Anda di halaman 1dari 4

PENGELOLAAN SAMPAH ELEKTRONIK

(E-WASTE MANAGEMENT)

Oleh :
Kelompok I
• Sherly Novitasari 0820025001
• Ni Wayan Teta Febriana Dewi 0820025005
• Luh Sri Widiantari 0820025006

• Estuning Hanindyta 0820025008
• Ratna Wulandari 0820025009
• I Gede Adi Ksamawan 0820025010
• Adi Mulyanto 0820025011
• Kendra Wardhani 0820025012
• Ayu Rissa Cempaka 0820025013

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2009

I. Identifikasi masalah :
Sampah elektronik merupakan kumpulan barang-barang elektronik yang sudah rusak atau
tidak dipakai lagi oleh pemiliknya. Sampah elektronik banyak ditemukan dinegara-negara
berkembang karena memiliki perekonomian yang rendah sehingga negara miskin ataupun
negara berkembang merupakan lahan subur bagi negara maju untuk membuang sampah
elektronik mereka dengan alih-alih penjualan barang dengan harga yang sangat murah.
Hampir semua aktivitas masyarakat butuh barang elektronik. Hal ini memicu peningkatan
volume sampah elektronik yang berdampak buruk terhadap lingkungan hidup. Dimana
orang-orang selalu membeli dan membeli produk-produk terbaru dari elektronika yang kian
lama fungsi dan komposisinya semakin canggih, tetapi fasilitas untuk penanganan
sampahnya kurang optimal. Menurut estimasi Badan Program Lingkungan Hidup PBB
(UNEP), setiap tahun dihasilkan 20-50 juta ton limbah elektronik dari seluruh penjuru dunia.
Tingkat kemampuan daur ulangnya tak lebih dari 10 persen. Sementara, peningkatan volume
limbah elektronik per tahunnya diperkirakan mencapai 3-5 persen, atau tiga kali lebih cepat
daripada limbah umum.

II. Latar belakang :

Pada abad informasi ini, barang-barang elektronik seperti komputer, telepon genggam,
tape recorder, VCD player, laptop, AC, baterai litium,kipas angin,mesin cuci, lemari es,
lampu dan televisi bukanlah benda yang asing lagi. Barang-barang elektronik tersebut bukan
hanya akrab di kalangan penduduk kota, tetapi juga telah dikenal dengan baik oleh
masyarakat yang tinggal di pelosok desa sekalipun. Dinegara-negara berkembang yang
memiliki perekonomian rendah sangat berpeluang bagi negara maju untuk membuang
sampah elektronik mereka dengan alih-alih penjualan barang dengan harga yang sangat
murah. Sehingga barang-barang elektronik dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat
di negara berkembang. Dan bahkan, bagi sebagian orang, barang tersebut merupakan
kebutuhan vital yang harus terpenuhi seperti layaknya sembako. Kebutuhan akan layanan
informasi dan pengolahan data telah menempatkan barang-barang elektronik menjadi
kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, seperti layaknya barang-barang lainnya, setelah masa
tertentu, produk-produk elektronik itu tentu saja menjadi benda yang tidak dipakai lagi
karena sudah ada penggantinya dalam versi terbaru atau karena rusak. Jika sudah demikian,
barang-barang tersebut menjadi rongsokan elektronik atau sampah yang biasanya
mengokupasi sudut-sudut ruang kerja dan gudang di rumah atau kantor. Pembuangan sampah
elektronik mengalami kesulitan karena tidak semua tukang servis atau pemulung mau
menerima rongsokan yang sudah kadaluwarsa dan tidak ada lagi pasarnya.

Jika sampah organik hanya perlu dibuang dan ditimbun karena mudah lapuk dan bisa
diuraikan senyawanya oleh bakteri maka lain halnya dengan sampah non-organik sampah
tersebut ditangani mulai dari tempat penampungan sementara hingga ke tempat pembuangan
sampah non-organik berupa plastik, besi, kaca, dan beberapa material didaur ulang oleh
industri kecil. Sementara itu sampah elektronik berupa trafo, bohlam, radio, TV, telepon, dan
komponen pendukung lainnya, belum ada yang menangani secara sistematis dari waktu ke
waktu. Sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun bifenil yang bersifat
karsinogenik itu terus menumpuk, hingga berpotensi menggunung dan membahayakan bagi
kesehatan manusia. Selain itu keberadaan sampah elektronik juga dapat menurunkan IQ,
karena ketika dibakar, sampah yang mengandung logam berat ini menimbulkan polusi udara
(pencemaran timbal) yang sangat berbahaya. Jika dibuang akan menghasilkan lindi (cairan
yang berasal dari dekomposisi sampah dan infiltrasi air eksternal dari hujan).

III. Solusi :

Salah satu usaha untuk meminimalisir sampah elektronik adalah dengan menerapkan
program extended producer responsibility (EPR), suatu program dimana produser
bertanggung jawab mengambil kembali (take back) produk-produk yang tidak terpakai.
Tujuan dari program ini adalah untuk mendorong produser meminimalisir pencemaran dan
mereduksi penggunaan sumber daya alam dan energi dari setiap tahap siklus hidup produk
dan teknologi proses. Selain itu, para produsen juga harusnya membantu untuk menciptakan
barang elektronik yang mudah diperbaiki, di up-grade, re-use, dan aman ketika di daur ulang.
Serta produsen alat elektronik juga perlu berperan serta dengan memproduksi produk ramah
lingkungan dan menjalankan program daur ulang produk yang mereka hasilkan dan untuk
para konsumen juga bisa berperan serta dengan memakai produk multifungsi dan mendaur
ulang peralatan elektronik bekas. Bukan hanya itu kita sebagai salah satu masyarakat
pengguna barang elektronik juga seharusnya turut membantu meningkatkan kesadaran
masyarakat lain tentang daur ulang sampah elektronik salah satunya dengan gerakan peduli
lingkungan untuk membantu daur ulang sampah elektronik.

Selain program diatas, kita juga harus mendukung pemerintah dalam pembuatan landfill
di Indonesia sebagai cara yang efektif untuk melakukan proses daur ulang yang ramah
lingkungan dan multifungsi. Yaitu landfill dapat dijadikan sebagai obyek wisata yang
pemasukannya dapat digunakan untuk memelihara infrastruktur landfill itu sendiri.

IV. Pencegahan :

Dalam mengurangi sampah elektronik, disini peran pemerintah dalam hukum sangat
penting karena selama ini dasar hukum yang belum jelas sehingga membuat para investor-
investor asing dengan mudah membuang barang-barang bekas mereka ke Negara kita dengan
alih-alih harga yang sangat murah. Selain itu parameter jasa/retribusi pelayanan sampah juga
berperan penting, karena selama ini belum ada ukuran yang jelas yang dijadikan ukuran
untuk menghitung besaran pungutan sampah ke masyarakat, sehingga membuat masyarakat
semakin manja untuk selalu membuang barang-barang mereka, padahal barang-barang
tersebut masih dapat digunakan hanya dengan didaur ulang saja. Selain itu kita sebagai
pengguna barang elektronik juga dapat melakukan tindakan pencegahan seperti menjaga dan
merawat barang elektronik, dimana sebaiknya kita menggunakan barang tersebut secara
bijak, mematikan jika tidak digunakan agar masa penggunaannya lebih lama. Selain itu kita
juga dapat mencoba untuk memperbaiki barang elektronik tersebut, karena mungkin saja
masalahnya tidak begitu parah seperti yang kita bayangkan.