Anda di halaman 1dari 17

PERCOBAAN VI

DIAGRAM BINER

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Adapun tujuan percobaan yaitu, sebagai berikut :
1. Mencari suhu kelarutan kritis berner phenol air

II.

DASAR TEORI
Ada beberapa istilah yang perlu diketahui sebelum dibicarakan
apa itu fase, yaitu: system, fase, kesetimbangan sejati, menstabil atau
stabil jumlah komponen dan derajat kebebasan. System adalah suatu
zzat atau campuran, yang diisolasikan dari zat zat lain dalam suatu
bejana inert, untuk diselidiki pengaruh perubahan temperature, tekanan
dan konsentrasi terhadap zat tersebut, misalnya system air, air dalam
garam, gas dan sebagainya. Fase ialah bgian dari system, yang fisis
berbeda dan dapat dipisahkan secara mekanis. Dapat dipisahkan
ssecara mekanis, berarti fase tersebut dapat dipisahkan secara filtrasi,
sedimentasi dekantasi dan sebagainya. Dalamhal ini tidak termasuk
pemisahan secara penguapan, destilasi, adsrpsi, atau ekstraksi.
System terkonden merupakan system dimana fasa uapnya
diabaikan (suhu relative rendah) ssehingga harga derajat kebebasan F=
C P + 1. Diagram fassa tersebut adalah diagram fasa system dua
kompnen cair cair yang melarut sebagian atau system terkonden. Fenol
ditambahkan ke dalam air sedikit demi sedikit. System dimulai dari
titik a dan bergerak ke kanan. Dari titik a ke titik b diperoleh satu fasa
yang artinya fenol ditambahkan melarut dalam air dan membentuk sau
fasa. Yang ditandai dengan warna jernih. Tc merupakan titik kritis
dimana merupakan batas kelarutan (suhu kelarutan kritis). Di atas,Tc
cairan saling melarut sempurna dalam berbagai komposisi. Pada
system air-phenol memiliki Tc 65,85.

Temperatur kritis adalah batas atas temperature dimana terjadi


pemisahan fasa. Diatas temperature batas atas, kedua komponen benar
benar bercampur. Temeratur ini ada karena gerakan termal yang lebih
besar menghasilkan kemampuan campur yang lebih besar pada kedua
komponen bercampur dalam segala perbandingan dan di atas
temperature ini kedua komponen membentuk dua fase. Salah satu
contohnya adalah air dalam trietilamina. Dalam hal ini pada
temperature rendah kedua kompnen lebih dapat campur karena
komponen komponen ini membentuk kompleks yang lemah, pada
temperature lebih tinggi kompleks itu terurai dan komponen kurang
dapat bercampur. Beberapa system mempunyai temperature kritis atas
dan temperature kritis bawah. Sebabnya, sesudah kompleks yang
lemah terurai, sehingga kedua komponen dapat bercampur sebagian ,
pada temperature lebih tinggi, gerakan termal membuat campuran
homogeny kembali, seperti halnya cairan campur sebagian biasa .
Diagram fasa yang paling sederhana adalah diagram tekanantemperature dari zat tunggal seperti air. Sumbuh sumbuh diagram
berkoresponden dengan tekanan dan temperature. Diagram fase pada
ruang tekanan temperature menunjukan garis kesetimbangan atau
sepadam fase antara tiga fase padat, cair, dangas. Keberadaan titik
kritis cair- gas menunjukkan ambiguitas.ketika dari cair menjadi gas,
biasanya akan melewati sebuah sempadan dengan berjalan menuju fasa
superkritis. Oleh karena itu , fasa cair dan gas dapat dicampur terus
menerus.
Cairan dapat membentuk bermacam macam jenis campuran
dengan cairan lain. Jadi diagram fasa yang berbeda dapat diperoleh dan
diperlihatkan anatara lain:
1. Memperlihatkan gambar/ diagram fasa untuk cairan cairan yang
bercampur sebagian

2. Memperlihatkan gambar/ diagram fasa cairan yang bercampur


yang membentuk larutan ideal maupun larutan nyata
3. Mempelihatkan tingkah laku campuran cairan yang larut sebagian
ketika ilakukan destilasi. Dalam seluruh diagram fasa , perubahan
komposisi dari fasa yang berbeda dengan temperature yang
diplotkan, dan tekanan dijaga konstan.
Bila suatu zat yang terlarut ke dalam pelarut pada temperature
konstan T, pada pemulnya hanya membentuk satu fasa. Sesudah titik a,
zat terlarut tidak larut, tetapi membentuk lapisan lain sehingga
terbentuk dua fasa, sampai komposisi b dicapai dan diperleh satu fasa
lain. Dalam daerah antara a dan b ada dua fasa yang disebut larutan
konjugat pada waktu yang bersamaan. Bila temperature ditingkatkan,
kelarutan juga berubah. Kelarutan meningkat dengan meningkatnya
temperature, dan diatas temperature Tc, cairan cairan dapat larut secara
sempurna dan diperleh satu fasa. Temperature, Tc disebut
temperature larutan kritis dan disebut juga temperature terlarut
bagian atas.
Menurut hukum fase, system dibagi berdasarkan jumlah
kompnen yang ada, seperti kmponen satu komponen, dua kmponen
dan sebagainya. Kesukaran satu komponen terdapat pada jumlah fasa
padat dalam system. Yang oaling sederhana bila jumlah fasa padatnya
hanya satu, seperti system H2O system CO3 dan sebagainya. bila
jumlah fasa padatnya berubah, jumlah persamaan juga bertambah dan
grafik lebih sulit (Sukardjo. 2002: 251).
Diagram fasa memperlihatkan variasi titik didih campuran
dengan perubahan kompsisinya.T1 dan T2 adalah titik didih normal
dari kompnen murni 1 dan 2. Tmaks yaitu titik didih maksimum dari
larutan dan titik ini disebut Azeotrop komposisi pada titik ini dikenal
sebagai kompsisi azeotrpis. Komposisi fasa cairan dan uap adalah

sama. Dua cairan tidak dapat dipisahkan oleh destilasi, dan titik didih
campuran ini pada satu atmosfer adalah titik didik yang tepat.
Bila campuran 50 gram air dan 50 gram etanol , komposisi
campuran adalah dititik a. apabila campuran ini dipanaskan, pada
suatu saat kedua larutan pada zat ini akan membentuk satu fasa,
ditandai dengan larutan menjadi jernih diperoleh denganmembaca
thermometer pada percbaan. Dengan menghubungkan titik ini akan
membentuk iagram fasa system air-phenl. Dari diagram fasa ini
diperkirakan letak titik konsolut, kemudian diplot ke skla suhunya (sisi
tegaknya). Agar perkiraan dan mnetapkan suhu kelarutan kritis
mendekati harga sebenarnya, dianjurkan untuk menggambarkan dalam
kertas grafik.

III. ALAT DAN BAHAN


Adapun alat dan bahan dari percobaan ini, sebagai berikut :
A. Alat
1. Tabung reaksi besar
2. Gelas kimia 100 ml
3. Gelas kimia 50 ml
4. Gelas ukur 25 ml
5. Spatula
6. Termometer
7. Neraca digital
8.

Pipet tetes

9. Penangas listrik
10. Sumbat tabung dan pengocok

B. Bahan
1. Padatan fenol 99,5%
2. Aquades

IV.

PROSEDUR KERJA
Adapun prosedur kerja dari percobaan ini adalah sebagai
berikut:
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan
ini.
2. Menimbang 5 gram fenol menggunakan neraca digital.
3. Melarutkan fenol ke dalam 5 mL aquades. Lalu mengaduk campuran
larutan tersebut sampai fenol telah larut semua.
4. Memasukkan campuran larutan fenol dan aquades ke dalam tabung
reaksi besar. Kemudian memasukkan tabung reaksi besar tersebut ke
dalam penangas air dan menutup lubang pada tabung reaksi besar
menggunakan kertas aluminium foil.
5. Mengocok larutan tersebut sampai berubah menjadi bening, setelah
menjadi bening mengangkat tabung reaksi besar dari penangas air.
Lau mengukur suhu larutan tersebut (T1).
6. Mengocok kembali larutan tersebut sampai larutan tersebut menjadi
keruh, lalu mengukur suhu larutan tersebut (T2).
7. Mengulangi perlakuan 5-6 untuk penambahan 0,5 gram, 1 gram, 1,5
gram, dan 2 gram ke dalam tabung reaksi besar.

V.

HASIL PENGAMATAN
Adapun hasil pengamatan dari percobaan ini adalah, sebagai berikut :
T10C

T20C

T0C

61

50

55,5

63

53

58

65

55

60

10

68

59

63,5

14

71

55

63

No

Jumlah

Aquades

Penambahan

fenol (gr)

(ml)

aquades (ml)

VI. PERHITUNGAN
Adapun perhitungan dari percobaan ini, sebagai berikut :
a. Menghitung massa air
Massa

=
=

X Vair

air

=
b. Mol air

=
=

=
c. Berat zat fenol

d. Mol fenol

=
=

= 0,0529 mol
= 0,053 mol
e. Fraksi mol air

=
=
=

f. % Mol air

=
=
=

g. Fraksi mol fenol

Penambahan 1 ml aquades
a. Massa air

=1

air

X Vair

=
b. Mol air

=
=
=

c. Fraksi mol air =


=
=
=
d. % Mol air

=
=
=

e. Fraksi mol fenol =

=
=

=
f. % massa fenol =
=
=

Penambahan 2 ml aquades
a. Massa air

=1

air

X Vair

=
b. Mol air

=
=
=

c. Fraksi mol air =


=
=
=
d. % Massa air

=
=
=

e. Fraksi mol fenol =

=
=

=
f. % massa fenol =
=
=

Penambahan 3 ml aquades
a. Massa air

=
=

air

X Vair

=
b. Mol air

=
=
=

c. Fraksi mol air =


=
=
=
d. % Massa air

=
=
=

e. Fraksi mol fenol =

=
=

=
f. % massa fenol =
=
=

Penambahan 4 ml aquades
a. Massa air

=
=

air

X Vair

=
b. Mol air

=
=
=

a. Fraksi mol air =


=
=
=
b. % Massa air

=
=
=

c. Fraksi mol fenol =

=
=

=
d. % massa fenol =
=
=

VII. PEMBAHASAN
Diagram biner adalah diagram yang menunjukkan sistem 2 fasa dari
dua zat dalam campuran yang ditunjukkan oleh hubungan temperatur
terhadap kosentrasi relatif zat. Dengan kata lain, diagram biner adalah
diagram yang menggambarkan sistem dua fasa yaitu sistem dimana air
dalam phenol maupun sebaliknya.
Temperatur kritis Tuc adalah batas atas temperature di mana terjadi
pemisahan fase. Di atas temperature batas atas, kedua komponen benarbenar bercampur. (Atkins, 1999).
Tujuan dari percobaan ini untuk mencari suhu kelarutan kritis
biner fenol air. (Staf Pengajar Kimia Fisika I, 2013).
Dalam melakukan percobaan ini digunakan 2 bahan yaitu phenol
99,5% dan aquades. Dimana fenol dimasukkan kedalam tabung reaksi
sebanyak 99,5% kemudian ditambahkan dengan aquades. Pada percobaan
ini dilakukan 5kali perlakuan , yang mana pada masing-masing perlakuan
diperoleh hasil yang berbeda-beda. dengan dilakukannya perlakuan
sebanyak 5 kali. Untuk mencari suhu kelarutan kritis diantara kedua
campuran senyawa tersebut.
Tabung reaksi yang berisi air dan phenol akan dipanaskan sampai
kedua zat tersebut bercampur atau membentuk sistem satu fasa yang
ditandai dengan perubahan campuran dari jernih menjadi keruh. Dalam
proses pemanasan campuran, dilakukan pengocokan yang dimaksudkan
untuk mencampurkan secara sempurna antara air dan phenol. Ketika
dilakukan pengocokan

terbentuk campuran keruh dan terbentuk dua

lapisan, dimana pada lapisan bawah terdapat phenol sedangkan di lapisan


atas terdapat aquades. Hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh massa jenis
kedua zat, yang mana massa jenis phenol lebih besar dari massa jenis
aquades, setelah itu kedua campuran larutan dipanaskan. Setelah dipanaskan
kedua larutan tersebut diukur suhunya dengan menggunakan thermometer,
kemudian campuran larutan tersebut didinginkan dan mengukur suhunya
kembali. Pemanasan dihentikan dan dicatat suhunya sebagai suhu dimana

terbentuk sistem satu fasa. Ketika campuran kembali jernih suhunya juga
dicatat sebagai suhu dimana terbentuk kembali sistem dua fase atau air dan
phenol kembali tidak bercampur.
Selanjutnya, campuran ditambahkan 1 ml aquades kemudian
diberikan perlakuan yang sama yaitu dipanaskan, lalu mengukur suhunya
kemudian didinginkan dan suhunya di ukur kembali. Penambahan ini
dilakukan sebanyak empat kali hingga penambahan 4 ml aquades.
Adapun tujuan dari dilakukannya penambahan ini yaitu untuk
menyelidiki pada titik mana phenol akan mencapai keadaan jenuh yang
mengakibatkan tidak akan terjadi lagi perubahan fasa pada sistemnya.
Dalam melakukan percobaan ini dikenal juga suatu sistem fasa, yang mana
didefenisikan sebagai bagian sistem yang seragam atau homogeny diantara
keadaan submakroskopiknya, tetapi benar benar terpisah dari bagian
sistem yang lain oleh batasan yang jelas dan baik. Suatu sistem fasa dapat
dibedakan atas berapa bagian yaitu sistem satu fasa, sistem dua fasa, dan
system tiga fasa. Untuk itu, yang menjadi pokok pembahasan dalam
percobaan ini adalah system dua fasa karena sesuai dengan percobaan yang
dilakukan. Yang mana sistem dua fasa adalah sistem yang terdiri dari dua
cairan atau zat yang bersifat heterogen dan tidak dapat bersatu satu sama
lain.
Dalam percobaan ini, pada saat menambah 5 gram fenol dan 4 mL
aquades diperoleh T1= 61C, T2= 50C, Xfenol= 0,195, dan Xair= 0.805,
penambahan 5 gram fenol dan 5 mL aquades diperoleh T1= 63C, T2= 53
C, Xfenol= 0.165, dan Xair= 0.835, penambahan 5 gram fenol dan 7 mL
aquades diperoleh T1= 65C, T2= 55C, Xfenol= 0.123, dan Xair= 0.877
penambahan 5 gram fenol dan 10 mL aquades diperoleh T1= 68C, T2=
59C, Xfenol= 0.080, dan Xair= 0.914 dan penambahan 5 gram fenol dan 14
mL aquades diperoleh T1= 71C, T2= 55C, Xfenol= 0.064, dan Xair= 0.936.
Pada percobaan ini, telah diketahui bahwa pada saat phenol dan air
mencapai suhu kelarutan kritisnya terlihat campuran keduanya menjadi

jernih. Hal ini dapat dilihat dengan adanya proses pemanasan, akan tetapi
setelah didiamkan beberapa saat ternyata campuran kembali keruh. Hal ini
menandakan bahwa terbentuknya kembali dua fasa. jika dilihat dari tipe
campurannya maka dapat digolongkan pada tipe I, yaitu sistem air-phenol.
Karna kedua larutan tersebut benar-benar bercampur ketika mencapai suhu
kelarutan kritis maksimum. dimana suatu padatan berubah menjadi dua fasa
dalam bentuk padat dan cair atau sebaliknya lewat proses pemanasan. Pada
percobaan ini diperoleh suhu kelarutan kritis phenol-air untuk 5 kali
perlakuan, masing-masing 61C,63 C,65 C, 68C dan 71C, Sehingga jika
dirata-ratakan maka akan diproleh suhu kelarutan kritis phenol-air adalah
63,5C. Sedangkan berdasarkan literatur yang ada, letak suhu kritis phenolair adalah pada65C . Perbedaan ini dapat terjadi karena adanya kesalahan
pada saat pembacaan skala termometer saat pengukuran suhu.

VIII. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari percobaan ini, yaitu;
1. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka diperoleh suhu
kelarutan kritis phenol-air adalah 63,5C untuk keseluruhan 5
perlakuan.

DAFTAR PUSTAKA

Atkins, P.W. 1999. Kimia Fisika. Jakarta: Erlangga.


Staf Pengajar Kimia Fisika I. 2013. Penuntun Praktikum Kimia Fisika I. Palu:
Laboraturium Program Studi Pendidikan Kimia FKIP UNTAD.
Sukardjo. 2002. Kimia Fisika . Jakarta : Rineka cipta
Sumardi. 2009. Tipe Tipe Diagram Fasa. http://chem.-is-try.org/2009/tipe tipe
diagram fasa/fasa.html. diakses tanggal 21 mei 2012.
Tim dosen kimia fisik. 2010. Penuntun Praktikum Kimia Fisik I . Makassar:
FMIPA UNM.