Anda di halaman 1dari 11

PROPOSAL RANCANGAN EKSPERIMEN

(MEMBUAT TANAMAN HIDROPONIK SAWI)

Di susun oleh :

Andi Fitriah Ramdhani


Ocviyanti Hendra Rezky
Faridha Hidayati
Sri Handayani Kahar
Rezki Amaliah
A. Kharisma
Eka Hardaningsih
A. Muh. Septian Pratama

SMA Negeri 2 Barru


Tahun Ajaran 2014/2015

PROPOSAL RANCANGAN EKSPERIMEN


JUDUL EKSPERIMEN : MEMBUAT TANAMAN HIDROPONIK SAWI
A. Rumusan Masalah
Berdasarkan judul eksperimen diatas, maka yang menjadi rumusan masalah
dalam eksperimen ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana cara kerja pembudidayaan tanaman sawi dengan teknik
hidroponik yang menggunakan air sebagai nutrisi?
2. Bagaimana cara kerja pembudidayaan tanaman sawi dengan teknik
hidroponik yang menggunakan A, B Mix?
3. Bagaimana cara kerja pembudidayaan tanaman sawi dengan teknik
hidroponik yang menggunakan Pupuk organik cair sebagai cairan nutrisi?
4. Bagaimana cara kerja pembudidayaan tanaman sawi dengan teknik
hidroponik yang menggunakan Pupuk bokasi cair?

B. Kerangka Berfikir
1. Hidroponik
Hidroponik adalah suatu cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah
sebagai tempat menanam tanaman. Perbedaan bercocok tanam dengan
tanah dan hidroponik yaitu, kalau dengan tanah, zat-zat makanan
diperoleh tanaman dari dalam tanah. Sedangkan hidroponik, makanan
diperoleh tanaman dari dalam air yang mengandung zat-zat anorganik.
(Mikrajuddin,2007:161). Para peneliti menggunakan budidaya hidroponik
untuk menentukan unsur-unsur mineral mana yang memang betul-betul
nutrien esensial. (Campbell,2008:339)

Sistem hidroponik dapat memberikan suatu lingkungan pertumbuhan yang


lebih terkontrol. Dengan pengembangan teknologi , kombinasi sistem

hidroponik dengan membran mampu mendayagunakan air, nutrisi,


pestisida secara nyata lebih efisien ( minimalys sistem ) dibandingkan
dengan kultur tanah , terutama untuk tanaman berumur pendek.
Penggunaan sistem hidroponik tidak mengenal musim dan tidak
memerlukan lahan yang luas dibandingkan dengan kultur tanah untuk
menghasilkan satuan produktivitas yang sama. (Lonardy dalam Masud,
2009 :131)

Sistem hidroponik banyak digunakan untuk menanam beberapa tumbuhan


seperti sawi, dan seledri. Pada awalnya, sistem hidroponik identik dengan
penanaman tanpa media tanah, akan tetapi sesuai dengan perkembangan
teknologi, hidroponik digunakan untuk penumbuhan tanaman dengan
mengontrol nutrisi tanaman sesuai dengan kebutuhannya, salah satu
metode yang mulai banyak digunakan adalah nutrient film technique yang
merupakan sistem hidroponik tertutup , yang mana nutrisi akan mengalir
secara terus menerus atau dalam jangka waktu tertentu secara teratur.
(Suprijadi, 2009:31)
Salah satu media yang dapat digunakan untuk sistem hidroponik adalah
gel. Pengaturan ukuran gel dalam media tanam sangat diperlukan, karena
dapat mempercepat proses penyerapan air dan penyimpanan air oleh
media. Selain itu ukuran gel juga mempengaruhi penyediaan ruang untuk
pengakaran

tanaman.

Keuntungan

lain

penggunaan

gel

dapat

menghindarkan adanya hewan tanah, dapat diberi pewarna sehingga dapat


mempercantik untuk tanaman hias. (Hakim,2006)Selain gel masih ada
media tanam lain yang dapat dimanfaatkan untuk hidroponik.

Misalnya arang sekam, Arang sekam merupakan hasil dari pembakaran


kulit gabah. Menurut Murniati (dalam Sari,2009) bahwa arang sekam
memiliki sifat kasar sehingga sirkulasi udara tinggi, ringan dengan berat

jenis sekitar 0,2 gr/cm3 , kapasitas menahan air tinggi dan dapat
menghilangkan pengaruh penyakit karena telah melalui tahap sterilisasi,
sehingga relatif bersih dari hama , bakteri dan gulma.
Menurut Pramono ( dalam Rahmawaty,2009: ) menyatakan bahwa media
dalam hidroponik berfungsi sebagai penopang tanaman dan memiliki
syarat seperti struktur yang stabil selama pertumbuhan tanaman , bebas
dari zat berbahaya bagi tanaman, bersifat inert, memiliki daya pegang air
yang baik, drainase dan aerase yang baik.

Prinsip dasar dari hidroponik adalah memberikan atau menyediakan


nutrisi yang dibutuhkan tanaman dalam bentuk larutan. Pemberiannya
dilakukan dengan penyiramannya atau meneteskannya pada tanaman.
(Tim Penulis PS,2006:44)
Hal ini dapat dibuktikan bahwa, budidaya secara hidroponik dapat berhasil
apabila kebutuhan air, sirkulasi udara dan hara tanaman tercukupi.
(Susanto, 2010:1)Apabila kekurangan unsur tersebut maka akan ada
kemungkinan tanaman tersebut akan mati ataupun layu .Perlu adanya
perawatan yang intensif agar tidak terjadi hal-hal tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan air, dapat digunakan irigasi untuk suatu
tanaman. Teknik yang dapat digunakan adalah irigasi tetes Ro
Drip.Teknologi irigasi tetes Ro Drip sangat efisien dalam penggunaan air
sehingga sangat cocok untuk digunakan pada budidaya tanaman sayuran
di

dataran

rendah

yang

memiliki

keterbatasan

sumber

air.

(Kasiran,2009:29) Karena ini membantu untuk ketersediaan air bagi suatu


tanaman.

2. Media Tanam Hidroponik


PEMBIBITAN

Persemaian (Nursery) adalah tempat atau areal untuk kegiatan memproses


benih (atau bahan lain dari tanaman) menjadi bibit/semai yang siap
ditanam di lapangan. Kegiatan di persemaian merupakan kegiatan awal di
lapangan dari kegiatan penanaman karena itu sangat penting dan
merupakan kunci pertama di dalam upaya mencapai keberhasilan
penanaman. Penanaman benih ke lapangan dapat dilakukan secara
langsung (direct planting) dan secara tidak langsung yang berarti harus
disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Penanaman secara
langsung ke lapangan biasanya dilakukan apabila biji-biji (benih) tersebut
berukuran besar dan jumlah persediaannya melimpah. Meskipun ukuran
benih besar tetapi kalau jumlahnya terbatas, maka benih tersebut
seyogyanya disemaikan terlebih dulu. Maka hal-hal yang perlu
diperhatikan pada tahap pembibitan antara lain :
1. Gunakan benih dengan viabilitas tinggi (daya kecambah mencapai
90%)
2. Berikan perlakuan pada benih (seed treatment)
3. Penyimpanan benih pada suhu 10C dan kelembaban 40%. Benih
dapat bertahan hingga beberapa tahun.
4. Penyimpanan benih pada suhu ruangan (misalnya laci meja).
Benih akan bertahan selama 3 bulan saja.
Adapun cara menanam hidroponik adalah sebagai berikut:
Pembibitan
Sangat disarankan untuk menggunakan bibit hibrida supaya mutu buah/sayur
yang dihasilkan cukup optimal.
Penyemaian
Penyemeaian sistem hidroponik bisa menggunakan bak dari kayu atau plastik.
Bak tersebut berisi campuran pasir yang sudah diayak halus, sekam bakar,

kompos dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1:1. Semua bahan


tersebut dicampur rata dan dimasukkan ke dalam bak dengan ketinggian
sekitar 7cm. Masukkan biji tanaman dengan jarak 1x1,5 cm. Tutup
tisue/karung/kain yang telah dibasahi supaya kondisi tetap lembab. Lakukan
penyiraman hanya pada saat media tanam mulai kelihatan kering. Buka
penutup setelah biji berubah menjadi kecambah. Pindahkan ke tempat
penanaman yang lebih besar bila pada bibit telah tumbuh minimal 2 lembar
daun.
Persiapan media tanam
Syarat media tanam untuk hidroponik adalah mampu menyerap dan
menghantarkan air, tidak mudah busuk, tidak mempengaruhi pH, steril, dll.
Media tanam yang bisa digunakan dapat berupa gambut, sabut kelapa, sekam
bakar, rockwool (serabut bebatuan). Kemudian isi kantung plastik, polibag,
pot plastik, karung plastik, atau bantalan plastik dengan media tanam yang
sudah disiapkan.
Pembuatan green house
Bercocok tanam secara hidroponik mutlak membutuhkan green house. Green
house bisa dibuat dari rangka besi, rangka bambu, atau rangka kayu.
Green house ini bisa digunakan untuk menyimpan tanaman kita pada saat
tahap persemaian ataupun pada saat sudah dipindah ke media tanam yang
lebih besar.
Pupuk
Karena media tanam pada sistem hidroponik hanya berfungsi sebagai
pegangan akar dan perantara larutan nutrisi, untuk mencukupi kebutuhan
unsur hara makro dan mikro perlu pemupukan dalam bentuk larutan yang

disiramkan ke media tanam. Kebutuhan pupuk pada sistem hidroponik sama


dengan kebutuhan pupuk pada penanaman sistem konvensional.
Perawatan tanaman
Perawatan pada sistem hidropinik pada dasarnya tidak berbeda jauh dengan
perawatan pada penanaman sistem konvensional seperti pemangkasan,
pembersihan gulma, penyemprotan pupuk daun, dll.

C. Keuntungan Teknik Hidroponik


1. Dapat dilakukan pada ruang / tempat yang terbatas dan higienis
2. Tanaman tumbuh lebih cepat dan penggunaan pupuk bisa lebih hemat
3. Lebih terjamin dan bebas dari serangga dan hawa penyakit
4. Produksi tanaman lebih tinggi dibanding dengan menggunakan media
tanam tanah biasa
5. Efisien dalam teknis perawatan dan peralatan yang digunakan
6. Kualitas tanaman yang dihasilkan lebih bagus dan tidak kotor

3. Hipotesis
Pengujian hipotesis dilakukan dengan cara menganalisis data. Data dapat
diperoleh dengan berbagai cara, salah satunya melalui percobaan atau
eksperimen.
Percobaan yang dilakukan akan menghasilkan data berupa angka untuk
memudahkan dalam penarikan kesimpulan.
Pengujian hipotesis juga berarti mengumpulkan bukti-bukti yang relevan
dengan hipotesis yang diajukan untuk memperlihatkan apakah terdapat buktibukti yang mendukung hipotesis.
Dalam menanam menggunakan teknik hidroponik yang menggunakan
pipa paralon, ada beberapa media yang dapat digunakan yakni air, A B Mix,
pupuk organik cair dan pupuk bokasi cair dalam teknik penanaman

hidroponik. Maka hipotesis yang kelompok kami terima dalam percobaan ini
yaitu tanaman sawi dapat tumbuh dengan baik.

4. Rancangan Eksperimen

Alat dan Bahan


Alat
1. 8 Gelas plastik
2. 2 meter Pipa paralon
3. 2 Cetok/alat pengaduk
4. 1 Hand Sprayer
5. 1 Bor
6. 1 Gergaji
Bahan
1. 1 Bungkus Bibit sawi
2. 250 g Larutan A,B Mix

3. Pupuk organik cair


4. Pupuk bokashi cair
5. Air
6. Penyangga Tanaman/Media Tumbuh (Kapas)
7. 4 lem pipa
8. 4 buah pipa siku
Cara Kerja :
1. Menanam bibit sawi kedalam media padat/subtrat pada pipa paralon yang
telah tersedia dengan terlebih dahulu melepaskan / membuang polibag bibit
2. Memadatkan media disekitar pangkal bibit dan untuk pipa paralon berikan
penyangga spon pada pangkal bibit
3. Menyiram media dengan air bersih
4. Melakukan penyiaraman nutrisi A, B Mix
5. Melakukan pemupukan dengan NPK , Urea, KCl dan SP-36
6. Melakukan perawatan yaitu : membuang tunas-tunas air, melakukan
pengikatan batang pada ajir (penyangga tanaman), mengendalikan OPT.
7. Melakukan parameter pengamatan setiap minggu terhadap tinggi tanaman,
jumlah ruas, jumlah daun.

5. Teknik Analisis Data


a. Data Reduction ( Reduksi Data )
Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu
maka dat perlu dicatat secara teliti dan rinci. Kemudian data dirangkum, dipilih
hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari tema serta
polanya. Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebis jelas
dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan

mencari data berikutnya jika diperlukan. Data-data yang tidak terpakai disimpan,
sehingga peneliti lebih fokus pada data yang telah tereduksi.
Dalam penelitian ini data yang tereduksi adalah data yang ada kaitannya
dengan tujuan penelitian yaitu Hidroponik Tanaman Sawi.

Karena

reduksi

merupakan proses berfikir sensitif yang memerlukan kecerdasan dan keluasan


serta kedalaman wawasan, maka reduksi data dapat dilakukan dengan
mendiskusikan pada teman atau orang lain yang dipandang ahli, misalnya guru
pembimbing. Dari hasil diskusi akan diperoleh data yang benar-benar penting
dan sesuai dengan tujuan.
b. Verifyng ( Verifikasi )
Langkah berikutnya dalam analisis data adalah verifikasi yaitu
memverifikasi data dan menarik simpulan. Simpulan yang diambil harus
didukung oleh data-data yang valid dan konsisten, sehingga simpulan yang
dikemukakan merupakan simpulan yang kredibel. Simpulan yang diperoleh
merupakan jawaban dari fokus penelitian yang telah dirumuskan sejak awal dan
dapat berkembang sesuai dengan kondisi yang berada di lapangan. Simpulan
yang diperoleh juga dapat berupa temuan baru yang belum pernah ada
sebelumnya.
c. Kuantitatif
Melakukan pengumpulan data dengan menggunakan angka-angka atau secara
obyektif dilakukan dengan cara mengukur tanaman sawi dengan menggunakan
mistar secara berkala, menghitung jumlah daun pada setiap pertumbuhan
d. Kualitatif
Melakukan pengukuran secara subyektif yang dilakukan dengan cara
mengamati pertumbuhan tanaman sawi contohnya mengamati perubahan warna
daun, jumlah daun dan lain sebagainnya.

DAFTAR PUSTAKA
http://febriani61.blogspot.com/2013/09/makalah-budidaya-tanamanhidroponik.html di akses pada tanggal 28 agustus 2014
http://devystercommunity.blogspot.com/2013/05/aplikasi-media-hidroponikuji.html di akses pada tanggal 28 agustus 2014
http://ardisamankpunyatugas.blogspot.com/2011/03/karya-tulis-teknikhidroponik-dengan.html di akses pada tanggal 28 agustus 2014
http://aimersm.blogspot.com/2013/06/aplikasi-media-hidroponik-untukuji_21.html di akses pada tanggal 28 agustus 2014