Anda di halaman 1dari 8

EVALUASI PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP

GOOD CORPORATE GOVERNANCE


PADA PT JAMSOSTEK (PERSERO)
Ade Ita Hapsari
Universitas Bina Nusantara, ade_ita@ymail.com

Rosinta Ria Panggabean


Universitas Bina Nusantara, Rosinta_Ria_Panggabean@binus.ac.id

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kesesuaian antara standar penerapan GCG PT
Jamsostek (Persero) dengan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor: PER-01/MBU/2011
Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik
Negara, serta untuk mengetahui gambaran dan kelemahan penerapan prinsip-prinsip GCG PT Jamsostek
(Persero). Pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan review dokumen yang dianalisis menggunakan
metode analisis koefisien jaccard (jaccards coefficients). Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan
standar penerapan GCG PT Jamsostek (Persero) 92,99% telah sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Badan
Usaha Milik Negara Nomor : PER-01 /MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good
Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, namun masih ada kekurangan dalam penerapan prinsip
GCG PT Jamsostek (Persero). Kelemahan tersebut antara lain Pedoman Perilaku PT Jamsostek (Persero) belum
mengatur tentang etika yang terkait dengan pemasok (rekanan), Rapat Dewan Komisaris belum berjalan secara
efektif, Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) belum menetapkan Key Perform Indicators (KPI) bagi Dewan
Komisaris, PT Jamsostek (Persero) belum memiliki Pedoman Standar Pelaksanaan Evaluasi GCG, serta RUPS
belum menetapkan Komisaris Independen. Langkah yang sebaiknya dilakukan PT Jamsostek (Persero) atas
kelemahan tersebut yaitu, melakukan revisi atas Pedoman Perilaku PT Jamsostek (Persero), agar RUPS
menetapkan Key Perform Indicators (KPI) bagi Dewan Komisaris dan menetapkan Komisaris Independen, serta
menyusun Pedoman Standar Pelaksanaan Evaluasi GCG.
Kata kunci : Good Corporate Governance (GCG), Peraturan Menteri Negara Badan
Usaha Milik Negara Nomor: PER-01/MBU/2011, PT Jamsostek (Persero).

EVALUATION ON IMPLEMENTATION OF THE PRINCIPLES OF GOOD CORPORATE


GOVERNANCE AT PT JAMSOSTEK (PERSERO)

ABSTRACT
This research aims to determine how much correspondences between the Good Corporate Governance
(GCG) implementation standard of PT Jamsostek (Persero) with the Regulation of The Minister for State Owned
Enterprises Number: PER-01/MBU/2011 about Implementation of Good Corporate Governance in State Owned
Enterprises, and to describe the weakness of the application of the principles of GCG PT Jamsostek (Persero).
Research evaluation is using interviews and document review that were analyzed using jaccards coefficients
analysis method. The results obtained in this study demonstrate the application of GCG standards PT Jamsostek

(Persero) 92.99% have complied with Regulation of The Minister For State Owned Enterprises Number: PER-01 /
MBU/2011 about Implementation of Good Corporate Governance (Corporate Governance) in State Owned
Enterprises, but there are still shortcomings in the implementation of GCG principles PT Jamsostek (Persero).
Weaknesses include the Code of Conduct PT Jamsostek has not set on ethics related to suppliers (partners), the
Board of Commissioners has not run effectively, the General Meeting of Shareholders (AGM) has not set the
Perform Key Indicators (KPI) for BOC, PT Jamsostek has not Standard Guidelines for Implementation of
Evaluation has GCG, as well as the AGM has not set an independent commissioner. Steps that should be taken by
PT Jamsostek (Persero) for these weaknesses, namely, revised the Code of Conduct PT Jamsostek (Persero), in
order to establish GMS Perform Key Indicators (KPI) for BOC and establish an Independent Commissioner, and to
develop Evaluation Guidelines for Implementation of Corporate Governance Standards.
Keyword: Good Corporate Governance (GCG), Regulation of The Minister For State
Owned Enterprises Number: PER-01/MBU/2011, PT Jamsostek (Persero).

PENDAHULUAN:
Krisis ekonomi yang melanda Asia pada tahun 1997-1998 merupakan mimpi buruk bagi sejarah sektor
perekonomian, dimana terjadi krisis ekonomi di negara kita. Akibat peristiwa tersebut, banyak perusahaan yang
jatuh karena tidak mampu bertahan. Hal tersebut disebabkan karena adanya kelemahan perusahaan dalam
menjalankan tata kelola perusahaannya, dimana terjadi tindakan-tindakan yang mementingkan diri sendiri dengan
mengabaikan kepentingan para investor yang kemudian menjadi faktor pendorong bagi para investor untuk menarik
dana investasi yang mereka tanamkan. Sejak saat itu, pemerintah dan investor mulai menyadari pentingnya
dilaksanakan tata kelola perusahaan yang sesuai dengan prinsip tata kelola perusahaan yang sehat, sehingga muncul
konsep mengenai Good Corporate Governance (GCG). Pada tahun 2006, Komite Nasional Kebijakan Governance
(KNKG) mengeluarkan Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia. Pedoman tersebut merupakan hal
yang sangat prinsip yang menjadi landasan bagi perusahaan yang ingin mempertahankan usahanya dalam jangka
panjang dalam koridor etika bisnis yang berlaku. Berbagai pelanggaran di organisasi terjadi karena pelaksanaannya
tidak sesuai dengan prinsip-prinsip GCG. Disamping itu, kurangnya peraturan yang tegas dalam organisasi dalam
hal hak dan kewajiban pihak-pihak yang mempunyai kepentingan dinilai sebagai salah satu faktor penyebab
gagalnya penerapan GCG.
PT Jamsostek (Persero) merupakan institusi yang dibentuk pemerintah untuk menyelenggarakan jaminan
sosial bagi tenaga kerja di sektor formal. Jaminan sosial yang diberikan oleh PT Jamsostek (Persero) antara lain:
Jaminan Kecelakaan Kerja (JKJ), Jaminan Kematian (JK), Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pemeliharaan
Kesehatan (JPK), Program perlindungan untuk Tenaga Kerja Luar Hubungan Kerja (TKLHK) dan perlindungan di
sektor jasa konstruksi. PT Jamsostek (Persero) menyadari kualitas pelaksanaan GCG yang baik merupakan modal
utama bagi PT Jamsostek (Persero) guna mewujudkan visi sebagai perusahaan yang terus tumbuh
berkesinambungan dan terpercaya.
GCG pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sangat diperlukan, dimana dalam pelaksanaan umum
berpedoman pada berbagai ketentuan dan perundang-undangan yang berlaku, terutama Keputusan Menteri Badan
Usaha Milik Negara Nomor : KEP-117/M-MBU/2002 Tentang Penerapan Praktek Good Corporate Governance
pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN), yang kemudian telah dihapus dan diganti dengan Peraturan Menteri
Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER -01 /MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang
Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara. Pada dasarnya GCG berlandaskan pada lima
prinsip dasar yaitu, transparansi (transparency), akuntabilitas (accountability), pertanggungjawaban (responsibility),
kemandirian (independency), dan yang terakhir adalah kewajaran (fairness). Pada tahun 2011, PT Jamsostek
(Persero) masih menggunakan Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor : KEP-117/M-MBU/2002
Tentang Penerapan Praktek Good Corporate Governance pada Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Dengan
diberlakukannya Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER -01 /MBU/2011 Tentang
Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara
tersebut di Agustus 2011, maka penulis melakukan penelitian untuk mengetahui seberapa besar standar penerapan
GCG dalam PT Jamsostek (Persero) telah sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara
Nomor : PER -01 /MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate

Governance) pada Badan Usaha Milik Negara. Disamping itu, untuk mengetahui gambaran penerapan prinsipprinsip GCG dan kekurangan atau kelemahan penerapan prinsip-prinsip GCG pada PT Jamsostek (Persero), maka
diperlukan evaluasi terhadap penerapan prinsip-prinsip berdasarkan standar tertentu yang terkait dengan bentuk
bisnis perusahaan. Untuk itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap penerapan prinsip-prinsip GCG
pada PT Jamsostek (Persero) yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Penelitian yang dilakukan oleh penulis mengacu pada penelitian terdahulu yang pernah dilakukan oleh
Fenny Wijaya mengenai evaluasi penerapan prinsip-prinsip GCG pada PT Astra Tbk di tahun 2007 (Wijaya, 2007).
Teknik evaluasi yang digunakan untuk penelitian riset acuan tersebut menggunakan evaluasi GCG berdasarkan
Undang-Undang RI Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), Lampiran Keputusan Badan
Pengawas Pasar Modal, dan Code for Good Corporate Governance yang disusun oleh Komite Nasional Kebijakan
Governance (KNKG). Yang membedakan penelitian ini dengan riset acuan adalah dimana penulis melakukan
evaluasi atas kesesuaian standar penerapan GCG PT Jamsostek (Persero) dengan Peraturan Menteri Negara Badan
Usaha Milik Negara Nomer : PER -01 /MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good
Corporate Governance) pada PT Jamsostek (Persero). Disamping itu, penulis melakukan evaluasi prinsip-prinsip
GCG berdasarkan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomer : PER -01 /MBU/2011 Tentang
Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada PT Jamsostek (Persero).
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut, yaitu:
1.

Seberapa besar standar penerapan GCG dalam PT Jamsostek (Persero) telah sesuai dengan Peraturan
Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER -01 /MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola
Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) BUMN?
2. Bagaimana gambaran tata kelola perusahaan pada PT Jamsostek (Persero) ?
3. Apakah PT Jamsostek (Persero) sudah melaksanakan tata kelola perusahaan sesuai dengan prinsip-prinsip
GCG ?
4. Apakah kekurangan atau kelemahan pelaksanaan prinsip-prinsip GCG dalam PT Jamsostek (Persero) ?
Berdasarkan uraian yang telah penulis uraikan diatas, maka judul penelitian yang akan diambil adalah
EVALUASI PENERAPAN PRINSIP-PRINSIP GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA PT JAMSOSTEK
(PERSERO)

METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratoria, dimana dalam penelitian ini penulis mengevaluasi
penerapan prinsip-prinsip GCG pada PT Jamsostek (Persero), sehingga dapat diketahui kekurangan atau kelemahan
dalam penerapannya serta memberikan saran atas kekurangan atau kelemahan tersebut. Dalam penelitian ini, penulis
membuat suatu daftar indikator evaluasi GCG yang mengacu pada Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik
Negara Nomor : PER -01 /MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate
Governance) pada Badan Usaha Milik Negara. Daftar tersebut terdiri dari 27 indikator dengan 157 parameter
evaluasi. Daftar tersebut digunakan untuk review dokumen dan pedoman wawancara yang dilakukan dengan Bapak
Imam Santoso selaku Kepala Urusan Kesekretariatan Umum di Biro Sekretariat Perusahaan PT Jamsostek (Persero).
Dokumen atau data yang digunakan dalam review dokumen adalah Akta Nomor: 25 tanggal 29 Agustus 2008
Notaris Nanda Fauz Iwan, SH,M.Kn tentang Anggara Dasar PT Jamsostek (Persero), Annual Report PT Jamsostek
(Persero) tahun 2010, Laporan GCG PT Jamsostek (Persero) tahun 2011, serta data-data yang berkaitan dengan
GCG PT Jamsostek (Persero) (table data yang digunakan dalam penelitian data dilihat pada tabel IV.2). Dari hasil
wawancara dan review dokumen, maka dilakukan pengkodean untuk menghitung nilai yang diperoleh PT
Jamsostek (Persero).
Dari hasil review dokumen dan wawancara, penulis melakukan evaluasi untuk mengetahui seberapa
besar standar standar penerapan GCG dalam PT Jamsostek (Persero) telah sesuai dengan Peraturan Menteri Negara
Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER-01 /MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik
(Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara. Evaluasi tersebut menggunakan metode Koefisien
Jaccard (Jaccards coefficients), sehingga dapat diketahui besarnya kesesuaian antara standar GCG pada PT
Jamsostek (Persero) dengan PERMEN: PER-01/MBU/2011. Disamping itu, penulis juga melakukan evaluasi
penerapan prinsip-prinsip GCG sehingga dapat diketahui bagaimana gambaran penerapan prinsip-prinsip GCG pada
PT Jamsostek (Persero) serta kelemahan atau kekurangannya. Saran yang diberikan oleh penulis dalam penelitian ini
berupa rekomendasi atas perbaikan atas kelemahan atau kekurangan dalam penerapan prinsip-prinsip GCG pada PT
Jamsostek (Persero).

TINJAUAN PUSTAKA
GOOD CORPORATE GOVERNANCE

Gejolak ekonomi yang luar biasa di Amerika Serikat mengakibatkan banyak perusahaan yang
melakukan resturkturisasi, sehingga menimbulkan protes keras dari masyarakat.Untuk menjamin dan
mengamankan hak-hak para pemegang saham, muncul konsep pemberdayaan komisaris sebagai salah
satu wacana penegakan GCG.Di Indonesia, GCG mulai dikenal sejak krisis ekonomi tahun 1997 yang
dinilai karena tidak dikelolanya perusahaan-perusahaan secara bertanggungjawab. Komite Nasional
Kebijakan Governance (KNKG) bertugas merumuskan dan menyusun rekomendasi kebijakan nasional
mengenai GCG, serta memprakarsai dan memantau perbaikan di bidang corporate governance di
Indonesia. GCG adalah sistem atau seperangkat peraturan yang mengatur, mengelola dan mengawasi
hubungan antara shareholders dan stakeholders disuatu perusahaan. GCG tidak hanya sebagai alat
pengatur dan pengendali saja namun juga sebagai nilai tambah bagi suatu perusahaan. Konsep GCG
timbul di latar belakangi munculnya teori. Antara lain teori agensi (agency theory) yang timbul berkaitan
dengan principal-agency theory, yaitu untuk menghindari konflik antara principal dan agent-nya.
(www.bpkp.go.id, 2012). Konflik muncul karena perbedaan kepentingan. Teori agensi menekankan
pentingnya pemilik perusahaan (pemegang saham) menyerahkan pengelolaan perusahaan kepada tenagatenaga ahli (agent) yang lebih mengerti dalam menjalankan pengelolaan perusahaan. Teori stakeholders
(stakeholders theory) yang menunjukkan adanya peran penting stakeholder dalam perusahaan.dimana
perusahaan harus mampu memenuhi semua apa yang menjadi tuntutan stakeholders. Stewardship theory
dibangun di atas asumsi filosofis mengenai sifat manusia yakni bahwa manusia pada hakekatnya dapat
dipercaya, mampu bertindak dengan penuh tanggung jawab memiliki, integritas, dan kejujuran terhadap
pihak lain.
Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) mengembangkan The
OECD Principles of Corporate Governance yang mencakup 5 hal yaitu: the rights of shareholders, the
equitable treatment of shareholders, the role of stakeholders, disclosure and transparency, the
responsibilities of the board. ). Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut, masing-masing negara selanjutnya
mengadopsi prinsip-prinsip tersebut dalam Pedoman Good Corporate Governance. Badan penyusun
standar GCG di Indonesia antara lain adalah KNKG yang menyusun Code for Good Corporate
Governance sebagai pedoman GCG perusahaan di Indonesia yang memuat hal-hal yang peran pemegang
saham dan hak mereka, fungsi dewan komisaris, fungsi direksi, sistem audit, sekretaris perusahaan,
stakeholders, pengungkapan informasi secara terbuka, prinsip kerahasiaan, etika bisnis dan korupsi, serta
tanggungjawab terhadap lingkungan hidup. Prinsip-prinsip GCG menurut KNKG adalah: transparansi,
akuntabilitas, responsibilitas, independensi, serta kewajaran dan kesetaraan.
Keberhasilan pelaksanaan GCG pada perusahaan ditentukan oleh beberapa faktor , antara lain
komitmen dari organ perusahaan, penciptaan sistem pelaksanaan GCG di semua lapisan, penyesuaian
peraturan dan kebijakan perusahaan dengan sistem pelaksanaan GCG, code of conduct, dukungan dari
pihak stakeholders, evaluasi pelaksanaan GCG. Mengacu pada Peraturan Menteri Negara Badan Usaha
Milik Negara Nomor : PER-01 /MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good
Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, maka dapat diketahui tujuan dari penerapan
prinsip-prinsip GCG adalah: memaksimalkan nilai BUMN, meningkatkan kontribusi BUMN dalam
perekonomian nasional, meningkatkan iklim investasi nasional. Menurut Effendi (2009), penerapan
prinsip-prinsip GCG dalam BUMN memberikan manfaat, antara lain: Peningkatan kinerja perusahaan,
peningkatan pelayanan kepada para stakeholder, meningkatkan nilai BUMN, efisiensi biaya operasional
perusahaan, mengurangi biaya modal (cost of capital), meningkatkan minat para investor untuk
menanamkan modalnya di BUMN.
Organ Persero

Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) merupakan sebuah forum dimana para pemegang
saham memiliki kewenangan untuk memperoleh informasi-informasi mengenai perusahaan, baik dari

direksi maupun dewan komisaris. Informasi-informasi itu merupakan landasan bagi RUPS untuk
menentukan kebijakan dan langkah strategis perusahaan dalam mengambil keputusan sebagai sebuah
badan hukum. Dewan Komisaris adalah organ perusahaan yang menjalankan tugas pengawasan secara
umum dan/ atau khusus sesuai dengan anggaran dasar yang telah ditetapkan perusahaan serta memberikan
nasihat kepeda direksi. Untuk membantu komisaris dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan anggaran
dasar yang telah ditetapkan, maka komisaris dapat meminta saran, nasihat, pendapat pihak ketiga atau
membentuk komite khusus. Komite tersebut antara lain: Komite audit (membantu dewan komisaris
untuk memastikan laporan keuangan perusahaan disajikan secara wajar dan transparan, dalam
melaksanakan audit sesuai standar audit yang berlaku, pengendaliaan perusahaan telah maksimal,
memastikan bahwa perusahaan telah melaksanakan GCG). Komite Nominasi (tanggung jawab komite
nominasi mencakup pengkajian kompetensi calon anggota direksi dan komisaris, pengkajian rencana
suksesi, evaluasi kinerja komisaris dan direksi, pengusulan, menilai, dan memberikan rekomendasi atas
calon-calon direksi dan komisaris BUMN). Komite Remunerasi (bertugas membantu komisaris dalam
menentukan jumlah kompensasi bagi direksi dan dalam mengevaluasi mekanisme dalam
pelaksanaannya), dan Komite manajemen resiko (melaksanakan program manajemen resiko korporasi
secara terpadu yang merupakan bagian dari pelaksanaan program GCG). Dan organ persero yang terakhir
adalah Dewan Direksi adalah organ perseroan yang berwenang dan bertanggung jawab penuh atas
pengurusan perseroan untuk kepentingan perseroan, sesuai dengan maksud dan tujuan perseroan serta
mewakili perseroan, baik di dalam maupun di luar pengadilan sesuai dengan ketentuan anggaran dasar.
Sekretaris Perusahaan berfungsi memastikan BUMN dalam menjalankan usahanya sesuai dengan prinsip-prinsip
GCG, memberikan informasi kepada dewan komisaris dan dewan direksi Sebagai penghubung antara perusahaan
dan pemangku kepentingan, menatausahakan serta menyimpan dokumen perusahaan. Satuan Pengawal Internal
adalah pengendalian dalam perusahaan dapat menghindari timbulnya fraud di lingkungan perusahaan. Pengendalian
intern yang efektif berguna untuk menjaga asset perusahaan dari tindakan pencurian, penyalahgunaan, maupun
KKN. Pengukuran Terhadap Pelaksanaan GCG dapat dilakukan dengan penilaian (assessment) adalah program
untuk mengidentifikasikan implementasi GCG pada BUMN melalui pengukuran pelaksanaan dan penerapan GCG
di BUMN yang dilaksanakan secara berkala setiap 2 (dua) tahun. Dan yang kedua, evaluasi (review) adalah program
untuk menggambarkan tindak lanjut pelaksanaan dan penerapan GCG di BUMN yang dilakukan pada tahun
berikutnya setelah penilaian, yang mencakup evaluasi terhadap
hasil penilaian dan tindak lanjut atas perbaikan.

HASIL DAN BAHASAN:


Berdasarkan dari hasil perhitungan koefisien jaccard, PT Jamsostek (Persero) memperoleh nilai sebesar
92,99 dengan perhitungan sebagai berikut:
x 100
Sij =
Sij =

x 100

= 92,99
Dalam perhitungan dapat diketahui jumlah parameter standar pelaksanaan GCG pada PT Jamsostek
(Persero) yang sama dengan Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor: PER-01 /MBU/2011
sebanyak 146 dari 157 parameter yang ditetapkan. Sehingga hasil perhitungan koefisien jaccard, kesesuaian standar
GCG pada PT Jamsostek (Persero) terhadap Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER-01
/MBU/2011 adalah 92,99 dari maksimal 100. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa PT Jamsostek telah
melakukan penyesuaian atas diberlakukannya Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER01 /MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan
Usaha Milik Negara. Standar-standar GCG PT Jamsostek (Persero) telah 92,99% sesuai dengan Peraturan Menteri
Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER-01 /MBU/2011 Tentang Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang
Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara, namun masih ada yang perlu diperbaiki
dalam standar GCG PT Jamsostek (Persero).

Evaluasi Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance pada PT Jamsostek (Persero)


a.

Transparansi (Transparency )tercermin dimana PT Jamsostek (Persero) memiliki dan melaksanakan


(1)Komite Audit yang merupakan organ pendukung Dewan Komisaris yang dibentuk untuk membantu
pelaksanaan tugas Dewan Komisaris, mengidentifikasi hal-hal yang memerlukan perhatian Dewan Komisaris
dan melaksanakan tugas lain yang berkaitan dengan tugas Dewan Komisaris. (2)Pengawas Intern (Satuan
Pengawas Intern) adalah auditor internal dan auditor eksternal yang diawasi oleh Komite Audit. Audit tersebut
ditujukan untuk memastikan akuntabilitas dan kepatuhan perusahaan terhadap peraturan sesuai dengan prinsip
GCG. PT Jamsostek (Persero) telah membentuk Biro Pengawasan Intern (BPI) untuk menjalankan fungsi
sebagai auditor internal perusahaan. Satuan Pengawasan Intern bertanggungjawab langsung dan melaporkan
hasil kegiatannya kepada Direktur Utama dan Dewan Komisaris melalui Direktur Utama. (3)Akuntan
Perseroan dimana audit atas Laporan Keuangan PT Jamsostek (Persero) setiap tahun dilakukan oleh Auditor
Independen agar dapat diperoleh pendapat atas kewajaran Laporan Keuangan yang disajikan oleh Manajemen.
Sejak PT Jamsostek menjadi Perseroan terbatas sesuai Peraturan Pemerintah Nomor: 36 Tahun 1995 tentang
Penetapan Badan Penyelenggara Program Jamsostek, Laporan Keuangan Tahunan PT Jamsostek (Persero) telah
diaudit oleh Auditor Independen yaitu Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan
Pemeriksa Keuangan (BPK-RI) dan Kantor Akuntan Publik (KAP). Pada Tahun 2011, Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) RI melakukan 2 (dua) kali audit pada PT Jamsostek (Persero) yang meliputi audit Kinerja atas
Efektifitas Penyelenggaraan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Program JHT dengan periode audit serta audit
umum atas Laporan Keuangan PT Jamsostek (Persero) Tahun Buku 2011. (4)Rapat Dewan Komisaris dan
Rapat Direksi dimana selama tahun 2011 Dewan komisaris PT jamsostek telah mengadakan rapat sebanyak 12
(dua belas) kali dimana 4 (empat) kali rapat adalah rapat Dewan Komisaris dan 8 (delapan) kali merupakan
rapat gabungan Dewan Komisaris dengan Direksi. Dari hasil review dokumen dalam Laporan GCG PT
Jamsostek (Persero) tahun 2011, ditemukan bahwa pada bulan Januari, Febuari, Juli, Agustus dan September
Dewan Komisaris tidak mengadakan rapat apapun. Selain itu terdapat tingkat kehadiran Dewan Komisaris yang
dibawah 50% dari jumlah Rapat Dewan Komisaris yang telah dilakukan. Selain Rapat Dewan Komisaris,
Dewan Direksi PT Jamsostek (Persero) selama tahun 2011 melaksanakan Rapat Direksi sebanyak 28 (dua
puluh delapan) kali dimana 20 (dua puluh) kali rapat adalah rapat Direksi dan 8 (delapan) kali rapat merupakan
rapat gabungan Dewan Komisaris dengan Direksi. (5)Keterbukaan atas Informasi PT Jamsostek (Persero)
dapat diperoleh melalui website Jamsostek, portal BUMN, media cetak dan media elektronik.(6)Laporan
Tahunan (Annual Report) dimana laporan Tahunan telah memenuhi syarat kriteria Annual Report dan
Undang-Undang Nomor: 24 tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik, khususnya informasi BUMN
yang disajikan dalam website perusahaan. Laporan Tahunan (annual report) PT Jamsostek (Persero) berisi
tentang profil PT Jamsostek (Persero), laporan pengelolaan sumber daya manusia (SDM), laporan
pengembangan teknologi informasi, laporan analisis dan pembahasan manajemen, laporan pelaksanaan tata
kelola, laporan tanggungjawab sosial perusahaan (CSR), serta informasi keuangan perusahaan.

b.

Akuntabilitas (Accountability) tercermin dimana PT Jamsostek memiliki (1)Organ Perusahaan yang terdirin
dari Rapat Umum Pemegang Saham, Direksi dan Dewan Komisaris. (2)Sekretaris Perusahaan yang berfungi
untuk memastikan bahwa perseroan mematuhi peraturan keterbukaan sejalan dengan penerapan Prinsip-Prinsip
GCG. (3)Komite Good Corporate Governance (GCG) untuk membantu Direksi dan Dewan Komisaris PT
Jamsostek (Persero) dalam membangun Good Corporate Governance meliputi penyusun infrastruktur GCG,
pelaksanakan rapat internal Komite GCG dan rapat koordinasi dengan Komunitas Pengusaha Anti Suap
(KUPAS)-BUMN, pelaksanaan Assessment GCG tahun buku 2011, pelaksanaan Survey Perception Index GCG,
melaksanakan sosialisasi GCG pada saat Rakernas di Jogjakarta dan di beberapa kegiatan daerah. (4)Komite
integritas berfungsi untuk memantau dan memastikan bahwa insan Jamsostek melaksanakan Pakta Integritas
yang merupajan surat pernyataan yang berisi ikrar untuk mencegah dan tidak melakukan Kolusi, Korupsi, dan
Nepotisme (KKN) dalam pengadaan barang dan/atau jasa. (5)Komite Antisuap untuk membantu
terlaksananya Pakta Antisuap Jamsostek, memantau pelaksanaannya, secara pro aktif memantau dugaan
penyimpangan Pakta Antisuap, mendorong dibentuk dan dioperasikannya Sistim Pelaporan Antisuap.
mendorong dilaksanakannya analisis rencana tindak pencegahan Suap di PT Jamsostek (Persero), serta
memastikan bahwa laporan pengaduan dugaan penyimpangan Pakta Antisuap telah ditindaklanjuti.

c.

Pertanggungjawaban (Responsibility) tercermin dalam (1)Kepatuhan terhadap Peraturan PerundangUndangan dimana PT Jamsostek (Persero) mengimplementasikan dalam bentuk membuat Anggaran Dasar
Perusahaan, Peraturan, Kebijakan, serta Pedoman-Pedoman dengan mengacu kepada Peraturan PerundangUndangan yang berlaku serta melakukan pembayaran pajak kepada negara berupa pajak PPh pasal 21, PPh
pasal 23, PPN. PPh pasal 25/29, Pajak Parkir, PPh pasal 4(2). (b)Tanggungjawab Sosial Perusahaan
(Corporate Sosial Responsibility/CSR) PT Jamsostek (Persero) mewujudkan melalui 2 (dua) bentuk sajian,
yaitu: Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) serta Program Dana Peningkatan Kesejahteraan
Peserta (DPKP). (3)Kesejahteraan Karyawan secara jangka panjang diatur dalam Perjanjian Kerja Bersama
(PKB). Perjanjian Kerja Bersama (PKB) adalah kesepakatan antara Perusahaan dengan Serikat Pekerja
Jamsostek yang memuat hak dan kewajiban Karyawan, Serikat Pekerja dan Perusahaan, syarat-syarat kerja dan
hubungan kerja antara Karyawan dan Perusahaan.

d.

Kemandirian (Independency) tercermin dalam (1)Pengelolaan Benturan Kepentingan ditempuh dengan


mengeluarkan Keputusan Direksi PT Jamsostek (Persero) Nomor: KEP/356/122009 tentang Pedoman Benturan
Kepentingan PT Jamsostek (Persero) yang memuat tentang kewajiban perusahaan dalam menyusun Daftar
Khusus, kewajiban Dewan Komisaris, Direksi, dan Pejabat Struktural satu tingkat di bawah Direksi dalam
melaporkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggaraan Negara (LHKPN), melaporkan tentang Laporan PajakPajak Pribadi (LP2P), larangan perangkapan jabatan, penunjukan pejabat pengganti sementara, aktivitas lain
yang dilakukan karyawan PT Jamsostek (Persero), pelaporan atas pelanggaran yang dilakukan oleh insan
Jamsostek. (2)Independensi Satuan Pengawas Intern (SPI) dimana SPI bertanggungjawab dan melaporkan
pelaksanaan tugas dan fungsinya kepada Direksi dan harus patuh kepada Direksi. (3)Independensi Pemilihan
Kantor Akuntan Publik (KAP) sesuai dengan Keputusan Direksi Nomor : KEP/242/082011 tentang Pedoman
Pengadaan Jasa Kantor Akuntan Publik untuk melakukan Audit Umum atas Laporan Keuangan Konsolidasi PT
Jamsostek (Persero) dan Program Kemitraan Bina Lingkungan, dimana Dewan Komisaris telah melakukan
seleksi terhadap Kantor Akuntan Publik dengan memperhatikan independensi dan kualifikasi auditor, dan
mengusulkan kepada Pemegang Saham untuk penetapan. (4)Pengukuran terhadap Penerapan GCG dalam
PT Jamsostek (Persero) dilakukan dengan melaksanakan penilaian (assessment) terhadap penerapan GCG yang
dilakukan oleh penilai independen dengan tujuan menguji dan menilai penerapan GCG serta memberikan
rekomendasi perbaikan atas kekurangan dalam penerapan GCG pada PT Jamsostek (Persero). Untuk
menindaklanjuti perbaikan atas hasil penilaian (assessment), PT Jamsostek (Persero) melakukan evaluasi
(review) yang dilakukan setelah penelitian (assessment). Pelaksanaan evaluasi pada PT jamsostek (Persero)
dilaksanakan secara self assessment serta hasil evaluasi dilaporkan kepada RUPS/Menteri . Namun Hasil atau
Laporan tentang evaluasi penerapan GCG tidak dimuat dalam Annual Report, disamping itu PT Jamsostek
(Persero) belum mempunyai pedoman standar dalam melakukan evaluasi.

e.

Kewajaran (Fairness) tercermin dalam (1)Perlindungan terhadap Pemegang Saham yang diatur dalam
Anggaran Dasar PT Jamsostek (Persero) dijelaskan bahwa Negara Republik Indonesia merupakan satu-satunya
pemilik dan pemegang saham tunggal pada PT Jamsostek (Persero). Bentuk perlindungan terhadap pemegang
saham pada PT Jamsostek (Persero) telah dituangkan dalam sebuah Pedoman Good Corporate Governance
yang mengatur secara rinci hak-hak Pemegang Saham. (2)Perlakuan Setara terhadap Peserta dimana
memiliki peraturan perundang-undangan yang mengatur hak dan kewajiban peserta.
SIMPULAN DAN SARAN
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan:
1. Standar penerapan GCG PT Jamsostek (Persero) telah 92,99% sesuai dengan PERMEN-01/MBU/2011.
2. Pedoman perilaku belum mengatur etika terkait dengan Pemasok (Rekanan)
3. Bulan Januari, Febuari, Juli, Agusteus dan September 2011 Rapat Dewan Komisaris tidak diselenggarakan.
4. Terdapat tingkat keadiran Dewan komisaris dibawah 50% dari jumlah rapat Dewan komisaris yang
dilaksanakan.
5. PT Jamsostek (Persero) telah memiliki Petunjuk Teknis Rapat Direksi, namun belum memiliki Petunjuk
teknis Rapat Dewan Komisaris.
6. Data dan informasi perusahaan dapat diperoleh melalui website Jamsostek, Portal BUMN, media cetak, dan
media elektronik.
7. RUPS belum menetapkan Key Perform Indicators dan Komisaris Independen.

8.

Review sebagai tindaklanjut atas pelaksanaan evaluasi belum dimuat dalam annual report dan belim
memiliki pedoman standar pelaksanaan review.

SARAN
1.
2.
3.

Direksi menyempurnakan Pedoman Perilaku PT Jamsostek (Persero) dan menyusun standar pelaksanaan
Review.
Dewan Komisaris meningkatkan efektifitas Rapat-Rapat Dewan Komisaris
RUPS menyusun Petunjuk Teknis Rapat Dewan Komisaris, Key Perform Indicators, dan menetapkan
Komisaris Independen.

REFERENSI
Bapepam. (2010). Kajian Tentang Good Corporate Governance di Negara-Negara Anggota ACMF. Jakarta:
Penerbit Tim Kajian Good Corporate Governance di Negara-negara anggota ACMF
BPKP. (2012). Latar Belakang Good Corporate Governance. . http://www.bpkp.go.id/dan/konten/299/GoodCorporate.bpkp. Diakses tanggal 6 April 2012.
BUMN. (2002). Keputusan Menteri Negara BUMN Nomor: Kep117/M-MBU/2002 tanggal 31 Juli 2002 tentang
Penerapan Praktek Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik Negara.
http://www.iicg.org/asset/doc/Kepmen_BUMN_2002_117_Praktek_GCG_BUMN.pdf. Diakses tanggal 17
Maret 2012.
BUMN. (2011). Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Nomor: PER-01 /MBU/2011 tentang
Penerapan Tata Kelola Perusahaan yang Baik (Good Corporate Governance) pada Badan Usaha Milik
Negara. Jakarta: Kementerian Badan Usaha Milik Negara. http://www.bumn.go.id/wp-content/fbumn/PER01_MBU_2011.pdf. Diakses tanggal 20 Maret 2012.
Effendi, M. A. (2009). The Power Of Good Coorporate Governance, Teori dan Implikasi. Jakarta: Penerbit Salemba
Empat.
Jamsostek.
(2010).
Pedoman
Good
Corporate
Governance
PT
Jamsostek
(Persero).
http://www.jamsostek.co.id/content/i.php?mid=2. Diakses tanggal 20 Maret 2012.
KNKG. (2006). Pedoman Umum Good Corporate Governance Indonesia. Jakarta: Unit Penerbit Komite Nasional
Kebijakan Governance.
KNKG. (2009). Pedoman Good Corporate Governance Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi
Indonesia. Jakarta: Unit Penerbit Komite Nasional Kebijakan Governance.
KNKG.
(2012).
Profil
Komite
Nasional
Kebijakan
Governance.
http://www.knkgindonesia.com/KNKG/index.asp?ID=AB.PR. Diakses tanggal 8 April 2012.
Sarwako, H. (2003) . Evaluasi Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance pada PT Aneka Tambang
Tbk. Universitas Indonesia, Jakarta.
Wijaya, F. (2007). Evaluasi Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance pada PT Astra Tbk.
Universitas Bina Nusantara, Jakarta.

RIWAYAT PENULIS

Ade Ita Hapsari lahir di kota Pekalongan pada 9 November 1989. Penulis menamatkan pendidikan S1 di
Universitas Bina Nusantara dalam bidang Ekonomi pada 2012.
Rosinta Ria Panggabean lahir di Jakarta pada 23 November 1973. Penulis menamatkan pendidikan S1
di jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia pada tahun 1999 serta S1 di Universitas
Terbuka program studi Penerjemahan Bahasa Inggris pada tahun 2003. Pendidikan S2 ditamatkan di
Magister Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia program kekhususan Atestasi pada tahun
2007. Saat ini bekerja sebagai Dosen Faculty Member di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan
Komunikasi Universitas Bina Nusantara.