Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN

GANGGUAN KEBUTUHAN OKSIGENASI


Tugas Mandiri
Stase Praktek Keperawatan Dasar

Disusun oleh:
AVIN MARIA
09/288919/KU/13446

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

I.

KONSEP KEBUTUHAN OKSIGENASI


1. PENGERTIAN
Oksigenasi adalah proses penambahan oksigen O2 ke dalam sistem (kimia atau
fisika). Oksigenasi merupakan gas tidak berwarna dan tidak berbau yang sangat dibutuhkan
dalam proses metabolisme sel. Sebagai hasilnya, terbentuklah karbon dioksida, energi, dan
air. Akan tetapi penambahan CO2 yang melebihi batas normal pada tubuh akan memberikan
dampak yang cukup bermakna terhadap aktifitas sel.
Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme
untukmempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Secara normal elemen ini
diperoleh dengan cara menghirup O2 ruangan setiap kali bernapas.(Wartonah Tarwanto,
2006)
Oksigen adalah salah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme
untuk mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel tubuh. Secara normal elemen ini
diperoleh dengan cara menghirup O2 ruangan setiap kali bernafas. Oksigenasi adalah
tindakan, proses, atau hasil pengambilan oksigen.
Terapi oksigen merupakan salah satu terapi pernafasan dalam mempertahankan
oksigenasi. Tujuan dari terapi oksigen adalah untuk memberikan transpor oksigen yang
adekuat dalam darah sambil menurunkan upaya bernafas dan mengurangi stress pada
miokardium. Beberapa metode pemberian oksigen:
a. Low flow oxygen system
Hanya menyediakan sebagian dari udara inspirasi total pasien. Pada umumnya sistem ini
lebih nyaman untuk pasien tetapi pemberiannya bervariasi menurut pola pernafasan pasien.
b.

High flow oxygen system

Menyediakan udara inspirasi total untuk pasien. Pemberian oksigen dilakukan dengan
konsisten, teratur, teliti dan tidak bervariasi dengan pola pernafasan pasien.
Peristiwa bernapas terdiri dari 2 bagian:
a. Menghirup udara (inpirasi)
Inspirasi adalah terjadinya aliran udara dari sekeliling masuk melalui saluran pernapasan
sampai keparu-paru. Proses inspirasi : volume rongga dada naik/lebih besar tekanan rongga
dada turun/lebih kecil.
b. Menghembuskan udara (ekspirasi)
Tidak banyak menggunakan tenaga, karena ekspirasi adalah suatu gerakan pasif yaitu terjadi
relaxasi otot-otot pernapasan. Proses ekspirasi : volume rongga dada turun/lebih kecil,
tekanan rongga dada naik/lebih besar.

Proses pemenuhan oksigen di dalam tubuh terdiri dari atas tiga tahapan, yaitu
ventilasi, difusi dan transportasi.
1. Ventilasi
Merupakan proses keluar masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam alveoli atau dari
alveoli ke atmosfer. Proses ini di pengaruhi oleh beberapa factor:
a) Adanya kosentrasi oksigen di atmosfer. Semakin tingginya suatu tempat, maka
tekanan udaranya semakin rendah.
b) Adanya kondisi jalan nafas yang baik.
c) Adanya kemampuan toraks dan alveoli pada paru-paru untuk mengembang di sebut
dengan compliance. Sedangkan recoil adalah kemampuan untuk mengeluarkan
CO atau kontraksinya paru-paru.
2. Difusi
Difusi gas merupakan pertukaran antara O dari alveoli ke kapiler paru-paru dan CO
dari kapiler ke alveoli. Proses pertukaran ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a) Luasnya permukaan paru-paru.
b) Tebal membrane respirasi/permeabilitas yang terdiri atas epitel alveoli dan
interstisial. Keduanya dapat mempengaruhi proses difusi apabila terjadi proses
penebalan.
c) Perbedaan tekanan dan konsentrasi O. Hal ini dapat terjadi sebagaimana O dari
alveoli masuk kedalam darah secara berdifusi karena tekanan O dalam rongga
alveoli lebih tinggi dari pada tekanan O dalam darah vena vulmonalis.
d) Afinitas gas yaitu kemampuan untuk menembus dan mengikat HB.
3. Transportasi
Transfortasi gas merupakan proses pendistribusian O kapiler ke jaringan tubuh
dan CO jaringan tubuh ke kaviler. Transfortasi gas dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu:
a) curah jantung (kardiak output), frekuensi denyut nadi.
b) kondisi pembuluh darah, latihan perbandingan sel darah dengan darah secara
keseluruhan (hematokrit), serta elitrosit dan kadar Hb.

MASALAH YANG BERHUBUNGAN DENGAN FUNGSI RESPIRASI


1) Hypoxia
Merupakan kondisi ketidakcukupan oksigen dalam tubuh, dari gas yang diinspirasi ke
jaringan.
Penyebab terjadinya hipoksia :
a. gangguan pernafasan
b. gangguan peredaran darah
c. gangguan sistem metabolism
d. gangguan permeabilitas jaringan untuk mengikat oksigen (nekrose).
2) Hyperventilasi
Jumlah udara dalam paru berlebihan. Sering disebut hyperventilasi elveoli, sebab jumlah
udara dalam alveoli melebihi kebutuhan tubuh, yang berarti bahwa CO2 yang dieliminasi
lebih dari yang diproduksi menyebabkan peningkatan rata rata dan kedalaman
pernafasan.
Tanda dan gejala :
a. pusing
b. nyeri kepala
c. henti jantung
d koma
e. ketidakseimbangan elektrolit
3) Hypoventilasi
Ketidak cukupan ventilasi alveoli (ventilasi tidak mencukupi kebutuhan tubuh), sehingga
CO2 dipertahankan dalam aliran darah. Hypoventilasi dapat terjadi sebagai akibat dari
kollaps alveoli, obstruksi jalan nafas, atau efek samping dari beberapa obat.
Tanda dan gejala:
a. napas pendek
b. nyeri dada
c. sakit kepala ringan
d. pusing dan penglihatan kabur
4) Cheyne Stokes
Bertambah dan berkurangnya ritme respirasi, dari perafasan yang sangat dalam, lambat
dan akhirnya diikuti periode apnea, gagal jantung kongestif, dan overdosis obat. Terjadi
dalam keadaan dalam fisiologis maupun pathologis.

Fisiologis :
a. orang yang berada ketinggian 12000-15000 kaki
b. pada anak-anak yang sedang tidur
c. pada orang yang secara sadar melakukan hyperventilasi
Pathologis :
a. gagal jantung
b. pada pasien uraemi ( kadar ureum dalam darah lebih dari 40mg%)
5) Kussmauls(hyperventilasi)
Peningkatan kecepatan dan kedalaman nafas biasanya lebih dari 20 x per menit. Dijumpai
pada asidosisi metabolik, dan gagal ginjal.
6) Apneu
Henti nafas , pada gangguan sistem saraf pusat
7) Biots
Nafas dangkal, mungkin dijumpai pada orang sehat dan klien dengan gangguan sistem
saraf pusat. Normalnya bernafas hanya membutuhkan sedikit usaha. Kesulitan bernafas
disebut dyspnea.
4. NILAI-NILAI NORMAL

Berikut ini adalah nilai kecukupan energi dan kecukupan protein seseorang perhari
rata-rata ketika dalam aktivitas sedang. Jika sering melakukan aktivitas berat seperti olahraga
maka perlu ditambahkan asupan energi dan protein yang cukup.
a. Mulut dan Gigi
b. Rambut
rambut normal : bersih, berkilau, tidak kusut dan kulit kepala bersih, dan bebas dari lesi.
c. Kulit
Karakteristik kulit normal:
1. Kulit halus dan kering
2. Kulit utuh dan tidak memiliki abrasi
3. Kulit terasa hangat ketika dipalpasi
4. Perubahan yang terlokalisasi dalam tekstur dapat dipalpasi pada permukaan kulit. Kulit
lembut dan fleksibel.
5. Ada turgor yang baik (elastic dan tetap), dengan
kulit yang secara umum halus dan lembut.
6. Warna kulit beragam, dengan rentang dari cokelat tua ke merah muda ke merah-muda
terang (Potter dan Perry, 2005).
d. Kaki dan Kuku
e. Mata, Telinga, dan Hidung
Mata : tidak ada kemerahan, pandangan tidak kabur, air mata tidak berlebihan, konjungtiva
tidak anemis
f. Genitalia (alat kelamin pria)
5. HAL-HAL YANG PERLU DIKAJI

1.

Identitas pasien

2.

Riwayat Kesehatan
a) Keluhan utama
Yang biasa muncul pada pasien dengan ganguan siklus O2 dan CO2 antara lain: batuk,
peningkatan produksi sputum, dipsnea, hemoptisis, wheezing, stridor, dan nyeri dada.
a)

Batuk (Cough)

Yang perlu dikaji yaitu lamanya, bagaimana timbulnya, hubungannya dengan aktivitas,
adanya sputum atau dahak.
Peningkatan produksi sputum; meliputi warna, konsistensi, bau, jumlah karena hal itu
menunjukkan keadaan dari proses patologis. Jika ada infeksi sputum akan berwarna
kuning atau hijau, putih atau kelabu, dan jernih. Jika edema paru, sputum berwarna merah
muda karena mengandung darah dalam jumlah yang banyak.
b) Dipsnea
Merupakan persepsi kesulitan bernapas/ napas pendek dan sebagai perasaan subjektif
pasien. Yang perlu dikaji, apakah pasien sesak saat berjalan, dll.
c)

Hemoptisis

Yaitu darah yang keluar melalui mulut saat batuk. Keadaan ini biasanya menandakan
adanya kelainan berupa bronchitis kronis, bronkhiektasis, TB-paru, cystic fibrosis, upper
airway necrotizing granuloma, emboli paru, pneumonia, kanker paru, dan abses paru.
d) Chest pain
Nyeri dada bisa berkaitan dengan masalah jantung seperti gangguan konduksi (disritmia),
perubahan kardiak output, kerusakan fungsi katup, atau infark, dll. Paru tidak memiliki
saraf yang sensitive terhadap nyeri tapi saraf itu dimiliki oleh iga, otot, pleura parietal, dan
percabangan trakheobronkhial.
b) Riwayat kesehatan sekarang
1) Waktu terjadinya sakit
Berapa lama sudah terjadinya sakit
2) Proses terjadinya sakit

Kapan mulai terjadinya sakit

Bagaimana sakit itu mulai terjadi

3) Upaya yang telah dilakukan

Selama sakit sudah berobat kemana

Obat-obatan yang pernah dikonsumsi

4) Hasil pemeriksaan sementara / sekarang

TTV meliputi tekanan darah, suhu, respiratorik rate, dan nadi

Adanya patofisiologi lain seperti saat diauskultasi adanya ronky, wheezing.

c) Riwayat kesehatan terdahulu


1) Riwayat merokok, yaitu sebagi penyebab utama kanker paru paru, emfisema, dan
bronchitis kronis. Anamnesa harus mencakup:
Usia mulai merokok secara rutin
Rata rata jumlah rokok yang dihisap setiap hari.
Usai menghentikan kebiasaan merokok.
2) Pengobatan saat ini dan masa lalu
3) Alergi
4) Tempat tinggal
d) Riwayat kesehatan keluarga
Tujuan pengkajian ini:

Penyakit infeksi tertentu seperti TBC ditularkan melalui orang ke orang.

Kelainan alergi seperti asma bronchial, menujukkan suatu predisposisi keturunan

tertentu. Asma bisa juga terjadi akibat konflik keluarga.

Pasien bronchitis kronis mungkin bermukim di daerah yang tingkat polusi udaranya

tinggi. Polusi ini bukan sebagai penyebab timbulnya penyakit tapi bisa memperberat.
e) Genogram
f) Riwayat kesehatan lingkungan.
II.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
Definisi : ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obsruksi dari saluran nafas
untuk mempertahankan bersihan jalan nafas.
2. Gangguan pertukaran gas
Definisi : kelebihan atau deficit pada oksigenasi dan atau eliminasi karbondioksida pada
membrane alveolar-kapiler.
3. Ketidakefektifan pola nafas
Definisi : inspirasi atau ekspirasi yang tidak member ventilasi adekuat

III.

PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
DIAGNOSIS

TUJUAN DAN KRITERIA INTERVENSI

RASIONAL

KEPERAWATAN
Ketidakefektifan

HASIL
Setelah 3 x 24 jam, jalan nafas Manajemen jalan -intervensi

bersihan jalan nafas

pasien

tidak

gangguan

mengalami nafas
kriteria Manajemen

dengan

hasil :

pengisapan

dilakukan untuk
mengeluarkan
sputum

-Status Respirasi : Patensi jalan Pemberian posisi


nafas
Fisioterapi dada

berlebihan

a.Mendemonstrasikan

batuk
Terapi oksigen
efektif dan suara nafas yang
Manajemen
bersih, tidak ada sianosis dan
asma
dispnea
terminimalisasi
Latihan
batuk
(Mampu
mengeluarkan
efektif
sputum,
mampu
bernafas

terjadi obstruksi

dengan mudah)

yang adekuat.

b.Menunjukkan
yang

paten

jalan
(tidak

sehingga

tidak

jalan nafas
-terapi

oksigen

diberikan untuk
memberikan
asupan oksigen

nafas
merasa

tercekik, irama nafas, frekuensi


nafas dalam rentang normal,
tidak

ada

suara

nafas

abnormal)
c.Mampumengidentifikasikan
dan mencegah faktor yang
Gangguan

dapat menghambat jalan nafas.


Setelah 3 x 24 jam, pernafasan

Manajemen

-intervensi

asam basa

manajemen

Terapi

asam

basa

ventilasi

optimal
perfusi ditinjau dari kriteri hasil :

oksigen

dilakukan

agar

ditandai

dengan -Status respirasi : ventilasi

Monitor

pasien

tidak

pertukaran

gas pasien normal dengan ventilasi

berhubungan dengan dan

perfusi

yang

pernafasan

a. RR dalam rentang normal.

tanda-tanda

mengalami

abnormal.

b.kedalaman

vital

asidosis

pernafasan

normal.

alkalosis.

c.tidak terdapat suara nafas

-intervensi

tambahan

monitoring

(ronkhi

basah,

dan

ronkhi, mengi, friction rub)

dilakukan untuk

d.PaO2 (80-100 mmHg) dan

menghindari

PaCO2 (35-45 mmHg) dalam

dispnea.

rentang normal
e.kualitas istirahat baik yakni
rentang 5
f.tidak terdapat sianosis
-perfusi jaringan : pulmonary
a. tekanan darah sistolik dan
diastolic

dalam

keadaan

normal (120/80 mmHg)


b. tekanan arteri paru dalam
Ketidakefektifan
pola

keadaan normal
Setelah 3 x 24 jam, pasien Terapi oksigen

nafas dapat

mendapatkan asupan Relaksasi

-intervensi

otot diberikan untuk

berhubungan dengan oksigen yang baik melalui progresif

meminimalisasi

keletihan

penggunaan otot

pernafasan

otot ventilasi yang optimal dengan Manajemen


ditandai criteria hasil :

energi

bantu pernafasan

dengan penggunaan - Status respirasi ventilasi

-manajemen

otot berlebih.

energy

a.

Respiration

rate

pasien

untuk

dalam keadaan normal yakni :

mengkompensas

-Newborns: 30-40 breaths per

i energy yang

minute

digunakan oleh

-Less Than 1 Year: 30-40

penggunaan oto

breaths per minute

bantu.

-1-3 Years: 23-35 breaths per


minute
-3-6 Years: 20-30 breaths per
minute
-6-12 Years: 18-26 breaths per
minute
-12-17 Years: 12-20 breaths per
minute
-Adults Over 18: 1220 breaths
per minute.
b.Ritme

pernafasan

dalam

keadaan

normal

(tidak

kusmaul, takipnea, bradipnea,


apnea,

hipernea,

Cheyne

Stokes, Biot, apneustik)


c.kedalaman

inspirasi

dari

rentang 3 (rentang sedang dari


normal) menjadi 5 (tidak ada
penyimpangan

rentang

normal : eupnea)
d.tidak terdapat penggunaan
otot aksesoris
IV.

DAFTAR PUSTAKA
Anna Nur Hikmawati.2011 Modul Ketrampilan Dasar Dalam Keperawatan.SSG.Yogya
Potter, P.A, Perry, A.G. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses, dan
Praktik.Edisi 4.Volume 2.Alih Bahasa : Renata Komalasari,dkk.Jakarta:EGC.2005
NANDA,2012-2014. Panduan Diagnosa keperawatan NANDA 2012-2014 Definisi dan
Klasifikasi. Philadhelpia.
Tarwoto & Wartonah. (2010). Kebutuhan Dasar Manusia Dan Proses Keperawatan. Edisi 4.
Salemba Medika : Jakarta

EVALUASI
Ketidakefektifan
jalan
dengan

nafas

bersihan S : pasien tidak menunjukkan kegelisahan dan kelelahan

berhubungan

asma

ditandai

O : pasien dapat batuk, mengeluarkan secret, tidak terdapat

dengan

sputum

dalam suara nafas tambahan, RR dalam rentang normal

jumlah berlebihan.

A : terapi oksigen disesuaikan dengan kebutuhan pasien, jalan


nafas pasien dapat dibersihkan dengan intervensi pengisapan
P : modifikasi lingkungan pasien dan edukasi kepada keluarga
pasien.

Gangguan pertukaran gas S : pasien tidak mengeluh keletihan karena tidak dapat tidur
berhubungan
ventilasi

perfusi

dengan

dengan
ditandai
pernafasan

O : pasien tidak menunjukkan gejala asidosis respiratorik,


suara nafas tambahan masih terdengar.
A : monitor tanda-tanda vital klien lebih intensif

abnormal.

P : edukasi klien dan keluarga untuk mengenali onset dispnea


Ketidakefektifan pola nafas S : pasien tidak mengeluh
berhubungan
keletihan

otot

dengan
pernafasan

ditandai dengan penggunaan


otot berlebih.

O : ekspansi dada sudah maksimal


A : pasien diberikan relaksasi otot lebih rutin.
P : pasien diberikan nutrisi yang adekuat untuk pemenuhan
energy.