Anda di halaman 1dari 6

LONG CASE

Nama

: Rinaldi Sahputera

Nim

: 20090310174

Dokter penguji

: dr. Hari Sasongko, Sp.OG

I. Pengalaman

Pasien datang lewat poli dengan rujukan puskesmas dengan keterangan G1P0A0 belum ada kencang-kencang. Tekanan darah tinggi sejak umur kehamilan 37 minggu.

Tidak ada keluhan pusing dan penglihatan kabur. Usia kehamilan sekarang 39 minggu.

Riwayat obstetri Riwayat ANC

: 1. Hamil ini : rutin di bidan

Riwayat penyakit dahulu : hipertensi (-), DM (-), asma (-), alergi (-), jantung (-).

II. Pemeriksaan fisik Keadaan umum baik, kesadaran kompos mentis, konjungtiva anemis -/- III. Palpasi abdomen Janin tunggal, letak memanjang, preskep, puki, djj 162 x/menit, His (-) IV. Pemeriksaan dalam V/u tenang, portio utuh mencucu, pembukaan 0 cm, kepala turun di H1, dibelakang, Ak (-), LD (-) V. Vital sign TD: 150/120 mmHg, N: 84 x/menit, S: 36''C, R: 20x/menit VI. Pemeriksaan lab Proteinuria +4

DIAGNOSIS

Primigravida h.aterm dengan PEB, BDP

TERAPI

Stabilisasi hemodinamik

Rencana persalinan pervaginam

Injeksi MgSO4 4 gr, loading dose dilanjutkan 1 gr/jam

Pasang DC, balance cairan

Cek darah lengkap

Induksi mesoprostol 25 mg/vaginam/6 jam bila NST reaktif

Nifedipin 10 mg bila TD > 160/110 atau MAP > 125 mmHg

PEMBAHASAN

1.Pengertian hodge Bidang Hodge adalah garis khayal dalam panggul untuk mengetahui seberapa jauh penurunan kepala janin pada panggul. Diambil dari nama penemunya yaitu Hodge

PEMBAHASAN 1.Pengertian hodge <a href=Bidan g Hodge adalah garis khayal dalam panggul untuk mengetahui seberapa jauh penurunan kepala janin pada panggul. Diambil dari nama penemunya yaitu Hodge Bidan g Hodge dipelajari untuk menentukan sampai di mana bagian terendah janin turun ke dalam panggul pada persalinan dan terdiri atas empat bidan g : 1. Bidan g Hodge I: bidan g yang dibentuk pada lingkaran PAP dengan bagian atas simfisis dan promontorium. 2. Bidan g Hodge II: bidan g ini sejajar dengan bidan g Hodge I terletak setinggi bagian bawah simfisis. 3. Bidan g Hodge III: bidan g ini sejajar dengan bidan g Hodge I dan II, terletak setinggi spina iskiadika kanan dan kiri. 4. Bidan g Hodge IV: bidan g ini sejajar dengan bidan g Hodge I, II, dan III, terletak setinggi os koksigeus. 2.Bishop Score Nilai bishop adalah suatu standarisasi objektif dalam memilih pasien yang lebih cocok untuk dilakukan induksi persalinan letak verteks. Faktor yang dinilai : · Pembukaan serviks · Pendataran serviks " id="pdf-obj-1-9" src="pdf-obj-1-9.jpg">

Bidang Hodge dipelajari untuk menentukan sampai di mana bagian terendah janin turun ke dalam panggul pada persalinan dan terdiri atas empat bidang:

  • 1. Bidang Hodge I: bidang yang dibentuk pada lingkaran PAP dengan bagian atas

simfisis dan promontorium.

bawah simfisis.

spina iskiadika kanan dan kiri.

setinggi os koksigeus.

2.Bishop Score Nilai bishop adalah suatu standarisasi objektif dalam memilih pasien yang lebih cocok

untuk dilakukan induksi persalinan letak verteks.

Faktor yang dinilai :

· Pembukaan serviks

· Pendataran serviks

· Penurunan kepala (station)

· Konsistensi serviks · Posisi serviks

Keterangan: · Metode ini telah digunakan selama beberapa tahun dan telah terbukti memuaskan. · Nilai Bishop

Keterangan: · Metode ini telah digunakan selama beberapa tahun dan telah terbukti

memuaskan. · Nilai Bishop ≥ 6 bisa berhasil induksi dan persalinan pervaginam. · Seleksi

pasien untuk induksi persalianan dengan letak verteks. · Dipakai pada multiparitas dan

kehamilan 36 minggu atau lebih.

3.klasifikasi hipertensi

Untuk menilai apakah seseorang itu menderita penyakit hipertensi atau tidak haruslah ada

suatu standar nilai ukur dari tensi atau tekanan darah. berbagai macam klasifikasi

hipertensi yang digunakan di masing-masing negara seperti klasifikasi menurut Joint

National Committee 7 (JNC 7) yang digunakan di negara Amerika Serikat, Klasifikasi

menurut Chinese Hypertension Society yang digunakan di Cina, Klasifikasi menurut

European Society of Hypertension (ESH) yang digunakan negara-negara di Eropa,

Klasifikasi menurut International Society on Hypertension in Blacks (ISHIB) yang khusus

digunakan untuk warga keturunan Afrika yang tinggal di Amerika. Badan kesehatan

dunia, WHO juga membuat klasifikasi hipertensi.

Di Indonesia sendiri berdasarkan konsensus yang dihasilkan pada Pertemuan Ilmiah

Nasional Pertama Perhimpunan Hipertensi Indonesia pada tanggal 13-14 Januari 2007

belum dapat membuat klasifikasi hipertensi sendiri untuk orang Indonesia. Hal ini

dikarenakan data penelitian hipertensi di Indonesia berskala nasional sangat jarang.

Karena itu para pakar hipertensi di Indonesia sepakat untuk menggunakan klasifikasi

WHO dan JNC 7 sebagai klasifikasi hipertensi yang digunakan di Indonesia.

Klasifikasi Hipertensi menurut WHO

Kategori

Sistol (mmHg)

Diastol (mmHg)

Optimal

< 120

< 80

Normal

< 130

< 85

Tingkat 1 (hipertensi ringan)

140-159

90-99

Sub grup : perbatasan

140-149

90-94

Tingkat 2 (hipertensi sedang)

160-179

100-109

Tingkat 3 (hipertensi berat)

≥ 180

≥ 110

Hipertensi sistol terisolasi

≥ 140

< 90

Sub grup : perbatasan

140-149

< 90

Klasifikasi Hipertensi menurut Joint National Committee 7

Kategori

Sistol (mmHg)

Dan/atau

Diastole (mmHg)

Normal

<120

Dan

<80

Pre hipertensi

120-139

Atau

80-89

Hipertensi tahap 1

140-159

Atau

90-99

Hipertensi tahap 2

≥ 160

Atau

≥ 100

Klasifikasi Hipertensi Hasil Konsensus Perhimpunan Hipertensi Indonesia

 

Kategori

Sistol (mmHg)

Dan/atau

Diastole (mmHg)

Normal

<120

Dan

<80

Pre hipertensi

120-139

Atau

80-89

Hipertensi tahap 1

140-159

Atau

90-99

Hipertensi tahap 2

≥ 160

Atau

≥ 100

Hipertensi sistol

≥ 140

Dan

< 90

terisolasi

Mengingat pengukuran tekanan darah mudah dilakukan dan karakteristik penduduk

Indonesia berbeda dengan penduduk lainnya maka sudah seharusnya Indonesia memiliki

klasifikasi hipertensi sendiri.