Anda di halaman 1dari 8

Agustian Lapaleo di 04.

25
MIKROMERITIK
CONTOH LAPORAN FARFIS
PERCOBAAN MIKROMERITIK
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam bidang farmasi, zat-zat yang
digunakan sebagai bahan obat kebanyakan
berukuran kecil dan jarang yang berada
dalam keadaan optimum. Ukuran partikel
bahan obat padat mempunyai peranan
penting dalam bidang farmasi sebab
merupakan penentu bagi sifat-sifat, baik sifat
fisika, kimia dan farmakologik dari bahan
obat tersebut Dalam pembuatan sediaansediaan seperti kapsul, tablet, granul, sirup
kering tentu mempertimbangkan ukuran
partikel.Begitupula akan mempengaruhi
kecepatan disolusi atau kelarutan dari suatu
sediaan obat sehingga efek yang akan
ditimbulkan dapat dengan cepat bereaksi.
Hal-hal semacam ini terutama sangat
berpengaruh pada sediaan-sediaan obat yang
mempunyai bentuk sediaan seperti tablet ,
kapsul dan lain-lainnya yang bersifat padat
atau yang lainnya.
Mikromeritik adalah suatu cabang
ilmu pengetahuan yang mempelajari khusus
tentang ukuran suatu partikel, yang mana
ukuran partikel ini cukup kecil. Masalah
seperti ukuran partikel ini dalam bidang
farmasi sangat diperhitungkan sekali atau
dapat dikatakan sangat penting.
Mengingat pentingnya mikromeritik
dalam bidang farmasi, maka sudah
sewajarnya jika mahasiswa farmasi
memahami mengenai mikromeritik ini,
termasuk cara-cara dalam melakukan
pengukuran ukuran partikel suatu zat. Dalam
praktikum ini akan dilakukan percobaan
menghitung ukuran partikel dari amilum dan
zink oksida dengan menggunakan metode
ayakan, yang mana metode ini merupakan
metode yang paling sederhana, tetapi relatif
lama dalam penentuan ukuran partikel.
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami
cara menentukan ukuran partikel
dengan menggunakan metode tertentu.

I.2.2 Tujuan Percobaan


Menentukan ukuran partikel
serbuk amilum dan zink oksida dengan
menggunakan metode ayakan.
I.3 Prinsip Percobaan
Pengukuran pertikel dari serbuk
berdasarkan atas penimbangan residu yang
tertinggal pada tiap ayakan yaitu dengan
melewatkan serbuk pada ayakan dari nomor
mesh rendah ke nomor mesh tinggi yang
digerakkan oleh mesin penggetar dengan
waktu dan kecepatan tertentu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Umum
Ilmu pengetahuan dan teknologi
tentang partikel-partikel kecil oleh Dalla
Valle dinamakan Mikromeritik. Dispersi
koloid mempunyai sifat karakteristik yaitu
partikel-partikelnya tidak dapat dilihat di
bawah mikroskop biasa, sedangkan
partikel-partikelnya dari emulsi dan
suspensi farmasi serta serbuk halus
ukurannya berada dalam jarak penglihatan
mikroskop. Partikel-partikel yang
ukurannya sebesar serbuk kasar, granulat
tablet atau granulat garam, ukurannya
berada dalam jarak pengayakan (1).
Pengetahuan dan pengendalian
ukuran, serta kisaran ukuran partikel
sangat penting dalam farmasi. Jadi
ukuran, dan karenanya juga luas
permukaan, dari suatu partikel dapat
dihubungkan secara berarti pada sifat
fisika, kimia dan farmakologi dari suatu
obat. Secara klinik ukuran partikel suatu
obat dapat mempengaruhi penglepasannya
dari bentuk-bentuk sediaan yang diberikan
secara oral, parenteral, rektal dan topikal.
Formulasi yang berhasil dari suspensi,
emulsi dan tablet, dari segi kestabilan fisik
dan respon farmakologis, juga bergantung
pada ukuran partikel yang dicapai dalam
produk tersebut. Dalam bidang pembuatan
tablet dan kapsul, pengendalian ukuran
partikel penting sekali dalam mencapai
sifat aliran yang diperlukan dan
pencampuran yang benar dari granul dan
serbuk. Hal ini membuat seorang farmasis
kini harus mengetahuhi pengetahuan
mengenai mikromimetik yang baik (2).
Ukuran partikel dapat dinyakan

dengan berbagai cara. Ukuran diameter


rata-rata dan beberapa cara pengukuran
partikel yaitu :
1. Metode Miroskopik
Bila partikelnya lebih kecil
yaitu partikel dengan ukuran
Angstrom. Dari 10 1000 Angstrom (1
Angstrom = 0,001 mikrometer),
mikroskop ini mempunyai jelajah ukur
dari 12 mikrometer sampai kurang
lebih 100 mikrometer (3).
Disebabkan kemudahannya,
cara mikroskopik mempunyai suatu
pengalaman perluasan lebih lanjut,
disamping ukuran dari setiap partikel
juga bentuknya dan bila perlu
dipertimbngkan pembuatan
anglomerat, dengan bantuan sebuah
mikrometer okuler yang tertera
berlangsung setiap analisa ukuran
partikel dari 500 1000 partikel.
Perbesaran maksimal yang tercapai
artinya perbesaran yang sesuai
dengan daya resolusi mata manusia
(kira-kira 0,1 mm), adalah 550 kali
(4).
2. Metode Pengayakan
Cara ini untuk mengukur
ukuran partikel secara kasar. Bahan
yang akan diukur partikelnya ditaruh
di atas ayakan dengan nomor mesh
rendah. Kemudian dibawahnya
ditaruh/ditempatkan ayakan dengan
ayakan dengan nomor mesh yang
lebih tinggi. Perla diingat bahwa
ayakan dengan nomor mesh rendah
mempunyai usuran lubang relatif
besar dibandingkan dengan ayakan
dengan nomor mesh tinggi. Atau
dengan kata lain partikel melalui
ayakan nomor mesh 100 ukuran
partikel lebih kecil dibanding dengan
partikel yang melalui ayakan nomor
mesh 30 (3).
Metode ini dalah metode
yang paling sederhana dilakukan.
Ayakan dibuat dari kawat dengan
lubang diketahui ukurannya. Istilah
mesh adalah nomor yang
menyatakan jumlah luabang tiap inci.
Ayakan standar adalah ayakan yang
telaha dikalibrasi dan yang paling

umum adalah ayakan menurut standar


Amerika (5).
3. Metode Sedimentasi
Ukuran partikel dari ukuran
saringan seperti salah satunya
seringkali disangkutkan dalam bidang
farmasi. Metode sedimentasi di
dasarklan pada hukum Stoke, serbuk
yang akan diukur disuspensikan dalam
cairan, dimana serbuk tidak dapat
larut. Suspensi ini ditempatkan pada
sebuah pipet yang bervariasi. Sampel
ini diuapkan untuk dikeringkan dan
residunya ditimbang. Setiap sampel
ditarik yang mempunyai ukuran
partikel; yang lebih kecil dari yang
dihubungkan dengan kecepatan.
Pengendapan karena semua partikel
dengan ukuran yang lebih panjang
akan jatuh ke level bawah dari ujung
pipet (5).
II.2 Uraian Bahan
1. Seng oksida (6;636)
Nama resmi : Zinci
oxydum
Sinonim : Seng
oksida
RM/BM : ZnO/81,38
Pemerian : Serbuk
amorf,
sangat
halus,
putih
atau
putih
kekunin
gan,
tidak
berbau,
tidak
berasa,
lambat
laun
menyer
ap CO2
di
udara.
Kelarutan : Praktis
tidak
larut
dalam
air dan

dalam
etanol
(95 %)
P. Larut
dalam
asam
mineral
encer
dan
dalam
alkali
hidoksid
a.
Penyimpanan : Dalam
wadah
tertutup
rapat
Kegunaan : Sebagai
Sampel
2.
DAFTAR PUSTAKA
1. Martin, Alfred, (1994),Farmasi
Fisik, UI Press, Jakarta
2. Ansel, Howard, C., (1989),Pengantar
Bentuk Sediaan Farmasi, UI Press,
Jakarta
3. Effendy, Moch Idris, (2003),Penuntun
Praktikum Farmasi Fisik, Universitas
Hasanuddin, Makassar
4. Voight, R., (1994),Buku Pelajaran
Farmasi, Edisi V, Gadjah Mada Press,
Yogyakarta
5. Parrot, (1971),Pharmaceutical
Technology, Burgess Publishing
Company, University of Lowa, Lowa
6. Ditjen POM, (1979),Farmakope
Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta
BAB V
PEMBAHASAN
Mikromeritik adalah suatu cabang
ilmu pengetahuan yang mempelajari khusus
tentang ukuran suatu partikel, yang dimana
ukuran partikel ini cukup kecil. Pengertian ini
sangat penting untuk diketahui oleh mahasiswa
farmasi khususnya dalam membahas obat sediaan
padat seperti kapsul,tablet, granul, sirup kering.
Ukuran partikel dapat dinyatakan dengan
berbagai cara. Ukuran diameter rata-rata, ukuran
luas permukaan rata-rata, volume rata-rata,
volume rata-rata an sebagainya. Pada umumnya
pengertian ukuran partikel disini adalah ukuran
diameter rata-rata.

Ukuran partikel bahan obat padat


memiliki peranan penting dalam farmasi, sebab
ukuran partikel mempunyai pengaruh yang besar
dalam pembuatan sediaan obat dan juga terhadap
efek terapinya. Pengetahuan dan pengontrolan
ukuran dan jarak ukuran partikel sangat penting
untuk diketahui. Ukuran partikel, yang berarti
juga luas permukaan spesifik partikel, dapat
dihubungkan dengan sifat-sifat fisika, kimia dan
farmakologik suatu obat. Dalam pembuatan tablet
dan kapsul misalnya, pengontrolan ukuran
partikel penting dilakukan untuk mendapatkan
sifat alir yang tepat dari granulat dan serbuk.
Formulasi yang berhasil dari suspensi, emulsi dan
tablet, baik dipandang dari segi stabilitas fisika
maupun dari segi respon biologisnya juga
tergantung dari ukuran partikel dan bahan
obatnya. Secara klinik, ukuran partikel
mempengaruhi pelepasan obat dari sediaannya
yang diberikan baik secara oral, parenteral,
rektal dan topikal.
Pada percobaan kali ini dilakukan
pengukuran diameter partikel sampel dengan
mneggunakan metode ayakan. Metode ini
menggunakan satu seri ayakan standar yang telah
dikalibrasi oleh National Buereau of Standar.
Ayakan umum digunakan untuk memilahmilahkan partikel-partikel yang lebih kasar,
namun, jika digunakan secara hati-hati sekali ia
dapat digunakan untuk mengayak bahan samapai
44 mikron (ayakan no. 325). Sekarang sudah
terdapat apa yang dinamakan electroformed
sieves dengan lubang (aperture) dari 5 sampai 30
mikron. Menurut metode USP untuk menguji
kehalusan serbuk, suatu massa sampel tertentu
diletakkan pada ayakan yang sesuai di dalam
suatu alat penggojok mekanis (shakker). Serbuk
digojok selama periode waktu tertentu dan bahan
yang lolos dari satu ayakan dan yang yang tinggal
pada ayakan berikutnya yang lebih halus,
dikumpulkan dan ditimbang.
Apabila suatu analisa yang mendetail
dibutuhkan, ayakan-ayakan dapat disusun dalam
satu set dari kurang lebih lima ayakan dengan
ayakan yang paling kasar berada teratas, dan
setelah ayakan-ayakan digojok selama periode
tertentu, serbuk yang tertinggal pada tiap-tiap
ayakan ditimbang. Dengan mengasumsikan suatu
distribusi log normal, presentase kumulatif bobot
dari serbuk yang tertinggal pada ayakan-ayakan
tersebut di-plot-kan pada skala probabilitas
terhadap logaritma ukuran arithmetik rata-rata,

masing-masingdari dua ayakan yang berdekatan.


Apabila suatu analisa yang mendetail
dibutuhkan, ayakan-ayakan dapat disusun dalam
satu set dari kurang lebih lima ayakan dengan
ayakan yang paling kasar berada teratas, dan
setelah ayakan-ayakan digojok selama periode
tertentu, serbuk yang tertinggal pada tiap-tiap
ayakan ditimbang. Dengan mengasumsikan suatu
distribusi log normal, prosentase kumulatif bobot
dari serbuk yang tertinggal pada ayakan-ayakan
tersebut di-plot-kan pada skala probabilitas
terhadap logaritma ukuran arithmetik rata-rata,
masing-masing dari dua ayakan yang berdekatan.
Pada praktikum kali ini akan
dilakukan pengukuran terhadap diameter suatu
zat padat yaitu amilum dan zink oksida dengan
menggunakan metode ayakan dengan
menggunakan alat vibrator agar sampel yang
dilakukan pengujian dapat melewati tahap demi
tahap ayakan yang telah disusun dari nomor mesh
terkecil hingga nomor mesh terbesar, yakni dari
nomor mesh 20, 40, 60, 80, dan nomor mesh 100.
Alat vibrator di set selama selang waktu 10
menit. Untuk selanjutnya dilakukan penimbangan
terhadap zat yang tertahan dalam masing-masing
nomor mesh.
Metode ayakan dilakukan dengan
menyusun ayakan dari nomor mesh yang terkecil
(yang paling atas) sampai pada nomor mesh yang
paling besar (yang paling bawah) hal ini
bertujuan agar partikel-partikel yang tidak
terayak (residu) yang ukurannya sesuai dengan
nomor ayakan. Jika nomor ayakan besar maka
residu yang diperoleh memiliki ukuran partikel
kecil.
Dalam mengayak dibantu dengan alat
vibrator (mesin penggerak), mesin ini digerakkan
secara elektrik dan dapat diatur kecepatannya dan
waktunya. Dalam percobaan ini kecepatan mesin
penggerak diatur 5 rpm bertujuan untuk
menghindari pemaksaan partikel besar melewati
ayakan akibat tingginya intensitas penggoyangan
atau tertahannya partikel kecil akibat lambatnya
intensitas penggoyangan sehingga dipilih intesitas
penggoyangan setengah dari kecepatan
maksimum.
Pada bagian paling atas dari susunan
ayakan dipasang penutup dari mesin penggerak
bertujuan agar tidak ada pengaruh luar yang
mempengaruhi gerakan mesin, misalnya tekanan
udara di atasnya atau yang faktor yang lainnya,
sehingga tidak ada gaya lagi yang bekerja kecuali

gaya gravitasi yang mengarah jatuhnya partikel ke


arah bawah.
Metode yang digunakan ini merupakan
metode yang sangat sederhana dimana hanya
memerlukan timbangan, ayakan dan alat vibrator,
serta waktu yang dibutuhkan cukup singkat.
Namun alat atau metode ini tingkat keakuratan
yang diperoleh tidaklah seakurat dengan metode
secara mikroskopik.
Dari data yang peroleh bahwa
umumnya diperoleh zat sisa yang tertahan dengan
semakin tinggi nomor mesh semakin banyak zat
yang tersisa. Hal ini karena ukuran dalam tiap
inci semakin kecil lubangnya.
Metode ini merupakan metode untuk
mengetahui tingkat kehalusan dari suatu zat.
Dengan melihat semakin banyak zat yang
tertinggal dalam ayakan maka semakin kasar zat
tersebut.
Dari hasil percobaan, diperoleh
diameter rata-rata dari serbuk amilum adalah
sebesar 338 m. Sedangkan diameter zink oksida
yang diperoleh dari percobaan adalah sebesar 48
m.
Terjadinya perbedaan atau
ketidaksesuaian antara hasil yang diperoleh dalam
praktikum dengan yang ada di dalam literatur
dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara
lain :
1. Adanya partikel yang tertinggal di udara
atau di ayakan pada saat ayakan dibersihkan
2. Penimbangan sampel yang kurang akurat
3. Keadaan sampel yang sudah tidak layak
lagi, karena lamanya penyimpanan dalam
laboratorium sehingga mungkin saja sudah
terkontaminasi oleh udara
BAB VI
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah
dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa :
Diameter rata-rata serbuk amilum
adalah 338 m
Diameter rata-rata serbuk zink aoksida
adalah 48 m
VI.2 Saran
Sebaiknya dilakukan pengukuran
derajat halus serbuk dengan metode lain
yang lebih efektif.
http://iyanvalidasi.blogspot.com/2012/02/mikromeritik.html?m=1