Anda di halaman 1dari 23

PROFESIONALISME KOMUNIKASI DOKTER-KELUARGA PASIEN PADA

PASIEN HCU
Pelayanan High Care Unit (HCU) adalah pelayanan medik pasien dengan
kebutuhan memerlukan pengobatan, perawatan dan observasi secara ketat
dengan tingkat pelayanan yang berada di antara ICU dan ruang rawat
inap. Pelayanan HCU meliputi HCU, IGD dan Unit Stroke.
HCU adalah unit pelayanan di rumah sakit bagi pasien dengan kondisi respirasi,
hemodinamik dan kesadaran yang stabil yang masih memerlukan pengobatan,
perawatan dan observasi secara ketat
Pelayanan HCU dalah pelayanan medic pasien dengan kebutuhan memerlukan
pengobatan, perawatan dan observasi secara ketat dengan tingkat pelayanan yang
berada diantara ICU dan ruang rawat inap (tidak perlu perawatan ICU namun belum
dapat dirawat diruang rawat biasa karena memerlukan observasi yang ketat
INDIKASI MASUK DAN INDIKASI KELUAR
1. Indikasi Masuk
a. Pasien dengan gagal organ tunggal yang mempunyai resiko tinggi untuk terjadi
komplikasi
b. Pasien yang memerlukan perawatan perioperatif
2. Indikasi keluar
a. Pasien sudah stabil yang tidak lagi membutuhkan pemantauan yang ketat
b. Pasien yang memburuk sehingga perlu pindah ke ICU
3. Yang Tidak Perlu Masuk HCU
a. Pasien dengan fase terminal suatu penyakit (seperti kanker stadium akhir)
b. Pasien/ keluarga yang menolak untuk dirawat di HCU (atas dasar informed
consent)
1. Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya
1.1. Bersambung rasa dengan pasien dan keluarganya

Memberikan salam

Memberikan situasi yang nyaman bagi pasien

Menunjukkan sikap empati dan dapat dipercaya

Mendengarkan dengan aktif (penuh perhatian dan memberi waktu yang cukup
pada pasien untuk menyampaikan keluhannya dan menggali permasalahan

pasien)

Menyimpulkan kembali masalah pasien, kekhawatiran, maupun harapannya

Memelihara dan menjaga harga diri pasien, hal-hal yang bersifat pribadi, dan
kerahasiaan pasien sepanjang waktu

Memperlakukan pasien sebagai mitra sejajar dan meminta persetujuannya


dalam memutuskan suatu terapi dan tindakan

1.2. Mengumpulkan Informasi

Mampu menggunakan open-ended maupun closed question dalam menggali


informasi (move from open to closed question properly)

Meminta penjelasan pada pasien pada pernyataan yang kurang dimengerti

Menggunakan penalaran klinik dalam penggalian riwayat penyakit pasien


sekarang, riwayat keluarga,atau riwayat kesehatan masa lalu

Melakukan penggalian data secara runtut dan efisien

Tidak memberikan nasehat maupun penjelasan yang prematur saat masih


mengumpulkan data

1.3. Memahami Perspektif Pasien

Menghargai kepercayaan pasien terhadap segala sesuatu yang menyangkut


penyakitnya

Melakukan eksplorasi terhadap kepentingan pasien, kekhawatirannya, dan


harapannya

Melakukan fasilitasi secara profesional terhadap ungkapan emosi pasien


(marah, takut, malu, sedih, bingung, eforia, maupun pasien dengan hambatan
komunikasi misalnya bisu-tuli, gangguan psikis)

Mampu merespon verbal maupun bahasa non-verbal dari pasien secara


profesional

Memperhatikan faktor biopsikososiobudaya dan normanorma setempat untuk


menetapkan dan mempertahankan terapi paripurna dan hubungan dokter
pasien yang professional

Menggunakan bahasa yang santun dan dapat dimengerti oleh pasien (termasuk
bahasa daerah setempat) sesuai dengan umur, tingkat pendidikan ketika
menyampaikan
pertanyaan, meringkas informasi, menjelaskan hasil
diagnosis, pilihan penanganan serta prognosis.

1.4. Memberi Penjelasan dan Informasi

Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stres


sebelum melakukan pemeriksaan fisik

Memberi tahu adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang mungkin timbul
selama pemeriksaan fisik atau tindakannya

Memberi penjelasan dengan benar, jelas, lengkap, jujur tentang tujuan,


keperluan, manfaat, risiko prosedur diagnostik dan tindakan medis (terapi,
operasi, prognosis, rujukan) sebelum dikerjakan

Menjawab pertanyaan dengan jujur, memberi konsultasi, atau menganjurkan


rujukan untuk permasalahan yang sulit.

Memberikan edukasi dan promosi kesehatan kepada pasien maupun


keluarganya

Memastikan mengkonfirmasikan bahwa informasi dan pilihan-pilihan


tindakan telah dipahami oleh pasien

Memberikan waktu yang cukup kepada pasien untuk merenungkan kembali


serta berkonsultasi sebelum membuat persetujuan

Menyampaikan berita buruk secara profesional dengan menjunjung tinggi


etika kedokteran

Memastikan kesinambungan pelayanan yang telah dibuat dan disepakati

Hubungan dokter-keluarga
1. membangun relasi
2. membuka diskusi
3. mendapat informasi
4. berbagi informasi
5. membuat persetujuan
6. menyimpan rahasia
7. dokter menerima tanggung jawab dari keluarga untuk mengobati pasien
Catatan : dengan persetujuan dari pasien

Komunikasi dan Tantangan Profesi Dokter Masa Kini


Pola hubungan dokter dan pasien telah mengalami pergeseran dari zaman ke
zaman. Terdapat suatu pergeseran paradigma, dimana dokter bukan lagi dianggap
sebagai dewa atau orang suci tetapi telah menjadi figur manusia biasa. Hubungan
antara dokter dan pasien yang dulunya menganut pola paternalistik berubah menjadi
hubungan yang bersifat kontraktual. Kondisi dan situasi saat ini telah menempatkan
dokter dalam peran sebagai pelaku ekonomi yakni sebagai penyedia layanan jasa.
Sehingga, apabila jasa yang diberikan tidak memuaskan pasien, maka pasien pun
berhak untuk menyampaikan keluhan bahkan sampai pada tuntutan hukum ke
pengadilan. Tinjauan yang dilakukan oleh Levinson (1999) menyimpulkan bahwa
sebenarnya tuntutan-tuntutan malpraktek tersebut dapat dicegah dengan komunikasi
dokter-pasien yang adekuat. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa maraknya tuntutan
malpraktek di masyarakat adalah cermin suatu kondisi komunikasi yang kurang baik
antara masyarakat dengan profesi kesehatan, lebih spesifik lagi antara pasien dengan
dokter.
Sebuah kajian menyimpulkan bahwa kepercayaan pada pelayanan kesehatan
ternyata sangat dipengaruhi oleh mutu hubungan dokter-pasien (Calnan et al., 2004).
Pergeseran paradigma tentang hubungan dokter-pasien tak lepas dari dampak dari
kemajuan teknologi, keterbukaan informasi dan perubahan sosioekonomi masyarakat.
Perubahan-perubahan tersebut telah membuat masyarakat sebagai pemakai jasa dokter
semakin kritis atas mutu pelayanan kesehatan di negeri kita. Pasien telah berubah
peran dari pasif menjadi asertif dalam upaya memperoleh informasi medis dan
pembuatan keputusan medis (Beisecker, 1990). Pola hubungan dokter dan pasien
pun telah bergeser menjadi hubungan yang berimbang berupa suatu kemitraan (Ali
MM et al., 2006a).
Tantangan bidang kesehatan di negara kita juga bergeser dengan munculnya
epidemi penyakit tidak menular yang banyak terkait dengan perilaku kesehatan seperti
penyakit degeneratif dan penyakit kardiovaskuler. Peran dokter dalam komunikasi
kesehatan masyarakat pada aspek promotif dan preventif pun bertambah kompleks.
Seiring dengan kondisi tersebut, perubahan perilaku pun telah dijadikan fokus
pembangunan bidang kesehatan (IDI, 2007) Dokter merupakan agen perubahan di
tingkat mikro yang berhadapan langsung dengan pasien atau masyarakat umum.
Tak diragukan lagi, komunikasi juga menjadi peran sentral untuk mengubah perilaku
masyarakat, dari perilaku sakit ke perilaku sehat. Dalam hal ini dokter sebagai tenaga
kesehatan memegang peran penting dengan melakukan komunikasi promotif dan
preventif, sebagai individual atau kelompok, menuju paradigma pembangunan
kesehatan yang baru yakni paradigma sehat (PDPERSI, 2007).

Hubungan dokter dan pasien telah disadari merupakan bagian penting dalam
aspek mutu pelayanan kesehatan dengan semakin disadarinya pentingnya suara pasien
sebagai pelanggan pelayanan kesehatan. Komunikasi dokter dan pasien telah terbukti
membawa pengaruh pada kepatuhan pengobatan, meningkatkan kepuasan pasien dan
akhirnya akan membawa manfaat bagi keluaran pengobatan (Roberts, 2002; Roter et
al., 2006; Trummer et al., 2006; Lee et al., 2008; Thorne et al., 2008).
Penelitian yang dilakukan oleh Stewart et al. (2000a) pada 39 dokter keluarga
dan 315 pasien mereka menyimpulkan bahwa komunikasi yang berpusat pada pasien
juga meningkatkan efisiensi pelayanan dengan berkurangnya prosedur diagnosis dan
rujukan. Roter (2006) meneliti pengaruh latihan keahlian berkomunikasi terhadap
proses dan outcome perawatan yang berkaitan dengan distress emosi pasien,
menemukan bahwa semakin baik keahlian dokter dalam berkomunikasi berhubungan
dengan penurunan distress emosional pasien. Komunikasi yang lebih baik antara
dokter dan pasien menunjukkan hubungan emosional dan kesehatan fisik yang lebih
baik, penurunan gejala yang lebih bermakna dan kontrol yang lebih baik pada
penyakit kronis yang meliputi tekanan darah, kadar glukosa darah dan kontrol nyeri
yang lebih baik (Stewart, 1999; Stewart, 2000b).
Komunikasi dokter-pasien yang efektif adalah terciptanya rasa nyaman
dengan terapi medis yang diberikan dokter pada pasien. Faktor perilaku dokter
terhadap pasiennya, kemampuan dokter untuk mendapatkan dan menghormati
perhatian pasien, tersedianya informasi yang tepat dan timbulnya empati serta
membangun kepercayaan pasien ternyata merupakan kunci yang menentukan
dalam kenyamanan yang baik dengan terapi medis pada pasien. Sikap empati yang
ditunjukkan oleh dokter kepada pasien akan menumbuhkan rasa kepercayaan pasien
kepada dokternya yang kemudian dapat menimbulkan kepuasan dan kepatuhan
pasien pada pengobatan (Kim et al., 2004). Komunikasi dokter-pasien yang efektif
ditandai dengan adanya proses yang interaktif antara dokter dan pasien, dimana terjadi
penyampaian informasi yang timbal balik antara dokter dan pasien secara efektif baik
secara verbal maupun non verbal (Ali MM et al., 2006b). Komunikasi yang
kolaboratif, proaktif dan menghargai pendapat pasien dalam pengambilan keputusan
medis serta ternyata dapat membawa efek yang baik bagi outcome pengobatan (Naik
et al., 2008). Sebuah penelitian di Korea menyimpulkan bahwa pasien akan
mempunyai pandangan negatif terhadap dokternya jika dokter mempunyai gaya
komunikasi yang dominan terhadap pasien dan tidak memberi kesempatan bagi pasien
untuk mengemukakan pandangannya tentang suatu rencana terapi (Kim et al, 2008).
Saat ini diketahui bahwa terdapat beberapa pendekatan yang berbeda dalam
mengambil keputusan terapi terhadap pasien, yaitu: pendekatan paternalistik, berbagi
dan informatif (konsumeris). Masing-masing memiliki implikasi yang berbeda dalam
peran dokter terhadap pasien dalam hal mengkomunikasikan informasi dan untuk tipe,
jumlah dan arus informasi diantara keduanya.
Dokter yang mengadopsi pendekatan paternalistik kurang memiliki
ketertarikan dalam diskusi dan mendapatkan perhatian pasien. Dokter tipe ini
seringkali menginginkan deskripsi gejala fisik yang singkat sehingga mereka dapat
mengubahnya menjadi kategori diagnostik. Tipe murni pendekatan dokter semacam

ini dapat kemudian membuat suatu keputusan terapi yang menurut mereka terbaik
untuk pasien tanpa harus mengetahui nilai dan perhatian masing-masing pasien.
Dokter yang menggunakan pendekatan informatif terhadap pasien mengacu
pada suatu peran yang lebih aktif dalam menemukan masalah pasien dan
menentukan terapi yang tepat. Tipe murni peran dokter dalam pendekatan tipe ini
meliputi kesediaaan informasi penelitian yang relevan mengenai pilihan terapi
beserta keuntungan dan risiko terapi sehingga pasien dapat membuat keputusan yang
jelas. Hanya pada pendekatan berbagi, dokter berkomitmen kepada dirinya sendiri
kepada suatu hubungan interaktif dengan pasien dalam membangun suatu
rekomendasi terapi yang konsisten dengan nilai dan pilihan pasien. Untuk
menciptakan hal ini terjadi, dokter harus membuat suatu atmosfer terbuka dimana
pasien dapat mengkomunikasikan semua hal yang ada dalam agenda mereka.
Pendekatan ini memberikan pertukaran informasi yang membantu dokter memahami
pasien dan meyakinkan bahwa pasien diberikan informasi pilihan terapi beserta risiko
dan keuntungannya. Hal tersebut juga memudahkan pasien untuk mengetahui
apakah mereka merasa bahwa mereka dapat membangun suatu hubungan kepercayaan
dengan dokternya.
Komunikasi Dokter-Masyarakat dan Perubahan Perilaku Kesehatan
Seorang dokter juga diharapkan dapat menjadi agen perubahan dalam kesehatan
masyarakat. Seorang dokter yang ideal salah satunya harus mampu berlaku sebagai
komunikator yang melakukan persuasi kepada individu, keluarga dan masyarakat
untuk melaksanakan gaya hidup yang sehat dan menjadi mitra dalam program
kesehatan (Boelen, 1994).
Upaya untuk melakukan perubahan perilaku kesehatan dalam bentuk kegiatankegiatan promosi kesehatan yang telah lama digagas sejak Konferensi Ottawa tahun
1986 tetaplah relevan dengan permasalahan saat ini. Sudah banyak studi yang
menyimpulkan bahwa penyakit-penyakit tidak menular dan penyakit kronis seperti
penyakit kardiovaskuler dan kanker sangat erat kaitannya dengan gaya hidup.
Penanganan penyakit-penyakit kronis tersebut membutuhkan penanganan dengan
pendekatan integratif, mulai dari aspek preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif
sejak di tingkat pelayanan kesehatan primer (Beaglehole R. et al., 2008). Oleh karena
itu, seorang dokter harus ikut serta pula dalam membangun mediasi dan advokasi
kesehatan dengan melibatkan masyarakat selain harus mampu menangani kesehatan
individual (Liliweri A, 2008).
Perkembangan media pada dewasa ini sangat potensial untuk menunjang peran dokter
sebagai komunikator. Di berbagai negara telah tumbuh berbagai ragam intervensi
untuk mengubah perilaku kesehatan masyarakat. Salah satu bentuk intervensi tersebut
adalah konseling kepada pasien, baik secara langsung maupun melalui media
interpersonal tertentu misalnya telepon dan email. Suatu projek pilot untuk mengubah
perilaku diet untuk mengurangi risiko penyakit kronis menunjukkan bahwa konseling
lewat telepon (delapan kali konseling) dapat mengubah perilaku pasien untuk
mengkonsumsi sayur dan buah lebih banyak (Newman VA et al. 2008).

Hubungan Dengan Pasien

Meminta persetujuan pasien (Informed Consent)


Dokter harus menghargai hak pasien untuk terlibat penuh dalam pengambilan
keputusan. Jika perlu, dokter harus menjelaskan apa dan mengapa yang akan
dilakukan, risiko atau efek samping bermakna terkait dan meminta persetujuan
sebelum memeriksa keadaan pasien atau memberikan penatalaksanaan.
Menghormati kerahasiaan pasien
1.
Dokter harus merahasiakan informasi keadaan pasien. Dalam kondisi
pengecualian, dibutuhkan alasan tepat untuk memberikan informasi tanpa persetujuan
pasien dan harus mengikuti panduan yang ada serta bersiap untuk
mempertanggungjawabkan keputusan tersebut terhadap pasien dan pengadilan.
2.
Keberhasilan hubungan dokter-pasien tergantung pada kepercayaan. Untuk
membangun dan mempertahankan kepercayaan, seorang dokter harus
o jujur, penuh pertimbangan dan kebenaran
o menghormati privasi dan martabat pasien
o menghormati hak pasien membatalkan partisipasinya dalam pendidikan/penelitian
dan memastikan penolakannya tidak berdampak merugikan hubungan dokter-pasien.
o menghormati hak pasien mencari pendapat kedua
o sedia setiap saat untuk dihubungi oleh pasien atau sejawat ketika sedang bertugas
3. Dokter tidak boleh membiarkan kepercayaan yang diberikan pasien rusak akibat
hubungan pribadi. Dokter tidak boleh menggunakan posisi profesinya untuk
membangun hubungan emosional atau seksual yang tidak tepat dengan pasien atau
seseorang yang dekat dengannya
Komunikasi Yang Baik

1. Komunikasi yang baik pasien dan dokter sangat penting demi penatalaksanaan
efektif dan hubungan kepercayaan. Komunikasi yang baik meliputi:
o mendengarkan keluhan pasien dan menghormati pandangan dan kepercayaannya.
o
memberi informasi yang dibutuhkan pasien mengenai keadaan, terapi dan
prognosis dalam bahasa yang dapat dipahami pasien termasuk obat yang akan
diresepkan, informasi efek samping serius dan dosis yang tepat.
o
memberi informasi kepada suami/istri pasien, kerabat dekat atau perawatnya
memerlukan ijin pasien terlebih dahulu. Bila pasien tidak dapat memberikan ijinnya,
maka dokter seharusnya memberi informasi hanya pada kerabat dekat pasien kecuali
dokter percaya bahwa pasien tidak akan berkeberatan.
2.
Jika pasien dalam perawatan dokter menghadapi bahaya, maka dokter harus
bertindak tepat mengatasi masalah. Dokter harus menjelaskan selengkap dan sejelas
mungkin apa yang telah terjadi dan kemungkinan efek jangka pendek maupun

panjang kepada pasien. Jika perlu, dokter harus meminta maaf. Jika pasien adalah
orang dewasa yang tidak memenuhi kapasitas tersebut, maka penjelasan harus
diberikan pada seseorang yang bertanggungjawab kepada pasien, atau suami/istri
pasien, kerabat dekat/ teman yang mengikuti penanganan pasien kecuali dokter
percaya bahwa pasien tidak akan berkeberatan.
3.
Jika seorang anak dalam penanganan dokter meninggal dunia maka dokter
tersebut harus memberikan penjelasan terbaik sesuai keilmuannya, alasan dan ruang
lingkup kematian pasien kepada orang tuanya. Demikian pula pada orang dewasa,
dokter harus memberikan informasi kepada suami/isteri pasien, kerabat dekat atau
teman yang terlibat dalam penanganan pasien.
Memutuskan Hubungan Profesional dengan Pasien
Kadangkala, dalam keadaan tertentu dimana pasien bertindak kasar terhadap dokter
atau sejawatnya atau terus bertindak tanpa pertimbangan/alasan yang merusak
kepercayaan dokter dan pasien maka dokter menganggap perlu untuk memutuskan
hubungan profesional dengan pasien. Pada keadaan ini, dokter harus mengambil
keputusan yang adil dan siap mempertanggungjawabkan keputusan tersebut. Dokter
tidak boleh mengakhiri hubungan dengan pasien karena pasien mengeluhkan kinerja
dokter/karena pengaruh finansial penatalaksanaan pasien dalam praktek kedokteran.
Dokter harus memberikan informasi kepada pasien baik secara langsung maupun
tertulis mengenai alasan mengakhiri hubungan profesionalnya. Dokter harus
mengambil langkah untuk memastikan bahwa perencanaaan alih rawat
berkesinambungan pasien telah dibuat dan mengalihkan rekam medis pasien pada
dokter lain sedini mungkin

DAFTAR PUSTAKA
Ali MM, Sidi IPS, Hadad T, Adam K, Rafly A, Sampurna B. Kemitraan dalam
hubungan dokter-pasien. Konsil Kedokteran Indonesia. Jakarta. 2006a.h. 9-22.
Ali MM, Sidi IPS, Hadad T, Adam K, Rafly A, Zahir H et al. Komunikasi Efektif
Dokter-Pasien. Konsil Kedokteran Indonesia. Jakarta. 2006b. h 1-10.
Baker H, Murdoch IE. Can a public health intervention improve awareness and
health-seeking behaviour for glaucoma.
Br J Ophthalmol 2008; 92(12):16711675.
Beaglehole R, Epping-Jordan J, Patel V, Chopra M, Ebrahim S, Kidd M. et al.
Improving the prevention and management of chronic disease in low-income and
middle-income countries: a priority for primary health care. Lancet 2008;372 (9642):
940-949
Beisecker AE. Patient Power in Doctor-Patient Communication: what do we know?.
Health communication 1990; 2(2): 105-122.
Bertrand JT, Anhang R. The effectiveness of mass media in changing HIV/AIDSrelated behaviour among young people in developing countries. World Health Organ
Tech Rep Ser 2006; 938:205-241.

Bertrand JT, OReilly K, Denison J, Anhang R, Sweat M. Systematic review of the


effectivenees of mass communication programs to change HIV-AIDS related
behaviours in developing countries. Health Educ Res 2006; 21 (4): 567-597.
Ikatan Dokter Indonesia. Perubahan Perilaku Fokus Utama Pembangunan Bidang
Kesehatan. http:// www.depkominfo. go.id/2007/06/12/perubahan-perilaku-fokusutama-pembangunan-kesehatan.html (diakses 20 Februari 2009)
Kim SS, Park BK. Patient-perceived communication styles of physicians in
rehabilitation: the effect on patient satisfaction and compliance in Korea. Am J Phys
Med Rehabil 2008; 87(12):998-1005.
Lee YY, Lin JL. Linking patientss trust in physicians to health outcomes. Br J Hosp
Med (Lond) 2008; 69 (1):42-46.
Levinson W. In context: physician-patient communication and managed care. J Med
Pract Manage 1999; 14(5): 226-230.
Liliweri A. Dasar-dasar Komunikasi Kesehatan. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2008. h.
2-22.
Naik AD, Kallen MA, Walder A, Street RL Jr. Circulation 2008; 117(11): 1361-1368
Newman VA, Flatt SW, Pierce JP. Telephone counseling promotes dietary change in
healthy adults: results of a pilot trial. J Am Diet Assoc 2008;108(8):1350-1354.
PDPERSI. Peran tenaga kesehatan masyarakat dalam mengubah perilaku masyarakat
menuju hidup bersih dan sehat. http://lkpk.org/2007/01/31/peran-tenaga-kesehatanmasyarakat-dalam-mengubah-perilaku-masyarakat-menuju-hidup-bersih-dansehat.html (diakses 20 Februari 2009).
Rakhmat J. Psikologi komunikasi. Edisi revisi. Remaja Rosdakarya. Bandung. 1993.
h. 129-36.
Roberts KJ. Physician-Patient Relationships, Patient Satisfaction, and Antiretroviral
Medication Adherence Among HIV-Infected Adults Attending a Public Health Clinic.
AIDS Patient Care and STDs. January 1, 2002, 16(1): 43-50.
doi:10.1089/108729102753429398.
Roter DL, Frankel RM, Hall JA, Sluyter D. The expression of emotion through
nonverbal behavior in medical visits. Mechanisms and outcomes. J Gen Intern Med
2006; 21 Suppl 1:S28-34
Steward M, Brown JB, Boon H, Galajda J, Meredith L, Sangster M. Evidence on
patient-doctor communication. Cancer Prev Control 1999; 3(1): 25-30
Stewart M, Brown JB, Donner A, Mc Whinney IR, Oates J, Weston WW et al. The
impact of patient-centered care on outcomes. J Fam Pract 2000a; 49(9): 796-804.
Stewart M, Meredith L, Brown JB, Galajda J. The influence of older patient-physician
communication on health and health related outcomes. Clin Geriatr Med 2000b;
16(1): 25-36.
Thorne SE, Hislop TG, Armstrong EA, Oglov V. Cancer care communication: the
power to harm and the power to heal? Patient Educ Couns 2008; 71(1):34-40.
Trummer UF, Mueller UO, Nowak P, Stidi T, Pelikan JM. Does physician-patient
communication that aims at empowering patients improve clinical outcome? A case
study. Patient Educ Couns 2006; 61(2):299-306.

Print
http://perpustakaan.uns.ac.id/include/inc_print.php?nid=150

KOMUNIKASI DOKTER-PASIEN-KELUARGA
Pendahuluan
Perkembangan Ilmu komunikasi di mulai dari disadari proses komunikasi itu terjadi
di dalam diri seseorang, lalu berkembang antar personal, kelompok lalu berkembang
lagi seiring dengan penemuan teknologi informasi, sehingga terciptanya media
teknologi itu sendiri. Pendekatan multidisiplin menjadi salah satu perkembangan
menarik dalam komunikasi, yang disebabkan perkembangan berbagai pengetahuan.
Penerapan komunikasi mulai di butuhkan berdasarkan subjek keilmuan lainnya.
Munculnya bentuk dan penerapan komunikasi dalam komunikasi Politik, komunikasi
Biologi, Komunikasi Sosial, dan juga Komunikasi Kesehatan menunjukan kesadaran
di perlukan keahlian komunikasi dalam berbagai bidang ilmu yang memiliki
kekhususan masing-masing.
Global health communication, merupakan term yang berkembang dan di gunakan
dalam bentuk pendekatan komunikasi dan area seperti interpersonal komunikasi,
mobilisasi masyarakat dan sosial serta advokasi. Komunikasi antara dokter- pasien
keluarga, adalah komunikasi yang tidak dapat dihidarkan dalam kegiatan klinikal,
yang merupakan bagian dari komunikasi kesehatan tersebut. Pasien datang berobat
menyampaikan keluhannya, didengar, ditanggapi, oleh dokter sebagai respon dari
keluhan tersebut. Seorang pasien yang datang berobat memiliki harapan akan
kesembuhan penyakitnya. Sedangkan seorang dokter mempunyai kewajiban
memberikan pengobatan sebaik mungkin. Keluarga memiliki peran dalam proses
dialog tersebut. Memberikan masukan informasi, dorongan dan kerjasama dengan
dokter untuk membantu kondisi pasien yang diharapkan.
Dalam proses komunikasi dokter pasien- keluarga melibatkan banyak elemen yang
harus di ketahui dan dipahami agar proses komunikasi tersebut berjalan dengan baik.
Untuk itu perlunya pemahaman mengenai proses komunikasi itu sendiri, elemen yang
ada di dalamnya, tujuan, proses komunikasinya, serta tipe komunikasi. Agar proses
diagnosis terhadap pasien bersifat efektif, dokter harus trampil berkomunikasi dengan
pasien, mampu mendengarkan pasien.
Komunikasi dokter-pasien-keluarga, merupakan salah satu aspek dari komunikasi
kesehatan, yang memiliki tujuan meraih kesehatan masyarakat yang baik.sedangkan
bentuk komunikasinya merupakan tipe komunikasi interpersonal, yang memiliki ke
khususan dalam prosesnya. Memahami komunikasi interpersonal juga mengetahui
elemen yang ada seperti bentuk pesan verbal dan non verbal, empati, serta prinsipprinsip yang menjadi dasar keberhasilan komunikasi ini. Selain itu perlunya di
perhatikan nilai etika dalam proses komunikasi ini, mana yang dapat dan tidak dapat
dilakukan dalam berkomunikasi.

Pengertian Komunikasi
Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang bermasyarakat dan hidup saling
berkelompok. Hal ini membuktikan salah satu kebutuhan dasar manusia, yaitu
keinginan untuk berkelompok dan berkomunikasi. Banyak pendapat pakar yang
berusaha menguraikan alasan mengapa manusia mempunyai kebutuhan untuk
berkomunikasi. Salah satu dari pakar komunikasi tersebut Thomas M. Sheildel (dalam
Mulyana, 2002: 4) yang mengungkapkan bahwa komunikasi dibutuhkan oleh manusia
untuk menyatakan dan mendukung identitas diri, untuk membangun kontak sosial
dengan orang di sekitar kita dan untuk mempengaruhi orang lain untuk merasa
berpikir atau perilaku seperti yang kita inginkan.
Ada beberapa definisi komunikasi yang dinyatakan oleh beberapa ilmuan komunikasi.
Menurut Bernard Berelson dan Gary A. Steiner (dalam Mulyana, 2002:62)
menyatakan bahwa: "Komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi,
keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata,
gambar, figur, grafik, dan sebagainya". Sedangkan Harlod Lasswell merumuskan
komunikasi dengan pertanyaan Who Say What In Which Channel To Whom With
What Effect?
Unsur-Unsur Komunikasi
Berdasarkan definisi Lasswell diatas dapat diturunkan lima unsur komunikasi yang
saling bergantung satu sama lain, yaitu:
1. Sumber (source)
Sering disebut juga pengirim (sender), penyandi (encoder), komunikator
(communicator), pembicara (speaker), atau originator. Sumber adalah pihak yang
berinisiatif atau yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi, sumber boleh jadi
individu, kelompok, organisasi, perusahaan atau bahkan suatu negara. Kebutuhannya
bervariasi, mulai dari sekedar mengucapkan "selamat pagi" untuk memelihara
hubungan yang sudah dibangun, menyampaikan informasi, menghibur, hingga
kebutuhan untuk mengubah ideologi, keyakinan agama dan perilaku pihak lain.
Menyampaikan apa yang ada dalam hatinya (perasaan) atau dalam kepalanya
(pikiran), sumber harus mengubah perasaan atau pikiran tersebut kedalam
seperangakat simbol verbal dan/ atau nonverbal yang idealnya dipahami oleh
penerima pesan. Proses inilah yang disebut penyandian (encoding). Pengalaman masa
lalu, rujukan nilai, pengetahuan, persepsi, pola pikir, dan perasaan sumber
mempengaruhinya dalam merumuskan pesan tersebut.
2. Pesan (message)
Yaitu apa yang dikomunikasikan oleh sumber kepada penerima. Pesan merupakan
seperangakat alat verbal dan/ atau nonverbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan
atau maksud sumber tadi. Pesan mempunyai tiga komponen: makna, simbol yang
digunakan untuk menyampaikan makna, dan bentuk atau organisasi pesan. Simbol
terpenting adalah kata-kata (bahasa), yang dapat merepresentasikan objek (benda),
gagasan, clan perasaan, baik ucapan (percakapan, wawancara, diskusi, ceramah clan
sebagainya) ataupun tulisan (surat, esai, artikel, novel, puisi, famflet, dan sebagainya).

Kata-kata memungkinkan kita berbagi pikiran dengan orang lain. Pesan juga dapat
dirumuskan secara nonverbal, seperti melalui tindakan atau isyarat anggota tubuh
(acungan jempol, anggukan kepala, senyuman, tatapan mata, dan sebagainya) juga
melalui musik, lukisan, patung, tarian, dlan sebagainya.
3. Saluran (channel)
Saluran atau media yakni alat atau wahana yang digunakan sumber untuk
menyampaikan pesannya kepada penerima. Saluran boleh jadi merujuk pada bentuk
pesan yang disampaikan kepada penerima, apakah saluran verbal atau saluran
nonverbal. Pada dasarnya saluran komunikasi manusia adalah dua saluran, yakni
cahaya dan suara, meskipun kita bisa juga menggunakan kelima indra kita untuk
menerima pesan dari orang lain. Anda dapat mencium wangi parfum yang
merangsang fantasi anda yang liar ketika anda berdekatan dengan seorang wanita
yang tidak anda kenal di sebuah kafe, mencicipi ketupat lebaran yang disugukan tuan
rumah, atau menjabat tangan sahabat yang baru lulus sarjana. Jabatan tangan yang
erat (sentuhan) dapat juga menyampaikan lebih banyak pesan daripada kata-kata.
Saluran juga merujuk pada cara penyajian pesan: apakah langsung (tatap-muka) atau
lewat media cetak (surat kabar, majalah) atau media elektronik (radio, televisi). Surat
pribadi, telepob, selebaran, Overhead Projector (OHP), sistem suara (Sound Sisytem)
multi media, semua itu dapat dikategorikan sebagai (bagaian dari) saluran
komunikasi. Pengirim pesan akan mengirim saluran-saluran itu, bergantung pada
situasi, tujuan yang hendak dicapai dan jumlah penerima pesan yag dihadapi. Kita
mungkin membaca artikel atau menonton siaran olahraga lewat televisi. Dalam suatu
peristiwa komunikasi, sebenarnya banyak saluran yang kita gunakan, meskipun ada
salah satu yang dominan. Misalnya, komunikasi langsung, bahasa (verbal dan
nonverbal) adalah saluran yang menonjol meskipun pancaindra dan udara yang
mengantarkan gelombang suara juga salah satu saluran komunikasi tatapmuka
tersebut. Dalam komunikasi massa, katakanlah melalui surat kabar, saluran yang
paling menonjol adalah surat kabar yang kita baca, meskipun terdapat juga saluran
yang lain yang juga berperan seperti telepon, faksimili, komputer, mesin cetak,
kendaraan yang digunakan untuk mengantarkan surat kabar tersebut kepada pembaca,
dan sebagainya.
4. Penerima (receiver)
Penerima (receiver), sering juga disebut sasaran/ tujuan (destination), komunikatn
(communicatee), penyandi-balik (decoder) atau khalayak (audience), pendengar
(listener), penafsir (interpreter), yakni orang yang menerima pesan dari sumber.
Berdasarkan pengalaman masa lalu, rujukan nilai, pengetahuan, persepsi, pola pikir
dan perasaan, penerima pesan ini menerjemahkan atau menafsirkan seperangakat
simbol verba; dan/ atau nonverbal yang ia terima menjadi gagasan yang dapat ia
pahami. Proses ini disebut penyandian-balik (decoding).
5. Efek,
Yaitu apa yang terjadi pada penerima setelah ia menerima pesan tersebut, misalnya
penambahan pengetahuan (dari tidak tahu menjadi tahu), terhibur, perubahan sikap
(dari tidak setuju menjadi setuju), perubahan keyakinan, perubahan tingkah laku (dari
tidak bersedia membeli barang yang ditawarkan menjadi bersedia membelinya, atau

dari tidak bersedia memilih partai politik tertentu menjadi bersedia memilihnya dalam
pemilu), dan sebagainya. (Mulyana, 2002: 63-65)
Sedangkan Joseph A DeVito menambahkan tiga unsur lainnya yaitu :
6. Konteks,
Dalam unsur konteks ada empat dimensi di dalamnya. 1.fisikal 2. psikologi sosial 3.
waktu 4. budaya. Secara fisikal merupakan dimensi yang terukur dari lingkungan atau
tempat dimana komunkasi itu terjadi. Sosial psikologi merupakan status hubungan
antara partisipan komunikasi, pertemanan, formal atau tidak formal hubungan, serius
atau humor situasi.Waktu adalah saat yang di gunakan dalam berkomunikasi. Budaya
disini berhubungan dengan kepercayaan, nilai yang dianut, cara yang dilakukan dalam
kelompok secara turun menurun (DeVito, Joseph A, 2006: 4)
7. Etiks, (ethics)
Dimensi ini sangat komplikasi, dikarenakan etik sangat berkaitan erat dengan
philosophi seseorang dalam kehidupan dan budayanya. Segala keputusan dalam
berkomunikasi bergantung pada nilai etik yang digunakan sebagai petunjuk mana
yang benar dan yang salah (DeVito, Joseph A, 2006: 10-11)
8. Gangguan (noise)
Adalah penghambat dalam berkomunikasi, segala sesuatu yang menggangu pada
pesan, penerimaan pesan. Gangguan dapat berupa atau berbentuk fisik dari luar.
Psiologikal, berbentuk gangguan fisik di dalam diri komunikan atau komunikator.
Psikologikal, bentuk gangguan kognitif atau mental(kemarahan, kesedihan,
buruksangka dll). Semantik, perbedaan arti kata yan tersampaikan dari komunikan
dan komunikator DeVito, Joseph A, 2006: 10-11)
Tujuan Komunikasi
Menurut Joseph A DeVito ada beberapa tujuan manusia berkomunikasi yaitu :
1. Mencari tahu, terhadap informasi yang di perlukan
2. Membina hubungan, melalui interaksi antara komunikator( pemberi pesan) dan
komunikan ( penerima pesan). Bentuk komunikasi yang terjadi seperti sapaan,
berdiskusi/ bercakap- cakap.
3. Menolong, dalam memberikan apa yang diinginkan dan di perlukan melalui
pertanyaan, pernyataan.
4. Membujuk, komunikasi digunakan agar seseorang mengikuti apa yang kita maui.
5. Kesenangan
Elemen transaksional
Communication 'is transactional, which means that the elements in communication
are interdependent. Each person in the communication act is both speaker and
listener; each person is simultaneously sending and receiving messages (Barnlund,
1970; Watzlawick, 1971, 1978: Vatzlawick, Beavin, & Jackson, 1967; Wilmot. 1987
dalam DeVito, Joseph A., 2006). Komunikasi sendiri merupakan bentuk
transaksional dimana ada hubungan antara komunikan dan komunikatornya dalam
mengirim dan menerima pesan yang membawa pada berbagai konsekwensi yaitu:
1. Komunikasi merupakan proses yang berubah-rubah.

2. Setiap elemen komunikasi saling berhubungan, misalnya tidak ada komunikator


jika tidak ada komunikannya.
3. Reaksi dari transaksi komunikasi berdasarkan situasi pada saat itu.
4. Jika dua orang komunikan mendegarkan pesan yang sama bisa jadi menerima
dalam arti yang berbeda berdasar persepsinya masing-masing.
Proses Komunikasi
Jalannya komunikasi ini terlihat dalam suatu proses, pandangan atau pula model, di
dalamnya melibatkan elemen elemen komunikasi yang ada. Ada tiga pandangan
dalam proses komunikasi adalah,
1. Linear View, merupakan alur komunikasi satu arah dari komunikator kepada
komunikannya
2. Interactional View, Komunikasi yang terjadi dua arah dari komunikator ke
komunikan ataupun sebaliknya.
3. Transactional view. Komunikasi yang terjadi dua arah yang saling membangun
pesan dan bertanggung jawab terhadap keberhasilan komunikasi tersebut.
Tipe komunikasi
Berdasarkan tipe komunikasi yang ada dapat dikelompokan dalam 5 bentuk tipe
berdasar komunikanya dan proses yang terjadi didalamnya:
Intrapersonal communication (komunikasi intrapersonal, bagaimana orang
mengolah informasi yang diterimanya. Meliputi sensasi, persepsi, memori, dan
berpikir pada diri sendiri( (Rakhmat, Jalaludin, 2000)
Interpersonal communication ( Komunikasi antar persona, komunkasi biasanya
terjadi antara dua individu)
Small group communication ( komunikasi kelompok, komunikasi yang terjadi
dalam sebuah kelompok yang terbatas jumlahnya)
Mass communication ( komunikasi massa, komunikasi yang menggunakan media
massa pada khalayak yang tidak di kenali)
Public communication (Komunikasi publik, komunikasi antara pembicara dengan
audiencenya yang di ketahui.)(Devito, Joseph A. :13)
Komunikasi kesehatan
Berdasarkan fokus perhatian dalam tema/ bidang, komunikasi dapat di lihat
berdasarkan hal tersebut. Komunikasi dokter-pasien-keluarga dapat di masukan dalam
fokus komunikasi kesehatan.
Ada beberapa definisi tentang komunikasi kesehatan:
The study and use of communication strategies to inform and influence individual
and community decisions that enhance health (2001; U.S. Department of Health and
Human services, 2005)
The art and technique of informing, influencing, and motivating individual,
institutional, and public audiences about important heath issues ( Healthy people
2010)
Health communication is a multifaceted and multidisciplinary approach to reach

different audiences and share health-related information with the goal of influencing,
engaging, and supporting individuals, communities, health professionals, special
groups, policymakers and the public to champion, introduce, adopt, or sustain a
behavior, practice, or policy that will ultimately improve health outcomes.(Renata
Sciavo, 2007: 7)
Dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi kesehatan
bertujuan akhir untuk meningkatkan kondisi kesehatan yang lebih baik. Dalam
prosesnya ada beberapa isu yang harus dipertimbangkan ketika kita merencanakan
berbagai kegiatan komunikasi kesehatan, seperti yang disampaikan Edwards and
Hugman:
1 Tujuan / maksud dari pesan
2 Kondisi pikiran atau sikap termasuk kemampuan kognitif, dan situasi
emosional
3 Konteks secara umum atau kondisi pesan akan di terima
4 Medium yang digunakan dalam berkomunikasi
5 Mekanisasi tanggapan / respons
6 Monitor dan evaluasi (Edwards and Hugman ,1997: 223)
Pada Konferensi Internasional Komunikasi Kesehatan menghasilkan 'Toronto
Consensus Statement' terhadap hubungan antara praktek komunikasi dan hasil
kesehatan (Simpson et al., 1991). Pernyataannya membuat delapan titik kunci: 1
permasalahan komunikasi di/dalam praktek medis adalah penting dan umum. 2
ketertarikan pasien dan ketidak puasan adalah yang berhubungan dengan ketidak
pastian serta kekurangan informasi, penjelasan dan umpan balik. 3 Dokter sering
salah persepsi terhadap jumlah dan jenis informasi yang diingin oleh pasien. 4
Peningkatan kualitas komunikasi klinis adalah yang berhubungan dengan hasil
kesehatan positif. 5 Penjelasan dan perhatian pemahaman pasien, ketika mereka tidak
dapat diselesaikan / di raih merupakan kegagalan 6 Partisipasi yang besar dari pasien
dalam pertemuan meningkatkan kepuasan, pemenuhan dan hasil penanganan. 7
Tingkat kesusahan psikologis pasien dengan penyakit serius adalah lebih sedikit
ketika mereka merasa diri mereka ke telah menerima informasi cukup. 8 Keuntungan
komunikasi klinis adalah secara rutin mungkin diperoleh praktek klinis dan mungkin
selama pertemuan klinis yang rutin, tanpa terlalu mengambil waktu, dengan ketentuan
bahwa petugas kesehatan telah mempelajari teknik2yang relevan.
Komunikasi Intrerpersonal
Komunikasi antara dokter pasien-keluarga, merupakan bentuk dari tipe komunikasi
interpersonal ( interpersonal communication) sebagai sebuah proses transaksi pesan
antara dua individu untuk menciptakan atau mempertahankan pemahaman.. Ada
beberapa prinsip dalam komunikasi interpersonal yaitu:
Is unavoidable, tidak dapat terhindarkan , setiap orang tidak bisa tidak
berkomunikasi
Involves symbol exchange,terkandung di dalamnya pertukaran symbol-simbol baik
itu melaui verbal dan non verbal
Is ruled-governed, peraturan yang ada menjadi pegangan dan petunjuk dalam

berkomunikasi untuk mempertahan kan hubungan , misalnya mengucapkan terima


kasih jika orang memberikan sesuatu dll)
Is learned, merupakan proses belajar, saling memahami, saling menerima terhadap
pesan.
Has content, selalu memiliki pesan
Has relationship information, memiliki hubungan informasi, karena dalam
pertukaran informasi selalu ada proses menerima dan mengartikan pesan tersebut)
Dalam komunikasi interpersonal memiliki empat elemen utama, seperti diungkapkan
oleh Burton:
the core of self,
needs and motivations,
cognitions monitoring the reactions of others.
Burton and Dimbleby (1995),
Komunikasi Dokter- pasien
Menurut Ong et al. (1995) dalam Dianne Berry, hubungan dokter dengan pasien
merupakan hubungan interpersonal yang sangat kompleks, dikatakan kompleks
karena tidak setara posisi, ada emosianal yang berpengaruh, membutuhkan kerjasama
yang dekat/ baik. Roter and Hall (1992) menggambarkan empat dasar bentuk,: default
(kelalaian) tidak terkontrolnya dari bagiannya, paternalistic(kebapakan) dominannya
dokter dan pasifnya pasien, consumerist(berkaitan dengan hak pasien dan tugas dokter
dan mutualistic(kesamaan) saling berbagi untuk membuat keputusan .
Komunikasi yang efektif antara pasien dan dokter dapat memberikan keuntungan
yang banyak. Ini penting untuk ketepatan dan kelengkapan pengumpulan data
mengenai simton, side efek, mengurangi masalah, kepatuhan untuk mengikuti
rekomendasi tatacara pengobatan pengaruh emosi dan kesehatan fisik dan juga
membuat kepuasan pada kedua belah pihak. Ada empat faktor yang mempengaruhi
keberhasilan dan efektifitas interaksi dokter pasien. Edelmann (2000):
1 Karakter dari dokternya (khususnya jenis kelamin dan pengalaman)
3 Perbedaan-perbedaan antara keduanya dalam kelas sosial, pendidikan, sikap,
kepercayaan dan harapan .
4 Faktor situasional
Dokter harus berkomunikasi dengan pasien memiliki beberapa tujuan. Ong et al.
(1995) menyankan ada tiga tujuan dasar dari komunikasi dokter pasien: membuat
hubungan yang baik antara mereka, saling tukar menukar informasi dan membuat
keputusan medik.
Membuat hubungan yang baik
Merupakan langkah paling awal agar dapat secara optimal dalam melakukan
perawatan kesehatan. Suksesnya hubungan dan komunikasi antara dokter dan pasien
dapat memberikan efek yang positif dalam kepuasan pasien, pengetahuan serta
pengertian dan keinginan untuk melakuakan perawatan dalam meraih kesembuhan.
Saling bertukar informasi.
Dari sisi medik informasi yang jelas dari pasien sangat di perlukan untuk membuat

diagnosa, kondisi yang tepat, serta langkah berikutnya dari data yang diterima.. Bagi
pasien diperlukan komunikasi yang jelas dan lengkap tentang apa yang terjadi pada
dirinya dan apa yang harus di lakukan untuk kesembuhannya. Dokter harus mampu
menggali informasi dengan memberikan pertanyaan yang tepat isi dan saat
penyampaiannya. Pasien memberikan penjelasan dengan selengkapnya sesuai
pertanyaannya, juga menyampaikan segalanya yang terlewat di tanyakan.
Ketrampilan berkomunikasi dengan memperhatikan rasa empati merupakan dasar
yang penting dalam menerapkan etika kedokteran dalam hubungan pasien dokter dan
keluarga seperti dalam bagan berikut ini :

Hubungan etika profesi, empati dan Komunikasi (Samsuridjal Djauzi: 5)Alur


Samsuridjal Djauzi menjelaskan dalam bukunya:
penyelesaian masalah memerlukan keterampilan komunikasi, keterampilan praktis
(P) dan keterampilan intelektual.Pada wawancara keterampilan komunikasi digabung
dengan keterampilan intelektual (kognitif), yaitu pemahaman patofisiologi; hipotosis
penyebab masalah melandasi jalannya wawancara. Keterampilan kognitif juga
digunakan untuk memilih tes dan melakukan interprestasi tes. Berbagai tes (invasif
maupun noninvasif) memerlukan keterampilan praktis (P).
Alur utama penyelesaian masalah : Wawancara ---) Pertimbangan klinis ditunjang
oleh keterampilan intelektual dan komunikasi (---). Keterampilan komunikasi
merupakan awal dari perjenjangan Komunikasi Empati Etik Profesi. Keterampilan
komunikasi dan empati dipengaruhi juga oleh nurani dokter.
Hasil wawancara, pemeriksaan jasmani dan interpretasi tes akan dianalisis dan
disintesis melalui penalaran klinis (clinical reasoning) sedangkan penyelesaian
masalah untuk menetapkan asuhan maupun tindakan memerlukan pertimbangan
klinis (clinical judgment) yang dilandasi etik profesi.
Membuat keputusan medik
Ini adalah tujuan terakhir dari komunikasi yang dilakukan bagi pasien dan dokter.Dari
saling berbagi informasi didapat keputusan yang tepat tentang status pengobatan,
perawatan bagi pasien guna meraih kesembuhan dan kepuasan pasien.
Komunikasi dokter-keluarga
Dalam kondisi sakit biasanya pasien jarang eksis, hal ini menjadikan keluarga pasien,
teman ataupun kerabat memegang peranan penting dalam mendukung pasien dan
meningkatkan perbaikan kondisi pasien.. Hal ini sangat terasa pada kasus pasien yang
depressi, stress dan memiliki penyakit yang serius. Keluarga dapat mendukung agar
pasien menjalankan segala saran pengobatan. Setiap anggota keluarga dapat
memberikan dukungan yang berbeda kepada pasien tergantung kedekatan dang
pengaruhnya dalam keluarga.Berkomunikasi dengan anggota keluarga pasien yang
berbeda tingkat pengetahuan dan tingkat emosinya dapat memberikan kejelasan bagi
dokter, atau petugas kesehatan. Tetapi memiliki tingkat kesulitan yang berbeda

bergantung dengan kedudukan dalam keluarga, dalam mencapai informasi yang benar,
juga dalam memberikan informasi sebenarnya mengenai situasi pasien, apalagi ada
informasi yang tidak dapat disampaikan kepada pasien.
Northouse and Northouse (1998)menunjukan, Jika terlalu banyak perhatian yang
harus diberikan kepada keluarga pasien dan temannya, sebaiknya menjadi kekuatan
untuk bersama-sama mendukung dan memberi kekuatan pada pasien untuk perolehan
kesehatannya. Jika keluarga memegang peranan penting dalam hal tersebut mereka
memerlukan komunikasi yang efektif dari dan dengan petugas kesehatan. Hal ini
untuk menghindarkan didapati informasi yang disampaikan pasien ke keluarga sudah
disaring oleh keluarga dalam penyampaian ke dokter, atau penjaga ketenangan pasien
dengan hanya memberikan informmasi yang tidak menyeluruh pada pasien.
Dalam kasus kasus tersebut, komunikasi yang baik dengan keluarga pasien tidak
dapat di hindari, dan harus menjadi perhatian serius bagi dokter atau tenaga
kesehatan. Perlu di lihat dan di perhatikan juga berbagai bentuk keterikatan keluarga
dalam proses berkomunikasi, antara lain 1. Orangtua paling utama, dimana posisi
orang tua sangat berkuasa mutlak terhadap anggota keluarganya, terutama pada si
pasien 2. Saling menyalahkan, dimana setiap anggota keluarga selalu saling
menyalahkan anggota keluarga lainnya 3. Keluarga yang berantakan, dan 4.partisipasi
dalam wawancara, terutama dalam situasi pasien yang tidak berdaya.
Mengkomunikasikan informasi ketidakpastian dan beresiko
Informasi medik terkadang kompleks dan sulit untuk disampaikan, terutama pada
situasi keadaan pasien yang kritis ataupun menjelaskan situasi sebenarnya dari bahasa
medik kepada bahasa keseharian. Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat
diperhatikan dalam komunikasi dalam situasi tersebut di bawah:
Verbal versus numerical descriptions of risk likelihood, membantu menjelaskan
angka-angka sebagai informasi yang dapat dipahami oleh pasien atau keluarganya
Framing effects, ketika informasi tersebut terbingkai sebagai informasi positif atau
negatif.
Absolute and relative risk, penyampaian informasi mengenai resiko yang akan di
hadapi oleh pasien .
The order of information, yang harus diperhatikan bukan saja isi dari pesan yang
akan di perhatikan tetapi juga bentuk atau cara penyampaiannya.
Ethik isu dalam komunikasi kesehatan.
Dalam upaya mencapai komunikasi yang efektif tentunya juga harus memperhatikan
cara komunikasi yang sesuai nilai etika yang berlaku. Ada empat hal yang harus di
ingat dan diperhatikan dalam etika medik:
1 Respect for patient autonomy. Menghargai keinginan pasien dan membantunya
untuk mengambil keputusannya sendiri
2 Beneficence. Memberikan keuntungan bagi pasien
3 Non-maleficence. Dokter tidak boleh merugikan pasiennya
4 Justice. Memperlakukan dengan wajar, adil bagi pasien-pasiennya.
Menyampaikan kebenaran dengan tepat kepada pasien sesuai tujuan yang akan

disampaikannya.Kemampuan komunikasi ini dapat menimbulkan kepuasan bagi


pasien juga keberhasilan bagi dokter. Oleh karena itu perlunya peningkatan
kemampuan berkomunikasi bagi kedua belah pihak. Dalam meningkatkan
kemampuan berkomunikasi bagi dokter ada beberapa dasar yang perlu di perhatikan.
Dianne Berry dalam bukunya menegaskan kemampuan yang harus di latih bagi dokter
yaitu: bertanya, menjelaskan dan menyampaikan informasi, memberi perhatian dan
mendengarkan, penguatan, perefleksian, membuka dan menutup interaksi serta
mengatasi/mengatur konflik.
Penutup
Kemampuan berkomunikasi pada dokter dapat saja sebagai suatu keahlian yang bisa
saja sudah dimiliki oleh setiap manusia, karena sebagai makhluk sosial pastinya
melakukan interaksi, akan tetapi keahlian tersebut dapat dimunculkan melalui
pengasahan dan pembelajaran mengenai penerapan ilmu komunikasi itu bagi
kemampuan komunikasi antara dokter-pasien dan keluarga. Sudah pada saatnya
pembelajaran komunikasi bagi dokter sebagai salah satu mata kuliah yang ada dalam
proses penyiapan dokter terjun di lapangan. Pembelajaran komunikasi ini juga
menjadi bagian yang harus dimiliki pula oleh pasien dan keluarga yang di stimulasi
oleh dokter. Terjadinya komunikasi yang efektif antara dokter pasien- dan keluarga
menjadi langkah dalam mewujudkan kesehatan masyarakat.
http://kedokteran.tarumanagara.ac.id/index.php/ind/read/378

KOMUNIKASI EFEKTIF
KOMUNIKASI EFEKTIF

Mengapa kita sebagai dokter layanan primer perlu memahami mengenai komunikasi
efektif?

Referensi
Konsil kedokteran Indonesia, 2012, Standar Kompetensi Dokter Indonesia, Konsil
Kedokteran Indonesia, Jakarta 2012
Herqutanto, Basuki E, Jauzi S, Mansyur M. Pengetahuan Dan Keterampilan Dokter
Pasien dan Faktor Yang Mempengaruhinya. Journal Indonesia Med. Assoc 2011;
volume 61, No. 5 Mei 2011
Mead N, Bower P, 2002, Patient-centred consultations and outcomes in primary care:
a review of the literature, Patient education and counseling 48 (2002) 51 61,

Elsevier Science Ireland Ltd


Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kamus versi online, http://kbbi.web.id/
komunikasi
Claramita M, Utarini A, Soebono H, Van Dalen J, Van der Vieuten. Doctor Patient
Communication in A Southeast Asian Setting: The Conflict Between Ideal and
Reality. Adv in Health Sci Educ 2011; volume 16: 69 80
Fong Ha J, Anat DS, Longnecker. Doctor Patient Communication: A Review. The
Ochsner Journal 2010; volume 10:38 43
Molinuevo B, Torrubia R. Validation of The Catalan Version of The Communication
Skills Attitude Scale (CSAS) in A Cohort Of South Europian Medical and Nursing
Students, Education for Health 2011; volume 24, issue 1, 2011
Levinson W, Lesser CS, Epstein RM. Developing Physician Communication Skills
For Patient Centered Care. Health Affairs 29, No. 7 (2010): 1310 1318

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat ALLAH SWT, karena dengan rahmat
dan hidayahnya kami dapat menyelesaikan tugas kelompok kami dalam Skenario 3
dengan judul KOMUNIKASI dengan PASIEN dan KELUARGANYA. Adapun
tugas ini kami selesaikan sebagai bahan acuan bagi mahasiswa khususnya mahasiswa
Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram
Tentu saja bahan-bahan yang terhimpun dalam tugas ini sepenuhnya bukan
hasil kami sendiri melainkan kami pilah, yang menurut kami atau siapa saja yang
dapat dengan mudah mempelajarinya, mendalaminya serta mensosialisasikannya,
minimal dilingkungannya.
Semoga laporan ini dapat lebih bermanfaat bagi pembaca, maupun bagi
bangsa dan tanah air. Laporan ini tentunya masih jauh dari sempuran, oleh karena itu
saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan untuk sempurnanya laporan
ini.Terima kasih

Mataram, 5 september 2010

Tim Penyusun

ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR ............................................................................ ii
DAFTAR ISI .......................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG ................................................................. 1
B. TUJUAN ........................................................................................ 2
C. RUMUSAN MASALAH....................................................... 2
BAB II
PEMBAHASAN
LEARNING OBJECTIVE .......................................................... 3
PEMBAHASAN LEARNING OBJECTIVE ............................ 4
1. Klarifikasi Masalah/Konsep yang Tidak di Ketahui............. 5
2. Pengertian, langkah-langkah, tujuan anamnesis................... 7
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN ............................................................................. 11
SARAN .......................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Komunikasi adalah keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia,

dimana dapat kita lihat komunikasi dapat terjadi pada setiap gerak langkah manusia.
Manusia adalah makhluk sosial yang tergantung satu sama lain dan mandiri serta
saling terkait dengan orang lain dilingkungannya. Satu-satunya alat untuk dapat
berhubungan dengan orang lain dilingkungannya adalah komunikasi baik secara
verbal maupun non verbal ( bahasa tubuh dan isyarat yang banyak dimengerti oleh
suku bangsa). Komunikasi merupakan kunci dalam membuka hubungan yang baik
dan profesional antara dokter dengan pasien, meskipun dalam prakteknya masih sulit
dilakukan. Ia mengakui komunikasi dokter-pasien adalah hal yang penting dan harus
terus dipelajari, dilatih dan diterapkan oleh para dokter.
Istilah komunikasi berasal dari kata Latin Communicare atau Communis yang berarti
sama atau menjadikan milik bersama. Kalau kita berkomunikasi dengan orang lain,
berarti kita berusaha agar apa yang disampaikan kepada orang lain tersebut menjadi
miliknya. Jadi secara umum komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi
(pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain agar terjadi saling
mempengaruhi di antara keduanya.

1
B. Tujuan
Menurut Hewitt (1981), tujuan komunikasi adalah sebagai berikut :
Mempelajari atau mengajarkan sesuatu
Mempengaruhi perilaku seseorang
Mengungkapkan perasaan
Menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku orang lain
Berhubungan dengan orang lain
Menyelesaian sebuah masalah
Mencapai sebuah tujuan
Menurunkan ketegangan dan menyelesaian konflik
Menstimulasi minat pada diri sendiri atau orng lain
C. Rumusan Masalah
v Bagaimanakah cara dan sikap seorang dokter ketika berkomunikasi dengan pasien ?
Skenario 3 : Komunikasi dengan Pasien dan Keluarganya
Sebagai dokter di Puskesmas, dr. Bihbah sering melakukan pengobatan pada psien. Ia
memulai dengan kegiatan anamnesis yang cepat dan sistematif. Ia melakukan
wawancara dengan pasien, sehingga dari keluhan-keluhan pasien ia dapat
memperoleh gambaran kelainan-kelainan dari sistem organ pasien tersebut.
Sikap dr. Bihbah dalam berkomunikasi dengan pasien selalu disertai dengan empati.
Ia selalu mendengarkan keluhan pasien dan tidak menunjukkan sikap sombong
ataupun acuh-tak acuh pada pasien. Ia juga melakukan pemeriksaan fisik secara
fropesional.

Dr. Bihbah sadar bahwa tugas selanjutnya dari seorang dokter adalah memberikan
pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarganya, yang mana diarahkan kepada
upaya promotif dan preventif dari penyakit yang diderita oleh pasien.