Anda di halaman 1dari 18

BAB I

DASAR-DASAR MANAJEMEN

Standar Kompetensi:
Mampu menjelaskan proses manajemen secara umum.
Kompetensi Dasar:
1. Dapat menyebutkan definisi manajemen dari berbagai pendapat.
2. Dapat menyebutkan fungsi manajemen secara umum.
3. Dapat meyebutkan proses manajemen yang meliputi proses peramalan,
perencanaan, penyusunan organisasi, penggerakan, pengkoordinasian,
pengendalian, dan komunikasi.
4. Dapat menyebutkan tingkatan sumberdaya manusia (SDM).
5. Dapat menyebutkan kriteria keberhasilan suatu kegiatan manajemen.
6. Dapat menyebutkan pengertian manajer.
7. Dapat menyebutkan tolok ukur untuk menilai manajer.
8. Dapat menyebutkan tokoh-tokoh teori manajemen.

1.1 Pendahuluan
Sejak awal kehidupan sebenarnya manusia sudah mengenal adanya suatu
aturan tertentu yang pada prinsipnya membuat kehidupan hari esok lebih baik
daripada hari ini. Manusia membuat aturan dari yang sederhana sampai dengan
yang rumit, sesuai dengan situasi dan kondisi. Dengan aturan ini, sebenarnya
secara tidak langsung manajemen itu sudah ada, hanya saja belum ditata dan
dipelajari secara ilmiah. Contoh aturan-aturan tersebut sebagaimana berikut ini:

Aturan-aturan kehidupan dalam suatu kelompok.


Aturan dalam suatu keluarga.
Aturan kehidupan bergotong-royong.
Dan sebagainya.
Dengan semakin berkembangnya taraf kehidupan manusia, maka diperlukan

suatu tatanan yang semakin baik pula guna mencapai tujuan dan sasaran
hidupnya. Demikian juga dengan perkembangan teknologi dan industri konstruksi
sekarang ini yang tentunya sudah tidak sederhana lagi dan bahkan semakin besar

I-1

dan komplek. Proses suatu konstruksi membutuhkan waktu dan biaya yang cukup
serta pengaturan sumberdaya yang optimal, untuk menyelesaikannya mulai dari
awal sampai dengan akhir proyek. Dalam hal ini dituntut banyak pemikiran untuk
memilih metode yang tepat demi terselesaikannya suatu proses konstruksi melalui
kerja sama yang baik antar pihak yang terlibat, terutama untuk proyek-proyek
berskala menengah keatas, misalnya gedung bertingkat, jalan bebas hambatan,
jembatan, bendungan dan sebagainya. Oleh karena itu peran pengelola (manajer)
proyek dalam merealisasikan suatu proyek menjadi sangat penting.
1.2 Pengertian Manajemen
Mary Parker Follet mendefinisikan manajemen sebagai seni untuk
melaksanakan pekerjaan melalui orang lain. Dari definisi tersebut dapat
diartikan bahwa para manajer mencapai tujuan organisasi dengan cara
mengatur orang lain untuk melaksanakan tugas yang memungkinkan pencapaian
tujuan tersebut. Jadi, para manajer tidak melakukan sendiri pekerjaan tersebut.
Manajemen berasal dari kata dasar to manage, yang berasal dari kata latin
managiare. Kata ini memiliki dua asal kata yaitu manus dan agare. Masingmasing artinya tangan dan melaksanakan (melakukan). Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa kata manajemen berarti kegiatan mengatur atau memimpin
berbagai ragam kegiatan orang atau kelompok orang yang terorganisasi dalam
rangka mencapai tujuan bersama yang ditetapkan.
Beberapa ahli mengemukakan definisi-definisi manajemen sebagai berikut
(Nugraha, 1985):
Manajemen adalah pencapaian suatu tujuan yang dilakukan melalui dan
dengan pertolongan orang lain.
Manajemen adalah pemanfaatan sumberdaya yang tersedia didalam

pencapaian tujuan.
Manajemen adalah suatu proses yang berhubungan dengan bimbingan
kegiatan kelompok dan berdasarkan atas tujuan yang jelas yang harus
dicapai dengan menggunakan sumberdaya.
Manajemen

perencanaan,

adalah

suatu

proses

pengorganisasian,

yang

terdiri

pengarahan

dari

peramalan,

atau

motivasi,

pengkoordinasian, dan pengendalian dengan mengintegrasikan ilmu dan

I-2

seni mengatur agar dapat menyelesaikan tujuan yang telah ditetapkan


sebelumnya.
1.3 Proses Manajemen
Proses manajemen adalah rangkaian kegiatan yang bertujuan untuk
meramalkan, merencanakan, mengorganisasi, memotivasi, mengkordinasi, dan
mengendalikan. Proses manajemen ini meliputi:
a. Peramalan
Peramalan (forecasting) adalah melihat jauh ke depan (ke masa depan)
dengan menafsirkan hari esok berdasarkan data yang ada. Dalam suatu
perusahaan hal ini umumnya dilakukan oleh seorang Dewan Direksi atau
pemegang saham tertinggi dari perusahaan tersebut. Peramalan dilakukan
sehubungan dengan kebijaksanaan perusahaan, dan penetapan garis besar
kegiatan untuk mencapai tujuan perusahaan. Untuk mencapai itu semua
diperlukan:
1. Pendekatan sistematis yang didasarkan kepada suatu pengenalan situasi
2.
3.
4.
1.
2.
3.
4.
5.

yang tepat.
Pengumpulan data yang ada (fakta).
Pertimbangan yang tidak berat sebelah.
Sebuah kesimpulan yang logis.
Tahapan peramalan meliputi :
Menentukan tujuan.
Menggali informasi.
Memperhatikan faktor-faktor yang terlibat dan mempengaruhi tujuan.
Mengembangkan alternatif yang mungkin.
Menetapkan pemilihan terhadap alternatif-alternatif yang ada.

b. Perencanaan
Perencanaan (planning) mencakup evaluasi dari perkembangan masa
lalu dan masa kini

dengan

memperhatikan kebijaksanaan pimpinan

(board of
director). Secara garis besar kegiatan perencanaan meliputi:
1. Merumuskan permasalahan.
2. Menganalisis permasalahan.
3. Menentukan beberapa alternatif pemecahan.
4. Menentukan pilihan alternatif yang terbaik.

I-3

5. Menjalankan

hasil

perencanaan

sedemikian

rupa

sehingga

menghasilkan suatu tindakan yang efektif, sederhana, dan fleksibel.


Selain itu, perlu diperhatikan bahwa perencanaan merupakan proses
pengelolaan yang terpenting untuk menjalankan perusahaan, proyek, maupun
kegiatan kehidupan pribadi, supaya berjalan baik dan berhasil. Namun tidak
menutup kemungkinan tanpa perencanaan suatu kegiatan dapat berhasil.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan sesuatu hal akan
bergantung pada perencanaan, situasi, dan kondisi.
c. Pengorganisasian
Bila dua orang atau lebih bersepakat untuk bekerja sama, maka
diperlukan suatu pengaturan yang jelas, siapa yang mengerjakan, apa yang
dikerjakan,

dan

kepada

siapa

orang

yang

bekerja

itu

harus

mempertanggungjawabkan pekerjaannya (memberi laporan). Dari sinilah


tercipta bagian organisasi, sebagai sarana penentuan dan pengaturan serta
pembagian tugas antara orang dan kelompok orang. Organisasi diperlukan agar
pekerjaan dapat dilaksanakan dengan tertib dan teratur. Organisasi merupakan
alat utama untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
Tahapan penyusunan organisasi meliputi:
1. Definisi dan distribusi tanggung jawab serta kewajiban setiap staf
pelaksana maupun pengawas (supervisi).
2. Pencatatan (recording) semua hubungan formal (hubungan kerja atau
hubungan koordinasi) dari setiap jabatan, termasuk tanggung jawab dari
jalannya komunikasi kerja, antara lain mengenai surat-menyurat.
3. Pembentukan prosedur pelaksanaan dan metode kerja yang sesuai.
Dari uraian di atas, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam proses
penyusunan organisasi, yaitu:
1. Skema organisasi dan prosedur pelaksanaan harus tertulis dengan jelas
dan diketahui oleh semua staf yang terlibat dalam skema organisasi.
2. Jika tugas menjadi bertambah berat, maka pembagian tanggung jawab ke
bagian yang lebih rendah harus diadakan lagi.
3. Harus terdapat satu pimpinan yang bertanggungjawab untuk pencapaian
target yang sudah ditentukan sebelumnya.
4. Pendelegasian tanggung jawab harus diadakan secara tepat agar
keputusan dapat diambil oleh orang yang sudah diberi kewenangan dan
dijelaskan pembatasannya.

I-4

5. Jalur organisasi harus cukup fleksibel agar dapat dilaksanakan


penyempurnaan atau penyesuaian kembali jika situasi telah berubah.
Mengingat jangka waktu hidup suatu perusahaan adalah penguji terbaik
dari berhasil tidaknya suatu perusahaan, maka penugasan yang jelas harus
dibuat meskipun stafnya berganti. Tidak ada tipe (jenis) organisasi yang bisa
disebut terbaik untuk semua manajemen. Artinya satu jenis organisasi akan
baik bila diterapkan untuk satu manajemen, tetapi belum tentu baik bila
diterapkan pada manajemen yang lain. Hal ini bergantung dari dinamika
organisasi menurut situasi dan kondisi.
d. Penggerakan (Motivasi)
Proses manajemen yang keempat merupakan kegiatan menggerakkan dan
mengarahkan organisasi menuju sasaran yang telah direncanakan. Inti
penggerakan terletak pada kemampuan pimpinan untuk memberikan motivasi
kepada anak buahnya. Dalam proses ini, faktor kepemimpinan sangat
menentukan dalam pengembangan sumber daya manusia dan bimbingan kerja.
Fungsi penggerakan adalah:
1. Mendorong timbulnya sikap loyal terhadap perusahaan.
2. Mendorong iklim kerja yang baik dalam rangka pencapaian tujuan.
3. Menggali atau menciptakan moral kerja yang baik.
4. Memotivasi merupakan kegiatan yang bersifat sosial.
Usaha-usaha yang dapat dilakukan pimpinan dalam memberikan motivasi
kepada bawahan adalah:
1. Pada setiap kesempatan, bawahan sebaiknya diikutsertakan dalam proses
pengambilan keputusan dan sedapat mungkin diajak berkonsultasi untuk
2.
3.
4.
5.
6.
7.

mendapatkan gagasan-gagasan baru demi berkembangnya perusahaan.


Mengembangkan keharmonisan kerja yang seirama, serasi dan selaras.
Mempertahankan kerjasama antar karyawan.
Mendorong disiplin pribadi dengan menambahkan rasa tanggung jawab.
Menciptakan keyakinan dan rasa hormat pada perusahaan.
Menciptakan iklim kompetisi kerja yang aktif.
Mendukung adanya amibisi pribadi, tetapi hendaknya harus

dipertimbangkan segi positif dan negatifnya.


8. Meyakinkan diri bahwa peraturan/tata tertib perusahaan dapat diterima
oleh karyawan.
9. Mencegah timbulnya frustasi.
10. Memberikan sangsi bila salah dan memberikan penghargaan apabila
berhasil.

I-5

Akhirnya, harus diingat bahwa perusahaan adalah suatu cermin


kepribadian pimpinan karena pada dasarnya baik buruknya suatu organisasi
tergantung pada pimpinannya.
e. Pengkoordinasian
Koordinasi (coordinating) adalah suatu proses di mana semua staf
dipersatukan agar semua tugas dan pekerjaan dapat dilaksanakan secara
harmonis. Hal ini dapat terjadi apabila masing-masing bagian mengetahui
sasaran bersamanya di tempat mereka bekerja dan waktu mereka harus bekerja.
Tujuan koordinasi ialah mencegah perpecahan antar staf maupun pekerjaan
yang tidak terpadu dan mempertahankan suatu rangkaian kerja yang solid
(bekerja sesuai dengan yang diarahkan, misalnya rencana kerja dan
persyaratannya).
Beberapa kegiatan koordinasi meliputi:
1. Rapat-rapat secara periodik.
2. Rapat-rapat khusus.
3. Sistem komunikasi intern, baik arah vertikal maupun horizontal.
4. Penegasan kembali kewajiban/tanggung jawab masing-masing staf.
Hal yang perlu diperhatikan agar koordinasi dapat sukses adalah:
1. Penjelasan mengenai tujuan dan arah kerja sejak awal.
2. Kontak staf personil secara langsung (suatu penegasan bukan perintah).
3. Aktivitas saling mendukung.
4. Kemahiran seorang pimpinan atau manajer.
Jadi, semua kegiatan staf harus dipersatukan dalam suatu koordinasi untuk
mencapai tujuan.
f. Pengendalian
Pengendalian (controling) adalah suatu kegiatan untuk mencapai
tujuan dan meyakinkan pelaksanaan di lapangan sesuai dengan rencana
semula atau tujuan. Disamping merupakan bagian manajemen yang tak
terpisahkan dari perencanaan pengendalian dapat pula berfungsi sebagai
penyusun fakta untuk rencana yang akan datang atau sebaliknya.
Pada prinsipnya, pengendalian memiliki empat langkah yang perlu
ditempuh dalam melakukan fungsinya, yaitu:
1. Memiliki prestasi standar sebagai tolok ukur (indikator).
2. Menilai hasil prestasi pekerjaan.
3. Membandingkan dan mengevaluasi prestasi aktual dengan prestasi
yang diharapkan.
4. Melakukan tindakan koreksi bilamana prestasi tidak mencapai standar
yang ditentukan.

I-6

Supaya proses pengendalian berjalan dengan sempurna, jalur komunikasi


harus selalu terbuka dan tidak boleh ada hambatan. Informasi yang lewat
harus akurat dan cepat sampai ke tangan yang berhak untuk mengambil
keputusan. Dengan demikian masalah yang timbul di lapangan dapat
diselesaikan dengan cepat tanpa berlarut-larut. Hal ini merupakan aspek yang
paling vital dalam proses kendali.
Tujuan pengendalian adalah agar masing-masing kegiatan dapat dimulai,
dilaksanakan, dan diselesaikan sesuai dengan jadwal yang ditentukan (tepat
waktu), budget yang disediakan (tepat biaya), mutu yang ditetapkan (tepat
kualitas), dan sesuai sumber daya yang disediakan.
Oleh karena itu dalam menjalankan pengendalian juga perlu memperhatikan
aspek berikut, yaitu:
1. Pembukuan.
2. Anggaran (budgeting).
3. Perincian biaya (costing).
4. Hasil kerja.
Untuk melaksanakan rencana yang ditetapkan dan agar rencana dapat
dilaksanakan dengan baik, maka perlu adanya pengendalian. Informasi
pengendalian meliputi tanggung jawab, hasil akhir, waktu pelaksanaan,
rencana yang jelas, dan toleransi atau penyimpangan yang boleh diizinkan.
Oleh karena itu, informasi pengendalian harus:
1. Dipisahkan menurut tanggung jawab.
2. Menyajikan hasil-hasil dalam bentuk yang terpadu.
3. Jelas periode waktunya.
4. Harus cepat/mudah didapat untuk memudahkan

pengambilan

tindakan.
5. Menunjukkan dengan jelas penyimpangan dari rancangan atau
pengecualian dalam toleransi yang diizinkan.
Perlu diperhatikan bahwa pengendalian sangat tergantung dari prosedur
(teknik-teknik) pengendalian serta pelaksana pengendalian (faktor manusia).
g. Komunikasi
Agar semua proses manajemen berjalan dengan baik, maka perlu adanya
komunikasi sebagai suatu sarana yang mendasari proses manajemen tersebut.
Yang dimaksud komunikasi adalah hal berikut ini:
1. Pimpinan menyebarluaskan ke bawahannya, tentang yang diinginkan
perusahaan dan usaha-usaha yang harus dilakukan oleh bawahannya.

I-7

2. Pelaksana menyampaikan rancangan-rancangan dan tindakan bagi suatu


kegiatan.
3. Pengawas mengkoordinasi kegiatan-kegiatan dan memberikan laporan
mengenai kegiatan tersebut kepada atasannya.
Komunikasi perlu dilakukan karena:
1. Untuk mencegah perselisihan atau ketidakseragaman informasi.
2. Untuk menghilangkan kecurigaan.
3. Untuk memberi penjelasan mengenai pekerjaannya.
4. Untuk memberi kesempatan pada staf untuk mengajukan usulan
sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan.
Komunikasi diusahakan agar terjadi dua arah. Hal yang perlu
diperhatikan dalam komunikasi adalah bahasa hendaknya dapat dimengerti
oleh orang lain. Sistem komunikasi ada dua yaitu secara lisan (tidak
permanen), dan tulisan (permanen).
1.4 Piramida Manajemen
Harus disadari bahwa setiap proses manajemen menunjang bentuk akhir dari
pengelolaan (manajemen), sehingga setiap proses tidak dapat berdiri sendiri.
Keseluruhan proses merupakan rangkaian kegiatan yang solid dalam manajemen.
Suatu manajemen dikatakan berhasil apabila memenuhi kriteria di bawah ini:
1. Tujuan yang digariskan tercapai
2. Perbandingan produktivitas (hasil kerja) selalu berkembang
3. Tercapainya kepuasan lahir maupun batin dari semua pihak yang terlibat,
baik pimpinan maupun karyawan
Dalam menjalankan fungsi manajemen diperlukan komunikasi dengan alur
komunikasi sebagaimana yang tercantum pada gambar 1.1 berikut.

1.5 Pengertian Manajer

I-8

Manajer atau pengelola adalah orang yang mengatur dan bertanggung jawab
terhadap kegiatan dan pengendalian aktivitas manajemen. Dari pengelola dituntut
adanya kreativitas serta upaya agar kegiatan yang dikelolanya dapat berjalan
lancar, dan sekaligus mencapai tujuan yang diharapkan. Dari pengertian tersebut,
maka manajer dapat berupa perencana, penyusun organisasi, pemimpin, dan
pengendali organisasi.
Sebenarnya setiap manajer, seperti pemimpin perusahaan atau pimpinan
sebuah organisasi, memegang peranan yang luas untuk menggerakkan organisasi
menuju tujuan yang telah diterapkan. Kalau dirinci lebih jauh, manajer juga
mempunyai tugas seperti berikut ini:

Penanggung jawab atas semua kegiatan bawahan. Berhasil tidaknya


bawahan adalah merupakan pencerminan langsung dari keberhasilan atau
kegagalan manajer.

Penyelaras tujuan-tujuan yang saling bertentangan dan menentukan


prioritas. Pada suatu saat tertentu seorang manajer menghadapi sejumlah
tujuan,

masalah,

dan

kebutuhan

organisasi

(tujuan

yang

saling

bertentangan), dalam kondisi seperti ini, kepiawaian manajer dituntut untuk


dapat menyelaraskan semua kepentingan agar sesuai dengan tujuan
organisasi, tanpa mengorbankan kepentingan sepihak.

Penengah (mediator)
Dalam suatu organisasi pihak yang terlibat tidak hanya seorang, tetapi terdiri
atas orang-orang yang masing-masing terkadang terdapat silang pendapat.
Perselisihan organisasi dapat melemahkan moral, produktivitas, dan suasana
menjadi tidak enak, sehingga kadang-kadang bisa mengakibatkan orang
yang berpotensi minta keluar dari organisasi. Kejadian seperti ini
mengganggu tercapainya tujuan organisasi. Pada saat tertentu manajer harus
mampu menjadi penengah dan menyelesaikan segala perselisihan sebelum
sulit diselesaikan.

Diplomat

Manajer harus dapat menjadi wakil dari organisasi, baik secara keseluruhan
maupun sebagian dalam menjalin hubungan dengan organisasi lainnya.

Simbol

I-9

Penilaian pihak luar atau anggota

organisasi, bahwa manajer merupakan

lambang keberhasilan atau kegagalan organisasi. Oleh karena itu, manajer


dituntut untuk bertanggung jawab terhadap hal-hal di luar lingkup organisasi
itu sendiri. Hal ini mungkin berguna secara tidak langsung bagi
organisasinya.

Pengambil keputusan yang sukar

Tidak ada satu organisasi pun dalam mencapai tujuan dapat berjalan mulus
setiap waktu. Hampir tidak ada batas jumlah dan jenis masalah yang
mungkin timbul, mulai dari karyawan, keuangan, atau perbedaan pendapat
tentang kebijaksanaan organisasi. Manajer adalah orang yang diharapkan
dapat memberikan pemecahan pada masalah sesulit apapun demi
menindaklanjuti dengan keputusan yang terbaik bagi organisasi.
Dalam hal ini istilah manajer telah digunakan untuk seseoarang yang
bertanggung jawab atas bawahan dan sumber daya lainnya dalam organisasi.
Manajer dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Berdasarkan tingkatan dalam organisasi dibedakan menjadi manajer puncak,

manajer menengah, dan manajer lini pertama. Perhatikan diagram 1.2


berikut:

2. Berdasarkan lingkup kegiatan organisasi yang ada di bawah tanggung jawab

dibedakan atas manajer fungsional, dan manajer umum.


Keberhasilan manajerial ditandai dengan hal-hal berikut ini:

I - 10

Sejauh mana organisasi berhasil dalam mencapai tujuan? Hal ini tergantung
kepada keberhasilan manajer dalam melaksanakan tugasnya. Kalau manajer
tidak melaksanakan pekerjaannya dengan baik, maka organisasi akan gagal
mencapai tujuan.

Sejauh mana kebaikan seorang manajer melaksanakan tugas (prestasi


manajerial)? Peter Ducker, salah seorang penulis manajemen yang sangat
populer, memberikan dua dasar konsep untuk menilai manajer dan
organisasi. Prestasi manajer dapat diukur dalam bentuk dua konsep, yaitu
efesiensi dan efektivitas.
Efesisensi yang berarti kemampuan untuk melakukan kerja dengan benar,

adalah suatu konsep masukan-keluaran (input-output). Manajer yang efisien


adalah manajer yang menghasilkan keluaran (output) atau hasil yang sebesarbesarnya dengan masukan (pekerja, bahan dan waktu) yang sekecil-kecilnya.
Manajer yang berhasil menekan biaya dan sumber daya untuk mencapai tujuan
berarti efisien. Di lain pihak, efektivitas adalah kemampuan untuk memilih tujuan
yang tepat. Manajer yang efektif adalah manajer yang memilih pekerjaan yang
benar untuk dilaksanakan.
Tanggung jawab manajer membutuhkan prestasi yang efisien dan
efektif. Menurut Peter Ducker, efektivitas adalah kunci keberhasilan organisasi,
sehingga manajer hendaknya dapat memanfaatkan peluang setiap kesempatan.
1.6 Sejarah Manajemen
Beberapa pelopor manajemen yang dasar pemikirannya sampai sekarang ini
masih digunakan sebagai landasan teori-teori manajemen, yaitu:
a. Robert Owen yang hidup pada tahun 1771 1858:
Robert Owen adalah seorang manajer pada beberapa pabrik pemintal
kapas di New Lanark, Skotlandia. Pada saat itu, kondisi kerja dan kehidupan
para pekerja sangat buruk. Para pekerja dituntut bekerja 13 jam per hari,
sedangkan usia pekerja relative masih kanak-kanak. Keadaan ini terjadi di
semua tempat.

I - 11

Owen mempunyai anggapan bahwa peran pengelola (manajer) adalah


sebagai pelaksanan perbaikan (reform). Ia membangun perumahan untuk
pekerjanya dan membuka toko perusahaan yang menjual barang-barang yang
harganya lebih murah daripada toko lain. Ia tidak menerima anak-anak yang
berumur di bawah 10 tahun sebagai pekerja. Ia juga menurunkan jam kerja
menjadi 10,5 jam per hari.
Owen tidak pernah menyatakan bahwa ia berjuang untuk melakukan
perubahan hanya didasarkan oleh rasa kemanusiaan semata. Ia berpendapat
bahwa dengan memperbaiki kondisi pekerja, produktivitas akan meningkat
dan keuntungan akan datang dengan sendirinya. Ia berpendapat bahwa
investasi utama seorang manajer terletak pada pekerjanya. Pekerja
dianggapnya sebagai mesin vital perusahaan, sementara orang lain
menganggap bahwa investasi yang terbesar (terbaik) adalah perbaikanperbaikan teknis.
Selain melakukan perbaikan kondisi kerja di perusahaannya, ia juga
mengadakan penilaian secara terbuka terhadap bawahannya setiap hari. Hal
ini, ia lakukan dengan anggapan bahwa dengan melakukan hal tersebut
seorang manajer akan mengetahui letak permasalahan dan akan memberi rasa
bangga bagi pekerja yang baik, mereka merasa dihargai, serta merupaka
peringatan bagi pekerja yang bekerjanya tidak baik.
b.

Charles Babbage yang hidup pada tahun 1792-1871:


Charles Babbage adalah seorang professor matematika inggris, yang
waktunya banyak dihabiskan untuk mempelajari cara-cara, agar pekerjaan
pabrik lebih efisien. Ia mempunyai anggapan bahwa penerapan prinsip ilmiah
pada proses kerja akan dapat meningkatan produktivitas dan menekan biaya
produksi. Babbage adalah orang yang pertama kali menganjurkan prinsip kerja
terpisah. Ia berpendapat bahwa setiap pekerjaan pabrik harus dipecah
berdasarkan berbagai ketrampilan yang ada. Kemudian, setiap pekerja dididik
dalam suatu ketrampilan khusus dan harus bertanggung jawab pada sebagian
dari keseluruhan proses. Dengan cara ini, penanggulangan pekerjaan yang
terus menerus akan meningkatkan keterampilan kerja dan meningkatkan
efisiensi. Penerapan gagasan Babbage pada masa kini banyak dijumpai pada

I - 12

pabrik-pabrik perakitan, ditempat setiap pekerja melakukan pekerjaan tertentu


yang berulang-ulang dan berbeda dari pekerjaan orang lain.
c. Henri Fayol yang hidup pada tahun 1841-1925
Henri Fayol adalah seorang insinyur pertambangan. Ia terkenal sebagai
seorang industrialis dan bekerja disebuah perusahaan pabrik batu bara dan
pabrik besi Commentry-Fourchamboult di Perancis. Masa kerja seluruhnya
dihabiskan diperusahaan tersebut. Ia mulai bekerja tahun 1860 berawal dari
eksekutif yunior dan karirnya meningkat dengan pesat sampai akhirnya ia
pensiun dengan jabatan sebagai direktur perusahaan tahun 1918.
Fayol mengatakan bahwa keberhasilannya bukanlah karena kemampuan
pribadinya sebagai seorang manejer, melainkan karena metode yang
digunakannya. Ia percaya bahwa hasil yang memuaskan akan diperoleh
apabila menggunakan metode yang tepat dan perencanaan yang ilmiah.
Ia menyangkal pendapat umum yang mengatakan bahwa kemampuan
seorang manajer adalah bawaan sejak lahir dan tidak bisa dibuat. Ia juga
menyangkal pendapat yang mengatakan bahwa latihan dan pengalaman hanya
berguna bagi mereka yang mempunyai bakat menjadi seorang manajer. Fayol
percaya bahwa manajemen dapat dipelajari asalkan prinsip-prinsip dasarnya
dipahami.
Pengakuan hasil karya Fayol secara meluas datang dengan lambat. Hal ini
disebabkan karena hasil karya tersebut baru diterjemahkan kedalam bahasa
Inggris beberapa tahun setelah ia meninggal. Sebelum tahun 1930-an hanya
sedikit manajer Amerika yang mengenal hasil karya Fayol.
Berdasarkan hasil pangamatannya, Fayol berpendapat bahwa kemampuan
yang dibutuhkan seorang manajer tergantung kedudukan manajer dalam
jenjang organisasi. Untuk manajer tingkat bawah lebih banyak dibutuhkan
kemampuan yang bersifat teknis daripada yang bersifat manajerial. Makin
tinggi jenjangnya, kemampuan manajerial yang dibutuhkan akan lebih banyak
daripada kemampuan teknis. Fayol berpendapat bahwa kebutuhan manajerial
berhubungan juga dengan besar kecilnya organisasi. Seorang manajer
perusahaan besar lebih banyak membutuhkan kemampuan manajerial daripada

I - 13

perusaahn kecil. Pernyataan terakhir ini mempunyai pengaruh kuat terhadap


pernyataan Fayol yang mengatakan bahwa manajemen harus diajarkan.
Semakin besar suatu perusahaan, semakin membutuhkan kemampuan
manajerial yang lebih baik. Manfaat tambahan pendidikan manajemen adalah
manusia berfungsi lebih baik dalam setiap kehidupan. Fayol percaya bahwa
kemampuan manajerial dapat diterapkan baik dalam militer, politik dan
sebagainya. Dalam manajemen Henry Fayol memilih istilah prinsip-prinsip
manajemen, bukan aturan atau hukum. Terdapat empaat belas prinsip yang
digunakan dalam Manajemen Fayol, yaitu sebagai berikut:
1.

Pembagian Kerja (Division of Labor)


Makin tinggi tingkat spesialisasi seseorang, makin efisien ia melaksanakan
pekerjaannya. Prinsip ini sekarang diterapkan pada lini perakitan.

2. Otoritas/wewenang (Authority)
Manajer harus memberikan perintah agar pekerjaan terlaksana. Meskipun
otoritas/wewenang formalnya memberrikan hak untuk memerintah,
manajer tidak akan selalu mendapat kepatuhan dari bawahannya kalau
tidak juga mempunyai otoritas pribadi ( misalnya keahlian yang sesuai )
3. Disiplin (Dicipline)
Anggota organisasi harus menghormati aturan dan kesepakatan yang
mengatur organisasi itu. menurut Fayol, displin merupakan hasil
kepemimpinan yang baik di semua tingkatan dan organisasi, perlakuan
yang adil (misalnya diadakannya aturan untuk memberikan penghargaan
bagi prestasi yang baik), dan hukuman setimpal bagi pelanggar aturan.
4. Kesatuan Perintah (Unity of Command)
Setiap karyawan harus menerima petunjuk tentang kegiatan tertentu dari
satu orang saja. Fayol berpendapat bahwa kalau seorang karyawan
bertanggung jawab kepada beberapa atasan, petunjuk yang bertentangan
dan otoritas yang membingungkan akan menjadi akibatnya.
5. Kesatuan arah (Unity of Direction)
Kegiatan-kegiatan dalam organisasi yang mempunyai tujuan yang sama
seyogyanya diarahkan oleh satu organisasi manajer dengan menggunakan
satu perencanaan. Sebagai contoh bagian personalia dalam sebuah

I - 14

perusahaan sebaiknya tidak memiliki dua orang kepala bagian, yang


masing-masing dengan kebijakan yang berbeda.
6.

Pengutamaan kepentingan umum diatas kepentingan pribadi


(Subordination of Individual Interest to the Common Good).
Dalam tiap perusahaan, kepentingan karyawan tidak boleh diutamakan
melebihi kepentingan organisasi secara keseluruhan.

7.

Pemberian Upah (Renumeration).


Balas jasa atas kerja harus adil, baik untuk karyawan maupun untuk
perusahaan.

8.

Pemusatan (Centralization).
Pengurangan peranan bawahan dalam pengambilan keputusan adalah
pemusatan

(sentralisasi),

sebaliknya

penambahan

peranan

berarti

desentralisasi. Fayol percaya bahwa manajer harus memikul tanggung


jawab terakhir, tetapi perlu juga memberikan otoritas yang cukup kepada
bawahannya untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Masalahnya
adalah menentukan tingkat sentralisasi yang terbaik.
9.

Jenjang jabatan (The Hierarchy)


Garis otoritas dalam suatu organisasi (sekarang, sering digambarkan
dengan kota-kotak dan garis-garis yang rapi dalam bagan organisasi)
menunjukkan kedudukan manajer dari puncak sampai ke tingkat bawah.

10. Tata tertib (Order)


Bahan-bahan dan manusia harus berada di tempat yang tepat pada waktu
yang tepat, terutama manusianya harus bekerja pada pekerjaan yang cocok
dengan kemampuannya.
11. Kesamaan (Equity)
Manajer harus bersikap bersahabat dan adil terhadap semua bawahannya.
12. Kestabilan staf (Stability of Staf)
Perputaran yang terlalu tinggi (rotasi karyawan dalam waktu yang
singkat), tidak baik untuk kelancaran kegiatan perusahaan.
13. Inisiatif (Initiative)
Bawahan harus diberi kebebasan untuk membuat dan menjalankan
rencananya sendiri, walaupun bisa saja terjadi kesalahan.

I - 15

14. Semangat kelompok (Esprit de Corps)


Penggalakan semangat kelompok, menimbulkan rasa bersatu. Menurut
Fayol, faktor sekecil apapun dapat membantu menumbuhkan semangat. Ia
menyarankan penggunaan komunikasi lisan daripada tertulis atau formal,
sepanjang itu memungkinkan.
Perintis-perintis yang lain dalam bidang manajemen adalah James Watt. Frederick
Winstow Taylor, Henry L Gantt; Chester I Barnard; dan lain sebagainya.

1.7 Macam-Macam Manajemen


Sesuai dengan lingkup masalah yang akan ditangani, maka setiap cabang
manajemen mempunyai ciri dan disiplin tersendiri. Misalnya manajemen
personalia, manajemen pemasaran, manajemen pemeliharaan, manajemen
keuangan, manajemen proyek (yang nantinya dipelajari lebih lanjut), dan lain
sebagainya.
Contoh kasus pengenalan manajemen:
Andaikan mahasiswa semester III, Program Manajemen Konstruksi Jurusan
Teknik Sipil akan mengunjungi sebuah proyek jalan bebas hambatan. Kunjungan
tersebut mempunyai tujuan ingin mengetahui proses pelaksanaan proyek tersebut,
serta membandingkan dasar teori yang didapat dengan faktanya di lapangan. Ide
atau gagasan tersebut tidak akan begitu saja dapat dilaksanakan tanpa perencanaan
yang matang, karena kunjungan bersifat formal dan melibatkan banyak anggota,
perlu adanya pengaturan yang jelas di antara sesama anggota. Misalnya siapa
yang bertindak sebagai ketua, bendahara, seksi transportasi, dan sebagainya?
Setelah mengetahui fungsi dan peranan dari masing-masing anggota, maka
hendaknya pihak tersebut diberi pengertian bahwa tugas dan kewajiban yang
hendak dilaksanakan mempunyai sumbangan yang berarti terhadap organisasi.
Supaya pihak yang terlibat tidak bekerja sendiri-sendiri, maka perlu
ada koordinasi. Hal ini, dimaksudkan untuk menciptakan keserasian dan
keseimbangan kerja yang baik. Setelah semua proses berjalan, hal ini yang kalah
pentingnya adalah menilai apakah semua rencana sesuai dengan pelaksanaan? Hal
ini merupakan langkah evaluasi untuk tindakan yang akan datang. Agar semua

I - 16

proses dapat dijalankan sesuai aturan yang disepakati, perlu adanya komunikasi
antar semua pihak.

Soal-Soal Latihan:
1. Sebutkan tiga pendapat tentang pengertian manajemen?
2. Sebutkan tahapan proses manajemen!
3. Jelaskan apa yang dimaksud dengan peramalan?
4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan perencanaan?
5. Sebutkan tahapan penyusunan organisasi?
6. Jelaskan apa yang dimaksud dengan penggerakan?
7. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pengkoordinasian?
8. Jelaskan apa yang dimaksud dengan pengendalian?
9. Jelaskan apa yang dimaksud dengan komunikasi?
10. Sebutkan kriteria keberhasilan manajemen?
11. Jelaskan apa yang dimaksud dengan manajer?
12. Sebutkan tolok ukur untuk menilai manajer?
13. Sebutkan 3 orang pelopor manajemen?

I - 17

I - 18