Anda di halaman 1dari 11

TUGAS TERSTRUKTUR

SRTUKTUR DAN PERKEMBANGAN HEWAN II


MEMBRAN EKSTRA EMBRIONAL PADA ULAR (Python reticulatus)

Disusun Oleh:
Kelompok 8
Devina Andayani

B1J011112

Asa Dayah Febriani

B1J011130

Devi Fatkuljanah

B1J011132

Khairina Femiliani Y

B1J011170

Iik Nurfagy

B1J011172

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2012

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Zigot merupakan hasil dari pembuahan sel telur oleh sel sperma pada
organisme yang berkembang biak secara seksual. Zigot memiliki seluruh
DNA yang berasal dari induknya. Bagi tumbuhan, hewan dan beberapa
protista, zigot akan mulai membelah secara mitosis untuk menghasilkan
organisme multiseluler. Hasil dari proses ini disebut embrio.
Embrio merupakan perkembangan organisasi yang terjadi selama
berlangsungnya fertilisasi sampai kelahiran atau penetasan. Fertilisasi yang
berlangsung di dalam tubuh induk betina disebut fertilisasi interna, contohnya
pada mamalia. Fertilisasi eksterna terjadi di luar tubuh induk betinanya.
Peristiwa ini dialami oleh hewan-hewan yang mengoviposisikan telurnya,
seperti katak dan ikan.
Menurut Radiopoetro (1996), hewan vertebrata yang melakukan
fertilisasi internal dikenal adanya 3 macam perkembangan embrio, yaitu
ovipar, vivipar dan ovovivipar. Ular (Python reticulatus) merupakan salah
satu hewan vertebrata dari kelas reptil. Perkembangan embrio ular adalah
ovipar, yaitu embrio yang berkembang di dalam telur dan dilindungi oleh
cangkang. Embrio mendapat makanan dari cadangan makanan yang terdapat
di dalam telur. Telur dikeluarkan dari tubuh induk betina lalu dierami hingga
menetas menjadi anak.
Embrio yang sedang berkembang membutuhkan nutrisi, sarana untuk
mengeluarkan sisa metabolisme, serta perlindungan fisik, kimiawi dan

biologis dalam lingkungan makro maupun mikro. Untuk memenuhi


kebutuhan tersebut maka dibentuk membran ekstra embrional. Sehingga
keutuhan membran ekstra embrional merupakan salah satu hal penting dalam
perkembangan awal embrio.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan permasalahan yang muncul


adalah :
1. Apa yang dimaksud dengan membran ekstra embrional?
2. Apa saja membran ekstra embrional yang terdapat pada ular?
3. Bagaimana proses perkembangan membran ekstra embrional pada ular?
4. Apa saja fungsi masing-masing membran ekstra embrional pada ular?
5. Bagaimana perbandingan antara membran ekstra embrional ular dengan
hewan kelas lain?

1.3 Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan dari makalah ini


adalah :
1. Mengetahui pengertian membran ekstra embrional
2. Mengetahui membran ekstra embrional yang terdapat pada ular
3. Mengetahui proses perkembangan membran ekstra embrional pada ular
4. Mengetahui fungsi masing-masing membran ekstra embrional pada ular
5. Membandingkan membran ekstra embrional pada ular dengan hewan kelas
lain

II. PEMBAHASAN

Embrio dapat bertahan hidup selama beberapa waktu dengan menyerap


makanan dari kantung kuning telur. Salah satu tahapan penting dalam
perkembangan awal embrio adalah keutuhan membran ekstra embrio. Istilah
ekstra embrio ini sesuai karena membran-membran yang dimaksud berkembang
keluar menjauhi embrio. Membran ekstra embrional berkembang dan berfungsi
pra lahir dan tidak menjadi bagian tubuh janin yang akan dikeluarkan saat partus
(Djuanda, 1981).
Membran ekstra embrional merupakan struktur yang dibentuk dari
jaringan embrional tetapi tidak menjadi bagian tubuh organisme pada periode
setelah kelahiran ataupun penetasan. Membran ekstra embrional berupa membran
atau selaput seluler yang dibentuk bersamaan dengan perkembangan embrio dan
berperan penting dalam perkembangaan embrio. Membran ekstra embrional
dibentuk karena embrio yang sedang berkembang membutuhkan nutrisi, sarana
untuk mengeluarkan sisa metabolisme, serta perlindungan fisik, kimiawi dan
biologis dalam lingkungan makro maupun mikro (Soeminto, 2000).
Jumlah dan jenis membran embrional bervariasi pada hewan vertebrata.
Ikan dan amphibi hanya memiliki membran ekstra embrional berupa kantong yolk
(yolk sac atau saccus vitellinus). Reptil dan aves memilik 4 membran ekstra
embrional yaitu, amnion, chorion, allantois dan saccus vitellinus. Mamalia
memiliki 5 membran ekstra embrional karena chorion berdiferensiasi menjadi
bagian embrional yang menyusun plasenta (Sumantadinata, 1981).

Burung dan mamalia mempunyai membran ekstra embrionik yang sama


dengan reptilia. Ketiga kelompok hewan tersebut disebut kelompok amniota
karena mempunyai kantung amnion. Reproduksi burung sangat mirip dengan
kelompok reptil. Hal yang menjadi pembedanya adalah

burung mengerami

telurnya. Mamalia tidak mempunyai telur kleidoik , tetapi membran ekstra


embrionik membantu dalam pembentukan plasenta. Amphibi dan pisces disebut
kelompok hewan anamniota karena tidak memiliki amnion (Villee et al., 1988).
Ular (Python reticulatus) adalah salah satu spesies dari kelas reptil yang
memiliki 4 membran ekstra embrional, yaitu amnion, serosa, allantois dan saccus
vitellinus. Amnion berasal dari sisi embrio dan terbentuk lipatan yang berasal dari
somatopleura, yaitu lapisan rangkap mesoderma dan ektoderma. Lapisan-lapisan
tersebut kemudian bersatu di bagian atas dan membentuk kantung yang
berdinding 2 lapis dan menyelubungi embrio. Kantung amnion terbentuk pada
hari ke-13 hingga 16 setelah fertilisasi. Cairan amnion jernih mukoid (urin +
mekonium) dihasilkan oleh dinding amnion dan kulit tubuh embrio sebagai
bantalan pelindung terhadap goncangan dari luar dan tekanan dari luar dan
tekanan dari badan nduk yang ada di sekitarnya dan mencegahnya bertautan kulit
embrio dengan lapisan yang menyelubunginya (Gilbert, 2000).
Menurut Pereira et al (2011), pembentukan amnion di mulai dari sebuah
lipatan amniochorionic ektoderm dan epiblast selama awal gastrulasi oleh
akumulasi dari mesoderm ekstra embrionik streak primitiva. Pembentukan
exocoelom dalam lipatan amniochorionic tampaknya tidak melibatkan apoptosis
dalam mesoderm. Lipatan amniochorionic dan exocoelom berkembang tanpa

mengganggu persimpangan anterior epiblast, ektoderm dan endoderm viseral


ekstra embrionik.
Seperti pada amnion, chorion juga berasal dari lapisan somatopleura.
Pembentukannya bermula dari pelipatan somatopleura ke arah dorsal embrio kirikanan, lalu bertemu di dorso-median dan bersatu hingga terbentuk suatu kantung
yang lengkap menyelaputi embrio. Rongga di dalam kantung chorion disebut
rongga chorion. Rongga ini berisi cairan yang berfungsi untuk memudahkan gerak
tumbuh embrio dan untuk melindung embrio dari tekanan atau gangguan fisik
serta kimia. Selain itu, chorion juga membantu embrio untuk mudah terendam
dalam cairan amnion itu (Gilbert, 2000).
Allantois merupakan suatu kantung yang terbentuk sebagai hasil
evaginasi bagian ventral usus belakang pada tahap awal perkembangan. Allantois
berasal dari splangnikpleura, yaitu lapisan rangkap mesoderma dan endoderma.
Allantois mulai berkembang setelah embrio berumur 23 hari. Seiring pertambahan
usia embrio, alantois relatif memendek dan mengisi ruang di antara amnion dan
chorion (Gilbert, 2000).
Kantung kuning telur (saccus vitellinus atau yolk sac) merupakan bagian
dari usus primitive, tetapi tidak termasuk bagian dari tubuh yang berasal dari
embrio yang akan membentuk usus. Kantung kuning telur berasal dari lapisan
spangnikpleura, yaitu lapisan rangkap mesoderma dan endoderma. Saat embrio
melipat, tangkai kuning telur berkembang memanjang di bawah menuju kantung
kuning telur untuk memberi nutrisi makanan kepada embrio. Ketika seluruh tubuh
embrio menjorok ke dorsal, kepala ke anterior dan ekor ke posterior, terjadi
pelipatan splangnik mesoderm bersama endoderm pada daerah midgut

(Splangnopleura). Pelipatan ini mengakibatkan terbentuknya 2 daerah coelum,


yaitu coelum intra-embrional dan coelum extra embrional (Gilbert, 2000).

Gambar 1. Pembentukan Membran Ekstra Embrional Ular


Masing-masing dari empat membran utama yang menyokong embrio ular
merupakan lembaran sel-sel yang berkembang dari lembaran epithelium yang
berada di sisi luar proper embrio. Membran tersebut memiliki peran dan fungsi
masing-masing. Kantung kuning telur akan mencerna kuning telur sehingga
pembuluh darah yang berkembang di dalam membrane itu akan membawa nutrien
ke dalam embrio. Amnion membungkus embrio dalam kantung yang penuh cairan

sehingga melindungi embrio dari kekeringan, dan bersama-sama dengan chorion


menyediakan bantalan bagi embrio agar terlindung dari setiap guncangan
mekanis, mencegah perlekatan embrio dengan selaput ekstra yang lain (Huettner,
1961).
Alantois berada memanjang ke dalam coelom ekstraembrionik, fungsinya
adalah sebagai kantung pembuangan untuk asam urat, yaitu limbah bernitrogen
yang tidak larut dari embrio. Sementara alantois terus mengembang, alantois
menekan chorion ke membran vitelin dan alantois bersama dengan chorion
membentuk organ respirasi yang melayani embrio. Pembuluh darah yang
terbentuk dalam epithelium alantois mengangkut oksigen ke embrio. Sementara
itu, fungsi dari chorion atau serosa adalah untuk transportasi nutrisi dan gas dari
induk ke fetus, sebagai barrier terhadap agen asing mikroorganisme, zat kimia dan
lainnya (Huettner, 1961).

Gambar 2. Membran Ekstra Embrional Ular

III. KESIMPULAN

Berdasarkan tujuan dan hasil pembahasan maka dapat diambil


kesimpulan sebagai berikut:
1. Membran ekstra embrional adalah membran atau selaput seluler yang dibentuk

bersamaan dengan perkembangan embrio dan berperan penting dalam


perkembangaan embrio tetapi tidak menjadi bagian tubuh organisme pada
periode setelah kelahiran ataupun penetasan
2. Membran ekstra embrional pada ular berjumlah 4, yaitu amnion, chorion,
allantois dan yolk sac atau saccus vitellinus.
3. Amnion berfungsi untuk pelindung fetus ular terhadap kekeringan, penawar
goncangan, pengaturan suhu intra uterus, dan anti adhesi. Chorion berfungsi
sebagai pertukarangas. Allantois berfungsi sebagai tempat penampungan sisa
metabolisme. Yolk sac atau saccus vitelinus berfungsi sebagai suplai nutrisi
bagi fetus ular.
4. Amnion dan chorion berkembang dari somatopleura yang mengalami
invaginasi. Sedangkan allantois dan yolk berkembang dari splanknopleura
yang mengalami evaginasi.
5. Pisces hanya memiliki satu membran ekstra embrional yaitu yolk. Aves dan
reptile memiliki 4 membran extra embrional, yaitu amnion, chorion, allantois
dan yolk sac. Mamalia memiliki 5 membran ekstra embrional, yaitu amnion,
chorion, allantois , yolk sac dan plasenta.

DAFTAR REFERENSI

Djuanda, T. 1981. Embriologi Perbandingan. C.V. Armico, Bandung.


Gilbert, S.E. 2000. Developmental Biology 6th edition. Sinauer Associates Inc.
Publisher. Sunderland.
Huettner, A.F. 1961. Fundamentals of Comparative Embryology of The
Vertebrates. The Mc Millan Company, New York.
Pereira et al. 2011. Amnion Formation in The mouse embryo: The single
Amniochorionic Fold Model. BMC Developmental Biology 2011, 11:48.
Radiopoetro. 1996. Zoologi. Erlangga, Jakarta.
Soeminto. 2000. Embriologi Vertebrata. Unsoed : Purwokerto.
Sumantadinata, K. 1981. Pengembangbiakan Ikan-Ikan Pemeliharaan di
Indonesia. Sastra Budaya, Bogor.
Ville, et al. 1988. General Zoology. W. B. Saunders Company, Philadelphia.