Anda di halaman 1dari 14

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN THT


BAB I
STATUS PASIEN
I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. A R

Umur

: 7 tahun

BB

: 31 kg

No. RM

: 641744

Pekerjaan

: Pelajar

Alamat

: Dokaran, Tamanan, Banguntapan

Tanggal periksa

: 22 Oktober 2014

II. ANAMNESIS
Aloanamnesis (22 Oktober 2014).
A. Keluhan Utama:
Mendengkur ketika tidur
B. Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke poli THT RS. Jogja dengan keluhan sering mendengkur ketika tidur.
Keluhan dirasakan sejak 3 tahun yll. Telah diketahui sejak pasien masih balita bahwa kedua
tonsil membesar. Terkadang terasa nyeri ketika pasien sakit/kecapean. Keluhan dirasakan sering
kambuh. Hal ini membuat os terganggu untuk melakukan aktivitas sehari-harinya. Pasien
berulang kali berobat ke dokter untuk mengatasi keluhan. Batuk (-), Pilek (-), Riwayat Alergi
(-).
C. Riwayat Penyakit Dahulu:
Sejak 3 tahun diketahui bahwa tonsil membesar, sering kambuh dan terasa nyeri bila kelelahan
atau sakit.

RM.01.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN THT


D. Riwayat Penyakit Keluarga:
Keluarga pasien mengaku tidak ada keluarga yang pernah sakit seperti ini.
E. Anamnesis Sistem

Sistem serebrospinal

: demam (-), mual (-), nyeri kepala (-)

Sistem respiratorius

: sesak nafas (-), batuk (-), pilek (-)

Sistem kardiovaskuler

: berdebar-debar(-)

Sistem gastrointestinal

: tidak ada keluhan

Sistem anogenital

: tidak ada keluhan

Sistem muskuloskeletal

: tidak ada hambatan dalam bergerak

Sistem integumentum

: suhu raba hangat

Sistem neurologis

: tak ada keluhan

III. PEMERIKSAAN
Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos-mentis

Vital Sign
Tekanan Darah

: 100/60 mmHg

Suhu

: 36,6C

Nadi

: 88 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup

Respirasi Rate

: 20 x/menit, reguler

1. Kepala
Bentuk kepala
: mesosefal
Rambut
: warna hitam, uban (-), tidak mudah dicabut
Muka
: edema (-)
Mandibula
: Sikatrik (-), Fraktur (-)
a) Pemeriksaan mata
Palpebra
: edema ka/ki -/ Konjungtiva : anemis -/ Sklera
: ikterik -/RM.02.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN THT


Pupil
: reflek cahaya -/-, isokor -/b) Pemeriksaan mulut: mukosa bibir kering (-), sianosis (-), stomatitis (-), uvula simetris (+),
lidah kotor (-), gusi berdarah (-), nyeri telan (-), tonsila hiperemis (+), tonsila hipertrofi
tampak kriptus memlebar, gigi masih lengkap
2. Leher
Kelenjar tiroid
Trakhea
Kelenjar limfonodi
JVP
Kaku kuduk

: tidak membesar
: Normal
: tidak membesar
: Normal
: tidak ditemukan

3. Thorak
Anterior
Inspeksi
Statis: simetris, ketinggalan gerak (-)

Posterior
Inspeksi
Statis: simetris, ketinggalan gerak (-)

Dinamis :
hemithorax dextra = hemithorax sinistra,
sela iga tidak melebar,
retraksi intercosta (-),
retraksi subcosta (-),
ketinggalan gerak (-)
Palpasi

Dinamis :
hemithorax dextra = hemithorax sinistra,
sela iga tidak melebar,
retraksi intercosta (-),
retraksi subcosta (-),
ketinggalan gerak (-)
Palpasi
Vokal fremitus: hemithorax dextra = hemithorax Vokal fremitus: hemithorax dextra =
sinistra
hemithorax sinistra,
pergerakan dada simetris
pergerakan dada simetris
Perkusi
Perkusi
Hemithorax kanan = hemithorax kiri sonor Hemithorax kanan = hemithorax kiri
(+)
sonor ( + )
Pada batas paru, hepar dan jantung redup
(+)
Auskultasi
Auskultasi
Suaradasar : vesikuler +/
Suara dasar : vesikuler +/+

Suara tambahan : RBK -/- , RBB -/- ,


wheezing -/-

Suara tambahan : RBK -/- , RBB -/- ,


wheezing -/-

4. Jantung
Inspeksi: ictus cordis tidak terlihat
Palpasi: ictus cordis teraba di SIC V Linea Midklavikularis Kiri, tidak kuat angkat
Perkusi:
Batas jantung
- Kanan atas : SIC II Linea Parasternalis Kanan
- Kanan bawah: SIC IV Linea Parasternalis Kanan
- Kiri atas
: SIC II Linea Parasternalis Kiri
- Kiri bawah : SIC V Linea Midklavikularis Kiri
RM.03.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN THT

Auskultasi: S1-2 reguler, bising jantung (-)

5. Abdomen
Inspeksi: datar (-), asites (-), tanda peradangan (-)
Auskultasi: peristaltik usus (+) normal
Perkusi: timpani (+), nyeri ketok costovertebra kiri (-), nyeri ketok costovertebra kanan (-)
Palpasi: supel (+), asites (-), defans muskular (-), nyeri tekan epigastrik (-), nyeri tekan
perut kuadran kanan atas (-), nyeri tekan perut kuadran kiri atas (-), nyeri tekan suprapubik
(-), hepatomegali (-), splenomegali (-)
6. Pemeriksaan anogenital
Genitalia: Laki-laki
7. Pemeriksaan ekstremitas
Pemeriksaan
Perfusi akral
Pulsasi a. Brachialis
Pulsasi a. Dorsalis Pedis
Capillary refil time
Edema
Kekuatan
Tonus
Klonus
Reflek fisiologis
Reflek patologis

Superior
Dextra/Sinistra
Hangat
+/+, kuat
< 2
-/5/5
Normal
+/+, N
-/-

Inferior
Dextra/Sinistra
Hangat
+/+, kuat
< 2
-/5/5
Normal
+/+, N
-/-

Status Lokalis THT


1. Telinga
Inspeksi, Palpasi, Perkusi
AD/AS : hematom (-/-), edema (-/-), otore (-/-), CAE (+/+), nyeri
tragus (-/-), nyeri mastoid (-/-), nyeri retro auriculer (-/-),
fistel (-/-), nll. tidak teraba.
Otoskopi
AD/AS : CAE hiperemis (-/-), nyeri (-/-), secret CAE (-/-), cerumen
RM.04.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN THT


(+/+) sedikit, membrana timpani hiperemis (-/-), perforasi
(-/-), mukosa tidak hiperemis.
Fungsional (Test Pendengaran: Garpu Tala)

Rinne

: tidak dilakukan

Webber

: tidak dilakukan

Swabach : tidak dilakukan

2. Hidung dan Paranasal


Inspeksi
Simetris (+), deformitas (-), deviasi nasal (-), massa (-), obstruksi
nasal (-), rhinorea (-)
SPN: edema(-), warna normal.
Palpasi
nyeri tekan pipi (-/-), massa (-/-)
SPN : nyeri tekan sinus maxillaris dextra (-) dan sinistra (-)
Transluminasi -/Nyeri tekan pangkal hidung (-/-)
Aliran udara tak ada hambatan (-/-)
Rhinoskopi Anterior
Septum letak sentral, deviasi septum (-), deformitas os nasal(-),
perforasi septum (-)
ND/NS :

Hipertrofi

concha

(-/-),

mukosa

hiperemis

(-/-),

permukaan concha licin dan bersih, tidak berbenjol, massa


(-), secret mukopurulen (-/-), darah (-), polip (-).
Rhinskopi Posterior
Tidak dilakukan
Transiluminasi
(terang/terang)

RM.05.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN THT


3. Tenggorokan dan Laring (Leher)
Inspeksi, Palpasi
Trakhea letak sentral, gld.thyroid tak teraba, gld submandibular
teraba, nll.tak teraba, massa(-), NT(-), retraksi(-).
Cavum oris : Karies(-), gigi tanggal(-), mukosa mulut dalam batas
normal, papil lidah dalam batas normal, lidah mobile,
protrusi asimetris lidah(-), uvula sentral, massa(-)
M1P2C1I2

I2C1P2M1

M1P2C1I2

I2C1P2M1

Faring : mukosa tidak hiperemis, edema(-), massa(-)


Tonsil : hiperemis, kripte melebar, detritus (+), T3-T3, abses
peritonsiler(-),
Laringoskopi Indirek
Tidak dilakukan

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Darah rutin 22 Oktober 2014

PARAMETER
HASIL
HEMATOLOGY AUTOMATIC
Leukosit
9,3
Eritrosit
4,34
Hemoglobin
9,8
Hematokrit
29,5
MCV
67,9
MCH
22,6
MCHC
33,2
Trombosit
460

NILAI NORMAL

UNIT

4,6 - 10,6
4.2 - 5.4
12,0 - 16,0
37 47
81 99
27 31
33-37
150-450

10e3/ul
10e6/ ul
gr/dl
%
Fl
Pg
gr/dL
10e3/uL
RM.06.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN THT


Differential Telling Mikroskopis
Basophil
0
Eosinophil
0
Netrofil Staf
0
Netrofil Segmen
60
Limphosit
38
Monosit
2
Penunjang
Golongan Darah
O
Waktu Pendarahan
2 05
Waktu Penjendalan
7 15
HbsAg (-)
GDS
: 79 mg/dl

0
05
03
40 74
18 48
08

%
%
%
%
%
%

Slide Aglutinasi
<6
<12

Menit
Menit

V. KESIMPULAN
Seorang anak laki laki berusia 7 tahun ke poli THT RS. Jogja dengan keluhan sering
mendengkur ketika tidur. Keluhan dirasakan sejak 3 tahun yll. Telah diketahui sejak pasien
masih balita bahwa kedua tonsil membesar. Terkadang terasa nyeri ketika pasien
sakit/kecapean. Hal ini membuat os terganggu untuk melakukan aktivitas sehari-harinya.
Tenggorokan dan Laring (Leher)
Inspeksi, Palpasi
Trakhea letak sentral, gld.thyroid tak teraba, gld submandibular
teraba, nll.tak teraba, massa(-), NT(-), retraksi(-).
Cavum oris : Karies(-), gigi tanggal(-), mukosa mulut dalam batas
normal, papil lidah dalam batas normal, lidah mobile,
protrusi asimetris lidah(-), uvula sentral, massa(-)
M1P2C1I2

I2C1P2M1

M1P2C1I2

I2C1P2M1

Faring : mukosa tidak hiperemis, edema(-), massa(-)


Tonsil : hiperemis, kripte melebar, detritus (+), T3-T3, abses
peritonsiler(-),
VI. DIAGNOSIS
RM.07.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN THT


Tonsilitis Kronis
VII. RENCANA TERAPI
1. Edukasi : - Hindari makanan yang memicu radang seperti gorengan, es, dll
- Menjaga kebersihan mulut (oral hygiene)
2. Medikamentosa :
3. Operatif : Tonsilektomi
VIII. PROGNOSIS
Que ad vitam

: dubia ad bonam

Que ad sanam

: dubia ad bonam

Que ad fungsionam

: dubia ad bonam

RM.08.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN THT


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatine yang merupakan bagian dari cicin waldeyer. Cicin
Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam rongga mulut yaitu: tonsil faringeal
(adenoid), tonsil palatine ( tonsil faucial), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil tuba eustachius
(lateral band dinding faring/ Gerlachs tonsil).
Penyebaran infeksin melalui udara (air borne droplets), tangan dan ciuman. Dapat terjadi pada semua
umur, terutama pada anak.
I.

Tonsilitis akut
1. Tonsilitis Viral
Gejala tonsillitis viral lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri
tenggorok. Penyebab paling sering adalah virus Epstein Barr. Hemofilus influenza
merupakan penyebab tonsillitis akut supuratif. Jika terjadi virus coxschakie, maka pada
pemeriksaan rongga mulut akan tampak luka kecil pada palatum dan tonsil yang sangat
nyeri dirasakan pasien.
Terapi
Istirahat, minum cukup, analgetika, dan antivirus diberikan jika gejala berat.
1. Tonsilitis bacterial
Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman A Streptokokus Hemolitikus yang dikenal
sebagai strept troat, pnemokokus, Streptokokus viridian dan Streptokokus piogenes.
Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan menimbulkan reaksi radang
berupa keluarnya leukosit perimorfonuklear sehingga terbentuk detritus (kumpulan
leukosit, bakteri yang mati dan epitel yang terlepas). Detritus mengisi kriptud tonsil
tampak seperti bercak kuning.
Bentuk tonsillitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsillitis folikularis. Bila
bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur alur maka akan terjadi tonsillitis
lakunaris. Bercak detritus ini juga dapat melebar terbentuk semacam membran semu
(pseudomembrane) yang menutup tonsil.
Gejala dan tanda
Masa inkubasi 2-4hari. Gejala dan tanda yang sering ditemukan adalah nyeri tenggorok
dan nyeri pada saat menelan, demam tinggi, rasa lesu, nyeri sendi-sendi, tidak nafsu
makan dan rasa nyeri di telinga. Rasa nyeri di telinga tersebut merupakan nyeri alih
(referred pain) melalui saraf n.glosofaringeus (n.IX). pada pemeriksaan tampak tonsil
RM.09.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN THT


membengkak, hiperemis dan terdapat detritus berbentuk folikel, lacuna atau tertutup
oleh membrane semu. Kelenjar submandibular membengkak dan nyeri tekan.
Terapi
Antibiotika spectrum lebar penisilin, eritromisin. Antipiretik dan obat kumur yang
mengandung desinfektan.
Komplikasi
Pada anak sering timbul otitis media akut, sinusitis, abses peritonsil, abses parafaring,
bronchitis, glomerulonephritis akut, miokarditis, artritis serta septicemia akibat infeksi v.
jugularis interna (sindrom Lemierre).
Akibat hipertrofi tonsil akan menyebabkan pasien bernafas melalui mulut, tidur ngorok,
gangguan tidur karena terjadi sleep apnea yang dikenal sebagai Obstructive Sleep Apnea
Syndrome (OSAS).
II. Tonsilitis membranosa
Yang termasuk dalam tonsillitis membranosa adalah Tonsilitis Difteri, Tonsilitis Septik, Angina
Plaut Vincent (stomatitis ulsero membranosa), Penyakit kelainan darah seperti leukemia akut,
anemia pernisiosa, neutropenia maligna serta infeksi mononucleosis, proses spesifik luas dan
tuberculosis, infeksi jamur moniliasis, aktinomikosis dan blastomikosis, infeksi virus morbili,
pertussis dan skarlatina.
1. Tonsilitis Difteri
Penyebab tonsillitis difteri ialah kuman Coryne bacterium diphteriae, kuman yang
termasuk gram positif dan hidup disaluran nafas bagian atas yaitu hidung, faring dan
laring. Tidak semua orang yang terinfeksi kuman ini akan menjadi sakit, tergantung pada
titer anti toksin dalam darah seseorang. Titer anti toksin sebesar 0,03 satuan per cc darah
dapat dianggap cukup memberikan dasar imunitas. Hal inilah yang dipakai pada tes Schick.
Tonsillitis difteri sering ditemukan pada anak kurang dari 10tahun dan frekuensi tertinggi
pada usia 2-5tahun walaupun pada orang dewasa masih mungkin menderita penyakit ini.
Gejala dan tanda
a) Gejala umum, seperti juga gejala infeksi lainnya yaitu kenaikan suhu tubuh biasanya
subfebris, nyeri kepala, tidak nafsu makan, badan lemah, nadi lambat serta keluhan
nyeri menelan.
b) Gejala local, yang tampak berupa tonsil membengkak ditutupi bercak putih kotor yang
makin lama makin meluas dan bersatu membentuk membrane semu. Membrane ini
dapat meluas ke palatum mole , uvula, nasofaring, laring, trakea dan bronkus dan dapat
menymbat saluran nafas. Membrane semu ini melekat erat pada dasarnya, sehingga bila
diangkat akan mudah berdarah. Pada perkembangan penyakit ini jika infeksinya
RM.010.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN THT


berjalan terus, kelenjar limfa leher akan membengkak sedemikian besarnya sehingga
leher menyerupai leher sapi (bull neck) atau disebut juga Burgemeesters hals.
c) Gejala akibat eksotoksin yang dikeluarkan oleh kuman difteri ini akan menimbulkan
kerusakan jaringan tubuh yaitu pada jantung dapat terjadi miokarditis sampe
decompensatio cordis, mengenai saraf kranial menyebabkan kelumpuhan otot palatum
dan otot-otot pernafasan dan pada ginjal menimbulkan albuminuria.
Diagnosis
Diagnosis tonsillitis difteri ditegakkan berdasarkan gambaran klinik dan pemeriksaan
preparat langsung kuman yang diambil dari permukaan bawah membrane semu dan
didapatkan kuman Coryne bacterium diphteriae.
Terapi
Anti Difteri Serum (ADS) diberikan segera tanpa menunggu hasil kultur, dengan dosis
20.000-100.000 unit tergantung dari umur dan beratnya penyakit.
Antibiotika penisilin atau eritromisin 25-50 mg per kgBB dibagi dalam 3dosis selama
14hari.
Kortikosteroid 1,2mg per kgBB per hari. Antipiretik untuk simtomatis. Karena penyakit ini
menular, pasien harus diisolasi. Perawatan harus istirahat ditempat tidur selam 2-3 minggu.
Komplikasi
Laryngitis difteri dapat berlangsung dengan cepat, membrane semu menjakar ke laring dan
menyebabkan gejala sumbatan. Makin muda usia pasien makin cepat timbul komplikasi
ini.
Miokarditis dapat mengakibatkan payah jantung atau decompensatio cordis.
Kelumpuhan otot palatum mole, otot mata untuk akomodasi, otot faring serta otot laring
sehingga menimbulkan kesulitan menelan, suara parau dan kelumpuhan otot-otot
pernapasan.
Albuminuria sebagai akibat komplikasi ke ginjal.
2. Tonsilitis Septik
Penyebabnya ialah Streptokokus hemolitikus dalam susu sapi sehingga dapat timbul
epidemi. Di Indonesia jarang ditemui karena susu sapi dimasak dulu (dipasteurisasi).
3. Angina Plaut Vincent (stomatitis ulsero membranosa)
Penyebab penyakit ini ialah bakteri spirochaeta atau triponema yang didapatkan pada
penderita dengan hygiene mulut yang kurang dan defisiensi vitamin C.
RM.011.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN THT


Gejala
Demam sampai 39 derajat celcius, nyeri kepala, badan lemah dan kadang-kadang terdapat
gangguan pencernaan. Rasa nyeri dimulut, hipersalivasi, gigi dan gusi mudah berdarah.
Pemeriksaan
Mukosa mulut dan faring hiperemis, tampak membrane putih keabuan di atas tonsil, uvula,
dinding faring, gusi serta prosesus alveolaris, mulut berbau (foetor ex ore) dan kelenjar sub
mandibula membesar.
Terapi
Antibiotika spectrum luas selama 1minggu. Memperbaiki oral hygiene. Vitamin C dan
vitamin B kompleks.
4. Penyakit kelainan darah
Tidak jarang tanda pertama leukemia akut, angina agranulositosis dan infeksi mono
nukleosis timbul di faring atau tonsil yang tertutup membran semu. Kadang-kadang
terdapat perdarahan di selaput lender mulut dan faring serta pembesaran kelenjar
submandibula.
Leukemia akut
Gejala pertama sering berupa epistaksis, perdarahan di mulut, gusi dan dibawah kulit
sehingga kulit tampak bercak kebiruan. Tonsil membengkak ditutupi membrane semu
tetapi tidak hiperemis dan rasa nyeri yang hebet ditenggorok.
Angina agranullositosis
Penyebabnya ialah akibat keracunan obat dari golongan amidopirin, sulfa dan arsen. Pada
pemeriksaan tampak ulkus di mukosa mulut dan faring serta di sekitar ulkus tampak gejala
rdang. Ulkus ini juga dapat ditemukan di genitalia dan saluran cerna.
Infeksi mononucleosis
Pada penyakit ini terjadi tonsilo faringitis ulsero membranosa bilateral. Membrane semu
yang menutupi

ulkus mudah diangkat tanpa timbul perdarahan. terdapat pembesaran

kelenjar limfa leher, ketiak, regioinguinal. Gambaran darah khas yaitu terdapat leukosit
mononukleus dalam jumlah besar. Tanda khas yang lain ialah kesanggupan serum pasien
untuk beraglutinasi terhadap sel darah merah domba (raksi Paul Bunnel).
III. Tonsilitis Kronik
Faktor predisposisi timbulnya tonsillitis kronis adalah rangsangan yang menahun dari rokok,
beberapa jenis makanan, oral hygiene yang buruk, pengaruh cuaca, kelelahan fisik dan
pengobatan tonsillitis akut yang adekuat. Kuman penyebab sama dengan tonsillitis akut tetapi
kadang-kadang kuman berubah menjadi kuman golongan gram negative.
Patologi

RM.012.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN THT


Karena proses peradangan berulang yang timbul maka selain epitel mukosa juga jaringan
limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti oleh jaringan
parut yang akan mengalami pengerutan sehingga kripti melebar. Secara klinik tampak kripti ini
diisi oleh detritus. Proses berjalan terus sehingga menembus kapsul tonsil dan akhirnya
menimbulkan perlekatan dengan jaringan di sekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini
disertai pembesaran kelenjar limfa submandibular.
Gejala dan tanda
Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar
dan beberapa kripti terisi oleh detritus. Rasa ada yang mengganjal ditenggorok, di rasakan
kering di tenggorok dan napas berbau.
Terapi
Terapi local ditujukan pada oral hygiene dengan berkumur atau obat hisap.
Komplikasi
Radang kronik tonsil dapat menimbulkan komplikasi kedaerah sekitarnya berupa rhinitis
kronik, sinusitis atau otitis media secara perkontinuitatum. Komplikasi jauh terjadi secara
hematogen atau limfogen dan dapat timbul endocarditis, artritis, myositis, nefritis, uveitis,
iridosiklitis, dermatitis, pruritis, urtikaria dan furunkulosis.
Tonsilektomi dilakukan bila terjadi infeksi yang berulang atau kronik, gejala sumbatan serta
kecurigaan neoplasma.
Indikasi Tonsilektomi
The American Academy of Otalaryngology Head and Neck Surgery Clinical Indicators
Compendium 1995 menetapkan:
1. Serangan tonsillitis lebih dari 3 kali per tahun walaupun telah mendapatkan terapi yang
adekuat.
2. Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan gangguan
pertumbuhan orofasial.
3. Sumbatan jalan nafas yang berupa hipertrofi tonsil dengan sumbatan jalan nafas, sleep
apnea, gangguan menelan, gangguan berbicara, dan cor pulmonale.
4. Rhinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsilitis yang tidak berhasil
5.
6.
7.
8.

hilang dengan pengobatan.


Napas bau yang tidak berhasil dengan pengobatan.
Tonsillitis berulang yang disebabkan oleh bakteri group A streptococcus hemoliticus.
Hipertrofi tonsil yang dicurigai adanya keganasan.
Otitis media efusa / otitis media supuratif.

RM.013.

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
2014

PRESENTASI KASUS ILMU KESEHATAN THT


DAFTAR PUSTAKA
Adams, Goerge, dkk. 1997. Buku Ajar Penyakit THT, Edisi 6. EGC: Jakarta.
Soepardi, Efiaty, dkk. 2012. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala, dan
Leher, Edisi: 7. FKUI: Jakarta.
Yogyakarta, Oktober 2014
Perceptor

dr. Indera Istiadi, Sp.THT

RM.014.