan keempat gerombolan
42

Topeng Besi yang telah menyerang ayah-angkatnya.


Menurut keterangan ayah angkat ku, tiga dari keempat
gerombolan Topeng Besi adalah tokoh2 dari tiga parai
persilatan.
Partai persilatan yang mana? ketua Butong-pay
menyeletuk dengan tubuh menggigil. Beliau..., sampai
pada detik menutup mata belum sempat mengatakan...
Ah..... Pedang Aneh ....dia ....... sudah mati ?
Meninggal belum lama, kata Gak Lui. Wajah Ceng
Ki totiang berdenyut-denyut. Dari mata, hidung, mulut
dan telinga mengucur butir2 darah. Melihat itu hati Gak
Lui makin seperti disayat-sayat. Whur......! mulutnyapun
menghambur darah. Tetapi ia tetap hendak menolong
ketua Bu-tong-pay itu.
Segera ia loncat maju untuk memapah. Ceng Ki
totiang amat berterimakasih. Ia paksakan diri untuk
mengambil sebuah botol kumala dari dalam jubah. Begitu
sumbat dibuka, bau harum segar segera membaur, Ia
menuang sebutir pil untuk ditelannya sendiri lalu
memberikan sebutir yang lain kepada Gak Lui: Lekas,
minumlah untuk mengobati luka-dalam tubuhmu .....
Semula Gak Lui segan tetapi melihat imam itu benar2
bersungguh hati, terpaksa ia menelannya Ah......!,
benarlah. Rasa sakit pada tubuhnya, hilang seketika.
Setelah minum obat, keduanya bersemedhi menyalurkan
tenaga- dalam. Beberapa saat kemudian, Ceng Ki totiang
membuka mulut lebih dulu: Kedatanganmu kemari
tentulah atas perintah ayah- angkatmu. Tetapi apakah
tujuanmu
Beliau menyuruh aku menghadap Ji Ih totiang untuk
menanyakan dua buah hal. Sayang sebelum jelas untuk
menanyakan apa, beliau sudah keburu menutup mata.
43

Ceng Ki totiang kerutkan alis, ujarnya: Belasan tahun


berselang, ayah-angkatmu pernah berkunjung pada
guruku. Saat itu akupun berada disisi suhu. Kudengar
ayah-angkatmu mengatakan hendak menuju kegunung
Yau-san. Sejak pertemuan itu ayah angkatmu tiada
beritanya tagi. Tetapi sebelum menutup mata, guruku
pernah berpesan agar hati2 apabila ada orang dari
Empat Pedang Busan datang berkunjung !
Adakah cianpwe kenal akan Empat Pedang Busan?
Gak Lui berseru gugup.
Yang kukenal hanya ayah-angkatmu Ji Ki Tek itu.
Sedang yang tiga, hanya mendengar nama tetapi tak
pernah muka .....!.
Dan selama ini orang dari Empat Pedang Busan itu
tak pernah datang berkunjung kemari?
Ada seorang bernama Gak Cin-cin datang kemari!
Ah, dia adalah suhengku. Diapun mati dibunuh
gerombolan Topeng Besi dan si Hidung Grumpung....!
Ceng-Ki totiang makin heran. Serunya: Apakah si
Hidung Gerumpung itu yang mengangkat diri sebagai
Maharaja? Dan gerombolan Topeng Besi itu.......apakah
benar tokoh2 dari tiga partai persilatan? Jika benar,
mereka tentulah murid2 murtad partai masing2!
Mungkinkah Ceng Ci totiang juga termasuk salah
seorang tanya Gak Lui.
Ceng Ki totiang menghela napas: Mungkin.......
sejenak kemud;an ia melanjutkan: Karena telah
menguasai tokoh2 sakti persilatan, tentulah kepandaian
dari si Hidung Gerumpung itu sukar diukur tingginya. Jika
benar dia itu si Maharaja, kita tentu tak dapat berbuat
apa2 terhadap keganasannya ......
44

Harap totiang jangan kuatir! Aku mempunyai


dendam sedalam lautan yang harus kubalas!
Cita2 yang luhur seru ketua Bu-tong-pay itu, tetapi
sayang kepandaianmu masih rendah. Sekalipun engkau
berserikat dengan ke-7 partai persilatan, belum tentu
dapat mengalahkan si Hidung Gerumpung itu....!
Kudengar ada seorang tokoh lain yang menyebut
dirinya sebagai Maharaja juga. Kepandaiannya tiada
lawannya: Jika dapat menemukannya.....
Dia menggunakan gelar Raja-di-raja dan sudah lama
mengasingkan diri. Sekalipun mendengar gerombolan
durjana muncul mengganas di dunia persilatan, ia belum
tentu dia mau muncul memberantasnya. Sedang untuk
mencari gerombolan Topeng Besi itu, bukanlah
pekerjaan yang mudah......!
Tetapi tak peduli bagaimanapun juga, aku tetap
mencari ilmu kepandaian sakti. Untuk membalas dendam
dan membasmi gerombolan durjana ini.........
(Keterangan : Untuk dapat membedakan antara dua
tokoh, yang sama2 mengangkat diri dengan gelar
Maharaja Persilatan, maka selanjutnya akan digunakan
dua macam istilah : Maharaja untuk yang seorang, Rajadi-raja yang lain. Dimana sebenarnya Raja- di-raja juga
berarti rajanya raja atau maharaja.)
Tergerak hati Ceng Ki totiang mendengar tekad
pemuda itu. Merenung sejenak ia berkata: Setiap 20
tahun, didunia persilatan tentu muncul seorang bintang
cemerlang. Kurasa kali ini engkaulah bintang yang
diharap-harapkan itu. Maka sebelum mati, ingin aku
memberimu dua buah bingkisan ! Ketua Bu-tong-pay itu
mencabut pedang dipunggungnya. Sebuah pedang yang
bentuknya aneh. Ketika diloloskan, batang pedang
45

memancar sinar berkilau- kemilau memenuhi ruangan.


Mata pedang yang berkilat-kilat tajam, jelas menunjukkan
bahwa pedang itu bukan olah-olah tajam-nya. Hanya
anehnya, panjang pedang itu cuma setengah dari
pedang biasa.
Inilah pedang Pelangi, pedang pusaka partai Butong-pay. Terimalah sebagai bingkisanku, agar kau
memiliki senjata untuk menumpas kawanan durjana itu !
Gak Lui terkejut dan tersipu-sipu menolak : Pusaka
yang
sedemikian
keramat,
aku
tak
berani
menerima.........!
Napas ketua Bu-tong-pay itu memburu keras dan
mendesak menyerahkan pedang : Jika engkau tak mau
menerima, anggaplah aku minta tolong kepadamu
supaya membawa keluar pedang ini dari Bu-tong-san.
Apabila bertemu dengan seorang ahli pembuat pedang
yang pandai, sukalah menyuruhnya membuat pedang itu
supaya menjadi pedang panjang. Setelah itu bolehlah
engkau antarkan kemari lagi. Dengan demikian
terlaksanalah keingnanku yang kuidamkan bertahuntahun........!
Sebenarnya Gak Lui memang menyesal sekali,
karena telah keliru masuk kedalam sanggar pemujaan
ketua Bu-tong pay itu hingga tanpa sengaja dia telah,
merusakkan persemedhian Ceng Ki totiang yang tengah
meyakinkan ilmu kesaktian. Jelaslah, ketua Bu-tong-pay
itu telah menderita Co hwe-jip-mo sehinga keadaanya
gawat sekali. Mendapat kesempatan untuk menebus
dosa, Gak Lui segera menyanggupi permintaan imam tua
itu : Baiklah, lo-cianpwe. Kelak tentu akan kukembalikan
dengan sebatang pedang seperti yang lo-cianpwe pesan
........! Ketua Bu-tong-pay itu, tertawa puas.
46

Jika hendak menuntut ilmu kesaktian yang tiada


tandingannya, haruslah mencari seorang guru yang
benar2 sakti. Kutahu sebuah tempat tetapi berbahaya
........
Lo-cianpwe, aku tak takut bahaya apapun juga......!
seru Gak Lui dengan girang, harap lo-cianpwe segera
mengatakan tempat itu......!
Harap buka jendela belakang itu .........! ka-ta Ceng
Ki totiang. Gak Lui cepat2 loncat untuk membuka jendela
.......... tampak disebelah bawah gedung itu penuh
dengan anakmurid Bu-tong- pay yang siap dengan
senjata masing2. Mereka tegang sekali sikapnva
memandang ketingkat tiga. Memandang kearah lain, Gak
Lui melihat berlapis-lapis puncak gunung tegak berjajarjajar.
Cobalah engkau hitung jajaran puncak gunung yang
ke-7. Dilembah gunung itu terdapat seorang aneh yang
memiliki kepandaian sakti sekali. Walaupun belum
termasuk orang yang tiada tandingannya didunia, tetapi
didunia persilatan jarang terdapat tokoh seperti dia
........!
Gak Lui mengawasi dengan tajam dan dapatlah ia
menemukan puncak gunung ketujuh itu: Sjapakah tokoh
luar biasa itu tanyanya.
Aku pernah adu pukulan satu kali dengan dia. Tetapi
tak tahu namanya. Karena saat itu bukan saja tak sempat
bicara, bahkan tak pernah melihat wajahnya ........!
Bertempur tetapi tak melihat mukanya .....? Gak Lui
mengulang heran...........
Ceng Ki totiang batuk2 beberapa kali, katanya: Lima
belas tahun yang lalu ketika Bu-tong menutup pintu, aku
47

kebetulan meronda sampai kelembah itu, dan melihat


dalam sebuah guha terdapat jejak seorang manusia.
Beberapa kali kuteriaki namun tiada jawaban. Terus
hendak kumasuki tetapi baru mendekati mulut guha, aku
tersedot oleh suatu tenaga-tarik yang kuat. Dengan
sekuat tenaga aku meronta dan berhasil membebaskan
diri. Karenanya .... tak sempat menanyakan namanya ....

Pada saat Gak Lui sedang tegang mendengarkan,


tiba2 suara Ceng Ki totiang berobah lemah, napasnya
terengah
engah.
Buru2
Gak
Lui
berpaling
memandangnya. Dilihatnya kasur tempat duduk ketua
Butong-pay berkubang darah segar. Kejut Gak Lui bukan
alang kepalang. Bergegas-gegas ia lari menghampiri
untuk mengurut jalandarah imam itu. Tetapi Ceng Ki
totiang menolaknya
Aku sudah tak dapat tertolong lagi. Kelak, bila
berhadapan dengan Ceng Ci sute, tak perlu menanyakan
persoalannya ........ Tetapi Gak Lui gugup hendak
memberi pertotongan. Sambil mengiakan ia tetap
lekatkan kedua tangannya kejalan darah imam itu. Tetapi
tenaga dalamnya sendiri juga terbatas. Mengurut
beberapa kali tetap tak ada hasilnya. Karena gugup, ia
berteriak sekeras-kerasnya : Hei...! Ciangbunjin parah
sekali ........... lekas kalian datang menolongnya ..........!
Belum kumandang suaranya sirna, arus anak murid
Bu-tong-pay melanda masuk. Yang dimulai sendiri oleh
Ceng Cuan totiang, penjabat ketua partai, lalu Hwat Lui
dan Hwat Tiam serempak menerobos. Wajah Ceng Suan
totiang tegang dan terlihat seram seperti iblis. Dia terus
langsung menghampiri suhengnya Ceng Ki totiang. Gak
Luipun segera menyingkir. Ceng Suan tak menghiraukan
lain2-nya, yang penting ia harus cepat menolong
48

suhengnya. Dipapahnya tubuh Ceng Ki totiang lalu mulai


menyalurkan tenaga dalam untuk memberi pertongan
.........
Sedang Hwat Lui totiang deliki mata kepada Gak Lui.
Melihat pemuda, itu menyanggul pedang pusaka Butong-pay, tanpa berkata apa2 ia terus menusuk pemuda
itu. Gak Lui terpaksa menghindar. Tetapi Hwat Tiam dan
Hwat Ko yang muncul juga, segera ikut menyerang. Gak
Lui serentak diserang hebat oleh tiga imam Bu-ton-pay!

Gak Lui berturut turut mundur sampai tiga langkah.


49

Kini dia sudah terdesak dipojok tak dapat mundur lagi.


Apa boleh buat. Dan serentak ia mencabut pedang
Pelangi pusaka Bu-tong-pay itu dan sret..., sret..., sret...,
secepat kilat ia membabat pedang ketiga penyerangnya.
Hwat Lui dan kedua imam itu tahu ketajaman pedang
Pelangi. Terpaksa mereka mundur. Dalam kesempatan
itu Gak Lui terus loncat keluat dari jendela tingkat ketiga.
Tangkap pencuri pedang pusaka kita Hwat Lui
cepat berseru nyaring. Dari empat penjuru keliling
gedung Sanggar Pemujaan itu serentak bergemuruh
penyahutan mengiakan.
Pada saat tubuh Gak Lui sedang melayang turun,
disebelah bawah sudah siap menyambut dengan lautan
ujung pedang. Ditengah udara Gak Lui bersuit nyaring.
Pedang Pelangi ditaburkan menjadi lingkaran sinar
pedang yang rapat. Tring..., tring .....terdengar dering
gemerincing nyaring ketika ia menabur ditengah lautan
pedang itu.
Dengan mengandalkan ketajaman pedang pusaka
Pelangi, berhasillah ia membuka jalan. Tetapi pada saat
anakmurid Bu-tong mundur kacau balau, Hwat Lui
bertigapun muncul. Tetapi begitu dapat membobolkan
kepungan, Gak Lui terus menerobos dan lari secepat
kilat. Tujuannya yalah ke-puncak gunung yang ke-7.
Tetapi dengan mati-matian ketiga imam Bu-tong-pay
angkatan Hwat itu tetap mengejarnya. Mereka
menyangka bahwa Gak Lui telah membunuh ketua
mereka dan merebut pedang pusaka partai Bu-tong.
PUNCAK demi puncak dan tujuh buah puncak telah
dilintasi Gak Lui. kini dia berhadapan dengan dinding
karang yang curam dan melandai kebawah dengan amat
berbahaya sekali. Dibawah kaki karang tinggi itu terdapat
sebuah hutan yang gelap menveramkan. Ketika
50

berpaling, tampak Hwat Lui dan rombongan anakmurid


Bu-tong tinggal heberapa tombak dibelakang.
Ketika Gak Lui tertegun beberapa jenak saja, Hwat
Lui bertigapun sudah loncat keudara untuk menyerang.
Desis sambaran pedang ketiga imam itu cepat dapat
diketahui Gak Lui. Segera ia lintangkan kedua
pedangnya, yang satu pedangnya sendiri dan satu
pedang Pelangi, untuk menjepit ketiga pedang lawan.
Saat itu terjadilah adu tenaga. Hwat Lui dan kedua
imam adik seperguruannya dalam posisi meluncur dari
udara. Pedangnya dijepit oleh sepasang pedang Gak Lui.
Memang dalam keadaan terpojok seperti saat itu, tiada
lain jalan bagi, Gak Lui kecuali harus adu kekuatan.
Tetapi ternyata tenaganya masih lemah. Beberapa saat
kemudian ia rasakan kedua lengannya gemetar.
Huak..........mulutnya muntah darah. Ternyata pil
pemberian Ceng Ki totiang tadi, kekuatan ketahanannya
sudah habis. Seketikta pemuda itu kehilangan separoh
tenaganya lagi.
Sudah tentu Hwat Lui bertiga girang sekali. Mereka
tak mau lewatkan kesempatan bagus. Dengan
menambah tenaga-dalam lagi, mereka memberi tekanan
lebih berat. Pedang merekapun mulai pe-lahan2
menurun keatas kepala Gak Lui. Gak Lui kucurkan
keringat dingin. Ia merasa tak kuat lagi. Tetapi tiba2 ia
terkejut mendengar suara bergemerincingan tiga kali.
Ah........, ternyata ketiga pedang dari imam Bu-tong-san
telah terpapas kutung oleh pedang Pelangi !
Adu tenaga dengan pedang itu, walaupun pedang
Hwat Lui bertiga telah kutung, tetapi tenaga kedua belah
fihak masih tetap memancar. Hwat Lui bertiga yang
berada pada posisi menekan dari atas, pedangnya tetap
membelah kebawah. Sedang pedang Gak Lui yang
51

menyanggah. Kuatir kalau akan melukai orang, Gak Lui


buru2 menarik pulang pedang untuk melindungi
dadanya. Tetapi ketiga imam itu benar2 kalap. Lepaskan
pedangnya yang sudah kutung itu, mereka menghantam
dengan tinju. Tinju yang disaluri dengan tenaga-sakti
Man-bun-cin-gi. Dalam keadaan yang terdesak sekali itu,
Gak Lui terpaksa buang tubuh kebelakang, tetapi ah........
ia tak dapat berpijak bumi lagi karena dibelakangnya
adalah sebuah jurang.
Tubuhnya meluncur terus kebawah jurang itu .........
Hwat Lui masih penasaran sekali. Ia hendak loncat
kedalam jurang untuk menyusul pemuda itu. Belum puas
hatinya kalau belum menangkap pemuda itu, mati atau
hidup. Melihat itu, Hwat Tian tojin tergopoh-gopoh
memburu seraya meneriaki : Budak itu tentu hancur
lebur tubuhnya ! Mengapa suheng ........
Tidak.......! Kita harus merebut kembali pedang
pusaka partai yang dicurinya ! Hwat Lui meronta untuk
lepaskan diri cekalan Hwat Tian. Imam Hwat Ko yang
sudah tiba, segera berteriak keras memperingatkan Hwat
Lui : Mengapa suheng lupa bahwa ketua kita telah
mengeluarkan larangan. Siapapun saja tak boleh
sembarangan masuk kedalam lembah ini ......
Hwat Lui gelagapan seperti dijagakan dari tidur. la
tundukkan kepala dan berlinang-linang airmata :
Kuharap ketua masih hidup. Aku hendak rnohon
hukuman kepada beliau !
Pada saat ketiga imam itu kembali kegunung Butong, Gak Lui sedang menjelang maut. Tubuhnya yang
meluncur kebawah jurang itu menelentang menghadap
ke langit. Kedua tangannya masih mencckal, sepasang
pedang. Ia tak dapat berbuat apa2 kecuali pejamkan
mata dan paserah nasib. Tubuhnya belumuran darah;
52

tenaganya lunglai. Apa dayanya lagi ? Sekonyongkonyong serangkum angin lesus bergulung-gulung
melanda,
membawa
tubuhnya
berputar-putar,
kesamping, menyusup ke sebuah semak belukar. Bluk
........ ia menggigil kaget dan terbeliak.
Hai...., aku sudah mati belum? ia bertanya dalam
hati. Dicobanya untuk menggerakkan kedua kaki
tangannya, ah .... lentuk dan lunglai tak bertenaga.
Bahkan terasa sakit sekali sampai ke uluhatinva dan ia
pingsan lagi..... Tetapi angin lesus tadi tetap berhembus.
Makin lama makin keras. Uh........Gak Lui mendesis
kaget ketika tubuhnya terangkat dan mengapung
setengah meter diudara terus melayang cepat masuk ke
dalam guha..!
Ha..., ha....., ha....., ha ............. Tiba2 dari dalam
guha menghambur suara orang tertawa keras.
Sedemikian keras suara tawa itu sehingga Gak Lui
tersadar dari pingsannya, dan seketika pula, ia rasakan
telinga seperti pecah.
Ha...., ha...., akhirnya aku mendapat kawan.......!
Gak Lui terkejut mendengar suara itu, segera ia
hendak berusaha mengangkat kepala untuk melihat
orang itu. Tetapi tiba2 orang tak dikenal itu
menamparkan sebelah tangannya menindih dada Gak
Lui, sedang tangan kirinyapun disosongkan ke punggung
anak muda itu. Seketika Gak Lui rasakan tubuhnya
seperti dijepit oleh dua buah tenaga-sakti dari atas dan
bawah. Jangankan Gak Lui hendak bergerak bangun,
sedang untuk menggerakkan kepala saja ia tak mampu
lagi Tetapi aneh.......! Benar-benar aneh.......! Tenaga
yang menindih diatas dadanya itu, mengalirkan tenaga
dalam ke dalam tubuh Gak Lui. Dan tenaga yang
menyangga punggungnya itulah yang menyedot tenaga53

sakti dari, atas dada tadi. Tenaga-sakti yang mengalir ke


dalam tubuh itu mendorong dan menggerakkan tenagamurni Gak Lui sehingga dapat melancarkan perederan
keseluruh tubuhnya.
Gak Lui benar2 takjub sekali. Baru pertama kali itu
sepanjang hidupnya, ia mengalami peristiwa yang
sedemikian luar biasa. Benar2 ia tak pernah mendengar
ilmu memancarkan tenaga- dalam yang sedemikian
anehnya....!
Setelah mengalami tujuh kali peredaran tekanan
tenaga-dalam didadanya, semangat Gak Lui bertambah
segar, tenaganya berangsur-angsur pulih kembali. Juga,
kini pandangan matanyapun lebih terang sehingga, ia
dapat melihat jelas keadaan dalam guha itu. Ketika
memalingkan kepala, pertama-tama yang tampak pada
matanya jauh empat buah huruf berbunyi : Guha batu
Iblis perantaian Keempat huruf itu ditulis dengan ujung
jari. Bukan diluar tetapi didalam guha.
Aneh...., mengapa tulisan itu tak digurat diluar guha?
Apakah memang diperuntukkan orang yang berada
didalam guha? Gak Lui makin heran.
Mendadak ia rasakan tindihan pada dada dan
sanggahan pada punggungnya tadi lenyap. Ketika ia
memandang kemuka, ah......tak jauh dihadapannya,
tampak berdiri seorang orangtua yang tak keruan
wujudnya. Rambut gimbal kusut masai, kumis dan
jenggotnya memanjang lebat. Sepintas pandang orang
tua itu mirip dengan seorang manusia liar. Tetapi dalam
wajahnya yang kotor itu, tampaktah gurat2 dari sebuah
wajah yang cakap dan gagah pada masa mudanya.
Buru2 Gak Lui bangun dan memberi hormat.
Wanpwe Gak Lui, menghaturkan banyak terima kasih
54

atas budi pertolongan lo-cianpwe.


Tak
perlu
berterima
kasih........!
Sekali-kali
perpertolonganku itu bukan untuk kepentinganmu !
sahut orang gua liar itu.
Ah......, harrr lo-cianpwe jangan mengolok. Masakan
menolong itu untuk diri lo-cianpwce sendiri? kata Gak
Lui.
Sudah bertahun-tahuh Aku tinggaI seorang diri
dalam guha ini. Aku butuh sekali seorang manusia hidup
untuk teman bicara ! sahut orang tua itu.
Untuk membalas budi lo-cianpwe, aku bersedia
melayani.
Ha..., ha....., ha....., ha ........ orang tua liar itu
menari-nari kegirangan, sejak saat ini hidupku takkan
kesepian lagi.......!
Sebaliknya Gak Lui terbeliak kaget sekali. Serunya:
Ah, untuk menemani lo-cianpwe seumur hidup rasanya
terlalu lama. Sebaiknya ada batas waktunya ........
Orang tua liar itu tertawa makin terkia-kial. Sambil
mendekap perutnya, ia berkata : Batas waktu .. memang
telah kusediakan batas waktu itu.! Yalah apabila POHON
BESI BERBUNGA, AIR MENGALIR TERBALIK kita baru
kelua...........!
Hai .......! Gak Lui menjerit - kaget, apa.....? Pohon
besi berbunga, air mengalir terbalik ...... tak mungkin hal
itu akan terjadi, kecuali terjadi sesuatu keajaiban ..........
Orangtua liar itu mengangkat bahu dan berkata
dengan nada rawan : Apa boleh buat. Terpaksa seumur
hidup kita harus tinggal disini !
Tetapi aku masih mempunyai dendam sakit hati
55

yang harus kutuntaskan ! Gak Lui menyanggah. Orang


tua liar itu menegunkan kepala, tanyanya tegang : Ha...,
ha....., ha....., ha ............. Dalam umur begitu muda
engkau
sudah
mempunyai
beban
membalas
dendam........?
Benar.......! Gak Lui mengiakan.
Hah.........,
akan
kuajarkan
melaksanakan tugasmu itu

engkau

untuk

Apakah lo-cianpwe hendak memberi ilmu kesaktian


kepadaku?
heh....., heh...., orangtua liar mengekeh, marah2
sedih, demi membalas budi, kupatahkan pedangku dan
kututup diriku dalam guha ini. Kalau engkau hendak
membalas dendam, ikutilah caraku itu.........! la
menunjuk kearah langit2 guha. Dan ketika Gak Lui
menurutkan arah pandangannya, kearah yang ditunjuk
orangtua liar itu. Ia melihat sebatang pedang kutung,
menyusup dinding karang tembus sampai keluar. Pedang
itu sudah karatan. Gak Lui tergetar kaget, cepat ia
mencekal sepasang pedangnya erat2.
Tidak......! Aku tak mau mematahkan pedangku.......!
Orangtua liar itu menyurut mundur ..........
JILID 2
ORANG TUA aneh itu tertegun.
Baiklah, engkau toh tak punya kemampuan
melempar pedang tembus ke dinding batu. Tak apa,
engkau boleh menyimpan pedangmu untuk mainan
serunya
Setelah tenangkan diri, Gak Lui bertanya: Dengan
56

memiliki kepandaian sehebat itu tentulah cianpwe ini,


tokoh aneh yang dikatakan Ceng Ki totiang ....
Siapakah Ceng Ki totiang itu? tukas orang tua aneh.
Ketua partai Bu tong-pay yang pernah adu pukulan
dengan, locianpwe diguha ini!
Orangtua aneh merenung .......: Sudah lama sekali,
memang pernah terjadi peristiwa itu, tetapi perlu apa dia
suruh engkau kemari? serunya sesaat kemudian.
Dengan hormat Gak Lui menyahut: Aku hendak
belajar ilmu kesaktian yang tiada tandingannya didunia.
Oleh karena itu beliau menyuruh aku seraya menghadap
cianpwee katanya.
Ohhh....., kiranya engkau hendak belajar ilmu
kesaktian tukas orang tua itu.
Sekiranya lo-cianpwe sudi memberi pelajaran ....
Bakatmu bagus, kepandaiankupun luar biasa......!
Jadi lo-cianpwe meluluskan?
,Tetapi dalam keadaan seperti sekarang ini, aku tak
mau!
Mengapa?
Setiap orang yang menerima murid tentu
menghendaki supaya murid itu dapat mengangkat nama
dalam dunia persilatan agar harum nama perguruannya.
Tetapi sekarang ini, aku menghendaki supaya engkau
tinggal disini menemani aku seumur hidup. Maka tak
perlu engkau bersusah payah belajar ilmu silat lagi !
Tetapi jika aku dapat mencari daya supaya, 'POHON
BESI BERBUNGA, AIR MENGALIR TERBALIK`,
sehingga lo-cianpwe mendapat kebebasan, bagaimana
57

nanti?
Ucapanmu itu cukup pintar, sayang tak mungkin
terlaksanal
Pepatah mengatakan: Manusia harus dapat
mengalahkan alam ! Asal ada kemauan, tiada hal yang
tak mungkin ! seru Gak Lui.
Orangtua aneh itu tertawa masam : Jika mungkin,
tentu dari dulu2 sudah kulakukan, tak perlu menunggu
kedatanganmu ! Tak kira dahulu karena salah sepatah
kata saja, diriku celaka ......mencelakai orang lagi.
Lo-cianpwe tentu mempunyai latar belakang yang
berliku-liku?
Mata orangtua aneh itu berkilat, serunya : Heh,
rupanya engkau hendak mengetahui kisahku yang lalu !
Tadi lo-ciannwe mengatakan bahwa sudah
bertahun-tahun lo- cianpwe tak bicara dengan orang.
Mengapa sekarang tak melepaskan kesepian itu agar
mulut cianpwee jangan sampai kering
Ho, alasanmu bagus juga.....! Baik, akan kuceritakan
sedikit ....... Dahulu ada seorang sahabat mencari aku
untuk minta tolong. Karena sesuatu alasan, aku tak
dapat meluluskan. Dan akibatnya aku melarikan diri
kedalam guha ini. Tetapi dia tetap mengejar jejakku
kesini dan didepan guha merintih-rintih minta supaya aku
suka meluluskan. Dalam kemarahan, aku menyatakan
sejak saat itu tak mau bicara lagi pada orang dan tak
mau keluar lagi dari guha ini, kecuali bilamana nanti
POHON BESI BERBUNGA, AIR MENGALIR TERBALIK,
barulah kuakhiri ikrar itu.
Dia tentu pergi dengan marah2 ....
Benar ! Tetapi aku sendiripun celaka karena harus
58

tinggal disini selama-lamanya! sahut orang. tua aneh itu.


Gak Lui makin tertarik akan kisah itu. Tanyanya:
Sukakah lo-cianpwe menceritakan riwayat lo-cianpwe
dengan orang itu ?
Permintaanmu itu terlalu jauh! Apalagi engkau
sendiri belum mengatakan asal usul perguruanmu
Tetapi aku sudah terlanjur bersumpah takkan
mengatakan asal usulku !
Kalau begitu, buka sajalah kedok mukamu itu,
bagimana ?
Maaf, itupun termasuk dalam sumpahku !
Ha..., ha... Dalam sebuah guha, terdapat dua insan
yang misterius. Kalau begitu, tak perlu kita sating
menuturkan riwayat !
Gak Lui kecewa dan putus usa. Orangtua aneh itu tak
mau memberi pelajaran silat bahkan memaksanya
supaya tinggal diguha situ seumur hidup. Ah, bagaimana
mungkin .... !
Aku benar2 harus membalas dendam darah. Tak
dapat tinggal terus disini. Aku hend ......
Engkau hendak mengapa? tukas orang tua itu.
Hendak minta diri .....! Heh..., heh..... ! Engkau kira
engkau mampu lolos dari pukulan si Algojo dunia ini?
Aku mempunyai cara yang adil untuk memutuskan
persoalan ini
Ho..., ho.. ho cara macam ....apa lagi?
Menilik lo-cianpwe mampu melontarkan pedang
menembus dinding karang, tentulah ilmupedang locianpwe hebat sekali......... Aku ingin adu ilmu
59

pedang......!
Ha...., ha.........! Cara itu menarik juga. Menilik
gelagatnya, engkau mempunyai modal dalam ilmu
pedang. Lalu apa perjanyiannya?
Kalau aku menang, aku segera petgi....!
Kalau yang menang aku? seru orang itu.
Silahkan
perjanjian

lo-cianpwe

sendiri

yang

mengajukan

Pertama, engkau harus menemani aku selamalamanya.


Baik, aku tentu dapat mencari akal untuk menembus
pantangan POHON BESI BERBUNGA, AIR MENGALIR
TERBALIK itu ! KEdua engkau harus membuka kedok
muka itu agar mataku dapat melihat wajah manusia lagi!
Ini ....
Huh, takut?
Serentak timbullah pikiran Gak Lui bahwa orangtua
aneh itu tentu tak mengetahui, kalau ia memiliki ilmu
pedang Potong-emas- membelah-kumala. Segera ia
menyahut dengan garang: Apa yang harus ditakutkan?
Mari kita- mulai ! Gak Lui terus mencabut sepasang
pedangnya dan mempersilahkan orang tua aneh itu
memilih sendiri.
Ho, kesombonganmu boleh sekali, budak.....! Mana
boleh aku gunakan pedang bertempur dengan
engkau.......! seru orang tua aneh itu penuh dengan
kegarangan dan kecongkakan.
Lalu mau pakai apa? tanya Gak Lui. Ambilkan
sebatang dahan pohon dimulut guha itu kemari......!
60

Mendengar orangtua itu hendak menggunakan dahan


kayu, diam2 Gak Lui makin gembira. Namun ia tekan
rasa girangnya itu lalu mematahkan dahan pohon yang
tumbuh di mulut guha dan diserahkan kepada orangtua
itu. Sambil berdiri memasang kuda-kuda dan mencabut
pedang, Gak Lui serentak berseru: Siap.....!
Orangtua aneh itu mengangkat dahan kayu tetapi
terus diturunkan lagi, serunya kecewa: Tak jadi
bertanding
Eh, mengapa
dipegang ..........

kata-kata

lo-cianpwe

tak

dapat

Pada saat itu aku sudah menyatakan, tak kan keluar


dari guha ini dan takkan menggunakan pedang ........
Jjka lo-cianpwe tak memegang perjanjian kita,
berarti lo-cianpwe sudah mengaku kalah. Akupun segera
tinggalkan tempat ini dan lo-cianpwe tak berhak
menahan aku ........!
Habis berkata ia terus ayunkan langkah keIuar guha.
Orangtua aneh itu hanya dapat deliki mata. Tetapi baru
Gak Lui berjalan setombak jauhnya, tiba-tiba serangkum
tcnaga-tarik yang kuat mencengkeramnya sehingga ia
tak dapat langkahkan kakinya.
Lo-cianpwe, omonganmu tadi .... ucapan manusia
atau bukan! serunya.
Aku tadi mengatakan tak dapat bertanding tetapi
bukan berarti tidak bertanding.....!
Engkau bersumpah takkan menggunakan pedang,
bagaimana bisa ....
Jangan banyak mulut! Lihatlah kemari! sekali
tangan orantua aneh itu menarik maka tubuh Gak Lui
segera menyurut mundur kedalam guha lagi. Gak Lui
61

terkejut dan berpaling. Dilihatnya orangtua aneh itu


sedang mengggit dahan pohon, agaknya bersiap-siap.
Jelas ia memakai mulut sebagai ganti tangan, untuk
melayani Gak Lui.
Melihat itu Gak Lui kejut2 girang. Setelah berhati-hati
pasang kuda-kuda, secepat kilat segera ia taburkan
pedang mengarah ke mulut orang. Orangtua aneh itu
berkilat-kilat matanya, memperhatikan setiap gerakan
pedang Gak Lui. Tiba2 la surutkan kepalanya dan dahan
pohon. itu segera berobah menjadi lingkaran sinar yang
balas melibat pedang Gak Lui.
Melihat itu diam2 Gak Lui membatin: Huh paling2
permainan pedangmu serupa dengan Ceng suan totiang
!
Cepat ia tambahkan tenaga-dalam untuk bergeliatan
memutar kearah dahan kayu. Tring .... terdengar bunyi
mendering dan celaka ...... pedang Gak Lui terpukul oleh
tenaga-tolak orangtua itu, terlepas mencelat keudara
........
Dalam gugupnya, Gak Lui cepat hendak mencabut
pedang Pelangi yang, terselip pada bahu sebelah kiri.
Tetapi pada saat tangan hendak bergerak, dahan kayu di
mulut orangtua aneh itu secepat angin menderu, telah
meluncur dan menutuk tiga buah jalan darah penting
ditubuh Gak Lui. Uh......, Gak Lui mengerang tertahan
dan jatuh terlentang.
Budak ! Dari mana engkau belajar ilmu pedang
tadi? seru orangtua aneh itu.
Tak dapat kukatakan!
Jurus Potong-emas-membelah-kumala tadi adalah
ilmu simpanan dari Pedang Laknat Ji Kitek. Engkau
62

mempunyai hubungan apa dengan dia ?


Tak perlu kukatakan !

Akan kubuka kedokmu tentu akan tahu siapa


engkau. Lalu baru kutanya Iagi............!
Orangtua aneh itu menutup kata2nya dengan
gerakkan kedua tangannya untuk mcnyingkap kedok
muka Gak Lui. Pemuda itu karena tak berkutik, tak
dapat berbuat suatu apa kecuali deliki mata dengan
penuh dendam kemarahan. Saat itu tangan orangtua
63

aneh sudah menjamah kepala Gak Lui Tetapi ketika


pandang matanya tertumbuk akan mata Gak Lui yang
berapi-api dan bibirnya yang gemetar keras, orang itu
terkejut. Buru2 ia palingkan muka tak berani beradu
pandang:
Tanpa kubuka ...pun sudah tahu...!
Gak Lui gemetar, serunya gugup: Apa yang locianpwe ketahui ?
Orang aneh itu tak menyahut melainkan berkata
seorang diri dengan pilu: Putera dari Pedang Malaekat
Gak It-bing, murid dari Pedang Laknat Ji Ki-tek ......
mengapa kepandainnya begitu rendah! Jangankan
mereka semua telah dihancurkan orang ......tak
seharusnya melihat bahaya aku tak menolong........
berdosa.......! Berdosa..........
Seketika tersadarlah pikiran Gak Lui. Serentak ia
berseru tegang: Ah, kiranya Lo-cianpwe ini pamanguruku kedua Pedang Iblis Ko Tiong-ing ! ........
Orangtua itu terhuyung mundur sampai tiga langkah.
Wajahnya, ketakutan seperti melihat hantu disiang hari.
Yang paman maksudkan itu tentulah bibi guru Dewi
Pedang Pelangi Li Siok-gin, benar atau tidak! seru Gak
Lui
Orang aneh itu menjerit ngeri lalu menutup mukanya
dengan kedua tangan dan berteriak: Jangan
mengungkat lagi ! Pergilah ..... pergilah..... engkau!
Gak Lui takkan pergi. Akan menemani paman disini
sampai dapat menemukan daya !
Orangtua aneh yang ternyata Pedang Iblis Ko Tionging itu, meraung-raung kalap: .,Aku tak sudi bicara
padamu jika engkau tak mau enyah akulah yang pergi !
64

tiba2 tubuhnya berputar dan menjusup kebagian dalam


guha. Saat itu Gak Lui bcrusaha untuk menggeliat
bangun. Tetapi tenaganya masih lunglai. Terpaksa ia
berteriak-teriak memanggil paman gurunya itu, pun juga
tiada penyahutan.
Hari makin gelap. Setelah tiga jam tak berkutik,
akhirnya jalan darah Gak Lui yang tertutuk. itu terbuka
sendiri. Buru-buru ia bangun terus masuk kebagian
dalam.
TERNYATA GUHA itu bagian dalamnya berkelukkeluk makin lama makin lebar. Baru ia tiba di ujung
terakhir, tiba2 ia dilanda oleh segelombang tenaga
dahsyat.
Pa .....! belum sempat Gak Lui meneriaki nama
pamannya,
tubuhnya
sudah
terhuyung-huyung
kebelakang dan sudah terjerumus kedalam sebuah
saluran air. Airnya sejuk sekali, mengalir keluar guha.
Begitu terendam dalam air dingin, seketika terlintaslah
dalam benaknya akan sebuah jurus yang aneh.
Setengah malam lamanya, ia mondar mandir. Setelah
lelah, ia duduk bersandar pada dinding batu.
Hm...., besok pagi akan kusampaikan hal yang
mengejutkan kepada paman, dia tentu akan memperoleh
kebebasan ...., tentu girang sekali. Kemudian kita ......
demikian lumunan yang berlalu lalang dalam benaknya
.......
Karena letih, tertidurlah ia. Dalam tidurnya itu ia
bermimpi bahwa pamannya telah memberi pelajaran ilmu
silat kepadanya. Kepandaiannya bertambah sakti,
tubuhnya terasa nyaman dan semangat penuh.
Kemudian ... kemudian ia membuka mata ! Wahai ..,
terrowongan guha,itu sudah terang lagi. Tentulah hari
65

sudah siang. Gak Lui loncat berdiri, huh .......hampir saja


kepalanya membentur langit terowongan. Hai .... aneh,
aneh........, mengapa tenaga-dalamnya kini bertambah
hebat.
Paman......! Paman.......! teriaknya.
Lui ........ terdengar jawaban Pedang Iblis. Tetapi
suaranya amat lemah. Sayang Gak Lui tak
memperhatikan hal itu. la sudah girang setengah mati
karena pamannya sudah mau menyahut.
POHON BESI SUDAH BERBUNGA dan AIRPUN
SUDAH TERBALIK MENGALIR.......! Lekas kemarilah
paman, lihatlah keajaiban itu dan engkau...... engkau.......
tentu bebas........! seru Gak Lui tegang tegang.
Terdengar langkah yang sarat dan ketika pedang Iblis
Ko Tiong- ing muncul, Cak Lui terbeliak kaget. Hanya
semalam saja, telah terjadi suatu perobahan yang
besar...........
Saat itu mata No Tiong-ing sudah tiada bersinar
tajam lagi. Wajahnya penuh keriput. Sama sekali jauh
bedanva dengan keadaannya tadi malam. Bergegas Gak
Lui menyongsong dan memapah tubuh Ko Tiong ing,
tanyanya cemas: Paman, engkau bagaimana?
Hek....; hek....., Ko Tiong-ing batuk2, aku tak
kurang suatu apa. Hanya sedih memikirkan peristiwa
yang lampau ... lalu sedikit tak enak badan!
Tetapi kalau paman menyaksikan 'keajaiban ini,
tentu akan segera sembuh........ ! Dengan setengah
kurang percaya, Pedang Iblis Ko Tiong-ing melangkah
kedalam mulut guha. Gak Lui menutuk kearah puncak
guha, serunya : POHON BESI SUDAH BERBUNGA,
lekas iihatlah........ !
66

Pedang Iblis mengangkat muka memandang


kepundak guha. Seketika ia tertegun kaget, kemudian
tersenyum : Jurus yang bengkok itu, ternyata engkau
mampu memecahkan......... ! Kiranya batang pedang
yang dilontarkan Pedang Iblis Ko Tiong- ing sampai
tembus keluar dinding guha itu, dihias dengan untaian
bunga segar oleh Gak Lui. Sepintas pendang tampak
seperti sebatang pohon besi sedang bcrbunga ....
Ya......., paman tentu tak mungkin mengatakah
peristiwa itu bukan suatu kenyataan......... ! Sekarang
marilah lihat lagi AIR TERBALIK MENGALIR.
Mereka menuju kesaluran air yang berasal dari
sumber-air gunung. Tiba ditepi saluran air itu, Gak Lui
menunjuk kearah parit air itu : Jika kukatakan 'terbalik',
air dalam saluran itu tentu akan segera membalik
alirannya. Harap paman perhatikan baik2 .........!
Parit itu lebih dangkal dari biasanya. Perlu apa
dilihat....... ! Sekonyong-konyong Gak Lui berseru :
Terbalik Secepat kilat ia memapaskan pedang kemulut
saluran air tanah liat yang disumbatkan pada mulut
saluran kemarin malam, pecahlah. Sumber-sumber air itu
segera mencurah terjungkir balik kebawah. Pedang Iblis
tertawa rawan, serunya : Lui....!, paman berterima kasih
kepadamu. Tetapi aku tak ingin keluar lagi....... !
Me ......... mengapa ?
Kasih tahu dulu padaku, Pedang Malaekat dan
Pedang Aneh mati ditangan siapa?
Dengan nada haru dan sedih, Gak Lui segera
menceritakan semua peristiwa yang diketahuinya. Begitu
pula tentang tokoh yang bergelar Maharaja, yang telah
menyuruh gerombolan Topeng Besi membunuh-bunuhi
orang2 persilatan golongan Putih. Berulang kali Pedang
67

Iblis mengerang dan hauk ..... ia mengeluarkan darah.


Ahirnya berkatalah ia dengan kalap : Dahulu bibi gurumu
Pedang Bidadari Li Siok-gin telah membawa surat dari
ayahmu kemari, memanggil aku kesana. Tetapi karena
msih mendendam kemarahan, kutolak permintaannya.
Ach.........!, kini kita semua telah menderita bencana yang
begini mengenaskan ........ aku ........... seharusnya bunuh
diri untuk menebus dosa!
Tidak...... paman.......! , teriak Gak Lui.
Engkau telah bebas sekarang! Engkau dapat kelua:r
mencari balas pada musuh.......!
Kepandaianku pun tak dapat mengalahkan musuh
itu. Maka semalam telah kusaurkan sembilan bagian dari
tenaga murniku kepadamu. Tetapi tubuhmu sendiri
ternyata juga ada penyakitnya. Engkau harus
mencari.....hek....., hek.......
Paman ..... naman..... Gak- Lui cemas, katakanlah.
Siapa yang harus kucari itu? Paman .......
Pedang Iblis Ko Tiong-ing bcrusaha untuk
menguatkan diri. Dipandangnya Gak Lui lekat katanya
pula: Engkau harus mencari Si-sim-leng-cuan atau
sumber-air Pencuci jiwa ........ air dari sumber itu
mempunyai khasiat untuk membakar tulang- tulang.......,
akan dapat mengobati penyakitmu Lubuk hati sempit' ....
jika tidak begitu ........ tentu sudah kusalurkan seluruh
tenaga murniku kedalam tubuhmu. Tetapi syarat pertama
.........
Apa......? Air sumber itu luar biasa pahitnya .......
Gak Lui tak takut........!
Sudah banyak tokoh2 persilatan, setelah minum air
sumber itu semua muntah2 dan putus usus dan
68

empedunya lalu mati ditepi sumber itu .........


Gak Lui tergetar hatinya. Dia mengira Pamannya itu
tentu sedang kacau pikirannya sehingga ucapannyapun
tak keruan: Melihat pemuda itu tertegun kaget, Pedang
Iblis segera menyusuli kata2: Sumber air Si-sim-lengcuan walaupun telah membinasakan banyak tokoh:
tokoh persilatan, tetapi hal itu adalah kakek - gurumu Busan It-ho sendiri yang mengatakan. Jelas tentu tak
bohong. Dan lagi beliau mengatakan, khasiat dari air
sumber itu memang benar-benar mujijad sekali. Hanya
cara minumlah ...... yang jarang diketahui orang2 .......!
Tentu ada peraturan minum yang khusus? Misalnya
dalam ilmu pengobatan sering dikatakan dengan racun
untuk mengobati racun' atau .......
Lui....., engkau dapat mecmecahkan masalah
POHON BESI BERBUNGA, AIR TERBALIK MENGALIR
Rahasia dari sumber air itu, kupercaya engkau pun tentu
dapat memecahkannya ! Kuharap penyakitmu segera
sembuh dan berhasil meyakinkan ilmu kepandaian yang
tiada tandingannya didunia ........
Pedang Iblis, berheniti batuk2. Darah segar
mengucur deras dari muut dan hidung .... Gak Lui gugup
dan cepat memeluk pamannya untuk memberi
penyaluran tenaga-dalam. Tetapi sayang walaupun ia
sudah mendapat hawa murni dari Pedang Iblis yang
disebut tenaga-sakti Algojo-dunia, namun sedikitpun ia
tak mengerti penggunaannya. Mencoba sampai
setengah hari, tetap ia tak mampu menghentikan kucuran
darah pamannya.
Anak Lui...., janganlah membuang tenaga sia-sia.
Lekas ...... angkat aku... keluar ......
Ya....., ...... ya! Paman telah bebas, seharusnya
69

lekas tinggalkan guha yang telah paman huni selama 18


tahun ini! Habis berkata Gak Lui terus mengangkat
tubuh pamannya. Tetapi sampai dipintu, Pedang lblis,
suruh Gak Lui berhenti. Ia menunjuk pada 8 huruf yang
tergurat dibalik pintu, katanya: itu ...... akulah yang
mengguratnya .... merupakan tempat ajalku ........
Gak Lui gemetar: Paman, engkau harus keluar.
Biarlah Gak Lui yang menolongmu! ia terus hendak
membawanya keluar. Oleh karena sudah kehabisan
tenaga, sudah tentu Pedang Iblis tak dapat menahan
tarikan Gak Lui. Ia terhuyung-huyung dan berteriak.
Engkau ...., engkau lihat diluar dulu.... aku takut
ketemu manusia hidup .....
Tak mungkin diluar ada orang .........
Huh........., engkau berani menentang perintah.
pamanmu.......!
Tidak......!, paman. Lekas..... lekas lihat yang
jelas...., aku..... baru ikut engkau keluar.....!
Terpaksa Gak Lui lepaskan cekalannya, terus
melesat keluar guha. Uh......., loncatannya ternyata jauh
sekali. Jauh lebih pesat dari biasanya. Buru2 ia balik
kepintu gha lagi. Bruukk......., terdengar suara benda
bergedebuk jatuh ketanah.
Paman .......! Gak-Lui menjerit ..... lalu menubruk
pamannya. Ketika mengangkatnya, ternyata kepala
Pedang Iblis pecah. Ia telah bunuh diri dengan benturkan
kepalanya pada dinding batu Bercak darah masih
meneteskan percikan darah merah pada dinding itu,
tokoh kedua dari Catur Pedang gunung Bu-san telah
mengakhiri jiwanya! Betapapun sedih hati Gak Lui,
namun hal itu sudah menjadi kenyataan. Ia harus
70

menanam jenazah pamannya.


Pada saat menjamah tangan sang paman, tiba2 ia
merasakan sesuatu yang aneh. Ujung jari telunjuk kanan
dari Pedang Iblis juga hancur sehingga tampak
tulangnya. Ah, paman tentu menggurat tulisan dengan
ujung jarinya. Tetapi karena tenaganya sudah habis,
ujung jarinyapun hancur, Gak Lui menduga.
Dalam keadaan duka Gak Lui tak memikirkan lagi
apa yang telah ditulis oleh Pedang Iblis. itu. Cepat ia
membopong tubuh pamannya dibawa keluar. Dia
membuat tempat kuburan ditengah hutan. Sambil
berlutut, berdoalah Gak Lui: Paman, arwahmu sudah
bebas. Mohon paman pulang dengan tenteram ketempat
asal .... Hutang darah paman tentu akan kubalaskan !
Setelah menumpahkan isi hatinya, Gak Lui bangkit.
Dipandangnya makam itu sampai beberapa lama.
Matanya penuh dendam penasaran! Puas.....! berdialoog
dengan arwah -pamannya, Gak Lui lalu tinggalkan
tempat itu.
Tetapi baru beberapa langkah, tiba2 ia berhenti:
Ah..., celaka! Mengapa lupa kututup guha itu?
Didalamnya terdapat banyak benda2 peninggalan
paman. Dan apa yang digurat paman itu, belum kulihat.
Cepat ia balik lagi kedalam goha. Pada dinding yang
biasa dibuat tempat latihan oleh pamannya, Gak Lui
melihat dua baris huruf: Menjolok-bintang-memetik-bulan
seperti hujan mencurah, Algojo-tunggal- dari-dunia
mengejutkan hantu dan iblis. Dibawah tulisan itu terdapat
banyak gambar2 dan huruf2 kecil. Walaupun digurat
dengan ujung jari, .tetapi guratannya tak berapa dalam.
Makin lama makin dangkal, sehingga huruf2 terakhir
hanya merupakan guratan darah belaka! Air mata Gak
Lui berderai-derai mengucur. Makin dalamlah rasa terima
71

kasihnya atas jerih payah pamannya. Mengamati dengan


seksama, barulah ia mengetahui bahwa yang dimaksud
dengan Algojo-tunggal dari-dunia itu adalah tenaga- sakti
dari Pedang Iblis yang dapat digunakan untuk
mendorong dan menyedot. Ilmu tenaga-sakti Algojotunggal dari dunia merupakan suatu ilmu tenaga dalam
yang luar biasa. Lebih dulu menyedot tenaga lawan
dengan telapak tangan. Lalu dengan menggunakan
telapak tangan yang lain memancarkan lagi tenaga
lawan yang disedot itu untuk menghantam. Dengan cara
itu, tak perlulah memakai tenaganya sendiri. Dengan
meminjam tenaga lawan, dapat digunakan untuk
menghantam lawan. Apalagi kalau ditambahi dengan
tenaga-dalamnya sendiri. Tentu lebih hebat! Tetapi hal
itupun ada syaratnya. Yalah harus disesuaikan dengan
bakat dan latihannya sendiri. Bakat makin bagus, latihan
tentu makin sempurna dan kemampuan untuk
mengalahkan lawan makin hebat. Apabila, bakat dan
latihan kurang tinggi sedang lawannya lebih kuat, selain
tak dapat menyedot tenaga lawan, malah amat
berbahaya. Dirinya sendiri akan remuk di dalam ! Dan
tentang jurus Menyolok-bintang-memetik-bulan itu,
sesungguhnya merupakan salah sebuah ilmu istimewa
dari Catur Pedang Bu-san. Jika jurus itu digabung
dengan ilmu Algojo-tunggal dunia, senjata musuh tentu
dapat disedot jatuh. Nama2 yang diberikan untuk jurus
Algojo tunggal dunia dan Menyolok-bintang-rembulan itu,
justeru berlawanan dengan nama Memotong-emas
membelah-kumala. Gak Lui tak jadi tinggalkan guha itu.
Ia memutuskan untuk menetap disitu mempelajari ilmu
yang diberikan Pedang Iblis dengan guratan dinding
guha. Siang malam ia giat sekali berlatih. Ia bersumpah,
selama belum dapat menguasai ilmu itu, takkan keluar
dari guha. Tempo berjalan cepat sekali. Tak terasa sudah
72

7 hari lamanya Gak Lui tinggal dalam guha itu. Dia dapat
mempelajari ilmupedang tetapi masih belum memahami
ilmu-tenaga-dalam menyedot dan memancar. Dan lebih
celaka pula, persedian ransum dalam guha itu sudah
habis. Ia mulai kelaparan.
Pada hari itu dengan menahan lapar dengan minum
air sumber, ia melangkah keluar guha. Tiba2 ia melihat
seekor serigala berada beberapa meter diluar guha.
Serentak timbullah semangat Gak Lui. Ce-pat ia hendak
loncat menangkap tetapi tiba2: Tidak Aku tak boleh
melanggar sumpah serentak teringat akan sumpahnya
ia berhenti. Tiba2 ia teringat dan segera tangan kirinya
berayun menggunakan tenaga sakti Algojo tunggal dari
dunia. Diluar dugaan, jurus itu telah menimbulkan reaksi
yang hebat. Ia rasakan telapak tangannya menyedot
serangkum hawa, terus masuk kedalam jalan darah dan
mengalir keseluruh tubuh. Serigala itu terkejut dan
hendak lari. Tetapi kaki belakangaya menelikung
kebawah tak dapat bergerak. Melihat itu girang Gak Lui
bukan kepalang. Ia tahu ilmunya tenaga-sakti menyedot
telah berhasil, cepat ia perkeras tangannya. Serigala itu
meraung dan melolong kalap. Binatang itu menggarukgarukkan kedua kaki depannya ke tanah. Beberapa saat
kemudian tanah telah berlubang seperti sebuah liang.
Namun tetap binatang itu tak mampu membebaskan diri
dari tenaga-penyedot Gak Lui. Saat itu terjadilah tarik
menarik antara Gak Lui dengan serigala. Tapi akhirnya
serigala itu tertarik kedalam guha lalu dibunuh. Dengan
demikian berhasillah Gak Lui menyelami intisari ilmu
tenaga-dalam penyedot. Disamping itu telah mendapat
ransum makanan.
Sebulan kemudian, setelah berlatih keras, Gak Lui
berhasil mencapai tataran yang tinggi dalam
peryakinannya ilmu pedang dan tenaga-sakti penyedot.
73

Pada hari itu Gak Lui mengemasi barang2 peninggalan


Pedang Iblis, menutup pintu guha rapat-rapat lalu minta
diri dihadapan kuburan Pedang Iblis dan terus turun
gunung.
SAAT ITU hari sudah malam ketika ia tengah
menyusuri jalan besar. Ia gunakan ilmu lari cepat.
Tujuannya hendak mencari orang dan menanyakan letak
sumber air Pencuci jiwa itu. Tiba2 disebelah tenggara,
tampak cahaya api memancar dilangit.
Bagus....! pikirnya, Disana tentu terdapat rumah
penduduk, tetapi aneh, mengapa api sedemikian
besarnya?
Segera Gak Lui lari menuju tempat itu. Tak beberapa
lama ia melihat sebuah gedung besar. Empat penjuru
gedung itu dipasangi berpuluh onggok api unggun
sehingga terang benderang seperti siang hari. Dilihatnya
juga dalam gedung itu orang sibuk mondar mandir kian
kemari dengan membawa senjata terhunus. Cepat ia
pesatkan langkah menuju ke gedung besar itu. Ketika
tiba dimuka pintu gerbang, ia terus hendak niinta pintu.
Tetapi belum mulut berkata, sekonyong-konyong empat
sosok tubuh melesat keluar. Seorang lelaki setengah
umur yang berada paling depan, tanpa bilang suatu apa
terus menghantam Gak Lui. Gak Lui marah. Tetapi
sebelum jelas, siapa sesungguhnya orang2 itu, terpaksa
ia tahan kemarahannya. Cepat ia gerakkan tangan dalam
jurus, Algojo-tunggal dari-dunia untuk menyedot tenaga
pukulan orang.
Semula orang dari dalam gedung itu mengira kalau
Gak Lui tengah lepaskan pukulan Membelah gunung.
Diam2 ia yakin pukulannya itu tentu dapat mengalahkan
Gak Lui. Amboi........., orang itu terkejut ketika
pukulannya seperti terbenam dalam lautan hilang sirna
74

tak berbekas...............
Orang itu terkejut dan buru2 menarik pulang
tangannya seraya loncat kesamping. Adalah siorangtua
dibelakang orang pertama itu, karena tak tahu apa yang
terjadi, begitu melihat kawannya menyingkir, ia terus
menghantam dada Gak Lui. Gak Lui menyurut mundur
dua langkah seraya tamparkan tangan kiri. Wut ... tenaga
pukulan orangtua itu hilang lenyap seketika! Tetapi jagotua itu tetap tak menghiraukan. Begitu keduanya saling
mendekati, tiba2 ia menarik tangan lalu gerakkan sikunya
membentur jalandarah dilambung Gak Lui. Jurus itu
disebut membentur-gunung-Thaysan. Perbawanya dapat
menumbuk pecah batu gunungl Gak Lui mendengus
dingin. Sambil menangkis dengan tangan kiri, tangan
kanannya memukul. Bum ..., jago tua itu mendengus
tertahan. Tubuhnya terhuyung-huyung sampai lima
langkah dan hampir terjerumus kedalam onggok api.
Kalian tahu aturan atau tidak! bentak Gak Lui.
Orang yang menyerang pertama kali tadi, mencabut
pedang dan balas membentak: Terhadap manusia
seperti engkau, perlu apa pakai aturan !
Engkau anggap aku ini manusia macam apa?'
Engkau sendiri tentu sudah tahu !
Gak Lui marah, bentaknya : Cara omonganmu itu,
aku tak mengerti .......
Tak usah berpura-pura ! Setelah kuringkus, engkau
tentu akan tahu semua ! orang itu menutup kata dengan
gerakkan pedangnya. Seketika ketiga kawannyapun ikut
serempak menyerang Gak Lui. Kalian cari mampus
sendiri ...!
Gak Lui segera taburkan pedangnya. Dibawah
75

cahaya api unggun, sinar pedangnya berkelebat


menyapu keempat lawannya. Keempat orang itu dengan
tangan kanan memainkan pedang sedang tangan kiri
melancarkan pukulan. Selain jurus permainannya aneh,
tenaga pukulan mereka juga hebat. Sebelum mendapat
pelajaran dari Pedang Iblis Ko Tiong-ing, mungkin Gak
Lui tentu celaka. Karena selama diasuh oleh ayah
angkatnya, karena ayahnya buntung, maka tak dapat
menurunkan ilmu tenaga dalam yang sempurna. Pedang
Iblis Ko Tiong-ing telah membenamkan diri meyakinkan
ilmupedang selama 18 tahun. Dalam ilmupedang, dia
jauh lebih tinggi dari Pedang Aneh Ji Ki- tek. Dengan
mendapat pelajaran ilmupedang yang sakti itu, ditambah
dengan ilmu tenaga-dalam Algojo-tunggal-dunia, Gak Lui
tak gentar, menghadapi keempat penyerangnya itu.
Bahkan makin hebat lawan menyerang, makin tangguh
daya- perlawanan Gak Lui. Sepuluh jurus kemudian,
keempat pengeroyok itu terkejut. Satu demi satu mereka
mulai mengganti permainannya. Dari menyerang,
menjadi bertahan. Gak Luipun ganti siasat, ia salurkan
tenagadalam sakti Algojo- tunggal dari-dunia, kebatang
pedangnya. Asal pedang lawan membentur pedangnya,
tentu tersedot lekat dan harus mandah bergerak kemana
Gak Lui menginginkan. Tetapi jika lawan coba untuk
melepaskan, tenaga-dalamnya tentu akan tersedot oleh
Gak Lui.
Cepat sekali kelima sinar pedang itu, satu demi satu
mulai lenyap. Dan pada lain saat, Gak Lui berteriak:
Lepas! Susul menyusul, pedang keempat orang itu
mencelat keudara. Berkilat-kilat laksana batang
anakpanah meluncur keangkasa. Oh........, kiranya jurus
itu disehut Menjolok-bintang-memetik- bulan. Bukankah
batang pedang yang membubung keudara dan meluncur
lagi ke bumi itu seperti nama jurus itu keadaannya?
76

diam2 Gak Lui membatin.


Se-konyong2 pemimpin kawanan pengeroyok itu
berteriak senyaring-nyaringnya: Hayo, lekas bantu
meringkus penjahat
Dari dalam gedung besar, berhamburan keluar
berpuluh-puluh sosok tubuh manusia. Gak Lui maju
beberapa langkah dan siap sedia. Keempat orang itu
takut juga. Mereka sudah kehilangan pedang. Terpaksa
menyurut mundur dan tegak berjajar-jajar.
Mengapa kalian menyerang aku ? Apakah kalian
mau menjelaskan sebabnya'! seru Gak Lui.
Kami akan mengadu jiwa bukan bicara! sahut
mereka.
Aku Gak Lui, datang kemari sama sekali ...... Belum
Gak Lui selesai bicara, bala bantuan dari gedung besar
itupun tiba. Mereka dipimpin oleh seorang wanita
pertengahan umur. Tangannya mencekal sepasang
pedang Mimi dan Mintuna. Dan tanpa bicara apa2,
wanita itu terus menyerang ganas. Sudah tentu Gak Lui
marah sekali. Ia keluarkan jurus ilmupedang Memotongemas-membelah-kurma. Tring ......, pedang wanita itu
dapat ditabas kuntung! Tetapi anakbuah wanitu itu cepat
menyerbu. Keempat orang yang kehilangan pedang tadi,
tclah mendapat gantii pedang, ikut menyerang.
Dalam taburan hujan pedang itu, Gak Lui pun
mencabut pedangnya yang lain. Dengan sepasang
panjang, ia mengamuk. Tring..., tring...., tring .....
Kemana pedang Gak Lui berkelebat, tentu terdapat
pedang musuh yang terpapas kutung. Dering
gemerincing dari benturan pedang itu amat memekakan
telinga. Tetapi kawanan orang itu tak kenal mundur.
Terlebih- pula siwanita dan keempat lelaki yang pertama
77

menyerang tadi. Mereka pantang mundur. Dalam cuaca


yang mulai meremang petang, suasana makin
menyeramkan.
Celaka........! Rupanya orang2 ini bukan golongan
orang jahat! Perlu apa harus membunuh ..........
Demikian terlintas dalam benak Gak Lui. Ia segera robah
permainan pedangnya. Pedang di sapukan keempat
keliling.
Setelah mengundurkan musuh, sekonyong-konyong
ia loncat melambung keudara lalu melayang turun,
kedalam semak terus melarikan diri. Tak berapa saat ia
sudah lari 10 li jauhnya. Berpaling kebelakang, gedung
besar yang diterangi api unggun itu sudah amat jauh
sekali. Segera ia masuk kedalam hutan duduk
bersemedhi memulangkan tenaga. Tetapi pikirannya
sukar ditenangkan. Tak henti2nya ia memikirkan
peristiwa yang dialaminya itu.
Kawanan orang itu benar tak kenal, aturan, tetapi
dari wajahnya mereka seperti tengah menghadapi
ketegangan. Mungkin akulah yang tak kenal tata-aturan
dunia persilatan sehingga melanggar pantangan mereka
......... ah, lebih baik besok pagi kesana lagi ...........
Setelah lepaskan kerisauan pikirannya, akhirnya
dapatlah Gak Lui bersemedhi dengan tenang. Pada saat
ia membuka mata, haripun sudah fajar. Kembali ia
merenungkan pertempuran semalam, pikirnya :
Untunglah aku tak bertindak ganas. Mereka hanya
terluka luar. Tetapi peristiwa itu memang aneh sekali Aku
barus menyelidiki lagi ........
Setelah mengambil keputusan ia segera menuju ke
desa lagi. Gedung itu tampak sunyi senyap. Api unggun
sudah padam semua. Hanya disana sini masih
78

membekas sisa asap. Yang aneh, pintu gedung masih


tetap terbuka. Tetapi tak tampak seorangpun juga. Tiba2
mata Gak Lui tertumbuk akan sesuatu yang aneh. Pada
tembok pintu, terdapat secarik kertas hitam yang
berrtuliskan huruf warna merah dan dibubuhi cap tinta
emas. Gak Lui maju menghampiri. Astaga.....! Kembali ia
terbeliak kaget. Ternyata huruf merah pada kertas hitam
itu bukan tinta biasa melainkan dari darah manusia.
Bunyinya:
Yang taat padaku, hidup. Yang menentang, mati!
Maharaja.
Hai! bukankah ini Amanat Takdir dari dunia
persilatan ! Gak Lui terkejut. Segera ia merobek surat itu
dan melihat sebaliknya. Ah, ternyata terdapat 3 buah
huruf besar. Seketika meng-gigilah tubuh pemuda itu.
Segera ia menyimpan surat yang dirobek itu dalam baju
lalu melangkah masuk: Hai, mana orangnya ? sambil
berjalan ia berteriak memanggil. Namun tiada
penyahutan sama sekali. Yang menyahut seruannva itu
hanya ceceran noda darah dilantai. Menurutkan ceceran
darah, ia terus masuk kedalam sebuah ruangan besar.
Kembali ia terbeliak kaget. Wanita dan keempat laki2
yang bertempur dengan dia semalam, saat itu terpaku
ditengah ruangan dengan senjata masing- masing.
Senjata itu menusuk dada tembus sampai kepunggung.
Empat keliling tembok ruang, penuh terpaku dengan
tubuh anak buah gedung itu! Mata mereka melotot
keluar, wajah menampilkan ketakutan yang mengerikan.
Gak Lui tegak berdiri ditengah puluhan mayat-mayat
yang tegak berdiri terpaku di dinding. Makin
mendalamlah rasa kebenciannya terhadap Maharaja.
Saat itu iapun segera menyadari kesalah faham yang
terjadi semalam. Mereka tentu menerima Amanat Takdir
79

dari si Maharaja. Lalu mereka mengatur penjagaan keras


untuk menghadapi musuh. Setiap pendatang, tentu
dianggap orang dari Maharaja itu. Begitu pula terhadap
diriku, mereka duga aku tentu salah seorang dari
gerombolan Topeng Besi. Dan ketika kutinggalkan
tempat ini, gerombolan pengganas itu tentu datang dan
membunuh mereka habis-habisan. Ah........, sehurusnya
semalam aku herada disini, membantu mereka
menghadapi pengganas-pengganas itu. Sekarang aku
kehilangan kesempatan untuk menuntut balas pada
musuh..... ia menimang-nimang dalam hati.
Karena
gemas,
Gak
Lui
mengerunyutkan
gerahamnya dengan keras. Berputar memandang pada
mayat2 yang berada dalam ruang itu, ia berdoa pelahan:
Saudara2 aku Gak Lui bersumpah akan membalaskan
dendamu saudara. Harap kalian mengasoh di alam baka
dengan tenang. Maaf karena tak sempat menguburkan,
terpaksa jenazah saudara2 akan kubakar saja........!
Dengan obor itu mulai membakar ruangan itu. Bau
mayat terhakar, membaur kemana-mana, memuakkan
perut orang. Setelah selesai mengadakan pembakaran
mayat, Gak Lui segera menetapkan rencana. Dengan
terdapat Amanat Takdir disini, tentu gerombolan
pengganas itu akan melakukan pembunuhan pada
tokoh2 golongan Putih dilain tempat. Dan untuk mencari
keterangan tentang letak sumber air Pencuci Jiwa itu, tak
sembarang orang dapat memberitahu. Aku harus lekas2
mencari tokoh persilatan yang lain ...........
Secepat kilat ia terus menerobos keluar dari ruang
itu. Tetapi baru beberapa tombak meninggalkan gedung,
dua sosok bayangan melesat cepat kedalam gedung itu.
Baik Gak Lui maupun kedua orang itu sama2 lari pesat.
Yang satu keluar, yang lain masuk. Tubrukan pasti tak
80

dapat dihindarkan lagi. Pada saat jarak kedua fihak


tinggal satu meter, dengan kegesitan yang luar biasa,
Gak Lui enjot tubuh melambung ke udara. Melayang dua
tombak tingginya melampaui kepala kedua pendatang
itu....! Tetapi ternyata kedua pendatang itu, juga berilmu
tinggi. Salah seorang ternyata seorang tua yang
berjenggot panjang. Tampak terkejut karena melihat Gak
Lui melambung diatas kepalanya, ia terus lari menerobos
kedalam gedung. Sedangkan kawannya, seorang tua
berwajah hitam, berhenti dan berputar diri lalu
mendamprat Gak Lui: Hai........., hendak lari kemana
engkau Topeng Besi......?! Tring .... orang tua berwajah
hitam itu terus mencabut pedang lalu loncat menusuk
pungung Gak Lui.
Saat itu Gak Lui masih melayang di udara. Dari angin
gerakan pedang, tahulah buhwa penyerangnya itu
memiliki tenaga-dalam yang tinggi. Maka ia gerakkan,
kedua.
tangannya, menampar
kebelakang dan
menggurat dengan tenaga-sakti Algojo-dunia. Orang tua
itu tergetar sampai miring tubuh-nya. Ia benar2 terkejut
karena jurus Algojo-dunia yang hebat itu........ Secepat
kilat Gak Luipun berputar diri dan berseru: Aku........
bukan gerombolan Topeng Besi Engkau salah, duga
.......
Jangan ngaco belo.....! bentak orangtua berwajah
hitam itu lalu taburkan pedangnya makin dahsyat. Mau
tak mau Gak Lui menghela napas. Ia mengkal dan
geram: Ah........., kembali harus bertemu dengan
manusia yang gila. Terpaksa harus kupapas pedangnya
dulu baru nanti bicara lagi.....! pikirnya.
Sengaja ia memhuka sebuah peluang. Dadanya
dibuka tak dlindungi. Orangtua berwajah hitam itu
mengira kalau mendapat kesempatan bagus, segera ia
81

menusuk ke tenggorokan lawan. Tetapi baru pedang


menusuk, secepat kilat Gak Lui sudah taburkan
pedangnya, tring .... putuslah seketika pedang orangtua
berwajah hitam itu menjadi dua ....!
Aku akan mengadu jiwa denganmu ! teriak urangtua
berwajah hitam itu. Membuang pedangnya yang kutung,
ia terus hendak membentur dada Gak Lui dengan kapala
....! Tepat pada saat itu, .....orangtua berjenggot panjang
yang menerobos masuk kedalam gedung tadi, muncul
keluar. Mukanya penuh dengan bekas airmata. Secepat
kilat dia enjot tubuhnya melayang keudara, menusuk
bahu kanan Gak Lui. Saat itu Gak Lui belum sempat
menarik pulang pedangnya. Serangan2 dari kedua
orangtua dari bawah dan atas itu, membuatnya terkejut.
Dalam gugupnya ia teruskan pedangnya dengan
jurus Menjolok- bintang- memetik-rembulan. Menangkis
dengan pedang orangtua berjenggot panjang, serempak
dengan itu tangannya kiri menampar orangtua muka
hitam yang hendak meyeruduk. Tring ......pedang
orangtua berjenggot panjang terlempar keudara, dia dan
orang muka hitam, terkena hantaman Gak Lui sampai
tersurut mundur dua langkah.
Orang tua muka hitam terengah-engah napasnya dan
terus hendak menyerbu lagi. Tetapi dicegah orangtua
berjenggot panjang: Hiante, harap, bersabar dulu
Kemudian orangtua berjenggot panjang itu menegur Gak
Lui:
Siapakah anda ini? Mengapa hari2 sepagi begini ini
sudah bergegas-gegas keluar dari desa Ngo kiat-cung
sini?
Maaf, mohon paman berdua memberitahukan nama
dan maksud kedatangan kemari dulu, baru nanti kujawab
82

pertanyaan itu, sahut Gak Lui


AKU Hi Liong-hui bergelar Pedang Samudera dan ini
adikku angkat Pedang Gelombang Go Bun Hua. Dunia
persilatan menjuluki kami sebagai Sepasang Pedang
Gelombang Samudera. Karena kami bersahabat baik
dengan Lima jago, maka begitu mendengar mereka
menerima Amanat Maut, kami terus bergegas datang
kemari untuk menjenguk....! kata orang tua berjenggot
panjang itu.
Melihat wajah kedua orangtua itu jujur dan kata2nya
bersungguhsungguh,
Gak
Lui
pun
segera
memberitahukan namanya. Ia menuturkan tentang
kesalah fahaman yang terjadi ketika ia datang ke desa
Ngo-kiat-cung. Pada hal maksud tujuannya hanyalah
hendak bertanya tentang letak sumber air Pencuci Jiwa.
Habis menutur, ia mengeluarkan surat Amanat Maut
yang diambilnya dari samping pintu. Diluar dugaan,
begitu melihat Amanat Maut itu, pucatlah seketika wajah
kedua orangtua itu. Pedang Gelombang Go Bun-hua
serentak menjerit kaget dan meraung : Ho......., kiranya
itulah Amanat Maut! Dengan membawa surat itu, siapa
lagi engkau kalau bukan anggauta gerombolan Topeng
Besi!
Sudah tentu Gak Lui sendiri juga terkesiap kaget.
Tetapi sebelum ia sempat memberi penjelasan, Pedang
Samudera Hi Liong-hui sudah mencegah adik-angkatnya:
Harap hiante jangan lekas bercuriga! Masakan engkau
tak memperhatikan ilmu permainannya pedang yang
aneh tadi?
Aku tak kenal permainannya itu! seru Pedang
Gelombang Go Bun-hua. Tetapi lain sama sekali dengan
ilmupedang gerombolan Topeng Besi itul
83

Lalu siapakah dia?


Tentulah pemuda Pemangkas-pedang yang telah
menggetarkan dunia persilatan itu! kata Pedang
Samudera Hi Liong-hui. Saat itu barulah Go Bun-hua
tersadar. Kini Gak Luilah yang berbalik heran. Buru2 ia
bertanya: Tadi Go lo-cianpwe mengenali surat ini
sebagai Amanat Maut. Lalu apakah bedanya dengan
Amanat Hidup?
Amanat Hidup kertasnya putihl
Mengapa lo-cianpwe tahu begitu jelas ?
Aku..... baru Pedang mengucap sepatah, Pedang
Samudera segera menukas : Kami hanya mendengar
cerita orang pcrsilatan. Kini tentang Kelima Jago itu
sudah selesai, kamipun hendak pergi....!
Nanti dulu ....! Pedang Samudera Hi Liong-hui
kerutkan alisnya yang panjang :
Saudara hendak perlu apa lagi?
Masih ada beberap soal yang, hendak kumintakan
keterangan pada cianpwe, kata Gak Lui.
O ... apakah soal engkau hendak pergi ke sumber air
Pencuci Jiwa itu ? Itu salah satunya !
Sumber air Pcncuci - Jiwa itu melalui gunung Thiangan-san yang jauh. Dari sini mau menuju kearah timur.
Kira2 setengah bulan baru akan tiba disana. Tetapi
banyak sekali orang persilatan yang mati ditepi telaga itu.
Tiga puluh tahun tak pernah ada pengunjung yang
selamat jiwanya. Dalam hat ini perlu kujelaskan padamu
lebih dulu I
Terima kasih atas keterangan cianpwe. Lain dari itu,
tadi cianpwe mengatakan bahwa jurus permainan
84

pedangku tak sama dengan gerombolan Topeng Besi.


Lalu ilmu pedang aliran manakah yang digunakan
mereka itu?
Kabarnya meliputi berbagai aliran, Siau-lim, Bu-tong,
Kong-tong, Ceng-sia dan, Heng-san, kelima partai
persilatan besar..........!
Seketika gemetarlah Gak Lui. Tempo hari mendiang
ayah angkatnya mengatakan hanya tiga partai persilatan,
ternyata kini si Hidung Gerumpung itu dapat
menundukkan tokoh2 dari lima partai persilatan besar!
Karena marah hampir Gak Lui hendak mendamprat
tokoh2 murtad yang mau diperbudak si hidung
Gerumpung. Namun ditelannya kembali makiannya lalu
bertanya lebih lanjut :
Dari aliran partai manakah ilmu silat si Maharaja
itu?
Dia memang misterius sekali! Tiada seorangpun
yang mengetahui aliran ilmu silatnya dan sampai berapa
tinggi kepandaiannya itu. Tentang kekuatannya, mungkin
didunia persilatan tiada yang mampu menandinginya
kecuali Raja-di-raja Li Liong-ci!
Gak Lui makin terkejut. Namun ia tak patah hati
bahwa niatnya untuk membalas dendam itu makin keras.
Disamping itu diam2 ia tak puas dengan Raja-di-raja Li
Liong-ci yang tetap menyembunyikan diri itu.
Pertanyaan yang terakhir yalah hendak mohon locianpwe suka menjawab sejujurnya. Adakah lo-cianpwe
sudah menerima Amanat Takdir atau belum?
Ini ..... ini...., belum menerima sahut Pedang
Samudra.....!
Tetapi Pedang Gelombang Go Bun-hua locianpwe
85

mengatakan sudah pernah melihat Amanat Hidup,


mengapa lo-cianpwe menyangkal.......? desak Gak Lui.
Ah, umurmu masih muda belia, jangan keiliwat ingin
tahu segala, agar jangan terganggu perjalananmu........
Maharaja dan gerombolan Topeng Besi, mempunyai
dendam sedalam lautan dengan aku. Aku bersedia
membantu lo- cianpwe.
Dalam hal itu, aku mempunyai perhitungan sendiri,
baik engkau jangan ikut campur ! sahut Pedang
Samudera.
Tidak......! Aku tak dapat berpeluk tangan
mengawasi saja. Apakah lo-cianpwe menganggap
kepandaianku itu lebih rendah .......
Kami berdua mengagumi kepandaianmu. Tetapi
kalau hendak bermusuhan dengan si Maharaja, haruslah
engkau balajar sampai mencapai tataran yang tinggi.
Terus terang, dengan kepandaian yang engkau miliki
sekarang ini, masih terlalu jauh jika hendak menempur
mereka....
Tetapi keputusanku sudah tetap, tak perlu locianpwe mencegah....!
Pedang Samudra Hi Liong - mengkerutkan dahi
karena sikap Gak Lui yang keras kepala. Tiba2 Pedang
Gelombang Go Bun-hua diam2 mendekati Hi Liong-hui
dan membisiki beberapa patah kata ke telinganya.
Pedang Samudra Hi Long-hui mengangguk-angguk, lalu
berkata kepada Gak Lui : Kalau begitu baiklah, aku
mempunyai sebuah urusan yang amat penting hendak
minta tolong kepadamu. Entah engkau mau atau tidak ?
Silahkan cianpwe mengatakan .......! Saat ini
umurku sudah hampir 60 tahun dan hanya mempunyai
86

seorang putera yang kunamakan Hi Kiam-gin. Sudah


lama ia keluar mengembara, sampai sekarang belum
pulang. Hatiku sungguh cemas ........
Aku bersedia mencarinya ! sahut Gak Lui.
Pedang Samudera Hi Liong-hui terharu mendengar
kesediaan anak muda itu. Serentak ia berlutut
menghaturkan terima kasih. Engkau benar2 merupakan
bintang penolong dari keluarga Hi, hanya saja.......
anakku itu berwatak liar .......
Gak Lui terkejut karena jago tua itu berlutut
dihadapannya. Buru2 ia mengangkatnya bangun :
Sudah tentu aku akan mewajibkan diri sebagai seorang
saudara untuk mencari putera lo-cianpwe itu. Tak peduli
bagaimana wataknya, aku tetap tak merobah
pendirianku. Tetapi bagaimanakah wajah saudara Hi itu.
Apakah ada ciri2 pengenalnya yang khas ?
Anakku itu berumur 19 tahun, wajahnya cukup
gagah. Membawa sepasang pedang panjang dan
pendek. Pada waktu meninggalkan rumah dia menuju
kearah timur. Sungguh kebetulan engkau hendak menuju
kesumber air Pencuci Jiwa. Mungkin dapat bertemu di
tengah jalan. Lalu tentang peristiwa gerombolan
Topeng Besi malam ini ...........
Gak siauhiap, kucinta sekali kepada puteraku. Harap
engkau suka melindunginya. Lain2 urusan, tak perlu
engkau hiraukan.
lni .......
Desaku merupakan sebuah tanah datar segi tiga.
Dibelakang desa terdapat lembah gunung. Jika engkau
mengikuti aku, tentu segera diketahui orang-orangku. Itu
berarti engkau tak dapat di percaya. Terutama lembah
87

itu, jangan sekali-kali engkau kesana ...... kata Pedang


Sumedera Hi Liong-hui dengan nada serius. Melihat
orang begitu bersungguh-sungguh meminta, Gak Luipun
berkata dengan lantang: Karena cianpwe menghendaki
begitu, baiklah. Silahkan cianpwe berdua pergi dulu.
Setengah jam kemudian baru aku berangkat. Menilik
kepandaian berjalan cepat dari cianpwe berdua, tak
mungkin aku dapat mengejar.
Mendengar itu barulah Pedang Samudera Hi Lionghui legah hati. Setelah mengulang lagi perminntaannya
agar Gakl Lui benar2 mau mencarikan jejak puteranya
yang hilang itu, kedua jago pedang tua itu segera
melesat pergi.
SETENGAH jam kemudian barulah Gak Lui
berangkat. Tepat pada saat ia tinggalkan tempat itu,
sesosok bayangan hitam diam2 mengikutinya. Walaupun
terpaut setengah jam dan saat itu 'Sepasang Pedang
Gelombang- Samudera sudah tiba dirumah, tetapi karena
Gak Lui dibesarkan di gunung Yau-san, dia memiliki
indera pembau yang tajam sekali. Dalam mengenal bau
orang dengan binatang. Maka sekalipun terpaut
setengah jam ia dapat juga mencium jejak kedua jago
pedang tadi. Memandang kemuka, dilihatnya sebuah
gedung besar tegak dengan megahnya. Dan dilihat-nya
sepasang Pedang Gelombang-Samudera itu tengah
berdiri di muka gedung sambil mencekal pedang.
Celaka kalau ketahuan mereka, sungguh tak enak,
pikirnya. Cepat ia membiluk kekanan dan lari sekencangkencangnya. Melihat itu, orang yang mengikutinya dari
belakang tadi, terkejut lalu buru-buru menyembunyikau
diri dengan rebah ditanah.
Setelah tiga kali membiluk tiga buah tikungan, tibalah
Gak Lui dalam lembah dibelakang gunung. Lembah itu
88

merupakan tanah rendah yang menyerupai sebuah


lumpang batu. Ditengah penuh dengan hutan dan batu2
aneh. Walaupun pada siang hari, suasananya tampak
menyeramkan. Kemudian ketika memandang kelereng
gunung, Gak Lui melihat lereng itu terdiri dari karang
yang melandai tinggi. Tiada hutan dan pepohonan
sehingga tak dapat dibuat tempat bersembunyi. Terpaksa
ia menyusup diantara gundukan2 batu aneh itu. Ketika
hampir mencapai bagian tengah lembah, tiba2 dilihat
sesosok bayangan muncul diatas gunung, buru2 ia
mengumpat di belakang batu.
Cetaka...! Kiranya Go Bun-hua cianpwe! Jika sampai
dilihatnya, sungguh tak enak ..... lebih baik kutunggu
sampai malam hari ........ setelah memutuskan begitu, ia
mencari tempat meneduh dibalik batu besar, ia
mengeluarkan ransum kering lalu memakannya. Untuk
menghadapi pertempuran nanti malam, ia siapkan
sepasang pedangnya. Lain2 perbekalannya, disimpan
hati2 dalam celah batu.
Ketika tangannya menjamah batu, ia merasa aneh:
Eh, mengapa batu ini begini licin sekali ? Dan serempak
dengan itu hidungnya mencium bahu anyir. pembau Gak
Lui yang tajam tetap.......tak dapat mengenali bau itu. Ia
segera duduk bersemedhi, menunggu datangnya malam.
Akhirnya haripun malam. Tetapi malam itu, tiada bintang
dan bulan sehingga suana amat seram. Gak Lui terus
bangkit. Dalam beberapa loncatan saja, ia sudah
mencapai puncak gunung. Melongok kebawah, tampak
rumah2 dibawah gelap pekat2. Pada empat penjuru,
terdapat 10-an lebih api unnggun. Bukan melainkan
rumah2 itu saja, bahkan lereng gunung disebelah depan
pun tampak terang. Saat itu barulah Gak Lui menyadari
akan kegunaan unggun api itu. Tetamu tak dapat melihat
kedalam, tetapi orang dalam dapat melihat jelas setiap
89

pendatang. Ia mulai menuruni gunung.


Karena kuatir jejaknya ketahuan, terpaksa Gak Lui
berjalan hati2 menyusup diantara pohon2 yang rindang.
Perjalanan yang tak berapa, jauh itu telah makan waktu
yang cukup panjang. Saat itu sudah menjelang tengah
malam. Walaupun -musuh belum muncul, tetapi Gak Lui
duga mereka tentu sudah berada disekitar tempat itu.
Sekonyong-konyong terdengar suara suitan tajam.
Rupanya dari jarak yang cukup jauh. Diam2 Gak Lui
menggigil. Pada lain saat tampak beberapa bayangan
hitam bermunculan dari empat penjuru. Mereka
menghampiri tumpukan api dan tahu2 unggun api itu
padam semua. Malam makin pakat.
Segera
Gak
Lui
keluar
dari
tempat
persembunyiannya. Untuk mempersingkat waktu, dari
lereng gunung ia loncat kebawah, terus hendak menuju
kegedung kediaman Hi Liong-hui si Pedang Samudera.
Tetapi ketika masih dua meter dari atas tanah,
sekonyong- konyong kakinya dibabat pedang. Ia terkejut
sekali dan buru2 menekuk lututnya, bergeliatan
melambung keudara lagi seraya mencabut pedang.
Tring...., tring.., ia menangkis pedang penyerang gelap
itu. Dan dengan meminjam tenaga benturan pedang, ia
berjumpalitan melayang turun kebumi. Begitu tegak
ditanah,
barulah
ia
dapat
mengetahui
siapa
penyerangnya itu. Seorang manusia yang mirip hantu.
Dari atas kepala sampai kebawah kaki, tertutup jubah
hitam. Hanya pada bagian mata diberi lubang. Dari
lubang itu tampak sepasang biji matanya yang aneh.
Meram tidak, melekpun bukan. Sama sekali tak
menyerupai seorang manusia hidup!
Adakah yang gihu katakan tentang Topeng Besi itu,
serupa ini dandanan-nya.......! diam2 is menimang dalam
90

hati. Ditatap dua orang aneh itu dengan tajam. Ia hendak


menyelidiki apakah pada bagian kepala orang masih
terdapat lagi topeng besi. Tetapi orang aneh itu tak mau
memberi kesempatan kepadanya
Pedang
ditaburkan
laksana
kembang
api
berhamburan di udara. Yang diserang selalu jalan darah
maut pada tubuh Gak Lui. Dengan hati2 Gak Lui
melayani. Ia tak mau balas menyerang melainkan
bertahan diri. Ia hendak menyelidiki ilmu pedang orang
itu. Ah......., ternyata orang itu menggunakan ilmu
istimewa dari partai Bu tong pay. Kepandaian dan tenaga
saktinya lebih tinggi dari Ceng Suan totiang, pejabat
ketua dari Bu-tong-pay !
Gak Lui tak berani berlaku ayal. Segera ia keluarkan
jurus Menyolok-bintang- memetik bulan. Melihat Gak Lui
mengisar kaki kesamping, orang aneh itu segera
congkelkan pedangnya dari bawah keatas.
Bagus......! diam2 Gak Lui berseru girang. Segera ia
pancarkan tenaga-saktinya. Pedangnya berobah laksana
sinar bianglala yang mengurung pedang orang hingga
hampir terpental jatuh. Tetapi, pada saat Gak Lui hampir
berhasil menundukkan pedang lawan, tiba2 dari arah
gedung terdengar ledakan keras. Gak Lui terkejut,
keluhnya : Celaka, habislah riwayat kedua cianpwe
........ Karena perhatiannya terpengaruh oleh ledakan itu,
Gak Lui agak tertegun.
Kesempatan itu tak disia-siakan siorang aneh, tiba2
ia kerahkan tenaga untuk menindih pedang Gak Lui, lalu
dikiblatkan memapas muka Gak Lui. Gak Lui terperanjat
sekali, buru2 ia menyurut mundur dua langah. Tangan
kanan menangkis dengan pedang, tangan kiri cepat
mencabut pedang pusaka Pelangi lalu balas menusuk ke
mata lawan. Melihat pedang pusaka dari Bu-tong-pay itu,
91

orang berkedok hitam terbeliak. Buru2 ia tegak berdiri


seraya menarik pulang pedangnya. Pada saat itu,
secepat kilat Gak Lui menarik pedang ditangan kanan
lalu menusuk alis orang itu. Krek....., krek .... terdngar
suara logam beradu. Orang aneh itu mundur tiga
langkah. Gak Lui tergetar hatinya. Walaupun ia telah
gunakan tenaga penuh untuk menusuk namun muka
orang yang terlindung dengan topeng besi, tak dapat
ditembus pedang. Kain kerudung bagian muka yang
telah terpapas robek itu, menampakkan sebuah topeng
besi yang tebalnya lebih dari satu dim. Menilik dari noda
karatan pada topeng besi itu, jelas kalau sudab dipakai
selama bertahun-tahun.
Bunuh........! tiba2 benak Gak Lui terlintas akan
tuntutan kewajibannya membalas dendam. Ia harus
membunuh orang bertopeng besi itu. Terus dia tusukkan
pedang Pelangi kemata orang. Tatapi..........ia terkejut
sendiri karena orang itu tetap diam saja. Gak Lui
serentak terbayang akan wajah yang penuh welas asih
dari Ceng Hi totiang, ketua Bu-tong-pay yang telah
menyerahkan pedang Pelangi kepadanya. Seketika tak
sampailah hatinya untuk melangsungkan tusukan maut
itu.
Karena rupanya engkau kenal akan pedang ini,
tentulah engkau ini Ceng Ci totiang yang telah
menghilang itu ! serunya dengan bengis. Tetapi orang
aneh itu tak menyahut. Melainkan sepasang matanya
yang berkilat-kilat.
Dalam penyerangan gelap pada Empat Pedang
Busan 18 tahun yang lalu, apakah engkau juga ikut serta
! seru Gak Lui pula.
Mengapa membisu saja ........... apakah engkau
......... terkena sihir! Gak Lui berteriak lagi. Tiga kuli Gak
92

Lui bertanya, tiga kali tak disahut. Marahlah pemuda itu,


serunya : Hutang jiwa harus ganti jiwa ! Tak peduli
engkau ini imam Ceng Ci atau bukan.....! pedang di
hamburkan dengan jurus Memotong-emas-membelahkumala. Tetapi baru pedang bergerak, tiba2 ia rasakan
punggungnya disambar oleh tebasan pedang. Terpaksa
Gak Lui berputar tubuh untuk menjaga diri.
Aku disini, jangan salah lihat tiba2 terdengar suara
orang berseru dengan nada kuat. Gak Lui berputar tubuh
dan hentikan pedang. Ah, ia berhadapan lagi dengan
seorang Topeng besi. Siapa engkau....! tegurnya.
AKU adalah imam Bu-tong pay Ceng Ci totiang
.........
Oh ..... ! Gak Lui terkejut, lalu siapakah orang
bertopeng yang tadi.....?
Topeng Besi...... ya...! Topeng Besi, perlu apa
banyak pertanyaan ! bentak si Topeng Besi.
Sepasang Pedang Gelombang-Samudera, mereka
telah menolak Amanat Hidup dari Maharaja, sudah tentu
mereka harus mati.....!
Ho, murid Bu-tong yang murtad. Aku hendak
menuntutkan balas pada orang, yang telah engkau
celakai! teriak Gak Lui.
Huh...., betapa tinggikah kepandaianmu berani
bermulut besar .......
Lihat pedang......!, Gak Lui terus menyerang dengan
sepasang pedangnya. Topeng besi yang mengaku
bernama Ceng Ci totiang itu mundur setombak lalu
mendengus dingin.
Jangan kesusu mati......! Engkau tadi mengatakan
hendak mencari aku, kenapa?
93

Bu .... Gak Lui hendak menanyakan tentang


peristiwa Empat Pedang Busan, tetapi tiba2 ia
mengalihkan kata dengan membentak: Mewakili Ceng Ki
totiang untuk memeriksa penghianatanmu.
Ha..., ha..., ha..., ha....! orang itu tertawa gelak2, lalu
berseru : Atas hak apa?
Inilah........! Gak Lui mengacungkan pedang Pelangi
ke atas kepalanya dan menuding lawan. Oho.........
kiranya engkau mengandalkan kepandainmu silat cakar
kucing itu ! ejek si Topeng Besi.
Gak Lui terkejut. Sedikitpun orang itu tak
mengindahkan pedang pusaka partainya. Jelas sudah
terlalu besar kejahatannya. Harus dibunuh.........!
Tiba2 orang itu berkata pula dengan congkak: Tak
lama setelah menerima kedudukan sebagai ketua partai
Bu-tong, cousu-ya akan mengadakan pembersihan.
Karena engkau kenal mereka, bolehlah membawa surat.
Tetapi ada syaratnya
Syarat.......? karena marah Gak Lui sampai dingin
kaki tangannya. Tetapi menyadari bahwa saat itu sedang
berhadapan dengan musuh besar, terpaksa ia harus
menahan kemarahannya. Lalu menghela napas. Topeng
Besi Ceng Ci totiang mengira kalau pemuda itu sudah
meluluskan. Ia melanjutkan kata-katanya : Syaratnya
sederhana. Asal engkau tunduk pada Maharaja dan
menjadi salah seorang anggauta Topeng Besi.
Mendengar itu tertariklah perhatian Gak Lui. la
hendak menyelidiki keadaan Maharaja. Cobalah engkau
terangkan keadaan Maharaja itu.....! serunya.
Apa yang engkau ingin tahu....?
Namanya, asal usulnya .............
94

Ini......... engkau tak pernah bertanya


,Hm...., rupanya engkau juga tak mengerti sendiri !
Coba katakanlah, dia mempunyai hidung atau tidak?
Mendengar pertanyaan itu Topeng Besi imam Ceng Ci
tertawa menyeringai. Serunya : Jangan..... ngaco belo,
dia ... dia .... mustahil tak punya hidung, tanya saja lain
hal.....!
Ilmu silatnya termasuk aliran mana? Sebagai kaki
tangannya, engkau harus tahu.....!
Segala aliran partai persilatan, tak ada yang tak
faham. Kesempurnaan kepandaiannya, didunia tiada
tandingannya....!
Gak Lui mendengus, lalu bertanya tajam
Bagaimana kalau dibanding dengan Raja-diraja?

Eh....... engkau kenal pada Raja-diraja? Apakah


engkau mempunyai hubungan?
Hanya mendengar namanya saja !
Orang bertopeng itu menghela napas longgar:
Menilik umurmu, tak mungkin kenal ....
Tetapi kalian
kepadanya!

takut

seperti

melihat

macan

Heh..., heh....! Lambat-laun, dia tentu akan


dilenyapkan oleh Maharaja! Nah....., sekarang lekas
engkau nyatakan, mau tunduk atau tidak !
Huh, aku mau membawa suratmu. Tetapi dengan
syarat juga !
Katakan.....!
Aku harus membawa kepalamu seorang murid
penghianat itu, bersama surat itu!
95

Topeng-Besi imam Ceng Ci tertawa nyaring,


kumandang tawanya bergema jauh ke langit. Habis
tertawa pedang segera berhamburan melibat tubuh Gak
Lui.
Gak Lui terkejut. Ia rasakan dirinya diselimuti oleh
sinar pedang yang berhawa dingin. Jurus2 yang
dimainkan imam itu bukan melainkan ilmu pedang Butong-pay, pun kesempurnaan dan tenaganya, jauh
melebihi dari si Topeng Besi yang tadi. Gak Lui bersuit
nyaring. Sepasang pedangnya dimainkan menurut ajaran
ilmu pedang Pedang lblis' dan Pedang Laknat'. Seluruh
kepandaian dan tenaganya dicurahkan dalam permainan
itu. Cepat sekali tigapuluh jurus telah berlangsung. Ketiga
batang pedang itu berhamburan saling mengadu
kekuatan. Rupanya Topeng Besi Ceng Ci totiang itu
terkejut juga. Ia tak mengira bahwa seorang pemuda
yang mukanya ditutup dengan kedok kulit binatang
ternyata memiliki ilmu pedang yang sedemikian hebat
dan aneh. llmu pedang yang tidak termasuk ilmu pedang
dari ke 7 partai persilatan.
Hampir setengah hari bertempur tetap ia tak mampu
mengetahui dari aliran manakah ilmu pedang lawannya
itu. Dan yang paling mengejutkan perasaannya yalah,
anggauta Topeng Besi yang biasanya selalu tunduk pada
perintahnya saat itu hanya berdiri tertegun disamping.
Anak buah itu sama sekali tak mau membantu tetapi
hanya memandang terIongong-longong mengikuti gerak
pedang Pelangi yang dimainkan Gak Lui.
Aneh....! Ilmu apakah yang dimiliki budak ini
sehingga dapat membuat anggauta Topeng Besi tak mau
mendengar perintahku lagi ? diam2 Ceng Ci totiang
mengeluh heran. Tiba2 ia mendapat pikiran. Bersuitlah ia
senyaring-nyaringnya. Sebuah suitan yang melengking
96

tajam, menggigilkan h orang......! Mendengar itu, anggota


Topeng Besi jadi gelagapan. Sinar matanya memancar
cahaya lagi, lalu mulai bergerak menyerang punggung
Gak Lui. Gak Lui sibuk juga.
Dalam, tekanan dua musuh yang berkepandaian
tinggi, ia harus kerahkan seluruh tenaganya untuk
menghadapi. Pedang ditangan kanan dimainkan untuk
melayani serangan Ceng Ci totiang. Sedang pedang
Pelangi yang dicekal ditangan kiri, diputar untuk
menghalau
serangan
anggauta
Topeng
Besi
dibelakangnya.
Melihat anak muda itu dapat bertahan diri, timbullah
nafsu keganasan Ceng Ci totiang: Menilik gelagat, sukar
untuk menangkapnya hidup-hidup. Tak peduli dia anak
murid partai mana, paling perlu harus dilenyapkan.....!
Cepat ia loncat kesamping anggauta Topeng Besi
tadi. Kini dengan bahu membahu, keduanya mulai
lancarkan serangan dahsyat kepada Gak Lui. Lima jurus
kemudian, tiba2 Ceng Ci totiang hantamkan tangan
kirinya dengan tenaga sakti Hian-bun-cin-gi. Bagaikan
gelombang laut, pukulan itu memancarkan gelombang
tenaga yang melanda Gak Lui. Betapa tangkas Gak Lui
menangkis, namun tetap ia terpental tiga langkah
kebelakang dan muntah darah. Melihat pukulannya
berhasil, Ceng Ci totiang tak mau memberi ampun lagi.
Pukulan kedua disusulkan dengan cepat, bum.........
Dada Gak Lui terlanda angin pukulan dahsyat itu. Namun
dengan menggigit gigi menahan sakit, ia enjot tubuhnya
loncat beberapa langkah jauhnya.
Hai, hendak lari kemana engkau......! teriak Ceng Ci
totiang seraya loncat melayang keudara. Gak Lui nekad.
Tanpa berpaling kebelakang, ia balikkan pedang Pelangi
memapas kebelakang. Tring ....... putuslah pedang
97

anggauta Topeng Besi itu. Ceng Ci totiang terkejut,


teriaknya : Ho, ternyata engkaulah Pemangkas Pedang
itu !
Saat itu Gak Lui masih melayang diudara. Sekalipun
ia tak sempat merenungkan teriakan terkejut dari Ceng
Ci totiang, namun tak urung ia agak tertegun juga. Dan
sedikit kelambatan itu, harus dibayarnya mahal. Untuk
yang ketiga kali, dadanya tersambar pukulan sakti dari
tenaga Hian-bun-ciu-gi yang dilancarkan Ceng Ci totiang.
Dalam gugup, Gak Lui menarik pedang Pelangi lalu
menusuk dengan pedang ditangan kanan. Dengan
gerakan itu ia dapat memaksa Ceng Ci totiang mundur
setengah langkah. Tetapi dia sindiripun muntah darah
beberapa kali lagi ....
Secepat menginjak bumi, Gak Lui kalap, berputar
tubuh ia meraung: Bangsat, aku hendak mengadu jiwa
dengan engkau........!
Tetapi pada saat itu juga, telinganya seolah-olah
terngiang oleh suara Pedang Iblis dan Pedang Aneh :
Anak Lui, larilah dulu.....!, Musuh besar yang
sesungguhnya masih belum muncul, engkau harus
mencari .........
Gak Lui gelagapan tersadar. Cepat ia batalkan
minatnya, lalu loncat beberapa langkah dan terus
melarikan diri. Tetapi Ceng Ci totiang tetap mengejarnya.
Gak Lui tak dapat menahan kemarahannya lagi.
Serentak berhenti ia berputar tubuh lalu gerakkan kedua
pedangnya. Tring .... Ceng Ci totiang yang amat
bernapsu untuk membunuh lawan terkejut sekali, ketika
tahu2 pedangnya terpapas kutung , oleh Gak Lui. Untung
pada saat itu anggauta Topeng Besi tadipun menyusul
tiba. Dengan pedangnya yang kutung, cepat ia menusuk
tenggorokan Gak Lui. Crek..... karena terlindung oleh
98

kedok kulit binatang yang kebal senjata, tusukan


anggauta Topeng Besi itu tak mampu menembus
terggorokannya. Namun sekalipun begitu, tak urung Gak
Lui terhuyung-huyung dan tiba2 kakinya tergelincir jatuh
bergelundungan sepanjang karang, menurun kebawah .
Jika anggauta Topeng Hitam tertegun dan menarik
pedangnya melihat lawan sudah tergelincir jatuh
kebawah, tidak demikian dengan Ceng Ci totiang, Imam
itu tertawa nyaring lalu loncat mengejar kebawah.
Pendek kata, sebelum membunuh pemuda itu, tak
puaslah hatinya. Ternyata Gak Lui menggelinding kearah
tepi lembah. Begitu tiba dikaki karang, cepat ia loncat
bangun, lari kebalik batu besar tempat ia menyimpan
barang2 bekalannya. Papa saat ia mengambil
bekalannya itu, tiba2 hidungnya metincium bahu yang
amat anyir sehingga ia hampir muntah. Sebelum ia
sempat mengetahui bau anyir itu, Ceng Ci totiangpun tiba
dan terus menghantamnya. Tetapi habis menghantam,
imam itu menjerit kaget ! Dari sebelah batu besar,
menghambur sebuah arus tenaga penyedot yang berbau
anyir dan dingin. Seketika menjeritlah Ceng Ci totiang
seperti melihat hantu disiang hari
Gak Lui mendengus tertahan. Ia dilanda pukulan
Ceng Ci totiang. Baru tubuh terhuyung tiba-tiba disedot
oleh tenaga-hisap dari belakang. Wut..... laksana anak
panah, tubuh Gak Lui melesat masuk kedalam sebuah
liang yang gelap dan lembab. Ia coba meronta, tetapi
dinding lubang itu tiba2 merapat menjepitnya. Gak Lui
terkejut lalu pingsan. Ternyata Ceng Ci totiang menjerit
tadi karena melihat dua bilah daging merah sebesar kuali
dan dua buah bola api sebesar genggaman tangan.
Ceng Ci totiang cepat2 loncat mundur sampai tiga
tombak. Ketika memperhatikan dengan seksama,
ternyata daging merah sebesar kuali itu adalah mulut dari
99

seekor ular besar. Bau anyir dan tenaga-hisap yang


melancar dari belakang Gak Lui tadi adalah berasal dari
semburan mulut ular besar itu. Dan pemuda itu telah
tersedot masuk kedalam perut si ular Namun naga itu
tampaknya masih belum kenyang. Kepalanya menjulur
ke atas, lidahnya yang runcing merah, tak henti2 nya
melelet-lelet :............'
Ceng Ci totiang ngeri. Ia loncat menghampiri
anggauta Topeng Besi dan menimang : Budak itu
memang pendek umurnya, tetapi menurut laporan dari
mata2 kita, seharusnya dia berada ditempat 100-an li
jauhnya. Mengapa tiba2 muncul di sini .....? Ah.......,
tetapi karena ia sudah mati, tak perlu dikejar lagi ....
Baru ia hendak mengajak anggauta Topeng Besi itu
angkat kaki, tiba2 ia dapatkan tubuh orang itu berkisarkisar pelahan. Dan scrempak dengan itu, Ceng Ci totiang
seperti mendengar suara suitan yang lemah mengalun di
angkasa. Mirip dengan suitan pertandaan tetapi pun
menyerupai desis bangsa ular. Karena menghadapi
beberara peristiwa yeng aneh, Ceng Ci totiang tak mau
membuang waktu menyelidiki lagi. Ia bersuit memanggil
anggauta Topeng Besi terus loncat tinggalkan tempat itu.
ULAR RAKSASA itupun bergeliatan masuk ke dalam
sarangnya. Sebuah goha di tepi lembah, ternyata goha
itu dalam sekali, lembab dan berli-liku amat panjang. Gak
Lui masih pingsan di dalam perut ular. Ternyata dalam
guha itu telah siap menyambut seekor mahkluk aneh
yang berkulit lima warna. Begitu ular masuk, mahkluk
aneh itu segera mendahului berjalan di muka, menjadi
penunjuk jalan ular itu. Ular itu mengikuti di belakang
mahkluk aneh yang merangkak dan merayap ke atas, ke
bawah lalu membiluk ke kanan dan ke kiri, menyusup
kebagian dalam dari guha itu. Kira2 sepeminum teh
lamanya, mereka telah masuk ke dalam sebuah lubang
100

kuburan yang luar biasa besarnya. Di atas dinding liang


kubur itu, melekat sejumlah besar mutiara besar2 yang
terang gemilang cahayanya. Sedang di sekeliling liang
kubur itu penuh dengan berpuluh-puluh tulang rangka
ular-besar dan longsongan kulit ular. Juga pada dinding
liang terdapat banyak sekali lubang besar kecil untuk
sarang ular. Sebenarnya liang kubur itu bukanlah
kuburan untuk manusia mlainkan kuburan dari jenis ular
besar yang hidup ratusan tahun yang lalu. Mutiara2 yang
melekat pada dinding yang memancarkan cahaya terang
itu, sebenarnya berasal dari otak ular besar yang meleleh
dan membeku menjadi semacam kristal yang dapat
memancarkan cahaya terang benderang.
Tiba2 terjadi suatu keanehan. Mahkluk aneh yang
menjadi penunjuk jalan itu sekonyong- konyong berdiri
seperti manusia. Setelah beberapa kali menggoyangkan
tubuh, tiba2 dia berobah menjadi seorang gadis cantik.
Rambutnya memanjang sampai kepantat. Kulitnya
berwarna segar kemerah-merahan. Tubuhnya hanya
terbungkus oleh sehelai pakaian dari kulit ular yang
mengkilap. Setelah berdiri, gadiss itu menyiak kulit ular
yang menutup kepalanya keatas dada, begitu pula kulit
bagian kakinya disingkap keatas lutut hingga tampaklah
kulit kakinya yang putih.
Mengapa engkau makan orang? pada lain saat
gadis itu menegur ular besar tadi. Ular itu menundukkan
kepala seolah-olah seperti menyesal. Rupanya binatang
itu mengerti bahasa sigadis. Hm........, jika tak Iekas2
kupanggil kamu, orang itu tentu sudah engkau kunyah
dalam perutmu! Hayo lekas muntahkan keluar........! seru
sigadis pula.
Serta merta Ular Besar itu segera mengangakan
mulutnya. Setelah badannya bergetaran dan ekornya
101

bergeliatan, Gak Lui beserta senjatanya, dimuntahkan


keluar. Habis itu, ular besar terus meluncur masuk
kebagian, dalam dari liang kubur. Rupanya ia takut
mendapat hukuman sigadis, lalu buru2 menyembunyikan diri. Hai, kiranya seorang lelaki .... gadis itu
melengking kaget kemudian ia ulurkan tangan ke mulut
Gak Lui untuk memeriksa pernapasannya. Ia terkejut
karena napas pemuda itu sudah tak terdengar. Buru2 ia
memeriksa pergelangan tangan Gak Lui. Setelah
beberapa saat, segera ia lari ke dalam liang dan
mengamhil sebatang kim-cau (rumput emas) yang
bentuknya panjang kurus seperti anak panah. Lebih dulu
rumput kim-cau itu dikunyahnya sampai halus, lalu ia
menundukkan muka, memakankan kunyahan rumput itu
ke mulut Gak Lui, seperti seekor burung sedang memberi
makan kepada anaknya.....
Tetapi Gak Lui sedang pingsan. Mulutnya terkancing
rapat, napas berhenti sehingga tak dapat menerima
susupan rumput halus itu. Gadis itu tidak gugup. Tanpa
malu2 lagi, ia terus lekatkan bibirnya kebibir Gak Lui lalu
mulai kerahkan tenaga-dalam untuk meniupkan rumput
obat itu kedalam mulut Gak Lui. Supaya tiupannya
berhasil, tanpa disadari tubuh gadis itupun merapat pada
tubuh Gak Lui .... Beberapa saat kemudian tampak dada
Gak Lui mulai bergerak mengikuti tiupan hawa dari mulut
sigadis. Pelahan-lahan pemuda itu mulai dapat
bernapas. Dalam keadaan masih belum sadar, ia
rasakan suatu arus hawa hangat yang harum meluncur
kedalam tenggorokan terus memancar keseluruh
tubuhnya. Kunyahan rumput kim-cau itu cepat sekali
menyalur keseluruh jalandarah Gak Lui. Seketika
menimbulkan rangsang panas yang membakar
ubun2nya. Karena mencurahkan perhatian untuk
meniupkan kunyahan rumput obat kemulut Gak Lui,
102

tanpa disadari pakaian kulit ular yang menutup tubuh


gadis itu meluncur lepas sehingga Gak Lui tak dapat
menahan diri lagi. Kedua insan itu bagaikan naik
gelombang samudera yang mengayun, berkejar-kejaran
menuju kepantai. Makin lama makin mengalun tinggi,
makin tinggi sekali keangkasa akhirnya, pecah
berbamburan tertumbuk karang. Bagaikan letusan
gunung, ombak meledak pecah dan terhempaslah kedua
insan itu lemah lunglai tak bertenaga lagi. Kedua muda
mudi itu telah melanggar makan buah terlarang ....
Karena kesadaran mereka telah hanyut dibawa rangsang
rumput obat. Disaat, kesadaran hilang berkuasalah sang
Nafsu......!
Beberapa saat kemudian, tersadarlah Gak Lui akan
apa yang telah terjadi. Pertama yang dilihatnya benar2
menyentuh perasaannya. Bagaikan sekuntum bunga
yang habis dilanda hujan, gadis jelita itu tampak lemah
lunglai. Kedua tangannya mendekap muka, tersipu-sipu
dan terisak- isak......
Hai....., apakah yang telah kulakukan tiba2 ........
Gak Lui loncat bangun. Ia tcrkejut ketika menyadari apa
yang telah terjadi. Dengan terhuyung-huyung ia
menunduk dan berkata kepada nona itu: Nona,
maafkan. Aku sungguh menyesal sekali. Ini ...... ini tak
kusengaja ..... Gadis itu mengangkat mukanya pelahanlahan. Sepasang pipinya tampak kemerah-merahan dan
menyahutlah ia dengan tawar: Akupun tak sengaja....itu
dikarenakan...........
Karena apa......?
Karena aku ......... menyusurkan rumput kedalam
mulutmu.
Rumput apa? diam2 Gak Lui memang bibirnya
103

masih merasakan harum dan manis dan tubuhnya terasa


panas.
Rumput itu disebut rumput Panah-emas-wangi.
Khasiatnya dapat melenyapkan racun. Tetapi ..., aku tak
tahu kalau rumput itu, .... dapat membuat orang ... kacau
balau pikirannya.
Keterangan sijelita secara jujur itu telah melenyapkan
kecurigaan Gak Lui. Ia percaya karena dara itu berusaha
sungguh2 untuk menolong dirinya tetapi karena tak tahu
jelas khasiat rumput itu. telah menyebabkan mereka
berdua terangsang melakukan perbuatan yang terlarang,
Diam2 Gak Lui berterima kasih kepada si gadis cantik itu.
Tapi disaat disamping itu, kini ia bertambah sebuah
beban kewadjiban.
Budi kebaikan nona, pasti tak kulupakan, kata Gak
Lui, kelak tentu akan kubalas sepenuh-penuhnya
Ucapan itu bahkan menimbulkan ketegangan sijelita. Ia
menghela napas, katanya: Engkau ...... hendak......
membalas ......dengan apa?
Silahkan nona mengatakan,
berusaha melaksanakan !

aku

tentu

akan

Setelah terjadi hal tadi ..... aku ..... terpaksa .... harus
ikut padamu selama-lamanya Gadis itu tersipu-sipu malu
ketika mengucapkan isi hatinya. Gak Lui terperanjat :
Hal ini .... jangan Gadis cantik itu kerutkan alis :
Apakah engkau ........ sudah beristeri ?
Belum....!
Apa hendak memberi tahu orangtuamu ?
Sejak kecil aku tak pernah melihat orangtuaku. Mau
melapor kepada siapa?
Menilik engkau membekal senjata, tentulah engkau
104

seorang persilatan. Apakah engkau sedang melakukan


perintah gurumu?
Gurukupun sudah meninggal dunia.
Oh...., gadis itu mendengus kejut. Alisnya makin
melekik dalam. Sepasang biji matanya memancar rasa
iba, serunya sambil menggigit bibir: Kalau, begitu ....
engkau tak mau bertanggung jawab?
Tidak..., tidak.....! Bukan begitulah. Adalah karena
sedang melakukan tugas kewajiban maka aku tak berani
sembarangan meluluskan
Omonganmu itu, bertentangan sendiri! Aku tak
mengerti apa maksudmu?
Diriku sedang memikul kewajiban membalas
dendam. Untuk itu aku harus menuntut ilmu kesaktian
yang tiada tandingannya. Dengan begitu barulah
harapanku tetkabul. Keadaanku saat ini selain harus giat
mencari ilmu kcsaktian, pun tiap saat selalu ditimpah
bahaya2 yang tak ter-duga2
Oleh karena itu engkau tak mau tertindih lain beban
lagi.....?
Karena aku tak ingin engkau terlibat dalam bahaya
itu!
Menilik sikap dan ucapan Gak Lui yang begitu bersungguh2, gadis itu mau percaya juga. Ia tundukkan
kepala dan menghela napas panjang.
Nona, apakah engkau tiada lain urusan yang perlu
kubantu? tanya Gak Lui.
Ibuku sudah meninggal. Aku bermaksud akan
mencari ayah, tetapi ... sekarang aku tak ingin pergi lagi!
Lalu bagimana kehendakmu?
105

Akan tinggal didalam Liang kubur ini seumur hidup!


Ah......., tak perlu begitu. Dan dimanakah tempat
tinggal ayahmu yang hendak engkau cari itu.
Ayah sudah beberapa tahun menghilang. Tak tahu
dimana dia berada!
Hilang?Gak Lui terbelalak kaget. Diam2 ia teringat
akan keadaan dunia pesilatan, dimana banyak tokoh2
persilatan, yang hilang tak ketahuan rimbanya. Adakah
ayah gadis itu juga salah seorang yang menjadi korban?
Apakah ayah nona itu seorang tokoh sakti? tanyanya
segera.
Ayahku Li Kok-hua, bukan tokoh persilatan sakti
tetapi seorang tabib nomor satu di dunia.
Oh, makanya engkau mengerti ilmu obat-obatan.
Jadi engkau puteri seorang tabib sakti!
Sedikit2 ilmu pengobatan yang kumiliki itu bukan
kupelajari dari ayah tetapi dari ibuku. Karena pada waktu
ayah menghilang, aku masih dalam kandungan ibu.
Berapakah umur nona sekarang? .
Tujuh belas!
Kalau begitu ayah nona menghilang sejak 17 tahun
yang lalu?
Benar,
Mengapa beliau menghilang?
Ibu mengatakan, pada malam itu ayah diundang
oleh seorang sastrawan untuk mengobati, tetapi sejak
malam itu, ayah tak pernah pulang, lagi!
Ibu nona bagaimana meninggalnya? Dan mengapa
nona berada disini
106

Ibu menunggu sampai 14 tahun. Karena ayah tetap


tak ada beritanya, ibu lalu membawa aku mengembara
mencari jejak ayah, Tetapi sungguh malang. Di tengah
perjalannan, ibu menderita sakit dan meninggal. Seorang
diri aku melanjutkan perjalanan dan akhirnya tersesat
masuk ke, dalam guha kuburan sini.
Apakah nona tak berjumpa dengan ular ?
Akupun mengalami peristiwa seperti engkau. Ditelan
ular dan dibawa masuk ke dalam liang lalu dimuntahkan
keluar lagi.
Diam2 dalam hati kecil Gak Lui setengah tak percaya
bahwa ia ditolong nona itu ke luar dari perut ular. Maka
makin tidak percaya lagi ia akan keterangan sinona
tentang peristiwa ditelan ular lalu dimuntahkan itu. Gak
Lui kerutkan alis .
JILID 3
Eh, engkau tak Percaya? tegur dara itu demi
melihat Gak Lui bersangsi, kutahu berjenis bunga dan
rumput yang aneh. Ketika berada di luar guha aku telah
makan rumput Panah-mas-wangi. Setelah menelan
diriku, ular itu terpaksa memuntahkannya lagi. Akhirnya
kami jadi sahabat. Selama bertahun-tahun ini, aku
banyak belajar darinya mengenai cara tidur dimusim
rontok, bernafas .......
Tidak, itu bukan ilmu bernafas! tukas Gak Lui,
memang dalam ilmu silat terdapat suatu pelajaran yang
disebut KURA2 BERNAPAS. Pelajaran itu diambil dari
cara2 binatang bulus bernafas dalam air. Teori kura2 dan
ular tidaklah sejenis. Dengan begitu engkau telah
meyakinkan suatu ilmu yang istimewa. Kelak tentu amat
107

berguna dalam usaha mencari ayahmu .........


Sayang aku tak dapat silat ....., tetapi maukah
engkau mengajari aku?
Ilmu-silatku, termasuk sebuah aliran istimewa yang
mungkin dapat mengundang perhatian musuh. Oleh
karena itu lebih haik jangan
O......., ini tak boleh, itu tak boleh! Kalau begitu lebih
baik aku tak keluar dari sini saja! sidara mendesah
geram....., kelak apabila ketemu ayah, dengan ilmu
pengobatannya tentu dapat mengenali diriku .......
Dengan ucapan itu sidara hendak mengatakan
bahwa ia kuatir kalau ayahnya dapat mengetahui dirinya
sudah bukan gadis lagi. Tetapi karena sungkan
mengatakan kata2 itu, ia berkata dengan tak jelas. Tetapi
Gak Lui tak menyadari hal itu. Dengan terus terang, ia
berkata: Orang tuaku telah dicelakai orang. Dan untuk
itu aku bersumpah hendak menuntut balas. Seharusnya
engkaupun mempunyai penderian begitu juga!
Kalau begitu engkau suka membawa aku ke luar ?
Ya, akan kubawa kamu keluar, kemudian aku tetap
akan menuju ketempat tujuanku dan engkaupun mencari
jejak ayahmu.
Kalau begitu, tentang soal pertama yang kukatakan
tadi, engkau ........
Sekarang aku tak mau mengucapkan kata2 manis
hanya sekedar untuk mengelabuhi engkau. Tetapi
setelah sakit hati orang tuaku himpas, tentu....... tentulah
......
Tentu, bagaimana.....? tukas gadis itu.
Tentu akan meluluskan !
108

Gadis itu menggigit bibir, merenung beberapa jenak


lalu bertanya dengan nada sarat: Kalau mengembara di
dunia persilatan, apakah engkau tak jatuh cinta pada lain
orang?
Tak mungkin....! percayalah.....!
Sungguh......?
Dengan pedang sebagai sumpah. Jika aku sampai
berbalik haluan, biarlah mati di bawah tusukan pedang
.......
Dara itu bagaikan meneguk sari madu. Cepat-cepat
ia mendekap mulut Gak Lui dan rebahkan diri ke dada
pemuda itu. Beberapa waktu kemudian barulah mereka
berpisah walaupun dengan hati berat. Dengan wajah
berseri merah dan bertanyalah gadis itu dengan berbisik :
Sudah hampir setengah hari siapakah namamu?
Aku Gak Lui dan engkau?
Si Ular .....
Huh, itu bukan namamu !
Aku tinggal didalam lubang ular, hidup sebagai ular,
sudah tentu bernama si Ular Gak Lui berbangkit
serentak dan berkata : Jika engkau tak mau bilang, aku
akan pergi sekarang juga!
Hi...., hi...., hi ... gadis ular itu tertawa geli, serunya:
Aku tak takut engkau pergi. Kalau tak kutunjukkan
jalannya, mungkin seumur hidup engkau tak mampu
keluar dari tempat ini.......!
Masakah? seru Gak Lui seraya memandang
kesekeliling guha itu.
Siapa membohongimu? Dalam makam ular ini, tiada
jalan keluar sama sekali. Hanya lubang terowongan
109

untuk jalan ular saja. Betapapun tinggi kepandaianmu,


jika tak kutunjukkan jalannya, engkau tentu akan tersesat
dalam terowongan yang pelik dan tak dapat keluar !
Melihat tulang2 ular dan kulit2 ular yang menumpuk
setinggi bukit, diam2 mengigilah perasaan Gak Lui. Si
Ular buru2 melangkah kemukanya dan tertawa: Ih,
hanya bersendau gurau saja, tak boleh marah! Namaku
Li Siau mey ....
Gak Lui pun tertawa: Hu...., indah sekali nama itu.
Apakah engkau takut kuketahui?
Romanku cakap tetapi engkau tutupi dengan kedok
yang mengerikan. Apakah itu tak menakutkan aku juga?
balas Siau-mey. Gak Lui terkejut dan cepat2 meraba
mukanya Engkau membuka kedok mukaku ini?
Tidak! Aku hanya menduga saja.
Benarkah begitu
Sudah tentu benar, semula aku sibuk menolongmu,
kemudian ... tak ingat memmbuka kedok muka itu lagi.
Legalah hati Gak Lui. Ia, menghela napas longgar. Suatu
hal yang membuat heran Siau-mey sigadis ular,
tanyanya:
Mengapa engkau takut membuka kedokmu. Apakah
engkau tak angap ......
Aku telah bersumpah sebelum mendapat ilmu sakti
tanpa tanding tak akan membuka kedokku ini. Membuka
kedok berarti melanggar sumpah!
Apakah aku ..... sekarang ini engkau anggap orang
luar?
Jangankan engkau.....sedang aku sendiripun tak,
pernah melihat muka sendiri
110

Ai ... Siau-mey melengking tak percaya. Itu benar2


hal yang paling aneh didunia, masakan engkau tak kenal
wadjahmu sendiri! Gak Lui menghela napas.
Keteranganku itu memang benar, katanya, aku
memang tak pernah melihat wajahku sendiri. Memang
satu waktu ingin kubuka kedok ini agar dapat kuduga
bagaimana raut wajah orang tuaku itu.
Seorang manusia tak mungkin tak tahu wajahnya
sendiri. Misalnya diwaktu cuci muka dan berkaca..........
Aku dipelihara oleh ayah angkatku. Beliau takut
kalau melihat wajahku lantas teringat akan ayahku. Oleh
karena sejak kecil aku diberi kedok muka ini. Selama itu
tak diperbolehkan aku berkaca dan mencuci muka.
Beliaupun berpesan apabila melintasi sungai, dilarang
menundukkan muka kepermukaan air sungai dan jangan
sekali- kali membuka kedok muka ini !
Ah, riwayatmu benar2 gaib sekali ! seru sigadis ular
Siau-mey.
Sekarang masih belum dapat diketahui jelas !
Musuh keluargamu itu teritu lihay sekali !
Kabarnya memang amat sakti dan ganas luar biasa.
Kalau begitu........., akupun hendak belajar silat !
Mengapa ?
Untuk membantu engkau menuntut balas !
Tak perlu!
Orang tuamu pun orang tuaku juga, mengapa
engkau tak memperbolehkan?
Belajar silat, bukan hal yang mudah. Harus sudah
mempunyai dasar latihan yang kokoh ! Sesungguhnya
111

diam2 Gak Lui memperhatikan bahwa gadis itu secara


tak sengaja sudah mempelajari suatu ilmu tenaga-dalam
yang istimewa. Tetapi kalau menilik wajahnya yang
sedemikian ayu, tak mungkin gadis itu mempunyai bakat
belajar silat. Maka sekalipun mulutnya mengucap kata2
tadi, dalam hati diam2 ia bersangsi. Tiba2 gadis itu
melesat. Sekali gerak dapat melesat sampai dua tombak
jauhnya. Saat itu ia berada di tepi guha. Sambil
menunjuk pada tumpukan tulang2 ular, ia berseru :
Kalau tak percaya, lihatlah ini ! Habis berkata gadis itu
terus mengangkat setumpuk tulang belulang ular yang
beratnya tak kurang dari beberapa ratus kati ......
Gak Lui terkejut. Setelah Siau-mey letakkan
tumpukau tulang ular itu ketanah, barulah ia berkata
dengan nada menyesal: Sayang aku tak dapat memberi
pelajaran ilmu silat kepadamu. Apalagi anak perempuan
belajar silat pun .... kurang leluasa !
Engkau tak dapat memberi pelajaran, aku bisa
berguru pada lain orang. Dan hendak kucari seorang
cianpwe wanita, masakan tak leluasa!
Baiklah kalau begitu. Kurasa kita harus lekas
tinggalkan tempat ini, kata Gak Lui.
Ah..., mana boleh begitu cepat. Aku harus berkemas
kemas dan memberi selamat tinggal kepada ular naga
........ dan lagi ....
Dan lagi bagaimana?
Aku harus membawa dua kawan kecil untuk kuajak
pergi.
Gak Lui meluluskan. Siau-mey cepat meluncur
kedalam persembunyian ular, sedang Gak Lui
mengemasi sepasang pedang dan barang bekalannya.
112

Ah...., pedang-samudera Hi Liong-hui dan pedanggelombang Go Sun-hua tentu sudah celaka ditangan
musuh ganas itu. Putera tunggal dari Hi-cianpwe yang
bernama
Hi
Kiam-gim,
harus
kubantu
untuk
membalaskan sakit hati orang tuanya ............. demikian
Gak Lui merenung. Kemudian pikirannya melayang pada,
Ceng Ci totiang dan anggauta Topeng besi yang
bertempur dengannya itu. Kedua orang itu benar aneh
sekali. Ceng Ci totiang memang sakti ilmusilatnya, tetapi
mengapa sama sekali tak kenal pada pedang Pelangi
pusaka partai Bu-tong-pay? Bukankah hal itu mustahil
sekali kalau mengingat bahwa Ceng Ci itu paderi
tingkatan tinggi dari partai Bu-tong-pay! Sedang si
Topeng Besi itu, ilmu silatnya jelas dari aliran Bu-tongpay. Pula dia bahkan mengenali pedang Pelangi. Begitu
melihat pedang pusaka Bu-tong-pay, dia tertegun dan tak
dapat bicara .... Terutama topeng besi yang
dikenakannya itu. Selain aneh bentuk dan amat tebal
besinya pun penuh dengan karatan. Apakah topeng besi
itu terus dipakaianya dan tak pernah dilepas? Benar2
kedua orang itu diliputi oleh kabut rahasia. Kabut itu
sekarang Gak Lui belum dapat menyingkapnya. Tiba2
Gak Lui terkesiap ketika ia teringat akan kata2 Ceng Ci
totiang yang aneh. Paderi itu berkata: Engkau si
Pemangkas pedang, mengapa sebentar saja sudah
berada di sini?
Jika direnungkan, jelas paderi itu heran atas
kemunculan Gak Lui di tempat itu. Jika demikian, apakah
terdapat seorang tokoh Pemangkas Pedang yang
muncul dilain tempat lagi? Benak Gak Lui dilalu lalang
oleh hal2 yang misterius sekali. Semua teka teki yang
dihadapi itu, ia tak mampu memecahkannya.
Ah......, betapapun halnya, yang penting aku harus
mencari sumber air Pencuci Jiwa lebih dulu! akhirnya ia
113

menetapkan keputusannya.
---oo0oo--Pada saat ia masih termenung dilamun kenangan
perististiwa2 yang aneh itu, tiba2 terdengar suara desis
yang tajam. Empat penjuru penuh dengan gemercik sisik
ular bergesek dengan tanah, menimbulkan suatu bunyibunyian yang menyeramkan! Gak Lui bergidik bulu
romanya. Ketika memandang kesekeliling, tiba-tiba
hidungnya terbaur angin yang amat anyir dan pada lain
saat lima ekor ular besar meluncur tiba. Badan ular yang
sebesar dahan kayu, bergeliatan membentuk sebuah
barisan ular yang cukup tinggi. Kelima ular besar
mengangkat kepala, menjulurkan lidah dan mengipasngipaskan ekornya dihadapan Gak Lui. Karena tak tahan
akan bau yang anyir Gak Lui hampir muntah dan
pingsan. Dia tak dapat mengenali ular mana yang telah
menelan dirinya tadi. Dalam gugup cepat ia siapkan
pedang dan memandang kearah liang makam ular
sebelah dalam. Tetapi ia tak melihat bayangan Siau-mey.
Gak Lui makin gemetar. Cepat ia menarik batang pedang
dari sarungnya.........
Dalam saat2 yang amat tegang itu, tiba2 dari arah
lubang sebelah dalam terdengar suitan melengking.
Bagaikan terbang sigadis ular Siau-mey meluncur keluar.
Begitu melihat gadis itu, kedua ular naga tadi segera
bergeliatan memberi jalan. Pada lain kejab, gadis itupun
sudah berada disamping Gak Lui. Gak Lui menghela
napas longgar, lalu susupkan pedang ke dalam sarung
lagi. Dengan dada berombak keras, gadis itu bertanya:
Engkoh Lui, aku terlambat, apakah engkau kaget?
Ah, tak apa. Tetapi melihat kelima ular besar itu saja,
114

hatiku sudah goncang keras!


Ah...., kelima ular penjaga makam ini, memang
keluar hendak mengantar perjalanan kita. Mereka tak
makan orang. apalagi setelah makan rumput Panah-masharum, seharusnya engkau jangan takut kepada
kawanan ular itu!
Ya..., ya...., kutahu. Tetapi mana kawan kecilmu itu?
Apa sudah ketemu?
Sudah!
Sambil bercakap-cakap itu, Gak Lui memperhatikan
keadaan Siau-mey. Dilihatnya gadis itu masih
mengenakan pakaian kulit ular yang gilang gemilang
menyilaukan mata. Kakinya telanjang, begitu pula bagian
dadanya. Hanya pada pergelangan tangan kiri, memakai
sebuah gelang warna emas yang aneh bentuknya.
Sedang tangan kanan memakai gelang batu kumala
putih. Gak Lui kerutkan alis, tanyanya : Apakah engkau
sudah selesai berkemas?
Siau-mey mengiakan.
Kalau begitu, mari kita berangkat ! Gadis ular Siaumey segera memberi selamat tinggal satu demi satu
kepada kelima ular naga itu. Setelah itu ia cepat
menyusul Gak Lui. Mereka menuju ke sebuah guha
berbentuk bundar yang luasnya bebarapa tombak.
Dengan lincah sekali, Siau-mey menyusup ke dalam
lubang guha seraya berseru menyuruh Gak Lui
mengikuti. Pemuda itupun segera mengikutinya.
Ternyata dinding guha itu sangat licin dan mengkilap
sekali seperti kaca. Dan lagi sebentar dinding kaca itu
melayang ke-atas sebentar meluncur turun. Sesaat
menggeser ke-kanan, sesaat ke-kiri. Tak ubahnya seperti
sebuah barisan yang amat hebat. Dalam berjalan
115

sebagai penunjuk jalan itu, tak henti-hentinya mulut Siaumey mendesis-desis pelahan. Gak Lui pun terpaksa
meniru gerakan Siau-mey untuk merayap dengan tangan
dan kakinya. Diam2 ia mengakui, jika tiada penunjuk
gadis ular itu, tak mungkin dia mampu ke luar dari
makam ular situ. Entah berapa lama mereka merayap itu,
tiba2 Gak Lui tertiup hembusan angin dan semangatnya
terasa segar. Setelah merayap dua tiga tombak jauhnya
lagi, mereka telah keluar dari tanah.
Memandang kemuka, kira2 dua li jauhnya tampak api
penerangan dari sebuah pedesaan.
Adik Mey.....
Hm ...... mendengar kekasihnya memanggil dengan,
sebutan yang mesra, gadis ular itu cepat menyahut
dengan penuh rasa bahagia.
Sekarang kita berada dimana?
Entah apa nama tempatnya, tetapi yang jelas berada
ditempat yang berlawanan arah dengan lembah. Gak Lui
tertegun, katanya: Sebenarnya aku ingin kembali
ketempat bermula aku jatuh kedalam lembah. Ingin
kulihat keadaannya. Tetapi tak nyana engkau telah
membawaku kemari.
Aku kuatir orang yang mencelakaimu itu masih
menunggu diluar lembah. Dan lagi gunung bagian
sebelah itu ..........bukankah sudah terbakar api? Gak Lui
serentak teringat pada waktu melintasi puncak gunung, ia
melihat dusun keluarga Hi telah menjadi lautan api.
Ah ..... ia menghela napas panjang, baiklah tak
perlu melihat. Mari kita mepuju ke desa itu
Tetapi Siau-mey tampak meragu, katanya: Sudah
bertahun- tahun aku tak melihat orang, Aku agak ngeri
116

.........
Kalau begitu, biarlah kupergi membeli pakaian
untukmu. Setelah itu kita cari tempat yang sepi untuk
beristirahat. Tentu engkau takkan ngeri bertemu dengan
orang!
---oo0oo--Demikian tak berapa lama setelah Gak Lui kembali
membawa pakaian, mereka segera mencari tempat
meneduh. Kebetulan sekali mereka mendapatkan
sebuah kuil kuno yang belum begitu rusak keadaannya.
Ditingkah oleh sinar rembulan, kedua kekasih itu duduk
berdampingan. Siau-mey sandarkan kepala pada bahu
Gak Lui, sambil memandang rembulan dengan senyum
bahagia. Dalam genggaman cinta, gadis itu seperti
dimabuk kepayang. Berada dalam sebuah kuil kuno di
tengah hutan belantara, ia merasa seperti di dalam
nirwarna .... Tetapi pada umumnya, detik2 bahagia itu
selalu terasa berjalan cepat sekali. Tak berapa lama
sudah menjelang tengah malam. Tiba2 bertanyalah gadis
itu: Engkoh Lui, hendak kemanakah engkau besok pagi
itu ...?
Kegunung Thian-gan-san
Pencuci Jiwa !
Apakah engkau sungguh2
membawa aku kesana?

mencari
....

tak

sumber

air

dapat

....

Sungguh tak dapat!


Aku merasa berat berpisah dengan engkau.
Ah, masakan manusia hidup takan berjumpa lagi.
Kuharap engkaupun mencari ayahmu dan akupun bisa
memperoleh jejak kedua orangtuaku lalu membalaskan
117

sakithati mereka !
Engkoh Lui, engkau belum memberitahukan nama
ayah dan ibu !
Tetapi apakah kepentingannya kepadamu ?
Ih...., engkau ini memang keterlaluan, engkoh Lui.
Masakan seorang menantu tak tahu nama kedua
mertuanya ......... jawab Siau-mey tersipu-sipu merah
dan menunduklah gadis itu.
Baik, tetapi sekali-kali
kepada orang lain !

jangan

memberitahukan

Sudah tentu.
Ayahku adalah Bu-san ........ Baru mengatakan
begitu, tiba2 diluar kuil terdengar suara derap langkah
orang. Dari derap langkahnya, bukan seorang tetapi
belasan orang. Tak berapa lama, orang2 itupun
melangkah masuk ke dalam kuil. Sekali lihat dan dengar
nada suara mereka, tahulah Gak Lui kalau yang datang
itu rombongan orang persilatan yang memiliki
kepandaian tinggi. Salah seorang yang suaranya kasar
garang, meraung-raung dengan geram: Celaka...!
Sungguh menjengkelkan sekali bocah Pemangkas
Pedang itu. Kita mencarinya dia menghilang !
Habis memangkas pedang orang, dia terus
melarikan diri. Tentulah takut dilihat orang .........
Demikian terdengar ocehan beberapa orang itu yang
membuat panas hati Gak Lui tetapi terpaksa menahan
kemarahannya. Tiba2 terdengar derap langkah seorang
yang datang lagi dan berscru dengan tegang: Kabar
baik! Pemangkas Pedang itu telah ditelan ular besar!
Mendengar itu tergetarlah hati Gak Lui. Mengapa orang
itu tahu peristitiwa tersebut?
118

Ah, dia tentulah mata2 dari Maharaja! pikiran Gak


Lui dan serentak ia tak dapat menahan kemarahannya
lagi. Mencabut pedangnya, ia serentak menerjang keluar!
Tetapi baru pemuda itu hendak bergerak, gadis ular
Siau-mey dapat memegang lengan Gak Lui: Engkoh Lui,
mengapa engkau ini?
Jangan pedulikan aku! Gak Lui meronta. Walaupun
tidak menggunakan tenaga penuh tetapi tetap ia tak
dapat melepaskan lengannya dari cekalan sigadis.
Apakah orang yang mencelakai dirimu itu?
Ya...!, mereka anak buahnya, lekas lepaskan aku!
Gak Lui kerahkan tenaga dalam, siap hendak meronta.
Sekalipun tak pernah belajar silat tetapi tanpa sengaja
Siau-mey telah mempelajari ilmu mengatur pernapasan
dan tenaga-dalam dari ular naga. Pada saat Gak Lui
kerahkan tenaga, Siau-mey pun ikut mengerahkan
tenaga. Cekalannya masih kencang sekali.
Engkoh Lui, Perlu apa engkau mencarinya?
Untuk menanyakan dimana musuhku.
Kalau mau sungguh2 bertanya, tak seharusnya
engkau keluar.
Apa maksudmu?
Kalau engkau yang bertanya, mereka tentu akan
memberi jawaban yang bohong. Lebih baik biarkan
mereka bilang sendiri. Nah, itulah baru boleh dipercaya!
Benar juga....... Gak Lui segera menutup
pernapasan dan mencurahkan mendengarannya. Karena
lama tinggal diliang ular, telinga Siau-mey pun lebih
tajam dari orang biasa. Ia pun curahkan perhatiannya.
Orang2 persilatan itu segera masuk kedalam ruangan
besar. Setelah mengatur tempat duduk masing2, maka
119

terdengar pula suara orang yang bernada kasar dan


parau itu, membentak:
Setan Keluyuran, kemarilah! Pedang Api,
menunggu perintahmu! terdengar orang yang dipanggil
sebagai Setan Kelunyuran itu menyahut.
Tadi engkau mengatakan bagaimana dengan si
Pemangkas Pedang itu? Ceritakan lagi!
Budak hina itu sudah dimakan ular besar!
Ngaco belo engkau! Mungkin karena tak berhasil
mendapat berita, engkau lantas merangkai cerita yang
tidak2
Percaya atau tidak, terserah padamu. Tetapi aku
bicara sesungguhnya !
Apakah engkau menyaksikan sendiri?
Tidak
Tetapi mengapa engkau begitu yakin?
Aku .... aku ..... faham akan daerah ini.
Semua peristiwa yang terjadi di situ, tentu kuketahui
!
Rupanya Pedang Api tetap tak percaya. Wajahnya
tampak muram seperti mau marah. Tetapi salah seorang
lainnya cepat melerai: Ah..., kurasa kalian jangan begitu.
Bukankah kita bekerjasama. Jika budak hina itu memang
sudah mati, kita boleh melampiaskan kesesakan dada.
Ah, jangan bicara seperti itu ! Bertanyalah Setan
Keluyuran dengan nada dingin: Cara bagaimana
saudara hendak melampiaskan penasaran itu?
Aku Pedang Api, senang sekali dapat menghajar
budak itu lalu mencincangnya.
120

Kalau menurut ucapanmu itu, kita harus menarik


tubuh budak itu ke luar dari perut ular. Setelah itu baru
ditantang berkelahi? Kata2 Setan Keluyuran itu
menimbulkan gelak tertawa orang. Tiba2 serangkum
angin keras meniup ke arah tempat persembunyian Gak
Lui. Dengan kepandaiannya mencium angin mengenal
benda, Gak Lui mengetahui bahwa tamparan angin keras
itu berasal dari gerakan tubuh belasan orang yang
berdatangan ke tempat situ. Mereka adalah musuh2 dari
Gak Lui ketika pemuda itu berkelana ke dalam dunia
persilatan untuk memapas pedang orang. Gelak suara
tawa dari Setan Keluyuran masih belum lenyap
kumandangnya. Tiba2 Pedang Api menghantam meja
sembahyangan, meja berhamburan ke mana-mana. Lalu
menjerit murka : Setan Keluyuran, engkau berani
menyindir aku ? Namun Setan Keluyuran itu masih tetap
tertawa aneh : Tak perlu saudara menggertak aku. Jika
engkau benar2 sakti, masakan engkau sampai
dikalahkan pemuda Pemangkas-pedang itu.
Bum...., bum .... terdengar suara keras dari adu
pukulan antara Setan Keluyuran lawan Pedang Api.
Kawannya yang tadi, cepat mencegah : Ah...., janganlah
kalian berkelahi sungguh2. Kita semua orang2 gagah
dari tiap2 partai persilatan. Tujuan kita bersama adalah
untuk mencari jejak budak Pemangkas-pedang itu. Tetapi
jika dia memang sudah mati, besok pagi kita tinggalkan
tempat ini.
Siau-liong membisiki Siau-mey : Aku hendak
menjenguk mereka, jangan engkau ke luar dari sini.
Engkoh Lui, jika engkau sampai berkelahi dengan
orang, bagai mana aku harus berbuat tanya sigadis.
Cepatlah engkau pergi, jangan cemaskan diriku ....!
Gak Lui secepat kilat sudah melesat kemuka ruangan.
121

Dilihatnya dalam ruangan terdapat 13 tokoh persilatan.


Tapi ia tak dapat mengetahui yang manakah Setan
Keluyuran itu. Pedang Api yang sedang ribut mulut
dengan Setan Keluyuran itu, ketika melihat seorang
muncul dimuka ruangan, terkejut dan hentikan
perkelahiannya. Belasan oraung itu segera berhamburan
keluar.
Berhenti! bentak Gak Lui, jangan bergerak, aku
hendak bicara !
Ketiga belas orang itu segera mengepung Gak Lui.
Mereka menghunus senjata masing2. Sikapnya tegang
sekali.
Aku Gak Lui, memang tempo hari yang memapas
kutung senjata saudara2. Tetapi hal itu ada sebabnya.
Saat ini hendak kuakhiri perselisihan itu!
Mendengar itu Pedang Api segera maju selangkah,
serunya: Dengan cara bagaimana engkau berhak
mengakhiri hal itu?
Jika saudara2 suka menyambut tawaranku
berdamai, kelak tentu akan kukatakan sebab-sebab-nya
aku memapas senjata saudara2 itu, agar saudara jangan
penasaran!
Jika kami tak mau?
Silahkan menetapkan waktu dan tempat, aku tentu
akan melayani keinginan saudara2!
Beranikah engkau melawan kami ke 13 jago pedang
ini,
Sedikitpun aku tak gentar, tetapi .......
Mengapa?
Aku hanya mau menghadapi yang ke 12 orang
122

karena yang seorang harus lenyap.


Yang mana?
Setan Keluyuran!
Mengapa?
Dia adalah kaki tangan Maharaja. Aku hendak
menanyainya Kata2 Gak Lui itu membuat mereka
tersentak kaget. Duabelas pasang mata mencurah
kearah seorang tinggi yang berhidung kakaktua. Gak Lui
segera menuding orang itu, serunya: Mengapa engkau
tak lekas keluar? Tunggu apa lagi! Bermula Setan
Keluyuran itu terkejut gemetar tetapi pada lain saat ia
tertawa mengejek.
Atas dasar apakah engkau memfitnah diriku?
serunya.
Ketika aku berjumpa dengan ular naga, hanya si
Topeng Besi dan si-imam jahat Ceng Ci yang
mengetahui. Tetapi mengapa engkau tahu juga?
Bukankah itu suatu bukti bahwa engkau adalah kaki
tangan durjana yang telah mengganas dunia persilatan
itu! sahut Gak Lui.
Setan Keluyuran itu batuk2 sebentar lalu memandang
kepada orang- orang disekeliling serunya: Saudarasaudara sudah menyatakan hendak mencincang si
Pemangkas Pedang itu. Tetapi mengapa setelah budak
itu datang, saudara2 membiarkan dia mengoceh tak
keruan ........
Pedang Api mendengus, teriaknya: Gak Lui cukup
kuat alasannya. Jika engkau tak dapat memberi
penjelasan, hm .......
Wah..., wah...., wah...., mengapa saudara membawa
perselisihan peribadi ke dalam persengketaan umum?
123

Ah, tak sedap dilihatlah! seru Setan Keluyuran


mengejek. Gak Lui tak dapat menahan kesabarannya
lagi. Memandang dengan mata berkilat-kilat kepada
sekalian orang gagah, ia berkata: Harap saudara
saudara suka memikir selangkah. Aku hendak
membalaskan kematian Lima-orang gagah dan kedua
jago Pedang Samudera dan Pedang Gelombang
Habis berkata pemuda itu terus bersiap hendak
lancarkan pukulan Algojo-dunia untuk meringkus Setan
Keluyuran. Tetapi baru saja tangan hendak mengayun,
tiba2 dari belakang ia merasa dilanda tiupan augin keras.
Pedang Api dan rombongannya tak mengetahui hal itu,
tetapi Gak Lui segera menarik pulang tangannya dan
membentak: Hai, siapakah kalian itu? Mengapa tak
turun kemari, bicara terus terang ! Terdengar dua buah
penyahutan yang parau dari atas serambi:
Kami berdua adalah imam Wi Tun dan Wi Ti dari
Kong-tong- pay! Kedua imam tua itu, sederajat
kedudukannya
dengan
ketua
Khotong-pay.
Kesaktiannya dalam ilmu pedang menggetarkan sampai
keempat samudra. Maka kemunculannya, benar2 sangat
mengejutkan sekalian orang. Tersipu-sipu sekalian orang
gagah memberi hormat kepada kedua imam tua itu.
Pedang
Api
segera
memberi
hormat
dan
memperkenalkan diri.
Murid orang biasa dari Siau-lim-pay, Tan Tay-kong,
memberi hormat kepada lo cianpwe berdua! Setelah itu
berturut-turut mereka memperkenalkan diri sebagai Tio
Lam san murid Heng-san pay, Oh Hek-bu murid Cengsia pay, Ci Kok-ceng murid Kiu-hoan-bun dan lain-2...
Kebanyakan mereka adalah anak murid partai
golongan Ceng- pay. Dan kedua imam tua itu pun satu
demi satu membalas hormat. Kemudian yang terakhir
124

adalah orang yang digelar sebagai Setan Keluyuran itu.


Dengan hormat ia berkata: Wanpwe Lim Yan,
menghaturkan hormat dan selamat datang kepada locianpwe berdua
Melihat dia tak menyebut partai perguruannya, imam
tua Wi Ti segera bertanya: Siapakah nama gurumu
Wanpwe adalah anakmurid .... Hantu tulang putih
....
Oh.... seru imam tua Wi Ti dengan dingin, kemudian
memandang sekalian orang gagah
Menilik gelagatnya, kalian ini benar2 rombongan
naga dan ular, tidak membedakan putih dengan Hitam.
Sungguh tak urus.
Mendengar dampratan imam tua itu, Pedang Api
malu dalam hati. Buru2 ia memberi penjelasan: Adalah
karena tak paham jalanan maka terpaksa kami
mengijinkan dia ikut. Dan lagi diapun, pernah dipapas
kutung pedangnya ......
Kedua imam tua Wi Ti dan Wi Tun tetap. tak, senang.
Tiba2 mereka berpaling kepada Gak Lui. Sudah tentu
pemuda itu terkejut.
Adakah, cianpwe berdua juga hendak mencari aku?
tanya Gak Lui.
Murid keponakanku Hian Wi tojin telah di papas
kutung pedangnya. Tentulah engkau yang memapas itu!
Memang benar ....
Sesungguhnya
perkelahiau itu?

karena

apa

sampai

terjadi

Aku mempunyai suatu sebab. Sayang tak leluasa


kuberitahukan!
125

Pedang merupakan nyawa kedua dari seorang


persilatan. Bukan saja bagi yang terpapas pedangnya
tentu malu, pun bagi perguruannya merupakan suatu
hinaan besar. Sekarang murid keponakanku telah
menerima hukuman dari ketua. Kami menerima tugas
untuk menyelidiki hal itu. Jika engkau tak mau
mengatakan sebabnya, murid keponakanku Hian Wi itu
tentu akan menerima hukuman berat. Dilenyapkan ilmu
kepandaiannya dan diusir dari perguruan !
Mendengar itu dengan nada penuh sesal Gak Lui
berkata : Dapatkah kumohon pada cianpwe supaya
kembali ke gunung dan tolong sampaikan pada ketua.
Peristiwa pemangkasan pedang itu bukan tanggung
jawab Hian Wi tojin. Kelak aku tentu akan datang
menghadap untuk memberi penjelasan !
Karena bukan tanggung jawab murid keponakanku,
maka jelas engkaulah yang bertanggung jawab. Dalam
hal ini terpaksa aku harus mencari keterangan sampai
jelas!
Tetapi saat ini aku masih mempunyai lain urusan
yang penting. Dapatkah lain hari........
Dengan susah payah, kami baru dapat mencarimu di
sini. Kurasa lebih baik sekarang juga engkau memberi
penjelasan ! desak imam tua itu.
Gak Lui merenung. Rombongan yang dihadapinya itu
terdiri dari campuran antara Putih dan Hitam. Dan lagi
Siau-mey masih bersembunyi di samping ruang.
Berhadapan dengan sekian banyak orang dari berbagai
aliran yang berbeda-beda itu, memang memungkinkan
terjadinya hal- hal di luar dugaan ...............
Tiba-tiba Setan Keluyuran mendapat pikiran untuk
menggunakan kesempatan saat itu. Dengan tertawa ia
126

berkata kepada ke dua imam tua Wi Ti dan Wi Tun:


Kata2 cianpwe tadi memang tepat sekali. Kami kemari
karena hendak mencari budak itu. Tetapi sayang ada
beberapa kawan yang takut kepadanya. Syukur cianpwe
berdua datang sehingga urusan tentu beres ....
Tetapi Setan Keluyuran kecele. Kedua imam tua dari
Kong-tong- pay itu membenci orang2 golongan Hitam.
Mendengar sanjung pujian Setan Keluyuran, ke dua
imam tua itu deliki mata dan menyahut dingin: Kalian
guru dan murid, tersohor buruk nama. Kami Kong-tongpay tak berani menerima petunjukmu! Kemudian ke dua
imam itu berpaling kepada Gak Lui, serunya :
Baiklah, kami berdua akan menonton di samping
sini. Silahkan engkau membereskan urusanmu dahulu !
Habis berkata ke dua imam itu terus melayang ke atas
atap serambi lagi. Tetapi Setan Keluyuran itu memang
julig sekali. Siasat yang satu gagal, ia sudah siap dengan
siasat lain lagi. Tanpa malu-malu lagi ia berseru keras :
Lain orang takut kepada budak itu, memang dapat
dimengerti. Tetapi kalau cianpwe berdua juga gentar
kepadanya, benar-benar menghilangkan muka. Dan lagi
Gak Lui sebenarnya adalah anggota Topeng Besi, mata2
dari Maharaja!
Sudah tentu kata2 itu seperti halilintar meledak
disiang hari. Kedua imam dari Konglong-pay terbeliak
kaget! Begitupun sekalian orang gagah yang hadir disitu.
Tadi Gak Lui menuduh Setan Keluyuran itu kaki tangan
Maharaja, tetapi sekarang Setan Keluyuran berbalik
menuduhnya sehingga salah seorang anggauta
gerombolan Topeng Besi ! Dalam kehiruk pikukan
sebagai reaksi atas kata2 Setan Keluyuran itu, maka
Pedang Api Tau Tay-kong murid Siau-lim-si segera
melangkah maju dan membentak dengan suara
127

menggeledek: Kalian berdua saling tuduh menuduh.


Sebenarnya siapakah yang mempunyai bukti yang kuat!
Dengan
tangkas,
Setan
Keluyuran
segera
menggembor sekeras- kerasnya: Anakbuah Maharaja
tentu membawa Amanat Takdir. Silahkan kalian
menggeledah, siapakah diantara kami berdua yang
menyimpan surat amanat itu, dialah mata-mata!
Mendengar itu Gak Lui seperti disambar kilat kejutnya,
pikirannya;
Kuambil Amanat Mati ditempat kediaman Kelima
Jago, mengapa dia tahu juga! Berfikir sampai hal itu,
cepat ia merabah saku bajunya ...
Hai, budak, kalau memang seorang jantan hayo
keluarkanlah sendiri! teriak Setan Keluyuran. Karena
marahnya, Gak Lui sampai gemetar. Cepat ia mengambil
keluar Amanat Mati itu. Seketika berobahlah wajah
sekalian orang gagah.
Benar!, memang Amanat Mati ini kusimpan. Tetapi
Amanat Mati itu kuambil dari tempat kediaman Kelima
Jago. Hai!, Setan Keluyuran, engkau harus mengganti
jiwa ....
Tetapi Setan Kelujuran yang licin bagi belut, cepat
melengking: Pembunuh sudah terang berada disini,
kalian masih tunggu apa lagi ! Bahkan sehabis berseru,
Setan Keluyuran terus mencabut pedang hendak
menyerang. Tetapi kalah cepat dengan Gak Lui. Pemuda
yang terbakar oleh dendam kemarahan itu, segera
hantamkan tangan kirinya keudara. Serangkum
gelombang penyedot segera melanda Setan Keluyuran.
Tubuh orang itu melengkung dan tertarik dua langkah
kemuka. Dengan sekuat tenaga ia berontak dan barulah
dapat berdiri tegak lagi. Tring .......! pedangnya
128

berhambhuran melayang keudara dan tahu-tahu


meluncur ketangan Gak Lui. Sekali hantamkan ujung
pedang ketanah, pedang Setan Keluyuran itu kutung
menjadi dua. Ilmu kepandaian merebut senjata dari jarak
jauh itu, benar2 mengejutkan sekalian orang. Mereka
belum pernah menyaksikan ilmu yang seluar biasa itu.
Pedang Api dan rombongan benar2 tercekam dalam
kerisauan. Antara rasa kejut, malu, dan marah. Tetapi
beberapa orang yang terkena pengaruh kata2 Setan
Keluyuran tadi, segera maju menyerang Gak Lui.
Menyingkirlah, jangan cari penyakit sendiri .......!
teriak Gak Lui seraya gerakkan tangannya dalam ilmu
Algojo Dunia untk melindungi diri. Tetapi sayang,
sekalian orang telah kehilangan daya pikir yang sadar,
tidak ada seorangpun yang mendengar seruan Gak Lui.
Sepuluh desiran angin pukulan dahsyat dan hujan sinar
pedang sama menluncur kearah Gak Lui. Betapapun
Gak Lui dengan ilmu kesaktiannya yang aneh itu, tetap
kewalahan menghadapi serangan dari 13 takoh berilmu
tinggi. Darahnya bergolak keras, gerakannya menjadi
kacau. Dalam keadaan secara terpaksa, ia mencabut
sepasang pedang panjang dan pendak. Dengan
demikian, berlangsunglah suatu pertempuran berdarah
yang seru. Pedang Api Tan Tay-kong mengeluarkan ilmu
istimewa dari perguruan-nya, menyerang dengan matimatian. Setan Keluyuran menyerang dengan tangan
kosong. Ia gunakan ilmu Im-Jan-jiu atau ilmu pukulan
membuat orang cacad. Beberapa kali dalam kesempatan
yang baik, ia mencuri serangan.
Pedang panjang yang dicekal tangan kanan,
dimainkan Gak Lui dalam ilmu Menjolok-bintangmemetik-bulan. Dari arah kedudukan yang tak terdugaduga, Gak Lui dapat gerakan pedangnya untuk
mencongkel pedang lawannya. Sementara Pedang
129

Pelangi yang dimainkan dengan tangan kiri dalam ilmu


Membelah-emas-memotong-kumala, bagaikan ular yang
sedang menjulur-julurkan lidahnya untuk memagut.
Hanya pagutan ujung pedang Gak Lui itu adalah untuk
memapas kutung pedang orang. Saat itu didalam ruang
biara telah berlangsung suatu pertempuran senjata yang
dahsyat sekali. Menimbulkan sambaran angin yang
menderu-deru ....
Dering gemerincing dari benturan senjata tajam,
terdengar amat tajam sekali sampai memekakkan
telinga. Ilmu pedang Menjolok-bintang-memetik-rembulan
yang dimainkan Gak Lui itu memang luar biasa sekali.
Beberapa pedang lawannya dapat dipentalkan keudara,
melambung tinggi sampai beberapa tombak. Dibawah
sinar rembulan, pedang2 yang melayang keudara itu,
sepintas pandang menyerupai bintang jatuh dari langit ....
Ada juga yang pedangnya kena terpapas kutung sampai
pendak dan makin pendak, terpaksa harus buang tangkai
pedangnya. Karena jika dilanjutkan, setelah tangkai
pedang pun terpapas, tentulah tangannya yang akan
menjadi korban. Hanya dalam waktu sepenanak nasi
saja, pertempuran telah berjalan 100-an jurus.
Saat itu ke 13 tokoh2 lihay yang semula
menggunakan pedang, saat itu terpaksa hanya tinggal
tangan kosong saja. Tetapi rupanya karena malu campur
marah, mereka semakin kalap. Pedang terpapas habis,
mereka tetap gunakan tangan kosong untuk
melancarkan serangan.
Kedua imam tua Wi Ti dan Wi Tun, diam2 terperanjat
menyaksikan kesaktian pemuda Gak Lui. Wi Ti terus
hendak turun membantu tetapi dicegah Wi Tun.
Melihat kepandaiannya, dia mungkin anggauta
Topeng Besi ... kata Wi Ti.
130

Tetapi sambil menuding kearah Pedang Pelangi yang


digunakan Gak Lui, Wi Tun berbisik: Dengan memakai
pedang itu jelas dia tentu pernah ke Bu-tong-san dan tak
mungkin menjadi anggauta kaki tangan Maharaja! Dan
lagi orang2 itu campur baur tak keruan dengan golongan
Hitam, biarlah mereka merasakan sedikit kopi pahit!
Pada saat kedua imam Kong-tong-pay itu bercakapcakap, Gak Luipun sudah menyarungkan pedang dan
gunakan tangan kosong untuk menghadapi serangan
lawan. Berbeda dengan pedang. Pukutan lebih lincah
131

dan sukar dikuasai lawan. Maka serangan ke 13 orang


itu, membuat Gak Lui sibuk sekali. Pemuda itu gunakan
ilmu meringankan tubuh Burung-rajawali- pentang- sayap
untuk menghindari serangan. Gerakan pemuda itu berputar2 laksana seekor burung rajawali yang sedang
berpesta-pora diantara kawanan kambing.
Berulang kali susul menyusul terdengar erang dan
dengus tertahan dari beberapa orang yang terkena
pukulan. Dalam beberapa saat, hampir separoh dari
pengeroyok itu dapat dipukul terhuyung-huyung oleh Gak
Lui.
Melihat pemuda itu makin lama semakin perkasa
bahkan lebih hebat daripada menggunakan pedang tadi,
Setan KeIuyuran menyadari bahwa apabila di lanjutkan,
jelas pertempuran itu tentu akan dimenangkan Gak Lui.
Diam2 tergetarlah hati Setan Keluyuran. Serentak timbul
rencananya untuk meloloskan diri. Maka setelah
melakukan sebuah gerak serangan kosong, cepat ia
melesat ke ruang samping.
Gak Lui terkejut, ia kuatir Siau-mey masih berada
dalam ruang samping itu dan tentu ditangkap Setan
Keluyuran. Tetapi begitu perhatiannya terpecah, saat itu
juga musuh telah memburu dengan pukulan yang
dahsyat dan menguasainya lagi. Tiba2 dari samping
ruang terdengar gelak tertawa yang cabul. Dan menyusul
terdengar lengking jeritan ngeri dari seorang gadis.
Celaka! diam2 Gak Lui mengeluh dan tertegun
kaget. Bluk..., bluk..., bluk..., tiga buah pukulan telah
melanda tubuh pemuda itu. Seketika Ia muntah darah
........ Tetapi pemuda itu mendadak tampak beringas
sekali. Sepasang matanya berkilat-kilat memancarkan
api. Dengan kalap ia segera melancarkan 6 buah jurus
dahsyat. Seperti mendapat kekualan gaib, pemuda itu
132

mengamuk laksana banteng terluka.


Dua belas jago-jago silat yang tangguh, dalam
beberapa waktu, telah berantakan. Sebagian dapat di
hantam terhuyung-huyung oleh Gak Lui dan sebagian
dapat disedot tenaga-murninya sehingga kehabisan
tenaga. Juga Gak Lui sendiri tak keruan keadaannya.
Mulutnya mengumut darah. Namun dengan nekad,
sehabis merubuhkan pengeroyoknya, ia terus menyerbu
keruangan samping. Tetapi baru ia hendak bergerak,
gadis ular Siau-mey sudah melesat keluar dari ruang
samping itu. Setan Keluyuran mengejarnya. Dengan
cepat ia menutuk dua buah jalan darah gadis itu tetapi
entah bagaimana tutukannya itu selalu meleset ....
Engkoh Lui, tolonglah aku! teriak Siau-mey dengan
ketakutan. Tetapi pada saat itu juga tangannya dapat
dicengkeram Setan Keluyuran. Dan tepat pada saat itu,
Wi Ti totiangpun melayang turun dari atas serambi terus
menutuk kedua orang, Siau-mey dan Setan Keluyuran.
Saat Siau-mey terancam bahaya, sekonyong-konyong
Siau-mey gerakkan kedua lengannya dan bersuit aneh.
Seketika dua buah sinar emas dan perak berhamburan
dari kedua lengannya dan tahu2 gadis ular itu terlepas,
dari bahaya, terus djatuhkan diri kedada kekasihnya.
Tetapl pada saat itu juga Setan Keluyuran tegak seperti
patung, tubuhnya menggigil seperti orang terserang
penyakit malaria. Wajahnyapun turut berkerenyutan. Bluk
...... tiba2 dia rubuh ke tanah. Demikianpun imam tua Wi
Ti totiang. Wajahnya menampil rasa kejut ketakutan.
Baru berjalan tiga langkah, iapun rubuh ....
Sebelum Gak Lui tahu apa yang terjadi dan belum
sempat berbuat apa2, sekonyong-konyong Wi Tun
totiang sudah lontarkan pukulan tenaga sakti kearah
mereka berdua. Karena sedang memeluk Siau-mey, Gak
133

Lui tak sempat menangkis. Terpaksa sambil melindungi


gadis itu, ia terus enjot tubuhnya melambung
keudara.............. Tetapi baru melambung beberapa
meter, pinggangnya telah tersapu angin pukulan si-imam.
Bum ,.... ia terlempar beberapa tombak. Mata berkunang2 dan gelaplah disekeliling penjuru. Darahnya
bergolak keras.
Setelah dapat meruhuhkan Gak Lui, Wi Tun cepat
melayang kesamping Wi Ti. Dilihatnya wajah suhengnya
itu pucat lesi, napas berhenti. Jelas terkena sebuah jenis
racun yang hebat ! Wi Tun yang biasanya amat sabar,
saat itu lupa segala apa. Tring .....!, ia mencabut pedang
lalu menyerbu Gak Lui. Gak Lui buru-buru menyingkirkan
Siau-mey dan mencabut pedang untuk menangkis. Cepat
sekali mereka sudah bertempur 10 jurus.
Tiba2 sigadis ular Siau-mey seperti teringat sesuatu.
Buru2 ia menghampiri ke tempat imam Wi Ti untuk
memeriksa lukanya Saat itu Wi Tun totiang sedang
menumpahkan seluruh tenaganya dalam ilmu pedang
partai Kong-tong pay. Hebatnya bukan alang kepalang.
Sedang Pedang Api Tan Tay keng dan kawan sedang
sibuk menolong kawan2nya yang menggeletak di tanah.
Seluruh mata rombangan Pedang Api itu tercurah
dengan penuh kebencian kepada Gak Lui. Juga terhadap
sikap kedua imam tua Kong-tong-pay yang hanya
berpeluk tangan melihat pertempuran tadi, merekapun
tak puas. Mereka mulai makin percaya akan keterangan
Setan Keluyuran tadi bahwa Gak Lui ini seorang anggota
gerombolan Topeng Besi. Buktinya, pemuda itu
membawa Amanat Mati dari Maharaja dan memusuhi
tokoh2 golongan Putih.
Anggapan mereka terhadap sikap kedua imam tua
Kong-tong-pay itupun, agak mencurigakan. Tentu ada
134

maksud tertentu mengapa kedua imam tua itu tak mau


campur tangan dalam pertempuran tadi! Dalam pada itu,
pertempuran antara Wi Tun totiang dengan Gak Lui
masih berlangsung seru sekali. Karena tak mampu
mengalahkan Gak Lui yang sudah menderita luka itu, Wi
Tun totiang merasa malu dan marah. Segera ia
tumpahkan seluruh tenaga-saktinya untuk menghantam
dada lawan.
Gak Lui terkejut. Setitik iapun tak pernah mengira
bahwa imam tua itu akan mati- matian hendak mengadu
jiwa. Dalam keadaan yang tak mungkin dihindarinya ini,
terpaksa Ia menangkis dengan tangan kiri. Krak ....
terdengar benturan yang keras dan tersurutlah Gak Lui
tiga langkah kebelakang. Tubuhnya terhuyung-huyung
sambil tetap mencekal pedang yang dilintangkan kemuka
untuk melindungi diri. Tetapi difihak Wi Tun totiang lebih
mengenaskan. Kedua tangan imam tua itu melentuk
lunglai, kedua kaki lemas dan rubuhlah imam itu ketanah
....
Hening
lelap.
Suasana
ruangan
tampak
menyeramkan. Beberapa sosok tubuh malang melintang
menggeletak dilantai. Beberapa saat kemudian, tampak
gadis ular Siau-mey bangkit terus menghampiri ketempat
Gak Lui. Dilihatnya dada sang kekasih itu berombak
keras; wajah merah membara dan tegak seperti patung.
Jelas kekasihnya itu tentu menderita kesakitan yang
hebat.
Engkoh Lui, engkau ...... bagaimana?
Lekas ... papahlah aku ........ duduk.........
Siau-mey segera membantu kekasihnya duduk
disamping Wi Tun totiang. Dengan susah payah Gak Lui
letakkan pedang lalu lekatkan tangannya keperut imam
135

itu. Dengan pelahan ia salurkan tenaga-murni Wi Tun


yang disedotnya itu ke dalam tubuh siimam itu. Tak
berapa lama, Gak Lui merasakan getaran hatinya agak
tenang dan rasa sakitnyapun berkurang. Juga Wi Tun
totiangpun mulai kembali tenaganya, Akhirnya tersadar
dan membuka mata. Sebelum kedua orang saling
berbicara, Wi Ti totiangpun yang tadi telah ditolong Siaumey sudah bangun lalu menghampiri ketempat mereka.
Demikianlah, keempat orang itu saling menuturkan
pengalaman masing2. Wi Ti totiang mengatakan bahwa
tutukannya tadi sebenarnya hendak mencegah Setan
Keluyaran mencelakai Siau-mey. Tetapi dalam gugup,
Siau-mey telah meronta dan membalas menutuknya
hingga rubuh.
Gak Luipun segera menuturkan tentang Amanat Mati
yang diambilnya dari desa kediaman Kelima jago. Kini
kedua imam Kong-tong-pay itu menyadari kesalahan
faham mereka. Mereka memberi hormat, menghaturkun
terima kasih karena telah ditolong dari bencana maut.
Setelah itu mereka minta diri dan tinggalkan tempat itu.
Tetapi. tiba-tiba Gak Lui teringat sesuatu serunya: Harap
totiang berdua suka berhenti sebentar. Aku hendak
mohon bertanya.
Ah, Gak siauhiap tak perlu sungkan ...
Mohon tanya, apakah diantara anak murid partai
totiang ada yang lenyap pada 18 tahun yang lalu ?
Kedua imam tua itu saling bertukar pandang lalu
berkatalah Wi Ti totiang: Jika lain orang yang tanya,
kami tak leluasa memberi keterangan, Tetapi karena
kalian berdua telah menolong kami, maka tak enaklah
kalau kami merahasiakan soal itu ....
Demi kehormatanku, tak nanti kubocorkan rahasia
136

itu kepada lain orang. Pula akupun masih ada soal yang
penting akan kuberitahukan kepada totiang
Yang lenyap dari salah seorang Tujuh-jago-pedang
Kong-tong- pay itu adalah toa suheng kami Wi Cun
totiang
Oh ......, bagaimana dengan kelakuan Wi Cun
totiang?
Cukup baik, tetapi ..........
Tetapi bagaimana
Perangainya keras sekali, kurang ramah tamah.
Mungkin dia telah berobah perangainya sehingga
melakukan sesuatu hal yang diluar dugaan, benarkah?
Hal itu .... aku tak berani memastikan, pun tak dapat
menyangkal ...
Gak Lui merenung sejenak lalu berkata dengan nada
sungguh2: Adaikata dia telah menggabungkan diri pada
golongan hitam, misalnya menjadi kaki tangan Maharaja,
bagaimanakah tindakan partai totiang terhadap dirinya?
Sudah tentu akan dijatuhi hukuman sebagai murid
murtad! Tetapi hal itu harus ada bukti yang benar2
meyakinkan!
Bukti ...... ? Sudah tentu hurus ada bukti itu. Dan
ucapanmu itu seperti memberi isyarat secara diam2
tentang sesuatu hal!
Gak Lui menuturkan tentang perjumpaannya dengan
imam Ceng Ci totiang yang menyatakan hendak
mengadakan pembersihan pada partai Bu-tong-pay. Wi
Ti dan Wi Tun terkejut sekali. Berserulah kedua imam itu
dengan serempak: Hubungan Kong- tong-pay dengan
Bu-tong-pay boleh dikatakan adalah seperti kaki dengan
137

tangan. Soal itu kami tak dapat tak mengurusnya .........


Dan lagi turunnya Ceng Suan tutiang dari gunung
pastilah untuk hal itu juga!
Kali ini Gak Lui lah yang tergetar hatinya. Bukan
karena takut rombongan Bu-tong-pay akan meminta
kembali pedang pusaka Pelangi dari tangannya.
Melainkan cemas akan tindakan Ceng Suan totiang itu.
Dengan kepergian ketua Bu-tong-pay dari gunung,
musuh mudah menggunakan kesempatan itu untuk
mengganggu markas Butong-pay. Setelah menenangkan
perasaannya, Gak Lui berkata: Karena Bu-tong-pay
telah mengalami peristiwa itu, kuharap partai Kong- tongpay juga barus meningkatkan kewaspadaan agar jangan
tertimpah sesuatu yang tak diharapkan
Terima kasih atas peringatan Gak sauhiap. Kami
tentu akan segera melaporkan hal itu kepada ketua! kata
kedua imam itu lalu memberi hormat dan terus pergi.
Pada saat. Gak Lui berputar tubuh, barulah ia teringat
akan Setan Keluyuran. Ketika diperiksanya ternyata
orang itu sudah mati. Kaki tangannya menyurut kecil,
wajahnya perot dan lulitnyapun pucat seperti kertas
Apabila disentuh jari, kulit mukanya itu sudah membusuk.
Aneh .... mengapa dia mati sengeri begitu? diam2
Gak Lui bertanya kepada dirinya.
Dia mati digigit si Kumala! tiba2 sigadis ular Siaumey menyahut..........
Kumala? Siau-mey geliatkan tangan kanannya lalu
melolos rantai kumala yang melingkar ditangannya itu.
Ho....., itulah ... sahabat kecil-mu?
Siau-mey mengiakan, lalu bersuit nyaring. Nadanya
tak kalah nyaring dari suitan Ceng Ci totiang ketika
138

memanggil anggauta Topeng Besi. Begitu mendengar


suitan Siau-mey, rantai kumala ditangan Siau- mey itu,
bergerak. Rantai itu dapat mengangkat keatas,
memantulkan sebuah kepala binatang yang berbentulk
segi tiga.
Oh, kiranya seekor ular berbisa! seru Gak Lui.
Benar, racunnya memang ganas sekali. Apabila
menggigit orang, dalam waktu paling lama satu jam,
orang tentu cair jadi air!
Kalau begitu, Wi Ti totiang rubuh tadi bukan karena
engkau totok tetapi karena digigit ular emas itu?!
Ya, benar! Imam itu memang digigit si-Emas. Karena
Wi Ti totiang itu tergolong aliran Putih maka kuberinya
pertolongan!
Ah........ Gak Lui menghela napas, Setan Keluyuran
itu sebaiknya jangan mati dan harus ditolong. Dia adalah
kunci rahasia dari musuhku. Aku dapat mengorek
keterangan dari mulutnya........
Siau-mey tersipu-sipu merah. Sejenak merenung ia
berkata: Tetapi dia tak dapat ditolong lagi ......... eh,
mengapa engkau tak coba2 menggeledah badannya?
Mungkin dapat diketemukan suatu petunjuk!
Gak Lui menurut. Ketika mengeledah pakaian Setan
Keluyuran, ia berhasil menemukan sebuah lencana emas
yang aneh bentuknya. Diatas lencana itu diukir huruf :
Menteri dari Maharaja.
Hm, kiranya lencana ini merupakan tanda pengenal
mereka ...... pikir Gak Lui. Dan ketika membuka bekal
Setan Keluyuran, ia menemukan lagi sehelai kain 'biru
penutup kepala dan muka. Itulah sarung kepala yang
biasa dikenakan anggauta Topeng Besi ! Gak Lui
139

menyimpan kedua benda itu dibajunya. Tiba2 Siau-mey


menanyakan perihal Amanat Mati yang menyebabkan
Gak Lui diserang rombongan Pedang Api tadi.
Engkoh Lui, perlu apa engkau menyimpan benda2
itu? Bukankah hal itu akan menimbulkan faham orang?
kata Siau- mey.
Soal itu tak perlu engkau tanyakan. Kelak tentu ada
gunanya bagiku! Perangai gadis ular Siau-mey memang
lemah lembut. Ia tak mau berbantah lagi. Kemudian ia
menarik tangan kekasihnya dan berkata dengan mesra :
Engkoh Lui, orang2 sudah pergi, mari kita masuk dan
beristirahat ke dalam ruangan. Tetapi saat itu hari sudah
fajar. Gak Lui gelengkan kepala: Kita .... saat ini harus
berpisah.
Berpisah ? Siau-mey terkejut.
Sesungguhnya aku tak tega kalau engkau seorang
diri berkelana. Lebih baik cari suatu temtpat yang aman
dan engkau menetap sementara disitu.
Tidak..., tidak....! rupanya Siau-mey mempunyai lain
rencana, aku mempunyai si Kumala, si Emas dan ular
Pelangi serta akupun memiliki ilmu jaga diri. Aku dapat
pergi, seorang diri!
Kapan engkau memiliki kepandaian jaga diri itu ?
Dulu sewaktu masih tinggal di makam ular, sering
kulihat kawanan ular besar itu saling bergurau. Tanpa
sengaja mereka masing2 mengeluarkan kepandaian
berkelahinya. Tadipun telah kugunakan sebuah sapuan
tangan dan kaki untuk merubuhkan Setan Keluyuran.
Kalau tidak, masakan aku dapat lolos dari ruang samping
! Kalau begitu sebenarnya engkau memang mempunyai
kepandaian bela diri. Hanya saja karena gugup
140

menghadapi musuh, hampir saja engkau kena disergap


orang .......
Kelak aku takkan takut lagi. Barang siapa
menghinaku, tentu takkan kuberi ampun! kata Siau-mey.
Bagus Gak Lui memuji. Keduanya segera keluar
dari ruang itu. Setelah tiba di-jalan besar, mereka segera
berpisah.
Kudoakan engkau dapat menemukan ayah-mu !
kata Gak Lui.
Kuharap engkaupun dapat menemukan sumber air.
Pencuci Jiwa! balas Siau-mey. Setelah saling
berpelukan, kedua kekasih ini segera berpisah. Gak Lui
bergegas-gegas menuju kearah tempat sumber air
Pencuci Jiwa.
SETELAH kekasihnya itu lenyap dari pandangan
mata, Siau-mey berkata dalam hati : Engkoh Lui, aku
benar2 tak tega. Akan kuikuti engkau secara diam2 Tak
peduli ke Nirwana atau ke Neraka............ Betapapun
jauh larimu, tetapi dengan membaui napasmu aku tentu
dapat mencarimu! Setelah menentukan rencananya,
gadis ular itupun segera melesat menyusul kearah tujuan
Gak Lui.
Setelah dua hari metaempuh perjalanan, barulah Gak
Lui menyadari bahwa lukanya masih belum sembuh
sama sekali. Tenaganya belum pulih. Ia merasa cemas
lalu membiluk ke sebuah tikungan gunting. Maksudnya
hendak mencari tempat yang aman untuk melakukan
penyaluran napas. Pada saat ia menyusup ke dalam
sebuah hutan untuk mencari tempat beristirahat, tiba2
dari belakang menghembus serangkum angin dan
menyusul terdengar suara orang membentak: Hai,
pendatang, lekas hunus pedangmu!
141

Menghunus pedang? Gak Lui heran.


Benar, dan engkau boleh mulai menyerang dulu!
kata orang itu. Gak Lui makin kaget. Nada ucapan itu
persis seperti ketika ia turun gunung dahulu dalam
rangka memapas pedang tokoh2 persilatan untuk dibawa
menghadap ayah angkatnya. Secepat kilat Gak Lui
berputar tubuh untuk melihat orang yang menggertaknya
itu. Dan astaga .... hampir saja ia menjerit kaget! Dan
orang itupun juga menjerit kaget! Kiranya yang dihadapi
Gak Lui itu juga seorang yang memakai kerudung hitam.
Kepala dan mukanya tertutup. Dandananya persis seperti
dirinya. Orang itupun demikian juga. Ia terkejut karena
Gak Lui menyerupai dirinya.

142

Memang sepintas pandang keduanya hampir


menyerupai satu sama lain. Tetapi sesungguhnya ada
juga bedanya. Gak Lui lebih tinggi dari orang itu. Dan
kedok muka yang dipakainya itu agak beda bentuknya
dengan orang itu. Begitu pula orang itu pedangnya hanya
sebatang.
Sekalipun
hegitu,
memang
sukar
membedakan mereka.
Siapa engkau! orang itu menegur lebih dulu. Dari
nada dan sinar matanya serta baris gigi yang masih
penuh dan putih, jelas orang itu masih muda. Aku Gak
Lui sahut Gak Lui. Diam2 ia menimang, tentulah orang
itulah yang telah keliru disangka oleh Ceng Ci totiang
sebagai si Pemangkas Pedang.
Hm, bangsa kerucuk yang tak berharga. Lekas
hunus pedangmu! seru orang itu.
Siapa engkau seru Gak Lui.
Tuanmu ini adalah si Pemangkas Pedang, mengapa
masih bertanya lagi!
Ha, ha, ha ... ! Gak Lui tertawa ter-gelak2 kalau
engkau benar2 dia, engkau telah melanggar sebuah
peraturannya!
Peraturan apa?
Selama berkelana memapas pedang orang, dia tak
pernah menanyakan nama orang. Kecuali orang itu
mengatakan sendiri !
Oh ...... apakah engkau ...... orang itu gemetar
tubuhnya dan maju tiga langkah kemuka.
Tak usah engkau tanya! Mari kita sama2 menghunus
pedang dan lihatlah siapa yang lebih tangkas
Tring ........ secepat menarik pedang orang itu terus
143

menyerang Gak Lui. Gak Luipun mencabut pedangnya


tetapi tak sampai mengeluarkan suara begitu
gemerincing. Cepat kedua sudah melangsungkan 10
jurus serangan, Gak Lui dapatkan tenaga-dalam orang
itu masih lemah tetapi permainan pedangnya hebat dan
aneh sekali. laksana gelombang samudera yang susul
menyusul mendampar. Menyerang tetapi lincah
bertahan.
Sesaat Gak Lui tak mampu menemukan kelemahan
lawan. Berhadapan dengan seorang lawan yang
dandanan dan umurnya sebaya, timbullah kegembiraan
Gak Lui untuk memenangkan pertempuran itu. Pikirnya:
Hm, engkau mengaku sebagai si Pemangkas Pedang.
Akan kuberi contoh bagaimana cara memangkas pedang
orang! Seketika Gak Lui robah permainan pedangnya,
menjadi hujan sinar yang mencurah kepedang lawan.
Orang itu mendengus hina dan berani menangkis.
Bagus! seru Gak Lui seraya menambahkan tenagadalamnya. Pedang berputar laksana angin puyuh dan
ujung pedang orang itu pasti terpapas. Tetapi ternyata
orang itu sudah siap. Pada saat pedangnya terancam
kutung, dia malah maju selangkah dan secepat kilat
merogoh baju. Tring .... terdengar suara berdering dan
tahu2 sebatang pedang pendek secepat kilat memapas
pedang Gak Lui. Cepat bukan kepalang sehingga lawan
tentu tak sempat menarik pedangnya lagi.
Dalam gugup, Gak Lui cepat menarik pedang Pelangi
dari bahunya dan terus disongsongkan. Tring
...........terdengar benturan pedang yang melengking
nyaring sekali sehingga telinga kedua orang itu serasa
mau pecah. Mereka sama2 loncat mundur setombak lalu
memeriksa senjata masing2. Ternyata pedang mereka itu
sama2 tak kurang suatu apa. Pemuda yang mengaku
144

sebagai Pemangkas Pedang itu menyadari bahwa dirinya


takkan menang melawan Gak Lui. Setelah mendengus
geram, tiba2 ia berputar diri terus lari ........ Cepat Gak Lui
loncat dan mencekal tangan pemuda,itu, serunya :
Saudara Hi, jangan pergi....
Siapakah saudaramu itu! bentak pemuda itu seraya
meronta sekuat-kuatnya. Gak Lui terpaksa lepaskan
cekalannya dan dengan menahan kemarahan berkata;
Engkau tentu Hi Kiam-gin, putera dari Hi Liong-hui
Locianpwe.
Mengapa engkau tahu?
bibirnya.

pemuda itu gemetar

Aku bernama Gak Lui. Ayahmu minta tolong


kepadaku .......
Minta tolong apa?
Beliau mengatakan perangaimu ....... Perangaimu
agak keras. Dikuatirkan di luarkan akan menimbulkan
keonaran.
Apakah beliau ..... minta engkau memanggilku
pulang?
Tidak! teringat hahwa keluarga Hi Lionghui sudah
berantakan dan pemuda itu tiada mempunyai rumah lagi,
maka Gak Lui terpaksa menyangkal, katanya: Hi
cianpwe hanya minta kepadaku supaya melindungi
engkau.
Orang berkedok dan mengaku sebagai Pemangkas
Pedang memang ternyata, adalah Hi Kiam-gin, putera
dari Pedang Samudera Hi Liong-hui. Pemuda itu tertawa
ewah: Ah..., kita tak jauh terpautnya .... kepandaian kita
berdua, ditambah dengan pedang yang dapat memapas
segala logam, sama2 mempunyai kemampuan untuk
145

berdiri dengan kaki sndiri. Baiklah, buka kedokmu dan


beritahukan umurmu. Entah siapa.yang lebih tua
Maaf, aku tak dapat membuka kedokku ini.
Mengenai umur, engkau lebih tua setahun dari aku......
Ha..., ha..., ha .... kalau begitu aku menjadi toako.
Sejak saat ini dalam segala hal engkau harus mendengar
perintahku. Kareni gembira menjadi toako atau engkoh,
sampai lupalah Kiam- gin tentang permintaannya kepada
Gak Lui supaya membuka kedoknya itu.
Memang seharusnya aku menyebut engkoh Gin,
tetapi ada beberapa hal yang engkau harus meluluskan!
Gak-te silahkan bilang! kata Kiam-gin seraya
menyimpan pedangnya Ia membahasakan Gak Lui
dengan sebutan Gak-te atau adik Gak. Mereka berdua
duduk bercakap-cakap.
Pertama, harap engkau, suka kembali mengenakan
pakaian seperti semula
O.......! Kiam-gin menjerit kaget, kembali dalam
pakaian semula yang bagaimana?
Mudah saja! Lepas kedok mukamu dan tak usah
menyebut dirimu sebagai si Pemangkas-pedang. Karena
itu berbahaya sekali! Hi Kiam-gin menghela napas
longgar. Ia segera melepaskan kedoknya, tampak alis
yang melengkung indah dan bibir merah berisi gigi putih
mengkilap. Benar2 seorang pria yang cakap sekali.
Malah lebih tepat dikata cantik.
Kedua, siapa saja yang telah kau papas pedangnya
? Dan apakah selama itu pernah terjadi sesuatu tanya
Gak Lui pula
Sebatangpun belum pernah dapat kupapas ....
karena begitu kuberitahukan nama Pemangkas pedang,
146

orang2 itu terus ngacir pergi ....


Apakah tak pernah ada yang lebih sakti dari
engkau?
Ada juga ...
Lalu bagaimana engkau dapat meloloskan diri
Kecuali pedang, Hi-jong-kiam (Usus ikan), aku masih
mempunyai dua macam pusaka lagi!
Apa ?
Engkau kenal ayahku, mengapa engkau tak tahu
akan dua macam senjata api dari keluarga Hi?
Waktu amat singkat, tak dapat banyak bercakapcakap
Kalau begitu, aku beritahu padamu! Kiam-gin
mengambil sebuah Kim-long atau kantong-kantong dan
mengeluarkan dua butir pelor. Yang satu hitam, satu
merah.
Yang merah ini disebut Api-sakti dan yang hitam
disebut Kabut penyesat. Bukan saja, aku dapat
melempar dengan tepat pun juga dapat membuatnya
sendiri. Cobalah engkau lihat dayanya dulu! Ia terus
lontarkan kedua pelor itu kearah sebatang pohon kecil
yang berada 10 tombak jauhnya. Bum ... bum ...
terdengar dua buah letusan. Api-sakti memuntahkan
sinar terang seluas satu tombak, membakar habis pohon
itu.
Dan
menyusul
Kabutpenyesat
tadipun
mengembangkan gumpalan kabut tebal. sehinggakeadaan sekelilingnya gelap gulita. Kiam-gin tertawa dan
menepuk bahu Gak Lui: Bagus sekali, bukan? Dulu
ketika, berhadapan dengan musuh yang lihay,
kuhadiahkan dia sebuah pelor Asap-penyesat. Dia
pusing dan menyasar kelain jurusan ........eh, kalau
147

engkau suka, kuberimu beberapa butir!


Tak usahlah, aku tak memerlukannya, pakailah
sendiri saja!
Akn punya banyak sekali. Sewaktu pergi dari rumah,
diam2 kubawa setengah kantong!
Oh...., jadi engkau pergi secara diam2
Ayahku tak mengdinkan
kuambil langkah begitu!

aku keluar, terpaksa

Seketika Gak Lui teringat ketika tempat kediaman


kedua jago Pedang Gelombang dan Pedang Samudera
terdengar ledakan. Kiranya mereka memang mempunyai
persedian pelor semacam itu. Diam2 Gak Lui tak setuju
akan tindakan Kiam-gin yang minggat dari rumah. Tetapi
dilain pihak, diam2 ia girang. Karena dengan
kepergiannya itu, Kiam-gin lolos dari bencana
pembunuhan yang menimpa keluarganya. Sesaat Gak
Lui agak bingung Haruskah ia memberitahukan tentang
keadaan keluarga Hi itu kepada Kiam-gin? Ia merasa
telah menerima permintaan tolong dari Hi Liong-hui untuk
melindungi
puteranya.
Tetapi
dengan
cara,
bagaimanakah ia akan melaksanakan hal itu. Demikian
Gak Lui termenung- menung memikirkan hal itu..........
Eh, mengapa engkau tak bicara? tiba2 Kiam-gin
menegurnya. Gak Lui gelagapan dan dengan gugup
berkata: Aku tak menghendaki senjata gelap. Aku
hendak belajar ilmu kesaktian yang tanpa tanding
didunia. Membunuh si Hidung Gerumpung dan
membalas sakit hati keluargaku ......
lh, siapakah Hidung Gerumpung itu? Mengapa
terdapat tokoh persilatan yang begitu lucu namanya?
Hayo, lekas ceritakan kepada engkohmu. Gin! seru
148

Kiam-gin. Gak Lui merasa kelepasan ornong. Tetapi


karena sudah terlanjur ia tak dapat menyangkal lagi.
Terpaksa ia merangkai sebuah cerita tentang si
Gerumpung yang misterius itu.
Hm..., sungguh aneh dan ganas benar manusia itu!
Aku akan menemani engkau keliling keseluruh pelosok
dunia untuk mencarinya. Jika belum ketemu, aku takkau
meninggalkan engkau.... Tetapi belum selesai ia
berkata, Asap penyesat yang dilepaskan tadi
mcmuncratkan api, panasnya bukan main. Beberapa
pohon disekeliling hancur meledak. Api akan merangas
kemari, hayo kita cari lain tempat ....! kiam- gin terus
menyeret lengan Gak Lui.
Setelah lari lima enam li, barulah mereka mendapat
sebuah tempat yang sesuai. Tetapi asap hitam itu telah
menyulitkan si gadis ular Siau-mey. Ketika ia tiba di
tempat itu, ternyata Gak Lui sudah pergi sehingga Siaumey kehilangan jejak Barulah setelah makan waktu lama
sekali, ia berhasil ketemu dengan kekasihnya lagi.
SETELAH beristirahat ditempat yang baru, berkatalah
Kiam-gin dengan wajah sungguh2: Sekarang kita harus
melakukan upacara mengangkat saudara! Demikian
kedua pemuda itu segera mengikrarkan sumpah
mengangkat saudara. Senang bersama, susah berdua.
Setelah selesai, Kiam-gin menghampiri Gak Lui, ujarnya:
Gak-te, demi kepentingan membalas sakit-hati
musuhmu, sukalah engkau mengajarkan ilmu pedangmu
yang istimewa itu, kepadaku, agar kita dapat sama2
menghadapi musuh!
Ini .... tak bisa....
Eh, engkau sudah tak mau mengakui aku sebagai
engkoh lagi?
149

Bukan begitu! Tetapi ilmu pedang itu, hanya


menimbulkan bahaya padamu!
Tadi kuminta engkau lepaskan kedokmu, engkau
menolak. Sekarang kuminta engkau mengajarkan ilmu
pedangmu, engkaupun tak mau. Kalau begitu, sama saja
seperti orang asing. Hm ...... akan kutanyakan pada
ayah, bagaimana baiknya!
Tunggu! Jangan pergi! Gak Lui kaget karena Kiamgin hendak pergi......
Kenapa? Kiam-gin kerutkan alis.
Engkau .... tak
menanyakan hal itu!

dapat

...

tak

usah

pulang

Engkau meluluskan?
Kita toh sudah menjadi saudara angkat? Kelak tentu
akan kuajarkan padamu. Tetapi kalau engkau memaksa
sekarang, lebih baik kita berpisah saja !
Semula Kiam-gin tak mau tetapi sejenak memandang
wajah gak Lui, berobahlah pendiriannya.
Ya, terpaksa kuturut, kata Kiam-gin, tetapi ada
perjanjiannya!
Adik, katakanlah
Gak-te sejak saat ini, engkau tak boleh bergaul
dengan orang perempuan!
O, itu tak apa, kuterima perjanjianmu itu
Hih, engkau benar2 seorang adik yang baik! Lalu
kemana sekarang kita akan pergi?`
Sumber air Pencuci Jiwa di gunung Thian-gan-san!
Kudengar ayah pernah mengatakan bahwa sumber
150

air itu amat beracun sekali. Tetapi aku tak percaya. Hayo,
kita buktikan kesana! habis berkata ia terus ayunkan
langkah. Teiapi sebaliknya Gak Lui masih tertegun. Dia
mencegah Kiam-gin pulang tetapi pun tak dapat
membawanya ke Thian-gan-san. Pada saat ia masih
termenung
belum
menemukan
pikiran
untuk
memecahkan kesulitan itu, tiba2 Kiam-gin teringat
sesuatu dan bertanya.
Tadi engkau mengatakan ... aku tak boleh pulang.
Omonganmu itu ...
Bukan, aku hanya mengatakan engkau tak usah
pulang .... sahut Gak Lui.
Tetapi orang yang biasanya tak pernah bohong,
walaupun wajahnya tertutup kedok tetapi nada suaranya
masih kentara kaku dan tersendat-sendat. Kiam-gin
bermata tajam sekali. Cepat ia dapat mengetahui
kelemahan Gak Lui, serunya: Hm, telingamu merah,
engkau tentu bohong!
Sebelum Gak Lui menyahut, pemuda itu berseru
pula: Tidak Aku akan pulang menjenguk ayah dan
paman berlima! Dalam keadaan terdesak, apa boleh
buat. Terpaksa Gak Lui menceritakan apa yang telah
terjadi ditempat keluarga Hi Liong-hui. Mendengar itu
menangislah Kiam-gin seperti anak kecil. Gak Lui
terharu. Seketika timbullah semangatnya. Makin bulat
tekadnya untuk menghancurkan manusia yang telah
membinasakan keluarganya dan keluarga Hi itu. Setelah
puas menumpahkan airmata, tiba2 Kiam-gin bangkit.
Karena jelas pembunuh keluarga kita itu terdapat
juga gerombolan Topeng Besi, maka lebih baik kita
berpencar untuk mencari mereka ! katanya.
Jangan...! Gak Lui mencegah karena ia tahu
151

kepandaian saudara angkatnya itu masih rendah, aku


tentu dapat membalaskan sakit hatimu. Lebih baik
engkoh Gin menetap di suatu tempat yang aman ....
Paling tidak, kita harus bersama-sama mencari
musuh kita itu ! Kiam-gin tetap berkeras.
Baiklah .... mari kita berangkat ! Keduanya segera
keluar dari hutan. Mereka menuju ke gunung Thian-gansan mencari sumber air Pencuci jiwa. Dengan membawa
saudara angkat yang bertabiat manja- membawa
kehendaknya sendiri itu, Gak Lui tak berani ambil jalan
besar. Ia lebih senang mengambil jalan di gunung dan
hutan belantara.
Sepuluh hari kemudian, mereka tiba di sebuah
lembah gunung. Memandang ke sekeliling penjuru,
hanya jajaran gunung yang tampak. Lembah berwarna
merah bahkan pohon2 nyapun menguning kering. Aneh,
tempat ini panas sekali. Aku haus....! kata Kiam-gin
seraya mengusap peluh. Wajahnya merah padam dan
sewaktu bicara napasnya terengah- engah. Gak Luipun
merasa panas juga, katataya : Mari kita cari sumber air
....
Mereka menyusur sebuah, jalan kecil yang
merupakan satu- satunya jalanan di situ. Tetapi hampir
setengah hari mencari, mereka tetap tak bersua dengan
sumber atau saluran air. Parit2 kering, sumber tak
mengeluarkan air. Ketika tiba di sebuah pedesaan
gunung, pun di situ sunyi sekali. Tiada barang seorang
penduduk. Rupanya desa itu sudah lama tak dihuni.
Sambil mengalingkan ke dua tangan untuk menutupi
sinar matahari yang menyilaukan mata, Kiam-gin
hentikan langkah lalu berteriak-teriak : Air...! Air...! Gakte aku minta air...!
152

Gak Lui memapahnya. Memandang ke sekeliling


penjuru, tiba2 Gak Lui berseru : Engkoh Gin, di bawah
pohon itu terdapat seseorang!
Aku minta ..... air!
Jika ada orang, tentu mudah bertanya. Hayo kita ke
sana ...!
Mendengar itu timbullah lagi semangat Kiam-gin.
Mereka menuju ke pohon yang dikatakan Gak Lui.
Memang di bawah Pohon itu terdapat seorang tua yang
duduk. Rambutnya kusut masai. Cepat Gak Lui
menjelajahi tubuh orang tua itu dengan pandangan mata
yang tajam. Dilihatnya orang tua itu tak memakai baju.
Tubuhnya mandi keringat. Jelas orang itu tak mengerti
ilmusilat. Di samping terletak sebuah kantong kulit besar
dan separoh gelembung kulit genderang.
Paman, tolong tanya. Apakah nama tempat ini dan di
manakah aku bisa memperoleh air? tanya Gak Lui.
Orangtua itu pelahan-lahan mementang mata dan
menyahut :
Mundur lagi 3 li, baru terdapat air!
Bagaimana kalau di sekeliling yang, dekat sini ..?
Apakah engkau tak melihat kanan kiri tiada jalan dan
di sebelah mukapun tak dapat dilalui ...?
Mengapa ...?
Dari kata-katamu, terang engkau bukan orang sini
sehingga tak kenal sama sekali keadaan tempat ini ...!
Itulah maka kumohon tanya pada paman ...!
Tempat ini dinamkan Lembah Mati. Iklimnya panas
luar biasa. Dan beberapa tahun terakhir ini semua
sumber air kering. Hanya beberapa orang desa tolol yang
153

coba2 berani masuk kemari. Akhirnya mereka mati


semua ....
Mengapa mendadak tak ada air? Dan apa sebabnya
orang2 itu tak kembali lagi ?
Dengan wajah tegang, orangtua itu memandang ke
sekeliling lalu berkata dengan bisik-bisik : Kareua
muncul Siluman Kering sehingga air habis. Setan Kering
itupun menelan manusia juga...!
Apakah Setan Kering itu?
Sett...., jangan keras-keras! Makhluk itu memiliki alat
indera yang tajam sekali. Mungkin dia dapat menangkap
pembicaraan kita...!
Maukah paman menceritakan makhluk itu...?
Orang tua itu memberi isyarat supaya Gak Lui duduk.
Melihat mata Kiam-gin merah dan bibirnya kering
orangtua itu memberikan kantong kulitnya: Minumlah
kalian lebih dulu, baru nanti kuceritakan ........
Sudah tentu tawaran itu tak perlu diulang lagi. Dalam
keadaan tenggorokan hampir kering, Kiam-gin terus
menyambuti dan meneguknya sampai puas. Lalu
diberikan kepada Gak Lui. Setelah minum, semangat
kedua pemuda itu tampak lebih segar.
Engkoh kecil, orang itu setelah mati apabila tidak
dikubur ditempat yang sesuai, akan menjadi Kiang-si
(mayat hidup). Dari Kiang-si lalu menjadi Setan Kering.
Rupanya menyeramkan, ganasnya bukan main. Dapat
menyembur api dan makan orang. Sejak, keluar Setan
Kering itu maka sungai, palung, dan sumur2 kering
semua ..... Gak Lui tak percaya. Cepat ia menukas :
Siapakah yang pernah melihat mahluk itu.
Memang ada orang yang benar2 melihatnya. Apa
154

engkau kira aku seorang tua ini, akan bicara buhong.....!


Lalu dimana makhluk itu?
Kira2 tigapuluh li dari sini, adalah pusar Lembah
Mati. Mungkin dia tinggal disitu .......
Kiam-gin tertarik dan cepat berseru: Gak-te, mari kita
lihat kesana. Jika memang ada, kita bunuh saja supaya
rakyat terhindar dari bahaya
Orangtua itu terbeliak, serunya: Kalian masih begitu
muda, mengapa tak ingin hidup? Disebelah muka, sama
sekali tidak ada air. Semua kering !
Kata Gak Lui : Apa boleh buat, kita terpaksa harus
melanjutkan perjalanan, sekalian ......
Hai, apakah kalian juga hendak mencari batu
berharga itu?
Tidak, kami hendak menuju ke sumber air Pencuci
Jiwa!
Apalagi kesana! Sumbcr air Pencuci Jiwa itu
mengandung racun yang ganas sekali. Apalagi kalian
harus melalui sarang Setan Kering. Benar-benar kalian
hendak cari mati ...........
Paman terima kasih atas petunjukmu. Maaf, kami
hendak mohon diri .... kata Gak Lui. Tetapi Kiam-gin
masih belum mau pergi, dan minta keterangan lagi
kepada si orangtua.
Apakah yang engkau katakan tentang batu berharga
itu? serunya.
Dibagian tengah Lembah Mati ini terdapat hasil batu
berharga jenis berlian: Kabarnya batu berlian itu amat
mahal sekali harganya!
155

Apakah
ada
mencarinya?

orang

yang

pernah

datang

Tentu ada. Tetapi entah berapa orang yang datang


pada setiap tahun, aku tak mengerti!
Setelah menghaturkan terima kasih kepada orangtua
itu, Kiam- gin lalu menarik tangan Gak Lui diajak
melanjutkan perjalanan.
TAK BERAPA lama tibalah mereka dibagian tengah
lembah itu. Orangtua itupun segera memanggul kantong
kulitnya dan melangkah keluar lembah. Mulutnya tak
henti2 mengingku:
Sayang, kedua anak muda itu! Ah..., habis...,
habis....! Memang benar, dibagian tengah lembah ini
amat panas sekali. Untung lah mereka sudah minum
sehingga masih dapat bertahan. Baru beberapa langkah
berjalan, tiba2 Gak Lui berhenti. Hidungnya berulang kali
menyedot hawa.
Gak-te, kenapa engkau? tegur Kiam-gin.
Aku mencium bau orang hidup.
Memang orangtua tadi mengatakan, ada orang yang
pernah masuk ke lembah ini.
Tetapi kalau Setan Kering itu benar2 makan
manusia, orang itu tak mungkin hidup!
Mungkin ada seorang dua orang yang masih dapat
hidup .......
Keadaan tengah lembah itu penuh batu2 yang aneh
bentuknya. Seolah-olah merupakan sebuah hutan batu.
Pada gundukan batu itu, terdapat sebuah guha. Mulut
guha penuh tapak2 kaki orang. Tetapi lebih besar dari
tapak kaki orang biasa. Bahkan Gak Lui yang tinggal di
156

gunung Yau-san, tak dapat menentukan telapak kaki itu.


Gak-te, mengapa engkau selalu berada di, bawah
angin saja!
Dengan begitu aku dapat mencium bau orang atau
binatang...!
Tetapi telapak kaki itu, bukan telapak kaki orang
biasa. Tentulah bekas telapak kaki Setan Kering itu.
Makhluk itu tentu berada disekeliling tempat ini. Karena
makhluk itu dapat menyembur api, lebih baik jangan
berada di tempat yang terlanda angin. Agar sewaktuwaktu dapat menghindar dari semburan makhluk itu!
Tahu Kiam-gin mahir dalam soal api, Gak Luipun
menurut. Setelah membiluk dua tiga buah tikungan,
mereka tiba di sebuah guha yang gelap sekali. Selain
gelap, guha itu ternyata amat dalam sekali dan panasnya
bukan kepalang.
Kemungkinan makhluk itu berada di dalam Gak-te,
cobalah engkau periksa telapak kaki itu lebih jelas seru
Kiam-gin.
Tetapi bau hawa orang. Dan lagi disebelah sana
terdapat juga beberapa tapak kaki, Gak Lui menunjuk ke
sebuah arah.
Ternyata memang pada beberapa tempat terdapat
telapak kaki orang. Tetapi ukurannya amat kecil,
menyerupai teIapak kaki seorang anak kecil. Gak Lui
terus hendak memasuki guha itu. Ia ingin tahu apakah
sebenarnya yang berada dalam goha. Tetapi Kiam-gin
menceghnya.
Kurasa, lebih baik jangan masuk. Sebelum kita
kehausan lebih baik cepat2 meneruskan perjalanan ke
sumber air Pencuci Jiwa ....
157

Belum ....... selesai. tiba2 dari belakang terdengar


suara letupan kecil. Kedua pemuda itu cepat memutar
tubuh: Setan Kering ...! Kiam-gin menjerit kaget ketika
melihat pada jarak setumbak jauhnya, muncul kepala
besar, rambut terurai tak keruan. Wajah seseram hantu
malam, hidung menonjol keluar, gigi runcing2 seperti
pagar pisau. Makhluk aneh itu menatap kedua pemuda
dengan tajam. Bulu roma Gak Lui meremang. Cepat ia
mencabut pedang dan membacok kepala makhluk aneh
itu.
Awas! Semburan api ....... teriak Kiam-gin. Dan
tepat pada saat itu juga, makhluk aneh itupun ngangakan
mulut, wut.......segulung asap segera menyembur ke arah
Gak Lui.
Gak Lui terkejut. Tangan kiri menghantam ke atas
dan serempak dengan gunakan jurus Rajawali-rentangsayap, ia melambung beberapa tombak tingginya.
Karena gugup hendak memberi pertolongan, Kiamginpun secepat kilat mencabut pedang dan menabas
makhluk itu. Tring ... pedang Gak Lui terpental setombak
jauhnya ketika makhluk aneh itu menangkis dengan
tangan kiri. Tetapi pada saat itu juga, pedang pusaka
Usus-ikan dari Kiam-gin sudah tiba dan menusuk tangan
kanan makhluk itu. Tetapi makhluk aneh itu dapat
menangkisnya sedemikian keras hingga tangan Kiam-gin
terasa kesemutan dan pedangnya hampir terlepas jatuh.
Untunglah Kiam-gin cukup tangkas dan tak sampai
kehilangan kesadaran. Sambil loncat mundur, ia
merogoh kantongnya.
Jangan .... tiba2 Gak Lui berseru mencegahnya
tetapi pada saat itu. Setan Kering sudah loncat setombak
tingginya dan Kiam- gin pun cepat menaburkan pelor api.
Pelor itu tepat mengenai dada simakhluk aneh. Rupanya
158

makhluk itu masih tak menyadari bahaya maut. Ia masih


gerakkan tangannya untuk menyerang. Tetapi pada saat
pelor itu meletus, jatuhlah makluk aneh itu ke tanah .......
Makhluk itu meraung-raung dan menggeIepar-gelepar
ditanah. Bau daging bakar meruak keseluruh lembah.
Jelas bau dan suaranya seorang manusia. Entah
dapat ditolong atau tidak? Aku perlu menayainya .......
Sekalipun disini ada air pun tak dapat menolongnya.
Apalagi disini kering kerontang! sahut Kiam- gin. Tak
berapa lama makhluk itu diam tak bersuara. Asap
menipis dan api yang membakar dirinyapun padam.
Tetapi makhluk itupun berobah menjadi seonggok abu
hitam. Ketika Gak Lui dan Kiam-gin memeriksa, pada
onggok abu hitam itu terdapat sepasang tangan dari baja
murni.
Hm..., kiranya hanya sebangsa penjahat dalam
dunia persilatan yang menyaru sebagai setan jejadian!
kata Gak Lui.
Kulihat tadi ia menyemburkan api yang terbuat dari
bahan belirang. Maka terpaksa kupersen dengan pelor
api juga kata Kiam-gin.
Tetapi kita kehilangan sebuah jejak!
Tak apa, sahut Kiam-gin, kita masih dapat
menyelidiki dari telapak kaki kecil itu!
Gak Lui menyatakan akan masuk ke dalam guha
untuk menyelidiki lebih lanjut. Demikian keduanya segera
melangkah masuk. Ternyata guha itu sempit sekali.
Beberapa tombak kebagian dalam, selain amat gelap,
pun orang harus berjalan merangkak Ketambahan pula,
panasnya bukan alang kepalang. Sambil merangkak,
Kiam-gin ber- sungut2 : Gak-te, mari kita keluar sajalah
159

........
Sudah terlanjur masuk, mengapa ......
Ini sebuah liang. Jika dari sebelah dalam terdapat
orang kita tak dapat berjaga diri. Dan kalau mulut guha
ditutup, kita tentu terkubur hidup2 disini! Gak Lui
berhenti. Diam2 ia mengakui ucapan Kiam-gin itu benar.
Tetapi seketika itu terdengar suara orang dari sebelah
dalam. Menilik nadanya yang berisik, jelas jumlahnya tak
sedikit.
Mundur, cepat. seru Gak Lui seraya merangkak
mundur. Setelah keluar dari guha, mereka berdiri, siap
dengan pedang. Suara berisik itu jelas berasal dari
sejumlah besar kaki orang yang sedang merangkak
keluar. Tetapi gerakannya amat lambat sekali Hampir
sepeminum rokok, barulah tampak sesosok bayangan
orang melesat keluar guha.
Gak Lui dan Kiam-gin terkejut, menjerit dan menyurut
mundur selangkah. Kiranya orang yang muncul dari guha
itu hanya satu meter tingginya. Kepalanya seperti orang
dewasa tetapi kaki dan tangannya kecil sekali. Tubuhnya
hitam seperti pantat kuali. Orang pendek itu sungguh
mengerikan. Entah apakah darahnya dingin sekali
sehingga tak takut panas ....... seru Kiam-gin. Tetapi
karena ngeri, Gak Lui tak menyahut.
Tak berapa lama, bermunculanlah tak kurang dari
300 orang pendek. Mereka melangkah terhuyunghuyung. Dengan matanya yang putih memandang ke
sekeliling penjuru. Sedikitpun tak silau memandang sinar
matahari. Melihat itu menjeritlah Kiam-gin dengan nada
gemetar : Mereka ...... buta semua... !
Dan tuli juga ! sahut Gak Lui.
160

Lalu bagaimana...? Dengan amat hati2 sekali, Gak


Lui maju menghampiri. Rupanya rombongan orang
pendek itu telah menemukan suatu Plan. Berbondongbondong mereka berjalan ke suatu arah. Gak Lui cepat
mencekal salah seorang yang paling belakang sendiri.
Orang itu terkejut dan ngangakan mulut. Tetapi tak
bersuara.
Hai ! Mereka juga gagu .......!

JILID 4
GAK LUI terpaksa lepaskan cekalannya. 0rang kerdil
berkulit hitam itu segera merangkak bangun menyusul
kawan2nya. Tetapi dari bajunya yang robek itu,
berbamburan jatuh dua butir batu berkilau. Kiam-gin
memungutnya dan berserulah ia ke-pada Gak Lui; Adik
Lui, lihatlah betapa indah batu ini ....... Tetapi saat itu
Gak Lui sedang memandang kearah kawanan orang
kerdil sambil berpikir. la heran mengapa kawanan orang
kerdil itu mencari batu berlian dan kemanakah pergi
mereka. Apakah masih ada seorang lain yang tinggal di
Lembah Mati itu kecuali si Setan Kering?
Hai, mengapa engkau ter-menung2 saja? tiba2
Kiam-gin menegurnya.
Kukira .... mereka tentu menuju kesuatu tempat
tertentu. Hayo, kita ikuti! sahut Gak Lui.
Tetapi mereka berjalan begitu pelahan sekali. Dan
hawanya begini kering tak ada air. Masakan kita mampu
menunggu! sahut Kiam-gin. Mendengar kata2 air,
seketika Gak Lui rasakan tenggorokannya kering. Tadi ia
hanya minum sedikit. Sekarang barulah ia rasakan haus
161

sekali.
Ya, kita tak perlu menunggu mereka. Bayangan
yang ditinggalkannya, dapat kujadikan jejak untuk
mengejar mereka, kata Gak Lui. Tetapi sebelum
keduanya angkat kaki, sesosok tubuh melesat tiga,
tombak disebelah muka. Dari gerakannya yang begitu
tangkas, tentulah seorang berilmu.
Gak Lui terkejut. Dipandangnya orang itu dengan
cermat. Ternyata pendatang itu seorang tua berurnur 50an tahun. Berwajah putih dan jenggot jarang. Seorang
yang memiliki perbawa. Pendatang itu memandang
kearah tumpukan kerangka Setan Kering. Wajahnya
tampak berkerenyutan. Kemudian ia beralih memandang
kedua pemuda itu. Terutama ketika memandang Kiamgin, biji matanya berputar-putar, seperti terpikat. Cepat
orang itu memberi hormat dan berkata: Aku Li Hui-ting,
mohon tanya siapakah saudara berdua ini ... Gak Lui
dan
Kiam-gin
balas
memberi
hormat
lalu
memperkenalkan diri.
Ah, lama sudah kukagumi nama saudara yang
termasyhur, Li Hui-ting tersenyum seraya maju
selangkah, terutama setelah saudara berdua dapat
melenyapkan Setan Kering ini, sungguh amat berjasa
kepada rakyat!
Setengah meragu, berkatalah dengan dingin:
Saudara juga berilmu tinggi, mengapa. tak mau
membunuhnya. Dan mengapa pula pada saat ini
kebetulan sakali saudara datang kesini?
Jawab Li Hui-ting: Walaupun aku mempunyai
beberapa kepandaian tetapi tak dapat melawan
semburan apinya. Maka kuharap datangnya seorang
sakti untuk melenyapkannya. Tadi karena mendengar
162

jeritan ngeri dan bau daging terbakar, cepat2 aku


menjenguk kemari!
Hm ....... , dan siapakah gerombolan orang hitam
kate itu?
Tawanan2 dari Setan Kering!
Apa maksudnya?
Panjang
sekali
ceritanya.
Marilah
mampir
kepondokku. Nanti kuceritakan hal itu! Gak Lui serentak
mengiakan. Memang ia kepingin mengetahui.
Demikian dengan Li Hui-ting sebagai penunjuk jalan,
mereka bertiga berjalan cepat dan berapa lama sudah
melampaui rombongan orang2 kate hitam. Beberapa li
jauhnya, tibalah mereka disebuah pondok. Perabotnya
sederhana tetapi terdapat suatu benda yang menarik
perhatian. Yalah sebuah gentong, besar berisi air yang
terletak diatas meja besar. Gak Lui rasakan
tenggorokannya kering sekali. Begitu melihat air, biji
kerongkongannya segera naik turun. Rupanya Li Hui-ting
itu sudah berpengalaman. Melihat tetamu sedemikian
rupa, segera ia mengambil mangkuk dan diletakan
dihadapan Gak Lui.
Ditempat gunung yang begini sunyi, tiada yang
dapat kuhidangkan untuk tetamu kecuali air jernih ini.
Harap- dimaafkan ........ Gak Lui menyatakan bahwa
yang perlu yalah supaya tuan rumah segera menuturkan
tentang asal mula Setan Kering itu. Tentang
penyambutan dan hidangan, tak perlu diributkan.
Asal usul dan nama orang itu tak diketahui jelas.
Tetapi yang jelas dia seorang ahli dalam soal
pertambangan. Dia dapat mengetahui bahwa dalam
Lembah Mati sini terdapat tambang batu berlian yang tak
163

ternilai harganya. Dia, dapat membujuk dan menipu


beberapa orang dari luar daerah untuk mengambil batu
berharga itu!
Oh, orang2 kate berkulit hitam itu bermula juga
orang biasa! tanya Siau-liong.
Benar, tetapi mereka telah diminumi semacam racun
oleh Setan Kering itu lalu berobah begitu, mereka tak
takut pada hawa panas dalam bumi !
Kudengar, keterangan orang, bahwa dahulu tempat
ini terdapat air, tetapi mengapa sekarang kering sama
sekali? tanya Gak Lui.
Itu juga akibat siasatnya. yang licik. Disatu fihak ia
menjelma menjadi Setan Kering, dilain fihak ia secara
diam2 telah menutup sumber air. Dengan tindakan itu ia
mengharap penduduk tempat ini pindah kelain tempat
dan mereka tak mempunyai kemungkinan menyelidiki
berlian itu!
Tetapi mengapa engkau tak dicelakai Setan itu dan
tak pula meninggalkan tempat ini? Gak Lui menyatakan
keherananya.
Aku telah belajar ilmu obat-obatan. Beberapa tahun
yang lalu aku tiba dilembah ini dan berjumpa dengan
setan itu. Dia tak mampu mencelakai aku, akupun tak
dapat menindasnya. Dengan demikian kami tak saling
ganggu sampai sekarang ini ....
Kalau tak mampu menindasnya, mengapa engkau
tak berusaha tinggalkan tempat ini? desak Gak Lui pula.
Jalanan sebelah muka, dijaga oleh setan itu sendiri!
Mengapa tak ambil jalan dari sumber air Pencuci
Jiwa saja?,
164

Gunung itu lebih berbahaya lagi. Disana muncul


seorang manusia aneh yang lihay sekali. Jalan disitu
ditutup dengan tumpukan tulang manusia. Sama sekali
tak dapat dilalui !
Siapakah manusia aneh itu?
Setempo tampak mengunjukkan diri, setempo
menghilang. Tiada dapat melihat bagaimana tampang
mukanya. Tetapi yang jelas dia memang memiliki
kepandaian sakti. Walaupun aku menjelma tiga kali lagi,
tak mungkin dapat menyamai nya .....!
Hm ....... Gak Lui mendesah. Sekonyong-konyong ia
menyambar pergelangan tangan tuan rumah. Li Hui-ting
terkejut. Cepat2 ia miringkan bahunya. Gerakannyapun
luar biasa cepatnya sehingga cengkeraman Gak Lui
dapat dihindari.
Heh..., heh .... Gak Lui mengekeh lalu membentak
bengis: Walaupun kepandaianmu terpaut sedikit dengan
Setan Kering, tetapi tak masuk akal kalau selama
beberapa tahun disini, engkau tak memperoleh kemajuan
sedikitpun!
Li Hui-ting terperanjat tetapi pada lain kejab wajahnya
tampak mengerut gelap dan menyabutlah ia dengan
lantang: Sudah tentu aku mempunyai alasan. Tetapi
orang tentu tak percaya!
Katakan! bentak Gak Lui. Selama beberapa tahun
ini orang2 yang terminum racun dan berobah menjadi
orang kate berkulit hitam, sudah mencapai jumlah lima
enam ratus. Selain tak takut panas, mereka mudah sekali
terkena penyakit. Separoh dari mereka sudah mati
karena menderita sakit. Karena tak mampu membasmi
Setan Kering, terpaksa kulakukan pengobatan kepada
rombongan pekerja paksa itu. Dengan begitu akupun
165

makin memperoleh
pengobatan

banyak

kemajuan

dalam

ilmu

Mendengar itu tersipu-sipulah Gak Lui. la malu dalam


hati karena terlalu mencurigai orang itu. la mengucapkan
beberapa kata pujian kepada Li Hui-ting yang tinggi rasa
peri-kemanusiannya.
Berbicara tentang tabib pandai, aku segera teringat
akan seseorang, kata Gak Lui........
Siapa?
Tabib-sakti Li Kok-hoa, kenalkah engkau?
Biji mata Li Hui-ting berkeliaran beberapa kali lalu
menyahut: Seperti pernah mendengar, tetapi tak ingat
jelas ...... apakah dia keluarga saudara?
Tujuan Gak Lui menanyakan tabib sakti itu adalah
hendak menyirapi jejak ayah dari gadis ular Li Siau-mey
Atas pertanyaan orang ia menjawab sekenanya: Ah,
tidak, akupun hanya mendengar cerita orang saja.
Huk.....! Huh .....! karena terlalu banyak bicara,
tenggorokan Gak Lui mulai kering dan terbatuklah ia
beberapa kali. Li Hui-ting segera mempersilahkan
tetamunya minum lagi dan Gak Lui pun tak sungkan juga.
Sekali teguk habis air semangkuk. Ah....., sungguh
segar .......! seru Gak Lui, pejamkan mata dan geleng2
kepala. Melihat itu Kiam-gin pun, mengecup-ngecup bibir
walaupun tiada ludah yang dapat ditelannya, lalu berkata
kepada tuan rumah;
Apakah aku boleh minum juga? Tetapi entah
bagaimana, tuan rumah memandang tajam kepadanya
lalu ge!engkan kepala, tertawa: Itu bukan untukmu !
Dalam kamarku masih tersedia air jernih ......
Mengapa?'
166

Tak usah bertanya, nanti engkau tentu tahu


kebaikan hatiku.
Kebaikan hati? Lalu mengapa engkau berikan
minuman itu kepada saudara Gak-te .... serentak Kiamgin berpaling. Astaga .... Dilihatnya kelopak mata, bibir
Gak Lui menjadi hitam dan tengah duduk dengan tubuh
menggigil!
Bangsat, lihatlah pedangku! Kiam-gin serentak
mencabut sepasang pedang dan menyerang Li Hui-ting.
Tetapi dengan tertawa mengejek, orang itu sudah
melesat kesudut ruang. Dan sekali berputar diri ia sudah
mencekal sepasang senjata Tangan besi yang besar.
Serupa dengan yang digunakan si Setan Kering.
Heh.., heh.., heh.., heh .... kalian telah membunuh
adik angkatku tetapi engkau masih kuberi hidup,
masakan engkau tak tahu berterima kasih...? Dengan
mata memancar kebencian, Kiam-gin mendampratnya :
Akan kucincang tubuhmu menjadi bakso untuk
mengganti jiwa adikku! Laksana gelombang laut
mendampar, enam jurus serangan telah dilancarkan berturut2 oleh Kiam-gin. Tetapi Li Hui-ting dengan lincah
menghindar seraya berseru;
Budak itu takkan segera mati! Jangan bingung dulu,
aku hendak menanyainya......
Aku Tabib-jahat Li Hui-ting adalah ahli racun.
Kukatakan tidak mati tentu tak kan mati. Tetapi dia
takkan terhindar dari penyakit aneh.... Dalam pada
berkata-kata itu mereka telah berputar-putar sampai tiga
jurus lagi. Karena ruang itu sempit. Kiam-gin kuatir akan
mengenai Gak Lui, maka berserulah ia menantang:
Hayo, kalau berani, kita bertempur di luar!
167

Ho, kalian memiliki pelor api, tak mungkin aku


tertipu.......... Tabib jahat itu tertawa mengejek seraya
berputar-putar mengitari ruang, dan lagi terhadap
seorang tampan seperti engkau, aku sungguh merasa
sayang sekali!
Karena marahnya, Kiam-gin sampai tak dapat bicara
melainkan dadanya yang berombak keras. Serangan
pedangnya dicurahkan makin deras dan dahsyat. Tetapi
rupanya si Tabib jahat tak berniat mulukainya. Dia hanya
berputar-putar mundur kesamping Gak Lui. Terdengar
gemerincing pedang beradu dengan Tangan-besi, tiba2
tengkuk Li Hui-ting meregang kencang dan ia rasakan
kepalanya telah tercengkeram oleh lima buah jari yang
keras. Kiranya setelah menyadari bahwa air yang
diminum itu mengandung racun, diam2 Gak Lui gunakan
ilmu-sakti Algojo- dunia untuk menyalurkan racun itu dari
tangannya. Kini dalam kemarahannya ia telah mendesak
racun itu kearah ujung jari lalu ditamparkan kekepala
sitabib. Racun itu cepat menyalur ke jalan darah dikepala
sitabib. Seketika Tabib jahat Li Hui-ting menggigil
tubuhnya. Tanpa menjerit sepatahpun juga, ia rubuh
pingsan.
KIAM GIN terkejut girang. Cepat ia melesat
menghampiri dan berseru: Gak-te, engkau tak kurang
suatu apa ...... Gak Lui berputar diri. Tampak kulit muka
sudah tidak sehitam tadi melainkan agak gelap sedikit.
Tetapi suaranya berobah parau ketika ia menyahut:
Belum sembuh sama sekali. Mata telinga dan alat
penciuman, masih belum pulih ketajamannya. Begitupun
lidahku terasa kaku dan mati-rasa ......
Lalu bagaimana?
Kita paksa tabib jahat ini untuk mengobati. Dia tentu
mempunyai obat penawarnya! Gak Lui segera membuka
168

jalan darah Li Hui-ting. Tabib itu terengah-engah dan


membuka mata. Wajahnya pucat kebiru-biruan. Begitu
melihat Gak Lui dan Kiam-gin, cepat2 ia meram lagi.
Hanya gerahamnya berderak-derak gemetar. Melihat itu,
Gak Lui membentaknya: Jangan coba. unjuk kepala
batu. Jika tak mau menjawab dengan baik, engkau tentu
mati! Mendengar itu Li Hui-ting membuka mata, lalu
tertawa sinis:
Siapa yang minum racun Penyurut-tulang itu yang
tiada obatnya itu, tentu akan menjadi orang kate seperti
orang2 tawanan itu. Terima kasih kalau engkau hendak
membunuh aku! Kiam-gin terbeliak, serunya: Engkau
.... engkau..... tiada obat penawarnya?
Tidak punya!
Adikku Gak Lui ini ... apakah juga....
Dia serupa dengan aku nanti, setiap saat tentu akan
menjadi orang kate. Pada saat itu, coba saja engkau
masih suka kepadanya atau tidak Dalam murkanya Gak
Lui terus mencengkemram pinggang dan tenguk tabib itu
lalu salurkan tenaga-dalamnya untuk menggencet tubuh
Li Hui-ting. Sudah tentu tabib jahat itu tak kuat menahan
tanaga-sakti Algojo dunia, ia meraung-raung nyeri,
keringat bercucuran bagaikan hujan. Lebih payah dari
rasa sakit menerima siksaan Jo-kut-hun-kin atau Tulangmeleset, urat berpencar.
Hayo, engkau mau bilang atau tidak! bentak Gak
Lui.
Tidak! Dada Gak Lui serasa meledak. Segera ia
tekankan tangan kanannya. Gluduk .... terdengar bunyi
menggelembung seperti pelembungan ditiup. Biji mata
tabib itu menonjol keluar. Lubang ke tujuh, inderanya,
memancurkan darah.
169

Ti ..... dak .... tabib itu tetap keras kepala. Gak Lui
mendengus. Ia kuatir kalau dilanjutkan, tabib itu tentu
mati. Maka ia hentikan tekanannya dan berganti dengan
tangan kiri untuk menyedot tenaga-dalam orang itu. Kini
biji mata Li Hui-ting menyurut kedalam, dadanyapun
mengempis seperti pelembungan karet yang kempes.
Semua tenaga murninya tersedot habis. Sejak
mempelajari ilmu Algojo-dunia, sekalipun tenaganya
bertamhah maju, tetapi dalam penggunaan untuk
menyalurkan dan menyedot- tenaga, ia masih belum
faham sungguh2. Diluar dugaan, saat itu pikirannya
terang dan mengerti rahasia dari ilmu itu. Demikian
setelah tiga kali dilakukan penekanan dan penyedotan, Li
Hui- ting sudah setengah mati rasanya. Dia tak kuat
bertahan lagi. Napasnya makin mengap-engap dan
berkata dengan ter- sendat2: Aku .... akan ..... bilang
.....
Apa hubunganmu dengan Setan Kering itu?
Saudara angkat ......
Demi mencari permata, kalian telah mencelakai
sekian banyak orang. Apakah tujuanmu?
Aku hanya menerima perintah ......
Dari siapa?
Ini .... ini ..... aku tak berani mengatakan .....
Tidak berani bilang ! Kalau begitu engkau rasakan
lagi siksaan tadi!
Nanti dulu! Kiam-gin mencegah, tadi hendak
bertanya kepadamu, entah apa yang akan ditanyakan
itu? Gak Lui pun teringat lalu membentak: Ya...!, hayo
lekas katakan pertanyaanmu itu!
Aku ... hanya akan bertanya .... , engkau dengan
170

Tabib-sakti Li Kok-hoa ...... sekiranya engkau kenal


padanya: Lekas katakan bagaimana hubungan kalian!
Dia ..... adalah ..... guruku
Dahulu Li Kok-hoa diundang oleh salah seorang
muridnya untuk mengobati tetapi akhirnya tak, pernah
pulang lagi. Apakah murid itu engkau sendiri?
Ya ...... ya.....!
Lalu dimana dia sekarang?
Aku tak tahu, tetapi dia tentu masih hidup.....!
Hmm..... dahulu engkau undang ia untuk mengobati
siapa?
Ini....
Bagaimana?
Bunuh aku sajalah, aku tak berani mengatakan ......
tiba2 tabib jahat itu menggigit lidahnya sendiri sampai
putus dan seketika putus jugalah nyawanya.
---oo0oo--Melihat itu, marah sekali Gak Lui. Wajahnya
memberingas dan matanya memacarkan api. Tetapi
tiba2 dilihatnya belasan sosok tubuh bermunculan
dimuka pondok. Terpaksa ia tak ,jadi' melanjutkan
maksudnya mengamuk. Ternyata yang berkumpul di luar
pondok itu adalah ratusan pekerja tambang yang
bertubuh kate dan hitam itu. Mereka berbaris rapi seperti
seekor ular panjang, lalu berjalan kemuka meja Setiap
orang kedua tangannya membawa batu berlian. Mereka
tak henti2nya mengangguk kepala seperti orang yang
memohon sesuatu. Dan yang tak membawa apa? lalu
171

berlutut di luar pondok dengan kepala menunduk


ketanah.
Mau apa engkau ini! tegur Kiam-gin kepada salah
seorang. Tetapi orang itu buta, tuli dan gagu. Dia tak
mempedulikan pertanyaan orang. Setelah menutuk jalan
darah Li Hui-ting, Gag Lui pun menghampiri, katarnya:
Rupanya mereka datang untuk menyerahan hasil
penemuannya, tetapi entah mereka menghendaki apa?
Celaka! Kita tak dapat menanyai mereka! keluh
Kiam-gin. Sejenak merenung Gak Lui mendapat akal,
serunya: Aku tahu caranya! - ia segera memegang
tangan orang kate hitam itu. Orang itu sedikitpun tak
terkejut malah terus serahkan batu permata ketangan
Gak Lui. Lalu ngangakan mulut dan tengadahkan kepala
seperti orang menunggu. Gak Lui gunakan ujung jari
untuk menulis ditelapak tangan, orang itu: Engkau minta
apa? Sungguh kebetulan sekali. Orang itu mengenal
huruf juga. Segera ia menulis ditelapak tangan Gak Lui:
Harap diberi Air- dewa!
Air- dewa? Gak Lui terkejut. la cepat menyadari
bahwa yang dimaksud dengan Air-dewa itu tentulah air
dalam gentong. Segera ia menulis lagi ditelapak tangan
orang itu: Air itu beracun, tak boleh diminum! - Orang
kate itu geleng2 kepala dan merintih: Kalau tidak minum,
tidak bisa hidup! Serentak Gak Lui menarik tangannya
dan orang itupun segera berlutut ditanah. Beberapa kali
kepalanya dibenturkan kelantai sehingga berlumuran
darah. Ketika Kiam-gin mengetahui apa yang dibicarakan
mereka, ia berkata: Didalam ruang dalam, ada air jernih.
Akan kucoba kuberikan kepadanya, bagaimana nanti
perobahannya. Segera ia masuk ke dalam lalu
membawa keluar sebuah kantong air dan dibagikan
kepada orang2 kate itu. Mereka menyerahkan batu
172

berlian lalu minum. Kiam-gin tak memperbolehkan


mereka kembali kedalam tambang. la menepuk bahu
orang2 kate itu beristirahat. Setelah itu ia-menunggu
bersama Gak Lui. Kira2 sepeminum teh lamanya, tiba2
kawanan orang kate itu gemetar tubuhnya. Mereka
merangkak-rangkak dilantai. Mulut mengeluarkan busa
putih, mencakari dadanya sendiri dan menekan perut.
Dalam sekejab saja, ruang pondok itu penuh
bergelimpangan orang2 kate yang meregang dan
bergeliatan seperti ular. Rupanya mereka sedang
menderita kesakitan hebat. Mereka nekat merangkak
masuk kedalam pondok.
Gak-te, racun ditubuh mereka mulai bekerja! seru
Kiam-gin Tetapi Gak Lui tak menyahut. Matanya
memandang lekat2 pada guci air diatas meja itu. Gigi
berderuk-deruk saling bergosok. Tiba2 ia menyambar
guci air itu.
Hai, Gak-te, mau apa engkau? Kiam-gin berseru
kaget.
Aku .... aku .....
Engkau bagaimana?
Kurasakan sekujur tubuhku seperti dirayapi kutu.
Mulutku sangat haus sekali! Kiam-gin cepat merebut
guci itu dan berteriak bengis: Tak boleh diminum!
Wajah Gak Lui berobah. Ia terkesiap tetapi guci itu
tetap dipegangnya erat2. Melihat itu, Kiamgin terus
menghantam, bruk ..... guci pecah air berhamburan
membasahi sekujur tubuh sitabib-jahat Li Hui-ting.
Pecahnya guci dan muncratnya air dan berhamburan
kemana- mana, ada sebagian yang mengenai tubuh
orang kate Seketika timbullah, kehirukan. Mereka seperti
orang gila menjilati pakaian sendiri untuk menghisap air
173

yang menumpah dipakaian itu. Bahkan bagian baju yang


terkena siraman air racun tadi, terus dirobek dan
dikunyah dengan -mulut. Setelah itu tiba2 mereka
merangkak ketubuh Li Hui-ting dan segera menggigit
dagingnya. Bagaikan kawanan serigala yang tengah
menerkam anak kambing, tak berapa lama tubuh tabib
jahat itu habis dimakan oleh kawanan orang kate. Lebih
dulu mereka memakan pakaian : sitabib, lalu dagingnya
dan kemudian menghisap darahnya. Sikap dan cara
mereka memakan tubuh Li Hui-ting itu benar2
menegakkan bulu, roma orang.
Setelah kawanan orang kate itu mundur, yang tinggal
hanya setumpuk tulang kerangka sitabib jahat Li Iiui-ting.
Beberapa orang kate yang tak kebagian, mati kaku
semua secara mengenaskan sekali. Setabah-tabah nyali
Gak Lui, tetapi demi menyaksikan adegan makan orang
itu, tak urung hatinya menggigil ngeri juga. Tiba2 tampak
sekilas sinar emas memancar. Gak Lui tertarik
perhatiannya. Ketika mengamati, ternyata seorang kate
yang berlutut dibawah kakinya, sedang menggigit sebuah
Lencana emas. Tak henti-bentinya orang itu menjilat dan
menghisap Lencana emas itu. Gak Lui hendak
mengambil lencana itu tetapi secepat kilat orang kate itu
sudah menelannya. Gak Lui hanya banting2 kaki.
Gak-te, perlu apa engkau menghendaki lencana
emas itu? tegur Kiam-gin.
Lencana itu merupakan tanda sebagai anakbuah
Maharaja! Seketika berobahlah waiah Kiam-gin.,
serunya geram: O, kiranya kawanan budak musuh kita !
Benar, kata Gak Lui, Li Hui-ting lebih baik mati dari
pada mengatakan nama pemimpinnya. Memang ada dua
buah hal yang perlu diselidiki!
174

Bagai mana?
Kesatu, hendak kutanya padanya, apakah ia pernah
melihat wajah Maharaja itu? Jika sudah, apakah
Maharaja itu memiliki hidung yang lengkap.
Kuduga keduanya tentu hanya seorang saja. Si
Grumpung tak lain juga Maharaja itu!
Lalu yang kedua? tanya Kiam-gin.
Li Hui-ting telah menipu gurunya untuk datang
mengobati- seseorang. Entah siapakah yang diobatinya
itu?
Kedua soal itu kukira tiada hubungan satu sama lain.
Tetapi mengapa engkau begitu memperhatikan sekali
kepada Tabib- sakti Li Kokhoa? tanya Kiam-gin.
Dia adalah ..., kawan ayahku. Aku sudah berjanji
akan mencarinya! sahut Gak Lui.
Membalas sakit hati adalah yang pokok. Dan
mencari orang itu hanya sambilan saja. Kita segera akan
tinggalkan tempat neraka ini dan menuju ke gunung
Thian-gan-san! kata Kiam-gin
Gak Lui memandang kearah kawanan orang kate
hitam itu. Tetapi ia merasa tenaganya sendiri sudah tak
mengidinkan. Terpaksa ia menghela napas lalu melesat
keluar pondok dan lari menuju kearah gunung Thian-gansan mencari sumber air Pencuci Jiwa!.
GUNUNG THIAN GAN SAN atau Mata Langit, penuh
hutan belantara yang lebat. Iklim disitu tak sepanas
seperti di lembah tadi. Ketika tiba dikaki gunung,
tiba2,mereka terkejut. Karang gunung disebelah
mukanya gundul tiada tanaman sama sekali. Tetapi pada
karang itu disusun tulang2 manusia menjadi 4 baris
tulisan. Terkejutlah Gak Lui ketika membaca 4 baris
175

tulisan itu. Demikian bunyinya:


Sumber air Pencuci Jiwa Siapa minum tentu binasa
Yang datang pulang saja Agar jangan ..... hilang jiwa.
Kiam-ginpun terperanjat juga, serunya agak gentar:
Tentu muncul orang aneh ditempat ini ! Dia tentu sakti!
Tiada seorang manusia yang dapat menghalangi
aku ! Apalagi tulisan ini mengandung itikad tidak baik!
kata Gak Lui seraya mendahului maju. Sepanjang jalan,
ia melihat tulang2 manusia. Ada yang masih utuh sebuah
kerangka. Ada yang bersandar pada pohon atau rebah
diatas rumput. Dari posisi rerangka2 manusia itu, mereka
tentu mati akibat muntah2. Gak Lui makin bersemangat.
Ia kencangkan larinya. Setelah melintasi sebuah tanjakan
gunung, baru berjalan dua langkah, tiba2 ia terkejut
mendengar Kiam-gin menjerit...........
Engkoh Gin, jangan takut, lekas ikut aku! saat itu
keadaan Gak Lui agak berobah. Pendengarannya
berkurang sekali sehingga ia tak mendengar bahwa
teriakan Kiam-gin itu adalah jeritan minta tolong. Setelah
berloncatan sampai berpuluh-puluh tombak jauhnya
barulah ia berpaling kebelakang dan hai ..... ia tersentak
kaget. Kiam-gin lenyap dan sebagai gantinya, seorang
wanita tegak berdiri dihadapannya. Ketika beradu
pandang dengan wajah wanita itu, Gak Lui hampir
menjerit kaget. Rambut wanita itu melongsor panjang
sampai ketanah. Tangannya mencekal sebatang senjata
cempuling. Panjang satu meter. Potongan tubuh wanita
itu elok sekali. Tetapi wajahnya ..... ah..... Wajahnya
memang luar biasa cantiknya Bagaikan sebuah gambar
bidadari dalam lukisan. Tetapi sayang kaca pigura dari
lukisan itu penuh dengan retak goresan. Karena wajah
cantik dari wanita itu penuh berhias dengan goresan
luka2 senjata tajam. Dan yang paling menyeramkan,
176

hidungnyapun telah terpapas hilang .... Serta melihat


hidung wanita itu hilang, serentak, beringaslah Gak Lui.
Ho, kiranya si Gerumpung! Bersiaplah menerima
kematianmu! bentaknya. la menutup kata2nya dengan
gerakkan kedua pedangnya menusuk dahsyat. Tetapi
wanita itu hanya dingin2 saja. Tak menangkis, pun tak
menghindar. Dan ketika pedang Gak Lui tiba, dengan
suatu geliatan tubuh yang lemah gemulai, ia dapat
menyingkir setengah dim dari ujung pedang. Serangan
Gak Lui, yang dahsyat, tak mampu sama sekali
menyentuh- ujung baju wanita itu ! Gerak geliatan dan
ketenangan yang luar biasa itu benar2 membuat Gak Lui
terkejut sekali. Apalagi walaupun tak balas menyerang,
tetapi wanita itu dapat membuat Gak Lui tak berdaya
melancarkan serangannya lagi. Namun pemuda itu
masih penasaran. Serentak ia gunakan jurus Rajawalipentang-sayap untuk melambung keudara. la menukik
seraya lancarkan jurus Menjolok-bulan- memetik-bintang.
Dahsyat dan cepatnya bukan alang kepalang ! Rupanya
wanita itu terpojok dan tak dapat menghindar. Terpaksa
ia gunakan pedang untuk menangkis. Melihat itu
semangat Gak Lui tambah menyala. Ia taburkan pedang
bagaikan bunga api berhamburan dan serentak
terdengarlah dering senjata beradu, tring..., tring .....
Gak Lui yakin sebentar lagi pedang lawan tentu dapat
dipapasnya kutung. Tetapi pada saat gerakan Gak Lui
untuk melibat kemudian memapas itu akan berhasil, tiba
tiba wanita aneh mendengus pelahan dan merobah
gerakan pedangnya. Tahu2 serangan Gak Lui itu
berantakan dan siwanita melesat mundur satu tombak
jauhnya
Gak Lui benar2 tercengang-cengang!
Berpuluh-puluh jago silat yang pernah ditempurnya,
177

asal ia gunakan jurus itu, tentu pedangnya dapat


terpapas kutung. Paling-paling ada beberapa tokoh yang
karena memiliki tenaga dalam sakti, masih mampu
bertahan dan menghindar. Tetapi baru sekali inilah Gak.
Lui bertemu dengan seorang lawan yang menggunakan
ilmu serangan pedangnya yang istimewa itu. Siapakah
gerangan wanita aneh itu? Mengapa wanita itu memiliki
ilmu pedang yang sedemikian luar biasanya?
Tengah Gak Lui menimang-nimang, tiba2 wanita itu
berseru dengan dingin: Budak, engkau salah alamat!
Lekas pulanglah!
Hanya kata2 begitu yang diucapkannya. Sedikitpun
wanita itu tak mau bertanya apa2 lagi kepada Gak Lui.
Sikap dan nadanya sedingin patung. Seolah-olah
menganggap manusia di dunia ini hanya tanah liat
belaka. Terpengaruhlah Gak Lui melihat sikap wanita
aneh itu. Ia menyimpan pedangnya lalu bertanya:
Mohon tanya, siapakah cianpwe? Aku.....
Kita tak perlu saling memberitahukan nama. Lekas
tinggalkan gunung ini agar jangan mengganggu
ketenteramanku! tukas wanita itu.
Diperlakukan dengan sikap sedingin begitu, panaslah
hati Gak Lui, serunya: kha, kawanku yang seorang itu ....
dimana? .
Tak perlu banyak tanya lekas pergilah!
Dia engkoh angkatku. Jika dia sampai terganggu
selembar
bulunya,
engkau
harus
memberi
pertanggungan jawab!
Engkoh angkat?
Benar!
Heh..., ..... heh: tiba2 wanita aneh itu mendesah
178

muak, sepasang matanya memancar sinar hina dan


berserulah ia dengan nada marah: Ngaco belo! Jika tak
lekas angkat, kaki dari sini tentu kubunuh kau, seorang
manusia rendah!
Sudah tentu Gak Lni tak mau menerima makian
semacam itu. Dengan menggembor marah ia menabas
pedang wanita itu dengan jurus membelah-emasmemotong kumala.
Rupanya wanita aneh itipun marah juga. Sekali
gerakkan pedang, berhamburanlah sinar putih laksana
petir menyambar-nyambar diangkasa. Tubuhnya seolaholah terbungkus oleh gumpalan sinar pedang yang rapat
sekali. Sedemikian rapatnya sehingga air hujan tentu tak
mampu mencurah masuk.
Ketika pedang Gak Lui membentuk tembok sinar
yang menyelubungi tubuh wanita itu, serentak ia rasakan
suatu tenaga mental menolak pedangnya sehingga ia tak
mampu untuk melancarkan jurus serangannya. Gak Lui
masih penasaran. Cepat ia salurkan tenaga-sakti Algojodunia untuk menyedot dan mendorong. Dengan
perobahan itu, dapatlah ia menyiakkan sedikit lubang
pada dinding sumur yang membungkus tubuh wanita itu.
Wanita aneh terkesiap, heran. Sepasang. matanya
berkilat-kilat. Jurus vang dimainkan makin deras dan
indah. Tak ubah seperti burung cendrawasih tebarkan
sayap. Tak henti-hentinya terdengar dering gemerincing
dari senjata beradu. Serangan pedang Gak Lui yang
sederas hujan mencurah, tetap tak mampu menerobos
ke dalam lingkaran sinar pedang siwanita. Bahkan
pemuda itu mulai mundur setapak demi setapak.
Apakah racun dalam tubuhku sudah mulai bekerja
sehingga tenagaku berkurang? diam2, ia merasa heran
179

pada dirinya. Pada saat pikiran Gak Lui sedang lengah,


se-konyong2 wanita itu menarik pedangnya, diganti
dengan gerakan kelima jari tangan kiri untuk
mencengkeram dada Gak Lui. Gak Lui menyadari
bahaya. itu:
Jika ia balikkan pedang untuk memapas tangan
lawan, kemungkinan akan termakan siasat. Maka lebih
baik ia hadapi dengan tangan kosong juga. Secepat
pindahkan pedang Pelangi ketangan kanan, ia segera
balikkan telapak tangan kirinya untuk menyongsong
tangan lawan. Plak...! Terdengar benturan keras dari dua
telapak langan dan seketika itu Gak Lui rasakan suatu
arus tenaga hebat menyusup kedalam telapak tangan
aneh melanda kedadanya. Gak Lui rasakan debur
jantungnya lemah dan napas engap. la terhuyunghuyung 5-6 langkah baru dapat berdiri tegak lagi. Tetapi
tetap dadanya terasa sakit, kedua mata mulai
menghitam. Dan pada saat ia terhuyung kebelakang itu,
wanita wajah rusak telah julurkan ujung pedangnya
kearah Gak Lui. Tetapi tiba2 ujung pedang digeliatkan
untuk mencongkel pedang pemuda itu. Tring...., tring...,
sepasang pedang Gak Lui terkapar jatuh. Kernudian
dengan gerak putaran,yang luar biasa indahnya, wanita
itu meluncur kehadapan Gak Lui lalu membentaknya:
Siapa namumu! Diam2 Gak Lui kerahkan tenagadalam untuk bersiap-siap lalu menjawab dengan nada
dingin: Gak Lui .......
O....!, wanita itu terkejut dan menyurut mundur dua
langkah, alisnya mengerut keatas. Engkau .... hendak
mencari aku? serunya. ,
Aku mencari sumber air pencuci iiwal
Wajah tegang dari wanita itu mulai mereda. Lalu
180

berkata dengan masih bernada dingin; Orang yang


sudah menyerang dua kali kepadaku, tentu takkan
kuampuni lagi...., tetapi kali ini engkau kuistimewakan ....
terhadap saudara- angkatmu itu, aku mempunyai cara
lain !
Cara lain bagaimana .......?
Barang siapa masuk ke gunung sini, akan kutindak
menurut sekehendak hatiku. Orang lain tak boleh
bertanya! Gak Lui sudah menemukan pengertian.
Gerakan wanita mencongkel sepasang pedangnya tadi,
jelas hampir sama dengan ilmu permainannya sendiri.
Serentak tergetarlah hatinya.
Engkau .... cianpwe siapakah? Mengapa jurus
permainan pedangmu sama dengan aku? serunya
tegang.
Tak usah ngoceh ! Kusuruh engkau pergi, demi
kebaikanmu. Masakan perlu harus kupukul!
Tetapi ilmu permainan pedang cianpwe tadi sungguh
tak asing lagi .... engkau .... engkau tentulah .... bibi
guruku ketiga Pedang Bidadari Li. Siok-gim .... !
Mendengar ucapan itu, siwanita aneh terkejut
sehingga wajahnya berkerunyutan tegang sekali. Tetapi
samar2 dalam ketegangan itu bersinarlah rasa dendam
penasaran. Bibi-guru, aku bukan orang luar ....
Kutahu! Bibi-guru tahu?
Sudah tentu aku mengenalmu! Perawakanmu terang
sebagai putera dari Pedang Malaekat Gak It-beng.
Sedang jurus permainan silat dan pedangmu adalah
ajaran Pedang Laknat, tetapi.....
Tetapi bagaimana .....
181

Kepandaianmu yang begitu rendah, membuat orang


kecewa!
Aku telah terkena racun Penyurut-tulang......
Bibirmu hitam, tenggorokanmu parau, memang
akibat keracunan. Tetapi jurus permainan pedangmu
tadi, seperti asli .... seperti bukan. Banyak bagian2 yang
tak tepat. Entah bagaimana cara mereka mengajarinya!
Merahlah muka Gak Lui, sahutnya dengan nada
sarat: Bukan karena salah paman guru, karena beliau
tak dapat memberi petunjuk yang nyata!
Pedang Bidadari Li Siok-gin gemetar, serunya:
Mengapa?
Gak Lui segera menuturkan riwayatnya dengan ayah
angkat atau paman guru si Pedang Laknat Ji Ki-tek
selama ini. Kemudian ia bertemu dengan Pedang Iblis Ko
Tiong-ing. Bagaimana keadaan dan pengalamannya
selama bertemu dengan paman gurunya itu, pun
diceritakan dengan jelas. Dalam membawakan ceritanya
itu karena terharu, airmata Gak Luipun bercucuran
membasahi mukanya.
Wajah Pedang Bidadari Li Siok-gim yang penuh
dengan guratan pedang itu, selain tampak tua, pun telah
meneteskan dua titik airmata juga.
SETELAH menghela napas dalam2, tiba2 ia
menengadahkan muka dan tertawa dingin: Memang
jauh2 aku sudah meramalkan bakal menemui peristiwa
yang menyedihkan itu. Tetapi sungguh menjengkelkan
sekali karena saat itu Pedang Iblis tetap tak mau
mendengarkan
sungguh-sungguh
mengecewakan
harapan suhu Bu-san It-ho yang telah berjerih payah
memberi pelajaran....
182

Bibi, dengan munculnya orang yang menyebut


dirinya sebagai Maharaja, jelas dia seorang durjana yang
ganas. Tetapi mengapa bibi hanya berdiam disi tak
keluar menghadapi durjana itu?
Pedang Bidadari bergelora hatinya. Dengan mata
berkilat-kilat, ia berkata: Aneh! Dahulu ayahmu telah
meninggalkan surat supaya mencari aku. Tetapi
mengapa engkau tak pernah mengungkat hal itu?
Mengenai sepak terjang Maharaja itu, memang
tampaknya selalu memusuhi perguruan kita Bu-sankiam-pay. Tetapi sekalipun kekuatan dari keempat jago
pedang Bu-san itu tak lemah, namanya belum cukup
termasyhur!
Hal itu .... tentulah orang yang mempunyai sangkut
paut dengan partai Bu-san-kiam-pay!
Hm, tetapi orang yang mempunyai hubungan ....
terlalu sedikit sekali!
Gak Lui menggigil. Tiba-tiba ia berseru: Menurut
keterangan, gi- hu, aku masih mempunyai paman guru
yang tertua yang telah diusir dari perguruan!
Ah, tak mungkin dia ! Walaupun aku tak kenal
namanya tetapi sebab-sebab dia diusir dari perguruan
kita, walaupun secara tak sengaja suhu telah kelepasan
mengomongkan hal itu!
Oh, apakah sebabnya itu?
Karena sebelum mendapat perintah suhu, dia berani
bertindak sendiri ....
Bagaimana? Gak Lui menegas. Ini aku telah
mengangkat
sumpah
dihadapan
suhu,
takkan
membocorkan kepada lain orang!
Mendengar itu Gak Lui amat kecewa. Jika tetap
183

mendesak, tentu bibi gurunya akan melanggar sumpah.


Namun kalau tak bertanya lebih jauh, tentulah usaha
untuk menyelidiki musuhnya itu sukar tercapai.
Pedang Bidadari tak memperhatikan keresahan Gak
Lui. la balas bertanya: Apakah engkau pernah
mendengar atau bertemu dengan orang yang
menggunakan jurus ilmu pedang Bu- san-kiam-pay?
Tidak! Gak Lui, diam2 ia memperhatikan perobahan
wajah bibi gurunya itu. Tak dapat disangsikan lagi, satusatunya orang yang dapat melakukan jurus ilmu pedang
Bu-san-kiam pay, siapa lagi kalau bukan paman gurunya
yang kesatu itu. Apalagi .... dia telah diusir dari
perguruan. Merenung sampai disitu, serentak ia
mendesak dengan nada tegang: Bibi, dapatkah bibi
merenungkan lebih lanjut. Adakah sebab dari pengusiran
paman guru kesatu itu mempunyai hubungan dengan
sakit hati yang sedang kutuntut? Banyak tokoh2
persilatan yang dicelakai. Saudara angkatku Hi Kiam-gin
itu salah seorang korbannya ....
Hm, lagi2 engkoh angkatmu itu ...... tiba2 Pedang
Bidadari mendengus dan berobah wajahnya.
Bukan melainkan dia, masih ada ......'
Siapa lagi?
Masih ada seorang Li Siau-mey. Ayahnya telah
hilang bertahun- tahun. Mungkin ada hubungannya juga
....
Tanpa menunggu Gak Lui selesai bicara, Pedang
Bidadari menukas bengis : Li Siau-mey tentu seorang
gadis. Engkau mempunyai hubungan apa dengan dia?
Ini .... tiba2 muka Gak Lui merah. Sesaat ia tak
dapat menyahut. Melihat sikapnya, Pedang Bidadari
184

segera menyadari. Ditatapnya pemuda itu dan dengan


nada yang muak2, marah ia berteriak: Ah...., kiranya
engkau begitu, sungguh memalukan....! Sungguh
hina....!
Aku mempunyai sebab ....
Manusia jahat didunia, tiada seorangpun tak punya
alasan. Aku tak sudi mendengar dan tak sudi mengakui
engkau sebagai murid-keponakan!
Oh .... Gak Lui mendesuh. Mengira kalau bibigurunya malu mengakui dirinya sebagai muridkeponakan karena menganggap dirinya rendah
kepandaian, buru- buru berseru: Walaupun aku bodoh
dan tak berguna, tetapi sudilah bibi memandang muka
ayah dan paman ...
Mendengar itu bukan reda tetapi kemarahan Pedang
Bidadari malah berkobar.
Ayahmu telah putus hubungan kasih dengan aku.
Pedang Anehpun telah menghapus ikatan menikah
dengan aku. Pedang lbispun putus hubungan saudara
seperguruan dengan aku. Aku....... telah bersumpah
takkan mengurus persoalan mereka. Engkau seorang
budak kecil tetapi terlalu bertingkah ....
Aku tak mengerti maksud bibi-guru.
Hm, berani terus terang berbohong, menambah
setingkat dosa !. Engkau benar2 harus minum air
Pencuci Jiwa supaya isi dadamu bersih!
Mohon tanya, dimanakah letak sumber air itu?
Disebuah guha pada puncak gunung, engkau carilah
sendiri! Habis berkata Pedang Bidadari terus berputar
tubuh dan melesat keluar. Gak Lui terkejut dan
memburu:Bibi .... bibi ....
185

Tetapi ilmu meringankan tubuh dari Pedang Bidadari


itu terlampau tinggi. Dalam beberapa loncatan wanita itu
sudah 100- an tombak jauhnya. Gak Lui mati-matian
mengejar. Ia menyusur jalanan yang merupakan satusatunya jalanan disitu dan kembali tiba dikarang kaki
gunung yang berhias huruf2 tulang manusia. Tetapi ia
tetap tak menemukan bibi gurunya, pun tidak Hi Kiamgin. Gak Lui tegak-termenung dikaki karang gunung itu.
Pikirnya: Mungkin bibi tak dapat memaafkan ayah dan
kedua pamanku. Tetapi mengapa dia memandang hina
padaku? Dari sinar matanya, jelas ia bukan hanya
menghina kepandaianku yang rendah, pun masih ada
sebab lain lagi! Entah adakah sebab itu! Bibi tahu apa
sebabnya paman.kesatu diusir dari perguruan oleh
kakek-guru. Juga bibi-guru itu tahu tentang suatu rahasia
dari kakek-guru. Apakah sesungguhnya dibalik peristiwa
itu? Apakah hal itu mempunyai hubungan dengan si
Gerumpung?
Demikian
pikiran Gak Lui melayang-layang
menganalisa peristiwa pertemuannya dengan Pedang
Bidadari Li Siok-gim yang menjadi bibi-gurunya. Dan
kemanakah gerangan lenyapnya Hi Kiam-gin tadi? Ah,
kesemuanya itu hanya bibi-gurunya, yang tahu. Tetapi
bibi- gurunya telah lari dan melenyapkan diri ....
Tiba2 Gak Lui tersentak kaget. Tubuhnya terasa
menggigil kedinginan.
Dan matanyapun
terasa
berkunang-kunang. Ada sesuatu perobahan yang tak
wajar pada dirinya.
Celaka! Racun Penyurut-tulang mulai bekerja! Aku
harus lekas2 mencari sumber air Pencuci Jiwa itu! ia
terkejut dan gelagapan dari la munannya.
Diatas puncak gunung Thian-gan-san atau Mata
Langit memang terdapat sebuah guha. Guha itu berasal
186

dari pecahan batu gunung yang retak. Pada jalan muka


guha, penuh dijajar tulang2 manusia. Dengan langkah
terhuyung dan mata suram, kulit berwarna hitam, Gak Lui
dapat juga mencapai, puncak gunung itu. Antara sadar
tak sadar, ia berseru parau: Air...! Air...! Mana ...... !
Ketika mendengar gemericik air memancar ke luar dari
guha, seketika mata Gak Lui berbalik.
Dengan tersenyum simpul, ia berseru gembira: Oh,
kiranya .... disini! Sekali melesat ia terus meiangkah.
Tetapi bukan berjalan maju melainkan terus terjungkal
rubuh ketanah! Namun ia menggertakkan gigi dan
paksakan diri untuk merangkak bangun lalu nekad masuk
ke dalam guha itu. Guha itu ternyata amat dalam dan
lembab. Baru melangkah tiga empat tindak, ia
mendapatkan beberapa rerangka tengkorak malang
melintang ditanah. Saat itu racun dalam tubuh Gak Lui
sudah mulai bekerja. Ia rasakan sekujur tubuhnya seperti
digeremeti ribuan semut dan kutu2. Tulang2 sama
mengejang. Seketika gelaplah matanya, kedua lutut
lemas dan bluk .... jatuhlah ia diatas salah sesosok
tengkorakl Tengkorak itu hancur berantakan. Tetapi
giginya yang runcing menjulur kebawah, menganga
seperti hendak berkata ....
Apa katamu ! teriak Gak Lui dalam keadaan tak
sadar pikiran. Suaranya parau, tenggorokan kering, Ah ..
engkau mengatakan air sumber disini tak boleh diminum
! Terima kasih .... peringatanmu. Aku... hendak ...
mencobanya ...
Dia merayap sampai keujung dalam guha. Pada
puncak guha yang tinggi, menjulur sebuah batu besar.
Bentuknya menyerupai hati seorang manusia. Warnanya
merah seperti api. Sejalur air jernih, memaocur keluar
dari ujung batu berbentuk hati itu, jatuh kebawah tanah
187

yang membentuk seperti empang batu. Empang batu itu


luasnya dua tombak lebih. Dibagian tengah terdapat
lobang bundar yang tembus kebawah entah berapa
dalamnya. Tampak pada permukaan empang yang
penuh air itu, tertutup oleh uap tebal. Air berputar
mengalir kebawah lubang. Dengan lubang saluran itu
empang tetap penuh tetapi tak meluap. Hati Gak Lui
amat tegang sekali menyaksikan pemandangan yang
hebat itu. la berhenti ditepi empang. Matanya
memandang tak berkedip pada empang itu. Melihat air
yang jernih dan segar, tak dapat lagi Gak Lui menahan
tenggorokan yang serasa kering terbakar kehausan.
Tiba2 ia seperti melihat wajah paman guru-nya si Pedang
Iblis tersembul dari dalam sumber air ............
Anak Lui, jika ingin menyakinkan ilmu kepandaian
yang tiada lawannya di dunia, engkau harus mencuci
hatimu dengan air disini. Karena sudah datang kemari,
apa yang masih engkau tunggu lagi ? .... Gak Lui
merasa paman gurunya itu berka!a kepadanya,
Baik..., baik.... ! aku segera minum ! sahut Gak Lui,
lalu menunduk ketepi empang. Dengan kedua telapak
tangan, ia menyerok air. Seketika ia rasakan serangkum
tenaga panas menembus tangannya hingga jari2 yang
membeku dingin terasa seperci terbakar.
Jangan minum ! Air sumber itu entah telah
membunuh beberapa banyak manusia. Mengapa engkau
juga akan mencobanya ! Sekonyong-konyong terdengar
suara orang berseru.
Siapa engkau !
Aku Pedang Samudera Hi Liong-hui, sengaja kemari
untuk memperingatkan engkau ! Saat itu racun dalam
tubuh Gak Lui makin merangsang keras. Dia benar2
188

hilang kesadaran pikirannya. la berpaling dan melihat


tanah penuh berserakan tengkorak. Cepat ia bangkit,
serunya : Tidak boleh diminum ?
Tidak boleh ! Kami adalah contohnya ....
Kedua tangan Gak Lui gemetar. Seaaat tak tahu ia
bagaimana harus bertindak.. Tiba2 ia melihat bibi
gurunya muncul dan mengamuk. la bolang- balingkan
pedangnya menabas kawanan tengkorak yang berada
dalam guha situ seraya memaki : Hatimu harus disuci,
mengapa kalian usil mencampuri urusan orang ....... !
Pikiran Gak Lui makin kosong. Tiba2 ia membuka kedua
tangannya dan jatuhlah air berhamburan ketanah. la
rasakan tanah yang dipijak itu seperti berputar-putar.
Gelap .... gelap diseluruh penjuru. Tubuhnya terhuyung
kian-kemari dan sekali tergelincir, blung .... ia
kecemplung kedalam empang ! la tak bisa berenang.
Maka begitu terbenam kedalam air, mulutnya segera
berbunyi bergemerutukan karena air masuk kedalam
perutnya. Air dari sumber Pencuci Jiwa berbeda dengan
racun
Penyuruttulang. Seketika
ia
rasakan
tenggorokannya seperti dibakar api, terus menyusup
kedalam urat2. Ketika aliran panas itu mergalir
kedadanya, ia megap-megap tak dapat bernapas. Dan
kesadaran otaknyapun melayang .....
Pada saat ia pingsan beberapa jenak, Pedang
Bidadari Li Siok- gim menyusup masuk. Melihat keadaan
Gak Lui, seketika berobah ngerilah wajah wanita itu.
Cepat ia gunakan pedang untuk mengangkat tubuh Gak
Lui dari empang. Ketika memeriksa hidung dan denyut
pergelangan tangannya, ia dapatkan pemuda itu sudah
mati ..........
---oo0oo--189

Tetapi Pedang Bidadari masih tak putus asa. Ia


hendak merebut jiwa Gak Lui dari genggaman Elmaut.
Cepat ia mengurut dan menutuk jalandarah pemuda itu.
Lalu menyaluri dengan tenaga murninya. la percaya
dengan ilmu kepadanya yang tinggi, tentulah pemuda itu
tertolong jiwanya. Tetapi ternyata saluran tenaga murni
itu bagaikan air mengalir kelaut. Sampai menghabiskan 7
bagian dari tenaga murninya, tetap Gak Lui tak dapat
sadar. Lewat beberapa saat kemudian, napas Pedang
Bidadari terengah-engah. Terpaksa ia menyudahi
penyaluran tenaga murni. Air matanya mengucur deras
dan dengan menangis tersedu-sedan ia berkata: Anak
Lui, tadi telah kutanyai Hi Kiam- gin, ternyata engkau ......
masih suci ....... tetapi...... kecurigaanku telah
menyebabkan engkau mati...... Kini empat Pedang
Gunung Bu-san, telah putus keturunannya .... hanya
kematianlah yang pantas untuk menebus kedosaanku
....
Wanita yang rusak wajahnya itu mengangkat tubuh
Gak Lui lalu melangkah keluar menuju ke terowongan
kecil dibelakang guha. Diletakkan tubuh Gak Lui dalam
terowongan kecil itu lalu ulurkan tangannya hendak
mewbuka kedok muka Gak Lui. Tetapi tiba2 tangannya
gemetar. Terpaksa ia menarik kembali dan menghela
napas.
Ah, wajahmu tentu mirip dengan Gak Tiang-beng.
Aku o... tak .... tak perlu melihat. Biarlah engkau berkubur
dengan dandanan sewaktu engkau datang kemari !
Setelah memandang Gak Lui beberapa saat, ia melesat
ke luar. Dihantamnya dinding karang mulut terowongan
itu. Karang berhamburan jatuh menutup pintu
terowongan. Setelah itu ia menulis beberapa patah kata :
190

Makam Gak Lui Setelah selesai melakukan


penguburan, ia kembali ke tempatnya semula. Diam2 ia
merasa heran: Ah, mengapa Hi Kiam-gin belum
menyusur kemari ? Memang, luka yang kuberikan
padanya dengan tusukan pedang itu tentu cukup parah
.... ah, kini Gak Lui sudah meninggal, benar-benar aku
tak ada muka untuk menemuinya lebih baik kutinggalkan
surat pesananku yang terakhir .....
Cepat ia mencabut pedang, menggurat lengannya
kiri. Merobek bajunya lalu menulis dengan ujung jari yang
dilumurkan pada darah di lengannya itu. Selesai menulis,
diletakkan robekan baju itu di bawah batu. Setelah itu ia
berputar diri. Tiba2 pandangan matanya tertumbuk pada
sumber air Pencuci Jiwa. Seketika meluaplah
kemarahannya.
Engkau .... engkaulah ... yang telah membunuh
keponakanku. Rasakan pembalasanku.... ! .
Dengan mengerutkan geraham, ia loncat masuk
keadam guha dan membabat batu merah berbentuk Hati
yang memancarkan air. Bruk .... walaupun batu
berbentuk Hati itu setebal lengan bocah, tetapi tetap tak
kuat menerima tabasan pedang yang diancarkan dengan
sepenuh tenaga oleh wanita itu. Pedangpun putus tetapi
batu berbentuk hati itupun hancur seketika. Terdengar
ledakan keras disusul dengan gelombang air yang
berhamburan laksana gelombang mendampar. Batu
berbentuk Hati itu berguguran jatuh kedalam empang
batu. Menyusup kedalam lubang ditengah empang batu
terus tenggelam kebawah. Sejak saat itu putuslah sumur
air Pencuci jiwa. Empang batu kering sama sekali ....
Setelah menghancurkan bangunan yang istimewa itu,
Pedang Bidadari menghela napas.. la, rasakan dunia ini
hampa ...... la tak menghiraukan darah yang mengalir
191

deras dari lengannya yang ditusuknya sendiri tadi. la


sudah memutuskan untuk bunuh diri. Asal darah dalam
tubuhnya mengalir sampai habis melalui luka tengannya
itu, tentulah ia segera terbebas dari derita Dendam dan
Kasih ! Tiba2 ia melesat masuk kedalam ruang tempat
tinggalnya, selama ber-tahun2 ia menyembunyikan diri
itu.

PADA SAAT PEDANG BIDADARI kembali ke guha


kediamannya, Hi Kiang-gin pun dengan terhuyunghuyung langkah tiba di sumber air Pencuci Jiwa. Tetapi
keadaan pemuda itu tidak seperti beberapa waktu yang
192

lalu. Rambutnya terurai ke bahu. Dan wajahnyapun


berobah menjadi seorang gadis yang cantik. Ah, ternyata
Hi Kiam-gin itu seorang gadis yang menyamar sebagai
pemuda. Kakinya berlumuran darah, langkahnya
terhuyung-huyung .........
Kiranya waktu dihadang oleh Pedang Bidadari tak
boleh mengikuti Gak Lui naik ke sumber Pencuci Jiwa,
terjadilah bentrokan antara gadis itu dengan Pedang
Bidadari. Sudah tentu Kiam-gin bukan lawan Pedang
Bidadari. Dalam keadaan terdesak, gadis itu taburkan
senjatanya rahasia Pelor Api. Tindakan Kiam-gin itu telah
menimbulkan kemarahan Pedang Bidadari. Diberinya
sebuah tusukan lalu ditutuk jalan darahnya dan
diletakkan dalam hutan. Setelah itu Pedang Bidadari
mencari Gak Lui. Tujuannyapun hendak mengenyahkan
pemuda itu dari gunung Thian-gan-san. Walaupun dalam
pertempuran dengan Pedang Bidadari tadi, Gak Lui
sudah mengetahui bahwa wanita berwajah rusak itu
adalah bibi gurunya sendiri namun tanpa disadari, dalam
kata-katanya pemuda itu telah menyinggung perasaan
bibi gurunya. Pada hal yang disinggung Gak Lui itu
justeru merupakan pantangan besar bagi Pedang
Bidadari.
Demi 'Asmara', maka Pedang Bidadari sampai
mengalami derita hidup yang berlarut-larut. Dia
membenci kaum pria, terutama. pria yang merasa sok pintar, bencinya bukan kepalang. Dan Gak Lui pun
dianggapnya seorang pemuda yang berlagak pintar.
Maka Pedang Bidadari marah. Apalagi diketahuinya
bahwa Hi Kiam-gin itu hanyalah seorang gadis yang
menyamar sebagai seorang pemuda. Timbullah
kecurigaan Pedang Bidadari terhadap pemuda yang
menjadi murid keponakannya itu. la anggap pemuda itu
seorang pemuda yang serong berani mengatakan Hi
193

Kiam-gin sebagai engkoh angkatnya, pada hal hanya


seorang gadis. Dan kemarahan wanita patah hati itu
makin menjadi-jadi ketika Gak lui menyebut-nyebut
tentang seorang gadis bernama Li Siu- mey.
Dalam murkanya, Pedang Bidadari terus melesat
pergi. Tetapi setiba diguha kediamannya, terkenanglah ia
akan kekasihnya dahulu Gak Tiang-beng (ayah Gak Lui)
yang bersama kedua saudara seperguruannya Pedang
Iblis dan Pedang Aneh telah menderita kematian yang
mengenaskan. Seketika redalah kemar'ahan Pedang
Bidadari. Kemudian setelah memikir dengan kepala dingin, ia anggap Gak Lui itu bukan seorang pemuda
yang bermoral tipis suka menyia-nyiakan kasih,
mempermainkan kaum gadis.
Buru2 wanita itu menuju kehutan dan menolong Hi
Kiam-gin. Setelah mengadakan tanya jawab dengan
Kiam-gin barulah Pedang Bidadari, menyadari bahwa
Gak Lui itu seorang pemuda yang berkelakuan bersih.
Segera ia menyuruh Kiam-gin berjalan mendaki sendiri
ke puncak. Sedang ia dengan gunakan ilmu lari cepat
segera menuju ke sumber air Pencuci Jiwa. Tetapi
ternyata tetap terlambat...........
Mendengar keterangan Pedang Bidadari bahwa
kemungkinan Gak Lui tentu menemui kesukaran bahaya,
Kiam-gin gelisah. Tanpa menghiraukan lukanya yang
masih belum sembuh, ia terus menuju ke sumber air
mencari Gak Lui. Ketika ia tiba ditempat itu ternyata
Pedang Bidadari sudah mengubur Gak Lui dan
tinggalkan tempat itu. Betapa kejutnya ketika ia dapatkan
empang batu sudah hancur berantakan dan ditanah
terdapat kutungan pedang serta ceceran darah.....
Seketika
menggigiliah
perasaan
Kiam-gin.
Airmatanya berderai- derai seperti hujan. Dan ketika
194

melangkah keluar melihat pada dinding karang terdapat


tulisan 'Makam Gak Lui', pecahlah tangis gadis itu. la
menangis tersedu-sedu seperti kehilangan orangtuanya.
Ia menyesal karena telah menyamar sebagai seorang
pria sehingga Gak Lui menganggapnya sebagai seorang
engkoh. Dan karena anggapan itulah maka Gak Lui tak
mengerti akan rasa cinta Kiam-gin kepadanya.........
Rasa sesal dan sedih ditumpahkan dalam banjir mata
Kiam-gin telah menguras habis airmatanya sehingga
kering. Dan karena airmatanya habis, maka mulailah
darah yang bercucuran.........
Tiba2 ia menghantam pintu terowongan dan tanpa
sengaja telah menemukan robekan kain. Cepat2
dibukanya kain itu. Ternyata terdapat tulisan darah yang
ditujukan kepadanya :
Hi Kiam -gin, Keponakanku Gak Lui mati dalam
sumber Pencuci Jiwa. Tak dapat ditolong lagi.
Dendam sakit hati kalian berdua, memang pelik
sekali. Lekas pergilah ke gunung Busan puncak Capji -hong dan berserulah 'Thian Lui' senyaringnyaringnya. Mungkin mendapat suatu keajaiban. Jika
saat itu menemukan sesuatu jejak musuh, engkau
harus berlatih silat dengan segiat-giatnya. Demi untuk
membalaskan sakit hati kami semua.
Surat itu tiada bertanda tangan, melainkan disudahi
dengan dua buah kata 'Tulisan Akhir'. Tahulah Kiam-gin
bahwa yang menulis surat darah itu tentu sudah mati
juga. Kembali ia kucurkan airmata. Diulanginya surat itu
sampai beberapa kali. Sekalipun tak mengerti apa
maksud sebenarnya dari surat itu, tetapi ia sudah
mendapat sedikit harapan yang cukup membangkitkan
kekuatannya. Segera ia bulatkan tekad dan tengadahkan
kepala keatas, berdoa : Cianpwe, tanpa menghiraukan
195

bahaya apapun juga, aku tentu akan melaksanakan


pesan cianpwe. Aku segera akan menuju kepuncak Capji-hong gunung Bu-san untuk mencari jejak dan
menghimpaskan dendam cianpwe ! Kemudian iapun
berdoa kepada arwah ayah dan paman gurunya Ngo
Bun-hwa
Anak memang tak berbakti, diam2 telah tinggalkin
rumah menyaru menjadi pria. Sehingga menyebabkan
ayah dan paman menderita perasaan. Sejak saat ini,
anak akan kembali menjadi scorang gadis itu dan
bertekad bulat untuk membalaskan sakithati keluarga
kita, Harap arwah ayah dan paman mengasoh dengan
tenteram di alam baka ! Yang terakhir ia merabah nama
Gak Lui seraya berseru dengan hati pilu : Adik Lui ....
jangan kuatir. Setelah nanti musuh kita bersama itu dapat
kutumpas, aku tentu akan kembali kemari lagi untuk
menemanimu .... menemani engkau untuk selamalamanya ........ takkan barpisah lagi ........
Duka dan dendam, memenuhi rongga dadanya. Ia
memutar tubuh terus lari terhuyung-huyung. Suasana
disekeliling guha hening lelap. Hanya tulang belulang,
ceceran darah...... hancuran batu dan kutungan pedang
yang berserakkan ditanah ....
Sejam kemudian tiba2 terdengar deraip langkah kaki
yang halus. Dan dalam keremangan suasana, muncullah
seorang dara cantik mengurai rambut. Gadis itu berjalan
dengan hati2 sambil memandang kian kemari sambil
pasang telinga. Jelas dia bukan Hi Kiam-gin yang datang
kembali. Melainkan gadis ular Li Siu-mey. Waktu
memasuki guha, ia memperhatikan sekali setiap benda
yang berada disitu, bahkan sebatang rumputpun tak,
luput dari pengawasannya. Ceceran darah ditanah,
kutungan pedang dan empang batu yang hancur, semua
196

diketahuinya. Hanya pada saat matanya tertumbuk akan


tulisan yang berbunyi : MAKAM GAK LUI, serentak
meraunglah ia seperti seekor singa betina yang
kehilangan anaknya ! Tetapi beberapa saat kemudian ia
terkesiap meragu Aah....! Engkoh Lui tak mungkin sudah
mati. Karena baik manusia maupun binatang, apabila
mati tentu meninggalkan bau yang istiwewa. Tetapi
terowongan ini sama sekali tak mengeluarkan bau
semacam itu. Apakah terowongan itu hanya sebuah tipu
muslihat saja, sebuah jebakan ....... Cepat ia memeriksa
semua bekas benda peninggalan disitu. Kutungan
pedang itu diambil dan dibaunya.
Ahh...., pedang ini bukan milik engkoh Lui! Tetapi
milik seorang perempuan ...... dan bukan milik kawannya
itu! Dan empang batu yang rusak itu adalah bekas
reruntuk sumber air Pencuci Jiwa. Tak mungkin engkoh
Lui menghancurkannya. Tentulah kedua perempuan itu!
Gadis ular Siu-mey mengadakan analisa. Kemudian ia
melanjutkan pula: Dan yang paling aneh adalah bekas
ceceran darah ini. Darah itu tidak berhamburan kemanamana, bukan menyerupai kucuran luka. Kalau begitu,
orang itu tentulah bersahabat. Mungkin sudah tahu
tentang kematian engkoh Lui.... tetapi ahh...., mungtin
juga suatu perangkap!
Dua macam penilaian terlintas tak menentu dalam
benaknya. Sambil mencekal kutungan pedang, tak tahu
bagaimana ia harus bertindak. la merenung sampai lama
sekali. Akhirnya rasa Cinta telah mendapat tempat yang
utama dalam sanubarinya. Segera ia gunakan kutungan
pedang itu untuk menggali batu yang menutup lubang
makam Gak Lui. Dengan sekuat tenaga ia menggali batu
dan akhirnya dapatlah ia membuat sebuah lubang
sebesar setengah meter. la segera susupkan kepalanya
kedalam. Ah, sama sekali ia tak mencium bahu mayat.
197

Jelas kekasihnya itu belum mati. Setelah mendapat


kepastian itu, mulailah ia bertindak untuk menolong Gak
Lui. Dengan bergeliatan macam ular, tubuhnya yang
lemas gemulai segera menyusup kedalam terowongan.
Akhirnya berhasillah ia masuk kadalam. Terdengar
beberapa kali ia meneriaki engkoh Lui..., engkoh Lui...
Setelah itu hening lelap. Kira2 sepenanak nasi lamanya,
gadis itu menyusur keluar lagi. Wajahnya penuh tanda
tanya. Rupanya ia telah menemukan sesuatu yang
mencurigakan. Segera ia menurutkan bekas ceceran
darah itu............
ENGKOH GIN .... tiba2 terdengar suara seseorang.
Aku bukan engkoh Gin tetapi adikmu Siumey! sahut
lain suara.
,Hai, aku bermimpi ..... atau mati ....?
Tidak bermimpi, pun tidak mati !
Lalu aku .......
Engkau telah pingsan selama satu bulan tak ingat
diri. Untung aku segera datang pada waktu yang tepat.
Kalau tidak, engkau tentu tak akan ingat diri selamalamanya ! Sesosok tubuh melenting bangun diri tanah.
Dia bukan lain adalah Gak Lui dan yang rebah disamping
itu adalah sigadis ular Siu-mey.
Hai .... ! Gak Lui mendesis kaget, ketika rasakan
tubuhnya seringan bulu. Hampir tak percaya ia akan apa
yang dialaminya itu.
Aku terminum racun. Penyurut tulang, lalu kecebur
dalam sumber air Pencuci Jiwa. Seharusnya aku
muntah?. Tetapi mengapa tidak ...
Engkau tak pernah muntah ! kata Siu-mey.
198

Sungguh aneh ......


Ditilik dari ilmu pengobatan, hal itu memang tak
aneh. Ketika aku datang kemari, aku melintasi lembah
yang panas itu .......
Itu!ah Lembah Mati ! tukas Gak Lui, apakah engkau
juga melihat kawanan orang pendek berkulit hitam itu.
Mereka diminumi racun Penyurut tulang ! sahut Siumey, rupanya racun itu terbuat diri ramuan pohon Laci,
kepala burung bangau dan bangkai ulat ... racun bersifat
dingin dan berkhasiat membius !
Itu benar, kata Gak Lui.
ketika termakan racun, bukan saja aku ingin makan
lagi, pancainderaku pun berkurang ketajamannya.
Sedang mulutkupun seperti mati rasa !
Jelas hal itu memang benar sekali ! kata Siu-mey,
air sumber Pencuci Jiwa itu panas, dan pahitnya bukan
kepalang. Orang minum tentu akan muntah. Tetapi
bagimu air sumber itu dapat menghapus racun dan
menambah tenaga !
Oh ... , seru Gak Lui, kalau dipikir-pikir, semua
perbuatan jahat itu tentu mendapat pembalasan yang
setimpal. Li Hui-ting yang meracuni aku itu, ternyata
adalah murid yang telah menipu ayahmu. Menurut
keterangannya, ayahmu masih hidup ...
Hai ! Dia ... dia ... dimana ? sera Siu-mey.
Sayang Li Hui-ting sampai mati tak mau
menerangkan. Sebelum selesai kutanya, dia sudah
menggigit putus lidahnya dan mati
Siu-mey Girang2 sedih. Dengan air mata bercuccran
ia berkata : Jika ayah benar masih hidup, syukurlah.
199

Pada suatu hari aku pasti dapat menemukannya ...


Gak Lui merghiburnya. Setelah nona itu mengusap
airmata, berkatalah Gak Lui : Adik Mey, waktu engkau
mendaki gunung apakah engkau bertemu dengan bibi
guruku ?
Mendengar pertanyaan itu, airmata Siu-mey
bercucuran lagi : Ia karena .... tak mengerti ilmu
pengobatan, megira engkau mati keracunan air sumber
lalu marah dan menghancurkan sumber ini, kemudian ia
sendiri juga ...
Bagaimana ? teriak. Gak Lui tegang.
Memotong urat pergelangan tangah dan akhirnya
meninggal karena kehabisan darah.
Mengapa ... engkau .... tak menolong ?
Kuturutkan bekas ceceran darah dan akhirriya
sampai pada tempat rahasia kediamannya. Kudapati
lukanya amat parah tetapi ia tak mau kuobati. Baru
setelah kuterangkan bahwa engkau tak mati ia tampak
tenang dan mau memakan rumput harum. Semangatnya
seketika segar lalu suruh aku kemari menjengukmu ....
Ah, tak seharusnya engkau tinggaikan dia ! Pipi
gadis itu bersemu merah, sahutnya pelahan : Aku ... aku
mencemaskan dirimu dan lagi, tak kira pada waktu aku
kembali kesaoa lagi, ternyata beliau sudah meninggal
.....
Gak Lui menghela napas panjang. Airmata-nya
mengalir deras. Beberapa saat kemudian baru ia
bertanya : Adakah beliau pernah mengatakan tentang
engkoh angkatku Hi Kiam-gin ?
Waktunya amat singkat sekali, tak mengatakan hal
itu .......
200

Adakah engkoh angkatku itu juga tertimpak sesuatu


? Tiba2 wajah Siu-mey berobah dan menyahut dengan
kurang senang : Engkoh Lui, terus terang kukatakan
kepadamu.
Selama
ini
aku
selalu
mengikuti
perjalananmu. Sekalipun karena kebakaran di hutan itu
telah menangguhkan waktuku selama setengah hari,
tetapi sejak saat itu kulihat engkau selalu berjalan
bersams seorang gadis remaja !
Gadis ? Gak Lui terbeliak.
Benar!, Dari baunya..... dapat kuketahui jelas, dia
seorang anak perempuan !
Gak Lui terkejut dan seketika meayadari. Diapun
dapat mencium bau untuk membedakan sesuatu.. Tetapi
ia agak lalai untuk membedakan bau Hi Kiam-gin. Kini
baru ia mengetahui mengapa tiba2 wajah bibi gurunya
berobah bengis. Bibinya itu seorang penderita Asmara
yang gagal. Sudah tentu membenci kalau seorang
pemuda hendak mempermainkan seorang gadis.
Kemudian bcrkata pula Siu-mey : Dari bekas bau, jelas
ia pernah menjenguk kemari :.. engkau .... harus merasa
puas ! Gak Lui segera menuturkan tentang peristiwa ia
mengangkat saudara dengan Hi Kiam-gin.
Aku telah menerima permintaan tolong dari ayahnya.
Mau tak mau terpaksa mengurusnya. Dan lagi ia
berwatak terus terang. Jika dia sudah pergi, kelak aku
tetap akan membalaskan sakit hatinya ! kata Gak Lui
pula. Melihat sikap kekasihnya yang jujur dan ternyata
tak menaruh maksud apa2 terhadap Kiam-gin, berkatalah
Siu-mey dengan nada minta maaf Asal engkau tak
melupakan aku, tambah seorang taci angkat, pun tak
apalah. Dan lagi bibi gurupun telah meninggalkan surat
pesan ...
201

Lekas berikan padaku ! sera Gak Lui.


Jangan sekarang !
Mengapa ? .
Beliau menulis Jelas, supaya aku yang membacakan
dihadapan makamnya !
Ohh...., tentu penting sekali. Hayo kita kesana seru
Gak Lui sambil mengamasi sepasang pedangnya terus
hendak keluar.....
Engkoh Lui, mungkin engkau tak dapat menyusup
keluar. Lebih baik engkau membuat lubang, kata Siumey. Gak Lui merasa tenaganya bertambah besar. Ia
hendak mencobanya. Segera ia menjamah batu dinding
dan menekannya, Ah...., ternyata pada batu itu tertinggal
bekas telapak tangannya.
Adik Mey, mundurlah sedikit ! serunya gembira.
Setelah gadis itu menyingkir, Gak Lui kerahkan tenaga
dan menghantam. Bum ..., batu yang diletakkan Pedang
Bidadari untuk menutup terowongan, meledak hancur
dan terbukalah sebuah lubang besar.
Mari! seru Gak Lui seraya menerobos keluar.
Sejenak mereka memandang kearah-tumpukan tulang2
tengkorak dan kepingan sumber air setelah itu mereka
bergandengan tangan lari keluar guha. Memang yang
dikatakan Siu-mey itu benar. Pedang Bidadari Li Siokgim telah binasa. Betapa sedih hati Gak Lui, sukar
dilukiskan. Berulang kali, ia bertemu dengan paman dan
bibi gurunya. Setiap kali paman dan bibi gurunya itu tentu
meninggal. Setelah mengubur, maka berlututlah Gak Lui
dihadapan makam bibinya. Memberi hormat yang
terakhir dan mendengarkan Siu- mey akan membaca
surat wasiat bibi gurunya.
202

Kepada murid keponakanku Gak Lui ........ demikian


Siu mey mulai membaca, hidup manusia itu sudah
diientukan o!eh garis nasib. Wanita yang berwajah cantik
tentu, malang nasibnya. Sehingga menyebabkan Empat
Pedang Busan tercerai berai. Oleh karena itu maka,
kurusaklah wajahku dan tinggal mengasingkan diri dalam
guha. Untuk menebus dosa...
Siu-mey berhenti sejenak lalu melanjutkan.
Ternyata tiga dari keempat pedang Bu-san telah
berturut-turut mati ditangan musuh. Aku makin jemu
hidup. Maka kuberikan kepadamu apa yang telah
kupelajari selama ini. Kuharap engkau belajar dengan
giat. Demi untuk membalas sakit-hati .... Ilmu istimewa
yang akan kuajarkan kepada mu hanya terdiri dari dua
jurus, yakni : 1. Cenderawasih pentang sayap menutup
matahari dan rembulan. 2. Awan berarak bertebaran
ribuan li tiada berbekas. Yang pertama itu adalah ilmu
pedang dan yang kedua ilmu meringankan-tubuh.
Merupakan ilmu simpanan dari perguruan Empat Pedang
Busan. Dengan tenaga yang engkau miliki saat ini, boleh
engkau di anggap sebagai jago muda yang tangguh.
Tetapi ilmu kepandaian itu, kecuali mengandalkan bakat
dan latihan tekun, juga memerlukan penjelasan dari
seorang guru kenamaan. Sayang paman gurumu
Pedang Aneh dan Pedang Iblis, sudah tak dapat
memberi pelajaran lagi. Maka terpaksa engkau harus giat
berlatih sendiri.
Mengenai ........ mengenai ......... Membaca, sampai
disitu, tiba2 pipi Siu-mey merah. Ia berhenti karena
sungkan. Setelah menunggu sampai sekian jenak belum
juga nona itu melanjutkan pembacaannya, Gak Lui
mengangkat muka dan memandang Siu-mey. Siu-mey
loncat menghampiri, serunya tersekat : Engkoh Lui,
203

bangunlah dan eagkau baca sendiri saja! Dengan


khidmat, Gak Lui menyambuti surat itu lalu membacanya.
Mengenai diri Gadis Ular Li Siu-mey. Ia seorang
gadis yang berwatak murni. Cintanya tulus ikhlas.
Merupakan pasangan yang setimpal sekali dengan
engkau. Tetapi anak muda itu memang masih berdarah
panas. Jangan sekali-kali engkau berpaling haluan dan,
beralih hati kepada lain gadis. Terkutuklah...,
terkutuklah.....! Dibalik robekan kain itu terdapat tulisan
berbunyi : Pesan terakhir bibi gurumu.
Habis membaca, airmata Gak Lui berlinang-linang. Ia
tegak
termenung-menung,
Kiranya
barulah
ia
mengetahui bahwa bibi gurunya itu memang sengaja
merusak wajahnya sendiri. Hal itu tentulah disebabkan
karena kisah Asmaranya dengan Gak Tiang-beng atau
ayah Gak Lui dan memutus kasih pada paman gurunya
Pedang Iblis.
Seketika terbayang lagi wajah bibi-gurunya penuh
luka guratan pedang itu. Seolah-olah, bibi gurunya
mendaskan pesan agar dia jangan sembarangan
bermain cinta . Merenung hal itu, tiba2 ujung mata Gak
Lui berkilat cahaya. Dengan wajah kemerah-merahan,
Siu-mey menghaturkan sebutir batu berlian besar ke
hadapannya.
Adik Mey, rupanya, berlian ini berasal dari Lembah
Maut tegur Gak Lui. Siu-mey mengiakan: Benar, semua
simpanan mereka kuambil!
Baik juga! Daripada jatuh ditangan gerombolan
orang jahat kata Gak Lui,
eh...., apa, artinya ini? .
Kuhaturkan kepadamu! sahut Siu-mey.
204

Ah, lebih baik engkau yang menyimpan saja Wajah


nona itu makin merah. Setelah berdiam diri beberapa
saat, akhirnya ia memberanikan diri berkata: Apa yang
ditulis dalam surat pesan bibi guru, sudah jelas. Kita ...,
seharusnya memberi-tanda. Mendengar itu tersadarlah
Gak Lui. Dan dengan tersipu-sipu malu, Siu-mey
susupkan mutiara itu ke dalam tangan Gak Lui seraya
menarik lengan baju pemuda itu: Engkoh Lui, mari kita
keluar. Di sana terdapat banyak benda yang aneh.
Gak Lui sekali lagi memberi hormat ke arah makam
Pedang Bidadari Li Siok-gim, lalu bangkit dan tinggalkan
guha rahasia itu.
SEBELAH SELATAN dari puncak gunung situ,
adalah sebuah hutan bambu. Sebuah bangunan
bertingkat dari bambu, didirikan pada karang gunung.
Dari sebelah luar, memang bangunan bambu bertingkat
itu tak tampak. Tetapi dari dalam bangunan bambu
bertingkat itu dapat melihat dengan jelas ke seluruh
penjuru. Satu-satunya jalan menuju ke rumah bambu
bertingkat itu hanya melalui sebuah jembatan-goyang
terbuat dari bambu dan rotan. Pada saat tiba di jembatan
itu, Gak Lui menjerit ngeri. Ternyata jembatan itu tak
kurang dari 10 tombak panjangnya. Di bawahnya
terbentang lembah yang curam sekali. Sebelum kaki
melangkah ke jembatan, tubuh sudah seperti bergoyanggoyang mau jatuh. Kecuali memiliki ilmu Meringankantubuh yang tinggi orang harus merangkak melalui
jembatan itu. Pula di atas jembatan gantung itu penuh
dihias dengan bambu yang runcing. Bambu2 runcing itu
sengaja
dipasang
miring.
Seolah-olah
untuk
menyongsong tubuh orang yang bergontai. Setelah
memperhatikan beberapa saat, Gak Lui kerutkan alis.
Adik Mey, pada waktu engkau datang, apakah
205

engkau melihat jembatan ini? tanyanya.


Pertama kali mengobati bibi guru, belum ada. Tetapi
datang yang kedua kalinya untuk mengubur bibi guru
baru terpasang.
Lalu bagaimana engkau melintasinya?
Aku tak melintasi karena bibi guru menggeletak
rubuh di kaki karang ini, sahut Siu-mey seraya menunjuk
ke sebuah batu karang besar:
Dan di situ bibi guru telah meninggalkan cara untuk
melintasi jembatan, tambahnya. Gak Lui berpaling.
Dilihatnya pada karang itu memang terdapat beberapa
tulisan:
Tabahkan nyali, melintasi jembatan. Tak boleh
berloncatan, pun tak boleh berhenti. Harus gunakan
pedang menyiak bambu, tetapi jangan sampai
dipapas kutung. Jika tak mampu melakukan, tak
boleh masuk!.
Gak Lui kucurkan keringat dingin. Diperhatikannya
bambu2 runcing yang menghias jembatan itu rapat sekali
dan amat kokoh. Ilmu melayang jauh dengan jurus
Rajawali-pentang-sayap, hanya dapat digunakan untuk
melambung ke udara. Sukar untuk dilakukan melayang
secara mendatar. Pula ilmu pedangnya, mempunyai
daya gerak istimewa untuk memapas pedang. Jika tak
diperbolehkan memapas kutung bambu itu, memang
sukar sekali. Gak Lui termenung-menung.
Engkoh Lui, apakah engkau mempunyai daya untuk
melintasi .....
Engkau tak mengerti, biarlah kupikirnya sendiri!
tukas Gak Lui. Merah wajah Siu-mey. Diam2 tekadnya
untuk belajar ilmu silat makin besar. Gak Lui tak
206

menghiraukan. la terus memeriksa jembatan itu. Tetapi


sampai hampir setengah hari, belum juga ia menemukan
akal. Tiba2 pandang matanya. seperti melihat bibi
gurunya muncul. Dan bibi guru itu berlincahan seperti
tatkala bertempur dengan ia di gunung. Gerak
langkahnya amat lstimewa, tangkasnya bukan kepalang.
Pedang bibi gurunya waktu itu seperti dimainkan dalam
jurus
Burung-merah-merentang-sayap
dan
tahu2
pedangnya Gak Lui dapat dihalau.
Ya, benarlah! tiba2 Gak Lui berseru girang. Jelas
bambu runcing pada jembatan itu merupakan seperti
gerakan pedang lawan. Segera ia meniru gerakan bibi
gurunya, maju menyerang. Cepat sekali ia sudah tiba di
muka jembatan. Matanya tetap tak berkesip memandang
ke muka. Seolah-olah sedang menerjang sebuah hutan
pedang yang merintangi jalannya. Selangkah .... dua
langkah .... tiga langkah. Gak Lui seperti tenggelam
dalam alam persemedhian. Ia tak menghiraukan bahwa
saat itu matahari mulai terbenam di balik gunung dan
malampun mulai merayap datang.
---oo0oo--DIA BAGAIKAN SEBUAH PATUNG yang tegak
pejamkan mata. Barisan bambu runcing itu terbayang
melekat ke dalam benaknya. Siu-mey tak mau
mengganggunya. Akhirnya fajar menyingsing. Hampir
semalam suntuk Gak Lui mempelajari keadaan jembatan
itu dan akhirnya mulailah ia melangkah. Pedangnya
berkelebat kian-kemari. Begitu membentur bambu
penghias jembatan, tersiak tetapi tak sampai putus.
Sedang jembatannya sendiri tak goncang. Girang Siumey bukan kepalang, serunya : Bagus, engkoh Lui,
engkau berhasil memecahkan rahasia jembatan itu ......
207

Baru ia berteriak begitu, tiba2 terdengar suara gemertak


dari rumah bambu bertingkat diseberang jembatan.
Tiang2 penyangga rumah bambu itu, putus dan meluncur
ke dalam jurang.
Hai ... !. Siu-mey menjerit ngeri. Ternyata Gak Lui
sudah berhasil melintasi jembatan terus masuk kedalam
rumah bambu bertingkat. Tetapi begitu hendak mendaki
ke atas, tiang rumah patah dan rumah bambu itu pun
ambruk. Cepat Gak Lui loncat melambung ke udara lalu
melayang ke ujung jembatan. Dengan gerak yang mahir,
ia melintasi jembatan itu lagi. Dan cepat sekali ia sudah
kembali ke tempat semula lagi.
Adik Mey, dalam rumah bambu itu tiada isinya apa2,
seru Gak Lui dengan gembira, tetapi rahasianya terletak
pada jembatan itu. Kira-nya bibi guru kuatir aku tak dapat
mempelajari ilmu yang telah diberikan ketika bertempur
dengan aku di guha, maka beliau menggunakan cara itu
......... hai, kenapa engkau ! Tiba2 Gak Lui hentikan
bicara dan berseru kaget ketika melihat Siu-mey tegak
seperti patung dan mata tak berkedip. Gadis itu berdiri
didepan karang. Gak Lui cepat dapat menduga bahwa
nona itu telah ditutuk jalan darah-nya. Dan cepat pula ia
mengetahui bahwa beberapa orang yang tak dikenal,
bersembunyi dibalik batu karang itu. Demi keselamatan
Siu-mey, Gak Lui tak berani gegabah turun tangan. Tiba2
ia mendapat akal. Dengan wajah tetap tenang, ia
berseru: Adik Mey, mengapa engkau terlongong saja?
Masih banyak hal yang hendak kuberitahukan.
kepadamu ...... secepat kilat ia lekatkan tangan kirinya
kedada gadis itu lalu gunakan tenaga sakti Algojo dunia
untuk menyedot. Pikirnya hendak membuka jalan darah
sinona yang tertutuk. Tetapi dalam gugupnya, ia telah
salah tafsir. Dia tak ingat bahwa nona itu mengenakan
baju kulit ular yang tak tembus penyaluran tenagadalam.
208

Karena tergesa-gesa ia tak sempat mencari lain jalan


darah ditubuh sinona. Tangannya meluncur kearah
ketiak. Tiba2 dari balik karang terdengar gelak tawa
bergemuruh. Seorang bertubuh tinggi besar melesat
keluar dari balik karang itu. Dan menyusul 8 orang
menghunus pedang tegak berjajar dibelakang sitinggi
besar itu. Dari tindakan orang yang telah menutuk jalan
darah Siu-mey dari jarak jauh, tahulah Gak Lui bahwa
orang2 itu tentu tak bermaksud baik. Dipandangnya
sitinggi besar itu dengan seksama. Wajahnya merah
seperti tembaga dan bentuknya aneh. Cepat Gak Lui
melesat kedepan Siu-mey untuk melindunginya. Tetapi
ternyata sitinggi besar itu hanya ganda tertawa dan
mengangkat tangan memberi hormat: Gak sauhiap,
engkau tangkas sekali .....
Mengapa engkau kenal padaku? tegur Gak Lui.
Namamu amat menggetarkan dunia persilatan.
Siapakah yang tak mendengar ....
Mengapa angkau melukai kawanku
Kulihat engkau sedang melintasi jembatan gantung
itu. Kuatir kawanmu menjerit kaget sehingga
mengganggu pemusatan pikiranmu, maka kututuk
jalandarahnya. Sekarang biarlah kubukan lagi. Tetapi
Gak Lui menolak dan mengatakan: ia dapat
membukanya sendiri. Orang itu tertegun lalu bertanya:
Mohon tanya, apakah orang yang meninggalkan tulisan
pada karang itu apa masih disini? Dan siapakah kiranya
locianpwe itu ? Beliau ..... tiba2 Gak Lui merasa bahwa
orang itu memang mencurigakan maka cepat ia beralih
jawaban: Sekalipun disini tetapi tak mau bertemu orang.
Bahkan namanya pun tak mau memberitahukan.
Lalu apakah dia juga yang membunuh rombongan
209

Lembah mati itu ?


Ada hubungan apakah engkau dengan mereka?
Mengapa engkau begitu memperhatikan sekali ? Gak
Lui Was bertanya.
Kami kebetulan lalu disana dan merasa heran. Gak
Lui makin curiga. Dipandangnya orang itu dengan tajam,
tanyanya: Siapakah saudara ini ? Maukah saudara
memberitahukan nama?
Aku Rajawali-mas-bersayap-besi Oh Toa-hay, kata
sitinggi besar lalu menunjuk kearah delapan orang yang
berada dibelakangnya: dan kawan2 ini adalah Delapanjago-pedang besi !
Gak Lui mengangguk lalu berseru lantang : Kalau
kalian hendak bertanya tentang peristiwa gerombolan,
Setan kering itu, terus terang saja, akulah yang
membunuhnya. Batu2 permata merekapun telah
kusimpan!
Tetapi sitinggi besar tertawa tebang; Benarlah,
dengan kepandaian sauhiap, tentu mudah sekali
melakukannya ... Tetapi wajah kedelapan orang cepat
berobah memberingas, Ada beberapa yang segera
mencabut pedang. Gak Lui tertawa dingin ; Ho...!,
kiranya kalian ini anak buah Maharaja, makanya bernyali
besar datang kemari !
Wajah sitinggi Rajawali-emas-sayap-besi berobah
seketika dan mundur setengah langkah, serunya Harap
sauhiap jangan menghambur fitnah aku .....
Sikap kalian sudah mengunjuk warna diri, tak perlu
menyangkal ! tukas Gak Lui.
Tinggi besar Rajawali-emas mendengus : Hm, tajam
benar matamu! Mengapa tak lekas menyerahkan batu
210

berlian itu .... !


Ha..., ha..., ha..., ha ... terimalah baik2 ini! Gak Lui
merogoh kedalam saku baju lalu lemparkan sebuah
benda kekaki sitinggi besar
Melihat benda itu, sitinggi besar menyurut mundur
tiga langkah, serunya tergagap : Itu ... Amanat mati !
Benar...!, kalian biasa menggunakan benda itu untuk
menggertak orang persilatan. Hari ini aku hendak
memintakan mereka ganti jiwa kepada kalian !
Wajah sitinggi besar makin beringas bengis. Tangan
kanan mencabut pedang, tangan kiri terus hendak
menyambar Amanat itu. Tetapi Gak Lui lebih cepat.
Sekali gerakkan tangan kiri, kertas Amanat itu
melambung keudara dan secepat kilat pedang ditangan
kanan menusuk tangan sitinggi besar. Si Tinggi besar
terkejut loncat mundur sampai satu tombak dan dengan
gugup mencabut pedang, lalu memutar untuk melindungi
diri. Sebenarnya Gak Lui hendak menyusuli serangan
lebih lanjut tetapi ia diserbu oleh kedelapan orang itu.
Mereka menyerang dari delapan jurusan. Terpaksa Gak
Lui melayani mereka.
Hayo, kalau berani, engkau maju sekali ! serunya
kepada si tinggi besar.
Rajawali-emas-sayap-besi
acungkan
ujung
pedangnya kemuka Gak Lui. Sikapnya seperti hendak
menyerang tetapi matanya mengicup ke arah kedelapan
jago pedang itu. Cepat Gak Lui mengetahui. Ia duga
orang itu tentu mempunyai tujuan lain. Kemungkinan si
tinggi besar hendak suruh kedelapan jago itu menawan
Siau-mey. Terpaksa ia tahan kemarahannya dan
berseru: Kalau kalian menghendaki berlian, mengapa
tak mau maju mengambil kemari!
211

Jika engkau takut, aku segera tinggalkan tempat ini


! balas si tinggi besar.
Kalau pulang dengan tangan hampa, apakah kalian
tak takut mendapat hukuman ? ejek Gak Lui.
Ucapan itu tepat menyentuh hati rombongan
Rajawali-emas- sayap-besi. Si tinggi besar mendengus
lalu bersama kedelapan jago menyerang Gak Lui.
Serangan sembilan jago itu, hebatnya bukan kepalang.
Batu dan debu berhamburan ke-empat penjuru. Tetapi
Gak Lui tak gentar.
Bagus....! teriaknya, seraya mainkan pedang
laksana bianglala bercengkerama di angkasa. Tiga jurus
kemudian, ia dapat mengetahui bahwa sesungguhnya si
tinggi besar itu memang hebat tenaga dalamnya. Jurus
serangannyapun amat ganas sekali. Apalagi ke Delapanjago- pedang-besi itu mahir sekali bergerak secara
keroyokan. Rupanya mereka terlatih dalam barisan yang
lihay. Tanpa memberi isyarat, mereka masing2 dapat
bergerak secara otomatis dan rapi. Maju mundur,
menyerang dan bertahan selalu teratur rapi dan cepat.
Karena ditabur oleh 9 pedang yang mencurah lebat, Gak
Lui tak sempat mengembangkan permainan pedangnya,
dan terpaksa terdesak mundur.
Melihat itu, sambil perhebat serangan pedangnya, si
tinggi besar tertawa mengekeh : Orang she Gak, hatimu
nanti hendak kukorek keluar untuk menyembahyangi
adikku Setan Kering, heh..., heh..., heh..., heh ......
Tetapi belum kumandang tertawanya sirap, terdengarlah
dering gemerincing yang tajam sekali. Tubuh Gak Lui
tiba2 berputar- putar dan pedang-nya berobah seperti
segulung sinar yang membungkus dirinya. Gulungan,
sinar pedang itu merupakan bentuk sekuntum bunga
Teratai yang tengah berhamburan mekar ....
212

Ke 9 pedang lawan yang menyerang ganas itu,


terpental dan hanya berkelebatan di luar gulungan sinar
pedang Gak Lui. Ternyata Gak Lui telah mempraktekkan
ilmupedang Cenderawasih-pentang-sayap-ajaran bibi
gurunya si Pedang Bidadari Li Siok-gim. Dan hasilnya
sungguh mengagumkan. Lawan terpancang sukar
menggerakkan pedang sehingga posisinya sekarang
terbalik. Dari menyerang menjadi bertahan. Pada saat si
tinggi hesar terkesiap kaget, tiba2 matanya silau akan
kelebat sinar pedang, dan tring..., tring..., tring ....
berhamburan pedang dari kawanan jago pedang itu.
Kalau tidak terpapas kutung, pedang merekapun terlepas
jatuh. Melihat itu patahlah nyali si tinggi-besar. Secepat
kilat ia berputar dan terus lari....
Hai...!, hendak lari ke mana engkau! dengan
gunakan ilmu meringankan tubuh Awan-berarak-ribuan-li,
Gak Lui apungkan tubuhnya mengejar. Pada saat
punggung Rajawali-emas-sayap-besi terancam maut,
tiba2 kedelapan jago rombongannya itu mendapat akal.
Cepat mereka lari menghampiri ke tempat Siu-mey. Gak
Lui terkejut. Cepat ia berjumpalitan melayang balik. Pada
saat berjumpalitan di udara itu iapun mencabut pedang
pusaka Pelangi. Kemudian ia taburkan kedua buah
pedangnya kepada mereka.
Auhhh ..... terdengar dua buah jeritan ngeri dan dua
orang yang lari paling depan rubuh dengan dada
tertembus pedang. Setelah itu Gak Lui lontarkan pula
pukulan sakti Algojo-dunia. Seketika terdengar pula dua
buah jeritan ngeri. Seorang terlempar ke dalam lembah
dan seorang mundur terhuyung- huyung sampai lima
enam langkah, lalu rubuh dengan kepala pecah ........
Tetapi Gak Lui masih kalah cepat dengan sisa keempat
jago pedang yang tetap lari ke tempat Siu-mey atu.
Apalagi Gak Lui sudah melayang turun dan harus
213

menginjak tanah lagi untuk melakukan loncatan yang


kedua. Keempat anggauta Delapan jago-pedang-besi itu
dengan buas lari menyergap gadis-ular Siu-mey yang
saat itu tetap masih tak berkutik. Gak Lui kucurkan
keringat dingin ...........
JILID 5
PADA saat keempat jago itu hendak menerkam gadis
ular Li Siu- mey, se-konyong2 dari, balik karang
terdengar suara mendesis. Siu-mey getarkan tubuhnya.
Serempak mulut mendesis, ia dorongkan kedua
tangannya. Dua ular, emas dan perak, yang melingkar
sebagai gelang pada kedua tangannya serentak
meluncur ke udara. Dua orang penyerang yang paling
depan sendiri, seketika rubuh ketanah. Dua orang
kawannya yang menyusul dibelakang, terkejut dan
tertegun melongo.
Cucu kecoa, hayo mundur! Kedua orang itu serta
merta menurut. Tetapi pada saat mereka berputar tubuh,
dua batang pedang dari Gak Lui menyongsong dada
mereka. Kedua orang itu rubuh tak bernyawa. Siu-mey
cepat melesat ketempat Gak Lui. Setelah menarik nona
itu kesamping, Gak Lui segera memberi hormat kearah
karang seraya berseru: Lo-cianpwe yang berada
dibelakang batu karang, Gak Lui menghaturkan terima
kasih atas budi pertolongan lo-cianpwe!
Aku siorang desa ini murid Kun-lun-pay jang
bernama Se-bun Ciok. Jangan menyebut cianpwe pada
diriku!
Dengan ketua Kun-lun pay Hong San locia
bagaimana cianpwe memanggilnya? seru Gak Lui pula.
214

Hai, itulah mendiang guruku! orang itu berseru


kaget dan terus melangkah keluar dari balik karang.
Rasanya engkau tak kenal gelagat. Yang menjadi
ketua partaiku sekarang ini adalah suheng-ku Tang-hong
Giok, digelari orang sebagai Tang Hong Sianseng ...
Sejak tadi Siu-mey belum sempat berpaling muka melihat
penolongnya. Kini ketika memandang orang itu,
menjeritlah nona itu: Ai...., engkau tentulah Se-bun
Sianseng ......
Benar, sahut orang itu, kami memang sepasang.
Satu Tang (timur) satu Se (barat)
Mengawasi dandanan orang itu, diam2 Gak Lui geli
juga. Se-bun Sianseng itu mengenakan sebuah topi butut
yang sudah tak begitu jelas lagi warnanya. Jubahnya pun
hanya sampai keatas lutut, sepatunya dari rumput, kaos
kain kaki kasar. Punggungnya menyanggul sebatang
payung. Tangan kiri memegang kipas besi berwarna
hitam mengkilap dan tangan kanannya mencekal pipa
huncwe. Ia memelihara kumis dan jenggot, yang
dikepang dua, memakai kacamata yang diikat pada
telinga dengan pita. Boleh dikata apa yang dipakainya itu
barang butut semua. Sukar bagi orang untuk percaya
bahwa si gelandangan jembel itu memiliki kepandaian
silat yang tinggi.
Gak laute, tentu tak sedap memandang diriku yang
tak keruan ini, bukan? Se-bun Sianseng batuk2
sehingga kacamatanya ikut bergoncangan naik turun
pada batang hidungnya.
Ah, tidak, buru2 Gak Lui menyahut, cianpwe
seorang sakti yang tak mau unjuk diri. Ilmu tutukan Kekgeng-tiam-hwat yang cianpwe lepaskan tadi, cukup
meyakinkan orang!
215

Ah, engkaupun terlalu merendah diri! seru Se-bun


Sianseng,
ilmu tenaga-dalam mendorong dan menyedot, serta
melepaskan pedang tadi, aku Se-bun Sianseng yang
sudah bergelandangan di dunia persilatan selama
berpuluh tahun, tetap tak mampu mengetahui dari
sumber mana kepandaianmu itu.
Mendengar itu Gak Lui tertegun. Ilmu melemparkan
pedang tadi, sebenarnya baru pertama kali ia gunakan
ltu, karena gugup melihat Siu-mey terancam bahaya.
Ah, tak perlu saudara tertegun, kata Se-bun
Sianseng pula: aku bukan bermaksud hendak mencari
penyakit. Apalagi engkau mengenakan kedok muka
karena tak ingin dilihat orang, lebih2 aku tak mau
bertanya melilit. Hanya mengenai sebuah hal,
Apa? seru Gak Lui.
Engkau kurang faham akan ilmu tutukan. Suatu hal
yang janggal dan tak seimbang dengan ilmu
kepandaianmu!
Sejak pertama kali di tunjuk hidung kalau
kepandaiannya masih rendah oleh mendiang ayah
angkatnya tempo hari, baru itulah Gak Lui memenerima
kritikan orang lagi.
Memang sessungguhnya kepandaian itu tidak
banyak ragamnya sehingga sering menimbulkan buah
tertawaan orang, sahutnya.
Kurasa bukan soal itu. Melainkan karena engkau tak
faham akan letak jalan darah orang. Jika engkau tak
menganggap
aku
seorang
usil,
aku
hendak
mempersembahkan sebuah barang kepadamu! habis
berkata Se-bun Sianseng meletakkan pipa dan kipas.
216

Lalu mengambil selembar gambar dari bungkusannya.


Begitu dibuka, ternyata Lukisan itu merupakan gambar
tubuh manusia dengan seluruh letak jalan darahnya. Gak
Lui menyurut mundur setengah langkah.
Ah, mana aku berani menerima pemberian begitu
berharga ... Gak Lui berseru.
Barang ini bukan milik partaiku Kun-lun-pay
melainkan peninggalan dari sahabatku Jari-tunggal-sakti
yang mengatakan bahwa benda ini hendaknya diberikan
kepada orang yang sesuai, menerangkan Se-bun
Sianseng.
Siapakah cianpwe itu?
Menilik tingkatannya, dia adalah paman guru dari
Kaisar (Raja diraja) Li Liong-ci. Beliau termasyhur
sebagai ahli tutuk jalan darah yang sukar dicari
tandingannyal
Ah, kiranva seorang jago sakti dari partai Thianliong-pay! seru Gak Lui.
Dia tak termasuk tokoh Thian-liong-pay. Pula peta
yang berisi gambar dari ke 36 jalan darah besar dan 343
jalandarah kecil pada tubuh manusia ini, hanya untuk
penetral bagian2 dari tubuh manusia. Tentang
penggunaannya, terserah padamu sendiri.
Mendengar penjelasan dan karena didesak, akhirnya
Gak Lui mau juga menerima. Setelah menghaturkan
terima kasih ia terus mencari tempat yang sepi lalu
merentang peta itu dan memeriksanya dengan teliti.
Tiba2 Se Bun Sianseng mengusap jenggot dan banting2
kaki:
Ah, karena terpikat oleh ramai2 aku sampai
melupakan sebuah hal yang genting!
217

Sambil memandang peta dan merabah-rabah


bagian2 jalan darah pada tubuhnya sendiri, Gak Lui
bertanya: Apakah yang lo- cianpwe lupakan itu?
Membiarkan kaki tangan Maharaja pergi sehingga
tentu menimbulkan kesulitan pada gerakan partai2
persilatan!
Partai2
menegas.

persilatan

sudah

bergerak?

Gak

Lui

Masakan engkau tak tahu?


Sudah lebih dari sebulan aku masuk kedaerah
pedalaman gunung.....
Air, banyak sekali perobahan yang terjadi sebulan
itu!
Gak Lui terkejut dan mengangkat muka: Perobahan
apa sajakah itu?
Teruskanlah mempelajari peta gambar itu. Akan
kuceritakan dengan pelahan-lahan: Pertama tentang
sepak terjang dari kaki tangan Maharaja yang kian hari
kian merajalela. Siang hari bolong berani mengirim
Amanat Nasib sehingga menimbulkan kegelisahan dan
kecurigaan. Ada beberapa, partai persilatan yang
mengatakan, engkau menjadi salah seorang anggauta
gerombolan Topeng Besi!
O, lalu apa lagi?
Kecuali partaiku Kun-lun-pay dan partai Go-bi-pay,
kelima partai persilatan yang lain semua telah menerima
surat rahasia yang telah ditanda-tangani oleh tokohtokoh mereka sendiri yang telah menghilang selama
baberapa tahun. Dalam surat itu menyatakan hendak
mengadakan
pembersihan
kedalam partai
dan
memerintahkan ketua mereka, dalam waktu paling lama
218

satu tahun harus sudah mengundurkan diri:


Hal itu sudah kudengar, kata Gak Lui, tetapi bahwa
kelima partai dalam waktu serempak telah menerima
ancaman semacam itu, memang baru saat ini kudengar!
Se Bun Sianseng melanjutkan pula: Ketiga, Kaisar
Li Liong-ci sudah muncul lagi ke daerah Tiong-goan!
Tentulah hendak turun tangan!
Sama sekali tidak begitu. Kabarnya dia tidak mau
campur tangan.
Mata Gak Lui ber-kilat', serunya: Mengapa
Orang yang menceritakan kepadaku tak berani
menerangkan se-jelas2nya. Kamipun tak dapat menerka.
Sekalipun Kaisar tak mengacuhkan, asal Empat Putri
mau membantu, golongan Putih dalam dunia psrsilatan
tentu masih mempunyai harapan.
Empat Putri? Gak Lui mengulang.
Benar, mereka. terdiri dari Puteri Hijau, Puteri Naga
Istana-laut, Puteri Telaga Tongthing dan Bawang Putih.
Bagaimana dengan kepandaian mereka?
Mereka satu kaum. Kepandaian Kaisar Li Liong-ci
mencangkum Hud dan Mo (aliran agama dan Iblis).
Sedang Empat Puteri itu meliputi ilmu sakti Ceng-ling,
Cek-cui, Tong-ting-kui-ong, Thaysiang-sia-kun dan Liokhap-mo-cun. Merupakan gabungan antara aliran Putih
dan Hitam!....
Tergerak hati Gak Lui mendengar uraian Se Bun
Sianseng itu. Katanya dengan tandas: Jika karena
sesuatu sebab, mereka tak muncul, aku Gak Lui pasti
tetap akan berjuang melaksanakan cita2. Kalau lain
orang dapat berlatih sehingga mencapai tataran begitu
219

hebat, masakan aku juga tak mampu!


Bagus, bagus! Kekerasan hatimu sungguh
mengagumkan sekali. Menurut kata nona ini, kelak
engkau tentu menjadi tokoh yang cemerlang! seru Se
Bun Sianseng.
Sambil kicupkan mata, bertanyalah gadis-ular Siumey: Menurut lo cianpwe, apakah yang dapat
kupelajari...?
Nona memiliki kecerdasan dan simpanan hawa
murni yang kokoh. Kalau mempelajari ilmu tenaga-dalam
Lunak, kelak tentu berhasil!
Nona itu girang sekali dan berpaling memandang ke
arah Gak Lui. Saat itu Gak Lui tengah melipat peta
gambar dan menyerahkan kembali kepada Se Bun
Sianseng: Terimat kasih lo-cianpwe, aku sudah dapat
menghafal gambar2 itu. Budi lo-cianpwe kelak tentu
kubalas.
Sambil menyambuti peta gambar, Se Bun Sianseng
melolos kaca-matanya dan menyerahkan kepada
===================
Lembar
10-11,
hilang
===================
Tujuan pertama itu merupakan suatu pertempuran
mati hidup dengan Maharaja. Dan tujuan yang kedua itu
untuk mengukur tinggi rendahnya kepandaiaanya yang
telah
dicapai
saat
itu.
Kedua-duanya
hanya
mengandalkan kekuatannya sendiri untuk menentukan
kalah menangnya atau gagal berhasilnya tujuan itu. Dan
serentak teringatlah ia akan ucapan emas mendiang bibi
gurunya Dewi Pedang bahwa ilmu kepandaiannya itu
harus ditempuh dengan kegiatan dan jerih payah. Sekalikali jangan mengandalkan pada suatu rejeki yang tak
terduga-duga ........
220

Seketika
tergugahlah
semangat
Gak
Lui.
Koberaniannya pun menyala. Dia tak menghiraukan lagi
lautan
kesulitan
yang
harus
dihadapi
dalam
melaksanakan tujuannya untuk membalas dendam
kematian orangtuanya. Ditain fihak gadis ular Siu-mey
pun terbenam dengan keinginan untuk belajar silat. Agar
dapat mencari ayahnya dan membantu usaha sang
kekasih (Gak Lui), bulatlah sudah tekadnya untuk
menuntut ilmu kepandaian silat yang sakti. Ucapan Se
Bun siangseng tadi, benar2 telah membangkitkan
semangatnya.
Tak disadari, Siu-mey merekah senyum bahagia.
Tetapi tiba2 dalam benak si nona itu terlintaslah
bayangan seorang gadis lain yang menjadi kawan akrab
dari Gak Lui. Gadis lain itu yalah, Hi Kiam-gin. Tetapi
Kiam-gin telah hilang jejaknya, entah lenyap ke mana.
Apakah gadis itu akan mendapat rejeki luar biasa
sehingga mampu memperoleh ilmu silat yang sakti
sehingga akan menjadi rintangan hubungannya (Siumey) dengan Gak Lui? Adakah ia harus harus membagi
cinta kepada gadis itu
Tiba2 Gak Lui batuk2 pelahan dan berseru getun:
Ah, kulupa untuk menanyakan sebuah soal penting
kepada Se Bun sianseng!
Siu-mey tersadar dari
menyanggapi: Soal apa?

lamunan

dan

cepat

Pedang yang kubawa ini adalah pedang Pelangi


pusaka pemberian Ceng Ki totiang dan partai Bu-tongpay. Beliau minta tolong kepadaku supaya mencarikan
seorang pandai besi yang jempol untuk merobah bentuk,
pedang yang pendek itu menjadi pedang panjang. Tak
bertanya pada Se Bun Sianseng, bukankah berarti
menyia-nyiakan kesempatan yang bagus ........
221

Ah, kesempatan selalu masih ada. Tetapi engkau


harus ingat akan urusan Ceng Suan totiang dari Bu-tongpay yang turun gunung itu. Saat ini mereka sedang
terancam bahaya. Jika mengembalikan pedang itu
kepadanya, berarti engkau membantunya dan berarti
takkan menyia-nyiakan harapan Ceng Ki totiang.
Dalam waktu bercakap-cakap itu keduanya sudah
berjalan cukup jauh. Gak Lui sejenak berpaling ke arah
guha rahasia kediaman mendiang bibi gurunya. Selesai
lepaskan tatapan mata yang terakhir, cepat2 ia lanjutkan
perjalanan lagi.
SETELAH berjam-jam melintasi daerah pegunungan
belantara, akhirnya mereka tiba di tanah datar. Dan pada
saat mereka menyusur sebuah jalan besar, tiba2
diiihatnya seorang lelaki pertengahan umur sedang
berdiri di bawah sebatang pohon rindang. Orang yang
dandanannya seperti orang desa itu rupanya sedang
menunggu sesuatu. Tetapi dari sikapnya, orang itu
seperti seorang yang memiliki kepandaian ilmusilat.
Cepat sekali Gak Lui dan Siu-mey melintas di samping
orang itu. Tiba2 orang itu berpaling dan memandang Gak
Lui dan Siu-mey. Dengan matanya yang tajam dapatlah
Gak Lui mengetahui gerak gerik orang itu.
Diam2 timbul kecurigaannya namun pura2 tidak tahu
dan lanjutkan perjalanan. Sekonyong-konyong orang itu
bersuit nyaring. Dari arah muka segera terdengar
sambutan orang bersuit. Suitan itu- berasal dari arah
hutan. Jelas suitan itu tentulah suatu pertandaan rahasia
dari sebuah gerombolan. Gak Lui berputar tubuh lalu
kembali ke tempat orang itu. Orang itu terkejut dan
menyurut mundur tiga langkah, sandarkan punggung
pada pohon.
Engkau anakbuah partai mana? tegur Gak Lui
222

dengan nada keras. Saat itu Siu-mey pun tiba. Orang itu
makin terkejut sehingga gemetar dan condongkan tubuh
ke arah Gak Lui. Rupanya dia makin ketakutan melihat
Siu- mey. Kini Gak Lui sudah dapat menduga.
Gerombolan jago2 silat yang dikalahkan tempo hari,
tentu sudah menyiarkan berita tentang dirinya dan Siumey. Dan berita itu tentulah suatu tuduhan bahwa dirinya
seorang anggauta gerombolan Topeng Besi. Bahkan
Siu- mey pun dianggap juga sebagai seorang gadis yang
berbahaya. Setelah meneguk air liurnya yang nerocos ke
luar, orang itu menyahut gentar: Aku seorang anggauta
partai Gelandangan.
Partai Gelandangan? Gak Lui menegas. Orang itu
mengiakan.
Partai Gelandangan di daerah selatan dan Partai
Pengemis di daerah utara, merupakan partai golongan
Ceng-pay (lurus). Siapakah nama saudara?
Mendengar ucapan Gak Lui begitu, berkuranglah
rasa takut orang itu. Buru2 ia memberi hormat: Maaf,
aku telah berlaku kurang hormat kepada Gak siau-hiap
dan nona ini. Namaku Tio Cwan, menjabat tugas untuk
menyambut setiap tetamu
Ah...., jangan merendah diri. Tetapi mengapa
saudara begitu tegang sekali tampaknya?
Ini... Tio Cwan tergugu, rahasia partai, aku tak
dapat mengata- kan....
Ah..., rupanya engkau mencurigai aku sebagai kaki
tangan Maharaja sehingga tak mau mengatakan hal itu,
kata Gak Lui.
Memang dalam dunia persilatan tersiar kabar
semacam itu!
223

Hm..., tak apalah. Aku tak mau mendesak mu, kata


Gak Lui, terus berputar tubuh hendak berlalu. Tetapi
tiba2 Tio Cwan mencegah: Siau-hiap, tunggu dulu. Jika
engkau dapat menjawab sebuah pertanyaanku yang tak
berarti, tentu akan kuberitahukan kepadamu.
Katakan!
Apakah sau-hiap mempunyai hubungan dengan
partai Pengemis cabang selatan?
Baik dengan cabang selatan maupun dengan
cabang utara, aku tak punya hubungan. Aneh, mengapa
engkau bertanya begitu?
Kalau tak ada hubungan, itulah yang kami harapkan
karena masa ini partaiku sedang berselisih dengan partai
Pengemis cabang selatan!
Heran Gak Lui mendengar kedua partai yang terkenal
itu sampai saling bentrok sendiri. Tanyanya: Bukankah
ketua partaimu itu......Raja sungai Gan Ka-ik?
Tio Cwan mengiakan.
Kabarnya ilmu pedang dari keluarga Gan itu amat
hebat. Masakan takut pada partai Pengemis cabang
selatan? Dan lagi partai Pengemis itu mempunyai disiplin
keras. Bagaimana mungkin cabang selatan dapat
bertindak sendiri!
Sebagai seorang persilatan yang banyak pengalaman tahulah Tio Cwan bahwa Gak Lui itu seorang
pemuda jujur. Maka hilanglah rasa kecurigaannya
terhadap pemuda itu.
Ah...., mungkin siau-hiap tak tahu. Sesungguhnya
antara partai Gelandangan dengan partai Pengemis itu
tidak saling bermusuhan. Bahwa keduanya saling
membantu. Tetapi sejak ketua mereka meninggal dunia,
224

partai Peingemis itu pecah menjadi dua cabang, utara


dan selatan. Cabang utara masih baik, tapi yang cabang
selatan telah dikuasai oleh dua tokoh yang tak keruan.
Siapakah kedua orang itu?
Yang satu yalah. Pengemis Ular dan yang seorang
Pengemis Ganas. Dengan mengandalkan ilmu silatnya
yang sakti, mereka melakukan perbuatan jahat dimanamana tempat. Bermula karena mengingat hubungan
lama, ketua kami tak mau mencampuri urusan mereka.
Tetapi sekarang malah.....
Kenapa?
Malah dimana-mana
pengacauan mereka!

tempat

kita

menderita

Masakan begitu besar pengaruh mereka?


Karena ketua kami setengahnya sebagai orang
persilatan yang bergerak di perairan dan setengahnya di
daratan. Dan pula masih mengurus pangkalan di perairan
dan di daratan. Dan lagi Kaisar Persilatan Li Liong-ci
itupun menjadi tetua kehormatan dari partaiku. Selama
ini tiada sebuah partai persilatan yang berani
mengganggu partai kami. Tetapi tak terduga-duga, partai
Pengemis cabang Selatan itu sengaja hendak cari
perkara dengan tindakan2 yang menantang. Rupanya
mereka mempunyai backing istimewa ....
O..., Gak Lui mendesus kaget. Ia heran Kaisar
Persilatan Li Liong ci mau menjadi Ketua kehormatan
dari partai Gelandangan. Sungguh suatu hal yang tak
terduga sama sekali. Jika Pengemis Ular dan Pengemis
Ganas berani cari perkara dengan partai Gelandangan,
tentulah mereka mempunyai backing yang kuat. Adakah
backing itu bukannya dari .... Maharaja Persilatan dan
225

gerombolan-nya? Tiba pada dugaan itu cepat2 Gak Lui


mengajukan pertanyaan: Dimanakah partaimu akan
mengadakan pertempuran dengan partai Pengemis
cabang selatan itu?
Ini ... ini ...
Jangan takut. Kehadiranku
merugikan partaimu !

ke

sana

takkan

Di sebuah tanah lapang, kira2 ,10 li jauhnya dari sini


.......
Mendengar itu Gak Lui segera memberi pesan
kepada Siu-mey;
Adik Mey, engkau menyusul pelahan-lahan dan
jangan campur tangan !
Belum sempat Siu-mey menyahut, Gak Lui sudah
loncat beberapa tombak jauhnya. Dengan gunakan ilmu
meringankan tubuh istimewa, ia lari pesat.
Tio Cwan terkejut, serunya kepada Siu-mey; Nona
.... !. Tetapi nona itupun sudah bergerak dan tahu2
sudah berada dua tombak jauhnya. Bagaikan bayangan
ia terus mengejar Gak Lui. Tio Cwan hanya terlongonglongong sambil leletkan lidah.
Beberapa saat kemudian barulah ia bersuit memberi
pertandaan yang kedua kalinya lagi. Di sebuah. tanah
lapang yang luas, tampak dua orang tokoh silat yang
berilmu tinggi, sedang berhadapan. Yang di sebelah
selatan adalah serombongan 9 orang pengemis yang
masing2 memegang tongkat penggebuk anjing.
Pemimpinnya bukan lain adalah Pengemis Ganas.
Seorang tokoh pemimpin partai Pengemis cabang
selatan yang berwajah merah dan memelihara jenggot
runcing. Sedang yang di sebelah utara pun berdiri
226

seorang lelaki berumur 50-an tahun, di belakangnya


berjajar 8 orang jago2 dari partai Gelandangan.
Sambil mengangkat tongkat Pengebuk anjing yang
merupakan senjata dari anakbuah partai Pengemis.
Dengan suara kasar dan bengis ia membentak:
Bagaimana dengan permintaanku supaya kalian mundur
dari setiap pangkalan darat maupun perairan dan
kembali ke tempat kalian masing2. Syarat itu sudah
longgar sekali. Apa yang harus dipertimbangkan lagi.....
Sahut lelaki yang memimpin rombongan anak buah
partai Gelandangan: Bukan aku yang harus
mempertimbangkan sebaliknya engkaulah yang harus
pikir2. Adakah ilmu Pedang- kilat dari keluarga Gan dan
Pukulan Geledek itu, mudah dihina atau tidak!
Ha..., ha..., ha... ! Kukuatir kedua macam medalimu
itu takkan muncul lagi. Jangan lagi hanya ilmu
kepandaian cakar kucing itu sekalipun engkau panggil
Kaisar Li Liong-ci ke mari, partaiku tentu dapat
menghadapinya!
Jago pedang jenggot panjang, yang ternyata
pemimpin partai Gelandangan yakni Gan Ka-ik,
melangkah maju dan berseru keras: Siapa jagomu itu!
Sudah tentu .... Pengemis Ular. Dia akan membawa
12 pengemis Pemain-ular dan beratus-ratus ekor ular
berbisa. Masakan engkau tak tahu hal itu!
Nama Pengemis ular itu telah membuat Gan Ka-ik,
gemetar. Tadi ia telah mendengar suit per-tandaan dari
Tio Cwan, ia duga bala bantuan musuh tentu sudah tiba.
Maka sambil rangkapkan kedua tangannya ke atas, ia
berdo'a ke arah langit: Cousu yang berada di alam baka,
hari ini murid terpaksa melanggar pantangan
membunuh.......
227

Mendengar doa itu, tahulah Pengemis Ganas bahwa


gertakannya tadi tak berhasil. Maka tanpa mempedulikan
tata susila dunia persilatan lagi, ia terus menyerang
dengan tongkat Penggebuk- anjing. Tetapi ilmu pedang
keluarga Gan itu, termasyhur karena kecepatannya.
Sekali kaki jago berjenggot panjang itu menyilang, ia sudah meluncur setengah tombak dan dengan
kecepatan yang luar biasa, ia sudah mencabut pedang
dan membabat tongkat lawan.
Seketika tongkat dan pedang berhamburan merapat
ketat. Dua orang tokoh yang berilmu tinggi, saling
bertempur dengan seru. Masing2 mengeluarkan
kepandaiannya. Cepat lawan tangkas, keras lawan
keras. Ternyata kekuatan keduanya berimbang. Tetapi
dalam hati Gan Ka-ik tetap dibayangi dugaan bahwa bala
bantuan musuh akan segera datang. Pikirannya agak
terpecah memikirkan hal itu. Dan kelengahan itu cepat
digunakan lawan sebaik-baiknya untuk menguasai
permainan.
Dalam 10 jurus, jago she Gan itu terus menerus
mundur sampai tiga langkah. Pukulan Geledek-nya tak
sempat dilepaskan. Saat itu serangan tongkat Pengemis
Ganas makin gencar dan dahsyat. Setapak demi setapak
ia mendesak maju. Wajahnya menyeringai tawa karena
yakin tentu menang. Tetapi pada saat ketua partai
Gelandangan Gan Ka-ik terancam maut, dari jauh
terdengar pula suitan pertandaan. Rupanya dari petugas
partai Gelandangan yang memberitahu bahwa yang akan
datang itu bukanlah musuh. Seketika timbullah semangat
ketua Gelandangan itu. Sret..., sret..., sret..., tiga kali ia
kiblatkan pedangnya.
Setelah berhasil menyisihkan tongkat, tiba2 ia
ayunkan tangan kiri dan bum .... terdengar letupan
228

disusul oleh tubuh Pengemis Ganas yang terhuyunghuyung dua langkah ke belakang. Pengemis Ganas
berkaok-kaok seperti orang gila: Awas, pembalasanku !
Kedelapan
pengemis,
galak
yang
berada
dibelakangnya segera melepas kantong yang tersanggul
pada bahunya, terus ditaburkan. Di udara berhamburan
sinar berkilau-kilauan bercampur dengan suitan yang
mendesing-desing aneh, menuju ke arah rombongan
partai Gelandangan ....
Sebenarnya anak buah partai Gelandangan tadi
sudah hendak bergerak menolong ketuanya yang
tampak terdesak. Tetapi baru mereka hendak bergerak,
rombongan anak buah partai Pengemis telah menabur
senjata rahasia yang terbuat dari bahan peledak.
Pemimpin partai Gelandangan cepat memutar pedang
sambil menghantam dengan tangan kiri. Terdengar
beberapa ledakan keras dari beberapa butir senjata
rahasia yang berhamburan jatuh ke tanah. Juga anak
buah partai Gelandangan serempak lontarkan hantaman
untuk menghalau serangan itu. Tetapi senjata rahasia
dari rombongan partai Pengemis itu amat banyak
jumlahnya sehingga hanya setengahnya yang dapat
dihantam jatuh. Tetapi yang lolos dari hantaman tetap
menyambar sasarannya. Terdengar beberapa jeritan
ngeri dan orang tertahan dari anak buah partai
Gelandangan itu.
Sambil menutup muka, mereka terhuyung-huyung
dan merintih kesakitan. Ketua partai Gelandangan
terkejut dan terpecah perhatiannya. Pipinya, sebelah
kiripun termakan renjata rahasia itu, sakitnya bukan
alang kepalang. Separoh dari mukanya mati rasa
seketika. Cepat ia menampar pipinya sendiri, uh....
seekor kutu yang keras kulitnya hinggap pada pipinya.
229

Cepat ia menarik dan memeriksanya. Ternyata seekor


lalat hijau yang bermulut tajam dan mempunyai sengat
yang sangat keras sekali. Dari warnanya yang agak
kehijau hijauan gelap, tentulah lalat itu yang telah diberi
makanan racun ganas. Sehingga begitu menggigit orang,
orang itu pasti mati.
Melihat
senjata-rahasianya berhasil membuat
rombongan orang partai Gelandangan kacau balau
terhuyung-huyung rubuh ke tanah, Pengemis Ganas
tertawa seram. la nantikan pada saat pemimpin partai
Gelandangan itu juga terhuyung-huyung dicengkam
racun, barulah ia akan -memberi gebukan yang
mematikan.
SAAT ITU jago pedang dari partai Gelandangan
sedang dikerumuni oleh lalat2 beracun sehingga
betapapun ilmu kepandaiannya, namun akhirnya dapat
juga digigit oleh beberapa ekor lalat. Akibatnya,
permainan pedangnya mulai lambat dan orangnya pun
tampak terhuyung-huyung seperti orang mabuk. Tak
lama lagi dia tentu rubuh.
Ha..., ha..., ha...! Biarlah kutambahi dengan sebuah
gebukan agar jangan membuang waktuku!
Pengemis Ganas tertawa iblis lalu melesat ke muka.
Aneh sekali, kawanan lalat beracun itu cepat menyingkir
untuk memberi jalan kepada Pengemis Ganas. Sebatang
tongkat berwarna hitam melayang kearah mata pemimpin
partai Gelandangan yang sudah tak berdaya itu.
Sekonyong konyong dua gelombang sinar pedang
melayang bagaikan meluncur dari langit. Ternyata dua
buah sinar pedang itu berasal dari Gak Lui yang karena
melihat kelicikan serta keganasan si Pengemis Ganas,
tak dapat menahan kemarahannya lagi. Serentak ia
melambung ke udara dan meluncur ke muka pemimpin
230

partai Gelandangan.
Dengan pedang ditangan kanan, ia menangkis
tongkat Penggebuk-anjing dari Pengemis Ganas dan
pedang ditangah kiri diputar melingkar-lingkar. Kawanan
lalat beracun itu tersedot ke dalam lingkar perputaran
pedang. Seperti dihanyut oleh prahara, mereka
berhamburan jatuh beberapa tombak jauhnya keempat
penjuru!.
Mimpipun tidak Pengemis Ganas itu bahwa bakal
muncul seorang bintang penolong bagi pemimpin partai
Gelandangan. Karena munculnya tak terduga-duga, ia
tak keburu menarik tongkatnya dan menghindar lagi.
Tring ... tongkatnya hampir terpental jatuh. Untunglah ia
cepat menyurut mundur lalu berteriak nyaring: Budak,
engkau .....Gak Lui .....?
Benar! sahut Gak Lui seraya tetap memutar
sepasang pedangnya untuk menghalau sisa2 lalat
beracun.
Aku justeru hendak mencarimu !
Heh, memang sudah kuduga begitu!.
Bagaimana engkau tahu .... ?
Dengan mata berkila-kilat Gak Lui menatap pengemis
itu seraya menggertakkan gigi berseru: Manusia
tingkatan semacam engkau hendak mencari aku?
Tentulah engkau mendapat perintah dari si Maharaja!
Oh, aku ..... aku.......
Engkau bagaimana!
Aku bukan!
Kalau menyangkal, kamu akan kugeledah!
231

Apa yang akan engkau geledah?


Apakah engkau mempunyai tanda-tandanya!
Jelas dilihatnya betapa cepat dan deras Gak Lui
memutar pedangnya sehingga kawanan lalat beracun itu
terdampar ke luar. Beberapa ekor lalat yang coba2
berani menerobos lingkaran sinar pedang itu, tentu
hancur seketika. Ilmu permainan pedang Gak Lui yang
luar biasa itu sesungguhnya membuat nyali Pengemis
Ganas pecah. Tetapi dasar seorang licik dan banyak
akal. Cepat dia memperhatikan bahwa dalam serbuan
lalat beracun yang begitu banyak, tak mungkin Gak Lui
berani menghentikan putaran pedangnya. Maka
tertawalah ia menyeringai dan menantang: Kalau mau
menggeledah, silahkanlah..........
Habis berkata ia melolos, kantong lalu dikebutkan
sekeras- kerasnya: Kedelapan pengemis rombongannya
pun segera meniru. Beribu-ribu lalat hijau yang amat
beracun, mendengung dengung diudara. Gak Lui
terkejut, ia tertegun sehingga lingkaran pedangnya
menjadi kecil. Kesempatan itu tak disia-siakan Pengemis
Ganas yang terus dengan cepat menyerang dengan
tongkat penggebuk anjing. Sedemikian hebatnya tongkat
itu melanda pedang Gak Lui sehingga memberi
kesempatan pada berpuluh lalat itu menerobos lingkaran
sinar pedang.
Jago pedang yang memimpin rombongan partai
Gelandangan itu sedang menggeletak di bawah kaki Gak
Lui. Jika pemuda itu mengisar kaki, tentulah pemimpin
partai Gelandangan itu akan dibunuh musuhnya. Tetapi
jika tetap berdiri di situ, dirinyalah yang akan celaka.
Dalam gugupnya, Gak Lui mainkan sepasang pedang
lebih gencar sambil mengeluarkan pandangan matanya
ke sekeliling. Diperhatikan walaupun lalat hijau itu hanya
232

jenis binatang serangga, tetapi ternyata telah dilatih


dengan sempurna. Setiap ke 9 anak buah partai
Pengemis itu bergerak, kawanan lalat itu tentu
menyingkir. Oleh karena saat itu ke 9 pengemis sedang
berjajar-jajar menjadi sebuah lingkaran, kawanan lalat itu
terpaksa menyerbu ke tengah. Melihat keadaan lawan,
timbullah seketika pikiran Gak Lui. Cepat ia mengganti
gaya permainan pedangnya. Dengan pedang Pelangi, la
melindungi tubuh, sedang pedang di tangan kanan tiba2
ditaburkan, kearah salah seorang pengemis yang jauh
dari tempatnya. Huak....., pengemis itu menjerit ngeri,
tubuhnya terhuyung- huyung dan tongkatnyapun terlepas
jatuh. Dadanya tertusuk pedang, tangan meronta-ronta
tetapi tak berani. mencabutnya. Ia kuatkan diri untuk
berdiri tegak tetapi sakitnya bukan alang kepalang.
Dalam pada, itu diam2 Gak Lui kerahkan tenaga-dalam.
Seketika pedang Pelangi memancarkan tenaga-sedot,
menyedot kawanan lalat beracun lekat pada batang
pedang. Kemudian ia arahkan telapak tangan kanan
untuk menyedot pedang yang tercantum pada dada
orang tadi.
Auh..... pedang seperti ditarik ke luar dari dada dan
melayang ketangan Gak Lui. Sedang orang itu menjerit
ngeri dan rubuh bermandi darah. Mendapat hasil,
secepat kilat Gak Lui lancarkan tiga kali serangan. Tiga
sosok tubuh orang partai Pengemis, rubuh di tanah.
Melihat ilmu permainan Gak Lui yang belum pernah
disaksikan. Pengemis Ganas pucat lesi. Segera ia
memberi isyarat dengan tangan, dan dengan sisa kelima
anak buahnya terus melarikan diri kedalam hutan. Kuatir
kalau kawanan lalat itu akan mengamuk anak buah partai
Gelandangan, Gak Lui terpaksa tak mengejar melainkan
menghabiskan sisa kawanan lalat. Setelah itu baru ia
memeriksa luka yang diderita anak buah partai
233

Gelandangan itu. Luka mereka berwarna biru gelap. Dari


lubang luka mengalir darah, merah gelap. Pemimpin
partai Gelandangan mukanya bengkak besar dan tak
dapat berkutik lagi. Sedang lain2-nya pun payah sekali
keadaannya.
Gak Lui teringat, kemungkinan Siu-mey tentu dapat
mengobati luka mereka. Ia memandang ke sekelling
penjuru tetapi tak melihat bayangan nona itu. Akhirnya la
berteriak memanggilnya:
Adik Mey .... !
Ya...,....ya, ...aku datang....... tiba2 dari gerumbul
hutau bambu, muncullah Siu-mey, berlari-larian
menghampiri. Ketika melihat korban2 yang berada di
tanah lapang, ia berseru kaget: Engkoh Lui, partai
Gelandangan kalah
Partai Gelandangan tidak kalah! sahut Gak Lui,
nyatanya
Pengemis
Ganas
itu
curang
dan
mengeluarkan lalat beracun. Orang2 Partai Gelandangan
itu hanya pingsan. Apakah engkau dapat menolong
mereka?
Gadis ular itu segera memeriksa lalat2 yang mati di
tanah. Lalu ia memeriksa luka korban2 itu. Beberapa
saat kemudian ia menghelanapas: Ah..., aku tak tahu
racun apakah yang menyerang korban2 ini...
Engkau tak tahu?
Memang sukar untuk menentukan. Karena
kemungkinan lalat itu diberi makan beberapa macam
racun yang istimewa. Racun. itu harus melalui
pencernaan lalat baru dapat mengeluarkan daya
khasiatnya. Sedang lalat itu sendiri tak sampai mati. Aku
tak dapat cepat2 menentukan jenis racun itu, kecuali .....
234


Kecuali bagaimana?
Kecuali harus mengadakan percobaan beberapa
waktu!
Tetapi sampai pada waktu engkau menemukan jenis
racun itu, mereka tentu sudah mati ...!
Siu-mey hanya geleng2 kepala tak menyahut.
Setelah memandang lagi ke arah korban2 itu, Gak Lui
segera berseru memanggil kepada Tio Cwan. Tak
berapa lama terdengar suitan riuh dari empat penjuru
dan belasan orang yang dipimpin Tio Cwan segera
berlari-larian mendatangi. Gak Lui memberi keterangan
kepada mereka. Tio Cwan menghaturkan terima kasih
lalu menghampiri pimpinannya. Ia sibuk menolongnya
dengan memberi minum pil. Beberapa saat kemudian,
Tio Cwan dan anak buahnya segera hendak mengangkut
mereka.
Hendak engkau bawa kemana? tegur Siu-mey.
Ke markas Tin-ciu!
Berapa lama perjalanannya?
Kira2 tiga hari.
Kurasa tak sempat lagi, tentu terlambat!
Maksud nona .....
Jika obat yang kalian berikan itu benar2 manjur, luka
mereka tentu agak baik. Tetapi jelas warna kulit mereka
masih tetap merah gelap dan darahnya masih bergolak
keras. Tentu hanya dapat hidup 3 hari saja!
Tio Cwan tersadar. Ia menghela napas: Obat itu
adalah obat Pemunah racun buatan, partai kami. Jika tak
235

dapat menyembuhkan, terpaksa harus ke tempat


manapun, kita jalani .... habis berkata anak murid partai
Gelandangan itu terkulai duduk di tanah. Beberapa
airmata menitik turun dari pelupuknya.....
Mendengar ucapan yang penuh keputus asaan dari
Tio Cwan itu, Gak Lui maju dua langkah, seru-nya: Aku
mempunyai sebuah daya, tetapi entah
Silahkan siau-hiap mengatakan! cepat2 Tio Cwan
menyanggupi.
Tadi
ketika
bertempur
dengan
Pengemis
Celandangan,
kuperhatikan
setiap
kali
mereka
menerjang, kawanan lalat beracun itu tentu menyingkir.
Tentulah binatang2 itu takut akan bau yang berlumur
pada tubuh pengemis itu. Tentu dilumuni dengan obat
......
Benar....! tiba2 Siu-mey berseru, mereka tentu
mempunyai obat penawarnya. Engkoh Lui, lekaslah
engkau periksa tubuh mayat mereka!
Gak Lui segera menghampiri tiga mayat pengemis.
Setelah menggeledah dengan teliti, ia berhasil mendapat
dua botol obat bubuk pada setiap kantong mereka.
IA SERAHKAN botol itu kepada Siu mey. Setelah
membauinya, nona itu menerangkan: Botol yang ini
memang berisi dengan bau secerti tubuh mereka. Tetapi
yang botol ini tidak sama. Mungkin obat untuk makanan
lalat itu. Yang ke-satu itu tentulah obat penawar. Tetapi
aku belum yakin benar. Lebih baik kalian sendiri yang
memutuskan.
Setelah menimang beberapa saat, berkatalah Tio
Cwan : Dalam hal ini, akulah yang bertanggungjawab
sepenuhnya. Silahkan nona mengobatinya. Selain itu ....
236

memang sudah tiada harapan lagi !


Siu-mey pun tak mau bersangsi lagi. Ia segera
meminumkan obat itu kepada anak buah partai
Gelandangan. Dengan penuh ketegangan sekalian orang
menunggu perkembangannya. Beberapa saat kemudian,
luka mereka malah membengkak besar dan berwarna
hijau gelap seperti warna lalat itu. Dari lubang lukapun
darah makin memancur deras. Sudah tentu Tio Cwan
dan kawan-kawannya makin gelisah sekali. Bahkan Gak
Lui sendiripun. Juga tak tahan lagi dan berteriak: Celaka
...!
Tetapi Siu-mey tenang2 saja menerangkan : Harap
jangan gelisah! Setelah darah kotor itu mengalir habis,
tentu darah bersih yang mancur. Dan saat itu luka
mereka sembuh. Silahkan saudara2 tunggu saja.
Dengan mata tak berkedip, sekalian anakbuah partai
Gelandangan itupun mengawasi perkembangannya
dengan lekat.
Darah segar...! Darah segar....! tiba2 Tio Cwan
berteriak girang. Dan beberapa saat kemudian, luka
merekapun mulai susut dan mulut mulai mengerang.
Atas permintaan Siu-mey, Gak Lui segera mengurut
tubuh mereka. Begitupun Tio Cwan juga segera
menolong kawan- kawannya yang terluka. Pada saat
membuka mata, pemimpin partai. Gelandangan itu
terkesiap melihat topeng muka Gak Lui dan makin timbul
curiganya ketika melihat punggung pemuda itu
menyanggul pedang pusaka Pelangi.
Gak Lui juga heran melihat sikap orang itu. Tetapi
belum sempat ia, membuka mulut, Tio Cwan sudah
menghampiri pemimpinnya dan kemudian meberi salam.
Kemudian ia menuturkan tentang pertolongan yang
237

dilakukan Gak Lui kepada pemimpin dan anakbuah


partai Gelandangan.
Sambil berbangkit, pemimpin partai Gelandangan itu
segera menghaturkan terima kasih kepada Gak Lui.
Setelah menerangkan tentang Pengemis Ganas yang
melarikan diri, Gak Lui menanyakan nama jago pedang
itu
Aku Raja sungai Cek-kiang Gan Ka-lin.
Oh..., kalau begitu pemimpin partai itu......
Adikku Raja sungai Tiang-kang Gan Ka- ik! Entah
apa sebabnya dalam pertempuran dengan partai
Pengemis ini, Gan pangcu tak mau datang sendiri?
Adikku karena mendengar berita bahwa Kaisar
Persilatan Li Liong-ci muncul di daerah Tionggoan maka
ia pergi mencarinya. Tak terduga selagi adikku pergi itu,
Partai Pengemis telah menggunakan kesempatan untuk
menantang pertempuran ini.
Jika dia ada?
Pengemis Ganas dan gerombolannya itu tentu tak
berani menantang!
Kalau begitu, ketua partai paman itu jauh lebih hebat
dari paman sendiri?
Merah wajah Raja-sungai-Cek-kiang, sahutnya: Dia
pernah ikut belajar ilmusilat dan pedang pada Kaisar
Persilatan. Dibanding dengan kepandaianku .... hh, jauh
lebih kuat!
Oh ..., Gak Lui mendengus heran. Diam2 la ingin
berkenalan dengan ketua Partai Gelandangan yang
semula diduganya orang tua itu tetapi ternyata adiknya.
Siau-hiap, maaf sebelumnya. Ada sebuah hal yang
238

tak dapat kusembunyikan kepadamu ...


Soal apa? Gak Lui heran.
Partai kami mempunyai hubungan rapat dedgan
partai Heng- san-pay. Mereka memberitahu bahwa siauhiap pernah memapas kutung pedang seorang muridnya
dan melukainya. Dan lagi ....
Mengatakan kalau diriku ini seorang anggauta
gerombolan Topeng Besi yang menjadi kaki tangan
Maharaja Persilatan, bukan?
Siau-hiap menerka tepat, kata Gan Ka-lin, untuk
soal itulah maka Heng-san-pay telah mengirim beberapa
anakmuridnya yang tangguh untuk mencarimu!
Kudengar keterangan Se Bun Sianseng. Bahwa
setiap partai persilatan telah menerima surat dari
masing2 murid yang telah lenyap jejaknya itu. Minta agar
ketua partai persilatan yang sekarang ini mengundurkan
diri. Diantara partai yang menerima surat semacam itu,
termasuk Heng-san-pay juga. Nah, mengapa mereka tak
mengurus soal itu dulu tetapi malah mengurus soal lain
yang lebih tak penting?
Hal itu disebabkan karena gerak gerik Maharaja itu
sukar diketahui jejaknya. Sampai sekarang tiada sebuah
partai persilatan yang berhasil menyelidikinya. Oleh
karena itu mereka memutuskan untuk menjadikan siauhiap sebagai kunci petunjuk penyelidikan itu! ' ..
Gak Lui menghela napas, ujarnya:. Menilik
gelagatnya, partai2 persilatan itu masih memberatkan
soal gengsi saja. Dalam soal menyelidiki jejak Maharjja,
terpaksa aku harus berusaha sendiri ...
Apakah siau-hiap juga
permusuhan kepadanya?

mempunyai

dendam

239

Dendam itu sedalam lautan. Aku tak mau hidup,


bersama dia di bawah sinar matahari!
Kalau begitu kenyataannya, segera akan kukirim
berita itu kepada Heng-san-pay. Tetapi apabila di
tengah2 jalan siau-hiap berjumpa dengan tokoh2
persilatan, atau mungkin dengan ketua partai kami, harap
siau-hiap suka bersabar dan mengalah sedikit. Agar
jangan menimbulkan salah faham yang lebih dalam.

240

Aku bukan orang yang tak kenal aturan. Harap Gan


tianglo jangan kuatir. Kurasa kalian perlu beristirahat
maka akupun hendak minta diri.
Tetapi Gan Ka-lin cepat maju memberi hormat Budi
pertolongan -siau-hiap kepada kami, menyesal kami tak
dapat membalas. Tetapi apabila siau-hiap memerlukan
241

bantuan tenaga, aku tentu siap sedia !


Mendadak timbullah suatu pikiran dalam benak Gak
Lui, tanyanya : Aku masih mohon sedikit soal.
Silahkan...!
Kurasa Gan tianglo luas pengetahuan dan banyak
pengalaman dalam dunia persilatan. Apakah Gan tianglo
tahu siapakah ahli pembuat pedang yang ternama?
Mata Gan Ka-lin beralih memandang pedang Pelangi
yang di.bawa Gak Lui. Tanyanya: Apa siau-hiap hendak
merobah bentuk pedang pendek siau-hiap ?
Benar, sahut Gak Lui, tetapi agaknya Gan tianglo
tahu pedangku, ini ! Dengan wajah berseri berserulah
Gan Ka-lin.: Memang aku kenal sekali akan pedang
siau-hiap. itu !
Oh ... , Gak Lui mendesis.
Pedang itu adalah pusaka milik Bu-tong-pay.
Empatpuluh tahun yang silam. Empat Ksatrya dari Empat
Durjana telah bertempur di Lembah Jiwa-tenteram untuk
memperebutkan buah Ban-lian- leng-ci. Pedang itu telah
dipatahkan oleh ke Empat Ksatrya itu. Kemudian jatuh di
tangan Kaisar-persilatan Li Liong-ci dan terjadi pula
persekutuan Bu tong-pay dengan tujuh partai persilatan
besar. Hal itu sangat menggemparkan dunia persilatan.
Oleh karena partai kami mempunyai hubungan erat
dengan Kaisar persilatan Li Liong-ci, maka akupun dapat
mengenali pedang itu. Hanya....
Mengapa ?
Kaisar mengembalikan pedang itu kepada Bu-tongpay. Sejak saat itu timbullah sebuah kepercayaan.
Kepercayaan apa?
242

Bahwa sekali pedang itu muncul, dunia persilatan


tentu akan timbul pembunuhan berdarah !
Oh..., Gak Lui mendesah, lalu berkata dengan nada
serius:
Pedang itu diserahkan kepada-ku karena Ceng Ki
totiang minta tolong aku. Dengan pesan bahwa pedang
ini hanya boleh digunakan untuk membunuh orang jahat
saja. Tak nanti membunuh orang yang tak berdosa.
Raja-sungai-Ce-kiang
mengangguk:
Kudoakan
engkau akan dapat mengikuti jejak Kaisar Persilatan,
mencapai tataran ilmusilat yang tinggi dan membasmi
kaum jahat!
Gak Lui menghaturkan terima kasih lalu mendesak
supaya orang tua itu segera memberitahukan nama dari
ahli pembuat pedang yang ternama itu. Setelah
merenung beberapa jenak, berkatalah Raja-sungai-Cekiang Gan Ka-lin: Yang kuketahui hanyalah seorang Bok
Kiam-su. Seorang ahli pembuat pedang yang boleh
dikata tiada bandingannya di dunia persilatan... Tetapi
entah bagaimana sejak 18 tahun yang lalu, dia sengaja.
menjadi orang bisu tuli, tak mau membuat pedang lagi!
Kalau begitu berarti tiada harapan? kata Gak Lui.
Tetapi sesaat kemudian ia menimang-nimang:
Mengapa orang she Bok itu pura2 menjadi orang bisu
tuli? Dan mengapa justeru 18 tahun lamanya? Adakah
dia mempunyai hubungan dengan persoalan balas
dendam yang hendak kulakukan ini?
Maka bertanyalah ia kepada Raja-sungai Gan Ka-lin:
Apakah sebabnya ia pura2 menjadi orang bisu tuli?
Hmmm....., entah apa sebabnya. Tetapi jika engkau
benar2 hendak mencarinya, aku mempunyai cara...!
243

Setelah Gak Lui menyatakan bahwa ia tetap akan


mencari ahli pembuat pedang itu maka Gan Ka-lin
segera memberitahukan caranya: Pertama kali,
beritahukan
kepadanya
bahwa
akulah
yang
mengenalkan padamu. Jika dia tetap tak mengacuhkan,
panggil saja namanya Bok Tiat-san. Namanya yang aseli
itu hanya kami berdua saudara yang tahu. Dan nama itu
merupakan suatu tanda rahasia (kode) Tak mungkin dia
tak menghiraukan lagi.
Kalau dia tetap menolak .
Kukira tidak jawab Gan Kan-lin, karena didunia ini
terdapat dua orang yang benar2 mencintai pedang. Yang
seorang adalah si pemakai. Dan yang seorang si
pembuat pedang. Apalagi pedang Pelangi yang engkau
bawa itu, memang sebuah pusaka dunia persilatan
Gak Lui menghaturkan terima kasih dan setelah
menanyakan letak tempat orang she Bok itu, ia segera
ajak Siu-mey lanjutkan perjalanan. Sejak mempelajari
ilmu meringankan tubuh Angin-meniup-seribu- li, lari Gak
Lui makin pesat sekali. Menurut tingkat dunia persilatan
dia sudah melebihi seorang jago kelas satu. Untunglah
karena Siu-mey memiliki ilmu tenaga-dalam yang luar
biasa, maka iapun dapat mengikuti kekasihnya. Apabila
pada saat Gak Lui lupa dan secara tak sadar
mempercepat larinya, Siu-mey tetap dapat membaui
jejaknya dan menyusul. Demikianlah selama dalam
perjalanan mereka tak menemui suatu halangan dan
beberapa hari kemudian tibalah mereka ketempat yang
dituju. Diatas gunung itu hanya terdapat sebuah rumah
kayu. Dihalaman rumah itu terdapat sebuah perapian
besi dan penempaan serta beberapa alat untuk membuat
pedang. Tetapi benda serta alat2 itu sudah tertutup debu
dan berkarat. Menandakan kalau sudah beberapa tahun
244

tak digunakan. Saat itu orang tua yang rambut dan


jenggotnya sudah putih, sedang duduk , diserambi sambil
memandang kearah awan yang ber-arak di langit.
Rupanya dia tak tahu akan kedatangan Gak Lui bersama
Siu-mey.
Mohon tanya, adakah paman ini yang bernama Bok
Kiam-su? tegur Gak Lui. Orang tua itu diam saja.
Hm, pura2 menjadi orang bisu tuli, tentu benar dia,
pikir Gak Lui. la segera memberi hormat: Aku Gak Lui,
atas perantara Raja- sungai Ce-kiang sengaja
menghadap Bok Tiat-san ciapwe kemari .....
Sengaja Gak Lui menekan kata Tiat-san dengan
nada keras dan nyaring. Orang itu cepat berpaling muka
dan menjawab dingin: Kalau pulang, tolong sampaikan
salamku kepada kedua saudara Gan itu Tentang urusan
pedang, harap jangan dibicarakanl
DIAM-DIAM GAK LUI GELI. Segera ia melolos
pedang Pelangi. Ditimpah oleh sinar matahari, pedang
yang hanya dua inci panjangnya itu, memancarkan sinar
hijau bening. Lebih jernih dari air telaga. Mata Bok Kiamsu berkilat tak berkedip memandang pedang itu. Tetapi
wajahnya tetap mengerut dingin. Baik Gak Lui maupun
orang she Bok itu sama2 diam tak bicara. Mereka
menunggu dan menunggu. Bocah apa yang ditunggu
...... Setengah jam kemudian, Siu-mey tak sabar lagi.
Hidungnya mulai mengembang kempis. Tetapi Bok Kiamsu tetap mematung. Rambutnya ber-derai2 tertiup angin.
Matanya sebentar memejam dan merentang sambil
menggigit gigi kencang2. Gak Lui kicepkan ekor mata
lalu menggandeng tangan Siu-mey terus diajak pergi.
Engkau menang! tiba2 Bok Kiam-su menjerit
tegang. Gak Lui dan Siu-mey berhenti dan berpaling.
245

Wajah kedua anakmuda itu berseru tawa. Jenggot putih


dari Bok Kiam-su menjungkat naik dan mukanya
menenggadah ke langit seraya tertawa nyaring: Silahkan
kalian berdua duduk di dalam pondokku. Tadi aku kurang
menghormat kedatangan kalian.
Gak Luipun mengucapkan kata2 merendah dan minta
maaf karena mengganggu orangtua itu. Ketika duduk di
dalam ruangan, ternyata perbot rumah amat sederhana
sekali. Sunyi senyap tiada lain penghuninya lagi. Sebagai
seorang anak perempuan, Siu-mey berseru heran:
Paman, engkau sudah begini tua masakan hanya
hidup seorang diri?
Dengan hati bersyukur, Bok Kiam-su gelengkan
kepala: Disinilah tempatku dahulu menempa pedang.
Anak-anakku tinggal di desa. Aku hanya mempunyai dua
orang murid. Tetapi merekapun tak tinggal di sini.
Di mana?
Kedua muridku itu berganti haluan menjadi pemburu.
Tinggal tak jauh dari sini. Setiap hari mereka yang
mengantar makanan untukku!
Mendengar penuturan tuan rumah dan cara
hidupnya, yang tak mau campur gaul dengan orang itu,
Gak Lui tergerak hatinya hendak bertanya. Tetapi belum
ia membuka mulut, tuan rumah sudah mendahului bicara
lagi.
Bolehkah kupinjam sebentar
saudara itu? kata tuanrumah.

pedang

Pelangi

Adalah untuk pedang ini maka aku sengaja


berkunjung ke mari untuk meminta petunjuk, sambil
berkata Gak Lui melolos pedang Pelangi dan dengan
kedua tangann ia serahkan kepada Bok Kiam-su.
246

Pedang bagus...! Sungguh bagus...! 'tak henti2-nya


orangtua itu memuji seraya mengusap batang pedang
Pelangi. Tiba2 ia menghela napas: Sayang pedang ini
kutung separoh
Apakah paman dapat membuatnya baru lagi ?
Aku?
Aku bersedia membayar dengan batu mustika yang
mahal. Kalau perlu lain barang lagi, silahkan
mengatakan.
Bok Kiam-su menghela-napas dalam, ujarnya:
Seumur hidupku kuabdikan diri pada ilmu pembuatan
pedang. Pedang pusaka yang tiada keduanya di dunia
itu, jangankan aku disuruh membuat, sedang untuk
melihat saja, darahku sudah bergolak keras, hatiku
seperti dikili-kili
Kalau begitu paman meluluskan?
Sayang aku tak dapat meluluskan!
Mengapa?
Hal ini .....lebih baik aka .: : *alc hilang.
Teringat Gak_ Lui akan kelakuan aneh dari orangtua
yang telah menyembunyikan diri dan bertapa membisu
selama 18 tahun. Diam2 timbullah kecurigaannya. Tetapi
demi melihat wajah tuanrumah yang rawan dan rambut
serta jenggotnya yang sudah putih semua itu, Gak Lui tak
enak untuk mendesak. Tiba2 Siu-mey mengambil
segenggam permata, diletakkan di hadapan orangtua itu:
Paman, sedikit pemberian yang tak berarti ini harap
paman terima, Kami memerlukan pedang itu untuk
melakukan balas dendam. Kecuali paman rasanya pada
lain orang yang mampu.
247

Nona mempunyai dendam apa?


Ayahku telah hilang pada l8 tahun yang lalu. Dan
ibuku karena sakit memikirkannya, pun meninggal.
Sekarang aku ikut pada engkoh Lui mencari ayah .... aku
minta dia melindungi diriku dan dia memerlukan pedang
...:
Bagaimana dengan saudara sendiri? tanya Bok
Kiam-su kepada Gak Lui.
Akupun juga mempunyai dendam sedalam lautan.
Dihitung- hitung sampai hari ini, peristiwa itupun sudah
berlangsung 18 tahun lamanya!
Oh...! Bok Kiam-su tendesuh. Sepasang alisnya
mengerut tegang.
Jarak waktu itu kebetulan sekali sama dengan
tindakan paman menghentikan pekerjaan membuat
pedang itu ! kata Gak Lui pula.
Kalau..... begitu silahkan saudara mengatakan asalusul perguruan mu!
Aku sudah mengucap
mengatakan hal itu.

ikrar

maka

tak

dapat

Kalau begitu, maka akupun tak dapat membantu !


kata tuan rumah.
Ah..., mengapa paman........ baru Siu-may berkata
begitu, orangtua itu sudah menukasnya: Aku sudah
mengucapkan sumpah dan sebagai jaminan adalah jiwa
keluargaku. Untuk selama-lamanya aku takkan membuat
pedang lagi !
Jiwa seluruh keluarga ?
Ya...!
248

Kepada siapakah paman mengucapkan sumpah itu


? Mengapa begitu berat ? Tampak Bok Kiam-su meragu.
Adik Mey, karena paman Bok mempunyai keberatan,
janganlah engkau kelewat mendesaknya, buru2 Gak Lui
mencegah Siu- mey.
Gak siau-hiap, kata Bok Kiam-su, tadi engkau
mengatakan bahwa waktu 18 tahun itu ternyata suatu,
waktu yang kebetulan sekali. Apakah maksudmu ?
Apakah dalam dunia persilatan telah terjadi sesuatu ?
Apakah paman tak mendengar tentang sepak
terjang seorang tokoh persilatan yang menamakan
dirinya sebagai Maharaja dan berusaha hendak
menghancurkan kaum Ceng-pay ?
Sudah belasan tahun aku tak campur urusan dunia
luar. Harap engkau suka menuturkan!
Gak Lui segera menceritakan rencana sepak terjang
Maharaja yang mengganas tokoh2 persilatan golongan
Ceng-pay : Maharaja itu hendak berusaha menguasai
dunia persilatan!
Mendengar dunia persilatan sedang dilanda
malapetaka banjir darah, gemetarlah tubuh, orang tua itu.
Apakah engkau pernah melihat bagaimanaujud si
Maharaja itu? tanyanya.
Dalam dunia ...persilatan tiada seorangpun yang
pernah melihatnya!
Apakah tak punya ciri2 pengenal?
Dalam pengertian Gak Lui yang disebut Maharaja itu
tentulah si Hidung Gerumpung. Maka menyahutlah ia:
Kurasa dia mempunyai dua buah ciri
Bagaimana? Bok Kiam-su mendesak tegang.
249

Pertama, hidungnya...... hilang terpapas pedang!


Hmm..... mata Bok Kiam-su berkicup-kicup seperti
menggali ingatan akan seseorang.
Kedua, pada pedangnya terdapat tanda Palang
Oh .....! Bok Kiam-su berteriak kaget. Tubuhnya
menggigil keras: Kiranya dia..... !
Siapa? Bok Kiam-su menarik napas beberapa kali,
mengertak gigi berkata : Mengapa panjang ceritanya.
Tetapi pokoknya, karena hal itulah maka aku sampai tak
membuat pedang dan bertapa bisu! !
Dapatkah paman menceritakan dengan jelas?
Delapan belas tahun yang lalu, datanglah kepadaku
seorang lelaki berkerudung muka. Dengan upah 10 tail
mas, ia minta padaku supaya membikin betul
pedangnya!
Bukankah pedangnya terdapat tanda Palang? tukas
Gak Lui.
Benar!
Menurut
pengetahuanku,
tanda
itu
merupakan bekas cacad karena digurat oleh ujung
pedang seorang tokoh sakti !
Apakah paman menanyai namanya?
Tidak
Wajahnya ?
Tak kelihatan jelas. Tetapi berani kupastikan dia tak
mempunyai hidung!
Bagaimana dapat memastikan?
Seorang yang tak berhidung, jika bicara tentu
sumbang suaranya. Tetapi dia tak begitu maka
250

kupastikan tentu tak cacad hidungnya !


Lalu mengapa paman mengangkat sumpah diatas
jaminan seluruh keluarga paman ?
Setelah kubikin betul pedangnya, tiba-tiba kulihat
wajah orang itu memancar sinar pembunuhan. Jelas dia
mengandung maksud untuk membunuhku agar
rahasianya tertutup. Demi keselamatan keluargaku,
terpaksa tanpa diminta aku segera mengikrarkan sumpah
itu.
Apakah dia menerimanya?
Ah, mana begitu mudah
Lalu dengan cara
menghalaunya pergi?

bagaimana

paman

dapat

Kuperingatkan kepadanya bahwa akulah satu2nya


ahli pembuat pedang yang tiada tandingannya di dunia
persilatan. Jika lain kali terjadi peristiwa semacam itu,
bukankah dia tak dapat mencari aku lagi?
Mendengar uraian itu, timbullah kecurigaan Gak Lui.
Ahli pembuat pedang itu mengatakan bahwa tetamunya
berkerudung muka itu datang pada musim dingin. Tetapi
tempo hari ayah angkat Gak Lui yakni Pedang Aneh
telah dicelakai orang sebelum musim dingin, Jika tetamu
aneh itu benar yang mencelakai Pedang Aneh, tentulah
dia seorang yang tak mempunyai hidung. Tetapi menurut
keterangan Bok Kiam-su, orang itu masih utuh
hidungnya. Ah, apakah pembunuh itu telah menyuruh
lain orang untuk mendatangi Bok Kiam-su? Tidak
Pembunuh itu seorang manusia julig yang banyak curiga.
Tentu dia tak mau membocorkan rahasia dirinya kepada
orang lain. Demikian benak Gak Lui membayangkan
segala kemungkinan pada diri musuh yang misterius itu.
251

Tetapi analisanya, belum menemui jawaban. Melihat


pemuda itu termenung diam, ahli pembuat pedang itu
segera berdiri: Gak siau-hiap, kini barulah aku menyesal
atas tindakanku dahulu. Karena mengingat kepentingan
peribadi maka aku sampai menutup peristiwa ini.
Sekarang sekalipun harus mempertaruhkan jiwa
keluargaku tetapi aku tetap akan membuat pedang
untukmu.
Tetapi aku tak jadi membuatkan!
Mengapa?
Aku tak mau mengorbankan keluarga paman!
Tetapi kuharapkan engkau dapat membasmi
kejahatan dan kedua kalinya engkau harus ingat. Kecuali
aku, tiada lain orang yang mampu membuat pedang itu!
Tetapi dengan tegas Gak Lui menolak: Tak peduli
paman mengemukakan alasan apapun juga, tetapi aku
tetap tak mau membuatkan pada paman!
Habis berkata tiba2 ia gunakan tenaga isap dari
pukulan sakti Algojo-dunia, menyedot kembali pedang
Pelangi ditangan Bok Kiam-su. Orangtua itu hendak
mencekal kencang pedang Pelangi tetapi sudah
terlambat. Pedang itu melayang ketangan Gak Lui lagi.
Siau-hiap, mengapa engkau berkeras begitu ....
teriak Bok Kiam-su gugup.
Putusanku sudah tetap, terima kasih atas kesediaan
paman! sahut Gak Lui.
Apakah engkau hendak melewatkan kesempatan
satu-satunya ini?
Kurasa dalam dunia yang begini luas, tentu masih
ada lain orang yang dapat membuatkan pedang itu.
252

Kalau tidak biarlah kesempatan ini hilang!


Tergerak hati Bok Kiam-su atas keluhuran budi
pemuda itu. Setelah termenung sesaat, tiba-tiba ia
bertepuk tangan Ada...! Ada....!
Ada apa?
Aku teringat akan seorang ahli lain!
Siapa?
Dia adalah tokoh persilatan ternama Pukulan sakti
Tek Thay!
Bagaimana keahliannya?
Tidak kalah dengan aku !
Dimana tempat tinggal Tek lo-cianpwe itu?
Kabarnya bersembunyi digunung Pek-wan-san.
Baru tuan rumah mengucap begitu, tiba2 dari luar
rumah terdengar derap kaki belasan orang mengepung
rumah itu. Menyusul terdengar suara orang membentak
marah: Gak Lui, hayo keluar!
Gak Lui terkejut dan cepat melesat keluar. Dilihatnya
seorang paderi tua bertubuh gemuk tegak berdiri di
tengah halaman. Di sampingnya terdapat dua orang
paderi pertengahan umur. Sedang di sekeliling rumah
Bok Kiam-su, telah dikepung ketat oleh belasan paderi
dengan senjata terhunus.
GAK LUI maju tiga langkah, berseru nyaring:
Siapakah gelaran dari kuil-taysu?
Aku Hwat Hong ketua perguruan Heng-san-pay
.......... ,
Oh..., kiranya Hwat Hong taysu, maaf.... aku berlaku
253

kurang hormat Gak Lui memberi hormat. Suatu hal yang


membuat paderi ketua Heng-san-pay itu terkesiap karena
tak menduga hal itu.
Mohon tanya, apakah keperluan taysu mencari
aku? tanya Gak Lui pula.
Engkau telah memapas kutung pedang dari Tio-lamsan, seorang murid Heng san-pay dan dua kali
melukainya. Bukankah engkau hendak menantang Hengsan-pay?
Soal memapas pedang, untuk saat ini belum dapat
kuterangkan alasannya. Sedang mengenai pertempuran
dalam paseban tempat arwah Heng-san, sama sekali tak
kuduga akan terjadi begitu. Sedikitpun aku tak
mengandung maksud memandang rendah Heng-sanpay!
Heh..., heh..., heh..., . Hwat Hong taysu mengekeh
marah. Sepasang matanya ber -kilat2 bengis, sungguh
tajam benar...mulutmu! Diam2 kalian berani mengirim
surat kaleng untuk memaksa Heng-san-pay supaya
mencopot ketuanya yang sekarang. Masakan masih
berani-mengatakan tidak memandang rendah Heng-sanpay!
Taysu keliru .....
Keliru?
Yang menyuruh taysu diganti itu adalah anak buah
Maharaja Persilatan. Sama sekali tak ada hubungannya
dengan diriku !
Tutup mulut! Jelas engkau ini anggauta gerombolan
Topeng Besi, masakan masih berani menyangkal!
bentak Hwat Hong taysu.
Diam2 Gak Lui mengeluh Celaka! Dia belum
254

menerima surat si Raja-sungai-Ce-kiang. Aneh, mengapa


dia dapat mencari ke sini ?
Taysu, katanya, apakah engkau belum menerima
surat dari partai Gelandangan ?
Sudah tentu menerimanya. Kalau tidak masakan
kami dapat mengejar kemari !
Lalu mengapa taysu masih salah faham?
Hwat Hong taysu melangkah maju dua tindak,
katanya dengan bengis : Surat Raja sungai Ce-kiang itu
mengatakan jelas bahwa engkau ini memang kaki tangan
Maharaja!
Hai ...! Gak Lui tergetar hatinya. Ia percaya Rajasungai-Ce-kiang itu bukan manusia rendah. Tetapi
mengapa menulis surat semacam itu ? Gak Lui benar2
tak mengerti ! Melihat sikap pemuda itu gelisah, Hwat
Hong taysu berteriak :
Gak Hui, Kak Hoan siaplah menerima perintah ........
Tunggu dulu ! cepat Gak Lui mencegah kedua
paderi pertengahan umur yang hendak menyerangnya,
dalam soal itu terdapat tipu muslihatnya !
Yang menggunakan tipu muslihat adalah engkau
sendiri, budak hina!
Gak Lui kerutkan dahi dan menyahut dingin: Jangan
terburu mengeluarkan emosi, taysu ! Sebelum tangan
berbicara, baiklah mulut dulu yang berbicara. Agar
janganlah sampai kawan menjadi lawan, lawanlah yang
akan tertawa gembira !
Hwat Hong taysu menghela napas dan merenung
beberapa jenak. Pada lain saat ia berkata: Karena kamu
tak mau berkelahi, mungkin mempunyai alasan. Sebagai
255

penganut Agama Buddha yang menjunjung budi asih,


bukanlah menjadi tujuanku untuk membunuh
Ah...., taysu benar2 berpandangan dalam
Tetapi ada sebuah syarat!
Silahkan mengatakan.
Engkau harus ikut aku ke dalam kuil kami di Hengsan !
Keperluan ?
Tinggal dulu dalam kuil. Setelah Maharaja dan
gerombolannya terbasmi, barulah kami pertimbangkan
dirimu !
Sudah sejak semula Gak Lui menekan perasaannya.
Tetapi sewaktu mendengar omongan besar dari paderi
itu, meluaplah darahnya.
Syarat taysu itu terlalu kelewatan !
Engkau menolak ? Hwat Hong menegas.
Kenyataannya memang tak mungkin !
Ah, kiranya nyalimu kecil sehingga tak mau berkelahi
!
Gak Lui menghela napas pelahan, serunya : Taysu
terlalu berkelebihan mencurigai orang. Terpaksa aku
menentang!
Oh...., Aku bukanlah manusia yang senang
menindas orang. Asal engkau mampu lolos dari ilmu
pedang Mi-to-kiam-hwat, urusan ini kuanggap selesai !
Karena pembicaraan telah mencapai ketegangangan,
suasanapun menjadi panas: Tiba2 telinga Gak Lui
terngiang suara dari Siu-mey yang menggunakan ilmu
256

Menyusup suara: Engkoh Lui, paman Bok meminta


kalian cari tempat lain. Dan kalau bertempur cukup asal
sudah kena tertutuk saja. Jangan sampai mengucurkan
darah!
Kuatir akan membuat kaget Bok Kiam-su dan Siumey dan menerima peringatan ahli pembuat pedang itu
supaya jangan sampai melukai tokoh Heng san-pay,
maka Gak Lui menatap Hwat Hong taysu. Karena ilmu
Menyusup suara yang digunakan Siu-mey itu bukan
seperti ilmu menyusup suara, yang biasa terdapat dalam
kalangan persilatan, maka Hwat Hong taysupun dapat
menangkap pembicaraan Siu-mey tadi.
Memandang ke sekeliling penjuru, paderi itu
menunjuk ke arah barat: Baik, mari kita ke lembah
gunung itu!
Setelah pasang kuda2, Gak Lui terus gunakan ilmu
Meringankan tubuh, melesat ke lembah sebelah barat.
Melihat gerakan pemuda itu, diam2 terkejutlah Hwat
Hong taysu. Rencananya untuk menyuruh beberapa
anak buahnya turun tangan, dihapus seketika. Kemudian
ia mengajak rombongannnya untuk menyusul Gak Lui.
Gak Lui memilih sebuah tempat yang datar dan
menunggu dengan siap siaga. Tak lama Hwat Hong
taysupun datang. Dengan pedang terhunus, ia berseru:
Engkau yang menyerang dulu!
Lebih baik taysu dulu, silahkan! sahut Gak Lui.
Heh..., heh..., aku mengerti engkau memang
mempunyai ilmu permainan yang luar biasa. Keluarkan
saja seadanya! seru Hwat Hong.
Gak Lui pelahan-lahan mulai merabah tangkai
pedangnya. Belasan jago2 Heng-san-pay mengawasi
gerak gerik pemuda itu dengan penuh perhatian.
257

Suasanapun hening2 tenang. Kecuali deru angin


pegunungan, sekalipun ada sebatang jarum jatuh, tentu
akan kedengaran.
Tring .... ! Bagaikan kilat menyambar, pedang Hwat
Hong taysu segera menabur Gak Lui. Melihat serangan
yang begitu dahsyat serta cepat, diam2 Gak Lui terkesiap
juga. Saat itu baru ia membuktikan bahwa ilmu pedang
Mi-to-Kiam-hwat memang benar2 luar biasa. Gak Lui tak
berani berayal. Cepat ia mencabut pedang dan
menangkis. Terdengar dering yang tajam. Secepat
pedang saling menyurut kebelakang, terus maju
berhantam pula.
Hwat Hong taysu terkejut karena merasa kecele atas
penilaiannya terhadap kepandaian Gak Lui. Maka
timbullah tekadnya untuk mengadu jiwa dengan pemuda
itu. Begitulah keduanya segera saling kerahkan tenaga
dalam. Hwat Hong taysu dengan ilmu pedang Mi-to-kiam
melancarkan serangan yang kedua kalinya, menusuk
dada Gak Lui. Serangan paderi itu didasari dengan
tenagadalam yang kuat dan merupakan ilmupedang
yang telah diyakinkan dengan susah payah selama bertahun2.
Sambaran pedang yang berhawa dingin itu dapat
menembus dada Gak Lui. Tetapi kebalikannya Gak Lui
malah gembira. Ia mengharap lawan segera merapat
maju agar ia dapat melancarkan pukulan Algojo Dunia
jurus Memetik-bintang- menjolok-bulan untuk memukul
jatuh pedang paderi itu.
Seketika itu Hwat Hong rasakan pedangnya seperti
melekat pada pedang lawan, sukar ditarik kembali.
Tanpa banyak pikir lagi, ketua Hengsan-pay itu segera
gerakkan tangan kiri menghantam dengan pukulan Hi-mikang. Sebuah ilmu pukulan tenaga dalam aliran kuil. Gak
258

Luipun mengalami kesukaran. Ia rasakan tangan orang


seberat besi sehingga pedangnya sukar dibawa berputar.
Bahkan paderi itu masih mampu mendesakkan
pedangnya maju. Suatu tenaga sakti yang belum dialami
Gak Lui selama menghadapi ber-puluh2 lawan. Dan yang
lebih hebat lagi, ketua Heng-san-pay itu masih mampu
melancarkan pukulan tangan kiri kearah dadanya.
Terdengar letupan kecil ketika kedua tangan mereka
beradu. Pukulan maut Hwat Hong taysu dapat ditahan
dengan ilmu tenaga-dalam penyedot oleh Gak Lui.
Ternyata kekuatannya berimbang. Hwat Hong taysu
makin kalap. Dengan menggerung keras laksana seekor
singa, ia menyerang dengan segenap tenaganya.
Pedang dan tinju dilancarkan sederas hujan mencurah.
Gak Lui yang sudah dipesan Bok Kiam-su, tak mau
bertempur mati2-an. Dengan tenang ia mewgganti ilmu
pedangnya dengan jurus Cenderawasih-merentangsayap. Lingkaran sinar pedangnya mengembang sampai
setombak luasnya. Sepintas pandang memang mirip
dengan burung Cendrawasih yang sedang merentang
sayap .......
Sesaat pecahlah suatu pertempuran dahsyat yang
bermutu tinggi. Debu berhamburan, daun2 berguguran
karena dihambur deru angin kedua lawan, yang sedang
bertempur sengit itu. Cepat sekali dibawah sorot mata
rombongan murid Heng-sam-pay yang tercengangcengang cepat sekali pertempuran itu sudah mencapai
100 jurus. Saat itu keduanya mulai lambat gerakannya.
Wajah Hwat Hong merah padam, kepala mandi keringat,
Sedang Gak Luipun berkembang kempis dadanya.
Lingkaran pedangnyapun makin menyurut sempit. Tetapi
kedua-duanya mempunyai kesulitan untuk menarik diri.
Hwat Hong taysu menjaga gengsinya sebagai seorang
259

ketua Heng-san-pay. Disaksikan oleh anakmuridnya, ia


malu kalau sampai kalah dengan seorang anak muda
saja. Gak Lui memikirkan keselamatan Siu-mey dan Bok
Kiamsu, terpaksa ia harus melayani serangan lawan.
Akhirnya pertempuran itu menjurus ke suatu
pertempuran mengadu jiwa. Salah satu tentu akan mati
atau paling tidak tentu terluka berat.
Dalam suatu kesempatan setelah dapat meng empos
napas untuk mengerahkan tenaga-dalam, Hwat Hong
taysu segera lancarkan serangan pedang dan pukulan.
Serangan itu merupakan pengerahan tenaga-dalamnya
yang terakhir. Melihat itu Gak Luipun terpaksa menangkis
dengan sekuat kemampuannya. Bum ... letupan dan
erang tertahan segera terdengar, disusul dengan dua
sosok tubuh yang terhuyung-huyung mundur. Huak ...,
Hwat Hong taysu muntah darah
Karena dia cepat gunakan cara pinjam tenaga unt
mengembalikan tenaga, lukanyapun agak ringan. Tetapi
tak urung, darahnya meluap, mata kunang-kunang.
Ketua Heng-san-pay itu menggertak gigi. Bulat sudah
tekadnya untuk mengadu jiwa dengan anak muda itu.
Kakinyapun mulai bergerak maju. Pun saat itu Gak Lui
benar2 naik darah.
Sepasang matanya memancar sinar dendam. Ia lupa
akan pesan Bok kiam-su tadi. Yang ada dihadapannya
hanya seorang musuh yang harus dihancurkan. Pada
saat kedua fihak sedang dirasuk setan hendak
melampiaskan kemarahannya, sekonyong-konyong dari
arah puncak terdengar seruan meraung nyaring :
Berhenti !
Setitik benda hitam meluncur dari arah puncak
sebelah barat cepat sekali benda itu meluncur turun
kearah tempat pertempuran. Gak Lui terkejut ketika
260

mengetahui bahwa benda hitam merupakan sesosok


tubuh manusia. Hampir ia tak percaya bahwa orang itu
melayang turun dari puncak ketinggian 300-an tombak.
Orang itu pasti hancur tulangnya. Gak Lui tertegun......
Tetapi Hwat Hong taysu tak ambil peduli. Ia tetap
hendak tumpahkan kemarahannya kepada Gak Lui.
Sambil kepalkan tangan ia maju dua langkah.
CEPAT sekali sosok tubuh itu telah meluncur turun.
Kira2 masih kurang 20-an tombak dari tanah, tiba2 orang
itu mengembangkan sesosok payung sehingga luncur
tubuhnya tertahan, Tak berapa lama iapun melayang
tepat di tengah kedua prang yang sedang bertempur. , ..
Se-Bun sianseng ! teriak Gak Lui ketika inelihat
siapa pendatang itu. Memang pendatang itu bukan lain
adalah Se Bun Giok, tokoh sakti dari gunung Kunlun.
Tangannya mencekal sesosok payung besi. Dengan alat
itulah tadi ia meluncur turun dari puncak yang tinggi. Dan
saat itu ia putar payung besinya untuk menghentikan
pertempuran. Terpaksa Hwat Hong taysu menarik pulang
tinjunya, serunya: Se-Bun, mengapa ..... engkau
membantu ..... sampah dunia persilatan ini .....
Se Bun Giok hentikan gerakan payung lalu memberi
salam: Uh, jarang sekali engkau marah begitu rupa,
paderi
Lebik baik engkau menyingkirlah
Uh....., tak perlu berkelahi, engkau salah faham
Salah faham? Hwat Hong taysu terkesiap.
Engkau termakan tipu dari Maharaja yang
menggunakan siasat pinjam golok membunuh orang agar
sekali tepuk dua lalat!
Hai .... ! baik Hwat Hong taysu maupun Gak Lui
261

berteriak seraya mundur selangkah.


Se Bun Giok tertawa nyaring: Simpan dulu pedang
kalian.
Sambil
beristirahat
sambil
dengarkan
penjelasanku!
Gak Lui cepat masukkan pedangnya ke dalam
sarung. Tetapi Hwat Hong walaupun juga menyarungkan
pedang tapi masih penasaran, serunya : Se Bun, kalau
penjelasanmu itu beralasan, ya sudah. Tetapi kalau tidak,
aku tentu masih ....
Peristiwa itu sungguh tak kusangka. Karena
kebetulan aku menemukan mayat orang partai
Gelandangan yang disuruh mengantar surat kepadamu,
paderi. Dengan, begitu barulah kuketahui siasat mereka!
Pengantar surat itu mati? Hwat Hong terkejut.
Paderi, engkau telah ditipu orang! Pengantar surat
dari partai Gelandangan yang sebenarnva, telah dibunuh
orang. Dan yang mengantar surat kepadamu itu adalah
anakbuah Maharaja yang menyaru
Kalau begitu surat yang kuterima itu juga surat
palsu? Hwat Hong menegas.
Benar sahut Se Bun Giok, kebetulan aku telah
berjumpa
dengan
Raja-sungai-Ce-kiang
yang
mengatakan bahwa Gak Lui telah menolong mereka
dalam pertempuran dengan orang Kay- pang. Dan kini
pemuda itu hendak mengunjungi Bok Kiam-su. Tokoh
partai Gelandangan itu mengatakan pula bahwa ia telah
menyuruh seorang muridnya untuk mengantar surat
kepadamu agar jangan timbul salah faham.
Entah bagaimana hatiku tak tenteram. Kukuatir
pengantar surat itu akan tertimpa sesuatu. Maka aku
segera menyusul kemari. Ah..., ternyata firasatku itu
262

benar. Di dalam hutan kuketemukan mayat murid partai


Gelandangan yang mengantar surat itu. Seketika itu
gamblanglah
pikiranku.
Musuh
tentu
hendak
menggunakan siasat adu domba agar kalian bertempur
sendiri. Untung aku cepat tiba pada saat yang tepat,
kalau tidak .......
Gak Lui menghaturkan terima kasih atas bantuan
tokoh dari gunung Kun-lun itu. Dan ternyata Hwat Hong
taysu pun berlapang dada. Ia merasa telah khilaf maka
segera ia minta maaf kepada Gak Lui. Gak Luipun
menghaturkan maaf karena telah berlaku kurang hormat
kepada ketua Hengsan-pay itu. Setelah keduanya saling
memaafkan, maka berkatalah Se Bun Giok : Paderi, ilmu
pukulan sakti dari partai Heng-san-pay yang disebut Himi-kang-kia termasyhur di seluruh dunia. Tetapi
mengapa tadi engkau menggunakan pedang? Sungguh
aneh !
Seorang gerombolan Maharaja itu menggunakan :
senjata pedang. Muka mereka ditutup kain kerudung dan
kedok. Merekapun dapat menggunakan ilmupedang
partai Heng-san-pay yakni Mi-to-kiam-hwat. Maka
terpaksa aku harus berhati-hati! kata Hwat Hong.
Se Bun Giok tertawa meloroh: Oh..., kiranya begitu!
Tak heran kalau paderi tua juga main pedang
Hwat Hong taysu tertawa juga: Sesaat ia menghela
napas: Ah..., . jangan bergurau Se-Bun! Berhadapan
dengan lawan yang seimbang kepandaiannya, pedang
tentu lebih unggul dari tinju! Punya ... engkau sendiri juga
begitu. Walaupua tenaga-sakti Sian- ing-ki-kang dari
Kun-lun-pay itu sudah tersohor didunia persilatan, tetapi
engkau toh tetap membawa payung besi dan kipas
tembaga masih ditambah dengan sebuah kantong asap.
Bukankah kalau dibanding dengan aku yang membawa
263

sebatang pedang, engkau lebih banyak tiga kali lipat?


Eh...., paderi tua, apakah engkau tak tahu bahwa
barang itu memang alat yang kupakai se-hari2
Jangan membual. Siapa mau menerima salah satu
dari barang2 itu? Menikmati sedikit saja, orang tentu
sudah lari ter-birit2!..
Mendengar pembicaraan itu tiba2 Gak Lui teringat
sesuatu. Cepat ia bertanya kepada Hwat Hong: Taysu,
kali ini' Heng-san- pay turun gunung membekal pedang,
tentulah mempunyai lain sebab!
Maksud Gak sicu ..... ?
Tadi taysu mengatakam anakbuah Maharaja juga
menggunakan pedang. Entah berapakah jumlah mereka
yang mahir menggunakan pedang itu?
Murid Maharaja yang ahli dalam tenaga-dalam dan
tenaga luar, amat banyak jumlahnya!
Taysu mengatakan pula bahwa melawan orang yang
berimbang kepandaiannya, menggunakan pedang lebih
unggul dari pukulan. Dalam kata2 taysu tadi, agaknya
masih
ada
kelanjutannya
yang taysu
belum
menyelesaikan seluruhnya.
Ini....
Berdasar ucapan taysu tadi, aku berani memastikan
bahwa dalam kalangan murid Maharaja tentu terdapat
seorang tokoh yang selain mahir menggunakan pedang,
pun dia sudah beberapa tahun meninggalkan Heng-san.
Oleh karena itulah maka taysu selalu membekal pedang
agar dapat menghadapinya apabila bertemu orang itu.
Sicu menduga tepat! sahut Hwat Hong.
Siapakah orang itu? Dapatkah taysu memberitahu
264

kepadaku?.
Hm .. karena sudah sampai keadaan begini, tak
perlulah kiranya untuk menutupi rahasia itu. Yang sudah
ber-tahun2 meninggalkan perguruan Heng-san-pay itu,
bukan lain adalah suhengku sendiri yani Hwat Gong
taysu!
Bagaimana ilmu kepandaiannya?.
Dahulu dia menjabat sebagai pimpinan kuil sedang
aku hanya sebagai Ti-khek (penyambut tetamu):
Kepandaiannya tiga kali lebih unggul dari aku. ..
Kali ini yang mengirim surat supaya
mengundurkan diri sebagai ketua, tentulah dial.

taysu

Benar, sungguh suatu peristiwa yang menyedihkan


hati bahwa suhengku sampai hati untuk hianati
perguruannya ! kata Hwat Hong sambil menghela napas
rawan.
Memang dalam kalangan perguruan atau partai
persilatan, sudah wajar kalau terjadi perebutan
kedudukan. Tetapi Heng-san-pay mengalami peristiwa
perebutan itu secara aneh. Karena yang menghalangi
adalah orang luar, yalah Maharaja. Dan tokoh itu
mempunyai maksud untuk menaruh orangnya kedalam
setiap partai agar dapat menguasai. Setelah berdiam
beberapa saat, maka Hwat Hong taysu segera minta diri
kepada Gak Lui. la kuatir dalam kuil terjadi sesuatu,
maka ia harus lekas2 kembali.
Melihat ketua Heng-san-pay itu sudah tenang
kembali, Se Bun Giok tertawa: Paderi, tak usah gelisah.
Semua orang kini sama menggunakan pedang Kongtong-pay, Bu-tong-pay dan Ceng- sia-pay tak usah
dikata. Bahkan sekarang beberapa partai yang biasanya
265

tak menggunakan pedang seperti Heng-san-pay, Siauwlim-pay dan Go-bie-pay sama-sama menggunakan
pedang. Tentang ketua Kun-lun-pay, Tang-hong Giok ....
Benar, dia dan engkau adalah jago2 pedang yang
hebat! Hwat Hong nyeletuk.
Jangan menyebut diriku. Adalah karena gara-gara
belajar ilmu pedang maka kuganti dengan payung
bobrok, sahut Se-Bun Giok .
Ah..., tak perlu merendahkan diri. Silahkan engkau
mengatakan usulmu!
Menurut hematku, setelah partai2 persilatan sama
turun gunung dengan membawa pedang alangkah
bagusnya
bila
dipertemukan
dalam
suatu
permusyawarahan besar untuk menentukan rencana
menghadapi sepak terjang kaki tangan Maharaja! kata
Se Bun Giok.
Serentak tergugahlah semangat Hwat Hong
mendengar usul itu, serunya: Ketika partai2 persilatan
mau bersatu padu dan Kaisar mau memimpin,
pertemuan itu tentu berarti sekali!
Juga Gak Lui terpengaruh dengan saran itu. Serentak
ia tegak berdiri dengan dada membusng. Suatu sikap
dari kesiap-sediaannya menghadapi pertemuan besar itu.
Se Bun Giok menepuk bahu pemuda itu katanya: Terus
terang kukatakan, belum tentu Kaisar mau muncul
memimpin. Tentang penyelenggaraan pertemuan besar
itu, akulah yang akan mengusahakan. Tetapi tentang diri
Gak Lui ini, taysu harus sudah mengerti jelas......
Ya.... ya, aku sudah jelas sekarang, kata Hwat
Hong taysu.
Gak siau-hiap jika bertemu dengan suhengku Hwat
266

Gong tentu takkan melukainya dan harap mengantarnya


pulang ke Heng- san-pay......
Gak Lui mengiakan. Setelah rombongan Hwat Hong
taysu pergi, Se Bun Giok bertanya kepada Gak Lui
apakah telah bertemu dengan Bok Kiam-su.
Sudah, dia tinggal digunung sebelah timur sahut Gak
Lui.
Se Bun Giok mengajak Gak Lui ketempat si pembuat
pedang itu. Ketika tiba dipondok Bok Kiam-su. Gak Lui
terus bendak berseru memanggil, Siu-mey. Tetapi tiba2
ia katupkan lagi mulutnya yang sudah dingangakan.
Ternyata.....hidungnya mencium bau orang mati. Se Bun
Giok amat cerdas dan cermat.
Melihat Gak Lui tertegun dimuka pintu, iapun segera
hentikan langkah. Tampak pemuda itu memberi isarat
tangan ke belakang, lalu secepat kilat menerobos masuk.
kedalam pondok. Se Bun Giok merasakan sesuatu yang
tak wajar. Cepat ia mencabut pipanya dan siap
menunggu tanda dari Gak Lui.
Se Bun cianpwe, lekaslah masuk! tak berapa lama
kedengaran Gak Lui berseru.
Ketika masuk, Se Bun Giok melihat Gak Lui sedang
...tegak berdiri termanggu disebelah mayat seorang lelaki
tua.
Tentulah Bok Kiam-sul serunya.
Gak Lui mengikan .. Se Bun Giok memeriksa tubuh
ahli pembuat pedang itu. Dadanya berlubang darah
dengan di kelilingi oleh lima buah bekas telapak jari. Luka
itu menembus kedalam dan jantung hati korban diremas
hancur lebur.
Hai, kiranya perbuatan Iblis Tulang-putih! serunya
267

gemetar.
lblis Tulang-putih? Gak Lui menegas.
Benar, ini hasil ilmu kesaktiannya yang istimewa,
yakni Petik-hati-mencabut nyawa !
Dua butir airmata menitik turun dari pelupuk mata
Gak Lui, ujarnya terharu :Akulah yang mencelakai Bok
Kiam-su .....
Mengapa begitu ? Se Bun Giok terbeliak.
Setan Keluyuran, murid Iblis Tulang-putih telah
kubunuh. Dan lagi jika aku tak mencarinya, iblis itu tentu
tak mencari kemari.
Se Bun Giok tertegun, keluhnya: Celaka...! Iblis itu
juga kaki tangan Maharaja!
Oh.....
Pengantar-surat yang disuruh Raja-sungai-Ce-kiang
itu juga hancur lebur dadanya. Bermula aku tak mengerti
ilmu apa yang digunakan pembunuh itu. Tetapi kini
setelah dipadu dengan mayat Bok Kiam-su, pengantar
surat itu juga termakan tangan ganas dari si Iblis Tulangputih! kata Se Bun Giok: Hm...., kelak tentu kucincang
tubuh iblis itu untuk membalaskan sakit hati Bok Kiam-su
dan Gadis Ular!
Gadis Ular...? Siapakah dia ? Gak Lui
mengeluarkan sehelai kain. Tanpa bicara apa2, ia
Serahkan kepada Se Bun Giok. Ketika merentang, kain
itu ternyata berisi tulisan yang berbunyi : Kiam-su sudah
meninggal Setan kecil melarikan diri. Gadis ular terluka
parah. Lain hari jumpa kembali. Dewi Tong Ting.
Habis membaca wajah Se Bun Giok terkejut nyaring,
serunya:
268

Kawanmu berhasil baik ...


Baik? ulang Gak Lui heran.
Dewi telaga Tong-Ting itu adalah salah seorang dari
Empat Permaisuri. Kepandaiannya amat sakti sekali.
Bahkan dimatanya, Iblis Tulang-putih .....hanya dianggap
sebagai setan cilik belaka. Dengan ditolong olehnya,
selain luka Gadis Ular itu menjadi sembuh, kelak pasti
akan menjadi tokoh wanita yang sakti.
Gak- Lui agak terhibur. Ia menghela napas longgar,
katanya: Ya ..... syukurlah. Sejak saat ini, aku dapat
mencari jejak musuh dengan hati lapang!
Aku mempunyai usul, entah engkau
menyetujui atau tidak, kata Se Bun Giok.

dapat

Setelah Gak Lui mempersilahkan, berkata pula jago


dari gunung Kun-lun itu: Engkau dan aku hendak
menyelidiki jejak Maharaja. Aku lebih banyak
pengalaman dalam dunia persilatan. Jika bersama-sama,
tentu dapat saling bantu membantu.
Tak perlu ini dan itu. Jangan menolak. Menolak
berarti engkau memandang rendah padaku desak Se
Bun Giok.
Akhirnya Gak Lui setuju. Setelah mengubur jenazah
Bok Kiam-su, mereka segera turun gunung. Tujuan
pertama, menurut Gak Lui, akan mencari Pukulan-sakti
Tek Thay, digunung Pek-wan-san. Hari itu ketika habis
melintasi puncak gunung yang tinggi, mereka turun
kesebuah bukit dan mencapai sebuah desa. Tiba2 dari
dalam hutan didekat jalan, mereka dikejutkan oleh suara
orang me-rintih2.
Gak Lui tak asing dengan suara itu. Cepat ia
menerobos kedalam hutan. Se Bun Giok mengikutinya.
269

Seratus tombak dalamnya, mereka membau anyir darah.


Cepat mereka menuju kearah bau itu. Setelah melintasi
sebuah tanah lapang yang luas, mereka melihat
disebelah depan tumbuh sebatang pohon besar. Pada
pohon yang tiga perneluk tangan orang itu, terpaku
sesosok tubuh imam tua.
Hai...! Ceng Suan totiang ....... !
JILID 6
SE BUN GIOK pun menyusul tiba. Dia terbeliak kaget
juga, serunya: Apakah bukan ketua partai Bu-tong-pay?
Gak Lui dan Se Bun Giok cepat melesat ke samping
pohon. Tampak separoh tubuh Ceng Suan totiang
berlumuran darah. Dadanya tertembus pedangnya
sendiri, nancap ke pohon. Dia terpaku dengan pedang
......
Gak Lui ngeri dan bendak mencabut pedang itu.
Tetapi dicegah Se Bun Giok. Jangan! Totiang memiliki
ilmu tenaga dalam yang tinggi. Kalau tak dicabut, masih
dapat bertahan diri untuk beberapa seat. Tetapi, kalau
dicabut, tentu akan binasa !
Apakah dibiarkan begitu saja ! Se Bun Giok yang
banyak pengalaman, sesaat tak dapat memperoleh akal.
Tiba2 Ceng Suan totiang mendengus pelahan dan
membuka mata. Demi melihat Gak Lui dihadapannya,
bibirnya ber-gerak2 tetapi tak dapat mengeluarkan kata2,
melainkan mengeluarkan darah.......
Gak Lui berbisik kedekat telinga totiang itu: Totiang
tak perlu bicara. Aku akan berusaha menolongmu dulu.
ia berpaling dan berkata kepada Se Bun Giok: Harap
pegang batang pedang. Begitu kusuruh cabut, harap
270

segera mencabutnya
Itu ...... berbahaya!
Aku mempunyai ilmu Menyongsong-tenaga-murni.
Dapat
membuat
tenaga-dalamnya
tak
sampai
berhamburan..... kata Gak Lui seraya lekatkan tangan ke
perut dan paha Ceng Suan totiang. Ia segera salurkan
tenaga-murni ketubuh paderi itu. Setelah tenaga-murni
Ceng Suan totiang berputar keperut, barulah ia suruh Se
Bun Giok mencabut. Se Bun Giok sudah siap Cepat ia
melakukan perintah itu.
Sesaat pedang tercabut keluar, Gak Lui memberi
perintah lagi: Tutuk jalandarahnya untuk menghentikan
pendarahan. Dengan ilmu tutuk partai Kun-lun-pay yang
istimewa, Se Bun Giokpun segera menutuk ke 16
jalandarah penting ditubuh paderi itu. Darahpun berhenti
mengalir. Gak Lui letakkan tubuh Ceng Suan ketanah.
Kedua tangannya masih tetap melekat pada perut dan
paha paderi itu. Se Bun Giok mengeluarkan pil dari
perguruannya dan disusupkan kemulut Ceng Suan. Tak
berapa lama paderi itupun dapat bernapas serta
membuka mata. Ia memandang dengan rasa terima
kasih kepada Se Bun Giok, lalu berkata tersendat-sendat
kepada Gak Lui: Gak .... Gak ... kucari engkau ... lama
sekali....!
Apakah karena pedang Pelangi itu? cepat Gak Lui
menyanggapi.
Ya......!
Pedang itu adalah Ceng ki totiang yang minta tolong
kepadaku. Tempo hari sama sekali aku tak bermaksud
menerobos ke dalam sanggar Pemujaannya sehingga
menyebabkan Ceng Ki totiang sampai menderita Cohwe-jip-mo. Sampai saat ini aku tetap merasa berdosa.
271

Oleh karena itu, aku pasti akan melakukan pesannya


untuk membikin baru pedang itu agar menjadi pedang
pusaka dunia persilatan. Harap totiang jangan salah
faham.
Ku ...... kutahu ....... semua ......
Totiang tahu semua?
Suheng ....... pada saat ...... menutup mata ......
mengatakan hal itu ....., semua ......
Lalu apa maksud totiang mencari aku?
Takut engkau ... dicelakai orang dan dirampas
.....pedang itu .....
Jangan kuatir! Jiwaku boleh melayang tetapi pedang
itu tak nanti dapat dirampas orang. Dan lagi ... sampai
sekarang
belum
ada
orang
yang
berusaha
merampasnya!
Setelah minum obat, semangat Ceng Suan totiang
makin baik: Mendengar ucapan Gak Lui, ia kerutkan dahi
:Apakah ... murid murtad Ceng Ci itu ... tidak merebut?
Mungkin engkau belum berjumpa .......
Gak Lui masih ingat ketika bertempur lawan Ceng Ci.
Anggauta Topeng Besi terkesiap melihat pedang pusaka
itu tetapi Ceng Ci tidak mengacuhkan.
Aku sudah bertempur lawan Ceng Ci tetapi
tampaknya tak mengacuhkan pedang itu, katanya.
Tidak mungkin!
Mengapa ?
Dua jam yang lalu, dia datang ... mendesak aku ...
bertanya melilit.., dimana engkau berada ... karena
hendak ... merebut pedang itu ....
272

Berapa jumlah mereka ?


Bermula dua orang .
Gak Lui merenung. Ia duga kedua orang itu tentulah
si Topeng Besi dan Ceng Ci. Lalu berapa lagi ?
tanyanya.
Kemudian seorang lagi.
Seorang ? Siapakah yang melukai totiang ?
Wajah Ceng Suan totiang berobah tegang. Dengan
memancar sinar kemarahan ia berkata : Bermula murid
murtad itu bersama seorang bertopeng mengeroyok aku.
Beberapa puluh jurus kemudian, akupun terdesak ......
Se Bun Giok kerutkan kening dan menyelutuk :
Totiang, sebagai seorang ketua Bu-tong-pay, mengapa
tak memikirkan kepentingan seluruh partai hingga totiang
pergi seorang diri dan bertempur mengadu jiwa ?
Akupun menyadari hal itu. Tetapi setelah aku
mundur sampai di samping pohon ini, tiba-tiba muncul
pula seorang bertopeng. Gerakannya amat cepat sekali,
ya, memang luar biasa cepatnya. Belum selesai satu
jurus saja, dia sudah dapat merebut pedangku .......
Oh! Jadi dia hanya bertangan kosong merebut
pedang totiang lalu menusuk....
Benar .....!
Gak Lui gemetar, tanyanya tegang : Apakah dia
meninggalkan nama?
Sekalipun tidak meninggalkan nama tetapi akupun
dapat menduganya
Siapakah orang itu?
Maharaja! Selain dia, tak mungkin terdapat orang
273

yang memiliki kesaktian semacam itu !


Se Bun Giok, ternganga. Gak Lui terbelalak, giginya
menggigil keras. Ceng Suan totiang adalah ketua partai
Bu-tong-pay. Kepandaiannya tergolong tokoh kelas satu.
Tetapi mengapa dalam setengah jurus saja, pedangnya
sudah dapat direbut dan orangnya pun ditusuk. Dengan
begitu jelas kepandaian orang itu teramatlah saktinya !
Tak perlu kalian marah. Aku hendak-mohon,
bantuan kalian untuk beberapa hal, kata Ceng Suan
totiang.
Silahkan totiang mengatakan, hampir Gak Lui dan
Se Bun Giok berkata serempak.
Kurasa, selain Kaisar, dewasa ini tiada seorang
tokoh persilatan yang mampu menandingi kesaktian
Maharaja. Sayang Kaisar belum muncul dalam dunia
persilatan. Oleh karena itu kuharap kalian ..... terutama
Gak siau-hiap, harap hati2 selama berada dalam-dunia
persilatan .......
Se Bun Giok menghibur : Andaikata Kaisar, tak
muncul, pun tak apalah. Aku sudah bicara dengan ketua
Heng-san-pay Hwat Hong taysu agar menyelenggarakan
suatu persekutuan segenap kaum persilatan golongan
Putih untuk menghadapi durjana besar itu!
Ah, kurasa tak mudah untuk menyelenggarakan
gerakan itu. Taruh kata berhasil mengumpulkan tenaga
kaum persilatan, pun belum tentu dapat menang.
Manusia harus berdaya. Kita tak boleh tinggal diam
saja menunggu kematian! kata Se Bun Giok.
Ah, saudara memang bersungguh-sungguh dan
serius. Tetapi ada sedikit hal yang perlu saudara
pertimbangkan
274

Dalam hal apa?


Murid2 yang mengkhianati itu, telah mendesak pada
partai perguruannya masing2 agar ketua partai yang
sekarang sama mengundurkan diri. Jika partai2
persilatan itu sampai berkumpul dalam sebuah rapat,
bukankah akan terjerumus dalam, jebakan mereka?
Bukankah
musuh
amat
mudah
sekali
untuk
menjaringnya? Dan pada waktu menghadiri rapat,
markas tentu kosong dan mudah diserbu ........
Soal itu aku dapat merundingkan dengan para
pimpinan partai persilatan bagaimana mengatur langkah
yang sesuai. Harap totiang jangan kuatir, kata Se Bun
Giok..
Muridku Hwat Lui bertiga, saat ini menjaga di Butong-san. Harap memberitahukan kepadanya. Segala
urusan di markas, terserah pada Hwat Lui. Harus tetap
menjaga markas perguruan dan berlatih ilmu dengan
giat
Gak Lui mengiakan: Baik, kami tentu akan
menyampaikan. Dan kelak apabila pedang Pelangi
sudah selesai di buat baru, tentu akan kuserahkan
kepada Hwat Lui totiang ....
Jangan...! Jangan....!
Mengapa...?
Kepandaian Hwat Lui masih rendah. Jika murid
penghianat itu sampai kemarkas meminta pedang, Hwat
Lui tentu tak mampu menghadapi. Kulihat baru berpisah
belum berapa lama, kepandaian Gak siau-hiap maju
pesat sekali. Lebih baik ...... tiba2 wajah paderi itu
mengerut sesal. Seperti orang yang kelepasan omong
lalu tak mau melanjutkan kata-katanya lagi. Ceng Suan
275

totiang merasa bahwa pedang pusaka dari perguruannya


itu telah menjadi sasaran dari murid Bu-tong-san yang
hianat. Sebagai seorang ketua Bu-tong-pay sudah tentu
ia merasa malu anak muridnya tak mampu menjaga
pusaka perguruannya dan hendak minta tolong kepada
orang luar. Gak Lui dapat menangkap isi hati paderi itu.
Cepat ia berseru lantang: Aku pasti akan
bertanggung jawab sepenuhnya. Tentu akan menunggu
sampai tiba saatnya yarg tepat, baru akan kuserahkan
pedang itu kepada Bu-tong-pay.
Wajah - Ceng Suan totiang cerah seketika. Ia
menghaturkan terima kasih kepada Gak Lui. Sesaat
kemudian dengan wajah rawan, kembali ia melanjutkan
kata-katanya: Dan permintaanku yang terakhir tak lain,
agar kalian suka segera mengubur mayatku ......
Totiang, engkau ......
Aku telah menodai nama Bu-tong-pay. Tiada muka
lagi aku bertemu dengan para cousu dan leluhur Butong-pay .... tiba2 Ceng Suan meraung keras, mirip
seekor singa yang kelaparan. Sekonyong-konyong
tangan kanannya berayun menampar pelipisnya, plak ...
Melihat itu Gak Lui tak dapat lepaskan cekalannya
sehingga tak dapat mencegah perbuatan Ceng Suan
yang kala itu, Se Bun Giok cepat menampar dengan
jurus Benang-emas-melihat-siku lengan. Angin tamparan
itu berhasil menahan tangan Ceng Suan totiang. Tetapi
Ceng Suan sudah kalap benar2. Tamparannya untuk
menghabisi jiwanya tadi, dilancarkan dengan, tenaga
penuh. Ketika terbentur angin tamparan Se Bun Giok, ia
mendesuh tertahan dan pingsan seketika.
Gak Lui cepat menambahi saluran tenaga dalamnya
seraya berkata: Kurasa baiklah cianpwe yang
276

mengantar totiang di pulang ke Butong-san. Soal


mengejar si pembunuh, biarlah kulakukan sendiri.
Sekalipun tak tegah, karena kenyataan sudah begitu
rupa, terpaksa ia menjawab: Luka totiang amat parah
sekali. Mungkin tak dapat mencapai markas Bu-tong-pay.
Maka dapat kubawa sampai berapa jauh, terserah
keadaannya. Andai kata di tengah jalan menemui ajal,
jenazah totiang tetap akan kuantar ke Bu- tong-san
supaya ditanam dengan baik.
Cepat mereka bertindak. Luka di dada yang tembus
punggung Ceng Suan totiang, dibalut dan dilumuri obat.
Setelah diminumi pil lalu diikat di atas punggung Se Bun
Giok. Pedang Ceng Suan totiang yang berlumuran darah
itupun dibawa Se Bun Giok. Setelah saling mengucap
selamat jalan, tokoh sakti dari partai Kun-lun-pay itu
segera lari secepat terbang menuju ke Bu-tong- san.
Setelah Se Bun Giok lenyap dari pandangan mata,
Gak Lui masih tetap mondar mandir di situ. Dicobanya
untuk menggunakan ketajaman hidungnya, mencium
jejak kepergian Maharaja. Tetapi Maharaja itu keliwat
sakti. Langkah kakinya selain seringan kapas, pun
cepatnya seperti terbang. Apalagi dalam hutan sekeliling
amat lebat dan pelik. Sekalipun hanya tercium pun sukar
untuk mencarinya. Maka setelah bersusah payah lebih
dari sejam, barulah ia dapat menduga-duga arahnya.
Tetapi Gak Lui seorang pemuda yang keras hati. Ia
pantang mundur setapakpun dari usahanya mengejar
Maharaja. Walaupun setiap kali ia harus berhenti untuk
menentukan
arah,
tetapi
ia
tetap
lanjutkan
pengejarannya.
Saat itu udara tertutup awan. Sinar rembulan yang
teraling, menimbulkan pemandangan yang menyeramkan
dalam hutan. Gak Lui tiba di mulut sebuah lembah gu277

nung. Diam2 ia menimang: Ah...., sudah dua hari dua


malam kulakukan pengejaran. Tetapi makin lama makin
kabur. Bagaimanakah aku harus bertindak sekarang ini
....?
Memandang ke muka, tampak sebuah jalanan
gunung yang hanya setengah meter lebarnya. Ia
ayunkan langkah ke sana dan pada waktu masih 10-an
tombak jauhnya dari jalanan gunung itu, tiba2 sesosok
tubuh lari secepat anakpanah terlepas dari busur.
Meluncur sepanjang jalanan gunung itu. Gak Lui
terkesiap. Ia rentangkan mata lebar untuk memandang
dengan seksama. Tetapi ah...., segumpal awan hitam
berarak
menutup
rembulan.
Seketika
pandang
matanyapun gelap. Matanya hanya dapat melihat samarsamar, orang itu lari bergegas-gegas dan tak hentihentinya berpaling kemuka belakang, seperti dikejar
setan. Cepat sekali Gak Lui melesat ke jalan, tetapi
orang itu sudah jauh.
Hai..., bayangan orang itu seperti Se Bun Giok.
Mengapa dia datang kemari ? Dan mengapa pula
tampaknya ia begitu terburu- buru sekali? Siapakah yang
mengejarnya...? pikirnya dan berpalinglah ia ke
belakang untuk melihat siapakah yang mengejar
bayangan tadi. Dan astaga ! Bukan main kejutnya ketika
melihat sesosok tubuh yang menyeramkan. Dari kepala
sampai ke ujung kaki, orang itu tertutup jubah yang aneh
bentuknya. Kaki tangannya tak bergerak hanya tubuhnya
yang melonjak-lonjak naik turun maju kemuka. Kalau
orang biasa mengenakan kerudung kain hitam, tentu
bagian mata diberi lubang. Tetapi tidak dengan orang itu.
Seluruh muka tertutup kain hitam. Tetapi anehnya jika
tiba di tikungan atau jalan yang berbiluk, ia tetap dapat
mengikuti dengan tepat. Seolah-olah tanpa mata, ia
dapat melihat jalan. Aneh, benar2 aneh ! Jika dia
278

manusia biasa, jelas dia memiliki ilmu kepandaian yang


luar biasa. Dengan mata tertutup dapat melihat segala
benda. Tetapi kalau dia itu suatu makhluk aneh, sungguh
mustahil sekali. Tetapi kalau bukan jenis makhluk aneh,
mengapa seorang tokoh macam Se Bun Giok sampai lari
terbirit-birit begitu rupa ?
PADA SAAT Gak Lui sedang terbenam dalam
keheranan, makhluk aneh itu sudah tiba. Ternyata tubuh
makhluk aneh itu mengeluarkan semacam hawa. Dan
hawa itupun bergulung- gulung melanda kearah Gak Lui.
Seketika Gak Lui mencium suatu bau yang amat busuk
dan anyir.
Hai, bau darah anyir dari Ceng Suan totiang!
Mengapa dia berobah menjadi makhluk aneh begitu ?
Ah, tak mungkin dia akan mengejar Se Bun Giok begitu
rupa kalau tak terkena semacam ilmu Hitam. Tentu Ceng
Suan totiang telah disesatkan oleh seorang durjana
sehingga lupa pada Se Bun Giok .... belum sempat ia
melanjutkan analisanya, tiba2 dari arah ujung jalan
muncul sesosok tubuh manusia.
Saat itu rembulan menyiak tabir awan. Sinarnya
menerangi seluruh penjuru. Dan tampaklah perwujudan
orang itu. Dia mengenakan kopiah emas, pinggang
menyalut sebatang pedang, rambutnya terurai ke bawah
mencapai pundak. Memakai jubah kebesaran warna
kuning. Sikapnya keagung-agungan. Wajahnyapun
gagah dan berwibawa. Usianya disekitar 40-an tahun
tetapi masih gagah segar. Terutama sepasang matanya
yang tajam, mengunjukkan keperbawaan seorang gagah.
Melihat sikapnya, sepintas pandang orang tentu dapat
memastikan bahwa pasti seorang ksatrya besar dalam
dunia persilatan. Dan yang paling menakjubkan, orang
itu tak kelihatan bergerak tetapi tubuhnya dapat melesat
279

ke muka. Benar2 suatu ilmu meringankan-tubuh yang


jarang terdapat dalam dunia persilatan. Tergetar hati Gak
Lui melihat orang itu, geramnya : Hm..., tak heran kalau
Se Bun Giok sampai ketakutan begitu rupa. Kiranya si
Maharaja sendiri yang muncul !
Diam2 ia serempak mencabut pedang. Saat itu
siorang aneh sudah berada 3 tombak jauhnya. Gak Lui
melihat jelas bagahnana tangan kiri orang itu sedang
bergerak-gerak aneh, matanya setengah memejam dan
wajahnya tampak serius sekali. Dan ketika tiba di
samping tempat Gak Lui bersembunyi, tiba2 orang itu
membuka mata lebar2 lalu memandang ke sekeliling.
Rupanya la mengetahui kalau di sekeliling tempat itu
terdapat orang yang bersembunyi.
Gak Lui tak mau membuang waktu lagi. Dari pada
didahului lebih baik ia mendahului. Dengan jurus
Rajawali pentang sayap, ia apungkan tubuh ke udara,
bergeliatan menukik seraya ayunkan pedang sekuatkuatnya kearah kepala orang itu. Serangan itu dilambari
dengan seluruh.tenaganya. Dahsyatnya bagai gunung
Thay-san rubuh. Tetapi orang itu bukan sembarang
tokoh. Pada saat pedang Gak Lui hampir mengenai,
tahu2 dengan gerakan yang aneh, orang itu berputar
tubuh dan tring...., tangan kanannya sudah mencabut
pedang dan menangkis serangan Gak Lui. Tetapi
anehnya, orang itu tetap lanjutkan langkah mengejar
Ceng Suan totiang.
Hai, hendak lari ke mana engkau! teriak Gak Lui
seraya bergeliatan di udara lalu melayang turun
menghadang di muka jalan. Melihat mata Gak Lui
memancar dendam kemarahan yang berapi-api, orang
itupun tertegun. Saat itu dipergunakan sebaik-baiknya
oleh Gak Lui yang segera gunakan jurus Menjolok280

bintang-memetik-bulan, menusuk perut orang. Melihat


dirinya dihadang lalu diserang hebat, orang itupun
kerutkan alis. Dengan gerak laksana ular meliar, dari
arah yang tak diduga-duga, pedang orang itu menabas
pergelangan tangan Gak Lui dan serempak dengan itu,
tubuhnya meluncur lagi ke muka untuk mengejar Ceng
Suan totiang. Dengan geram Gak Lui lancarkan
serangan ganas lagi:
Maharaja bangsat, jangan harap engkau dapat lolos
! Seruan Gak Lui itu makin membuat orang itu kerutkan
dahi. Tetapi karena diserang, tanpa bicara apa2, ia
gerakkan pedangnya. Dalam sekejab saja, ia sudah
lancarkan tiga buah serangan sekali gus. Selain
tenaganya yang luar biasa, pun jurus Tedangnya aneh
sekali Tidak sama dengan ilmupedang dari partai
perpilatan umumnya. Sinar pedang yang mencurah bagai
hujan lebat disertai deru angin yang menyambarnyambar seperti badai. Serangan itu berhenti
membendung kekuatan Gak Lui dan memaksa pemuda
itu mundur sampai setombak jauhnya. Gak Lui terkejut.
Dalam gugup ia cepat lancarkan jurus Cendrawasihkibaskan-sayap. Pedang berhamburan laksana bianglala
mengarungi cakrawala dan dapat menahan serangan
lawan. Tiba2 Gak Lui gerakkan tangan kiri dalam pukulan
sakti Algojo dunia. Pukulan yang timbul karena
kemarahan itu, hebatnya bukan alang kepalang.
Hati orang itu benar2 terperanjat sekali. Pedangnya
serasa tercekik dalam kisaran tenagadalam yang
memancar hebat. Tak dapat ditarik pulang, tak dapat
digerakkan menangkis dan tak dapat menghindar pula.
Dalam keadaan terancam maut itu, terpaksa siorang
aneh hentikan gerakan aneh dari tangan kirinya dan
terus digerakkan untuk balas menghantam. Bum.....,
281

terdengar letupan keras. Seketika Gak Lui rasakan


telapak tangannya panas seperti terbakar sehingga mau
tak mau ia terpaksa harus mundur dua langkah. Dan
serempak dengan itu terdengarlah seruan rawan dari
orang aneh itu: Gak Lui, engkau telah mencelakai Ceng
Suan totiang. Ha...., engkau harus ganti jiwanya !
Mendengar tuduhan orang kalau ia yang mencelakai
Ceng Suan totiang, bukan main marah Gak Lui.
Bentaknya : Ngaco belo ! Cepat ia mencabut pedang
pusaka Pelangi lalu dengan sekuat tenaga ia menyerang
orang itu. Melihat pedang Pelangi, ibarat api disiram
minyak, makin berkobarlah amarah orang aneh itu,
bentaknya : Ho...., kiranya engkau maling kecil yang
mencuri pedang pusaka. Makanya engkau hendak
mencelakai Ceng Suan totiang !
Ucapan itu diikuti dengan gerakan tubuh yang
berputar amat aneh dan cepat. Tabasan Gak Luipun
menemui tempat kosong. Dan sebelum pemuda itu
sempat mengganti jurus, lawan sudah menyerang dari
samping dengan jurus Menggurat-tanah-mamapas langit.
Melihat tubuh lawan seolah- olah pecah menjadi empat
lima sosok tubuh, Gak Luipun segera hamburkan pedang
untuk membentengi diri seraya gunakan ilmu
Meringankan tubuh untuk mengikuti langkah orang yang
hendak melanjutkan perjalanan.
Orang itu tak tahu menahu tentang Ceng Ki totiang
minta tolong padaku supaya memperbaiki pedang
Pelangi, tetapi mengapa tampaknya ia terkejut melihat
pedang Pelangi ini. Walaupun dia menuduh aku
mencelakai Ceng Suan totiang, tetapi dia sendiri jelas
adalah Maharaja! pikir Gak Lui.
Orang aneh itu sendiripun menimang dalam hati:
Rupanya budak ini hebat sekali kepandaiannya. Kalau
282

tak menggunakan jurus istimewa tentu akan memakan


waktu panjang.
Setelah mengambil keputusan, ia berhenti tegak
membelakangi Gak Lui. Punggungnya seolah-olah
terbuka. Kesempatan itu tak disia-siakan Gak Lui. Cepat
ia maju gerakkan kedua pedangnya menusuk ke atas
dan ke bawah. Tepat pada waktu kedua ujung pedang itu
hendak menyentuh tubuh, tiba2 pedang orang aneh itu
menjungkir ke belakang. Dengan jurus Naga-saktikibaskan-ekor untuk menangkis pedang sebelah kanan
dari Gak Lui. Lalu dilanjutkan dengan jurus Saljuberhamburan-mencabut-nyawa,
untuk
menebas
punggung pedang Gak Lui di tangan kiri. Dan serempak
itu, ia berputar melesat ke luar lalu menghantam dengan
tangan kiri.
Dua buah pukulan, sekali gus dilepaskan susul
menyusul. Pukulan pertama, bagaikan lima buah
halilintar memecah angkasa. Hawa panas berhamburan.
Pukulan kedua, memancarkan sinar putih kemilau yang
menyilaukan mata. Gak Lui segera putar pedang pusaka
Pelangi untuk melindungi diri. lapun salurkan tenagasakti umtuk menyedot tenaga lawan. Tetapi sudah
terlambat. Tubuh Gak Lui melengkung ke samping kiri
dan terpental sampai beberapa langkah.
Huak ...... mulutnya menguak, menyemburkan
darah segar yang panas. Tetapi hal itu tidak
meruntuhkan nyali Gak Lui. Bahkan kebalikannya malah,
kemarahannya menyala nyala seperti terbakar api.
Dengan tertawa geram, ia silangkan kedua
pedangnya untuk siap menyambut serangan. Sepasang
matanya tak berkedep memandang tajam kepada lawan.
Orang aneh itu dingin sekali wajahnya. Sambil
283

tujukan ujung pedangnya ke tenggorokan Gak Lui,


tangan kiri meregang keras, majulah ia selangkah demi
selangkah menghampiri Gak Lui. Malam makin larut dan
makin menyeramkan. Seolah-olah suatu alamat dari
kedatangan Malaekat Pencabut nyawa di tempat itu.
Kedua orang itu sama membisu. Jarak yang memisahkan
keduanyapun makin ciut. Dari dua tombak menyurut jadi
satu tombak. Dari satu tombak menjadi satu meter.
Keduanya tak mau bergerak menyerang dulu. Karena
barang siapa yang mulai menyerang tentu akan ada
yang binasa.
Sekonyong-konyong terdengar, derap langkah lari
orang. Dalam beberapa kejap, orang itupun sudah tiba
beberapa tombak dari tempat Gak Lui. Gak Lui dan
lawannya tahu hal itu. Tetapi mereka tak berani berpaling
melihatnya. Karena jarak keduanya hanya sepanjang
pedang. Suatu jarak yang memberi kesempatan untuk
menusuk apabila ada salah seorang yang berpaling
muka. Yang tampak hanya sebatang pipa huncwe
(panjang) berwarna kuning emas.
Tahu2 sesosok tubuh melesat dan tegak di depan
kedua orang yang sedang hendak mengadu jiwa itu. Baik
Gak Lui maupun orang aneh itu. terpaksa berpaling dan
serempak berserulah keduanya dengan nada kaget:
Oh...., Se Bun sianseng datang!
Nada Gak Lui penuh dengan kecurigaan Sedang
nada orang aneh itu penuh dengan kerawanan. Ternyata
kedatangan Se Bun Giok itu bukan seorang diri
melainkan memanggul Ceng Suan totiang. Jago dari
Kun-lun itu geleng2 kepala: Ah..., kiranya benar kalian
berdua. Tetapi mengapa hendak berkelahi2
Apakah dia bukan Maharaja? seru Gak Lui penuh
keheranan.
284

Apa itu Maharaja atau Kaisar! Dia adalah ketua


partai Gelandangan yang bernama Raja-sungai Gan Keik kata Se Bun Giok.
Oh...., Gak Lui mendesuh dan mundur setengah
langkah. Kemudian Se Bun Giok bertanya kepada Gan
Ke-ik: Apakan pangcu tak tahu kalau dia ini Gak.....
Dia Gak
Gelandangan.

Lui,

kutahu!

sahut

ketua

partai

Lalu mengapa berkelahi?


Mengapa aku tak harus berkelahi? Gan Ke-ik ketua
partai Gelandangan balas bertanya.
Dia pernah menolong kakak saudara beserta
rombongan anak murid partai saudara!
Oh ..... tetapi bukankah dia anak buah Maharaja dan
mencuri, pedang pusaka partai Butong san .....
Ah...., saudara ketua Gan, engkau benar2 tak
mengetahui jelas !
Kalau begitu harap engkau menerangkannya.
Apakah masih perlu kuterangkan lagi?
Kapan engkau sudah pernah menerangkan? balas
Gan Ke-ik. Se Bun Giok lebih dulu letakkan tubuh Ceng
Suan ke tanah. Ia kerutkan kening merenung sejenak
lalu menyapu keringat pada kepalanya. Kemudian
menghunjamkan kakinya ke tanah seraya memaki dirinya
sendiri: Sungguh celaka, celaka sekali. Kiranya aku
belum pernah mengatakan hal itu kepadamu!
Memang belum, jawab Gan Ke-ik. Terpaksa Se Bun
Giok menceritakan lagi peristiwa Gak Lui menolong
orang partai Gelandangan menghadapi tantangan
orang2 partai Pengemis. Seketika Gan Ke-ik. Meminta
285

maaf kepada Gak Lui. Tetapi ternyata saat itu Gak Lui
sedang berjongkok memeriksa keadaan Ceng Suan
totiang. Anak muda itu mengucurkan airmata. Ia tak
menghiraukan permintaan maaf dari ketua partai
Gelandangan tadi. Gan Ke-ik buru2 menghampiri lalu
menjurah di hadapan Gak Lui:
Atas budi saudara Gak menolong kakandaku
beserta anak muridku, Gan Ke-ik terlebih dulu
menghaturkan terima kasih sedalam-dalamnya dan pasti
takkan melupakan budi saudara itu!
Tersipu-sipu Gak Lui balas memberi hormat lalu
bertanya: Mengapa totiang meninggal?
Se Bun Giok maju memberi keterangan: Sehari
kupanggulnya, menempuh perjalanan, totiang telah
menghembuskan napas yang terakhir.
Masih Gak Lui tak jelas akan keterangan Se-bun
Giok itu. Ia alihkan pandang matanya kepada Rajasungai Gan Ke-ik. Rupanya ketua partai Gelandangan itu
tahu isi hati Gak Lui, maka ia memberi keterangan
tambahan.
Kami kaum partai Gelandangan mememiliki sebuah
kitab yang berisi ilmu yang aneh2. Saat itu kulihat Ceng
Suan totiang masih berdenyut jantungnya. Aku
mempunyai harapan untuk menolongnya. Kukira
arwahnya masih belum meninggalkan raganya. Maka
kugunakan ilmu Lima Halilintar untuk mengantar saudara
Se-bun agar jenazah itu dapat mencapai gunung Bu tong
dalam keadaan masih baik. Mungkin .......
Mungkin dapat membangkitkan ia hidup lagi? tukas
Gak Lui.
Hal itu hanya kemungkinan yang terkecil sendiri.
286

Tentang tuduhanku hanyalah timbul karena kemarahnku.


Harap saudara Gak jangan menyesal.
Jika masih ada setitik kecil harapan, akulah yang
telah mencelakainya, Gak Lui menghela napas.
Wajahnya rawan, mata redup bagaikan rembulan tertutup
awan gelap.
Ah...., saudara Gak tak perlu menyesali diri sendiri.
Aku dan engkau sama2 diburu ketegangan untuk
menolong orang sehingga sampai terjadi salah faham,
Gan Ke-ik menghiburnya.
Se-bun Giok pun ikut menghibur: Gak laute, engkau
seorang pemuda yang gagah perkasa. Janganlah pikiran
engkau isi dengan hal2 yang keliwat rumit. Dua hari yang
lalu ketika Bok kiam-su terbunuh, engkau menyatakan
dirimulah yang menyebabkannya. Sekarang kembali
engkau mengatakan kalau engkaulah yang mencelakai
Ceng Suan totiang. Padahal, kesemuanya itu memang
sudah ditakdirkan nasib!
Ucapan Se-bun Giok yang bermaksud untuk
menghibur itu kebalikannya malah menyinggung
perasaan Gak Lui. Seketika ia teringat akan kematian
Bok Kiam-su. Lalu terkenang akan nasib yang menimpah
bibi gurunya Pedang Bidadari Li Siok Gim, paman
gurunya yang kedua Pedang Iblis Kau Tiong-ing dan
paman gurunya yang nomor empat Pedang Aneh Ji Kitek. Sebelumnya mereka masih segar bugar. Tetapi
setelah berjumpa dengan dirinya, susul menyusul
mereka mati dengan cara yang mengenaskan. Kematian
mereka meninggalkan kesan yang tak mudah dilupakan
seumur hidup. Dan kesan2 itu makin memupuk dendam
kebenciannya terhadap tokoh Maharaja. Ah....., apakah
memang suratan nasibnya. Bahwa ia harus berpisah
dengan orang2 yang menjadi keluarganya itu, Gak Lui
287

terbenam dalam renungan.


Saat itu Gan-ke-ik dan Se-bun Giok pun sudah
selesai mengemasi jenazah Ceng Suan totiang lalu
duduk merundingkan rencana yang akan datang. Setelah
melihat Gak Lui, sudah tersadar dari lamunan, Se-bun
Giok memanggilnya: Saudara Gak, engkaupun harus
beristirahat. Bagaimana dengan lukamu tadi
Ah...., tak apa. Setelah melakukan pernapasan tentu
sembuh, seru Gak Lui seraya menghampiri ketempat
kedua orang itu. Bertanyalah ia dengan serius kepada
Gan Ke-ik: Tolong tanya pada Gan pangcu, apakah
kalian percaya akan nasib atau takdir?
Ooo...., memang dari dahulu sampai sekarang,
orang mengatakan begitu. Pula perguruan gelandangan
memang memiliki beberapa macam ilmu mistik (aneh)
yang aneh dan manjur. Sekali-kali bahkan mengelabui
orang.
Sukalah pangcu memberi contoh padaku?.....
Kim ambil contoh jurus yang kuserangkan padamu
tadi. Engkau tentu sudah mendapat tiga macam bukti.
Ooo...., apakah dalam ilmusilat juga terdapat ilmu
gaib semacam itu?
Benar! Bukankah engkau tadi melihat diriku bisa
pecah menjadi beberapa sosok?
Benar, seranganku dengan sepasang pedang tak
dapat mengenai!
Ilmu
itu
disebut
Malaekat-pindah-tempat.
Menggunakan landasan semangat dan tenaga. Agar
lawan mengira yang palsu itu seperti tulen. Lebih aneh
dan istimewa dari gerakan Mengisar- tubuh-bergantitempat yang terdapat dalam dunia persilatan.
288

Mohon tanya, apakah bukti yang kedua itu? tanya


Gak Lui.
Bahwa Ceng Suan totiang dapat berlari cepat adalah
karena kugunakan ilmu Lima-halilintar agar dia tak
sampai jatuh. Sampai pada saat engkau menyerang dan
akupun terpaksa tak dapat mendorong Ceng Suan
totiang lagi. Saat itu aku sudah menyadari bahwa totiang
lantas rubuh. Kalau tak percaya, cobalah engkau tanya
pada Se-bun bagaimana keadaan Ceng Suan totiang
saat itu
Benar, sahut Se-bun Giok, tiba2 totiang rubuh.
Kalau tidak begitu, aku tentu takkan kembali kemari.
Gak Lui tergetar batinya. la menanyakan bukti yang
ketiga
Seranganku tadi, apakah engkau tak merasa seperti
tersambar 5 halilintar yang memancarkan hawa panas?
Ya, memang ada
Itulah ilmu pukulan Api-halilintar dari perguruanku.
Selain dapat melukai orang, pun mengandung tenaga
sihir!
Tetapi mengapa pukulan kedua yang menyusul tak
sama dengan pukulan yang kesatu?
Benar sahut Gan Ke-ik, pukulan itu memang bukan
ilmu dari perguruanku.
Lalu dari ajaran Partai mana?
Partai Thian-liong-pay
Oh...., kiranya ilmu istimewa dari Kaisar Li Liong-ci!
teriak Gak Lui.
Benar, ilmu pukulan itu disebut Pukulan sakti iblis
gaib. Dengan ketiga jurus ilmu pedang yang kumainkan
289

itu, memang ajaran dari Kaisar Li Liong-ci. Ilmu itu


ciptaan dari gurunya, yakni paderi-sakti Thian Liong.
Sayang aku tak mampu mempelajari dengan giat
sehingga menelantarkan ilmu ajaib dari gurunya aliran
Suci dan Jahat.
Gak Lui sangat berkesan sekali terhadap sebuah
pukulan dan tiga serangan pedang dari Gan Ke-ik tadi.
Maka ia menanyakan nama jurus2 itu dan diam2
mengingat-ingat gerakan Gan Ke-ik tadi. Ia mencatat
baik2 dalam hati. Gan Ke-ik mendapat kesan bahwa Gak
Lui itu masih muda dan berhati lurus. Tak mudah untuk
menerima penjelasan mengenai hal2 yang khayal. Maka
la segera menambah keterangan: Agama dan Syaitan
itu, sebenarnya dapat diketahui. Oleh karena itu, beda
Manusia dengan Syaitan itu hanya perbedaan antara
Mati dan Hidup. Atau lebih jelas lagi, antara Raga
dengan Jiwa. Selama jiwa masih bersemayam dalam
raga, kita hidup. Tetapi, setelah jiwa meninggalkan raga,
kita pun mati. Tentang mati dan hidup, memang sudah
digariskan dalam nasib.
Kalau begitu, Roh dan Nasib itu memang dapat
dipercaya?
Kalau tak percaya, tak ada. Kalau percaya, ada.
Luasnya tiada. terbatas, dapat mencangkum masa
dahulu dan yang akan datang.
Gak Lui tak sempat menanya lebih jauh karena Sebun Giok sudah mendahului. Benar, memang ilmu
petangan dari partai Gelandangan termasyhur dalam
dunia persilatan. Untuk mencari barang yang hilang dan
orang, manjur dan tepat sekali.
Serentak tergeraklah pikiran Gak Lui, tanyanya: Gan
pangcu, aku hendak mencari beberapa orang. Dapatkah
290

engkau memberitahukan?
Boleh...., boleh..... Tetapi dalam nujuman itu hanya
dapat memberi jejaknya saja.
Ada jejak, cukuplah.... Gan Ke-ik segera
mengeluarkan sebuah cermin, katanya: Silahkan melihat
cermin ini. Setelah kuucapkan doa, tentu akan akan
muncul gambaran orang pada kaca itu. Tetapi kalau
hendak mencari orang, harus memberitahukan nama dan
hari lahirnya!
Seketika Gak Lni tertegun. Karena apa yang
dilihatnya pada cermin itu hanyalah ayah-bunda, taci
angkat. Tetapi dia tak tahu hari kelahiran mereka. Dan
tentang siapa musuhnya, sama sekali ia tak tahu
namanya. Gak Lui hanya termenung-menung tak dapat
bicara. Melihat itu Gan Ke-ik segera menegur: Apakah
Gak siau-hiap tak mau bertanya apa?
Aku tak tahu hari lahir mereka! Se-bun Giok tahu
akan kekecewaan Gak Lui maka buru2 ia memberi
anjuran supaya pemuda itu menanyakan saja tentang
peristiwa yang akan datang.
AKHIRNYA Gak Lui menurut. Bertanyalah ia kepada
Gan Ke-ik: Kalau kutanyakan tentang hal2 yang akan
datang, apakah juga manjur....?
Sudah tentu manjur juga. Tetapi bayang2 pada
cermin itu, mungkin saat itu sukar dimengerti. Tetapi
kelak tentu terbukti semua.
Gak Lui segera menanyakan peristiwa.yang akan
dialami pada masa yang akan datang. Gan Ke-ik
menyerahkan cermin kepada Se-bun Giok, katanya:
Menanyakan nasib diri sendiri, tak boleh orang itu
melihatnya sendiri. Karena setiap orang tentang
291

prasangka, mudah salah faham. Misalnya, kalau


sekarang ini saja hendak mencari Kaisar Persilatan, juga
lain caranya. Maka harap saudara Se-bun yang melihat
dan mengatakan, kita berdua yang mendengarkan.
Demikian ketiga orang itu lalu pejamkan mata. Pikiran
Gak Lui melayang pada gerombolan Topeng Besi dan si
Hidung Gerumpung serta si Maharaja. Oleh karena tak
dapat menanyakan diri kedua orang tuanya, maka ia
mengharap dapat mengetahui tentang musuh besarnya.
Gan Ke-ik setengah pejamkan mata. Tangannya
menekuk-nekuk jari, mulut berkemak-kemik membaca
doa. Sedang Se-bun Giok memandang penuh perhatian
pada kaca. Beberapa saat kemudian, tiba2 Se-bun Giok
berseru : Aku melihat sesuatu !
Cianpwe melihat apa ? tanya Gak Lui.
Seorang yang berkerudung muka ..... pedangnya
menonjol ke atas, kakinya menginjak beratus-ratus tulang
mayat ........ sikapnya congkak dan angkuh sekali ........
Diam2 Gak Lui terkejut. Ia duga tentulah si durjana
Maharaja Persilatan. Maka berserulah ia: Dia:
mempunyai hidung atau tidak ?
Ah, karena mukanya ditutupi kain kerudung, mana
dapat kelihatan sahut Se-bun Giok seraya kerutkan alis,
hai..., kelihatan seorang lagi!
Seorang lagi ?
Sebuah gunung, belantara ........ sebuah guha,
hai...., kain kerudung orang itu tiba2 melayang jatuh.
Bagaimana ? teriak Gak Lui tegang sekali.
Dia ....... dia memang tak punya hidung! teriak Sebun Giok tegang juga. Seketika menggigillah Gak Lui,
serunya : Harap perhatikan wajahnya dengan seksama!
292

Batang hidungnya terpapas semua hingga tinggal


lubangnya saja. Wajahnya... celaka! Dia terjungkal rubuh
dan mati ........!
Benar, dia memang harus mati ! teriak Gak Lui
kalap. Seketika Se-bun Giok melihat permukaan cermin
itu seperti tertutup sinar merah darah. Serentak ia
membentak Gak Lui : Jangan berteriak....! Teriakanmu
itu melenyapkan bayangan yang berada di sampingnya!
Apakah sudah tak kelihatan! tanya Gak Lui gugup.
Se-bun Giok memandang dengan seksama. Permukaan
cermin bagai tertutup gumpalan awan. Sebentar terang,
sebentar gelap. Lewat beberapa seat barulah wajah Sebun Giok cerah.
Nah, sudah muncul, sudah muncul. Ah....., masih dia
saja ....
Siapa?....
O....rang berkerudung yang menyanggul pedang tadi
!
Oh....., dia belum mati?
Ah....., bukan hanya seorang .. dua orang
Ooo...., tetapi muncul beberapa orang yang
merupakan
sekelompok
besar.
Mereka
semua
mengenakan kerudung muka dan membawa pedang.
Gerombolan itu mengitari sekeliling orang berkerudung
yang muncul pertama tadi, seperti sedang menari- nari
mengelilinginya .......
Lalu?
Dari kejauhan muncul seseorang yang mencekal
sepasang pedang. Gerakannya secepat angin meniup.
Dia hanya seorang diri ..... tidak, ah.... di belakangnya
293

menyusul banyak sekali tokoh2 silat yang hebat.........


kedua fihak segera bertempur hebat ..... pedang berkiblat
deras, darah membasahi bumi .......Ah....., ada beberapa
orang yang rubuh........ lagi beberapa yang rubuh .......
Permukaan kaca itu penuh dengan bayangan yang cepat
muncul lenyap sehingga Se-bun Giok tak keburu
menerangkan. Tetapi dari kerut wajahnya, dapatlah
disimpulkan bahwa Se-bun Giok sedang menyaksikan
sesuatu yang ngeri. Gak Lui tak berani mengganggu.
Setelah melihat wajah Se-bun Giok agak tenang, barulah
is bertanya: Bagaimana akhirnya?
Akhirnya sebuah lautan darah, penuh dengan mayat
yang timbul tenggelam
Adakah si Topeng Besi di situ?
Belum diketahui .... Sekarang tampak lima sosok
mayat terdampar di tepi laut, ah ....... memang
mengenakan topeng besi ! Itulah upahnya penghianat !
seru Gak Lui.
Heran ?
Mengapa ?
Beberapa berlutut menangis dengan sedih sekali !
Siapakah yang menangisi mereka?
Rupanya tokoh2 dari Lima partai persilatan besar !
Gak Lui pening kepalanya dan mulutnyapun berseru
heran. Dilihatnya Se-bun Giok tengah memandang kaca
itu dengan wajah tegang. Wajahnya pucat lesi dan tiba2
mendekap cermin itu ke dada. Jelas dia melihat sesuatu
yang ngeri. Gak Lui tak tahan lagi. Segera ia mencekal
tangan orang yang bergemetar : Se-bun sianseng,
apakah yang sesungguhnya engkau lihat?
Tidak .... tidak apa2.
294

Mengapa tak berani mengatakan?


Harap jangan tersendat-sendat. Ada hal yang
burukpun aku tak takut! '
Se-bun sianseng tak dapat mengelak lagi. Terpaksa
dengan tersekat ia menyahut: Kulihat dalam hutan
terdapat sebatang pohon besar, sebuah gedung mewah
.... diatasnya tertulis 4 buah huruf .....
Bukankah berbunyi Paseban agung Yau-san
Se-bun Giok terkejut: Hai....., mengapa engkau
tahu?
Aku hanya menduga-dugal
Tak mungkin! Rupanya engkau faham akan tempat
itu.
Sudahlah, jangan menanyakan soal itu. Harap
lanjutkan keterangan saja!
Di dekat Paseban-agung Yau-san itu terdapat
sebuah puncak gunung. Di samping gunung ada sebuah
guha batu ........
Apa isinya? Seorang pemuda cakap sedang duduk
bersila, dia ...... tiba2 Se- bun Giok memandang Gak Lui
beberapa saat lalu menelan air liur .......
Dia bagaimana?
Dengan mengertak gigi, Se-bun Giok menyahut
dingin: Dia tak apa2!
Tanpa disadari, karena tegang perasaan, Gak Lui
mencengkeram, keras tangan Se-bun Giok: Aku tak
percaya, cianpwe harus bilang!
Melihat
itu
Gan-Ke-ikpun
hentikan
gerakan
tangannya. lapun segera mencegah: Harap Gak siau295

hiap jangan memaksa. Apa yang tampak pada cermin itu


adalah gambaran dari isi hatimu. Tetapipun hanya secara
samar2, tak dapat jelas sekali. Misalnya, pertempuran
dahsyat dari dua fihak partai. Belum tentu terjadi dalam
sebuah tempat. Tetapi dalam cermin itu diperlihatkan
suatu pertumpahan darah hebat. Asal musuhmu yang
utama sudah tampak, yang lain2 tak perlu engkau
pikirkan terlalu serius.
Diam2 Gak Lui menimang: Maharaja, HidungGerumpung dan Topeng Besi, sudah bermunculan.
Tentang yang dilihat Se-bun Giok paling akhir, mungkin
tentu peristiwa malang yang akan menimpah diriku.
Tetapi pokok asal sudah terlaksana membalas dendam,
aku tak peduli nasib apa yang akan menimpah diriku!
Dengan pemikiran itu, ia lepaskan cengkeramannya
pada tangan Se-bun Giok dan menjawab kata2 ketua
partai Gelandangan tadi:. Ucapan pangcu memang
benar. Terima kasih!
Sesaat kemudian Se-bun Glok berkata: Rasanya
saat ini sudah menjelang fajar, baiklah kita segera
mengantar jenazah Ceng Suan totiang.
Gan Ke-ik menyetujui.....
Rupanya Gak Lui masih tak enak hati atas kematian
Ceng Suan totiang. Maka ia menyatakan bersedia untuk
membantu mengantaran jenazah.
Se-bun Giok
mengatakan bahwa peraturan Antar Jenazah itu amat
banyak. Dia memperingatkan bahwa pemuda itu masih
perlu menuju ke gunung Pek-wan-san. Maka lebih baik
membagi tugas saja. Pendapat itu disetujui. Maka Sebun Giokpun segera mulai mengangkat jenazah Ceng
Suan lalu ditegakkan pada pohon.
Gan Ke-ik lalu berkata kepada Gak Lui : Harap
296

engkau kosongkan pikiran dan menutup kedua mata


dengan tangan. Jika hendak melihat, silahkan dari sela2
jari saja.
Memang Gak Lui agak tak percaya. Maka ia tak mau
melewatkan kesempatan itu. Ia ingin menyaksikan
apakah orang yang sudah mati masih dapat berlari. Muka
dan kepala didekap dengan kedua tangan dan hanya
diberi sebuah lubang celah jari untuk mengintai keluar.
Gan Ke-ik pun segera bersiap. Tangan kiri bergerakgerak, mulut berkomat-kamit mengucap doa. Sedang Sebun Giok sudah menerobos keluar hutan untuk menjaga
jangan sampai ada orang yang masuk ke dalam hutan
situ. Gan Ke-ik bergerak makin lama makin cepat. Ia
berputar-putar. Akibat putaran tubuh itu, anginpun timbul
keras. Tiba2 ia berhenti dan membentak pelahan :
Gerak.! Sekali tangan kanan menunjuk, berhamburanlah angin deras kearah jenazah Ceng Suan
totiang dan mayat itupun melonjak ke muka sampai tiga
langkah.
Jalan ! seru Gan Ke-ik pula dan mayat Ceng Suan
totiang itu segera berjalan keluar hutan. Melihat itu Sebun Giok tak keburu mengucap selamat jalan kepada
Gak Lui karena ia harus cepat2 mendahului untuk
menunjukkan
jalan.
Selama
mengunakan
ilmu
menjalankan mayat Gan Ke-ik tak dapat bicara dengan
orang. Maka ia hanya melambaikan tangan kepada Gak
Lui lalu menerobos keluar hutan.
Setelah ketiga orang itu lenyap, barulah Gak Lui
membuka tangannya. Dia tak percaya akan segala
ketahayulan. Tetapi apa yang disaksikan tadi, memang
benar2 suatu kenyataan. Ia tak percaya akan cermin
ajaib dari Gan Ke-ik tadi. Namun diam2 ia bersyukur juga
karena mengetahui hal2 mengenai musuhnya. Jika
297

gerombolan Topeng Besi itu terdiri dari lima orang,


tentulah mereka itu tokoh2 berilmu tinggi dari kelima
partai persilatan. Yang jelas paderi Ceng Ci dari Bu-tongpay telah menjadi kaki tangan si Maharaya dan
membunuh Ceng Suan totiang, ketua Bu-tong-pay saat
ini. Tokoh Kong-tong-pay yang hilang yalah Wi Cun
totiang. Saudara sepergguannya yakni Wi Ti dau Wi Tun
merasa cemas. Teringat akan bayang2 yang muncul
pada cermin ajaib tadi, diam2 Gak Lui merasa heran
juga. Mengapa kelima tokoh partai persilatan yang
lenyap dan menjadi kaki tangan Maharaja itu menangisi
mayat2 yang bergelimpangan pada lautan darah akibat
dari pembunuhan yang mereka lakukan ? Dan orang
yang menyanggul pedang, berjalan diatas gunung
bangkai manusia, tentulah si durjana Maharaja
Persilatan. Anehnya, ketika si Hidung Gerumpung mati,
orang yang diduga sebagai Maharaja itu muncul pula
dalam cermin. Apakah itu bukan menyatakan bahwa
cermin ajaib itu hanya khayalan yang tak keruan dan tak
dapat dipertanggungan jawabkan kebenarannya? Atau,
apakah memang ada dua orang tokoh yang berlainan
orangnya?
Menurut keterangan ayah-angkatnya, pembunuh
yang pedangnya memakai tanda burung Palang,
hidungnya telah terpapas kutung. Tetapi menurut
keterangan Bok kiam-su, orang yang mukanya
berkerudung itu, hidungnya masih utuh, Disesuaikan
dengan bayang-bayang pada cermin ajaib, jelas kalau
antara orang yang hidungnya gerumpung dan memiliki
pedang pertanda palang, dengan orang yang
mengenakan kerudung muka dan mendatangi Bok
Kiamsu itu, adalah dua orang. Tetapi kini tanda guratan
palang pada pedang pembunuh itu sudah, diperbaiki.
Dengan begitu ia telah kehilangan sebuah jejak untuk
298

mengejar pembunuh orang tuanya.


Misteri yang menyelubungi diri Maharaja dan si
Hidung Gerumpung makin gelap baginya. Kemudian Gak
Lui teringat akan Se-bun Giok yang tak mau mengatakan
tentang Gedung keramat gunung Yau-san dan guha batu
di puncak gunung serta pemuda cakap yang duduk
bersemedhi dalam guha batu itu.
Aku tak pernah melihat wajahku, pikir Gak Lui,
tetapi ayah adalah pemuda cakap pada masa itu. Ah,
mungkin wajahku mirip dengan Ayah. Bahwa Se-bun
Giok memandang aku dan tak berani berkata apa2
adalah karena ia melihat mataku ..... mulutku ..... serupa
dengan wajah pada cermin itu. Makin merenungkan
tingkah laku Se-bun Giok pada saat melihat bayang2
wajah orang pada cermin ajaib, makin teganglah hati Gak
Lui.
Mengapa tadi mendadak wajah Se-bun Giok
berubah pucat ? Ah....., tentulah karena pemuda cakap.
yang bersemedhi dalam guha batu itu ... atau dirinya
(Gala Lui) .,. tentu akan menemui ajal secara menge naskan.
Mengapa aku harus mati secara mengenaskan?
bertanya Gak Lui dalam hati, ah....., tentulah karena aku
telah banyak dosa membunuh orang ....
Gak Lui menengadah memandang langit. Tiba2 ia
tertawa mengekeh : Heh..., heh..., heh...., asal dapat
membalas dendam orang tuaku, aku tak peduli akan mati
secara bagaimana!. Kematian orang tuanya, para paman
perguruan
serta
bibi
perguruannya,
serentak
membangkitkan rasa dendam yang membakar hangus
sanubari Gak Lui. Saat itu perasaan Gak Lui amat tegang
sekali. Begitu tegang, sehingga hampir saja ia
299

kehilangan kesadaran pikirannya. Dan apabila sampai


pada tingkat yang memuncak begitu, hawa amarah yang
penuh dengan nafsu, keganasan itu akan menyerang ke
dalam uluhatinya dan dia pasti akan tertimpah Co-hwejip-mo. Kalau tidak rusak tubuhnya, tentu mati seketika.
Gak Lui tak menyadari hal itu. Dadanya sesak,
pikiran linglung dan matapun kabur. Memandang
kesekeliling, ia seperti melihat gerumbul pohon di
sekeliling itu seperti sosok tubuh dari musuh-musuhnya
yang hendak mengepung dirinya. Serentak ia mencabut
sepasang pedangnya dan memekik keras:
Bunuh!
Tetapi makin lama suaranya makin lemah dan
akhirnya lenyap. Tiba2 pula ia memandang pada pedang
pusaka Pelangi yang dicekal di tangan kiri. Pedang itu
memancarkan sinar yang amat bening tetapi penuh
dengan hawa pembunuhan. Akhirnya ia sadar dan
pikirannya pun makin tenang. Teringat bahwa pedang itu
sudah membunuh tiga jiwa, ia merasa menyesal. Orang
tentu akan menuduhnya sebagai seorang manusia ganas
yang tak kenal peri-kemanusiaan! Memandang kearah
timur, tampak mentari mulai memancarkan sinarnya yang
kekuning-kuningan emas. Dan samar-samar dalam
gumpalan halimun pagi, ia serasa mendengar
kumandang doa kaum agama Budha. Seketika
pikirannya tersadar.
Demi membalas sakit hati orang tuaku, mau tak mau
aku harus membunuh. Tetapi aku bersumpah takkan
membunuh orang yang tak berdosa Dari lubuk
nuraninya, memancarkan hati yang penuh welas asih.
Nafsu membunuh yang bampir saja membakar hangus
dirinya, mulai reda. Gak Lui terhindar dari sebutan
sebagai Durjana dunia persilatan.
300

Tetapi tidak mudah untuk membedakan mana orang


baik dan mana yang jahat. Ada orang yang bersikap
pura2 baik. Ada pula yang setengah, baik setengah
jahat, diam2 Gak Lui mongeluh dalam hati
Setelah
pikiran
agak
tenang
dan
nafsu
kemarahannya agak reda, Gak Lui mulai menarik napas
untuk menghirup hawa pagi yang segar. Setelah itu ia
menyarungkan kembali kedua pedangnya. Lalu ayunkanlangkah menuju ke gunung Pek-wan-san.
Gunung Pek-wan-san atau gunung Monyet putih
disebut dengan nama itu karena bentuk puncak gunung
itu hampir menyerupai binatang monyet.
LEMBAH GUNUNG Pek-wan-san sunyi senyap.
Tetapi, hutan belantara gunung itu tampak hiruk-pikuk
dengan margasatwa yang terbang berseliweran. Suatu
tanda bahwa mereka tertejut karena kedatangan
manusia. Dan memang pada jalan kecil yang menjurus
ke dalam lembah, tiba2 meluncur sebatang anak panah
perak. Anak panah pertandaan itu, melayang ke dalam
hutan. Menyusul tampak beberapa sosok bayangan
memencar bersembunyi ke dalam gerombolan orang.
Gerombolan orang itu semua mengenakan jubah dan
kerudung muka hitam. Persis seperti anak buah
Maharaja. Setelah mereka bersembunyi, dari arah jalan
muncul sesosok tubuh tegak.
Sambil memandang keadaan gunung, mulut
pendatang itu berseru: Rupanya inilah gunung Pek-wansan ! Pendatang yang bertubuh tegap itu bukan lain
adalah Gak Lui.
Dengan gembira ia mulai menuruni lembah, tangkas
dan lincah sekali langkahnya. Tak terasa ia sedang
menuju kearah barisan pendam. Sesaat tiba di tepi
301

lembah, tiba2 ia berhenti dan menjamah pedangnya:


Hmm....., mengapa di sini terdapat bau manusia ?
Kemudian ia memandang ke sekeliling penjuru. Ia
heran mengapa unggas dan burung2 itu berterbangan
kacau balau. Katanya: Burung2 itu berterbangan kaget,
tentu ada manusia di sekeliling sini ....... Ia memandang
dan memperhatikan lagi keadaan sekeliling tempat itu.
Tetapi tak melihat sesuatu yang mencurigakan. Pada lain
saat ia mengambil kesimpulan : Ah...., kalau ada
jalanan, tentu sering digunakan orang berjalan.
Kemungkinan tentu rakyat daerah ini. Mengapa aku
berauriga sendiri ......... habis berkata ia terus lanjutkan
langkah, menuju ke tengah lembah.
Sekonyong-konyong terdengar suara bentakan orang
: Gak Lui, berhentilah ! Gak Lui berhenti dan cepat
berpaling ke belakang. Dilihatnya dua orang berkerudung
hitam tegak 5 tombak jauhnya dengan menghunus
pedang berkilau-kilauan.
Huh....., kiranya budak2 Maharaja ! dengus Gak Lui,
seraya maju menghampiri.
Diam2 Gak Lui menggunakan hidungnya untuk
menyelidiki. Ia mendapat kesimpulan bahwa yang
menghadangnya itu bukan melainkan kedua orang itu
saja, tetapi masih ada lagi. Mungkin jumlahnya cukup
banyak. Ia memutuskan untuk cepat2, membereskan
kedua orang itu agar menghemat tenaga. Saat itu ia
hanya terpisah tiga tombak dari kedua penghadangnya.
Kedua orang itu berkerudung hitam itu segera tudingkan
ujung pedangnya dan membentak : Berhenti !
Gak Lui berhenti dan berseru :Mau apa cari aku ?
Maharaja memberi perintah, suruh engkau.......
302

Suruh aku....? teriak Gak Lui.


Benar, suruh kau ikut kami menghadapnya.
Dia dimana ?
Nanti engkau akan tahu sendiri!
Heh..., heh..., heh...! Gak Lui tertawa iblis. Penuh
dendam kemarahan yang meluap-luap. Tetapi kedua
orang itu tak gentar. Mereka maju tiga langkah dan
membentak : Jangan tertawa-tawa, lekas ikut.
Aku hendak mengerjakan sebuah urusan !
Urusan apa ?
Sebenarnya
Gak
Lui
sudah
menetapkan
pendiriannya. Tak mau mencelakai orang yang tak
bersalah. Tak membunuh yang tak berdosa. Tetapi
menghadapi kaki tangan Maharaja, ia tak dapat
mengendalikan diri lagi, bentaknya : Akan kuwakili dunia
persilatan untuk membasmi kalian pengganggu rakyat !
Kedua orang berkerudung itu mundur dua langkah,
serunya terkejut : Engkau .....
Tetapi sebelum mereka sempat bicara lebih lanjut,
Gak Lui sudah taburkan pedangnya. Ia gunakan tenagasakti Algojo-dunia untuk melepaskan pedang dengan
jurus Tho jiu-hui-kiam. Terdengar, suara mendesis dan
pedangpun menancap di dada orang yang berdiri di
sebelah kanan. Kawannya tesentak kaget dan cepat
putar pedangnya untuk melindungi diri seraya berseru :
Engkau bukan ........
Tetapi Gak Lui, lebih cepat lagi. Secepat tangan
kanan mencabut pedang di dada korbannya tadi, tangan
kiripun segera menaburkan pedang Pelangi. Orang
berkerudung hitam itu makin terkejut. Dalam gugup, ia
303

cepat menangkis. Tring ...., pedangnya terpapas kutung


ketika menangkis sambaran pedang Pelangi. Dan
pedang Pelangi itu tetap menyusup ke perutnya.
Terdengar jeritan ngeri dan terkaparlah orang itu
mengge!etak di tanah! Dalam sekejab mata dua jiwa
telah dilalap Gak Lui, kawan2 gerombolan yang
bersembunyi di balik batu dan dalam gerombol, terkejut
bukan kepalang. Cepat mereka berhamburan loncat
keluar dan menyerang Gak Lui.
Gak Lui makin beringas. Maharaja adalah musuh
besarnya. Anak buah Maharaja harus dibasmi habishabisan. Dengan sepasang pedang ia mengamuk.
laksana banteng ketaton. Tiba2 terdengar suara
gemerincing keras dan tahu2 pedang di tangan kanan
Gak Lui telah mencelat sampai tujuh delapan tombak
tingginya. Serempak dua sosok tubuh melambung ke
udara untuk merebut pedang itu. Yang satu adalah Gak
Lui sendiri. Ia gunakan gerak Rajawali pentang-sayap.
Dan yang seorang adalah seorang berkerudung hitam.
Gerak orang itupun seringan burung walet. Pada saat
keduanya melambung ke atas, orang berkerudung itu
masih dapat memapas kedua kaki Gak Lui. Pedang
Pelangi walaupun tajamnya bukan alang kepalang tetapi
sayang agak pendek. Maka Gak Lui tak mau menangkis
melainkan terus bergeliatan melambung ke atas. Dan
pada saat pedang orang itu hampir tiba, cepat2 Gak Lui
menarik kedua kakinya ke atas. Wut ....... pedang
menyambar, hanya setengah dim di bawah telapak
kakinya. Gak Lui melakukan suatu gerakan yang
istimewa. Dalam melambung tadi, ia gunakan pedang
Pelangi untuk menempel pedang yang melayang ke atas
tadi. Sedang tangan kanan dihantamkan ke ubun2
kepala musuh. Orang itu terkejut dan buru2 menangkis
dengan tangan kiri: Plak ...... keduanya sama2 meluncur
304

ke bawah lagi. Dan ketika turun ke bumi, mereka terpisah


dua tombak jauhnya. Saat itu pedang yang ditempel
dengan pedang Pelangi tadi, ikut terbawanya.
Gak Lui lalu mengambilnya lagi. Saat itu ia sudah
siap lagi dengan sepasang pedangnya. Setelah itu ia
hendak maju menyerang. Tetapi ia terkejut menyaksikan
orang berkerudung itu. Begitu tegak di tanah, orang
berkerudung itu terus merobek-robek jubah hitamnya.
Kawannyapun juga meniru. Suatu hal yang tak lazim
dilakukan oleh anak buah Maharaja. Gak Lui menatap
orang itu tajam2. Seorang lelaki yang berwajah terang
dan sikapnya berwibawa. Walaupun kerut wajahnya
diliputi dendam kemarahan, tetapi tak mengunjuk tanda2
sebagai orang jahat. Gak Lui hendak menegur tetapi
orang itu cepat mendahului berteriak: Engkau ...... bukan
kaki tangan Maharaja?
Kalian ...... apakah juga bukan? sahut Gak Lui tak
kurang terkejutnya
Aku adalah ketua perguruan Kiu-hoan-bun!
Kiu-hoan-bun? Kalau begitu namamu ........ Rajawalitanpa- bayangan Ih Ci-jin!
Mengapa engkau menyaru sebagai gerombolan
jahat?
Kaki tangan Maharaja itu sukar diketahui jejaknya
maka kami terpaksa menyamar untuk mencari mereka!
Mengapa menyerang aku?
Hanya suruh engkau ikut kami!
Dengan tujuan .........
Menyelidiki dirimu termasuk aliran Hitam atau Putih
Setelah terjadi pertumpahan darah ini, seharusnya
305

engkau tentu sudah jelas! Tetapi.......


Bagaimana?
Dengan cara apa aku mendapat keyakinan bahwa
kalian ini dari Partai Kiu-hoan-bun dan bukannya
gerombolan yang memalsu nama perguruan itu? seru
Gak Lui. Rajawali-tanpa-bayangan Ih Ci-jin tertawa
mengekeh. Serunya dengan nada rawan: Sudah tentu
ada bukti yang jelas!
Apa ....?
Orang ini engkau tentu kenal! tiba2 ketua perguruan
Kim-hoan- bun itu melesat ke samping setombak jauhnya
dan cret...,. cret..., ia menyabet hancur kerudung dan
jubah sesosok mayat. Yalah salah seorang penghadang
yang dibunuh Gak Lui tadi.
Lihatlah sendiri!
serunya. Gak Lui maju
menghampiri. Ketika memandangi mayat itu berserulah
ia dengan getar: Benar, sudah dua kali aku melihatnya!
Dia adalah muridku yang bernama Ji Kok-ceng.
Pertama, pedangnya engkau papas kutung tanpa sebab.
Kedua kali, ketika di ruang penyimpan mayat Leng-koantian, engkau hantam dia sampai terluka .......!
Ah...., harap Ji ciangbun jangan salah faham. Aku
mempunyai dendam sedalam lautan kepada Maharaja.
Perbuatanku memapas pedang dan peristiwa tadi,
adalah serupa tujuanku. Sayang muridmu bersitegang
leher dan tetap salah faham
Rajawali tanpa bayangan dapat menyelami
penjelasan Gak Lui. Namun dengan mengertak gigi ia
berkata: Walaupun begitu, tetapi tindakanmu itu
memang kelewat ganas !
Sambil memandang korban yang menggeletak di
306

tanah itu, Gak Lui menjawab: Memang harus disesalkan


ketidak jelasnya antara kawan dan lawan...... aku
sungguh menyesal sekali atas peristiwa itu.
Korban begini banyak, apakah cukup dengan
pernyataan menyesal saja ?
Melihat orang makin keras bicaranya, Gak Lui segera
bertanya : Ji ciangbun, andaikata aku membawa
sejumlah besar anakbuah dan menyaru sebagai
gerombolan Maharaja lalu menyuruhmu ikut. Apakah
Engkau menurut atau melawan ....?
ini....
Engkau dan aku sama2 sehaluan. Sama2 hendak
membasmi kawanan durjana. Seharusnya kita bersatu
padu melaksanakan tujuan itu. Kalau tidak, bukankah
kita akan ditertawai kawanan penjahat itu ....... ! tukas
Gak Lui.
Wajah Rajawali tanpa-bayangan berobah-robah tak
menentu. Terbit pertentangan dalam batinnya Akhirnya
dengan menahan segala rasa sakit hatinya, ia berkata:
Demi menghadapi musuh bersama, untuk sementara
baiklah kita jangan bentrok sendiri Tetapi ingat, kami
takkan membiarkan anakmurid perguruan Kiu- hoan-bun
mati secara begitu saja !
Maksud ciangbun .......?
Setelah berhasil membasmi gerombolan Maharaja,
kita nanti selesaikan lagi urusan ini. Dengan
mengandalkan kepandaian kita masing2, kita nanti
tentukan siapa yang kalah dan menang !
Terhadap tantangan yang adil, Gak Lui selalu
menerima. Terpaksa ia anggukkan kepala : Jika Ji
ciangbun tetap menghendaki penyelesaian begitu,
307

akupun hanya menurut saja. Namun atas kematian murid


Kiu-hoan bun, dengan ini sekali lagi aku menyatakan
rasa, sesal yang tak terhingga!
Setelah terjadi kesepakatan damai itu, keduanyapun
mundur dan menyarungkan senjatanya. Tiba2 dari atas
pohon sejauh 10-an tombak, terdengar suara tertawa
seram. Nadanya mirip burung hantu mengukuk di tengah
malam. Sekalian orang tersentak kaget. Rajawali-tanpabayangan Ih Ci-jin memandang ke arah suara tertawa itu.
Bahkan salah seorang marid Kiu-hoan-bun sudah cepat2
ayunkan tubuh melayang ke arah pohon itu. Tetapi baru
tubuh murid Kiu-hoan-bun itu melambung di tengah
udara, tiba2 dari arah pohon yang lebat daunnya itu
melayang selembar daun. Daun itu menyambar murid
Kiu-hoan-bun dan memaksanya jatuh ke tanah lagi. Ilmu
melontar daun itu, benar2 mengejutkan sekali.
Pelepasnya tentu seorang ahli tenaga-dalam yang sakti.
Tring..., Rajawali-tanpa-bayangan mencabut pedang
terus hendak enjot tubunya menyerang ke atas pohon.
Ih ciangbun, jangan bergerak....! tiba2 orang diatas
pahon itu berseru perlahan namun amat kuat nadanya,
muridmu tidak terluka. Kalau tak percaya, dia tentu
segera bangun.
Rajawali-tanpa-bayangan tertegun. Dan ah...., benar
juga, muridnya yang terkena timpukan daun tadi segera
loncat bangun tak kurang suatu apa.
Siapa engkau ! seru ketua Kiu-hoan-bun.
Jangan hiraukan aku ini siapa. Pokoknya, aku
seorang yang bermaksud hendak membantumu! sahut
orang aneh itu.
Bermaksud baik membantuku? ulang Ih Ci-jin ketua
Kiu-hoan- bun.
308

Aku sengaja datang kemari


menelanjangi kedok Gak Lui !

karena

hendak

Oh..... Rajawali-tanpa-bayangan Ih Ci-jin serentak


berpaling memandang Gak Lui.
Dia memang kaki tangan si Maharaja! Harap Ih
ciangbun jangan mudah melepaskannya ! seru orang di
atas pohon itu pula.
Rajawali-tanpa- bayangan menegas : Saudara
sendiri main sembunyi tak berani unjuk muka.
Bagaimana aku dapat mempercayaimu...?
Dengan tenang, orang itu menyahut: Setiap kaki
tangan Maharaja, tentu membawa sehelai lencana kecil
dari emas. Tak percaya, silahkan ciangbun menggeledah
badannya!
Gak Lui terkejut, pikirnya: Aku memang masih
membawa lencana emas milik Setan Keluyuran, tetapi
mengapa dia bisa tahu ...?
Ia tak dapat melanjutkan penimangannya karena saat
itu dilihatnya Rajawali-tanpa-bayangan Ih Ci jin berputar
tubuh dan memandangnya lekat2. Gak Lui terpaksa
memberi penjelasan, lh ciangbun, memang lencana itu
ada padaku. Tetapi kudapatnya dari murid Pek-kut Mokun ......
Mengapa tadi tak bilang?
Kuanggap hal itu tak perlu .....
HEH..., HEH...., HEH ..... terdengar orang misterius
yang bersembunyi di atas pohon itu tertawa mengejek
dan menukas pembicaraan Gak Lui.
Gak Lui, engkau memang anak yang pandai. Tetapi
sok pintar. Jelas engkau sudah mengetahui ketua partai
309

Kiu-hoan-bun tetapi engkau, toh membunuh anak


muridnya. Masakan di dunia terdapat seorang ketua
perguruan silat yang mau menerima begitu saja
murid2nya dibunuh orang ......
Mendengar itu, sepasang mata Rajawali-tanpabayangan Ih Ci-jin merah membara. Ia berpaling ke arah
pohon.
Oh...., ciangbun jangan deliki mata kepada ku! sama
sekali aku tak bermaksud mengejek perguruan Kiu-hoanbun. Tetapi jelas dia adalah kaki tangan Maharaja yang
tak dapat diberi ampun. Kalau engkau takut, baiklah
diatur secara begini saja.
Secara bagaimana! teriak ketua Kiu-hoan-bun,
dengan murka.
Silahkan engkau membawa pergi anak muridmu.
Nanti aku sendiri yang membereskan budak itu!
Ngacol bentak Ih Ci-jin.
Kalau ciangbun memang berani turun tangan sendiri,
aku bersedia membantu agar engkau jangan sampai
menjadi mayat!
Fui! ketua Kiu-hoan-bun itu seperti meledak
dadanya. Dengan kalap ia segera menyerang Gak Lui.
Gak Lui loncat melayang melalui atas kepala ketua Kiuhoan-bun, menuju kepohon tempat bersembunyi-nya
orang itu.
Huh, engkau hendak melenyapkan mulut agar
jejakmu tak di ketahui orang? Hm....., aku bukan
sebangsa ketua Kiu-hoan-bun yang mudah engkau
hina......
Kata2 orang itu benar2 seperti minyak yang
menyiram kemarahan ketua Kiu-hoan-bun. Akibatnya,
310

ketika Gak Lui masih kurang dua tombak dari pohon,


tiba2 ia rasakan punggungnya dilanda hawa dingin dari
sebuah pedang tajam. Ternyata ketua Kiu-hoan-bun
sudah tak tahan lagi mendengar kata2 ejekan orang
diatas pohon itu. Serentak ia enjot tubuh melayang
keudara dan menyerang punggung Gak Lui.
Gak Lui diam2 mengeluh. Ia tahu bahwa karena
memiliki ilmu meringankan tubuh yang sakti, maka ketua
Kiu-hoan-bun itu mendapat julukan Rajawali-tanpabayangan. Namun Gak Lui tak mau unjuk kelemahan.
Berserulah ia dengan garang: Bagus ..... sambil
menekuk kedua lututnya untuk menghindari serangan,
pedangnyapun ditabaskan kebelakang. Wut..., wut.....
tabasan itu tak berhasil menghalau pedang lawan.
Dalam gugup ia bergeliatan melambung lebih tinggi
lagi. Dengan gerakan itu, dapatlah ia menghindari
pedang ketua Kiu hoan-bun. Tetapi ketua Kiu-hoan-bun
itu tetap membayanginya. Tiga buah serangan sekaligus
dilancarkan kearah perut dan punggung Gak Lui. Gak Lui
makin gugup. Keringat dingin membasahi jidatnya. Ia
cepat gunakan ilmu sakti Rajawali-pentang-sayap.
Seklipun ilmu itu amat dahsyat tetapi hanya mampu
menangkis sekali dua kali serangan lawan.
Dalam detik2 terancam maut, tiba2 Gak Lui teringat
akan suatu jurus permainan yang istimewa. Tring....,
tring...., tring...... Bukan hanya dapat menghalau ketiga
serangan kilat dari ketua Kiu-hoan-bun, bahkan masih
dapat balas menyerang juga. Ketua Kiu-hoan-bun benar2
terkejut dan terpaksa melayang turun kebumi. Dalam
pada itu Gak Lui pun tak dapat bertahan lebih lama lagi.
Ia melayang turun tak jauh dari tempat ketua Kiu-hoanbun. Serunya: Harap berhenti dulu. Jangan sampai
terkena tipu muslihat orang ......
311

Kentut! Gantilah jiwa muridku!, dengan geram ketua


Kiu-hoan- bun menyerang lagi. Karena putus-asa
memberi penjelasan, terpaksa Gak Lui gunakan jurus
Burung hong-pentang-sayap untuk menangkis. Sambil
berlincahan menghindar, diam2 Gak Lui menimang:
Ketua Kiu-hoan-bun ini memang tak bersalah. Aku
tak boleh melukainya. Memang yang harus diberantas
adalah orang yang bersembunyi diatas pohon itu. Aku
harus berdaya untuk membuat perhitungan dengan
manusia itu .....
Budak Gak, jika engkau tak mau menyerah aku
terpaksa hendak mendatangkan bala bantuan. seru
ketua Kiu-hoan-bun.
Ooo...., engkau mempunyai bala bantuan?
Partai Ceng-sia-pay memang sudah berserekat
dengan partaiku. Engkau tentu tahu betapa kesaktian
imam Thian Lok itu!
Dia juga berada disini?
Dekat sekali!
Celaka! diam2 Gak Lui mengeluh. Seorang Ih Ci-jin
saja sudah repot, apalagi masih ditambah dengan ketua
Ceng-sia-pay. Apabila sampai tambah musuh dengan
Ceng-sia-pay, jahanam diatas pohon itu tentu akan
menggunakan siasat untuk mencelakai diriku !
Akhirnya Gak Lui mengambil keputusan. Ia harus
cepat2 menyelesaikan pertempuran sebelum keadaan
bertambah berbahaya. Serangan Ih Cin-jin tadi jelas
menggunakan ilmu pedang ajaran paderi sakti Thian
Liong. Tetapi Ih Cin-jin baru menggunakan dua jurus.
Dan ilmu pedang dari Thian Liong itu terdiri dari empat
jurus. Tanpa banyak pikir lagi, Gak Lui segera gunakan
312

sisa kedua jurus ilmu ajaran Than Liong dengan


dilambari ilmu tenaga dalam. Sekali mengeluarkan jurus
permainan itu, Ih Cin-jin terpaksa barus mundur tiga
langkah. Menggunakan kesempatan pada saat gerakan
pedang ketua Kiu- hoan-bun itu agak lambat, Gak Lui
cepat menyerang dengan jurus Menjolok-bintangmemetik-bulan. Tring....., tiba2 pedang ketua Kiu-hoanbun itu terlepas dari tangan dan, secepat itu juga Gak Lui
sudah lekatkan ujung pedangnya ketenggorokan ketua
Kiu-hoan-bun. Gerakan itu berlangsung, teramat
cepatnya sehingga anak murid Kiu-hoan-bun tak sempat
menolong ketuanya -lagi,
Karena sudah menang, lekaslah bunuh aku .... 1
seru ketua Kiu-hoan-bun.
Ih ciangbun, seru Gak Lui dengan dingin, aku
takkan mencelakai kaum Putih. Hanya kuminta engkau
suka menerima peringatanku, yang sungguh-sungguh !
Hmm......
Peristiwa hari ini, kuharap habis sampai disini saja
Tak perlu menyeret partai Ceng-sia-pay kemari. Kelak
apabila kita langsungkan pertempuran yang menentukan,
bolehlah engkau panggil mereka!
Benar ?
Tentu! sahut Gak-Lui tegas, jangankan hanya
Ceng-sia-pay, tambah yang lain2 lagi pun kuterima.
Walaupun malu dan marah tetapi ketua Kiu-hoan-bun
itu terpaksa menerima. Gak Lui pun menyarungkan
pedang dan memandang kearah pohon. Aneh...,
mengapa tak tampak suatu gerakan apa2. Ia duga orang
itu tentu sudah pergi karena rencananya mengadu
domba gagal. Karena tak ingin bentrok dengan orang
313

Ceng-sia-pay, Gak Lui pun segera lanjutkan perjalanan.


Sepeminum teh lamanya, ia mencapai puncak gunung
yang kedua. Berpaling ke belakang, rombongan orang
Kiu-hoan-bun tadi sudah tidak kelihatan.
Untunglah aku mengerti ilmu pedang Tiga jurus
ajaran Thian Liong locianpwe sehingga tak sampai
menemui kesukaran. Rasanya petuah mendiang bibiguru supaya aku mempelajari berbagai ilmu pedang
partai persilatan lalu berusaha menciptakan sebuah ilmu
pedang sendiri, memang benar sekali .... pikirnya.
Memandang ke muka, jarak gunung Pek-wan-san
hanya tinggal separo. Setelah melintasi sebuah lembah,
tentu sudah tiba. Maka iapun segera percepat langkah
untuk menuruni lamping gunung. Tetapi alangkah
terkejutnya memandang ke bawah, tampak belasan
sosok tubuh sedang berlincahan dalam sinar pedang.
Ah, kiranya di lembah itu sedang berlangsung
pertempuran. Seorang imam tua berambut putih sedang
bertempur seru dengan seorang berjubah kelabu. Ilmu
pedang si imam tua dahsyat dan ganas. Masih ditambah
pula dengan gerakan tangan kirinya yang ikut menyerang
dengan pukulan yang bertubi-tubi. Walaupun terpisah
jauh, tetapi Gak Lui dapat merasakan betapa hebat
serangan imam tua itu. Tetapi ternyata orang aneh
berjubah kelabu itupun hebat sekali. Sepintas pandang ia
seperti tak memakai senjata dan hanya menggunakan
sepasang tangan untuk menghadapi serangan pedang si
iman tua. Dengan berlincahan, jubah kelabu itu taburkan
jubahnya. Taburan itu menimbulkan deru angin yang
membangkitkan debu tebal.
Imam tua yang menggunakan pedang itu apakah
bukan ketua Ceng-sia-pay, tetapi siapakah orang
berjubah kelabu itu?
314

Gak Lui bertanya seorang diri. Kemungkinan Gak Lui


itu rupanya diketahui oleh siorang berjubah kelabu. Dia
kendorkan gerakannya dan mengucap beberapa patah
kata kepada si imam tua. Imam tua itu serentak berpaling
memandang ke arah Gak Lui
Ha..., apakah artinya itu..... tiba2 orang ber jubah
kelabu itu berseru lalu loncat menghampiri Gak Lui
seraya berseru nyaring:
Gak Lui, mengapa engkau baru datang sekarang? Si
imam tua Thian Lok ini kuserahkan padamulah!
Kedua orang itu bergerak cepat sekali. Dalam
sekejab saja mereka sudah tinggal berpuluh tombak dari
Gak Lui. Di luar dugaan, habis berseru tiba2 orang
berjubah kelabu itu terus loncat menyusup masuk ke
dalam hutan. Dengan demikian, si imam tua terlanjur
berhadapan dengan Gak Lui. Imam itu tanpa,banyak
bicara lagi terus menyerang Gak Lui. Tetapi Gak Lui tak
mau melayani. Cepat ia loncat ke udara dan melayang ke
dalam hutan, mengejar orang berjubah kelabu tadi.
Imam tua Thian Lok totiang heran, pikirnya: Jika
mereka berdua bersatu mengeroyok aku, tentu mereka
akan menang. Tetapi mengapa mereka malah melarikan
diri ......?
Karena tak tahu siasat orang, imam itupun tak mau
mengejar. Ia memutuskan mencari ketua Kiu-hoan-bun
untuk berunding. Mengapa Gak Lui mengejar orang
berjubah kelabu itu?. Karena setelah mendengar
suaranya, tahulah Gak Lui, bahwa orang itu bukan lain
adalah orang yang bersembunyi di atas pohon dan
mengadu dombanya dengan ketua Kiu-hoan-bun tadi.
Dengan mengandalkan penciuman hidungnya yang
tajam, Gak Lui lanjutkan pengejaran. Saat itu ia tiba di
315

sebuah gerombol pohon yang menjulang tinggi, di bawah


kaki gunung Pek-wan-san. Gak Lui menyusup ke dalam
hutan kecil itu dan dapatlah orang baju kelabu itu tegak
berdiri di sebelah muka. la terkesiap melihat perwujudan
orang itu.
Sepasang pipinya kempot tak berdaging. Wajahnya
menyeramkan. Tubuhnya tinggi kurus. Kedua lengannya
yang panjang, menjulai sampai ke bawah lutut. Begitu
melihat Gak Lui, orang itu segera bersiap. Ia tertawa iblis:
Heh..., heh..., he...., kiranya boleh juga engkau ini.
Dapat melintasi dua lapis tokoh Kiu-hoan-bun dan Cengsia-pay ....
Pek-kut Mo-kun jangan mimpi, siasatmu yang licik itu
mampu merintangi aku! bentak Gak Lui.
Ooo...!, orang itu mundur
mengapa engkau tahu diriku ?

setengah langkah,

Bukan hanya kenal tetapi pun tahu bahwa engkau


adalah kaki tangan si Maharaja!
Selain itu apalagi, yang engkau ketahui ?
Tipu muslihatmu yang hendak mencelakai diriku.
Muridmu si Setan Keluyuran telah membunuh sepasang
Jago Pedang Samudera dan Pedang Gelombang.
Kemudian engkau memikat murid2 partai persilatan
untuk menjepit ruang gerakku. Dan engkau sendiri lalu
membunuh Bok Kiam-su, melukai kawanku lalu mengadu
domba Kiu-hoan-bun dan Ceng-sia-pay dengan aku.
Benar engkau seorang bajingan tengik ........
Pek-kut Mo-kun tertawa iblis: Heh..., heh..., heh...,
belum aku membuat perhitungan padamu tentang
muridku yang engkau bunuh itu, engkau sudah
mendahului menagih hutang padaku !
316

Jangan ngaco belo! Lekas cabut senjatamu, aku


segera hendak membereskan engkau ! bentak Gak Lui.
Aku sih tak bermaksud hendak berkelahi, sahut
Pek-kut Mo-kun seenaknya.
Apakah engkau, hendak bunuh diri sendiri?
Jangan lancang mulut! Kalau hendak membunuhmu,
adalah semudah orang membalikkan telapak tangan.
Tetapi aku meadapat perintah supaya menangkapmu
hidup2!
Siapa yang memerintahkan engkau?
Maharaja!
Dia suruh engkau mencari aku?
Ya! Gak Lui terkesiap, pikirnya: Menilik gelagat
memang ucapannya itu benar. Ditilik dengan akalnya
untuk mengadu domba Kiu- hoan-bun tetapi tak mau
turun tangan sendiri, kemudian ia sengaja merintangi
Thian Lok totiang agar bentrok dengan aku, memang
rupanya dia hendak menghabiskan tenagaku, baru
diringkus!
Justeru
aku
memang
hendak
mencarinya.
Katakanlah dulu di mana ia berada? serunya.
Lebih dulu engkau menanyakan tempatnya, setelah
itu baru engkau membunuh aku. Tetapi ho, tak semudah
itulah! ejek Thian Lok totiang.
Lalu bagaimana kemauanmu?
Pek-kut Mo-kun keliarkan mata memandang ke
empat penjuru lalu berkata: Engkau harus menjawab
beberapa pertanyaanku dulu!
Katakanlah!
317

Pada waktu kubunuh Bok Kiam-su. hanya si wanita


Bidadari Tong-ting yang tahu. Karena engkau tahu juga,
jelas engkau tentu mempunyai hubungan dengan Kaisar
dan Empat permaisuri: Benar atau tidak?
Aku tak mempunyai hubungan apa2 dengan mereka
berlima, sahut Gak Lui, tetapi mengapa engkau
membunuh Bok Kiam-su? Apakah juga atas perintah
Maharaja?
Tukang bikin pedang itu tak mau mendengar katakataku. Terpaksa kubunuh. Orang semacam begitu,
masakan Maharaja sudi mengurus!
Mendengar itu Gak Lui agak kecewa. Karena kalau
pembunuhan Bok Kiam-su itu dilakukan atas perintah
Maharaja, jelas-sudah, bahwa Bok Kiam-su itu memang
orang yang dahulu pernah membikin betul pedang
Maharaja.
Engkau mengatakan tak punya hubungan apa2
dengan Kaisar dan Empat Permaisuri. Tetapi jurus
permainan pedangmu melambung keudara dan
menyerang itu tadi, mirip dengan ilmu ajaran Kaisar
Persilatan yang bernama jurus Naga-sakti- mengibas
ekor. Cobalah engkau terangkan?
Tetapi Gak Lui tak mau menyebut sumber dari ilmu
pedang itu. Maka ia hanya tertawa: Menurut
anggapanmu, sampai dimanakah tingkat ilmu pedang
yang kugunakan tadi?
Hm ....., baru mencapai empat lima bagian saja !
Kenapa engkau memastikan ilmu pedang itu dari
ajaran Kaisar Persilatan?
Hai.., apakah bukan dia yang mengajarkan? Pekkut Mo-kun terbeliak, ku!ihat semua jurus permainan
318

pedangmu aneh. Apakah memang dari sumber ajaran


yang istimewa
Gak Lui tertawa makin keras: Pintar juga engkau,
dapat menduga
Kalau begitu ... apakah namanya ilmu pedang itu?
Pedang Halilntar
PEDANG .......HALILINTAR ....... ? Pek-kut Mo-kun
menyurut mundur tiga langkah.
Ya...., Thian-lui-koay-kiam atau Pedang Halilintar
aneh. Ilmu pedang yang khusus untuk melenyapkan
kaum durjana dan siluman!
Seketika berobahlah wajah Pek-kut Mo-kun: Ilmu
pedang itu bukan olah2 dahsyatnya Kecuali ilmu sakti
Liok-to-sin-thong dari kaum agama, tak mungkin ada
yang dapat memecahkan ilmu pedang itu ...... Dan
ternyata engkau dapat mempelajari.. Ah...., makanya
engkau dinamakan Gak- Lui si halilintar ........
Rupanya Gak Lui juga terpengaruh oleh kata2 orang
itu, diam2 ia terkejut sendiri: Memang aneh benar.
Mengapa di dunia, persilatan terdapat ilmu pedang yang
bernama begitu. Kalau menurut omongan iblis tua ini,
nama itu mengandung sesuatu rahasia ......... apakah
nama itu mempunyai sangkut paut dengan perguruan
Bu-san? Sehingga ayah lalu menggunakan nama jurus
itu untuk namaku? Jika benar hal itu merupakan rahasia
dari perguruan Bu-san, tentu sedikit sekali orang yang
tahu. Ayahnya tak meninggalkan pesan apa2. Taruh kata
ia tahu, pun sukar untuk menyelidiki rahasia itu. Ayahangkatnya, Pedang Aneh, paman gurunya Pedang Iblis
dan bibi gurunya Pedang Bidadari, juga tak pernah
membicarakan soal itu. Kini mereka sudah meninggal.
319

Tak dapat ia bertanya lagi ........


Setelah termenung-menung beberapa saat, Gak Lui
melangkah maju dan menegur Pek-kut Mo kun : Dari
mana engkau mendengar hal itu, lekas bilang!
Maha ........ baru Pek-kut Mo-kun berkata sepatah
kata, tiba2 ia teringat kalau kelepasan omong. Maka
cepat2 ia berhenti.
Ho..., kiranya si Maharaja yang bilang. Selain itu
masih ada apa lagi? Suruh, aku menangkapmu hiduphidup, untuk dibawa menghadap kepadanya !
Hm..., engkau yakin mampu melakukan?
Pek-kut Mo-kun tenangkan diri lalu menyahut sinis :
Budak she Gak, jika engkau anggap aku takut
kepadamu, engkau salah. Pula kalau engkau
membangkang akan kubawa menghadap Maharaja,
engkaupun salah hitung!
Diam2 Gak Lui menimang: Kalau kubunuhnya, tentu
aku kehilangan petunjuk untuk mancari jejak si Maharaja.
Baiklah kubiarkan dia hidup. Kelak apabila sudah dapat
menemukan Maharaja, masih ada waktu kubunuhnya
lagi !
Setelah menetapkan rencana, berserulah Gak Lui :
Baik bawalah aku! Tetapi Pek-kut Mo-kun tertawa
seram. Ia melangkah maju: Membawamu dengan cara
begini, kurang leluasa .........
Pek-kut Mo-kun maju beberapa langkah, ulurkan
tangannya yang panjang menuding Gak Lui: Serahkan
dulu pedangmu itu kepadaku
Kentut....... belum Gak Lui selesai memaki dengan
gerak secepat kilat ia mencengkeram kedua bahu Gak
Lui. Gak Lui terkejut. la tak menyangka sama sekali akan
320

diserang begitu tiba2. Tak mungkin ia menghindar lagi.


Satu2nya jalan ia harus berlaku tenang dan endapkan
bahunya kebawah. Pek-Kut Mo-kun sudah mengekeh
girang karena melihat pemuda itu tak dapat menghindar
lagi. Ia salurkan tenaga dalam kearah jari2 yang hendak
dicengkeramkan itu. Tetapi betapa kejutnya ketika Gak
Lui mengendap kebawah dan tiba2 babatkan pedang
kelengannya. Cret..., cret..., cret..., cret.... kedua lengan
jubah Pek-kut Mo-kun berhamburan sepeirti gumpalan
salju turun dari langit. Seketika tampaklah sepasang
lengan yang aseli dari durjana itu. Gak Lui terkejut juga.
Dengan jurus Membelah-emas-memotong-kumala yang
lihay, ternyata ia masih belum mampu membabat kutung
lengan orang. Tetapi ketika mengawasi lawan, barulah ia
mengetahui sebabnya. Ternyata Pek-kut Mo-kun
mencekal sepasang senjata aneh....., yaitu sepasang
tangan palsu terbuat dari logam. Tangan palsu itu
sebesar mangkuk dan jari-jarinya merentang terbuka
mirip cakar ayam. Kerasnya bukan kepalang, sehingga
pedang atau senjata yang bagaimana tajamnya pun tak
mampu memapasnya. Tetapi sekalipun tak sampai
terluka, Pek-kut Mo-kun marah juga. Serangannya gagal,
lengannya hampir kutung. Serentak ia menyerang hebat
dengan sepasang tangan palsu itu.
Gak Lui juga marah sekali. Cepat ia cabut pedang
Pelangi dan tangan kiri mencekal pedangnya sendiri.
Yang satu, menyerang dengan jurus Burungcenderwasih- pentang-sayap. Sedang pedang di tangan
kiri bergerak dalam jurus Salju-berhamburan-mencabutnyawa.
Tetapi Pek-kut Mo-kun memang bukan tokoh
sembarangan. Tangan besi yang disebut Cakar-pemetikhati, juga tak kalah hebatnya. Dan yang lebih
mengerikan.
Taburan
Cakar-pemetik-hati
itu
321

menghamburkan hawa yang amat busuk sekali sehingga


orang hampir muntah.
Cepat sekali pertempuran itu berlangsung sampai
100 jurus. Pek-kut Mo-kun mulai gelisah. Kepalanya
bercucuran keringat dingin. la telah mendapat perintah
untuk menangkap hidup Gak Lui. Tetapi ternyata ilmu
pedang pemuda itu bukan olah2 hebatnya. Begitu pula ia
memiliki ilmu yang aneh. Yalah tenaga-dalam yang dapat
meminjam tenaga-lawan untuk mengembalikan lagi pada
lawan. Dapat pula tenaga-dalam itu digunakan-untuk
menyedot
dan
mendorong.
Dan
yang
lebih
mencemaskan hati Pek-kut Mo-kun adalah, ia duga
kemungkinan pemuda itu masih belum mengeluarkan
ilmu pedang Halilintar yang luar biasa hebatnya. Sekali
pemuda lawannya itu menggunakan ilmu pedang itu,
tentulah ia akan menderita kekalahan.
Dengan mengandalkan ketajaman pedang pusaka
Pelangi, dapatlah Gak Lui memapas kutung tangan palsu
Cakar-pemetik- hati lawan. Tetapi untuk beberapa waktu,
ia tetap belum mampu mengalahkan. Dan memang ia,
mempunyai rencana untuk menangkapnya hidup agar
dapat dikorek keterangannya. Pemikiran itupun dimiliki
oleh Pek-kut Mo-kun juga. lapun ingin menangkap Gak
Lui hidup-hidup agar tak melanggar perintah Maharaja.
Sesaat kemudian tampak sepasang mata Pekkut Mo-kun
menyala. Jubahnyapun lalu menggelembung besar.
Rupanya ia tengah mengerahkan seluruh tenaga
dalamnya.
Hm...., dia mau mengeluarkan acara baru apa lagi
.... baru Gak Lui memikir begitu, tiba2 Pek-kut Mo-kun
taburkan sepasang cakar besi kepadanya.
Melihat lawan berlaku kalap, lemparkan sepasang
senjata dari jarak dua tombak, Gak Lui hendak
322

menangkis dengan pedangnya. Tetapi ketika melihat


sepasang cakar itu memancarkan sinar aneh, diam2 ia
menimang: Ah..., cakar itu tentu mengandung gerakan
yang tak terduga-duga Maka ketika cakar itu hampir tiba,
iapun cepat menggembor dan gunakan ilmu menimpuk
pedang.
Kedua
pedangnya
ditaburkan
untuk
menyongsong. Tring..., tring..... terdengar ledakan keras
dari dua pasang senjata yang saling berbentur. Pedang
milik Gak Lui sendiri, terlempar ke tanah dan kutung
menjadi dua. Tetapi pedang pusaka Pelangi berhasil
menghancurkan sebuah cakar. Begitu terpapas kutung,
jari2 cakar itu segera berhamburan di udara seluas tiga
tombak. Melihat itu Gak Lui cepat enjot tubuh
melambung ke udara. Tetapi ternyata ia terlambat sedikit.
Dan batang jari cakar telah menancap dikedok kulit yang
menutupi mukanya Dengan gugup Gak Lui segera
lepaskan dua buah pukulan ke samping. Dengan pukulan
itu ia beruntung dapat menghalau taburan jari cakar yang
beracun. Setelah itu sambil mencabut kedua batang jari
cakar yang menancap di kedok mukanya, ia loncat ke
samping. Tetapi karena kaget terkena taburan jari cakar
itu, gerakan Gak Lui agak terlalu lambat. Dan memang
Pek-kut Mo-kun sudah siap.
Secepat taburkan cakar besi, ia terus menyusali
dengan sebuah hantaman. Plak..... bahu Gak Lui yang
sebelah kiri kena termakan. Seketika pemuda itu rasakan
hawa murni dalam tubuhnya bergolak keras dan huak ....
ia muntah darah. Pada saat melayang ke bumi, ia harus
terhuyung sampai dua tombak. Tetapi dalam keadaan
sempoyongan itu, ia masih dapat hantamkan tangan
kanannya. Bum....... terdengar bunyi macam tambur
dipukul dan pakulan itu tepat mengenai ketiak Pek-kut
Mo-kun. Durjana itu berkuik-kuik seperti babi disembelih.
Dadanya berlumuran darah dan jatuhlah ia terduduk di
323

tanah. Untung tak jatuh di atas sebuah cakar besi yang


menggeletak di tanah. Pek-kut Mo-kun benar2 gelagapan
sekali.
Sebelum Gak Lui sempat berdiri tegak dan
menghantam lagi, cepat ia menyambar senjata cakar
besi dan dengan menahan rasa kesakitan, ia nekad
menyerbu maju. Tetapi baru maju selangkah tiba ia
melihat tiga tombak di belakang Gak Lui, muncul seorang
gadis cantik. Gadis itu mengenakan pakaian warna
merah segar dan tengah memandangnya dengan marah.
Pek-kut Mo-kun terkesiap kaget. Bahwa gadis cantik itu
dapat muncul dengan tiba2 tanpa diketahui, dan
didengar gerakannya, tergetarlah hati durjana itu.
Siapa engkau! bentak Pek-kut Mo-kun. Dengan
pelahan berserulah gadis cantik. itu menegurnya:
Apakah engkau tak pernah mendengar Kaisar dan
Empat Permaisuri ?
Hai....... mendengar itu menjeritlah Pek-kut Mo-kun
terus loncat melarikan diri masuk kedalam gerombolan
pohon. Karena darahnya yang bergolak itu masih belum
tenang, Gak Lui terpaksa melakukan pernapasan
beberapa saat. Setelah dapat menenangkan hawa
murninya, barulah ia memungut pedang pusaka Pelangi
lalu berputar tubuh menghadapi gadis yang berdiri di
belakang. la sudah mendengar bahwa gadis itu,
menyebut dirinya sebagai salah satu dari Empat
Permaisuri. Dan teringatlah ia bahwa salah seorang
tokoh Empat Permaisuri yakni Dewi telaga Tong thong
telah menolong gadis ular Siu-mey. Ia merasa berutang
budi kepada gadis itu. Maka pada saat ia hendak
menghaturkan terima kasih, ia hendak gunakan sebutan
'cianpwe'. Tetapi baru mulut mengatakan Cian ........' , ia
sudah berhenti lagi.
324

Gadis yang di hadapannya itu sedang menjingjing


sebuah bakul berisi bunga dan rumput. Dan ketika maju
menghampiri langkahnya pun ringan dan gesit sekali. Ia
duga tentu memiliki kepandaian silat yang tinggi. Tetapi
kalau gadis itu dikata sebagai salah seorang Empat
Permaisuri, ah....., jauh sekali ya...., jauh sekali
kecantikan gadis itu dengan mereka. Sepasang bibir dari
gadis itu merekah semerah delima, tertawa: Gak Lui,
bagaimana dengan lukamu ?
Ah...., tak jadi apa...... tetapi ....., cian...... eh, nona
mengapa kau tahu namaku?
Hi..., hi...., hi....., gadis itu tertawa. Nada-nya mirip
dengan suara
burung kenari, kudengar dari
pembicaraan kalian tadi.
Kalau .......... begitu, kapankah engkau berada di sini
?
Aku lebih dulu dari kalian. Tetapi aku bersembunyi
dan kalian tak melihatku.
Perlu apa ke gunung Pek-wan-san sini ?
lh, rumahku di atas gunung. Karena mencari
dedaunan obat maka aku turun kemari.
Kalau begitu engkau bukan salah seorang dari
Empat Permaisuri ?
Gadis jelita itu tertawa.......
JILID 7
MEMANG sebenarnya bukan ! seru gadis jelita itu,
kutahu siluman tua itu hendak mencelakai dirimu. Aku
merasa kalah sakti dengannya tetapi kudengar dia takut
setengah mati kepada Kaisar dan Empat permaisuri.
325

Maka kucoba untuk menggertaknya dengan nama itu


dan ternyata berhasil !
Nona, tindakanmu tadi sungguh berbahaya. Kelak
tentu akan kubalas budimu, kata Gak Lui.
Gadis itu hanya mendengus dengan pipi
kemerah2an: Ah..., aku tak berani mengharap balas.
Tetapi aku mempunyai sebuah permintaan .... entah
engkau dapat meluluskan atau tidak !
Asal aku mampu melakukan saja
Maukah engkau membuka kedok mukanya yang
aneh itu bararg sebentar saja?
Maaf, hal itu diluar kemampuankul
Gadis itu mengeliarkan mata beberapa jenak lalu
tersenyum: Tak percaya! Dengan mudah sekali engkau
dapat melakukannya, mengapa tak mau?
Nona, aku telah bersumpah. Sebelum tiba waktunya,
aku takkan melanggar sumpah itu itu
Apakah engkau tak pernah membukanya? Apakah
tak pernah orang melihat mukamu?
Jargankan orang lain, sedang aku sendiripun tak
tahu bagaimana tampang mukaku ini !
Sigadis tersenyum: Hm...., tak apalah. Sekali pun
wajahmu merupakan sebuah teka-teki, tetapi berguna
juga untuk sementara orang!
Maksudmu ....
Kembali pipi dara itu bersemu merah, tampil
selangkah dan berkata: Misalnya, siapa yang sungguh2
suka kepadamu ...... ia tentu tak perlu kuatir apa2 lagi
karena orang lain tak pernah melihatmu ........
326

Dari pancaran mata dara itu, Gak Lui seperti melihat


bayangan kedua nona Hi Kiam-gin dan Gadis ular Li Siumey. Kedua nona itupun pernah memandangnya dengan
pancaran mata begitu. Pada lain saat, iapun seperti
melihat
bayangan
wajah
bibi
gurunya
yang
menyeramkan. Pikiran Gak Lui melayang kemasa yang
lalu. Adalah demi ayahnya Pedang dewa Gak Yang-beng
maka bibi gurunya telah merusak wajahnya sendiri. Dan
karena kuatir musuh akan mengenali dirinya (Gak Lui)
maka ayah angkatnya telah memakaikan kedok muka.
Tetapi sekalipun begitu, orang tetap memperhatikannya.
Tiba2 dara itu berputar tubuh dan berkata seorang
diri: Aku harus pulang. Silahkan engkau beristirahat
sendiri .... sampai jumpa!
Tunggu dulu ......, Gak Lui berseru kaget.
Masih ada urusan apa lagi ?
Harap nona memberitahukan nama nona agar kelak
aku dapat menghaturkan terima kasih
Namaku The Hong-lian.
Hai....., engkau orang she The. Apakah engkau
masih keluarga dengan Pukulan Sakti The Thay ?
Dia ayahku, masakan engkau tak kenal?
Walaupun tak kenal, tetapi aku justeru hendak
menemuinya !
Sukar ....
Mengapa sukar ?
Dia berwatak terus terang dan sikapnya angkuh,
mudah menyingkung perasaan orang lain!
Aku cukup sabar.
327

Dan yang mencarinya kebanyakan ada dua macam


orang. Pertama, karena ilmu silat ...... kalau tidak hendak
belajar tentu akan minta bantuan-nya. Ayah tak mau
menemuinya.
Tetapi aku tak membawa maksud begitu!
Kalau tak karena ilmusilat tentu karena hendak
membuatkan pedang.
Apakah The cianpwe tak mau?
Mau sih mau tetapi ......
Katakan
terus
disembunyikan.

terang

sajalah,

tak

usah

Beliau menghendaki bayaran yang tinggi dan suruh


pemesan itu membantu pekerjaan yang sangat
menyiksa.
Apakah hanya itu saja?
Ya...... eh.... tidak...., tidak ....! Masih ada beberapa
syarat lagi. tiba2 nona itu berhenti.
Syarat apa lagi? tanya Gak Lui gopoh.
Harus
ada,
memperkenalkan.

yang

seorang

sahabatnya

Itu mudah, Gak Lui tertawa gembira.


Sungguh? sidara menegas.
Kalau menghendaki pembayaran tinggi, aku
membawa permata. Mau menyiksa, aku cukup tahan.
Minta seorarg sahabat yang memperkenalkan akupun
punya, karena kedatanganku kemari ini adalah Bok
Kiam-su yang menunjukkan. Kiranya semua syarat telah
terpenuhi, harap nona suka bawa aku menghadap ayah
nona
328

Dahi The Hong-lian mengerut lalu jungkatkan alis dan


berkata pelahan: Cukup baik tetapi masih kurang
sebuah. Apakah engkau sedia?
Apa?
Surat yang ditulis sendiri oleh Bok Kiam-su
Ini ......
Hm...., rupanya engkau tak punya, Kalau ditanya
ayah dan engkau tak mampu mengunjukkan, dia tentu
marah dan menolak!
Celakal
The Hong-lian kicupkan ekor mata, bisiknya: Jangan
gugup! Aku punya daya, tetapi entah engkau setuju atau
tidak?
Asal sesuai, tentu setuju.
Beliau hanya mempunyai seorang anak perempuan
aku ini. Asal kita mengangkat saudara, beliau tentu
meluluskan.
Melihat kewajaran sidara dan kesungguhannya
hendak membantu, Gak Lui dapat menyetujui.
Demikianlah kedua muda mudi itu segera melakukan
upacara mengangkat saudara. Karena Gak Lui lebih tua
tiga bulan, dia dipanggil engkoh. Dengan riang gembira,
Hong-lian segera mengajak Gak Lui naik keatas puncak
Pek-wan-san. Puncak tertutup awan putih Dalam
selubung awan itu terdapat sebuah pondok yang
setengahnya seperti guha setengahnya mirip rumah.
Tetapi sama sekali tak ada alat2 untuk membuat pedang.
Melintasi gumpalan awan itu, Hong-lian suruh Gak
Lui menunggu diluar pondok: Engkoh Lui, tunggulah
diluar sini. Biarlah aku yang bicara dengan ayah dulu
329

nanti baru kupanggilmu!


Gak Lui mengangguk. Dan Hong-lian pun segera
menyelinap masuk. Tetapi sampai sepeminum teh
lamanya, belum juga dara itu keluar dan pondok pun
sunyi senyap saja. Gak Lui tetap menunggu. Tetapi
karena terlalu lama akhirnya ia tak sabar lagi. Tetapi
tepat pada saat itu juga terdengar suara Hong-lian
menguak keras .........
Gak Lui terkejut dan cepat menerobos masuk. Tetapi
baru tiba diambang pintu mendadak ia disambut
serangkum angin yang dahsyat. Dalam gugup, ia
tamparkan tangan kiri untuk menyedot. Tetapi baru
tangan kirinya diangkat, orangpun sudah lepaskan
beberapa kali pukulan ber-tubi2. Karena luka-dalamnya
belum sembuh sama sekali, tubuh Gak Lui ter- putar2
dan terlempar kebelakang sampai dua tombak jauhnya.
Menyusul sesosok tubuh yang tinggi perkasa segera
melesat keluar. Seorang lelaki bermuka brewok sambil
memukul kalang kabut sambil berkaok2: Budak busuk,
enyah.... enyah....! Enyah ..!
Gak Lui cepat dapat mengenali orang itu sebagai
Pukulan Sakti The Thay. Segera ia gunakan gerak
langkah Awan-berarak-seribu-li untuk berputar putar
menghindari seraya berseru ter-gopoh2 : The cianpwe.
harap jangan marah. Aku datang menghadap dengan
maksud baik ........
Kentut....!, Kalau engkau bermaksud baik masakan
engkau memikat puteriku!
Gak Lui gelagapan malu. Lalu marahlah ia. Baru ia
berseru sepatah memanggil cianpwe, tiba-tiba ia melihat
Hong-lian muncul di luar pintu...... Mata gadis itu
berlinang-linang dan memberi isyarat kicupan mata
330

kepadanya. Terpaksa Gak Lui tekan kemarahannya,


sahutnya : Sedikitpun aku tak mengandung maksud
begitu .......
Huh, masakan akal bulus yang engkau mainkan itu
aku tak tahu. Jika tak mempunyai maksud buruk
mengapa tanpa sebab engkau mengangkat saudara
dengan anakku?
Hal itu...., puteri lo cianpwe yang....... Karena marah
hampir saja Gak Lui membuka rencana Hong lian. Tetapi
sesungguhnya
gadis
itu
bermaksud
hendak
membantunya. Sudah tentu ia tak mau mencelakainya
dan lebih baik ia yang bertanggung jawab sendiri.
Harap cianpwe jangan marah. Hendak kujelaskan,
buru2 ia beralih kata. Tetapi The Thay tak mau
menghiraukan. Sekali kepalkan tangan ia terus
menghantam bum..., bum..., bum .... ia lepaskan
hantaman dari jarak jauh. Tinju berhamburan dan
anginpun bergulung-gulung melanda Gak Lui sehingga
memaksa pemuda itu mundur beberapa langkah.
Jika cianpwe terus menyerang, maaf, aku terpaksa
berlaku kurang adat! serunya memberi peringatan.
Tetapi The Thay tak menggubris: Hm..., kalau berani,
balaslah!
Saat itu Gak Lui terus menghindar mundur. Tetapi
akhirnya ia tak dapat mundur lagi karena sudah tiba di
ujung karang. Selangkah lagi ia tentu kecemplung
kebawah karang yang dalamnya tak kurang dari tigaempat ratus tombak. Di bawah karang itu terbentang
sebuah jurang yang berisi air. Luasnya beberapa bahu.
Airnya berkilauan kehitam-hitaman. Walaupun dari atas,
karang yang begitu tinggi, namun terasa juga hawa
dingin yang menguap dari air itu. Sejak kecil Gak Lui tak
331

pernah main di air. Ia terpaksa harus waspada jangan


sampai terjatuh ke dalam telaga kecil itu. Tetapi saat itu
ia diserang dari tiga jurusan oleh Pukulan sakti The Thay.
Kalau tadi ia cepat gunakan ilmu meringankan tubuh, ia
masih dapat melayang melampaui kepala lawan. Tetapi
saat itu ia sudah terdesak di tepi karang. Ia tak berani
gegabah mengambil resiko untuk loncat melayang ke
udara. Diam2 ia menghela napas dan tenangkan
pikirannya untuk bertahan diri.
Tangan kirinya diputar melingkar di udara. Tangan
kanan pelahan disongsongkan ke arah orang. Seketika
itu The Thay terkejut. Pukulannya dilepaskan bertubi-lubi
itu tiba2 seperti disedot oleh suatu tenaga aneh yang
memancar dari gerakan Gak Lui. Pukulannya yang
bertenaga dahsyat itu, setiap kali membentur Gak Lui
tentu seperti terbenan dalam laut dan lenyap. Selain itu,
tangan kanan Gak Lui itupun menghamburkan tenaga
dahsyat sehingga memaksanya mundur selangkah.
Melihat pemuda itu benar2 balas menyerang tiba2
timbullah kelapangan hati The Thay. Kecuali, tidak
marah, orang itu adalah puas. Ia anggap cara Gak Lui
menghindar lalu balas menyerang itu, mencocoki
seleranya. Tiba2 ia menggembor keras: Begitulah, baru
sesuai. Tetapi selain ilmu pukulan tadi, apakah engkau
masih punga simpanan yang lain........
Jika cianpwe masih punya ilmu yang lebih lihay,
silahkan gunakan saja. Ilmu gerakan tanganku ini masih
dapat menghadapinya sahut Gak Lui.
Sombong benar engkau, budak ! Coba akan kulihat
sampai berapa lama engkau mampu bertahan teriak
Pukulan-sakti The Thay seraya lancarkan serangan yang
lebih dahsyat. Kedua tinjunya menyerang sederas hujan
mencurah.
332

Perbawanya mengejutkan sekali. Tetapi Gak Lui


tetap tenang. Kakinya laksana tertanam di karang. Dan
kedua tangannyapun bergerak-gerak menggunakan
tenaga- sakti Algojo-dunia, untuk meminjam tenaga
lawan mengembalikan serangannya.
Pertempuran makin berlangsung seru. Berulangulang terdengar letupan keras dari benturan tenagapukulan.
Kedua fihak saling ngotot berbaku bantam. Tak
seorangpun yang mau mengalah mundur. Cepat sekali
100 jurus telah berlangsung. Yang paling sibuk adalah
gadis Hong Lian. la cemas kalau ayahnya sampai
menderita luka. Tetapi ia pun gelisah kalau Gak Lui
sampai celaka. Namun ia tak dapat berbuat apa2, karena
kepandaiannya amat terbatas dan tak mampu untuk
melesai mereka.
Hong-lian menarik-narik bajunya sendiri, menggosokgosok tangan. Dia bingung setengah mati. Keringatnya
bercucuran menganak sungai. Baiknya ia tak
mengecewakan diri sebagai puteri dari seorang tokoh
silat yang sakti. Walaupun bingung tak keruan tetapi ia
tak mau menjerit-jerit dan mengganggu perhatian
mereka. Ia melihat wajah ayahnya merah membara.
Ubun2 kepalanva menguap asap. Suatu pertanda
bahwa tenaga dalamnya sudah hampir habis tetapi tetap
tak mau mengaku kalah. Tetap melancarkan serangan
dahsyat dan mati-matian. Kemudian memandang kearah
Gak Lui, dilihatnya pemuda itu tetap bersemangat.
Walaupun menderita luka akibat pertempurannya dengan
Pek-Kut Mo-kun, tetapi ternyata dia tetap gagah.
Pukulannya tampak seperti orang yang tak menderita
luka.
333

Cepat sekali pertempuran itu sudah berlangsung


sampai 500 jurus. Pukulan-sakti The Thay pun sudah
mengulang setiap jurus pukulannya sampai tiga kali Dari
cepat, gerakannyapun makin lambat. Dari lambat
akhirnya terhuyung-huyung. Sepasang tinjunya yang
terkenal keras seperti besi, saat itu sudah lemah lunglai.
Karena keliwat memaksa diri, napas jago tua itu
memburu keras dan bluk ....... akhirnya ia jatuh
ngedumpruk di tanah.
Dalam pertempuran itu Gak Lui malah mendapat
keuntungan. la gunakan ilmu Menyalurkan tenaga murni
untuk
menyembuhkan
luka-lukanya,
sembari
menghadapi serangan lawan. Begitu melihat The Thay
jatuh, cepat ia loncat ke hadapannya dan terus mengurut
tubuhnya.
Hong-lian pun tergopoh menghampiri: Yah..., apakah
engkau letih Dengan napas ter-engah2, The Thay
berseru: Letih apa? Ngaco.....
Yah..., sudah kukatakan bahwa ilmu kepandaiannya
tinggi. Bahkan Pek-Kut Mo-kun pun dapat dipukulnya
terbirit-birit, tetapi engkau tetap tak percaya. Bukankah
soal angkat saudara itu harus diakui?
Hm.... ! The Thay mendengus. Tetapi mu!utnya
menyeringai tawa gembira. Kira2 sepeminum teh
lamanya, keringatnya pun sudah berhenti. Lalu ia
mendorong Gak Li dan terus bangkit. Kuatir orang tua itu
akan menyerangnya lagi, buru2 Gak Lui menyurut
mundur tiga langkah dan bersiap. Tetapi gerakan tangan
The Thay itu hanya untuk melemaskan urat2nya yang
kaku, serunya: Uh...., kaku, sungguh kaku karena sudah
lama tak pernah dibuat gerak. Kali ini puas benar2.
Hong-lian menghampiri ayahnya: Eh...., ayah....
334

ha..... nya memikirkan berkelahi tetapi aku yang jadi anak


perempuannya takut setengah mati ....
Ha..., ha..., ha..... tidak jadi apa, The Thay tertawa
gelak-gelak. Kemudian memandang Gak Lui ia berseru
memuji: Sungguh tak nyana, engkau ternyata memiliki
kepandaian yang hebat!
Ah..., cianpwe keliwat memuji!
Sudahlah, tak usah sungkan. Kalau mau bicara. Mari
kita masukl kata The Thay terus memimpin tangan
puterinya dan menyambar tangan Gak Lui untuk diajak
masuk ke dalam pondok.
Sinona tertawa: Engkoh Lui, perangai ayah memang
begitulah. Kalau marah seperti angin prahara, tetapi
setelah itupun terus reda. Harap engkau jangan terkejut
........
Terhadap sifat The Thay yang terus terang, Gak Lui
merasa suka. la membiarkan dirinya ditarik masuk.
TERNYATA dalam pondok itu penuh bergantungan
pedang pusaka. Ada yang panjang, ada yang hanya
beberapa dim panjangnya. Jumlahnya tak kurang dari
beberapa ratus batang. Sedang bentuknya pun terdiri
dari beraneka macam, yang aneh2. Sekalipun sejak kecil
Gak Lui sudah belajar ilmu pedang dan pengalamannya
tentang perangpun cukup banyak, tetapi ketika melihat
koleksi pedang yang sedemikian banyak dan beraneka
ragam, diam2 ia terkejut dan kagum.
Melihat pemuda itu, tertawalah The Thay: Engkau
tentu tertarik dengan kumpulan pedang pusaka itu,
bukan?
Gak Lui menghela napas: Setiap orang tentu suka
akan barang pusaka. Sungguh, tak kira kalau cianpwe
335

menyimpan sekian banyak pedang pusakal


Ha, ha, apa gunanya pedang sekian banyak itu.
Kebanyakan hanya barang palsu!
Oh......! Gak Lui mendesah kaget. Kembali ia
memandang koleksi pedang itu dengan seksama. Setiap
batang pedang memancarkan sinar ke milau. Bentuknya
kuno.
Tak ada yang aseli ? Apakah semua itu palsu?
serunya heran. The Thay memandang kearah kedua
batang, pedangnya:
Dengan membawa pedang pusaka, Pedang Pelangi
dari Partai Bu-tong-pay tentulah pedang itu mempunyai
ciri2 yang istimewa. Maka dengan dasar apa engkau tak
percaya keteranganku tadi?
Sambil menuding kearah sebatang pedang aneh
yang tergantung pada dinding, Gak Lui kerkata:
Misalnya pedang yang panjangnya dua meter itu.
Tentulah pedang milik baginda Cin Si- ong. Dan pedang
pendek itu tentuah milik baginda Cin Ong. Kemudian
pedang yang, panjangnya dua dim itu tentulah pedang
pusaka milik Co Pi. Kemudian yang lain2 seperti pedang
Ken- ciang, Bok-sia dan Ki-kwat, merupakan pedang
pusaka yang termasyhur. Sekalipun tidak semuanya
tulen, tetapi pun tidak semuanya palsu ........ Diam2 The
Thay kagum atas pendapat anak muda itu. Sebelum ia
sampai berkata, Hong-lian sudah melengking tertawa:
Engkoh Lui, kumpulan pedang itu bukan pedang
kuno melainkan buatan ayah sendiri menurut
pengetahuan dan pengalamannya ..........
Gak Lui tertegun, lalu tertawa nyaring: Karena The
cianpwe mempunyai kepandaian yang sedemikian hebat,
336

keinginanku pasti terlaksana,


The Thay memukul lututnya sendiri dan dengan mata
berkilat-kilat bertanya: Katanya engkau hendak minta
aku membuatkan pedang. Apakah engkau hendak
merobah pedang Pelangi itu? Gak Lui mengiakan.
Tetapi aku mempunyai beberapa syarat!
Dalam hal itu aku memang sudah bersedia dan
dapat memenuhi semua!
Oh, engkau sudah tahu syarat2 yang kukehendaki
itu? tanya The Thay.
Aku bersedia menyerahkan seluruh benda berharga
sebagai balas jasa lo-cianpwe. Begitu pula, apapun
pesan cianpwe, tentu akan kulaksanakan kata Gak Lui
seraya mengeluarkan batu permata dan diletakkan di
hadapan tuan rumah. Permata berlian hasil keluaran
Lembah Mati itu, merupakan permata yang jarang
terdapat di dunia. Harganya tak ternilai. Cahaya tajam
yang memancar dari berlianl itu, menyilaukan mata The
Thay, terutama sebutir berlian pemberian Siu-mey.
Sinarnya hebat sekali. Sehingga Hong-lian tak mau
melepaskannya. Tetapi diluar dugaan, The Thay
mengembalikan tumpukan berlian itu kepada Gak Lui.
Serunya dengan wajah serius: Aku tak suka menerima
benda2 ini.
Apakah masih kurang?
Aku bukan seorang mata duitan. Jangan salah
faham!
Kutahu hal itu memang menjadi peraturan dari locianpwe. Sudah seharusnya .........
Aturan apa?, itu hanya siasatku untuk merintangi
orang2 iseng yang hendak mengganggu aku. Dengan
337

peraturan itu belasan tahun, tak ada ada orang yang


datang lagi................
Lalu, tentulah cianpwe mempunyai lain2 pesanan !
Benar, memang aku mempunyai lain syarat.
Sesungguhnya hal itu pun hanya merupakan beberapa
pertanyaan saja .......
Asal tahu tentu kukatakan. Asal yang, kukatakan
tentu, benar2 sesungguhnya.
Pertama, pedang itu sebenarnja pusaka Butong-pay.
Mengapa dapat jatuh ketanganmu?
Gak Lui setera menuturkan riwayat pedang itu
sampai jatuh ketangannya. The Thay mendengarkan
dengan penuh perhatian lalu bertanya penuh gairah:
Kiranya Ceng Ki totiang dari Butong- pay, itu mempunya
hubungan dengan engkau. Lalu apakah nama
Perguruanmu?
lni... aku benar2 sukar mengatakan.
Hong-lian kerutkan alis. Ia kuatir ayahnya kurang
senang mendengar jawaban Gak Lui. Tetapi Gak Lui
sudah terlanjur memberi jawaban begitu maka ia pun
melanjutkaa lagi!. Asal-usul diriku sama dengan kedok
muka yang kukenakan ini. Apabila belum tiba saatnya,
tak dapat kuterangkan. Harap cianpwe, suka maafkan.
Diluar dugaan, The Thay tidak marah, malah
menganggukkan kepala: Tak perlu melihat mukamu.
Cukup kulihat sinar mata dan gigimu yang putih itu.
Tentang asal usulmu .... berikanlah pedang yang lain itu
kepadaku.
Yah..... tiba2 Hong-lian melengking, pedangnya
yang itupun kutung juga. Harap ayah bantu
membuatkannya
338

Gak Lui menyerahkan pedang itu dan The Thay pun


lalu meletakkan kedua pedang kutung itu diatas meja.
Setelah memeriksa beberapa saat, ia berseru memuji:
Sekalipun bukan jenis pusaka, tetapi pedang ini
termasuk pedang yang luar biasa tajamnya. Pemiliknya
dahulu......jaitu seorang pendekar pedang yang.......
Kemudian ia menjentik batang pedang dengan jarinya
lalu berpaling memberi pesan kepada Hong-lian:
Ambilkan alat2ku, pedang ini hendak kubongkar!
Hong-lian segera membawakan alat ayahnya. Tak
berapa lama, tangkai pedangpun sudah dibongkar. Tiba2
Pukulan-sakti The Thay berteriak kaget: Pedang Aneh Ji
Ki-tek!
Ah....., kiranya engkau keturunan dari Empat Pedang
Busan!
Bagaimana ciaopwe tahu.... ! Gak Lui pun memekik
tegang.
Karena dapat membuat pedang, sudah tentu aku
dapat mengetahui perabot dan tanda2 pada pedang.
Karena setiap pemilik pedang, tentu meninggalkan tanda
pengenal dari pada pedangnya. Kalau tidak dibatang
pedang tentu dalam tangkai Pedang ...... !
Kini tersadarlah Gak Lui. Ia segera memandang
kearah tangkai pedang yang sudah dibongkar itu. Ah...,
memang benar. Diatas tangkai itu terdapat ukiran
beberapa huruf yang kecil sekali yang berbunyi nama
ayahnya. Seketika bercucuranlah air matanya.
Ah....., rupanya engkau memang mempunyai
kesukaran dalam hati. Baiklah, aku tak mau bertanya
lagi. Bahkan apa yang kulihat saat ini, takkan kukatakan
kepada siapapun juga. Dan pedang ini, akan kusambung
selesai dalam tiga hari Gak Lui menghaturkan terima
339

kasih lalu bertanya: Entah berapa lamakah waktu yang


diperperlukan untuk membikin Pedang Pelangi itu? Dan
apakah masih ada syarat lagi?
Waktunya kira2 setengah bulan. Dan syaratnya pun
sederhana.... Tetapi panjang kalau diterangkan........
Gak Lui minta supaya tuan rumah mengatakan.
Pedang Pelangi. ini hanya tinggal separoh. Jika
menghendaki dibuat yang utuh, tentu harus memerlukan
bahan baja yang murni. Kalau tidak, kecuali takkan
menjadi
pedang
pusaka,
pun
malah
akan
merusakkannya. Maka soal pertama, yalah mengenai
bahan ..........
Gak Lui tergetar hatinya, serunya tegang: Kudengar
Han-thiat (besi dingin) dan Bian-thiat (besi keluaran
Burma), merupakan bahan yang paling bagus untuk
pembuatan pedang. Tetapi tak tahu kemanakah aku
harus mencarinya .......
Ah..., tak perlu harus mencari sekarang ini. Aku
sudah mempunyai bahan Han-thiat. Tetapi aku tak
berhak memberikan kepadamu
Siapakah yang berhak?
Dia! tiba2 Pukulan-sakti The Thay menuding ke
arah puterinya.
Ah......, kiranya adik Lian. Relakah engkau
menyerahkan kepadaku? seru Gak Lui. Hong-lian,
seketika merah mukanya. Dengan malu ia berkata;
Rela sih rela, tapi Han-thiat itu pemberian ayah
kepadaku untuk dijadikan......
Apa? .........
Buat....... si-dara memainkan ujung bajunya sambil
340

tartawa.... Matanya menggelora ........ memandang


ayahnya. Tetapi Pukulan-sakti The Thay hanya tertawa
gelak-gelak.
Budak tolol, engkau biasanya begitu genit, mengapa
hari ini engkau tak bisa omong. Ai....., biarlah ayah yang
mengomongkan.......nya.
The Thay berpaling ke-arah Gak Lui dan ber-seru
tertawa : Aku gemar belajar silat dan sedang membuat
pedang. Maka bahwa besi Han-thiat yang kukumpulkan
selama hidup ini, akan kuberikan kepada puteriku untuk
mas-kawin. Jika engkau suka pakai, terpaksa........,
biarkan ia yang memberi putusan ....... Mas-kawin!
Gak Lui berseru kaget. Seketika benaknya melintas
bayangan gadis ular Siu-mey yang.....secara tak resmi
sudah menjadi isterinya. Melihat Gak Lui tertegun, wajah
Hong-lian tampak kecewa. Saat itu sunyi senyap.
Ketiganya terbenam dalam renungan masing2. Tiba2
Pukulan-sakti The Thay, tertawa riang memecah
kesunyian: Gak hiantit tak perlu gelisah. Sekali-kali
bukan maksudku hendak menekan engkau dengan
syarat itu. Meskipun engkau sudah mengangkat saudara
dengan Lian-ji, tetapi tak usah engkau menyebut aku
sebagai Gi-hu (Ayah-angkat). Saat itu tampak mata
Hong-lian bercucuran airmata memandang ayahnya.
Tetapi The Thay tak menghiraukan dan tetap
melanjutkan perkataannya. Karena perjodohan pria
wanita itu harus disetujui kedua belah fihak. Tak dapat
dipaksa. Kalau terlalu buru2 malah akan menimbulkan
banyak kesulitan. Lebih baik tunggu saja bagaimana
perkembangannya kelak Habis berhata orang tua itu
berpaling memandang puterinya. Rupanya, Hong-lian
dapat menangkap maksud ayahnya. la hapus, kerut
dahinya dan dengan, nada riang berkata kepada Gak341

Lui: Engkoh Lui, kuberikan Han-thiat itu kepadamu dan


bolehlah engkau kasihkan batu berlian ini sebagai
penukarnya!
Pada saat Gak Lui longgar perasaannya, tiba2 ia
teringat bahwa batu berliun itu adalah pemberian Siumey. Ia terbeliak, serunya:
Karena aku sendiri yang mengeluarkan, seharusnya
aku tak menyesal untuk menyerahkan batu berlian ini.
Tetapi .......batu. ini ada sedikit.... kesulitannya. Kelak
kuganti saja dengan 10 kali lipat. Apakah adik Lian
setuju?
Hong- lan kerut-kan alisnya dan menunjuk batu
berlian, ia bertanya: Engkau bilang berlian ini
mempunyai persoalan. Apakah soal tanda yang berada
di atasnya itu?
Tanda? Gak Lui. terkejut terus mengambil batu itu
dan memeriksanya. Ah, memang benar. Pada sebelah
permukaan batu berlian itu terdapat sebuah huruf
sehalus rambut berbunyi BU. Karena selamanya tak
senang akan batu2 permata, maka Gak Lui tak
memperhatikan ciri2 itu. Dan ketika saat itu mengetahui,
gemetarlah tubuhnya. Berlian ini jelas berasal dari Siumay yang menggeledah dari tubuh Tabib-jahat Li Huiting. Jika tak dibuat orang, tak mungkin bertanda huruf
BU. Apakah itu bukan ciri tanda dari anak buah si
Maharaja? pikirnya.
Benar, memang tanda ini penting sekali bagiku,
katanya kepada Hong-lian.
Kalau engkau memerlukan, biarlah kukembalikan
saja kepadamu. Tak perlu engkau pikirkan untuk
menggantinya! kata Hong-lian.
342

The Thay tertawa: Begitu baru tak mengewakan


dirimu sebagai anakku. Nah, marilah kita menuju kedapur
pedang.
MEREKA bertiga segera menuju ke ruang belakang
tempat penempaan pedang. Keluar dari rumah belakang,
mereka menuju ke sebuah guha yang kuat. Di puncak
wuwungan guha terdapat sebuah lubang seluas dua
tombak sehingga guha menjadi terang benderang.
Dalam guha itu terdapat sebuah perapian besi.
Disebelahnya sebuah kolam yang jernih airnya.
Kesemuanya itu tentu untuk peralatan pembuatan
pedang. Setelah menghidupkan api, maka The Thay lalu
memasukkan pedang dari Gak Lui tadi kedalam
perapian. Api berkobar besar, asap bergulung-gulung
membubung ke atas. Beberapa saat kemudian, Gak Lui
tampil mendekati The Thay:
Paman The, apakah engkau tak keberatan untuk
membuatkan Pedang Pelangi lebih dulu baru nanti ...... ,
Tidak! sahut The Tbay dengan bengis, aku
mempuayai maksud tertentu mengapa membuat pedang
ini lebih dulu. Karena begitu pedang Pelangi dan bahan
Han-thiat masuk ke dalam api, sinarnya tentu memancar
tinggi ke atas langit sehingga dalam jarak 100 li akan
kelihatan. Sinar pembuatan pedang pusaka itu pasti akan
mengundang kawanan durjana kemari. Maka akan
kutempa dulu pedangmu agar engkau mempunyai
senjata untuk menjaga keamanan pembuatan pedang
Pelangi nanti! Saat itu barulah Gak Lui tersadar.
Selain itu masih ada sebuah tugas penting yang
harus engkau kerjakan sendiri, kata The Thay pula
Silahkan paman bilang !
Kelak apabila pedang Pelangi sudah jadi, harus
343

lekas2 dibenam dalam air dingin. Kolam air disini tak


cukup besar. Harus dilempar kedalam Telaga-pedang
dibawah gunung. Apakah engkau dapat mengerjakan ?
Tetapi Telaga-pedang itu amat dalam sekali. Jika
membiarkan pedang itu sampai terbenam kedasar
telaga, tentu sukar diketemukan. Apakah engkau dapat
melontarkan pedang itu kedalam telaga lalu secepatnya
mengambilnya keluar lagi
Aku dapat menggunakan gerakan Rajawali-pentangsayap untuk melayang kepermukaan telaga sabut Gak
Lui dengan semangat menyala. Sama sekali ia lupa
bahwa ia tak dapat berenang. Sudah tentu The Thay tak
mengetahui kekurangan pemuda itu. Dengan gembira ia
melangkah maju dan menunjuk keatas puncak guha.
Baiklah, lebih dulu kita buat perjanjian. Pada
waktunya, engkau harus berdiri diatas puncak guha ini
lalu kulemparkan pedang kepadamu dan engkau
harus..... cepat lontarkan kedalam telaga Pedang.
Dengan cara itu barulah kita dapat bekerja cepat. Honglian pun memberi pesan juga dengan penuh perhatian:
Engkoh Lui, jangan lupa pakai sarung pelindung
tangan agar tanganmu jangan terbakar ! Demikianlah
hari demi hari, dipuncak gunung Pek-wan-san siang
malam selalu tampak cahaya api marong kelangit.
Cahaya itu dapat terlihat sampai 100-an li jauhnya. Pada
malam itu sinar pedang yang ditempat dalam perapian itu
makin hebat memancar kelangit. Seolah olah seperti
sebuah pelangi. Hampir seluruh puncak gunung menjadi
terang benderang. Selama setengah bulan ini, Gak Lui
selalu menjaga diguha itu dengan pedang terhunus.
Pembuatan pedang Pelangi pasti akan berhasil jika pada
hari2 terakhir tak terjadi suatu halangan. Tiba2 Gak Lui.
mendengar suara letupan keras yang muncrat keudara
344

dan berhamburan mencurah keatas hutan. Datam saat2


timbulnya pemandangan yang anah itu, tiba2 terdengar
The Thay berseru nyaring: Sambutilah ! Pedang
Pelangi yang masih merah marong, meluncur keluar dari
puncak guha terus melambung keudara. Gak Lui cepat
bertindak. Tubuhnya berputaran keras dan terus
melambung keudara. Disambarnya Pedang Pelangi itu
terus dilontarkannya kedalam Telaga Pedang. Setelah itu
ia melingkarkan kedua lengannya dalam bentuk macam
lengkung-busur, lalu meluncur kearah Telaga Pedang
dibawah jurang. Air telaga itu hitam gelap, dinginnya
bukan kepalang. Tetapi karena kemasukan Pedang
Pelangi, airnyapun hangat sehingga Gak Lui tak merasa
kedinginan... Begitu pula sinar gemilang dari pedang
Pelangi itu memancar dan menerangi telaga sampai
seluas 5 tombak dalamnya. Pada saat pedang Pelangi
jatuh kebawah telaga Gak Luipun sudah menukik
kepermukaan air. Dengan kepala dibawah dan kaki
diatas, ia terus menyusup kedaham air. Matanya tak
berkedip memandang pedang itu. Selekas batang
pedang itu sudah dingin, ia terus akan menyambarnya.
Karena menumpahkan seluruh perhatian pada pedang
itu, sampai lupalah pemuda itu bahwa sesungguhnya ia
tak pandai berenang. Begitu juga ia lalai untuk
memperhatikan keadaan disekeliling tempat situ. Pedang
Pelangi terus meluncur kedasar air. Cahayanya marong
merah makin lama makin redup Gak Lui anggap sudah
tiba saatnya untuk menyambar pedang itu dan iapun
segera gerakkan tangan kanannya.
Uh.....! ia mendengus kaget karena sambarannya
luput. Terpaksa ia terus selulup kedalam air. Tetapi
karena tak pandai berenang, seketika tubuhnya terasa
berat sekali dan ikut tersedot kedalam telaga. Saat itu
barulah ia terkejut dan menyadari kalau tak pandai
345

berenang tetapi karena pedang itu makin lama makin


meluncur kedasar telaga, dalam gugupnya, Gak Lui tak
menghiraukan segala apa ..... Ia terus menukik kebawah.
Tetapi karena tak pandai berenang, ia kalah cepat
dengan gerakan pedang yang menyelam kedasar telaga.
Saking marahnya, Gak Lui hampir2 pingsan. Tetapi tiba2
timbulah suatu peristiwa yang aneh. Pedang yang
sinarnya makin gelap itu tiba2 berhenti mengenap
kebawah.
Ah...., mungkin sudah tiba didasar telaga, diam2
Gak Lui girang sekali. Tetapi pada lain saat ia tersentak
kaget, tak mungkin. Kalau sudah tiba didasar telaga
tentu benda itu tak bergerak. Tetapi mengapa pedang itu
masih bergerak naik turun dan seperti pecah menjadi tiga
buah? Gak Lui tak peduli segala apa. Ia terus ber
geliatan menyelam kebawah sampai tiga tombak
jauhnya. Haup ....... la terminum air. Ternyata telaga itu
amat dalam sekali..... Pedang Pelangi belum mencapai
dasar telaga tetapi digigit oleh seekor binatang raksasa
seperti buaya yang berumur seribu tahun. Binatang itu
bergigi runcing tajam, bersisik dan matanya berkilat-kilat
memancar api. Besar tubuhnya hampir satu meter dan
panjangnya mencapai lima tombak. Begitu melihat Gak
Lui meluncur kebawah, binatang itu segera kibaskan
ekornya lalu meluncur secepat kilat kearah pemuda itu.
Setelah terminum air dingin hati Gak Lui terasa agak
tenang. Pikirnya : Tak bisa barenang, tak apalah. Asal
kututup jalan darahku beberapa saat, aku tentu dapat
bertahan didalam air untuk melihat gerakan2 lihay dari
binatang buaya purba itu
Setelah mengambil keputusan, ia segera kerahkan
tenaga dalam dan siapkan pedang. Cepat sekali buaya
itu sudah tiba dihadapannya. Diam2 Gak Lui menduga
binatang itu pasti akan membuka mulut. Pada saat itulah
346

ia akan bergerak secepat-cepatnya untuk merebut


Pedang Pelangi. Tetapi kurang ajar Buaya itu ternyata
cerdik juga. Dia tak mau membuka mulutnya melainkan
miringkan kepalanya kesamping, lalu gerakkan Pedang
Pelangi membabat dibagian perut Gak Lui. Gak lui
terkejut sekali. Pedang Pelangi tajamnya bukan
kepalang. Dapat memapas logam seperti membelah
tanah liat saja. Dengan tenaganya yang begitu dahsyat.
Pedang Pelangi itu tentu makin hebat. Tak mungkin ia
akan dapat menangkis dengan pedangnya. Maka Gak
Lui berganti siasat. Tak mau ia adu kekerasan. Dengan
gerak Rajawali-pentang-sayap, ia surutkan kedua
kakinya lalu menyabet dengan pedangnya. Tring....
hampir saja pedangnya menutuk batang pedang Pedang
Pelangi. Berbareng, dengan itu tangan kirinyapun
berbalik dengan cepat untuk merebut batang Pedang
Pelangi. Diserang dari samping kanan....... kiri oleh Gak
Lui, buaya itu kelabakan, kepalanya dimiringkan. Pedang
Pelangi yang masih digigit dalam mulutnya; pada saat itu
sudah dapat dipegang oleh Gak Lui. Buaya purba itu
tiba2 deliki matanya, seketika berhamburanlah beriburibu titik bintang dari matanya, dan tubuhnya yang
sepanjang lima tombak itupun, ikut menjulur sampai dua
kali panjangnya.
Sisiknya berkilat-kilat memancarkan sinar kilau
kemilau. Karena memegang tangkai Pedang Pelangi dan
buaya itu meregangkan tubuhnya, maka Gak Lui gemetar
tubuhnya. Tulang tulangnya terasa sakit sekali.
Huh...., buaya besar! Gak Lui mengeluh dan tanpa
terasa tangannya yang mencekal tangkai pedang itupun
terlepas. Bum..... ekor buaya yang menyerupai daun
pintu besi besar, menampar kearah punggung Gak Lui.
Gak Lui terlempar sampai dua tombak jauhnya.
Tenggorokannya serasa tersumbat, hidungnyapun
347

memancurkan darah. Hitam........ sekelilingnya tampak


hitam. Sekalipun setelah ia dapat menenangkan
pikirannya dan memandang dengan seksama, namun
tetap gelap. Air berkisaran, dia tetap tenggelam
kebawah. Sedangkan si buaya setelah menyabat dengan
ekornya tadi, segera buaya itu meluncur ....... kedasar
telaga.
Heran...... ! Apakah binatang itu hendak melarikan
diri? diam2 Gak Lui heran dan mengamati kebawah
dasar telaga dengan seksama. Beberapa saat kemudian
barulah ia melihat tiga sinar bintang. Entah berapa
dalamnya bintang itu berada .......... Belum sempat ia
bergerak, tiba2 buaya ........itu muncul pula dengan
gerakan berputar-putar seperti kisaran air, binatang itu
meluncur kebawah kaki Gak Lui. Ternyata panjang
badan buaya itu tak kurang dari 10 tombak. Karena
merasa air telaga terlalu deras arusnya, maka ia segera
mengendap ke bawah dan tenggelam dalam kisaran arus
itu. Kiranya setiap memancarkan tenaga-kilat, buaya itu
harus menunggu sampai beberapa waktu lagi baru dapat
memancar tenaga kilat lagi. Biasanya, setiap kali
menghamburkan tenaga- kilat lawan tentu binasa.
Tetapi sosok manusia kecil Gak Lui, dapat bertahan.
Sekalipun hanya seekor binatang, tetapi rupanya buaya
itu memiliki naluri tajam bahwa yang dihadapinya itu
tentu musuh yang tangguh ........ Maka buaya itu lalu
menggunakan kisaran arus untuk menyeret lawan ke
bawah lalu dibawanya ke dalam sarang. Gerakan buaya
itu telah menimbulkan gelombang arus, yang hebat.
Karena tak pandai berenang. Gak Luipun tak dapat
menyerangkan pedangnya dengan tepat. Sesaat
kemudian ia rasakan kepalanya ber-putar2 mata pedar
dan telinga mengiang. Tubuhnyapun segera terbawa
oleh putaran arus. Berputar dan berputar sampai
348

kesadaran pikirannya hampir lenyap. Dalam saat ia


hampir pingsan, tiba-tiba matanya tersilau oleh secercah
sinar biru yang menyambar ke tenggorokannya.
Pedang Pelangi ........ ! dalam kejutnya ia gelagapan
dan terus hendak menyabat dengan pedangnya. Tetapi
auh...... arus air tiba2 bergelombang keras sekali.
Sekeliling penjuru terasa gelap dan tahu2 ia tak ingat diri
lagi. Ketika tubuhnya diseret oleh buaya ke dasar telaga.
Walaupun hanya beberapa kejab, tetapi bagi Gak Lui
sudah seperti bertahun-tahun lamanya. Ketika sadar, ia
merasa gerak tubuhnya tak secepat tadi lagi. Rupanya
saat itu sudah berada di tanah datar. Ketika memandang
sekeliling, ia dapatkan dirinya berada di sebuah guha
seluas dua tiga meter. Rupanya karena takut membentur
karang, buaya itu meluncur pelahan-lahan. Diluar
dugaan, ternyata saat itu tangan kirinya masih tetap
mencekal tangkai pedang Pelangi dan tangan kanannya
pedangnya sendiri. Karena dapat memapas sehelai sirip,
saat itu Gak Lui telentang melekat di bawah perut buaya.
Dilihatnya di bawah leher binatang itu mereka merupakan
selembar kulit lunak yang berwarna putih. Kulit itu tak
henti2nya bergerak.
Celaka ....! Kalau kubiarkan diriku diseret binatang
ini ke bawah, aku pasti mati ! diam2 Gal Lui menimang.
Diam2 Gak Lui kerahkan tenaga-dalam. Dengan sekuat
tenaga ia putar sepasang pedangnya. Crek..., crek...,
crek... terdengar air tersibak pedang dan gigi buaya yang
tajam dan keras itu ber hamburan putus terbabat pedang.
Karena sulit, mulutnya terbuka dan tubuh Gak Luipun
meluncur ke bawah. Tetapi guha itu terlalu sempit. Gak
Lui sukar untuk lancarkan serangan. Buaya itupun sukar
bergerak, juga. Sebelum Gak Lui sempat bertindak,
buaya itu sudah meluncur ke bawah untuk menindih
tubuh Gak Lui.
349

Gak Lui tak mengira bakal diserang secara begitu. Ia


berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri. Tetapi
makin lama dadanya terasa makin sakit. Karena tak
tahan lagi ia lepaskan pernapasannya dan terus
menggigit kulit tipis pada tenggorokan buaya itu.
Pertarungan
mati
hidup
segera
berlangsung.
Tenggorokan buaya itu memancur darah dan bergeliatan
kesakitan. Gak Lui makin nekad. Dibuangnya kedua
pedangnya,
lalu
dengan
sekuat-kuatnya
ia
nimencengkeram tubuh buaya dan tetap menggigit
tenggorokan binatang itu sekencangnya. Gluk..., gluk...,
gluk...., ia sedat dan meminum darah buaya itu terus
menerus sampai perutnya penuh. Heran .......... Setelah
perutnya penuh dengan darah buaya, Gak Lui rasakan
tenaganya malah bertambah besar. Sama sekali ia tak
takut pada bahaya air lagi. Kedua matanyapun
bertambah terang sekali. Dapat melihat jelas keadaan
dalam air seluas 10 tombak. Kebalikannya setelah
mengucurkan darah, gerakan buaya itu makin lama
makin lambat Dan akhirnya tak dapat tergerak. Luka
pada tenggorokannya masih mengalir darah. Sekali Gak
Lui mendorong, buaya raksasa itu tumbang seperti
pohon besar yang ditebang. Tubuh binatang itu
berguling-guling ditelan air keruh dalam dasar telaga.
Gak Lui cepat menyambar kedua pedang dan terus
hendak melambung kepermukaan telaga. Tetapi sesaat
itu ia bingung katena tak tahu jalan keluar dari guba itu.
Buaya itu tentu menyusup masuk. Kepalanya tentu
yang lebih dulu. Dengan begitu arah letak ekornya saat
ini tentu menunjukkan jalan keluar dari guba ini, tiba2 ia
dapat
memecahkan
kebingungannya.
Pyuh......
sekonyong-konyong ia menyiakkankan kedua tangannya.
Hampir ia tak percaya bahwa gerakan tangannya itu
dapat mengangkat tubuhnya begitu ringan sekali seperti
350

seorang juara renang yang sangat hebat. Hanya dalam


beberapa waktu, ia sudah mencapai tepi telaga. Sekali
menyiak lagi, iapun sudah muncul dipermukaan air.
TETAPI ia heran karena disekeliling telaga itu sunyi
saia.
Eh...., kemanakah adik Lian ? Mengapa ia tak
menjaga ditepi telaga ...... ah, mungkin karena aku terlalu
lama berada didasar telaga ..... Sekali enjot tubuh, ia
melambung keudara dan melayang ketepi telaga, terus
hendak naik ke puncak pek-wan-san lagi. Tetapi baru
beberapa puluh tombak berlari, dari empat penjuru
tampak
beberapa
sosok
tubuh
berhamburan
menyongsong dan terus mengepungnya. Gak Lui
terkejut. Seketika beringaslah ia. Karena yang memimpin
pengepungan itu bukan lain adalah Pek- Kut Mo-kun
dengan enam orang berpakaian dan berkerudung kain
hitam, menghunus pedang.
heh..., heh..., heh...! Engkau Gak Lui, sudah masuk
kedalam perangkop maut, mengapa tak mau buang
senjatamu saja! bentak Pek-Kut Mo-kun seraya tertawa
mengekeh.
Nyawa dari pedangku, engkau masih berani .....
Jangan bermulut besar ! bentak Pek-Kut Mo- kun,
karena ingin mendapat saksi hidup, maka kuberi ampun.
Tetapi kali ini tambah tiga ketua partai persilatan. Jangan
harapkan engkau dapat lolos !
Siapa ketiga ketua partai itu?
Paderi Ceng Ki dari Bu-tong-pay Pet-Kut Mo-kun
menuding dan baru mulut berkata ...... belum selesai,
Gak Lui cepat berpaling kearah orang itu dan
mendampratnya : Hm......., murid murtad yang menghina
351

perguruan sendiri. Hari kematianmu sudah tiba !


Dan orang berkerudung hitam tampil selangkah.
Salah seorang berseru nyaring : Hm, engkaulah sendiri
setan gentayangan yang lolos dari ujung pedangku !
Hayo serahkan pedang Pelangi dan ikut kami
menghadap Maharaja. Mungkin engkau mendapat
ampun! Gak Lui melengking dingin ketika matanya
memandang kearah orang yang berdiri dibelakang orang
yang bicara itu, seketika tergetarlah jantungnya. Jelas dia
tentu si topeng besi. Karena tempo hari begitu melibat
pedang Pelangi, dia terpesona. Teka teki ini, harus lekas
kupecahkan. Dan pula keempat orang itu, harus
kuselidiki sampai terang ! Maka tanpa menghiraukan
paderi yang disebut sebagai Ceng Ki itu, ia terus
membentuk Pek-Kut Mo-kun : Siapakah yang lain itu !
Thiat Wan totiang dari partai Ceng-sia-pay, Wi Cun
totiang dari partay Kong-tong-pay, Engkau tentu sudah
mendensar nama mereka.
Huh..., terhadap mutid2 murtad yang menghianati
perguruannya itu, hari ini hendak kusikat bersih semua !
seru Gak Lui. Lalu ia pasang kuda2
Orang yang berkerudung hitam, yang menyebut
dirinya sebagai Ceng Ki totiang itu berkilat-kilat matanya.
Serunya tegang : Ah.., pedang Pelangi ternyata telah
selesai diperbaiki. Benar2 tak kecewa jerih payahku
untuk mencarinya !
Seru Gak Lui Pedang ini baru akan kucoba
ketajamannya. Sungguh kebetulan sekali mendapat
benda percobaan berupa dirimu. Tiba2 Gak Lui teringat
sesuatu dan serentak menggigillah tubuhnya serunya :
Hai, engkau pengapakan ayah dan puteri keluarga The
itu ?
352

Orang berkerudung yang menyebut diri sebagai Wi


Cun totiang dari Kong-tong-pay, segera melayang maju
dan berseru ; Partaiku juga mempunyai sebatang
pedang yang putus dan perlu diperbaiki. Dia sudah
kutangkap hidup2!
Puterinya?
Tiba2 Pek-Kut Mo-kun tertawa sinis; Disini !
Gak Lui kucurkan keringat dingin. Ia tudingkan
pedangnya dan membentak : Lekas lepaskan mereka !
Mudah saja melepaskannya tetapi engkau harus
memenuhi sebuah permintaanku.
Hm........ Lemparkan pedangmu kepadaku. Dan
lemparkan pedang Pelangi kepada Ceng Ki totiang. Lalu
ikutlah kami dengan serta merta !
Gak Lui menengadahkan kepala, tertawa seram.
Belum habis ia tertawa, Pek-Kut Mo-kun bergerak cepat
sekali. la menyusup kedalam, hutan lalu keluar dengan
membawa sidara Hong-Lian. Menilik keadaannya yang
tak ingat diri, tentulah gadis itu ditutuk jalan darahnya.
Adik Lian! teriak Gak Lui dengan tegang. Tetapi
gadis, itu tak mendengar. Ia berdiri seperti patung.
Hai..., budak she Gak! Jika tak lekas menurut
perintahku menyerahkan pedangmu itu, jangan sesalkan
aku berlaku ganas ! seru Ceng Ki totiang memberi
peringatan.
Barang siapa melukai selembar rambutnya saja,
tentu mati ! seru Gak Lui.
Hm...., rupanya kalau belum melihat peti mati
engkau tentu tak menangis. Hayo, mulai ! seru orang
berkerudung itu. tiba2 dari sekeliling penjuru terdengar
353

suara suitan aneh. Dan selekas suitan berhenti maka


berhamburanlah sinar pedang mencurah seperti hujan.
Cret...... pedang berayun membabat kaki Hong Lian.
Darah muncrat keudara, Hong Lian menjerit ngeri dan
terus rubuh ketanah.
Hai, budak! Engkau melihat atau tidak! Kedua
kakinya sudah putus. Jika kau masih berkeras kepala,
kedua tangannyapun akan kukutungi! Gak Lui benar
seperti gila melihat kekejaman yang diluar batas itu.
Hatinya seperti mengucurkan darah. Ingin sekali ia
mencincang tubuh orang itu. Tetapi saat itu Hong-lian
masih dikuasai musuh. Sekali salah langkah, gadis itu
pasti akan lebih celaka.
Ah..., hanya menggunakan Lontaran-pedang terbang
.....
Akan kuhitung sampai 10, jika engkau tetap ........
Baik, kululuskan... seru Gak Lui, majulah kalian
berdua untuk menerima pedang ini !
Kedua orang berkerudung cepat melesat dua tombak
jauhnya. Sedang Pek-Kut Mo-kun dengan tenang
menghampiri, serunya : Totiang, budak itu mahir
menggunakan ilmu Lontaran-pedang terbang, harap ber
hati-hati.
Lontaran pedang terbang ? orang berkerudung itu
menegas.
Benar, Pek- Kut Mo-kun mengiakan. Sambil
memandang Gak Lui, ia memberikan sedikit gambaran
tentang gerak Lontaran- pedang-terbang itu.
Hm..., kutahu tangannya belum memadai. Harap
jangan kuatir kata orang berkerudung yang menyebut
diri sebagai Ceng Ki totiang itu .
354

Ya...., akupun memang sudah tahu. Tetapi


peribahasa mengatakan : 'anjing yang kebingungan
dapat loncat melampaui dinding tembok'. Mustahil kalau
dia tak melakukan gerakan itu lagi !
Gak Lui benar2 hampir meledak dadanya. Pek-Kut
Mo-kun sengaja membakar hatinya dan menggambarkan
ilmu kepandaian yang dimilikinya.
Baik, sahut Ceng Ki totiang, kita semua tak ada
jeleknya untuk berhati-hati.
Kemudian ketua partai Bu-tong-pay itu memandang
Gak Lui, serunya : Kalau melemparkan pedang,
tangkainya yang diarahkan kemari. Jangan coba2 main
kayu!
Hm......., dengus Gak Lui., Ia segera condongkan
ujung pedang ke belakang dan mencekal tangkainya.
Lekas lemparkan kemari !
Baik..., sambutilah ... !
Gak Lui terkejut sendiri mengapa suaranya saat itu
berobah berkumandang keras sekali. Kemudian mulailah
ia lontarkan pedangnya. Di tengah jalan sekonyongkonyong pedang itu dapat berbalik sendiri. Ujung pedang
itu menyambar jalan darah lawan. Pek-Kut Mo-kun
terkejut sekali. Setitikpun ia tak menyangka bahwa
pemuda itu dalam waktu yang relatif singkat telah
mencapai kemajuan pesat dalam tenaganya. Pada saat
ia menyadari harus, memberi pertolongan pada siorang,
berkerudung,
ternyata
sudah
terlambat.
Orang
berkerudung itu menjerit ngeri. Tubuhnya berputar-putar
hendak menghindar tetapi dadanya sudah tertembus
ujung pedang. Seketika rubuhlah ia ....... Sedangkan
orang berkerudung yang menyebut diri sebagai Ceng Ki
355

totiang itu dalam kagetnya, cepat mencabut pedang dan


menangkis. Tetapi pedang Pelangi terlampau tajam.
Tring.... pedang Ceng Ki totiang terpapas kutung seketika
dan menyusul darahnya memancar deras. Bahu berikut
lengan kirinya hingga sampai pada lambung, terbabat
habis........
Ceng Ki totiang mendekap lengannya kiri yang hilang
terus memutar tubuhnya dan melarikan diri. Gak Lui
masih gemas sekali. Laksana bayangan ia lari mengejar
dan hendak menyusul, lagi dengan sebuah hantaman.
Tetapi si Topeng Besi cerdik sekali. Setelah mengetahui
daya kekuatan pedang Pelangi sudah berkurang,
cepatnya ia menyambarnya dengan tangan kiri. Dan
secepat kilat ia terus hadangkan, kedua pedang.
Berbareng dengan itu, Thian Wat totiang dan Wi Cun
totiang berempat, serempak berhamburan menyerang
Gak Lui Gak Lui seperti orang gila. Dengan me-raung
sedahsyat singa lapar, ia menghantam sekuat-kuatnya.
Bum......Thian Wat totiang dan kawan2nya terhuyung
mundur. Tangkas sekali Gak Lui terus melesat menyusup
lubang kepungan musuh, menghampiri Hong-lian.
Dengan sebat pula ia segera membuka jalan darah
sinona. Hong-lian tersadar. Sesaat membuka mata ia
menjerit lemah: Engkoh Lui.... terus ia hendak bangkit.
Tetapi ah......, terkulailah ke tanah lagi. Ia baru menyadari
bahwa kedua kakinya telah dikutungi orang! Bagi
seorang gadis, cacad buntung kedua kakinya itu jauh
lebih dari pada mati. Dengan putus asa ia
menggertakkan gigi lalu berseru memperingatkan Gak
Lui.
Engkoh Lui, awas di belakangmu, aku ......
Gak Lui tahu bahwa musuh tentu sudah menyerang
di belakangnya. Cepat ia mencabut pedang yang
356

menancap di dada Pek-Kut Mo-kun lalu dengan Gerak


Burung-hong-pentang-sayap, ia berbalik tubuh untuk
menyerang, kelima penyerangnya. Saat itu Hong lian
memandang sejenak. ke arah pernuda yang menjadi
tambatan hatinya. Dengan hati hancur berkeping-keping
dan airmata seperti banjir, ia segera merangkak ke.
dalam hutan. Rombongan Pek-Kut Mo-kun dan orang
berkerudung kain hitam itu semua berjumlah 7 orang.
Mereka benar2 tak mengira bahwa Gak Lui ternyata
memiliki tenaga-sakti yang begitu dahsyat. Bermula
mereka memandang rendah. Tetapi setelah dalam satu
gebrak saja Pek-Kut Mo-kun tembus dadanya dan Ceng
Ki totiang hilang lengannya, barulah Thian Wat totiang
dan Wi Cun totiang merasa gentar. Kebalikannya, Gak
Lui sendiripun heran mengapa tenaganya mendadak
bertambah begitu sakti. Tetapi setelah bertempur
beberapa saat, barulah ia menyadari bahwa hal itu
dikarenakan ia minum darah dari buaya raksasa didasar
Telaga Pedang. Tetapi saat itu ia diserang oleh lima
tokoh darit partai persilatan yang termashyur dalam ilmu
pedang. Terutama si Topeng besi. Bukan saja orang itu
tak gentar menghadapi Pedang Pelangi, pun masih
dapat menyerang dengan hebat sekali.
Dia tentulah tak kenal dengan pedang ini. Dan dialah
tentu yang membikin cacad adik Lian. Kalau tak
kucincang tubuhnya, aku malu bertemu adik Lian! diamdiam Gak Lui menimang dalam hati.
Segera ia pergencar serangannya. Pedang
berhamburan membentuk lingkaran sinar seluas satu
tombak untuk melindungi tubuhnya. Sesaat kemudian,
tiba2 ia lepaskan sebuah pukulan keras kepada si
Topeng Besi. Tetapi Topeng Besi seperti tak
mengacuhkan. Dia malah tusukkan kedua pedangnya
357

dan melangkah maju. Kalau dia begitu peka terhadap


pukulan Gak Lui, tidaklah demikian dengan Thiat Wat
dan Wi Cun totiang. Kedua tokoh itu meregang bulu
romanya. Mereka terkejut sampai mengucurkan keringat
dingin.
Cepat mereka bersuit aneh dan bersama dua orang
berkerudung, mereka berempat segera melancarkan
pukulan. Betapa dahsyatnya hujan pukulan yang sedang
melanda diri Gak Lui saat itu dapat dibayangkan.
Diantaranya berisi pukulan tenaga sakti Thay-ceng-cin-gi
dari partai Kong-tong-pay dan tenaga sakti Tun-yang-cingi dari Ceng- sia pay. Dua duanya termasuk tenagadalam dari perguruan aliran agama yang hebat. Bum ....
terdengar letupan keras ketika terjadi benturan antara
pukulan tokoh2 itu dengan hantaman Gak Lui. Sisa dari
benturan itu masih berhamburan hebat seluas lima
tombak jauhnya. Tubuh si Topeng Besi terhuyunghuyung sampai lima langkah. Sedang Thiat Wat, Wi Cun
terdampar mundur sampai satu meter. Bekas tanah yang
ditempati, melesak sampai beberapa dim dalamnya.
Sedangkan Gak Lui sendiri, tampak tegak seperti karang.
Sedikitpun tak berguncang dari tempatnya. Pada saat
terhuyung ke belakang, Wi Cun totiang terus melesat
satu tombak jauhnya dan bersuit beberapa kali.
Kemudian dengan malu bercampur marah ia
membentak: Budak she Gak, apakah engkau berani
menerima kedatangan Tiga algojo dari Maharaja?
Gak Lui mendengus, teriaknya. Jangankan hanya
algojonya, bahkan Maharaja sendiri yang maju, lebih
menggembirakan hatiku!
Dia......
Bagaimana?
358

Juga tak jauh dari tempat ini. Lambat atau laun


engkau pasti akan bertemu juga'
Heh.... heh...., heh...., Gak Lui mengekeh hina,
diam2 ia menyedot napas dan kerahkan tenaga saktinya. Saat itu Topeng Besi berlima sudah tegak berjajar.
Mendengar Gak Lui tertawa, Wi Cun totiang segera
menegur:
Mengapa engkau tertawa?
Kutertawakan engkau yang sok pintar tetapi malah
hanya mengantar jiwa saja! sahut Gak Lui.
Mengapa ?
Karena perlu untuk mencari. Maharaja maka
kutinggalkan sebuah mulut hidup. Tetapi sekarang
rasanya tak perlu lagi! sahut Gak Lui.
la menutup katanya dengan gerakan pedang dalam.
sebuah lingkaran. Dalam sekejab saja, ia sudah
lontarkan tiga buah pukulan dan enam buah serangan
pedang. Kembali terjadi pertarungan hebat antara
pukulan dan pedang. Pedang Wi Cun totiang terpapas
lima dim. Sedang Thian Wat totiang hanya tinggal
bertangan kosong saja. Dua orang berkerudung telah
tersingkap kain kerudungnya, hingga tampak topeng besi
warna merah karatan menutup muka mereka. Yang
masih tetap dapat bertahan hanyalah tinggal si Topeng
Besi yang pertama tadi. Dengan mengandalkan Pedang
Pelangi, ia dapat melindungi tubuhnya hingga tak sampai
menderita luka.
Terhadap ketiga musuh bertopeng besi, Gak Lui
menaruh perhatian istimewa. Cepat ia susuli lagi dengan
pukulan yang dapat memaksa, mereka mundur sampai
dua tombak. Kemudian ia bersiap melancarkan pukulan
359

yang terakhir.
TETAPI belum sempat Gak Lui bertindak,
sekonyong-konyong dari jauh terdengar dua buah suitan
yang berbeda nadanya. Yang satu berasal daril puncak
Pek-wan-san. Sedang suitan yang lain berasal dari
beberapa puncak gunung dibelakang Pek-wan-san.
Sekalipun begitu nadanya amat kuat sekali. Suatu
pertanda betapa hebat tenaga dalam orang itu.
Gak Lui terkejut, pikirnya: Kedua suitan itu benar2
luar biasa. Yang pertama, terang dari seorang tokoh
yang lebih unggul ilmu tenaga dalamnya dari rombongan
orang
berkerudung
yang
mengeroyoknya
itu.
Kemungkinan besar tentulah di antara mereka yang
disebut sebagai Tiga algojo Maharaja! Tetapi suitan dari
belakang puncak Pek-wan-san itu jauh lebih hebat lagi.
Adakah si Maharaja sendiri?
Dendam darah yang dikandung Gak Lui, benar2
sudah meresap kedalam tulang sungsumnya. Sekalipun
menghadapi bahaya yang bagaimana mengerikan, ia
tetap tak peduli. Dia harus membereskan beberapa kaki
tangan musuh yang dihadapinya saat itu! Cepat ia
memandang kawanan penghadangnya itu. Ah..., ternyata
Thian Wat dan Wi Cun totiang telah membawa kedua
orang Topeng Besi mundur ketepi hutan. Hanya si
Topeng Besi yang memegang pedang Pelangi itu
rupanya agak lambat jalannya. Tampaknya, ia tak mau
diperintah dan hanya mundur sampai lima tombak
jauhnya dari tempat Gak Lui.
Hai....., hendak lari kemana engkau! bentak Gak
Lui, seraya loncat mengejar. Tetapi baru ia mencapai tiga
tombak jauhnya, Thian Wat totiang berempat sudah.
menyelinap masuk,kedalam hutan. Topeng Besi yang
agak ayal jalannya tadi, hendak menangkis serangan
360

Gak Lui. Tetapi terlambat. Tring..., secepat kilat ujung


pedang Gak Lui sudah menusuk kebelakang tengkuk
orang itu. Tetapi tusukan itu tak dapat menembus
tengkuk orang. Ternyata Topeng Besi itu mengenakan
topeng besi yang melindungi kepala bagian muka sampai
belakang. Hanya saja tenaga tusukan Gak Lui yang
dahsyat itu dapat melemparkan tubuh orang itu sampai
setombak lebih jauhnya. Sebelum orang itu rubuh,
secepat kilat Gak Lui sudah merebut pedang Pelangi dari
tangan orang itu. Kemudian diteruskannya dengan
tebasan pedang ditangan kirinya, dan disusul dengan
gerakan membelah dengan pedang Pelangi yang sudah
berada ditangan kanannya. Sebelum sampai menjerit, si
Topeng Besi itu sudah kehilangan kepalanya,
menggelinding ke tanah. Rupanya Gak Lui masih belum
puas. Ia benci sekali kepada manusia yang telah
menghianati partai perguruannya itu. Sekalipun kepala
orang itu sudah hilang, Gak Lui tetap masih membelah
badannya. Darah muncrat seperti sumber air dan dua
keping tubuh orang itu berbamburan jatuh ke tanah.
Masih Gak Lui belum puas lagi. Ia hendak mengutungi
perut orang itu. Tring ........ begitu pedang menebas, dari
perut orang itu melesat keluar sebatang pedang kutung
yang berlumuran darah.
Aneh....! pikir Gak Lui seraya hentikan pedangnya
dan memeriksa pedang kutung itu. Ah...., kiranya berasal
dari Wi Cun totiang. Saat itu baru ia tersadar. Bahwa
sebelum ditusuk tengkuknya tadi, orang itu memang
sudah dilontari pedang oleh Wi Cun totiang sendiri.
Hm...., rupanya mereka takut kalau Topeng Besi ini
dapat kutawan hidup-hidup. Maka mereka mendahului
membunuhnya ....... tetapi apakah kepentingannya
melenyapkan orang ini? tanya Gak Lui dalam hati.
Seketika timbullah rasa ingin mengetahui siapakah
361

sebenarnya yang bersembunyi dalam topeng besi itu. Ia


hendak membuka topeng besi dan melihat tampang
muka orang itu. Tetapi tiba2 dari hutan di sebelah
belakang muncullah sesosok tubuh baju biru muda.
Gerakannya sama sekali tak bersuara. Mirip dengan
kapas yang berhamburan. Dan dengan sebuah gerak
melesat yang aneh, orang, itu sudah berada di belakang
Gak Lui.
Gak Lui terkejut menyaksikan gerakan orang. Tanpa
banyak pikir, ia terus menyerang dengan sepasang
pedangnya. Sret..., sret..., sret...., tiga buah serangan
dalam jurus Naga-sakti- kibarkan-ekor, Halimunpencabut-nyawa dan Menggurat-bumi- membelah-langit.
Ketiga jurus itu hebatnya bukan main, cepatnya seperti
kilat. Tetapi pendatang itu sama sekali tak menghindar
maupun menangkis. Ia hanya bergeliatan dan berputarputar tubuh dengan indah sekali. Sepintas pandang mirip
dengan seekor kupu2 yang berlincahan dalam taburan
hujan. Selain itu, tubuhnya seperti memancar semacam
tenaga-sakti yang tak kelihatan. Ujung pedang Gak Lui
selalu tersiak ke samping, tak dapat menembus tubuh
orang itu. Gak Lul makin terkejut. Apalagi setelah
memperhatikan perawakan tubuh orang itu. Dia benar2
terkesiap kaget.
Heran...! Jelas yang terdengar tadi adalah suitan dari
dua orang pria tetapi mengapa yang muncul hanya
seorang wanita? pikirnya. Belum sempat ia menyatakan
apa2, terdengarlah orang itu tertawa nyaring: Benar,
ketiga jurus serangan tadi, masih belum sempurna!
Engkau ..... tahu jurus itu ...... ?
Sudah tentu tahu. Ketiga jurus ilmu pedang itu,
kecuali Kaisar Persilatan, hanya ketua Partai
Gelandangan yang telah dapat menggunakannya. Dan
362

karena engkau gabungkan dengan ilmu pedang dari


Busan, maka lahirlah ilmu pedang yang baru !
Apakah hubunganmu dengan Kaisar Persilatan.......
Orang serumah !
Oh..., Gak Lui mendengus kejut dan memandang
orang itu dengan seksama. Orang itu mengenakan jubah
panjang sampai menutup ketanah. Rambutnya menjurai
kebahu. Wajahnya bertutup kain sutera biru muda. Pada
rambut diatasnya dahinya, tersanggul sebuah cunduk
kumala berselaput emas. Ditingkah sinar mentari, cunduk
itu memancarkan sinar berbentuk Swatika. Suatu
pertanda dari kaum agama. Wajahnya memancar cahaya
welas asih. Sikap Gak Lui segera berobah delapan puluh
derajat kepada orang itu: Jika cianpwe serumah dengan
Kaisar Persilatan, tentulah cianpwe ini salah seorang dari
Empat Permaisuri ?
Engkau menduga tepat. Aku adalah Permaisuri-biru
Li Bu-ho!
Kalau begitu: Bidadari telaga-Totiang itu masih
keluarga cianpwe?
Ui Leng itu adakah adik angkatku. Mendengar itu
serta merta Gak Lui berlutut memberi hormat: Ui
Cianpwe telah menolong jiwa adik-angkatku gadis ular
Siu-mey. Baru sekarang aku sempat mengbaturkan
terima kasih kepada cianpwe..... Permaisuri-biru
kebutkan lengan jubahnya. Serangkum angin bertenaga
lunak telah mengangkat tubuh Gak Lui bangun.
Kami orang serumah itu, sudah lama sekali tak
bertemu, Apabila nanti berjumpa pasti akan kusampaikan
terima kusihmu kepadanya. Mengenai adik angkatmu,
ditengah hutan itu akupun telah menolong seorang .......
363

Itu adik Lian. Aku baru mencarinya


Gak Lui terus melesat kearah hutan. Tetapi
Permaisuri-biarpun cepat loncat manghadang, seraya:
Jangan kesana ........ Tiba2 dari arah puncak Pek-wansan terdengar pula sebuah suitan yang dahsyat, Sedang
suitan yang berasal dari beberapa puncak dibalakang
Pek-wan-san itu, juga terdengar lagi tetapi nadanya
seperti berasal dari beberapa li jauhnya. Gak Lui gemetar
terus hendak bersuit juga. Tetapi saat itu juga dari
sebelah timur terdengar suara bentakan dari kedua
paderi Thian Wat dan Wi Cun. Dan tiba2 pula Permaisuri
biru menjentikkan jarinya kearah Gak Lui. Seketika jalan
darah pembisu ditengkuk Gak Lui mengejang kencang
sehingga walaupun mulut ternganga tetapi tak
mengeluarkan suara apa2.
Jangan bergerak dan lekas mundur selangkah dulu!
terdengar Permaisuri biru berseru pelahan memberi
peringatan. Serempak dengan itu, hawa yang melindungi
tubuhnya tadi, makin mengembang...... jauh lebih luas
hingga Gak Lui seperti terjaring lalu diangkat masuk
hutan. Ketiga macam suitan, tadi, tiba2 seperti berkumpul di-puncak Pek-wan-san terus berkumandang
menuju ke barat. Tak berapa lama lenyap tak
kedengaran lagi. Selekas suitan itu lenyap, Permaisuri
Birupun menarik pancaran tenaga-saktinya juga.
Bagaimana maksud cianpwe mencegah aku?
Siapakah yang bersuit itu, kawan atau lawan? Gak Lui
mengajukan pertanyaan.
Menurut
bertanya.

pendapatmu?

Permaisuri

Biru

balas

Kukira tenaga-saktinya yang paling hebat


tentulah si Maharaja! sahut Gak Lui.

itu,

364

Maharaja....? Ah...., belum pernah kudengar nama


itu. Tetapi menilik tenaga saktinya, dia tentu seorang
tokoh sakti!
Aku..., mempunyai dendam permusuhan sedalam
laut dengan dia. Harus kukejarnya
Tunggu dulu! Karena mempunyai dendam darah
yang hebat, apakah engkau ingin membalas dendam
atau tidak?
Biarpun tubuh itu hancur, tetapi aku tetap hendak
menuntut balas kepadanya !
Kalau bercita-cita hendak menuntut balas, jangan
sekali-kali bertindak hanya karena menuruti rangsang
perasaan saja !
Tetapi cianpwe, sudah lama sekali kucari musuh
yang bergelar Maharaja-persilatan itu. Tetapi sampai
sekarang belum berhasil menemukan orang itu. Apalagi
dia mempunyai jago2, seperti Tiga algojo Maharaja dan
lima orang tokoh yang berhianat kepada partai
perguruannya sendiri. Tujuan dari Maharaja itu tak lain
yalah hendak menguasai dunia persilatan. Bahkan ia
sama sekali tak memandang mata kepada Kaisar. Saat
ini dia berbasil menguasai 5 ketua partai persilatan.
Thian wat totiang ketua Bu-tong-pay yang ditawan oleh
Maharaja, telah memberi peringatan kepada semua
partai persilatan agar lekas mengadakan pembersihan
dalam kalangannya sendiri, serta mengganti ketua-nya.
Menghadapi peristiwa begitu, sudah barang tentu aku tak
dapat berpeluk tangan saja!
Permaisuri
Biru
tertawa
ramah,
serunya:
Omonganmu
beralasan
juga.
Sekarang
akan
kusimpulkan siapakah diantara tokoh2 dunia persilatan
yang paling hebat kepandaiannya. Walaupun orang yang
365

bersuit dari beberapa puncak disebelah sana, tetapi ilmu


tenaga dalamnya masih berimbang dengan engkau.
Apabila dia sampai kemari dan ditambah dengan
rombongan Thian Wat totiang. Engkau pasti sukar
menghadapi mereka. Mengenai orang yang engkau
sebut sebagai maharaja persilatan itu, menilik dari nada
suitannya, mungkin lebih sakti dari pada diriku. Jika
engkau akan membalas dendam kepadanya, diapun
akan berusaha juga untuk melenyaptan cita-citamu itu.
Jika begitu keluar dari perguruan engkau akan terus
binasa, apakah engkau tak merasa telah mengecewakan
perguruan dan harapan orang tuamu ?
Kata-kata yang tajam itu telah membuat Gak Lui
gelagapan sadar. Buru2 menjura, memberi hormat :
Terima kasih atas petuah cianpwe. Akan segera
membawa adik Lian pergi .....
Tak usahlah, kata Permaisuri Biru, dia tak ingin
bertemu denganmu, Sekurang-kurangnya untuk masa
ini.
Mengapa ? Gak Lui terkejut.
Lalu bagaimana dengan lukanya itu?
Telah kutolong seperlunya untuk menghentikan
pendarahannya. Setelah tidur secukupnya, dia segera
akan kubawanya untuk mencari tabib pandai !
Siapakah kira yang cianpwe hendak cari itu?
Sekarang belum tahu, siapa tabib yang pandai itu.
Tetapi setelah ia sembuh, akan ku ajari ilmu silat agar dia
dapat menuntut balas atas kematian orang tuanya.
Tetapi bila ........
Bila tak bisa sembuh?
Dia sudah memutuskan untuk masuk menjadi rahib
366

dan
takkan
menikah
selama-lamanya.
Serasa
tersayatlah hati Gak Lui mendengar keterangan itu. Dua
butir airmata menitik keluar.
Dia... amat baik sekali ...... baiklah, untuk sementara
waktu ini aku takkan menemuinya...... kedua adikangkatku telah cianpwe tolong semua. Budi besar itu
pasti ..... akan kubalas
Itu suatu kewajiban didalam dunia persilalatan. Tak
perlu membalas budi, hanya saja.....
Silahkan
sungkan!

cianpwes

mengatakan,

harap

jangan

Berapakah sebenarnya adik angkatmu itu? tanya


Permaisuri Biru dengan nada agak keras. Merah telinga
Gak Lui, sahutnya ; Aku Puaya taci-angkat dan dua
orang adik angkat.
Banyak juga! .
Bagaimana hubunganmu dengan mereka ?
Baik sekali
Justeru ini ...... Permaisuri Biru hentikan kata2-nya
lalu beralih soal :Kita tak kenal sebelumnya. Aku tak
berhak mencampuri urusan pribadimu. Hanya menilik
pancaran matamu, kelak engkau tentu berhasil gemilang
dalam ilmu silat. Usiamupun cukup panjang. Tetapi
engkau akan menderita didalam soal asmara. Jika.......
Jika bagaimana?
Jika dalam hidupmu timbul lagi seorang wanita,
engkau pasti akan mengalami penderitaan hebat.
Benarkah?
Ilmu mengarang dari tampang muka, mengatakan
367

begitu. Catat sajalah dalam hatimu. Mungkin wanita yang


keempat itu takkan muncul dalam kehidupanmu.
Sesaat tersiraplah darah Gak Lui. la teringatlah akan
ramalan si Raja Sungai. Juga mengatakan bahwa dia
bakal mengalami peristiwa kehidupan yang aneh.
Dapatkah cianpwe mengatakan sedikit tentang hal2
yang akan kuderita itu? tanyanya setengah kurang
percaya.
Kepandaianku ....... masih belum mencapai tingkatan
itu. Jika engkau berjumpa dengan suamiku Kaisar
Persilatan. Dia tentu dapat memberi keterangan yang
lebih jelas lagi.
Oh..... Gak Lui mendengus. Kemudian ia bertanya
apakah Ki cianpwe benar2 datang ke Tiong-goan?
Sudah setengah tahun yang lalu.
Ah....., aku tak tahu ........
Tak-apa, lanjutkan saja ceriteramu, kata Permaisuri
Biru agak ramah. Setelah merenung sejenak, Gak Lui
melanjutkan kata2nya : Dalam soal membalas sakit hati
ini, sesungguhnya aku tak ingin mencari bantuan orang.
Tetapi Maharaja persilatan dengan gerombolannya,
memang mengganas di dunia persilatan ....... .
Ya,
kutahu.
Bukankah
maksudmu
hendak
mengatakan mengapa Kaisar tinggal diam saja? tukas
Permaisuri Biru.
Benar, apabila Ki cianpwe tak menghendaki nama
partai Thian- liong-pay dan pribadinya tercemar, beliau
pasti takkan berpeluk tangan membiarkan gerombolan
Maharaja malang melintang dalam dunia persilatan
Permaisuri

Biru

menghela

napas.

Merenung
368

beberapa saat, ia berkata tenang : Sekali-kali bukan


karena kami Kaisar dan Empat Permaisuri itu tak punya
rasa Keadilan. Tetapi sesungguhnya memang tak
berdaya turun tangan.
Aku tak, mengerti !
Kepala Permaisuri Biru itu agak berguncang
sehingga tanda swastika bergemerlapan. Semangat Gak
Lui serentak tertarik oleh pertandaan itu.
Alasannya sederhana sekali. Tetapi pada waktu
sekarang merupakan rahasia besar dalam dunia
persilatan. Setelah kuberitahu kepadamu, engkau tak
boleh bilang kepada siapapun juga.
Baik, aku berjanji takkan mengatakan kepada lain
orang, kata Gak Lui.
Maka berceritalah Permaisuri Biru : Suhu dari Kaisar
Persilatan yalah paderi sakti Thian Liong, pada masa itu
kepandaiannya menjagoi dunia persilatan. Sudah tentudia banyak membunuh tokoh jahat. Dua-puluh tahun
yang lalu, Kaisar telah menumpas ke Lima aliran Jahat.
Merupakan suatu pertempuran berdarah yang hebat
sekali. Sejak itu ia sadar. Sepuluh tahun yang lalu ia
menghadap gurunya untuk menerima ajaran2 ke-agamaan. Pada saat itu ia bersumpah bahwa partai Thian-liongpay takkan membunuh orang lagi. .
Oohh......! desus Gak Lui.
Itulah sebabnya maka kami tak dapat turun tangan.
Bahkan tak berani menerima murid karena kuatir akan
terlibat pergo!akan berdarah sehingga melanggar
sumpah itu
Lalu bagaimana cianpwe hendak memberi pelajaran
ilmusilat kepada Siu-mey dan adik Lian?
369

Sebenarnya aku adalah murid dari Ceng Ling lolo.


Dapatlah kuajarkan dia ilmupedang Ceng-ling kiam-hwat.
Bidadari Tong- ting anak-murid perguruan Raja-setan Im
Hong. Dapat memberikan kepandaiannya kepada gadis
ular Siu-mey.
Aliran Baik atau Jahatkah Raja-setan Im Hong itu
tanya Gak Lui.
Pada masa itu merupakan momok besar yang hebat
sekali kepandaiannya. Pernah mengusir partai.
Gelandangan dari telaga Tong Ting!
Kalau begitu, jangan sajal teriak Gak Lui, betapapun
hebatnya kepandaian itu tetapi aku tak memperbolehkan
Siu-mey menganut aliran jahat!
Permaisuri Biru gelengkan kepala:
Jangan merangsang dulu! Dalam hal, itu memang
ada persoalannya.
Aliran Putih dan Jahat laksana api dengan air. Tak
mungkin berkumpul
Ilmu jahat untuk mengorbankan jiwa orang lain. Dewi
Tong Ting sudah tak mau menggunakan lagi. Tak nanti ia
akan mengajarkan kepada Siu-mey. Selain ilmu jahat itu,
Bidadari Tong Ting masih memiliki lain2 ilmu yang sakti
dan tak tergolong aliran jahat
MAKSUD CIANPWE.......
Golongan Baik dan Jahat itu tergantung dari peribadi
orang. Misalnya, murid penghianat Thiat Wat itu,
bukankah dia juga berasal dari aliran Putih? Adakah
sekarang ia masih menganggap sebagai orang baik?
Memang benar sahut Gak Lui, tetapi lebih baik
kalau kita tak usah mempelajari ilmu itu saja!
370

Diam2 Permaisuri Biru memuji atas sikap Gak Lui


yang keras kepala. Maka dicarilah akal untuk memberi
penerangan lebih lanjut.
Sebagai seorang murid dari Bu-san-kiam-pay,
bagaimanakah paadanganmu terhadap perguruanmu
itu? tanyanya.
Sudah tentu termasuk aliran Putih!
Dari sudut apa?
Sejak turun menurun selalu berwatak ksatriya!
Hmm .... apakah engkau sudah menguasai ilmu
pedang Thian- lui-kuay-kiam?
Kutahu engkau tak bisa. Tetapi adakah engkau
sedikit2 mengetahui tentang intinya?
Katanya hebat sekali. Selain ilmu Liok-to-sin-thong
dari Kaum perguruan agama, tak dapat menandingi
Thian-lui-kuay-kiam itu.
Hanya itu saja? Gak Lui bersangsi lalu balas
bertanya: Apakah cianpwe mengetahui lebih jelas?
Tahu satu dua saja!
Apakah Bu-san pay itu tak termasuk aliran Cengpay?
Saat ini ....... sukar dikata!
Hai!........ Gak Lui berteriak kaget, cianpwe...,
engkau... engkau ...... harus menerangkan
Baik, kata Permaisuri Biru, aku hendak tuturkan
dulu dari asal mulanya.
Gak Lui mengiakan dengan nada gemetar. Memang
selalu ada saja orang sakti dalam partai Bu-san-pay itu.
371

Terutama
pedang
pusaka
Thian-lui-kuay-kiam,
perbawanya tiada yang sanggup menandingi. Tetapi .....
hal itu belum menjamin bahwa perguruan Bu-san-pay
termasuk aliran Ceng-pay.
Oo....
Kemudian setelah tiba pada jamannya Bu-san It Ho,
selain kepandaiannya tinggi dia pun tak mau
menceburkan diri dalam golak pertentangan dunia
persilatan. Oleh karenanya, dia mendapat perindahan
dari kaum persilatan. Tetapi yang paling mendapat rasa
kekaguman orang yalah, bahwasanya dia telah
membekukan pedang Thian-lui-kuay-kiam itu !
Apakah keburukan, pedang itu ?
Kabarnya ...... pada waktu pembuatannya, pedang
Thian-lui- kuay-kiam itu tidak didinginkan dengan air
melainkan dengan disiram darah orang !
ini ..... ini ..... orang baik atau burukkah yang
dijadikan korban itu ?
Sampai sekarang belum ada orang yang
mengetahuinya. Yang nyata, pedang itu memiliki
pancaran sinar berwarna merah macam darah manusia.
Dan gerakan pedang itu menimbulkan deru sambaran
macam kilat. Musuh tentu panik dan kacau lalu melayang
jiwanya. Bu-san It Ho menganggap pedang itu ganas
sekali. Maka ia bersumpah untuk membekukannja. Asal
pedang itu jangan sampai keluar di dunia persilatan lagi.
Dimanakah kakek guruku menyimpan pedang itu ?
Itu suatu peristiwa lampau dalam dunia persilatan.
Kalau engkau tak tahu, tanyakan saja pada angkatan tua
dalam perguruanmul
Hati Gak Lui terasa sayu. Kemudian ia bertanya pula:
372

Empat saudara seperguruan dari ayahku, satu demi satu


telah dibunuh musuh. Dan .... hanya.......
Siapa ? tukas Permaisuri Biru.
Paman guru yang tertua dan sudah diusir dari
perguruan, tetapi entah siapa namanya !
Ahh..... Permaisuri Biro tergetar hatinya.
Cianpwe tentu dapat menerangkan rahasia itu .......
merasa tentu ada sesuatu sebab, maka Gak Lui lalu
mendesak.
Untuk menduga-duga, tentu kurang tepat. Tetapi
timbul juga beberapa kecurigaanku, sahut Permaisuri
Biru.
Mengenai apa ?
Terhadap tokoh Maharaja Persilatan yang sakti dan
gelap asal usul-nya itu, pernah juga kurenungkan. Orang
sebagai dia tak mungkin tak punya sejarah. Tetapi
anehnya seluruh tokoh persilatan tak tahu riwayatnya.
Keteranganmu tadi, menimbulkan kecurigaan..
Tergetarlah perasaan Gak Lui. Dengan geram ia
berseru : Benar....!, memang pernah kudengar bibi guru
menuturkan bahwa akibat dari sesuatu hal maka paman
guruku itu telah diusir dari perguruan rasanya tentu ada
hubungan dengan pedang itu ....... eh, orang macam
begitu, mengapa aku menyebutnya sebagai Paman guru.
Aku
hendak
mengadakan
pembersihan
dalam
perguruanku Bu-san!
Permaisuri Biru berdiam sebentar lalu berkata
dengan serius: Jalan pikiranmu memang tak salah.
Tetapi engkau harus hati2 bertindak! Karena sekali dia
seorang murid yang sudah diusir dari perguruan, jika
memang tak pernah bertindak salah, maka dia tetap
373

paman guru yang wajib engkau hormati. Apabila sampai


terjadi salah faham karena masing2 tak mengetahui
alasannya, maka berarti kalian akan saling bunuh
membunuh sesama saudara seperguruan. Itu berarti
suatu dosa! Jika hal itu benar2 terjadi, maka partai Busan-pay lah yang bertanggung jawab atas pembunuhan
dalam dunia persilatan ini. Maka beban untuk
membersihkan nama baik perguruanmu, terletak di
bahumu seorang. Berhasil atau gagal, tentu tak luput dari
penilaian orang
Kepala Gak Lui serasa berdenyut-denyut keras
seperti dipalu besi. Benaknya serasa nanar: Ah, kiranya
dalam perguruanku terdapat rahasia besar semacam itu
.... Ayah bundaku, ayah- angkat, bibi guru, paman guru
dan entah berapa banyak tokoh2 persilatan Putih yang
menjadi korban dari rahasia itu. Tetapi betapapun
halnya, Maharaja dan si Hidung gerumpung, tak mungkin
tarhindar dari pertanggungan jawab dalam peristiwa itu.
Tetapi siapakah gerangan kedua orang yang misterius itu
? Apakah mereka memang benar dua orang tokoh atau
hanya seorang saja ? Dan siapa pula diantara kedua
orang itu yang merupakan murid hianat dari partai Busan-pay ? Siapakah yang hendak mencuri pedang Thianlui-kiam dari tempat simpanannya ? Melihat pemuda itu
tenggelam dalam renungan, Permaisuri Biru, segera
masuk ke dalam hutan untuk menjenguk Hong Lian.
Tiba2 wajah Gak Lui beringas dan dengan tegang
regang ia menghambur teriakan keras: Pedang Kilat
...........!
JILID 8
DALAM renungannya, dalam Gak Lui melalu-lalang
374

peristiwa yang telah terjadi. Musuh menari-nari dan


tertawa-tawa seperti setan bergembira ria di bawah hujan
darah. Sedang orang tuanya dan beberapa tokoh
persilatan yang tak berdosa, susul menyusul roboh
dalam genangan darah.
Darah.....! Darah.....! Darah ....! Langit bercucuran
airmata, tangis menghambur dan bumi seolah- olah
tergenang darah. Sekonyong-konyong, lautan darah itu
mengangkat gelombang dahsyat. Seolah-olah terjadi
gempa bumi yang hebat. Hujan darah dan angin prahara
meledakkan lautan darah itu. Darah berhamburan
menjadi gumpalan kabut dan awan, tulang2 kerangkapun
bertebaran menghias hutan dan gunung. Di tengah
tumpukan mayat itu, tertancap sebatang pedang yang
berkilauan memancar sinar merah darah, .. itulah pedang
Kilat !. Begitu melihat pedang pusaka itu, musuhpun
segera hendak mengambilnya. Gak Lui hendak gunakan
Sapu Jagad pukulan jarak jauh. Tetapi begitu ulurkan
tangan, ia menggigil.
Pedang yang disimpan kakek guru, apakah layak
kuambil ? Pedang itu amat ganas
Apabila diambil tentu akan menimbulkan akibat2
buruk !
Karena ia tertegun, musuhpun dapat terus
melanjutkan usahanya untuk mengambil pedang itu.
Manusia ada yang baik dan jahat. Pedang tak ada yang
disebut ganas atau baik. Ah...., tunggu apa lagi!
Gak Lui tersadar dan secepat kilat pedang itupun
sudah diraih ke dalam tangannya. Bum..... begitu pedang
berkilat, dunia seolah-olah meledak. Musuh2-nya
merintih-rintih, tubuhnya hancur lebur beterbangan di
udara. Dia sendiripun terlempar melayang-layang di
375

udara. Dengan masih mencekal pedang Kilat, tiba2 ia


berobah seperti manusia gila yang hiiang sifat kemanusiaannya. Dia berobah menjadi makhluk yang
ganas ........
Lautan dendam tiada bertepi, hanya berpaling ke
belakang akan tampak daratan. Gak Lui, sudahlah,
jangan melamun terus !
Tiba2 terdengar suara bentakan halus yang
menyadarkan Gak Lui dari lamunannya. Mengangkat
kepala, ia kucurkan keringat dingin ketika matanya
tertumbuk akan tanda Swastika pada kening Permaisuri
Biru.
Gak Lui, adikmu Lian itu cepat akan tersadar.
Sebelum
berpisah,
apakah
engkau
hendak
menyampaikan pesan apa2! Gak Lui menghela napas
panjang dan menyahut dengan nada bersungguh :
Dalam renungan tadi hampir saja aku tersesat kearah
Co- hwe-jip-mo. Untunglah ...........
Tak usah sungkan, engkau berwatak lurus. Kelak
engkau tentu dapat membersihkan nama perguruanmu !
kata Permaisuri Biru.
Kalau begitu ....... harap sampaikan pada adik Lian.
Kudo'akan dia lekas sembuh. Tentang paman The, aku
tentu berusaha sekuat tenaga untuk menolongnya !
Baik.
Oleh karena cianpwe tak menghendaki hanya
ucapan terima kasih saja maka apabila cianpwe hendak
menyuruh apa2, silahkan bilang !
Permaisuri merenung sejenak, sahutnya : Partai
Thian-liong-pay kami, tiada punya murid.Tetapi aku
mempunyai seorang anak yang bernama Ki Hud-kong,
376

yang kini mengembara dalam dunia persilatan. Sudah


tentu dia tak mau sembarangan membunuh orang. Tetapi
mengingat umurnya belum cukup 16 tahun, darahnya
tentu masih panas. Maharaja dan gerombolannya
memang mengandung maksud tak baik terhadap anakku
itu. Terus terang saja, sebagai seorang ibu aku sungguh
tak tega
Melihat wanita yang sakti itu bersikap sebagai
seorang ibu yang penuh kasih sayang, kepada
puteranya, terharulah Gak Lui. Iapun teringat akan
ibunya yang entah mati entah hidup. Ibu yang sejak kecil
belum pernah dilihat wajahnya
Asal aku mampu, tentu akan melakukan pesan
cianpwe dengan sekuat tenagaku. Tetapi entah
bagaimana roman muka putera cianpwe itu? Bagaimana
aku dapat mengenalinya?
Dia... wajahnyapun bertutup kerudung hitam..........
Apakah takut dikenal orang?
Dia takut diketahui musuh !
Ciri2 lainnya?
Dahinyapun terdapat tanda Swastika seperti dahiku
ini. Tetapi... mungkin dia tak mau mengenakannya.
Ah...., tak apalah, sahut Gak Lui, aku tentu
mempunyai akal untuk mengenalinya. Harap cianpwe
jangan kuatir. Dari balik kain kerudung mukanya, tampak
mata Permaisuri Biru itu memancar rasa terimakasih.
Tiba2 ia mengajukan lain soal, tanyanya: Sebelum
berpisah, aku hendak bertanya padamu tentang sebuah
soal. Tadi ketika berhadapan dengan musuh, engkau
terus berganti arah hendak menuju kebarat itu apakah
karena dalam hatimu timbul kesangsian ?
377

Hm ......... Gak Lui, merenung lalu mengangguk,


Memang agak aneh. Permaisuri Biru tak mau
menjelaskan lebih lanjut melainkan berganti pertanyaan :
Tadi engkau telah menyambut aku dengan kehormatan ,
Tiga serangan pedang. Sekarang akupun hendak
mengembalikannya dengan tiga buah serangan juga!
Gak Lui terlongong. Berbeda sekali ucapan wanita itu
yang tadi dengan sekarang: Namun karena Permaisuri
Biru hendak mengembalikan ketiga serangan Pedang itu,
Gak Luipun tak dapat menolak. la tertawa nyaring lalu
menjawab dengan Penuh semangat :
Sungguh beruntung sekali karena cianpwe hendak
memberi pelajaran kepadaku. Oleh karena tadi cianpwe
melayani dengan tangan kosong, sekarang akupun tak
berani menggunakan Pedang !
Seharusnya memang begitu ! kata Permaisuri Biru
seraya mengambil pedang dari seorang Topeng Besi.
Hati-hatilah!
serunya.
Serentak
pedang
berhamburan seperti sinar pelangi yang menabur tubuh
Gak Lui. Gak Lui memperhatikan gerak wanita itu, seraya
menduga arah yang hendak ditujunya lalu menggunakan
ilmu Meringankan- tubuh untuk berlincahan menghindar.
Tetapi ternyata lawan jauh lebih lihay dari yang
diduganya. Tampak pedang Permaisuri Biru itu seperti
berkelebat ketimur tetapi tahu-tahupun sudah siapmenunggu disebelah barat. Sekalipun Gak Lui gunakan
gerak Rajawali-rentang-sayap untuk melambung keudara
lalu bergeliatan menghindar dalam gerak Awan-mengalir
ribuan-li, tetapi tetap tak dapat lolos. Sinar berhamburan
dan pada lain saat sinar pedang itupun bersatu pula dan
lenyap. Begitu meluncur ketanah, dengan kemalumaluan Gak Lui berkata : Ah...., apa yang kuunjukkan
tadi hanya permainan yang jelek.....
378

Tak perlu terburu-buru. Ketiga jurus tadi hanya


semacam pameran saja. Kita masih harus bertanding lagi
! seru Permaisuri Biru.
Mengapa ? Gak Lui terbeliak.
Ketiga jurus yang engkau mainkan tadi, sudah
kuketahui semua. Dan sekarang engkau tentu tak tahu
bagaimana aku hendak turun tangan. Maka lebih dulu
kuperlihatkan permainanku itu. Setelah itu baru kita
bertanding sungguh2 Tergeraklah hati Gak Lui. Ia
merenungkan ketiga jurus permainan pedang wanita itu.
Tiba2 dilihatnya lawan mulai menyerang. Jurusnya
sama dengan yang tadi tatapi jauh lebih cepat lagi. Gak
Lui terpaksa melayani dengan hati-hati dan tumpahkan
seluruh kepandaiannya. Hebat benar serangan tiga jurus
pedang itu. Sinar pedang berhamburan dan bayangan
orangnya pun lenyap. Kedua sosok tubuh, itu tak ubah
seperti burung hong menari dan naga bercengkerama.
Hanya beberapa saat mereka bertempur dan
berpencaran pula. Gak Lui tegak berdiri dengan khidmat
seraya berseru dengan rasa penuh terima kasih :
Dengan menggunakan nama hendak mengembalikan
ketiga pedang tadi cianpwe telah berkenan memberikan
pelajaran ilmu pedang yang istimewa kepadaku. Entah
apakah nama jurus ilmu pedang itu?
Permaisuri Biru lemparkan pedangnya. Pedang
melayang tepat disisi kepala si Topeng Besi. Sinar
matanya yang berkilat kilat, tampak meredup tenang lagi
lalu menjawablah ia akan pertanyaan Gak Lui. Partai
Thian-liong-pay mempunyai ilmu yang disebut Ni-coanngo-heng-tay hwat atau Lima-unsur- menyungsang-arah.
Tadi kugunakan ilmu itu untuk memikat musuh. Tetapi
kalau engkau hendak menuntut balas tentu harus
membunuh orang. Maka aku tak mau mengajarkan ilmu
379

itu kepadamu. Dan apa yang kupertunjukkan tadi


hanyalah sebagai petunjuk rahasia agar engkau selami
sendiri.
Ya, kusudah jelas. Pada serangan yang pertama
tadi, memang kulayani dengan sungguh-sungguh seperti
menghadapi seorang lawan sakti. Tetapi pada serangan
yang kedua-kali, hanya. kugunakan cara menghindar
saja.
Engkau benar, kata, Permaisuri Biru, memang
jurus jurus permainanku tadi khusus untuk menghadapi
lawan sakti. Maka apabila engkau berhadapan dengan
Maharaja mungkin jurus itu dapat meringankan bebanmu
!
Kemudian Permaisuri Biru menunjuk kesebelah
barat, ujamya pula : Aku masih mempunyai urusan
untuk tinggal disini. Silahkan engkau pergi kesana !
Gak Lui tahu maksud Permaisuri Biru. Wanita itu
kuatir kalau ia akan mengejar Maharaja dan timbul halhal yang tak diinginkan. Atas maksud baik Permaisuri
Biru, Gak Lui pun tak mau membantah. Segera la minta
diri. Sebelum berpisah, ia menghirup napas dalam2.
Seketika ia mencium bau yang harum. Walaupun bau itu
tidak keras tetapi cukuplah baginya untuk mengenal
Permaisuri Biru dikelak kemudian hari.
Setelah melihat pemuda itu berjalan jauh, Permaisuri
Biru menghela napas kecil. Hatinya kejut-kejut girang,
penuh dengan berbagai perasaan syukur. Setelah itu ia
segera masuk lagi kedalam hutan, lalu membawa HongLian yang masih tidur nyenyak. Pada saat ia hendak
tinggalkan tempat itu, tiba-tiba hatinya tersentuh. Sejenak
ia memandang kearah mayat yang menggeletak ditanah.
Merangkapkan kedua tangannya kedada ia mengucap
380

Omitohud. Kemudian. la segera hendak mengubur mayat


itu dan mengemasi pedangnya. Tiba-tiba pedang itu
menimbulkan kecurigaan, pikirnya : Ah...., mukanya tak
asing bagiku. Kiranya anak buah Bu-tong-pay. Tetapi
siapakah dia? Segera ia mengangkat topeng besi yang
beratnya puluhan kati itu untuk dibuka dan dilihat siapa
orangnya. Tetapi dalam kerudung kepala besi itu rupanya
diberi alat pekakas dan karena sudah bertahun-tahun
lamanya dan berkarat, Permaisuri Biru tak berani
sembarangan membukanya dengan paksa. Tetapi
karena sampai beberapa lama belum juga ia mampu
membuka, akhirnya ia gunakan tenaga. Sekalipun begitu,
hampir sepeminum teh barulah terdengar topeng itu
berderak-derak.
Begitu
topeng
ter-buka
maka
menggelindinglah sebutir kepala orang. Orang itu
rambutnya sudah putih semua.
Celaka ! Permaisuri Biru terkejut dan berseru kaget;
aku kenal padanya. Dia adalah Ceng Ci totiang dari Butong-pay: Ah, mengapa ia mati begitu mengenaskan?
Adakah dia termasuk salah seorang dari murid-muridkelima partai persilatan yang berkhianat itu? Tidak...!
Pasti tidak.....! Peribadi Ceng Ci totiang lurus dan bersih
Kalau lain orang mungkin tetapi kalau Ceng Ci tak
mungkin menilik gelagatnya, tentu ada sesuatu rahasia
yang terselip dalam peristiwa itu. Gak Lui tentu salah
membunuh orang ! Ah..., walaupun pemuda itu tergolong
orang Ceng-Pay (Aliran Putih), tetapi menilik caranya ia
membunuh orang sedemikian ganasnya, apakah tak
muugkin kelak dia akan menjadi momok ganas dalam
dunia persilatan...!
Merenung beberapa saat, Permaisuri Biru tak dapat
menemukan jawabannya. Karena sudah lama ia tak
mencampuri urusan dunia persilatan dan baru pada saat
itu ia mendengar cerita dari Gak Lui tentang situasi dunia
381

persilatan dewasa itu, ia tak dapat menarik kesimpulan


apa2. Karena dalam pandangannya, segala peristiwa itu
tak terhindar dari Sebab dan Akibat. Tiba2 ia menghela
napas kecil, ujarnya seorang diri : Ah, balas dendam
dalam dunia persilatan memang tiada putus2nya. Jika
aku mau terjun lagi kedunia persilatan, tentu takkan
terhindar membunuh orang. Hal itu, pasti akan
melanggar sumpahku! Lebih baik kusembuhkan luka
gadis Hong-Lian itu. Dan biarlah mereka kaum muda itu
yang kelak menyelesaikan peristiwa mereka sendiri.
Tentang kematian Ceng Ci totiang, baiklah kukirimkan
kepalanya ke Bu-tong-san Akan kutulis surat
menerangkan apa yang kuketahui dalam peristiwa itu.
Dan biarlah mereka yang memutuskan soal itu
sendiri.......
Setelah memutuskan langkah, dengan gunakan
tenaga-dalam ia membuat lubang lalu menanam mayat
dan topeng besi. Setelah ditimbuni dengan daun2 dan
ranting kering agar jangan menarik perhatian orang, ia
segera memanggul Hong-Lian dan terus melesat pergi.
HUTAN kembali sunyi senyap seperti semula. Tetapi
kesunyian itu hanya sementara waktu saja. Karena tak
berapa lama, tiba- tiba sesosok tubuh yang aneh
menyerupai setan muncul ditempat itu. Ternyata yang
datang itu adalah Gak Lui. Mengapa Gak Lui yang sudah
pergi sampai setengah hari lamanya itu tiba-tiba dapat
muncul lagi kesitu?. Menurut peribadinya tak mungkin
pemuda seperti dia akan bersembunyi disekitar hutan
situ dan mengintai gerak-gerik Permaisuri Biru.
Kedatangannya lagi kehutan itu adalah karena
disebabkan oleh dua buah hal yang menghantui
pikirannya. Pertama, orang yang bersuit aneh tadi
kemungkinan tentulah si Maharaja. Dendam kesumat
yang telah mendarah daging dalam hatinya, walaupun
382

untuk sementara dapat diendapkan oleh Permaisuri Biru,


tetapi akhirnya meletus juga. Ia makin bernafsu untuk
mengejar musuh itu. Kedua, siapakah sesungguhnya
yang tersembunyi dibalik topeng besi itu? Topeng Besi
merupakan teka teki besar dalam dunia persilatan. Tadi
ia lupa untuk memeriksa batang kepala korban itu. Oleh
karenanya maka ia tergopoh-gopoh kembali lagi. Tetapi
ketika ia tiba dihutan itu dan memandang kesekeliling, ia
menjerit tertahan dan sunyi senyap. Bekas2 noda darah
yang berceceran ditanah, hilang lenyap. Tubuh dan butir
kepala yang bertopeng besi dan pedang ....... lenyap
semua.
Tentulah Permaisuri Biru mengubur mereka. Dan
tentulah........ ditanam disekitar sini ...... pikirnya. Ia
segera menggunakan kelebihan hidungnya yang tajam
untuk menyedot napas.
Ah...., bau harum dari Permaisuri Biru itu sudah
menipis sekali. Tetapi masih bertebaran dalam hutan ini,
menyelubungi bau anyir dari darah kata Gak Lui sambil
kerutkan alis. Diam2 pemuda itu menimang : Karena
bau darah tak dapat kucium, dan tak mungkin hendak
kubongkar seluruh tanah hutan ini, maka satu2nya jalan
terpaksa aku harus menyusulnya dan menanyakan
tentang kepala orang itu....
Setelah menetapkan keputusan, segera ia menyusuri
jejak dari bau harum yang ditinggalkan Permaisuri Biru,
melintasi hutan. Tetapi setiba ditepi hutan, bau barum
itupun lenyap. Betapapua ia hendak menyedot napas
sedalamdalamnya namun tak berhasil ia membau hawa
harum itu. Dengan begitu ia kehilangan jejak.
Permaisuri Biru memiliki tenaga-dalam yang amat
tinggi. Gerakan tubuhnya pun amat cepat sekali. Dengan
begitu sukar untuk mengejarnya ...... kata Gak Lui
383

seorang diri dengan rasa kecewa. Tiba2 ia hentikan


langkah, serunya: Ah...., biarlah! Toh kalau bukan murid
hianat, Topeng Besi yang terbunuh itu tentu bangsa
durjana. Biarlah tak usah kuperiksa kepala orang itu.
Lebih baik kupergi kegunung Pek-wan-san mencari jejak
musuh !
Tak berapa lama tibalah ia kembali ketempat tinggal
Pukulan sakti The Thay. Tampak beratus batang pedang
yang tergantung pada dinding rumah dan lumpang besi
untuk menempa pedang telah hancur lebur. Benda itu
rupanya dihancurkan orang dengan tenaga dalam.
Serentak terkenanglah Gak Lui akan orang tua yang
berwatak terus terang serta puterinya Hong-Lian yang
wajar kekanak- kanakan itu. Kedua ayah dan anak itu
telah mengasingkan diri ditempat yang sunyi jauh dari
pergaulan ramai. Tetapi adalah karena hendakmembantu dirinya, kedua ayah dan puterinya itu telah
hancur berantakan .......
Ah, musuh memang ganas sekali ..... hutang darah,
ya hutang darah musuh itu makin menumpuk. Dia harus
membayar hutang2nya itu........
Gak Lui membulatkan tekad sambil berjalan mondarmandir diruang pondok. Tiba2 hidungnya mencium bau
yang keras. Sejenak memandang keadaan ruang itu,
cepat ia melesat keluar mengejar. Bayang2 puncak
gunung seolah-olah berlari-lari melewati dirinya. Bintang2
diam2 telah bermunculan menghias cakrawala. Gak Lui
lari secepat angin. Dibawah sinar bintang, dilihatnya
sesosok tubuh menyerupai setan hutan tengah ber-lari
kencang sekali. Dan tak henti- hentinya mahluk aneh itu
mengeluarkan siulan yang aneh. Pemandangan itu
menggetarkan hati Gak Lui. la menyedot napas dan
membaui bermacam bebauan. Jelas bayang2 disebelah
384

muka itu terdiri dari beberapa orang. Maka ia segera


percepat larinya dengan gunakan gerak lari Awanberarak-seribu-li.
Lebih kurang terpisah berpuluh tombak, tiba2
bayangan hitam itu berpaling dan terus menyelinap
kedalam gerombol hutan disebelah kiri. Rupanya tanpa
sadar Gak Lui terpengaruh dan menurutkan arah
pandang bayangan hitam itu. Dan segera ia melihat
dalam keremangan malam yang gelap, tampak sebuah
biara kecil. Orang aneh itupun rupanya hendak menujukebiara itu. Gak Lui cepat menghampiri tempat itu.
Karena hutan dan malam amat sunyi, ia segera dapat
mendengar suara suitan pelahan. Arahnya dari suitan
pelahan dari jarak beberapa li. Dibawah sinar bintang
tampak sosok2 bayangan melintas hutan. Dalam
sekejab, kedua sosok tubuh misterius saling bertemu.
Keduanya menggerakan tangan seperti sedang
berunding. Karena jaraknya jauh, Gak Lui tak dapat
mendengar jelas.
Ah...., bagaimana ini? pikir Gak Lui yang hendak
merencanakan untuk mendengar pembicaraan mereka.
Saat itu ia belum jelas siapakah mereka, kawan atau
lawan. Ia tak mau membikin kejut mereka. Sekonyongkonyong sosok hitam itu berulang kali menunjuk kearah
biara dalam hutan. Kemudian keduanya serempak
menuju kebiara itu.
Hm...., mereka tentu hendak berunding dalam biara
itu. Mengapa aku tak mau mendahului mereka Gak Lui
mendapat pikiran lalu dengan hati2 sekali ia bergerak
menyusup kedalam biara. Ia bersembunyi dibawah meja
sembahyangan. Tak berapa lama, kedua sosok tubuh
tiba dimuka pintu. Ternyata mereka mengenakan pakaian
hitam dan berkerudung muka warna hitam juga. Dari
385

lubang mata, tampak mata mereka berkilat-kilat


memandang kesekeliling. Rupanya hendak masuk.
Tetapi tiba2 salah seorang mengangkat tangan kanan
dan berkata memberi peringatan: Jangan tergesa-gesa!
Mungkin dalam biara terdapat orang!
Kawannya mendengus dingin : Ada orangpun tak
jadi soal. Dengan kepandaian kita, masakan tak mampu
menghadapi ...... Orang tadi mendesis pelahan lain
menyahut dengan serius :
Soal ini adalah perintah dari Maharaya sendiri. Jelas
sebuah rahasia. Apabila ada orang yang meayelundup
dalam tempat ini dan mencuri dengar pembicaraan kita,
pasti celaka.! Ia menyurut mundur dua langkah lalu
memberi isyarat tangan.
Saudara yang memeriksa dalam biara, aku yang
manyelidiki diluar......... Mendengar itu tergetarlah hati
Gak Lui. Untunglah karena minum darah buaya purba,
matanya bertambah tajam. Sekalipun malam tiada bulan
dan hanya disinari bintang-bintang, tetapi ia masih dapat
melihat jelas keadaan dalam biara itu. Saat itu orang
aneh yang hendak menyelidiki keadaan diluar, pun
segera melangkah keluar. Sedang kawannya yang
diminta memeriksa dalam biara, juga segera masuk. Ia
memandang segenap sudut dari biara itu. Dengan hati2
sekali Gak Lui mengisar tubuh dan menutup pernapasan.
Ia tak mau membikin kaget orang itu karena hendak
mendengar apa yang mereka bicarakan nanti. la,
menurutkan pandang matanya kesetiap langkah dan
gerakan orang itu. Tiba2 ketika matanya memandang
kearah lantai yang bertutup dengan debu tebal, hampir
saja Gak Lui berteriak kaget. Kiranya pada debu tebal itu
terdapat bekas telapak kakinya. Tadi karena ia tergopoh
masuk maka ia tak memperhatikan soal itu. Sekalipun
386

bekas telapak kaki itu sangat tipis namun tentu tak dapat
terhindar dari mata seorang tokoh silat. Tetapi pada
detik2 yang amat menegangkan, siorang berkerudung
tak memperhatikan lantai melainkan memandang keatas
papan nama yang tergantung diatas serambi. Mulutnya
berseru : Biara Malaekat Gunung! Tempat begini tentu
jarang diketahui orang
Gak Lui segera mendapat pikiran. Hati-hati sekali ia
julurkan tangan kiri dan kerahkan tenaga-dalam Algojodunia. Dari telapak tangannya, meluncur hawa dalam
kearah telapak kaki pada permukaan debu dilantai itu.
Pada saat siorang aneh melangkah masuk kedalam
ruang, bekas telapak kaki itupun sudah lenyap tertimbun
debu. Dan serempak pada saat itu, orang aneh yang
memeriksa diluar tadipun muncul seraya bertanya :
Bagaimana didalam?
Tak ada setan apa2 ! sahut kawannya yang
memeriksa didalam.
Benarkah?
Kalau tak percaya, silahkan periksa sendiri! Orang
aneh itu menundukkan kepala melihat lantai. Kecuali
bekas telapak kaki mereka berdua, tak ada lain2 jejak
yang mencurigakan.
Sudahlah, sudahlah! tiba2 orang aneh yang
memeriksa bagian dalam tadi berseru seraya membuka
kerudung mukanya. Dengan wajah menyeringai
bertanyalah ia dengan nada yang tak sabar:
Sesungguhnya soal apa sajakah sehingga membuat
engkau Penjaga Neraka begitu tegang? Mengapa
engkau tak mau membuka kain kerudung mukamu dan
bicara dengan bebas?
387

Orang yang dipanggil Penjaga Neraka itu, tetap


memandang dulu kesekeliling sudut setelah itu baru
membuka kain kerudungnya. Sikapnya yang plintatplintut itu makin menimbulkan kecurigaan Gak Lui. Diam2
ia memperhatikan wajah orang itu dengan seksama.
Kalau kukatakan.....engkau tentu akan melonjak
kaget, kata si Penjaga Neraka itu. sekarang Maharaja
sudah tiba disini. Aku mendapat perintah untuk
memanggil jago2 sakti disekitar daerah sini untuk
berkumpul di istana Yok-ong menerima titah.......
ini ...... sungguh ....... aneh ........ semua rencana
yang kita jalankan mengapa tiba2 dirobah begini rupa?
kawannya terkejut.
Sudahlah, jangan ribut2 ini-itu. Sekarang hendak
kukatakan apa tugasmu, agar jangan sampai terlantar. !
seru Penjaga Neraka.
Tugas apakah itu?
Kali....... ini yang menghadap berjumlah besar......
Tetapi karena orang2 itu sama mengenakan-kerudung
muka maka aku dan engkau ditugaskan untuk
memeriksa bukti2 yang mereka bawa. Engkau yang
memeriksa orang2 Kay-pang dari lain2. Aku yang
memeriksa anak buah Maharaja. Jika ada yang
mencurigakan, kita harus memeriksanya dengan
pertanyaan.... kata Penjaga Neraka.
Bertanya bagaimana? Apakah ada kata2 sandi yang
ditentukan? tanya orang itu pula.
Temponya amat mendesak sehingga tak sempat
menetapkan kata2 sandi. Maka aku dan engkaulah yang
ditunjuk untuk mengajukan pertanyaan pada mereka.
Boleh bertanya apa saja tentu kita segera tahu nada
388

mereka mencurigakan atau tidak


Apakah kalau mereka itu terbukti salah lalu kita
hukum mati?
Tidak, jika mencurigakan, harap ditawan hidup dan
biarkan Maharaja yang memeriksanya sendiri !
Sungguh mengherankan ! Adakah Maharaja curiga
kalau ada tokoh2 sakti yang menyelundup dalam
pertemuan itu?
Entahlah, aku kurang terang. Namun orang yang
berwajah menyeringai itu gelengkan kepala tak percaya :
Ah, mengapa engkau tetap main sembunyi kepadaku?
Engkau sudah belasan tahun ikut pada Maharaja. Soal
itu mungkin dapat mengelabuhi engkau tetapi masakan
dapat mengingusi aku si Jo Bin Sucia?
Penjaga Neraka tertegun sejenak lalu berkata pula:
Menurut dugaanku, penjagaan itu ditujukan terhadap
seorang jago muda sakti !
Jago muda sakti......! Siapakah namanya? tanya Jo
Bin sucia atau Utusan Berwajah buruk.
Gak Lui ! Mendengar itu tergetarlah hati Gak Lui.
Sedang si Wajah buruk malah tertawa mengekeh dan
berseru: Kukira tokoh sakti yang bagaimana, kiranya
hanya anak yang masih belum hilang ingusnya itu.
Marilah kita lekas2 menuju ke istana Yok-ong. Budak itu
datangpun baik, tidak datangpun lebih baik.......
Sudahlah, jangan menepuk dada dulu ! Kita sudah
mendapat tugas, lebih pagi datang kesana lebih baik.
Apalagi jika benar- benar sampai bertempur, budak itu
sudah banyak merubuhkan jago2 sakti....
Hm, aku tak percaya....! kata si Wajahburuk. Diamdiam Gak Lui terkejut, pikirnya :Huh, mengapa sudah
389

dua kali ini Maharaja hendak mencari aku? Apakah yang


hendak ditanyakan kepadaku? Menilik gelagat, orang itu
tentu mempunyai hubungan dengan partai perguruanku.
Mungkin hendak menanyakan tentang Empat Pedang
Busan, mungkin........
BARU ia merenung sampai disini tiba-tiba si Wajah
buruk kedengaran bertanya pula : Saudara lm, ada
sebuah hal yang kurasa aneh. Maukah engkau
menerangkan?
Kalau bisa, tentu akan kuterangkan !
Maharaja yang begitu sakti mengapa harus memakai
kain kerudung muka? Kurasa banyaklah diantara orang2
itu yang ingin sekali melihat wajah aseli dari Maharaja!.
Dan lagi, kelima Topeng Besi dari lima partai persilatan
itu, mengapa ....
Hm....., engkau lagi2 begitu. Tak usah bertanya,
nanti pada suatu hari engkau tentu akan jelas sendiri.
Jadi engkau sebenarnya sudah tahu tetapi tak mau
bilang?
Aku masih ingin hidup beberapa waktu lagi!
Bolehkah aku menduganya ?
Lebih baik jangan !
Mengapa?
Menduga salah sama artinya dengan tak menduga!
Kalau dapat menduga tepat?
Berarti hari kematianmu sudah tiba !
Si Wajah buruk tertegun. Beberapa saat kemudian ia
berkata seorang diri : Kurasa Maharaja itu, tentu
memiliki wajah yang tak boleh dilihat orang. Mungkin
390

karena cacad hidung atau telinganya sahingga wajahnya


lebih buruk dari aku.......!
Baru berkata begitu tiba- tiba Penjaga Neraka itu
tergetar tubuhnya: dan cepat membentak bengis : Tutup
mulutmu! Jika engkau masih ngaco belo tak keruan,
jangan sesalkan aku tak kenal persahabatan dan
melaporkan engkau pada Maharaja !
Ancaman Penjaga Neraka itu ternyata mempunyai
daya kekuatan yang besar. Si wajah-buruk seperti
terbungkam.
Heran...., diam2 dalam kolong meja Gak Lui
menimang dalam hati, menurut keterangan mendiang Gihu (ayah angkat), pada batang pedang milik si Hidung
Gerumpung itu terdapat bekas guratan huruf silang.
Tetapi kalau menurut keterangan Bok Kiam- su, orang
yang datang kepadanya untuk membikin betul
pedangnya itu, baik kata2 maupun nada suaranya tiada
mencurigakan. Kalau begitu pembunuh itu sukar
ditentukan, seorang atau dua orang. Tetapi pembicaraan
kedua anak buah Maharaja itu, memberi bukti yang
nyata. Mungkin Maharaja itu tak lain yalah Hidung
Gerumpung itu sendiri. Oleh karena luka pada hidungnya
itu sudah ditutup maka nada bicaranyapun tak berbeda
dengan orang biasa. Hanya saja ia tetap mengenakan
kerudung muka karena takut dilihat orang !
Tengah Gak Lui tiba pada pemikiran begitu, tiba2
terdengarlah langkah kedua orang itu keluar dari biara.
Sejenak memandang cuaca, berkatalah Penjaga Neraka.
Waktu sudah hampir habis, mari kita berangkat.
Ingat, nanti yang akan menghadap Maharaja berjumlah
28 tokoh dari berbagai partai persilatan. Tak boleh
kurang dan lebih ! kata Penjaga Neraka.
391

Kalau begitu yang membawa Ki-pay (lencana emas)


tak boleh masuk? tanya si WajahBuruk.
Benar....! Mereka harus menunggu diistana Yokong! Terdengar kesiur angin dari kedua orang yang
melesat keluar dari biara.
Gak Lui hendak meringkus Penjaga Neraka itu.
Karena orang itu rupanya tahu banyak sekali tentang
rahasia Maharaya. Tetapi tiba-tiba ia mendapat pikiran
lain: Apalagi orang itu juga serupa dengan Tabib jahat Li
Hui-ting yang tahan siksaan, bukankah malah akan
membubarkan pertemuan Maharaya dengan tokohtokoh persilatan itu?
Akhirnya ia memutuskan lebih baik diam2 mengikuti
pertemuan itu untuk membekuk Maharaya. Ia segera
keluar dari biara dan menyusul kedua orang tadi.
Istana Yok-ong-kiong merupakan sebuah bangunan
yang terlantar. Ruangan besar dalam istana itu gelap dan
menyeramkan. Diluar istana telah penuh berpuluh orang
yang mukanya memakai kain kerudung. Seratusan
tombak dari pintu gerbang, tampak dua orang yang
menyeramkan sedang melakukan pemeriksaan kepada
orang2 yang hadir disitu. Yang membawa Kim-pay,
semua disuruh menunggu diluar istana. Sedang yang
membawa pertandaan rahasia dari batu mustika,
dipersilahkan masuk kedalam. Selain pertanyaan dari
kedua orang petugas yang menimbulkan suara berisik
pelahan itu, sekalian yang hadir tak ada yang buka
suara. Keadaan disekeliling istana itu sunyi sekali. Tiada
seorangpun yang berani bicara, lebih2 berani
sembarangan bergerak. Karena kesibukan pemeriksaan
tanda pengenal dan suasana yang diliputi ketakutan dan
keseraman itu maka tiada seorangpun memperhatikan
bahwa dibalik sebatang pohon tua yang menjulang, tinggi
392

sekali, bersembunyi sesosok tubuh yang tak lain adalah


Gak Lui. Dia juga mengenakan pakaian warna hitam dan
mukanyapun dikerudungi dengan kain hitam pula.
Tangan kiri memegang sebuah Kim-pay dan tangan
kanan menggenggam sebuah batu mustika. Diam2 ia
menghitung jumlah orang yang datang.
Duapuluh lima.....! Duapuluh enam...... duapuluh
tujuh...... ! Yang diperboleh masuk kedalam istana, dari
jumlah 28 orang hanya kurang seorang saja. Mereka
telah datang semua. Tetapi yang seorang itu, masih
belum tampak datang ...... mungkin terlambat. Gak Lui
memperhatikan kedua anak buah Maharaja yang
menjaga pintu, antara lain si Penjaga Neraka dan si
Wajah Buruk. Dilihatnya kedua orang itu juga gelisah dan
tak sabar. Berulang kali mereka mengangkat kepala dan
memandang kesebelah muka. Gak Lui segera berkisar
tempat, pikirnya : Tentulah waktunya sudah tiba ! Orang
itu tentu tak datang. Aku harus lekas2 menggunakan
kesempatan untuk menerobos masuk agar jangan
membuang waktu yang berharga..... Dengan hati2 sekali
Gak Lui meluncur turun dari pohon dan dengan gerakan
yang sukar diketahui orang, ia sudah tiba dimuka pintu
gerbang. Tetapi serempak dengan itu, dari pohon
disebelah muka, juga tampak sesosok tubuh meluncur
turun dan menyusulnya.
Hai, siapakah dia ......? diam2 Gak Lui terkejut
sekali. Cepat ia lambatkan jalannya dan orang itupun
sudah berada disebelahnya. Bermula Gak Lui segera
hendak menunjukkan pengenal batu mustika agar lekas2
masuk kedalam istana. Tetapi karena orang yang tak
dikenal itu muncul, maka ia agak terlambat. Penjaga
Neraka dan si Wajah Burukpun terkejut. Tetapi orang tak
dikenal itu tak menghiraukan lalu cepat2 mendahului
menunjukkan benda pengenal, sebuah batu mustika
393

yang berkilau-kilauan. Gak Lui tergetar hatinya. Namun ia


tak kehilangan kesadaran. Cepat iapun mengacungkan
tangan kiri yang memegang Kim - pay. Penjaga Neraka
dan kawan2nya, menatap tanda pengenal yang
ditunjukkan kedua orang itu dengan seksama. Gak Lui
cepat melepaskan pengerahan tenaga dalam, agar sorot
matanya tak diketahui penjaga. Tetapi orang yang
datang bersamanya itu, pandang matanya masih
memancar sinar yang berkilat-kilat. Diam2 Gak Lui heran
:
Aneh, orang ini umurnya sebaya dengan aku tetapi
matanya memancar sinar yang begitu berwibawa......
Tetapi Gak Lui tak sempat memperhatikan. orang itu
karena ia segera melihat bibir Penjaga Neraka itu
bergerak-gerak. Gak Lui mengeluh kaget: Celaka,
rupanya
dia
curiga,
tentu
akan
mengajukan
pertanyaan.....
Cepat ia mengatupkan tangan dan sebelum
diperintah sudah terus melesat keluar biara. Untunglah
karena Penjaga Neraka sedang menumpahkan perhatian
kepada pendatang yang mengunjukkan pengenal batu
mustika itu, maka tak sempat mengurus Gak Lui. Tepat
pada saat Gak Lui melesat keluar gedung, ia mendengar
pendatang aneh itu berseru pelahan : Akulah...... terus
melangkah masuk kedalam ruang.
Uh....., menilik keadaannya jelas dia bukan kaum
dujana tua tetapi mengapa dapat melalui penjagaan?
Apakah dia seorang jago muda dari ke-9 partai
persilatan? Ataukah utusan dari lain perguruan? Tetapi
tak peduli siapa dia, yang jelas dia telah mengganggu
sehingga aku tak dapat masuk kedalam gedung.....!
Terpaksa Gak Lui gunakan telinganya yang tajam untuk
berusaha mendengarkan apa yang berlangsung dalam
394

gedung. Dalam usaha itu ia menyelinap mendekati


jendela. Lebih kurang satu tombak dari jendela tiba? dari
dalam gedung itu terdengar suara orang berseru
menggeledek: Tangkap mata 2.....! Teriakan itu begitu
mendadak sekali sehingga Gak Lui pun terkejut, pikirnya
: Adakah dia mengetahui diriku ....... Bum ........ bum
...... terdengar dua buah pukulan beradu keras. Kerasnya
mirip dengan ledakan. Angin dari pukulan itu berhambur
keluar dari jendela sehingga kain kerudung mukanya ikut
bergoncang-goncang.
Celaka.... ! Pukulan orang itu dahsyat sekali,
kemungkinan pemuda tadi tak dapat lolos ...... baru ia
memikir begitu, perobahan yang terjadi dalam gedung
berlangsung lebih cepat.
SEKETIKA dari gedung yang gelap ruangannya itu,
melayang keluar sesosok tubuh. Ternyata sosok tubuh
itu adalah pemuda yang masuk tadi. Dengan gunakan
ilmu meringankan tubuh yang tinggi, ia melayang keluar.
Dibelakangnya diikuti oleh 3 orang berkerudung muka
yang menyerangnya dengan pukulan dan pedang. Cepat
Gak Lui dapat memastikan bahwa orang yang berteriak
menggeledek tadi tentu si Maharaja. Dan dia tentu tak
ikut mengejar melainkan masih berada dalam gedung.
Gak Lui tak sempat memikirkan untuk membantu
pemuda itu lagi, ia harus menggunakan kesempatan
sebaik itu untuk menyerang Maharaja. Selain itu ternyata
pemuda itupun cerdas dan tangkas sekali.
Walaupun ia tahu bahwa disekeliling penjuru terdapat
musuh tetapi ia tak gentar sedikitpun juga. Bukannya
melarikan diri kearah lapangan kosong, ia malah
condongkan diri melayang kearah kawanan orang yang
sedang menunggu diluar istana itu. Kawanan orang yang
berada diluar gedung itu memang terdiri dari kaum
395

penjahat tetapi mereka pun tak berani bertindak sebelum


mendapat perintah. Mereka membiarkan ketiga orang
berkerudung itu mengejar pemuda tadi. Karena kuatir
mengganggu maka kawanan orang itupun segera
menyisih kesamping. Melihat itu si pemuda itu bergerak
cepat sekali sehingga tinggalkan pengejarkan beberapa
tombak dibelakang. Dalam sekejap mata, pemuda itu
menyelinap kesamping Gak Lui.
Lekas menyingkir, durjana itu sakti benar! seru
pemuda itu pelahan seraya melesat kebelakang. Gak Lui
terkejut dan berpaling tetapi pemuda itu sudah jauh.
Hanya bau harum yang menghambur dari tubuh pemuda
itu masih terasa menyentuh hidung Gak Lui. Gak Lui
makin kaget. Ia tak asing lagi dengan bau harum itu.
Dipandangnya sosok tubuh pemuda itu dan diam-diam ia
berdoa agar pemuda itu dapat selamat lolos dari bahaya.
Tetapi rombongan anak buah Maharaja yang berkumpul
dalam istana itu, banyak sekali jumlahnya.
Sekelompok tokoh-tokoh yang berjumlah belasan
orang segera memburu keluar dari belakang gedung
sehingga pemuda itu terkepung dari muka dan belakang.
Dan tiba-tiba pula, pintu gerbang istana itu terbuka
sendiri. Dalam ruang gedung yang gelap seram, belasan
jago jago sakti tengah mengerumuni sesosok tubuh yang
mirip dengan sebuah patung batu. Walaupun orang itu
mukanya tertutup kain kerudung tetapi dari sikapnya
yang congkak dapatlah diduga ia tentu seorang tokoh
yang berpengaruh dan ganas sekali.......
Heh..., heh..., heh .... orang aneh itu tertawa
mengekeh. Sengaja nadanya dibuat seseram mungkin
untuk menutup suaranya yang parau. Tergetar tegang
hati Gak Lui mendengar tertawa aneh itu. Diam- diam ia
menduga, orang itu tentulah si Maharaja. Cepat ia
396

salurkan tenaga dalam dan, mengisar langkah kemuka.


Bersiap- siap untuk menerobos barisan musuh yang
ketat agar sekali serang ia dapat menusuk orang aneh
itu.
Budak bernyali besar ! Engkau murid dari perguruan
mana ? tiba2 orang aneh itu berseru kepada pemuda
tadi. Nadanya tetap dilantangkan tinggi.
Engkau tak perlu takut ! sahut pemuda itu.
Heh..., heh.....! Boleh juga kegarangamu itu, budak!
Bukankah namamu Gak Lui !
Bukan ...!
Bukan....?
Siapa sudi membohongimu ...! Orang aneh itu
terbeliak. Matanya berkilat-kilat memancar api. Kemudian
ia berseru memberi perintah : Sam-coat, dengarlah
perintah..!
Ya.... ! ketiga orang berkurudung yang memburu
pemuda itu tadi serempak berseru. Nadanya amat
menghormat. Mereka bertiga disebut Samcoat atau
lengkapnya Hong-ke-sam-coat atau Tiga Algojo dari
istana Maharaja.
Apakah kalian sudah mengetahui aliran perguruan
budak itu ?
Hatur bertahu kepada Maharaja, bahwa kami belum
......
Hm ..., orang aneh itu mendengus gemuruh lalu
membentak :Coba seranglah lagi !
Baik ! Ketiga Algojo itu serempak ayunkan tangan
menghantam pemuda itu. Keganasan pukulan ketiga
Algojo itu benar2 membuat orang leletkan lidah. Pemuda
397

tak dikenal itupun tak berani menangkis. Dengan gerak


yang aneh ia berputar kaki seraya mencabut pedangnya
yang berbentuk aneh. Pedang berwarna kebiru-biruan
tetapi sinarnya memancar burat2 merah datang macam
lidah ular. Sret ....... pedang menerobos pukulan lawan
dan ujung pedang dapat menusuk pecah kayu salah
seorang Algojo itu. Jurus serangan pedang itu benar2
luar biasa sekali. Diam2 Gak Lui menghela napas
longgar. Karena tak berhasil menyerang, ketiga Algojo
itupun menyurut mundur tiga langkah. Diluar dugaan
orang aneh tadi tak marah karena tiga Algojonya gagal,
kebalikannya ia malah tertawa seram dan puas : Ho....,
kiranya engkau ini anaknya Li Leng-ci, ha..., ha...., ha,
.....
Munculnya putera dari Kaisar Persilatan Li Liong-ci,
benar-benar mengejutkan sekalian anak buah Maharaja
yang hadir disitu. Diam-diam mereka terbeliak kaget dan
kucurkan keringat dingin. Juga Gak Lui terkejut seperti
disambar petir.
Ah...., kiranya Li Hud-kong! Ibunya permaisuri Biru
telah menolong adik Hong-lian Sedang Dewi Tongtingpun telah menolong adik Siu-mey. Budi itu harus
dibalas sepenuhnya ...... Serentak Gak Luipun bersuit
dan laksana seekor burung rajawali, ia gunakan gerak
Rajawali merentang-sayap untuk melayang diudara dan
terus meluncur turun dimuka pemuda Li Hud-kong. Dan
serentak mencabut kedua pedangnya, ia berseru garang
: lnilah Gak Lui, hayo, serahkanlah jiwamu, Maharaja
durjana !
Gerakan Gak Lui itu makin menambah kejut sekali
anak buah Maharaja yang berada disitu. Tring..., tring....,
tring...., mereka berhamburan mencabut senjata masingmasing. Suasana penuh dengan ketegangan yang
398

menyala-nyala. Tetapi diluar dugaan, orang aneh yang


diduga Maharaja itu malah makin gembira. Maju
selangkah ia tertawa mengekeh : lnilah yang dikata,
pucuk dicinta, ulam tiba. Dicari kemana-mana tak dapat,
kiranya malah datang sendiri. Dua orang budak yang
hendak kucari, malam ini muncul bersama sama ......
Yang
hendak,
mencari
kepadamu
untuk
menyelesaikan perhitungan, adalah aku. Dan saudara Li
ini ...... sama sekali tiada sangkut pautnya! bentak Gak
Lui lantang. Sambil kebutkan lengan jubahnya, orang
aneh itu menjahut dengan nada iblis : Aku hendak
mencari bapaknya .......
Tutup mulut! Kalau engkau memang berani, carilah
Kaisar. Cara-cara yang engkau gunakan untuk
menangkap puteranya, sungguh hina dan pengecut !
bentak Gak Lui.
Maharaja itu tertegun sejenak, Diam2 ia mengatur
siasat, ujarnya : Kalau begitu, engkau menginginkan aku
supaya melepaskannya ?
Hm.......
Anggaplah engkau hati ksatrya. Dapat kulepasnya
tetapi harus menjawab sebuah pertanyaan !
Karena hati merangsang, seketika Gak Lui berseru
menyambut: Pertanyaan apa.....?
Jika ehgkau hendak menolongnya, engkau harus
menjawab pertanyaanku itu. Kalau tak mau pun tak
memaksa dan tiada perundingan lagi !
Gak Lui terdesak dalam kesulitan. Jika ia tak mau
memberi jawaban tentu akan melihat pada pemuda Li
Hud-kong itu. Tetapi kalau menjawab, ia kuatir orang
akan menanyakan tentang perguruannya Dengan begitu
399

berarti ia melangar sumpahnya ........ Ia merenung


beberapa saat. Tiba2 wajahnya berobah cerah dan
dengan lantang ia berseru : Baik, aku bersedia
menjawab pertanyaanmu. Lepaskan ia pergi dulu.....!
Orang berkerudung hitam itu tertawa mengekeh lalu
berseru memberi perintah kepada anak buahnya supaya
memberi jalan kepada pemuda Li Hud-kong. Kawanan
anakbuah Maharaja itu segera menyisih kesamping
untuk memberi jalan kapada pemuda itu.
Tetapi diluar dugaan Li Hud-kong bukan ngacir pergi,
melainkan malah maju kemuka dan tertawa nyaring :
Maksudmu melepas aku pergi. supaya aku tak dapat
saling berhubungan dengan dia, bukan ?
Hm ......
Kalau begitu aku tetap
menyaksikan ramai2 disini !

tinggal

disini

untuk

Oh ...! kawanan anak buah Maharaja serempak


mendesah kaget.
Seorang Gak Lui saja sudah cukup merepotkan
apalagi tambah putera dari Kaisar Persilatan. Benar2
menyulitkan sekali. Kalau sampai Kaisar dan Empat
Permaisuri akan minta pertanggungan jawab, akibatnya
tentu sukar dibayangkan. Tetapi Maharaja sudah siap
dengan lain rencana. Segera ia tertawa seram : Baik
....!
Gak Lui gugup sampai kucurkan keringat dingin,
serunya dengan berbisik : Saudara Li, aku telah
menerima permintaan ayahmu. Aku tak dapat
membiarkan engkau dalam bahaya. Maka kuminta
engkau lekas tinggalkan tempat ini !
Sejenak

Li

Hud-kong

menatap

Gak

Lui

lalu
400

memandang kedalam gedung. la sengaja melantangkan


suaranya : Saudara Gak, engkau terlalu jujur. Sekalipun
meluluskan aku pergi, tetapi sebenarnya dia hendak
menipumu dengan mengajukan pertanyaan. Setelah itu
dia tentu tetap akan mengejar aku lagi. Maka tetap
tinggal disini atau pergi, sama saja artinya .......
Ngaco! bentak Maharaja, kata2ku sekokoh gunung.
Masakan aku sudi menipu kalian anak yang belum hilang
ingusnya!
Li Hud-kong menyeringai: Kalau begitu, omonganmu
itu selalu menepati maksudnya?
Sudah tentu...!
Saudara Gak, seru Li Hud-kong, seraya berpaling,
situa itu menyatakan kalau akan menepati janji. Kalau
begitu sekalipun aku tinggal di sini, dia tentu takkan
mengganggu aku. Harap engkau jangan kuatir.......
Gak Lui gelengkan kepala: Tidak, orang itu tak boleh
dipercaya!`
Uh, takut apa? Kalau dia berani menganggu
selembar rambutku saja, berarti dia seorang manusia
hina yang tak punya moral Tanya jawab kedua pemuda
yang bermaksud menelanjangi akal bulus Maharaja,
telah membuat Maharaja marah bukan buatan sehingga
pakaiannya sampai gemetar.
Tutup mulut, dengarkan aku hendak mengumumkan,
bahwa kali ini aku takkan mengganggu padamu budak
liar. Hayo, Gak Lui, lekas engkau bersiap menjawab
pertanyaanku!
Baik, silahkan bertanya! Aku pasti akan merjawab...!
sahut Gak Lui.
Maharaja itu menundukkan kepala.... Setelah jerpikir
401

beberapa jenak ia mulai bertanya: Dimanakah sekarang


...... gurumu? Pertanyaan itu tak pernah diduga Gak Lui.
Seketika Gak Lui tertegun. Walaupum sederhana
kedengarannya pertanyaan itu, namun lingkupannya
cukup luas, meliputi asal usul perguruannya, serta
tempat beradanya guru dan para angkatan tua dari
perguruannya. Dengan begitu ia harus menerangkan
dengan jelas. Tetapi dari lain segi, pertanyaan itu jugamembuktikan beberapa kesimpulan. Pertama, bahwa
Maharaja yang belum pernah kenal padanya tetapi
dalam pertanyaannya tidak menyebutkan nama
perguruannya melainkan terus langsung menanyakan
tentang gurunya. Jelas hal ini menunjukkan bahwa
Maharaja itu sudah kenal pada perguruan Bu-san.
Bahkan kemungkinan memang ada hubungannya!
Kedua, tidak menanyakan dirinya melainkan gurunya.
Kemungkinan orang itu adalah yang mencelakai orang
tuanya dahulu. Dalam pertanyan itu, rupanya Maharaja
hendak menyelidiki jejak Pedang Bidadari dan Pedang
Iblis. Tempo hari pembunuh itu tak sempat membunuh
ayah-angkat Gak Lui. Dan setelah ayah angkat Gak Lui
mengajarkan ilmu pedang Memapas-emas-memotongmustika, maka Gak Lui telah menggemparkan dunia
persilatan karena tindakannya memapasi pedang tokoh2
persilatan. Dengan begitu dapatlah Maharaja menduga,
bahwa si Pedang Aneh atau, ayah angkat Gak Lui itu
bukan saja masih hidup pun malah punya murid.
Kemungkinan Maharaja masih ingin mencari tahu
anggauta Empat-pedang-Bu-san yang masih hidup.
Dengan pertanyaan itu dapatlah diduga bahwa Maharaja
itu memang mempunyai rasa ketakutan terhadap Empatpedang-Bu- san.
Setelah membayangkan dugaan2 itu, maka Gak Lui
segera menarik kesimpulan: Mengapa kakek guru
402

khusus mengajar 4 muridnya untuk menghadapi musuh,


tentulah bermaksud bahwa ilmu pedang itu harus
dilakukan oleh keempat orang baru benar2 memancar
kedahsyatan dan kesaktian untuk menumpas-musuh.
Andaikata aku dapat mewakili ayah, tak mungkin
Maharaja itu begitu ketakutan ...... apakah .... apakah
ayahku masih hidup dan menyembunyikan diri di gunung
yang sepi ...... ?
RUPANYA Maharaja tak sabar menunggu jawaban
Gak Lui yang tak kunjung datang itu : Engkau sudah
dapat menjawab atau belum?
Gak Lui terbeliak dan cepat menjawab: Jangan
terburu-buru! Aku sedang berpikir!
Dipandangnya orang aneh itu dengan tajam, pikirnya:
Huh..., siapakah engkau ini sesungguhnya? Apakah
engkau ini murid pertama dari kakek guru yang diusir dari
perguruan itu? Apakah kecuali takut kepada Empatpedang-Bu-san, engkau mempertalikan namaku dengan
ilmu
Pedang
Kilat
itu?
Sampai
dimanakah
pengetahuanmu tentang soal itu........? Tiba2 Gak Lui
mendapat akal. Ia akan menjawab dengan terus terang
tetapi takkan menyinggung tentang keadaan Empatpedang-Bu-san. Maka menyahutlah ia dengan lantang :
Hm...., dengarkanlah, aku hendak menjawab .......
Bagus......! Bagus........! seru Maharaja lalu mulai
bertanya :
Katakanlah mulai dari suhumu !
Aku tak punya guru....!
Hah........!
Kuulangi lagi, aku tak punya guru!
Engkau ...... engkau hendak menyangkal .......?
403

Tutup mulutmu.......! teriak Gak Lui, aku tak pernah


bohong.....! sekalipun kepada orang semacam engkau,
akupun tak mau bohong...........!
Karena marahnya, Maharaja sampai gemetar.
Seketika timbul pikiran hendak turun tangan menghajar
anak itu. Tetapi pada lain saat, hatinya tenang lagi.
Tak mungkin.....! Lalu dari mana engkau belajar ilmu
silat kalau tak punya guru ? katanya.
Melihat sikap orang begitu tegang, Gak Lui geli dalam
hati. Maka menyahutlah ia dengan dingin: Sekalipun aku
belajar silat pada beberapa paman, tetapi tiada
seorangpun yang kuangkat menjadi guru!
Kata2 itu memang benar, baik ayah angkatnya si
Pedang lblis maupun bibi gurunya Pedang Bidadari, telah
memberinya pelajaran silat. Tetapi mereka bukanlah
gurunya yang resmi. Dengan setengah kurang percaya,
Maharaja menegas lalu ayah bundamu.......... ?
Itu soal lain lagi. Aku tak perlu menjawabnya! kata
Gak Lui.
Mengapa?
Yang engkau tanyakan adalah para angkatan tua
dari perguruanku, bukan menanyakan tentang asal usul
orangtuaku!
Uh ........! rupanya Maharaja tak menduga kalau
pemuda itu akan memberi jawaban yang begitu rupa
sehingga tergetarlah hati dan badannya.
Tetapi aku dapat memberitahukan kepadamu
tentang peristiwa lampau yang dialami oleh para
angkatan tua perguruanku ....... Gak Lui menyusuli
kata2.
404

Peristiwa apakah itu? seru Maharaja dengan nada


tergetar tegang.
Dalam perguruan, dari halangan angkatan tua
pernah ada seorang yang diusir dari perguruanku!
Hm......, siapakah dia? dengan nada tak mengunjuk
keheranan, Maharaja menegas.
Sudah tahu mengapa bertanya pula? kata Gak Lui
setengah mengejek.
Apakah maksudmu? Maharaja hendak menutupi diri
dengan balas bertanya tetapi ternyata malah ketahuan
belangnya.
Maksudku, da!am hati engkau sudah tahu mengapa
pura2 masih tak mengerti!
Maharaja tak berkata lagi melainkan berdiri tegak
dengan mata berkilat-kilat. Suasana hening lelap, tegang
regang. Sekalian orang termasuk Li Hud-kong, tak
mengerti apa yang dimaksud dalam pembicaraan Gak
Lui dengan Maharaja. Hanya Gak Lui yang dapat
mengetahui jelas dan makin yakin dalam kesimpulannya
bahwa Maharaja itu memang asalnya dari Bu-san.
Sekarang tinggal menyelidiki adakah Maharaja itu benar
murid Bu-san yang diusir dari perguruan itu? Jika benar,
orang itu adalah paman gurunya yang tertua sendiri.
Adakah hidungnya cacad? Atau apakah ia mempunyai
hubungan dengan si Hidung Gerumpung itu? Belum ia
sampai melaksanakan, rencana penyelidikannya, tiba2
orang itu tertawa ringan: Soal2 sekecil itu, kiranya tak
perlu kujawab ........
Adakah engkau tak ingin menanyakan tentang
angkatan tua dari perguruanku? tukas Gak Lui.
Heh..., heh..., heh...! orang itu tertawa mengekeh,
405

tetapi beberapa kali engkau telah merusakkan urusanku


yang penting. Dosamu tak berampun lagi. Kecuali
engkau dapat menerangkan alasannya yang kuat,
barulah dapat kupertimbangkan lagi. Kalau tidak, istana
Yok-ong itu bakal menjadi tempat kuburmu !
Diam2 Gak Lui geli dalam hati karena melihat sikap
Maharaja itu. Ia memutuskan untuk memberitahukan
tentang keputusannya hendak menuntut balas kepada
Maharaja itu agar dia kaget.
Hidupmu penuh berlumuran darah. Dosamu
menumpuk setinggi gunung. Setiap orang persilatan
yang menjunjung Kebenaran dan Keadilan, tentu berhak
membasmimu. Dan ketahuilah, bahwa aku memang
mengemban tugas dari sebuah perguruan untuk
membasmi seorang muridnya yang murtad ! seru Gak
Lui.
Heh..., heh..., heh...! orang itu mengekeh,
bukankah engkau tadi mengatakan tak pernah berguru
pada seseorang ? Atas hak apa engkau berani
mencampuri urusan perguruan orang ?
Sungguh mengecewakan sekali kalau engkau
berkata begitu. Tindakanku itu adalah melaksanakan
pesan dari angkatan tua perguruanku!
Mendengar itu meluaplah hawa pembunuhan di
wajah Maharaja. Ia tertawa iblis: Baik, hari ini juga aku
hendak menawanmu. Masakan para angkatan tua
perguruanmu itu takkan datang menanyakan kemari.
Tiga Algojo, dengarkan perintahku !
Tutup mulutmu...! bentak Gak Lui seraya mainkan
sepasang pedangnya, kalau engkau memang berani,
mengapa tak engkau sendiri yang akan menerima
kematian !
406

Maharaja sejenak merenung lalu tertawa iblis :


Baik....! Akan kulihat sampai dimana kepandaianmu itu
....! Dalam berkata itu, Maharaja sudah melesat
menerobos kedalam kepungan. Sudah tentu rombongan
anakbuahnya terkejut sekali. Mereka merasa heran
mengapa dalam kedudukan sebagai Maharaja. harus
turun tangan sendiri. Li Hud-kongpun terkejut juga. Ia
heran meagapa Gak Lui tak mau tinggalkan tempat ini
dan bahkan menantang pada Maharaja. Maharaja
sesungguhnya tak mengetahui jelas apakah Empatpedang-Bu-san itu masih hidup dan dimana tempat
tinggalnya. Ia hendak menyelidiki hal itu dari ilmupedang
yang dimainkan Gak Lui nanti. Gak Lui tahu juga hal itu.
Tetapi ia tak peduli.
Dalam pertandingan dengan Maharaja ia hendak
menggunakan kesempatan untuk membalas dendam.
Diam2 ia kerahkan tenaga-dalam dan memandang
Maharaja dengan beringas. Maharaja dingin dan angkuh
sikapnya. Sedikitpun ia tak memandang mata kepada
anakmuda itu. Dengan bersembunyi dibawah kerudung
muka warna hitam, ia gunakan tenaga-dalam yang sakti
untuk menutup pernapasannya sehingga hidung Gak Lui
yang tajam itu dapat mencium suatu ciri pengenal dari
lawannya. Li Hud-kong gugup. Tiba2 ia tertawa dan
loncat ke tengah untuk menghadap Maharaja, serunya :
Sebelum bertanding aku mempunyai saran.
Bukan urusanmu! Jangan ikut campur! bentak
Maharaja dengan deliki mata.
Heh..., heh..., heh...! Li Hud-kong tertawa
menghina, engkau selalu memandang rendah pada
orang tetapi anehnya engkau takut setengah mati
kepada Gak Lui. Engkau telah mengunjukkan
kelemahanmu sendiri dan sedikitpun tak punya wibawa!
407

Maharaja tak mau melayani pemuda itu dan segera minta


Gak Lui supaya mengatakan bagaimana cara
pertandingan, itu akan dilakukan.
Sungguh kecewa engkau memakai gelar Maharaja!,
kembali Li Hud-kong nyeletuk, Ayahku, diberi gelar
kehormatan Kaisar oleh kaum persilatan. Beliau tak
pernah membanggakan gelar itu dan tak pernah
menghina pada orang .....
Kata2 Li Hud-kong itu benar2 membangkitkan
rangsangan kemarahan Maharaja. Seketika ia meraung
keras: Cukup...!
Tetapi aku belum selesai bicara, masih Li Hud-kong
tak mau diam, Jika engkau sungguh2 hendak pegang
gengsi, engkau harus mengalah menerima serangan!
Tak perlu, tukas Gak Lui penuh dendam, kita akan
adu pukulan dan pedang secara berimbang. Siapa sudi
menerima kemurahannya ......!
Baik! seru Maharaja dengan tertawa sinis, kalau
begitu, biarlah aku yang lebih dulu menerima tiga jurus
serangan pedangmu. Setelah itu baru aku balas
menyerang dengan 3 jurus ilmupedang. Hal itu untuk
menjaga mulut iseng yang menuduh aku orangtua
menindas seorang anak muda !
Kalau pertandingan itu tiada yang kalah dan menang
? Li Hud- kong berseru gopoh.
Ini ... , akan kubebaskan ia pergi ! Sekalipun belum
tahu sampai dimana kepandaian Gak Lui, tetapi Li Hudkong menimang bahwa dapat kesempatan untuk
menyerang lebih dulu sampai tiga kali, sudah merupakan
kemurahan bagi Gak Lui. Andaikata tak berhasil dalam
penyerangan itu, Gak Luipun masih ada harapan untuk
408

terhindar dari tiga serangan Maharaja.


Setelah mempertimbangkan hal itu, Li Hud-kong pun
segera menyingkir ke samping agar mereka dapat mulai
bertanding. Gak Luipun segera mainkan pedang. Dengan
gerak yang luar biasa cepatnya, ia lancarkan ilmu
pedang tiga jurus dari perguruan Bu-san .... Tetapi setiap
kali pedang Gak Lui menyambar, lawan tentu sudah
menghindar. Dengan begitu jelaslah bahwa Maharaja itu
memang faham akan ilmupedang itu. Kalau tidak
masakan ia mampu menghindar dengan tepat sekali.
Bukan melainkan Gak Lui, pun Li Hud-kong terkejut
sekali menyaksikan kelihayan Maharaja. Bermula ia kira
ilmu pedang yang dimainkan Gak Lui itu luar biasa
hebatnya. Dilengkapi dengan pedang Pelangi, tentulah
Gak Lui akan mampu mengalahkan lawan. Wajah Gak
Lui merah padam terbakar oleh dendam kesumat yang
menyala-nyala. Saat itu seluruh semangat dan
perhatiannya hanya tertumpah untuk membunuh musuh.
Saat itu tiga buah serangan Gak Lui sudah selesai tanpa
mendapat hasil suatu apa. Maharaja tak mau banyak
bicara lagi. Ia segera mencabut pedang dan terus
menyerang dengan hebat.
Tiga buah serangan Gak Lui tadi memberi Maharaja
suatu pengertian akan asal usul pemuda itu. Diam2 ia
terkejut atas kelihayan Gak Lui. Anak itu harus lekas
dihancurkan atau kalau tidak kelak tentu merupakan
bahaya besar.
Sret..., sret..., sret...! Maharajapun segera lancarkan
tiga jurus ilmupedang. Cepatnya bukan kepalang dan
setiap jurus merupakan ilmu simpanan dari tiap partai
persilatan besar. Li Hud-kong menjerit tertahan. Ia
benar2 terkejut-mencemaskan keselamatan Gak Lui.
Tetapi yang dicemaskan itu ternyata tak kurang sesuatu.
409

Pemuda itu bergerak aneh. Walaupun gerakannya


lamban tetapi ternyata suatu ilmu gerak- tubuh yang
mengagumkan sekali. Dalam beberapa kejap, ketiga
serangan pedang Maharajapun sudah selesai. Ternyata
Gak Lui masih segar bugar iak kurang suatu apa.
Bagus ! Li Hud-kong berteriak memuji. Tetapi baru
ia mengucap pujan, Gak Lui yang sudah tak dapat
menguasai diri, tiba2 bergerak menusuk muka lawan. Ia
hendak mengetahui siapakah sesungguhnya muka
dibalik kerudung hitam itu. Karena tiga jurus serangannya
dengan pedang tak mampu melukai Gak Lui, Maharaja
terpesona kaget. Ia tak tahu bahwa pemuda itu telah
diberi pelajaran oleh Permaisuri Biru ilmu Berjalan
menyongsong Lima Unsur atau Ni-co-ngo-heng.
Oleh karena sudah tak boleh membalas serangan
Gak Lui, maka Maharajapun mencari akal untuk
menyelesaikan pemuda itu. Serangan mendadak dari
Gak Lui itu malah memberi dalih untuk bertindak
terhadap anakmuda itu. Sungguh suatu keuntungan yang
tak pernah diharapkan. Maharaja mengisar diri ke
samping lalu mendengus ejek:
Engkau sendiri yang cari mati ..... serentak ia
hantamkan tangan kirinya ke arah Gak Lui. Pukulan yang
dilambari tenaga-sakti itu hebatnya bukan olah-olah.
Sambil masih memutar pedang, Gak Lui mengisar ke
samping lalu gunakan pukulan Algojo Dunia untuk
menyedot tenaga pukulan lawan. Tetapi tenaga dalam
Maharaja itu luar biasa kuatnya.
Bum .......! terdengar letupan. Dada Gak Lui termakan
pukulan itu. Tubuhnya bagai layang2 putus tali,
melayang sampai 2 tombak jauhnya.
Mata Gak Lui berkunang-kunang penglihatannya.
410

Kepalanya berputar-putar seperti menghambur ribuan


bintang. Untunglah ia dapat menggunakan pedang untuk
menahan diri dari kerubuhan.

AH..., aku terlalu emosi dan melanggar pesan gihu


.....seharusnya aku mencari ilmu pedang dari ayahku
dulu. Jurus ilmu pedang itu, kemungkinan baru dapat
411

membunuhnya ....., jika tenagaku masih belum memadai,


aku harus mengeluarkan pedang Kilat. Walaupun
pedang itu benda ganas tetapi terhadap musuh, memang
perlu digunakan ....... dalam kekalahan Gak Lui
menimang- nimang. Tetapi setelah mendapat hasil,
Maharaja tak mau memberi ampun lagi. Segera ia
menyambar dengan ilmu Kin-na-jin dari partai Siau-lim-si.
Gak Lui hendak ditawan hidup. Tetapi seketika itu Li
Hud-kong membabat pergelangan tangan Maharaja.
Betapa tinggi kesaktian Maharaja, namun ia kenal juga
akan pedang pusaka milik Kaisar Persilatan. Hatinya
tergetas dan cepat2 ia menarik pulang pedang.
Omonganmu berlaku atau tidak ....! bentak Li Hudkong.
Aku tak pernah mungkir janji, tetapi dia sendiri yang
cari gara2! sahut Maharaja.
Cari gara2? Bukankah engkau sudah setuju untuk
melepaskannya apabila pertandingan itu tiada yang
kalah dan menang?
Setelah tiga jurus, tak seharusnya dia menyerang
aku lagi !
Dan engkaupun tak boleh memukul lagi ! sahut Li
Hud-kong tak kalah tangkasnya.
Apakah engkau menghendaki supaya aku diam saja
menerima tusukannya?
Ha... ha..., ha..., ha
Engkau menertawakan apa? teriak Maharaja.
Kutertawakan
kanakan itu!

sikapmu

yang

masih

kekanak-

Apa maksudmu?
412

Bukankah engkau menganggap kepandaian Gak Lui


itu setingkat dengan engkau?
Budak hina itu masakan mampu menandingi aku!
teriak Maharaja.
Benar! seru Li Hud-kong, dengan mengandalkan
ketuaanmu engkau hendak membanggakan diri sebagai
Maharaja Persilatan. Tetapi apabila bertempur engkau
berkaok-kaok minta untung. Menurut penilaianku .....
Hm........,!
Jelas engkau mengerahkan anak buahmu untuk
menyerang tetapi engkau masih berlagak garang!
Heh..., heh...., heh...., heh....! Maharaja mengekeh
marah, panjang lebar engkau bicara itu tak lain minta
supaya kulepaskan dia bukan?
Itupun kalau engkau masih menghormati janjimu !
Baik, kali ini aku hendak memberi kelonggaran.
Tetapi ........
Tetapi apa? Apakah masih hendak engkau berikuti
dengan perjanjian lain lagi?
Tidak, bukan perjanjian melainkan suatu keterangan
sahut Maharaja.
Katakanlah !
Akan kulepas kalian pergi dan takkan kuperintah
anakbuahku
untuk
merintangi.
Akupun
takkan
menyerang lagi. Tetapi kalau kalian tak mampu pergi dari
sini, janganlah menyalahkan aku !
Diam2 Li Hud-kong merasa heran, pikirnya: Tidak
suruh orang merintangi dan tidak menyerang. Dengan
kepandaian kami berdua, masakan tak dapat tinggalkan
413

tempat ini. Tentulah dia mempunyai rencana lain lagi.....,


harus dijaga kemungkinan itu ..........
Tepat pada saat itu Gak Luipun sudah selesai
melakukan pernapasan dan berjalan menghampiri.
Melihat itu Li Hud-kong cepat mengambil keputusan. Ia
menyurut mundur seraya diam2 ulurkan jari menutuk
jalan darah Gak Lui, terus dirangkul pinggangnya:
Sudahlah, mari kita pergi. Lihatlah saja mereka hendak
gunakan siasat apa lagi ....
Karena ditutuk jalandarahnya, Gak Lui tak dapat
barkutik. Ia hanya dapat memandang orang2 yang hadir
di situ dengan penuh dendam amarah. Tiba2 Li Hudkong berseru: Naiklah......! Tubuh Gak Lui diangkatnya
dan dibawa melambung sampai tiga tumbak ke udara,
lalu meluncur keluar dari gedung Yok-ong-kiong. Tetapi
tiba2 terdengar suitan aneh, makin lama makin
melengking tinggi. Nadanya macam burung kukuk-beluk
merintih-rintih atau setan menangis pilu. Li Hud-kong
yang saat itu tengah melayang diudara. Segera ia
merasakan tubuhnya menggigil dingin sehingga terpaksa
meluncur turun. Untunglah dalam saat genting itu ia
mendapat pikiran. Dengan sisa tenaganya ia menutuk
terbuka jalan darah Gak Lui. Bum...., bum.... kedua
pemuda itu susul menyusul jatuh ketanah. Mukanya
penuh berlumuran debu dan tulang2 nya terasa sakit.
Bagi Gak Lui suitan itu sudah tak asing lagi.
Teringatlah ia bagaimana kawanan anak buah Maharaja
seperti Ceng Ci, Thian Wat, Wi Cun dan gerombolan
Topeng Besi itu tak pernah menggunakan kata2 untuk
bicara. Segala perintah tentu menggunakan suitan.
Bahwa ternyata dari mulut Maharajapun mengeluarkan
suitan semacam itu, Gak Lui benar2 terkejut sekali.
Cepat ia hendak kerahkan tenaga-dalam, tetapi, ah ......
414

sedikitpun ia tak dapat menggerakkan tenaga itu. Ia meronta2 bergeliatan hendak merangkak bangun, tetapi, ah
.... benar2 ia tak punya tenaga untuk bangun! Dengan
paksakan diri Gak Lui memungut kembali sepasang
pedangnya tadi. Setelah itu ia memandang kearah Li
Hud-kong dan berkata dengan ter-putus2 : Maaf ........
aku telah melibatkan engkau ..... terutama ..... aku telah
........ mengabaikan ........ pesan ayahmu !
Li Hud-kong gelengkan kepala. Dibalik kerudung,
tampak sepasang matanya yang ber-kilat2. Tiba2 ia
ulurkan tangan kirinya yang gemetar dan merogoh
kedalam baju, pada lain saat tangannya telah
menggenggam sebuah batu mustika berhias tanda
Swastika emas. Benda symbol dari kaum Buddha itu
ternyata mempunyai daya khasiat yang hebat. Dengan
benda itulah Li Hud-kong dapat menyilaukan mata
Penjaga Akhirat sehingga ia dapat bebas masuk kedalam
gedung Yok-ong-kiong. Dan saat itu begitu Li Hud-kong
mengeluarkan benda mustika itu, tiba2 semangat kedua
pemuda itu timbul lagi, Serentak mereka loncat bangun.
Memang suitan iblis itu berasal dari Maharaja. Ia hendak
menggunakan suitan yang disebut Suitan-iblis-penawanjiwa untuk menangkap Gak Lui dan Li -Hud-kong.
Dengan menawan Li Hud-kong, ia tentu dapat memberi
tekanan kepada Kaisar dan Keempat Permaisuri. Dan
dapat pula menekan Gak Lui supaya memberi
keterangan mengenai tempat beradanya Empat-pedangBu-san
Setitikpun ia tak menyangka bahwa rencananya itu
akan gagal. Kedua pemuda itu ternyata mampu bangun
lagi setelah rubuh. Maharaja terkejut sekali. Segera ia
menghambur suitan-iblis lebih keras. Tenaga-dalam yang
memancar dari suitan itu, menimbulkan hawa dingin yang
menggigit tulang. Bum..., bum ..... kedua pemuda itupun
415

rubuh lagi. Keduanya cepat2 memandang kearah benda,


mustika Swastika itu lagi. Tetapi pandangan mata kedua
pemuda itu makin lama makin kabur.
Serasa benda mustika dan keadaan disekelilingnya
makin gelap dan makin jauh....... Maharaja yang tegak
berdiri pada jarak berpuluh langkah, tampak menggagah
laksana sebuah gunung. Beberapa saat lagi, ia tentu
berhasil memberantakkan semangat dan jiwa kedua
pemuda itu. Maka tanpa kenal ampun pula, ia terus
hamburkan suitannya mautnya.
Pada saat Maharaja tengah mengumbar nafsu
melancarkan suitan mautnya, tiba2 dari arah puncak
bukit disebelah muka terdengar suara orang berseru
nyaring : O mi ...... to ........ hud......! Nadanya yang
amat dan ramah tetapi kumandangnya bergema hebat
sekali. Sebagai seorang tokoh berilmu, cepat Maharaja
dapat menyadari bahwa pendatang itu seorang manusia
yang sakti. Cepat ia tumpahkan seluruh tenaga dalamnya
untuk menghapus suara orang itu dengan Suitan-iblispenawan-jiwanya. Tetapi suara doa itu laksana
gelombang samudera yang dahsyat. Kumandangnya
makin lama, menyelubungi udara dan seluruh bumi. Dan
....... Suitan iblis dari Maharaja terdesak.....!
Adu tenaga-dalam melalui hamburan suara diudara.
itu benar2 suatu peristiwa yang jarang terjadi di dalam
dunia persilatan. Beberapa saat kemudian, kawanan
anak buah Maharaja itupun tercengkam dalam
kumandang doa itu. Mereka lepaskan tangan yang
menutup telinganya dan mulai terkena pengaruh
kumandang doa itu.
Pada saat Maharaja sedikit demi sedikit mulai
menarik pulang suitannya, diam2 hatinya terkejut sekali.
Kumandang doa itu, benar-benar mempunyai kekuatan
416

yang luar biasa sehingga suitannya tertekan lenyap


Dengan pandangan mata yang penuh kecemasan,
dilihatnya kedua pemuda tadi bangun dari tanah lalu
ayunkan langkah menuju kearah sumber suara
kumandang doa itu.
Kalah....!, Kalah.....! hati Maharaja menghambur
putus asa. Suitannya pun segera menyurut tinggal
setombak luasnya. Nafsu pembunuhan yang memenuhi
dadanyapun mulai lenyap. Aneh..., benar2 aneh....!
Begitu nafsu pembunuhan dalam hati Maharaja itu
lenyap, kumandang doa itupun serempak berhenti juga.
Saat itu suasana gedung Yok-ong-kiong sunyi
senyap. Kawanan anakbuah Maharaja itupun tundukkan
kepala. Hati mereka terkejut, nyalipun berhamburan
..........
Diufuk timur tampak memburat merah. Fajar mulai
menyingsing. Dan pada lain saat, bayangan kedua
pemuda itupun lenyap.
Siapakah dia.......? Apakah Kaisar Li Liong-ci.........?
tiba2 Maharaja bertanya dalam hati kalau benar dia,
ah....., tak mungkin aku dapat menjagoi dunia......!
Benak Maharaja penuh dilingkari rasa kecemasan
dan
kebingungan.
Kemunculan
orang
dengan
kumandang
puji
do'a
keganasan
itu,
benar2
membuyarkan impiannya........! Tiba2 ia teringat pada diri
Gak Lui. Serentak ia teringat akan Pedang Kilat.
Pedang Kilat....! Pedang ganas yang tiada
tandingan. Kecuali dengan ilmu sakti Liok-to-sin-thong,
tak mungkin dapat melawan....! Kalau orang yang
mengucap doa Omitohud itu bunar2 faham akan ilmu
sakti Liok-to-sin-thong, tak mungkin, ia mau mengampuni
jiwaku ! Benar, dia tentu tak menguasai ilmu sakti itu !
417

Jika demikian, apabila aku dapat memperoleh Pedang


Kilat, tentulah orang itu dapat kubasmi. Dan akan
terkabullah keinginanku menjagoi dunia persilatan .........
Memikirkan hal itu, sepasang mata Maharaja kembali
memancar sinar berkilat-kilat. Ia tahu dimana beradanya
pedang ganas itu. Dan cara bagaimana ia dapat
mengambilnya dari tempat penyimpanan pun ia sudah
mempunyai rencana. Maka ia segera menengadah
memandang ke langit dan tertawa nyaring. Apabila
Maharaja sedang merayakan rencana kemenangannya
dengan tertawa sepuas-puasnya, adalah saat itu Gak Lui
yang sedang mengikuti daya kumandang doa Omitohud,
tiba2 terkejut girang karena mendapatkan Li Hud-kong
berada di sampingnya.
Mari kita berangkat ....! tiba2 Li Hud-kong berseru
pelahan. Saat itu Gak Lui sudah tenang kembali. Ia
anggukkan kepala. Setelah menyarungkan pedang
kepunggung, ia segera mengikuti Li Hud-kong menyusup
kedalam hutan. Tetapi ternyata Li Hud-kong tak menuju
ketempat orang yang melantangkan doa Omitohud itu
melainkan melesat kesamping. Dengan lari seperti orang
kejar-kejaran, dalam beberapa saat saja, mereka sudah
tiba dibagian dalam hutan. Saat itu Li Hud-kong berhenti
dan lepaskan jubah hitam yang terlalu besar bagi ukuran
badannya. Kalau tak salah, menurut keterangan
Permaisuri Biru, Li Hud-kong itu masih mengenakan kain
penutup muka.
Maaf ..... baru Gak Lui berkata begitu, Li Hud-kong
sudah membuka: Saudara Gak, aku tak punya banyak
waktu untuk bicara. Aku harus lekas2 pergi.....!
Ah...., mengapa terburu-buru?
Ayahku sudah tiba. Jika tahu aku berani gegabah
418

menyelidiki Maharaja, beliau tentu marah ......!


Oh..., orang yang melantang doa Omitohud untuk
menindas tindakan Maharaja itu, ayahmu Kaisar
Persilatan sendiri ?
Tak mungkin salah!
Kalau begitu apabila aku berjumpa beliau, takkan
kuceritakan tentang dirimu,
Li Hud-kong tertawa riang: Mungkin engkau ketemu
tetapi tak mungkin engkau mengenalnya.
Apakah ayahmu juga menyaru?
Ini ....., aku tak dapat mengatakan...... kata Li Hudkong. Kemudian setelah sejenak bersangsi, ia
melanjutkan bicaranya dan berkata pula: Tetapi aku
bermaksud hendak angkat saudara dengan engkau.
Bagaimana pendapatmu?
Gak Lui tertawa nyaring: Bagus sekali!, hanya aku
telah mengabaikan perintah ayahmu. Suruh aku
membantumu, kebalikannya malah menyangkut dirimu
dalam kesulitan .......
Ah, jangan berkata begitu. Apabila saudara Gak tak
muncul, aku tentu kalah melawan Tiga Algojo itu. Hal itu
kalau diketahui ayah, beliau tentu marah! Kedua
pemuda itu saling tertawa. Setelah itu mereka segera
melakukan upacara mengangkat saudara. Habis itu Li
Hud-kong berbangkit memberi hormat: Engkoh Lui aku
harus pergi sekarang. Di sekeliling tempat ini banyak
jago2 sakti. Silahkan engkau berjalan ke muka saja........
pemuda itu terus loncat beberapa tombak jauhnya. Gak
Lui tak sempat mengucapkan pesan, kecuali
menanyakan siapakah yang dimaksud dengan jago sakti
itu.
419

......... Thian Lok totiang, seru Li Hud-kong! yang


sudah masuk ke dalam hutan. Gak Lui terkejut. Apabila
benar Thian Lok totiang berada di sekitar tempat situ, jika
sampai bertemu tentu akan timbul salah faham. Diam2 ia
kerahkan hawa murni dan lalu gerakkan urat2 tubuhnya.
Tetapi ia merasa bagian belakang kepalanya masih agak
sakit.
Ah, suitan Maharaja itu benar2 hebat sekali.
Nyatanya masih meninggalkan bekas sakit di kepalaku.
Aku
harus
melakukan
pernapasan
dengan
sungguh2.........
Gak Lui memutuskan untuk mencari tempat guna
beristirahat. Tiba2 ketika memandang ke hutan di
sebelah muka, ia terkejut dan mundur selangkah. Dua
sosok tubuh melesat keluar dari hutan itu. Yang seorang
adalah Thian Lok totiang, ketua partai Ceng-sia- pay.
Dan yang satu seorang paderi tua berjubah kelabu,
entah siapa. Karena menyadari tenaganya belum pulih,
Gak Lui tak ingin bentrok dengan mereka, tetapipun tak
leluasa untuk melarikan diri. Pada saat itu Thian Lok
totiang dan paderi tua itupun sudah melesat ke muka.
Disusul oleh munculnya 18 orang paderi yang segera
mengepung Gak Lui. Kemunculan 18 paderi itu
menyadarkan pikiran Gak Lui. Partai Siau-lim-si memiliki
barisan Cap-pe-lo-han-tin yang termasyhur.
PADERI TUA itu jelas tentulah Hui Hong taysu, ketua
partai Siau- lim-si! Gak Lui menghela napas. Buru2 ia
memberi hormat. Tetapi belum sempat berkata apa2,
Thian Lok totiangpun segera mendengus marah dan
berseru : Ketika digunung Pek-wan-san, engkau
beruntung mampu lolos. Tetapi bagaimanapun akhirnya
engkau takkan terlepas dari jaring kematian.........
Harap totiang suka bersabar.........
420

Tak ada yang perlu dibicarakan lagi ! Sekarang Hui


Hong taysu telah memimpin 18 anak-murid Siau-lim-si.
Jangan harap engkau mampu lolos lagi ! seru Thian Lok
totiang. Gak Lui menatap ketua Ceng-sia-pay tajam2 lalu
berpaling menghadap Hui Hong taysu: Taysu kali ini
turun gunung sendiri tentulah disebabkan peristiwa murid
Siau-lim-si si Pedang Api itu. Saat ini aku belum dapat
memberi penjelasan. Harap dimaafkan !
Hui Hong taysu kerutkan alis, ujarnya : Soal itu soal
kedua .......
Lalu apakah taysu mencurigai diriku ?
Bukan karena aku menduga sembarangan. Tetapi
tadi aku telah menyaksikan dengan mata kepala sendiri
engkau menghancurkan jubah hitam. Terpaksa aku
harus menarik kesimpulan begitu !
Habis berkata ketua Siau-lim-si itu memandang
kearah robekan jubah yang tadi di-robek2 Gak Lui.
Melihat sikap paderi itu, Gak Lui terpaksa menuturkan
peristiwa yang dialami malam tadi.
Apakah engkau melihat sendiri suteku Hui Ki itu ?
tanya Hui Hong taysu.
Hui Ki ? Apakah saudara seperguruan taysu yang
lenyap ?
Benar, kami sudah berpisah selama belasan tahun.
Tak nyana tiba2 dia muncul dan mendesak aku supaya
menyerahkan kedudukan ketua !
Tiba2 Gak Lui teringat sesuatu, serunya : Apakah
taysu telah memeriksa tulisannya ?
Memang benar2 tulisannya, tetapi ......
Mengapa ?
421

Aku tak percaya kalau dia berhaianat........!


Gak Lui merenung sejenak, lalu berkata : Kali ini
yang hadir dalam pertemuan dengan Maharaja, semua
mengenakan kain kerudung muka sehingga tak dapat
dikenal mukanya. Tetapi memang dari kalangan partai
Siau-lim-si terdapat seorang anggotanya. Dan Thian Wat
totiang dari Ceng-sia-pay memang benar2 hadir dalam
pertemuan itu ........ Mendengar itu Thian Lok totiang
cepat nyeletuk : Taysu, betapapun halnya, keterangan
Gak Lui itu tak dapat dipercaya.......!
Maksudmu ... ? tanya Hui Hong taysu.
Dia sendiri adalah anakbuah Maharaja ! sahut Thian
Lok totiang..
Aku tak memaksa engkau harus percaya ! teriak
Gak Lui dengan gemetar karena marah, tetapi gedung
Yok ong-kiong itu dekat dari sini. Apabila sampai
diketahui oleh anakbuah Maharaja, mungkin ... kita akan
terjaring semua !
Heh..., heh..., heh...! Jangan menggertak orang,
jangan engkau pura2 menjadi orang baik. Omonganmu
tadi tentu bohong semua....!
Sikap kedua ketua partai itu masing2 berbeda. Oleh
karena sudah mempunyai prasangka jelek maka Thian
Lok totiang tak mau mengerti semua alasan yang
dikatakan Gak Lui tadi. Sedang Hui Hong taysu masih
meragu. Oleh karena mencemaskan kedatangan orang2
Maharaja sehingga urusan akan menjadi lebih runyam
maka berkatalah Gak Lui dengan nada bersungguh
kepada ketua Siau-lim-si :
Taysu, harap jangan mendengarkan ucapannya.
Jika taysu menyangsikan diriku, silahkan bertanya
422

kepada Hwat Hong taysu. Dia tentu dapat memberi


kesaksian bahwa aku bukan golongan Hitam. Pula
mengingat taysu dengan Hwat Hong taysu itu sesama
kaum agama, kiranya taysu pasti percaya penuh kepada
keterangannya.
Thian Lok totiang mengekeh. Karena marahnya ia
sampai pucat lalu berkata kepada Hui Hong taysu :
Cobalah dengarkan. Bukankah dia hendak mengadu
domba sesama murid agama. Jelas kalau dia bermaksud
jahat.........
Jawab Hui Hong taysu : Bukan tak percaya pada
totiang. Tetapi omongannya itu memang beralasan juga.
Beralasan ! teriak Thian Lok totiang, apakah engkau
benar2 hendak bertanya ke Heng-san ?
Sudah tentu ......
Kemarahan Thian Lok totiang makin meluap. Dengan
deliki mata ia segera mencabut pedang dan berseru :
Kuundang engkau ber-sama2 menangkapnya. Siapa
tahu setelah mendengar sepatah dua patah kata2-nya,
taysu terus berobah pendiriannya. Baiklah....! Hubungan
antara partai Ceng-sia-pay dengan Siau- lim-si hari ini
juga kuputuskan. Aku tak percaya kalau tak mampu
menangkapnya sendiri.........!
Ucapan dari ketua Ceng-sia-pay itu memang serius
sekali. Karena hal itu menyangkut hubungan kedua
partai yang sudah berjalan ratusan tahun lamanya, Hui
Hong taysupun tidak tak berani menganggap remeh.
Tubuhnya berputar dan sambil mencekal pedang ia
berdiri di samping Thian Lok totiang. Gak Lui tak mudah
cepat2 terangsang. Ia menghela napas dingin lalu
memberi penjelasan kepada Thian Lok totiang lagi:
Mengapa totiang masih mencurigai diriku. Wi Ti dan Wi
423

Tun kedua lo-cianpwe dari partai Kong-tong-pay, pernah


bertemu aku di gedung Leng-koan-tian. Keduanya
adalah imam yang bermartabat tinggi. Merekapun dapat
memberi kesaksian tentang diriku .......
Heh..., heh..., heh!.... sambil mengekeh, tanpa
menunggu sampai Gak Lui habis bicara, Thian Lok
totiang tertawa mengejeknya. Gak Lui tertegun heran.
Ho..., engkau masih berani menyinggung nama
partai Kong- tong-pay? Ketua Kong-tong-pay Wi Ih
totiang sudah turun gunung bersama ketiga saudara
seperguruannya dan 49 murid2 Kong- tongpay angkatan
kedua!
Aneh....! Gak Lui tertegun. Pikirnya: Mengenai
jumlah orangnya, dia salah mengatakan. Pihak Kongtong-pay itu terdiri dari Tujuh Pedang Kong Tong.
Dikurangi dengan Wi Ih ketua Kongtong-pay dan seorang
marid yang berhianat yakni Wi Cun, maka seharusnya
ketujuh tokoh pedang Kong-tong-pay itu masih berjumlah
lima orang. Mengapa dia mengatakan hanya tiga
orang.....!
Maka bertanyalah Gak Lui dengan berani: Wi Ti
totiang pernah meluluskan aku hendak menghadap dan
memberitahukan keadaan diriku kepada ketua Kongtong-pay. Agar Kong-tong-pay waspada menjaga
muridnya yang berhianat. Mengapa..... ketua partai itu
malah memimpin rombongan jago2 Kong-tong-pay turun
gunung....
Apakah Wi Ti totiang berdua itu ....
Apakah engkau tak tahu?
Tidak!
Mereka di tengah jalan telah dibunuh oleh anakbuah
424

Maharaja .....
Ah ... Gak Lui mengeluh kaget sehingga tubuhnya
gemetar, apakah engkau mencurigai aku?
Aku bukan manusia yang mudah mencurigai orang
dengan semena- menanya. Sekarang ada saksi yang
boleh dipercaya....l
Siapa? Apakah dari golongan Ceng-pay .... ?
Dia adalah Tanghong Giok ketua partai Kun-lun-pay!
Coba katakan, apakah dia tak cukup digolongkan
sebagai orang Ceng- pay .... ?
Ah ......... untuk kedua kalinya Gak Lui mendesuh
kaget, silahkan menerangkan yang jelas!
Hm ..... Thian Lok totiang mendengus. Ia anggap
Gak Lui itu sudah tahu tetapi masih pura2 bertanya.
Diam2 ia kerahkan tenaga murni, siap dilancarkan.
Mendengar peristiwa itu, marahlah ketua Siaulim- si.
Serentak ia maju selangkah dan berkata dengan dingin :
Wi Ti totiang berdua telah dicegat dan dibunuh oleh
segerombolan penyerang yang berkerudung muka. Pada
saat Tanghong Giok tiba, keadaan Wi Ti totiang sudah
payah sekali. Ketika ditanya siapa pembunuhnya, Wi Ti
totiang mengatakan kalau engkau .........
Tak mungkin! teriak Gak Lui.
Itu suatu kenyataan yang berbicara!
Aku hendak bertanya kepada Tanghong cianpwe
tentang peristiwa yang dijumpai saat itu! seru Gak Lui.
Hm..., baiklah. Mari engkau ikut kami untuk dipadu
bertiga agar dapat diketahui engkau bersalah atau
tidak?
425

Aku sendiri dapat menanyakan tak perlu harus


bersama taysu!
Apakah engkau tak takut pada barisan pedang Lohan-tin Siau- lim-si?
Maaf, ini bukan soal takut atau tidak!
Keduannya makin lama makin berdebat seru. Melihat
itu Thian Lok totiang nyeletuk dingin: Taysu, dia tentu
sedia pembantu yang lihay di belakangnya, silahkan
taysu menyisih kesamping .......! ia cepat menutup kata
dengan sebuah serangan yang luar biasa ganasnya.
Serangan pedang itu termasuk ilmu istimewa dari partai
Ceng-sia-pay.
Dalam kemarahan, ia hendak menggunakan
kesempatan selagi Gak Lui tak bersiap, menusuknya
mati. Tetapi dia tak tahu bahwa Gak Lui telah minum
darah buaya purba sehingga tenaganya bertambah kuat.
Cepat ia loncat menghindar sehingga serangan
mendadak itu tak berhasil melukainya.
Pada saat Gak Lui masih melambung di udara, ia
marah melihat keganasan orang. Maka iapun segera
balas menyerang dengan tiga gerakan pedang. Tring...,
tring..., tring....... Terdengar dering gemerincing senjata
becadu keras dan saat itu tampak Thian Lok totiang
tergetar kesemutan tangannya. Ia terhuyung mundur
beberapa langkah...... Melihat itu Gak Lui tak mau terlibat
dalam pertempuran dengan kedua ketua partai
persilatan. Ia hendak melayang keluar dan meloloskan
diri. Tetapi tiba2 Hui Hong taysu lepaskan pukulan, Kekgong-ciang. Suatu pukulan dari jarak jauh yang dilambari
tenaga dalam hebat,.

426

JILID 9
Tring, tring, tring ... terdengar suara orang mencabut
pedang dari empat penjuru. Delapan belas paderi Siaulim-si, berjajar-jajar dalam barisan Lo-han-tin yang
terkenal. Gak Lui berjumpalitan untuk menghindari
serangan pukulan Biat- gong-ciang dari Hui Hong taysu.
Setelah melayang turun dan tegak di tanah, pemuda itu
berseru dengan nada sarat: Taysu, totiang! Mengapa
kalian selalu mendesak aku saja? Siapakah yang
bertanggung jawab akibatnya nanti ?
Paderi Siau-lim itu kerutkan
Pada saat ia hendak menyahut,
orang berseru dalam nada yang
Gak sauhiap tak perlu takut,
melindungimu !

dahi dan deliki mata.


tiba2 terdengar suara
aneh: Heh, heh, heh!
aku berada di sini

Dan muncullah orang yang berteriak itu. Sekalian


orang terkejut berpaling. Pendatang itu seorang tua
berambut merah hidung besar dan mulutnyapun merah.
Wajahnya menyeramkan sekali. Gak Lui seperti pernah
dengar nada suara orang itu tetapi ia lupa. Maka
berserulah ia: Siapakah engkau ?
Rambut merah itu tertawa seram: Masakan siauhiap
lupa kepadaku ?
Aku tak kenal padamu !
Hi, hi, tak perlu siauhiap kuatir mengunjuk diri,
Ketiga Algojo Maharaja berada di sekitar tempat ini !
O, Tiga Algojo dari Maharaja ? serempak Gak Lui,
Thian Lok totiang dan Hui Hong taysu berseru kaget.
Benar, aku Malaekat Rambut-merah Lau Ih-jiang,
telah menerima titah dari Maharaja untuk membantu
siauhiap ! orang itu memperkenalkan diri. Imam dan
427

Paderi ketua dari partai persilatan itu tampak berobah


wajahnya. Karena mereka kenal Malaekat Berambutmerah itu seorang tokoh kelas satu dalam golongan
Hitam. Jarang orang itu muncul di dunia persilatan. Maka
sungguh mengherankan bahwa diapun menjadi anak
buah Maharaja yang diangkat menjadi salah seorang dari
Tiga Algojo. Dan dengan keterangannya bahwa dia
disuruh membantu Gak Lui, menandakan bahwa pemuda
itu jelas juga kaki tangan Maharaja.
Hui Hong taysu kecewa sekali karena tadi hampir
saja ia dikelabuhi anak muda itu. Sedangkan Thian Lok
totiang marah dan mempertimbangkan langkah untuk
menghadapi musuh.
Seorang Gak Lui masih mudah diatasi. Tetapi
dengan munculnya si Rambut-merah, keadaannya
berlainan. Apalagi kedua Algojo Maharaja juga berada di
sekeliling tempat ini, demikian imam itu menimangnimang.
Gak Luipun marah sekali sehingga tangan dan
kakinya terasa dingin. Tetapi justeru dingin itu
menyebabkan hatinya tenang. Ia tahu bahwa si Rambut
Merah itu memang diperintah Maharaja. Tetapi sebelum
kedua kawannya yang lain datang, dia tentu tak berani
turun tangan. Tetapi ternyata kedatangan Rambut Merah
itu kebetulan dalam situasi yang keruh sehingga dengan
cerdik sekali Rambut Merah itu menggunakan
kesempitan untuk memojokkan Gak Lui.
Dengan beberapa perkataan itu, dapatlah ia
mengadu Gak Lui dengan ketua Ceng-sia-pay dan Siaulim-pay. Apabila kedua fihak sama2 terluka, barulah ia
turun tangan untuk menindak mereka. Dengan mata
menyala kemarahan, Gak Lui melirik si Rambut Merah
tetapi dengan cerdik orang itu tertawa tawa : Heh, heh
428

siauhiap, kutahu perangaimu. Engkau tak suka dibantu


dalam hal ini akupun dapat memaklumi dan hanya akan
melihat saja di samping, bagaimana nanti engkau akan
menjagal kawanan imam hidung kerbau dan paderi
gundul !
Ucapan itu cukup beracun dan licik sekali. Sekaligus
ia dapat mengadu domba kedua belah fihak dengan ia
sendiri bebas melihat di samping. Thian Lok totiang
tertawa nyaring: Apakah kata2mu itu dapat kami anggap
berlaku?
Rambut Merah melirik dan menyahut: Menghadapi
kawanan calon2 mayat seperti kalian, rasanya Gak
siauhiap sudah kelebihan tenaga...
Yang kutanyakan, apakah engkau ...
O, aku membantu atau tidak, terserah kehendakku
sendiri ! Tetapi demi memandang muka Gak siauhiap,
rasanya aku tak mau sembarangan turun tangan !
Bagus ! seru Thian Lok totiang menggeram, akan
kulenyapkan kalian satu demi satu...
Anak ketua Ceng-sia pay itu menutup kata2nya
dengan sebuah serangan pedang yang hebat kepada
Gak Lui. Gak Lui terpaksa mengisar tubuh lalu mainkan
pedangnya bagaikan naga bercengkerama di laut.
Ditambah pula dengan pancaran tenaga-dalam yang
menyedot, dapatlah ia memaksa ketua Ceng-sia-pay itu
mundur dua langkah, setelah itu tangan kiri Gak Lui
mencabut pedang Pelangi. Pedang pusaka yang telah
ditempa baru itu, dalam tangannya yang disaluri dengan
tenaga-murni penuh, berhamburan laksana petir
menyambar-nyambar.
Dengan mencabut pedang pusaka itu, tujuan Gak Lui
429

supaya lekas2 dapat menerobos ke luar dari kepungan.


Dengan demikian ia segera dapat membekuk si Rambut
Merah. Tetapi Hui Hong taysu yang sudah keracunan
kata2 si Rambut Merah, mempunyai prasangka jelek
terhadap Gak Lui. Ia anggap dengan mencabut pedang
Pelangi itu, jelas Gak Lui hendak melakukan
pembunuhan secara kejam. Dengan mendengus marah,
ketua Siau-lim-si segera memberi perintah. Ke-18
paderipun segera bergerak cepat sehingga perbawa dari
barisan Lo-han-tin itu makin mendahsyat. Baik
menyerang maupun bertahan, barisan Lo-han tin itu amat
ketat sekali.
Hui Hong taysu yang pemimpin barisan itu-pun
menyerang dengan bengis. Tangan kiri melancarkan
pukulan maut, tangan kanan mainkan pedang dalam
jurus ilmu pedang Tat-mo kiam. Begitu melangkah maju,
ujung pedang ditusukkan ke dada dan bawah ketiak Gak
Lui.
Sambil memperhatikan gerak gerik si Rambut Merah,
Gak Lui mainkan pedang untuk menang dan balas
menyerang. Gak Lui memang menghadapi tekanan
berat. Dia diserang oleh Thian Lok totiang yang berada di
sebelah kiri. Ketua Ceng-sia- pay itu mahir dalam ilmu
pedang Tui-hong kiam dan memiliki tenaga-dalam Tunyang-cin-gi yang tinggi. Sedang di sebelah kanan ia
diancam oleh Hui Hong taysu, ketua Siau-lim-si yang
memiliki tenaga-dalam Pancha-sin-kang dan ilmu pedang
Tat-mo- kiam yang sakti. Kedua-duanya merupakan ilmu
yang jarang tandingannya dalam dunia persilatan.
Sedang di sekelilingnya ia dikepung oleh barisan Lo-hantin yang termasyhur. Untunglah ilmu pedang yang
dimainkan Gak Lui itu termasuk jurus2 yang aneh. Ilmu
meringankan tubuh Awan-berarak-seribu- li yang
dimilikinya itu dapat membuat gerakannya secepat angin
430

meniup. Dan ilmu pedangnya dalam jurus Burung-hongmerentang-sayap, dapat ditebarkan suatu sinar pedang
yang seolah-olah membungkus tubuhnya. Dengan
demikian dapatlah ia bertahan diri dan bahkan apabila
ada kesempatan, ia dapat juga melakukan serangan
balasan. Dan ketambahan pula dengan pedang pusaka
semacam pedang Pelangi yang dapat memapas segala
logam seperti memapas tanah liat, dapatlah ia
memperoleh keleluasaan.
Rambut Merah terlongong menyaksikan kehebatan
ilmu pedang. Tring .... terdengar dering tajam sekali.
Thian Lok totiang menyurut mundur tiga langkah.
Pedangnyapun hanya tinggal separoh saja. Dan pada
saat ketua Ceng-sia-pay itu mundur, terbukalah sebuah
lubang. Dengan kecepatan kilat menyambar, Gak Lui
terus menyelinap ke luar dan tiba di samping barisan Lo
han-tin. Ketiga tokoh itu terkejut sekali. Cepat mereka
memasuki barisan dan ayunkan pedang serta pukulan
untuk menghadang. Menghadapi barisan pedang itu,
tiba2 Gak Lui berhenti. Dan saat itu tiga buah tabasan
pedang dan tiga pukulan memburu kepadanya. Tak
boleh tidak, anak itu tentu binasa. Bahkan Rambut Merah
yang menyaksikan keadaan itu sampai mendesus kaget
dan terus hendak bergerak menolongnya. Dalam saat2
maut hendak merenggut, entah dengan tata gerak
bagaimana, dalam dua tiga kali geliatan tubuh, Gak Lui
sudah dapat menerobos ke luar. Rambut Merah masih
tegang dan belum dapat memikirkan daya untuk
menolong, tahu2 wut, wut, dua batang pedang
menyambar ke arahnya.
Celaka ! ia hendak menjerit tetapi tak sempat lagi.
Dalam bingung ia terus jatuhkan diri bergelundungan.....
Cret, cret .... dua batang pohon kecil di belakangnya,
telah terbabat kutung. Malaekat Rambut Merah terlepas
431

dari ujung jarum. Dan begitu lolos, timbullah segera


pikirannya yang jahat. Ia hendak mempergunakan
kesempatan jarak dekat dengan Gak Lui, untuk merebut
pedang Pelangi. Tetapi baru ia loncat bangun dari tanah,
Gak Lui sudah gunakan pukulan tenaga-sedot Algojodunia.
Malaekat Rambut Merah terkejut karena merasa
tersedot. Dalam gugup ia hendak berputar tubuh dan
balas menyerang. Tetapi baru ia berputar tubuh, sebuah
hantaman dahsyat tepat menghantam dadanya, duk ....
Terdengar lengking jeritan ngeri disusul hamburan darah
segar. Tetapi selekas jeritan ngeri itu sirap, terdengar
pula suara tertawa mengejek. Ternyata dalam beberapa
kejab itu telah terjadi serangan yang hebat. Begitu
menyedot, Gak Lui terus taburkan pedang tetapi masih
dapat dihindari oleh Rambut Merah, ia susuli lagi dengan
pukulan Algojo dunia dan berhasil menghantam dada
iblis itu. Tetapi Gak Lui terkejut karena Rambut Merah itu
setelah menjerit lalu tertawa mengejek. Ternyata iblis itu
dalam keadaan terdesak, rangkapkan kedua tangannya
untuk melindungi dadanya. Malaekat Rambut Merah itu
juga bukan tokoh sembarangan. Ia seorang iblis
golongan Hitam yang memiliki tenaga-dalam hebat
sekali.
Walaupun pukulan Algojo-dunia itu termasuk jurus
yang luar biasa, tetapi tak sampai meremukkan dada iblis
itu. Rambut Merah memang seorang iblis tua yang julig
dan licik. Dengan tahankan sakit ia tertawa mengejek.
Siasat itu berhasil mempesonakan Gak Lui. Pada saat
pemuda itu tertegun, secepat kilat iblis itu sudah loncat
masuk ke dalam hutan. Gak Lui tak mau mengejar. Ia
simpan sepasang pedangnya lalu berputar tubuh hendak
memungut pedang Pelangi yang masih di tanah. Tetapi
anak muda itu tak memperhatikan bahaya yang
432

mengancam di belakangnya. Ia kira setelah menghajar


Rambut Merah, tentulah salah faham Thian Lok totiang
dan Hui Hong taysu akan terhapus. Tetapi karena
kejadian itu berlangsung amat cepat sekali, sukarlah
untuk menjernihkan suasana kemarahan kedua ketua
partai persilatan itu.
Pada saat Gak Lui sedang menghantam Rambut
Merah tadi, Thian Lok totiang pun bergegas memburu
datang. Dan pada saat Gak Lui memungut pedang, ketua
Ceng-sia-pay itu sudah berada dua meter di
belakangnya. Bum .... imam itu sudah lepaskan sebuah
hantaman dengan tenaga-dalam Tun-yang-cin-gi ke
punggung pemuda itu. Seketika Gak Lui rasakan
pandang matanya gelap, kepala berputar-putar dan
tubuh mencelat sampai dua tombak jauhnya serta
beberapa kali muntah darah ! Setelah mendapat hasil,
Thian Lok totiang tak mau memberi ampun lagi. Pada
saat Gak Lui limbung, ia memburu dan hendak
menghantamnya lagi.
Siauhiap, awas! tiba2 dari dalam hutan terdengar
suara si Rambut Merah. Dan peringatan itu memang
tepat sekali waktunya. Serentak Gak Luipun gelagapan
dari limbungnya dan pedang segera dihamburkan bagai
kilat menyambar-nyambar. Thian Lok totiang yang
pedangnya sudah kutung, saat itu hanya menyerang
dengan tangan kosong. Sudah tentu ia tak berani
menangkis taburan pedang itu. Ia cepat2 mundur. Tetapi
saat itu Hui Hong taysu dengan 18 muridnyapun
memburu tiba, terus mengembangkan barisan pedang.
Gak Lui terkurung sinar pedang dari delapan penjuru.
Siauhiap, cepat mengisar ke samping satu tombak,
lekas ! terdengar pula si Rambut Merah berteriak. Saat
itu mata Gak Lui masih kunang2. Ia belum dapat melihat
433

jelas barisan lawan. Tetapi mengisar ke samping satu


tombak, memang satu2nya jalan menghindar yang paling
tepat. Maka iapun segera melintang ke samping dan
menghindari taburan 9 pedang.
Maju dua meter.... mundur tiga langkah ....! kembali
si Rambut Merah yang bersembunyi di balik pohon,
memberi petunjuk. Karena masih dalam keadaan tak
sadar, terpaksa Gak Lui menuruti petunjuk itu. Yang
penting ia harus dapat terhindar dari pedang maut
barisan pedang Lo han kiam-tin. Saat itu Thian Lok
totiang dan Hui Hong taysu tak dapat berpikir lain kecuali
makin yakin bahwa kedua orang itu memang sekomplot.
Mereka tak dapat memikirkan mengapa tadi Gak Lui
menyerang si Rambut Merah.
Karena terpecah perhatiannya memikirkan keadaan
Gak Lui dan si Rambut Merah, serangan kedua imam
dan paderi itu agak lambat dan kesempatan itu dapat
memberi napas kepada Gak Lui untuk merebut kembali
situasi pertempuran. Kini pemuda itu dapat pula
mengembangkan sepasang pedangnya dengan lancar.
Dan apabila ada kesempatan, tentulah ia dapat
menerobos pula dari kepungan barisan musuh. Pada
saat kesempatan itu hampir tiba, tiba2 si Rambut Merah
mengoceh dari belakang pohon: Ah, siauhiap,
pukulanmu tadi terlalu berat, tidak seperti bermain
sandiwara. Tulangku terluka sehingga memberi
kemurahan kepada kawanan paderi kepala gundul itu....
O, kiranya tadi mereka hanya pura2 saja ! baik
Thian Lok maupun Hui Hong segera menarik kesimpulan.
Dan serangan merekapun segera menggencar lagi.
Siauhiap, saat inipun engkau juga menderita luka.
Tak baik kalau bertempur terlalu lama. Jika mengijinkan
aku membantumu, pasti engkau lebih cepat keluar dari
434

kepungan....
Sungguh licin dan licik sekali iblis Rambut Merah itu.
Nadanya memberi nasehat dan minta ijin hendak
membantu tetapi sesungguhnya ia memberi tahu kepada
Thian Lok dan Hui Hong akan keadaan Gak Lui yang
sudah terluka itu agar barisan pedang Lo han-kiam tin
mengadakan penjagaan yang ketat, jangan sampai
pemuda itu dapat lolos. Ternyata tipu muslihat iblis itu
termakan rombongan orang2 Siau- lim dan Ceng-sia,
mereka segera menyerang makin gencar.
Kini Gak Lui hanya mempunyai sebuah cara untuk
menghadapi mereka. Ialah tata gerak yang diajarkan oleh
Permaisuri Biru kepadanya, segera ia gunakan langkah
istimewa itu dan dengan gerakan yang cepat ia berusaha
keluar dari dinding sinar pedang. Dengan susah payah
akhirnya ia melihat suatu kesempatan.
Siauhiap, di sebelah kiri ada lubang, lekas engkau
terobos ! belum Gak Lui bertindak, si Rambut Merah
sudah mendahului berseru. Tetapi ternyata musuh juga
bergerak cepat. Baru Gak Lui bergerak, Hui Hong taysu
sudah mendahului melangkah maju setindak dan
menutup lubang itu dengan 6 buah serangan pedang.
Gak Lui seperti meledak dadanya. Karena teriakan si
Rambut Merah itulah maka jalan-keluar telah ditutup Hui
Hong taysu. Nadanya seperti memberi petunjuk kepada
Gak Lui tetapi sesungguhnya Rambut Merah itu memberi
peringatan kepada musuh supaya menutup lubang
kelemahan itu.
Memang siasat Rambut Merah hendak mengadu
domba kedua belah fihak agar sama2 remuk. Setelah itu
barulah ia turun tangan untuk menyelesaikan kedua
fihak. Gak Lui tak dapat berbuat apa2 kecuali lontarkan
pandang kemarahan ke arah pohon tempat bersembunyi
435

si Rambut Merah. Tiba2 Rambut Merah munculkan


kepala dari balik batang pohon dan tertawa sinis: Heh,
heh, tak perlu siauhiap gelisah. Sekalipun barisan
pedang Lo han-kiam-tin itu lihay, tetapi karena si-imam
jahat ikut menyelundup di dalam, menyebabkan paderi
kepala gundul tak leluasa bergerak ....
Kata2 itu sebenarnya hendak diucapkan Hui Hong
taysu kepada Thian Lok totiang. Barisan Lo-han-kiam-tin
itu hanya berisi 18 orang dengan dia sendiri (Hui Hong)
yang berada di tengah atau poros barisan untuk memberi
komando. Dengan bertambahnya Thian Lok totiang
dalam barisan itu, memang mengganggu jalannya
barisan itu. Tetapi Thian Lok totiang itu seorang ketua
partai persilatan. Dan juga bertujuan hendak membantu,
sudah tentu Hui Hong taysu sungkan untuk memintanya
keluar. Maka betapalah girang paderi Siau-lim itu ketika
si Rambut Merah sudah mengatakan hal itu kepada Gak
Lui.
Mendengar itu, wajah Thian Lok totiang berobah dan
segera ia menyadari kedudukannya. Tanpa diminta Hui
Hong, ia sudah terus melepas keluar dari barisan. Dan
memang benar. Selekas imam itu keluar, barisan Lo hankiam-tin segera tampak lebih hebat perbawanya. Tiba2
Gak Lui mendapat pikiran. Kalau berkali2 ia dicelakai
Rambut Merah dengan lidahnya yang tajam, mengapa ia
tak mau membalas juga. Maka sambil memutar pedang
untuk menghalau serangan Lo han-kiam-tin, ia segera
berseru ke arah pohon :
Rambut Merah! Thian Lok totiang sudah keluar dari
barisan, engkaupun harus berhati-hati juga.... Walaupun
licin dan liciknya si Rambut Merah namun setitikpun ia
tak menyangka kalau akan menerima serangan belasan
kata2 yang tajam dari Gak Lui.
436

Pada saat ia tertegun, imam ketua partai ketua Cengsia pay pun sudah menyerbunya! Terdengar pekik
bentakan dan deru angin pukulan menyambar- nyambar
dalam hutan itu. Dan tersenyumlah Gak Lui: Hm,
sekarang aku bisa lolos. Dengan tenaga kedua partai
persilatan dan barisan Lo-han kiam-tin, tentulah dapat
melenyapkan si Rambut Merah itu.... pikirnya. Dengan
kemantapan pikiran itu, ia segera mengembangkan
jurus2 istimewa.
Sepasang pedangnya makin menghebat. Pada saat2
yang genting, tiba2 Hui Hong taysu gunakan jurus Tatmo kiam untuk menusuk dada Gak Lui. Tetapi pemuda
itu menangkisnya dengan jurus Menjolok-bintang
memetik-rembulan. Lalu pedang Pelangi di tangan kiri
ditaburkan ke udara untuk menabas leher lawan. Jika
kena, tak ampun lagi kepala ketua Siau-lim si itu tentu
akan terpisah dari tubuhnya. Jaraknya begitu dekat
sekali. Jangankan ke 18 anggauta barisan Lo han-kiamtin itu, bahkan Hui Hong taysu sendiri juga tak berdaya
untuk menghindar lagi. Tetapi untuk menyelamatkan diri,
adalah sudah menjadi sifat manusia pada umumnya.
Demikian dengan Hui Hong taysu. Di bawah pekik jeritan
kaget dari sekalian murid2 Siau-lim-si, Hui Hong taysu
tak mau mundur malah maju sembari pejamkan mata
dan tundukkan kepala. Ketua Siau-lim-si itu keluarkan
seluruh kepandaiannya, untuk menghantam pundak
lawan dengan sekuat tenaganya. Tetapi pukulan yang
luar biasa itu hanya menemui angin kosong saja. Dan
pedang pusaka Pelangi yang membawa hawa dingin itu
pun hanya menyambar di atas kepalanya. Ketua Siaulim-si itu tercengang. Sesungguhnya tadi ia sudah
bersedia mati tetapi mengapa bisa lolos ?
Dengan napas terengah-engah sekujur tubuhnya
basah kuyup dengan keringat dingin. Dan serentak
437

dengan itu, ia mulai tahu apa yang telah terjadi. Jika


pemuda itu benar anak murid Maharaja, tak mungkin dia
mau memberi ampun kepadanya ! Kepalanya tentu akan
menggelinding di tanah....
Tiba2 ia tersentak kaget dari longongnya. Anak murid
barisan Lo- han-kiam tin berteriak kaget dan berseru
nyaring. Buru2 Hui Hong taysu membuka mata untuk
melihat apa yang terjadi. Dilihatnya dengan gerak
langkah yang aneh Gak Lui sudah lolos dari kepungan
anak murid Siau-lim si yang masih tercengkam rasa kejut
melihat ketua mereka hampir putus kepalanya tadi.
Belum Hui Hong taysu sempat berbuat apa2, tiba2
Gak Lui dari jauh berseru nyaring: Taysu harap jangan
mengejar aku. Lekas bantulah Thian Lok totiang saja....
Gak Lui dapat lolos dengan tak kurang suatu apa sambil
memberi pesan. Hui Hong terkejut. Tetapi ketika ia
mengangkat memandang ke muka, ternyata pemuda itu
sudah berada lima enam puluh tombak jauhnya. Tiba2
pemuda itu berpaling lagi dan berseru:
Sampai jumpa!
Sampai jumpa ? Bukankah kita belum pernah
bertemu muka....! tiba2 Gak Lui dikejutkan oleh sebuah
suara bernada sinis dari sebelah muka.
Gak Lui terkejut sekali. Dua tiga meter di hadapannya
tampak seorang manusia raksasa. Tingginya lebih dari
dua meter, mukanya hitam seperti pantat kuali. Dan
masih ada seorang kawannya lagi yang juga
menyeramkan. Seorang manusia bertubuh kurus kering
seperti tulang terbungkus kulit. Jari2 tangannya runcing
seperti cakar burung garuda. Tulang- tulangnya yang
kurus itu, mengandung kekuatan yang mengejutkan
sekali.
438

Enyah! teriak Gak Lui sambil tudingkan ujung


pedang.
Enyah ya enyah ! orangtua kurus kering itu
menyahut dengan nada sedingin es, lalu mengitar separo
lingkar terus melesat maju. Tetapi ternyata dia menuju
kepada Hui Hong taysu.
Gak Lui terkejut. Ia hendak mencegah sikurus kering
itu tetapi tiba2 sitinggi besar cepat membentaknya:
Tetapi aku tak mau enyah! Nada suara orang itu persis
seperti salah seorang gerombolan yang menyerang ke
gunung Pekwan-san dahulu! Kala itu ia hendak mengejar
tetapi dicegah oleh Permaisuri Biru. Dan Permaisuri Biru
itu menilai kepandaian orang itu lebih tinggi dari Gak Lui.
Apakah engkau bukan anggauta Tiga Algojo dari
Maharaja ? Gak Lui tidak menyahut melainkan balas
bertanya.
Benar!
Beritahukan namamu!
Setan Angin-hitam !
Dan kawanmu tadi ?
Garuda-sakti cakar-emas!
Apakah engkau juga ikut dalam penyerangan pada
Pukulan-sakti The Tay di gunung Pekwan-san tempo
hari?
Ya.
Di manakah The lo-cianpwe sekarang ini?
Akhirnya nanti engkau tentu akan tahu sendiri !
Dalam pada bertanya jawab itu, Gak Lui mendengar
suara pukulan menderu deru di belakang hutan. Ia tahu
439

bahwa Cakar emas tentu sudah bertempur dengan ketua


Siau-lim si.
Diam2 ia menimang: Saat ini Thian Lok totiang
sedang berhadapan dengan Rambut Merah. Menilik
Rambut Merah itu menderita luka dan kepandaian ketua
Ceng-sia-pay itu juga hebat, tentulah ia dapat
mengatasinya. Kurasa tak ada persoalannya. Begitu pun
Hui-Hong taysu juga sakti dalam ilmu tenaga-dalam.
Ditambah pula dengan barisan Lo-han-kiam tin yang
termasyhur. Kiranya tentu masih ada kelebihan tenaga
untuk menghadapi Cakar- emas. Baiklah kugunakan
kesempatan ini untuk menggali keterangan dari Iblis
Angin-hitam. Setelah itu akan kubereskan ketiga Algojo
itu semua untuk membalas sakit hati dari The Thay
cianpwe dan adik Lian.
Setelah menentukan keputusan, Gak Lui segera
melangkah setindak maju, serunya: Lebih baik berlaku
terus terang agar jangan engkau menderita lebih parah !
Iblis Angin-hitam itu sebenarnya seorang angkuh.
Tetapi ketika digedung Yok ong-kiong tempo hari, ia
sudah pernah menyaksikan kelihayan Gak Lui. Dan lagi
Maharaja memerintahkan supaya menangkap anak
muda itu hidup2. Sebenarnya sejak tadi ia harus
menekan perasaan. Tetapi melihat kecongkakan pemuda
itu, timbullah kembali keangkuhannya dan menyahutlah
ia dengan nada kasar: Jangan omong yang tak berguna!
Apa engkau kepingin mati ! habis berkata ia menyusuli
dengan gerakan tangan kiri untuk mencengkeram.
Gak Lui cepat gunakan jurus Memapas-emasmemotong-kumala untuk menabas pergelangan tangan
lawan. Keduanya telah sama2 menggunakan jurus yang
luar biasa. Dan pada saat itu ujung pedang Gak Luipun
sudah tinggal tiga inci dari lengan lawan. Tetapi
440

walaupun bertubuh gemuk, Iblis Angin- hitam itu amat


tangkas sekali. Dengan tertawa iblis, ia menarik pulang
tangannya dan loncat mundur lalu tiba2 taburkan
sebatang pedang perak! Pedang perak itu luar biasa
tajamnya. Ujung pedang yang setipis kertas, ketika
melayang diudara tiba2 dapat melengkung untuk
mengarah jalan-darah pada bahu dan pinggang Gak Lui.
Gak Lui terkesiap. Ia terkejut juga melihat pedang
yang istimewa itu. Diperhatikannya dengan seksama. Ah,
ternyata hanya sebatang pedang saja. Pedang itu amat
tipis dan terbuat daripada emas putih. Tetapi karena
ditaburkan dengan tenaga-dalam yang tinggi, pedang
tipis itu berobah kaku dan keras seperti pedang biasa.
Gak Lui cepat loncat mundur tiga tombak lalu memutar
pedang Pelangi untuk menyabat pedang emas putih itu.
Heh! Engkau berani memapas pedang Ular-emasputih? Iblis Angin-hitam tertawa mengejek. Ia gencarkan
tenaga-dalam dan pedang aneh itu-pun segera berputar
putar deras membentuk lingkaran sinar pedang yang
berlapis-lapis.
Pedang Pelangi terkepung didalam lingkaran sinar.
Sedang ujung pedang Ular- emas-putih itu menusuknusuk kearah jalan darah berbahaya ditubuh Gak Lui.
Pemuda itu terkejut bukan kepalang. Cepat ia empos
semangat lalu melambung keudara, memapas leher
lawan. Sedang pedang ditangan kiri menyabat
pergelangan tangan kanan iblis itu. Serangan Gak Lui itu
hebat sekali. Tetapi tangan kiri Iblis Angin- hitam tiba2
dibalikkan dan terdengar deru angin keras berwarna
hitam menyambar keudara. Tring .... ekor dari Ular-emasputih itu membentur pedang ditangan kiri Gak Lui. Dan
serempak itu diudarapun terdengar letupan dari anginhitam tadi.
441

Dengan mengandalkan pada pedangnya yang luar


biasa anehnya itu, Iblis Angin-hitam dapat menangkis
jurus Gunung-tay-san- menindih kepala dari lawan lalu
dengan habiran tenaga angin hitam tadi ia berhasil juga
untuk mendorong tubuh lawan yang meluncur turun itu
melayang keudara lagi.
Gak Lui benar2 terkejut karena serangannya tak
berhasil. Ia berjumpalitan dan turun kebumi sejauh tiga
tombak. Tetapi begitu kaki menginjak tanah, ia segera
rasakan kepalanya pening dan beberapa kali tubuhnya
menggigil. Pikirnya: Celaka, angin pukulan berwarna
hitam itu tentu mengandung racun! Ah, dia bergelar Iblis
sakit si Angin-hitam, adakah pukulannya itu mengandung
penyakit
Ia merenung lebih lanjut. Kalau iblis yang disini
dapat menghamburkan angin penyakit, tentu kedua
kawannya yang disana itu juga mampu melakukan hal
itu. Dengan demikian halnya jelas ketua Siau lim dan
Ceng-sia-pay itu tentu akan terkena penyakit ....
Memikir hal itu, tanpa disadari Gak Lui tegak
terpukau. Dan tepat pada saat itu juga pedang Ularemas-putihpun kembali melingkar- lingkar diudara dan
terus meluncur kebawah mengurung Gak Lui.
Gak Lui gelagapan. Cepat juga ia segera putar
pedang membentuk lingkaran sinar untuk melindungi
tubuhnya. Lingkaran sinar pedang musuh dapat
ditahannya. Menggunakan kesempatan bertahan itu, Gak
Lui mencuri lirik kearah hutan. Ah, celaka! Ternyata
situasi pertempuran dalam hutan telah berobah tak
menguntungkan. Tampak Hui Hong taysu dan Thian Lok
totiang terhuyung-huyung dan barisan Lo-han- kiam-tin
itupun juga kacau.
442

Budak, tak usah engkau melihat kesana! Engkau


sendiripun segera akan terkapar ditanah. Heh, heh, heh,
heh...! Iblis Angin- hitam itu tertawa mengekeh. Gak Lui
marah mendengar tertawa iblis itu. Tetapi karena marah,
penyakit yang hinggap dalam tubuhnya itupun cepat
bekerja.
Ah, aku harus cepat2 membereskan ketiga Algojo
ini, pikirnya lalu kerahkan seluruh tenaga-murni dan
lancarkan jurus kelima. Pertama, ia gunakan tenagadalam penyedot untuk melekat pedang Ular-emas-putih,
diputar dengan cepat untuk menahan ujung pedang.
Kemudian pedang Pelangi secepat kilat memapas
pinggang lawan.
Ho, datang lagi ! si iblis tertawa congkak seraya
hamburkan asap beracun dari telapak tangannya. Tetapi
kali ini jurus serangan Gak Lui itu lain dari yang lain.
Jurus yang mengandung perubahan luar biasa. Begitu
tangan kiri dikendorkan, pedang Pelangipun laksana
naga keluar dari guha terus meluncur kemuka. Tring ....
terdengar dering nyaring dan percikan sinar kemilau.
Tahu2 pedang emas putih yang panjangnya hampir
setombak itu kutung menjadi dua. Kejut Iblis Angin-hitam
bukan kepalang. Ia berduka sekali karena pedangnya
putus. Belum lagi ia sempat menyurut mundur, tiba2
pukulan jurus Algojo dunia dari Gak Lui telah melanda
dadanya. Bum .... huak, Iblis Angin-hitam menguak ngeri
dan menyembur darah segar. Bluk, ia jatuh terduduk
ditanah.
Gak Lui cepat menarik pedangnya lalu melesat ke
tempat Hui Hong taysu. Tampaknya pemuda itu tak
menderita luka. Tetapi sesungguhnya hanya karena
mengandalkan tenaganya sebagai seorang pemudalah
maka ia tahankan darah yang hendak muntah dari
443

mulutnya..... Memang pada babak permulaan, Hui Hong


taysu dan Thian Lok totiang masih dapat mengimbangi
serangan lawan. Tetapi setelah si Rambut Merah
beberapa kali menghamburkan telapak beracun, kedua
tokoh itupun menderita luka. Pada saat Gak Lui bergegas
menghampiri, kedua ketua partai persilatan itupun sudah
limbung keadaannya. Mereka hanya mengandalkan ilmu
kepandaiannya yang tinggi untuk memaksa bertahan.
Harap kalian menyingkir! bentak Gak Lui seraya
menyerang musuh dan melindungi rombongan paderi itu
mundur. Kali ini Thian Lok totiang dan Hui Hong taysu
serta ke 18 anggauta barisan Lo-han-kiam tin, mau
menurut perintah Gak Lui. Mereka dapat mundur ke
sebuah puncak. Kedua iblis itu hendak mundur juga
tetapi dirintangi oleh hamburan sinar pedang Gak Lui.
Tetapi diam2 pemuda itu terkejut melihat keadaan
rombongan murid Siau-lim-si dan Ceng- sia-pay. Karena
wajah mereka tampak merah membara semua dan
napasnyapun
terengah-engah.
Mata
mereka
memandang ke muka tak berkedip seperti orang yang
sudah kehilangan kesadaran pikiran. Mereka hanya
menjalankan perintah menurut suara tetapi tak
mengetahui siapa orangnya yang memberi perintah itu.
Tak berapa lama kemudian, rombongan orang2
itupun sudah terlepas dari lingkaran bahaya. Tetapi kini
Gak Luilah yang terbenam dalam bahaya itu. Dari kiri ia
diserang oleh Iblis Rambut Merah. Dari kanan Garudasakti cakar-emas menaburnya dengan jari2 yang aneh.
Bahkan jari2 iblis itu berani juga untuk merebut pedang.
Dan mendadak dengan menahan luka, Iblis Anginhitampun lari menghampiri sambil bolang balingkan
pedangnya yang kutung. Tiga Algojo dari Maharaja telah
menyerang dari tiga jurusan, Gak Lui bertempur dengan
mati-matian.
444

Beberapa puluh jurus kemudian, ketiga Algojo dari


Maharaja itu berhias dengan luka2 berdarah. Tetapi
keadaan Gak Luipun lebih payah. Racun yang
dideritanya makin hebat dan lukanyapun makin banyak.
Betapapun kuat tenaganya dan keras kemauannya
namun dia tetap seorang manusia yang terdiri dari darah
dan daging.
Pada saat tenaga-murninya bergolak, darah kental
yang semula dapat ditahannya itu, tak dapat ditekannya
lagi. Dan anak muda itu muntahkan segumpal darah.
Dan tenaganyapun mulai berkurang sehingga gerakan
pedangnya mulai lambat, tubuh terhuyung. Melihat itu
ketiga Algojo itu tersenyum iblis. Mereka hanya tinggal
menantikan pemuda itu kehabisan tenaga baru nanti
akan menyelesaikannya. Saat yang ditunggu itu akhirnya
tiba juga. Keempat sosok tubuh itu berlingkar-lingkar
dengan cepat. Bluk, tiba2 Gak Lui yang lebih dulu jatuh
ke-tanah. Tetapi ketiga Algojo dari Maharaja itupun
secara tak dapat dimengerti, telah mencelat sampai tiga
tombak jauhnya.
Ternyata pusaran angin hebat itu bukan berasal dari
hamburan tangan ketiga iblis itu melainkan dari seorang
sakti yang muncul secara tak terduga-duga ditempat itu!
Kedatangan orang itu memang mengejutkan sekali.
Datangnya secepat angin. Dalam terhuyung-mundur itu,
ketiga Algojo tak sempat lagi melihat jelas wajah
pendatang itu. Cepat sekali orang itu menyambar tubuh
Gak Lui terus dibawa pergi ...
Habis ... habis ... semua dendam permusuhan
selesai semua... Gak Lui menghela napas putus asa.
Tiba2 suatu aliran tenaga-murni telah menyalur keulu
hatinya sehingga kesadaran pikirannya yang sudah
limbung itu memancar lagi. Hawa murni itu mengalir
445

kedada lalu keurat-urat nadinya diseluruh tubuh.


Buru2 ia kerahkan tenaga murni untuk menyambut
sehingga penyaluran itu makin cepat memancar
keseluruh tubuhnya. Dalam tiga kali perputaran, racun
dalam tubuh Gak Lui itupun lenyap dan tenaganya pulih
tiga bagian. Begitu orang itu menarik tangannya, Gak Lui
pun sudah tersadar dari pingsannya. Pertama-tama, ia
dapatkan dirinya berada di puncak gunung. Memandang
ke kiri, lebih kurang satu li jauhnya, tampak sebuah biara
kecil. Dan memandang ke kanan, didapatinya seorang
lelaki berumur 50-an tahun tengah duduk di sampingnya.
Sepasang matanya yang memancar terang dinaungi
sepasang alis berbentuk seperti pedang. Mulut lebar
berhias jenggot panjang. Telinganya memanjang
mengimbangi hidungnya yang besar. Teristimewa tulang
pipinya yang menonjol, makin memantulkan keangkuhan
dan kewibawaan.
Terang, tentu dialah yang menolongku ! Gak Lui
terus berbalik tubuh hendak bangun. Tetapi orang itu
cepat2 mendahului ulurkan telunjuk jari seperti hendak
menekan. Setiup angin segera memancar dan Gak Lui
pun tak dapat berdiri melainkan hanya duduk saja.
Tak usah banyak peradatan, duduk sajalah! seru
orang itu dengan nada agak heran.
Terima kasih atas pertolongan cianpwe. Mohon
tanya siapakah nama yang mulia ...
Sudah lama aku tak pakai nama....
Cianpwe telah melepas budi besar, jika tak
mengetahui nama cianpwe, hatiku tentu tak tenteram.
Engkau ingin mengetahui ?
Ya, agar kelak aku dapat membalas budi.
446

Aku tak pernah minta pertolongan pun tak


mengharap balas orang. Tetapi demi menghormati
keinginanmu, dapatlah kuberi pengecualian, kata orang
itu. Gak Lui memandang orang itu dengan sungguh2.
Orang itu merenung beberapa saat lalu berkata : Tio Bik
lui !
Tio Bik lui ! diam2 Gak Lui mencatat dalam hati. Ia
tertawa: Aku bernama Gak Lui, maaf, salah sebuah
namaku itu telah menyamai nama cianpwe...
Didunia banyak terdapat nama yang kembar.
Apalagi hanya salah sebuah huruf saja. Tak perlu
engkau sungkan, kata orang itu.
Maaf, mohon tanya gelaran cianpwe?
Aku ... tak punya gelaran apa2.
Ah, tak mungkin. Kesaktian cianpwe dengan sekali
pukul saja sudah dapat mengundurkan ke Tiga Algojo itu,
dunia persilatan tentu memberi gelaran.
Dunia persilatan? Sudah berpuluh tahun aku tak
muncul didunia persilatan. Mungkin orang sudah tak
ingat namaku lagi.
O....! Gak Lui mendesus kejut.
Eh, mengapa engkau heran ? beberapa saat
kemudian orang itu bertanya.
Kepandaian cianpwe sungguh sakti sekali. Sekalipun
tak setenar Maharaja atau Kaisar Persilatan, tetapi
kurasa cianpwe pasti mempunyai nama yang
menggetarkan dunia persilatan.
Ha, ha ... dunia persilatan penuh dengan naga tidur
harimau bersembunyi. Tokoh2 sakti tak terhitung
jumlahnya. Seperti Kaisar Persilatan itupun juga tak ada
447

hal yang pantas diherankan .. tentang diri Maharaja


Persilatan, namanya asing sekali bagiku ....
Apakah cianpwe tak kenal orang itu? Gak Lui
menegas.
Sudah lama sekali aku beristirahat.
O... desuh Gak Lui terkejut heran. Diam2 ia
menimang. Kalau benar2 orang itu sudah lama
menyembunyikan diri mengapa mendiang ayahangkatnya tak pernah bercerita tentang diri orang itu?
Karena rasa heran itu, Gak Lui memandangnya lekat2.
Tampak lelaki itu berwajah angkuh sekali. Sikapnya acuh
tak acuh terhadap persoalan dunia persilatan.
Hm, mungkin dia telah mengalami sesuatu dalam
dunia persilatan yang menyebabkan dia jemu. Baiklah
aku tak usah mempercakapkan pergolakan dunia
persilatan lagi karena mungkin mengganggu pikirannya,
akhirnya Gak Lui memutuskan.
Kemudian dengan hormat ia bangun lalu memberi
hormat kepada tokoh itu: Budi pertolongan cianpwe,
kelak dikemudian hari tentu akan kubalas. Dan sekarang
aku hendak mohon diri ....
Orang itupun tak mau menahan: Baiklah, kuharap
engkau baik2 menjaga diri. Satu-satunya jalan dipuncak
itu hanyalah sebuah. Maka Gak Lui memilih sebuah jalan
kecil disebelah timur. Tetapi baru ia hendak ayunkan
langkah orang itupun sudah berseru meneriakinya:
Tunggu dulu, sauhiap !
Apakah cianpwe hendak memberi pesan lagi ?
Jika berjumpa dengan Empat-pedang-Bu-san, tolong
engkau sampaikan salamku! seru orang itu. Orang itu
berkata dengan wajar dan penuh nada bersahabat.
448

Tetapi bagi telinga Gak Lui, hal itu seperti halilintar


menyambar. Cepat ia mundur dua langkah dan bertanya:
Cianpwe kenal akan.....
Bukankah tadi engkau mengatakan tentang Tiga....
Tiga Algojo, atau ketiga algojo dari Maharaja ! seru
Gak Lui.
Waktu bertempur dengan ketiga orang itu, ilmu
pedang yang engkau gunakan itu jelas ilmu pedang dari
kaum Busan !
Kalau begitu cianpwe kenal akan ayahku dan ayahangkatku....
Kita bersahabat baik pada dua tigapuluh tahun yang
lalu. Karena engkau orang she Gak, tentulah engkau ini
putera dari Dewa- pedang Gak Tiang-beng, benar atau
tidak?
Tepat sekali cianpwe menduga. Tetapi apakah
cianpwe tak mendengar tentang bencana yang menimpa
Empat-pedang-Bu- san itu?
Bencana ? orang itu berseru kaget, kudengar kalau
mereka berempat telah tercerai berai dan menderita
luka... tetapi karena hal itu sudah lama sekali, dan
kupercaya bahwa orang yang baik tentu dilindungi Allah,
merekapun kembali bersatu lagi....
Pada saat orang itu bicara, diam2 Gak Lui
mengadakan penilaian dalam hati: Ah, rupanya dia
benar sahabat dari para angkatan tua termasuk ayahku.
Tetapi perlukah kuceritakan kepadanya secara jujur
semua?
Seketika teringatlah ia akan peristiwa yang lalu.
Ketika turun dari gunung, ayah-angkatnya suruh dia
mengunjungi seorang sahabat lama ialah Ceng Ki
449

totiang. Tetapi adalah karena urusan itu maka paderi itu


sampai mengorbankan jiwanya .... di samping itu juga
terdapat beberapa korban lain antaranya pandai besi
Kiam-su Bok Thiat-san. Tokoh itu sudah tenang2
menyembunyikan diri di pegunungan tetapi karena
ditemuinya, maka dia sampai hilang nyawanya. Dan
apabila saat itu ia menceritakan juga kepada Tio Bik-lui
ini, ah ... kemungkinan dia juga tentu akan tertimpa
malapetaka...
Di manakah Empat Pedang itu sekarang? Lekas
engkau ceritakan.... tiba2 Tio Bik-lui berseru. Gak Lui
gelagapan. Setelah tenangkan diri ia bertanya dengan
ramah: Menilik cianpwe begitu memperhatikan mereka,
apakah cianpwe hendak membantu?
Sudah tentu, sahut Tio Bik-lui, aku tak gentar
melintasi gunung golok hutan pedang dan menerjang
lautan api....
Gak Lui makin terkejut. Tidak ! Jika orang itu turun
tangan, bukankah semua peristiwa yang terpendam
dalam dunia persilatan akan mengalir keluar semua.
Maka setelah menghela napas, ia menyahut tertawa:
Terima kasih atas budi kebaikan cianpwe, tetapi ayahku
dan mereka ...
Bagaimana?
Semua sudah terhindar dari kesulitan dan takkan
mendapat kesukaran selama-lamanya!
Sungguh?
Masakan aku berani bohong kepada cianpwe.
Sesungguhnya yang dikatakan Gak Lui itu memang
hanya suatu kiasan. Orang yang sudah mati tentu saja
sudah terbebas dari segala kesulitan dan kesusahan
450

dunia. Tetapi orang itu menafsirkan lain.


Lalu di manakah tempat tinggal mereka? tiba2
orang itu mendesak pula.
Ah, wanpwe tak leluasa mengatakan.
Mengapa ?
Cianpwe sudah lama mengasingkan diri dari
keramaian dunia persilatan. Maka akupun tak
mengajukan dendam peribadi untuk mengacau
ketenangan cianpwe.
Hm, dengus Tio Bik-lui seraya kicupkan mata.
memang aku tak suka mencampuri urusan orang. Tetapi
tentang keadaan sahabat lama, mau tak mau aku harus
bertanya .... tetapi...
Tetapi bagaimana ?
Apakah Empat-pedang tinggal diam saja terhadap
urusan dendam darah itu?
Gak Lui tertawa dingin dan menyahut tegas: Hutang
darah bayar darah. Setiap kejahatan tentu akan berbuah
kejahatan. Masakan tinggal diam saja!
Habis bagaimana? Jika tak mendapat pelajaran dari
mereka dan hanya mengandalkan kecerdasanmu sendiri,
mungkin rupanya orang itu menganggap kepandaian
Gak Lui belum masak tetapi sungkan untuk mengatakan.
Gak Lui menyahut dengan nada yakin: Hal itu tak perlu
diresahkan. Aku percaya mampu mengatasi.
Dapat mengatasi ? kata orang itu lalu merenung
lama. Pada lain saat baru ia bertepuk tangan, serunya:
Yang engkau yakin dapat mengatasi itu apakah bukan
soal ilmu pedang Halilintar ?
Gak Lui tergetar hatinya. Benar2 ia tak menduga
451

kalau orang itu tahu soal ilmu pedang Halilintar. Tetapi


teringat bahwa orang itu adalah sahabat dari Empatpedang Busan, redalah keheranannya. Sahutnya:
Cianpwe dapat menduga jitu beberapa bagian.
Mengapa hanya beberapa bagian ? Adakah pedang
itu sungguh masih berada.... di tempatnya semula ?
Oh... Gak Lui terhuyung dua langkah. Dia benar2
kaget tak terkira. Dengan ucapan itu, jelas kalau orang
yang berada di hadapannya ini tahu akan tempat
penyimpanan pedang. Seketika bertanyalah ia dengan
wajah serius: Karena cian-pwe tahu tempat pedang itu,
mohon sukalah memberitahu...
Tio Bik-lui pun terkejut juga, tanyanya dengan curiga:
Engkau tak tahu ? Adakah Empat-pedang itu juga tak
tahu...atau
apakah
mungkin
mereka
hendak
mengambilnya sendiri ...
Nada dan kerut wajah orang itu membuat Gak Lui
berpikir dalam hati: Tempat penyimpanan pedang
pusaka Pedang Halilintar itu, memang tiada seorangpun
yang tahu. Jika sekarang dia tahu, aku harus
menanyainya sampai jelas.
Setelah menetapkan keputusan, berkatalah Gak Lui
dengan memohon: Tio cianpwe, jika cianpwe seperti
turun tangan sendiri. Gak Lui takkan lupa selamalamanya!
Walaupun tak diberitahu jelas tentang keempat jago
pedang dari Bu-san itu namun dari nada dan sikap
pemuda itu, dapatlah Tio Bik Hui menduga bahwa
pemuda itu telah menghianati perintah guru dan
angkatan tua untuk melakukan pembalasan dendam
sendiri. Atau mungkin memang disuruh oleh Empat tokoh
pedang dari Bu-san.
452

Diam2 orang itu menimang bagaimana ia harus


menjawab pertanyaan Gak Lui. Baik diberitahu
sejujurnya atau tidak. Sampai lama barulah ia berkata:
Pedang pusaka itu luar biasa perbawanya. Dapat
membunuh orang seperti membabat rumput. Orang yang
menggunakan pedang itu mungkin tak dapat
mengendalikannya. Jika engkau berkeras hendak
menanyakan tempatnya, engkau harus lebih dulu
mengatakan nama dari musuhmu.
Akan kukatakan
menolak.

tetapi

harap

cianpwe

jangan

Baik.
Dia adalah Maharaja Persilatan yang kukatakan
tadi!
O, apakah kepandaiannya tinggi sekali? Apakah
kejahatannya besar sekali ?
Segala-galanya cukup layak untuk dibasmi oleh
pedang Halilintar!
Baik, akan kuberitahukan kepadamu. Tetapi engkau
tak boleh membocorkan kepada siapapun juga, termasuk
Empat Pedang Bu-san itu juga...
Pasti kulaksanakan.
Dan lagi tempat itu luar biasa berbahayanya.
Aku tak takut!
Dan lagi tempat itu jalannya ruwet sekali, penuh
dengan alat perangkap. Benar2 tak mudah dimasuki....
Sekalipun barisan
mengatasinya.

istimewa,

aku

tentu

dapat

Pambek yang hebat, Tio Bik-lui memuji, pedang


453

pusaka itu kabarnya disimpan di istana rahasia Bu-san


bi-kiong dipuncak Cap ji hong gunung Busan. Dijaga oleh
seorang tokoh yang berilmu sakti....
Siapa ?
Murid pertama dari Bu-san It ho yang diusir dari
perguruan Bu- san, ialah si Lengan-besi-baik-hati Lim Ihhun !
Oh ! teriak Gak Lui dengan tubuh gemetar. Saat itu
barulah ia mengetahui nama murid perguruan Bu san
yang murtad itu.
Hatinya terasa pilu dan kepalanyapun pening. Ia
terlongong dalam pertanyaan: Mengapa pedang itu
dijaga oleh murid Bu san yang murtad? Pertanyaan itu
segera dijawabnya sendiri: Ah, mungkin dia tentu takut
kalau Empat-Pedang yang menjadi adik seperguruannya
itu akan mengambil pedang dan mewakili gurunya untuk
melakukan hukuman kepadanya....
Ah, benar, makin mantaplah pikiran Gak Lui, kakek
guru telah memberi peringatan kepada Empat Pedang
supaya hati2 terhadap suhengnya yang pertama itu.
Jelas kalau murid pertama itu tentu memiliki kepandaian
yang amat sakti. Tetapi jika keempat tokoh pedang Bu
san itu bersatu padu, sudah tentu Lim Ih-hun itu tak
berani menghadapi. Kemungkinan dia tentu akan
berusaha untuk merebut pedang pusaka itu.
Tiba2 pikiran Gak Lui terbentur pada kecurigaan :
Kalau begitu apakah orang itu bukan yang menjelma
menjadi Maharaja Persilatan itu? Dan apakah bukannya
sipembunuh yang berhidung gerumpung itu? Ia cepat
menyimpulkan kesan dan bertanyalah ia kepada orang
sakti penolongnya itu, Pernahkah cianpwe melihat orang
itu ?
454

Per .... nah.


Adakah ujung hidungnya tak terluka?
Soal ini .... orang itu tampak tertegun kaget, mau
bicara lagi tetapi tak jadi. Rupanya ia menghadapi
kesulitan untuk menjawab pertanyaan Gak Lui.
Bagaimana, apakah dia berhidung atau tidak? Gak
Lui mendesak pula. Setelah mendeham, orang itupun
menyahut: Aku ketemu padanya tigapuluh tahun yang
lalu, pada masa itu belum....
Diam2 Gak Lui dapat menerima penyahutan itu.
Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke puncak Cap-jihong agar dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Maka ia segera memberi hormat dan minta diri lagi.
Sambil membalas hormat, Tio Bik lui bertanya: Bu-san
jauh sekali dari sini. Perjalanan yang berbahaya. Jika
engkau merasa tenaga-murnimu masih belum cukup,
akan kuberi penyaluran ...
Tak perlu, sahut Gak Lui serentak, dalam setengah
hari saja, tenagaku tentu sudah pulih lagi. Tiba2 orang
itu tertawa sambil mengurut jenggot. Sekali tubuhnya
bergeliat, ia sudah melambung ke udara dan meluncur
lenyap ke dalam hutan.
Hebat, sungguh kepandaian yang hebat sekali!
teriak Gak Lui memuji. Iapun segera lari masuk ke dalam
biara. Di bawah arca, ia bersemedhi melancarkan
tenaga-dalam Algojo dunia. Tak berapa lama ia rasakan
darahnya tenang lagi. Tenaga- murninya berangsurangsur pulih kembali.
Setengah jam kemudian dari jalan yang sunyi senyap
itu terdengar derap langkah orang berjalan menghampiri
sambil bercakap cakap: Celaka, budak Gak Lui yang
455

sudah hampir kita tangkap itu dapat lolos lagi ! Gak Lui
tak asing lagi dengan nada suara itu. Itulah si Rambut
Merah, salah satu dari Tiga Algojo anak buah Maharaja.
Rambut Merah geram sekali dan ber-ulang2 menghela
napas.
Benar, bahkan ketua dari Siau lim-si dan Ceng-siapay itupun dapat melarikan diri juga, kawannya ikut
bersungut-sungut.
Uh, siapakah orang yang menolong itu? Mengapa
ilmu kepandaiannya begitu tinggi... kata Garuda-sakticakar-emas. Mendengar mereka bertiga jumlahnya, Gak
Lui mengeluh. Tenaga-murninya baru pulih enam-tujuh
bagian. Tentu sukar untuk menghadapi ketiga iblis itu.
Ah, lebih baik ia tunggu beberapa saat lagi baru keluar.
Apakah saudara bertiga dapat melihat jelas muka
orang itu....terdapat cirinya ? tiba2 terdengar suara
orang lain kepada Tiga Algojo. Gak Lui benar2 tergetar
hatinya. Yang bicara itu jelas bukan ketiga Algojo
Maharaja tetapi si Utusan-berwajah-buruk dan si Penjaga
Neraka. Utusan-berwajah-buruk itu hanya seorang tokoh
golongan Hitam. Tetapi Penjaga-Neraka itu jelas kaki
tangan dari Maharaja. Pada waktu di istana Yok ongkiong tempo hari, Gak Lui memang bemiat hendak
membekuk orang itu tetapi karena saat itu jumlah kaki
tangan Maharaja banyak sekali, maka ia tak dapat turun
tangan. Sekarang tak terduga-duga berjumpa di situ.
Pada saat Gak Lui mempertimbangkan langkah, ke Tiga
Algojo Maharaja itu sibuk membicarakan tentang dugaan
mereka terhadap wajah orang yang telah menolong Gak
Lui. Gak Lui tak dapat mendengar jelas tetapi tiba2
didengarnya si Penjaga Neraka tiba2 berhenti.
Eh, apakah engkau kenal pada orang itu?
456

Ya, kalau kenal harap lekas katakan ! demikian


ketiga Algojo Maharaja itu mendesak kepada si Penjaga
Neraka. Beberapa saat kemudian barulah kedengaran si
Penjaga Neraka itu berkata: Aku hanya menduga
seseorang.....
Tak apa, katakanlah !
Tidak bisa sembarangan mengatakan, jawab
Penjaga Neraka dengan suara gemetar, hal ini harus
kulaporkan pada Maharaja dulu
Aneh, diam2 Gak Lui heran dalam hati, rupanya
Penjaga Neraka itu kenal akan ciri2 Tio Bik-lui tetapi
mengapa ia mengatakan hendak memberi laporan dulu
kepada Maharaja. Adakah di antara mereka terdapat
ikatan apa2 ?
Gak Lui makin tertarik. Ia tumpahkan seluruh
perhatian untuk mendengarkan lagi. Setelah berdiam diri
beberapa saat, Penjaga Neraka berkata pula: Sekarang
kita lebih baik berpisah dulu. Tiga Algojo dan saudara
Wajah-buruk supaya memburu jejak budak hina Gak Lui
itu. Bayangi dia dari jauh saja, jangan turun tangan....
Mengapa ?
Apa sebabnya, tak perlu kukatakan dulu. Tunggu
saja nanti aku menghadap Maharaja, tentu ada
keputusannya.
Dan engkau ?
Sudah tentu aku akan mencari kalian lagi. Tiga
Algojo itu mengiakan. Merekapun segera turun gunung.
Dan saat itu hanya tinggal si Penjaga Neraka seorang.
Tiba2 ia bersuit nyaring tiga kali. Rupanya ia duga
Maharaja tentu berada di sekitar tempat situ. Tindakan
Penjaga Neraka itu makin membuat tegang hati Gak Lui.
457

Jika Maharaja benar2 muncul ke situ, memang sukar


untuk turun tangan. Rupanya kecemasan Gak Lui itu tak
membawa akibat apa2. Suitan Penjaga Neraka itu seperti
terbenam dalam lautan besar. Tiada penyahutan sama
sekali. Karena diulang sampai beberapa kali tidak ada
hasilnya, Penjaga Nerakapun berhenti bersuit lalu
menuju ke biara....
Saat itu tenaga Gak Luipun sudah pulih delapan
bagian. Maka ia makin mempergiat penyaluran tenagamurninya. Untuk melindungi diri dari penglihatan lawan,
ia segera beringsut kebalik pintu. Tetapi entah
bagaimana, tiba2 ketika tiba di-pintu biara, si Penjaga
Neraka itupun hentikan langkah. Rupanya ia seperti
melihat orang.
Celaka, apakah dia mengetahui diriku? Atau apakah
Maharaja datang ? diam2 Gak Lui menduga duga.
Heh, heh, heh .... budak Gak, kiranya engkau berada
disini ! tiba2 Penjaga Neraka tertawa mengekeh.
Aneh! Mengapa teraling dinding tembok dia dapat
melihat diriku? Gak Lui terkejut sekali. Karena sudah
dipergoki, lebih baik ia menyelinap keluar saja. Tetapi
belum tubuhnya bergerak, tiba2 terdengar suara seorang
anak perempuan melengking bertanya kepada Penjaga
Neraka: Ih, apakah engkau ini anak buah Maharaja ?
Penjaga Neraka tertawa iblis. Bukannya menyahut ia
malah membentak: Budak perempuan, siapakah
engkau? Mengapa engkau berani tak menghormat
kepadaku ?
Walaupun tak menjawab, tetapi kata2 Penjaga
Neraka itu sudah mengunjuk siapa dirinya. Dan anak
perempuan tak dikenal itu bukan menjawab dengan
kata2 lagi melainkan dengan taburan pedang yang
458

menerbitkan angin menderu-deru. Mendengar nada


suara perempuan itu walaupun penuh dengan kesedihan
tetapi Gak Lui dapat menduga siapa orangnya.
Girangnya bukan kepalang. Tetapi ketika mendengar
deru angin gerakan pedangnya, Gak Lui tertegun kaget.
Ia tak asing lagi dengan gerak permainan pedang
semacam itu. Tanpa melihat saja dan cukup dengan
memperhatikan sambaran angin, tahulah dia bahwa
pedang itu dimainkan dalam jurus Memotong emas
memapas kumala. Ilmu pedang itu tiada seorangpun
tokoh persilatan yang mampu menggunakannya. Dan
teringatlah seketika ia akan pesan Bu-san It-ho. Barang
siapa menggunakan ilmu pedang itu, harus dibunuh.
Belum Gak Lui memutuskan langkah, tiba2 diluar biara
terdengar angin sambaran pedang menderu deru. Anak
perempuan itu melancarkan jurus Menjolok bintangmemetik-rembulan dan jurus Burung hong rentangsayap.
Gak Lui tak dapat bersabar lagi. Dengan sebuah
gerakan istimewa, ia sudah melesat di belakangnya
Penjaga Neraka. Dan sebelum Penjaga Neraka itu tahu
apa yang terjadi, tiba2 tengkuk kepalanya sudah tertutuk
dan bluk ... rubuhlah ia ke tanah. Gadis berpakaian putih
yang menyerang dengan pedang pada Penjaga Neraka
itupun terkejut dan cepat menarik pulang pedangnya.
Tetapi ketika pandang mata gadis itu terbentur pada
wajah Gak Lui yang mengenakan kedok, gadis itu seperti
melihat setan. Ia menyurut mundur setengah langkah
seraya berseru girang: Adik Lui ...engkau?
Engkoh Gim, eh..salah, taci Gim, aku memang Gak
Lui....
Engkau ... belum ... mati ...
Belum ! sambil menjinjing tubuh Penjaga Neraka,
459

Gak Lui berkata: Sejak berpisah di gunung Thian-gansan, siang malam aku selalu terkenang padamu.
Sungguh tak nyana kalau kita dapat berjumpa di sini.
Mari, kita ke dalam biara untuk beristirahat dan bercakapcakap !
Gadis berpakaian putih itu bukan lain memang Hi
Kiam-gim. Saat itu keangkuhannya sebagai seorang
pendekar lenyap. Yang tampak hanya sifatnya sebagai
seorang gadis yang pemalu.
Mari, kita duduk di dalam biara, Gak Lui mengulangi
ajakannya lagi. Sejenak merenung, Hi Kiam gimpun
segera ikut masuk ke dalam biara, Gak Lui lemparkan si
Penjaga Neraka di sudut, serunya:
Taci Gim, dia kaki tangan Maharaja Persilatan. Dia
tentu tahu jelas tentang diri Maharaja. Aku hendak
menanyainya lebih dulu baru nanti kita bercakap-cakap
lagi, setuju?
Tanyailah! Akupun akan pergi lebih dulu! seru nona
itu.
O.... desus Gak Lui terkejut sekali mendengar
pertanyaan yang tak bersahabat itu, taci Gim, mengapa
engkau begitu terburu- buru sekali hendak pergi? Adakah
engkau sudah tak ingin mengetahui tentang asal usul
musuh yang telah membunuh orangtuamu?
Ini ....
Mengapa ?
Asal usul musuh tak berguna. Yang penting yalah
membalas dendam kepadanya!
Apakah engkau sudah mempunyai rencana?
Mengundang seluruh orang gagah dalam dunia
460

persilatan untuk bersama-sama menumpas iblis itu!


Mengandalkan bantuan orang lain, bukanlah cara
yang tepat. Dan lagi menurut nada ucapanmu itu, seolaholah engkau sudah tahu asal usul musuh itu !

Gak Lui makin curiga. Dia tak mengacuhkan si


Penjaga Neraka lagi lalu menghampiri Kiam-gim:
Adakah engkau mempunyai rahasia lain yang tak boleh
kuketahui ?
Tergetar tubuh nona itu. Namun ia tetap bungkam.
Gak Lui maju merapat dan mendesak pertanyaan lagi:
Taci Gim, sejak berpisah di gunung Thian-gan-san, ke
manakah engkau? Berjumpa dengan siapa sajakah? Dari
mana engkau mempelajari ilmu pedang Bu-san-kiamhwat itu ....
Aku tak dapat mengatakan apa2
Sebabnya ?
Aku telah bersumpah takkan mengatakan hal itu
kepada siapapun juga!
Termasuk aku?
Tidak ... tidak salah! seru nona itu dengan tersendat
dan dua butir air mata menitik dari pelupuknya. Gak Lui
putus asa dan tegang sekali. Dicekalnya tangan nona itu
dan berkatalah ia dengan serius: Engkau tak boleh
mengelabuhi aku. Apakah engkau melupakan hubungan
kita dan dendam sakit hati dari orangtua kita?
Dengan nada penuh haru kerawanan, Hi Kiam-gim
menyahut: Adik Lui, apakah engkau ingin mendesak aku
supaya berbohong....melanggar sumpah...? Yang dapat
kuberitahukan kepadamu hanyalah....lekas undang
461

seluruh jago-jago sakti di dunia persilatan, untuk


bersama-sama.
Tidak! Mereka sendiri tentu sudah sibuk dengan
urusan masing2. Dan lagi kalau jumlahnya makin
banyak, makin banyak pula pendapatnya sehingga sukar
melaksanakan pekerjaan besar. Sekalipun tidak begitu,
pun aku tak suka meminta bantuan orang. Karena itu
engkau....
Bagaimana ?
Harus mengatakan dengan terus terang !
Kalau tidak mengatakan ?
Takkan kubiarkan engkau pergi,.. dalam tegangnya
Gak Lui lupa diri. Dicengkeramnya lengan nona itu
keras2 hingga Kiam- gim sampai mengerang kesakitan
tetapi ia tetap bertahan. Dengan berlinang-linang, nona
itu maju selangkah dan berseru:
Bagaimanapun juga aku tak dapat mengatakan.
Kalau engkau marah, silahkan bunuh sajalah aku ini....
Membunuhmu ?
Ya, aku rela mati di tanganmu !
Engkau tak menghiraukan dendam kepada musuh
lagi ?
Kepandaianku tak seperti engkau. Asal engkau
masih hidup saja, tentu kelak dapat membasmi Maharaja
itu dan membalaskan sakit hatiku.
Mengapa engkau yakin kalau Maharaja
musuhmu. Kalau begitu engkau tentu tahu akan...

itu

Aku tak pernah mendengar namanya yang aseli.


Tetapi bahwa dia itu musuh kita, memang tak salah lagi !
462

Siapa yang bilang ?


Ini ... ini ... engkau sendiri yang sering mengatakan
begitu.
Heh, heh, heh, heh.... meluaplah amarah Gak Lui
dan dihamburkannya dengan tertawa iblis, benar, aku
memang pernah mengatakan begitu. Tetapi soal itu
memang berbelit-belit. Selain dia, mungkin masih ada
orang lain lagi.
Siapa ?
Perguruan Busan mempunyai seorang murid yang
berhianat. Dia telah menguasai pedang pusaka Halilintar.
Diapun salah seorang yang patut dicurigai....
Tidak ! Tidak ! tiba2 Hi Kiam-gim membantah keras
tetapi tak mau melanjutkan kata-katanya lagi. Gak Lui
makin curiga, tanyanya: Engkau berani mengatakan
bukan, tentulah sudah pernah bertemu dengan orang itu
!
Adik Lui...
Jangan panggil aku adik Lui lagi, bila engkau tak
mau mengatakan terus terang....
Tiba-tiba nada Hi Kiam-gim berobah sedingin es,
serunya: Tidak mengakui hubungan kakak adik jauh
lebih baik. Tetapi kuberitahu kepadamu sebuah hal.
Musuh kita hanya Maharaja seorang. Tak ada lainnya
lagi. Tentang pedang pusaka Halilintar, juga tiada orang
yang menguasainya. Tetapi....
Tetapi bagaimana?
Engkaupun tak perlu mengambilnya.
Apa sebabnya ?
463

Engkau takkan tahu tempatnya.


Hm, pedang itu disimpan di istana Bikiong dipuncak
Cap ji-hong gunung Busan. Aku sudah tahu.
Tahupun tiada berguna. Tanpa mengetahui tandarahasianya, tak mungkin dapat masuk.
Tanda rahasia? Aku dapat menduganya.
Tak dapat menduga, ada lebih baik. Jika dapat
menduga tepat, berarti mati!
Ho, engkau berani menakuti aku....
.Lui, bukan aku menakuti engkau tetapi demi
memikirkan keselamatan dirimu.
Ngaco belo! Engkau benar2 menghina. Tiada
berperasaan. Aku akan bertanya kepadamu, bagaimana
engkau telah pergi ke gunung Busan dan mengangkat
seorang murid hianat sebagai guru ....
Apa alasanmu mengatakan begitu ?
Ilmu pedang yang engkau mainkan itu, merupakan
bukti yang nyata! Saat itu Hi Kiam-gimpun marah. Ia
membantah : Pergi ke Busan itu adalah atas petunjuk
tulisan darah dari bibi gurumu....
Oh ! Gak Lui berseru kaget. Seketika
kecurigaannyapun berkurang dan dilepaskannya tangan
sinona yang dicekalnya itu lalu memintanya: Berikan
kepadaku !
Apa ?
Tulisan darah dari bibi guruku itu !
Baik, Hi Kiam-gim terus merogoh ke dalam bajunya
tetapi tiba2 ia teringat bahwa tulisan darah itu terdapat
petunjuk rahasia masuk ke dalam istana Bik-kiong. Demi
464

keselamatan
jiwa
mengeluarkannya.

pemuda

itu,

ia

tak

jadi

Eh, mengapa engkau tak mengeluarkan ?


Per....cuma.
Tentu sudah tak ada, bukan ?
Engkau menjunjung kepercayaan atau tidak?
Uh, tahu dengan segala kepercayaan! Sungguh tak
nyana sejak berpisah engkau telah berobah menjadi
seorang berhati ular. Akan kusingkap kerudung mukamu
agar kuketahui apakah wajahmu juga sudah berobah !
Secepat kilat tangan Gak Luipun menyambar. Tetapi
ternyata Hi Kiam-gim sudah waspada. Ia memang sudah
menduga pemuda itu akan berbuat begitu. Maka ia
mendahului berputar tubuh dan melesat ke pintu seraya
berseru: Jangan coba melihatnya......
Hm, engkau benar2 berobah !
Berobah? nada Hi Kiam-gim lebih rawan dari orang
menangis,
ya, benar. Memang sudah berobah !
Mengapa ?
Engkau .... engkau ... tak perlu mengurusi ! sahut
nona itu. Kali ini nadanya seperti putus asa. Sikap sinona
yang tak mau mengatakan tentang keadaan gunung
Busan dan nada bicaranya yang tak mengunjuk
keramahan itu, benar2 menyalakan kemarahan Gak Lui.
Dan akhirnya jawabannya yang terakhir itu, makin
meluapkan kemarahan Gak Lui sehingga pemuda itu tak
henti2nya tertawa mengekeh yang menyeramkan.
Akhirnya Gak Lui maju selangkah dan dengan geram
berkata:
465

Engkau bilang tak perlu kuurusi, sebaliknya aku


malah hendak mengurusi !
Atas hak apa ?
Atas dasar ilmu pedang Busan yang engkau
mainkan tadi, cukuplah memberi hak kepadaku untuk
mewakili ayah, menjatuhkan hukuman.
Lui, engkau benar2 limbung....
Jangan banyak omong ! bentak Gak Lui, tadi
engkau mengatakan kepingin mati. Sekarang aku
hendak meluluskan dan menyempurnakan keinginanmu
itu. Lekas cabutlah pedangmu ! Melihat pemuda itu
diliputi hawa pembunuhan, Hi Kiam-gin terkejut menyurut
mundur setengah langkah dan menggigil.
Jangan takut kenyataan yang menyedihkan ini.
Mengingat pada kedua tokoh Hay lan-song-kiam, aku
hanya akan menggunakan jurus ilmu pedang Sam ciaukiam-hwat dan tenaga dalam lima bagian saja untuk
menghadapi engkau secara adil!
Baik ! mendengar janji itu, Hi Kiam gim menyahut.
Tetapi beberapa kali mata nona itu berkilat kilat. Rupanya
ia tengah menimang sesuatu dalam hati. Akhirnya ia
berseru: Sebelum bertempur, aku mempunyai sebuah
permintaan.
Bilang !
Harap engkau jangan pergi ke istana Bu-san-bikiong karena itu hanya mengantar kematian saja....
Hm, tak perlu engkau menggertak aku. Betapapun
juga, aku tetap hendak mengambil pedang pusaka
Halilintar itu dan akan mencincang tubuh murid hianat
Lim Ih-hun.
466

Tutup mulutmu! Jangan menghina guruku, karena


marah dan tegang, secara tak disadari Hi Kiam-gim telah
membocorkan rahasia dirinya. Gak Lui makin marah
sekali sehingga tangannya gemetar, serunya: Tadi
kukatakan engkau berguru pada seorang jahat, ternyata
benar !
Hi Kiam-gim terbeliak kaget setelah menyadari
kelepasan omong. Cepat ia bertanya: Engkau ...engkau
ini bagaimana.... apakah engkau tahu nama dari beliau?
Siapa yang bilang kepadamu ?
Heh, akupun sudah berjanji kepadanya, takkan
mengatakan hal itu kepada siapapun juga!
Aneh...orang ini benar2 mencurigakan.... gumam Hi
Kiam-gim. Mendengar itu Gak Lui makin marah. Serentak
ia mencekal tangkai pedangnya dan membentak:
Sudahlah, tak perlu ngaco belo ! Lebih dulu aku hendak
mewakili Hi Hui-liong cianpwe untuk memberi hajaran
kepada anak perempuan yang tak berbakti seperti ini.
Setelah itu, aku akan menuju ke Busan untuk membunuh
murid murtad itu. Hayo, lekas engkau mulai menyerang !
Kata2 Gak Lui itu tegas dan bernada dingin sekali. Hi
Kiam-gim yang sudah tahu bagaimana keras watak
pemuda itu, tahu bahwa percuma saja ia hendak
membantah.
Karena nyata-nyata engkau tak sayang pada
jiwamu, terpaksa akupun harus hidup agar ada yang
akan menuntut balas dendam darah itu ! seru Hi Kiamgim dengan mata berkilat-kilat. Ia menutup kata dengan
sebuah gerakan menggentakkan pedang. Ah, memang
dia telah bersiap mainkan ilmu pedang dari perguruan
Busan. Saat itu, kedua pemuda yang semula berbahasa
kakak beradik, saling berhadapan sebagai lawan. Gak
Luipun sudah bersiap dengan pedang terhunus. Tetapi
467

karena mengingat hubungan mereka yang pernah akrab


seperti saudara, keduanya tak mau menyerang lebih
dulu. Setelah saling berhadapan sampai beberapa
waktu, akhirnya Gak Lui yang pecahkan ketegangan saat
itu, serunya: Tadi aku sudah bilang akan menggunakan
tiga jurus ilmu pedang dari perguruanku. Serta
menggunakan lima bagian tenaga dalam saja. Tetapi
apapun kepandaian yang engkau miliki, silahkan engkau
mengeluarkan semua !
Di luar dugaan ucapan pemuda itu telah membuat Hi
Kiam-gim seperti disadarkan dari mimpi. Ia tahu pemuda
itu seorang yang keras kepala. Dicegahpun tak mungkin
mau menurut. Mengapa tak ia biarkan saja pemuda itu
menuju ke Busan untuk adu nasib? Tentang urusan sakit
hati, ia sendirilah yang akan menyelesaikannya. Dengan
kesimpulan itu, Hi Kiam-gim memutuskan supaya
keduanya jangan sampai ada yang terluka .... Tetapi hal
itu memang sukar dilaksanakan.
Jika kugunakan pedang pusaka Hi-jong-kiam untuk
memapas pedang lawan, dikuatirkan pedang pusaka
Pelangi dari pemuda itu dapat menahan. Karena pedang
Pelangi itupun pedang pusaka yang mampu memapas
kutung sehelai rambut. Apabila ia gunakan pelor asap
hitam buatan keluarga Hi, ia kuatir akan menimbulkan
salah faham. Kalau ia gunakan api Cek-yan-sin- hwe,
pemuda itu tentu terancam jiwanya, ah .... tak boleh....
Tengah Hi Kiam gim sulit mencari akal untuk
menghadapi Gak Lui, tiba2 ia seperti mendapat ilham
dari ucapan Gak Lui itu. Tak ayal lagi, ia segera
melangkah maju dan gunakan jurus Menjolok- bintangmemetik-bulan untuk memapas pedang Gak Lui. Gak Lui
faham sekali akan tiga jurus ilmu pedang dari perguruan
Busan. Salah satu jurus itu yalah jurus yang dimainkan Hi
468

Kiam- gim itu. Dengan mendengus dingin, secepat kilat ia


gentakkan tangannya dan laksana angin menyambar, ia
segera balas memapas. Kedua-duanya sama-sama
menggunakan ilmu-pedang dari satu perguruan. Seketika
memancarkan dua gulung sinar pedang yang saling
melingkar dan melibat. Tak ubah seperti sepasang naga
yang sedang bercengkerama di lautan. Setelah tiga jurus
ilmu pedang itu selesai, mereka mengulang lagi. Dengan
cara bertempur semacam itu, cepat sekali lima puluh
jurus telah berlangsung tanpa ada yang kalah dan
menang. Dan cepat pula seratus jurus hampir
berlangsung. Gak Lui benar2 merasa sulit. Pertama, dia
menggunakan tenaga-dalam lebih sedikit dari sinona.
Sama sekali tak pernah diduganya bahwa dalam
perpisahan yang sangat singkat itu, tenaga-dalam Hi
Kiam- gim telah mencapai kemajuan yang luar biasa
pesatnya. Dengan menggunakan lima bagian tenagadalam itu, jelas Gak Lui tak mungkin menang. Kedua,
ternyata ia kalah dalam ilmu meringankan tubuh dari
sinona. Padahal ia telah mendapat pelajaran dari tiga
tokoh sakti. Sedang Hi Kiam-gim hanya dari seorang
tokoh saja. Dari kenyataan itu jelas mengunjukkan bahwa
murid murtad Lim Ih- hun benar-benar sakti
kepandaiannya. Dan tokoh murtad itu benar-benar telah
mencurahkan seluruh kepandaiannya kepada Hi Kiamgim. Merenungkan hal itu, perhatian Gak Lui terganggu
sehingga tangannya mengucurkan keringat deras.
Diliriknya nona itu, ah, ternyata wajahnya tenang sekali.
Salah ! tiba-tiba Gak Lui tersadar, jika pertempuran
berlangsung cara begini, entah sampai kapankah akan
selesai? Ah, untunglah tenaga-dalam Algojo-dunia itu
merupakan ciptaan dari paman guru si Pedang Iblis
sendiri, baiklah kucobanya lima bagian saja. Setelah
menetapkan rencana, secepat kilat ia balikkan tangan
469

kanan, wut......bagaikan gunung rubuh, pedang menabas


Hi Kiam-gim. Sesungguhnya hati Hi Kiam-gim sudah
tenang sekali. Ia yakin sekali walaupun sampai ratusan
jurus, pertempuran itu tidak mungkin selesai. Dan
tercapailah rencananya agar supaya pertempuran itu
jangan sampai mengucurkan darah. Tetapi diluar
dugaan, ia tak menyangka Gak Lui akan lancarkan
serangan jurus Algojo-dunia yang hebat. Terpaksa ia
terhuyung huyung menyurut mundur. Sambil mengertak
gigi, ia loncat sampai tiga tombak jauhnya. Ia sudah
pernah menyaksikan kedahsyatan dari ilmu pedang
Algojo-dunia yang dilancarkan Gak Lui. Maka tak
beranilah ia adu kekerasan menangkisnya. Ia tahu
apabila menangkis pemuda itu akan meminjam tenaga
untuk menyusuli dengan serangan berikutnya yang lebih
dahsyat. Hi Kiam-gim gunakan jurus Burung-hongrentang-sayap, taburkan pedang dalam gulungan sinar
yang melindungi tubuhnya. Serangannya berhasil
mendesak lawan, Gak Lui tak mau menyia-nyiakan
kesempatan sebagus itu. Ia maju merapat untuk
menyerang lagi. Tetapi sekonyong-konyong pedang Hi
Kiam-gim memancarkan lingkaran sinar pedang yang
aneh. Dari lingkaran sinar pedang itu menghambur
beribu ribu percikan sinar dingin yang menyerangnya dari
segala penjuru. Sambaran anginnya mendengungdengung bagai ribuan tawon keluar dari sarang.
Gak Lui terkejut bukan kepalang. Walaupun cukup
banyak pengalaman dalam pertempuran senjata tetapi
Gak Lui benar2 tak mengetahui ilmu pedang apa yang
dimainkan Hi Kiam-gim saat itu. Dalam gugup ia hanya
putar pedangnya untuk melindungi diri. Tetapi menyusul
terjadilah hal yang lebih membuat Gak Lui terkejut lagi.
Ketika terjadi benturan pedang, tiba2 terdengar suara
kres, kres, macam rambut terkupas. Apa yang terjadi
470

benar membuat Gak Lui kucurkan keringat dingin.


Ternyata ujung pedang Hi Kiam-gim dapat menerobos ke
dalam lingkaran sinar pedang Gak Lui, terus digeliatkan
menggurat bentuk silang. Tepat sekali, tidak lebih pun
tidak kurang ujung pedang nona itu telah mencukur alis
Gak Lui. Untung pemuda itu mengenakan topeng kulit
binatang kera yang tak tembus senjata. Sekalipun tak
sampai terluka tetapi tenaga ujung pedang itu cukup
membuat Gak Lui terhuyung mundur tiga langkah.
Gerakan pedang Hi Kiam-gim itu benar2 luar biasa
cepatnya, setelah Gak Lui mundur, iapun tertegun. Gak
Luipun terkesiap. Tetapi cepat ia dapat menyadari apa
yang menimpa dirinya. Ia yakin ilmu pedang Hi Kiam gim
itu tentulah jurus istimewa yang digunakan mendiang
ayahnya dahulu untuk menghadapi musuh. Benar2 suatu
jurus yang hebat bukan kepalang. Dalam terhuyung
mundur itu, Gak Lui dapat mencuri kesempatan untuk
balas menyerang. Cret .... terdengar suara kain kerudung
muka Hi Kiam-gim pecah dan menyusul kedua sosok
tubuh itupun loncat mundur. Ketika berdiri tegak, Gak Lui
menjerit kaget. Karena saat itu setelah kain kerudung Hi
Kiam-gim robek, dapatlah ia melihat wajah nona itu.
Wajah Hi Kiam-gim yang semula cantik mulus, ternyata
kini berhias dengan gurat2 bekas ujung pedang. Dan
berobahlah menjadi sebuah wajah yang menyeramkan.
Wajah itu penuh dengan warna tutul2 biru, seperti luka
yang baru sembuh.
Pemandangan itu benar2 menggoncangkan hati Gak
Lui. Bagai terguyur oleh air dingin, gemetarlah bibir Gak
Lui tanpa dapat mengucap apa-apa .... Baru setelah
nona itu melesat sampai seratusan tombak jauhnya, Gak
Lui tersadar gelagapan dan terus memburu seraya
berteriak seperti orang gila: Taci Gim ....taci Gim...!
471

Gak Lui berseru kalap dan lari mengejar sepesat


angin. Tetapi ilmu lari cepat dari Hi Kiam-gim jauh lebih
hebat. Apalagi ia malu karena wajahnya yang rusak
hendak dilihat pemuda itu. Maka berlarilah ia seperti
terbang. Tampak dua sosok tubuh saling berkejaran
bagaikan bintang jatuh diangkasa. Yang satu hendak
mengejar, yang satu hendak melarikan diri. Akhirnya
dapat juga Gak Lui memperpendek jaraknya tinggal dua
tigapuluh tombak.
Taci Gim, tunggulah dulu. Aku hendak bicara....
Sret, sret, sret ... yang menyahut bukan mulut sigadis
tetapi dua larik pelor yang mendesis desis diudara. Larik
yang dimuka berwarna hitam gelap. Sepintas seperti
burung belibis terbang. Sedang larik di belakang,
berwarna merah. Melihat itu Gak Lui terkejut dan cepat
enjot tubuh melambung keudara sampai lima tombak
tingginya. Tetapi sekonyong-konyong pelor itu meletus
dan menghamburkan asap hitam membubung keudara.
Dalam gugup Gak Lui cepat lontarkan hantaman untuk
menghalaunya. Tetapi menyusul dengan itu, dua tiga
puluh butir pelor melayang pula kearahnya .... Dengan
susah payah, Gak Lui berhasil menghindarkan diri dari
taburan asap hitam tetapi ketika meluncur kebumi,
ternyata Hi Kiam-gim sudah lenyap. Nona itu pergi
dengan membawa hati yang patah ....
Ah, aku salah faham kepada taci Gim, sehingga dia
pergi dengan patah hati, kata Gak Lui sambil
menengadah memandang langit. Ia menghela nafas:
Untung dia masih mempunyai rencana untuk
menghubungi partai2 persilatan. Kepergiannya tentulah
hendak melaksanakan rencananya itu. Tentang
wajahnya yang rusak itu tentulah atas tindakannya
sendiri. Ia tentu mengira kalau aku sudah mati lalu
meniru tindakan bibi guruku yang merusak wajahnya
472

sendiri. Menilik kenyataan itu jelas hatinya belum


berobah. Karena salah faham itulah maka ia kena
diperalat oleh Lengan-besi hati-baik Lim Ih hun....
Teringat akan murid murtad dari perguruan Busan itu,
seketika meluaplah kemarahan Gak Lui. Tetapi
disamping itu, iapun mempunyai beberapa kecurigaan.
Maharaja Persilatan itu jelas mempunyai hubungan
dengan perguruan Busan. Menurut keterangan Hi Kiam
gin tadi, Lim Ih- hun juga mengatakan bahwa Maharaja
itulah yang membunuh orang tua Gak Lui. Diam-diam
dalam hati Gak Lui bersangsi. Adakah keterangan Lim Ihhun itu dapat dipercayainya? Dan apakah Lim Ih-hun
dengan Maharaja itu tiada hubungan apa2 ? Juga tokoh
Tio Bik-lui yang menolongnya itu mengatakan bahwa Lim
Ih-hun menguasai pedang pusaka Halilintar. Menilik
bahwa Maharaja berada didunia persilatan dan Lim Ihhun bersembunyi di-gunung Busan, seharusnya kedua
orang itu bukan orang yang sama. Teringat ia akan
keterangan mendiang ayah-angkatnya bahwa pembunuh
itu tak punya hidung dan pedangnya terdapat gurat tanda
silang empat. Dengan begitu jelas bahwa pembunuh
orangtuanya itu tentulah hanya seorang saja. Ah...
namun ia masih belum berani memastikan hal itu.
Adakah pembunuh itu hanya seorang saja atau memang
dua orang ....
Soal itu selalu menjadi teka teki dalam hati Gak Lui.
Dan setiap kali ia berjumpa dengan sesuatu jejak, dia
malah makin bingung. Tanda silang empat pada pedang
pembunuh itu sudah dihapus oleh ahli pembuat pedang
Bok kiam su yang telah dibunuh oleh iblis Pek-kut Mokun. Dan Pek-kut Mo-kunpun telah dibunuhnya tanpa
sempat ia tanyakan keterangannya.
Jejak yang menuju kearah penyingkapan tabir
473

rahasia pembunuh itu sudah lenyap. Sekarang hanya


tinggal dua kemungkinan yang terbagi pada tempat yang
jauh yalah di istana Bu san bi-kong untuk mencari Lim Ihhun. Menurut keterangan, di guha gunung Busan itu
memang terdapat seorang tua yang berhidung
gerumpung. Dia tentulah Lim Ih-hun simurid murtad itu.
Jejak yang dekat tak lain berada pada diri si Penjaga
Neraka. Dia tentu tahu asal usul Maharaja.... memikir
sampai disitu, Gak Lui cepat berputar tubuh dan lari
kembali ketempat biara tadi. Ketika tiba di muka pintu
biara, dilihat Penjaga Neraka itu masih terkapar disudut
ruang. Segala sesuatu dalam biara itupun masih seperti
beberapa saat tadi. Gak Lui menarik napas longgar. Ia
segera menghampiri orang itu dan menutuk tengkuknya.
Uh ia terkejut ketika rasakan ujung jarinya
membentur batok kepala yang empuk. Cepat ia
mempunyai kecurigaan. Dibalikkan tubuh Penjaga
Neraka itu dan ah...ternyata dia sudah mati ! Gak Lui
kaget seperti dipagut ular. Dilihatnya wajah Penjaga
Neraka itu mengerikan sekali. Dari mulut dan hidungnya
mengalirkan darah kental campur cairan otak.
Pancainderanya tengeng semua. Tentulah ketika mati,
dia melihat pembunuhnya yang berwajah seram.
Tadi kugunakan tutukan ringan untuk menutuk jalan
darahnya. Tak mungkin dapat menghancurkan benaknya
sampai berhamburan keluar begini. Tentulah ada
seorang lain yang datang kemari. Orang itu dengan
kejam telah menghancurkan urat urat nadinya. Suatu
bukti bahwa pembunuh itu lebih sakti dari kepandaianku.
Tokoh persilatan yang memiliki kepandaian sesakti itu
dapat dihitung jumlahnya.....lalu siapakah pembunuh itu?
Kawan atau lawan? Sengaja membunuh atau hanya
secara kebetulan saja? Jika orang itu tokoh aliran Putih,
tentu tak mungkin mau mencelakai orang yang sudah tak
474

dapat berkutik. Tetapi kalau dari golongan Hitam, orang


itu tentu akan menolong Penjaga Neraka ini..... Kini
bukan saja membunuh, pun pembunuh itu telah
meninggalkan suatu teka teki yang sulit. Rasanya dia
hendak mengejek Gak Lui ....
Setelah merenung beberapa saat, akhirnya ia
gunakan ketajaman hidungnya untuk menyelidiki bekas
yang ditinggalkan pembunuh itu. Tetapi gagal. Sama
sekali ia tak dapat mencium sesuatu bau yang baru dan
aneh.
Ah, menilik kepandaiannya, kemungkinan tentu
Maharaja sendiri yang datang. Karena kuatir Penjaga
Neraka itu akan memberi keterangan, maka segera
dilenyapkan sendiri tetapi mengapa ketika Penjaga
Neraka bersuit memberi tanda tadi, Maharaja tak
muncul? Oh, apakah mungkin Tio Bik-lui yang datang
kembali lalu membunuh iblis ini? Tetapi mengapa dia tak
mau unjuk diri? Tiba2 pula ia teringat akan ucapan Hi
Kiam gim bahwa peribadi Tio Bik lui itu memang
mencurigakan. Tetapi atas dasar apakah nona itu
mencurigainya? Oh, Penjaga Neraka sendiri juga merasa
heran kepada diri Tio Bik-lui itu. Tetapi apakah yang
diherankan itu ?
Benak Gak Lui penuh dengan tanda tanya yang tak
dapat dipecahkannya.....
JILID 10
Gak Lui menghela napas dan geleng2 kepala. Nah,
rasanya semua jawaban, hanya dapat diperoleh di istana
Bi-kiong gunung Busan.
Keputusannya mantap dan menujulah ia ke gunung
475

Busan.
Gunung Busan mempunyai 12 puncak. Alamnya
indah tetapi berbahayanya bukan buatan. Dari jauh
tampak enam dari keduabelas puncaknya itu berderet di
barisan luar, sedang enam puncak yang di dalamnya,
menjulang tinggi seperti menembus awan.
Berhadapan dengan pemandangan gunung yang
sedemikian perkasa itu, mau tak mau orang tentu
termenung. Merasa dirinya kecil menghadapi kebesaran
alam yang penuh rahasia itu.
Tubuh Gak Lui tampak seperti setitik benda hitam
ketika ia mendaki lereng gunung yang penuh dengan
hutan belantara itu. Ketika tiba di muka puncak, ia
hentikan larinya. Ia tertegun menyaksikan kehebatan dari
gunung yang berlapis tujuh buah puncak itu. Di mulut
jalan yang memasuki pegunungan itu, merupakan
sebuah hutan batu yang berbentuk rupa2. Setengahnya
memang berasal dari alam, setengahnya dibuat oleh
manusia. Mulut jalan itu mempunyai belahan jalan yang
tak terhitung jumlahnya. Jalanan2 itu rupanya dapat
mencapai semua puncak. Tetapi bagi Gak Lui yang
sudah berpengalaman menempuh badai pergolakan,
tahulah bahwa puluhan jalanan yang aneh itu tentu
merupakan sebuah barisan susunan. Dan tak beranilah
ia gegabah memasukinya.
Apa yang dikata Tio Bik-lui cianpwe itu memang
benar, diam2 ia berkata seorang diri, ke 12 puncak ini
memang mengandung kegaiban yang hebat. Dan
sayangnya aku memang tak begitu mengerti akan
barisan
Kiu-kiong-pat-kwa.
Sedang
diapun
tak
menerangkan di manakah letaknya istana Bikiong itu ....
Sejenak termenung mengatur langkah, akhirnya ia
476

memutuskan untuk menggunakan cara menyelidiki. Jika


murid penghianat si Lengan-besi Lim Ih-hun itu keluar
masuk melalui jalanan itu, tentulah dia meninggalkan
jejak berupa telapak kaki.
Baiklah aku mengitari gunung ini untuk mencari
sesuatu jejak, akhirnya ia mengambil ketetapan. Segera
ia mulai gerakkan sang kaki untuk lari mengitari
pegunungan Bu san yang luasnya beratus ratus li itu.
Mataharipun mulai terbenam, malampun tiba. Kemudian
rembulan silam, bintang2 pun lenyap lagi. Dan mentari
pagi kembali muncul. Ah, sudah sehari semalam ia
berlari. Saat itu ia kembali tiba di tempat semula yalah di
muka hutan batu. Jerih payahnya itu tak menghasilkan
suatu apa. Baik jejak telapak kaki maupun bau orang,
sama sekali ia tak mendapatkannya. Rupanya sudah
bertahun-tahun lamanya, tiada seorang manusia yang
masuk ke dalam pegunungan itu.
Bagaimana ini...? akhirnya bertanyalah ia kepada
dirinya. Tiba2 ia busungkan dada dan gelorakan
semangat lalu membentak keras: Serbu! Sekali enjot
kaki, tubuhnyapun melayang setombak tingginya. Tetapi
tepat pada saat itu terdengarlah sebuah suara teriakan:
Jangan ....! Sesosok tubuh melayang tiba di
belakangnya, Gak Lui tak asing dengan nada suara itu.
Cepat ia bergeliatan berputar tubuh ke belakang. Pada
saat ia turun ke tanah, cepat ia memberi hormat kepada
orang itu: Ah, kiranya Tio cianpwe! Kapankah cianpwe
tiba di sini? Ternyata yang muncul itu bukan lain adalah
Tio Bik-lui. Gak Lui tak tahu apa maksud kedatangan
orangtua itu. Sambil membalas hormat, Tio Bik-lui
menyahut: Aku sudah tiba lama di sini ....
O, apakah cianpwe kemarin
477

Benar, kemarin aku memang melihatmu tetapi tak


mengapa, tukas Tio Bik-lui.
Mengapa ?
Kukira engkau telah mendapat petunjuk dari
Keempat Pedang dan dapat mencapai istana Bi-kiong
maka akupun tak mau mengganggumu. Tetapi karena
ternyata engkau kembali, terpaksa kutegurmu.
Kalau
petunjuk?

begitu,

cianpwe

tentu

dapat

memberi

Benar, karena terburu-buru maka dalam pertemuan


tempo hari aku tak sempat bicara banyak. Oleh karena
itu maka sengaja aku menyusul kemari.
Gak Lui merasa berterima kasih: Entah dalam soal
apakah maka cianpwe begitu menaruh perhatian kepada
diriku?
Tio Bik-lui mengangguk: Benar, kedatanganku
kemari perlu menasehati engkau agar engkau pulang
saja.
Pulang ? Gak Lui heran.
Ya, pulanglah !
Gak Lui makin heran dan goyangkan tangan:
Cianpwe, jangankan saat ini aku sudah berada di depan
gunung ini. Sekalipun belum, tetapi aku memang sudah
mempunyai rencana untuk datang kemari. Maka sukarlah
aku menerima nasehat cianpwe untuk pulang itu. Aku
bersedia untuk menghadapi segala macam kesulitan !
Ah, tak perlu, kata Tio Bik-lui seraya maju setengah
langkah, karena nyata engkau tak mengerti barisan
Bikiong, maka pulang dan suruh saja Empat Pedang
yang datang !
478

Tidak ! Tidak ! seru Gak Lui, aku lebih suka


menerjang maju dari pada harus pulang !
Ih... Tio Bik-lui mendesis napas, memang kutahu
watakmu keras, sukar diberi nasehat. Kalau begitu.
matanya berkilat melirik ke arah deretan puncak gunung.
Memperhatikan kerut wajah dan arah yang dilirik orang
tua itu, Gak Lui segera berseru sambil tertawa: Benar,
kumohon lebih baik cianpwe memberi petunjuk jalan
masuk ke gunung ini.
Ah, memberi petunjuk sih aku tak berani. Kalau
mampu, aku tentu sudah mengambil pedang pusaka
Thian-lui-koay-kiam itu untukmu ....
Harap cianpwe jangan merendah diri dan suka
memberi petunjuk. Tio Bik lui menunjuk ke arah gunung
dan berkata: Yang dimaksud dengan istana Bi-kiong
gunung Busan itu, yalah keenam puncak yang berada di
sebelah atas itu. Tetapi jalanan menuju keenam puncak
itu, sukarnya bukan kepalang, dapat membuat orang
tersesat. Kabarnya hanya si Burung Bangau dari Busan
saja yang mampu keluar masuk ....
Tak ada orang yang lain lagi ? Gak Lui menegas.
Kecuali dia ....si Lengan-besi Lim Ih-hun dan
ayahmu serta Empat Pedang itu, mungkin dapat juga.
Oh, harap cianpwe suka menerangkan lebih lanjut.
Memang aku mengerti sedikit2 tentang ilmu Ngoheng-seng-khik
dan
Pat
kwa-kiu-kiong.
Tetapi
perobahan2 dari pintu Ki, Ceng, Sun, Li dari barisan
keenam puncak itu, benar2 hebat sekali. Paling banyak
aku hanya tahu satu dua puncak saja. Kalau tahu
tentang ilmu Ni-coan-heng-tay-hwat..
Bicara sampai di sini Tio Bik-lui berhenti dan
479

merenung. Pada lain saat tiba2 ia bertanya: Ya, apakah


engkau mengerti akan ilmu berputar menyungsang Ngo
heng ?
Mendengar pertanyaan itu, seketika Gak Lui teringat
akan petunjuk Permaisuri Biru yang memberinya
pelajaran tiga jurus gerak-langkah yang aneh. Maka
tanpa ragu2 ia anggukkan kepala: Yang kuketahui
hanya kulitnya saja. Harap lo-cianpwe suka lanjutkan
keterangan cianpwe itu.
Mendengar jawaban itu, Tio Bik-lui agak terkejut,
serunya dengan tertawa girang. Bagus! Akan kuringkas
saja keteranganku ini. Keenam puncak yang berada
dilapis dalam itu, dalam ilmu Pat- kwa disebut Thian-luibu-ong, tak begitu berbahaya. Sedang keenam puncak di
lapisan luar, disebut Lui-cek-kui-moay, amat berbahaya
sekali. Lebih dulu engkau boleh masuk melalui jalan
Seng-bun (pintu hidup). Ingatlah selalu: bila hitungan tiga
supaya ke kiri, tentu selamat. Tetapi ... yang penting
harus bertindak hati2 menurut gelagat. Sekali salah
langkah tentu akan terjerumus dalam jaring jebakan, tak
mungkin akan dapat ke luar. Mengertikah engkau?
Ya, mengerti.
Itupun baru keadaan pada keenam puncak lapisan
luar. Sedang keenam puncak lapisan dalam, karena
jaraknya terlalu jauh, akupun tak dapat melihat jelas ....
Tak mengapa, nanti setelah masuk ke sana aku
dapat mengira- ngira, kata Gak Lui.
Baiklah, karena engkau berkeras tetap hendak pergi.
Akupun tak dapat mencegahmu. Yang penting, setiap
saat engkau harus waspada dan bertindak hati2. Jika
sampai terjerumus dalam kesukaran, aku juga tak
mampu menolongmu. Gak Lui tertawa nyaring.
480

Setelah memberi hormat ia lalu ayunkan langkah


lebar menuju ke barisan puncak itu. Namun Tio Bik lui
tetap kuatir. Ia segera menyusul. Ketika sampai di tempat
yang berbahaya, barulah ia berhenti. Gak Lui pesatkan
larinya dan tanpa banyak keraguan lagi, terus menuju ke
pintu Seng-bun. Sebelum masuk ia masih sempat
berpaling dan melambaikan tangan kearah Tio Bik-lui.
Setelah itu ia terus melesat masuk ke dalam hutan batu.
Tio Bik lui tertawa gelak2 sambil mengurut jenggotnya.
Tetapi saat itu Gak Lui sudah menyusup jauh ke sebuah
tempat yang aneh sehingga tak dapat mendengarkan
suara tertawa itu. Begitu memasuki barisan aneh dari
gunung Bu-san itu, seketika Gak Lui rasakan dadanya
sesak seperti ditindih oleh suatu kekuatan yang dahsyat.
Dan beberapa saat kemudian, angin dan awanpun
berobah warnanya. Gelap gulita sekeliling tempat. Kaki
tangan dan kelima inderanya serasa kehilangan daya
gerak. Bahkan bernapaspun rasanya sukar sekali. Sudah
tentu dalam keadaan begitu, ia tak dapat mendengar
suara tertawa Tio Bik-lui tadi. Sepeminum teh kemudian,
barulah pandang matanya mulai dapat melihat dengan
samar. Ia paksakan diri untuk melakukan pernapasan
beberapa kali barulah pikirannya mulai sadar. Tetapi apa
yang disaksikan saat itu, benar2 membuatnya kaget
setengah mati.....
Gunduk2 batu yang aneh tadi tiba2 berobah
merupakan karang melandai yang menjulang keatas.
Dan diatas gundukan batu2 itu, bertebaran awan kelabu,
berarak- arak kian kemari karena dihembus angin.
Pemandangan itu benar2 membuat Gak Lui tercengang
heran. Dia merasa dirinya amat kecil sekali berhadapan
dengan kedahsyatan alam. Sekalipun begitu, ia tetap
pantang mundur. Segera ia berputar-putar tubuh dan
menerjang kearah angin yang bertenaga kuat itu. Tetapi
481

begitu ia bergerak, dinding2 karang di sekeliling dan


bawah jalanan yang diinjaknya itupun ikut berputar. Ia
merasa dunia seperti berputar-putar sehingga kepalanya
pening dan tak tahu lagi membedakan keempat arah.
Setelah dapat menenteramkan hatinya, Gak Lui pun
mengatur langkah. Dengan kerahkan ilmu meringankan
tubuh, ia terus melesat maju. Satu, dua, tiga ... terus
berkisar ke sebelah kiri. Sambil berjalan diam2 ia
menghitung setiap melintasi tiga buah simpang jalan, ia
terus membelok ke sebelah kiri. Ah, apa yang dikatakan
Tio Bik-lui tadi memang benar. Sepanjang jalan, ia tak
menemui kesulitan suatu apa. Tetapi hamburan angin
yang mengandung tenaga kong gi itu, makin lama makin
membuat tenaganya lemah. Keringat mengucur deras
membasahi tubuhnya .... Entah berselang berapa lama,
mulailah langkahnya sempoyongan. Tenaganya hampir
habis. Dan jalanan yang berada di sebelah muka, seperti
tiada ujungnya. Maka dengan kuatkan diri dan keraskan
semangat, ia terus berjalan. Akhirnya tubuhnya condong
ke samping dan rubuhlah ia berguling-guling beberapa
kali sampai beberapa tombak jauhnya. Cepat2 ia
pancarkan tenaga-dalam penyedot, untuk menahan
keseimbangan diri.
Celaka! Angin begitu kuat, apabila tenaga dalamku
habis, tentu akan terseret angin .... ia mengeluh putus
asa. Ketika rentangkan mata memandang ke sekeliling,
ia melihat pula sebuah pemandangan yang aneh. Pada
jarak berpuluh tombak jauhnya, memancarlah selarik
sinar matahari dan gumpalan awan. Begitu sinar
matahari itu mencurah tiba maka angin yang
mengandung hawa kong-gi itupun segera berhamburan
keempat penjuru dan berputar-putar di luar lingkaran
sinar matahari itu. Di tengah lingkaran angin yang seluas
tiga tombak itu, tampak sebuah tangga batu. Di atasnya
482

amat bersih dan berukir sebuah Pat-kwa yang aneh.


Oh. diam2 Gak Lui terkejut, apakah ini yang
disebut gambar Thian-lui-bu-ong, pintu masuk ke istana
Bi-kiong itu ....
Rangsangan hati, membuat semangat pemuda itu
menggelora lagi. Ia kuatkan diri untuk melangkah dua
langkah menuju ke kisaran angin itu. Tetapi begitu
kakinya menginjak tanah, dari puncak istana Bi- kiong
yang tertutup awan itu, seperti terdengar letusan halilintar
dan suara bentakan yang menggeledek : Hai, siapakah
yang bernyali besar berani menginjak tempat terlarang ini
!
Gak Lui gelagapan kaget sehingga tubuhnya
gemetar, pikirnya : Ah, tentulah si Lengan-besi Lim Ihhun.
Seketika meluaplah dendam kesumat didada Gak
Lui. Dengan menggertak gigi, ia ingin secepatnya
mencapai puncak itu untuk berhadapan dengan si
Lengan-besi. Tiba2 matanya tersilau oleh sinar
berkelebat. Dan lingkaran hawa kong-gi yang berada di
luar tadi segera berpusat menggunduk seperti sebuah
dinding yang tak kelihatan. Ia seolah2 dikurung dalam
lapisan dinding besi. Dan karena di luar lingkaran tenaga
dahsyat itu gelap gulita, maka ia tak dapat melihat jalan
keluar. Dalam pada waktu ia masih belum dapat
menentukan langkah, rupanya orang diatas puncak itu
tak sabar menunggu lagi. Kembali terdengar suara
bentakan yang seram : Kata sandi !
Kata sandi ? Gak Lui terkejut. Jelas ia tak tahu, apa
yang dimaksud orang itu. Dalam marahnya, ia kerahkan
seluruh tenaga dalam dan berteriak sekuatnya : Aku
Gak Lui ...
483

Apa ? tukas orang itu.


Gak..Lui..!
Heh, heh, heh, heh. terdengar orang itu tertawa
mengekeh. Nadanya penuh dendam pembunuhan.
Tetapi Gak Lui pun tak kurang sengitnya. Dadanya
terasa terbakar oleh dendam pembunuhan juga.
Serentak ia hendak maju menerjang. Tetapi orang itu
lebih cepat. Ia segera menyimpan kembali sinar yang
memancar diatas kepalanya, sehingga gelap. Dan
serempak dengan itu anginpun mengencang lagi. Bumi
se- olah2 dilanda gempa, batu dan pasir berhamburan
keempat penjuru. Gak Lui rasakan bumi yang dipinjaknya
itu seperti amblong dan tubuhnya terdampar melayang.
Walaupun ia gunakan pukulan Algojo-dunia untuk
melawan tetapi tubuhnya tetap melayang seperti
selembar daun ...
Celaka ! ia mengeluh dan bergeliatan memandang
sekeliling. Tampak tak jauh dari tempatnya, terdapat
sebuah gua yang tenang dan bebas dari serangan angin
prahara itu. Maka tanpa banyak sangsi lagi ia terus
meluncur ketempat itu. Rencananya ia hendak
menggelandot pada tepi gua. Tetapi begitu kakinya
menginjak, ternyata yang diinjaknya itu kosong sehingga
tubuhnya meluncur jatuh kebawah. Ia melorot turun
sepanjang dinding gua. Ia empos semangat dan
berjumpalitan. Tetapi tindakan itu bahkan menyebabkan
daya-luncurnya makin keras sehingga ia gugup sekali.
Cepat ia bergeliatan melambung keatas.
Ah, tentu sudah, tiba didasar. pikirnya. Buru2 ia
kerahkan napas lalu meluncur kebawah seraya
dorongkan kedua tangannya. Bum, bum, bum ....
terdengar kumandang letupan keras dan saat itu
kakinyapun sudah merasa menginjak tanah. Tetapi tanah
484

itu luar biasa licinnya sehingga baru kakinya menyentuh,


ia sudah terpelanting keras. Seketika Gak Lui tak ingat
diri lagi.
Entah berapa lama ia pingsan itu, ketika tersadar lagi
ia rasakan tubuhnya panas seperti terbakar api. Dari
sinar remang2 yang mencurah ke-tempatnya itu, ia
dapatkan dirinya rebah disebuah gua besar. Dari lubang2
kecil yang bertebaran di-permukaan tanah itu
mengeluarkan sumber air yang teramat licin. Sekalipun
sumber air itu tiada berbau apa2 tetapi karena licin,
sukarlah Gak Lui untuk bergerak. Apalagi tenaganya
lemah sehingga setelah berulang kali berusaha untuk
bergeliat, akhirnya ia hanya dapat duduk. Kemudian ia
mulai tenangkan pikirannya.
Masakan gua ini terpisah dari atas bumi, ada seribu
meter jaraknya. Mengapa gelapnya bukan main. Ah,
lebih baik melakukan pernapasan dulu untuk
mengumpulkan tenaga, baru nanti kupikirkan rencana
lagi..
Lebih kurang dua jam lamanya, barulah ia berhasil
mengumpulkan tenaga-dalam Algojo-dunia. Setelah itu ia
segera mencabut sepasang pedangnya. Dengan
bantuan pedang yang ditancapkan ditanah itu, ia segera
berbangkit bangun. Dan berkat pedang Pelangi yang
memancarkan sinar terang itu, dapatlah ia melihat jelas
keadaan pada jarak setombak jauhnya. Setelah
tenangkan diri beberapa saat, mulailah ia ayunkan
langkah perlahan2 dengan bantuan sinar pedang itu.
Tetapi sampai beberapa saat menyelidiki, tetap ia tak
menemukan
sesuatu.
Kecuali
kegelapan
yang
menyelubungi, hanyalah desir air sumber yang
mengalirkan air licin itu.
Ah, tak perlu kulanjutkan berjalan kemuka, lebih baik
485

mencari jalan keluar saja ... , akhirnya ia menetapkan


rencana.
Seorang diri berada dalam tempat yang seperti
Neraka hitam itu, tak urung Gak Lui merasa seram juga.
Dan hawa panas yang menyesakkan napas itu hampir
membuat Gak Lui tak kuat bertahan lagi. Untunglah
berkat kesalahan makan obat Penyurut- tubuh di Lembah
Maut tempo hari, membuat tubuhnya mempunyai daya
tahan yang hebat. Namun sekalipun begitu, ia tetap
resah. Tiba2 ia mendapat pikiran. Dengan tekankan
ujung pedangnya ke tanah dan melambunglah ia di
udara lalu berputar putar dan meluncur kembali ke
tempatnya semula. Tetapi disitupun juga gelap.
Sekalipun jalanan masuk ke tempat itu sudah tak berapa
jauh, namun dia tetap tak dapat melihat suatu apa. Tiba2
matanya tertumbuk akan sinar pedang Pelangi. Segera ia
mendapat akal lagi. Dengan kerahkan tenaga ia segera
lontarkan pedang pusaka itu keatas. Pedang
membubung tinggi tetapi pada lain saat, cahayanyapun
padam dan tring.....pedang itu membentur langit guha
dan jatuh ke tempatnya lagi. Untunglah pada saat
pedang itu meluncur ke atas tadi, ia sempat
memperhatikan bahwa pada puncak langit guha itu
terdapat dinding karang yang curam. Di atas puncak
karang terdapat sebuah batu tajam yang menonjol. Dan
samar2 di belakang batu menonjol itu terdapat sebuah
mulut guha yang luasnya 3 meter.
Celaka.... Gak Lui mengeluh. Benar ia dapat
menemukan jalan keluar. Tetapi dinding karang itu amat
tinggi sekali dan tiada tempat berpijak kaki. Tak mungkin
ia dapat mencapainya. Dan jelas mulut guha di sebelah
atas itu gelapnya bukan kepalang.
Ujung bumi ! Tak mungkin aku dapat keluar dari
486

ujung bumi ini ! ia mengeluh putus asa. Gak Lui seperti


orang kalap.
Mengapa di tempat neraka ini tiada barang
sesuatu...? dengan penasaran ia memandang ke
sekeliling. Namun sia2 saja. Saking marahnya ia
mengertak gigi. Dengan geram ia taburkan pedang
Pelangi ke tanah. Cret....
Hai, apakah itu? tiba2 ia berteriak kaget.
Memandang kearah pedang Pelangi yang tertancap di
tanah itu, melalui cahayanya dapatlah ia melihat bahwa
di atas tanah terdapat beberapa bekas guratan pedang.
Dan
ketika
ia
membungkukkan
tubuh
untuk
memeriksanya, diam2 ia kerutkan alis: Benar, memang
bekas2 ini berasal dari ujung pedang. Menilik bekasnya
tentu sudah belasan tahun lamanya..... Kalau begitu
orang itu juga dicelakai oleh murid penghianat itu ? Dan...
apakah ia sudah dapat keluar atau masih terkurung
dalam guha neraka situ ....?
Ia segera mencabut pedang Pelangi dan menimang.
Jika orang itu masih berada ditempat situ, jelas tentu
sudah mati. Tetapi kalau mati tentu meninggalkan
kerangka. Serentak timbullah hasratnya untuk mencari
orang misterius itu. Dengan menurutkan bekas2 guratan
pedang, ia segera mulai menyelidiki. Ternyata ia dapat
menemukan bekas2 guratan pedang itu lagi. Makin lama
makin banyak jumlahnya. Suatu pertanda bahwa dahulu
orang itu juga seperti dirinya sekarang, berjalan keliling
mengitari tempat itu. Dan menilik bekas2nya, jelas orang
itu hanya membekal sebatang pedang saja. Jadi dia
berjalan dengan bantuan sebatang pedang. Hampir
setengah hari Gak Lui melakukan penyelidikan dengan
cermat dan tekun. Akhirnya tibalah ia diujung guha.
Betapa kejutnya ketika ia melihat sebatang pedang
487

menggeletak di tanah. Batang pedang sudah karatan.


Cepat ia mengambil pedang itu lalu meneruskan berjalan
ke muka dengan bantuan cahaya pedang Pelangi.
Uh .... Gak Lui melonjak kaget dan berhenti. Pada
jarak beberapa meter di sebelah muka, di bawah dinding
batu, tampak sesosok kerangka manusia tengah duduk.
Tulang2nya putih halus seperti batu kumala dan sikapnya
berwibawa. Walaupun sudah menjadi kerangka, namun
masih dapat menimbulkan rasa penghormatan orang.
Entah bagaimana, Gak Lui seperti melihat seorang
keluarganya. Segera ia menjura memberi hormat dan
berkata: Cianpwe, aku tak sengaja telah terjeblus ke
dalam tempat ini sehingga mengganggu ketenangan
cianpwe. Maka harap cianpwe memaafkan. Habis
berkata dengan hati2 ia segera mengitari ke belakang
kerangka itu. Pedang Pelangi diangkatnya ke atas kepala
untuk mencari tahu apakah di atas dinding itu terdapat
sesuatu jejak. Dilihatnya dinding guha yang berlapis-lapis
itu penuh dengan huruf2 yang ditulis dengan guratan
pedang. Gak Lui kerutkan alis, pikirnya: Rasanya aku
sudah tiada harapan untuk keluar dari guha neraka ini.
Tak apalah kuikuti tulisan dari cianpwe yang
sependeritaan dengan nasibku ini. Sekedar unntuk
menghabiskan waktu di sini dan menambah pengalaman
....
Dengan pemikiran itu mulailah ia mencari bab
permulaan dari tulisan di dinding itu. Akhirnya ia berhasil
juga menemukannya. Baris pertama dari tulisan itu
berbunyi demikian: Tulisan terakhir pada detik2 terakhir
dari Empat-pedang-Bu-san Pedang-malaekat Gak Tiangbeng.
Gak Tiang-beng ! serentak gemetarlah bibir Gak Lui
dikala membacanya. Mulutnya terasa tersumbat dan
488

berdirilah ia terlongong seperti patung. Dua butir airmata


menitik turun dari pelupuknya. Sepeminum teh lamanya,
barulah mulutnya menguak. Gak Lui muntah darah.
Ayah ... ! menjeritlah ia dengan suara yang amat
duka. Ia lemparkan pedang lalu menjatuhkan diri
menelungkup di hadapan tengkorak itu dan menangis
tersedu sedan..... Tangisan itu merupakan luapan dari
hatinya yang serasa remuk redam. Ia tumpahkan seluruh
kesedihannya sehingga guha itu seolah olah
berkumandang tak henti-hentinya. Seolah-olah ikut
berduka atas nasib malang yang menimpa kedua ayah
dan puteranya itu. Gak Lui menangis sampai kering airmatanya dan parau tenggorokannya. Kemudian ia
mengertak geraham, memungut pedang dan berbangkit
lagi: Lebih dulu akan kubaca habis pesan terakhir dari
ayah. Apakah yang beliau katakan dalam soal dendam
darah ini.
Setelah bulatkan hati, ia segera mulai membaca. Dan
tulisan pada dinding itu berbunyi demikian :
Aku Empat-pedang-Busan, telah melaksanakan
perintah suhu untuk bersatu padu menjalankan tugas,
menjaga jangan sampai murid hianat itu muncul lagi.
Sudah bertahun tahun dia tak muncul keluar. Karena
suatu persoalan, aku telah berselisih faham dengan
saudara2 seperguruan, lalu kuputuskan untuk
kembali pulang ke kampung halaman. Tetapi
beberapa bulan kemudian, dalam biara tua di
pegunungan terpencil, kudapatkan lima orang murid
dari perguruan Heng-san, yang seorang terluka dan
yang empat mati. Keadaannya mengejutkan sekali.
Menilik bekas lukanya, jelas telah terkena pukulan
perguruan Busan. Saat itu kuberusaha untuk
menolong yang terluka itu. Untung ia dapat tersadar
489

dan bicara. Dia memberi keterangan yang amat


mengejutkan. Paderi itu ikut pada paman gurunya
Hwat Kong taysu turun gunung. Kedua belah fihak
berjanji akan bertemu di tempat itu.
Pada saat pertemuan, kecuali Hwat Kong, pun masih
terdapat seorang berpakaian warna hitam dan
mukanyapun ditutup dengan kain hitam. Tanpa bicara
apa2, orang aneh itu terus mencabut pedang dan
menyerang kelima paderi murid perguruan Heng-san.
Anehnya, Hwat Kong sama sekali tak mencegah dan
membiarkan orang aneh itu membunuh dengan
kejam kelima murid keponakannya. Segera kudapat
menduga bahwa orang yang suhu perintahkan kami
berempat untuk membunuhnya itu, telah muncul di
dunia persilatan lagi. Segera kukirim berita
mengundang ketiga saudara seperguruanku supaya
datang merundingkan rencana untuk membasmi
orang itu. Tetapi suteku si Pedang Aneh telah cari
alasan untuk mengulur waktu. Sedang sumoay
Pedang Bidadari yang mengunjungi Pedang Iblis,
juga tiada kabar beritanya. Kuingat pesan suhu:
Diantara ke 12 puncak Busan, terdapat sebuah
istana Bi-kiong. Tempat itu merupakan tempat
terlarang karena dijadikan tempat penyimpanan
pedang pusaka Thian-lui-koay-kiam dari perguruan
kita. Tempat itu penuh dengan alat2 rahasia yang
berbahaya. Semua anak2 murid kita dilarang datang
ke tempat itu. Tetapi apabila mempunyai alasan yang
istimewa, kamu berempat boleh datang ke sana dan
meneriakkan dua buah kata Thian-lui ke arah istana
itu. Kata itu merupakan kata sandi untuk masuk ke
dalam istana. Mungkin kalian akan mendapat rejeki
yang tak terduga.
490

Berdasar pesan suhu itu, maka aku segera menuju


ke Busan. Sebelum berangkat, karena menjaga
kemungkinan yang tak diharap akan menimpa
keluargaku, maka kuberi nama pada puteraku
tunggal Gak Thian-lui atau Gak Lui. Bila aku
mendapat kecelakaan, mungkin kelak ia bisa
memperoleh jejak melakukan pembalasan !
Oh... membaca sampai di situ, Gak Lui mendesuh.
Seketika teranglah pikirannya. Kini ia tahu bahwa
namanya itu sebenarnya merupakan kata sandi untuk
masuk ke dalam istana Bi-kiong. Iapun melanjutkan baca
lagi:
Dengan menurutkan susunan Ngo-heng-seng-khek,
aku melintasi keenam puncak sebelah luar. Setelah
itu aku dihalangi oleh angin yang mengandung hawa
kong-gi. Segera kuberteriak melantangkan kata sandi
Thian Lui. Tetapi di luar dugaan, sama sekali tiada
sambutan apa2. Bahkan kebalikannya aku telah
diputar-putar sedemikian rupa sehingga terjeblus ke
dalam Neraka Hitam di sini...
Aneh ! desus Gak Lui. Ia menimang, ayahku
meneriakkan kata sandi malah dijebak dalam tempat ini.
Sedang aku yang berteriak mengatakan namaku, juga
dijebluskan ke sini oleh murid penghianat Lim lh-hun itu.
Apakah pesan kakek guru itu salah ?
Ah, tidak, tidak mungkin ! bantah Gak Lui kepada
dirinya sendiri, tentulah murid hianat itu dapat
mengetahui rahasia kakek guru maka ia segera
bertindak. Orang yang mengucapkan kata sandi itu,
malah akan dijebluskan ke dalam neraka sini. Tetapi ....
mengapa taci Gim yang mendapat keterangan dari bibiguru tentang kata sandi itu, dapat masuk keluar dengan
selamat dari istana itu? Bukankah itu janggal? Hm,
491

kupercaya taci Gim tentu tak bohong. Tentulah murid


hianat itu yang main gila. Tak tepat kalau ia memakai
gelar Lengan-besi-hati-baik,
lebih
sesuai kalau
dinamakan si Hati ular. Demikian setelah habis
membahas,
kembali
ia
melanjutkan
membaca
peninggalan pesan ayahnya.
Setelah masuk ke dalam guha dan memeriksa
keadaannya, kudapatkan guha itu terlalu tinggi dan
tak mungkin aku dapat loncat ke atasnya. Sekalipun
aku dapat merayap naik dengan gunakan pedang
yang kutusukkan pada batu karang. Tetapi setelah
mencapai batu menonjol itu tentu harus berdiri
dengan kaki empat. Dengan begitu harus
memerlukan 4 batang pedang. Dan aku hanya
memiliki sebatang pedang saja! Dalam tiga hari ini,
keadaanku makin payah, panasnya bukan main,
hausnya mencekik tenggorokan dan tiada makanan
apa2. Kutahu tak lama aku tentu mati di tempat ini.
Maka hendak kutinggalkan ilmu pedang dan ilmu
pukulan dari suhu pada guratan pedang di dinding ini.
Kuberikan kepada pendatang yang mempunyai jodoh
padaku .... !
Bagus, kini aku bakal dapat mempelajari seluruh
ilmu pelajaran pedang dan pukulan dari Empat pedang,
serunya dalam hati. Saking girangnya, Gak Lui sampai
melupakan keadaannya pada saat itu. Ia terus membaca
dengan teliti kelanjutan dari tulisan pada dinding guha itu.
Ternyata terdapat dua baris syair yang berbunyi: Hawa
pedang menembus kabut, bergurat tanda palang. Ilmu
pukulan Menundukkan-iblis akan mengubur hawa
siluman Ditambah dengan 3 jurus yang telah
dipelajarinya dahulu, kini tergabunglah serangkai syair
yang amat dalam sekali. Menilik kepandaian yang
diyakinkan selama ini, ditambah pula pada waktu ia
492

menyaksikan Hi Kiam-gim pernah memainkannya satu


kali, maka cepat sekali ia segera dapat mengetahui inti
dari pelajaran yang ditulis pada dinding guha itu. Habis
membaca, iapun sudah dapat menyelami maksudnya.
Tetapi pada syair itu terdapat tambahan serangkai kata2
singkat, demikian:
Mendiang suhu Busan It ho, telah menurunkan
keempat jurus ilmu pedang istimewa itu masing2
dibagikan kepada kami empat orang murid tak resmi.
Keempat jurus itu yalah Menyanggah, Membabat,
Menjaga dan Menyerang. Apabila keempat jurus itu
bersama-sama digunakan, hebatnya bukan alang
kepalang. Khusus untuk menundukkan ilmu
kepandaian perguruan kita. Menurut keterangan
suhu, keempat jurus itu apabila dapat diberikan
kepada empat murid perempuan yang berkepandaian
tinggi, kedahsyatannya makin hebat. Sekalipun orang
akan dapat mengambil pedang Thian-lui koay-kiam,
tetapi tetap dapat mengatasinya. Sayang suhu hanya
berhasil mendapat seorang murid perempuan
Bidadari-pedang Li Siok-gim. Karena terpaksa beliau
menerima lagi tiga orang murid lelaki. Maka
beliaupun paling menyayangi si Bidadari pedang.
Sedang ilmu tenaga dalam dari Iblis Pedang yang
disebut Algojo dunia itu mampu meminjam tenaga
lawan untuk menghantam lawan. Itulah yang disebut
tenaga dalam lunak untuk menindas tenaga-dalam
keras. Oleh karenanya, suhupun sayang juga
kepadanya. Dan kedua orang itupun oleh suhu telah
ditetapkan .... ?
Kepada orang yang terjerumus kedalam guha ini dan
beruntung masih hidup, jangan sekali-kali hanya
mengandalkan keberanian dan kegagahan untuk
menerobos keluar dan istana Bi-kiong ini. Harus
493

minta petunjuk kepada kaisar-persilatan Li Liong-ci


tentang pelajaran Ni-coan-ngo-heng-tay-hwat, baru
boleh masuk kemari. Ingat dan camkanlah hal ini
baik2! Demikianlah pesanku ini berakhir sampai di
sini.
Gak Lui mendapatkan pula sebaris kata2 yang sudah
digurat pada dinding tetapi kemudian dihapus lagi.
Seolah-olah tak ingin dibaca orang Namun Gak Lui dapat
menduga bahwa baris kata2 itu tentulah menceritakan
tentang diri Pedang Bidadari dan Pedang Iblis yang telah
ditunangkan oleh suhunya. Serta romans yang terjadi
dan membatalkan pertunangan itu. Dan tentang keempat
pedang yang kemudian terpecah-belah. Sudah tentu
ayah Gak Lui tak mau menuliskan peristiwa itu. Gak Lui
menghela napas panjang. Ilmu pedang dan ilmu pukulan
yang dahulu belum diketahui, sekarang ia sudah dapat
mempelajarinya semua. Dan banyak pula soal2 yang tak
dimengerti kini ia sudah jelas. Segala hal itu setelah
dipadu dengan omongan Tio Bik-lui, makin menambah
keyakinan Gak Lui bahwa murid yang berhianat itu
tentulah si Lengan-besi-hati-baik Lim Ih-hun. Setelah
mengusir Lim Ih-hun, gurunya tetap menguatirkan kalau
murid murtad itu kelak kemudian hari akan membikin
huru hara di dunia persilatan. Serta takut kalau dia akan
mengambil pedang pusaka Thian-lui-koay-kiam, maka
Bu-san It-ho segera mempersiapkan empat orang murid
untuk menindas si hianat itu. Tetapi sayang sekali
keempat murid itu tercerai berai sendiri. Murid hianat Lim
Ih-hun menggunakan kesempatan itu untuk mencelakai
mereka dan menguasai istana Bi-kiong. Tetapi Gak Lui
anggap tafsiran itu masih kurang lengkap. Karena ia
masih belum jelas akan asal usul Maharaja. Jika momok
itu memang sama orangnya dengan murid hianat Lim Ihhun, memang persoalannya mudah. Tetapi jelas kalau
494

Maharaja dan Lim Ih-hun itu ternyata dua orangnya.


Inilah yang benar2 merupakan teka-teki yang sukar
dipecahkan!
Demikian tak terasa 3 hari telah lewat. Selama itu
dalam guha neraka yang gelap, tiap hari tentu tampak
berkelebatan sinar pedang yang berhamburan luar biasa.
Dan ada kalanya terdengar pula deru sambaran angin
pukulan yang dahsyat. Dan tak henti-hentinya terdengar
juga suara Gak Lui melantangkan kata-kata yang
bernada seperti syair. Hawa pedang menembus kabut
bergurat tanda palang. Pukulan Menundukkan-iblis
menimbun hawa siluman. Menjolok bintang memetik
bulan, salju bertebaran senjata Algojo dunia mengejutkan
iblis dan malaekat Menabas emas memotong kumala
tanpa bersuara Rajawali pentang sayap membenci bumi
Burung hong kibaskan sayap menutup bulan matahari
Awan berarak-arak beribu li tanpa meninggalkan bekas.
Selama tiga hari itu Gak Lui telah curahkan seluruh
semangat dan pikirannya untuk meyakinkan ilmu pedang,
pukulan dan meringankan tubuh. Makin lama ia makin
mendapat inti sari yang luar biasa dan makin mengerti
akan segala gerak perobahannya. Selama tiga hari itu,
bukan saja ia makin biasa dengan kegelapan tempat itu.
Pun tanahnya yang amat licin sehingga tak dapat dibuat
berdiri tegak, saat itu ia sudah tak mengalami kesulitan
apa-apa lagi. Dia dapat berjalan menurut sekehendak
hatinya.
Sesungguhnya ia tak perlu heran, karena hal itu
adalah berkat kemajuan ilmu kepandaian yang telah
dicapainya saat itu. Karena tak dapat keluar dari guha
neraka, terpaksa ia curahkan seluruh perhatian untuk
mempelajari ilmu kepandaian. Untuk menambah maju
kepandaian dan sekalian untuk menghibur kesepian.
495

Demikian setelah berhasil meyakinkan semua ajaran


dan pesan ayahnya itu, ia segera duduk bersimpuh di
hadapan kerangka ayahnya. Dengan bisik2 ia berdoa:
Yah, ilmu kepandaian yang ayah wariskan itu telah
kupelajari semua. Apabila berhasil keluar dari guha ini,
aku tentu akan melaksanakan segala pesan ayah untuk
mencari ilmu pelajaran Ni-coan-ngo-heng-tay-hwat, agar
dapat membasmi si hianat !
Tetapi ayah mengatakan, bisik Gak Lui lebih lanjut,
untuk dapat keluar dari guha ini harus memerlukan 4
batang pedang. Anak sekarang hanya punya dua batang
dan ditambah dengan pedang yang ayah tinggalkan itu,
masih kurang sebatang lagi. Yang sebatang itu, benarbenar anak tak berdaya untuk mencari di tempat ini.
Habis berdoa, Gak Lui lalu duduk bersemedhi di
hadapan kerangka ayahnya. Ia menyadari takkan dapat
keluar dari guha itu maka terpaksa ia pasrah nasib
menunggu apapun yang akan terjadi pada dirinya nanti.
Nasib memang suatu hal yang aneh dan sukar
diduga oleh manusia. Merekapun suatu teka-teki rahasia
hidup yang tak diketahui manusia sebelum menjadi
kenyataan. Betapapun panas hati Gak Lui dan
amarahnya meluap-luap tetapi pada saat dan tempat
seperti itu, ia terpaksa harus gelisah menunggu sang
nasib. Pikirannya melayang-layang. Ia teringat akan
segala peristiwa yang menimpa pada dirinya. Budi,
dendam dan kesalahan faham .... Iapun teringat akan
ramalan dari si Raja Sungai bahwa si Hidung Gerumpung
yang bersembunyi dalam guha di gunung belantara,
tentu akan dapat dibunuh. Pendekar pedang yang
bertopeng itupun tentu akan mati juga. Dan ia sendiri
seharusnya sudah tiba pada ujung nasibnya di Pasebanagung Yau-san. Tetapi ternyata sekarang ia harus mati di
guha neraka itu. Jika begitu, adakah ramalan itu hanya
496

omong kosong belaka.... ?


Dalam cengkaman lamunan itu, lupalah Gak Lui akan
tempo. Seluruh hati dan pikirannya penuh dengan
keresahan ... kegelisahan ...... Satu2nya daya hanyalah
menunggu, dan menunggu, entah sampai kapan dan
berapa lama...
Entah selang berapa lama, tiba2 telinganya yang
tajam samar2 seperti mendengar suara bentakan dari
jauh. Serentak ia berbangkit dan dengan gerakan yang
cepat, segera menghampiri ke bawah mulut guha yang
berada di puncak atas. Dengan kerahkan alat
pendengarannya, ia pasang telinga untuk mendengarkan
kelanjutan dari suara teriakan itu. Wut ..... tiba2 dari
mulut guha itu melayang sebuah benda, meluncur turun.
Ih, apakah ada seseorang yang datang ke tempat
ini? hampir ia tak percaya apa yang didengarnya saat
itu. Tiba2 ia melihat pada mulut guha yang gelap itu,
berkelebat segulungan bayangan putih yang tepat
melayang jatuh ke dalam mulut guha. Gak Lui terkejut
dan cepat2 menyanggapi tubuh orang itu. Serta berada
dalam tangannya, ia segera mencium bau yang harum.
Tubuh orang melekat di dadanya itu bukan saja halus
sekali kulitnya, pun napasnya yang berombak-ombakpun
membuat buah dadanya makin menonjol.
Ah, kiranya seorang gadis ... Gak Lui segera
menenangkan hatinya yang bergejolak. Buru2 ia
curahkan perhatian untuk memandang dara itu dengan
seksama. Dari cahaya yang remang, sayup2 ia melihat
rambut gadis itu amat lebat, matanya seperti lukisan ....
dari bibirnya yang bergetar lemah menghamburkan
napas lembut yang wangi, meniup ke lehernya sehingga
bulu kuduknya meremang tegang ..... Ah, cantik, cantik
sekali! Dan menyerbakkan bau harum laksana sekuntum
497

bunga mawar yang memikat jiwa.

Menghadapi hal itu mau tak mau perasaan hati Gak


Luipun goncang, darahnya mendebur keras. Buru2 ia
tenangkan gejolak hati dan letakkan tubuh dara itu ke
tanah. Beberapa saat setelah melakukan penyaluran
tenaga dalam, mulut dara cantik itu mengerang perlahan
dan kelopak matanyapun terbuka, dan bulu matanya
yang runcing menjungkat segera berkicup-kicup memain
498

pada gundu matanya yang bundar indah. Tak ubah


seperti bintang kejora yang berkelap-kelip di angkasa.....
Siapakah engkau? karena takut membuat sidara
terkejut, Gak Lui menegurnya dengan perlahan. Tiba2
tubuh dara itu menggigil. Tadi walaupun sudah membuka
mata tetapi ia belum melihat jelas. Kini setelah tahu
bahwa tubuhnya telah dijamah seorang pemuda, maka ia
segera merasa seperti terkena aliran stroom yang keras.
Cepat ia menggeliat duduk dan balas bertanya: Engkau
.... engkau siapa?
Gak Lui !
O, kiranya engkau Gak siauhiap yang menggetarkan
dunia persilatan itu ....
Ah, sebutan siauhiap (pendekar muda) aku tak
berani terima. Tetapi siapakah nama nona?
Aku Lau Yan-lan.
Mengapa nona jatuh ke dalam guha ini?
Aku hendak ditangkap orang.
Siapa orang itu?
Kaki tangan si Maharaja !
Oh, nona juga mempunyai dendam permusuhan
dengan dia?
Tidak!
Lalu mengapa mereka hendak mencelakai nona ?
Aku sendiri juga tak mengerti ....
Hm .. , Gak Lui mendesus lalu merenung. Ia
mengangkat muka memandang ke mulut guha di sebelah
atas. Tetapi ia tak mendengar suara apa2, ia duga
499

karena Lau Yan-lan sudah terjatuh ke dalam guha


neraka, orang itu tentu tak mengejarnya lagi. Maka ia
segera mencekal lengan sidara lalu diajak duduk di
tempat yang bersih dan mulai menanyainya lagi: Nona
Lau, murid perguruan manakah engkau ini? Apakah
nona mempunyai nama gelaran? Bagaimana nona dapat
memasuki barisan aneh dari keenam puncak gunung itu
?
Dihujani pertanyaan bertubi-tubi oleh Gak Lui, nona
itu merenung sejenak lalu menyahut dengan tersekat:
Orang memberi gelaran Burung-hong cantik dari Bu-san
kepadaku. Aku cucu perempuan dari ketua perguruan
agama Bu kau.
Bu-kau ? Konon kabarnya Bu-kau itu termasuk
golongan partai agama yang jahat tetapi sudah lama
lenyap dari dunia persilatan.
Benar, memang partai agama itu selamanya
dipimpin oleh wanita dan hanya menerima seorang murid
perempuan saja. Segala ilmu hitam yang ganas dan
berbahaya telah disimpan sehingga akupun hanya dapat
memiliki sedikit ilmu bela diri saja.
Mendengar keterangan itu, diam2 Gak Lui bersyukur
dalam hati. Ia menganggukkan kepala lalu bertanya pula:
Karena partai agama nona disebut Bu kau dan nona
sendiripun digelari Burung- hong cantik dari Busan,
apakah dengan perguruanku Pedang Busan ... eh,
bukan, apakah mempunyai hubungan dengan ke 12
puncak gunung Bu-san itu ?
Tanpa disadari Gak Lui kelepasan omong,
mengatakan tentang partai perguruannya. Maka buru2 ia
beralih nada. Tetapi sidara sudah terlanjur mendengar.
Diluar dugaan dara itu malah tertawa girang: Oh, kiranya
500

engkau ini dari Bu-san-pay, kalau... begitu kita termasuk


keluarga !
Keluarga? Keluarga bagaimana ?
Coba engkau katakan dulu bagaimana hubunganmu
dengan Bu- san It-ho? kata sinona.
Mendiang ayahku adalah murid luar dari beliau.
Ha, ha, sidara tertawa girang, kalau begitu engkau
ini adalah adik misanku.
O ! Gak Lui berseru dengan nada gentar. Ia tak
pernah menyangka bahwa ia mempunyai seorang taci
misan. Dan nona itu rupanya mempunyai hubungan yang
luar biasa dengan perguruan Bu-san-kiam-pay. Melihat
Gak Lui termenung diam, nona itu segera menegurnya
pula: Adik Lui, seharusnya engkau menyebut cici
kepadaku ...eh, bagaimana, apakah engkau tak percaya
kalau aku lebih besar dari engkau? Walaupun belum
tahu tapi mendengar nada suaramu itu saja aku sudah
tahu kalau umurmu tentu lebih muda dari aku ....
Tidak, bukan soal umur. Tetapi bagaimanakah
hubungan yang sesungguhnya antara perguruanmu
dengan Bu-san-kiam-pay itu?
Hm, panjang sekali kalau diceritakan ...
Tak apa, saat ini kita nganggur, silahkan engkau
menerangkan sejelas-jelasnya.
Tetapi .... ini rahasia dari kedua partai perguruan kita
selama berpuluh tahun. Tak boleh diketahui orang luar
....
Jangan kuatir, kita akan memegang teguk rahasia itu
dan takkan membocorkan pada lain orang, Gak Lui
memberi jaminan.
501

Kalau begitu ..., Lau Yan-Lan tak melanjutkan


bicara. Setelah terdiam sejenak, baru ia berkata lagi,
Akan kuceritakan mulai dari Kedua belas puncak Bu san
itu. Sebenarnya puncak itu merupakan markas pusat dari
Bu-kau. Karena partai Bu-kau itu merupakan partai
agama yang rahasia pendiriannya maka pada kedua
belas puncak itu kami pasang alat2 rahasia yang ketat
dan ditambah pula dengan beberapa penjagaan ilmu
Hwat-sut. Oleh karena itu sejak 200 tahun ini, tiada
seorangpun yang mengetahui akan perguruanku...
Mendengar itu Gak Lui tergopoh menukasnya: O,
maka engkau dapat masuk kemari .... kiranya engkau
faham akan keadaan tempat ini. Kalau begitu engkau
tentu mengerti juga rahasia dari istana Bi-kiong itu !
Tidak ! sahut Yan-lan.
Tidak ? Gak Lui terbeliak heran.
Aku memang faham akan keadaan keenam puncak
dari lapisan luar tetapi keenam puncak lapisan dalam
yalah tempat letaknya istana Bi-kiong itu, aku tak tahu!
Sungguh ?
Kalau mengerti masakan aku dapat terjerumus jatuh
ke dalam guha sini ! sahut sinona.
Benar, diam2 Gak Lui membenarkan. Walaupun
benaknya penuh dengan berbagai pertanyaan sehingga
kepalanya pusing dan tak dapat memberi jawaban. Si
Burung-hong-cantik melanjutkan berkata pula: Pada
jamannya nenekku hidup, muncullah seorang pendekar
pedang yang datang menantang perguruan Bu-kau. Dia
adalah kakek-gurumu Bu-san It-ho. Keduanya bertempur
dengan taruhan yang luar biasa hebatnya!
Taruhan apa ?
502

Jika kakek-gurumu kalah,


memotong batang kepalanya.

ia

akan

menyerah

Kalau menang ?
Bu-kau akan membubarkan diri dan takkan muncul
di dunia persilatan selama-lamanya.
Akhirnya kakek-guruku yang menang?
Benar, mereka bertanding dalam tiga babak. Babak
pertama, nenekku kalah setengah jurus. Tetapi beliau tak
puas dan pada babak kedua, dengan gunakan dua buah
ilmu istimewa dari partai Bu-kau, ia berhasil merebut
kemenangan dan menebus kekalahan setengah jurus itu.
Kemudian dalam babak ketiga, kakek gurumu
mengeluarkan pedang pusaka Thian-lui-koay-kiam yang
hebat. Bukan saja dapat menang, pun..
Pun bagaimana ? seru Gak Lui.
Karena pedang itu mempunyai daya-perbawa yang
luar biasa anehnya, sekali dilancarkan sukar dihentikan
lagi. Bahkan kakek- gurumu sendiri juga sukar sekali
untuk mengatasinya. Sebenarnya dikalangan Bu-kau ada
sementara murid yang tak setuju kalau pertandingan itu
dilangsungkan dengan cara yang adil.
Melihat kakek-gurumu melancarkan pedang Thian luikoay kiam yang ganas dan liar itu, mereka tak dapat
mengendalikan diri lagi lalu serempak menyerbu.
Akhirnya pertandingan itu berakhir menyedihkan sekali.
Seluruh murid Bu-kau binasa semua tetapi kakekgurumupun juga hampir rubuh binasa di bawah taburan
pedang.
O....! desus Gak Lui.
Untung dalam detik2 yang terakhir, kakek-gurumu
dapat menarik pulang pedang Thian lui-koay kiam itu dan
503

berhasil menyelamatkan jiwa nenekku.


Dengan begitu partai Bu-kau lalu mengundurkan diri
dalam gelanggang persilatan ?
Benar ! sahut sidara.
Tetapi adakah nenekmu tak mendendam atas
peristiwa itu.... ?
Bukan saja tak mendendam, pun karena berterima
kasih atas jerih payah kakek-gurumu yang berusaha
untuk menganjurkan supaya partai Bu-kau kembali ke
jalan yang terang, serta karena mengagumi kepribadian
dan kepandaian kakek gurumu, nenekku telah jatuh hati
dan menjadi kakak beradik.
Engkau mengatakan, nenekmu jatuh hati dan
menjadi... kakak adik ? Gak Lui mengulang tak mengerti
maksud kata2 sinona itu.
Ya, mereka berdua telah menjadi kakak beradik lain
she!
Itu ... agaknya ... janggal, kata Gak Lui.
Si Burung-hong-cantik yang lebih besar usianya,
cepat dapat menangkap maksud keheranan Gak Lui.
Maka buru2 ia memberi penjelasan lagi.
Pada saat itu, nenekku baru berumur 20-an tahun
dan dipandang sebagai pendekar cantik dalam dunia
persilatan. Tetapi beliau sudah mempunyai seorang anak
perempuan yalah ibuku. Sedang kakek-gurumu
walaupun baru berumur 30-an tahun tetapi isterinya
sudah meninggal dan punya seorang putera lelaki. Maka
mereka berdua hanya dapat menjadi kakak-beradik saja.
O, kiranya begitu. Lalu siapakah kakekmu itu ?
tanya Gak Lui.
504

Ini..., sidara berhenti merenung beberapa jenak


baru menyahut:
Telah kukatakan tadi bahwa selamanya partai Bukau itu selalu dipimpin oleh seorang ketua wanita. Dan
pula tak begitu mementingkan soal pernikahan .... Kini
barulah Gak Lui menyadari. Partai Bu-kau itu semula
adalah partai yang beraliran Hitam. Dan selamanya
dipimpin oleh wanita. Maka iapun sungkan untuk
mendesak lebih jauh tentang kakek dari nona itu.
Lalu bagaimana kelanjutannya? cepat ia alihkan
pertanyaannya.
Kemudian oleh karena menyadari kedahsyatan
pedang Thian- lui-koay-kiam terlalu ganas, maka kakekgurumu lalu mendirikan istana Bi-kiong dan menyimpan
pedang itu di situ. Beberapa tahun kemudian kabarnya
dia telah menerima murid tetapi murid itu telah
melanggar peraturan sehingga diusir dari perguruan.
Oleh karena kuatir setelah kakek-gurumu meninggal,
murid murtad itu akan muncul mencelakai orang, maka
kakek-gurumu lalu menerima beberapa murid dari luar
kaum agama untuk menjaga kemungkinan itu. Adik Lui,
entah siapakah gurumu? Karena melihat ternyata nona
itu mempunyai hubungan dengan para angkatan-tua Busan-kiam-pay, maka Gak Lui pun segera menerangkan
nama ayahnya. Mendengar itu, si Burung hong-cantik
tertawa riang lalu menjamah bahu anak muda itu,
serunya: Adik Lui, aku sungguh tak bohong, lekas
engkau menyebut aku taci.
Nanti dulu, aku masih ada beberapa pertanyaan
yang belum jelas ....
Eh, masih mau bertanya lagi?
Misalnya tentang nama dari kakek-guruku Bu-san It505

ho itu ....
Eh, beliau memang bernama It-ho dan orang she
Tio!
She Tio ? Gak Lui terkejut. Cepat ia teringat akan
Tio Bik-lui yang menolong jiwanya itu. Tetapi di dunia
banyak sekali orang she Tio. Belum tentu Tio Bik lui itu
mempunyai hubungan dengan Busan It-ho.
Siapakah anak keturunan beliau ? tanyanya.
Soal itu aku tak jelas. Ibukupun tak mengatakan hal
itu, sahut sinona.
Benar, jika menanyakan pada ibu nona tentu tahu.
Tiba2 dara itu mengerang dan mengucurkan airmata.
Sudah tentu Gak Lui terkejut sekali dan cepat2 bertanya:
Apakah ibumu .... tertimpa sesuatu yang tak diharap?
Almarhum ibuku ... menuju ke alam baka dengan
membawa dendam penasaran ...
Oh, mengapa?
Hal ini ... ini ... adik Lui, aku akan memberitahukan
kepadamu tetapi janganlah engkau mengejekku.
Ah, tak nanti aku mengejek.
Dan lagi engkaupun tak boleh karena ini lalu ...
memandang rendah padaku.
Seseorang harus dinilai dari sudut perbuatannya
sendiri, tak boleh disangkut-pautkan dengan orangtua
dan keluarga lainnya.
Baik, nona itu menghela napas panjang lalu berkata
dengan nada rawan: Dari nenek, mendiang ibuku hanya
mendapat pelajaran beberapa macam ilmu kepandaian.
Tetapi diantaranya terdapat apa yang disebut ilmu Im506

bwe-khik-yang (tenaga Im menundukkan Yang). Wanita


yang memiliki ilmu itu apabila menikah tentu tak ...
menguntungkan fihak lelaki. Oleh karena itulah maka aku
tak punya .... ayah. Dan lagi sejak nenek meninggal
dunia, ibu selalu patuh melaksanakan pesannya, tak mau
campur urusan dunia luar. Tetapi tiba2 pada suatu hari ia
berjumpa dengan seorang lelaki dan sejak itu tingkah
lakunya berobah aneh sekali ....
Siapakah lelaki itu?
Entah, aku tak tahu. Tetapi dari wajah ibu dapatlah
diduga bahwa lelaki itu tentu mempunyai hubungan yang
rapat dengan ibu. Demikianlah setengah tahun
kemudian, ibu makin berobah pendiam dan bermuram
durja. Setiap hari menangis lalu tiba2 membawa aku
pindah ke tempat yang tak pernah didatangi manusia
hingga sampai sekarang ini.
Tentulah orang itu .... menghianati cintanya kepada
ibumu.
Semula akupun menduga begitu. Tetapi sebelum
menutup mata, ibu telah membuka sebuah rahasia yang
mengejutkan hati !
Rahasia apa?
Beliau mengatakan bahwa mendiang nenek telah
meninggalkan sebuah kitab pusaka yang berisi dua buah
ilmu pelajaran yang teramat ganas dari perguruan Bukau. Kitab itu telah dicuri orang. Oleh sebab itu maka
selain menderita luka hati, pun ibu masih sangat
menguatirkan orang itu akan mencelakai dunia
persilatan. Maka ibu ..meninggal dengan mengandung
dendam penasaran .... Berkata sampai di sini airmata si
Burung-hong cantik itu membanjir turun, ia menangis
tersedu2. Gak Lui ikut bersedih. Setelah nona itu puas
507

menangis, barulah Gak Lui menasehatinya:


Taci Yan, tiada guna bersedih. Kuharap engkau
suka menerangkan peristiwa itu dengan jelas agar dapat
merencanakan balas dendam. Rupanya nona itu mau
menerima nasehat Gak Lui. Maka sambil mengusap
airmatanya, ia berkata pula: Pergiku dari rumah kali ini,
memang justeru hendak mencari balas. Tetapi karena
kepandaianku tak cukup maka aku menurutkan apa yang
biasa dikatakan ibu tentang jalanan di daerah keenam
puncak Busan ini. Akhirnya aku tiba di sini dan hendak
mencari pedang pusaka Thian-lui-koay kiam itu untuk
membalas dendam.
Taci Yan, akupun hendak mengambil pedang itu
untuk membalas sakit hati. Tetapi sampai sekarang
masih menemui kesulitan tak dapat menemukannya,
seru Gak Lui.
Maksudmu engkau tak dapat masuk ke istana Bikong itu?
Bukan hanya tak dapat masuk tetapi pun murid
hianat dari perguruanku itu berada dalam istana itu.
Dialah yang menggerakkan barisan alat2 rahasia
sehingga aku terjeblus di tempat ini.
Hai..., dara itu berseru kaget, aku ingat! Ketika aku
hendak memasuki barisan, aku bertemu dengan seorang
berkerudung muka yang menghadang jalan. Karena
merasa tahu jalan di sini, aku segera menyelinap masuk
ke dalam barisan. Tetapi orang itupun dapat menyusul
aku. Demikianlah kejar mengejar itu berlangsung sampai
dua hari lamanya barulah aku berhasil mencapai jalan
masuk pada puncak keenam itu.
Kemudian di puncak muncul orang yang
menanyakan padamu tentang kata-sandi. Karena engkau
508

tak mampu menyahut lalu engkau dijebluskan ke dalam


guha ini, tukas Gak Lui.
Benar, seru sinona.
Lalu orang berkerudung muka itu? Dan mengapa
engkau tahu kalau dia kaki tangan si Maharaja?
Pada saat orang di atas puncak itu muncul dan
bertanyakan kata sandi, kawanan orang yang mengejar
aku itupun tiba pada jarak 10-an tombak. Tetapi mereka
ketakutan mendengar bentakan orang di atas puncak itu.
Salah seorang mengatakan kepada kawan2nya lebih
baik melapor dulu pada Maharaja baru nanti melanjutkan
pengejaran kepadaku ....
Aneh ! teriak Gak Lui.
Apa yang aneh ? tanya sinona
Menilik naga-naganya, si Maharaja datang sendiri.
Tio cianpwe tentu terancam bahaya! kata Gak Lui
seorang diri. Lau Yan-lan tak mengerti apa yang
dikatakan. Ia segera meminta penjelasan. Gak Lui tak
mau mengelabuhi. Ia menuturkan kejahatan si Maharaja
dan bagaimana ia bertemu dengan Tio Bik-lui. Ketika
mendengar bahwa guha neraka itu tak mungkin diterobos
keluar, sinona agak putus asa. Sambil menepuk bahu
Gak Lui, ia berseru: Lalu bagaimana ini, bukankah cita2
membalas dendam akan gagal ?
Jangan tergesa-gesa, kata Gak Lui. kalau kita
memikirkan dengan tenang, mungkin tentu bisa
mendapat jalan. Tetapi ada satu hal yang engkau harus
menurut padaku.
Segala apa aku akan menurut padamu. Bahkan aku
akan
Tidak, tidak ! Bukan begitu maksudku ! buru2 Gak
509

Lui menukas karena orang salah terima, kuminta


janganlah engkau mengambil pedang Thian-lui-koaykiam itu. Biarlah aku yang mengerjakan semuanya.
Tetapi tanpa pedang pusaka, aku tentu tak dapat
melakukan pembalasan, seru sinona.
Sudah tiga turunan kita bersahabat, sudah tentu
semua aku yang bertanggung jawab!
Ah ... adik Lui, seru sinona, engkau sungguh
terlampau baik sekali. Entah bagaimana kelak aku dapat
membalas budimu ....
Tak usah memikirkan soal itu. Cukuplah kalau
engkau sebut nama musuhmu itu!
Aku tak tahu namanya !
Apakah ibumu tak mau menyebut nama orang itu ?
Sudah berulang kali kutanyakan tetapi beliau tetap
tak mengatakan.
Hm, kalau namanya saja tak mau mengatakan, jelas
tentu ada persoalan lain. Dan mencari musuh yang tak
diketahui namanya, tak ubah seperti orang buta yang
berjalan di kegelapan, Gak Lui menggerutu. Tiba2
terlintas sesuatu dalam benaknya. Ia merenung dan
akhirnya memperoleh akal, katanya: Taci Yan, tadi
engkau mengatakan musuhmu itu telah mencuri kitab
pusaka milik ibumu? Nah, apakah nama dari dua macam
ilmu istimewa itu?
Juga tak tahu !
Eh, apakah sedikit jejak saja engkau sama sekali tak
tahu? Misalnya, apabila dalam dunia persilatan terdapat
orang yang menggunakan ilmu itu, apakah engkau dapat
mengenalnya?
510

Burung-hong-cantik dari Bu-san itu menundukkan


kepala merenung. Sesaat kemudian ia menyahut
perlahan: Aku juga tak tahu. Tetapi kabarnya yang
sebuah yalah ilmu tutukan jari yang dapat menyebabkan
orang kehilangan kesadaran pikirannya. Dan yang
sebuah lagi yalah ilmu Suitan yang dapat membuat
pikiran orang kacau balau ....
Ilmu tutukan jari, ilmu suitan....benar! Aku ingat !
tiba2 Gak Lui berteriak sambil menampar lututnya. Dia
seperti telah menemukan suatu jejak.
Apa yang engkau ingat ? teriak sinona dengan nada
tegang.
Maharaja itu memang memiliki ilmu Suitan yang luar
biasa hebatnya. Dan mungkin diapun mempunyai ilmu
jari yang lihay dan telah digunakan untuk membunuh
orang yang mengetahui rahasianya !
Kalau begitu dialah orang yang telah mencelakai
ibuku. Tak heran kalau kaki tangannya hendak
menangkap aku ....
Benar, aku memang mempunyai anggapan begitu
juga.
Adik Lui, kalau begitu kita ini senasib!
Maka kita harus bersatu padu untuk membalas
musuh kita itu !
Baik, kita bersatulah!
Kedua saling berpandangan dan berjabat tangan.
Karena tegang, mereka tak mengucap sepatah kata
apa2. Tetapi jelas dari pancaran mata, sepasang muda
mudi itu telah memancarkan luapan hati yang diselubungi
cinta dan kebencian. Beberapa saat kemudian, Lau YanLan tiba2 terengah-engah napasnya dan mandi keringat.
511

Gak Lui cepat menyadari keadaan nona itu. Buru2 ia


salurkan tenaga-dalam kearah jalan darah sinona seraya
bertanya dengan mesra : Taci Yan, apakah engkau
merasa guha ini terlalu panas?
Ya,.... ya .... panas .... panas .... sinona menyahut
tersendat- sendat. Tetapi sesungguhnya bukanlah semata2 disebabkan karena hawa panas, pun juga karena
baru pertama kali itu ia bersentuhan dengan seorang
pria. Sudah tentu ia sungkan mengatakan. Untunglah
karena guha gelap, Gak Lui tak dapat melihat perobahan
wajah nona itu. Demikian setelah menerima penyaluran
tenaga-dalam, barulah Lau Yan-Lan dapat menekan
ketegangan hatinya dan napasnya mulai normal lagi.
Adik Lui, lekas engkau pikirkan daya agar kita lekas
dapat keluar dari sini. Kalau terlalu lama di sini, aku tentu
merepotkan engkau saja.
Sebenarnya aku memerlukan 4 batang pedang ....
Sayang aku tak punya dan engkaupun hanya punya
dua batang, bukankah masih kurang sekali? tukas
sinona.
Tidak ! tiba2 Gak Lui berkata setelah merenung
sejenak, kita sekarang dua orang, dapat menggunakan
cara saling pinjam tenaga. Apalagi di hadapan kerangka
ayah, aku mendapat lagi sebatang pedang.
Ah, benar, seru sinona, hampir aku lupa untuk
mengunjuk hormat kepada beliau. Lekas bawa kesana.
Dengan hati2 Gak Lui segera berbangkit. Tanah amat
licin dan ia harus memimpin Lau Yan-Lan yang tak faham
keadaan guha situ maka ia berjalan dengan hati2 dan
dengan langkah kaki yang kokoh. Sesaat Lau Yan-Lan
habis menjalankan penghormatan kepada tulang
kerangka ayah Gak Lui, pemuda itupun sudah bersiap.
512

Dengan gunakan pedang Pelangi ditancapkan ke tanah


untuk mendapat penerangan, ia segera berlutut dan
memberi hormat kepada tulang kerangka ayahnya.
Setelah itu ia ulurkan tangan, rencananya hendak
membawa keluar. Tetapi begitu menyentuh ia segera
dapatkan tulang kerangka itu mengepal seperti bubuk.
Hawa panas dalam guha itu menyebabkan tulang
kerangka menjadi abu yang keras. Terpaksa Gak Lui
batalkan niatnya. Kemudian bersama Lau Yan- Lan, ia
bersujud sekali lagi di hadapan kerangka ayahnya.
Tampak mulut sinona berkemak-kemik memanjatkan doa
dengan khidmat. Setelah itu baru ia bersama Gak Lui
bangun dan ayunkan langkah. Setelah agak jauh maka
bertanyalah Gak Lui:
Taci Yan, apa sajakah yang engkau katakan dalam
doamu tadi ? Nona itu bersenyum manis, sahutnya:
Kumohon agar arwah beliau suka melindungi kita dalam
usaha untuk membalas dendam ini. Dan lagi .... suka
memberkahi kita agar selama- lamanya .... bisa
berkumpul.
Ini.. baru mulut Gak Lui berseru begitu, tiba2 ia
mendengar bunyi dering senjata beradu. Cepat2 ia
pasang telinga, tetapi rupanya Lau Yan-Lan tak
mendengar bunyi itu maka dengan heran ia bertanya:
Adik Lui, mengapa engkau ....
Stt ! cepat2 Gak Lui memberi isyarat supaya nona
itu jangan bicara. Tetapi dering senjata itu sudah
menghilang pada saat Yan-Lan bicara tadi.
Mungkin salah dengar, diam2 Gak Lui menimang
lalu melangkah menyusul sinona. Gak Lui tak sempat lagi
untuk menjelaskan perasaannya kepada Yan-Lan.
Sedang sinona itupun merasa telah kelepasan omong
dan malu untuk mengatakan lagi, sekalipun ia belum
513

melihat bagaimana wajah aseli dari Gak Lui yang ditutup


dengan topeng kulit kera itu, namun dari matanya yang
bundar dan bibirnya yang merah, dapatlah ia memastikan
bahwa Gak Lui itu tentu seorang pemuda yang tampan.
Bahwa pemuda itu telah mengucapkan kata2 menghibur
yang bernada ramah, menandakan bahwa pemuda itu
tentu diam2 telah menyambut cintanya.....
Saat itu mereka sudah tiba di bawah mulut guha.
Bayang2 batu menonjol di atas dinding guha itu merebah
ke bawah. Setelah memandang ke atas sejenak, Gak Lui
lalu gunakan ilmu lemparkan pedang. Ia lontarkan
pedang Pelangi untuk mencari tahu berapakah tingginya
mulut guha itu. Pada saat ia menyambuti lagi pedang itu,
segera ia lontarkan ke atas dinding karang setinggi lima
tombak. Lontaran itu diperuntukkan tempat pos pertama
dalam pendakiannya nanti. Kemudian ia lontarkan
pedang pemberian ayah-angkatnya dan yang terakhir
pedang berkarat peninggalan kerangka ayahnya. Melihat
cara Gak Lui mengatur langkah itu, berdebarlah hati Lau
Yan-Lan. Ia melihat pedang ketiga itu masih terlalu jauh
dari mulut guha. Dan lagi ia tak tahu bagaimana cara
untuk menggunakan ilmu penyambung tenaga itu.
Marilah ! Gak Lui berpaling dan berseru dengan
nada yakin,
Rangkullah bahuku erat2. Begitu aku berseru, kita
harus serempak kerahkan tenaga melambung ke atas
batang pedang yang ketiga itu ....
Lalu ?
Kerahkan tenagamu nanti kutarik engkau ke atas !
Tetapi di atas licin sekali ....
Kita merangkak dengan kaki dan tangan dan
514

lekatkan dada menyedot tanah itu.


Dan engkau ?
Harap engkau merobek lengan bajumu dan gunakan
sebagai tali, luncurkan ke bawah ...
Bagus ! seru Lau Yan-Lan setelah jelas akan
rencana pemuda itu. Segera dengan gembira ia rentang
sepasang lengan lalu memeluk bahu pemuda itu.
Kedengaran Gak Lui menggembor lalu tubuhnya
berputar deras, menyentuh tangkai pedang Pelangi.
Pedang pusaka itu agak tergetar. Lebih dulu melengkung
ke bawah lalu tiba2 balik melayang ke atas lagi. Dengan
cara itu, dapatlah Gak Lui dan Yan-Lan mencapai
pedang yang ketiga. Secepat kilat Gak Lui menyambar
kaki sinona akan didorong ke atas. Lau Yan-Lanpun
dapat mengimbangi gerakan Gak Lui. Dengan
mengempos semangat untuk meringankan tubuh, ia
dapat berdiri diatas sebuah telapak tangan Gak Lui.
Setelah keduanya saling kerahkan semangat, Gak Lui
terus hendak melontarkan sinona ke atas. Tetapi di luar
dugaan tiba2 kaki Gak Lui tergelincir dan tak ampun lagi,
keduanya segera melayang jatuh ke bawah. Untung
dalam saat berbahaya itu, Gak Lui tak gugup. Lebih dulu
ia dorongkan tangan ke bawah. Begitu ia menginjak
tanah dengan tak kurang suatu apa, ia segera ulurkan
sepasang tangan untuk menyanggapi tubuh si nona.
Adik Lui, ini .... bagaimana, seru Lau Yan-lan
dengan pucat.
Pedang itu sudah terlalu karatan sekali sehingga
putus.
Ah, bukankah kita tak punya harapan lagi?
......
515

Dalam keadaan seperti saat itu Gak Lui tak dapat


bicara apa2. Guha terasa panas sekali, jauh lebih panas
dari tadi. Kecuali napas Yan-lan yang memburu keras,
suasana penuh dicengkam kesunyian mati. Tiba2
terdengar suara mendering keras. Kali ini Yan-lanpun
mendengarnya. Ia segera bertanya kepada Gak Lui.
Suara rantai besi, sahut Gak Lui.
Aneh !
Ih ..., tiba2 suara bergerontangan itu terdengar pula
bahkan makin keras dan deras tak henti-hentinya. Selain
itu pun terdengar juga suara bentakan yang tak jelas.
Gemuruh berkumandang. Suatu pertanda bahwa orang
yang menggemborkan suara itu memiliki tenaga dalam
yang kuat. Dan lagi jumlah suara gemboran itu tak
sedikit. Lau Yan-lan terkejut dan menggigil. Buru2 ia
rapatkan tubuhnya ke dada Gak Lui. Pemuda itu sedang
menumpahkan perhatiannya untuk menghitung suara
orang yang menggembor itu dan derap kaki mereka.
Diam2 ia menghitung: Tigapuluh delapan, tigapuluh
sembilan.....empatpuluh !
Uh, banyak benar, tentulah kawanan kaki tangan
Maharaja yang hendak memburu taci Yan... diam2 Gak
Lui menimang. Segera ia mengajak nona itu
bersembunyi di tempat yang gelap seraya menghiburnya:
Jangan takut, justeru kita bakal mendapat kesempatan.
Jangan engkau tampakkan diri ....
Uh, sekian banyak musuh engkau anggap suatu
kesempatan?
Mereka tentu membekal senjata dan pedang. Aku
memang justeru membutuhkan.
Orang gagah pada musuh yang berjumlah banyak,
516

apakah engkau....
Aku mempunyai rencana.
Harap yang hati2 saja, kata Yan-lan tetapi Gak Lui
sudah mengisar beberapa langkah dan kembali ke
tempatnya semula tadi. Ia loncat menyambar sepasang
pedang di atas dinding. Wut ... keempat puluh orang
yang menyerbu guha itu telah menimbulkan deru angin
yang keras. Tetapi Gak Lui tegak berdiri dengan garang,
menunggu kawanan penyerbu dengan sepasang pedang
di tangan. Benar juga tak berapa lama, ditingkah oleh
sinar remang yang menerobos di mulut guha, tampak
kawanan orang yang berjalan cepat sekali sehingga tak
dapat diketahui jelas wajah mereka. Tangan mereka
membawa rantai besi, menyusur dinding karang terus
melorot ke bawah. Mereka tak mengetahui bahwa di
bawah telah menunggu malaekat elmaut yang berupa
Gak Lui. Ketika tubuh2 mereka berhamburan turun ke
tanah, Gak Lui segera menyambutnya dengan lontarkan
pedang-terbang, siut, siut.. pedang Pelangi itu
berhamburan memancar sinar yang menyurut wajah
mereka. Kerut wajah mereka yang seperti kawanan setan
itu, tampak terkejut ketakutan. Huak, huak ... terdengar
jerit teriakan yang ngeri disusul oleh muncratan darah
segar. Gak Lui mengamuk seperti kerbau gila. Kawanan
pendatang yang masuk ke bawah guha itu, laksana
kawanan anak-anak yang terbakar api. Mayat
bergelimpangan tumpang tindih dalam genangan darah
.... Tetapi kawanan orang itu datang dengan jumlah
banyak dan menyusup masuk seperti air bah. Betapapun
Gak Lui membabat mereka, karena diantara empatpuluh
orang itu terdapat juga tiga empatbelas yang
berkepandaian tinggi. Mereka beruntung dapat
menghindar dari babatan pedang Gak Lui dan berhasil
melayang turun ke tanah. Tetapi merekapun segera
517

mengeluh karena tanah amat licin sekali sehingga


mereka tak dapat berdiri tegak, lalu tergelincir jatuh.
Kembali tubuh Gak Lui berputar-putar dengan gerak
yang istimewa. Begitu mereka jatuh, cepat pedang Gak
Lui pun sudah mengantar jiwa mereka ke neraka.
Dalam beberapa kejab saja, tanah-pun penuh
dengan
kutungan
senjata
dan
mayat
yang
bergelimpangan darah. Hanya ada seorang yang dengan
gunakan kaki dan tangan, jatuh bangun nekad hendak
melarikan diri. Melihat keadaan orang yang sudah seperti
setan kelaparan itu, Gak Lui tak sampai hati. Ia hentikan
pedangnya. Tetapi rupanya Lau Yan-lan yang pernah
merasakan penderitaan dari neraka, dengan hati2 ia
loncat menghampiri terus hendak menghantam tengkuk
orang itu.
Tahan ! seru Gak Lui.
Mengapa ? seru sinona sambil hentikan tangan.
Biarkan dia hidup agar dapat kita tanyai keterangan
!
Apa yang perlu ditanyakan lagi ?
Karena kawanan kaki tangannya datang, mungkin
Maharaja juga datang. Apabila dia menjaga di mulut
guha, kita harus berpikir lagi, kata Gak Lui seraya maju
dua langkah dan secepat kilat menutuk jalan darah orang
itu, serunya: Di mana si iblis Maharaja itu?
.
Kalau tak mau bilang tentu akan kusiksa!

Dua kali bertanya tak dijawab, marahlah Gak Lui.


Sekali ia salurkan tenaga dalam ke telapak tangannya,
518

orang itu segera menjerit ngeri.


Ya, bilang.... baru mulut orang itu berkata begitu,
tiba2 ia tersentak berhenti. Gak Lui heran. Cepat ia
lepaskan tangan dan memeriksa wajah orang itu.
Ternyata wajahnya seperti sebuah mayat yang tak
memancar kerut2 perasaan dan sepasang matanyapun
seperti orang tolol.
Aneh....
Apa yang aneh ? tanya Yan-lan.
Akan kuperiksa jalan darahnya dulu baru tahu
sebabnya, kata Gak Lui seraya meraba ubun2 kepala
orang itu. Dalam sekejab saja, tangannya mengurut tiba
di jalan darah Nau-hu-hiat atau bagian otak. Serentak
Gak Lui tergetar hatinya.
Aneh, mengapa jalan darah Nau-hu-hiatnya penuh
dengan hawa Im dingin. Terang tentu ditutuk orang. Ilmu
tutukan itu hampir sama dengan ilmu tutukan yang
diderita si Penjaga Neraka tempo hari. Jelas Maharaja
tentu datang .... Tengah Gak Lui berpikir demikian,
sinona memandang dengan heran tetapi tak berani
bertanya.
Apabila musuh menjaga di luar, jika menerobos
keluar aku dan taci Yan tentu celaka. Namun kalau tetap
berada di sini, taci Yan tak kuat bertahan hawa panas di
sini ... kembali Gak Lui merenung. Akhirnya ia
mengambil keputusan, katanya: Taci Yan, orang ini telah
kututuk terluka, percuma saja menanyainya. Lebih baik
kita pergi !
Setelah mengempaskan tubuh orang yang sudah
setengah mati itu ke tanah, Gak Lui mengambil senjata
orang itu lalu mulai merayap ke atas. Dan karena
519

mendapat rantai besi dari kawanan orang itu. Gak Lui


dan Yan-lan dapat mendaki dengan lancar. Lau Yan-lan
tak menyadari bahwa saat itu masih terkurung dalam
bahaya maut. Ia merasa gembira bahagia karena
bersama dengan seorang pemuda yang dicintainya.
Tetapi Gak Lui tak mempunyai pikiran begitu. Ia ingin
sekali lekas2 dapat keluar dari guha neraka itu. Dan
apabila berjumpa dengan musuh, ia segera dapat
menempurnya.
Saat itu sinar dari atas makin terang dan anginpun
terasa berhembus menampar muka. Gak Lui
memperhitungkan bahwa dari mulut guha di sebelah
atas, hanya terpisah 20-an tombak. Maka ia segera
empos semangat dan pesatkan jalannya. Ia menarik
rantai itu kuat2. Tetapi makin menarik keras, rantai itu
bahkan makin malah menjulai ke bawah. Jelas bahwa
seorang sakti yang tengah menarik rantai itu.
Celaka ! Gak Lui mengeluh. Keringat dingin
membasahi tubuhnya. Cepat ia lepaskan tangan kiri,
menunduk kepala ke bawah sembari mencabut pedang
Pelangi. Saat itu sinona berada di bawah kaki Gak Lui.
Melihat Gak Lui tiba2 berhenti dan menghunus pedang,
ia duga tentu terjadi sesuatu. Tetapi ia tak melihat barang
seorangpun juga dalam guha itu. Apa guna ia ikut
mencabut pedang ! Pada saat ia sedang meragu, Gak
Luipun sudah tancapkan pedangnya pada batu, lalu
ulurkan tangan menarik tubuh sinona ke tempatnya.
Sedang ia sendiripun lalu tegak berdiri dengan sebelah
ujung kakinya. Ia tak mau ngotot menarik rantai itu lagi
dan biarkan terkatung-katung ke bawah. Siasat Gak Lui
itu membuat orang yang berada di luar guha menjadi
bingung, tak dapat menduga apa yang berada di bawah
guha itu. Rantai tampak berayun-ayun. Rupanya orang di
atas itu sedang memancing mancing reaksi dari dalam
520

guha. Kini Lau Yan-lan dapat mengetahui jelas. Ia tak


berani buka suara apa-apa melainkan memandang Gak
Lui dengan pandang ketakutan. Gak Lui tetap tenang2
saja. Setelah mengerahkan tenaga-dalam maka
berserulah ia dengan nada dingin ke atas mulut guha:
Hai, siapa yang main2 di atas itu ?
Hai, kiranya Gak Lui ... ? tiba2 terdengar suara
orang berseru kaget di atas mulut guha.
O, apakah Tio Bik-lui cianpwe ?
Benar, akulah ! Gak Lui menghembus napas
longgar. Walaupun hatinya lega tetapi tak urung diam2 ia
heran: Apakah dia mengikuti aku saja? Tiba2 rantai
bergoncangan dan dengan nada seruan yang ramah,
terdengar Tio Bik lui berteriak: Lekas keluarlah !
Cianpwe, apakah diluar terdapat kaki tangan si
Maharaja ? teriak Gak Lui.
Ini...., berhenti sejenak orang itu berseru: ada
beberapa penjahat kecil tetapi sudah kuhalau pergi
semua !
Kalau begitu silahkan cianpwe mundur sepemanah
jauhnya, kami akan keluar.
Kami ? Apakah nona itu juga masih selamat?
Aku dapat menolong tepat pada waktu ia terjatuh.
Bagus, bagus... , jawab orang itu dengan nada
tegang dan agak jauh. Rupanya ia memang sudah
mundur belasan tombak. Gak Lui tak mau buang tempo
lagi. Ia segera bersama Lau Yan- lan kerahkan tenaga
dalam. Lebih dulu Gak Lui lemparkan rantai besi ke
tengah guha untuk menyelidiki. Ternyata batu2 karang
guha itu tetap seperti bermula, datar dan terpisah dari
mulut guha hanya setombak jauhnya. Saat itu Lau Yan
521

lan pun tiba di sampingnya lalu membisiki ke dekat


telinganya: Adik Lui, ikut akulah. Aku tahu jalan singkat.
Jalan singkat? Apakah bukan ilmu berjalan Tigalangkah- membiluk-kiri ?
Ah, itu kan cara untuk melalui barisan. Selain itu
memang masih terdapat jalan rahasia lagi. Kalau tidak,
masakan dengan kepandaian yang begini rendah aku
mampu lolos dari kejaran mereka dan masuk ke dalam
guha ini?
Tetapi aku perlu menemui Tio cianpwe..... baru Gak
Lui berkata begitu, Tio Bik-lui tampak ulurkan tangan dari
balik batu dan melambai. Gak Lui segera menghampiri.
Akhirnya mereka bertiga berkumpul lalu bersama-sama
memimpin sinona lari menuju ke puncak lapisan luar.
Sejak mempelajari ilmu pukulan Menundukkan-iblis,
tenaga- dalam Gak Luipun bertambah maju pesat. Maka
dalam berjalan itu, ia mampu bertahan atas deru angin
yang mengandung tenaga kong-gi.
Setengah jam kemudian, mereka sudah keluar dari
gunung Bu-san. Memandang ke sekeliling dengan hati
gembira, lalu diam2 mengangguk: Ah, apa yang kuduga
memang tepat. Tempat ini berbeda sama sekali dengan
tempat mulai aku masuk ke pegunungan ini...
Dengan berbatuk-batuk, Tio Bik-lui menukas
kata2nya: Gak siauhiap, sejak tiga hari engkau masuk
ke pegunungan ini, membuat aku bingung sekali. Apabila
terjadi sesuatu pada dirimu, aku sungguh tak enak sekali
terhadap sahabatku lama Empat- pedang Busan.
Gak Lui serta merta menghaturkan terima kasih lalu
memperkenalkan Lau Yan-lan. Mata Tio Bik lui berkilatkilat memandang sinona sejenak lalu tertawa nyaring:
Ah, kalian benar2 merupakan pasangan yang sejoli
522

benar .... ha.....ha .... ha... ha, ha!


Gak Lui tak memperhatikan ucapan itu. Sebaliknya
Yan-lan gembira sekali. Selebar wajahnya merah dan
hampir tak kuasa menahan senyum tawanya. Melihat itu
Tio Bik-luipun hentikan tertawanya.
Kalian tadi terjerumus kedalam guha, apakah
melihat sesuatu yang aneh ? tanyanya. Gak Lui tak mau
mengatakan tentang nasib ayahnya yang menemui
kematian ngeri dalam guha itu. Ia menyahut dingin:
Memang tidak menemukan apa2,
beberapa hal yang aku tak jelas.......

hanya

ada

Silahkan bertanya.
Apakah selama tiga hari menunggu dalam barisan
itu, cianpwe pernah berjumpa Maharaja?
Ini ... tak pernah. Mungkin karena jalanan berlikuliku, dia masuk dari lain tempat.
Lalu anak buahnya yang cianpwe bunuh itu?
Mereka ... sudah berada dalam barisan. Mendengar
jawaban itu beralasan, Gak Lui maju selangkah,
tanyanya pula: Apakah cianpwe melihat ke 40 orang
yang menyerbu ke dalam guha itu ?
Ini ... aku harus menceritakan dari permulaan
bertemu dengan Burung-hong cantik dari Bu-san. Saat
itu aku sedang duduk menyalurkan tenaga-dalam. Kulihat
bayangan tubuh nona Lau menyelinap masuk ke dalam
barisan. Sekalipun ada beberapa orang aneh
mengikutinya, saat itu aku tak jelas keadaannya dan tak
bertanya apa-apa ....
Hm, benar juga. Dia seorang pendekar yang
menyembunyikan diri, tentu tak suka campur tangan
523

urusan dunia, pikir Gak Lui.


Tetapi setelah itu, kulihat berpuluh-puluh orang
membawa rantai panjang. Kuduga beberapa orang yang
masuk lebih dulu tadi tentu mendapatkan sesuatu lalu
keluar dari jalanan lain dan memanggil kawan-kawannya.
Pada saat itu aku tak dapat berpeluk tangan lebih lama
lagi karena memikirkan keselamatanmu ..... kata Tio Biklui lebih lanjut.
Karena itu cianpwe lalu masuk kemari ?
Benar, jawab Tio Bik lui, semula aku hendak
memberi bantuan tetapi tak kira kalian sudah dapat
keluar sendiri.
Kalau begitu si Maharaja itu belum menampakkan
diri ?
Kurasa belum. Kalau memang sudah....ingin kujajal
kesaktiannya.
Hm ... aneh ?
Apa yang aneh ?
Ke 40 orang yang menyerbu kedalam guha itu
sebelumnya telah dirusak urat syarafnya. Apa sebabnya,
belum diketahui.
Kurasa.. Tio Bik lui kerutkan sepasang alis dan
merenung beberapa saat, ujarnya: Tentu si Maharaja
yang melakukan.
Menurut cianpwe, apa alasannya Maharaja merusak
anak buahnya sendiri itu ?
Misalnya, karena hendak menangkap nona Lau ia
telah menyuruh sekian banyak orang. Tetapi karena tak
mengetahui keadaan dalam guha, dan kuatir kalau gagal
kawanan anak buah itu akan dipergunakan lawan, maka
524

Maharaja lalu turun tangan lebih dulu.


Hm, beralasan juga..., kata Gak Lui mengangguk,
pikirnya: Dari kejadian itu makin meyakinkan bahwa si
Maharajalah orang yang menipu kitab pusaka orang Bukau itu. Begitu melihat anak dari ketua Bu kau, maka ia
bernafsu sekali hendak membunuhnya.
Tiba Tio Bik-lui berkata kepada Lau Yan-lan : Nona
Lau, mengapa Maharaja hendak mencelakai engkau ?
Entah, sahut Yan lan dengan dingin. Suatu hal yang
membuat Gak Lui heran. Tetapi Tio Bik-lui mendesak
pertanyaan lagi: Apakah sedikit alasan saja nona tak
mengatakan? Misalnya apakah nona tak dapat
mengatakan tentang asal usul perguruan nona ?
Mungkin dari situ, aku dapat mempunyai gambaran agar
dapat memecahkan teka teki itu.
Terima kasih! Keluargaku berantakan dan aku sudah
sebatang kara. Tiada yang perlu kukatakan apa2 lagi ....
Ya, ya, kata Tio Bik-lui dengan mata berkilat-kilat.
Kemudian ia bertanya kepada Gak Lui apa tindakannya
lebih lanjut. Gak Lui serentak teringat akan pesan
mendiang ayahnya, ia menghela napas.....
JILID 11
Gak Lui teringat akan pesan mendiang ayahnya. Ia
menghela napas dan menyahut: Aku hanya mempunyai
sebuah cara.
Bagaimana? tanya Tio Bik-lui.
Mencari Kaisar-persilatan Li Liong-ci untuk meminta
ajaran ilmu Ngo-heng-tay-hwat terbalik.
Apakah engkau tahu tempatnya?
525

Tidak jelas.
Kalau begitu
bayangan saja?

apakah

bukan

seperti memburu

Pernah aku ditolong oleh doa nyanyiannya ketika


aku berada di istana Lok-ong-kiong.
Rencana itu memang bagus. Tetapi mengingat
Tiong-goan itu negara yang begini luas, apabila hanya
mengandalkan pada kebetulan saja, adalah ibarat orang
menjolok rembulan dalam dasar laut. Gak Lui tertawa:
Masakan aku akan bekerja secara begitu.
Kalau begitu engkau sudah mempunyai jejak yang
dapat engkau ikuti? tanya Tio Bik-lui.
Menilik dari kumandang doa nyanyiannya itu,
kuperkirakan dia mungkin berada di daerah pegunungan
yang terkenal misalnya gunung Heng-san, gunung
Kosan, jawab Gak Lui.
Beralasan juga! Tetapi tempo hari engkau pernah
menyatakan kalau terlibat salah faham dengan fihak
Siau-lim-si......
Ah, salah faham dapat dijelaskan. Apalagi ketua
Siau-lim-si terkena racun, seharusnya aku menjenguk
keadaannya.
Kalau begitu, silahkanlah. Akupun hendak minta
diri, kata Tio Bik-lui seraya memberi selamat tinggal lalu
tinggalkan tempat itu. Setelah orang itu pergi, Gak Lui
berpaling ke arah burung Hong- cantik dari Bu-san, Lau
Yan-lan, serunya : Taci Yan, tadi engkau bersikap
dingin, apakah tidak kurang hormat? Saat itu Yan-lan
masih memandang ke muka, cepat ia menyahut:
Dengan orang yang belum kenal, tiada alasan untuk
ikut bicara .....
526

Dia pernah membantu aku, jadi tak dapat dianggap


orang asing.
Ini .... kurasa dia .... dia tak jujur bicaranya.
Dalam soal apa ?
Dia mengatakan Maharaja mengirim orang untuk
mengejar aku. Itu memang benar. Tetapi kiranya tak
perlu Maharaja mengirim sampai 40 orang.
Lalu maksudmu?
Dengan membesar-besarkan hal itu, seperti
Maharaja itu sudah menduga kalau akan berhadapan
dengan lain musuh yang tangguh.
Memang seharusnya tidak tahu. Karena ketika aku
jatuh dalam guha neraka itu, hanya Tio Bik-lui seorang
yang tahu.....
Di situlah letak kecurigaanku! seru sinona.
Hm..... Gak Lui terkesiap. Setelah merenung
beberapa jenak, ia tertawa pula: Kurasa Tio cianpwe
bukanlah orang semacam itu. Apalagi Maharaja itu
memang manusia yang banyak curiga. Tindakannya itu
memang sudah menjadi adat kebiasaannya. Selain itu
apakah engkau dapat menunjukkan lain2 yang
menimbulkan kecurigaan lagi ?
Lain2 bukti memang tak ada. Tetapi terhadap orang
itu aku memang mempunyai kesan yang tak baik.
Mengapa ?
Wanita memang punya naluri istimewa...
Terlalu perasa, maaf !
Benar ! sahut Yan-lan.
527

Ha, ha, wanita memang suka memikir yang tidak2,


sering tidak menurut kenyataan....
Adik Lui, apakah engkau menertawakan aku ? Yanlan menyeringaikan hidung. Ia merasa kalau dirinya
ditertawakan Gak Lui.
Tidak, tidak! Aku hanya bicara sekedarnya saja,
sekali-kali bukan kutujukan kepadamu, buru2 Gak Lui
memberi penjelasan, taci Yan, aku hendak lekas2
menuju ke Siau-lim, nah, kitapun terpaksa harus berpisah
sampai di sini.
Berpisah? Engkau tak membawa aku serta?
Ah, sebaiknya jangan ikut saja.
Eh, apakah engkau menganggap karena aku murid
perguruan Bu-kau lalu tentu ..... tak suci ?
Itu soal lain, harap jangan dicampur aduk! kata Gak
Lui. Tetapi bagi sinona jawaban itu lain lagi artinya. Gak
Lui berkata menurut urusan yang hendak dilakukan.
Tetapi Lau Yan-lan menerimanya lain. Ia anggap Gak Lui
tak mempercayai kesuciannya maka diam2 ia telah
mengambil keputusan.
Apapun yang hendak engkau lakukan, boleh saja.
Tetapi aku mempunyai sebuah syarat, kata Yan-lan
dengan wajah berseri.
Harap mengatakan.
Ijinkanlah kutemani engkau berjalan satu hari, baru
nanti kita berpisah.
Hanya sehari ? Gak Lui menegas.
Ya, artinya sehari semalam!
Bolehlah

Mendengar

Gak

Lui

menyetujui,
528

berserilah Yan-lan. Gadis itu tampak makin cantik.


Demikian kedua muda mudi itu segera berangkat menuju
ke gunung Ko-san tempat markas Siau-lim-si.
Adik Lui, pandanglah aku ! kata sinona setelah
berjalan sehari, mereka berdua duduk di bawah
sebatang pohon dalam hutan. Saat itu rembulan bersinar
terang. Cahayanya menyusup di antara celah2 daun dan
tepat meningkah ke arah kedua muda mudi itu. Sekeliling
penjuru sunyi senyap. Ucapan Yan-lan yang merdu
merayu itu menambah suasana makin romantic. Gak Lui
menurut. Begitu memandang, hatinya berdebar keras.
Untunglah kesadaran pikirannya cepat mengilas dan
cepat pula berpaling lagi.
Hm, mengapa engkau tak mau memandang aku?
Apakah engkau menganggap diriku jelek?
Tidak, engkau amat cantik.
Lalu mengapa engkau tak mau memandang?
Aku ... sudah memandang tadi.
Pandanglah sekali lagi!
Apa perlunya? Yan-lan menggeliat dan merapatkan
tubuh ke hadapan Gak Lui. Gak Lui hendak menyurut
mundur. Tetapi ia terkesiap melihat pancaran mata Yan
lan yang penuh mengandung permohonan serta bibirnya
yang menghamburkan napas harum sehingga membuat
bibir Gak Lui gemetar.
Adik Lui, pandanglah mataku, sekali saja!
Ya, kalau hanya sekali, tak apalah, sahut Gak Lui
lalu menatapnya. Tetapi begitu empat mata saling
beradu, tiba-tiba ia terpikat pesona. Darah bergolak-golak
dan meluaplah nafsu berahinya. Memang Lau Yan-lan
telah mendapat pelajaran ilmu Memikat-hati dari ibunya.
529

Gak Lui terkena ilmu itu dan tak dapat menguasai diri
lagi. Saat itu sepasang tangan sinona mengulur ke
arahnya dan diluar kesadarannya iapun ulurkan tangan
menyambutinya. Awan berarak-arak menutupi sang Dewi
Rembulan agar dewi malam itu jangan tersinggung
perasaannya menyaksikan kedua muda mudi itu
tenggelam dalam buaian nafsu insani, nafsu yang dimiliki
setiap insan, pria maupun wanita. Beberapa saat
kemudian, setelah mereka terkulai lelah, terdengarlah
suara Yan-lan membisiki ke dekat telinga Gak Lui:
Adik Lui, engkau
membohongimu....

harus

percaya....aku....tak

Tidak..... sahut Gak Lui, tetapi kata itu tersekat oleh


mulutnya yang gemetar. Saat itu tersadarlah ia apa yang
telah terjadi. Segera ia mengemasi pakaiannya lalu
duduk. Dalam benaknya mulai melalu lalang beberapa
sosok bayangan dari: Gadis-ular Li Sau-mey.....The
Hong-lian .... Hi Kiam-gin ....Dan akhirnya terbayanglah ia
akan diri Permaisuri Biru pun mengilas dalam benaknya.
Masih terngiang dalam telinganya bagaimana Permaisuri
Biru itu dengan nada keibuan pernah memberi
peringatan: Dalam kehidupanmu apabila muncul gadis
yang keempat, engkau tentu akan mengalami keakhiran
yang menyedihkan.
Teringat akan hal itu tersentaklah Gak Lui seperti
disambar petir. Darahnya menyalur deras dan
terpukaulah ia tak dapat bicara. Melihat Gak Lui diam
seperti patung, Yan-lan segera bertanya dengan bisik2:
Adik Lui, apakah engkau tak senang hati ....?
Bukan, aku tengah merenungkan sebuah hal, harap
jangan mengganggu dulu, sahut Gak Lui. Yan-lan tak
berani bicara lagi dan Gak Lui pun sudah menetapkan
keputusan, pikirnya: Ah, tak kira kalau gadis keempat itu
530

ternyata jatuh pada diri taci Yan. Oleh karena nasi sudah
menjadi bubur, biarlah aku yang bertanggung jawab.
Apalagi si Maharaja itu menjadi musuh kita berdua. Yang
penting sekarang ini aku harus berusaha untuk
mengambil kembali pedang pusaka Thian-lui koay-kiam.
Lebih dulu membalas sakit- hati. Lain2 urusan, besok
dipikir lagi .... Merenung sampai disitu teringatlah ia akan
pesan mendiang ayahnya.
Apabila keempat jurus ilmu pedang perguruan kita
itu digabungkan satu, dapatlah digunakan untuk
menghadapi pemilik pedang Thian-lui-koay-kiam. Pula
sebaiknya yang menjadi pewaris dari keempat ilmu
pedang itu adalah kaum wanita, demikian pesan
mendiang ayahnya.
Sekarang taci Hi Kiam-gim sudah dapat mempelajari
ilmu pedang itu. Jika kuajarkan ilmu pedang itu kepada
taci Yan ini, adik Siu-mey dan The Hong-lian, bukankah
tepat empat orang gadis? Walaupun mereka terpaut
20an tahun dalam pelajaran itu dengan musuh tetapi
sekurang-kurangnya mereka pasti dapat membela diri.
Pula apabila aku berhasil mendapatkan pedang pusaka
itu, kukuatir seperti halnya dengan kakek guru, aku tak
dapat mengendalikan kekuatan daya iblis dari pedang
itu. Apabila keempat gadis itu dapat mempelajari ilmu
pedang Bu-san-kiam-hwat, mereka tentu dapat
mengatasi aku.... demikian semakin jauh Gak Lui
menjelajah dalam renungan2nya.
Taci Yan, tiba2 ia mengakhiri renungannya, jika
kuajarkan engkau ilmu pedang perguruanku, apakah
engkau mau mempelajari ?
Hampir Yan-lan tak percaya apa yang didengarnya.
Dalam girangnya ia melengking nyaring: Sudah tentu
mau! Sungguh tak kira apa yang kuikrarkan di depan
531

arwah ayahmu, benar-benar menjadi kenyataan...


Setelah menentukan keputusan untuk mengajarkan
keempat jurus ilmu pedang Bu-san- kiam-hwat kepada
keempat gadis itu, maka Gak Lui segera memberikan
pelajaran jurus Hawa-pedang- menembus-malam kepada
Lau Yan-lan. Menilik kecerdasan nona itu, dalam waktu
yang singkat ia sudah dapat memahami. Dan setelah
berlatih serta diberi petunjuk seperlunya oleh Gak Lui,
akhirnya Yan-lan sudah dapat mengetahui jelas
intisarinya. Tetapi tepat pada saat pelajaran itu selesai,
berakhir jugalah waktu berkumpul mereka.
Betapapun berat hatinya namun karena sudah janji
maka Yan-lanpun tak mau ingkar. Ia menyadari bahwa
perjalanan hidup mereka berdua memang masih penuh
dengan lingkaran bahaya.
Adik Lui, jurus ilmu pedang ini, aku tentu akan giat
berlatih. Kuharap engkau menjaga dirimu baik-baik
dalam perjalanan, kata nona itu.
Taci Yan, kemanakah rencanamu ? tanya Gak Lui
dengan nada penuh perhatian.
Aku hendak ke Bu-san.
Tujuannya.....?
Di samping menunggu kedatanganmu, pun untuk
menjaga apabila ada orang yang datang ke gunung itu.
Atau mungkin siapa tahu aku dapat menemukan sesuatu
jejak ....
Tetapi Gak Lui tak begitu menyetujui rencana Yan-lan
itu. Ia kuatir Maharaja akan mengirim beberapa jago2
yang sakti lagi. Sudah tentu Yan-lan seorang diri tentu
tak mampu menghadapi mereka. Tetapi apabila ditinjau
dari sudut lain, Yan-lan faham akan jalan2 dan keadaan
532

keenam puncak gunung Bu-san itu. Apabila bertemu


musuh kuat, dapat menghindarkan diri. Akhirnya ia tak
menentang rencana nona itu. Begitu berputar tubuh,
sambil mengayun langkah ia memberi salam: Harap
jaga diri baik2 ! Bagaikan segulung asap, Gak Lui terus
meluncur turun menuju ke gunung Ko-san.
Selama dalam perjalanan itu Gak Lui tak lepas dari
lamunan2. Tujuannya hendak mencari Kaisar Persilatan
Li Liong ci. Ia tahu bahwa tokoh itu sudah lama masuk ke
daerah Tiong-goan. Tetapi wilayah Tiong-goan amat luas
sekali, bagaimana mungkin ia dapat mencarinya dalam
waktu yang singkat. Karena pikirannya melayang, ia
lengah memperhatikan bahwa dari arah belakang,
sesosok bayangan tengah mengejarnya. Setelah orang
itu berteriak memanggilnya beberapa kali, barulah Gak
Lui berhenti dan berpaling. Kiranya orang itu bukan lain
yalah kenalannya lama, Sebun siangseng, tokoh sakti
dari Kun-lun-pay.
Saudara Gak, baik sajakah engkau selama ini ?
Kepandaian maju pesat sekali rupanya, tentulah engkau
mendapat banyak hal2 yang luar biasa, seru tokoh Kunlun-pay itu. Gak Lui menghela napas: Ah, sekalipun ada
kemajuan tetapi masih terpaut jauh sekali dengan lawan
!
Oh, apakah engkau sudah bertemu ?
Sungguh mengecewakan, kalau tiada Kaisar
Persilatan tak muncul dengan doa pujiannya, aku tentu
sudah mati ditangan Maharaja.
Ho, kedua datuk Hitam dan Putih itu kiranya sudah
bertempur. Lalu siapakah yang menang? Atau belum
diketahui kesudahannya... dalam tegangnya Sebun
siangseng mencurah pertanyaan.
533

Karena merasa bahwa menuturkan cerita itu


memakan waktu panjang, maka Gak Lui lalu
menceritakan dari permulaan. Sejak digunung Pek-wansan menemui Sin-kun The Thay untuk memesan
pembuatan pedang tetapi akhirnya pedang itu direbut
oleh tokoh Wi Cun dari partai Kong-tong-pay. Kemudian
bagaimana ia membunuh Pek Kat Mo kun dan seorang
anggauta Topeng Besi, lalu peristiwa kutungnya lengan
imam Ceng Ki dari Bu-tong-pay. Kemudian ia bertemu
dengan Permaisuri Biru dan Li Hud-kong sampai terakhir
tiba di istana Lok-ong kiong dan dikurung dalam
lingkaran suitan iblis si Maharaja .... setelah itu seorang
diri ia menempur Sam-ciat atau Tiga Algojo dari
Maharaja. Untunglah datang Tio Bik-lui memberi
memberi bantuan dan memberi petunjuk jalan-singkat ke
Bu-san. Akhirnya barulah ia mengetahui nama dari murid
hianat itu yalah Lengan-besi-hati-baik yang kini masih
bersembunyi di istana Bi- kiong .... Mendengar cerita itu
tak henti2nya Sebun Sianseng leletkan lidah dan
berulang-ulang mengangguk-angguk kepala.
Kalau begitu, sekalipun sudah unjuk diri tetapi
Maharaja belum menampakkan wajahnya. Oleh karena
itu apakah dia itu sipembunuh dahulu, masih belum
dapat dipastikan, kata Sebun siangseng.
Kurasa tentu dia, kata Gak Lui.
Tetapi tadi engkau mengatakan bahwa hidungnya
masih utuh.
Soal itu setelah ketemu dengan si Lengan-besi-hatibaik baru dapat diketahui jelas !
Kurasa ilmu kepandaiannya tentu lebih tinggi dari
Maharaja. Sekalipun Maharaja mampu masuk kedalam
istana Bi-kiong, mungkin .....
534

Tak ada yang dikata 'mungkin'. Apabila menunggu


sampai Maharaja melenyapkan partai2 persilatan besar,
tentu akan lebih sukar lagi, kata Gak Lui. Sebun
sianseng tampak kerutkan alis, ujarnya: Saudara Gak,
dalam usahaku untuk mengajak partai persilatan
bersama-sama menghancurkan maharaja, ternyata juga
menemui banyak kesulitan ...
O ... desuh Gak Lui.
Aku sudah pergi Bu-tong-san. Murid kepala, imam
Hwat Lui, sesungguhnya juga dapat mengerti
keadaanmu. Tetapi kemudian ia bersangsi lagi.
Kenapa ?
Kabarnya ada seorang cianpwe persilatan secara
diam2 telah mengirim batang kepala dari imam Ceng
Ki....
Tak mungkin ! Jelas Ceng Ki totiang telah lolos
dengan menderita luka saja, seru Gak Lui dengan
tegang.
Saudara Gak, engkau tentu salah sangka. Mungkin
karena sedang menghadapi pertempuran, sehingga
salah lihat....
Apakah engkau sendiri juga tak percaya kepadaku
? tanya Gak Lui.
Terus terang saja, aku memang kenal dengan Ceng
Ki totiang. Demi menyelidiki peristiwa itu, sengaja aku
naik ke gunung Bu- tong-san untuk mengenali kepala
orang itu. Dan kudapati memang benar2 kepala dari
imam itu sendiri !
Oh ... kembali Gak Lui mendesuh terkejut dan
menyurut mundur selangkah. Ia memang tak mengetahui
sendiri bagaimana Permaisuri Biru telah mendapatkan
535

batang kepala itu. Maka diam2 iapun meragu dalam hati.


Tetapi secepat ia menggali ingatannya, ia berkata dalam
hati:
Jelas mereka berdua selalu bersama. Sama2
muncul dan lenyap. Pula Topeng Besi itu seperti diberi
komando oleh suatu suitan misterius. Dan suitan itu
sama dengan suitan dari Maharaja. Dahulu dari ibunya
Lau Yan-lan, Maharaja telah berhasil secara licin
mempelajari ilmu suitan untuk menghancurkan
kesadaran pikiran orang ... ! Berpikir sampai kesitu,
awan yang menutupi kegelapan benak Gak Lui seperti
tersingkap terang. Ia dapat memecahkan beberapa teka
teki yang selama ini seperti diselubungi kabut gelap.
Pertama, dahulu mendiang ayahnya yakni Dewa-pedang
Gak Tiang-beng, pernah melihat murid perguruan Hengsan mati dibunuh. Kabarnya murid Heng-san itu diajak
oleh paman gurunya yang bergelar imam Hwat Gong.
Sedang waktu murid Heng-san itu dibunuh oleh seorang
tak dikenal, peristiwa itu terjadi didepan hidung Hwat
Gong dan Hwat Gong hanya berpeluk tangan mengawasi
saja. Padahal Hwat Gong kala itu merupakan murid
kepala dari Heng- san, murid yang bakal menjadi
pengganti ketua Heng-san-pay.
Seharusnya dalam kedudukan itu, ia tak boleh
menghianat partai perguruannya dan masuk dalam
gerombolan kaum Hitam. Menilik hal itu jelas kalau Hwat
Gong telah dihapus kesadaran pikirannya oleh suitan
sihir dari Maharaja sehingga ia tak berkutik seperti
patung melihat murid Heng-san dibunuh orang. Tentang
sepak terjang Maharaja, Gak Lui mendapat gambaran
jelas: Maharaja takut kalau Keempat tokoh pedang dari
Bu-san itu akan bersatu untuk menyerangnya dan ia tak
mampu menguasai mereka. Karena ia tak berani terangterangan menggunakan ilmu pedang dari perguruan Bu
536

san.
Demi untuk menghapus kemungkinan kalau Keempat
pedang dari Bu-san itu akan merajai dunia persilatan,
lebih dulu Maharaja hendak mencari pembantu.
Kemudian ia harus meyakinkan ilmu kepandaian yang
tersakti di dunia persilatan. Sekarang ia telah berhasil
memperbudak tokoh2 sakti dari lima buah partai
persilatan. Sekali mendayung dua tepian. Disatu fihak
mendapat pembantu yang boleh diandalkan, pun dilain
fihak ia dapat mencuri belajar beberapa ilmu sakti dari
partai2 persilatan itu.
Demikianlah kesimpulan yang dibuat Gak Lui dari
peristiwa penyerangan terhadap ayah-angkatnya dahulu
oleh seorang berselubung muka bersama tiga orang
Topeng Besi. Begitu pula mengapa Maharaja mampu
memiliki beberapa ilmu kepandaian dari beberapa partai
persilatan, kini mulailah ia dapat membayangkan jelas.
Kedua, menilik hal2 itu, dapatlah disimpulkan bahwa
Ceng Hi totiang itu bukanlah seorang murid hianat,
demikianpun dengan keempat anggauta Topeng Besi itu.
Mereka bertindak diluar kesadaran karena pikiran
mereka dilimbungkan oleh Maharaja. Oleh karena itu
tokoh2 dari partai persilatan yang diperbudak Maharaja
selalu mengenakan selubung muka warna hitam agar
jangan diketahui orang. Tiba pada kesimpulan pikiran itu,
diam2 Gak Lui kucurkan keringat dingin. Karena ia
menyadari kalau telah salah membunuh Ceng Ki totiang
yang walaupun menjadi pembantu Maharaja tetapi
karena pikirannya limbung disihir oleh Maharaja. Jadi
kesalahan imam Ceng Ki itu sebenarnya tak perlu
sampai harus mendapat hukuman mati.
Ah..... diam2 Gak Lui menghela napas panjang.
Hatinya gundah resah. Sebun sianseng tak mengerti
537

mengapa anak-muda itu tampak gelisah. Tanyanya:


Orang yang mati tak mungkin hidup lagi. Lebih baik
engkau
curahkan
pikiran
untuk
berusaha
menghimpaskan hutang darah itu dari pada memikirkan
hal2 yang sudah lalu. Tetapi ... memang usaha itu tak
mudah.
Dengan tandas, berkatalah Gak Lui: Seorang lelaki
akan membedakan mana budi mana dendam. Salah
faham itu aku dapat menebusnya dengan balas jasa
yang bertubi-tubi !
Mendengar ucapan Gak Lui itu, tiba2 Sebun sianseng
teringat akan pemandangan ngeri dalam Kaca ajaib
tempo hari. Diam- diam ia menggigil dan bertanya:
Dengan cara bagaimana engkau hendak membalas jasa
itu? Apakah tak mungkin dirimu sendiri akan .... lenyap!
Rencana belum kupikirkan masak, tetapi-pun takkan
bertindak dengan serampangan ...
Sebun sianseng menghela napas longgar, serunya:
Bagus, memang seharusnya begitu. Kini hendak
kututurkan tentang sikap orang Ceng-sia-pay.
Apakah Thian Lok totiang yang terkena kabut
beracun itu sudah sembuh? tukas Gak Lui.
Ah, masakan begitu cepat. Mereka kekurangan obat
maka terpaksa menutup markas. Tetapi menurut
keterangan para muridnya, begitu Thian Lok totiang
sudah sembuh, dia tentu akan mencarimu !
Gak Lui tertawa hambar lalu beralih pertanyaan: Lalu
bagaimana Kong-tong-pay? Apakah sianseng sudah ke
sana?
Sudah, sahut sianseng, ketuanya, Wi Ih
mendendam kepadamu karena engkau telah membunuh
538

Wi Ti dan Wi Tun. Ketua Wi Ih itu hendak menuntut


balas..
Bukan aku yang melakukan. Peristiwa itu kabarnya
suheng anda, yalah Tanghong sianseng menyaksikan
sendiri. Entah apakah anda sudah berjumpa atau belum
dengan Tanghong sianseng?
Sudah lama kami tak berjumpa. Sekarang ia ikut
Hwat Hong taysu dari perguruan Hengsan-pay berada di
gereja Siau-lim-si. Maka sengaja aku datang kemari
memberitahu, dan lagi ....
Dan lagi bagaimana?
Tek Yan tianglo dari Go-bi-san yang sudah lama tak
muncul, saat ini juga sudah berada disekitar tempat ini.
Aku harus lekas2 mencarinya untuk memberi penjelasan.
Kalau tidak dikuatirkan dia akan salah mendapat
keterangan dari orang sehingga salah faham kepadamu.
Gak Lui amat berterima kasih atas kebaikan hati
Sebun sianseng: Ah, bagaimana aku harus
mengucapkan terima kasih kepada anda yang sudah
begitu jerih payah lari sana sini ....
Ah, tak apalah, sahut Sebun sianseng lalu bertanya:
Saudara Gak, tampaknya engkau tergopoh2, hendak
kemanakah?
Siau-lim-si !
Tujuan ?
Pertama, hendak menjenguk sakitnya ketua Siaulim-si. Dan kedua kalinya, menyelidiki jejak Kaisar
Persilatan.
Ah, tak benar. Belum tentu Hui Gong taysu tahu.
Dan kedua kalinya suhengku tentu sukar bicara. Kurasa
539

.... lebih baik ikut kepada kami ....


Ke tempat Tek Yan totiang itu ?
Lebih baik hal itu untuk sementara
ditangguhkan dulu. Urusanmu lebih penting.

waktu

Tidak! Baiklah sianseng cari dulu Tek Yan totiang itu


dan biarlah aku sendiri yang pergi ke Siau-lim-si.
Sebun sianseng sukar untuk melayani dua buah
masalah sekaligus, ia hendak menyetujui tetapi hatinya
tak tega. Melihat itu Gak Lui tertawa rawan ! Apakah
anda lupa ? Bukankah dahulu anda pernah
menghadiahkan kepadaku sebuah kaca cermin ?
Dengan benda itu dapatlah kuberi penjelasan kepada suheng anda. Sedang tentang Hwat Hong taysu dari Hengsan-pay, pagi2 dia sudah mengetahui diriku. Sudah tentu
dia akan memberi penjelasan kepada fihak Siau-lim-si
....
Sebun sianseng seperti disadarkan. Setelah
merenung sejenak, ia anggukkan kepala. Demikian
keduanya segera mengambil selamat berpisah dan
bergegas menempuh perjalanan masing2.
Ah, Sebun sianseng, kelak apabila aku sudah
menunaikan dendam sakit hatiku, aku tentu akan
membalas budi kebaikanmu...... diam2 Gak Lui
mengantar kepergian orang itu dengan janji dalam hati.
Setiba didaerah gereja Siau-lim-si, Gak Lui tak
henti2nya pasang mata. Setiap orang yang dijumpai
dalam perjalanan tentu diawasi dengan seksama. Ia
mengharap mudah-mudahan diantara mereka itu
terdapat tokoh Kaisar Persilatan yang termasyhur itu.
Tetapi harapannya itu sia2 belaka. Karena makin dekat
gereja Siau-lim, orangpun makin sedikit. Jangankan
540

orang persilatan, bahkan tetamu yang hendak


bersembahyang ke gereja itu pun sudah jarang sekali.
Warung dalam daerah situ, penuh dengan tempelan
kertas yang bertuliskan Urusan dalam belum selesai,
harap tetamu jangan singgah dulu. Timbullah gagasan
dalam benak Gak Lui, pikirnya: Menilik naga- naganya,
rupanya demi menyembunyikan jejaknya, Kaisar
Persilatan tentu takkan datang kemari.... tetapi menilik
kepandaiannya, orangpun sukar untuk mengenali dirinya.
Lalu bagaimana baiknya, ataukah aku lebih dulu masuk
ke gunung atau melakukan lain pekerjaan ? Habis
berpikir, Gak Lui memandang kemuka.
Pada gerumbul hutan tampak menonjol genteng
gereja yang berwarna merah. Sedang dibawah kaki
gunung tampak berbondong-bondong sosok bayangan
orang. Jelas mereka itu sedang mengadakan penjagaan
keatas gunung. Melihat pemandangan itu, tergeraklah
hati Gak Lui. Ia segera memutuskan, Walaupun tiada
sangkut pautnya, tetapi ketua Siau-lim si saat ini masih
belum terlepas dari bahaya. Aku harus menjenguknya....
Cepat ia lanjutkan langkah. Tetapi baru berjalan satu li
jauhnya, tiba2 disebelah muka tampak sesosok tubuh
manusia berjalan menghampiri. Diam2 Gak Lui terkejut
heran karena tadi ia tak dapat melihatnya. Cepat sekali
orang itupun sudah tiba. Gak Lui memandangnya tajam2.
Tetapi karena melihat itu makin besarlah kecurigaannya.
Orang itu memakai rambut yang menjulai kebelakang.
Sepatu robek, pakaian butut. Langkah kakinya tidak
tangkas, sinar matanyapun tak tajam. Pendek kata,
seorang miskin yang sederhana sekali.
Tolong tanya, apakah saudara baru kembali dari
gereja Siau-lim- si ? Gak Lui berhenti dan bertanya
kepada orang itu. Rupanya orang itupun terkesiap kaget
541

melihat Gak Lui. Ia berhenti dan menyahut: Benar!


Gunung dijaga ketat, bagaimana saudara dapat
bergerak bebas ?
Orang itu tertawa : Aku faham sekali akan jalanan
digunung ini. Aku mengambil jalan singkat.
Hm..... orang itu mendesus dan merenung.
Beberapa saat kemudian baru berkata: Selama ketua
sakit suasana disini amat perihatin. Tetapi tak lama
penyakitnya tentu sembuh. Kalau saudara akan
menyambangi, lebih baik lain hari saja.
Gak Lui gelengkan kepala tertawa. Kembali di bawah
kaki gunung muncul beberapa bayangan dan berseru :
Hai, berhenti dululah.... Orang miskin itu terperanjat.
Gak Lui cepat bergerak untuk melindungi orang itu.
Harap jangan bergerak..... seru pendatang yang
belakangan itu. Dan cepat sekali orangnya pun sudah
tiba. Seorang yang memiliki sepasang alis melengkung
bagus dan hidung lempang lurus. Sepasang matanya
berkilat-kilat tajam. Suatu pertanda bahwa dia tentu
memiliki ilmu tenaga-dalam yang tinggi.
Dengan tertawa, Gak Lui menyambut: Tanghong
sianseng ketua Kun-lun-pay, tentulah anda ini bukan ?
Tanghong sianseng tertegun: Benar, dan kalau menurut
topeng mukamu itu sedemikian anehnya, engkau
tentulah Gak Lui.
Gak Lui cepat mengeluarkan kaca cermin pemberian
Sebun sianseng : Aku membawa kaca pemberian Sebun
sianseng. Silahkan anda memeriksa dulu agar kita dapat
bicara dengan leluasa. Tanghong sianseng menerima
kaca cermin itu. Setelah diamat- amati beberapa jenak,
iapun menyerahkan kembali.
542

O, kiranya engkau mempunyai hubungan baik sekali


dengan sute-ku. Kalau begitu apa yang tersiar dalam
dunia persilatan tentang dirimu itu, tentulah tak benar.
Ah, hal itu hanya suatu kesalahan faham saja, sahut
Gak Lui.
Bagaimana soal peristiwa pembunuhan terhadap
kedua totiang dari Kong-tong-pay itu ?
Sekali-kali bukan perbuatanku !
Maksudmu perbuatan dari anak buah Maharaja ?
Tentunya sudah mengerti sendiri? Mata Tanghong
sianseng berkilat tajam lalu bertanya : Ketika kedua
totiang itu hendak menghembuskan napas terakhir,
waktu kutanya siapa yang mencelakai mereka, mereka
menyebut namamu. Bagaimanakah hal itu ?
Ini ....
Ini bagaimana ?
Kurasa pada permulaan dan akhir keterangan dari
kedua totiang itu tentu masih terselip lain kata. Sayang
karena mereka berdua sudah menderita luka parah
sehingga tak sempat mengatakan lagi. Silahkan anda
merenungkan kembali keadaan saat itu, tentu anda akan
mendapat kesan lain, kata Gak Lui.
Tanghong
sianseng
termenung
diam2.
Ia
membayangkan pula keadaan pada saat ia menyaksikan
kedua totiang itu menutup mata. Memang ada kesan
yang seperti dikatakan Gak Lui itu. Sambil mengusap
jenggot, ia mengangguk : Baiklah, soal itu kelak pasti
akan tersingkap. Kemudian mengenai partai Ceng-siapay....
Harap jangan kuatir. Nanti setelah Thian Lok totiang
543

jelas akan persoalannya, keadaan tentu akan baik


kembali.
Mendengar keterangan Gak Lui, wajah Tanghong
sianseng yang semula tegang, saat itu mulai ramah.
Kemudian setelah mendapat keterangan tentang maksud
kedatangan Gak Lui, tiba2 alis Tanghong sianseng
menjungkat pula.
Karena kedatanganmu dengan maksud baik, aku
pun takkan merintangi. Tetapi siapakah yang engkau
ajak bicara tadi ?
Katanya seorang tetamu yang habis bersembahyang
....
Tidak ! cepat Tanghong sianseng menukas, jika ia
sungguh turun dari Siau-lim-si, masakan aku tak dapat
melihatnya.
Dia faham akan jalanan digunung ini dan mengambil
jalan yang singkat.
Hm, pikiranmu terlalu singkat, gumam Tanghong
sianseng, sepanjang jalan keatas gunung, sekalipun
jalan singkat, tetap dijaga oleh murid Siau-lim. Jangan
lagi manusia, sedangkan seekor burung pun sukar untuk
melintasinya !
O, kapankah anda melihatnya ? seru Gak Lui
terkejut.
Pada saat dia sedang bicara dengan engkau!
Heran ! Gak Lui cepat berpaling kebelakang. Tetapi
orang itupun sudah lenyap. Pada semak rumput ditepi
jalan, terdapat bekas2 telapak kaki yang menuju kedalam
lembah, ah, kiranya dia meluncur turun ....
Heh, heh, heh, heh! Tanghong sianseng mengekeh
544

marah, hm, besar sekali nyalimu berani mempermainkan


aku !
Akan kujelaskan ...
Jelaskan ? Aku dapat mewakilimu memberi
penjelasan. Engkau sengaja menahannya supaya aku
tak dapat melihat jelas. Dan engkau sengaja
menggunakan barang pertandaan dari suteku untuk
mengaburkan perhatianku ....
Karena dituduh begitu, meluaplah kemarahan Gak
Lui, serunya dengan gemetar : Jadi engkau mencurigai
aku membawa mata2 ?
Bukan hanya mata2 dari luar, pun mata2 dari
dalam!
Dari dalam ? Gak Lui terkejut.
Ha, ha, kembali berpura-pura tak tahu...
Aku tak pernah bohong, kalau hendak bicara harap
terus terang saja ! seru Gak Lui.
Ya, baiklah, akan kukatakan dengan terus terang.
Tiga hari yang lalu, datanglah seorang gadis kegunung
ini. Katanya ia murid dari Empat Permaisuri dan
membawa obat untuk Hui Hong taysu. Mengingat ia
seorang dara, aku lengah untuk memeriksa dan
memberikan obat itu kepada Hui Hong taysu....
Setelah minum lalu bagaimana ?
Taysu terus tak sadarkan diri sampai sekarang ini !
Siapakah nama dari dara itu ?
Gadis-ular Li Siau-mey !
Hai... ! Gak Lui berteriak girang, kiranya adik Siaumey ... dia .... berada dimana?
545

Ditahan dalam ruang Koan Im...


Kenapa ? Gak Lui terkejut.
Ia mengatakan bahwa dalam waktu tiga hari taysu
pasti tersadar. Hari ini sudah tiba waktunya. Jika taysu
tak dapat sadar, ia harus mengganti jiwa!
Mendengar itu murkalah Gak Lui, serunya: Ah, anda
memang keterlaluan. Lebih baik lepaskan dia !
Kalau tidak ?
Aku
sendiri
kebebasannya.

yang

akan

mengusahakan

Heh, heh, Tanghong sianseng mengekeh. rupanya


engkau memang harus diberi hajaran!
Apakah engkau mampu melakukan ? ejek Gak Lui.
Budak, engkau hanya mengandalkan sebatang
pedang pusaka dari perguruan Bu-tong-pay. Tetapi aku
tak memandang mata sama sekali!
Aku takkan mengunakan pedang tetapi hanya
sepasang tinju saja, bagaimana ?
Tidak ada pertanyaan semacam itu! Kalau aku
sampai salah lepas seorang, tentu takkan mengulangi
melepaskan dua orang. Maka akupun terpaksa harus
menangkapmu hidup !
Waktu mengatakan kata 'menangkapmu' itu,
Tanghong sianseng sudah menghantam. Ilmu pukulan
tenaga Sian-ying-ki-kang yang menjadi kebanggaan
perguruan Kun-lun-pay, segera memancar dari tangan
Tanghong sianseng. Gelombang dahsyat berlambar
tenaga sakti Sin-ying-khi kang segera melanda dada dan
pinggang Gak Lui. Ganasnya bukan kepalang! Melihat
pukulan Tanghong sianseng mengandung tenaga yang
546

dahsyat, apalagi dalam jarak yang begitu dekat, diam2


Gak Lui terkejut. Cepat ia berputar tubuh dan balas
menyerang tiga kali. Bum .... bum .... bum .... terdengar
letupan keras ketika pukulan mereka beradu. Karena
termakan tenaga-penyedot lalu didorong oleh Gak Lui,
Tanghong sianseng terperanjat sekali. Dengan
menggeram marah ia lingkarkan tangannya.
Bagai gunung roboh, kelima jarinya menelungkupi
Gak Lui. Baru pertama kali itu Gak Lui berhadapan
dengan ilmu kepandaian perguruan Kun-lun-pay. Ia
benar2 tertarik akan ilmu kesaktian dari partai perguruan
itu. Terutama tenaga-dalam yang sekeras gunung
meledak dan tenaga-dalam halus bagaikan daun kering
rontok ke tanah..... Kemudian ketika teringat bahwa ia
harus lekas menolong Siu- mey yang ditahan di ruang
Koan im, Gak Lui makin terburu-buru. Dengan
menggeram ia segera dorong kedua tangan. Dengan
tenaga-dalam pukulan Menundukkan-iblis, ia menangkis
pukulan orang. Kembali dua buah pukulan sakti saling
menguji kekuatan. Perbawanya sedahsyat halilintar
memekik-mekik di angkasa..... Bermula tak percaya
Tanghong sianseng bahwa anak semuda itu memiliki
kepandaian sakti. Tetapi setelah bertempur 10 jurus
kemudian, barulah ia percaya bahwa memang Gak Lui
tak bernama kosong.
Demikianlah keduanya melanjutkan pertempuran
dengan jurus2 pukulan yang jarang tampak dalam dunia
persilatan. Jika Gak Lui menggunakan ilmu pukulan
Menundukkan-iblis,
adalah
Tanghong
sianseng
mengeluarkan ilmu Liong-hou-sam-ciang atau tiga
pukulan Naga dan Harimau. Karena gerakan lawan itu
hendak menerkam lengannya, Gak Luipun berhenti. Ia
terkesiap menyaksikan ilmu aneh dari lawan itu. Sesaat
ia tertegun dan agak bingung bagaimana harus
547

menghadapinya. Kebalikannya Tanghong sianseng


diam2 gembira sekali. Cepat ia lancarkan tiga jurus
serangan istimewa lagi. Tetapi ternyata dia terlalu cepat
bergembira. Tiba2 tubuh Gak Lui bergeliatan, seperti ke
kanan seperti ke kiri. Dengan gerak yang aneh itu, ia
berhasil menghindarkan diri dari ketiga pukulan
Tanghong sianseng. Dan laksana sesosok iblis, tiba-tiba
ia menyelinap ke belakang orang. Gerakan itu benar2
membuat Tanghong sianseng tertegun. Cepat2 ia
menggelincirkan
langkah
dan
balikkan
tangan
menghalau. Tetapi baru bergerak setengah jalan, tibatiba bum .... sebuah hantaman dari ilmu pukulan
Penakluk-iblis, mengenai tepat punggung Tanghong
sianseng. Untung Gak Lui masih mempunyai
pertimbangan, ia tak mau membunuh orang itu. Tetapi
sekalipun begitu, ketua Kun-lun-pay yang angkuh dan
congkak itu, mata berkunang-kunang dan kepalanyapun
terasa berbinar-binar gelap, kaki terhuyung-huyung dan
jatuhlah ia ke tanah.
Cepat Gak Lui menyambarnya terus dibawa masuk
ke dalam hutan. Kawanan murid Siau-lim-si tadi
menyaksikan pertempuran itu dengan terlongonglongong kesima. Mereka begitu tertarik sekali
perhatiannya sehingga tak menyadari bahwa tahu-tahu
Tanghong sianseng sudah rubuh dan dibawa si anak
muda. Pada saat mereka menyadari, ternyata sudah
terlambat. Laksana seekor burung garuda, Gak Lui loncat
melayang ke arah mereka. Dengan taburkan jari2
tangannya, ke 8 murid Sian-lim-si itu mengerang dan
mengaduh dan sama rubuh ke tanah ..... Setelah melihat
kawanan paderi itu jerih, Gak Lui turunkan Tanghong
sianseng lalu berseru kepada kawanan paderi itu:
Harap kalian jangan takut. Beritahukan kepadaku, di
manakah letak ruang Koan-im-khek itu?
548

Salah seorang paderi karena melihat keadaan


Tanghong sianseng, timbul kekuatiran kalau orang itu
sampai dilukai Gak Lui. Maka ia segera memberitahu :
Terus naik ke atas, di tepi jalan besar ....
Siapa yang menjaga di situ?
Hwat Hong taysu ketua perguruan Ceng-san-pay.....
Bagus ! seru Gak Lui. Tetapi diam-diam ia
menimang : kalau benar Hwat Hong taysu, tentu mudah
kita berunding. Maka ia segera menepuk jalan darah
Tanghong sianseng supaya sadar lalu berkata: Maaf,
terpaksa kuminta anda rebah dulu di sini untuk
sementara waktu. Bila nanti aku sudah kembali
menolong orang, lain2 jalan darah anda yang tertutuk itu
tentu dapat terbuka sendiri. Dan kujamin bahwa obat
pemberian Gadis- ular Li Siau-mey itu pasti takkan
membahayakan ketua Siau-lim- si, janganlah kuatir !
Habis berkata Gak Lui terus berputar tubuh dan melesat
ke jalan besar yang menuju ke atas gunung.
Karena jalan darahnya tertutuk, Tanghong sianseng
tak dapat berkutik. Karena marahnya wajah pucat lesi,
kaki tangannya dingin. Diam2 ia menimang : Gak Lui,
engkau benar2 menghina aku sehingga namaku yang
sudah harum berpuluh tahun itu akan lenyap kelaut.
Hinaan ini pada suatu hari pasti akan kutagih. Kalau
engkau mengira paseban Koan im-khek itu dapat engkau
masuki dengan bebas, engkau hanya bermimpi. Nanti
apabila 500 anggauta barisan Lo-han-tin itu sudah
bergerak mengepungmu, aku pasti sudah dapat datang
untuk membekukmu ....
Selagi ketua Kun lun-pay itu menghamburkan
sumpahnya dalam hati, adalah saat itu Gak Lui dengan
gunakan ilmu lari cepat Awan-berarak-seribu-li tengah
549

mendaki keatas gunung. Kawanan paderi yang tengah


mengadakan patroli disepanjang jalan, hanya melihat
sesosok bayangan hitam melanda datang. Mereka buru2
menyingkir kesamping. Yang agak lambat menyingkir,
sama terpelanting terdampar angin keras. Lebih kurang
sepeminum teh lamanya, tampaklah sebuah bangunan
tinggi yang bertembok merah. Dengan matanya yang
tajam dapatlah Gak Lui segera membaca papan nama
pada bangunan itu yang berbunyi Koam-im-khek atau
ruang paseban Dewi Koan Im.
Gak Lui girang sekali. Ia terus gunakan ilmu Burungelang- pentang-sayap untuk melambung 10 tombak
tingginya kedalam hutan terus meluncur kemuka. Pada
saat ia meluncur kebawah itu, tiba2 ia tersirap kaget.
Ternyata disekeliling paseban Koan-im-khek itu penuh
dijaga oleh barisan paderi dalam bentuk barisan pat-kwa.
Dan pada tiap sudut, diam2 telah siap pula dengan
barisan pendam. Karena ia sedang melambung ke udara
maka sukarlah untuk menyembunyikan jejaknya lagi.
Serentak terdengarlah suitan melengking bertubi-tubi.
Dan menyusul berpuluh-puluh sosok tubuh dan sinar
pedang
segera
berhamburan
menyongsong
kedatangannya.
Gak Lui
menyadari
kesalahan
langkahnya tetapi sudah tak dapat menghindari lagi.
Cepat! Hanya dengan kecepatan saja barulah aku
dapat terhindar dari kepungan mereka ! diam2 Gak Lui
berkata kepada hatinya sendiri. Kemudian ia kerahkan
tenaga dan meluncur lebih laju. Saat itu hanya terpisah
100-an tombak dari ruang paseban Koan- im. Tetapi
pada saat itu juga dari samping jalan terdengar suara
orang berseru O-mi-to-hud dan menyusul muncullah
seorang paderi berjubah kelabu menghadangnya.
Taysu, harap memberi jalan ! seru Gak Lui yang
550

dengan matanya tajam segera mengenali bahwa yang


menghadang itu adalah Hwat Hong taysu, kepala dari
perguruan Heng-san-pay. Sambil berseru, iapun sudah
menyelinap kesamping hendak mengitari paderi itu.
Berhenti ! bentak Hwat Hong taysu seraya kebutkan
lengan jubahnya menyapu. Tetapi gerak tubuh Gak Lui
yang istimewa itu, tak mungkin dapat ditahan Hwat Hong.
Padri ketua Heng-san-pay itu terkejut dan buru2 salurkan
Bu-ying-keng atau aliran tenaga tak kelihatan, untuk
menahan pemuda itu. Tetapi dengan mengempos
semangat, Gak Lui pun sudah melambung keudara dan
terus meluncur kearah paseban itu. Tetapi karena
dirintangi Hwat Hong itu maka Gak Lui sampai tak
sempat memperhatikan keadaan dalam ruang paseban.
Tiang dan jendela ruang itu penuh dengan lubang2 kecil.
Dan pada saat Gak Lui sedang melayang diudara itu,
terdengarlah berdetak detak dari 16 buah jendela yang
terpentang keluar. Menyusul berhamburanlah kabut dan
asap lalu tampak Gadis-ular Li Siau- mey tegak
diambang jendela dengan wajah yang ketakutan.
Ternyata disamping mendengar hiruk pikuk suitan
para paderi, iapun mendengar juga suara sang kekasih
datang. Karena tegangnya, ia terus mendorong jendela.
Tetapi begitu jendela terdorong maka berhamburan ke 16
jendela lainnya terbuka lebar2.... Siu-mey tak menduga
sama sekali bahwa ruang paseban Koam- im-khek itu
dilengkapi dengan alat2 rahasia semacam itu. Dan alat
pembuka dari pekakas rahasia itu ternyata daun jendela
yang direntangnya itu.
Engkoh Lui, lekas putar kembali! teriaknya cepat2.
Tetapi sayang teriakannya itu terlambat. Saat itu Gak Lui
sudah melayang kearah serambi. Dan ketika berpaling
kebelakang, dilihatnya Hwat Hong taysu sudah tegak
551

berdiri ditempatnya tadi. Sedang beratus-ratus paderi


Siau-lim-si pun sudah siap dengan senjata terhunus.
Ternyata mereka telah membentuk diri dalam barisan Lohan-tin. Gak Lui terjepit dalam dua kesukaran. Kalau ia
menurut anjuran Siau-mey untuk kembali, ia tentu
terkurung dalam barisa Lo-han- tin. Apabila, masuk
kedalam Koan-im-khek ia tentu akan berhadapan dengan
taburan senjata rahasia. Gak Lui memilih maju terus.
Dengan
lingkarkan
sepasang
lengan
untuk
melindungi tubuh, ia terus cepat meluncur masuk
kedalam ruang paseban. Kira2 pada jarak tiga tombak, ia
segera disambut oleh benda2 yang mendesis-desis dan
mendengung-dengung tajam.
Ah, senjata rahasia..... serunya. Memang benar,
beribu-ribu senjata rahasia yang meluncur dengan
kekuatan hebat dan sederas hujan mencurah sedang
menyongsong kepadanya. Melihat itu, betapa besar nyali
dan kegalauannya, namun Gak Lui gentar juga. Ia
menyadari bahwa taburan senjata rahasia itu tak
mungkin dapat dihalau dengan tangan kosong. Maka
cepat ia memutar pedang untuk menghantam. Tetapi
hujan senjata rahasia itu terlampau deras dan cepat.
Beberapa biji telah lolos dari sabatan pedang dan
menyusup ke beberapa jalan darah di tubuh pemuda itu.
Seketika ia rasakan tubuhnya kesemutan dan mulai
kaku. Saat itu baru ia menyadari bahwa senjata rahasia
itu mengandung racun. Karena terluka, terpaksa Gak Lui
meluncur turun. Melihat itu menjeritlah Siau mey. Gadis
itu tak tahan melihat kekasihnya terluka. Ia menutup
mukanya dan rubuh pingsan. Dalam kepungan beribu
senjata rahasia itu Gak Lui tak dapat menyerbu masuk.
Maka dengan mengempos semangat, ia terus apungkan
tubuh berjumpalitan ke arah barisan Lo-han-tin yang
terdiri dari 500 paderi Siau-lim-si itu. Hwat Hong taysu
552

yang berada di depan barisan segera berseru:


Gak sauhiap, menilik keadaanmu engkau sudah
terkena jarum emas Pencabut Nyawa! Sebenarnya saat
itu dengan mengerahkan tenaga-murni, Gak Lui sedang
menyedot jarum emas yang lembut itu pada tubuhnya
supaya masuk ke dalam saluran darahnya. Tetapi karena
sakit dan kejutnya, ia sampai gemetar.
Hm, tak nyana kalau gereja suci semacam Siau-limsi ternyata menggunakan alat2 rahasia yang dilumuri
racun! serunya marah. Dampratan tajam itu membuat
Hwat Hong taysu menyurut mundur setengah langkah,
serunya gopoh: Dalam gereja Siau- lim-si hanya ada
dua tempat yang dilengkapi pekakas rahasia, hal itu
setiap orang sudah tahu ....
Dua tempat yang mana ?
Sauhiap, waktu amat berharga.
mendengarkan kata- kataku dulu..!

Harap

suka

Tak apa, harap taysu suka mengatakan soal tempat


pekakas rahasia itu, baru nanti membicarakan lain2
soal!
Ini ...., Hwat Hong taysu merenung sejenak, ia tahu
anak muda itu berhati keras, maka lebih baik
menerangkan saja kepadanya agar dapat menghemat
waktu.
Yang satu di ruang Koan-im-khek sini dan yang satu
di paseban Lo han tong, katanya.
Hm...., dengus Gak Lui.
Karena sudah kuberi keterangan maka sekarang
harap sauhiap suka mendengar nasehatku.
Silahkan taysu mengatakan.
553

Sauhiap telah terkena senjata yang amat beracun.


Racun itu khusus untuk menghancurkan tenaga-murni
orang. Mengenai obatnya, hanya disimpan oleh ketua
Hui Hong taysu sendiri. Oleh karena itu, kurasa
Bagaimana ?
Lebih baik sauhiap hentikan gerakan dan tunggu
sampai nanti Hui Hong taysu sadar agar dapat memberi
pertolongan.
Ini...... melihat kesungguhan sikap paderi itu,
terpaksa Gak Lui tahankan kemarahannya. Namun
tampaknya ia masih meragu.
---oo~dwkz^0^Yah~oo--Melihat itu Hwat Hong segera maju melangkah
menandaskan: Tak usah sauhiap meragui. Setelah
makan obat dari kawanmu itu, tak lama Hui Hong taysu
tentu akan bangun. Aku yakin bahwa obat dari nona itu
tentu mujarab, kiranya engkaupun tentu beranggapan
begitu juga.
Baiklah, kata Gak Lui. Memang ia percaya penuh
kepada Siu- mey. Setelah itu ia terus hendak
menyarungkan pedang. Tetapi sekonyong-konyong di
luar barisan Lo-han-tin terdengar suara orang
menggembur keras. Dan menyusul tampak sesosok
tubuh berkelebat menyusup dalam barisan paderi itu
terus menerjang maju.
Gak Lui dan Hwat Hong taysu terkejut dan cepat
berpaling. Ah, ternyata pendatang itu adalah Tanghong
sianseng, ketua perguruan Kun-lun-pay. Dengan wajah
pucat lesi, tokoh itu melesat dengan pedang melintang di
dada. Sikapnya perkasa, wajah bermuram kemurkaan.
554

Melihat itu Hwat Hong taysu segera dapat menduga.


Cepat ia maju menyambut. Dan Gak Lui pun lebih tahu
lagi sebabnya. Diam2 ia menindas perasaan hatinya:
Sabar, sabar! Harus mengingat diri Hwat Hong taysu
dan Sebun sianseng. Jangan berkelahi dengan dia ....
Saat itu Hwat Hong taysu dan Tanghong
siansengpun sudah saling berhadapan dan bicara
perlahan. Rupanya ketua perguruan Heng-san-pay itu
tengah memberi penjelasan kepada Tanghong sianseng
tentang diri Gak Lui. Lebih kurang sepeminum teh
lamanya, tiba2 kepala Gak Lui terasa pusing, tubuh
terhuyung seperti pohon kering tertiup angin. Ketika ia
dapat menguatkan diri untuk menahan penderitaan itu,
tampak ketua Heng-san pay dan Kun-lun-pay sudah
berdiri di hadapannya.
Kudengar engkau sudah menerima perjanjian, kata
Tanghong sianseng, demi melihat hubungan baik
dengan Heng-san-pay dan Siau-lim-si, aku tak mau
memaksa orang dengan kesukaran. Kami hendak
menempatkan engkau di paseban Lo-han-tong, agar
menjaga lain2 kemungkinan yang tak diinginkan. Kata2
itu tak sedap di telinga tetapi Gak Lui sudah memutuskan
untuk bersabar. Sahutnya: Baik, akupun juga karena
mengingat hubungan baik dengan Heng-san dan
menjunjung gereja Siau- lim-si sebagai tempat yang suci,
setuju untuk menunggu di paseban Lo han-tong sampai
nanti Hui Hong taysu bangun dan memberi penjelasan
kepadanya!
Hm, engkau pandai melihat gelagat. Tetapi engkau
masih harus menyerahkan ..... tiba2 tokoh Kun-lun-pay
itu mendengus dingin. Dengus itu terasa menusuk tajam
perasaan Gak Lui dan marahlah ia. Luapan amarah itu
menyebabkan darahnya bergolak keras. Mata pudar,
555

telinga mendenging-denging sehingga ia tak dapat


mendengar jelas apa yang diucapkan Tanghong
sianseng lebih lanjut. Setelah ia dapat menenangkan diri,
barulah ia bertanya menegas:
Toa ciangbun, engkau minta aku menyerahkan apa
?
Pedang pusaka.
Pedang pusaka? Gak Lui menegas.
Benar, pedang pusaka yang engkau suruh aku
mengatakan berulang kali itu! sahut Tanghong sianseng.
Toheng, itu agak keterlaluan! tiba2 Hwat Hong
taysu menyelutuk seraya maju selangkah. Ia minta
Tanghong sianseng merobah permintaannya.
Lalu bagaimana kalau menurut pendapat taysu?
Suruh dia menunggu di paseban Lo-han-tong saja.
Di situ penuh dengan pekakas rahasia, pedang
pusakapun tak mampu menahannya.
Tidak! Pedang pusakanya itu semula pusaka
perguruan Bu-tong- pay. Aku hendak mewakili perguruan
itu mengambilkannya!
Gak Lui makin marah mendengar kata2 tokoh Kunlun-pay itu. Walaupun tak ikut bicara tetapi diam2 ia tetap
menyalurkan tenaga-dalam bahkan lebih deras, ia
kembangkan tenaga- dalamnya untuk memaksa
menghalau keluar jarum2 emas dari dalam tubuhnya ...
Ucapan Tanghong sianseng itu benar2 mempesonakan
sekalian orang. Bahkan Hwat Hong taysu yang ramah
dan luhur budi itu, pun terdiam tak dapat bicara apa2
lagi. Sedang barisan 500 paderi Siau-lim-si itupun tegak
dalam sikap siap menerima perintah.
556

Dalam suasana yang penuh diliputi ketegangan itu


tiba2 terdengar suara melengking macam bunyi ketinting
bergemerincing: Engkoh Lui, kedua ciang-bun jin, harap
jangan menuruti luapan perasaan sendiri2. Aku
mempunyai sebuah usul ....
Kiranya yang berteriak itu yalah Gadis ular Li Siu mey
yang saat itu sudah siuman dari pingsannya. Gak Lui,
Tanghong sianseng dan Hwat Hong taysu serempak
mencurah pandang mata kearah nona. Berkata pula Siumey: Kedatangan ke Siau-lim-si ini memang atas
kemauanku sendiri masuk ke dalam paseban Koan-imtong ini. Agar aku dapat membuktikan kebersihan hatiku.
Harap engkoh Lui jangan salah faham.....
Gak Lui mengangguk: Baiklah, aku takkan bertindak
sembarangan.
Hati Siu-mey longgar mendengar pernyataan pemuda
itu. Ia tertawa lalu berkata kepada Tanghong sianseng:
Soal engkoh Lui, kuharap ciang-bun-jin berdua suka
memaklumi. Harap jangan memaksanya supaya
menyerahkan pedang. Jika tak percaya, suruhlah dia
masuk ke dalam paseban Koan-im-tong sini sekali.
Ha, ha, ha.. tiba2 Tanghong sianceng tertawa
gelak2 dan pada lain saat wajahnya berobah serius,
serunya, ho, sungguh bagus benar rencanamu!
Bukankah engkau hendak bersatu untuk meloloskan diri
?
Mendengar ucapan yang menyinggung perasaan Siumey itu, Gak Lui tak kuat menahan kemarahannya,
serunya: Tanghong sianseng, bahwa aku bersikap sabar
itu adalah karena menghormati kedudukan partai
perguruan Kun-lun-pay serta sute anda, Sebun sianseng.
Tetapi tampaknya anda tetap mendesak saja seperti
557

hendak membalas dendam. Rupanya pukulan yang


sebuah tadi masih belum memuaskan hati anda ....
Tanghong siansengpun marah juga sehingga
tangannya gemetar: Memang, lalu engkau mau apa?
Aku memang hendak memberi pelajaran padamu !
Belum kata-katanya berakhir, tokoh Kun-lun-pay itupun
sudah lontar sebuah hantaman dari jarak tiga meter,
mengarah jalan darah Hiat-bun dan Gi hay. Mendengar
desus angin yang dahsyat, Hwat Hong taysu cepat
lindungkan sebelah tangan ke dada. Sedang Gak Lui
yang sudah siap, segera ayunkan tangan kanan untuk
balas menabas serangan lawan. Tiga gerakan dari ketiga
orang yang cepatnya hampir tak dapat diikuti oleh
pandang mata itu saling bertemu di tengah jalan, bum,
bum, bum ..... Angin berputar-putar macam lesus,
letupan sedahsyat gunung meledak. Dalam bayang2
berseliwernya tubuh dan tangan, dari telapak tangan Gak
Luipun berhamburan berpuluh batang jarum emas yang
menyusup ke punggung tangan Tanghong sianseng dan
Hwat Hong taysu. Hwat Hong taysu dan Tanghong
sianseng segera menyadari bahwa dirinya telah terkena
jarum maut Pencabut Nyawa. Karena kejut, kedua ketua
perguruan itu terus menyurut mundur ke dalam barisan.
Sekalipun sama2 mundur tetapi bedalah sikap mereka.
Hwat Hong taysu mencekal pergelangan tangannya
sendiri untuk menutup menjalarnya racun dari jarum
emas. Ia hendak mencari Hui Hong taysu agar dapat
menjernihkan ketegangan. Tetapi tidaklah demikian
dengan Tanghong sianseng. Ia segera mengeluarkan
aba2 agar barisan Lo-han-tin bergerak.
Mendengar komando itu, barisan Lo-han-tin pun
segera berhamburan bergerak menyerang. Dalam pada
itu setelah dapat menaburkan jarum emas yang berhasil
dikeluarkan dari telapak tangannya, Gak Luipun rasakan
558

tubuhnya kesemutan. Hal itu disebabkan karena racun


jarum emas yang masih tertinggal dalam tubuhnya. Ia
cepat memandang ke arah Siu-mey yang berada dalam
ruang paseban Koan-im-khek. Tampak nona itu sedang
bersiap membantu pertempuran.
Buru2 Gak Lui mencegah: Jangan sembarangan
bergerak...! Habis berseru, Gak Lui lingkarkan sepasang
tangannya untuk menghalau serbuan barisan paderi.
Tetapi 500 paderi itu, membentuk diri dalam barisan Lohan-tin yang sakti. Ke 500 ratus paderi itu dibagi menjadi
25 kelompok, setiap kelompok terdiri dari 20 orang.
Mereka menghunus pedang ditangan kanan. Gerak
langkahnya rapi sekali. Bukan saja perbawa barisan itu
amat seram, pun mereka dapat bergerak maju mundur
kanan kiri dengan teratur. Dan yang lebih mengherankan
pula
yalah
cara
mereka
bertempur.
Mereka
menggunakan rantai hubungan satu sama lain sehingga
rapatnya bukan alang kepalang. Pada saat kelompok
pertama menerjang keluar, kelompok keduapun sudah
cepat menyusul.
Barisan itu amat rapat dan pelik. Menghadapi barisan
ketat itu, Gak Lui tetap gunakan kedua tangannya untuk
menghantam dan menghajar. Sepintas pandang mirip
dengan seekor naga yang tengah marah ditengah
samudera. Seorang diri ia harus menghadapi serbuan
limaratus orang paderi. Pada saat mencapai jurus ke
100, barisan Lo-han-tin itu makin lama makin perkasa.
Jumlah orangnyapun tampaknya lebih banyak. Makin
lama napas Gak Lui makin memburu keras, tubuh
bermandi keringat, mata tak henti-hentinya berkeliaran
kian kemari.
Tiba2 ia rasakan pandang matanya berbinar-binar.
Semua benda yang dilihatnya seperti pecah dua. Ia
559

menyadari kalau racun dalam tubuhnya mulai bekerja.


Tanghong sianseng yang memperhatikan keadaan
pemuda itu, hanya tertawa dingin lalu melesat kesamping
Gak Lui dan ayunkan tangannya. Rupanya ketua Kunlun-pay itu tak menghiraukan dirinya kena racun jarum
emas. Dia hanya ingin menumpahkan balas dendam atas
pukulan yang diterimanya dari Gak Lui tadi. Sudah tentu
Gak Lui amat marah. Diapun terpaksa kerahkan seluruh
sisa tenaganya untuk membalas. Beberapa saat
kemudian ia rasakan Tanghong sianseng itu seperti
pecah berhamburan menjadi berpuluh sosok bayangan.
Dan kelima ratus paderi anggauta barisan Lo-han-tin itu
tampaknya
bagai
gelombang
samudera
yang
mendampar. Bumi berputar-putar, angin menderu dan
gempa melanda. Ia rasakan dirinya seperti berada dalam
sebuah perahu yang terombang-ambing di-tengah
samudera raya.
Pada saat antara sadar tak sadar itu tiba2 terdengar
pekik melengking dari sesosok tubuh ramping yang
melayang keluar dari Koan-im-khek. Siu-mey ... ! keluh
Gak Lui dalam hati setelah mengetahui siapa pendatang
itu. Memang bermula Siu-mey tak mau keluar dari
paseban Koan-im- khek itu. Tetapi karena melihat
kekasihnya terancam bahaya, ia tak dapat berpeluk
tangan mengawasi lebih lanjut. Maka setelah alat2
rahasia dari dalam paseban itu muntah keluar semua, ia
segera melayang. Namun Tanghong sianseng tak
memandang mata kepada nona itu. Dengan tangan ia
meringkus Gak Lui lalu tangan kiri ditebaskan kearah
Siu-mey. Gadis-ular Li Siu-mey ketika ikut pada Dewi
Tong Thing telah mendapat beberapa macam ilmu
pelajaran. Begitu melihat musuh menyerang, ia pun
segera berputar-putar tubuh seraya ayunkan tangan, wut,
wut, wut.... setiup hawa dingin segera berhamburan
560

melanda Tanghong sianseng.


Dalam pertempuran itu sebenarnya Tanghong Giok
atau Tanghong sianseng itu sudah menderita luka
terkena jarum emas yang ditaburkan Gak Lui tadi. Sudah
tentu ia tak kuat menghadapi seorang lawan yang masih
segar tenaganya. Apalagi ilmu kepandaian gadis ular
Siu-mey itu setengahnya termasuk pelajaran silat sejati,
setengahnya termasuk ilmu Bi-hun-toa-hwat atau
semacam ilmu hitam. Maka setelah berlangsung 10 jurus
saja, tangan dan kaki Tanghong Giokpun melentuk,
tubuh menggigil dan rubuhlah ia ketanah. Gak Lui juga
serupa. Setelah menghela napas panjang pandang
matanyapun gelap dan lenyaplah kesadaran pikirannya.
Siu-mey tak gugup. Setelah mengangkat kedua orang itu,
ia berkata kepada rombongan paderi Siau-lim-si: Berhati
semua ! Aku hendak masuk kedalam ruang besar untuk
mengobati luka kedua orang ini...
Oleh karena Tanghong sianseng dikuasai, maka
kawanan paderi itupun tak berani berbuat apa2 terhadap
nona itu. Sekonyong-konyong dari dalam barisan tampil
murid kepala dari Siau-lim-si yalah paderi Hoan Gong.
Ketika Siu-mey masuk ke gunung Ko-san, ia sudah
melihatnya. Maka sambil pejamkan mata dan
rangkapkan kedua tangan ke dada, paderi itu berkata :
Nona, sesungguhnya aku tak berani merintangimu.
Tetapi adalah karena dari pimpinan gereja sudah
memberi perintah, kecuali ketua gereja sendiri yang
datang, siapapun harus dibatasi kebebasan geraknya ...
Urusan jiwa itu amat penting, seharusnya dapat
diberi kelonggaran, jawab Siu-mey.
Harap maafkan, aku sungguh tak berani bertindak
sembarangan sendiri.
561

Lalu bagaimana ?
Soal ini... lebih baik nona kembali kedalam paseban
Koan-im- tong saja. Sebenarnya Gadis-ular Siu-mey itu
baik budinya. Ia tak mau membikin susah orang. Tetapi
karena hal itu menyangkut jiwa kekasihnya, ia tak mau
bersangsi lagi.
Kembali kedalam paseban Koan-im-tong tiada
gunanya. Baiklah engkau gunakan barisan Lo-han-tin
untuk merintangi aku, serunya kemudian. Habis berkata
ia terus melesat beberapa tombak dan langsung menuju
ke paseban Tay-hiong-po-tian.
Nona ....! Nona .! teriak Hoan Gong dengan
gemetar. Keringat dingin membasahi tubuh. Ia tak
berdaya lagi mencegah Siu-mey yang saat itu sudah
melesat seperti angin. Karena tertegun ia tak sempat
memberi komando kepada barisan Lo-han-tin supaya
merintangi nona itu. Mulutnya serasa terkancing. Hendak
mengucapkan komando rasanya amat berat sekali.
Tetapi akhirnya ia paksakan diri untuk berteriak
sekuatnya: Mundur !
Barisan dari 500 paderi Siau-lim itu serentak
berhamburan memecah diri bersembunyi di tempat
masing2. Maka dengan leluasa dapatlah Siu-mey
melintasi jalan. Tiba di paseban Tay-hiong-po-tian, tiba2
Hui Hong taysu ketua Siau-lim-si sudah menyambut di
ambang pintu dengan ucapan yang ramah dan penuh
rasa terima kasih: Nona, obatmu itu benar2 manjur
sekali. Terima kasih, terima kasih ..... Saat itu paderi
Hoan Gongpun menyusul tiba. Ia sudah melihat kalau
ketua gereja sembuh maka ia berani membubarkan
barisan Lo han-tin. Setelah itu ia bergegas menuju ke
paseban Tay- hiong-po-tian untuk menghadap Hui Hong
taysu. Ketika Gak Lui tersadar membuka mata, pertama562

tama ia dapatkan dirinya rebah di atas sebuah


pembaringan. Sedang di sampingnya Gadis-ular Siu-mey
tengah
duduk
memandangnya
dengan
penuh
kemesraan.
Oh, terima kasih Tuhan! Engkau dapat siuman lebih
cepat dari yang diduga, sayang... seru nona itu
kegirangan.
Sayang? Sayang apa? Gak Lui heran.
Sayang Tanghong sianseng.
Dia bagaimana?
Mati ....! Seperti mendengar halilintar berbunyi di
siang hari, serentak Gak Lui loncat bangun.
Tak mungkin! Dia memiliki kepandaian yang sakti !
serunya tak percaya.
Jarum Pencabut Nyawa dari Siau-lim-si itu luar biasa
hebatnya. Dia tak seharusnya menggunakan tenagamurni untuk menahan. Dengan begitu racun menyusup
ke dalam urat2 jantungnya!
Gak Lui seperti disambar petir, seketika ia pejamkan
mata merunduk diam. Sikapnya seperti seorang jago
yang kalah bertempur. Hatinya penuh berkabut sesal.
Sekalipun ia tak senang atas sikap Tanghong sianseng
yang congkak tetapi ia berhutang budi kepada sutenya
yalah Sebun sianseng. Belum ia dapat membalas Sebun
Sianseng, sekarang ia malah salah membunuh
Tanghong sianseng, suheng dari Sebun sianseng itu.
Bukankah dengan begitu ia dapat dianggap sebagai air
susu dibalas dengan air tuba atau kebaikan dibalas
dengan kejahatan?
Engkoh Lui, yang mati tak mungkin dapat hidup
kembali. Dan hal itupun tak dapat menyalahkan engkau
563

... terus terang, lukamu sendiri itu jauh lebih hebat dari
dia. Tetapi ternyata engkau tetap hidup. Benar2 memang
sudah suratan takdir ! Siu-mey menghibur.
Bukan suratan nasib yang mujijat ! bantah Gak Lui
tertawa hambar. Ia segera menuturkan pengalaman
ketika dahulu pernah makan darah buaya raksasa yang
berumur seribu tahun. Siu-mey makin terpikat
perhatiannya. Ia menggunakan kesempatan itu untuk
bertanya tentang keadaan sang kekasih selama berpisah
ini. Sudah tentu Gak Lui menceriterakannya dengan
terus terang. Hanya soal bertemu dengan kedua The
Hong-lian dan Lau Yan- lan, tak diceritakan.
Siu-mey mendengarkan dengan penuh perhatian dan
perasaannyapun ikut tegang, rawan, sedih dan gembira.
Kemudian iapun menceritakan tentang pengalamannya
selama berpisah itu. Bagaimana ia ikut Permaisuri Biru
ke gunung Kun- san untuk belajar ilmu silat, bagaimana
ia mencari jejak ayahnya yalah si Tabib-sakti Li Kok-hwa
tetapi tak ketemu. Menuturkan peristiwa itu, Siu-meypun
kucurkan airmata.
Tak usah berduka, adik Mey, Gak Lui
menghiburnya. Kelak pada suatu hari kita pasti dapat
berjumpa dengan beliau .... tiba2 ia berhenti karena
membau asap dupa dan mendengar suara genta gereja
bertalu talu. Ia duga genta itu tentu berasal dari Siau-limsi maka iapun melanjutkan pula kata-katanya: Ah,
rupanya sudah terlalu lama, mari kita menjenguk ke
luar.
Tunggu ! Siu-mey cepat mencegah, saat ini ketua
Siau lim-si dan Hwat Hong taysu tengah mengadakan
doa sembahyangan untuk Tanghong sianseng. Karena
kuatir engkau tak leluasa, maka beliau mengatakan nanti
saja akan mengundangmu.
564

Ini ... demi memandang Sebun sianseng kita berdua


seharusnya ikut bersembahyang juga, kata Gak Lui
seraya melangkah keluar. Siu-mey cepat menarik baju
pemuda itu: Ah, perlu apa ter- buru2? Aku masih
mempunyai suatu urusan penting yang belum sempat
kukatakan kepadamu !
O, Gak Lui terkejut dan hentikan langkah, urusan
apakah itu ?
Aku hendak bertanya kepadamu. Engkau kenal pada
sumoay-ku
tetapi
mengapa
engkau
tadi tak
mengatakannya ! Gak Lui menyahut gelagapan :
Sumoay-mu yang mana ? Aku sungguh tak kenal !
Baiklah, Siu-mey merajuk dan pura2 marah, puteri
dari Pukulan-sakti The Thay yang bernama The Honglian itu telah angkat saudara denganmu, mengapa
engkau mengaku tak kenal?
Merah selebar muka Gak Lui ketika mendengar kata2
itu. Saat itu iapun seperti orang disadarkan. The Honglian telah diterima menjadi murid oleh Permaisuri Biru,
sedang Permaisuri Biru tinggal serumah dengan Dewi
Tong-ting yang menjadi guru dari Siu-mey. Sudah tentu
Siu-mey kenal dengan gadis itu. Teringat pula Gak Lui
bahwa kedua kaki gadis Hong- lian itu sudah kutung.
Seketika timbullah rasa kasihan dalam hatinya.
Karena dapat mempelajari ilmu pedang, tentu luka
pada kaki adik Lian itu sudah sembuh. Dimanakah
sekarang ia berada? serunya gopoh. Siu-mey kerutkan
alis dan tertawa: Ih, menilik engkau begitu tegang,
tentulah hubungan kalian sudah erat sekali....
sebenarnya akupun hanya mendengar penuturan suhu
tetapi belum pernah berjumpa sendiri.
O...! Gak Lui menghela napas kecewa. Tiba2
565

matanya berkeliar dan menggumam: Aneh...


Mengapa aneh ? tanya Siu-mey.
Kedua lututnya telah terpapas kutung dengan
pedang. Seharusnya sukar untuk mempelajari ilmu
pedang ... Siu-mey yang faham akan ilmu obat-obatan,
setelah merenung sejenak lalu menyahut: Kukira
.....mungkin Permaisuri Biru itu .... mereka ... pandai akan
ilmu obat-obatan.
Tidak ! bantah Gak Lui, kala itu Permaisuri Biru
mengatakan kepadaku akan mengusahakan tabib sakti
untuk mengobati luka adik Lian. Dengan begitu jelas
beliau tak mengerti ilmu pengobatan. Dan ahli yang
dapat menyambung tulang dan urat, jarang sekali....
Ayahku termasuk salah seorang....
saking
tegangnya, Siu-mey segera menyebut nama ayahnya.
Benar, kata Gak Lui, memang akupun berpendapat
demikian. Sekalipun bukan ayahmu sendiri yang
mengobati, tetapi ayahmu dapat memberi keterangan
tentang tabib sakti lain yang dapat menyembuhkan luka
adik Lian itu. Siu-mey menghela napas beberapa kali,
katanya : Kabarnya adik Lian sudah tinggalkan
perguruan. Kita harus lekas2 mencarinya. Tetapi dunia
begini luas, ah kemanakah kita akan menemukannya.
Ini....., Gak Lui tertegun sejenak lalu berkata dengan
tandas, aku punya cara yang bagus!
Bagaimana?
Dahulu anak buah Maharaja menawan hidup
Pukulan-sakti The Thay, tujuannya tentulah supaya dia
dapat membuatkan pedang itu.
Hm ...
566

Dan setelah tinggalkan perguruan, adik Lian tentu


akan mencari ketempat ayahnya itu !
Benar, tetapi apakah hubungannya hal itu dengan
usaha kita mencarinya ? tanya Siu-mey.
Menilik kepandaian Permaisuri Biru, beliau tentu
faham akan ilmu petangan. Tentulah takkan menyuruh
adik Lian secara membabi buta. Dan tentu akan memberi
petunjuk di mana tempat tahanan ayahnya itu ....
Mendengar itu tertawalah Siu-mey : Benar, memang
beralasan juga. Kedatanganku ke Siau-lim-si kali ini
memang atas perintah suhuku Dewi Tong-thing. Beliau
mengatakan, siapa tahu nanti disini akan berjumpa
dengan engkau. Kalau begitu, kita pergi mencari tempat
penahanan ayah adik Lian, tentulah dapat bertemu
dengan adik Lian. Setelah itu kita mendatangi tabib sakti
yang ditunjukkan ayah adik Lian itu.
Uraianmu tepat sekali ! seru Gak Lui. Siu-mey
tertawa gembira. Tiba2 ia merenung lalu mengajukan
pertanyaan lagi: Engkoh Lui, engkau belum tahu tempat
The Thay cianpwe, bagaimana engkau hendak
mencarinya ?
Gak Lui tertawa gelak2, serunya nyaring: Sudah
tentu caranya telah kupikir tetapi untuk sementara ini
belum dapat kuberitahukan kepadamu.
Mengapa harus main sembunyi ?
Eh, bukankah kita sama2 pergi. Tentu nanti engkau
akan tahu sendiri !
Tetapi apakah hal itu takkan mengganggu waktumu
untuk mencari Kaisar Persilatan?
Tidak, sahut Gak Lui, aku mempunyai suatu
perasaan bahwa beberapa masalah itu tentu dapat
567

kuselesaikan, hanya.
Hanya bagaimana ? Berkata soal 'perasaan', tiba2
Gak Lui teringat akan perkataan Permaisuri Biru dahulu.
Bahwa apabila ia berjumpa dengan gadis keempat, tentu
akan mengalami kesudahan yang mengenaskan.
Ditambah pula dengan lukisan yang tertera pada Cermin
gaib dari si Raja-bengawan tempo hari, dan korban2
yang secara langsung maupun tak langsung jatuh akibat
perbuatannya itu...bahkan peristiwa matinya Tanghong
sianseng kemarin, benar2 membuat Gak Lui tak dapat
mengerti. Dan yang lebih mengerikan, yalah pedang
pusaka Thian-lui-koay-kiam dari perguruan Bu-san-pay
itu. Sudah jelas bahwa pedang itu senjata pembawa
maut yang ganas dan sukar dikendalikan. Tetapi demi
menuntut balas dan demi menyapu bersih kawanan
durjana dari dunia persilatan, terpaksa ia harus tetap
berusaha untuk mendapat pedang itu.
Eh, mengapa engkau diam? Bagaimana kelanjutan
dari kata- katamu itu? tiba2 Siu-mey menegurnya.
Diam2 Gak Lui telah menetapkan keputusan dalam
hati: Jika memang akan mendapat kesudahan yang
buruk, aku sendiri yang menanggungnya. Aku tak mau
melimpahkan pada orang lain! Maka ia mengangkat
muka dan tertawa: Maksudku aku hendak mengajarmu
sebuah ilmu pedang dari perguruanku, setelah itu baru
kita bersama-sama berangkat ....
Hai, bagus sekali ! Siu-mey berseru girang, dulu
kuminta engkau tak mau memberikan. Sudah tentu aku
senang
sekali
menerimanya.
Karena
diluap
kegembiraan, Siu-mey sampai lupa untuk menanyakan
apa sebab pemuda itu berbuat demikian. Sudah tentu ia
tak tahu apa rencana Gak Lui. Pemuda itu menghendaki
agar keempat nona itu, setelah masing2 meyakinkan
568

sebuah ilmu pedang dari perguruannya, tentulah mereka


akan sanggup menghadapi Maharaja. Pula setelah kelak
ia sudah berhasil memperoleh pedang pusaka Thian-luikoay-kiam yang ganas itu, apabila ia lupa diri, dapatlah
keempat nona itu menundukkannya .....
Demikianlah Gak Lui segera menurunkan pelajaran
ilmu pedang Menabas-emas-memotong-kuda, ilmu
istimewa untuk memapas pedang lawan dan ilmu gerak
meringankan tubuh Rajawali- rentang-sayap. Berkat
kecerdasan otak Siu-mey, setelah mengulang pelajaran
itu sampai 10 kali, ia sudah dapat mengetahui inti
pokoknya.
Tepat
pada
saat
Siu-mey
sudah
menyelesaikan pelajarannya, terdengarlah derap kaki
orang tiba di muka pintu. Gelang penutup pintupun
diguncang tiga kali dan menyusul terdengar seseorang
berseru dengan nada menghormat: Atas titah ciang-bunjin, tuan berdua dipersilahkan datang ke paseban Tayhiong-po-tian !
Gak Lui dan Siu-meypun keluar. Tiba di paseban
Tay-hiong-po tian, keduanya bersembahyang di hadapan
jenazah Tanghong sianseng. Sikap dan tindakan kedua
muda mudi itu menimbulkan kesan baik di hati Hui Hong
taysu dan Hwat Hong taysu. Setelah habis melakukan
sembahyang, Gak Lui dan Siu mey dipersilahkan duduk
bersama kedua ketua perguruan itu.
Nona Li, Hui Hong taysu ketua Siau-lim-si mulai
membuka pembicaraan, berkat pemberian obat nonalah
maka jiwa kami dapat tertolong. Seluruh warga Siau-limsi amat berterima kasih sekali kepadamu. Soal terpaksa
memintamu tinggal di dalam paseban Koan-im-khek tadi,
adalah karena sudah banyak tahun suhumu tak pernah
muncul di dunia persilatan. Karena takut termakan siasat
Maharaja, maka terpaksa kami harus berlaku hati2.
569

Dalam hal itu kami harap nona suka memaafkan.


Ah, taysu keliwat merendah, sahut Siu-mey,
memang hal itu sudah sewajarnya. Harap taysu jangan
sungkan.
Soal kematian Tanghong sianseng, kami merasa
berduka
sekali,
kata
ketua
Siau-lim-si
pula,
maka...sedianya .... hendak kepada sutenya... Berkata
sampai di situ, suara Hui Hong taysu tersekat-sekat.
Jelas ketua Siau-lim-si itu tengah menghadapi persoalan
yang amat pelik sehingga sukar untuk menyelesaikan.
Cepat Gak Lui menyelutuk: Soal itu aku dapat
memberi penjelasan kepada Sebun sianseng. Harap
taysu jangan resah.... Tetapi walaupun mulut
mengatakan begitu, diam2 hati Gak Lui tetap gelisah.
Sampai saat itu ia belum menemukan cara yang sesuai
untuk menyelesaikan soal itu.
Hwat Hong taysu, ketua perguruan Heng-san-pay,
segera memecahkan kesunyian suasana pembicaraan,
ia alihkan pada lain soal: Gak sauhiap, petunjuk apakah
yang hendak engkau berikan kepada Siau lim-si ?
Ah, berat sekali kalau dikata akan memberi petunjuk,
taysu, jawab Gak Lui, tujuanku kemari hanyalah dengan
harapan.....supaya berjumpa dengan Kaisar Persilatan.
O, seru kedua paderi itu serempak, adakah
sauhiap memastikan kalau dia akan datang ke gereja sini
?
Aku tak berani memastikan.
Lalu apakah sudah bertemu?
Ini ... , Gak Lui tertegun sejenak lalu berkata pula,
rupanya belum. Tetapi ketika naik ke atas gunung
memang telah bertemu dengan seorang pengunjung
570

yang katanya habis bersembahyang di dalam gereja.


Tak mungkin, seru Hwat Hong taysu terkejut,
gunung ini telah dijaga ketat sekali. Orang biasa tentu
sukar masuk keluar .... tetapi silahkan sauhiap
menggambarkan wajah orang itu. Jika memang Kaisar
Persilatan, aku tentu mengenalnya.
Pakaiannya kedodoran, wajah biasa pun kedua
matanya tak bersinar. Tak mirip sama sekali dengan
orang yang berilmu silat tinggi, kata Gak Lui.
Kalau begitu, bukan! seru Hui Hong taysu.
Lalu bagaimanakah sebenarnya wajah Kaisar itu ?
Cukup dengan kata2 perumpamaan. Dia memiliki
tubuh yang lemah gemulai dan wajah berwibawa laksana
naga dan burung cenderawasih. Sekalipun sudah 20
tahun yang lalu aku ketemu padanya, tetapi begitu
melihat lagi pasti aku segera dapat mengenalinya!
Hm, Gak Lui mendesis dan bertanyalah ia dalam
hati: Masakan dia tak dapat menyamar? Tokoh setingkat
dia, tentu tak mau sembarangan unjuk diri. Maka aku
harus waspada ....
Ah, waktu sudah mendesak sekali. Pemberian obat
nona Li itu segera akan kukirimkan ke Ceng-sia-san. Bila
tak ada lain2 keperluan, aku hendak segera berangkat,
tiba2 Hwat Hong taysu ketua perguruan Heng-san-pay
berkata.
Harap tunggu dulu, taysu, buru2 Gak Lui
mencegah, kamipun juga hendak berangkat dan
sekalian mengantar taysu.
Ah, tak perlu sauhiap capekan diri. Aku membawa
serombongan murid, cukup untuk menjaga keselamatan
dalam perjalanan, kata Hwat Hong.
571

Bukan begitu, kata Gak Lui, sejak murid Hong-sanpay yang berhianat itu mendesak taysu supaya
mengundurkan diri, memang sampai saat ini belum
mengunjuk gerakan apa2. Tetapi hal itu kurasa bukan
karena dia membatalkan rencananya melainkan tentu
berganti siasat. Mungkin secara diam2 mengadakan
gerakan rahasia. Oleh karena waktu yang dituntut itu
sudah tak berapa lama, sebaiknya taysu suka berhatihati pula .... Berkata sampai disitu, Gak Lui tekankan
nada ucapannya : Pula sudah kuketahui bahwa terdapat
lima orang berkerudung muka yang pura2 menyaru jadi
murid penghianat. Mereka bergerak secara sembunyi
karena takut diketahui!
Kata2 itu bagai halilintar berbunyi disiang hari
sehingga membuat kedua ketua partai perguruan itu
terbeliak
kaget
dan
serempak
berseru
:
Itu...itu....benarkah ?...Dan berada dimana ?
Memang benar! Mereka menjadi anggauta Topeng
Besi yang kesadaran pikirannya sudah dilenyapkan
Maharaja ! sahut Gak Lui.
---oo~dwkz^0^Yah~oo--Tidak.... tidak mungkin ! seru kedua ketua itu.
Mereka masih tak percaya atas keterangan pemuda itu.
Kalau begitu Geng Ci totiang dari perguruan Butong-pay itu engkau yang membunuhnya? sesaat Hwat
Hong taysu bertanya tegang.
Benar ! jawab Gak Lui, bermula kukira dia itu
seorang anggauta Topeng Besi. Tetapi setelah
kulenyapkan ternyata baru ketahuan kalau Ceng Ci
totiang !
572

Ah, seru kedua ketua itu. Mereka berbeliak dan


geleng2 kepala :
Sungguh tak tersangka sama sekali. Demi
memulihkan keamanan dunia persilatan, sauhiap telah
mengikat sekian banyak dendam permusuhan dengan
berbagai fihak. Entah bagaimana kelak kita akan....
menjelaskan salah faham mereka itu !
Singkat saja, sahut Gak Lui dengan geram, untuk
melenyapkan dendam permusuhan yang berliku-liku itu,
aku dapat menyelesaikannya sendiri. Tetapi kuminta
partai persilatan, masing2 mentaati dua buah hal !
Dua buah hal apa ?
Pertama, semua partai persilatan harus bersatu
menjaga diri. Hati2 terhadap Maharaja !
Aku sanggup melakukan hal itu, kata Hwat Hong
taysu.
Yang kedua, gerombolan Topeng Besi itu biarlah
aku sendiri yang menghadapinya !
Ini.... karena kawanan Topeng Besi itu terdiri dari
murid2 kepala dari tiap2 partai persilatan, mengapa
sauhiap tak menyerahkan saja kepada kita yang turun
tangan ? Jika sampai terjadi salah faham lagi, bukankah
itu....lebih mendalam...
Gak Lui tertawa rawan, lalu menukas: Memang
salah faham tak dapat dihindari ! Apalagi pengaruh fihak
lawan amat besar. Maka masing2 partai perguruan harus
simpan tenaga. Atau dengan lain kata, apabila kalian
saudara seperguruan saling bertempur, tentu sukar untuk
turun tangan. Lebih baik aku sebagai fihak ketiga yang
keluar. Segala dendam salah faham, kelak kita bicarakan
lagi.
573

Kedua paderi ketua partai perguruan itu terkesiap


dan tak dapat bicara apa2 lagi. Mereka bersikap diam.
Suatu sikap yang dapat diartikan tidak setuju, pun tidak
menentang. Diam2 Gak Lui menghela napas. Ia
berbangkit lalu minta diri: Hwat Hong taysu, marilah kita
berangkat....
Ketua perguruan gereja Siau-lim-si bersama seluruh
paderi Siau- lim-si mengantar sampai turun gunung.
Suatu pawai yang megah dan khidmat. Dalam saat
perpisahan, Hui Hong taysu ketua Siau-lim-si masih
menyampaikan kata2: Gak sauhiap, terhadap perguruan
Bu- tong, Ceng-sia, Go-bi dan lain2, aku dapat
mewakilimu memberi penjelasan. Sekurang-kurangnya
sebelum usaha membasmi Maharaja berhasil, tentu
mereka takkan membikin susah dirimu. Selamat jalan,
semoga terkabul segala cita-citamu ....
Gak Lui percaya pada ucapan ketua Siau-lim-si itu.
Sekalipun kata2 paderi itu sukar ditafsirkan dengan jelas.
Karena setelah nanti Maharaja dapat ditumpas, tindakan
apakah dari partai2 persilatan itu terhadap Gak Lui,
masih belum diketahui jelas. Jadi masih ada ekornya
yang panjang. Demikian mereka segera berpisah. Gak
Lui dan Gadis-ular Li Siu- mey serta rombongan wakil
Hong-san-pay yang dipimpin oleh ketuanya sendiri yakni
Hwat Hong taysu, menuju ke Ceng-sia.
Berjalan berpuluh li kemudian, berkatalah Gak Lui
kepada Hwat Hong taysu : Taysu, kita tak dapat
menempuh perjalanan dengan cara begini. Harus
dirobah caranya.
Berjalan bersama-sama dapat menyebabkan musuh
takut dan mengundurkan diri. Perlu apa harus dirobah
lagi....?
574

Justeru karena menyebabkan mereka mundur itulah


yang merusakkan acara. Aku justeru hendak membuat
mereka supaya unjuk diri ! kata Gak Lui.
O, kiranya hendak menggunakan siasat memancing
musuh keluar, seru Hwat Hong taysu tertawa. Diam2 ia
mengakui memang demikianlah adat orang muda. Suka
unjuk keberanian dan kegagahan. Tidak seperti orangtua
yang bertindak hati2 dan tak mau gegabah.
Bagaimanakah rencana Gak sauhiap
mengatur rombongan kita ? Aku menurut saja !

untuk

Ah, harap taysu jangan merendah diri. Aku pun


hanya sekedar mengatur sedikit. Silahkan taysu dan
rombongan berjalan lebih dulu. Apabila bertemu dengan
kawanan Topeng Besi, harap taysu jangan menindak
mereka, kata Gak Lui.
Diam saja? Hwat Hong taysu terbeliak heran.
Harap segera mundur dan kembali kearah tempatku.
Biarlah nanti aku yang menghadapi mereka !
Jika berjumpa dengan lain orang tetapi yang
mencurigakan ?
Tanyakan dulu asal usul orang itu. Apabila anak
buah Maharaja, harap taysu jangan turun tangan.
Baik, Hwat Hong taysu mengiakan lalu memimpin
rombongannya berjalan lebih dulu. Setelah rombongan
Heng-san-pay itu pergi, barulah Siu-mey berbisik kepada
Gak Lui: Engkoh Lui, apakah artinya tindakanmu itu ?
Mencari sumoay-mu The Hong-lian !
Siu-mey geleng2 kepala: Benar2 aku tak dapat
mengerti apa yang sedang engkau mainkan itu !
Sederhana sekali, sahut Gak Lui, untuk mencari
575

adik Lian, lebih dulu harus menemukan The Thay


cianpwe.
Benar!
Untuk mencari The cianpwe, harus mencari anak
buah Maharaja dan paling baik yalah kawanan Topeng
Besi yang mengaku sebagai murid hianat dari beberapa
partai perguruan itu!
Ih, kalau sudah dapat menemukan, apakah mereka
mampu menunjukkan kepadamu tempat tinggal The
cianpwe?
Tentu bisa!
Mata Siu-mey berkeliaran sejenak lalu berseru tak
percaya: Aneh sekali! Cobalah, andaikata bisa bertemu
dengan orang itu, dengan cara bagaimanakah engkau
hendak menanyainya?
Tak perlu ditanya!
Aneh! Dibunuh?
Juga tidak!
Tidak ditanya dan tidak dibunuh, habis diapakan ?
tanya Siu- mey makin heran.
Merusak pedang tetapi jangan melukai orangnya.
Kemudian diam2 mengikutinya ketat! sahut Gak Lui.
Siu mey terkesiap tetapi pada lain saat ia tertawa
riang: Hai, aku mengerti sekarang ! Mereka tentu akan
minta The cianpwe membikin betul pedangnya sehingga
dengan sendirinya menjadi petunjuk jalan kita!
Dalam pada bercakap-cakap itu, ternyata rombongan
Hwat Hong taysu sudah tak tampak. Gak Lui dan Siumey mengambil jarak yang cukup jauh mengikuti di
576

belakang mereka. Sampai beberapa lama menempuh


perjalanan, tetap tiada berjumpa dengan seorang
manusiapun jua. Rupanya Siu-mey sudah mulai goyah
pikirannya akan hasil rencana yang dilakukan Gak Lui itu.
Pada saat ia hendak membuka mulur, tiba2 Gak Lui
hentikan langkah dan memandang kemuka tajam2. Siumeypun ikut berhenti dan memandang kearah pandang
mata kekasihnya itu. Apa yang dilihat Siu-mey pada saat
itu hampir membuatnya memekik kaget. Kiranya
disebelah muka telah muncul dua buah rombongan
orang. Yang serombongan berhamburan keluar dari
hutan dan yang satu rombongan adalah rombongan
Hwat Hong taysu yang berlari-lari kembali menyongsong
ketempat Gak Lui. Beberapa kejab mata, paderi itupun
sudah tiba dimuka Gak Lui. Wajahnya mengerut
keheranan dan tangannya mengunjukkan sehelai kertas
putih.
Taysu, tentu tantangan bertempur! seru Gak Lui
mendahului orang memberi keterangan.
Benar, sahut Hwat Hong seraya menyerahkan surat
itu. Setelah menyambuti, Gak Lui lalu membacanya:
Menjelang fajar, di puncak Hun-hong.
Gak Lui kerutkan alis lalu bertanya: Taysu, surat ini
tiada tanda tangannya. Siapakah pengirimnya ?
Orang itu engkau sudah pernah tahu. Yalah si
Pengemis-jahat yang tempo hari hendak menghancurkan
partai Gelandangan ! sahut Hwat Hong.
Hm, kiranya dia, gumam Gak Lui, Segera ia teringat
akan peristiwa tempo hari dimana Pengemis-jahat itu
hendak membunuh ketua partai Gelandangan Gan Ke-ji
gelar Raja- sungai-Cekiang. Untung saat itu ia keburu
datang menolong. Melihat Gak Lui hendak menerima
577

tantangan itu, Hwat Hong segera menerangkan bahwa


yang ditantang itu adalah dirinya, bukan Gak Lui.
Tidak, Gan Ke ji ketua partai Gelandangan
mempunyai hubungan baik dengan aku. Maka biarlah
aku yang menghadapi Pengemis-jahat itu !
Hwat Hong menerangkan bahwa Pengemis-jahat itu
mempunyai seorang suheng Pengemis-Ular yang
memelihara beratus-ratus ular berbisa. Tetapi Gak Lui
tetap tak gentar......
JILID 12
Melihat Gak Lui dan Hwat Hong taysu saling berebut
hendak menghadapi tantangan si Pengemis Jahat, Gadis
ular Li Siu-mey tertawa.
Jika
membicarakan
soal
ular,
aku
lebih
berpengalaman. Daripada menghadapi bahaya serbuan
ular, biarlah aku saja yang mengatasinya, kata nona itu
kepada Hwat Hong taysu.
Benarkah ....?
Kalau tidak masakan aku diberi gelar Ratu-ular!
sahut Li Siu- mey.
Hm, Hwat Hong taysu mendesuh seraya anggukkan
kepala. Suatu tanda ia dapat menyetujui pernyataan
nona itu. Melihat itu Siu-mey maju selangkah, ujarnya:
Dan lagi engkoh Lui sudah mempunyai rencana. Jika
taysu yang pergi, dia tentu kecewa, karena sia2 jerih
payahnya. Hal itu bukan berarti memandang rendah
pada perguruan Heng san ...
Ucapan itu kena sekali sehingga Hwat Hong taysu
tak dapat berkeras kepala. Ia menghela napas:
578

Kepandaianku sesungguhnya memang tak seperti kalian


berdua. Mari kutunjukkan jalan, semoga kalian dapat
menang !
Dinihari menjelang terang tanah, cuaca masih gelap.
Dalam cuaca gelap itu, Gak Lui melihat sebuah menara
yang puncaknya menjulang tinggi. Tetapi di sekeliling
menara itu tiada tampak barang seorangpun juga. Diam2
timbullah kecurigaannya.
Adik Mey, kurasa keadaan menara itu agak aneh.
Mungkin mereka memasang perangkap, katanya.
Kita serang bersama-sama ! sahut Siu-mey.
Tidak, engkau tunggu disini bersama Hwat Hong
taysu. Jika terjadi sesuatu dalam menara itu, aku segera
memanggilmu ! kata Gak Lui.
Sejak mendapat gemblengan dari Dewi Tong-thong,
Siu-mey memiliki kepandaian silat yang cukup. Saran
Gak Lui itu memang tepat maka iapun menyetujui. Gak
Lui segera kembangkan ilmu Cian-li-hun-liu atau Awahberarak-seribu-li. Suatu ilmu kepandaian istimewa untuk
mempertajam mata, telinga dan hidung. Dengan lincah
mulailah ia berloncatan menuju ke bawah menara.
Memandang ke atas, dilihatnya menara itu terdiri dari
tujuh tingkat. Megah dan perkasa tetapi sudah penuh
lumut (pakis) dan rusak keadaannya. Papan nama yang
tergantung di atas pintu-pun sudah kabur tulisannya.
Bekas2 tulisannya berbunyi: Hun Hong Tha atau
menara Pencakar-langit.
Sebuah tempat yang bagus, sayang tiada orangnya
! diam2 Gak Lui memuji. Dengan perlahan ia dorong
pintu menara itu. Amboi .... pintu yang begitu besar dan
berat, sekali dorong saja, sudah terbuka. Dan serempak
dengan itu serangkum hawa beracun melanda hidung.
579

Apabila orang biasa, tentu sudah pening dan pingsan.


Tetapi Gak Lui malah mendengus dan bagaikan sesosok
setan, ia terus menyelundup masuk ke dalam menara
yang gelap gulita itu. Tiba2 ia merasa seuntai rambut
kasar dan panjang melanda daun telinganya. Betapa
besar nyalinya, tetapi pada saat dan tempat seperti itu
mau tak mau mereganglah bulu kuduknya.
Buru2 ia salurkan tenaga dalam untuk menenangkan
hati. Setelah memandang beberapa saat, barulah ia
dapat mengetahui bahwa yang menyentuh telinganya itu
bukan lain yalah sesosok Setan Gantung atau sebuah
mahluk tergantung di atas, kepala menjulai ke bawah.
Lidahnya menjulur keluar, mata melotot, hidung, mulut
dan telinga penuh berlumuran darah merah. Dan
tubuhnya masih bergelantungan kian kemari di udara !
Setan....? serentak berdirilah bulu kuduk Gak Lui.
Matanyapun berkeliaran memandang ke sekeliling.
Tampak seluruh tembok ruang disitu penuh dengan
berbagai pemandangan yang seram dan aneh. Gak Lui
terpukau dan tegak berdiri seperti patung. Beberapa saat
kemudian baru ia melangkah perlahan-lahan menuju ke
tangga tingkat kedua. Tetapi baru berjalan lima langkah,
sekonyong-konyong terdengar sebuah auman dahsyat.
Cepat ia berputar tubuh. Tetapi dalam ruang yang gelap
pekat itu tiada tampak suatu apapun kecuali desir angin
yang berhembus dari pintu. Dalam sekejab mata, ruang
itupun kembali sunyi senyap seperti sebuah kuburan di
malam hari. Tetapi di lantai telah tambah lagi dengan
beberapa sosok mayat. Dari ketujuh lubang indera
mereka, masih mengalir darah yang segar .... Gak Lui tak
menghiraukan hal itu. Cepat ia naik ke tingkat kedua. Di
situpun ia menghadapi pemandangan yang serupa
dengan ruang bawah tadi. Tetapi Gak Lui tabahkan nyali
dan tak mempedulikan kesemuanya itu. Ia terus lanjutkan
580

naik ketingkat ketiga dan keempat. Tetapi pada waktu ia


hendak naik ketingkat yang lebih atas, terdengarlah
suatu hembusan suara orang yang bernada kasar:
Siapakah engkau ? Gak Lui hentikan langkah.
Tetapi ia tak mau cepat2 menyahut melainkan menimang
dalam hati: Uh, apakah ini bukan suara si Pengemis
Jahat.....
Tiba2 serempak dengan suara orang itu, segulung
api memancar menerangi empat penjuru dinding. Begitu
melihat lantai penuh dengan mayat dan seorang pemuda
tegak berdiri di bawah tangga, orang itu bergemerutukan
giginya dan memekik dengan nada gemetar: Engkau ...
engkau bukan paderi Heng san! Engkau .... engkau ini ....
siapa .... siapa ....?
Gak Lui ! sahut pemuda itu.
Huah ....! orang itu menjerit kaget dan terus lari naik
ke atas tingkat. Gak Lui mendongkol tetapi ia merasa
kasihan juga kepada orang itu. Belum ia sempat
bertindak, tiba2 terdengar serangkum ketawa aneh yang
menusuk telinga: Heh, heh, heh... budak kecil, kalau
berani naiklah ke sini !
Kali ini Gak Lui tak ragu lagi. Suara itu adalah suara
si Pengemis Jahat. Dengan nada dingin ia menyahut:
Memang aku hendak ke situ....
Serempak dengan derap langkah kaki lari naik ke
atas, serangkum anginpun melanda. Kawanan murid dari
Pengemis Jahat yang berada di-tingkat kelima dan
keenam hanya merasakan angin yang meniup datang
dan tahu2 obor yang mereka pasang di ruang tingkat itu
padam. Belum sempat mereka menyulut lagi, tahu2 Gak
Lui sudah tiba ditingkat yang tertinggi. Tetapi dalam
tingkat ketujuh itupun kosong melompong. Hanya ada
581

seorang penghuninya yalah si Pengemis Jahat sendiri.


Dia tegak berdiri dengan wajah gelap. Demi melihat Gak
Lui, ia cepat membentaknya: Dimana si kepala gundul
Hwat Hong? Mengapa dia tak datang memenuhi janji ?
Taysu tak berapa jauh dari tempat ini. Sekali-kali dia
tak ingkar janji ! sahut Gak Lui.
Kalau begitu pergilah. Yang kucari yalah Hwat Hong
!
Gak Lui tertawa dingin: Kita selesaikan dulu
perhitungan kita yang belum beres tempo hari!
Pengemis Jahat gemetar, serunya tersendat: Soal ini ....
belum bisa dibereskan sekarang.
Mengapa ?
Maharaja memerintahkan supaya engkau jangan
mati dulu.
Kalau begitu engkau tak berani turun tangan
kepadaku ?
Jangan bermulut besar ! Untuk membunuhmu,
adalah semudah membalikkan telapak tanganku. Tetapi
aku hanya menurut perintah saja.
Ha, ha, ha, ha ! Gak Lui tertawa sekeras-kerasnya
untuk menghamburkan kemarahannya.
Mengapa engkau tertawa ? tegur orang itu.
Hm, aku tertawa karena lagakmu. Kematian sudah
didepan mata, tetapi engkau masih bertingkah sebagai
kawanan budak anjing kepada tuannya !
Pengemis Jahat itu memang buruk wataknya.
Mendengar hinaan Gak Lui, bangkitlah amarahnya:
Kalau begitu, engkau memang sengaja hendak mencari
aku! bentaknya.
582

Benar! Kalau engkau sudah sadar, lekaslah habisi


nyawamu sendiri. Kalau tidak, terpaksa aku akan turun
tangan. Dan sekali turun tangan, tak mungkin kulepaskan
seorang yang jahat. Mayat yang malang melintang di
tingkat bawah itu adalah contohnya! Mendengar ucapan
itu, tergetarlah hati Pengemis Jahat.
Seketika ia memutuskan untuk tak mentaati perintah
Maharaja. Lebih dulu ia hendak turun tangan membasmi
pemuda yang dianggapnya sebagai musuh berat. Ia
menyeringai iblis, serunya: Baiklah! Kalau engkau
hendak mewakili Hwat Hong jadi setan gentayangan,
akupun tak dapat mencegah. Di sini juga kita dapat adu
kepandaian!
Sambutlah pukulanku ! Gak Lui segera berseru
seraya hendak menyerang.
Tunggu dulu ! tetapi Pengemis Jahat mencegah lalu
duduk bersila di bawah jendela.
Eh, bagaimana ? Apakah engkau takut ? Gak Lui
tak tahu apa yang hendak dilakukan pengemis itu. Tetapi
ia tak mau menyerang orang yang duduk. Pengemis
Jahat mengangkat muka dan menyahut : Kita tidak
bertempur tetapi adu ilmu duduk!
Gak Lui terkesiap. Ia menghadapi kesulitan. Jika tak
menerima tantangan itu, lawan tentu mempunyai dalih
untuk mengatakan aku kalah. Namun kalau menerima,
walaupun ia dapat melayani, tetapi akan makan waktu
lama. Beberapa saat kemudian, Pengemis Jahat berseru
pula dengan nada girang: Kalau engkau tak setuju, lain
kali saja kita berhadapan lagi.
Terpaksa dengan kertak gigi, Gak Lui menyahut:
Engkau sudah tak mempunyai kesempatan lain kali lagi.
Duduklah! Gak Lui serentak duduk di hadapan
583

Pengemis Jahat. Keduanya pejamkan mata dan


tenangkan napas. Pertandingan adu duduk, segera
berlangsung. Suasana dalam menara itu sunyi senyap.
Keduanya saling menyalurkan darah. Tetapi tiba2 Gak
Lui curiga, pikirnya: Ilmu tenaga-dalam dari Pengemis
Jahat ini tak menang dari aku. Tetapi mengapa ia
menantang melakukan pertandingan begitu? Bukankah
berarti cari mati sendiri ? Ah, kemungkinan tentu suatu
siasat saja .... Segera ia kerahkan alat pendengarannya.
Samar2 di bawah menara, terdengar suara derap kaki
kawanan pengemis. Rupanya mereka sibuk mengangkat
mayat2. Tak berapa lama mereka sudah tinggalkan
menara.
Hm, mengangkati mayat untuk dikubur memang
sudah layak. Tetapi.... apakah mereka tak mungkin
mengangkat lain benda.... ? pikirnya seraya kerahkan
indera pembauannya. Ia menyedot napas panjang.
Tetapi sayang, bau mayat2 di bawah itu campur baur tak
keruan sehingga ia tak dapat mengenal dengan jelas.
Ketika membuka mata, ia melihat Pengemis Jahat masih
duduk pejamkan mata dengan sungguh2. Diam2 ia
merasa pikirannya terlalu gelisah sehingga melanggar
pantangan orang yang tengah melakukan penyaluran
tenaga-dalam. Buru2 ia tenangkan pikirannya dan
menguasai penyaluran tenaga dalam. Tetapi tiba2
terdengar suara angin menderu. Ternyata Pengemis
Jahat melonjak bangun dan menyerangnya. Gak Lui
terkejut tetapi terlambat. Ternyata Pengemis Jahat itu
memang menggunakan siasat licik. Diam2 ia
memperhatikan gerak gerik Gak Lui. Pada saat Gak Lui
gelisah karena gangguan suara di bawah tadi, peredaran
darahnya bergolak. Dan pada saat pemuda itu hendak
menenangkan diri, sekonyong-konyong Pengemis
Jahatpun
kerahkan
seluruh
tenaganya
untuk
584

menghantam.
Pukulan yang dilancarkan Pengemis Jahat itu
menggunakan kedua tangan. Tetapi anehnya, pukulan
itu tak ditujukan kepada Gak Lui melainkan pada
ruangan di situ. Tangan kiri menghantam ke atas, tangan
kanan memukul ke bawah, tepat pada lantai di tengah
mereka berdua. Sudah tentu menara yang sudah tua dan
rusak itu tak dapat menahan pukulannya. Brak, bum ....
tiang penglari roboh, debu berhamburan memenuhi
ruang. Gak Lui terkejut dan cepat melonjak bangun.
Tetapi pengemis itu sudah lolos keluar dari jendela.
Sedang dinding tembok dan tiang penglari yang
berhamburan rubuh itu, menghalangi jalan. Tetapi Gak
Lui tak mau lepaskan pengemis jahat itu. Dengan
tangkas ia menyelinap keluar, Ia menghantam lantai
sehingga berlubang. Dari lubang itu ia meluncur turun ke
bawah. Tepat pada saat ia mencapai tingkat bawah,
Pengemis Jahatpun sudah lari sepuluh tombak jauhnya,
menuju sebuah parit di bawah pohon.
Aneh, mengapa dia tak terus melarikan diri tetapi
bersembunyi dalam parit? Apakah dia masakan bisa
lolos ? pikir Gak Lui. Namun ia tak peduli dan terus putar
pedangnya ke atas lalu diarahkan ke punggung si
Pengemis Jahat. Serempak dengan itu, kakinyapun
bergerak hendak menendang.
Sekonyong konyong terdengar ledakan yang
dahsyat. Gak Lui terkejut dan berpaling. Apa yang
disaksikan saat itu, benar2 membuat semangatnya
terbang. Ternyata menara itu telah meledak dan hancur
bertebaran keseluruh penjuru, saat itu ia berada empat
lima tombak jauhnya dari menara itu. Tak mungkin ia
terhindar dari robohan tembok. Gak Lui terlempar jatuh
berguling-guling. Badan berlumuran darah dan rebah di
585

samping si Pengemis Jahat. Gak Lui termakan siasat si


Pengemis Jahat. Tetapi pengemis itupun tak luput dari
kematian. Pedang yang dilontarkan Gak Lui dengan ilmu
Melontar-pedang tadi, tepat sekali menembus punggung
Pengemis Jahat, terus ke dada. Pengemis Jahat itu
rubuh, tubuhnya tersanggah pedang.
Setelah asap menipis, tak kurang dari tiga-puluh anak
buah Partai Pengemis segera menerobos keluar dari
tempat persembunyiannya. Mereka hendak menolong
Pengemis Jahat. Tetapi setelah melihat keadaan
pengemis itu, mereka menjerit kaget: Hai, wakil ketua
mati !
Celaka ! Habis bagaimana ?
Lebih baik kita lekas lari ! Demikian hiruk pikuk
sekalian anak buah Partai Pengemis ketika mengetahui
wakil ketua mereka yalah si Pengemis Jahat telah mati.
Diam! tiba2 seorang pengemis berteriak keras. kita
lihat dulu anak she Gak itu sudah mati atau belum!
Ketika melihat yang bicara itu adalah Pengemis Kepala
besar, sekalian pengemis itu tak berani buka suara lagi.
Segera beberapa pengemis memeriksa Gak Lui dan
berseru: Dia masih hidup !
Menyingkirlah ! seru Pengemis Kepala-besar itu,
lihat saja bagaimana kuhantam pecah kepala bocah itu
! Ia terus mengangkat tinju dan dilayangkan kepada Gak
Lui. Tetapi belum tinju mendarat di tubuh Gak Lui, tiba2
pengemis itu menjerit ngeri. Batang kepalanya telah
mencelat setombak jauhnya. Dari lehernya menyembur
darah segar..... Ketika sekalian orang memandang
kepadanya, ternyata di muka pengemis Kepala-besar itu
tegak seorang nona yang tak dikenal. Belum sempat
menegur siapa nona itu, tiba2 nona itu memutar pedang
586

dan tinju, mengamuk. Serentak terdengarlah jerit pekik


yang seram dari sekalian anak buah Partai Pengemis.
---oo~dwkz^0^Yah~oo--Kutungan lengan, kaki dan jari serta anggauta2
badan orang, beterbangan menghambur darah.
Suasanya seperti dalam neraka. Sudah tentu kawanan
anak murid Partai Pengemis itu tak mampu melawan
amukan nona atau Ratu ular Li Siu-mey. Beberapa
pengemis yang agak jauh jaraknya segera melarikan diri.
Tetapi baru sepemanah jauhnya, muncullah Hwat Hong
taysu beserta delapan orang muridnya. Dan secepat kilat
mereka segera menyongsong anak buah pengemis itu
dengan serangan. Sesungguhnya sebagai anak murid
agama, murid2 perguruan gunung Heng-san itu
menjunjung welas asih dan peri- kemanusiaan. Tetapi
demi melihat menara ambruk dan Gak Lui tak muncul
keluar, mereka marah sekali. Kemarahan itu
ditumpahkan kepada anak buah Partai Pengemis,
sehingga mereka yang beruntung lolos dari amukan
pedang Siu-mey, akhirnyapun melayang jiwanya di
tangan murid2 Heng-san-pay.
Hwat Hong taysu cepat menghampiri ke tempat Siumey, tanyanya: Nona Li, bagaimana dengan Gak
sauhiap ? Saat itu Siu-mey tengah berjongkok untuk
mengangkat kepala Gak Lui. Airmata nona itu
bercucuran sebagai hujan dan menumpah menjadi satu
dengan darah di tubuh Gak Lui.
Melihat keadaan Gak Lui, Hwat Hong menyurut
selangkah dan berseru cemas: Apakah lukanya
berbahaya?
Siu-mey hanya terisak-isak. Beberapa saat kemudian
587

baru ia mengangkat muka tetapi mulutnya tetap


terkancing oleh rasa kedukaan yang hebat. Melihat itu
tahulah Hwat Hong bahwa keadaan Gak Lui tentu buruk
sekali, iapun berjongkok dan memeriksa pernapasan Gak
Lui. Dua butir airmata menitik dari pelupuk ketua Heng
san pay itu dan dengan suara yang rawan ia berkata:
Denyut jantungnya tak keruan, napasnya lemah
kemampuan manusia tak dapat menolongnya...
Ucapan itu makin menambah kesedihan Siu mey.
Dan serentak pecahlah tangis nona itu bagaikan seorang
anak yang ditinggal mati orang-tuanya. Sekalian orang
yang berada di situ sama terharu dan mengucurkan
airmata. Menyadari salah omong, buru2 Hwat Hong
menyusuli kata2 pula:
Nona Li, engkau pandai sekali dalam ilmu
pengobatan. Apakah engkau mempunyai obat untuk
menolongnya ?
Tidak .... punya....
Kalau begitu .... tiada baik kalau dibiarkan di sini.
Bagaimanapun kita harus cari daya untuk menolongnya
! kata Hwat Hong.
Siu-mey pejamkan mata dan gelengkan kepala:
Paling banyak dia hanya dapat bertahan sehari saja,
aku tak mampu berdaya !
Mendengar keterangan sinona, timbullah harapan
Hwat Hong. Diam2 ia menimang: Bagaimana kalau
mengantarkannya ke Siau-lim-si ? Tetapi pikiran itu
cepat dibantahnya sendiri. Perjalanan ke Siau- lim,
amatlah jauh. Andaikata dapat mendapat gereja itu,
belum tentu ada yang mampu menolong. Demikianpun
dengan partai persilatan Ceng-sia-pay dan Heng-sanpay, percuma saja. Akhirnya ketua perguruan Heng-san
588

itu hanya menghela napas: Ah, akulah yang bersalah.


Kalau aku yang menghadapi tantangan si Pengemis
Jahat, sekalipun terjadi sesuatu, tetap aku sendiri yang
memikul akibatnya ....
Mendengar itu Siu-mey berkata terharu: Tak dapat
menyalahkan taysu karena semuanya itu adalah menurut
rencana engkoh Lui sendiri .... Tiba2 nona itu terkilas
sesuatu. Untuk menolong Gak Lui ia harus mencari dua
orang tokoh sakti. Bukan Siau-lim-si ataupun partai
Ceng-sia-pay. Asal bisa mendapat pertolongan salah
satu dari kedua tokoh itu, tentu ada harapan Gak Lui
dapat ditolong. Yang satu adalah gurunya sendiri yalah
Dewi Tong Thing. Dengan ilmu kepandaiannya yang
sakti, mungkin Dewi Tong Thing dapat menolong. Tetapi
sayang telaga Tong Thing di gunung Kun-san itu jauh
sekali. Sedang orang yang kedua bukan lain yalah
Kaisar-persilatan Li Liong ci. Apabila dapat bertemu
dengan tokoh itu, tentulah Gak Lui tertolong. Tetapi pun
sayang, bayangan tokoh itu saja, tak pernah ia melihat.
Apalagi orangnya Kini Siu-mey mengarahkan
harapannya kepada tokoh ketiga yalah ayahnya sendiri,
Tabib-sakti Li Kok-hoa. Dan justeru rencana Gak Lui-pun
hendak mencari Tabib-sakti itu. Apabila Siu- mey
bertindak menurut rencana Gak Lui, kemungkinan tentu
dapat bertemu dengan ayahnya. Tentang tempat
beradanya sang ayah itu dimana dan berapa jauhnya
serta apakah dapat dicapai dalam waktu sehari, Siu-mey
tak sempat memikirkan dan memang ia tak berani
membayangkan hal itu.
Taysu, walaupun engkoh Lui terluka tetapi rencana
kita tetap tak berobah...., katanya kepada ketua
perguruan Heng-san.
Mengapa ?
589

Karena rencana
menolong jiwanya !

itu

juga

suatu

usaha

untuk

O .... apakah nona suka menerangkan rencana itu?


Rasanya tak perlu, tetapi caranya perlu dirobah yang
sesuai. Karena tiada lain jalan lagi, Hwat Hong taysu
pun setuju: Bagus, bagus! Tetapi bagaimanakah
caranya itu?
Harap taysu beserta kedelapan murid taysu
melindungi engkoh Lui. Ikutilah aku pada jarak tertentu.
Apapun yang terjadi, biarlah aku yang menghadapi!
Hwat Hong taysu tak mau banyak bicara. Ia segera
suruh kedelapan muridnya membuka jubah untuk
dirangkai menjadi sebuah tempat tidur yang hangat lalu
meletakkan Gak Lui di situ. Setelah persiapan selesai,
Siu-mey segera mendahului berjalan dengan gunakan
ilmu meringankan tubuh. Secepat larinya secepat itu pula
matahari-pun terbenam di balik gunung. Hari pun malam.
Perjalanan itupun memang tak lancar. Disamping harus
hati2 untuk menjaga kemungkinan munculnya musuh,
pun setiap kali Siu-mey berpaling ke belakang untuk
melihat keadaan Gak Lui. Dan setiap kali memandang,
keadaan Gak Lui makin memburuk. Saat itu mereka
memasuki daerah pegunungan. Tubuh mereka basah
kuyup dengan peluh. Mereka berhenti sejenak untuk
memulangkan napas.
Tampak oleh Hwat Hong taysu bahwa empat penjuru
tempat itu hanyalah puncak gunung dengan lembahnya
yang luas. Tiada suatu jejak manusia yang tampak.
Bahkan biara tua yang berdiri di puncak gunung sebelah
muka, selain condong pun juga sudah rusak dan tak
terawat. Sesungguhnya dalam hati tak sabar berdiam diri
tetapi terpaksa Hwat Hong tak mau banyak bertanya.
590

Hanya diam2 ia memanjatkan doa, semoga kekuasaan


Buddha dapat menciptakan suatu keajaiban. Saat itu Siumey sedang sibuk memeriksa denyut pergelangan Gak
Lui. Didapatinya denyut jantung pemuda itu seperti
berhenti. Begitu pula pernapasannya.
Ah, terlambat .... segera nona itu menangis terisakisak. Mendengar itu, Hwat Hong mengira Gak Lui tentu
sudah putus jiwanya. Maka ketua Heng-san-pay itu
segera berseru dengan nada duka: Omitohud !
Kedelapan muridnyapun serempak mengikuti Hwat Hong
taysu untuk menyanyikan doa pengantar arwah. Saat itu
suasana pegunungan yang sunyi senyap seperti
tercengkam oleh kumandang doa pujian para anak murid
Heng- san-pay untuk mengantarkan kepergian arwah
Gak Lui. Dan tangis Siu-meypun makin keras.....
Tiba2 doa dan tangisan dari kesepuluh orang itu
tersusup oleh sebuah suara yang nadanya amat kuat
dan penuh ketenangan, sekalian orang terkesiap, suara
doa dan tangisanpun sirap seketika. Bahkan Gak Lui
yang masih belum sadar itu, dadanya tampak berombak
seperti menyedot napas. Peri