Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan ini setiap orang pasti mengalami masalah maupun
tekanan yang pada akhirnya saat koping individu tidak efektif lebih sering
mengakibatkan terganggunya kesehatan mental atau jiwa seseorang.
Terganggunya kesehatan mental atau jiwa seseorang mengakibatkan penyakit
jiwa. Salah satu penyakit jiwa yang sering terjadi adalah Skizoprenia, yaitu
merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai dimana mana.
( Maramis, 2004 : 215 ). Skizoprenia adalah gangguan psikotik yang kronis,
mengalami kekambuhan dengan manifestasi banyak dan tidak khas.
Berdasarkan data yang penulis peroleh dari RSJD Dr. Amino
Gondohutomo Semarang periode tahun 2002/2003 jumlah pasien rawat inap
sebanyak 3604 pasien dan jumlah pasien dengan Skizoprenia adalah 2721
pasien. Angka kejadian Skizoprenia diseluruh dunia diperkirakan 0,2 0,8 %
setahun ( Maramis, 1980 : 218 ). Sedangkan di Amerika Serikat angka
kejadiannya adalah 1 per 1000 orang penduduk ( Widjaja Kusuma, 1997 :
575). Gejala umum dari pasien dengan Skizoprenia adalah halusinasi, yaitu
persepsi sensori yang palsu yang terjadi tanpa rangsang eksternal yang nyata.
(Barbara, 1997 : 575 ).
Asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi adalah agar klien
mampu mengontrol halusinasinya, sehingga klien tidak terbawa dalam
halusinasinya terus menerus. Tindakan yang sering dilakukan untuk
mengontrol halusinasi adalah dengan mengusir atau menolak halusinasi jika
halusinasi itu muncul, melaporkan pada perawat atau seseorang yang biasa
diajak ngobrol, malakukan kegiatan yang bermanfaat dan mengkonsumsi obat
secara teratur.
Pemberian asuhan keperawatan merupakan proses terapeutik yang
melibatkan hubungan kerja sama antara perawat, keluarga dan masyarakat.
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien halusinasi, perawat

melakukan intervensi keperawatan dengan pendekatan komunikasi terapeutik,


dan membimbing klien untuk kembali ke realita. Dari uraian di atas penulis
akan mencoba memahami dan menjelaskan tentang penatalaksanaan
keperawatan pasien dengan halusinasi pendengaran.
B. Tujuan Penulisan
a. Tujuan Umum
Setelah menyelesaikan kotrak belajar ini saya mampu memahami
dan menjelaskan penatalaksananaan keperawatan pasien dengan halusinasi
pendengaran dan penglihatan.
b. Tujuan khusus
Setelah tersusunnya laporan kontrak belajar ini, diharapkan saya dapat:
1.

Menjelaskan tentang pengertian halusinasi

2.

Menyebutkan jenis-jenis halusinasi

3.

Menyebutkan etiologi dengan halusinasi

4.

Menyebutkan penyebab halusinasi pendengaran

5.

Menyebutkan tahapan intensitas halusinasi

6.

Strategi dalam melakukan asuhan keperawatan dengan pasien halusinasi


pendengaran

7.

Penatalaksanaan pada pasien halusinasi pendengaran

C. Sumber Pembelajaran
Johnson, B. S. (1997), Adaptation and Growth Psychiatric-Mental Health
Nursing, 4th Edition, Philadelphia: Lippincot-Raven Publishers,.
Keliat dkk. (1998), Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
Kusuma, W. (1997), Dari A Sampai Z Kedaruratan Psikiatrik Dalam Praktek,
Professional Books, Jakarta.
Maramis, W. F. (2004), Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa, Airlangga University
Press, Surabaya.

Rasmun ( 2001 ), Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi


dengan Keluarga, untuk Perawat dan Mahasiswa Keperawatan. PT. Fajar
Interpratama, Jakarta
Stuart, G. W & Sundeen, SJ, (1995), Pocket Guide To Psychiatric Nursing,
Edisi 3, Alih Bahasa Achir Yani S. Hamid, Penerbit buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
Townsend, M. C. (1998), Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada
Keperawatan Psikiatrik, Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta.
www.halusinasi.com
D. Strategi Pembelajaran
Srategi pembelajaran yang saya lakukan
Mencari dan membaca buku referensi di perpustakaan kampus atau
perpustakaan daerah/wilayah sekitar
Mempelajari materi dari dosen
Searching journal di internet

BAB I
TINJAUAN TEORI
A. DEFINISI
Halusinasi adalah persepsi sensori yang palsu yang terjadi tanpa
rangsang ensternal yang nyata. ( Barbara, 1997 : 575 ).
Halusinasi adalah penerapan tanpa adanya rangsang apapun pada
panca indra seorang pasien, yang terjadi dalam keadaan sadar atau bangun,
dasarnya mungkin organik, fungsional, psikotik ataupun histerik. ( Maramis,
2004 : 119 ).
Halusinasi adalah suatu sensori persepsi terhadap sesuatu hal tanpa
stimulus dari luar. Haluasinasi merupakan pengalaman terhadap mendengar
suara Tuhan, suara setan dan suara manusia yang berbicara terhadap dirinya,
sering terjadi pada pasien skizoprenia. (Stuart and Sundeen, 1995 : 501)
Halusinasi yang sering terjadi pada gangguan persepsi sensori adalah
halusinasi akustik (auditorik). Halusinasi ini sering berbentuk :
1. Akoasma

:Suara-suara yang kacau balau yang tidak dapat dibedakan


dengan jelas.

2. Phonema

:Suara-suara yang berbentuk suara jelas yang berasal dari


manusia, sehingga klien seperti mendengar suara tertentu.

Halusinasi pendengaran merupakan halusinasi yang paling umum.


Lien bisa mendengar suara seperti suara Tuhan, suara setan atau suara orangorang terdekat yang diterima sebagai suatu yang berbeda dari pemikiran klien.
B. Jenis-Jenis Halusinasi
Halusinasi menurut Rasmun (2001), itu dapat menjadi :

Halusinasi

penglihatan

(visual, optik): tak berbentuk(sinar, kilapan atau pola cahaya) atau yang
berbentuk(orang, binatang, barang yang dikenal) baik itu yang berwarna atau
tidak

Halusinasi
(autif, akustik): suara manusia, hewan, binatang

pendengaran

mesin, barang, kejadian

alamiah atau musik

Halusiansi

Penciuman

Halusinasi

pengecap

(olfaktorius): mencium sesuatu bau

(gustatorik) : merasa/ mengecap sesuatu

Halusinasi peraba (taktil) :


merasa diraba, disentuh, ditiup,disinari atau seperti ada ulat bergerak di bawah
kulitnya

Halusiansi kinestetik : merasa badannya bergerak dalam sebuah ruangan, atau


anggota badannya bergerak (umpamanya anggota badan bayangan atau
phantom limb)
Halusinasi viseral : perasaan tertentu tibul didalam tubuhnya
Halusinasi Hipnagogik : terdapat ada kalanya pada seorang yang normal, tetap
sebelum tertidur persepsi sensorik bekerja salah
Halusinasi hipnopompik : seperti pada nomor 8, tetapi terjadi tepat sebelum
terbangun samasekali dari tidurnya. Disamping itu ada pula pengalaman
halusinatorik dalam impian yang normal
Halusinasi histerik : Timbul pada nerosa histerik karena konflik emosional
C. ETIOLOGI
Menurut Townsend ( 1998 : 156 ), kemungkinan etiologi pada klien
dengan halusinasi adalah :
1. Panik
2. Menarik diri
3. Stres berat yang mengancam ego yang lemah
Faktor pencetus :
1.

Biologis

Abnormalitas otak yang menyebabkan respon neurobiologi yang


maladptif yang baru mulai dipahami, yang termasuk dalam hal ini adalah
sebagai berikut :
a. Penelitian pencitraan otak sudah mulai menunjukkan keterlibatan otak
yang lebih luas dalam perkembangan Skizoprenia.
Lesi pada area kontrol, temporal dan limbik paling berhubugan dengan
prilaku psikotik.
b. Beberapa kimia otak dikaitkan dengan Skizoprenia, hasil penelitian
menunjukkan bahwa :
-

Dopamin neurotransmitter yang berlebihan

Ketidakseimbangan antara dopamin dan neurotransmitter lain

Masalah masalah pada reseptor dopamin.

Para ahli biokimia mengemukakan bahwa halusinasi merupakan hasil


dari respon metabolik terhadap stres yang menyebabkan lepasnya
neurokimia halusinogenik ( Stuart dan Sundeen, 1991 : 309 ).
2. Psikologis
Teori psikodinamik untuk terjadinya respon neurobiologik yang
maladaptif belum didukung oleh penelitian. ( Stuart dan Sundeen, 1991 :
309 ).
3. Sosio Budaya
Stres yang menumpuk dapat menunjang terhadap awitan Skizoprenia
dan gangguan psikotik lain tapi tidak diyakini sebagai penyebab utama
gangguan. ( Stuart dan Sundeen, 1991 : 310 ).
Pohon Masalah

Menurut Rasmun ( 2001 : 42 ) pohon masalah klien dengan halusinasi


digambarkan pada bagan berikut :
Resiko tinggi terhadap
Kerusakan komunikasi
Verbal

Resiko terhadap tindakan


yang diarahkan Penatalaksanaan
Perubahan kekerasan
persepsi sensori:
halusinasi pendengaran
dan
regimen terapeutik
pada lingkungan.
penglihatan ( core problem )
tak efektif

Isolasi sosial :
menarik diri

Kurang
pengetahuan
keluarga merawat
klien

Perubahan proses pikir :


Waham omatis

Gangguan konsep diri :


Harga Diri Rendah Kronis
Dari pohon masalah ditemukan masalah keperawatan yaitu :
1. Resiko tinggi terhadap tindakan kekerasan yang diarahkan pada
lingkungan.
2. Perubahan persepsi sensori
3. Isolasi sosial : menarik diri
4. Gangguan konsep diri : harga diri rendah
5. perubahan proses pikir : waham
Diagnosa yang dapat diangkat yaitu :
1.

Resiko terhadap tindakan kekerasan yang diarahkan pada lingkungan


yang berhubungan dengan halusinasi akustik dan visual.

2.

Halusinasi akustik dan visual berhubungan dengan isolasi sosial :


menarik diri

3.

Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan harga diri rendah


kronis.

4.

Isolasi sosial : menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah

5.

Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan koping


individu tak efektif.

D. Penyebab Halusinasi
Halusinasi

pendengaran paling sering terdapat pada klien

Skizoprenia. Halusinasi terjadi pada klien skizoprenia dan gangguan manik


(Shives 1998). Halusinasi dapat timbul pada skizofrenia dan pada psikosa
fungsional yang lain, pada sindroma otak organik, epilepsi (sebagai aura),

nerosa histerik, intoksikasi atropin atau kecubung, zat halusinogenik dan


pada deprivasi sensorik (Maramis 1998).
Menurut Barbara ( 1997 : 575 ) klien yang mendengar suara
suara misalnya suara Tuhan, iblis atau yang lain. Halusinasi yang dialami
berupa dua suara atau lebih yang mengomentari tingkah laku atau pikiran
klien.

Suara suara yang terdengar dapat berupa perintah untuk bunuh diri

atau membunuh orang lain.


E. Tahapan Intensitas Halusinasi
Tingkat intensitas halusinasi ( Stuart dan Sundeen, 1995 : 328 ) :
Tahap I : Menenangkan Ansietas tingkat sedang.
a. Tingkat :
Secara umum halusinasi bersifat menyenangkan
b. Karakteristik
Orang yang berhalusinasi menga lami keadaan emosi seperti ansietas,
kesepian, merasa bersalah, dan takut serta mencoba untuk memusatkan
pada penenangan pikiran untuk mengurangi ansietas, individu mengetahui
bahwa pikiran dan sensori yang dialami tersebut dapat dikendalikan jika
ansietasnya bisa diatasi ( Non Psikotik ).
c. Prilaku klien
-

Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai.

Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara.

Gerakan mata yang cepat.

Respon verbal yang lamban.

Diam dan dopenuhi oleh sesuatu yang mengasyikkan.

Tahap II : Menyalahkan Ansietas tingkat berat.


a. Tingkat
Secara umum halusinasi menjijikkan.
b. Karakteristik
Pengalaman sensori bersifat menjijikkan dan menakutkan, orang yang
berhalusinasi mulai merasa kehilangan kendali dan mungkin berusaha

untuk menjauhkan dirinya dari sumber yang dipersepsikan, individu


mungkin merasa malu karena pengalaman sensorinya, dan menarik diri
dari orang lain ( Non Psikotik ).
c. Prilaku klien
-

Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas, misal


peningkatan tanda tanda vital.

Penyempitan kemampuan konsentrasi.

Dipenuhi dengan pengalaman sensori dan mungkin kehilangan


kemampuan untuk membedakan antara halusinasi dengan realita.

Tahap III : Mengendalikan Ansietas tingkat berat


a. Tingkat
Pengalaman sensori menjadi penguasa
b. Karakteristik
Orang yang berhalusinasi menyerah untuk melawan pengalaman
halusinasi dan membiarkan halusinasi menguasai dirinya, isi halusinasi
dapat berupa permohonan, individu mungkin mengalami kesepian jika
pengalaman sensori tersebut berakhir ( Psikotik ).
c. Prilaku klien
-

Lebih

cenderung

mengikuti

petunjuk

yang

diberikan

oleh

halusinasinya dari pada menolaknya.


-

Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.

Rentang perhatian hanya beberapa menit.

Gejala fisik ansietas berat ( berkeringat, tremor, ketidakmampuan


untuk mengikuti petunjuk ).

Tahap IV : Menaklukkan Ansietas tingkat panik


a. Tingkat
Secara umum halusinasi menjadi lebih rumit dan saling terkait dengan
delusi.
b. Karakteristik

Pengalaman sensori mungkin menakutkan jika individu tidak mengikuti


perintah, halusinasi bisa berlangsung dalam beberapa jam atau beberapa
hari bila tidak ada intervensi terapeutik ( Psikotik ).
c. Prilaku klien
-

Perilaku menyerang seperti panik.

Potensial melakukan bunuh diri.

Amuk, agitasi, menarik diri, dan katakonik.

Tidak mampu berespon terhadap lingkungan.

F. Strategi Merawat Pasien Dengan Halusinasi


Asuhan keperawatan pada klien dengan halusinasi ditekankan
ditekankan agar klien dapat mengontrol halusinasinya, sehingga klien tidak
larut dalam halusinasinya. Tindakan yang sudah lazim yang dilakukan untuk
mengontrol halusinasi adalah dengan cara menghardik halusinasi jika
halusinasi muncul, mengajak ngobrol perawat atau seseorang untuk diajak
ngobrol, menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat dan yang
terakhir adalah teratur mengkonsumsi obat. dapat pula disebutkan sebagai
berikut:

Membina hubungan interpersonal, saling percaya

Mengaji gejala halusinasi

Fokuskan pada gejala dan minta individu untuk menguraikan


apa yang sedang terjadi
Identifikasi kemungkinan pernah mengunakan obat atau

alcohol

Jika ditanya, katakana secara singkat bahwa anda tidak


sedang mengalami stimulasi yang sama

Bantu individu untuk menguraikan dan membandingkan


halusinasi yang sekarang dengan terakhir dialaminya

Dorong individu untuk mengamati dan menguraikan pikiran,

perasaan dan tindakannya sekarang atau yang lalu berkaitan dengan


halusinasi yang dialami
Bantu individu menguraikan kebutuhan yang mungkin

tercermin pada isi halusinasinya


Bantu individu mengidentifikasi apakah ada hubungan antara

halusinasi dengan kebutuhan yang mungkin tercermin.


Sarankan dan perkuat pengunaan hubungan interpersonal

dalam pemenuhan kebutuhan


Identifikasi

bagaimana

gejala

psikologis

lain

telah

mempengaruhi kemampuan individu untuk melaksanakan aktifitas hidup


sehari-hari
G. Penatalaksanaan Pada Pasien Halusinasi Pendengaran
Keperawatan kesehatan mental psikiatri adalah suatu bidang
spesialisasi praktik keperawatan yang menerapkan teori perilaku manusia
sebagai ilmunya dan penggunaan diri secara terapeutik sebagai kiatnya.
Halusinasi visual msering terjadi pada saat klien bangun tidur/saat mau tidur,
ataupun saat klien tidak ada pekerjaan dan termenung/ melamun. Dalam
penataksanaannya kita mengenal tuk-tuk dalam proses keperawatan klien
dengan halusianasi yaitu:
1.

Membina hubungan saling percaya

2.

Menjelaskan pada klen tentang apa yang dia alami sekarang,


jelaskan bahwa itu merupakan halusinasi, baik itu pengertian ataupun
sebabnya.

3.

Menjelaskan cara-cara mengatasi halusinasi (mahardik,


nonton tv dan melakukan pekerjaan tertentu yang menyibukkan)

4.

Menjelaskan pada keluarga tentang gangguan jiwa yang


dialami klien, bagaiamana cara mengontrolnya juga dukungan dari keluarga

5.

Menjelaskan pada klien tentang obat yang diminum baik jenis,


dosis, kegunaan maupun efek sampingnya.

1. Fokus Intervensi ( Keliat, 1998 )


a. Perubahan proses pikir : waham berhubungan dengan halusinasi
pendengaran
Tujuan Umum ( TUM) : Klien dapat mengatakan berkurangnya pikiranpikiran waham
tujuan khusus (TUK ) :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Intervensi : bina hubungan saling percaya.
2. Klien dapat mengenal halusinasinya
Intervensi : adakan kontak sering dan singkat, observasi tingkah laku
klien terkait dengan halusinasinya, bantu klien mengenal halusinasi,
diskusikan tentang situasi yang menimbulkan halusinasi, diskusikan
dengan klien tentang apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi.
3. Klien dapat mengontrol Halusinasi
Intervensi : Identifikasi bersama klien tentang tindakan yang
digunakan klien jika terjadi halusinasi, diskusikan manfaat cara yang
digunakan klien, jika bermanfaat beri pujian, diskusikan cara baru
untuk memutuskan/mengontrol halusinasi, bantu klien memilih cara
memutus halusinasi, beri kesempatan untuk melaksanakan cara yang
telah dipilih klien.
4. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasi
Intervensi : Anjurkan klien untuk membantu keluarga jika mengalami
halusinasi, diskusikan dengan keluarga tentang gejala, cara yang dapat
dilakukan keluarga untuk memutus halusinasi, cara merawat klien
dengan halusinasi, beri informasi waktu follow up atau kapan perlu
mendapat bantuan.
5. Klien memanfaatkan obat dengan baik
Intervensi : diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis,
frekuensi dan manfaat, anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat
dan merasakan manfaatnya, anjurkan klien bicara dengan dokter

tentang efek dan efek samping obat, diskusikan akibat berhenti


mengkonsumsi obat tanpa konsultasi, bantu klien dalam menggunakan
obat dengan prinsip lima benar.
b. Resiko menciderai diri dan orang lain berhubungan dengan halusinasi
pendengaran.
Tujuan Umum ( TUM ) : Klien tidak menciderai orang lain
Tujuan Khusus ( TUK ) :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Intervensi : bina hubungan saling percaya
2. Klien dapat mengenal halusinasi
Intervensi : adakan kontak sering dan singkat, observasi tingkah laku
klien terkait dengan halusinasi, bantu klien mengenal halusinasi,
diskusikan tentang situasi yang menimbulkan halusinasi, diskusikan
dengan klien tentang apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi.
3. Klien dapat mengontrol halusinasi
Intervensi : identifikasi bersama klien tentang cara tindakan yang
digunakan klien jika terjadi halusinasi, diskusikan manfaat cara yang
digunakan klien, jika bermanfaat beri pujian, diskusikan cara baru
untuk memutuskan/mengontrol halusinasi, bantu klien memilih cara
memutus halusinasi, beri kesempatan untuk melaksanakan cara yang
dipilih.
4. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasi
Intervensi : Anjurkan klienuntuk membantu keluarga jika mengalami
halusinasi, diskusikan dengan keluarga tentang gejala, cara yang dapat
dilakukan keluarga untuk memutus halusinasi, cara merawat klien
dengan halusinasi, beri informasi waktu follow up atau kapan perlu
mendapat bantuan
5. klien memanfaatkan obat dengan baik
Intervensi : diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis,
frekuensi dan manfaat, anjurkan klien minta sendiri obat pada perawat
dan merasakan manfaatnya, anjurkan klien bicara dengan dokter

tentang efek dan efek samping obat, diskusikan akibat berhenti


mengkonsumsi obat tanpa konsultasi, bantu klien dalam menggunakan
obat dengan prinsip lima benar.
c. Perubahan sensori persepsi : Halusinasi pendengaran berhubungan dengan
menarik diri
Tujuan Umum ( TUM ) : klien dapat berinteraksi dengan orang lain
sehingga tidak terjadi halusinasi
Tujuan Khusus ( TUK ) :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Intervensi : bina hubungan saling percaya
2. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri berasal dari diri
sendiri, orang lain dan lingkungan
Intervensi : Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan
tanda-tandanya, beri kesempatan klien mengungkapkan perasaan
penyebab klien menarik diri, diskusikan bersama klien tentang
perilaku menarik diri, tanda-tanda, serta penyebab yang muncul, beri
pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya.
3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain
dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
Intervensi : Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan
berhubungan dengan orang lain serta kerugian tidak berhubungan
dengan

orang

mengungkapkan

lain,

beri

perasaannya

kesempatan
tentang

kepada

keuntungan

klien

untuk

berhubungan

dengan orang lain dan kerugian tidak berhubungan dengan orang lain,
diskusikan

bersama

klien

tentang

keuntungan

dan

kerugian

berhubungan dengan orang lain, beri penguatan terhadap kemampuan


mengungkapkan perasaaan tentang berhubungan dengan orang lain
serta kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
4. Klien dapat mendemonstrasikan hubungan sosial secara bertahap
antara klien-perawat, klien-perawat-klien, klien-perawat-keluarga,
klien-perawat-kelompok

Intervensi : Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang


lain, dorong dan bantu klien untuk berhubungan dengan orang lain
secara bertahap, beri penguatan positif terhadap keberhasilan yang
telah dicapai, bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan,
diskusikan jadwal harian, motivasi klien untuk mengikuti kegiatan
ruangan.
5. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan
orang lain
Intervensi

dorong

klien

mengungkapkan

parasaannya

bila

berhubungan dengan orang lain, diskusikan tentang perasaan manfaat


berhubungan dengan orang lain, beri penguatan positif atas
kemampuan klien mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan
dengan orang lain.
6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga mampu
mengembangkan kemampuan klien untuk berhubungan dengan orang
lain
Intervensi : bina hubungan saling percaya dengan keluarga, diskusikan
dengan keluarga tentang perilaku menarik diri, penyebabnya, akibat
bila perilaku menarik diri tidak ditanggapi, cara keluarga menghadapi
klien menarik diri, dorong keluarga untuk mendukung klien
berkomunikasi dengan orang lain, anjurkan kepada keluarga secara
rutin dan bergantian menjenguk klien, beri penguatan positif atas halhal yang telah dicapai keluarga.
2. Fokus intervensi ( Townsend, 1995 )
a. Perubahan proses pikir
Sasaran jangka pendek : pasien dapat mengakui bahwa ide-ide yang salah
itu terjadi khususnya terjadi pada saat ansietas meningkat dalam dua
minggu.
Sasaran jangka panjang : Pasien menyatakan berkurangnya pikiranpikiran waham.

Intervensi : tunjukkan bahwa perawat menerima keyakinan pasien yang


salah tersebut, sementara itu biarkan pasien tahu bahwa perawat tidak
mendukung keyakinan tersebut, jangan membantah atau menyangkal
keyakinan pasien. Gunakan teknik keraguan yang beralasan sebagai
teknik terapeutik, bantu pasien menghubungkan keyakinan yang salah
tersebut dengan peningkatan ansietas yang dirasakan oleh pasien, fokus
dan kuatkan pada realita. Kurangi lamanya ingatan tentang pikiran
irasional. Bicara tentang kejadian-kejadian dan orang-orang yang nyata,
bantu dan dukung pasien dalam usahanya untuk mengungkapkan secara
verbal perasaan ansietas.

b. Perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran


Sasaran jangka pendek : pasien dapat mendiskusikan isi halusinasinya
dengan perawat dalam satu minggu.
Sasaran jangka panjang : pasien dapat mendefinisikan dan memeriksa
realitas, mengurangi halusinasi.
Intervensi : observasi pasien dari tanda-tanda halusinasi, hindari
menyentuh pasien sebelum anda mengisyaratkan kepadanya bahwa anda
juga tidak apa-apa bila diperlakukan seperti itu, sikap menerima akan
mendorong pasien untuk menceritakan halusinasinya, coba untuk
menghubungkan
meningkatkan

waktu
ansietas,

terjadinya
coba

untuk

halusinasi

dengan

mengalihkan

waktu

pasien

dari

halusinasinya.
c. Isolasi sosial
Sasaran jangka pendek : pasien siap untuk masuk dalam terapi aktivitas
ditemani oleh seorang perawat yang dipercayanya dalam satu minggu
Sasaran jangka panjang : pasien dapat secara sukarela meluangkan waktu
bersama pasien lain dan perawat dalam aktivitas kelompok di unit rawat
inap.

Intervensi : perlihatkan sikap menerima dengan cara melakukan kontak


yang sering tapi singkat, perlihatkan penguatan positif kepada pasien,
temani pasien untuk memperlihatkan dukungan selama aktivitas
kelompok yang mungkin hal yang menakutkan atau sukar untuk pasien,
jujur dan menepati semua janji, berikan pengakuan dan penghargaan
tanpa disuruh pasien dapat berhubungan dengan orang lain.
d. Koping individu tak efektif
Sasaran jangka pendek : pasien akan mengembangkan rasa percaya pada
kepada satu orang perawat dalam satu minggu
Sasaran jangka panjang : pasien dapat mendemonstrasikan lebih banyak
menggunakan keterampilan koping adaptif, yang dibuktikan oleh adanya
kesesuaian antara interaksi dan keinginan untuk berpartisipasi dalam
masyarakat.
Intervensi : Dorong perawat yang sama untuk bekerjasama dengan klien
sebanyak mungkin, jujur dan selalu menepati janji, motivasi pasien untuk
mengatakan parasaan yang sebenarnya, bersikaplah asertif, sesuai
kenyataan, pendekatan yang bersahabat akan menjadi hal yang tidak
mengancam pasien curiga.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Halusinasi adalah suatu sensori persepsi terhadap sesuatu hal tanpa
stimulus dari luar. Halusinasi dapat terjadi pada kelima indra sensoris utama
yaitu Pendengaran terhadap suara, Visual terhadap penglihatan, Taktil terhadap
sentuhan, Pengecapan terhadap rasa, Penghidu terhadap bau. Halusinasi
merupakan pengalaman terhadap mendengar suara Tuhan, suara setan dan suara
manusia yang berbicara terhadap dirinya, sering terjadi pada pasien skizoprenia.
Halusinasi pendengaran (autif, akustik) yaitu suara manusia, hewan, binatang
mesin, barang, kejadian alamiah atau musik.
Asuhan keperawatan pada klien dengan halusinasi terutama pendengaran
ditekankan ditekankan agar klien dapat mengontrol halusinasinya, sehingga klien
tidak larut dalam halusinasinya. Tindakan yang sudah lazim yang dilakukan untuk
mengontrol halusinasi tersebut adalah dengan cara menghardik halusinasi jika
halusinasi muncul, mengajak ngobrol perawat atau seseorang untuk diajak
ngobrol, menyibukkan diri dengan kegiatan yang bermanfaat

B. Saran
Komunikasi terapeutik baik verbal maupun non verbal adalah suatu tehnik
yang harus dikuasai oleh perawat yang akan memberikan asuhan keperawatan
jiwa. Pemberian asuhan keperawatan jiwa hendaknya sesuai tahapan tujuan
khusus dalam perumusan diagnosa keperawatan. Setiap tujuan khusus harus
dilalui karena terdapat hubungan yang saling berkaitan antara tujuan khusus yang
satu dengan tujuan khusus yang lain.
Dalam memberikan asuhan keperawatan jiwa, kemandirian klien dalam
mengatasi halusinasi terutama halusinasi pendengaran merupakan tujuan utama,
sehingga klien harus selalu dibimbing untuk dapat mempraktekkan cara cara
mengatasi halusinasi yang sudah diajarkan oleh perawat.

Keperawatan Jiwa
Nama Mahasiswa
NIM
Judul Mata Ajar
Jenis tugas
Judul tugas

Torik Mustakim
1.1.10476
Keperawatan Jiwa
Kontrak Belajar
Penatalaksanaan Keperawatan pasien
Dengan Perilaku Kekerasan

Pembimbing
Batas Akhir Pengumpulan
Tanggal Dikumpulkan
Tanda Tangan Mahasiswa

Rekomendasi/Komentar Pembimbing:

3 juli 2006

Tanda Tangan Pembimbing

Beri Nilai