Anda di halaman 1dari 14

STATUS PSIKIATRI

I.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. W

Tempat dan tanggal lahir

: Bandung/ 18 -4 - 1987

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Usia

: 26 tahun

Agama

: Islam

Suku

: Sunda

Pendidikan

: SMP

Pekerjaan

: Tidak ada

Status Pernikahan

: Menikah (telah bercerai sejak 3,5 tahun yang lalu)

Alamat

: Kp. Rancakalong RT 04/ RW 04


Kel/ Desa Cibeunying
Kec. Cimenyan
Kab. Bandung

Tanggal Masuk RS

: 8 April 2014

No. Rekam Medis

: 049332

II. RIWAYAT PSIKIATRI


Data diperoleh dari :

Autoanamnesis pada tanggal 15 April 2014

Alloanamnesis dari :
1. Ny. TS selaku ibu kandung pasien (ibu rumah tangga) diwawancarai pada tanggal
15 April 2014.

Catatan Rekam Medik.

A. Keluhan Utama
Mengejar orang dengan pacul.
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Sejak 1 hari SMRS, pasien mengejar orang dengan pacul tanpa penyebab yang
jelas. Pasien juga mengamuk, marah-marah (agresivitas verbal) dan curiga (paranoid)
kepada setiap orang. Pasien curiga bahwa setiap orang ingin membunuhnya
1

(paranoid). Dia mendengar banyak suara yang mengatakan akan membunuh dia
(halusinasi auditorik).
Sejak 1 minggu SMRS, pasien sering sedih dan menyendiri (depresi) karena
tidak ada teman mengobrol. Dia merasa bersalah, gelisah dan suka bicara sendiri
(autistik). Pasien suka melamun dan marah-marah secara tiba-tiba. Pasien meresahkan
warga karena merusak masjid dan mondar-mandir di jalan (autistik). Dia merasa
orang lain membicarakan dia dan dia merasa binatang bisa bicara (halusinasi
auditorik). Pasien sulit tidur (insomnia) karena suka mengkonsumsi kopi dan rokok
dalam jumlah yang banyak.
Sejak 3,5 tahun SMRS, pasien mulai suka berbicara sendiri (autistik) dan
curiga

(paranoid)

kepada

setiap

orang,

bahwa

mereka

berencana

untuk

membunuhnya. Gejala tersebut mulai muncul sejak ia menikah dan bercerai dengan
istrinya (dalam waktu yang singkat). Keluarga dari pihak wanita tidak menyetujui
anaknya hidup bersama dengan pasien. Gejalanya mulai bertambah sering ketika
keluarga dari pihak wanita tidak setuju bahwa pasien bertemu dengan anaknya.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
1. Riwayat Gangguan Psikiatri
Sepuluh tahun yang lalu, pasien pernah berobat jalan ke Riau 11 secara rutin.
Pasien lebih suka menyendiri dan merasa minder sewaktu SMA karena kakak
angkatnya (teman dekatnya yang suka mendengarkan cerita dan masalahnya) pindah
ke sekolah lain. Pasien juga suka curiga dengan teman-temannya. Pasien diberi obat
haloperidol, trihexylfenidil, amitriptilin dan CPZ. Setelah berobat jalan, pasien merasa
lebih baik dan dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lancar. Pasien juga
bekerja sebagai buruh bangunan waktu itu.
2. Riwayat Gangguan Medis
Pasien pernah mengalami trauma kepala pada umur 9 tahun sampai muntahmuntah. Pasien dirawat di RS. Hasan Sadikin sampai 6 bulan. Setelah 6 bulan,
keadaan pasien membaik dan pulih seperti semula.
3. Riwayat Penggunaan Alkohol dan Zat lain
Pasien merokok sejak SMA. Pasien tidak pernah minum alkohol dan obatobatan terlarang.
D. Riwayat Kehidupan Pribadi.
1. Riwayat perkembangan fisik dan kepribadian
2

Masa Prenatal dan Perinatal


Kondisi ibu pada saat mengandung pasien dalam keadaan sehat, tidak pernah

mengalami masalah emosional yang bermakna, penyakit fisik yang serius, dan tidak
mengkonsumsi obat-obatan. Pasien lahir cukup bulan dengan berat badan yang cukup
dan langsung menangis. Kelahirannya ditolong oleh bidan dan lahir spontan. Proses
kelahiran normal dan tidak ada komplikasi saat melahirkan.

Masa Kanak Awal (0-3 tahun)


Pertumbuhan dan perkembangan pasien normal. Pasien mulai bisa berjalan

pada umur 12 bulan dan dapat berbicara 1 kata pada umur 13 bulan. Pasien diberikan
ASI eksklusif sampai umur 2 tahun.

Riwayat Masa Kanak Pertengahan (3-11 tahun)


Pada masa ini pasien tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lain. Pasien

juga bermain dengan teman-temannya. Pasien termasuk anak yang ceria. Mulai dari
TK sampai SD, pasien tidak pernah tinggal kelas. Prestasinya cukup baik di kelas.
Semasa kecil pasien tidak dimanja, tidak semua keinginan pasien dapat langsung
dipenuhi orang tua karena tuntutan ekonomi.

Riwayat Masa Kanak Akhir dan Remaja


Pada waktu SMA, pasien mulai merokok. Menurut guru dan teman-temannya,

pasien termasuk anak yang baik, sehingga waktu kelas 2 SMA dia tetap dinaikkan
karena perilakunya. Namun, setelah itu pasien tampak lebih suka menyendiri karena
teman dekatnya pergi dan minder kepada teman-temannya karena dia suka curiga
yang berlebihan.

Riwayat Masa Dewasa


Pasien emosinya labil. Pasien suka berbicara sendiri dan merasa sedih karena

tidak bisa bertemu dengan anaknya. Setelah itu, dia bisa marah dan mengatakan
bahwa semua orang berkeinginan untuk membunuhnya.
2.

Riwayat Pendidikan
Mulai dari TK sampai dengan kelas 2 SMA, pasien dikenal sebagai anak yang
baik, ramah, periang dan mudah bergaul. Prestasinya cukup baik namun mulai
merosot ketika SMA.

3. Riwayat Pekerjaan.
Pasien pernah bekerja sebagai buruh bangunan setelah SMA. Kemudian
setelah menikah, pasien mulai sakit kembali dan akhirnya tidak bekerja.
3

4. Riwayat Agama
Pasien beragama Islam dan taat beribadah. Setelah gejalanya mulai timbul
kembali, pasien jarang beribadah.
5. Kehidupan sosial dan perkawinan
Pasien diminta menikah secara paksa oleh keluarga dari pihak wanita untuk
menutupi aib, karena mantan istri pasien sudah hamil duluan di luar nikah dengan
orang lain. Mereka hanya kenal 1 bulan lewat telepon. Setelah itu, pasien dipaksa oleh
pihak keluarga untuk menikahinya karena mantan istrinya menunjukkan foto pasien
ke keluarganya.
Orang tua dari pihak wanita tidak setuju bahwa anaknya hidup bersama
dengan pasien karena alasan pasien tidak bekerja dan keluarga dari pihak wanita tidak
dapat menerima penyakitnya.
6. Riwayat Pelanggaran Hukum
Pasien belum pernah melakukan tindakan yang melanggar hukum selama ini.
E. Riwayat Keluarga
Pasien adalah anak pertama dari 2 orang bersaudara. Tinggal dengan orang
tua, adik dan adik iparnya. Ayah berumur 51 tahun dan bekerja sebagai buruh harian
lepas. Ibu berumur 48 tahun sebagai ibu rumah tangga. Adik perempuannya berumur
24 tahun sebagi ibu rumah tangga dan adik iparnya berumur 24 tahun sebagai buruh.
Bibi dari pihak ayah ada yang mengalami gangguan jiwa dan sudah
meninggal. Ibu pasien tidak mengetahui penyakitnya.

Keterangan :
: Wanita

: Keluarga dengan gangguan jiwa.

: Pria

: Keluarga yang tinggal serumah

: Pasien

bersama pasien.
: sudah meninggal

F.

SITUASI KEHIDUPAN SEKARANG


Pasien tinggal di rumah bersama kedua orangtuanya, adik, adik ipar, dan
keponakannya. Keadaan perekonomian keluarga kurang baik, hampir sebagian besar
bekerja sebagai buruh dan ibu rumah tangga. Hubungan dengan keluarga baik,
hubungan dengan tetangga menjadi tidak harmonis karena dia suka mengamuk dan
mondar mandir di jalan. Aktivitas sehari-hari terganggu, makan menjadi lebih sedikit
dan sulit tidur.

G. Persepsi dan Harapan Keluarga


Menurut ibu kandungnya, keluarga memaklumi pasien yang sering mengamuk
dan curiga kepada setiap orang. Namun, setelah pasien mengejar orang dengan pacul,
keluarga pasien merasa membutuhkan bantuan untuk pasien, agar kejadian
mencelakakan orang lain tidak terjadi. Keluarga pasien berharap agar pasien cepat
sembuh dan cepat pulang. Ibu pasien bahkan ingin menjenguk pasien setiap harinya.

H. Persepsi dan Harapan Pasien


Pasien merasa dirinya dibawa ke RSJ Provinsi Jawa Barat karena mendengar
banyak suara yang mengatakan akan membunuh dia. Namun, setelah dirawat pasien
merasa lebih tenang dan tidak menghiraukan suara-suara tersebut.

STATUS MENTAL

A. Deskripsi Umum

Penampilan : Seorang laki-laki, perawakan sesuai dengan usianya, kulit sawo


matang, rambut hitam, kuku kotor, perawatan diri baik.

Kesadaran

Kesadaran sensorium/ neurologik: Compos Mentis


5

Kesadaran psikiatrik: Tidak tampak terganggu

Perilaku dan Aktivitas Psikomotor :


Sebelum wawancara: pasien tampak sedang berbincang dengan perawat
Selama wawancara: pasien fokus dalam menjawab pertanyaan
Sesudah wawancara: pasien kembali berbincang dengan perawat yang ada di
ruangan.

Sikap terhadap Pemeriksa : kooperatif

Pembicaraan: Spontan, lancar, lantang, intonasi baik dan artikulasi jelas.

B. Alam Perasaan (emosi)

Suasana perasaan (mood): eutimik

Afek ekspresi afektif


Arus

: cepat

Stabilisasi

: stabil

Kedalaman

: dalam

Skala diferensiasi: luas


Keserasian

: serasi

Pengendalian impuls: kuat


Ekspresi

: wajar

Dramatisasi

: tidak ada akting emosional

Empati

: tidak dapat dinilai

C. Gangguan Persepsi
Halusinasi

: halusinasi visual (-), halusinasi auditorik (+): pasien merasa

mendengar banyak suara yang mengatakan ingin membunuhnya, halusinasi


gustatorik (-), halusinasi taktil (-), halusinasi olfaktorik (-).
Ilusi

: tidak ada

Depersonalisasi

: tidak ada

Derealisasi

: tidak ada

D. Sensorium dan kognitif (fungsi intelektual)

Taraf pendidikan

: sesuai dengan tingkat pendidikan/ akademik

Pengetahuan umum

: luas
6

Kecerdasan

Konsentrasi dan kalkulasi : baik, pasien tahu perkalian 2x5

Orientasi
-

waktu

: rata-rata

: baik, pasien dapat membedakan pagi, siang, dan


malam.

Tempat

: baik, pasien dapat menyebutkan alamat rumahnya

Orang

: baik, pasien dapat mengenali siapa yang memeriksanya

Daya Ingat :
-

Jangka Panjang

: baik, pasien dapat mengingat kembali tempat


dan tanggal lahirnya.

Jangka Pendek

: baik, pasien mengingat menu makanan yang disajikan

kemarin
-

Jangka Segera

: baik, pasien dapat menghitung angka 1,3,4,5

Gangguan

: tidak ada

Pikiran abstraktif

: pasien mengetahui peribahasa air susu dibalas dengan

air tuba

Kemampuan visuospasial : baik, pasien dapat menggambar segi lima dengan baik,
dan dalam melakukan aktivitas di ruangan tidak mengalami kesulitan.

Kemampuan menolong diri sendiri: pasien bisa makan, mandi sendiri

E. Proses Pikir
Bentuk pikir :
Produktivitas : Pasien menjawab pertanyaan secara spontan dan berpikir
cepat.
Kontinuitas

: relevan

Hendaya bahasa: koheren


Isi pikir : waham kejar (delusion of persecution) merasa orang lain berkomplot
untuk mencelakai atau bermaksud buruk padanya, waham kendali (-), waham
kebesaran (-), waham nihilistik (-), thought broadcasting (-), thought insertion (-),
thought withdrawal (-).

F. Pengendalian Impuls
Baik. Pasien dapat mengendalikan impuls agresivitas dan perilaku psikososial yang
bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.
G. Daya Nilai dan Tilikan

Daya Nilai Sosial

: baik. Pasien di bangsal tidak terlihat agresif ataupun marah-

marah, baik berhubungan dengan petugas ataupun dengan sesama pasien di


bangsal.

Uji Daya Nilai

: baik. Pasien bila menemukan dompet di jalan yang ada alamat

pemiliknya, pasien mengembalikannya sesuai alamat yang tertera.

Penilaian daya realita (RTA) : terganggu, dengan adanya waham kejar

Tilikan : Tilikan derajat 1, pasien dengan sukarela dibawa ke RSJ Provinsi Jawa
Barat untuk mencari pasangan yang baru.

H. Taraf Dapat Dipercaya

Secara umum pasien dapat dipercaya.

lV. PEMERIKSAAN FISIK


A. Status Internus

Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Kompos mentis

Tanda-tanda Vital

: TD

: 130/80 mmHg

Frekuensi Nadi : 78 x/menit


Frekuensi Nafas : 22 x/menit
: 36 oC

Suhu

Bentuk tubuh

: Kurus

Mata dan THT

: Dalam batas normal

Mulut dan gigi

: Dalam batas normal

Thorax

: Cor-Pulmo Dalam batas Normal

Abdomen

: Dalam batas normal

Ekstremitas

: Dalam batas normal.

B. Status Neurologik
Tanda Rangsang Meningeal

: Negatif

Tanda-tanda efek ekstrapiramidal


8

V.

- Tremor tangan

: negatif

- Akatisia

: negatif

- Bradikinesia

: negatif

- Cara berjalan

: normal

- Keseimbangan

: baik

- Rigiditas

: negatif

Motorik

: baik

Sensorik

: baik

Pemeriksaan Penunjang

Hasil pemeriksaan laboratorium cek darang lengkap dalam batas normal.


Hb

: 15,3 g/dl

Leukosit

: 12. 600/ mm3

LED

: 8 mm/jam

SGOT

: 38,9 IU/ L

SGPT

: 37,3 IU/ L

VI. IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA


Telah diperiksa, seorang laki-laki berumur 26 tahun, beragama Islam, belum
menikah dan tidak bekerja. Dari hasil anamnesa dengan pasien dan keluarga pasien
didapatkan bahwa pasien sering mendengar bisikan yang ingin membunuh pasien.
Pasien mudah mengamuk, bicara sendiri, emosinya labil sehingga pasien tiba-tiba merasa
sedih dan ingin menyendiri.
Waktu pasien berumur 9 tahun, pasien pernah mengalami trauma kepala dan
berobat jalan di RS. Hasan Sadikin selama 6 bulan. Setelah berobat jalan, kondisi pasien
membaik dan tidak terlihat adanya kelainan.
Sepuluh tahun yang lalu, pasien sempat berobat jalan di RSJ Riau dan
diberikan obat risperidon, trihexylfenidil, dan CPZ karena perilakunya berubah menjadi
lebih senang sendiri dan suka curiga terhadap orang orang lain. Pasien minum obat
secara teratur dan kondisinya semakin membaik.

Berdasarkan riwayat kehidupan pribadi, pasien dari kecil merupakan anak


yang ceria dan mudah bergaul dengan orang lain. Setelah masuk SMA, pasien merasa
kesepian karena teman dekatnya pindah ke sekolah lain.
Pada pemeriksaan status mental didapatkan, pasien seorang laki-laki yang
penampilannya sesuai dengan usianya, warna kulit sawo matang, dan perawatan diri
cukup baik. Dari hasil wawancara, pasien kooperatif namun tidak menyadari bahwa
dirinya sakit.

VI. FORMULASI DIAGNOSTIK


Berdasarkan anamnesis riwayat perjalanan penyakit dan pemeriksaan, pada
pasien ini ditemukan adanya pola perilaku, pikiran, dan perasaan yang secara klinis
bermakna dan menimbulkan suatu penderitaan (distress) dan hendaya (disability) dalam
fungsi pekerjaan dan sosial. Dengan demikian berdasarkan PPDGJ III dapat disimpulkan
bahwa pasien ini mengalami suatu gangguan jiwa.
Berdasarkan anamnesis riwayat penyakit medis , pasien pernah mengalami
trauma kepala yang secara fisiologis dapat menimbulkan disfungsi otak sebelum
menunjukkan gejala gangguan jiwa. Namun, setelah dilakukan observasi, tidak
ditemukan kelainan pada kepala pasien, sehingga gangguan mental organik dapat
disingkirkan
(F 00-09).
Pasien mulai merokok sejak kelas 2 SMA, tidak pernah minum alkohol dan
menggunakan obat-obat terlarang. Pada waktu SMP belum terlihat adanya gangguan
dalam kehidupannya sehari-hari, sehingga kemungkinan adanya gangguan mental dan
perilaku akibat penggunaan zat psikoaktif juga dapat disingkirkan (F 10-19).
Pada pasien ini ditemukan halusinasi dengar ( pasien mengaku mendengar
suara yang merencanakan ingin membunuhnya dan bicara sendiri menurut pengakuan
keluarga) yang sudah berjalan selama 3,5 tahun, senang menyendiri dan curiga kepada
orang lain sejak 10 tahun yang lalu, sehingga berdasarkan PPDGJ III ditegakkan
diagnosis untuk Aksis I adalah F 20.0 Skizofrenia paranoid
Pada axis II, tidak ditemukan gangguan kepribadian pada pasien sejak kecil.
Pada Axis III, pasien mengalami trauma kepala pada waktu berumur 9 tahun,
namun membaik setelah 6 bulan berobat jalan ke RS. Hasan Sadikin.

10

Pada Axis IV, masalah pendidikan yaitu pasien berhenti sekolah pada kelas 2
SMA karena merasa minder dengan teman-temannya. Dia selalu merasa curiga dan ingin
menyendiri karena teman dekatnya pindah ke sekolah lain. Masalah psikososial dan
lingkungan yaitu pasien bercerai dengan istrinya, tidak boleh bertemu dengan anaknya,
tidak boleh hidup bersama dengan istrinya oleh keluarga dari pihak wanita karena dia
tidak bekerja dan ada gangguan jiwa.
Pada Axis IV, Pasien termasuk GAF 70-61, beberapa gejala ringan dan
menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum masih baik.

EVALUASI MULTI AKSIAL


Aksis I :

skizofrenia paranoid. Kode diagnosa: 20.0


Diagnosis Banding : Gangguan skizoafektif tipe depresi
Gangguan depresi berat dengan gejala psikotik

Aksis II

tidak ada diagnosis

Aksis III : trauma kepala pada waktu berumur 9 tahun


Aksis IV : masalah pendidikan yaitu pasien berhenti sekolah pada kelas 2 SMA karena
merasa minder dengan teman-temannya. Dia selalu merasa curiga dan ingin menyendiri
karena teman dekatnya pindah ke sekolah lain. Masalah psikososial dan lingkungan yaitu
pasien bercerai dengan istrinya, tidak boleh bertemu dengan anaknya, tidak boleh hidup
bersama dengan istrinya oleh keluarga dari pihak wanita karena dia tidak bekerja dan
ada gangguan jiwa.
Aksis V

: GAF 70-61, beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam

fungsi, secara umum masih baik.


VII.
A.

DAFTAR MASALAH
Organobiologik : Terdapat dugaan peranan faktor genetik, yaitu anggota keluarga
yang mempunyai riwayat penyakit gangguan jiwa, yaitu bibi dari pihak ayah (ibu
kandung pasien tidak mengetahui penyakit yang dideritanya)
B. Psikologik: waham curiga karena pasien merasa orang lain ingin membunuhnya,
terdapat halusinasi dengar yaitu pasien mendengar suara-suara yang ingin
membunuh dia.
C. Lingkungan dan Sosioekonomi: pasien direndahkan oleh mantan mertuanya dan
dipisahkan dari istri serta anaknya.
11

IX. PROGNOSIS

Quo ad vitam

: bonam

Quo ad functionam

: ad malam

Quo ad sanationam

: ad malam

Onset

: usia muda

Presipitasi jelas
Onset

: insidious

Riwayat pramorbid buruk


Menarik diri, autistik
Cerai
Symptom negatif
Dukungan baik
X.

RENCANA PENATALAKSANAAN
A. Psikofarmaka
- Haloperidol 5 mg 1x1
- Amitriptilin 25 mg 3x1
R/ Haloperidol 5 mg tab No. XV
S 1 dd tab 1
---------------------------------R/ Amitriptilin 25 mg tab No. L
S 3 dd tab 1
----------------------------------B. Psikoterapi
Kepada pasien :
1. Terapi individual :

Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien mengenai penyakitnya


serta hal-hal yang dapat mencegah dan mencetuskan penyakit pasien
sehingga dapat memperpanjang remisi dan mencegah kekambuhan.

Memberikan informasi dan edukasi kepada pasien mengenai pentingnya


minum obat secara teratur, adanya efek samping yang bisa timbul dari
pengobatan ini, dan pengaturan dosis harus berdasarkan rekomendasi dokter.
12

Memberikan psikoterapi yang bersifat supportif pada pasien mengenai


kondisi penyakitnya, menggali dan memotivasi potensi dan kemampuan yang
ada pada diri pasien, dan kemampuan mengatasi masalah.

2. Terapi kelompok

Apabila kondisi pasien sudah lebih baik diberikan terapi aktivitas kelompok,
yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pasien dalam pengendalian
impuls saat memberikan respons terhadap stimulus dari luar, belajar
mengungkapkan komunikasi verbal dan mengekspresikan emosi secara sehat,
membantu pasien untuk meningkatkan orientasinya terhadap realitas dan
memotivasi pasien agar dapat bersosialisasi dengan sehat.

Terhadap Keluarga :
Memberi penjelasan yang bersifat komunikatif, informatif dan edukatif
tentang keadaan penyakit pasien dan suami pasien, sehingga bisa menerima
dan memahami keadaan pasien dan suami pasien, serta mendukung proses
penyembuhannya dan mencegah kekambuhan.

Memberi informasi dan edukasi kepada keluarga mengenai terapi yang


diberikan pada pasien pentingnya pasien dan suaminya kontrol dan minum
obat secara teratur.

Memberikan informasi dan edukasi kepada keluarga mengenai pentingnya


ekspresi emosi yang rendah dalam keluarga.

XII. DAFTAR PUSTAKA

1. Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa di Indonesia III. Cetakan Pertama,


Departemen Kesehatan RI Direktorat Jendral Pelayanan Medik, Jakarta, 1993.

2. Saddock B.J, Saddock V. A.. Edisi ke-2. Buku ajar psikiatri klinis kaplan and Sadock.
Jakarta: EGC; 2010.h. 147-68.

13

SKEMA PERJALANAN PENYAKIT

1. Sepuluh tahun yang lalu, pasien pernah berobat jalan ke Riau 11 secara rutin.
Pasien lebih suka menyendiri dan merasa minder sewaktu SMA karena kakak
angkatnya (teman dekatnya yang suka mendengarkan cerita dan masalahnya)
pindah ke sekolah lain. Pasien juga suka curiga dengan teman-temannya. Pasien
diberi obat haloperidol, trihexylfenidil, amitriptilin dan CPZ. Setelah berobat
jalan, pasien merasa lebih baik dan dapat menjalankan aktivitas sehari-hari
dengan lancar. Pasien juga bekerja sebagai buruh bangunan waktu itu.
2. Sejak 3,5 tahun SMRS, pasien mulai suka berbicara sendiri dan curiga kepada
setiap orang, bahwa mereka berencana untuk membunuhnya. Gejala tersebut
mulai muncul sejak ia menikah dan bercerai dengan istrinya (dalam waktu yang
singkat). Keluarga dari pihak wanita tidak menyetujui anaknya hidup bersama
dengan pasien. Gejalanya mulai bertambah sering ketika keluarga dari pihak
wanita tidak setuju bahwa pasien bertemu dengan anaknya.
3. Sejak 1 minggu SMRS, pasien sering sedih dan menyendiri karena tidak ada
teman mengobrol. Dia merasa bersalah, gelisah dan suka bicara sendiri. Pasien
suka melamun dan marah-marah secara tiba-tiba. Pasien meresahkan warga
karena merusak masjid dan mondar-mandir di jalan. Dia merasa orang lain
membicarakan dia dan dia merasa binatang bisa bicara. Pasien sulit tidur karena
suka mengkonsumsi kopi dan rokok dalam jumlah yang banyak.
4. Sejak 1 hari SMRS, pasien mengejar orang dengan pacul tanpa penyebab yang
jelas. Pasien juga mengamuk, marah-marah dan curiga kepada setiap orang.
Pasien curiga bahwa setiap orang ingin membunuhnya. Dia mendengar banyak
suara yang mengatakan akan membunuh dia.

14