Anda di halaman 1dari 8

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN

GANGGUAN KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT


Tugas Mandiri
Stase Praktek Keperawatan Dasar

Disusun oleh:
AVIN MARIA
09/288919/KU/13446

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

I.

KONSEP KEBUTUHAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT


Cairan tubuh adalah larutan yang terdiri dari air (pelarut) dan zat tertentu (zat
terlarut). Elektrolit adalah zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel bermuatan listrik
yang disebut ion jika berada dalam larutan.
Kebutuhan cairan dan elektrolit adalah suatu proses dinamik karena metabolisme
tubuh membutuhkan perubahan yang tetap dalam berespon terhadap stressor fisiologis dan
lingkungan (Tarwoto & Wartonah, 2004).
Keseimbangan cairan yaitu keseimbangan antara intake dan output. Dimana
pemakaian cairan pada orang dewasa antara 1.500ml - 3.500ml/hari, biasanya pengaturan
cairan tubuh dilakukan dengan mekanisme haus.
Cairan dan elektrolit masuk ke dalam tubuh melalui makanan, minuman, dan cairan
intravena (IV) dan didistribusi ke seluruh bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit
berarti adanya distribusi yang normal dari air tubuh total dan elektrolit ke dalam seluruh
bagian tubuh. Keseimbangan cairan dan elektrolit saling bergantung satu dengan yang
lainnya; jika salah satu terganggu maka akan berpengaruh pada yang lainnya.
Faktor yang mempengaruhi keseimbangan cairan dan elektrolit :
1) Umur
Kebutuhan intake cairan bervariasi tergantung dari usia, karena usia akan berpengaruh
pada luas permukaan tubuh, metabolisme, dan berat badan. Infant dan anak-anak lebih
mudah mengalami gangguan keseimbangan cairan dibanding usia dewasa. Pada usia
lanjut sering terjadi gangguan keseimbangan cairan di karenakan gangguan fungsi ginjal
ataw jantung.
2) Iklim
Orang yang tinggal di daerah yang panas (suhu tinggi) dan kelembaban udaranya rendah
memiliki peningkatan kehilangan cairan tubuh dan elektrolit melalui keringat. Sedangkan
seseorang yang beraktifitas di lingkungan yang panas dapat kehilangan cairan sampai
dengan 5 L per hari.
3) Diet
Diet seseorag berpengaruh terhadap intake cairan dan elektrolit. Ketika intake nutrisi
tidak adekuat maka tubuh akan membakar protein dan lemak sehingga akan serum
albumin dan cadangan protein akan menurun padahal keduanya sangat diperlukan dalam
proses keseimbangan cairan sehingga hal ini akan menyebabkan edema.
4) Stress
Stress dapat meningkatkan metabolisme sel, glukosa darah, dan pemecahan glykogen
otot. Mrekanisme ini dapat meningkatkan natrium dan retensi air sehingga bila
berkepanjangan dapat meningkatkan volume darah.
5) Kondisi sakit

Kondisi sakit sangat berpengaruh terhadap kondisi keseimbangan cairan dan elektrolit
misalnya:
Trauma seperti luka bakar akan meningkatkan kehilangan air melalui IWL.
Penyakit ginjal dan kardiovaskuler sangat mempengaruhi proses regulator

keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh.


Pasien dengan penurunan tingkat kesadaran

akan

mengalami

ganguan

pemenuhan intake cairan karena kehilangan kemapuan untuk memenuhinya secara


mandiri.
6) Tindakan medis
Banyak tindakan medis akan berpengaruh pada keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
seperti: suction, NGT dan lain-lain.
7) Pengobatan
Pengobatan seperti pemberian dueretik, laksative dapat berpengaruh pada kondisi cairan
dan elektrolit tubuh.
8) Pembedahan
Pasien dengan tindakan pembedahan memiliki resiko tinggimengalami gangguan
II.

keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh karena kehilangan darah selama pembedahan.
NILAI-NILAI NORMAL
Cairan tubuh dibagi dalam dua kelompok besar yaitu :
a) Cairan Intraseluler (CIS)
Cairan intraseluler yaitu cairan yang berada di dalam sel di seluruh tubuh (Abdul H,
2008). Cairan ini menyusun sekitar 70% dari total cairan tubuh (total body water [TBW]).
CIS merupakan media tempat terjadinya aktivitas kimia sel. Pada orang dewasa, CIS
menyusun sekitar 40% berat tubuh atau dari TBW, contoh: pria dewasa 70kg CIS 25 liter.
Sedangkan pada bayi 50% cairan tubuhnya adalah cairan intraseluler.
b) Cairan Ekstraseluler (CES)
Cairan Exstraseluler adalah cairan yang berada di luar sel dan menyusun sekitar 30% dari
total cairan tubuh. Pada orang dewasa CES menyusun sekitar 20% berat tubuh (Price &
Wilson, 1986). CES terdiri dari tiga kelompok yaitu :
1.
Cairan intravaskuler (plasma) yaitu cairan di dalam sistem vaskuler.
2.
Cairan intersitial yaitu cairan yang terletak diantara sel.
3.
Cairan transeluler adalah cairan sekresi khusus seperti cairan serebrospinal, cairan
intraokuler, dan sekresi saluran cerna.
Guna mempertahankan keseimbangan kimia dan elektrolit tubuh serta mempertahankan
pH yang normal, tubuh melakukan mekanisme pertukaran dua arah antara CIS dan CES.
Elektrolit yang berperan yaitu:anion dan kation.
No
1
2
3
4

Umur/BB (kg)
3 hari/3 kg
1 tahun/9,5 kg
2 tahun/11,8 kg
6 tahun/20 kg

Kebutuhan cairan (ml/24 jam)


250-300
1150-1300
1300-1500
1800-2000

5
6
7
III.

10 tahun/28,7 kg
14 tahun/45 kg
18 tahun/54 kg

2000-2500
2200-2700
2200-2700

HAL-HAL YANG PERLU DIKAJI


Beberapa hal yang perlu dikaji oleh perawat dalam hubungannya dengan pemenuhan
1.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
2.
a.

kebutuhan aktivitas dan latihan antara lain:


Riwayat Kesehatan
Asupan cairan dan makanan (oral dan Parental).
Tanda dan gejala gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.
Proses penyakit yang menyebabkan gangguan homeostatis cairan dan elektrolit.
Pengobatan tertentu yang tengah dijalani yang dapat mengganggu status cairan.
Status perkembangan (usia atau kondisi sosial).
Faktor psikologis (perilaku emosional).
Pengukuran Klinik
Berat Badan (BB)
Peningkatan atau penurunan 1 kg BB setara dengan penambahan atau pengeluaran 1 liter
cairan, ada 3 macam masalah keseimbangan cairan yang berhubungan dengan berat badan :
1)
Ringan : 2%
2)
Sedang: 5%
3)
Berat : 10%
Pengukuran berat badan dilakukan setiap hari pada waktu yang sama dengan menggunakan

pakaian yang beratnya sama.


b. Keadaan Umum
Pengukuran tanda-tanda vital seperti suhu, nada, pernapasan, dan tekanan darah serta tingkat
kesadaran.
c. Asupan cairan
Asupan cairan meliputi:
1) Cairan oral: NGT dan oral
2) Cairan parental: termasuk obat-obat intravena
3) Makanan yang cenderung mengandung air
4) Iritasi kateter
d. Pengukuran keluaran cairan
1) Urin : volume, kejernihan/kepekatan
2) Feses : jumlah dan konsistensi
3) Muntah
4) Tube drainage & IWL
e. Ukuran keseimbangan cairan dengan akurat : normalnya sekitar 200cc.
3. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik difokuskan pada :
a. Integument : keadaan turgor kulit, edema, kelelahan, kelemahan otot, tetani dan sensasi
b.
c.
d.
e.
4.

rasa.
Kardiovaskuler: distensi vena jugularis, tekanan darah, hemoglobin dan bunyi jantung.
Mata: cekung, air mata kering.
Neurology: reflek, gangguan motorik dan sensorik, tingkat kesadaran.
Gastrointestinal: keadaan mukosa mulut, mulut dan lidah, muntah-muntah dan.
Pemeriksaan Laboratorium

a. Pemeriksaan elektrolit serum


Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui kadar natrium, kalium, klorida, ion bikarbonat.
b. Pemeriksaan darah lengkap
Pemeriksaan ini meliputi jumlah sel darah merah, hemoglobin (Hb), hematrokit (Ht).
Ht naik : adanya dehidrasi berat dan gejala syok.
Ht turun : adanya perdarahan akut, masif, dan reaksi hemolitik.
Hb naik : adanya hemokonsentrasi
Hb turun : adanya perdarahan habat, reaksi hemolitik.
c. pH dan berat jenis urine
Berat jenis menunjukkan kemampuan ginjal untuk mengatur konsentrasi urine. Normalnya, pH
urine adalah 4,5-8 dan berat jenisnya 1,003-1,030.
d. Analisa gas darah
Biasanya, yang diperiksa adalah pH, PO2, HCO3-, PCO2,dan saturasi O2.
Nilai normal PCO2 : 35 40 mmHg; PO2 : 80 100 mmHg; HCO3- : 25 29 mEq/l.
Sedangkan saturasi O2 adalah perbandingan oksigen dalam darah dengan jumlah oksigen
yang dapat dibawa oleh darah, normalnya di arteri (95 98 %) dan vena (60 85 %).
IV. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kekurangan volume cairan
2. Kelebihan volume cairan
3. Gangguan keseimbangan elektrolit
V.
PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
No.

Diagnosa

keperawatan
1. 4. Kekurangan
volume cairan

Intervensi

Outcome

Kaji cairan yang disukai klien

Terjadi

dalam batas diet.


Rencanakan

asupan

target

pemberian

peningkatan
cairan

2000ml/hari

min.

(kecuali

asupan cairan untuk setiap sif, mis

terjadi kontraindikasi).

: siang 1000 ml, sore 800 ml dan

Menjelaskan perlu-nya

malam 200 ml.

meningkatkan asupan

Kaji pemahaman klien tentang


alasan mempertahankan hidrasi

cairan

pada

saat

stress/cuaca panas.
Mempertahankan berat

yg adekuat.
Catat asupan dan haluaran.

jenis urine dalm batas

Pantau asupan per oral, min. 1500

normal.
Tidak

ml/ 24 jam.
Pantau

haluaran

cairan

1000-

menunjukan

tanda-tanda dehidrasi.

1500ml /24jam. Pantau berat jenis


2.

urine.
Kelebihan volume Kaji asupan diet dan kebiasaan yg

Klien

akan

cairan

mendorong

terjadinya

retensi

menyebutkan

faktor

cairan.
Anjurkan klien untuk menurunkan

penyebab & metode

konsumsi garam.

Anjurkan klien untuk:


o Menghindari makanan gurih,

Klien memperlihatkan

makanan kaleng & makanan


o

beku.
Mengkonsumsi mkanan tanpa
garam

dan

menambahkan

bumbu aroma.
Menggunakan cuka pengganti
garam untuk penyedap rasa

sop, rebusan dll.


Kaji adanya tanda venostasis dan
bendungan vena pada bagian tubuh
yang mengantung.
Untuk drainase limfatik yang tidak
adekuat:
o Tinggikan ekstremitas dengan
mnggunakan

bantal,

imobilitas, bidai/ balutan yang


kuat, serta berdiri/duduk dalam
o

waktu yang lama


Jangan
memberikan
suntikan/infuse pada lengan

yang sakit.
Ingatkan

klien

menghindari

detergen

untuk
yang

keras, membawa beban berat,


memegang rokok, mencabut
kutikula/
nyentuh

bintil

kuku,

kompor

megas,

memgenakan perhiasan atau


o

jam tangan.
Lindungi kulit yg edema dari

pencegahan edema.

penurunan edema.

3.

Gangguan
keseimbangan

cidera.
Kekurangan volume kalium
Observasi tanda dan

gejala

yang

hipokalemia (vertigo, hipotensi

elektrolit (kalium)

abdomen

kalium

,pnurunn

peristaltis, kelemahan otot, dan

sesuai

utk

mmpertahankan kadar

ariotmia, mual, muntah, diare,


distensi

Klien menjelaskan diet

dalam

batas

normal.

Klien

berpartipasi

untuk

melaporkan

kram tungkai).
Catat asupan dan haluaran.
Tentukan status hidrasi klien bila

hipokalemia/hiperkale

terjadi hipokalemia.
Kenali perubahan tingkah laku

Kadar kalium dalam

yang merupakan tanda- tanda


hipokalemia.
Anjurkan klien dan keluarga
untuk

mngkonsmsi

makan-an

tinggi kalium (mis. Buah-buahan,


sari buah, buah kering, syur,
daging,

kopi, dan kola).


Laporkan
perubahan
segmen

kacang-kacangan,

ST

yg

teh,
EKG;

memanjang,

depresi.
Encerkan suplemen kalium per
oral

sedikitnya

garam

air/sari

dalam
buah

113,2
utk

mengurangi resiko iritasi mukosa

lambung.
Pantau nilai kalium serum pada
klien yang mendapat obat diuretic

dan steroid.
Kaji tanda dan gejala toksisitas
digitalis

jika

klien

tengah

mendapat obat golongan digitalis


dan diuretik atau steroid.
Peningkatan Kadar Kalium
Observasi tanda dan

gejala

tanda tanda klinis


mia.

batas

normal/dapat

ditoleransi.

hiperkalemia(mis.Bradikarda,
kram

abdomen,

kesemutan&

pada

ekstremitas)
Kaji haluaran urin. Sedikitnya

25ml/jam atau 600 ml/ hari.


Laporkan nilai kalium serum
yang

VI.

kebas

oliguria,

melebihi

5mEq/l

batasi

asupan kalium jika perlu.


Pantau EKG

DAFTAR PUSTAKA
Anna Nur Hikmawati.2011 Modul Ketrampilan Dasar Dalam Keperawatan.SSG.Yogya
Potter, P.A, Perry, A.G. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan
Praktik.Edisi 4.Volume 2.Alih Bahasa : Renata Komalasari,dkk.Jakarta:EGC.2005
NANDA,2012-2014. Panduan Diagnosa keperawatan NANDA 2012-2014 Definisi dan
Klasifikasi. Philadhelpia.
Tarwoto & Wartonah. (2010). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan. Edisi 4.
Salemba Medika : Jakarta