Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

Pemenuhan Kebutuhan Permodalan dalam Usaha Bidang


Pertambangan dan Migas di Indonesia

Disusun Oleh :
Aulia Martias
270110130045

GEOLOGI A
PROGRAM STUDI S1 FAKULTAS TEKNIK GEOLOGI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
BANDUNG
2014/2015

Kata Pengantar
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Segala puji bagi Allah yang
telah memberikan kami kemudahan sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.
Tanpa pertolongan-Nya mungkin penyusun tidak akan sanggup menyelesaikannya
dengan baik. Shalawat dan salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda
tercinta kita yakni Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang "
Pendekatan Deskriptif Dalam Bidang Ilmu Geologi", yang kami sajikan berdasarkan

pengamatan dari berbagai sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan
berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari
luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya
makalah ini dapat terselesaikan.
Walaupun makalah ini kurang sempurna dan memerlukan perbaikan tapi juga
memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu yaitu bapak
Nana Sulaksana dan bapak A. Sjafrudin yang telah membimbing penyusun agar dapat
mengerti tentang bagaimana cara menyusun karya tulis ilmiah yang baik dan sesuai
kaidah.
Semoga makalah ini dapat memberikan pengetahuan yang lebih luas kepada
pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun
membutuhkan kritik dan saran dari pembaca yang membangun. Terima kasih.

Jatinangor, 10 Oktober 2014

Penulis

ii

Daftar Isi
Kata Pengantar............................................................................................................... ii
Daftar Isi ........................................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................... 1


1.1 Latar Belakang .......................................................................................................... 1
1.2 Tujuan dan Maksud Penulisan ................................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................................... 2
2.1 Keterbatasan Modal Dalam Negeri ......................................................................... 2
2.2 Ketentuan Mengenai Peningkatan Nilai Tambah Mineral ...................................... 3
2.3 Sumber Daya Modal Pasca Berlakunya Undang-undang Minerba ......................... 3
2.4 Problem Utama Pengelolaan Migas Bukan Masalah Modal dan Teknologi ........... 4

BAB III PENUTUP ............................................................................................................ 9


3.1 Kesimpulan ............................................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 10

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Masalah teknologi dan permodalan sering menjadi alasan klasik Pemerintah
untuk menyerahkan ekplorasi migas ke pihak asing. Persoalan yang pertama, yaitu
teknologi ekplorasi minyak dan gas serta minerba, sebenarnya bukan masalah
utama. Pertamina dan BUMN lainnya sudah mampu melakukan ekplorasi migas dan
minerba baik onshore (darat), offshare (lepas pantai) maupun laut dalam (deep
water). On share adalah bentuk eksplorasi di darat. Pertamina dengan tenagatenaga ahlinya dari dalam negeri sudah mampu mendeteksi dan mengekplorasinya
tanpa hambatan.

Dalam pengembangan sumber daya mineral terdapat resiko

mengenai jumlah dan kualitas cebakan yang masih harus dicari. Yakni variasi jumlah
dan kualitas cebakan yang sangat besar, mulai dari tidak terdapat mineral sama
sekali, sampai temuan yang sangat besar jumlahnya dengan kualitas yang sangat
bagus. Oleh karena adanya resiko dan peluang tersebut, pengembangan
sumberdaya mineral sering juga dikatakan mirip sebuah pertaruhan / perjudian.
Jelas sekali resikonya tinggi, tetapi bila berhasil, keuntungannya (return of
investment, ROI) akan berlipat ganda.

1.2 Tujuan dan Maksud Penulisan


Untuk menjelaskan kepada pembaca tentang Pemenuhan Kebutuhan
Permodalan dalam Usaha Bidang Pertambangan dan Migas di Indonesia . Termasuk
di dalamnya cara pemodalan usaha tersebut dan pelaku usahanya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Keterbatasan Modal Dalam Negeri
Sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945, sumberdaya mineral dikuasai
negara, oleh karena itu pengembangan sumberdaya mineral harus dilakukan oleh
negara. Sudah dapat dipastikan bahwa negara juga mempunyai keterbatasan dalam
memiliki modal, karenanya negara perlu mencari dana atau modal untuk
pengembangan sumberdaya mineral tersebut. Salah satu jalan untuk memungkinkan
pengembangan sumberdaya mineral adalah melalui hak Kuasa Pertambangan. Pada
masa awal kemerdekaan, kesulitannya adalah keterbatasan modal yang dimiliki oleh
swasta nasional ataupun BUMN pemegang hak Kuasa Pertambangan tersebut untuk
dapat

menyelenggarakan

kegiatannya.

Keadaan

ini

berlangsung

sampai

dikeluarkannya undang undang tentang penanaman modal asing tahun 1967, yang
memungkinkan partisipasi modal swasta asing dalam pengembangan sumberdaya
mineral.
Pada masa tersebut unsur manajemen yang dimiliki bangsa Indonesia hanyalah
adanya data dugaan atau data terdapatnya mineral yang telah dikumpulkan sedikit
demi sedikit melalui pemetaan geologi sistematis. Dalam keterbatasan modal itu,
Pemerintah mengambil strategi dengan menyisihkan sebagian anggaran untuk
mengungkapkan kekayaan terlebih dahulu, sehingga hal ini akan menjadi daya tarik
untuk para investor, baik dari dalam maupun luar negeri.
Kondisi geologi dapat memberikan gambaran umum tentang mineral yang
dikandung bumi. Kondisi geologi biasanya menentukan tempat terdapatnya mineral,
sehingga dengan mengetahuinya, dapat diperoleh gambaran tentang kemungkinan
mineral didalamnya. Penyelidikan lebih lanjut untuk membuktikannya, memerlukan
waktu dan biaya lebih besar sehingga cenderung diserahkan ke pihak swasta.

Selain keterbatasan modal, sumberdaya manusia di Indonesia yang memiliki


kemampuan dalam pengelolaan sumberdaya mineral masih sangat terbatas. Begitu
juga dengan mesin (peralatan) dan metode (teknologi), yang belum tersedia di dalam
negeri. Karena itu diperlukan dana untuk membeli peralatan dan teknologi tersebut
dari luar negeri. Problema lainnya menyangkut komoditas tambang Indonesia yang
sebagian besar dipasarkan di luar negeri. Perusahaan Nasional pada saat itu belum
mengenal dan menguasai jaringan pemasaran di luar negeri.

2.2 Ketentuan Mengenai Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan


Pengolahan dan Pemurnian Mineral Berdasarkan Peraturan Menteri Sumber Daya
Mineral
Tujuan diterbitkannya Peraturan Menteri Energi Sumber Daya Mineral Nomor 7
Tahun 2012 Tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan
Dan Pemurnian Mineral sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Energi
Sumber Daya Mineral Nomor 11 Tahun 2012 tentang Perubahan Atas Peraturan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 7 Tahun 2012 Tentang Peningkatan
Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral (Permen
ESDM tentang Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral) adalah untuk
melaksanakan ketentuan Pasal 96 dan Pasal 111 Peraturan Pemerintah Nomor 23
Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan
Batubara sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun
2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2010 Tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara (PP tentang
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Minerba).
Permen ESDM tentang Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral
Berdasarkan Pasal 2 ayat (1) Permen ESDM tentang Kegiatan Pengolahan dan
Pemurnian Mineral, golongan komoditas tambang mineral yang dapat ditingkatkan
nilai tambahnya adalah:
mineral logam;
mineral bukan logam; atau
batuan.

Selanjutnya, di dalam Pasal 3 ayat (1) Permen ESDM tentang Kegiatan


Pengolahan dan Pemurnian Mineral diatur bahwa peningkatan nilai tambah
komoditas tambang dilaksanakan melalui kegiatan.
2.3 Sumber Daya Modal Pasca Berlakunya Undang-undang Minerba
Negara Indonesia sejak dulu terkenal dengan kekayaan sumber daya alamnya
baik di bidang perkebunan, pertanian, perikanan, dan bahkan pertambangan.
Dayatarik itu jugalah yang menjadi pemicu kedatangan bangsa Belanda ke
tanahIndonesia, yaitu karena tertarik akan kekayaan rempah-rempah. Hasil alam
yangsangat dibutuhkan bangsa Belanda namun sukar untuk diperoleh di tanah
airnyasendiri. Hampir di seluruh wilayah negara Republik Indonesia memiliki sumber
daya alam yang berpotensi besar untuk menyejahterakan rakyat.Salah satu sumber
daya alam yang berpotensi untuk meningkatkankesejahteraan rakyat adalah
pertambangan. Pulau Sumatera memiliki kekayaanalam hasil tambang berupa minyak
bumi, batu bara, tembaga, timah, granit, dan beberapa hasil tambang lainnya.
Pulau Kalimantan menyimpan kekayaan tambang berupa batu bara dan minyak bumi.
Pulau Jawa yang memiliki hasil tambang berupminyak bumi, bijih besi, granit, dan
hasil tambang lainnya. Di Pulau Sulawesi tersebar hasil tambang mangaan, fosfat,
tembaga, nikel, dan beberapahasil tambang lainnya, dan di pulau paling timur di
Indonesia yaitu Jayapuramenyimpan kekayaan tambang minyak bumi, emas, perak,
dan beberapa hasiltambang lainnya.
Walaupun perusahaan-perusahaan pertambangan menganggapIndonesia memiliki
iklim investasi yang buruk tetapi nyatanya Indonesia memangmemiliki potensi
mineral yang luar biasa dan tak bisa ditinggalkan.

2.4 Problem Utama Pengelolaan Migas Bukan Masalah Modal dan Teknologi
Hampir setiap tahun sejak liberalisasi migas dikokohkan dan dilegalkan melalui
undang-undang No. 22 tahun 2001, publik disuguhi dengan berbagai informasi kisruh
mengenai pengelolaan migas di negeri ini dan sekaligus aksi mempertanya-kan
keberpihakan Pemerintah terhadap rakyat dalam pengelolaan migas yang selalu
berpihak kepada perusahaan swasta baik lokal maupun asing. Ada kisruh pengelolan
Blok Cepu dan kasus operator Blok Migas West Madura tahun 2011. Tahun 2012 ini
kisruh kembali terjadi. Pertamina yang didukung oleh sejumlah aktivis dan akademisi
4

menuntut agar BUMN tersebut diberi kesempatan untuk mengelola Blok Mahakam
yang kontraknya berakhir pada tahun 2017.
Di bidang tambang minerba, keberadaan Undang-Undang No. 04 Tahun 2009
tentang Mineral dan Batubara (UU Minerba) menggantikan Undang-Undang No. 11
Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan, melengkapi lepasnya peran
Pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya alam yang diserahkan kepada para
pemilik modal/swasta nasional maupun asing. Walaupun keberadaan UU ini juga
mengatur mengenai larangan ekspor bahan mentah yang akan berlaku efektif pada
tahun 2014, yang terjadi para pemegang IUP (Izin Usaha Pertambangan) dan KK
(Kontrak Karya) berlomba-lomba menjual sebanyak-banyaknya hasil eksploitasi
tambang mentah. Ekspolitasi tambang mineral mengalami lonjakan yang signifikan
hingga mencapai 800%. Over eksploitasi tersebut terjadi karena Pemerintah daerah
dengan mudah menerbitkan IUP, tidak membatasi produksi dan eskpor. Berdasarkan
data Dirjen Minerba Kementerian ESDM, hingga saat ini dari 9.662 yang dikeluarkan
oleh pihak daerah, hanya 3.778 IUP yang berstatus clean and clear atau yang memiliki
dokumen lengkap, tidak tumpang tindih are lahan dan tidak ada persoalan hukum.
(Sumber: http://www.starbrain indonesia.com).
Selain faktor kebijakan Pemda, diduga kuat banyak investor asing ternyata
berada di belakang perusahaan tambang di Indonesia, khususnya di sektor
pertambangan nikel. Investor asing memanfaatkan lemahnya birokrasi perizinan
Pemda dengan menggunakan perusahaan lokal. Eksploitasi besar-besaran yang
dilakukan saat ini juga menimbulkan masalah beragam, seperti pemalsuan dokumen
dan tumpang tindih izin usaha pertambangan (IUP) yang mengakibatkan sengketa
wilayah izin usaha pertambangan (WIUP). Salah satu kasusnya adalah sengketa PT
Aneka Tambang dengan PT Duta Inti Perkasa Mineral, di Tapunopaka, Kabupaten
Konawe Utara, Sulawesi Tenggara. (Sumber: http://www.starbrainindonesia.com).
Pemberian izin kepada perusahaan swasta baik lokal maupun asing atas
tambang yang baru atau perpanjangan kontrak bagi yang sudah berjalan seperti
kasus Blok Mahakam, Blok tangguh yang diberikan kepada British Petrolem, tambang
emas di Irian Jaya yang diberikan kepada PT Freeport Amerika Serikat dan ribuan
kontrak karya lainnya, selalu bermuara pada dua alasan klasik yang dikemukakan
Pemerintah: ketidakmampuan Pertamina dan BUMN lainnya dari sisi teknologi dan
5

ketidakmampuan dari sisi permodalan. Benarkah bahwa Pertamina dan BUMN


lainnya tidak memilik kemampuan untuk menjadi pengelola tunggal dibidang Migas
dan Minerba? Ataukah yang tidak ada itu bukan teknologi dan modal, tetapi political
will dari Pemerintah yang neoliberal sebagai sumber masalahnya?

Pertamina Mampu!
Masalah teknologi dan permodalan sering menjadi alasan klasik Pemerintah
untuk menyerahkan ekplorasi migas ke pihak asing. Persoalan yang pertama, yaitu
teknologi ekplorasi minyak dan gas serta minerba, sebenarnya bukan masalah utama.
Pertamina dan BUMN lainnya sudah mampu melakukan ekplorasi migas dan minerba
baik onshore (darat), offshare (lepas pantai) maupun laut dalam (deep water). On
share adalah bentuk eksplorasi di darat. Pertamina dengan tenaga-tenaga ahlinya
dari dalam negeri sudah mampu mendeteksi dan mengekplorasinya tanpa hambatan.
Penemuan cadangan minyak di Blok Cepu adalah tenaga ahli dari Pertamina.
Pertamina pun menyatakan mampu secara teknologi untuk mengekplorasinya tanpa
bantuan asing. Adapun offshore adalah bentuk ekplorasi migas di wilayah laut baik
lepas pantai laut dangkal maupun laut dalam atau deep water. Dalam hal eksplorasi
migas dalam bentuk offfshoreselama ini Pertamina sering diragukan kemampuannya
bahkan dianggap tidak mampu baik dari sisi teknologi maupun permodalan. Sebagai
contoh ketika Blok Migas West Madura akan selesai kontraknya tahun lalu,
Pemerintah pada saat itu terkesan enggan memberikan operator BlokWest Madura
kepada Pertamina dan lebih cenderung memperpanjang operator yang pada waktu
itu dikelola oleh Kodeco, perusahaan minyak asal Korea Selatan. Hal yang sama juga
dilakukan oleh Pemerintah ketika Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang saat
itu opertornya British Petroleum; Pemerintah juga lebih cenderung memberikan
perpanjangan operator kepada British Petroleum. Namun, karena desakan dari
berbagai pihak, akhirnya kedua blok tersebut diserahkan kepada Pertamina. Hasilnya,
ternyata bukan saja Pertamina mampu memproduksi tapi hasil produksinya juga
meningkat. Saat masih dikelola British Petroleum produksi minyaknya hanya 21.000
barel perhari. Setelah dioperatori oleh Pertamina hasilnya naik menjadi 30.000 barel
perhari, bahkan dari sana juga dihasilkan gas 200 juta kubik (Warta Pertamina, Juli
2011). Apalagi ternyata pengelolaan offshore di ONWJ dan WMO bukanlah hal yang
6

baru bagi Pertamina. Menurut Muhammad Husen, Direktur Hulu Pertamina, offshore
di kedua blok tersebut bukan yang pertama, karena sebelumnya Pertamina sudah
memulai di Blok Gebang Sumatera dan Blok Kakap di Natuna. Bahkan Pertamina juga
sudah 10 tahun sebagai operator di Luwuk yang melakukan pengeboran laut dalam
kedua setelah Unocal. Oleh karena itu alasan ketidakmampuan Pertamina dari aspek
teknologi sebagai operator blok migas seperti operator Blok Mahakam yang sekarang
sedang ramai diperbincangkan adalah sebuah kebohongan belaka untuk menutupi
alasan sebenarnya. Sebagaiman diketahui, Wamen ESDM sebelumnya mengatakan
bahwa Pertamina tidak mumpuni untuk kelola Blok Mahakam, tetapi kemudian dia
ralat dengan mengatakan, Untuk menjadi operator Blok Mahakam bisa saja
Pertamina bekerjasama dengan perusahaan Total. Sebab, kemampuan kedua
perusahaan tersebut dalam mengelola industri hulu migas tidak diragukan lagi.
Aspek permodalan adalah alasan kedua yang sering dijadikaan alasan bagi
Pemerintah untuk tetap memberikan atau memperpanjang kontrak migas dan
minerba kepada swasta baik lokal maupun asing. Memang betul, eksplorasi migas
memerlukan biaya yang sangat besar apalagi untuk ekplorasi offshore sehingga kalau
gagal bisa membawa kerugian. Kalau kegagalan mengebor di darat, hilangnya paling
sekitar 10 juta dolar Amerika persatu sumur. Kalau mengebor di laut seperti di Laut
Makasar yang dilakukan oleh StatOil dan ENI perharinya 1 juta dolar, tetapi hasilnya
juga seimbang dan bisa menutupi bahkan untungnya akan lebih besar. Karena itulah
para kontraktor asing banyak yang mau melakukan. Karena itu risiko ini bisa
diminimalisasi dengan data-data yang akurat sebelum memulai aktivitas pengeboran.
Hal ini mulai dirasakan oleh Pertamina ketika mengakuisi Blok ONWJ, Sebelum
diakuisisi Pertamina menilai investasinya hanya 250 juta dolar, dalam tempo satu
tahun sudah naik dua kali lipat menjadi 500 juta dolar. Seandainya semua blok migas
di kelola oleh Pertamina dengan profesional maka sebagian problem migas yang
menimpa masyarakat dan bangsa ini akan bisa teratasi.
Lalu dari sisi sumbernya, seandainya Pemerintah atau Pertamina tidak memiliki
dana, sebenarnya banyak lembaga keuangan atau perbankan yang bisa menjamin
kucuran kredit jika Pertamina memiliki underlying asset (jaminan). Apalagi jika hal ini
didukung oleh jaminan Pemerintah melalui pemilikan cadangan nasional migas oleh

Pertamina sebagai BUMN seperti halnya negara lain, misalnya Venezuela atau
Malaysia melalui Petronasnya.

Yang Tak Ada: Political Will!


Jadi teknologi dan modal sebenarnya bukan masalah utama. Apalagi Pertamina
sebagai satu-satunya BUMN di bidang migas memiliki kemampuan yang tak kalah
hebatnya dibandingkan perusahaan asing. Masalah utamanya adalah political will
Pemerintah yang tidak pro rakyat. Ini terbukti dalam beberapa kasus seperti tambang
migas Blok Cepu atau tambang emas Freeport dan Newmont. Dalam kasus Blok Cepu
dan Freeport, misalnya, karena tekanan Amerika dengan begitu mudahnya Blok Cepu
diserahkan kepada Exxon Mobile, sedangkan tambang emas di Irian Jaya terus
dibiarkan dikuasai Freeport.
Akibatnya, kekayaan di negara ini tidak dapat dikuasai dan dimanfaatkan secara
optimal oleh rakyatnya. Pada tambang migas, saat ini ada 60 kontraktor migas yang
terkategori ke dalam tiga kelompok. Pertama: Super Major, terdiri ExxonMobile,
Total Fina Elf, BP Amoco Arco, dan Texaco yang menguasai cadangan minyak 70% dan
gas 80%. Kedua: Major, terdiri dari Conoco, Repsol, Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier,
Lasmo, Inpex dan Japex yang menguasai cadangan minyak 18% dan gas 15%. Ketiga:
perusahaan independen; menguasai cadangan minyak 12% dan gas 5%. Dalam kasus
PT Freeport Indonesia, dari tambang di Papua tersebut Indonesia seharusnya
mendapatkan keuntungan Rp 50100 triliun pertahun andai pengelolaan tambang itu
dikelola oleh negara bukan swasta. Sebagian besar tambang nikel juga dinikmati oleh
perusahaan Jepang karena hampir 53% kebutuhan industri nikel Jepang dipasok dari
hasil tambang nikel Indonesia.
PoIitical will yang tidak pro rakyat ini muncul dari pola pikir atau mindset
Pemerintah yang liberal dan kapitalistik yang didukung oleh DPR. Lahirlah UU dan
regulasi yang liberal dan kapitalistik seperti UU Migas No. 22 Tahun 2001 dan UU
Minerba no. 4 Tahun 2009. Menurut UU tersebut, BUMN kedudukannya disejajarkan
dengan perusahaan-perusahan swasta, termasuk asing, bahkan anehnya BUMN
cenderung dianaktirikan. Tentu bagi mereka yang masih memiliki nurani akan
mempertanyakan: ada apa di balik kebijakan Pemerintah yang selalu mengutamakan
kepentingan para kapitalis asing dibandingkan dengan kepentingan rakyat?
8

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pengembangan sumberdaya mineral memerlukan modal dana dan teknologi
yang tinggi atau sering disebut sebagai industri padat modal dan padat teknologi,
begitu juga dengan kemampuan sumberdaya manusianya. Tanpa adanya modal
tersebut, sulit untuk mengubah kekayaan yang terpendam di dalam perut bumi
menjadi kekayaan rill yang dapat dimanfaatkan.
Political will Pemerintah dan DPR yang kapitalis dan neoliberal saat ini
merupakan hasil sistem demokrasi kapitalis. Sistem ini masih tegak sebenarnya juga
karena political umat atau rakyat masih mendukung baik secara sadar maupun
karena dibodohi oleh para elite politiknya. Karena itu sudah saatnya umat ini dengan
berbagai komponennya menyatukan hati, pikiran, dan langkah untuk mengganti
sistem tersebut dengan sistem yang sudah terbukti menjadikan kekayaan alam bisa
dinikmati dan mensejahterakan seluruh rakyat baik muslim maupun non-Muslim,

Daftar Pustaka
http://www.academia.edu/2614229/Hak_Menguasai_Negara_atas_Mineral_dan_Bat
ubara_Pascaberlakunya_Undang-Undang_Minerba
https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&u
act=8&ved=0CB0QFjAA&url=http%3A%2F%2Fantoniuspatianom.wordpress.com%2F2
009%2F07%2F19%2Fpermasalahan-permodalan-dalam-pengembangan-sumberdayamineral%2F&ei=W188VLVBNCouQSyjYLQAw&usg=AFQjCNH4RTpWyUNANafn8R0UHYhwa80kRQ&bvm=bv.77
161500,d.c2E

http://hizbut-tahrir.or.id/2012/12/06/pengelolaan-migas-bukan-

masalah-modal-dan-teknologi/ [Dr. Arim Nasim, M.Si]


http://www.minerba.esdm.go.id/library/sijh/KLASIFIKASI%20BIDANG%20USAHA%20
DALAM%20BIDANG%20PERTAMBANGAN.pdf

10