Anda di halaman 1dari 32

BKPM

(BUKU KERJA PRAKTEK MAHASISWA)

K I M I A D A SA R
(SEMESTER SATU)

DISUSUN OLEH:
TIM PENYUSUN MATA KULIAH KIMIA DASAR

PROGRAM STUDI D4 TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL


PETERNAKAN

POLITEKNIK NEGERI BANYUWANGI


TAHUN 2013
KATA PENGANTAR
Buku Kerja Praktek Mahasiswa ini disusun untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa
sebagai panduan dalam melaksanakan praktikum dalam mata kuliah Kimia Dasar
untuk mahasiswa program studi Diploma IV Teknologi Pengolahan Hasil Peternakan
pada Politeknik Negeri Banyuwangi.
Materi yang dipraktikumkan merupakan materi yang telah didapatkan dalam teori
pada saat kuliah Kimia Dasar, sehingga mahasiswa akan lebih memahami teori yang
didapat di dalam kelas.
Semoga Buku Kerja Praktek Mahasiswa ini dapat bermanfaat.

Banyuwangi, Agustus 2013


Tim Penyusun

TATA TERTIB
PESERTA PRAKTIKUM KIMIA DASAR
1. Setiap peserta harus hadir tepat pada waktu yang telah ditentukan, apabila
terlambat lebih dari 5 (lima) menit dari waktu tersebut, maka dia tidak
diperkenankan mengikuti praktikum pada hari itu.
2. Selama mengikuti praktikum, peserta harus memakai jas praktikum (berwarna
putih) yang bersih sehingga tidak mengganggu peserta yang lain.
3. Setiap peserta diwajibkan membuat laporan praktikum, yaitu laporan sementara
(yang ditanda tangani assisten) dan sebelum mengikuti praktikum berikutnya,
peserta harus mengumpulkan laporan resmi. Jika tidak mengumpulkan maka
peserta tidak diperkenankan mengikuti praktikum pada hari itu.
4. Setiap peserta harus menjaga kebersihan laboratorium, bekerja dengan tertib,
tenang, dan teratur. Selama mengikuti praktikum, peserta harus bersikap sopan,
baik dalam berpakaian (tidak boleh memakai sandal ataupun kaos oblong), cara
berbicara maupun cara bergaul supaya sopan. Apabila peserta tidak sopan dan
membuat kegaduhan, mereka dapat dikeluarkan dari laboratorium dan tidak
diperkenankan untuk melanjutkan praktikum pada hari itu. Kegiatan praktikum
dinyatakan gagal.
5. Setiap peserta harus mengembalikan botol bahan-bahan kimia yang tertutup rapat
ditempat semula.

6. Setiap peserta harus mengembalikan alat-alat yang telah dipakai dalam keadaan
bersih dan kering, serta mengembalikan ke tempat semula.
7. Bagi mereka yang tidak mengikuti praktikum pada hari yang telah terjadwal,
dinyatakan inhal (menunda praktikum) dengan memenuhi persyaratan yang ada.
8. Inhal tidak boleh lebih dari 2 (dua) kali kecuali mereka yang sakit dan harus
diopname di rumah sakit. Lebih dari 2 kali dinyatakan tidak lulus dan harus
mengulang tahun berikutnya.

ACARA PRAKTIKUM 1
PENGENALAN ALAT DI LABORATORIUM KIMIA
1. Tujuan Praktikum
a. Mengenal alat-alat dan bahan yang ada di laboratorium kimia.
b. Untuk mengetahui fungsi dan bagaimana cara menggunakan alat-alat kimia
yang ada di laboratorium.
c. Untuk melatih ketelitian kita dalam mengukur suatu zat atau unsur-unsur
kimia.
2. Teori
A. Peralatan Dasar
1. Gelas Kimia (beaker) :
Fungsi:

2. Labu Erlenmeyer :
Fungsi :

3. Gelas ukur :
Fungsi :

4. Pipet :
Fungsi :

5. Buret :
Fungsi :

6. Tabung reaksi :
Fungsi :

7. Kaca arloji :
Fungsi :

8. Corong :
Fungsi :

9. Cawan :
Fungsi :

10. Mortar dan pestle :


Fungsi :

11. Spatula :
Fungsi :

12. Batang pengaduk :


Fungsi :

13. Kawat kasa :


Fungsi :

14. Kaki tiga :


Fungsi :

15. Burner/ pembakar spiritus :


Fungsi:

16. Bola hisap :


Fungsi :

17. Neraca analisis :


Fungsi :

B. Peralatan Pendukung
1. Labu ukur :
Fungsi :

2. Labu bundar :
Fungsi :

3. Corong Buchner :
Fungsi :

4. Erlenmeyer Buchner :
Fungsi :

5. Corong pisah :
Fungsi :
6. Desikator :
Fungsi :

7. Cawan petri :
Fungsi :

8. Botol semprot :
Fungsi :

9. Krusibel :
Fungsi :

10. Kaki tiga krus :


Fungsi:

11. Statif :
Fungsi :

12. Klem manice :


Fungsi :

13. Klem bosshead :


Fungsi :

14. Klem buret :


Fungsi :

15. Pemegang corong :


Fungsi :

16. Tang krusibel :


Fungsi :

17. Stirrer magnetic :


Fungsi :

18. Sentrifuge :
Fungsi :

19. Chromatography :
Fungsi :

20. Spectronic :
Fungsi :

C. Teknik Dasar di Laboratorium


1. Cara memanaskan cairan

Harus memperhatikan kemungkinan terjadinya bumping (meloncatnya


cairan akibat peningkatan suhu drastis). Cara mencegahnya dengan
menambahkan batu didih ke dalam gelas kimia.
a. Pemanasan cairan dalam tabung reaksi
-

Jangan sampai mengarahkan mulut tabung reaksi kepada praktikan


baik diri sendiri maupun orang lain

Jepit tabung reaksi pada bagian dekat dengan mulut tabung

Posisi tabung ketika memanaskan cairan agak miring, aduk dan


sesekali dikocok

Pengocokan terus dilakukan sesaat setelah pemanasan

b. Pemanasan cairan dalam gelas kimia dan labu Erlenmeyer


Bagian bawah dapat kontak langsung dengan api sambil cairannya
digoyangkan perlahan, sesekali diangkat bila mendidih.

2. Cara membaca volume pada gelas ukur


Masukkan cairan yang akan diukur lalu tepatkan dengan pipet tetes
sampai skala yang diinginkan. Bagian terpenting dalam membaca skala di
gelas ukur tersebut adalah garis singgung skala harus sesuai dengan
meniskus cairan. Meniskus adalah garis lengkung permukaan cairan yang
disebabkan adanya gaya kohesi atau adhesi zat cair dengan gelas ukur.
3. Cara menggunakan buret
Sebelum digunakan, buret harus dibilas dengan larutan yang akan
digunakan. Cara mengisinya :
Kran ditutup kemudian larutan dimasukkan dari bagian atas menggunakan
corong gelas. Jangan mengisi buret dengan posisi bagian atasnya lebih
tinggi dari mata kita. Turunkan buret dan statifnya ke lantai agar jika ada
larutan yang tumpah dari corong tidak terpercik ke mata. Jangan sampai
ada gelembung yang tertinggal di bagian bawah buret. Jika sudah tidak
ada gelembung, tutup kran. Selanjutnya isi buret hingga melebihi skala
nol, lalu buka kran sedikit untuk mengatur cairan agar tepat pada skala
nol.
4. Cara menggunakan neraca analitis
-

Nolkan terlebih dulu neraca tersebut

Letakkan zat yang akan ditimbang pada bagian timbangan

Baca nilai yang tertera pada layar monitor neraca

Setelah digunakan, nolkan kembali neraca tersebut

Cara menghirup bau zat

Ingat : Jangan pernah menghirup gas atau uap senyawa secara langsung!
Gunakan tangan dengan mengibaskan bau sedikit sampel gas ke hidung.
3. Data Pengamatan
4. Pembahasan
5. Kesimpulan

ACARA PRAKTIKUM 2
SISTEM PERIODIK UNSUR
A. Tujuan Percobaan
1. Mengenal unsur halogen dan ion halida
2. Mempelajari kekuatan oksidasi relatif unsur-unsur halogen
3. Mempelajari keperiodikan sifat logam-logam alkali dan alkali tanah
B. Dasar Teori
Kofigurasi elektron unsur-unsur menunjukkan suatu keragaman periodik
dengan bertambahnya nomor atom. Akibatnya, unsur-unsur juga akan menunjukkan
keragaman periodik dalam perilaku fisis dan kimianya.
Pada umumnya unsur-unsur yang segolongan dalam Sistem Periodik Unsur
mempunyai sifat yang hampir mirip. Unsur-unsur tersebut sifat-sifatnya akan
bertambah atau berkurang secara periodik dari atas ke bawah. Begitu pula jika unsurunsur itu membentuk senyawa. Sifat-sifat senyawa yang terbentuk juga mirip. Namun
ada perbedaan sifat pada senyawa itu yang disebabkan oleh perbedaan ukuran atom
atau ion unsur-unsur tersebut.
Dengan menentukan kekuatan oksidasi relatif unsur-unsur golongan halogen,
maka akan diperoleh suatu pengertian mengenai kecenderungan unsur-unsur untuk

menarik elektron. Kecenderungan untuk menarik elektron itu dapat dihubungkan


dengan berubahnya ukuran atom dan ukuran ion.
Logam alkali dan alkali tanah mempunyai warna yang khas. Pada percobaan
ini akan dipelajari reaksi logam alkali maupun alkali tanah dengan air, warna nyala
logam alkali dan alkali tanah dan kelarutan senyawa alkali tanah dalam air. Perbedaan
kelarutan senyawa-senyawa logam alkali tanah dapat digunakan untuk membedakan
ion-ion logam alkali tanah.

C. Alat dan Bahan


1. Alat
- Tabung reaksi
- Rak tabung reaksi
- Pinggan penguapan
- Gelas kimia 500 ml
- Gelas ukur 10 ml
- pipet tetes
- Kawat nikrom
2. Bahan
- Larutan NaF, NaCl, NaBr dan NaI
- Larutan Brom (0,5 ml Br2/ 100 ml air)
- Larutan Iod (0,5 g I2/100 ml etanol)
- Larutan kanji
- Larutan CCl4
- Larutan AgNO3 0,1 M

- Larutan Na.tio sulfat 2 M


- Logam Na, Mg, dan Ca
- Larutan pekat LiCl, NaCl, MgCl2, BaCl2, SrCl2
- Ca(NO3)2 0,1 M, Ba(NO3)2 0,1 M, Sr(NO3)2 0,1 M, (NH4)2C2O4 0,1 M, K2CrO4 0,1
M, (NH4)2SO4 0,1 M
- Larutan fenolftalein

D. Cara Kerja
1. Pengenalan golongan alkali dan alkali tanah
Reaksi dengan Air
a. Apungkan secarik kertas saring di atas permukaan air dalam pinggan penguapan.
Jepit sepotong kecil natrium dan letakkan di atas kertas itu. Perhatikan! Jangan
pegang natrium dengan tangan dan jangan dekat dengan tempat reaksi. Setelah
reaksi selesai, periksalah air di dalam pinggan tersebut dengan 1 tetes fenolftalein,
catat perubahan yang terjadi.
b. Balikkan tabung reaksi yang berisi air dan masukkan di dalam gelas kimia yang
juga berisi air. Masukkan sepotong kecil Ca ke dalam gelas kimia itu dan segera
tutup Ca itu dengan tabung reaksi yang berisi air. Dalam tabung itu terjadi gas.
Setelah reaksi selesai, periksalah gas itu dengan nyala kecil, apa yang terjadi?
Kemudian periksalah airnya dengan fenolftalein, catat perubahan warna yang
terjadi.
c. Bersihkan sepotong Mg dengan amplas, masukkan Mg itu ke dalam air.Tunggu
beberapa menit, apa yang terjadi? Kemudian periksalah airnya dengan
penolftalein, catat perubahan warna yang terjadi.
Reaksi Nyala
Bersihkan kawat nikrom dengan cara mencelupkannya ke dalam larutan HCl pekat,
kemudian panaskan kawat itu dalam nyala. Ulangi pekerjaan itu sampai tidak tampak

warna lain dalam nyala (kawat yang bersih, tidak mengubah warna nyala). Kemudian
celupkan lawat ke dalam larutan LiCl pekat dan periksa warnanya dalam nyala.
Dengan cara yang sama periksa warna nyala NaCl, MgCl2, SrCl2 dan BaCl2.
Kelarutan senyawa logam alkali tanah
a. Masukkan ke dalam tiga tabung reaksi berturut-turut 1 ml larutan Ca(NO3)2 0,1 M,
1 ml lar. 0,1 M Sr(NO3)2 dan 1 ml Ba(NO3)2 0,1 M. Teteskan dengan pipet tetes
larutan (NH4)2C2O4 0,1 M ke dalam masing-masing tabung di atas sampai tepat
terbentuk endapan (atau keruh). Catat jumlah tetes yang digunakan sampai
terbentuk endapan. Jika tidak terbentuk endapan sampai penambahan 20 tetes,
hentikan penetesan .
b. Kerjakan seperti pada (1), tetapi gantilah larutan amonium oksalat dengan larutan
(NH4)2SO4 0,1 M dan kemudian dengan larutan K2CrO4 0,1 M.
2. Pengenalan Halogen
a. Brom. Tambahkan 10 tetes CCl4 ke dalam 1 ml lar. Brom, kocok perlahan-lahan.
Dan amati perubahan warna lapisan CCl4.
b. Iod. Tambahkan beberapa tetes larutan kanji ke dalam larutan Iod, catat warna
yang terjadi.
E. Evaluasi
1. Apa sebab terjadi perubahan warna pada fenolftalein ?
2. Jika label dalam botol-botol larutan Ca(NO 3)2, Sr(NO3)2, dan Ba(NO3)2 terlepas,
bagaimana anda dapat mengetahui isi botol itu ? Susun suatu cara kerja agar label
pada botol dapat dikembalikan dengan benar.

ACARA PRAKTIKUM 3
REAKSI OKSIDASI-REDUKSI
A.
1.
2.
3.

Tujuan
Menjelaskan tentang reaksi redoks
Menuliskan reaksi redoks
Menentukan urutan reaktivitas logam-logam berdasarkan reaksi redoks

B. Dasar Teori
Setiap logam mempunyai sifat reduktor, hal ini disebabkan kecenderungan
melepaskan electron atau mengalami oksidasi. Ada yang bersifat reduktor kuat
(mudah teroksidasi) seperti logam-logam alkali, namun ada pula yang bersifat
reduktor lemah (sukar teroksidasi) seperti logam-logam mulia.
Pada tahun 1825 Alessandro Giuseppe Volta (1745-1827) dari italia menyusun
urutan logam-logam yang dikenal saat itu yang berjumlah 20 jenis, dari reduktor
terkuat sampai reduktor terlemah berdasarkan eksperimen. Urutan tersebut
dinamakan Deret Volta. Air dan hydrogen meskipun bukan logam dimasukkan
juga oleh Volta. Deretnya sbb.:
K-Ba-Ca-Na-Mg-(H2O)-Zn-Cr-Fe-Cd-Co-Ni-Sn-Pb-(H)-Cu-Hg-Ag-Pt-Au
Makin kekiri letak suatu logam dalam deret Volta sifat reduktornya makin kuat.
Oleh karena itu, suatu logam dalam deret volta mampu mereduksi ion-ion di
sebelah kanannya tetapi tidak mampu mereduksi ion-ion disebelah kirinya.
Dalam menuliskan reaksi redoks bisa dengan reaksi setengah.
C. Alat dan Bahan
1. Alat
Tabung reaksi
Rak tabung reaksi
Kertas amplas
Lempeng logam Zn, Fe, Cu, Pb
2. Bahan
Pb(NO3) 0,1 M
ZnSO4 0,1 M
HCl 3 M
Fe(NO3)2 0,1 M
CuSO4 0,1 M

D. Cara Kerja
1. Digosok logam Zn dengan menggunakan ampelas kemudian dipotong kecilkecil dengan ukuran 0,5 cm x 0,5 cm.
2. Diambil 12 buah tabung reaksi kemudian mengisi berturut-turut dengan
larutan CuSO4 0,1 M; Fe(NO3)3 0,1 M; ZnSO4 0,1 M; Pb(NO3)2 0,1 M dan
HCl 3 M.
3. Dimasukkan sepotong logam Zn yang telah digosok ke dalam masing-masing
larutan di atas kemudian mengamati apa yang terjadi.
4. Mengulangi percobaan 1 sampai dengan 3 dengan mengganti logan Zn
dengan lempeng logam Fe, Mg dan Cu.
5. Menuliskan reaksi-reaksi yang terjadi kemudian membuat kesimpulan urutan
reaktivitas logam-logam Zn, Fe, Mg dan Cu
E. Evaluasi
1. Tuliskan reaksi redoks (setengah reaksi) yang mungkin terjadi hasil dari
percobaan anda?
2. Buat setimbang reaksi oksidasi ion plumbit, (Pb(OH) 3- menjadi plumbum
dioksida dengan oksidator ion hipoklorit dalam suasana basa berikut ini:
Pb(OH)3- + OClPbO2 + Cl-

ACARA PRAKTIKUM 4
KARBOHIDRAT (PATI)

1.

TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah mengikuti praktikum mahasiswa mampu menyusun rangkaian alat dan
mengoperasikannya, serta memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada bahan
organik serta cara menganalisa secara kuantitatif.

2.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


Setelah mengikuti praktikum kimia organik dengan pokok bahasan analisa
karbohidrat (pati), mahasiswa akan dapat menyusun rangkaian alat analisa

karbohidrat (pati) dan mengoperasikannya, serta memahami reaksi-reaksi yang


terjadi pada senyawa karbohidrat dan cara menentukan kadar karbohidrat (pati)
pada suatu bahan sesuai dengan prosedur yang benar.
3.

TINJAUAN PUSTAKA
Karbohidrat merupakan senyawa organik yang banyak dijumpai di alam yang
terdiri dari unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Rumus empiris dari senyawa
karbohidrat adalah CH2O. Senyawa karbohidrat merupakan polihidroksi aldehid
dan keton atau turunannya.
Menurut molekulnya, karbohidrat dibagi menjadi:
a. Monosakarida: merupakan karbohidrat yang paling sederhana
Contoh: glukosa, galaktosa, fruktosa, ribosa
b. Disakarida: terdiri dari dua satuan monosakarida
Contoh: sukrosa, maltose, selobiosa, laktosa
c. Polisakarida: terdiri dari banyak satuan (lebih dari delapan satuan)
Contoh: pati, selulosa, pectin, kitin, dll
Sifat umum karbohidrat:
1. Senyawa karbohidrat dari tingkat yang lebih tinggi dapat diubah menjadi
tingkat yang lebih rendah dengan cara menghidrolisa
2. Gugus hemiasetal (keton maupun aldehid) mempunyai sifat pereduksi
3. Gugus-gugus hidroksil pada karbohidrat juga bertabiat serupa dengan yang
terdapat pada gugus alcohol lain.
Pati
Pati terdiri dari 2 macam senyawa, yaitu:
a. Amilosa ( 20%)
Yang mempunyai sifat larut dalam air panas. Amilosa merupakan polimer
linier dari D glukosa yang dihubungkan secara 1,4.

Tiap molekul amilosa terdapat 250 satuan glukosa.

Hidrolisis parsial menghasilkan maltosa (dan oligomer lain) sedangkan


hidrolisis lengkap hanya menghasilkan D-glukosa.

Molekul amilosa membentuk spiral di sekitar molekul I 2 dan antaraksi


keduanya akan menimbulkan warna biru. Hal ini digunakan sebagai dasar
uji Iod pada pati.

b. Amilopektin ( 80%)

Mempunyai sifat tidak larut dalam air. Struktur bangun dari senyawa
amilopektin hampir sama dengan amilosa, perbedaannya rantai amilopektin
mempunyai percabangan. Rantai utama amilopektin mengandung 1,4aDglukosa, dan percabangan rantai mengandung 1,6aD-glukosa. Tiap
molekul mengandung 1000satuan glukosa.

Hidrolisa parsial dari amilopektin dapat menghasilkan oligosakarida yang


disebut dekstrin, yang sering digunakan sebagai perekat (lem), pasta, dan
kanji tekstil. Hidrolisa lanjut dari dekstrin dapat menghasilkan maltosa dan
isomaltosa. Hidrolisa lengkap amilopektin hanya menghasilkan D-glukosa.
Amilopektin

H2O, H+

Maltosa + isomaltos
4.

PELAKSANAAN PERCOBAAN
Bahan yang Digunakan
CuSO4
1.
HCL
2.
NAOH
3.
KNa-tartrat
4.
Glukosa anhidris
5.
Metilen blue
6.
Alat yang Digunakan
1. Timbangan
2. Buret
3. Magnetic stirrer plus heater
4. Waterbath
5. Labu leher tiga
6. Thermometer
7. Pendingin leibig
8. Klem
9. Statif
10. Pipet volume

dekstrin

H2O, H+
D. glukosa

Cara Kerja
Analisa kadar pati:
- Persiapan bahan:
Timbang 10 gram contoh yang berupa bahan padat yang telah dihaluskan
dalam gelas piala 250 ml, tambahkan 100 ml aquades dan aduk selama 1
jam. Suspensi disaring dengan kertas saring dan cuci dengan aquades
sampai volume filatrat 250 ml. Filtrat dibuang. Untuk bahan yang
mengandung lemak, padatan yang telah disaring dicuci 5 kali dengan 10
ml ether. Biarkan ether menguap, kemudian cuci lagi dengan 150 ml
-

alkohol 10 %.
Standarisasi Larutan Fehling
Larutan fehling A sebanyak 5 ml dan larutan fehling B 5 ml dicampur,
lalu ditambah 15 ml larutan glukosa standart dari buret. Campuran
dididihkan selama 2 menit. Kemudian masih dalam keadaan mendidih,
penetesan glukosa dilanjutka sampai warna biru hampir hilang.
Penambahan ini dilakukan dalam waktu 1 menit. Setelah itu campuran
ditambah 2 4 tetes indikator metilen blue, dan titrasi dilanjutkan sampai

terbentuk warna merah. Volume glukosa standart yang dibutuhkan (F).


Penentuan kadar pati
10 gr pati dilarutkan dalam 100 ml HCl 1 N. Larutan dipanaskan pada
suhu 100 C selama 1 jam. Setelah itu didinginkan, diencerkan dengan
0

aquades sampai 500 ml, dan dinetralkan. Diambil 5ml, diencerkan sampai
100 ml, diambil 5 ml. Kemudian dititrasi : 5 ml sampel + 5 ml fehling A +
5 ml fehling B + 15 ml glukosa standar, dipanaskan sampai mendidih
ditambahkan 3 tetes indikator MB. 2 menit dari mendidih, larutan dititrasi
dengan glukosa standar hingga warna berubah menjadi merah bata. Catat
kebutuhan titran (M ml). Hitung kadar pati. Yang perlu diperhatikan,
proses titrasi dilakukan dalam keadaan mendidih (di atas kompor), titrasi
efektif dilakukan maksimal 1 menit

Dengan B = 500 ml, jika ingin diperoleh kadar pati dikalikan dengan 0,9.

Keterangan :
X = hasil glukosa, dalam bagian berat pati.
F = larutan glukosa standart yang diperlukan.
M = larutan glukose standart yang digunakan untuk menitrasi sampel.
N = gr glukose / ml larutan standart = 0,0025 gr/liter
W = berat pati yang dihidrolisis, gram
B = volume larutan suspensi pati dalam reaktor yang dihidrolisa
-

Pembuatan larutan fehling:


a. Larutan Fehling A
Dibuat dengan melarutkan 34,639 gram CuSO4.5H2O dalam 500 ml
aquades. Zat padat yang tidak larut disaring.
b. Larutan Fehling B
Dibuat dengan melarutkan 172 gram Kalium Natrium Tartrat
(KNaC4H4O6.4H2O) dan 50 gram NaOH dalam aquades sampai
volumenya menjadi 500 ml lalu dibiarkan selama 2 hari. Selanjutnya

larutan disaring dengan wol glass.


Pembuatan larutan glukosa standar:
Dibuat degan melarutkan 2,5 gram glukosa anhidris dengan air suling
sampai volume 1000 ml.

ACARA PRAKTIKUM 5
LEMAK
1. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM

Setelah mengikuti praktikum mahasiswa mampu menyusun rangkaian alat dan


mengoperasikannya, serta memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada bahan
organik serta cara menganalisa secara kuantitatif.
2. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah mengikuti praktikum kimia organik dengan pokok bahasan analisa kadar
lemak, mahasiswa akan dapat menyusun rangkaian alat analisa lemak dan
mengoperasikannya, serta memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa
lemak dan cara menentukan kadar lemak pada suatu bahan sesuai demgam
prosedur yang benar.
3. TINJAUAN PUSTAKA
Lemak adalah senyawa organik yang tidak larut dalam air tetapi larut dalam
pelarut organik non polar. Lemak termasuk ester yang tersusun atas asam lemak
dan gliserol, dimana ketiga radikal hidroksil dari gliserol diganti dengan gugus
ester. Istilah fat (lemak) biasanya digunakan untuk trigliserida yang berbentuk
padat atau lebih tepatnya semi padat pada suhu kamar, sedang istilah minyak (oil)
digunakan untuk trigliserida yang pada suhu kamar berbentuk cair.
Komponen-komponen lemak:
a. Gliserol
Sering disebut gliserin atau propantial 1,2,3 adalah bermartabat tiga yang
strukturnnya adalah:

Sifat fisisnya yaitu berbentuk kristal, rasa manis, tidak berwarna, dalam
keadaan murni bersifat higroskopis, netral terhadap lakmus. Tidak larut dalam
benzena dan karbon disulfida.
b. Asam lemak
Yaitu asam karboksilat yang rantainya lurus da radikal karboksilatnya terletak
di ujung rantai. Asam lemak penyusun utamanya adalah:
1. Asam stearate (C17H35COOH)
2. Asam oleat (C17H33COOH)
3. Asam linoleat (C17H31COOH)
Rumus umum Lemak:

Ada berbagai cara untuk mengambil minyak atau lemak dari tumbuh-tumbuhan
atau jaringan hewan. Cara tersebut antara lain:
- Cara Pressing (penekanan)
- Cara Extraction (menggunakan solvent)
Ada berbagai jenis solvent yang dapat digunakna sebagai bahan pengekstrak
lemak, diantaranya adalah n-hexana dan diethyl eter.
Kegunaan Lemak
1. Untuk obat-obatan
2. Untuk minyak goring
3. Untuk cat vernis
4. Untuk pembuatan margarin
5. Untuk kosmetik
6. Untuk menyamak kulit
7. Untuk insektisida dan fungisida
8. Untuk pembuatan sabun dan deterjen
9. Untuk pembuatan biodiesel
Pengukuran kualitas lemak berdasarkan pada:
1. Bilangan penyabunan
2. Bilangan asam
3. Bilangan Iod
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada proses esktraksi:
1. Luas permukaan: makin luas bidang sentuh, ekstraksi makin baik.
2. Waktu ekstraksi: makin lama waktu ekstraksi makin banyak lemak yang
dihasilkan, waktu maksimum 3 jam.
3. Temperature: suhu menentukan, dapat diukur dari solvent yang digunakan dan
kelarutan lemak.
4. Solvent: jenis solven akan berpengaruh pada banyaknya lemak yang terambil.
4. PELAKSANAAN PERCOBAAN
Bahan yang digunakan:
1. Sampel (bahan yang mengandung lemak)
2. N-hexane
Alat yang digunakan:
1. Statif dan klem
2. Kompor listrik
3. Beaker glass
4. Corong
5. Cawan porselin
6. Oven
7. Gelas ukur
8. Timbangan
9. Pendingin balik

Cara Kerja
Ekstraksi lemak
1. Mengeringkan labu ekstraksi dalam oven pada suhu 105-110C, didinginkan dan
ditimbang.
2. Menimbang 10 gr sampel yang sudah dihaluskan dan dikeringkan.
3. Membungkus bahan dengan kertas saring bebas lemak dan diikat dengan benang
dan dimasukkan dalam tabung soklet.
4. Memasukkan n-hexane dalam labu alas bulat.
5. Melakukan ekstraksi selama 2 jam. Diusahakan jumlah tetesan sekitar 150 tetes
per menit.
6. Setelah ekstraksi selesai sampel diambil dan memasang kembali ekstraktor guna
recovery solvent.
7. Melakukan recovery solvent.
8. Mengeringkan sampel dalam oven pada suhu 110 C selama beberapa saat dan
setelah kering didinginkan dan ditimbang.
9. Mengambil labu ekstraksi dan sisa solvent diuapkan dalam oven pada suhu 80-90
C dan didinginkan dan ditimbang.
10. Menentukan kadar lemak dengan perhitungan.

ACARA PRAKTIKUM 6

PROTEIN
1. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah mengikuti praktikum mahasiswa mampu menyusun rangkaian alat dan
mengoperasikannya, serta memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada bahan
organik serta cara menganalisa secara kuantitatif.
2. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah mengikuti praktikum kimia organik dengan pokok bahasan analisa
protein, mahasiswa akan dapat menyusun rangkaian alat analisa protein dan
mengoperasikannya, serta memahami reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa
protein dan cara menentukan kadar protein pada suatu bahan sesuai dengan
prosedur yang benar.
3. TINJAUAN PUSTAKA
Protein merupakan suatu senyawa organik dengan jumlah molekul yang sangat
besar, susunannya sangat kompleks serta tersusun dari rangkaian asamasam
amino. Ikatan utama asam amino yang satu dengan yang lain terjadi karena
adanya ikatan peptida, sehingga protein sering disebut polipeptida. Protein terdiri
dari unsur-unsur C, H, O, dan N serta kadang-kadang dijumpai S dan P. Bila
protein dihidrolisa dengan menggunakan larutan asam atau bantuan enzim,
menghasilkan asam amino.
Asam Amino
Asam amino merupakan asam organik yang mempunyai gugus COOH yang
bersifat asam dan gugus NH2 yang bersifat basa. Di dalam asam amino baik
gugus yang bersifat asam maupun basa adalah lemah.
Klasifikasi Protein
1. Berdasarkan bentuk molekul
a. Molekul Globular
b. Protein Fibrosa
2. Berdasarkan komponen penyusunan
a. Albumin
b. Globulin
c. Histerin

d. Protamine
e. Keratin
f. Elastin
3. Berdasarkan sumbernya
a. Protein nabati
b. Protein hewani
4. Berdasarkan fungsi biologis
a. Protein enzim
b. Protein hormone
c. Protein pembangun
d. Protein kontraktil
e. Protein pengankut
Kegunaan Protein
1. Sebagai zat pembangun
2. Sebagai pengganti sel-sel yang rusak
3. Sebagai zat pengemulsi
4. Sebagai zat penghasil energy
5. Berguna untuk pembentukan enzim
6. Sebagai buffer untuk mempertahankan pH tubuh
7. Dalam industry sebagai penghasil wol dan sutera sintesis
Metode Kjeldahl
Metode ini paling banyak digunakan karena penggunaannya mudah dan
kesalahannya tidak terlalu besar. Metode ini tidak dapat digunakan untuk
menganalisa banyaknya protein atau asam amino suatu zat, tetapi yang dianalisa
adalah nitrogen, setelah didapatkan banyaknya nitrogen dikalikan faktor konversi.
Faktor ini berbeda pada berbagai zat namun diambil rata-ratanya. Analisa kadar N
secara Kjeldahl dibagi tiga tahap, yaitu:
1) Destruksi
Zat dirusak dengan H2SO4. Zat yang mengandung protein didestruksi di dalam
labu Kjeldahl dimana di atasnya ditutup dengan gelas arloji untuk menjaga
agar tidak banyak uap yang keluar dari labu. Mula-mula cairan dalam labu
menjadi hitam yaitu sewaktu zat-zat terurai menghasilkan karbon. Ketika
atom-atom sudah membentuk ikatan lagi maka larutan akan menjadi jernih
yang berarti destruksi selesai.

2) Destilasi
Destilasi dilakukan sambil penambahan larutan NaOH sehingga terjadi reaksi:
NH4HSO4 + 2NaOH

Na2SO4 + NH3 + 2H2O

Amina yang terdetilasi dialirkan ke larutan asam boraks sehingga terjadi


reaksi:
3NH3 + H3BO3

(NH4)3BO3

3) Titrasi
(NH4)3BO3 + 3HCL

3NH4CL + H3BO3

Hal-hal yang perlu diperhatikan:


1. Bahan harus murni, dalam keadaan kering dan halus agar proses destruksi
sempurna
2. Pemanasan harus merata
3. Pada waktu destilasi, destilat dimasukkan ke dalam boraks jenuh dalam
Erlenmeyer agar NH3 dapat segera dikat dan tidak menguap keluar. Selain itu
dipasan kapas antara adaptor dan leher Erlenmeyer untuk mencegah penguapan
4. Titrasi sangat penting sehingga HCL harus distandarisasi terlebih dahulu untuk
mengetahui normalitas HCL yang dipakai
5. Pada proses destruksi larutan yang didapat harus sampai jenuh kembali, sebab
apabila belum jenuh, asam-asam belum dapat membentuk ikatan kembali.
4. PELAKSANAAN PERCOBAAN

Bahan yang digunakan


1.

Sampel

2.

Serbuk Zn

3.

HCL 0,1 N

4.

NaOH

5.

H2SO4

6.

MO

7.

CuSO4.5.H2O

8.

Asam boraks jenuh

9.

Na2SO4 anhidrid

10.

Aquadest

Alat yang digunakan


1. Labu digeser
2. Labu destilasi
3. Labu Kjedahl
4. Pendingin Liebig
5. Adaptor
6. Kompor listrik
7. Beaker glass
8. Gelas ukur
9. Erlenmeyer
10. Pipet tetes
11. Cawan porselen
12. Statif dan klem
13. Corong pemisah

Cara kerja
1. Menimbang 10 gr bahan, masukkan dalam labu digester
2. Tambahkan 10 gr Na2SO4 anhidrid, 5 gr CuSO 4.5.H2O dan 30 ml H2SO4
pekat
3. Panaskan campuran tersebut pelan-pelan sampai tidak terbentuk percikan
lagi, kemudian pemanasan diteruskan dengan cepat sampai digestion
sempurna yaitu larutan menjadi tidak berwarna/ jernih. Biasanya digestion
membutuhkan waktu dua jam dan selama proses digestion, labu digester
sering diputar-putar agar tidak terjadi pemanasan setempat
4. Dinginkan labu dan tambahkan aquadest secukupnya, masukkan dalam
labu destilasi. Tambahkan 4 gr serbuk Zn untuk mencegah terjadinya
bumping serta percikan

5. Selama proses destilasi tambahkan 100 ml larutan NaOH 5 N, destilat


ditampung dalam Erlenmeyer yang berisi asam boraks jenuh sebanyak 150
ml. lakukan sampai NaOH habis
6. Titrasi destilat yang diperoleh dengan menggunkaan HCL. Catat
kebutuhan titran.
7. Hitung kadar protein dalam bahan dengan mengalirkan kadar nitrogen
yang diperoleh dengan faktor konversi.

ACARA PRAKTIKUM 7
ANALISA SERAT KASAR

A. ACARA
Praktikum pengujian kuantitatif kadar serat kasar dalam sample.
B. PRINSIP
Penentuan kadar serat kasar dengan ekstraksi sampel meggunakan asam dan basa
untuk memisahkan serat kasar dan bahan lainnya.
C. TUJUAN
Mengetahui kadar serat kasar dalam sampel pakan 5%.
D. DASAR TEORI
Peran utama dari serat dalam makanan adalah pada kemampuannya mengikat
air, selulosa dan pectin. Dengan adanya serat, membantu mempercepat sisa-sisa
makanan melalui saluran pencernaan untuk disekresikan keluar. Tanpa bantuan
serat, feses dengan kandungan air rendah akan lebih lama tinggal dalam saluran
usus untuk dapat disekresikan keluar karena gerakan-gerakan peristaltic usus
besar menjadi lebih lamban.
Istilah dari serat makanan (dietary fiber) harus dibedakan dengan istilah serat
kasar (crude fiber) yang biasa digunakna dalam analisa proksimat bahan pangan.
Serat kasar adalah bagian dari pangan yang tidak dapat dihidrolisis oleh bahanbahan kimia yang digunakan untuk menentukan kadar serat kasar yaitu asam
sulfat (H2SO4 1,25%) dan natrium hidroksida (NaOH 3,25%). Sedangkan serat
makanan adalah bagian dari bahan yang tidak dapat dihidrolisis oleh enzim-enzim
pencernaan. Mutu serat dapat dilihat dari komposisi komponen serat makanan,
dimana komponen serat makanan terdiri dari komponen yang larut dan komponen
yang tidak larut dalam air ada 3 macam, yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin.
Serat tersebut banyak terdapat pada sayuran, buah-buahan dan kacang-kacangan.
Sedangkan serat yang larut dalam air adalah pectin, musilase, dan gum. Serat ini
juga banyak terdapat pada buah-buahan, sayuran, dan sereal. Sedangkan gum
banyak terdapat pada akasia.

Ada beberapa metode analisis serat, antara lain metode crude fiber, metode
deterjen, metode enzimatis yang masing-masing mempunyai keuntungan dan
kekurangan. Data serat kasar yang ditentukan secara kimia tidak menunjukkan
sifat serat secara fisiologis, rentang kesalahan apabila menggunkaan nilai serat
kasar sebagai total serat makanan adalah antara 10-500%, kesalahan terbesar
terjadi pada analisis serealia dan terkecil pada kotiledon tanaman.
Metode analisis dengan menggunakan deterjen (Acid Deterjen Fiber, ADF
atau Neutral Deterjen Fiber, NDF) merupakan metode gravimetric yang hanya
dapat mengukur komponen serat makanan yang tidak larut. Adapun untuk
mengukur komponen serat yang larut seperti pectin dan gum, harus menggunakan
metode yang lain, selama analisisntersbut komponen serat larut mengalami
kehilangan akibat rusak oleh adanya penggunaan asam sulfat pekat. Metode
enzimatik yang dikembangkan oleh Asp, et al (1984) merupakan metode
fraksinasi enzimatik, yaitu penggunaan enzim amylase, yang diikuti oleh
penggunaan enzimpepsin pankreatik. Metode ini dapat mengukur kadar serat
makanan total, serat makanan larut dan serat makanan tidak larut secara terpisah.
E. ALAT DAN BAHAN
Alat:
-

Neraca analitik

Spatula

Erlenmeyer 500 mL

Pipet volume 50 mL

Pendingin tegak

Hot plate

Corong Buchner

Kertas saring

Pompa

Beaker glass

Batang pengaduk

Oven

Cawan petri

Bahan
-

Sampel (pakan 5%)

N-Hexane

H2SO4 1,25%

NaOH 3,25%

Etanol 96%

Aquadest

F. PROSEDUR KERJA
1. Menimbang 2 4 gram sampel, bebaskan lemaknya dengan cara ekstraksi
soxlet atau cara mengaduk, mengendaptuangkan sampel dalam pelarut organic
2. Mengeringkan sampel dan masukkan ke dalam Erlenmeyer 500 mL
3. Menambahkan 50 mL larutan H2SO4 1,25%, dan mendidihkannya selama 30
menit dengan menggunkan pendingin tegak
4. Menambahkan 50 mL NaOH 3,25% dan mendidihkannya lagi selama 30
menit
5. Menyaring larutan dalam keadaan panas dengan menggunkan corong Buchner
yang berisi kertas saring tak berabu yang telah dikeringkan dan diketahui
bobotnya
6. Mencuci endapan yang terdapat pada kertas saring berturut-turut dengan
H2SO4 1,25% panas, air panas, dan etanol 96%
7. Mengangkat kertas saring beserta isinya, memasukkannya ke dalam cawan
yang telah diketahui bobotnya, mengeringkannya pada suhu 105C dan
mendinginkan dan menimbangnya sampai bobot tetap.