Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

Proses Pengambilan Keputusan Etis


(Seven Steps)


Diajukan sebagai Tugas Mata Kuliah
ETIKA PROFESI

Dosen: DRA. Hj. SAPARTINAH ABD, MM.











DISUSUN OLEH:

KELOMPOK 10

SASKIA FAWZIA ACHMAD
GANTRI NURHAMDANI RN

(023100045)
(023100059)



JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS TRISAKTI
2014



KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan nikmat

yang tidak terhingga kepada penulis, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah etika profesi ini.

Makalah yang memuat tentang Proses Pengambilan Keputusan Etis (Seven Step) ini, disusun

untuk memenuhi tugas mata kuliah etika profesi.


Penulis mengucapkan terimakasih kepada Ibu DRA. Hj. Sapartinah ABD, MM. selaku dosen Etika

Profesi yang telah memberikan tugas makalah ini agar dapat memperluas pemahaman tim penulis
mengenai pengambilan keputusan etis.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Kami

menyadari bahwa makalah etika profesi ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami
mengharapkan kritik dan saran dari pihak pembaca demi penyempurnaan makalah yang akan datang



Penulis

ii

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .................................................................................................................................................................
KATA PENGANTAR ........................................................................................................................................................... ii
DAFTAR ISI .......................................................................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................................................................. 1
1.1.

Latar Belakang ........................................................................................................................................ 1

1.2.

Rumusan Masalah .................................................................................................................................. 1

1.3.

Tujuan Penulisan .................................................................................................................................... 1

1.4.

Manfaat Penelitian ................................................................................................................................ 1

BAB II ISI .............................................................................................................................................................................. 2


2.1.

Pendahuluan ........................................................................................................................................ 2
2.1.1.

Memotivasi Perkembangan ............................................................................................ 2

2.1.2.

Kerangka Kerja Pengambilan Keputusan Etis ....................................................... 2

2.1.3.

Pendekatan FilosofisSebuah Ikhtisar: Konsekuensialisme (Utilitarianisme),


Deontologi, Teleologi ......................................................................................................... 2

2.1.4.

Konsekuensialisme, Utilitarianisme, Teleologi ....................................................... 3

2.1.5.

Deontologi .............................................................................................................................. 3

2.1.6. Etika Kebajikan .................................................................................................................... 4


2.2.

Sebuah Kerangka Komprehensif Pengambilan Keputusan ............................................. 5


2.2.1. Ringkasan Langkah-langkah untuk sebuah Keputusan Etis ........................... 5
2.2.2. Langkah-langkah Menuju Sebuah keputusan Etis .............................................. 8

2.3.

Contoh-Contoh Kasus ...................................................................................................................... 9


2.3.1. Kasus I: Laporan M.Nuh Terkait Dugaan Korupsi Wamendikbud ................... 9
2.3.2. Kasus II: Golkar Protes Disebut Tak Transparan Soal Dana Parpol ............ 15

BAB III PENUTUP ........................................................................................................................................................... 18


3.1.

Kesimpulan ....................................................................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................................................................................... 19









iii


BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Ketika prinsip-prinsip atau peraturan tertentu terkandung dalam kode etik tidak sepenuhnya

berlaku untuk masalah tertentu yang dihadapi oleh seorang akuntan professional, para pembuat
keputusan dapat berpedoman kepada prinsip-prinsip untuk sampai pada keputusan etis yang dapat
dipertahankan. Apakah yang dimaksud dengan prinsip-prinsip umum etika dan bagaimana
penerapannya? Dibutuhkan suatu pembahasan tentang prinsip-prinsip etika dan bagaimana
mengembangkan sebuah kerangka keputusan menyeluruh praktis dan komprehensif berdasarkan
bagaimana tindakan yang diusulkan akan mempengaruhi pemangku kepentingan untuk membuat
keputusan.
Oleh karena itu, penulis ingin mengangkat suatu topic yang berjudul Proses Pengambil
Keputusan Etis (Seven Steps) menjadi pokok pembahasan dalam makalah ini. Penulis berusaha untuk
menyusun makalah ini semenarik mungkin agar para masyarakat khususnya mahasiswa dan pelajar
lainnya dapat memahami serta dapat menerapkan kerangka keputusan secara menyeluruh yang praktis
dan komprehensif berdasarkan pada bagaimana tindakan yang diusulkan akan mempengaruhi untuk
membuat keputusan etis.

1.2.

Rumusan Masalah
Adapun Rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut.
1.

Bagaimana cara pengambilan keputusan yang etis

2.

Apa saja pendekatan dalam pengambilan keputusan Etis

3.

Bagaimana langkah-langkah dalam pengambilan keputusan etis yang digariskan oleh


America Accounting Association

1.3.

Tujuan Penulisan
Adapun tujuan pulisan makalah ini yaitu:
1.

Untuk mengetahui pengertian dan teori pengambilan keputusan

2.

Untuk mengetahui pendekatan-pendekatan dalam pengambilan keputusan

3.

Untuk mengetahui langkah-langkah/proses dalam pengambilan keputusan etis sehingga


dapat mengambil keputusan etis

1.4.

Manfaat Penulisan
1.

Untuk menambah wawasan dan kerangka berpikir penulis

2.

Untuk memenuhi dan melengkapi tugas etika profesi yang bermuatan softskill

3.

Sebagai bahan refrensi bagi pembaca, khususnya mahasiswa yang mengambil mata
kuliah Etika Profesi

BAB II
ISI
2.1.

Pendahuluan

2.1.1.

Memotivasi Perkembangan
Skandal Enron, Arthur Andersen, dan WorldCom menimbulkan kemarahan publik, runtuhnya

pasar modal, dan akhirnya Sarbanes Oxley Act 2002, yang membawa reformasi tata kelola tersebar luas.
Skandal perusahaan berikutnya yang melibatkan Adelphia, Tyco, Health-South, dan lainnya
mengingatkan kita untuk lebih meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa eksekutif perusahaan dapat
membuat keputusan yang lebih baik, dan harus melakukannya untuk mempertahankan profitabilitas dan
kelangsungan hidup perusahaan mereka. Kasus pengadilan berikutnya serta denda terkait, hukuman
penjara, dan penyelesaiannya menekankan pada keputusan untuk mengurangi kekebalan terhadap
tindakan hukum.
2.1.2.

Kerangka Kerja Pengambilan Keputusan Etis


Sebagai respon terhadap keputusan yang dapat dipertahankan secara etis, makalah ini

menyajikan kerangka kerja yang praktis, komprehensif, dan beraneka ragam untuk pengambilan
keputusan etis. Kerangka ini menyertakan persyaratan tradisional untuk profitabilitas dan legalitas,
serta persyaratan yang akan ditampilkan filosofis secara penting dan yang baru ini dituntut oleh
pemangku kepentingan. Hal ini dirancang untuk meningkatkan pertimbangan etis dalam menyediakan:

Pengetahuan dalam mengidentifikasi dan menganalisis isu-isu penting yang harus


dipertimbangkan dan dipertanyakan atau tantangan yang harus diungkap

Pendekakatan untuk menggabungkan dan menerapka faktor keputusan yang relevan


dalam tindakan praktis.

Kerangka kerja pengambilan keputusan etis (Ethical Decision MakingEDM) menilai etikabilitas
keputusan atau tindakan yang dibuat terkena dampak:

2.1.3.

Konsekuensi atau kekayaan yang dibuat dalam hal keuntungan bersih atau biaya;

Hak dan kewajiban yang terkena dampak;

Kesetaraan yang dilibatkan;

Motivasi atau kebijakan yang diharapkan

Pendekatan FilosofisSebuah Ikhtisar: Konsekuensialisme (Utilitarianisme), Deontologi, dan


Etika Kebajikan
Dorongan untuk meningkatkan pendidikan etika dan EDM karena skandal Enron, Arthur

Andersen, dan WorldCom, serta reformasi tata kelola, AACSB Ethics Education Task Force (2004)
menghimbau para mahasiswa bisnis yang mengenal tiga pendekatan filosofis untuk pengambilan
keputusan etis: konsekuensialisme (utilitarianisme), deontologi, dan etika kebajikan. Masing-masing dari
tiga pendekatan memberikan kontribusi yang berbeda-beda dalam menghasilkan pendekatan yang
berguna dan dapat dipertahankan untuk pengambilan keputusan etis dalam bisnis atau kehidupan
pribadi. Namun, karena prinsip dan teori filosofis bertentangan dengan aspek lain dan dampak

bertentangan dengan praktik bisnis yang dapat diterima, khususnya dalam beberpa budaya sudut
pandang (pertimbangan) yang ditunjukkan oleh pihak ketiga pendekatan filsafat untuk menentukan
etikabilitas suatu tindakan dan panduan pilihan yang harus dibuat.
2.1.4.

Konsekuensialisme, Utilitarianisme, atau Teleologi


Konsekuensialisme bertujuan untuk memaksimalkan hasil akhir dari sebuah keputusan. Bagi

mereka, kebenaran dari suatu perbuatan bergantung pada konsekuensinya. Pendekatan ini sangat
penting bagi keputusan etis yang baik dan pemahaman itu akan menjadi bagian dari pendidikan sekolah
bisnis terakreditasi AACSB di masa depan. Menurut AACSB,
Pendekatan konsekuensialisme mengharuskan pelajar untuk menganalisis keputusan dalam hal
kerugian dan manfaatnya bagi pemangku kepentingan dan untuk mencapai sebuah keputusan
yang menghasilkan kebaikan dalam jumlah besar.

Konsekuensialisme berpendapat bahwa sebuah perbuatan besar secara moral jika dan hanya jika
tindakan tersebut mampu memaksimalkan kebaikan bersih. Dengan kata lain, tindakan dan sebuah
keputusan akan menjadi etis jika konsekuensi positif lebih besar dari konsekuensi negatifnya.
Utilitarianisme klasik yang terkait dengan utilitas secara keseluruhan mencangkup keseluruhan
varian, oleh karena itu hanya dari manfaat parsial dalam pengambilan keputusan etis dalam konteks
sebuah bisnis, profesional, atau organisasi. Konsekuensialisme mengacu pada sub bagian dari varian yang
didefiniskan untuk menghindari pengukuran yang salah atau permasalahan lain, atau dalam rangka
membuat proses menjadi lebih relevan dengan tindakan, keputusan atau konteks yang terlibat. Oleh
karena konsekuensialisme dan utilitarianisme berfokus pada hasil atau akhir dari suatu tindakan, teori-
teori tersebut sering dianggap sebagai teleologis.
2.1.5.

Deontologi
Deontologi berbeda dari konsekuensialisme, dalam artian bahwa deontologis berfokus pada

kewajiban atau tugas memotivasi keputusan atau tindakan, bukan pada kewajiban atau tugas
memotivasi keputusan atau tindakan. Bukan pada konsekuensi dari tindakan. Etika deontologi
mengambil posisi bahwa kebenaran bergantung pada rasa hormat yang ditunjukkan dalam tugas serta
hak dan keadilan yang dicerminkan dari tugas-tugas tersebut. Akibatnya, suatu pendekatan deontologis
mengangkat isu-isu yang berkaitan dengan tugas, hak, serta pertimbangan keadilan dan mengajarkan
para mahasiswa untuk menggunakan standar moral, prinsip dan aturan-aturan sebagai panduan untuk
membuat keputusan etis terbaik
Penggunaan pendekatan yang sama juga dapat menghasilkan rasa hormat terhadap hak asasi
manusia dan perlakuannya yang adil bagi semua. Hal ini dapat dicapai dengan mengadopsi posisi bahwa
sesorang harus memenuhi kewajiban dan tugas yang menghormati moral atau hak asasi manusia dan
hukum atau kontrak. Lebih jauh lagi, hal tersebut juga dicapai jika para individu bertindak dengan
kepentingan pribadi yang terkendali daripada kepentingan pribadi semata. Dibawah kepentingan
orubadi yang terkendali, kepentingan individu juga diperhitungkan dalam keputusan dimana
kepentingan tersebut tidak diabaikan atau dikesampingkan. Individu dianggap sebagai akhir daripada
sebagai sarana untuk mencapai akhir dari suatu tujuan

2.1.6.

Etika Kebajikan
Konsekuensialisme menekankan konsekuensi dari sebuah tindakan, dan deotologi

menggunakan tugas, hak, dan prinsip-prinsip sebagai panduan untuk memperbaiki perilaku moral
sedangkan etika kebajikan berkaitan dengan aspek yang memotivasi karakter moral yang ditunjukkan
oleh para pengambil keputusan. Tanggung jawab khususnya kesalahan atau layak dianggap salah salah
baik moralitas atau hukum memiliki dua dimensi: actus reus (tindakan yang salah) dan mens rea (pikiran
yang salah).
Kebajikan adalah karakter yang membuat orang bertindak etis dan membuat orang tersebut
menjadi manusia yang bermoral. Kebijaksanaan adalah kunci dari kebajikan dalam menentukan pilihan
yang tepat diantara pilihan-pilihan yang ekstrem. Tiga kebajikan yang terpenting atau kebajikan kardinal
lainnya ameliputi kejujuran, integritas, kepentingan pribadi yang terkendali, belas kasih, kesetaraan,
ketidak-berpihakkan, kerendahan hati, kemurahan hati, dan kesederhanaan.
Kebajikan harus selalu ditanamkan sepanjang waktu, sehingga mereka menjadi
tertanam/melekat dan bisa menjadi refrensi yang konsisten, jika anda memiliki kebajikan, itu adalah
bagian dari karakter anda, suatu sifat atau watak yang biasa anda tunjukkan dalam tindakan. Hal ini
bukan hanya sesuatu yang dapat anda tunjukkan, tetapi sesuatu yang biasanya atau selalu anda
tunjukkan
Untuk ahli etika kebajikan, memiliki kebajikan adalah persoalan derajat. Sebagai contoh,
bersikap jujur dapat diartikan bahwa seseorang harus mengatakan kebenaran. Akan tetapi kejujuran
seseorang dapat dianggap lebih kuat atau berada pada tatanan yang lebih tinggi jika ia berurusan dengan
orang-orang atau hal-hal yang jujur, bekerja untuk perusahaan yang jujur, teman-teman yang jujur,
membesarkan anak untuk menjadi jujur, dan seterusnya. Demikian pula, alasan untuk seseoran
bertindak bajik itu penting.
Ada beberapa keraguan tentang kekuatan etika kebajikan sebagai pendekatan untuk EDM
sebagai contoh, etika kebajikan berkaitan dengan proses pengambilan keputusan yang menggabungkan
kepekaan moral, persepsi, imajinasi, penilaian, dan beberapa klaim bahwa hal ini tidak mengarah pada
prinsip-prinsip EDM yang mudah digunakan. Kritik lainnya yang relevan, termasuk bahwa:

Interpretasi kebajikan adalah hal yang sensitif terhadap budaya;

Seperti juga penafsiran dari apa yang dbenarkan atau yang benar;

Persepsi seseorang tentang apa yang benar pada tigkat tertentu dipengaruhi oleh ego
atau kepentingan pribadi.

2.2.

Sebuah Kerangka Komprehensif Pengambilan Keputusan

2.2.1.

Ringkasan Langkah-langkah untuk sebuah Keputusan Etis


Pendekatan EDM komprehensif harus mencangkum empat pertimbangan yang dijelaskan

sebelumnya dapat digunakan secara terpisah atau dalam kombinasi gabungan untuk membangtu dalam
pengambilan keputusan etis. Pengalaman menunjukkan bahwa dengan menyelesaikan tiga langkah
berikut, menyediakan dasar untuk menantang keputusan yang diusulkan.
1.

Identifikasi fakta dan semua kelompok pemangku kepentingan serta kepentingan yang
mungkin terpengaruh

2.

Membuat peringkat para pemangku kepentingan serta kepentingan mereka, identifikasi


yang paling penting dan lebih mempertimbangkan mereka lebih analisis.

3.

Menilai dampak dari tindakan yang diusulkan pada setiap kepentingan kelompok
pemangku kepentingan berkenaan dengan kekayaan mereka, keadilan perlakuan, hak-
hak lainnya termasuk harapan kebijakan, menggunakan pertanyaan kerangka kerja
yang komprehensif, dan memastikan bahwa perangkap umum yang dibahas untuk tidak
masuk ke dalam analisis.

Akan sangat membantu untuk mengorganisasikan analisis keputusan etis menggunakan tujuh
langkah (seven steps) yang digariskan oleh American Accounting Association (1993) sebagai berikut:
1. Identifikasi Fakta (Apa, Siapa, Dimana, Kapan, dan Bagaimana)
Langkah pertama dalam pengambilan keputusan yang bertanggung jawab
secara etis adalah menentukan fakta-fakta dalam situasi tersebut. Membedakan fakta-
fakta dari opini belaka adalah hal yang sangat penting. Perbedaan persepsi dalam
bagaimana seseorang mengalami situasi dapat menyebabkan banyak perbedaan etis.
Sebuah penilaian etis yang dibuat berdasarkan penentuan yang cermat atas fakta-fakta
yang ada merupakan sebuah penilaian etis yang lebih masuk akal daripada penilaian
yang dibuat tanpa fakta. Seseorang yang bertindak sesuai dengan pertimbangan yang
cermat akan fakta telah bertindak dalam cara yang lebih bertanggung jawab secara etis
daripada orang yang bertindak tanpa pertimbangan mendalam.
Begitu anda mengenali bahwa sebuah isu adalah bagian dari situasi yang
menghadang anda, maka anda akan mengumpulkan informasi sebanyak mungkin
mengenai isu-isu tersebut. Dalam mengidentifikasi fakta-fakta penting, untuk
mengajukan pertanyaan yang tepat, pertanyaan biasanya diajukan dalam langkah ini
meliputi:

Apa, yaitu berkaitan dengan isu terbaru apa yang mempengaruhi


situasi saat ini

Siapa, yaitu siapa saja yang terlibat dari pihak-pihak dalam situasi
pengambilan keputusan atau siapa yang menggunakan keputusan etis
tersebut.

Dimana, yaitu menyatakan dimana situasi keputusuan etis tersebut


digunakan oleh pihak-pihak pengambil keputusan etis

Kapan, yaitu pada saat kondisi dan situasi seperti apa keputusan etis
tersebut diambil oleh para pengambil keputusan.

Bagaimana, yaitu bagaimana para pengambil keputusan dapat


mengambil keputusan etis saat situasi tersebut.

2. Menetapkan Isu Etis


Langkah kedua dalam pengambilan keputusan etis yaitu menetapkan isu etis
yang terbaru. Isu-isu aktual melibatkan apa yang benar-benar diketahui tentang sebuah
kasus. Misalnya, fakta-fakta yang ada. Meskipun konsep ini tampak tepat sasaran, fakta
dari suatu kasus tertentu tidak selalu jelas dan mungkin kontroversial. Pengambilan
keputusan etis yang bertanggung jawab menyaratkan kemampuan untuk mengenali
sebuah keputusan atau permasalahan sebagai sebuah keputusan etis atau permasalahan
etis.
Langkah ini terdiri dari dua komponen. Pertama, pemangku kepentingan utama
(stakeholder) di identifikasi, dan kedua masalah etika harus di identifikasikan secara
jelas. Setiap komponen dibahas secara terpisah dalam bagian ini.
(a) Buatlah daftar stakeholder (pemangku kepentingan utama)
(b) Tentukan isu/masalah etika
3. Mengidentifikasi prinsip-prinsip utama, aturan, dan nilai
Pada langkah ketiga, proses pengambilan keputusan yang etis harus
mengidentifikasi prinsip-prinsip utama, aturan dan nilai-nilai yang berlaku serta
mempertimbangkan semua pihak yang mempengaruhi oleh sebuah keputusan, orang-
orang ini biasa disebut sebagai pemangku kepentingan (stakeholder).
Untuk mengidentifikasi, sebaiknya gunakanlah prinsip-prinsip etika untuk
menentukan alternatif terbaik. Untuk setiap alternatif, dapat mengajukan pertanyaan
terkait dengan utilitarianisme, hak dan prinsip-prinsip keadilan untuk menentukan
bagaimana alternatif ini dinilai sebagai benar atau salah, baik atau buruk, tujuannya
adalah untuk memilih alternatif terbaik. Dalam situasi yang ideal, semua prinsip-prinsip
etika akan mengarah ke alternatif yang sama sebagai yang terbaik.

4. Menentukan Alternatif
Langkah selainjutnya dalam proses pengambilan keputusan etis adalah
membandingkan dan mempertimbangkan alternatif-alternatif, membuat suatu
spreadsheet mental yang masing-masing pemegang kepentingan yang telah di
identifikasi. Salah satu cara yang paling mudah adalah dengan menempatkan diri
terhadap posisi orang lain. Sebuah elemen penting dalam evaluasi ini adalah
mempertimbangkan cara untuk mengurangi, meminimalisasi, atau mengganti
konsekuensi kerugian yang mungkin akan terjadi.

5. Bandingkan Nilai-nilai Alternatif, serta melihat apakah muncul keputusan yang


jelas
Bagaimana untuk memutuskan kapan teori menunjukkan alternatif yang
berbeda. Ada situasi dimana prinsip-prinsip etis yang berbeda akan merekomendasikan
alternatif yang berbeda akan merekomendasikan alternatif yang berbeda. Dalam sebuah
kasus dimana prinsip-prinsip memberikan rekomendasi campuran dan memilih
rekomendasi untuk mengikuti serta bersiap untuk pembenaran atas pilihan sebaik
mungkin. Pembenaran dapat disediakan mengapa teori-teori menunjukkan bahwa
alternatif tersebut yang tertarik dan bagaimana dapat sesuai denganbaik ke dalam
konsepsi tentang apa kehidupan yang baik dan alternatif yang disarankan oleh teori
lain.
6. Menilai Konsekuensi
Sebuah elemen penting dalam evaluasi ini adalah pertimbangan cara untuk
mengurangi, meminimalisasi atau menggantikan konsekuensi kerugian yang mungkin
terjadi atau menggantikan konsekuensi kerugian yang mungkin terjadi atau
meningkatkan dan memajukan konsekuensi-konsekuensi yang mendatangkan manfaat.
Selain itu, juga perlu mempertimbangkan kewajiban, hal-hal, dan prinsip-prinsip, serta
dampak bagi interitas dan karakter pribadi.
7. Membuat Keputusan Anda
Menerapkan alternatif terbaik. Setelah memilih alternatif terbaik yang tidak
dikesampingkan oleh kendala praktis, selanjutnya memutuskan langkah apa yang
diperlukan oleh kendala praktis. Selanjutnya, memutuskan langkah apa yang diperlukan
untuk keluar dari permasalahan. Pengambilan keputusan yang diakhiri dengan evaluasi
yang merupakan langkah terakhir dalam proses pengambilan keputusan sebagai sarana
untuk menilai apakah keputusan kita sudah berdampak baik atau malah tidak sesuai
dengan apa yang kita harapkan.

Salah satu cara untuk menggunakan metode seven steps atau metode tujuh
langkah pengambilan keputusan etis adalah untuk memberikan checklist mental, yaitu
untuk memastikan kelengkapan dalam membuat analisis etis. Kebutuhan sesorang
dalam membuat keputusan etis mengikuti prosedur keputusan yang dapat memastikan
bahwa dia telah mempertimbangkan semua faktor yang relevan dan telah
diperhitungkan dampaknya bagi kepentingan diri sendiri. Velasquez mengembangkan
metode seven steps untuk tujuan ini. Kebanyakan para pengambil keputusan, ketika
dihadapkan dengan keputusan etis akan mempertimbangkan sebagian besar faktor
yang relevan. Metode ini jua menyediakan kerangka kerja untuk mencari kesulitan dan
perselisihan. Dengan memisahkan fakta dari masalah etika. Misalnya, kerangka
memungkinkan kita untuk menentukan apakah perselisihan adalah atas fakta atau isu-
isu etis.

Pengambilan keputusan etis adalah proses dialektik. Kenyataannya bahwa


metode tujuh langkah (seven steps) yang tercantum dalam urutan numerik tidak
menunjukkan urutan logis atau kronologis yang ketat. Kehadiran fakta yang akan
mengingatkan kita pada kebutuhan untik mempertimbangkan isu-isu etis tertentu,
tetapi tanpa beberapa pengenalan sebelumnya dari masalah etika. Fakta-fakta ini tidak
akan memiliki etika signifikan. Menentukan apakah alternatif, siapa para pemangku
kepentingan, atau apa kendala praktis dalam mencari fakta tambahan sehingga para
pemangku kepentingan dapat menghasilkan alternatif baru.

2.2.2.

Langkah-langkah Menuju Sebuah Keputusan Etis

Keputusan atau Tindakan


yang diusulkan

Ya

Alternatif yang
lebih baik

Tidak

Keputusan Final

Identifikasi fakta

Identifikasi Pemangku
Kepentingan,
Kepentingan Mereka,
dan Masalah-masalah
Etis

Analisis Etika
Peringkatkan Interest menurut tingkat
kepentingannya.
Terapkan Kerangka Kerja Komprehensif EDM
menggunakan sesbuah Pendekatan Filosofis:
Konsekuensialisme, Deontologi, dan Etika
Kebajikan ditambah Analisis Gap motivasi,
kebijakan, dan sifat karakter.


2.3.

Contoh-contoh Kasus

2.3.1.

Kasus I : Laporan M.Nuh Terkait Dugaan Korupsi Wamendikbud

Laporan M Nuh Terkait Dugaan Korupsi Wamendikbud


Kamis, 30 Mei 2013 | 19:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com Komisi Pemberantasan Korupsi memperjelas isi laporan yang


disampaikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan M Nuh pada Rabu (29/5/2013) malam.
Juru Bicara KPK Johan Budi mengatakan, M Nuh menyampaikan hasil investigasi Inspektorat
Jenderal Kemendikbud mengenai adanya dugaan penyimpangan anggaran di lingkungan Wakil
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Wamendikbud).
"Bahwa Pak Menteri justru menyampaikan hasil tentang adanya dugaan penyimpangan di
lingkungan Wamen. Justru Pak Menteri minta KPK laporkan hasil analisisnya, klarifikasi, karena ini
sudah ramai diberitakan," kata Johan di Jakarta, Jumat (30/5/2013).
Namun, Johan tidak menyebut nama Wamendikbud yang dimaksud. Informasi yang beredar,
penyimpangan anggaran itu salah satunya melibatkan Wamendikbud Bidang Kebudayaan Wiendu
Nuryanti. Perusahaan pemenang lelang di Ditjen Kebudayaan disebut-sebut milik Wiendu.
Saat melaporkan temuan ini semalam, kata Johan, Mendikbud diterima Ketua KPK Abraham Samad
serta Deputi Pengaduan Masyarakat dan Pengawasan Internal KPK. Johan melanjutkan, KPK akan
menindaklanjuti laporan tersebut dengan melakukan penelaahan. Mengenai cepat atau lambatnya
penelaahan ini akan dilakukan, Johan mengatakan, hal itu tidak bergantung kepada siapa pihak yang
melaporkan.
"Cepat lambatnya sebuah laporan di KPK itu bukan ditentukan siapa yang melapor, tapi ditentukan
isi laporan itu, apakah laporan itu valid atau tidak, apakah mengandung unsur tindak pidana korupsi
atau tidak," ungkap Johan.
Temuan Itjen Kemendikbud
Inspektorat Jenderal (Itjen) Kemendikbud yang dipimpin mantan pimpinan KPK Haryono Umar
menemukan berbagai penyimpangan dalam penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Perubahan 2012 di Direktorat Jenderal Kebudayaan. APBNP 2012 di Ditjen Kebudayaan mencapai
Rp 700 miliar.

Investigasi yang dilakukan sejak tahun 2012 itu menemukan adanya penggelembungan dana dari
beberapa mata kegiatan di luar batas kewajaran. Auditor juga menemukan adanya intervensi pejabat
pada sejumlah lelang kegiatan di Ditjen Kebudayaan yang melibatkan event organizer (EO).
Wamendikbud dan beberapa pejabat, tambahnya, sudah dimintai keterangan terkait kasus ini.
Maralus, Inspektur III Bidang Pendidikan Tinggi, menambahkan, kejanggalan antara lain ditemukan
pada proyek terkait buku, pengadaan benda seni, serta pelaksanaan acara kebudayaan.
Itjen Kemendikbud juga sedang menginvestigasi pelaksanaan World Culture Forum 2013 yang akan
diadakan pada November mendatang.
Wamendikbud Wiendu saat dihubungi Kompas beberapa waktu lalu membantah keterlibatannya
dalam lelang kegiatan di Kemendikbud tersebut.
"Saya pribadi tidak punya EO. Jika yang dimaksud adalah Stuppa, itu bukan EO. Stuppa adalah
yayasan yang dibentuk oleh beberapa dosen UGM. Areanya di bidang pariwisata, kegiatannya
selama ini menyusun masterplan, pelatihan, dan kajian pariwisata," kata Wiendu. Ia menambahkan,
semua kegiatan yang bersumber pada APBN ada peraturannya dan pengawasannya.

Penulis : Icha Rastika


Editor : Tri Wahono

Pengambilan Keputusan berdasarkan Seven Steps:


1.

Tentukan fakta (apa, siapa, dimana, kapan, bagaimana)


Kasus:

Juru bicara KPK (Jonan Budi) mengatakan pada Rabu (29/5/2013) malam, M.Nuh

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menyampaikan laporan tentang adanya dugaan
penyimpangan anggaran dilingkungan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
(Wamendikbud) yang salah satunya melibatkan Wiendu Nuryanti. Kedatangan Mendikbud
diterima oleh ketua KPK Abraham Samad serta deputi pengaduan masyarakat dan pengawasan
internal KPK. Laporan penyimpangan tersebut terkait hasil dari investigasi Inspektorat Jenderal
Kemendikbud . Inspektorat Jenderal Kemendikbut yang dipimpin mantan pemimpin KPK,
Haryono Umar menemukan Perubahan 2012 di Direktorat Jenderal kebudayaan APBNP 2012 di
Ditjen Kebudayaan, mencapai Rp 700miliar.

Investigasi yang dilakukan sejak tahun 2012 itu mengemukakan adanya

penggelembungan dana dari beberapa mata kegiatan diluar batas kewajaran. Auditor juga
mengemukakan adanya intervensi pejabat pada sejumlah lelang kegiatan diluar batas
kewajaran. Auditor juga mengemukakan adanya intervensi pejabat pada sejumlah lelang
kegiatan di Ditjen Kebudayaan yang melibatkan Event Organizer (EO). Maralus, Inspektur III

10

Bidang Pendidikan Tinggi, menambahkan kejanggalan anatara lain ditemukan pada proyek
terkait buku, pengadaan benda seni, serta pelaksanaan acara kebudayaan. Inspektorat Jenderal
(Itjen) Kemendikbud juga sedang menginvestigasi pelaksanaan World Culture Forum 2013 yang
akan diadakan November mendatang.
Wamendikbud, Wiendu saat dihubungi Kompas beberapa waktu lalu membantah
keterlibatannya dalam lelang kegiatan di Kemendikbud tersebut. saya pribadi tidak memiliki
EO, jika yang dimaksud adalah Stuppa, itu bukan EO. Stuppa adalah yayasan yang dibentuk oleh
beberapa dosen UGM. Areanya dibidang pariwisata, berkegiatan selama ini menyusun
masterplan, pelatihan, kajian pariwisata. Kata Wiendu. Ia menambahka, semua kegiatan yang
bersumber dari pendapatan APBN ada peraturan pengawasan.

2.

Menetapkan isu etis


Kasus:

Adanya dugaan penyimpangan anggaran dilingkungan Wamendikbud. Salah satunya

melibatkan Wakil Menteri, Wiendu Nurhayati. Perusahaan pemenang lelang di Ditjen


Kebudayaan disebut-sebut sebagai Milik Wiendu.

3.

Mengidentifikasi prinsip-prinsip utama, aturan, dan nilai-nilai


Kasus:

Kasus ini bertentangan dengan salah satu dari tiga prinsip keadilan menurut Adam

Smith, yaitu prinsip No Harm yang merupakan prinsip tidak merugikan orang lain, khususnya
tidak merugikan hak dan kepentingan orang lain. Sebagaimana ia sendiri tidak mau agar hak dan
kepentingannya dirugikan oleh siapapun. Dalam bisnis, tidak boleh ada pihak yang dirugikan
hak dan kepentingannya. Baik sebagai investor, karyawan, distributor, konsumen, maupun
masyarakat luas.

Hubungan dengan kasus Laporan M.Nuh terkait Dugaan Korupsi Wamendikbud adalah

suatu tindak pidanan korupsi telah merugikan hak dan kepentingan rakyat Indonesia. Dugaan
korupsi tersebut terkait dengan berbagai penyimpangan dalam pengguanaan APBNP 2012
dalam penggunakan APBN 2012 di Ditjen mencapai Rp 700milyar

4.

Tentukan alternatif
Kasus:

M.Nuh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah menyapaikan laporan ke KPK tentang

adanya dugaan penyimpangan anggaran dilingkungan Wamendikbud yang salah satunya


melibatkan Wiendu Nuryati.

5.

Bandingkan nilai-nilai dan alternatif, serta melihat apakah muncul keputusan yang jelas
Kasus:

Dengan adanya alternatif yang telah dilakukan oleh mendikbud, M.Nuh dengan

menyampaikan laporan ke KPK tentang adanya temuan dugaan penyimpangan anggaran

11

dilingkungan Wamendikbud, secara eksplisit prinsip No Harm yang merupakan bagian dari
prinsip keadilan dapat segera diterapkan. Artinya KPK akan mulai mengusut hasil ini dengan
harapan pada akhirnya kebenaran dan keadilan terkait adanya korupsi dilingkungan
Kemendikbud dapat ditegakkan

Namun alternatif M.Nuh dengan adanya yang melaporkan kepada KPK tentunya belum

dapat memenuhi prinisip No Harm secara keseluruhan. Perlu adanya penetapan kebijakan,
system dan prosedur yang mambantu meyakini bahwa tindakan yang diperlukan sudah
dilakukan dengan tepat untuk dapat memberikan keyakinan memadai dalam pencapaian tiga
tujuan pokok, yaitu: keandalan, pelaporan keuangan, efektivitas dan efisiensi, serta kepatuhan
terhadap hukum dan peraturan yang berlaku (COSO:1992) dalam penggunaan APBN 2012 di
Direktorat Jenderal Kebudayaan

6.

Menilai konsekuensi
Kasus:

Konsekuensi akibat adanya kaskus Laporan M.Nuh terkait dugaan korupsi

wamendikbud adalah dapat mengurangi nama baik/reputasi Kementian Pendidikan dan


Kebudayaan/ Adanya resiko tersebut mengharuskan internal auditor untuk menyusun tindakan
pencegahan/prevention untuk menangkal terjadinya kecurangan. Bagaimana cara mendeteksi
secara dini terjadinya kecurangan-kecurangan dalam hal ini korupsi yang timbul.
Pada awalnya korupsi ini akan tercermin melalui timbulnya karakterisktik tertentu, baik yang
bersifat kondisi/situasi tertentu, perilak/kondisi sesorang personal tersebut dinamankan Red
flag (fraud Indicators). Red flag Indicators terdiri dari :
(a) Kecurangan Laporan Keuangan (Financial Statement Fraud)
(b) Penyalahgunaan Aset (Asset Missapropriation)

7.

Membuat Keputusan
Kasus:

Untuk kasus ini, korupsi yang terjadi dapat dicegah antara lain dengan cara-cara

berikut:
a) Membuat struktur pengendalian intern yang baik
Dalam memperkuat pengendalian intern dalam hal ini di lingkungan Kemendikbud
menurut COSO (The Committee of Sponsoring Organization of The Treadway
Commission) pada bulan September 1992 memperkenalkan suatu kerangka
pengendalian yang lebih luas, terdiri tas lima komponen yang saling terkait, yaitu:

Lingkungan Pengendalian (Control Environment)


Merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian intern, menyediakan
disiplin dan struktur. Lingkungan pengendalian mencangkup integritas dan
nilai etika, pemberian wewenang, dan tanggung jawab, serta kebijakan dan
praktik sumber daya manusia.

12

Standar Pengendalian (Control Activities)

Merupakan kebijakan dari prosedur yang membantu menjamin bahwa arahan


manajemen dilaksanakan. Kebijakan dan prosedur yang dimaksud berkaitan
dengan:

Penelaahan terhadap kinerja

Pengolahan Informasi

Pemisahan Tugas

Informasi dan Komunikasi (Information Communication)

Adalah pengidentifikasian, pengungkapan, dan pertukaran informasi dalam


suatu bentuk dari waktu yang memungkinkan orang melaksanakan tanggung
jawab mereka. Komuksi mencangkup penyediaan suatu pemahaman tentang
peran dan tanggung jawab individual terkait dengan pengendalian intern
terhadap pelaporan keuangan.
Pemantauan (Monitoring)

Adalah proses menentukan mutu kinerja pengendalian intern sepanjang waktu.


Pemantauan mencangkup penentuan disain dan operasi pengendalian yang
telat waktu dan pengambilan tindakan koreksi.

Tanggung Jawab (responsibility)

Moralitas, didalam prinsip ini terkandung unsur-unsur kejujuran,


kepekaan sosial, tanggung jawab individu,

Komitmen

b) Mengefektifkan fungsi internal audit


Beberapa hal yang harus diperhatikan agar fungsi internal audit bisa efektif membantu
dalam melaksanakan tanggung jawabnya dengan memberikan analisa, penilaian, saran,
dan komentar, mengenai kegiatan yang diperiksanya adalah:
1.

Internal audit departemen harus mempunyai kedudukan yang independen


dan bertanggung jawab kepada atau melaporkan kegiatannya

2.

Internal audit departemen harus mempunyai uraian tugas secara tertulis,


sehingga setiap auditor mengetahui dengan jelas apa yang menjadi tugas,
wewenang, dan tanggung jawabnya.

3.

Internal audit harus mempunyai internal audit manual yang berguna untuk:

Mencegah terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan tugas

Menentukan

standar

yang

berguna

untuk

mengukur,

dan

meningkatkan performance

Memberi keyakinan bahwa hasil akhir internal audit departemen


sesuai dengan requirement dari internal audit director

4.

Harus ada dukungan yang kuat kepada internal audit departemen. Dukungan
tersebut dapat berupa:

Penempatan Internal Audit departemen dalam posisi yang independen

13

Penempatan audit staff dengan gaji yang cuku menarik

Penyediaan waktu yang cukup untuk membaca, mendengarkan, dan


mempelajiari laporan-laporan internal audit departemen dan respon
yang cepat dan tegas terhadap saran-saran perbaikan yang diajukan
oleh internal auditor.

5.

Internal audit departemen harus memiliki sumber daya yang profesional,


capable, dan bisa bersikap objektif dan mempunyai integritas serta loyalitas
yang tinggi.

14


2.3.2.

Kasus II: Golkar Protes Disebut Tak Transparan Soal Dana Parpol

Golkar Protes Disebut Tak Transparan Soal Dana Parpol


Danu Damarjati detikNews
Selasa, 16/04/2013 17:53 WIB

Jakarta - Partai Golkar dinilai tak kooperatif soal dana parpol oleh Transparency International
Indonesia (TII). Wakil Bendahara Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo mengaku partainya sudah
cukup transparan soal pendanaan partai.
"Saya tidak tahu persis juga apa yang menjadi dasar TII memberi kesimpulan seperti itu," kata
Bambang ketika dihubungi wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (16/4/2013).
Bambang berargumen, partainya sudah mempunyai akuntan independen untuk memastikan
keabsahan pendanaan. Laporan dari akuntan itu kemudian dilaporkan ke pengurus partai dan ketika
Rapat Pimpinan Nasional.
"Laporan keuangan Golkar diaudit oleh kantor akuntan independen setiap tahunnya dan tidak ada
masalah. Tidak ada dana ilegal yang mengalir ke partai kami dengan penggunaan yang juga jelas.
Sumber-sumber jelas dari partisipasi para kader dan simpatisan," aku Bambang.
"Laporan pemeriksaan akuntan publik lengkap kok setiap tahun dan dilaporan ke pengurus partai
dan rapimnas partai. Survei ya silahkan saja dan perlu untuk memberikan ganbaran ke masyarakat.
Dan kita tidak menutup diri kok," tandasnya.
TII berhasil mensurvei lima parpol, yaitu Gerindra, PAN, PDIP, PKB, dan Hanura. Di luar lima parpol
itu, TII tidak melanjutkan survei karena dinilai tidak cukup kooperatif.
"Partai kurang kooperatif, yaitu PKS dan Demokrat. Sementara yang tidak kooperatif adalah Golkar,
sama sekali tidak membuka komunikasi dengan TII," ucap peneliti TII Putut Aryo Saputro.
Sementara itu, PPP hanya sebatas membuka diri untuk audiensi. TII tidak melanjutkan surveinya
terhadap PPP.

Pengambilan Keputusan berdasarkan Seven Steps:


1.

Tentukan fakta (apa, siapa, dimana, kapan, bagaimana)


Kasus:

Transparency International Indonesia (TII) berhasil mensurvei lima parpol, yaitu

Gerindra, PAN, PDI-P, PKB, dan Hanura. Di luar lima parpol itu, TII tidak melanjutkan survey
karena dinilai tidak cukup kooperatif. partai kurang kooperatif yaitu PKS dan Demokrat.
Sementara, yang tidak kooperatif adalah Golkar. Sama sekali tidak membuka komunikasi dengan
TII. Ucap peneliti TII Putut Aryo Saputro, Partai Golkar dinilai tidak kooperatif soal dana parpol.
Sementara itu, PPP hanya sebatas membuka diri untuk audiensi. TII tidak melanjutkan surveinya
terhadap PPP.

15

2.

Menetapkan isu etis


Kasus:

Wakil bendahara umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo mengaku partainya sudah

cukup transparan soal pendanaan partai saat dihubungi wartawan di Gedung DPR, Senayan,
Jakarta. Selasa (16/4/2013). Bambang berargumen, partainya sudah mampunyai akuntan
independen dan laporan keuangan Golkar di audit setiap tahunnya dan tidak ada masalah untuk
memastikan keabsahan pendanaan. Laporan dari akuntan itu kemudian dilaporkan ke pengurus
partai dan ketika rapat pimpinan nasional. Tidak ada dana illegal yang mengalir ke Partai
dengan penggunaan yang juga jelas

3.

Mengidentifikasi prinsip-prinsip utama, aturan, dan nilai-nilai


Kasus:
Menurut Cadbury Report (1992), Good Corporate Governance (GCG) terdapat empat
kriteria yang harus dimiliki oleh sebuah badan usaha ataupun badan pemerintah, yaitu:
Pertanggung jawaban (responsibility), Akuntabilitas, Keadilan(Fairness), Transparansi.
Transparansi (transparency), prinsip dasar transparansi berhubungn dengan kualitas
informasi yang disajikan oleh suatu badan tersebut. Oleh karena itu, suatu badan pemerintahan
dituntut untuk menyediakan informasi yang jelas, akurat, tepat waktu, dan dapat dibandingkan
dengan indikator-indikator yang sama. Prinsip ini diwujudkan antara lain dengan
mengembangkan sistem akuntansi yang berbasiskan standar akuntansi dan best practice yang
menjamin adanya laporan keuangan dan informasi akuntansi manajemen untuk menjamin
adanya pengukuran kinerja yang memadai dan proses pengambilan keputusan yang efektif,
termasuk juga mengumumkan jabatan yang kosong secara terbuka (Tjager dkk, 2003:51).
Dengan kata lain, prinsip transparansi ini menghendaki adanya keterbukaan dalam
melaksanakan proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam penyajian (disclosure)
informasi yang dimiliki. Dimana penerapan prinsip transparansi yang terdapat dalam strategi
good corporate governance dikaitkan dengan upaya pemberantasan KKN, maka penekanan
pelaksanaan prinsip keterbukaan menjadi penting.

4.

Tentukan alternatif
Kasus:

Wakil Bendahara Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo mengaku partainya sudah

cukup transparan soal pendaan partai. Jadi apabila Transparency Internasional Indonesia (TII)
ingin melakukan survei, partai Golkar tidak akan menutup diri sehingga memberikan gambaran
ke masyarakat




16

5.

Bandingkan nilai-nilai dan alternatif, serta melihat apakah muncul keputusan yang jelas
Kasus:
Wakil Bendahara Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo mengaku bahwa partainya
sudah cukup transparan mengenai pendanaan partai. Namun apakah transparansi yang
diberikan oleh Partai Golkar dirasa telah cukup kepada pihak-pihak lain yang terkait
didalamnya?
Banyak definisi lain terkait dnegan apa yan disebut pelanggaran prinsip transparansi,
salah satunya adalah dalam bentuk misrepresentation. Misrepresentation adakalanya disebut juga
sebagai Misstatement, yaitu suatu perbuatan yang membuat pernyataan yang salah, khususnya
berkaitan dengan data internal yang dapat menyesatkan bagi para pemegang kepentingan
lainnya. Selain itu, pernyataan menyesatkan juga dapat muncul karena adanya omission, yaitu
perbuatan penghilangan fakta material, seperti dokumen-dokumen penting.


6.

Menilai konsekuensi
Kasus:

Beberapa kerugian untuk partai Golkar apabila tidak menerapkan Good Corporate

Governance (GCG) dengan baik, mulai dari tidak memberikan nilai ditambah bagi organisasi
tersebut tidak memberika nilai tambah bagi organisasi tidak hanya sekedar citra, ada pula yang
akan tidak tertata dengan baik.
Kerugian lain, dengan kondisi organisasi yang buruk sudah tentu pihak luar akan
memandang buruk terhadap keberadaaan organisasi politik partai Golkar. Tak hanya organisasi
tersebut meraih kerugian, dengan tidak menerapkan good corporate governance (GCG) dengan
baikm tetapi juga berdampak bagi perekonomian lebih umum.

7.

Membuat Keputusan Anda


Kasus:

Dalam rangka pesta demokrasi di Negara ini, tanda Tanya besar perlu tidaknya suatu

pertanggung jawaban keuangan dialamatkan ke Parpol maupun peserta pemilu. Idealnya


mereka harus transparan karena mereka sebagai suatu entitas yang menggunakan dana politik
yang besar tanggung jawab keuangan merupakan hal yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.

Mereka harus mempertanggung jawabkan sumber daya keuangan yang digunakan

kepada para konstituennya dan juga sebagai bentuk kepatuhan kenapa undang-undang. Bentuk
pertaggung jawaban pengelolaan keuangan para peserta pemilu, adalah dengan menyampaikan
laporan dana kampanya (semua peserta pemilu) serta laporan keuangan (khusus untuk parpol),
yang harus di audit oleh Akuntan Publik dan disampaikan ke KPU serta terbuka untuk diakses ke
public.
Walaupun pada kenyataannya sebagian besar partai politik peserta pemilu di Indonesia
belum menyusun laporan keuangan dengan baik berdasarkan UU No.31 tahun 2002.

17

BAB III
PENUTUP
3.1

KESIMPULAN


Analisis dampak pemangku kepentingan menawarkan cara formal dalam membawa kebutuhan
dari organisasi dan individu konsikuennya (masyarakat) kepada sebuah keputusan. Perdagangan
merupakan hal yang sulit dan dapat memperoleh keuntungan dari kemajuan teknik semacam itu.
Penting untuk tidak melupakan fakta bahwa konsep analisis dampak pemangku kepentingan yang
dibahas dalam makalah ini perlu diterapkan bukan merupakan teknik tunggal, tetapi (teknik) bersama-
sama sebagai suatu perangkat. Hanya dengan begitulah suatu analisis yang komprehensif akan dicapai
dan keputusan etis dapat dibuat. Bergantung pada sifat dari keputusan yang akan dihadapi, dan
pemangku kepentingan yang akan terpengaruhi, analisis yang tepat dapat didasarkan pada
konsekuensialisme, deontologi, dan etika kebajikan sebagai kumpulan, atau salah satu dari 5-pertanyaan
yang dimodifikasi, standar moral, atau pendekatan Pastin, dengan mempertimbangkan kemungkinan
adanya masalah bersama yang timbul. Setiap pendekatan EDM yang komprehensif harus menyertakan
tidak hanya sebuah pemeriksaan dampak keputusan atau tindakan, tetapi juga analisis gap dari motivasi
kebajikan, dan sifat karakter yang terlihat.
Seorang akuntan profesional dapat menggunakan analisis pemangku kepentingan dalam
membuat keputusan tentang akuntansi, audit, hal-hal praktik, dan harus siap untuk memperisapkan atau
membantu majikan atau klien dalam analisi tersebut seperti yang saat ini menjadi kasus di area lain.
Meskipun banyak eksekutif berorientasi angka dan akuntan waspada jika terlibat dengan analisi
subjektif lunak yang menggambarkan analisis kebijakan dan harapan para pemangku kepentingan,
mereka harus ingat bahwa dunia telah berubah dengan menempatkan nilai yang jauh lebih tinggi pada
informasi non-angka. Mereka harus berhati-hati menempatkan bobot terlalu banyak dalam analisis
numerik, jika tidak mereka jatuh ke dalam perangkap ekonom, yang, sebagaimana dikatakan Oscar
Wilde: ketahuilah harga dari segala sesutu dan nilai dari sesuatu yang sebenarnya tidak bernilai.



18

DAFTAR PUSTAKA

Brooks, Leonard J dan Paul Dunn. 2011. Etika Bisnis & Profesi untuk Direktur, Eksekutif,
dan Akuntan. Jakarta; PT Salemba Empat.




19