Anda di halaman 1dari 78

TUJUAN DARI BAB INI :Adalah untuk menjelaskan dan

mendemontrasikan me
tode perhitungan dengan menggunakan equivalent uniform annual worth
(EUAW), dan bagaimana memilih alternatif terbaik dengan perbandingan
annual worth (AW).
4.1 Nilai Harga Tahunan untuk Satu Putaran atau Lebih.
Metode perhitungan dengan EUAW dan bagaimana memilih alternatifalternatif terbaik dengan perbandingan Annual Worth (AW). AW
maksudnya adalah pengeluaran dan pendapatan (irreguler dan
uniform),dimana sama dalam tiap periode.Keuntungan dari metode ini
tidak perlu membuat perban
dingan dengan menggunakan faktor persekutuan tekecil(LCM)ketika
alternatif yang ada mempunyai umur berbeda.
Nilai AW dari alternatif dihitung untuk satu putaran saja ,karena AW
adalah harga tahunan yang sama selama umur proyek.

Jika proyek diteruskan lebih dari satu putaran,seluruh putaran diasumsikan sama dengan
putaran pertama.Pengulangan dari seri tahunan yang seragam yang menerus dari
berbagai putaran dapat diperlihatkan dan dipertimbangkan cash flow pada
Gambar 4.1.menggambarkan 2 putaran dari asset dengan biaya awal Rp 20.000,-dengan
operasi tahunan sebesar Rp 8000,-dan umur nya 3th. i=20%
AW untuk satu putaran (sebagai contoh 3 th)dapat dihitung seperti berikut.
AW = - 20.000 (A/P,20%,3) - 8000
AW= Rp -17.494,AW untuk 2 putaran.
AW = -20.000(A/P,20%,6)- 20.000(P/F,20%,3)(A/P,20%,6) 8000
= Rp 17.494,Nilai AW putaran pertama sama untuk dua putaran,harga yang sama akan diperoleh
untuk tiga,empat, lima dst.
Jadi AW untuk satu putaran dari suatu alternatif akan menggambarkan nilai tahunan
yang sama dan merata dari alternatif setiap kali putaran diulang

i = 20%

8.000
20.000

20.000
4.1. Gambar Cash Flow untuk dua putaran

4.2 AW Dengan metode Salvage Sinking Fund.


Ketika asset berada pada nilai sisa (salvage value-SV),ada beberapa cara untuk
menghi
tung AW (Annual worth).Disini akan dijelaskan mengenai metode salvage sinking
fund.Pada metode ini biaya P yang terletak pada awal tahun dikonversikan kedalam
bentuk equivalent uniform annual amount dengan menggunakan faktor A/P.Nilai
sisa biasanya memiliki nilai cash flow yang positif,selanjutnya dikonversikan
kedalam equivalent uniform annual amount dengan menggunakan faktor A/F,dan
selanjutnya ditambahkan dengan biaya awal yang sudah diratakan.Perhitungan
tersebut dapat digambarkan dengan dengan persamaan umum.
AW = -P (A/P,i,n) + SV (A/F,i,n)
[4.1]
Biasanya pada perhitungan tersebut terdapat juga cash flow yang lain,semuanya
harus dimasukkan kedalam perhitungan AW, sebagai gambaran dapat dilihat
contoh dibawah.

Contoh.
Hitung AW dari perlengkapan tambahan sebuah traktor yang memiliki biaya awal sebesar
Rp 8000,-dan nilai sisa Rp 500,-setelah 8 th.Biaya operasi tahunnan dari mesin tersebut
sebesar Rp 900,- dan tingkat suku bunga sebesar 20 % per tahun.
Penyelesaian.
500.
i = 20%
Cash flow diagram

1 2 3 4 5 6 7
900

8000
i = 20%
0 1 2 3 4 5 6 7

tahun
8

AW = ?
Gambar 4.2 (atas) Diagram untuk biaya mesin,(bawah) konversi kepada AW

Gambar diatas menunjukkan


AW = A1 + A2
A1 = biaya tahunnan dari investasi awal dengan mempertimbangkan nilai sisa,persamaan
[4.1]
= -8.000,-(A/P,20%,8) + 500 (A/F,20%,8) = Rp -2.055,A2 = biaya operasi tahunnan = Rp -900,Nilai tahunnan dari peralatan tersebut adalah ;
AW = -2.055 900 = Rp -2.955,-

Utuk mempermudah perhitungan salvage sinking fund agar menjadi jelas,maka


perhitungan yang mendetail dapat diperlihatkan pada contoh diatas.Dengan
menggunakan tanda cash flow yang benar maka tahapan-tahapan tersebut dapat
diringkas sbb;
1.Tahunkan biaya investasi awal dengan menggjunakan faktor A/P.
2.Tahunkan nilai sisa dengan menggunakan faktor A/F
3.Gabungkan nilai investasi yang sudah ditahunkan dengan nilai sisa yang su
dah ditahunkan.
4.Gabungkan setiap jumlah tahunan setiap nilai dari tahap 3.
5.Rubah setiap cash flow yang lain dalam bentuk nilai tahunan yang sama dan
seragam dan gabungkan dengan nilai yang diperoleh pada tahap ke 4.

4.3 AW Dengan Metode Salvage Present Worth.


Metode ini juga merubah investasi dan nilai sisa ke dalam AW.
Present Worth dari nilai sisa dijumlahkan dengan biaya investasi awal,dan
selisih dari hasilnya dirubah kedalam bentuk tahunan dengan
menggunakan faktor A/P sepanjang umur dari asset tersebut.
Persamaan umum adalah ;
AW = [-P + SV (P/F,i,n)] (A/P,i.n).
Tahapan-tahapan untuk menentukan asset AW :
1. Hitung present worth dari nilai sisa dengan faktor P/F
2. Gabungkan nilai yang diperoleh pada tahap 1 dengan biaya investasi P.
3. Tahunkan nilai yang diperoleh terhadap umur dari asset dengan
mengguna
kan faktor A/P.
4. Gabungkan setiap nilai tahunan yang seragam dengan nilai dari tahap
ke 3.
5. Rubah setiap cash flow yang lain kedalam bentuk nilai tahunan yang
seragam dan sama dan gabungkan dengan nilai yang diperoleh pada
tahap ke 4.

Contoh.
Hitung AW dari peralatan seperti contoh diatas dengan menggunakan
metode salvage present wort.
Jawaban.
Dengan menggunakan tahapan-tahapan diatas dan persamaan [4.2]
AW = [-8000 + 500(P/F,20%,8)] (A/P,20%,8) 900 = Rp -2.955,4.4 AW Dengan Metode Cavital Recovery Plus Interest.
Persamaan umum :
AW = - (P SV) (A/P,i,n) SV (i)
. [4.3.]
Kurangkan biaya investasi dengan nilai sisa,yaitu P SV,sebelum
mengalikan dengan faktor A/P,hal ini dikenal bahwa nilai sisa
dikebalikan.Bagaimanapun nilai sisa tidak akan dikembaikan untuk n
tahun,karena adanya kehilangan akibat adanya bunga,SV (i),sela umur dari
asset.
Tahapan-tahapan perhitungan ;
1. Kurangkan biaya awal dengan jumlah dari nilai sisa.
2. Tahunkan nilai pada tahap 1 dengan faktor A/P.
3. Kalikan nilai sisa dengan tingkat suku bunga
4. Gabungkan nilai yang diperoleh pada tahap 2. dengan tahap ke 3.

5. Gabungkan setiap jumlah tahunan yang sama.


6. Rubah seluruh cash flow yang lain kedalam jumlah yang sama dan
seragam
kemudian digabungkan dengan nilai dari tahap ke 5.
Contoh.
Gunakan nilai-nilai pada contoh diatas untuk menghitung A dengan
metode capital recovery plus interest.
Jawab.
Dari persamaan 4.3 dan tahapan-tahapan diatas.
AW = - (8000 -500)(A/P,20%,8) 500 (0,20) 900 = Rp -2.955,4.5 Membandingkan Alternatif Dengan Menggunakan Annual Wort.
Metode annual wort untuk membandingkan alternatif kemungkinan
adalah teknik evaluasi yang paling sederhana.Alternatif yang dipilih adalah
alternatif yang memiliki biaya equivalen yang paling rendah atau
mendapatkan equivalen yang paling besar,jika pendapatan dimasukkan.
Peraturan yang penting harus diperhatikan ketika melakukan
perbandingan dengan AW adalah hanya satu putaran dari tiap-tiap
alternatif yang harus dipertimbangkan.Karena AW akan sama pada
putaran-putaran berikutnya.

Ketika informasi yang ada menunjukkan asumsi yang kurang valid,maka


pendekatan menggunakan planning horizon dapat digunakan.
Contoh.
Perkiraan biaya dari mesin pengupas kulit tomat yang harus dievaluasi
oleh manajer pabrik pengalengan.
Mesin A
Biaya awal (P) Rp

Mesin B

26.000

36.000

800

300

Gaji Tenaga kerja Tahunan (Rp)

11.000

7.000

Pendapatan extra Tahunan(Rp)

2.600

2.000

3.000

10

Biaya Pemeliharaan
Tahunan,(Rp)

Nilai sisa(SV) (Rp)


Umur,Tahun

Jika tingkat pengembalian minimum yang diminta adalah 15%


pertahun,bantu manajer untuk menentukan keputusan.

Jawaban.
Gambar Cash flow dapat dilihat dibawah ini.
2.000
tahun
5 6

i = 15%

11.800
26.000
Mesin A.

3.000.

tahun
8
9

10

9.900
36.000
Mesin B.
Gambar 4.3 Cash Flow untuk mesin Pengupas Kulit Tomat.

Perhitungan dapat dilakukan sbb :


AWA = -26.000 (A/P,15%,6)+2000 (A/F,15,6) 11.800
= Rp-18.442,AWB = -36.000(A/P,15%,10) + 3000(A/F,15%,10) 9.900
= Rp -16.925,Jadi disini yang dipilih adalah mesin B,karena biayanya lebih kecil.
Contoh.
Diasumsikan bahwa pemilik pabrik akan berhenti dalam usahanya pada tahun ke 4.
Pada waktu tersebut diasumsikan bahwa perusahaan akan menjual mesin-mesinnya
dengan harga Rp 12.000,- untuk mesin A dan Rp 15.000,- untuk mesin B sedangkan
biaya-biaya yang lain sama.Mesin yang mana harus dibeli dengan kondisi tersebut
diatas.
Jawab.
Sekarang planning Horizonadalah 4 th,sehingga hanya biaya-biaya yang terjadi
selama 4 th yang relevan untuk dilakukan analisa.Sehingga perhitungan menjadi.

AWA = -26.000(A/P,15%,4) + 2000 (A/F,15%,4) -11.800


= Rp- 20.506,AWB = -36.000(A/P,15%,4) +3.000 (A/F,15%,4) 9.900
= Rp-21.909,Mesin A yang dipilih kembali.

BAB V
PERHITUNGAN DAN ANALISA
RATE OF RETURN

5.1. Perhitungan Rate of Return (ROR)


Apabila kita melakukan suatu investasi maka ada saat tertentu dimana terjadi
kesehimbangan antara semua pengeluaran yang terjadi dengan semua pendapatan
yang diperoleh dari investasi tersebut.
Kesehimbangan ini akan terjadi pada tingkat pengembalian (dinyatakan pada ting
kat bunga)tertentu.Tingkat bunga yang menyebabkan terjadinya kesehimbangan
antara pengeluaran dan semua pemasukan pada suatu periode tertentu disebut
dengan rate of return yang biasa disingkat dengan ROR. Dengan kata lain,ROR adalah suatu tingkat penghasilan yang mengakibatkan nilai NPW(net present worth)
dari suatu investasi sama dengan nol.
Secara matematis hal ini bisa dinyatakan :
n

NPW Ft (1 i ) t 0......... .......... .......... .......... .......... ......(5.1 )


t 0

Dimana :
NPW = net present worth
Ft = aliran kas pada periode t
n = umur proyek atau periode studi dari proyek tersebut.
i*= nilai ROR dari proyek atau investasi tersebut.

Karena nilai Ft pada persamaan 5.1. bisa bernilai positif atau negatif maka persamaan
ROR dapat juga dinyatakan :
NPW = PWR PWE = 0 ..

(5.2)

Atau
n

R (P/F, i * %, t) E (P/F, i * %, t) 0......... .......... .....(5.3)


t 0

t 0

PWR = nilai present worth dari semua pemasukan (aliran kas positif)
PWE = nilai present worth dari semua pengeluaran (aliran kas negatif)
Rt = penerimaan netto yang terjadi pada periode ke t
Et = pengeluaran netto yang terjadi pada periode ke t termasuk investasi awal(P)
Disamping menggunakan nilai present worth,perhitungan ROR juga dapat dilaksanakan dengan deret seragam (annual worth),sehingga akan berlaku hubungan :
EUAR EUAC = O

(5.4.)

EUAR = equivalent uniform annual revnue)adalah deret seragam yang menyatakan


pendapatan (aliran kas masuk)per tahun dan EUAC(equivalent uniform annual cost)

adalah deret seragam yang menyatakan pengeluaran (aliran kas keluar)per tahun.
Dalam prakteknya,analisa dengan nilai present worth lebih umum digunakan
daripada metode deret seragam.
Apabila kita menghitng NPW sebagai pungsi dari i maka kita akan mendapatkan nilai NPW yang jumlahnya tak terbatas (kontinyu).Semakin tinggi i yang
kita pakai maka nilai NPW mungkin akan semakin kecil dan mungkin juga semakin besar,tergantung pada konfigurasi aliran kas dari investasi atau proyek tersebut.
Pada nilai i tertentu kita akan mendapatkan nilai NPW = O. Nilai inilah yang
disebut dengan ROR.Apabila hubungan antara i dengan NPW diplot dalam suatu
grafik maka secara umum akan tampak seperti gambar 5.1 (a) atau (b).
Terlihat dalam grafik tersebut bahwa NPW tidak berhubungan secara linier.Ilustrasi ini akan terlihat pada contoh soal yang akan diberikan.
Ada beberapa ROR yang dikenal dalam ekonomi teknik antara lain Intern
Rate of Return (IRR),External Rate of Return (ERR),dan Explisit Reinvesment Rate
of Return (ERRR).Disebut IRR apabila diasumsikan bahwa setiap hasil yang
diperoleh langsung diinvestasikan kembali dengan tingkat ROR yang sama.Bila
hasil yang diperoleh diinvestasikan pada proyek yang lain dengan ROR yang
berbeda maka Rate of Return ini disebut ERR.Sedangkan ERRR digunakan pada
permasalahan dimana terdapat investasi lump sum tunggal aliran kas netto positif
seragam pada akhir setiap periode selama umur proyek atau investasi tersebut.

NPW
0

0
i*

NPW i

i*

Gambar 5.1Tipe grafik hubungan antara i. dengan NPW dan posisi i* (ROR)

Contoh.5.1.
Perhatikan aliran kas pada gambar 5.2. Hitunglah ROR dari aliran kas
tersebut.
F = 150 jt

P = 50 jt.
Gambar aliran kas untuk soal 5.1.
Solusi
NPW = PWR PWE = 0
= 150 jt (P/F,i.%,8) 50jt = 0
(P/F,i%,8) = 50/150 = 0,333.
Dari persamaan bisa diketahui bahwa kita harus mencari nilai i, sehingga
(P/F,i%,8) = 0,333.Nilai i.akan kita bisa dapatkan dengan melakukan pendekatan
beberapa nilai i. melalui tabel bunga.

Bila dimasukkan i. = 12% akan diperoleh :


(P/F,15%,8) = 0,4039.
Bila dimasukkan i. = 15% akan diperoleh :
(P/F,15%,8) = 0,3269.
Dengan demikian akan diperoleh nilai (P/F,i%,8) = 0,333 akan diperoleh pada i.
antara 12% dan 15%.Disini kita melakukan interpolasi linier (perhatikan gambar
5.3.)sehingga diperoleh persamaan sbb:
15 i
0.3269 0,3333

15 12
0,3269 - 0,4039
15 i
0,0064

3
- 0,077
3x 0,0064
15 i
0,077
i 15 0,2494 14,75%

Jadi ROR dari aliran kas diatas adalah 14,75%.

0,4039
0,3333
0,3269
12%

i.%

15%

Gambar 5.3. Ilustrasi perbandingan segitiga untuk interpolasi linier.


Contoh 5.2
Perhatikan diagram alir kas pada gambar 5.4.Tentukan ROR dari aliran kas
tersebut.
F = 100jt
A = 5jt

P = 50 jt.

Gambar 5.4 Diagram aliran kas untuk contoh 5.2.

Solusi
NPW = A (P/A,i%,8) + F(P/F,i%,8) P = 0
= 5jt (P/A,i%,8) + 100 jt(P/F,i%,8) 50jt = 0 (5.5).
Untuk mendapatkan nilai i.shg persamaan tersebut terpenuhi (ruas kiri sama dengan
nol)maka kita mencoba berbagai nilai i.karena disini kita dihadapi dua faktor,yaitu
faktor P/A dan P/F dalam satu persamaan .Agar tidak terlalu banyak mencoba maka
kita perlu melakukan pendekatan dengan menganggap aliran kas terjadi tanpa bunga
sehingga kedua faktor yang berbeda tadi bisa dikonversi P/A dan P/F menjadi P/F
saja maka kita harus mengubah aliran kas menjadi F sehingga akan menjadi :
F = 100 jt + 8 x 5jt
= 140 jt.
Karena kenyataannya nilai A tadi berbunga maka F tentu lebih besar dari 140 jt,
sehingga agar pendekatan kita tidak terlalu menyimpang kita sesuaikan secara kasar
nilai F menjadi 160 jt.
Dari sini diperoleh persamaan :
160 jt (P/F,i%,8) = 50 jt
(P/F,i%,8) = 50/160 = 0,3125.
Nilai i.yang mendekati adalah 15%.Dengan demikian maka kita masukkan i.= 15% ke
persamaan 5.5 sehingga diperoleh :

5jt (P/A,15%,8)+ 100 jt (P/F,15%,8) 50jt = 0


5jt (4,4873) + 100 jt (0,3269) 50jt = 5,127 jt.
Karena ruas kiri tidak sama dengan nol maka kita perlu mencoba nilai i. yang lain disekitar 15 %,misal
20 %,sehingga akan diperoleh :

5 jt (P/A,20%,8) + 100 jt (P/F,20%,8) 50 jt = 0


5 jt (3,8372) + 100 jt (0,2326) 50 jt = -7,554jt.
Ruas kiri persamaan ini juga tidak sama dengan nol,namun dari sini kita bisa tahu bahwa nilai nol
pada ruas kiri tersebut akan berada pada i.antara 15% dan 20% sehingga kita bisa melakukan
interpolasi.
Tabel 5.1. Data untuk melakukan interpolasi.
i.
15%
i%
20%

PW (juta rupiah)
5,127
0
-7,554.

20% i
7,554 0

20% 15%
7,554 - 5,127
7,554
20% i 5% (
)
12,681
i 20% 2,978%
i 17,022%

Suatu investasi dikatakan layak apabila ROR yang dihasilkan lebih


besar atau sama dengan MARR.Bila ada beberapa alternatif yang bersifat
mutually exclusive dan sama-sama memiliki ROR yang lebih besar dari
MARR maka proses pemilihannya dilakukan dengan metode ROR meningkat (incremental rate of return).

5.2.External Rate of Return (ERR).


Pada metode IRR diasumsikan bahwa semua hasil dari suatu investasi
atau proyek akan langsung dipakai untuk menambah modal dari proyek
tersebut (diinves tasikan kembali pada proyek yang sama).Asumsi ini tidak
selalu benar karena sering sekali suatu proyek yang menghasilkan ROR
sebesar 20% akan mengembangkan modalnya ke proyek lain yang lebih
menjanjikan ROR lebih dari 20%.Pada kondisi yg seperti ini perhitungan
IRR tidak akan menunjukkan hasil yang absah.
Metode ERR adalah metode yang mempertimbangkan kemungkinan
diatas sehingga merupakan suatu koreksi terhadap metode IRR apabila
kondisi tersebut memang terjadi.Pada metode ERR kita harus
mempertimbangkan tingkat bunga eksternal (e) dimana aliran kas yang
dihasilkan oleh suatu proyek setelah umur ekonomisnya bisa diinvestasikan
kembali (dipinjam) dari luar perusahaan.
Secara umum,semua aliran kas keluar dikonversi ke periolde sekarang
dengan tingkat bunga e % per periode pemajemukan dan semua aliran kas
masuk dikonversi ke periode N dengan tingkat bunga e%.ERR dalam hal ini
adalah suatu tingkat bunga yang menyebabkan kedua nilai tadi (setelah
dikonversi) equivalen.
Dalam persamaan matematis,ERR adalah i,dimana

Dalam persamaan matematis,ERR adalah i,dimana


N

E (P/F, e%, t)(F/P, i'%, N) R (F/P, e%, N t).


t 0

t 0

(5.7)

Dimana :
Et = kelebihan pengeluaran atas penerimaan pada periode t
Rt = kelebihan penerimaan atas pengeluaran pada periode t
N = umur proyek atau orizon perencnaan.
e = tingkat bunga pada investasi eksternal.

Secara grafis hal ini dapat diperlihatkan pada gambar 5.5.


i = ?

R
t 0

(F/P, e%, N - t)

R
t 0

(F/P, e%, N - t)

Gambar 5.5 Ilustrasi grafis ERR.


Suatu proyek bisa diterima (layak dilaksanakan)apabila i % yang
diperoleh dari perhitungan ERR lebih besar atau sama dengan MARR peru
sahaan.Metode ERR mempunyai 2 keunggulan atas metode IRR,yaitu :
1. Biasanya bisa dipecahkan langsung tanpa proses trial and error
2. Tidak terbatas pada kemungkinan ROR majemuk (multiple)

Contoh 5.3
Seperangkat peralatan baru diusulkan oleh seorang insinyur untuk memperbaiki proses operasi pengelasan.Investasi awal yang dibutuhkan adalah Rp 25 jt
dan akan memiliki nilai sisa Rp 5 jt pada akhir umurnya di akhir tahun ke 5.
Peralatan baru ini akan bisa menghemat Rp 8jt per tahun setelah dikurangi ongkos-ongkos operasional.Diagram alir dari soal ditampilkan pada gambar 5.6.
Misalnya MARR = e = 20% per tahun,hitunglah ERR dan beri keputusan apakah
usulan ini dapat diterima ?
A = 8jt

2
3
i= 20%

F = 5jt

28 jt

Diagram alir kas untuk contoh 5.3.


Solusi
25jt (F/P,i%,5) = 8jt (F/A,20%,5)+5jt

(F/P, i'%,5)

64,5328jt
2,5813
23jt

i'% 20,88%
Karena i% lebih besar dari MARR maka usulan investasi diterima.
Contoh 5.4.
Misalkan e = 15% dan MARR = 20% dari diagram alir kas pada gambar 5.7
dan putuskan apakah proyek yang diusulkan dengan aliran kas seperti itu bisa
diterima.
6 jt
0

3 4
1 jt

5jt
10jt

Diagram alir kas untuk contoh 5.4.

S0lusi
Aliran kas keluar :
E 0 = 10 jt
E 1 = 5 jt
Aliran kas masuk :

(pada t = 0)
(pada t = 1 )

Rt = 6 jt 1 jt
( t = 1,2,36)
Dengan persamaan 5.7. akan diperoleh :
[ 10 jt + 5 jt (P/F, 15 %, 1 )] (F/P, i % ,6) = 5 jt (F/A, 15 %, 5)
[(10 jt + 5 jt (0,8696)] (F/P, i, 6 ) = 5 jt (6,7424 )
14,348 jt (F/P,i%, 6 ) = 33,712
(F/P,i%,6 ) = 33,712/14,3496
= 2,3496
Dengan interpolasi antara i= 15 % dan 18 % akan diperoleh I = 15,3 % .
< MARR = 20 % Sehingga usulan proyek ditolak.

5.3. Expliscit Reinvesment Rate of Return (ERRR).


Metode ERRR bisa mengatasi beberapa kelemahan metode IRR dan
bisa dia- plikasikan pada permasalahan dimana terdapat investasi
lumpsum tunggal yang diikuti dengan penerimaan bersih yang serupa
deret seragam pada setiap akhir periode selama umur proyek/investasi
tersebut.
Nilai ERRR diperoleh dengan membagi keuuntungan netto tahunan
(penerimaan dikurangi pengeluaran dikurangi ongkos-ongkos equivalen
tahunan dari pergantian investasi/proyek)dengan jumlah investasi awal.
Secara matematis ERRR dapat dirumuskan SBB :

(R E) (P S)(A/F,e %, N)
ERRR
.............(5.8)
P
Dimana :
R = penerimaan tahunan (deret seragam)
E = pengeluaran tahunan (deret seragam)
P = investasi awal
S = nilai sisa
n = umur proyek
e = tingkat efektif tahunan dari alternatif investasi yang bersangkutan
(nilainya sering sekali sama dengan MARR perusahaan)

Contoh.5
Perhatikan kembali diagram alir kas pada gambar 5.6.Dengan
memakai e = 20% apakah alternatif tersebut layak dilakukan bila dievaluasi
dengan metode ERRR ?
Solusi
Diketahui
R = 8 jt per th
E=0
P = 25 jt
S = 5 jt
N = 5 th
(8 0) (25 5)(A/F,20%,5)
25
8 2,6876

0,2125 21,25%
25
ERRR

Karena ERRR > MARR maka alternatif tersebut layak dilaksanakan.

5.4.Multiple Rate of Return.


Pada pembahasan sebelumnya kita selalu berasumsi bahwa hanya
ada sa-tu nilai ROR untuk suatu aliran kas,dimana tanda aliran kas
kumulatif hanya beru-bah sekali,biasanya dari negatif ke positif,sehingga
akan ketemu sekali pada garis horizontal (yang menyatakan NPW =
0).Aliran kas seperti ini disebut dengan aliran kas konvensional.Apabila
perubahan aliran kas kumulatif tadi lebih dari satu kali (sehingga ada lebih
dari satu nilai ROR)maka aliran kas ini dinamakan aliran kas non
konvensional.Pada aliran kas non konvensional akan diperoleh banyaknya
ROR sama atau lebih sedikit dari banyaknya aliran kas kumulatif.Tabel 5.1
menunjukkan contoh aliran kas konvensional dan non konvensiona selama
6 th.

Tabel 5.1 Contoh aliran kas konvensional dan non konvensional.


Jumlah
Perubahan
6 tanda

tanda aliran kas komulatif pada periode


Tipe
0
Konvensional
Konvensional
Non konvens
Non konvens

+
+
-

1
+
+
+
+

2
+
+
+
-

3
+
-

4
+
+
+

5
+
+
+

+
+
+

Ket : + berarti aliran kas positif pada periode bersangkutan


- aliran kas negatif pada periode bersangkutan.

1
1
2
3

Contoh 5.6.
Misalkan satu proyek hanya berusia 2 th dengan data aliran kas seperti pada
gambar 5.8. Hitunglah nilai ROR dari proyek tersebut dan putuskan apakah proyek
tersebut layak atau tidak.
600jt

250 jt

359,38 jt

Gambar 5.8. Aliran kas untuk soal 5.6


Solusi
Dari gambar tersebut dapat diterjemahkan aliran kas kumulatif seperti pada tabel
5.8.
Akhir tahun
A1liran kas netto
Aliran kas kumulatif
0
1
2

-250.00jt
+600.00jt
-359,38 jt

-200.oo jt
+350.00 jt
- 9,38 jt

Mengingat terjadi 2 kali perubahan pada aliran kas kumulatif maka akan mungkin
diperoleh 2 nilai ROR.Dengan analisa NPW diperoleh :
NPW 250

600
359,38

0
(1 i) (1 i) 2

Apabila kedua ruas dikalikan dengan (1+i) maka


-250(1+i)+ 600 (1+i) 359,38 = 0
Atau
(1+i) - 2,40(1+i) + 1,4375 = 0
Misalkan (1+i) = a maka :
a- 2,40a + 1,4375 = 0
Persamaan ini bisa diselesaikan dengan rumus abc :

2,4 (2,4) 2 (4)(1)(1,4375)


a1.2
2 x1
Dari sini diperoleh :
a1 = 1,15 sehingga i = 0,15 atau 15%
a2 = 1,25
i = 0,25 atau 25%

Secara grafis hasilnya ditunjukkan pada gambar 5.9


terima usulan
proyek
tolak usulan proyek

10

tolak usulan proyek

15

20

25

30

-10jt
(NPW)
Gambar 5.9 Grafik NPW sebagai fungsi dari bunga (ROR) untuk contoh 5.6.

Dengan mengetahui grafik diatas maka akan bisa diputuskan bahwa proyek tersebut akan bisa diterima bila MARR berada antara 15% sampai 25%
5.5 Analisa ROR meningkat
Suatu alternatif investasi akan bisa diterima apabila ROR lebih besar dari
MARR.Pada kasus dimana terdapat sejumlah alternatif yang bersifat mutually exclusive maka pemilihan alternatif terbaik diantara alternatif-alternatif tersebut dila-

kukan dengan analisa ROR meningkat (incremental rate of return,disingkat IROR).


IROR adalah suatu tingkat bunga (ROR)yang dihasilkan suatu tambahan
(incremental)investasi awal suatu alternatif bila dibandingkan dengan alternatif
lain yang membutuhkan investasi awal yang lebih rendah.IROR juga disebut ROR
marjinal(marginal ROR) dan investasi tambahan (incremental invesment) juga
disebut investasi marjinal (marginal invesment).
Apabila suatu alternatif investasi A membutuhkan investasi awal sebesar
Rp 100 jt dengan ROR 10% dan alternatif B membutuhkan biaya awal Rp150 jt juga
dengan ROR 12% maka investasi tambahan bila kita membandingkan alternatif A
dengan B =Rp 50 jt.Dalam analisa ROR meningkat,kita harus mendapatkan IROR
dari tambahan investasi sebesar Rp50 jt ini untuk memutuskan apakah investasi B
lebih lebih baik dari A.Apabila IROR ternyata lebih besar dari MARR maka dipilih
alternatif yang membutuhkan investasi lebih besar,yaitu B.
Secara prosedural,penentuan alternatif terbaik dengan aliran ROR meningkat dapat diringkas sbb :
1.Hitung ROR untuk masing-masing alternatif
2.Bandingkan ROR masing-masing alternatif dengan MARRbuang ROR
yang kurang dari MARR.
3.Urutkan alternatif-alternatif yang ada (yang tidak terbuang pd langkah
ke 2)berdasarkan investasi awal yang dibutuhkan,mulai dari yg terkecil

4.Hitung penambahan investasi awal maupun penambahan aliran kas net


to dari alternatif dengan investasi terkecil terhadap alternatif dengan
investasi terkecil berikutnya(yang lebih besar),dan cari IROR dari
peningkatan tersebut.
5.Bila IROR MARR,pilih alternatif yang membutuhkan investasi yang
lebih besar,danbila IROR < MARR,pilih alternatif yang membutuhkan
biaya investasi yang lebih kecil.
6.Kembali lagi ke langkah 5 sampai akhirnya tinggal satu alternatif saja.
Contoh 5.7.
Untuk mengembangkan super market ,seorang investor sedang memper
timbangkan 5 lokasi yaitu A,B,C,D,E data dari investasi awal dan pendapatan dapat dilihat dalam tabel 5.3.Semua alternatif diperkirakan berumur 5th.Tentukanlah
alternatif mana terbaik menurut metode ROR meningkat bila MARR adalah 6%/th
Tabel 5.3.

alternatif
Investasi(Rp)

A
400

B
100

C
300

D
200

Pendapatan /th

105

35

76

60

E
500
125

Solusi
1)Hitung ROR asing-masing alternatif.
A: NPW = 105 (P/A,i%,5)- 400 = 0
(P/A,i%,5) = 400/105 = 3,81
i = 10%
B:

(P/A,i%,5) = 100/35 = 2,86


i= 22%

C:

(P/A,i%,5) = 300/76 = 3,95


i= 8,5%

D:

(P/A,i%,5) = 200/60 = 3,33


i = 15,5%

E:

(P/A,i%,5) = 500/125 = 4
i= 7,5%

2)Karena semua alternatif memberikan ROR > MARR maka semua alternatif dilibatkan dalam perhitungan IROR.
3)Alternatif-alternatif diurutkanberdasarkan kenaikan investasi sehingga menjadi
tabel 5.4.

Alternatif
Investasi(Rp)

B
100

D
200

C
300

35

60

76

Pendapatan /th

A
400

E
500

105 125

4)Bandingkan altenatif-alternatif kemudian cari IROR nya.


Bandingkan B dengan D
Investasi tambahan
= Rp 200 jt Rp 100 jt = Rp 100 jt
Pendapatan / th tambahan = Rp 60jt Rp 35jt
= Rp 25 jt.
IROR (B

D) :

100
4
25
i 7,5%

(P/A, i %,5)

Karena IROR B
D > MARR maka pilih alternatif dengan investasi yang
lebih besar,yaitu alt D.Selanjutnya alternatif B tidak dipertimbang
kan lagi.

Bandingkan D dengan C
Investasi tambahan
= Rp 100jt
Pendapatan/th tambahan = Rp16jt.
IROR (D
C)

100
(P/A, i%,5)
6,25
16
IROR negatif sehingga pilih alt D.
Bandingkan D dengan A
Investasi tambahan
= Rp 200jt
Pendapatan/th tambahan = Rp 45 jt.
IROR (D
A)

200
4,4
45
i 4,25%

(P/A, i%,5)

Karena IROR < MARR,pilih alt D

Bandingkan D dengan E
Investasi tambahan
= Rp 300jt
Pendapatan/th tambahan = Rp 65 jt.
IROR (D
E)

300
(P/A, i%,5)
4,4
65
i 4,25%
Karena IROR < Marr maka dipilih alt D.
Jadi alt terbaik adalah alternatif D.

BAB VI
ANALISA MAFAAT BIAYA
6.1.Pendahuluan.
Pelaksanaan proyek pemerintah secara esensi memang memiliki karakteristik

maupun tujuan yang berbeda dengan proyek-proyek suasta.Kita mengetahui


bahwa proyek suasta diukur berdasarkan nilai keuntungan yang dijanjikannya,
proyek pemerintah tidak selamanya bisa atau harus diukur berdasarkan nilai
keuntungannya.Proyek-proyek pemerintah sering kali tidak mungkin diukur
berdasarkian nilai rupiah yang jelas,analisis kelayakannya biasanya biasanya
dinyatakan dalam ukuran mafaat umum yang bisa ditimbulkannya.
Dengan demikian maka alat-alat analisis kelayakan proyek-proyek suasta seperti ROR,NPW,dan sebagainya tidak dapat dipergunakan dalam memutuskan apa
kah proyek pemerintah layak atau tidak dilakukan.
Proyek-proyek yang dibangun baik oleh daerah maupun pusat tidak berorientasi
pada keun-tungan.Ada 4 klasifikasi yang termasuk golongan ini yaitu :

1. Untuk pengembangan kebudayaan (pendidikan,pelestarian sejarah,


rekreasi dsb).
2. Proyek-proyek untuk proteksi (pelayanan militer,perlindungan kebakar
an,sistem pegadilan,dsb).
3. Proyek-proyek pelayanan ekonomi (proyek-proyek transportasi,pembangkit tenaga,perumahan rakyat,dsb).
4. Proyek-proyek sumber alamiah (penghijauan lahan,pengendalian polu
si,pengebanjir dsb).
Proses pengambilan keputusan pada proyek-proyek pemerintah juga melalui taha
pan-tahapan yang sistematis seperti halnya yang dilaksanakan pada proyek swas
ta.Jadi sebelum diputuskan untuk dilaksanakan,sebuah usulan proyek pemerintah harus
dievaluasi mulai dari tahapan identifikasi kebutuhan,pemunculan alternatif,
dan pemilihan alternatif yang terbaik tidak dilakukan berdasarkan besarnya profit yang
bisa dihasilkan proyek tersebut,namun lebih ditekankan pada manfaat atau kesejahteraan
umum yang bisa diberikan kepada masyarakat.
6.2.Analisa Manfaat Biaya (benefit cost analysis).
Benefit cost analysis adalah analisa yang sangat umum digunakan untuk
mengevaluasi proyek-proyek pemerintah.Analisa ini cara praktis untuk menaksir mafaat
proyek,dimana untuk ini diperlukan tinjauan yang panjang dan luas.Dengan

kata lain diperlukan analisa dan evaluasi dari berbagai sudut pandang yang relevan terhadap ongkos-ongkos maupun mafaat yang disumbangkan.
Suatu proyek dikatakan layak atau bisa dilaksanakan apabila rasio antara manfaat
terhadap biaya yang dibutuhkan nya lebih besar dari satu.Oleh karenanya dalam
melakukan analisa manfaat biaya kita harus berusaha menguantifikasikan man
faat dari suatu usulan proyek bila perlu dalam bentuk satuan mata uang.
Analisa manfaat biaya biasanya dilakukan dengan melihat rasio antara
manfaat dari suatu proyek pada masyarakat umum terhadap ongkos-ongkos
yang dikeluarkan oleh pemerintah.Secara matematis dapat diformulasikan sebagai berikut :

manfaat te rhadap umum


B/C
ongkos yang dikeluarka n pemerintah

......... ( 6.1)

Dimana kedua ukuran tersebut (manfaat maupun ongkos )sama-sama dinyatakan


dalam NPW atau nilai tahunan dalam bentuk uang.Dengan demikian maka rasio
B/C merefleksikan nilai rupiah yang ekuivalen dengan ongkos-ongkos yang dikelu
arkan oleh sponsor.Apabila rasio B/C = 1 maka nilairupiah yang ekuivalen sama
dengan mafaat sama dengan nilai rupiah ekuivalen dengan ongkos.

Hampir setiap proyek pemerintah yang dibangun untuk memberikan manfaat


terhadap masyarakat umum ternyata juga menimbulkan dampak-dampak negatif
yang tidak terindarkan.Oleh sebab itu dalam melakukan analisa manfaat biaya
harus juga disertakan faktor-faktor dampak negatif tadi,yang juga harus dinyata
kan yang sama dengan manfaat.Disamping itu,0ngkos yang menjadi penyebut
dalam persamaan 6.1. juga harus dilihat sebagai ongkos netto setelah dikurangi
dengan penghematan-penghematan yang bisa ditimbulkan dengan adanya proyek
tersebut.Penghematan ini bukan merupakan manfaat bagi masyarakat umum
tetapi merupakan pengurangan ongkos-ongkos yang ditimbulkan oleh proyek
yang diusulkan.Dengan demikian rasio manfaat biaya secara normal bisa
dinyatakan dengan :

manfaat ekuivalen
B/C
ongkos ekuivalen

(6.2)

dimana :
manfaat ekuivalen = semua manfaat setelah dikurangi dengan dampak
negatif,dinyatakan dengan nilai uang.
ongkos ekuivalen = semua ongkos-ongkos setlah dikurangi dengan besar nya penghematan yang bisa didapatkan oleh
sponsor proyek,dalam hal ini pemerintah.

Ongkos-ongkos yang harus ditanggung oleh suatu proyek sebenarnya ter


diri dari ongkos investasi dan ongkos-ongkos operasi dan perawatan dimasukkan
sebagai manfaat negatif.Dengan demikian maka rumus 6.2 dimodifikasi menjadi :
Manfaat netto
bagi umum

- Ongkos operasional
dan perawatan proyek
(6.3 )

B/C =

Ongkos investasi proyek


Menarik untuk dikemukakan disini bahwa baik persamaan 6.2. maupun
6.3.akan memberikan hasil yang konsisten dalam kaitannya dengan keputusan layak tidaknya suatu proyek pemerintah.
Secara umum bisa dikatakan bahwa bila rasio B/C lebih besar dari satu maka
proyek tersebut bisa diterima.Sedangkan bila rasio B/C sama dengan satu maka
kondisi proyek tidak berbeda (indifferent)antara bisa diterima atau tidak.
Contoh.6.1.
Akibat banyaknya kecelakaan yang terjadi di sebuah jalan raya maka pemerintah
melalui Dep P.U. mempertimbangkan untuk membuka jalur baru.Diestimasikan
bahwa ongkos pembuatan jalur baru per mil adalah Rp 900 jt diperkirakan umur
30 th dan ongkos-ongkos perawatan tahunnan diperkirakan 3% dari ongkos awal.

Kepadatan jalan pada jalan ini adalah 10.000 kendaraan per hari dan analisa dilakukan dengan tingkat bunga 7%.Dengan dibukanya jalur baru diestimasikan tingkat
kecelakaan akan turun dari 8 menjadi 4 per 100 jt mil kendaraan.
Ongkos-ongkos yang ditimbulkan dari adanya kecelakaan meliputi ongkos
kerugian properti,keperluan untuk keperluan medis,dan hilangnya upah bagi orang
yang mengalami kecelakaan.Dari data yang ada diperoleh informasi bahwa ada ratarata ada 35 kecelakaan ringan dan 240 kerusakan properti untuk satu kecelakaan
fatal.Ongkos ekuivalen dari saat ini dari dari setiap klasifikasi kecelakaan tersebut
adalah sebagai berikut :
kecelakaan fatal per orang
Rp 400 jt
kecelakaan ringan
Rp 14 jt
kerusakan properti
Rp 3 jt
Dengan data-data diatas maka ongkos agregat dari kecelakaan per satu kecelakaan
fatal bisa dihitung sbb :
kecelakaan fatal per orang
Rp 400 jt
kecelakaan ringan ( 35 x 14 jt)
Rp 490 jt
kerusakian properti (240 x 3 jt )
Rp 720 jt
Total

Rp 1.640 jt

Dengan metode B/C tentukanlah apakah usulan pembukaan jalur baru tersebut bisa
diterima atau tidak.
Solusi
Manfaat ekuivalen tahunan yang diharapkan per mil adalah :
(8 4 ) x 10.000 x 365 x 1.610 jt
= Rp 235.060 jt
100 jt
Ongkos-ongkos ekuivalen tahunan per mil yang harus ditanggung oleh pemerintah
adalah :
900 jt (A/P,7%,30 ) + 900 jt (3%)
= 900 jt (0,0806) + 900 jt (0,03)
= 99,540 jt.
Dengan demikian maka rasio B/C adalah :

235,060 jt
B/C =

= 2,36.
99,540 jt

Karena rasio B/C lebih besar dari satu maka proyek tersebut layak untuk
dikerjakan.Perlu diingat disini bahwa manfaat yang terhitung diatas hanyalah
manfaat yang terujud dalam bentuk pengurangan kecelakaan.Pada kenyataannya
manfaat yang timbul mungkin bukan hanya pengurangan kecelakaan,tetapi juga
memperlancar lalulintas.Apabila manfaat-manfaat ini disertakan dalam analisa
maka rasio B/C tadi akan meningkat yang menunjukkan bahwa rencana proyek
tersebut lebih terbukti layak untuk dilaksanakan.
Apabila dipakai pendekatan perhitungan B/C termodipikasi maka akan
diperoleh rasio B/C sebagai berikut:
235.060 jt (3% x 900 jt)
B/C =
900 jt ( A/P,7%,30)
= 2,87.
B/C = 2,87 ini juga bisa diartikan bahwa setiap 1 rupiah yang
diinvestasikan pada prouek,akan diperoleh penghematan netto sebesar 2,87
rupiah.Dari kedua nilai rasio diatas maka rencana proyek sangat layak
dilaksanakan.

6.3.Analisa Manfaat Biaya untuk Membandingkan Alternatif.


Sering kali keputusan yang berkaitan dengan proyek-proyek pemerintah
bukan hanya mengevaluasi kelayakan sebuah alternatif ,tetapi mengevaluasi bebe
rapa alternatif dan harus diputuskan memilih yang terbaik diantara alternatif-alter
natif tersebut.Dalam pemilihan alternatif-alternatif proyek pemerintah juga bisa
dilakukan dengan analisa meningkat (incremental analysis).Prosedur ini mirip
dengan prosedur pada analisa meningkat pada pemilihan alternatif yang
menggunakan metode ROR.Alternatif do nathingtetap dipertimbangkan dalam
pemilihan ini.Artinya apabila secara individual alternatif-alternatif tersebut tidak
ada yang memiliki rasio B/C > 1 maka sebaiknya tidak ada satupun dari alternatif
alternatif tersebut yang dipilih.
Ada dua situasi yang berbeda yang harus dipertimbangkan dalam kaitannya dengan analisa manfaat biaya pada beberapa alternatif yang tersedia.
1.Bila alternatif-alternatif tersebut adalah alternatif yang bersifat
mutually exclusive maka disamping harus dievaluasi secara individual,masing-masing alternatif juga dibandingkan antara yang satu
dengan yang lainnya untuk menentukan yang terbaik.
2.Apabila tidak ada batasan sumber daya untuk melaksanakan alterna
tif-alternatif tersebut maka kita tidak perlu untuk memilih yang terbaik,namun kita harus mengevaluasi alternatif-alternatif tersebut secara individual.

Artinya semua alternatif yang mempunyai rasio B/C > 1 bisa dilaksanakan.
Dengan demikian bila kasus ini terjadi kita tidak perlu membandingkan antara
alternatif yang satu dengan alternatif yang lainnya.
Analisa rasio B/C meningkat hanya digunakan bila alternatif-alterna
tif yang dihadapi adalah altenatif-alternatif yang bersifat ,mutually exclusive
Apabila peningkatan rasio B/C dari satu alternatif ke alternatif lainnya 1
maka proyek yang membutuhkan investasi lebih besar yang harus
dipilih.Sebaliknya bila rasio B/C < 1 maka yang dipilih adalah proyek dengan
investasi yang lebih kecil.

Contoh 6.2.
Departemen pariwisata sedang mempertimbangkan 4 altenatif
proyek rekreasi,sebut saja alternatif A ,B,C,D.Besarnya manfaat ekuivalen
tahunan,ongkos ekuivalen tahunan dan nilai rasio B/C dari keempat alternatif
terlihat pada tabel 6.1.

Tabel 6.1.
alternatif

A
B
C
D

Manfaat ekuivalen

Ongkos ekuivalen
tahunan

182 jt
167 jt
115 jt
95 jt

91,5 jt
79,5 jt
88,5 jt
50 jt

Rasio B/C

1,99
2,10
1,30
1,90

Bila dilihat sepintas mungkin kita bisa terjebak untuk langsung


memilih alternatif B karena memberikan rasio B/C terbesar .Ternyata dalam
kasus ini bukan B yang terbaik.Alternatif terbaik bisa dipilih dengan analisa B/C
meningkat.
Dalam persoalan ini kita akan membandingkan alternatif D dengan O atau do
nothing Peningkatan manfaat dari alternatif O ke alternatif D adalah 95 jt dan
peningkatan ongkosnya 50 jt.Dengan demikian maka rasio B/C peningkatan
tersebut adalah :
95 jt
B/C =
= 1,90.
50 jt

Karena B/C DO 1 maka alternatif D yang dipilih.Selanjutnya alternatif D


dibandingkan dengan alternatif C sehingga diperoleh rasio B/C meningkat sbb :
115 jt - 95 jt

B/C. C-D =

20 jt

85 jt 50 jt
38,5 jt
= 0,52.
Karena B/C C-D 1 maka alternatif c ditolak.
Selanjutnya bandingkan alternatif D dengan B dan rasio B/C dari kedua alternatif
tersebut adalah :
167 jt 95 jt
72 jt
B/C B-D =
=
79,5 jt 50 jt
29 jt
= 2,44.
Nilai B/C B-D > 1 alternatif B lebih baik dari alternatif D.Dengan demikian alternatif D ditolak.Terahir adalah alternatif A.
182 jt 167 jt
B/C A-B =

15 jt
=

91,5 jt 79,5 jt

= 1,25.
12 jt

Dari sini dapat disimpulkan bahwa alternatif A adalah alternatif terbaik sehingga
alternatif inilah yang dipilih.
Secara ringkas ditunjukkan pada tabel 6.2.
alternatif

D---- O
C ---- D
B ---- D
A ---- B

manfaat
tahunan

Ongkos
tahunan

Rasio
B/C

Keputusan

95 jt
20 jt
72 jt
15 jt

50,0 jt
38,5 jt
29,5 jt
12,0 jt

1,90
0,52
2,44
1,25

Terima D
Tolak C
Terima B
Terima A

BAB VII
DEPRESIASI
7.1.Pendahuluan
Depresiasi dan pajak adalah dua faktor yang sangat penting dipertimbang
kan dalam studi ekonomi teknik.Depresiasi bukan aliran kas,namun besar dan
waktunya akan mempengaruhi pajak yang akan ditanggung perusahaan.Pajak adalah
aliran kas .oleh karenanya pajak harus dipertimbangkan seperti halnya ongkos-ong
kos peralatan,bahan,energi,tenaga kerja dsb.Pengetahuan yang baik tentang depresiasi dan sistem pajak akan sangat membantu dalam mengambil keputusan berkaitan dengan investasi.
Depresiasi adalah penurunan nilai aset/properti karena waktu dan pemakaian.Depresiasi biasanya disebabkan karena satu atau lebih faktor-faktor :
1. Kerusakan fisik karena pemakaian.
2. Kebutuhan produksi/jasa yang lebih baru dan lebih besar.
3. Penurunan kebutuhan produksi.
4. Properti/aset menjadi usang karena perkembangan teknologi.
5. Penemuan alt baru yang menghasilkan produk lebih baik dengan ongkos
yang lebih rendah dan tingkat keselamatan yang lebih memadai.

Besarnya depresiasi tahunan yang dikenakan pada suatu aset/properti tergantung


pada beberapa hal :
- Ongkos investasi dari asset
- Tanggal pemakaian awal
- estimasi masa pakainya.
- nilai sisayang ditetapkan
- metode depresiasi yang digunakan.
Besarnya depresiasi diatur sedemikian rupa sehingga perusahaan bisa menekan
jumlah pajak yang harus dibayar.Karena pertimbangan nilai waktu dari uang,biasa
nya depresiasi akan dikenakan lebih besar pada tahun-tahun awal dari pemakaian
suatu asset dan akan semakin menurun pada tahun-tahun berikutnya.
Tidak semua asset bisa didepresiasi ada syarat yang harus dipenuhi :
1. Harus dipergunakan untuk keperluan bisnis atau memperoleh penghasilan.
2.Umur ekonomisnya bisa dihitung.
3. Umur ekonomisnya lebih dari satu tahun.
4. Harus merupakan sesuatu yang digunakan,menjadi usang,atau sesuatu
yang nilainya menurun karena sebab-sebab alamiah.
Asset/properti bisa terwujud dan tidak terujud.Yang terujud bisa dilihat dan diraba
yang tidak terujud seperti hak cipta atau paten.

7.2.Akuntansi Depresiasi
Depresiasi bisa dikatakan sebagai beban tahunan yang ditujukan untuk
menutup nilai investasi awal dikurangi nilai sisa selama masa pakai ekonomis dari
asset /properti yang didepresiasi.Jadi depresiasi adalah engeluaran bukan tunai
yang mempengaruhi aliran kas melalui pajak pendapatan.
Akunntansi depresiasi adalah alat untuk mengalokasikan nilai
depresiasi dari suatu asset selama umur depresiasi.Akuntansi depresiasi akan
memberikan :
1. Pengembalian modal yang telah diinvestasikan pada asset/properti.
2.Estimasi nilai(jual) dari asset yang didepresiasi.
3. Depresiasi maksimum yang diperbolehkan oleh undang-undang.
Oleh karena tujuan 2 & 3 bisa mengakibatkan angka depresiasi yang berbeda
biasanya perusahaan membuat laporan keuangan berdasarkan dua metode
depresiasi akuntansi.bahkan ada perusahaan yang membuat 3 laporan keuangan
yang masing-masing ditujukan untuk kepentingan pajak,untuk internal,dan untuk pemegang saham.
Besarnya nilai depresiasi dalam satu tahun buku bisanya tercantum
dalam neraca pada bagian aktiva (sebelah kiri).Nilainya dibuat dalam tanda
negatif dibawah jumlah aktiva sehingga secara langsung akan mengurangi nilai
total dari aktiva tetap.Jadi depresiasi termasuk dalm pengeluaran sebelum pajak
(tex deductible expense).

7.3. Dasar Perhitungan Depresiasi.


Berbagai pengeluaran saat produksi adalah termasuk pengeluaran yang
dikurangkan dari pendapatan sebelum kena pajak.(tax deducable ).
Contoh,pengeluaran yang berkaitan dengan tenaga
kerja,bahan,perawatan,asuransi,tingkat bunga,dsb dikurangkan langsung pada saat
dipakai sehingga pendapatan kena pajak telah dikurangi terlebih dahulu dengan pe
ngeluaran-pengeluaran diatas.Disisi lain pemakaian fasilitas-fasilitas produksi seperti gedung,mesin-mesin,kendaraan hak paten dsb bukanlah pengeluaran secara
langsung ,tetapi merupakan pengeluaran tak langsung sehingga diwujudkan dalam
bentuk depresiasi.
Untuk melakukan depresiasi pada suatu properti diperlukan data-data
seperti ongkos awal,umur ekonomis,dan nilai sisa dari properti tersebut.
1. Nilai awal/dasar / depreciation base (First cost atau unadjusted Basis),adalah
harga awal dari dari asset yang terdiri dari harga beli,ongkos pengiriman,ongkos
instalasi,dan ongkos-ongkos lain yang terjadi pada saat menyiapkan asset tersebut se-hingga siap dipakai.
2. Nilai buku (Book Value)suatu asset suatu saat adalah nilai investasi setelah
dikurangi dengan total nilai depresiasi sampai saat itu.Karena depresiasi
dibebankan tiap tahun maka nilai buku dihitung pada akhir tahun sesuai deng
an konvensi akhir periode.

3.Nilai Sisa (Salvage Value)adalah nilai perkiraan suatu asset pada akhir umur depresiasinya.Nilai sisa biasanya merupakan pengurangan dari nilai jual suatu asset
tersebut dengan biaya yang dibutuhkan untuk mengeluarkan atau memindahkan asset tersebut.
Nilai sisa = nilai jual ongkos pemindahan.
(7.1)
4.Nilai jual ?pasar ((Market Value)mengacu pada jumlah uang yang diperoleh bila
asset tersebut dijual dipasar bebas.Hampir bisa dipastikan nilai buku suatu asset
tidak sama dengan nilai jualnya.Bahkan bangunan-bangunan komersial atau tanah harga jualnya selalu naik manakala nilai bukunya akan turun karena depresiasi.Nilai asset lebih penti ng dipertimbangkan apabila kita melakukan studi
ekonomi teknik untuk mengambil keputusan yang berkaitan dengan alternatifalternatif investasi.
7.4. Metode-metode Depresiasi.
1. Metode garis lurus (Straight Line atau SL)
2. Metode jumlah digit tahun (Sum Of Years Digit atau SOYD)
3. Metode kesehimbangan menurun(Declining Balance atau DB)
4. Metode dana sinking (Sinking Fund atau SF)
5. Metode unit produksi (Production Unit atau UP)

7.5.Metode Garis Lurus (SL)


Metode garis lurus didasarkan atas asumsi bahwa berkurangnya nilai suatu
asset berlangsung secara linier (proporsional)terhadap waktu atau umur dari asset
tersebut.Metode ini cukup banyak dipakai karena perhitungannya sangat sederhanaBesarnya depresiasi tiap tahun dengan metode SL dihitung berdasarkan :
Rp 39 jt - Rp 3 jt

6
Rp 6 jt
Dimana :
Dt = besarnya depresiasi pada tahun ke t
P = ongkos awal dari asset yang bersangkutan.
S = nilai sisa dari asset tersebut.
N = masa pakai (umumur) dari asset tersebut dalm tahun.
Karena asset diapresiasi sama tiap tahun maka nilai buku setelah tahun ke
t (BVt) akan sama dengan nilai awal dari asset tersebut dikurangi dengan besarnya
depresiasi tahunan dikalikan t,atau :
BVt = P t Dt

P(

P S
)t
N

(7.3)

Tingkat depresiasi (rate of depreciation), d,adalah bagian dari O S yang didepresiasi tiap tahun.Untuk metode SL,tingkat depresiasinya adalah :
d

1
N

Contoh 7.1.
Misal sebuah perusahaan membeli alt transportasi dengan harga Rp 38 jt
biaya pengiriman dan uji coba Rp 1 jt.Masa pakai ekonomis dari alt ini adalah 6 th
dengan perkiraan nilai sisa Rp 3 jt.Gunakanlah metode depresiasi garis lurus untuk
menghitung :
a) Nilai awal dari alat tersebut
b) Besarnya depresiasi tiap th
c) Nilai buku alat tersebut pada akhir tahun kedua dan akhir th ke lima
d) Buat tabel jadual depresiasi dan nilai buku selama masa pakainya
e) Plot nilai buku terhadap umur dari alat tersebut
Solusi
a) Nilai awal dari alat tersebut adalah harga ditambah harga pengiriman dan uji
coba :
P = rp 38 jt + Rp 1 jt = Rp 39 jt.

Dt

P S
N

Rp 39 jt - Rp 3 jt
6
Rp 6 jt

BVt = P t Dt
BV2 = Rp.39 jt 2x Rp.6 jt
= Rp 27 jt.
dan pada akhir th ke lima :
BV5 = Rp.39 jt 5 x Rp.6 jt
= Rp.9 jt
d) Tabel jadual depresiasi terlihat pada tabel 7.1 :

Tabel jadual depresiasi terlihat pada tabel 7.1 :


Akhir tahun

Depresiasi akhir tahun

Nilai buku

0
1
2
3
4
5
6

0
Rp.6 jt
Rp.6 jt
Rp.6 jt
Rp.6 jt
Rp.6 jt
Rp.6 jt

Rp.39 jt
Rp.33 jt
Rp.27 jt
Rp.21 jt
Rp.15 jt
Rp. 9 jt
Rp. 3 jt

e) Gambar grafik yang menunjukkan hubungan anatara nilai buku terhadap


waktu (umur alat) lihat gambar 7.1

40
35
30
39 25
20
15
10
5
0
1

6 th

3
Gambar 7.1. Grafik nilai buku Vs umur alat untuk contoh 7.1.
7.6. Metode Jumlah Digit Tahun (SOYD)
SOYD adalah satu metode yang dirancang untuk membebankan depresiasi lebih besar pada tahun-tahun awal dan semakin kecil untuk tahun-tahun
berikutnya.Ini berarti metode SOYD membebankan depresiasi yang lebih cepat
dari metode SL.

Depresiasi yang dipercepat ini erat kaitannya dengan perhitungan pajak


pendapatan.Suatu perusahaan mungkin menggunakan metode SL untuk menghitung depresiasi assetnya sehingga beban ini akan terdistribusi secara merata pada
harga pokok produk-produk yang dihasilkannya.Dengan demikian maka harga jual
dari produk-produk perusahaan tersebut relatif tetap.Disisi lain perusahaan mungkin menggunakan metode depresiasi yang dipercepat seperti SOYD sebagai dasar
perhitungan pajak pendapatan.
C ara perhitungan depresiasi dengan metode SOYD dimulai dengan
jumlah digit tahun dari 1 s/d N.Angka yang diperoleh dinamakan jumlah digit
tahun (SOYD).Besarnya depresiasi tiap tahun diperoleh dengan mengalikan ongkos
awal dikurangi nilai sisa (P S ) dari aset disebut dengan rasio antara jumlah tahun
sisa umur asset terhadap nilai SOYD.Secara matematis tiap tahun dapat ditulis :
Sisa umur asset
(ongkos awal nilai sisa)
SOYD
N t 1

(P S), (t 1,2,3.....N)
SOYD
Dt

(7.5)

Dimana :
Dt
= beban depresiasi pada tahun ke t
SOYD = jumlah digit tahun dari 1 sampai N.
Besarnya SOYD dari suatu asset yang umurnya N th adalah :
SOYD = 1+2+3+.+(N-1)+N

N (N 1)
2

(7.6)

Misalnya sebuah asset memiliki umur ekonomis 6 tahun maka jumlah


digit tahunnya adalah 1+2+3+4+5+6 = 21d atau 6 x 7/2 = 21.
Besarnya nilai buku suatu saat bisa diperoleh tanpa harus menghitung
depresiasi pada tahuntahun sebelumnya.Rumus yang dipakai untuk menghitung
nilai buku adalah :
BVt P

t(N t/2 0,5)


(P S)
SOYD

(7.7)

Tingkat depresiasi akan menurun tiap tahun.Tingkat depresiasi yang terjadi pada
tahun ke-t,dt , dihitung dari rumus :
dt

N t 1
SOYD

(7.8)

Dimana nilai ini adalah faktor pengali dari (P - S) untuk mendapatkan besarnya
depresiasi pada suatu saat.Semakin besar t maka dt akan semakin kecil sehingga
beban depresiasi juga semakin menurun dengan bertambahnya umur aset.Bila
suatu aset berumur 6 th maka tingkat depfesiasi selama umurnya ditunjukkan
pada tabel 7.2.
Tabel 7.2 Tingkat depresiasi dengan SOYD pada aset yang umurnya 6 th.
t

dt

6/21

5/21

4/21

3/21

2/21

1/21

Contoh. 7.2
Dengan menggunakan data-data pada contoh 7.1. gunakanlah metode
depresiasi SOYD untuk menghitung besarnya depresiasi dan nilai buku tiap
tahun.Plot juga besarnya nilai buku terhadap umur peralatan tersebut.

Solusi
a) Jumlah digit tahun = 1+2+3++6 = 21
Besarnya depresiasi pada tahun pertama :

N t 1
(P S)
SOYD
6 2 1
D1
(39jt 3jt)
21
6/21(36jt)
Rp.10,286jt
Dt

6 2 1
(36jt)
21
Rp.8,571jt
D 3 4/21x36jt
D2

Rp.6,857jt

Perhitungan selanjutnya sampai D6 dapat dilihat dalam tabel 7.3.Sedangkan


perhitungan nilai buku setiap akhir tahun bisa dilakukan dengan mengurangi
langsung nilai buku akhir tahun sebelumnya dengan besarnya depresiasi pada
tahun yang bersangkutan.Pada akhir tahun pertama misalnya,nilai bukunya
=Rp.39 jt Rp.10,286 jt = Rp.28,714 jt,atau dihitung dengan rumus :
t(N t/2 0,5)
(P S)
SOYD
1(6 1/2 0,5)
Rp.39jt
(39jt 3jt)
21
Rp.39jt (0,2857)(36jt)
BV1 P

Rp.28,714jt

Tabel 7.3.Jadwal depresiasi dan nilai buku untuk contoh 7.2.


Akhir
tahun

Depresiasi th
(Rp)

Nilai buku akhir th


(Rp)

0
1
2
3
4
5
6

0
6/21 x 36,00jt = 10,286 jt
5/21 x 36,00 jt = 8,571 jt
4/21 x 36,00jt = 6,857 jt
3/21 x 36,00 jt = 5,143 jt
2/21 x 36,00jt = 3,429 jt
1/21 x 36,00 jt = 1,714 jt

39,000 jt
28,714 jt
20,714 jt
13,286 jt
8,143 jt
4,714 jt
3,000 jt

Bila diplot dalam grafik maka hubungan antara umur aset dengan nilai buku
tampak seperti gambar 7.2.

7.7.Metode Keseimbangan Menurun (DB)


Seperti halnya metode jumlah digit tahun,metode kesehimbangan menurun juga menyusutkan nilai suatu aset lebih cepat pada tahun tahun awal selanjutnyasecara progresif menurun pada tahun-tahun selanjutnya.Metode ini bisa
dipakai bila umur aset lebih dari 3 tahun.Besarnya depresiasi pada tahun tertentu
dihitung dengan mengalikan suatu presentase tetap dari nilai buku aset tersebut
pada akhir tahun sebelumnya.
Dengan demikian maka besarnya beban depresiasi pada tahun ke t
adalah :
Dt = dBV t-1
(7.9)
Dimana :
d
= tingkat depresiasi yang ditetapkan.
BVt-1 = nilai buku aset pada akhir tahun sebelumnya (t-1).
Nilai buku pada akhir tahun ke-t akan menjadi :

BVt = BVt-1 Dt
(7.10)
Dengan mensubstitusikan persamaan (7.9)ke persamaan (7.10) maka akan
diperoleh :

BVt = BVt-1 d BVt-1


= BVt-1 (1-d)
(7.11)
Dengan rumus rekursif 7.11,besarnya beban depresiasi pada tahun ke-t juga bisa
dinyatakan dengan :

D t d(1 d)d 1 P

(7.12)

Demikian pula nilai buku pada akhir tahun ke-t bisa diekspresikan
dengan :

BVt (1 d) t P

(7.13)

Selama BVt nilai sisa (S) yang telah ditetapkan.


BV (jt)
40
30
20
10
0
1

6 tahun

Gambar 7.2.Grafik nilai buku Vs umur asset dengan metode depresiasi SOYD untuk contoh 7.2.

Sering kali kita ingin mendapat jawaban kapan suatu asset akan mencapai
nilai buku tertentu.Nilai buku suatu asset (BVt) akan sama dengan suatu nilai (F
setelah t tahun :
ln(F/P)
(7.14)
ln(1 d)
Atau bila kita ingin mengetahui tingkat depresiasi pada saat itu maka jawabannya
bisa diperoleh dengan menggunakan formula :
t

F
d 1 [ ]1/t
(7.15)
P
Tentu dari sini kita bisa menentukan kapan suatu asset akan mencapai nilai sisa
(setelahdidepresiasi).Dengan mengganti F dengan S pada persamaan 7.14.maka
akan diperoleh t yang menyatakan waktu saat mana nilai ssa yang ditetapkan akan
sama dengan nilai buku dari asset tersebut.
Hampir selalu kita jumpai bahwa perhitungan depresiasi dengan metode
DB tidak akan menurunkan nilai buku suatu asset persis pada pada besarnya nilai
sisa yang telah ditetapkan.Bila besarnya depresiasi yang telah dihitung dengan
metode DB membawa nilai buku ke suatu nilai yang kurang dari nilai sisanya maka
besarnya depresiasi harus disesuaikan sedemikian rupa sehingga nilai sisa pas dicapai pada akhir umur asset tersebut.

Prosentase maximum yang diperbolehkan dipakai pada metode DB adalah


200% dari tingkat depresiasi lurus.Jadi bila metode garis lurus mendepresiasi suatu
asset dengan tingkat 1/N tiap tahunnya maka prosentase tetap maximum yang diperbolehkan dipakai pada model DB adalah 2/N.Bila suatu perusahaan menggunakan batas max ini maka metode DB secara lebih spesifik dinamakan metode DDB
(doble declining balance).
Contoh 7.3.
Selesaikan kembali soal 7.1. dengan metode DDB.
Solusi
Dengan menggunakan DDB maka tingkat depresiasi yang dipakai adalah
200% dari tingkat depresiasi dengan garis lurus.Metode garis lurus pada soal tersebut menggunakan tingkat depresiasi 1/N = 1/6 maka dengan metode DDB tingkat
depresiasi yang digunakan adalah 2/6
Depresiasi tahun pertama didapat dari :
D1 = d x Bvo = d x P
= 1/3 x Rp 39 jt
= Rp 13 jt

Nilai buku pada tahun pertama :


BV1 = Bvo D1 = P D1
= Rp.39 jt Rp. 13 jt
= Rp. 26 jt.
Selanjutnya hasil-hasil perhitungannya terlihat pada tabel 7.4.
Tabel 7.4 Jadwal Depresiasi dengan Metode DDB untuk contoh 7.3.

Akhir
tahun

0
1
2
3
4
5
6

Depresiasi tahun(jtRp)

1/3 x
1/3 x
1/3 x
1/3 x
1/3 x
1/3x

0
39
= 13.00
26 = 8,67
17,33 = 5,77
11,56 = 3,85
7,71 = 2,57
5,14 = 1,71

Nilai buku akhir tahun( jtRp)

39,00
26,00
17,33
11,56
7,71
5,14
3,43

Tampak pada tabel diatas bahwa nilai buku asset pada akhir umur depresiasinya > dari nilai sisa yang ditetapkan.Oleh karenanya besarnya besarnya depresiasi
pada tahun ke 6 harus disesuaikan sedemikian rupa sehingga nilai buku pada akhir
tahun ke 6 adalah Rp. 3 jt.Dengan demikian besarnya depresiasi pada akhir tahun ke
6 bukan Rp,1,71 jt tetapi Rp.2,14 jt.
7.8.Metode Depresiasi Sinking Fund (SF)
Asumsi dasar yang digunakan pada metode depresiasi sinking fund adalah
penurunan nilai suatu asset semakin cepat dari suatu saat berikutnya.Peningkatan
ini disebabkan karena disertakannya konsep nilai waktu dari uang sehingga besarnya
depresiasi akan meningkat sehirama dengan tingkat bunga yang berlaku.Dengan kata lain,besarnya depresiasi akan lebih kecil pada tahun-tahun awal periode depresiasi.Dengan sifat yang demikian maka pemakaian metode depresiasi sinking fund tidak akan menguntungkan bila ditinjau dari sudut pajak yang harus ditaggung perusahaan.Alasan inilah yang menyebabkan metode ini jarang dipakai.
Besarnya nilai patokan depresiasi tiap tahun dihitung dari konversi nilai
yang akan didepresiasi (P S) selama Nperiode ke nilai seragam tahunan dengan bunga sebesar i% atau :
A = (P S )(A/F,i%,N)
(7.16)
Dengan demikian maka besarnya depresiasi pada tahun ke-t adalah jumlah
dari nilai patokan depresiasi (A) dengan bunga yang dihasilkannya.

Dengan demikian maka besarnya depresiasi pada tahun ke-t adalah jumlah
dari nilai patokan depresiasi (A) dengan bunga yang dihasilkannya.
Jadi depresiasi pada tahun pertama adalah A,pada tahun kedua adalah A (1 + i),dan
t 1
pada tahun ke- t adalah A(1 i) atau sama dengan A(F/P,i%,t-1).
Dari sini bisa dihitung besarnya depresiasi pada tahun ke-t adalah :
Dt = (P S)(A/F,i%,N)(F/P,i%,t-1)
(7.17)
Besarnya deprsiasi ini juga bisa dinyatakan dengan selisih nilai buku pada
suatu tahun (t) dengan nilai buku pada tahun sebelumnya (t-1).Dengan lain
pernyataan :
Dt = BV t-1 BVt
(7.18)
Diana nilai buku pada periode t adalah nilai awal asset tersebut setelah dikurangi
akumulasi nilai patokan depresiasi maupun bunga yang terjadi sampai saat itu.
Atau dapat dirumuskan :

BVt = P-A(F/A,i%,t)

(7.19)

BVt = P- (P-S)(A/F,i%,N)(F/A,i%,t)

(7.20)

Atau,

Contoh 7.4.
Kembali pada soal 7.1. Hitunglah depresiasi yang terjadi serta nilai bukunya selama periodev depresiasi dengan mengasumsikan MARR sebesar 12% dengan
metode depresiasi sinking fund.
Solusi
Besarnya depresiasi tiap tahun bisa dihitung dengan terlebih dahulu mencari nilai depresiasi dasarnya,yaitu :
A = (P S)(A/F,i%,N)
= (39 jt- 3 jt)(A/F,12%,6)
= 36 jt (0,12323)
= Rp.4,436 jt
Besarnya depresiasi pada tahun pertama adalah sama dengan nilai depresiasi
dasar,yaitu Rp.4,436 jt.Atau bisa juga langsung dihitung dengan rumus 7.17. sbb :
Dt = (P S)(A/F,i%,N)(F/P,i%,t-1)
= (36 jt)(A/F,12%,N)(F/P,12%,t-1)
= 36 jt (0,12323)(1)
= Rp.4,436 jt.

Nilai buku pada akhir tahun pertama adalah nilai awal dikurangi besarnyadepresiasi
pada tahun pertama,yaitu Rp,39 jt Rp.4,436 jt = Rp. 34,564 jt.
Atau bisa juga langsung dihitung dengan rumus 7.19 atau 7.20 seperti berikut :
BVt = P-A(F/A,i%,t)
= 39 jt 34,436 jt (F/A,12%,1)
= 39 jt 34,436 jt (1)
= Rp.34,546 jt
Selanjutnya hasil-hasil perhitungan selengkapnya dari besarnya depresiasi dan nilai
buku setiap tahun sampai akhir periode depresiasi terlihat pada tabel dibawah :
Tabel 7.5 Jadwal depresiasi dan nilai buku dengan metode sinking fund.
Akhir
tahun
0
1
2
3
4
5
6

Depresiasi tahun(jtRp)
0
4,436
4,968
5,565
6,232
6,980
7,819

Nilai buku akhir tahun( jtRp)


39,000
34,564
29,569
24,031
17,799
10,819
3,000