Anda di halaman 1dari 9

VOLUME MOLAR GAS

1.1 TUJUAN
-

Menentukan volume relatif dari zat dalam wujud yang berbeda.

Mengetahui perubahan volume suatu gas pada temperature tetap dengan tekanan
yang berubah ubah.

Mempelajari hukum Boyle, Avogadro, Charles dan Gay Lussac.

1.2 LANDASAN TEORI


o Zat
Zat secara umum dibagi menjadi tiga jenis antara lain zat padat, zat gas dan zat
cair. Zat didefinisikan sebagai segala sesuatu yang mempunyai massa dan
menempati ruang. Maksud dari menempati ruang disini adalah memiliki volume.

Zat Padat
Benda yang termasuk zat padat identik dengan bentuk dan volume yang
tetap. Selain itu benda padat memiliki partikel dengan sifat-sifat berikut :
-

Partikel-partikel yang menempati posisi yang tetap, jika partikel zat


padat menempati posisi yang teratur disebut kristal, dan jika zat padat
menempati posisi yang tidak teratur, maka disebut amorf.

Gaya tarik-menarik antar partikel sangat kuat, dan

Gerakan partikel hanya berupa getaran di sekitar posisi tetapnya.

Karena gaya tarik antar partikel pada zat padat sangat kuat maka bentuk
zat padat cenderung tetap bila tidak ada gaya atau reaksinya yang
mempengaruhinya. Contoh zat padat adalah batu, kayu, dan besi.

Zat Cair
Gaya tarik antar partikel zat cair agak kuat artinya lebih lemah dibanding
dengan gaya tarik pada partikel zat padat. Agak lemahnya gaya tarik ini
mengakibatkan bentuk zat cair dapat berubah-ubah sesuai dengan tempatnya
(wadahnya). Sehingga dapat diketahui partikel partikel zat cair sebagai
berikut.
1

Jarak antar partikel tetap dan agak berjauhan

Gaya tarik menarik antar partikel lemah dibandingkan zat padat

Gerakan partikel lebih lincah dari pada zat padat dan partikel dapat
berpindah tempat

Jarak antar partikel yang tetap menyebabkan zat cair mempunyai volume
yang tetap. Gerakan partikel yang lincah dan dapat berpindah posisi
menyebabkan zat cair dapat mengalir yang menyebabkan bentuk zat cair
selalu mengikuti bentuk wadahnya. Contoh zat cair antara lain adalah air, dan
air raksa.

Zat Gas
Gas melakukan tekanan pada permukaan apapun ketika saling
bersentuhan, karena molekul-molekul gas senantiasa dalam keadaan bergerak.
Atmosfer yang mengelilingi bumi adalah campuran berbagai gas.
Tekanan atmosfer adalah tekanan yang diberikan oleh atmosfer bumi.
Partikel partikel zat gas memiliki sifat sebagai berikut :
-

Memiliki jarak partikel yang berubah ubah

Hampir tidak ada gaya tarik-menarik

Gerakan partikel sangat bebas dibandingkan zat padat dan cair

Sedangkan untuk sifat-sifat fisis dari semua gas yaitu :


-

Mempunyai volume dan bentuk menyerupai wadahnya.

Merupakan wujud materi yang mudah dimampatkan.

Akan segera bercampur secara merata dan sempurna jika ditempatkan


pada wadah yang sama.

Gas memiliki sifat berbeda, gas tersebut dapat ditempatkan dalam tempat
tertutup, tetapi kalau dimasukkan ke dalam tempat yang lebih besar dari
volume semula, gas dapat mengisi tempat itu secara merata. Dimana gas
mempunyai sifat-sifat khusus antara lain :
-

Peka terhadap perubahan temperature

Peka terhadap perubahan tekanan

Selain hal tersebut gas mempunyai sifat-sifat fisis yang khas yaitu :
-

Gas mempunyai volume dan bentuk menyerupai wadahnya.


2

Gas merupakan wujud materi yang paling mudah dimampatkan.

Gas-gas akan segera bercampur secara merata dan sempurna jika


ditempatkan dalam wadah yang sama.

Gas memiliki kerapatan yang jauh lebih rendah dibandingkan dengan


cairan dan padatan.

Zat cair dan zat padat mempunyai sifat yang berlainan dengan gas dimana
zat cair dan zat padat tidak peka terhadap perubahan tekanan dan sedikit
sekali mempunyai kemampuan untuk mengisi tempat secara merata.
o Pengertian Tekanan Atmosfer
Tekanan atmosfer gas adalah tekanan yang diberikan oleh atmosfer bumi. Nilai
tekanan atmosfer sesungguhnya tergantung pada letak, suhu, dan kondisi cuaca.
Tekanan atmosfer diukur menggunakan Barometer. Tekanan atmosfer standar (1
atm) sama dengan tekanan yang menopang kolom merkuri tepatnya setinggi 760 mm
(76 cm) pada permukaan laut pada suhu 00 C.
Dengan kata lain, atmosfer standar sama dengan tekanan 760 mmHg, jika mmHg
menyatakan tekanan yang diberikan oleh kolom merkuri setinggi 1 mm. Satuan
mmHg juga disebut torr, yang berasal dari ilmuwan Italia bernama Evangelista
Torricelli, yang menemukan barometer. Maka :
-

1 torr = 1 mmHg

1 atm = 760 mmHg = 760 torr

o Hukum hukum yang berhubungan dengan Volume Molar Gas

Hubungan Tekanan Volume


Hukum Boyle : V = 1/P (pada T, n tetap)
Robert Boyle menyelidiki perubahan volume suatu gas pada temperatur tetap
dengan tekanan yang berubah-ubah. Dari hasil penyelidikan didapatkan bahwa
pada temperatur tetap , volume gas akan berubah kalau tekanannya diubah.
Hal ini sesuai dengan hukum Boyle yang menyatakan : Tekanan dari
sejumlah tetap suatu gas pada suhu yang dijaga konstan adalah berbanding
3

terbalik dengan volumenya. Dari ketentuan di atas maka dapat dijabarkan dalam
persamaan berikut :
V 1 P2

V 2 P1

atau P1 . V1 = P2 .V2 = K (konstan)

Hubungan Suhu Volume


Hukum Charles dan Gay Lussac : V = T (pada P, n tetap)
Berlainan dengan Boyle maka Charles menyelidiki sifat-sifat gas pada
tekanan tetap. Dari hasil penyelidikannya didapatkan bahwa perbandingan
volume gas sesuai dengan perbandingan temperatur absolutnya. Hal ini sesuai
dengan Hukum Charles yang berbunyi : Volume dari sejumlah tetap gas pada
tekanan konstan adalah berbanding lurus dengan suhu mutlak gas itu. Bila
ketentuan tersebut dijabarkan didapatkan persamaan :
Pada tekanan (P) dibuat tetap :
VI T 1
atau V1 : T2 = V2 : T1 = K (konstan)

V2 T2

P1 T 1
atau P1 . T2 = P2 . T1 = K (konstan)

P2 T 2

Hubungan Volume Jumlah Gas


Hukum Avogadro: V = n (pada T, P tetap)
Avogadro menyatakan bahwa gas yang mempunyai volume, tekanan
temperatur yang sama akan berisi jumlah mol yang sama pula. Selanjutnya
dinyatakan pula bahwa volume gas apa pun harus sebnding dengan mol dari
molekul yang ada, sehingga :
Vn

o Persamaan Gas Ideal


Persamaan gas ideal menerangkan hubungan antara keempat variabel P,V,T, dan
n. Gas Ideal adalah gas hipotetis yang perilaku tekanan,volume, suhunya dapat
dijelaskan secara lengkap melalui persamaan gas ideal.
Dari hukum-hukum gas yaitu Hukum Boyle, Hukum Charles, Hukum Gay
Lussac dan Hukum Avogadro tersebut dinyatakan bahwa pada temperatur dan
4

tekanan yang sama setiap 1 mol gas akan mempunyai volume yang sama. Artinya
kalau mol dipakai dalam satuan kwantitas gas, maka 1 mol setiap gas akan
mempunyai persamaan : P.V = R.T
Jadi, V sebanding dengan T dan n, dan berbanding terbalik pada P. Hubungan ini
dapat digabungkan menjadi satu persamaan :
V = n.R.T/P atau P.V = n.R.T
Dengan

: P = tekanan gas (atm)


V = volume gas (liter)
N = jumlah mol gas (mol)
R = tetapan gas = 0,082 L atm/mol.K
T = suhu mutlak gas (K = 273 + suhu celcius)

1.3 ALAT & BAHAN


-

ALAT

BAHAN

1. Gelas Ukur

1. Air

2. Ember

2. Butana cair (korek api yang bahan

3. Neraca Analitik

bakunya dari butana)

4. Termometer
5. Barometer

1.4 CARA KERJA


Korek api yang bahan bakarnya dari butana dengan dindingnya tembus cahaya
disiapkan. Korek api ditimbang, kemudian diperkirakan volume dari cairan butana
tersebut. Gelas ukur yang berisi penuh air terbalik diletakkan diatas ember yang berisi
air. Gelas ukur ini yang nantinya akan berfungsi sebagai alat penampung gas. Gelas ukur
lain sedikitnya 2 gelas ukur yang penuh air juga disiapkan.
Klep dari korek api dibuka dengan menekan klep dari korek tersebut hingga gas
dalam korek tersebut habis. Korek api diletakkan dibawah alat penampung gas secara
cepat, agar gas yang dibebaskan tertampung. Alat penampung yang telah penuh ditandai
dan dicatat, kemudian diganti dengan alat penampung yang lain.
5

Gas yang dibebaskan lalu dikumpulkan, dilanjutkan sampai korek api tersebut
hampir kosong. Klep dan korek api tersebut ditutup kembali. Gas butana yang telah
terkumpul dicatat volumenya. Korek api ditimbang dan cairan butana yang berubah
menjadi gas diperkirakan volumenya.
Volume gas butana dengan volume cairan butana yang massanya sama dihitung
perbandingannya.

1.5 DATA PENGAMATAN

Massa awal korek api

16.2 gr

Volume awal butana

4 ml

Massa akhir korek api

12.3 gr

Volume akhir butana

0 ml

Volume gas butane

1800 ml

Volume cairan butana

4 ml - 0 ml = 4 ml

Massa gas butane

16.2 gr - 12.3 gr = 3.9 gr

Perhitungan :
a. Mencari Mr butana dari data hasil pengamatan
P.V= n.R.T
n

= 0.073 mol

Mr =
Mr =
Mr = 53.43 gr/mol

b. Mencari Mr butana dari literature


Mr C4H10

= 4 x Ar C + 10 x Ar H
= 4 x 12 + 10 x 1
= 48 + 10
= 58 gr/mol

c. Mencari perbandingan volume gas butane dengan volume cairan butana

1.6 PEMBAHASAN
Dari data hasil pengamatan dan perhitungan diatas didapatkan massa awal korek api
sebesar 16,2 gram dan massa akhir setelah gas di korek tersebut habis sebesar 12,3 gram
berarti massa butana dalam korek api sebesar 3,9 gram. Perkiraan volume awal butana
dalam korek api sebesar 4 ml dan perkiraan volume akhir butana dalam korek api
sebesar 0 ml, perkiraan volume akhir butana 0 ml karena cairan butana dalam korek api
sudah habis. Volume gas butana yang didapatkan sebanyak 1800 ml, volume gas ini
dilihat dari skala gelas ukur. Dari data tersebut dapat ditentukan perbandingan volume
gas butana dengan volume cairan butana dan dapat ditentukan massa 1 mol gas butana
atau yang disebut dengan Mr (massa molekul relatif).
Melalui perhitungan diatas didapat perbandingan volume gas butana dengan volume
cairan butana adalah 1800 : 4. Dengan menggunakan data hasil percobaan dan
perhitungan juga, dapat diperoleh Mr butana yaitu 53,43 gr/mol. Menurut literatur, Mr
butana (C4H10) yaitu 58 gr/mol.
Dari data pengamatan dan hasil perhitungan diatas ada perbedaan antara Mr gas
butana didalam korek api yang diujikan dengan Mr gas butana yang murni. Mr gas
butana didalam korek api sedikit lebih kecil dari Mr gas butana murni. Hal ini
disebabkan oleh ketidaktepatan dalam memperkirakan volume cairan butana yang
digunakan. Selain itu, gas dan suhu juga sangat mempengaruhi keadaan suatu gas.
Keadaan gas yang diukur dalam suhu ruangan tentu jelas berbeda dengan suhu saat
keadaan gas tersebut ada dalam keadaan bebas di udara. Kemungkinan didalam korek

api tercampur gas yang lain selain gas butana yang menyebabkan Mr gas butana didalam
korek api lebih kecil dari Mr gas butana murni.

1.7 KESIMPULAN
o Volume molar standar adalah volume molar gas apabila pengukuran dilakukan pada
tekanan 1 atm atau pada suhu 00C, dan volume molar gas dipengaruhi oleh tekanan
dan temperatur.
o Persamaan umum dari gas dapat dinyatakan dalam berbagai hukum, antara lain :
o Hukum Boyle :
Pada suhu yang tekanan konstan volume gas berbanding terbalik dengan tekanan.
o Hukum Charles :
Pada tekanan yang tetap volume gas berbanding lurus dengan suhu mutlaknya.
o Hukum Gay Lussac :
Pada volume yang tetap tekanan berbanding lurus dengan suhunya.
o Hukum Avogadro :
Pada suhu dan tekanan yang tetap, gas yang bervolume sama mengandung
jumlah mol yang sama.

DAFTAR PUSTAKA

Chang, Raymond. 2004. Kimia Dasar : Konsep-Konsep Inti, Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga.
http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-sma-ma/volum-molar-gas-dalam-keadaantertentu-dan-keadaan-mengacu-pada-keadaan-gas-lain-serta-definisi-molaritas-larutan/
(Diakses pada tanggal 20 November 2014)
Tim Laboratorium Kimia Dasar. 2012. Penuntun Praktikum Kimia Dasar I. Bukit Jimbaran :
Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Udayana.

LAMPIRAN

Pertanyaan :
Gas yang keluar dari sumber gas ditampung sebanyak 1,30 liter. Berat gas tersebut adalah
2,9 gram. Bila suhu dan tekanan pada kondisi tersebut adalah 270C dan 72 cmHg. Hitunglah
massa 1 mol gas tersebut ?
Jawaban :
Diketahui :
V = 1,30 liter
m = 2,9 gram
T = 270C = 300 K
P = 72 cmHg =

= 0,9474 atm

R = 0,082 L.atm/ K.mol


Ditanya :
Massa 1 mol gas atau Mr ?

Jawab :
P.V = n.R.T
N

= 0,05 mol

Mr =
Mr =
Mr = 58 gram/mol
Jadi, massa 1 mol gas atau Mr gas tersebut adalah 58 gram/mol.