Anda di halaman 1dari 97

AIRWAY, BREATHING

MANAJEMEN
DIKLAT RS & DIKLAT
Keperawatan

ANATOMI SISTEM PERNAPASAN


Sistem pernapasan terdiri
dari:
1.

2.
3.

4.
5.
6.
7.

Rongga hidung dan rongga


mulut
Faring
Laring
Trakea
Bronkus
Bronkiolus
Alveoli

FISIOLOGI SISTEM PERNAPASAN


Proses fisiologi pernapasan dimana O2 dipindahkan
dari udara ke dalam jaringan-jaringan, dan CO2
dikeluarkan ke udara ekspirasi dibagi menjadi 3
stadium, yaitu:
1. Ventilasi
2. Difusi
3. Respirasi sel

1. Ventilasi

Merupakan proses untuk


mengerakkan gas ke dalam dan
ke luar paru

a. Inspirasi (menghirup)
Hirup napas
Oksigen 21 %

1. Ventilasi

lanjutan

2. Ekspirasi (mengeluarkan napas)

Karbondioksida
+
Oksigen 16 %

Inspirasi dilakukan oleh 2 jenis otot

2. Difusi
Difusi gas-gas antara
alveolus dan kapiler dan
antara darah sistemik
dan sel-sel jaringan

3. Respirasi sel

Merupakan saat
dimana metabolit
dioksidasi untuk
mendapatkan energi
dan karbon dioksida
terbentuk sebagai
sampah proses
metabolisme sel dan
dikeluarkan oleh
paru-paru

Kematian karena masalah airway pada trauma


disebabkan :

Kegagalan dalam mengenal airway yang tersumbat


sebagian atau ketidakmampuan penderita untuk
melakukan ventilasi dengan cukup.

Adanya kesulitan teknis dalam menjaga jalan nafas


dan teknis membantu ventilasi

Aspirasi isi gaster

Patofisiologi
Pada penderita trauma kemampuan sistem
respiratorik dalam menyediakan oksigen yang
adekuat dan pelepasan karbondioksida akan
terganggu, ini dikarenakan :
1. Hipoventilasi akibat hilangnya penggerak
usaha bernafas, yang biasanya disebabkan
oleh penurunan fungsi neurologis

Lanjutan Patofisiologi
2. Hipoventilasi akibat adanya obstruksi aliran
udara pada jalan nafas dan bawah
3. Hipoventilasi akibat penurunan kemampuan
paru untuk mengambang.
4. Hipoksia akibat penurunan absorsi oksigen
melalui membrana alveolar-kapiler

Lanjutan Patofisiologi
5. Hipoksia akibat penurunan aliran darah ke
alveoli
6. Hipoksia akibat ketidakmampuan udara untuk
mencapai alveolus, biasanya karena terisi air
atau debris.

7. Hipoksia pada tingkat selular akibat penurunan


aliran darah ke sel jaringan.

Pengenalan gangguan Jalan Nafas

Terganggunya jalan nafas dapat terjadi secara


tiba-tiba dan komplit, atau secara perlahan,
parsial dan progresif / rekuren.

Pengenalan gangguan Jalan Nafas

Penderita dengan kesadaran menurun


mempunyai resiko tinggi untuk terjadi gangguan
jalan nafas karena:

Selalu akan timbul cairan dan refleks menelan hilang.


Refleks batuk hilang dengan akibat aspirasi dan
obstruksi airway Keadaan ini kerap kali
memerlukan jalan nafas definitif.

Pengenalan gangguan Jalan Nafas

Fraktur tulang wajah dapat menyebabkan


perdarahan, sekresi yang meningkat serta
avulasi gigi bisa menyebabkan gangguan jalan
napas.
Penderita yang menolak berbaring mungkin
terjadi gangguan jalan napas

Obstruksi Jalan Nafas


1. SUMBATAN JALAN NAPAS TOTAL
Chocking tersedak
2. PARSIAL
a. Cairan Gurgling
b. Pangkal lidah Snoring
c. Anatomis Crowing

TANDA OBJEKTIF SUMBATAN


JALAN NAPAS

Lihat (look)

Dengar (listen)

Penurunan kesadaran, cyanosis, retraksi,


berontak, gelisah

Suara-suara abnormal : Snoring, gurgling,


crowing sumbatan parsial

Rasakan (Feel)

Rasakan adanya hembusan napas, raba posisi


trakhea

Setiap pernapasan berbunyi,


tanda sumbatan parsial jalan napas

(Gurgling, Snoring, Crowing)

Setiap penderita yang bisa berbicara


tanpa suara tambahan maka airway
baik
(Tidak ada sumbatan)

BASIC AIRWAY
MANAGEMENT

CHOCKING MANAGEMENT

PENANGANAN PADA BAYI


Chest thrust > < Back Blow

Catatan:
Pada bayi tidak direkomendasikan
melakukan abdominal thrust karena dapat
merusak organ.

Membebaskan sumbatan total karena benda asing


pada saluran napas:

1.

Bila korban masih


dapat bernapas,
minta dia batuk batuk.

2.

Bila korban sudah


terlihat semakin
lemah atau tidak
dapat batuk, lakukan
penepukan (slap) di
punggung korban /

CARA MELAKUKAN TEPUK PUNGGUNG


(BACK SLAP/BACK BLOW)

Slide 29

Pasien
diberitahu
untuk membungkuk
di atas sandaran
kursi
dan
membelakangi
penolong

Kemudian
pukul
dengan keras 3-5 x
diantara
tulang
belikat
punggung

CARA MELAKUKAN TEPUK PUNGGUNG


(BACK SLAP/BACK BLOW)
Pasien Anak

Penolong meletakkan
muka anak ke arah
bawah di atas lutut atau
lengan dan memukul si
anak dengan keras
diantara tulang belikat
punggung.

Pada Bayi

Slide 30

Penolong memegang
bayi terbalik di kedua
kakinya dan memukulnya
dianata tulang belikat

CARA MELAKUKAN HEIMLICH


MANUVER
a.

Heimlich Manuver ( Yang Dilakukan Sendiri


caranya:
Kepalkan sebuah tangan, letakkan sisi ibu jari pada
perut di atas pusat dan dibawah tulang sternum,
genggam kepalan itu dengan kuat dan berikan
tekanan ke atas ke arah diafragma dengan gerakan
cepat, jika tidak berhasil dapat dilakukan tindakan
dengan menekan perut pada tepi meja atau
belakang kursi.

b. Abdominal Thrust Oleh Penolong

Caranya:

Berdirilah dibelakang korban,


lingkarkan tangan anda di perut
korban, buatlah kepalan

diantara pusar dan pertemuan


tulang iga.
Bungkukkan korban ke depan
Slide 32

Heimlich Manuver ( lanjutan

Pegang kepalan tangan


anda diantara pusar dan
pertemuan tulang iga.
Buatlah gerakan kepalan tsb
menarik ke dalam perut dan
angkat ke atas. Gerakan ini
akan membantu
mengeluarkan sumbatan
benda asing tsb.
Prosedur ini dapat diulangi
sampai 5 x

Cara Melakukan Abdominal Thrust Pada Korban


Yang Tergeletak (Tidak Sadar)

Tidurkan korban terlentang ( supine)


dengan leher ekstensi untuk membuka
jalan napas.
Penolong berlutut mengangkang di
atas korban, bila tidak memungkinkan
dapat berlulut disisi korban
Letakkan salah satu tangan pada perut
korban di garis pertengahan antara
pusat-PX, tangan
kedua diletakkan di atas tangan
pertama.
Penolong menekan ke arah perut
dengan
hentakan yang cepat ke arah atas.

2. OBSTRUKSI PARTIAL

Dapat disebabkan berbagai hal, biasanya


penderita masih dapat bernapas sehingga
timbul beraneka ragam suara, tergantung
penyebabnya.

Dibedakan menjadi 3:
1.

2.
3.

Sumbatan karena cairan (suara Gurgling)


Sumbatan karena lidah (Suara Snoring)
Sumbatan anatomis (Suara Crowing)

1. Sumbatan Karena Cairan

Cairan (darah sekret, aspirasi lambung, dsb)


timbul suara gurgling, suara bernapas bercampur
cairan dalam keadaan ini harus dilakukan
penghisapan (suction)

Peralatan suction dapat berupa portable suction unit


atau stationary suction unit

Suctioning dapat dilakukan dengan kateter suction


baik yang kaku (rigid tip) maupun yang lembut
(soft/flexible tip).

1. Sumbatan

Karena Cairan

lanjutan

Perhatian:
Bila memakai soft tip masuk ke naso faring harus selalu
diukur jangan sampai terlalu jauh.

Pada fraktur basis cranii alat yang dimasukkan lewat


hidung selalu ada kemungkinan masuk rongga
tengkorak.

Rigid tip dapat menyebabkan timbulya reflek muntah


bila bersinggungan dengan dinding faring atau bahkan
menimbulkan perlukaan.

1. Sumbatan Karena Cairan

lanjutan

Perhatian:
Tindakan suction akan menghisap oksigen
yang ada dalam jalan napas, oleh karena
itu lamanya suction perlu diperhatikan.

Lamanya :
Pada

orang dewasa : 15 detik


Pada anak-anak: 5 detik
Pada bayi: 3 detik

1. Sumbatan Karena Cairan lanjutan

Perhatian:

Pada kasus tertentu tindakan suction memerlukan


oksigenasi sebelum dan sesudah tindakan untuk
mencegah hipoksia
Bila penderita muntah dalam jumlah banyak dan
tindakan suction tidak menolong maka kepala
penderita harus dimiringkan.
Pada penderita trauma yang dicurigai fraktur servical
jangan hanya dimiringkan kepalanya saja seluruh
badan penderita harus dimiringkan dengan tindakan
logroll

2. Sumbatan karena pangkal


lidah

Pangkal lidah yang jatuh ke


belakang keadaan ini dapat
timbul pada pasien yang tidak
sadar (coma) atau pada penderita
yang tulang rahang bilateralnya
patah shg lidah jatuh kebelakan
dan menyumbat hipofaring
timbul suara mengorok (snoring)
yang harus segera diatasi dengan
perbaikan airway secara manual
atau dengan alat.

Cara mengatasi sumbatan jalan


napas karena sumbatan pangkal
lidah pada prinsipnya adalah
mengangkat pangkal lidah agar
tidak menutup jalan napas

Tindakan Manual yang dapat dilakukan:


1.

2.

Head tilt / chin lift


trauma hanya chin lift
Adalah tindakan
mengangkat dagu
dengan
menengadahkan kepala

Jaw thrust

Adalah mendorong
rahang dengan cara
memegang sudut
rahang bawah (angulus
mandibulae)

Patient

Positioning

T - trachea
P - Pharynx
O - Oropharynx

Tindakan Artifisial yang dapat dilakukan


1.

Oro pharyngeal airway (OPA)


Adalah tindakan membebaskan
sumbatan jalan napas dgn
menyisipkan alat ke dalam mulut
(dibalik lidah) dengan cara
menahan lidah penderita agar tidak
menyumbat jalan napas.
Tekniknya ada 2 cara: 1. Terbalik
(Up side down), 2. Dengan bantuan
Tounge spatel
Pengukuran ukuran: sesuai dengan
jarak sudut mulut ke auditivus
eksterna penderita.

The size is decided by comparing the


length with the distance between the angle
of the jaw and the corner of the patient's
mouth

2.

Naso Pharyngeal Airway (NPA)


Tindakan dilakukan dengan cara menyisipkan
alat pada salah satu lubang hidung dan
dilewatkan dengan hati-hati ke orofaring
posterior.
Pada pasien yang masih berespons
pemasangan NPA lebih tepat dibandingkan
dengan memasang OPA mengurangi
rangsangan muntah.
Panjang diukur dari lubang hidung sampai
cuping telinga
Diameter NPA diukur dengan
membandingkan NPA dengan jari kelingking
penderita

3. Sumbatan anatomis

Penyempitan di laring atau trakea dapat disebabkan


edema karena berbagai hal (luka bakar, radang,difteri)
atau desakan neoplasma. Timbul suara crowing atau
stridor respiratoir.
Seringkali membutuhkan penangan secara surgical
dengan membuat jalan napas alternatif tanpa melalui
mulut atau hidung penderita.
Perbaikan airway melalui airway definitif, Ada 2 macam
yaitu:
1. Endotracheal intubation: pipa orotrakeal, nasotrakeal
2. Needle cricothyroidotomydan airway surgical
(krikotiroidotomi).

ADVANCE AIRWAY
MANAGEMENT
(AIRWAY DEFINITIF)

Persiapan Alat Intubasi Endotrakheal

Pipa oro/nasofaring.
Suction
Kanula dan masker
oksigen
Ambu bag.
Pipa endotrakheal dan
stylet
Pelumas (jelly)
Forcep magill
Laringoscope (handle
dan blade)

Stetoscope
Stylet (mandrin)
Spuit cuft
Sarung tangan
Plester dan gunting
Obat-obatan sedatij i.v
Bantal kecil tebal 10
cm (bila tersedia)

53

Airway & Ventilation Methods: BLS & ALS

Frekuensi Pernapasan Normal

Bayi baru lahir


12 bulan
2-5 tahun
Orang dewasa

: 30-40 x/mnt
: 30 x/mnt
: 24 x/mnt
: 10-20 x/mnt

CIRKULATION DAN
SYOK MANAJEMEN
Ns. Andy Aryoko, S.Kep

Anatomi Jantung
Slide
76

Memompa darah ke
seluruh tubuh
Jantung memompa
60 - 100 x/ menit
Jantung berhenti
memompa akan
menyebabkan
KEMATIAN