Anda di halaman 1dari 13

EXECUTIVE SUMMARY

UPAYA PROGRAM KESEHATAN GIZI PUSKESMAS CIWIDEY


Disusun Oleh : Ravanno Fanizza Harahap (12100113005)
1.

Analisis Umum
Puskesmas yang merupakan salah satu perangkat

Pemerintah Daerah

adalah ujung tombak di dalam pemberian pelayanan kesehatan kepada


masyarakat. Puskesmas Ciwidey adalah Yankes yang terletak di Jalan Babakan
Tiga No 66 Desa Ciwidey, Kecamatan Ciwidey Kabupaten Bandung. Jumlah
penduduk tahun 2013 sebanyak 37.676 jiwa, dengan kepadatan penduduknya
12690.5 per Km2, Kepala keluarga 11.395 KK dan penduduk miskin berjumlah
24.439 jiwa. Jumlah penduduk terbanyak yaitu di kelurahan Ciwidey dengan
jumlah penduduk 14.477 jiwa, kelurahan Panundaan dengan jumlah penduduk
12.286, dan kelurahan Panyocokan dengan jumlah penduduk 10.913 jiwa. Dan
sebesar 18057 penduduk di wilayah kerja Puskesmas adalah wanita
Peta Wilayah Kerja Puskesmas Ciwidey

Gambar 1. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Ciwidey

Puskesmas ini memiliki luas wilayah sebesar 9,17 Km 2, terbagi menjadi


tiga kelurahan, yaitu kelurahan Ciwidey dengan luas 2,11 km2, kelurahan
Panyocokan dengan luas 3,89 km2 dan kelurahan Panundaan dengan luas 3,17
km2.
Batas wilayah sebagai berikut:
-

Utara

Sukawening
Selatan : berbatasan dengan wilayah Kecamatan Rancabali
Timur
: Berbatasan dengan Kecamatan Pasirjambu.

: berbatasan dengan wilayah

Desa Nengkelan Dan Desa

Barat

: Berbatasan dengan Desa Lebakmuncang

Wilayah binaan tersebut dibagi atas tiga kelurahan, dan terdiri dari 74 RW
dan 243 RT. Luas wilayah menyebabkan wilayah kerja Puskesmas Ciwidey cukup
bervariasi dimana masyarakat yang paling jauh masih dapat dilayani dengan cara
posyandu dan mempunyai bidan desa yang terdekat sehingga semua masyarakat
dapat pelayanan kesehatan secara maksimal baik itu yang jaraknyanya terdekat
maupun yang terjauh.
Upaya kesehatan gizi dilaksanakan melalui upaya kesehatan gizi di
puskesmas dan di posyandu secara terpadu, peran kader dan keikut sertaan
masyarakat dalam posyandu akan membantu puskesmas mengetahui kondisi gizi
bayi, balita, dan juga anak. Upaya ini merupakan salah satu program dari 6
program wajib Puskesmas. Pelaksanaan upaya tersebut diantaranya adalah (1)
cakupan keluarga sadar gizi, (2) cakupan balita ditimbang D/S, (3) cakupan
distribusi kapsul vitamin A bagi anak balita (12-59 bulan), (4) cakupan distribusi
kapsul vitamin A bagi ibu nifas, (5) cakupan distribusi tablet Fe 90 tablet pada ibu
hamil, (6) cakupan distribusi MP-ASI Baduta Gakin, (7) cakupan balita gizi buruk
mendapat perawatan, (8) cakupan ASI Eksklusif.
2.

Analisis Kuantitatif Upaya Kesehatan Gizi


Analisis kuantitatif dianalisis melalui data pencapaian target dan hail

cakupan bulan Januari-Desember tahun 2013. Dan didapatkan beberapa program


yang belum memenuhi hasil cakupan diantaranya cakupan keluarga sadar gizi,
cakupan balita ditimbang D/S, cakupan distribusi kapsul vitamin A bagi anak
balita (12-59 bulan), cakupan ASI eksklusif.
Hasil pencapaian program menunjukkan terdapat beberapa program yang
belum mencapai target, antara lain program keluarga sadar gizi terdapat kesenjangan
sebesar -16.22%, balita yang ditimbang D/S terdapat kesenjangan sebesar -21.75%,
distribusi Vit A bagi anak 12-59 bulan terdapat kesenjangan sebesar -5.78%, dan cakupan
ASI eksklusif terdapat kesenjangan sebesar -11.85%. (data lengkap pada tabel 1

lampiran 1).

3.

Analisis Kualitatif Upaya Kesehatan gizi (data lengkap Tabel 2

lampiran 2 dan tabel 3 lampiran 3)


Analisis kualitatif pada upaya ini diamati berdasarkan manajemen di
dalam puskesmas Selain itu dilakukan juga analisis dengan pendekatan SWOT,
yang

terdiri

dari kekuatan (Strength), kelemahan

(Weakness), peluang

(Opportunity), dan ancaman (Threat).


Unsur Manajemen puskesmas diantaranya :
3.1 SDM
Upaya kesehatan gizi dipegang oleh satu orang pemegang program.
Pemegang program pada kesehatan gizi adalah ibu Pilianna R.J, dimana
pemegang program dibantu oleh 292 kader yang tersebar di 74
posyandu, namun hanya 222 kader yang aktif .

3.2 Dana
Dana yang dikeluarkan untuk upaya kesehatan gizi di Puskesmas
bersumber dari dana operasional puskesmas. Dari dinas kesehatan tidak ada
alokasi dana khusus untuk program kesehatan gizi. Adapun sumber dana lain yang
didapatkan program gizi adalah dari dana hibah ibu-ibu PKK.
3.3 Sarana
Fasilitas dacin pada setiap posyandu sudah tersedia, namun jumlahnya
belum mencukupi, namun kendala dari sarana yang utama adalah kurangnya
pengetahuan kader dalam penggunaan dacin yang sudah tersedia pada posyandu,
sehingga masih sering terjadi kesalahan dalam penghitungan berat badan.
3.4 Prasarana
Gedung Puskesmas memiliki ruangan khusus untuk pelaksanaan program
kesehatan gizi, dimana ruang kesehatan gizi masih bergabung dengan program
kesehatan lingkungan dan promosi kesehatan.

3.5 Metode

Metode yang digunakan untuk pencatatan dan pelaporan dari kader ke


pihak puskesmas masih secara manual, setiap bulannya para kader dari setiap
posyandu mengirimkan hasil kegiatan selama di posyandu.
3.6 Waktu
Waktu kegiatan untuk kesehatan gizi di puskesmas adalah pada hari selasa
dan rabu, pelayanan kesehatan gizi dipuskesmas berjalan mulai dari pukul 08.00
sampai dengan pukul 14.00. Untuk kegiatan di luar puskesmas, petugas gizi rutin
mengunjungi posyandu setiap minggunya, namun karena luasnya wilayah dan
banyaknya jumlah posyandu, petugas hanya mampu mengunjungi maksimal tiga
posyandu dalam satu minggu. Posyandu pada setiap desa berjalan setiap bulan
untuk melaksanakan bulan penimbangan, dan dua kali setahun di posyandu
dilakukan bulan pemberian vitamin A dan pemberian Fe untuk ibu hamil.
3.7 Informasi
Bila terdapat gizi buruk maka akan ditangani dengan melihat
pendapatan keluarga terlebih dahulu, apabila dibutuhkan maka pihak
puskesmas akan mengajukan dana pada dinkes, tetapi jika keluarga
mampu, maka hanya akan mendapatkan konseling saja.

Berdasarkan analisis diatas dianalisis kembali berdasarkan SWOT. Secara


kekuatan (Strength) sebenarnya sudah terdapat kader yang ada diwilayah kerja
puskesmas, sehingga kegiatan di posyandu dapat berjalan secara bersamaan
sehingga lebih menghemat waktu dan dana.
Kelemahan (Weakness) yang terdapat pada upaya ini adalah sumber daya
manusia yang belum mendapatkan pelatihan khusus dan belum memiliki
keterampilan yang cukup untuk melakukan penimbangan, pencatatan dan
pelaporan.
Peluang (Opportunity) yang dapat digunakan diantara lain terdapatnya
kader yang dapat dimanfaatkan untuk melakukan pelaporan dan menjalankan
kegiatan gizi secara serentak disetiap posyandu.
Sedangkan ancaman (Threat) yang dihadapi pada upaya ini adalah masih
kurangnya kesadaran ibu balita untuk membawa anak dan bayi mereka ke
puskesmas untuk melakukan penimbangan berat badan.

4.

Penentuan Prioritas Masalah Upaya P3M


Berdasarkan analisis secara kuantitatif didalam upaya kesehatan gizi

ditemukan beberapa masalah diantaranya :


a.
b.
c.
d.

Keluarga sadar gizi terdapat kesenjangan sebesar


Balita yang ditimbang D/S
Distribusi Vit A bagi anak 12-59 bulan
Cakupan ASI eksklusif

Berdasarkan perhitungan teknik kriteria matrik tabel lampiran didapatkan


masalah dengan skor yang terbesar adalah cakupan balita yang ditimbang D/S
(skor 13). (Data Lengkap tabel 4 dan 5 lampiran 4).
5.

Identifikasi Penyebab Utama Masalah Prioritas Kesehatan Gizi (Data

Lengkap Tabel 6 Lampiran 4 dan gambar 1)


Berdasarkan prioritas masalah yang telah dipaparkan di atas, maka
kemungkinan penyebab prioritas masalah pada upaya kesehatan gizi
a.

b.
c.
d.

adalah :
Man :
Kurangnya anggota kader, pada beberapa posyandu masih ada
yang hanya memiliki satu orang kader
Money :
Tidak adanya alokasi dana khusus untuk kegiatan diposyandu
Method
Tidak adanya alokasi dana khusus untuk kegiatan diposyandu
Material
Sudah tersedia alat pada setiap posyandu, tetapi keterampilan
kader dalam menggunakan alat masih kurang dan terdapat
kesalahan pada saat penggunaan alat

6.

Penetapan Solusi Terbaik Upaya Kesehatan Gizi


Alternatif solusi untuk penyelesaian masalah belum tercapainya cakupan

balita ditimbang D/S di Puskesmas ciwidey beberapa diantaranya adalah :


a.
Waktu pelaksanaan dilaksanakan diluar jam kerja orangtua
b.
Penambahan jumlah kader
c. Penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi ibu untuk
menimbang anak secara rutin setiap bulannya
Dari hasil perhitungan dengan teknik kriteria Reinke didapatkan solusi terbaik
untuk penyebab utama dari prioritas masalah yaitu penyuluhan untuk

meningkatkan kesadaran dan partisipasi ibu untuk menimbang anak secara rutin
setiap bulannya (Skor 41). (Data lengkap Tabel 7 lampiran 5 dan tabel 8
lampiran 6)
7.

Kesimpulan
Upaya kesehatan gizi di Puskesmas Ciwidey sudah memiliki program

yang baik, hanya saja terdapat beberapa program yang belum memenuhi target
sehingga hasil akhir dari upaya tersebut dirasakan belum optimal. Salah satunya
adalah belum tercapainya cakupan balita ditimbang D/S. Hal tersebut dapat
diakibatkan oleh kurangnya sumber daya manusia, tidak adanya alokasi dana,
sistem pelaporan masih secara manual dan kurang optimalnya kemampuan para
kader dalam menggunakan alat yang tersedia pada posyandu.
8.

Saran
Banyak hal dapat dilakukan untuk memperbaiki kekurangan program

tersebut, salah satunya dengan melakukan penyuluhan untuk meningkatkan


kesadaran dan partisipasi ibu untuk menimbang anak secara rutin setiap bulannya
ke posyandu.

LAMPIRAN HASIL PENGAMATAN UPAYA KESEHATAN GIZI DI


PUSKESMAS CIWIDEY
Lampiran 1
Tabel 1. Rekapitulasi Pencapaian Program Kesehatan gizi tahun
2013
pencapai
No Jenis kegiatan
sasaran
cakupan target kinerja
an
1 Cakupan Keluarga Sadar Gizi 3,933
3,295
83.78 100.00 83.78
2 Cakupan Balita Ditimbang
3,933
2,291
58,25
80.00 72,81
(D/S)
3 Cakupan Distribusi Kapsul
522
522
100.00 100.00 100.00
Vitamin A bagi Bayi (6-11
bulan)
4 Cakupan Distribusi Kapsul
2,732
2,574
94.22 100.00 94.22
Vitamin A Bagi Anak Balita
(12-59 bulan)
5 Cakupan Distribusi Kapsul
987
966
97.87
90.00 108.75
Vitamin A bagi Ibu Nifas

6 Cakupan Distribusi Tablet Fe


90 tablet pada ibu hamil
7 Cakupan Distribusi MP- ASI
Baduta Gakin
8 Cakupan balita gizi buruk
mendapat perawatan
9 Cakupan ASI Eksklusif

NO
1

1,024

1,064

987

870

103.91 100.00 103.91


-

100.00

100.00 100.00 100.00


88.15

100.00 88.15

Lampiran 2
Tabel 2. Identifikasi Unsur Manajemen (Input)
UNSUR MANAJEMEN
INTERNAL
EKSTERNAL
Manusia (man)
- Program gizi di puskesmas pemegang program pembantu
ciwidey ini dipegang oleh satu pada upaya kesehatan gizi
orang dan pemegang program dibantu oleh para kader yang
gizi tidak memegang program tersebar di setiap posyandu
apapun lagi selain program gizi
Biaya (Money)
- Dana yang didapatkan untuk - Tidak ada alokasi biaya untuk
program gizi hanya didapat dari
kader bagi program kesehatan
dana operasional
gizi
- Tidak ada alokasi dana khusus - Program kesehatan gizi sering
untuk program gizi
mendapatkan dana hibah dari
ibu-ibu PKK
Sarana (Material)
- Untuk kegiatan kesehatan gizi di - Untuk kegiatan kesehatan gizi
dalam
puskesmas,
sudah
di posyandu, sudah tersedia
tersedia alat pengukur panjang
dacin untuk penimbangan
badan untuk bayi dan alat
berat badan, pengukur panjang
pengukur tinggi badan untuk
badan bayi, dan pengukur
anak.
tinggi badan untuk anak.

Prasarana (Machine)

Metode (method)

Pemasaran (Marketing)

Waktu (Minute)

- Gedung Puskesmas memiliki pelaksaan kegiatan gizi diluar


ruangan
khusus
untuk
puskesmas dilakukan di
pelaksanaan program kesehatan
posyandu-posyandu yang
gizi, namun ruangan masih
tersebar didesa, posyandu
bergabung dengan pemegang
biasanya menggunakan
program kesehatan lingkungan
gedung RW.
dan program promosi kesehatan
- Metode yang digunakan untuk - Pencatatan dan pelaporan dari
melakukan
pencatatan
dan
masing-masing
posyandu
pelaporan
masih
dilakukan
masih
dilakukan
secara
secara manual.
manual oleh para kader.
- Pemasaran di dalam puskesmas - Untuk kegiatan kesehatan gizi
untuk kesehatan gizi adalah
di
posyandu,
dilakukan
melalui balai pengobatan dan
pengumuman kegiatan melalui
juga
penyuluhan
didalam
mesjid-mesjid
dan
juga
puskesmas
pemberitahuan melalui tokoh
masyarakat
- Kegiatan kesehatan gizi didalam - Kegiatan kesehatan gizi di
puskesmas dilakukan dua kali
posyandu dilakukan setiap
dalam seminggu pada hari
bulannya untuk melakukan
selasa dan rabu pada pukul
bulan penimbangan berat

08.00 sampai dengan 14.00


8

Informasi (Information)

- Melalui balai pengobatan yang


ada di puskesmas, dapat
disaring
anak-anak
yang
memiliki masalah gizi di
wilayah puskesmas

badan, dilakukan pada pukul


08.00 sampai dengan 12.00
- Melalui
pelaporan
bulan
penimbangan yang dilakukan
oleh para kader puskesmas
dapat mengetahui apakah
terdapat anak yang mengalami
gizi
buruk
di
wilayah
puskesmas.

Lampiran 3
Tabel 3. Analisis SWOT
Kekuatan (strength)
- Kegiatan kesehatan gizi dibantu oleh para
kader, sehingga kegiatan kesehatan gizi dapat
berjalan secara serentak pada semua desa
- Sudah tersedianya sarana dan prasarana pada
setiap posyandu

Kelemahan (weakness)
- Jumlah kader belum mencukupi, dimana
pada setiap posyandu idealnya memiliki
lima orang kader
- Tidak adanya alokasi dana khusus untuk
kegiatan gizi
- Masih kurangnya keterampilan kader dalam
menggunakan alat-alat yang digunakan di
posyandu
- Pencatatan dan pelaporan masih secara
manual, sehingga masih banyak kesalahan
dan keterlambatan
Peluang (opportunity)
Ancaman (threat)
Dengan adanya kader pada setiap posyandu yang - Tidak adanya kader yang memiliki keterampilan
tersebar di desa-desa, memudahkan menjalankan
khusus untuk melakukan kegiatan kesehatan gizi
program kesehatan gizi.
- Tidak adanya alokasi dana khusus untuk kegiatan
kesehatan gizi baik di dalam ataupun diluar
puskesmas

Lampiran 4
Tabel 4. Identifikasi Permasalahan Upaya Kesehatan Gizi
No Permasalahan
A.

Belum tercapainya cakupan keluarga sadar gizi

B.

Belum tercapainya cakupan balita ditimbang D/S

C.

Belum tercapainya cakupan distribusi kapsul Vit A bagi anak 1259 bulan

D.

Belum tercapainya cakupan ASI Eksklusif

Tabel 5. Penetapan Prioritas Masalah Pada Kesehatan Gizi


(Skala Likert)
No.
Daftar Masalah
U
1
Belum tercapainya cakupan keluarga sadar gizi
4
2
Belum tercapainya cakupan balita ditimbang D/S
5
3
Belum tercapainya cakupan distribusi kapsul Vit A
4
bagi anak 12-59 bulan
4
Belum tercapainya cakupan ASI eksklusif
4
Keterangan:

S
3
4
2

G
3
4
2

U (Urgency) :
Mendesaknya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan
masalah tersebut.
S (Seriousness) :
Tingkat keseriusan masalah.
G (Growth) :
Tingkat perkembangan masalah.
Skala likert :
1 :sangat kecil
2 :kecil
3 :sedang
4 :besar
5 :sangat besar

Dari hasil perhitungan, didapatkan Prioritas Masalah Pada Upaya


Kesehatan Gizi yaitu :
Tabel 6. Identifikasi Penyebab Utama dari Masalah Prioritas
pada Upaya Kesehatan Gizi
N
o

Prioritas
Masalah

Belum
tercapainya
cakupan keluarga
sadar gizi

Belum
tercapainya

Kemungkinan Penyebab

Man :
4
Kurangnya kesadaran masyarakat
untuk mewujudkan keluarga sadar
gizi
Money :
Tidak ada alokasi dana khusus untuk
program gizi
Marketing :
Sosialisasi tentang keluarga
sadar gizi masih kurang
Man :
5
Kurangnya anggota kader, pada

jumlah

10

13

cakupan balita
ditimbang D/S

Belum
tercapainya
cakupan distribusi
kapsul Vit A bagi
anak 12-59 bulan

Belum
tercapainya
cakupan ASI
eksklusif

beberapa posyandu masih ada yang


hanya memiliki satu orang kader
Money:
Tidak adanya alokasi dana khusus
untuk kegiatan diposyandu
Method :
Sistem pelaporan masih secara
manual
Material :
Sudah tersedia alat pada setiap
posyandu, tetapi keterampilan kader
dalam menggunakan alat masih
kurang dan terdapat kesalahan pada
saat penggunaan alat
Man :
4
Kurangnya jumlah kader pada setiap
posyandu
Method :
Sistim pelaporan masih secara
manual
Marketing :
Pemberitahuan tentang kegiatan
masih belum menyeluruh
Information :
Sistim pelaporan masih secara
manual
Man:
4
Masih kurangnya jumlah kader
Money:
Tidak adanya alokasi dana untuk
kegiatan ini
Marketing:
Kurangnya
sosialisasi
dan
penyuluhan untuk ASI eksklusif

10

Keterangan:

U (Urgency) :
M5endesaknya waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan

masalah tersebut.
- S (Seriousness) :
Tingkat keseriusan masalah.
- G (Growth) :
Tingkat perkembangan masalah.
Skala likert :
1 :sangatkecil
2 :kecil
3 :sedang
4 :besar
5 :sangat besar

10

Dari hasil perhitungan, didapatkan penyebab utama dari


masalah prioritas pada upaya kesehatan gizi yaitu dari Kurangnya
anggota kader, dimana pada beberapa posyandu masih ada
yang hanya memiliki satu orang kader (man), tidak adanya
alokasi dana khusus untuk kegiatan diposyandu (money),
sistem pelaporan masih secara manual (method), sudah
tersedianya alat pada setiap posyandu, namun keterampilan
kader dalam menggunakan alat masih kurang dan terdapat
kesalahan (material)

Gambar 1. Penentuan Akar Masalah dengan Menggunakan


Pohon Masalah

11

Lampiran 5
Tabel 7.

Alternatif Penyelesaian Penyebab Utama Masalah


Prioritas Upaya
Kesehatan Gizi

Masalah
Belum
tercapainya
cakupan balita
ditimbang D/S

Identifikasi masalah
A. Waktu pelaksanaan
program posyandu
dilaksanakan pada saat
jam kerja orangtua
B. Jumlah kader yang
kurang.
C. Kurangnya
partisipasi/kesadaran ibu
balita

Penyelesaian masalah
A. Waktu pelaksaan
dilaksanakan diluar jam
kerja orangtua
B. Penambahan jumlah kader
C. Penyuluhan untuk
meningkatkan kesadaran dan
partisipasi ibu

12

Lampiran 6
Tabel 8. Penyelesaian Penyebab Utama Masalah Prioritas
pada Upaya
Kesehatan Gizi
No

1.
2.
3.

Daftar alternatif jalan keluar

A
B
C
Keterangan:

Efektifitas

Efisiensi

Jumlah
MxIxV
C

16

4
5

4
5

4
5

5
3

12.8
41.67

M (Magnitude): Besarnya masalah yang dapat diselesaikan oleh


jalan keluar
I (Importancy): Pentingnya jalan keluar dalam mengatasi masalah
V (Vulnerability): Sensitivitas jalan keluar dalam mengatasi
masalah
C (Cost): Biaya yang diperlukan untuk melaksanakan jalan keluar

1 = sangat tidak penting


2
= tidak penting
3 = cukup

4 = penting
5 = sangat penting

Dari hasil perhitungan, didapatkan penyelesaian penyebab


utama masalah prioritas pada upaya kesehatan gizi yaitu
Penyuluhan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi
ibu

13