Anda di halaman 1dari 10

Judul : Analisa Pengaruh Penggunaan Benchmarking Terhadap Keunggulan Bersaing

dan Kinerja Perusahaan


Oleh : Michael Paulus dan Devie, BUSINESS ACCOUNTING REVIEW, VOL. 1, NO.2,
2013
Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini dapat dijelaskan bahwa besar pengaruh dari variabel benchmarking
terhadap keunggulan bersaing sebesar 0,3877 dengan nilai t-statistics sebesar 4,3337
yang lebih

besar

daripada

benchmarking memiliki

1,96.

pengaruh

Dengan
yang

demikian dapat

signifikan

disimpulkan

terhadap keunggulan

bahwa
bersaing.

Pengaruh yang dihasilkan oleh benchmarking terhadapkeunggulan bersaing adalah


positif yang berarti apabila penggunaan benchmarkingsemakin tinggi maka akan berakibat
semakin tinggi pula keunggulan bersaing. Contoh implikasinya dalam perusahaan adalah
jika perusahaan

melakukan

benchmark

mengenai kualitas

ke

perusahaan

mitra

benchmark, maka dari hasil benchmark tersebut akan diperoleh informasi mengenai
kualitas dan dari informasi tersebut perusahaan bisa membangun produk yang memiliki
kualitas yang lebih baik lagi sehingga bisa menjadi keunggulan bersaing dari perusahaan
tersebut sendiri.

Latar Belakang
Bagaimana suatu perusahaan mengukur pencapaian kinerjanya dengan baik,
khususnya agar mampu bersaing dalam industri, kalau tidak melakukan studi

perbandingan dengan aktivitas bisnis pada perusahaan lain yang sejenis. Benchmarking
adalah sebuah metode peningkatan kinerja secara sistematis dan logis melalui pengukuran
dan perbandingan kinerja dan kemudian menggunakannya untuk meningkatkan kinerja
Best practices merujuk pada praktik bisnis yang dilakukan dengan sangat baik melebihi
apa yang dapat dilakukan perusahaan lain dalam suatu industri tertentu. Dengan kata lain,
tak ada perusahaan lain yang melakukannya lebih baik. Best practices dapat diraih
melalui inovasi di dalam perusahaan. Namun, kalau kita perhatikan akan ada banyak
sekali inovasi yang dilakukan dan diterapkan oleh banyak perusahaan di mana saja.
Karenanya untuk mencapai best practices di dalam suatu industri, sebaiknya kita melihat
ke luar dinding perusahaan untuk melihat apa yang sesungguhnya sedang terjadi.
Di makalah ini kami akan bicara tentang Konsep Benchmarking yang merupakan
salah satu metodologi yang membantu untuk melakukan seperti itu, benchmarking
mengukur proses atau praktik yang sangat penting bagi peningkatan kinerja
perusahaan,dan melakukan hal itu di seluruh industri. benchmarking ini mengidentifikasi
best practices yang digunakan, lepas dari posisi anda di dalam industri, dan selanjutnya
mempelajari dengan sungguh-sungguh proses tersebut dan menerapkan proses terbaik itu
di perusahaan anda. Benchmarking bukanlah suatu pekerjaan yang mudah dilakukan.
Pengalaman beberapa perusahaan menunjukkan hanya kalau direncanakan dan dilakukan
dengan baik, ia dapat berhasil membuka perusahaan terhadap metode dan ide-ide baru.

A. Defenisi Benchmarking
Banchmarking adalah proses pengukuran operasional terhadap bisnis sebuah
perusahaan

(kualitas

produksi-jasa

layanan)

dengan

membandingkannya

keperusahaan/ institusi lain yang mempunyai produksi/ jasa layanan yang lebih baik.
Pengertian benchmarking menurut para ahli:

1. Gregory

H.

Watson

Bencmarking

sebagai

pencarian

secara

berkesinambungan dan penerapan secara nyata praktik-praktik yang lebih baik


yang mengarah pada kinerja kompetitif unggul.
2. David Kearns (CEO dari Xerox) Benchmarking adalah suatu proses
pengukuran terus-menerus atas produk, jasa dan tata cara kita terhadap
pesaing kita yang terkuat atau badan usaha lain yang dikenal sebagai yang
terbaik.
3. IBM Benchmarking merupakan suatu proses terus-menerus untuk
menganalisis tata cara terbaik di dunia dengan maksud menciptakan dan
mencapai sasaran dan tujuan dengan prestasi dunia.
4. Teddy Pawitra Bencmarking sebagai suatu proses belajar yang
berlangsung secara sisitematis dan terus-menerus dimana setiap bagian dari
suatu perusahaan dibandingkan dengan perusahaan yang terbaik atau pesaing
yang paling unggul.
5. Goetsch dan Davis Benchmarking sebagai proses pembanding dan
pengukuran operasi atau proses internal organisasi terhadap mereka yang
trbaik dalam kelasnya, baik dari dalam maupun dari luar industri.
Benchmarking membutukan kesiapan Fisik dan Mental. Secara Fisik
karena dibutuhkan kesiapan sumber daya manusia dan teknologi yang matang
untuk melakukan benchmarking secara akurat. Sedangkan secara Mental
Adalah bahwa pihak manajemen perusahaan harus bersiap diri bila setelah
dibandingkan dengan pesaing, ternyata mereka menemukan kesenjangan yang
cukup tinggi.

B. Jenis-Jenis Benchmarking
Pada dasarnya terdapat empat jenis benchmarking (Dale, 1994 dalam Nasution, 200), yaitu:
1) Internal benchmarking
Internal benchmarking merupakan infestasi asumsi yang paling mudah diterapkan
yaitu dengan membandingkan operasi diantara fungsi-fungsi dalam organisasi itu
sendiri.
Dengan demikian, internal bnchmarking dapat dikatakan sebagai suatu paket upaya
perbaikan terus menerus untuk mengidentifikasi praktis bisnis terbaik yang ada dalam

lingkungan perusahaan sendiri. Sebagai contoh, bila praktik bisnis disalah satu anak
perusahaan atau unit bisnis setelah diteliti memiliki performa terbaik, maka sifat-sifat
tertentu yang unggul ini kemudian ditularkan pada anak perusahaan lain atau unit
bisnis lain yang berada dalam kelompok perusahaan yang sama. Dengan melakukan
internal benchmarking dapat diperoleh informasi yang lebih jelas,kritis dan objektif
tentang adanya kesenjangan performa antar unit bisnis atau bagian didalam
perusahaan, serta penyebab terjadi kesenjangan tersebut. Selanjutnya dengan
memahami informasi tersebut, berbagai upaya untuk mengurangi atau menghilangkan
kesenjangan dapat dilakukan. Implementasi internal benchmarking akan mendorong
makin berkembangnya komunikasi internal dan pemecahan masalah secara bersama
diantara unit bisnis atau bagian yang ada dala organisasi. Dalam melakukan
perbandingan perlu ditetapkan benchmarktargets. Untuk jenis internal benchmarking,
yang menjadi target adalah unit bisnis atau fungsi-fungsi dalam perusahaan yang
diketahui memiliki performa terbaik atau memiliki keunggulan tertentu pada sifatsifat tertentu, sehingga patut diteladani oleh unit bisnis atau fungsi-fingsi lain dalam
perusahaan.
2) Competitive Benchmarking
Competitive benchmarking merupakan tingkatan yang lebih lanjut dari internal
benchmarking. Competitive benchmarking berfungsi untuk memposisiskan produk
perusahaan terhadap produk persaing. Competitive beancmarking terapkan produk
untuk menciptakan atau meningkatkan daya saing serta mampu memperbaiki posisi
produk dalam pasar yang kompetitif. Melalui competitive beanchmarking akan
diperoleh informasi tentang penampilan terbaik dari pasang, di mana informasi ini
dapat dipergunakan oleh perusahaan untuk menciptakan produk yang lebih baik dari
yang baik, Upaya mencari model dan praktik-praktik bisnis terbaik yang ada dipasar
global, dan memiliki pengaruh langsung terhadap pratik bisnis yang dilakukan
perusahaan akan meningkatkan daya saing perusahaan di pasar global. Dalam
competitive beancmarking, target pembanding berada diluar perusahaan dan bersifat
flesibel, bergantung pada tujuan competitive

beanchmarking. Dalam hal ini,

beanchmark targets dapat berupa produk-produk sejenis terbaik yang menjadi


pesaing utama, atau bukan produk sejenis asalkan performa spesifik tertentu dari
produk dapat diterapkan pada produk desain produk baru atau keunggulannya dapat
mendatangkan inspirasi atau gagasan baru bagi perbaikan produk yang ada.
Implemensi competitive benchmarking relatif lebih sulit dibandingkan internal

benchmarking, karena informasi yang diperlukan berada diluar perusahaan, yakni


pesaing domestik atau luar negeri., sehingga diperlukan usaha tambahan untuk
memperoleh informasi penting. Informasi ini dapat diperoleh dari majalah-majalah
perdagangan, asosiasi bisnis sejenis, publikasi riset dan sumber lain. Competitive
benchmarking jug sering disebut sebagai external benchmarking.
3) Functional Benchmarking
Functional Beanchmarking merupakan jenis asumsi yang tidak harus membetasi pada
perbandingan terhadap pesaing langsung.
Functional Benchmarking dapat melakukan investigasi pada perusahaan perusahaan
yang unggul dalam industri tidak sejenis. Bagaimanapun, relevansi dari perbandingan
pada functional benchmarking, nilai nilai target pembanding dapat berasal dari
perusahaan tidak sejenis yang unggul. Implementasi functionak benchmarking
memang lebih sulit untuk dilakukan, mengingat informasi yang diperlukan pada
umumnya lebih sulit diperoleh, dan bencmark targets-nya memerlukan imajinasi dan
kreativitas yang tinggi.
4) Generic Benchmarking
Generic Benchmarking merupakan jenis asumsi dimana beberapa funsi bisnis dan
proses adalah sama tanpa mempedulikan ketidakserupaan atau ketidaksejenisan di
antara industri-industri.
Gerneric beanchmarking merupakan perluasan dari functional benchmarking.

C. Proses Bechmarking
Kegiatan benchmarking dilakukan melalui beberapa tahapan, yang dimulai dari
perencanaan, analisis, integrasi, implementasi, sehingga kematangan (Camp, 1989:
17, 259 dalam Nasution, 2001: 195-197).
1)

Perencanaan

Langkah awal dalam merencanakan benchmarking adalah mengidentifikasi proses atau


operasi membutuhkan perbaikan untuk benchmarking. Langkah kedua, mencari perusahaan
lain atau pesaing yang sukses dalam melakukan operasi yang sama. Langkah ketiga,
menentukan jenis-jenis datan yang diperlukan serta menentukan metode pengamatan dan
pengukuran yang harus dilakukan. Langkah keempat, mengadakan negoisasi dengan mitra
benchmarking untuk mencapai kesepakatan penelitian benchmarking.

Pada umumnya, karakteristik perusahaan yang unggul/terbaik dalam kelasnya yang akan dibenchmarking adalah, sebagai berikut (Karlof and Osblom, 1993:63):
1. Fokus pada persepsi, perbaikan kualitas produktivitas.
2. Kesadaran atas biaya
3. Memiliki hubungan yang dekat dengan para pelanggannya.
4. Memiliki hubungan yang dekat dengan para pemasok
5. Memanfaatkan teknologi mutakhir.
6. Fokus pada core business.

2)

Analisis.

Setelah data terkumpul, kemudian diolah dan dan analisis untuk mengetahui kenerja suatu
proses yang nantinya akan menemukan kesenjangan/ perbandingan antara kedua pihak
(perusahaan dan mitra benchmarking), serta menentukan perbaikan target kinerja yang ingin
dicapai. Apabila ternyata proses mitra benchmarking lebih unggul, maka diadakan analisis
kelayakan implementasi dengan menghitung biaya serta pengaruhnya terhadap proses-proses
lainnya yang berkaitan.
3)

Integrasi.

Apabila hasil analisis menunjukan bahwa perubahan untuk menerapkan proses baru tersebut
layak, dan mendapat dukungan setiap manajer, maka disusun perencanaan implementasinya
guna mencegah timbulnya hambtan dan gangguan, sehingga pelaksanaanya akan dapat
bejalan lancar dan berhasil. Dalam menyusun perencanaan, dapat ditargetkan kinerja proses
yang lebih unggul dari perusahaan mitra benchmarking. Untuk maksud tersebut diperlukan
pelatihan karyawan untuk mengembangkan keterampilannya. Pengembangan keterampilan
yang dibutuhkan dalam bencmarking meliputi empat faktor, yitu sebagai berikut:
a. Pengetahuan, terutama yang berkenaan dengan aspek proses dan praktik suatu
pekerjaan yang diperoleh dari hasil penelitian benchmarking.
b. Motivasi, yaitu agar dapat memotifasi setiap orang untuk terus beljar dan

meningkatkan produktifitas kerja.

c. Situasi, yaitu peluang bagi setiap orang untuk menerapkan pengetahuannya dalam

meningkatkan efisiensi dan produktifitas.


d. Kemauan setiap orang untuk mengembangkan pengetahuannya.
4)

implementasi

Implementasi benchmarking harus sesuai dengan yang telah direncanakan dan sesuai dengan
prosedur baru yang membutuhkan waktu untuk bisa menjadi kebiasaan. Setelah proses baru
digunakan dan berjalan lancar,biasanya kinerja perusahaan akan meningkat dengan pesat.
Dengan

pelaksanaan

perbaikan

yang

berkesinambungan,

maka

perusahaan

dapat

mengungguli mitra benchmarking kesemuanya ini baru dapat tercapai bila dilakukan kegiatan
pemantauan dengan pengendalian proses secara statistik untuk mengetahui kemajuan
perbaikan yang dilakukan. Berdasarkan hasil dari kegiatan pemantauan tersebut, dilakukan
perbaikan secara berkesinambungan, sehingga dapat mengungguli proses dari mitra
benchmarking.
5)

Fase kematangan

Kematangan akan tercapai pada saat praktik-prtik industri digabungkan / disatukan dalam
semua proses usaha. Ini berarti memastikan superioritas. Superioritas dapat diuji dengan
beberapa cara. Kematangan yang tercapai pada saat ini juga harus menjadi aspek yang
berlansung terus berinisiatif sendiri untuk menjadi suatu prose manajement.
Menurut Goetsch dan Davis (1994, pp.416-423) diperinci mejadi 14 langkah (proses)
banchmarking, yaitu :
1. Komitmen manajemen.
2. Basis pada proses perusahaan itu sendiri
3. Identifikasi dan dokumentasi setiap kekuatan dan kelemahan proses perusahaan.
4. Pemilihan proses yang akan di benchmarking.
5. Pembentukan tim benchmarking.
6. Penelitian terhadap obyek yang terbaik di kelasnya (best-in-class).
7. Pemilihan calon mitra benchmarking best-in-class.

8. Mencapai kesepakatan dengan mitra benchmarking.


9. Pengumpulan data.
10. Data dan penentuan gap.
11. Perencanaan tindakan untuk mengurangi kesejangan yang ada atau bahkan
mengunggulinya.
12. Implementasi perubahan
13. Pemantauan.
14. Meperbarui benchmarking; melanjutkan siklus tersebut.
Empat cara yang digunakan dalam melakukan benchmarking, adalah :
a. Riset in-house.
Melakukan penilaian terhadap informasi dalam perusahaan sendiri maupun informasi yang
ada di publik.
b. Riset Pihak Ketiga.
Membiayai kegiatan benchmarking yang akan dilakukan oleh perusahaan surveyor .
c. Pertukaran Langsung.
Pertukaran informasi secara langsung dapat dilakukan melalui kuesioner, survei melalui
telepon, dll.

d. Kunjungan Langsung.
Melakukan kunjungan ke lokasi mitra benchmarking (cara ini dianggap yang paling efektif ).
Prasyarat Benchmarking :
1.

Kemauan dan Komitmen.

2. Keterkaitan Tujuan Strategik.

3. Untuk Menjadi Terbaik, Bukan Hanya Untuk Perbaikan.


4. Keterbukaan Terhadap Ide-Ide.
5. Pemahaman Terhadap Proses, Produk dan Jasa Yang Ada.
6. Proses Terdokumentasi, karena :
Semua orang yang berhubugan dengan suatu proses harus memiliki
pemahaman yang sama terhadap proses yang bersangkutan.
Dokumentasi sebelum adanya perubahan berguna dalam pengukuran
peningkatan kinerja setelah dilaksanakannya benchmarking.
Benchmarking belum tentu akrab dengan proses yang dimiliki suatu
organisasi.
Ketrampilan Analisis Proses.
Ketrampilan Riset,Komunikasi dan Pembentukan Tim.
Hambatan Hambatan Terhadap Kesuksesan Benchmarking :
1. Fokus Internal
Organisasi terlalu berfokus internal dan megabaikan kenyatan bahwa proses
yang terbaik dalam kelasnya dapat menghasilkan efisiensi yang jauh lebih
tinggi, maka visi organisasi menjadi sempit.
2. Tujuan Benchmarking Terlalu Luas.
Benchmarking membutuhkan tujuan yang lebih spesifik dan berorientasi pada
bagaimana (proses), bukan pada apa (hasil).

3. Skedul Yang Tidak Realistis.


Benchmarking membutuhkan

kesabaran,

karena

merupakan

proses

keterlibatan yang membutuhkan waktu. Sedangkan skedul yang terlampau


lama juga tidak baik, karena mungkin ada yang salah dalam pelaksanaannnya.
4. Komposisi Tim Yang Kirang Tepat.
Perlu pelibatan terhadap orang-orang yang berhubungan dan menjalankan
proses organisasi sehari-hari dalam pelaksanaan benchmarking.
5. Bersedia Menerima OK-in-Class
Seringkali organisasi bersedia memilih mitra yang bukan terbaik dalam
kelasnya. Hal ini dikarenakan yang terbaik di kelasnya tidak berminat untuk

berpartisipasi.

Riset mengidentifikasi

mitra

yang

keliru.

Perusahaan

benchmarking malas berusaha dan hanya memilih mitra yang lokasinya dekat.
6. Penekanan Yang Tidak Tepat.
Tim terlalu memaksakan aspek pengumpulan dan jumlah data. Padahal aspek
yang paling penting adalah poses itu sendiri.
7. Kekurangpekaan Terhadap Mitra.
Mitra Benchmarking memberikan akses untuk mengamati prosesnya dan juga
menyediakan waktu dan personilnya kuncinya untuk membantu proses
benchmaking kepada organisasi sehingga mereka harus dihormati dan
dihargai.
8. Dukungan Manajemen Puncak Yang Terbatas.
Dukungan total dari manajemen puncak dibutuhkan untuk memulai
benchmarking, membantu tahap persiapan dan menjamin tercapainya manfaat
yang dijanjikan.

DAFTAR PUSTAKA
Agha, S., Alrubaiee, L., & Jamhour, M. (2012). Effect of Core Competence on
Competitive Advantage and Organizational Performance. International Journal of
Business and Management, 7(1), 192-204.
Cassell, C., Nadin, S., & Melanie, O. G. (2001). The use and effectiveness of
benchmarking in SMEs. Benchmarking Journal, 8(3), 212-222. Retrieved 4 april
2013 from http://search.proquest.com/docview/217380287?accountid=45762