Anda di halaman 1dari 6

TAFSIR TAHLILI

Oleh Syafaat
A. Pendahuluan
Banyak cara pendekatan dan corak tafsir yang mengandalkan nalar, bila bertitik
tolak pada pandangan Al-Farmawi yang membagi metode tafsir menjadi empat
macam, yaitu Tahlili, Ijmaliy, Muqaran dan Maudlu’i. Yang populer dari keempat
metode yang disebutkan itu adalah metode tahlili, dan metode maudlu’iy. Metode
tahlili atau yang dinamai Baqir Al-Sadr sebagai metode tajzi’y, adalah satu metode
tafsir yang mufassirnya berusaha menjelaskan kandungan ayat-ayat Al-Quran dari
berbagai segi dengan memperhatikan runtutan ayat-ayat Al-Quran sebagaimana
tercantum di dalam mushaf.

B. Definisi Tafsir Tahlili


Penafsiran al-Quran dengan metode tahlili berarti penafsiran ayat-ayat Al-Quran
dengan cara memaparkan segala aspek yang terkandung di dalam ayat-ayat yang
ditafsirkan, disertai penerangan makna-makna yang tercakup di dalamnya.
Penerangan makna-makna tersebut bersesuaian dengan keahlian dan kecenderungan
mufassir yang menafsirkannya. Dalam prakteknya, mufassir biasanya menguraikan
makna ayat demi ayat; surat demi surat sesuai dengan urutan yang terdapat di dalam
.mushaf Utsmani
Muhammad Baqir as-Shadr (dalam Hamid, 1997:32) menyebut tafsir metode
tahlili dengan tafsir tajzi’ie yang secara harfiah berarti tafsir yang penguraiannya
.(berdasarkan bagian-bagian (parsial
Tafsir dengan metode tahlili adalah tafsir yang berusaha untuk menerangkan arti
ayat-ayat al-Quran dari berbagai segi, berdasarkan urutan-urutan ayat atau surah
dalam mushhaf, dengan menonjolkan kandungan lafadz-lafadznya, hubungan ayat
atau surah (munasabah), sebab-sebab turunnya, hadis-hadis yang berhubungan,
pendapat para mufassir terdahulu dan pendapat mufassir sendiri.
Metode tahlili banyak dipergunakan oleh ulama klasik, akan tetapi di antara
mereka ada yang mengemukakan semua hal di atas secara panjang lebar (ithnab),
seperti al-Alusy, al-Fakhr al-Razy, al-Qurthuby, dan al-Thabary; ada juga yang
mengemukakannya dengan singkat (ijaz), seperti Jalal al-Din al-Suyuthy, Jalal al-Din
al-Mahally dan as-Sayid Muhammad Farid Wajdy; dan ada pula yang mengambil
langkah pertengahan (mutawassith), tidak ithnab dan tidak pula ijaz, seperti Imam al-
Baidlawy, Syaikh Muhammad ‘Abduh, al-Naisabury dll. Sekalipun mereka sama-
sama menafsirkan al-Quran dengan metode tahlili, akan tetapi corak atau warna tahlili
masing-masing berbeda. Ada beberapa corak dari tafsir tahlili yaitu: tafsir fiqhy, tafsir
shufy, tafsir falsafy, tafsir ’ilmy dan tafsir adaby-ijtima’iy.

C. Ciri-ciri Tafsir Tahlili


Untuk mengetahui ciri-ciri tafsir metode tahlili, diantaranya adalah dengan
memperhatikan kitab-kitab tafsir tahlili, baik yang berbentuk ma’tsur maupun ra’y.
Kitab tafsir tahlili yang mengambil bentuk ma’tsur di antaranya: Jami’ al-Bayan ‘an
Ta’wil Ayi Al-Quran(Ibn Jarir al-Thabari), Ma’alim al-Tanzil (al-Baghawi), Tafsir
Al-Quranal-‘Azhim (Ibn Katsir), dan Al-Durr al-Mantsur fi al-Tafsir bi al-Ma’tsur
(as-Suyuthi). Adapun kitab tafsir tahlili yang mengambil bentuk ra’y di antaranya:
Tafsir al-Khazin (al-Khazin), Anwar al-Tanzil wa Asrar al-Ta’wil (al-Baidhawy), al-
Kasysyaf (al-Zamakhsyari), Tafsir al-Manar (Muhammad Abduh dan Muhammad
Rasyid Ridha). Dari beberapa kitab tersebut, dapat disebutkan bahwa ciri-ciri tafsir
:metode tahlili di antaranya
Mengemukakan korelasi (munasabah) antarayat maupun antarsurat (sebelum .1
.(maupun sesudahnya
.Menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat .2
.Menganalisis mufradat dan lafadz dengan sudut pandang linguistik .3
.Memaparkan kandungan ayat beserta maksudnya secara umum .4
Menjelaskan hal-hal yang bisa disimpulkan dari ayat yang ditafsirkan, baik .5
.yang berkaitan dengan hukum fiqh, tauhid, akhlak, atau hal lain
Dengan demikian, tampak bahwa penafsiran al-Quran metode tahlili merupakan
merupakan penafsiran yang bersifat luas dan menyeluruh (komprehensif). Dan juga
dapat dimengerti, bahwa ciri paling inti dari tafsir metode tahlili bukan pada
penafsiran Al-Quran dari awal mushaf sampai akhir, melainkan terletak pada pola
.pembahasan dan analisisnya

D. Kelebihan dan kekurangan Tafsir Metode Tahlili


Sebagaimana metode-metode yang ada lainnya, metode tahlili tidak lepas dari
:kelebihan dan kekurangan. Kelebihan dari tafsir metode tahlili di antaranya
Mempunyai ruang lingkup yang luas .1
Sebagaimana telah disebutkan di muka, tafsir metode tahlili memungkinkan
mufassir membawanya ke dalam dua bentuk: ma’tsur dan ra’y. Bentuk ra’y sendiri
masih dapat dikembangkan menjadi berbagai corak penafsiran sesuai dengan keahlian
dan kecederungan (kejiwaan) mufassirnya. Dengan keluasan ruang lingkupnya,
metode tahlili dapat menampung berbagai ide dan gagasan dalam upaya penafsiran
.Al-Quran
Memuat berbagai ide dan gagasan .2
Karena keluasan ruang lingkupnya, mufassir pun relatif mempunyai kebebasan
dalam mengajukan ide-ide dan gagasan-gagasan baru. Sehingga dapat dipastikan,
.pesatnya perkembangan tafsir metode tahlili disebabkan oleh kebebasan tersebut
Selain mempunyai kelebihan, metode tahlili tak luput dari kekurangan. Adapun
:kekurangan dari metode tahlili di antaranya
Menyebabkan petunjuk Al-Quran (tampak) parsial .1
Metode tahlili memungkinkan mufassir memberi penafsiran yang berbeda pada
satu ayat dengan ayat lain yang serupa. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perhatian
terhadap ayat-ayat atau lafadz-lafadz yang serupa. Dalam metode tahlili juga terdapat
unsur ketidakkonsistenan mufassir. Meski demikian, ketidaksonsistenan ini
merupakan konsekuensi logis dari penafsiran metode tahlili, karena dalam metode ini,
.mufassir tidak dibebani keharusan untuk mengomparasikan ayat dengan ayat
Melahirkan penafsiran subyektif .2
Keluasan ruang lingkup metode tahlili, selain merupakan kelebihan, juga
merupakan kelemahan mufassir dalam menafsirkan Al-Quran secara subyektif.
Terbukanya pintu penafsiran yang lebar pada metode ini terkadang menafsirkan Al-
Quran berdasarkan hawa nafsu dengan mengesampingkan kaidah-kaidah yang
berlaku. Akibatnya, penafsiran menjadi kurang tepat, dan maksud ayat pun menjadi
berubah. Sikap subyektif pada penafsiran metode tahlili mencapai dominasinya
terutama pada bentuk tafsir ra’y. Umumnya, sikap subyektif tersebut berangkat dari
fanatisme madzhab secara berlebihan. Kuatnya dominasi penafsiran subyektif, tidak
lain juga merupakan konsekuensi logis dari metode tahlili, karena, sikap subyektif
mendapat tempat lebih luas dibanding pada metode penafsiran yang lain. Kondisi
demikian akhirnya membuat metode ini dirasa kurang representatif dari sudut
.pandang objektivitas dan signifikansi keilmuan
Membuka pintu masuk pemikiran Israiliyyat .3
Masuknya orang-orang Yahudi ke dalam lingkungan Islam, berandil besar
dalam tersebar luasnya Israiliyyat beserta pengaruhnya di kalangan umat Islam, tak
terkecuali di kalangan mufassir. Kaitannya dengan tafsir metode tahlili, keluasan
ruang lingkup metode tahlili berimbas pada keleluasaan mufassir dalam mengajukan
.ide, gagasan, dan pemikiran tak terkecuali pemikiran Israiliyyat
Sebenarnya tidak ada masalah dengan Israiliyyat sepanjang keberadaannya tidak
dikaitkan dengan upaya pemahaman Al-Quran (penafsiran). Tapi bila terjalin
hubungan antara Israiliyyat dengan penafsiran Al-Quran, terbentuklah opini tunggal:
kisah Israiliiyat tersebut merupakan petunjuk Allah. Padahal, belum tentu ada
.kecocokan antara kisah Israiliyyat tersebut dengan maksud Allah
Pemikir Aljazair kontemporer, Malik bin Nabi menilai bahwa upaya para ulama
menafsirkan Al-Qurand engan metode tahlili itu, tidak lain kecuali dalam rangka
upaya mereka meletakkan dasar-dasar rasional bagi pemahaman akan kemukjizatan
Al-Qur’an. Namun, sebenarnya kemukjizatan Al-Quran itu tidak ditujukan kepada
ummat Islam, melainkan kepada mereka yang tidak percaya. Hal ini dapat dibuktikan
dengan memperlihatkan rumusan definisi mukjizat dimana terkandung di dalamnya
unsur tahaddiy (tantangan), sedangkan orang muslim tidak perlu ditantang karena
telah menerima. Bukti kedua dapat dilihat dari teks ayat-ayat yang berbicara tentang
keluarbiasaan Al-Quran yang dimulai dengan kalimat “Inkuntum fi raib” atau
“Inkuntum shadiqin”.
Kalau tujuan penggunaan metode tahlili seperti yang diungkapkan Malik di atas,
maka untuk masyarakat muslim dewasa ini, paling tidak persoalan tersebut bukan lagi
merupakan persoalan yang mendesak. Karenanya, untuk masa kini, pengembangan
metode penafsiran menjadi amat dibutuhkan, apalagi jika kita sependapat dengan
Baqir Al-Sadr –Ulama Syi’ah Iraq– yang menilai bahwa metode tersebut telah
menghasilkan pandangan parsial serta kontradiksi dalam kehidupan umat Islam.
Dapat ditambahkan bahwa para penafsir yang menggunakan metode ini tidak jarang
hanya berusaha menemukan dalil atau lebih tepat dalih pembenaran pendapatnya
dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Selain itu, terasa sekali bahwa metode Tafsir Bi ar-Ra’yi
dengan cara tahlili ini tidak mampu menjawab tuntas persoalan-persoalan yang
dihadapi sekaligus tidak mampu memberi pagar-pagar metodologis yang dapat
mengurangi subyektifitas mufassirnya.

E. Urgensi Metode Tahlili


Meskipun mengandung kekurangan, keberadaan metode tahlili—harus diakui—
telah memberikan sumbangan besar bagi pelestarian dan pengembangan khazanah
intelektual Islam, khususnya di bidang tafsir Al-Quran. Berdasarkan fakta yang ada,
metode ini telah melahirkan karya-karya besar dan monumental. Sehingga, urgensitas
.metode ini harus diakui
Karena metode tahlili menjelaskan kandungan Al-Quran dari berbagai segi,
dapat dikatakan, metode tahlili lebih dapat diandalkan jika tujuan yang ingin dicapai
adalah pemahaman yang luas (pemahaman dalam berbagai aspek) terhadap
kandungan Al-Quran. Dengan kata lain, urgensi metode tahlili terletak pada
keberadaannya yang mampu memberi pemahaman lebih luas (berbagai aspek)
dibanding dengan metode tafsir yan lain.

F. Perbedaannya Tafsir Metode Tahlili dengan Metode Maudhu'i


a. Pembahasan ayat dalam metode tafsir tahlili mengikuti susunan ayat dan surat di
dalam mushhaf, sedangkan metode maudhu’i pembahasan ayat mengacu kepada
tema/topik yang telah ditetapkan dan disusun berdasarkan kronologis masa
turunnya ayat.
b. Uraian pembahasan tafsir tahlili biasanya meliputi segala segi yang ada dalam ayat
atau surat sesuai dengan urutannya dalam mushhaf, sedangkan tafsir maudhu’i
pembahasannya terbatas atau terikat pada segi-segi dari tema/topik yang sudah
ditetapkan.
c. Pembahasan tafsir tahlili lazimnya mengemukakan arti kosa kata ayat disertai
penjelasan dan analisis sesuai dengan metode tafsirnya. Sedangkan metode
maudhu’i penafsir tidak mengemukakan hal yang demikian kecuali sekedar yang
diperlukan.
d. Dalam tafsir tahlili sulit dibahas secara tuntas, sesuatu judul/topik pembahasan,
karena belum lengkapnya penjelasan aspek-aspek judul dalam sesuatu ayat.
Sehingga perlu diterangkan, bahwa pembahasan selengkapnya ada pada ayat yang
sebelumnya atau sesudahnya. Sedangkan tafsir maudhu’i dapat membahas sesuatu
judul/topik secara tuntas dan utuh.
e. Dalam tafsir tahlili, pembahasan munasabah berkisar antara persesuaian ayat yang
ditafsirkan dengan ayat-ayat yang terletak sebelumnya dalam tertib mushhaf,
sedangkan dalam tafsir maudhu’i, munasabah ayat berkisar antara persesuaian
ayat yang satu topik.
f. Dalam tafsir tahlili untuk memahami sesuatu judul/topik pembahasan tidak mudah,
karena pembahasan judul/topik tersebar dalam beberapa ayat/surat. Sedangkan
dalam tafsir maudhu’i masalah al-Quran dapat diidentifikasi dan disusun dalam
bentuk pembahasan tersendiri, terpisah antara satu dengan yang lainnya, sehingga
mampu untuk mengungkap petunjuk al-Quran secara memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA
Faishal Himawan. 2007. MetodeTafsir Tahlili. Makalah diakses dari
www.scribd.com/doc/8009592/
Prof Dr. Muhammad Ali Ash-shabuuniy. 1991. At-Tibyan fi Ulumil Quran.
Damaskus: Maktabah Al Ghozali..
Prof. DR. M. Quraisy Syihab. 2002. Wawasan Al Qur’an, Tafsir Maudlu’I atas
pelbagai persoalan umat. Bandung: Penerbit Mizan