Anda di halaman 1dari 7

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

REFLEKSI KASUS ILMU KESEHATAN THT

REFLEKSI KASUS

I. KASUS
Seorang laki-laki berusia 55 tahun datang ke poli THT karena mengeluh nyeri tenggorok
(odinofagia). keluhan disertai batuk yang tidak kunjung sembuh lebih dari 1 bulan. Pasien telah
berobat ke dokter umum diberi obat batuk dan antibiotic, namun belum sembuh. Dahak (-),
rinorea (-), demam (-), anorexia (-), vomitus (-), chepalgia hebat (-). Sebelumnya pasien pernah
mengalami gejala serupa namun biasanya hanya beberapa hari. Riwayat alergi (+).
Pemeriksaan fisik menunjukkan kondisi umum baik, compos mentis. Pemeriksaan
tenggorok, Inspeksi: mukosa faring: hiperemis (+), ulkus (-), pada mukosa dinding posterior
licin.; Tonsil: hiperemis (+), edema (-), detritus (-), kripta melebar (-), ukuran T1- T1.
Pasien didiagnosis faringitis akut, dan mendapat terapi Co amoksiclave 500 mg tab 3x1,
Cetirizine 2x1, metyl prednisolon 4 mg tab 3x1, Ambroxol mg 30 3x1.
II. PERASAAN TERHADAP PENGALAMAN
Saya tertarik dengan kasus tersebut karena kasus sejenis sering ditemui dan saya ingin
mengetahui apa itu faringitis, jenis-jenis faringitis, dan bagaimana terapinya?
III.PEMBAHASAN
A. Faring
Odinofagia atau nyeri tenggorok merupakan gejala yang sering dikeluhkan akibat adanya
kelainan atau peradangan di daerah nasofaring, orofaring dan hipofaring. Faring adalah suatu
kantong fibromuskuler yang bentuknya seperti corong, yang besar dibagian atas dan sempit
dibagian bawah. Kantong ini mulai dari dasar tenggorak, terus menyambung ke esophagus
setinggi vertebra servikal ke-6. Ke atas, faring berhubungan dengan rongga hidung melalui koana,
ke depan berhubungan dengan rongga mulut melalui ismus orofaring, sedangkan dengan laring
dibawahnya berhubungan melalui aditus laring dan ke bawah berhubungan dengan esophagus.
Dinding faring dibentuk oleh (dari dalam keluar) selaput lendir, fasia faringobasiler, pembungkus
otot, dan sebagian fasia bukofaringeal. Faring terbagi atas nasofaring, orofaring dan laringofaring
(hipofaring). Unsur-unsur faring meliputi mukosa, palut lender (mukosa blanket) dan otot.

RM.01.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

REFLEKSI KASUS ILMU KESEHATAN THT

Fungsi faring yang terutama untuk respirasi, pada waktu menelan, resonansi suara dan
artikulasi. Terdapat 3 fase dalam proses menelan yaitu fase oral adalah fase bolus makanan dari
mulut menuju ke faring yang disengaja (voluntary); fase faringeal yaitu pada waktu transpor
bolus makanan melalui faring tanpa disengaja (involuntary); fase esofagal yaitu waktu bolus
makanan bergerak secara peristaltic di esophagus menuju lambung. Fungsi faring ada saat
berbicara dan menelan terjadi gerakan terpadu otot-otot palatum dan faring. Gerakan ini antara
lain berupa pendekatan palatum mole kearah dinding belakang faring.
B. Faringitis
Faringitis merupakan peradangan dinding faring yang dapat disebabkan oleh virus (4060%), bakteri (5-40%), alergi, trauma, toksin, dan lain-lain.
Virus dan bakteri melakukan invasi ke faring dan menimbulkan reaksi inflamasi local.
Infeksi bakteri grup A Streptokokus hemolitikus dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang
hebat, karena bakteri ini melepaskan toksin ekstraseluler yang dapat menimbulkan demam
reumatik, kerusakan katup jantung, glumerulonefritis akut karena fungsi glumerulus terganggu
RM.02.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

REFLEKSI KASUS ILMU KESEHATAN THT


akibat terbentuknya kompleks antigen-antibodi. Bakteri ini banyak menyerang anak usia sekolah,
orang dewasa dan jarang pada anak umur kurang dari 3 tahun. Penularan infeksi melalui secret
hidung dan ludah (droplet infektion).
Jenis-jenis faringitis, yaitu:
1. Faringitis Akut
a. Faringitis viral
Rinovirus menimbulkan gejala rhinitis dan beberapa hari kemudian akan
menimbulkan faringitis.
Gejala dan tanda :
Demam disertai rinorea, mual, nyeri tenggorok, dan sulit menelan.
Pada pemeriksaan tampak faring dan tonsil hiperemis. Virus influenza,
coxachievirus dan cytomegalovirus tidak menghasilkan eksudat. Coxachievirus dapat
menimbulkan lesi vesicular di orofaring dan lesi kulit berupa maculopapular rash.
Adenovirus selain menimbulkan gejala faringitis, juga menimbulkan gejala konjungtivitis
terutama pada anak. Epstein Barr Virus (EBV) menyebabkan faringitis yang disertai
produksi eksudat pada faring yang banyak. Terdapat pembesaran kelenjar limfa di seluruh
tubuh terutama retroservikal dan hepatosplenomegali. Faringitis yang disebabkan HIV-1
menimbulkan keluhan nyeri tenggorok, nyeri menelan, mual, dan demam. Pada
pemeriksaan tampak faring hiperemis, terdapat eksudat, limfadenopati akut di leher dan
pasien tampak lemah.
Terapi :
Istirahat dan minum yang cukup. Kumur dengan air hangat. Analgetika jika perlu
dan tablet isap. Antiviral metisoprinol (Isoprenosine) diberikan pada infeksi herpes
simpleks dengan dosis 60-100 mh/kgBB dibagi dalam 4-6 kali pemberian/hari pada orang
dewasa dan pada anak <5 tahun diberikan 50 mg/kgBB dibagi dalam 4-6 kali
pemberian/hari.
b. Faringitis bacterial
Infeksi bakteri grup A Streptokokus hemolitikus merupakan penyebab faringitis
akut pada orang dewasa (15%) dan pada anak (30%).
Gejala dan tanda :
Nyeri kepala yang hebat, muntah, kadang-kadang disertai demam dengan suhu yang
tinggi, jarang disertai batuk.
Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar, faring dan tonsil hiperemis, serta
terdapat eksudat dipermukaannya. Beberapa hari kemudian timbul bercak petechiae pada
RM.03.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

REFLEKSI KASUS ILMU KESEHATAN THT


palatum dan faring. Kelenjar limfa leher anterior membesar, kenyal, dan nyeri pada
penekanan.
Terapi :
1) Antibiotik
Diberikan terutama bila diduga penyebab faringitis akut ini grup A Streptokokus
hemolitikus. Penicillin G Banzatin 50.000 U/kgBB, IM dosis tunggal, atau amoksisilin
50 mg/kgBB dosis dibagi 3 kali/hari selama 10 hari dan pada dewasa 3x500 mg
selama 6-10 hari atau eritromisin 4x500mg/hari.
2) Kortikosteroid: deksametason 8-16 mg, IM, 1 kali. Pada anak 0,08-0,3 mg/kgBB, IM,
1 kali.
3) Analgetika dan kumur dengan air hangat atau antiseptik
c. Faringitis fungal
Candida dapat tumbuh di mukosa rongga mulut dan faring.
Gejala dan tanda :
Keluhan nyeri tenggorok dan nyeri menelan. Pada pemeriksaan tampak plak putih
di orofaring dan mukosa faring lainnya hiperemis. Pembiakan jamur ini dilakukan dalam
agar Sabouroud dextrose.
Terapi :
Nystatin 100.000-400.000 2 kali/hari dan analgetik.
d. Faringitis gonorea
Hanya terdapat pada pasien yang melakukan kontak orogenital.
Terapi : Sefalosforin generasi ke-3, Ceftriakson 250 mg, IV.
2. Faringitis Kronik
Terdapat 2 bentuk yaitu faringitis kronik hiperplastik dan faringitis kronik atrofi. Faktor
predisposisi proses radang kronik di faring ini ialah rinitis kronik, sinusitis, iritasi kronik oleh
rokok, minum alcohol, inhalasi uap yang merangsang mukosa faring dan debu. Factor lain
penyebab terjadinya faringitis kronika adalah pasien yang biasa bernapas melalui mulut
karena hidungnya tersumbat.
a. Faringitis kronik hiperplastik (granular)
Pada faringitis kronik hiperplastik terjadi perubahan mukosa dinding posterior
faring. Tampak kelenjar limfa di bawah mukosa faring dan lateral band hiperplasi. Pada
pemeriksaan tampak mukosa dinding posterior tidak rata, bergranular.
Gejala :
Pasien mengeluh mula-mula tenggorok kering gatal dan akhirnya batuk yang
berdahak.
Terapi :

RM.04.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

REFLEKSI KASUS ILMU KESEHATAN THT


Terapi local dengan melakukan kaustik faring dengan memakai zat kimia larutan
nitras argenti atau dengan listrik (electro cauter). Pengobatan simptomatis diberikan obat
kumur atau tablet isap. Jika diperlukan dapat diberikan obat batuk antitusif atau
ekspektoran. Penyakit di hidung dan sinus paranasal harus diobati.
b. Faringitis kronik atrofi (kataralis)
Faringitis kronik atrofi sering timbul bersamaan dengan rhinitis atrofi. Pada rhinitis
atrofi, udara pernafasan tidak diatur suhu serta kelembabannya, sehingga menimbulkan
rangsangan serta infeksi pada faring.
Gejala :
Pasien mengeluh tenggorok kering dan tebal serta mulut berbau. Pada pemeriksaan
tampak mukosa faring ditutupi oleh 5ender yang kentaldan bila diangkat tampak mukosa
kering.
Terapi :
Pengobatan ditujukan pada rhinitis atrofinya dan untuk faringitis kronik atrofi
ditambahkan dengan obat kumur dan menjaga kebersihan mulut.
3. Faringitis Spesifik
a. Faringitis luetika
Treponema palidum dapat menimbulkan infeksi di daerah faring seperti juga
penyakit lues di organ lain. Gambaran kliniknya tergantung pada stadium penyakit primer,
sekunder, atau tertier.
Stadium Primer
Kelainan pada stadium primer terdapat pada lidah, palatum mole, tonsil dan dinding
posterior faring berbentuk bercak keputihan. Bila infeksi terus berlangsung maka timbul
ulkus pada daerah faring seperti ulkus pada genitalia yaitu tidak nyeri. Juga didapatkan
pembesaran kelenjar mandibula yang tidak nyeri tekan.
Stadium Sekunder
Stadium ini jarang ditemukan. Terdapat eritema pada dinding faring yang menjalar
kea rah faring.
Stadium Tertier
Pada stadium ini terdapat guma. Predileksinya pada tonsil dan palatum. Jarang pada
dinding posterior faring. Guma pada dinding posterior faring dapat meluas ke vertebra
servikal dan bila pecah dapat menyebabkan kematian. Guma yang terdapat di palatum
mole, bila sembuh akan terbentuk jaringan parut yang dapat menimbulkan gangguan
fungsi palatum secara permanen.
RM.05.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

REFLEKSI KASUS ILMU KESEHATAN THT


Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan serologic. Terapi penisilin dalam dosis
tinggi merupakan obat pilihan utama.
b. Faringitis tuberculosis
Faringitis tuberculosis merupakan proses sekunder dari tuberculosis paru. Pada
infeksi kuman tahan asam jenis bovinum dapat timbul tuberculosis faring primer. Cara
infeksi eksogen yaitu kontak dengan sputum yang mengandung kuman atau inhalasi
kuman melalui udara. Cara infeksi endogen yaitu penyebaran melalui darah pada
tuberculosis miliaris. Bila infeksi ini timbul secara hematogen maka tonsil dapat terkena
pada kedua sisi dan lesi sering ditemukan pada dinding posterior faring, arkus faring
anterior, dinding lateral hipofaring, palatum mole dan palatum durum. Kelenjar regional
leher membengkak. Saat ini penyebaran secara limfogen.
Gejala :
Keadaan umum pasien buruk karena anoreksi dan odinofagia. Pasien mengeluh
nyeri yang hebat di tenggorok, nyeri di telinga atau otalgia serta pembesaran kelenjar
limfa servikal.
Diagnosis :
Untuk menegakkan diagnosis diperlukan pemeriksaan sputum basil tahan asam, foto
toraks untuk melihat adanya tuberculosis paru dan biopsy jaringan yang terinfeksi untuk
menyingkirkan proses keganasan serta mencari kuman basil tahan asam di jaringan.
Terapi : Sesuai dengan terapi tuberculosis paru.
Gejala yang ditemukan

pada pasien ini yaitu: odinofagia dan batuk kering. Pada

pemeriksaan Pemeriksaan tenggorok, Inspeksi: mukosa faring: hiperemis (+) dan Tonsil:
hiperemis (+).Sesuai dengan gejala pada teori diatas pasien mengalami faringitis akut bacterial.
Pengobatan pada pasien juga sesuai dengan pengobatan pada faringitis akut yaitu co
amoksiclave (amoxicillin) 500 mg tab 3x1 sebagai antibiotik, metil prednisolon 4 mg tab 3x1
sebagai kortikosteroid sebagai antiinflamasi. Pasien juga diberikan cetirizine 2 x1 karena pasien
memiliki riwayat alergi, mengingat salah satu penyebab faringitis adalah alergi. Lalu pasien juga
mendapatkan ambroxol mg 30 3x1 sebagai mukolitik untuk batuk yang dialami pasien.

IV.
DAFTAR PUSTAKA
Soepardi, Efiaty, dkk. (2012). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala,
dan Leher, Edisi: 7. FKUI: Jakarta.
RM.06.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

REFLEKSI KASUS ILMU KESEHATAN THT


Yogyakarta, Oktober 2014
Perceptor

dr. Indera Istiadi, Sp.THT

RM.07.