Anda di halaman 1dari 25

TEH

THE (CAMELIA SIMENSIS)


Pemangkasan pada kebun Seedling
A.Pemangkasan indung ( centering )
Diameter batang 2-3 cm, tinggi lebih kurang 90 cm-1 m, dipotong dengan ketinggian 12-15 cm dari
tanah tujuan : tanaman mempunyai percabangan yang banyak.Mempertahankan tinggi tanaman dalam
bidang petik.
B.Pemangkasan bentuk
Setelah tanaman berumur - 2 tahun, panjang 40 cm dari permukaan tanah. Tujuan : membentuk
frame ( bidang petik ) yang melebar.
C.Pemangkasan meja
Ketinggian 60 cm dari permukaan tanah
D.Pemangkasan bersih
Dari ketinggian 140 cm menuju kembali ke pangkas meja (menghilangkan cabang cacing ). Dilakukan 4-5
kali sampai umur30-40 tahun
E.Pemangkasan leher akar
Pemangkasaan berat pada ketinggian 10 cm dari permukaan tanah dengan maksud untuk replanting.
Pemangkasasan kebun dari stek
Bibit stek ditanam tinggi 30-40 cm, setelah tumbuh sampai 60 cm, pucuk dipotong sehingga akan
mengeluarkan cabang dan tunas baru yang keluar sampai ketinggian 5 cm di atas bidang petik baru
dilakukan pemetikan ( ke pemangkasaan meja kembali )

F. PEMETIKAN
Adalah pemungutan hasil pucuk tanaman teh yang memenuhi syarat-syarat pengolahan.
1.Pemetikan jendangan
2.Pemetikan produksi
Pemetikan Jendangan

Pemetikan yang dilakukan pada tahap awal setelah tanaman dipangkas untuk membentuk bidang
petik yang lebar dan rata. Dimulai setelah 60 % areal kebun telah memenui syarat dijendang,. Dilakukan
6-10 kali petikan.
Pemetikan Produksi
Dilakukan terus menerus dengan daur petik tertentu dan jenis petikan tertentu sampai tanaman
dipangkas kembali.

Rumus Petik : Menggambarkan daun yang dipetik dan daun yang ditinggalkan , makin banyak
yang dipetik, Pemetikan makin kasar, makin tua semakin jelek kualitasnya. Satu cabang banyak yang
dipetik kualitasnya semakin rendah tetapi kuantitasnya semakin banyak.
RUMUS-RUMUS PETIK
Pemetikan Serakah
Yang dipetik pucik peko saja dan kualitasnya tinggi
Pemetikan titik emas/titik putih

Yang dipetik adalah :

+ 1

Yang dipetik

Yang ditinggalkan

P = Peko
K = Kepel
1 = Daun normal
Pemetikan Halus

P + 2/ K + 1 dan b + 1 / K + 1

Pemetikan Sedang

P + 2/ K + 1 dan P + 3 muda / K + 1 dan b + 1 / k + 1

Pemetikan Kasar

P + 3 / K + 1 dan b +1 / K + 1

Pemetikan Sangat Kasar

P + 4 / K + 1 dan b +1 / K + 1

PROSESING TEH
Teh Hitam : Warna hitam kecoklatan kualitas lebih baik, ekspor
Teh Hijau : Proses lebih sederhana, kualitas rendah, diperlukan sebagai bahan teh wangi.
Teh wangi, teh yang dicampur dengan bunga melati gambir (tajuk putih tangkai merah )
TAHAP PROSESING teh HITAM
1.Pelayuan
Dilakukan pada bak palayuan, panjang 3 m lebar 1 m tinggi 70 cm. Dasar bak berlubang, dari bawah
dialirkan uap panas akan menghasilkan pucuk layu seragam.
2.Penggilingan Penggulungan
Pemecahan sel-sel daun ( tidak menghancurkan daun ) hasil gilingan ditampung (1-3 ayakan )
Maksud pengayakan : teh homogen sehingga memudahkan fermentasi
3.Fermentasi
Dilakukan di rak fermentasi, 4-5 susunan. Hasil gilingan yang sama harus pada satu rak.
Tempat fermentasi Kotak fermentasi Mempengaruhi hasilnya
4.Pengeringan/penggorengan
Menghilangkan air sampai kering alatnya seperti mollen
5.Sortasi/pemilihan
Dipilih yang betul-betul seragam. Pucuk peko, warnanya seragam, aroma enak, ukuranya seragam
sebagai teh ekspor.
Penampungan teh

teh HIJAU

Diproses dari pemetikan kasar sampai sangat kasar, ada yang pakai pelayuan ada yang tidak,
penggilingan sederhana tidak memakai ayakan, pengilingan langsung dikeringkan, tanpa sortasi dibeli
oleh pabrik teh.

teh WANGI

teh jelek dipisah antara daun tua, muda dan ranting diproses dicampur bunga melati gambir.

KELAPA SAWIT (Elaeis guinensis Jacq)


PEMELIHARAAN TANAMAN BELUM MENGHASILKAN (TBM)
TBM : 2,5 tahun (tahun I, tahun II, tahun III : 6 bulan)
Pemeliharaan TBM meliputi:
A.Konsolidasi

Pemeriksaan situasi blok demi blok yang sudah ditanam untuk melihat kekurangannya, kemudian
memperbaikinya
B.Pemeliharaan jalan.

Pekerjaan peningkatan jalan terutama pengerasan perlu dilakukan karena frekuensi pemakainnya
akan meningkat terus (angkutan pekerja, pupuk dan sebagainya).
C.Penyisipan tanaman

Tanaman yang mati, rusak berat, sakit, abnormal perlu disisip/disulam segera.

D.Pemberantasan alang-alang

Dengan wiping (melap/menyapukan kain yang telah dicelup dengan racun): campuran minyak
tanah, solar, oli bekas.
E.Pemeliharaan piringan pokok

Piringan harus dibersihkan dari gulma Radius piringan

H.Kastrasi atau Ablasi

Pengebirian bunga jantan/betina muda pada TBM dilakukan sebulan sekali (dimulai umur 14
bulan, selama 10-12 bulan)
Kegunaan kastrasi:
a)

Merangsang pertumbuhan vegetatif; menghemat unsur hara

b)

Kondisi tanaman lebih bersih (mengurangi gangguan tikus)

c)

Kastrasi diikuti polinasi menyebabkan tandan lebih besar dan sempurna

d) Saat ini kastrasi untuk menghasilkan buah sudah ditinggalkan karena biaya besar sekarang
digunakan SPKS (Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit).
I.Penyerbukan (pollinasi)

Digunakan SPKS, kumbang Elaedobius kamerenicus

J.Pemberantasan Hama dan Penyakit

Kumbang tanduk, Belalang, Ulat Api, Penggerek bunga, Tikus, Babi Hutan, Gajah, Landak, Kera,
Penyakit Tajuk.

PEMELIHARAAN TANAMAN MENGHASILKAN


A.Pemeliharaan jalan, teras, parit dll
B.Pemberantasan gulma pada TM
C.Pemangkasan pelepah daun
Fungsi pemangkasan :
a.sanitasi, mencegah hama dan penyakit
b.memperlancar penyerbukan
c.mempermudah panen.
d.menciptakan kondisi kerja yang baik dengan pekerja.
Ada 2 sistem pemangkasan

songgo satu : umur kurang dari 10 tahun, pemotongan satu lingkaran dari tandan terbawah.

Songgo dua : umur kurang dari 10 tahun dilakukan sampai 2 lingkaran ditinggalkan atau dua
pelepah daun di bawah tandan matang tidak dipotong sedang selainnya yang berada di bawahnya harus
dibuang.
D.Konsolidasi dan inventarisasi
E.Penjarangan , sampai pada tahun 1971 kepadatan 143 148 dijarangkan menjadi 130 pohon/ha.
Varitas yang digunakan D X D dan T X D/ D X T . Saat ini D x P : 130 pohon/ha. Percobaan penjarangan
pada prinsipnya dilakukan sebagai berikut :
Selektip : abnormal, sakit, mati, ditumbang
Sistematis: menurut pola tertentu ada beberapa macam yaitu : 1/5 ; 1/6 ; 1/7 ; 1/8 ; 1/9
F.Pemupukan tanaman menghasilkan.
Teknik aplikasi, dosis, jenis pupuk dan lain-lain tergantung dari : jenis tanah, umur tanaman, tingkat
produksi yang dicapai, realisasi pemupukan sebelumnya, jenis pupuk yang akan dipakai, Tenaga kerja

yang tersedia, Keadaan penutup tanah, Analisa kadar hara daun. Jenis pupuk yang diberikan : N,P, K, Mg
dan Bmeliputi Urea, TSP, KCl/MOP, Kieserite dan Borax.
a)

Urea 2 2,5 kg/pohon/ha

b)

MOP (KCl) 2,5 3 kg/pohon/ha 2 X aplikasi

c)

Kieserite 1 1,5 kg/pohon/ha

d)

TSP 0,75 1 kg/pohon/ha

e)

Borax 0,05 0,1 kg/pohon/ha 2 kali aplikasi

1 kali aplikasi

Dilakukan di awal musim hujan (I), dan akhir musim hujan (II)

Cara pemberian:
v

Pupuk ditabur merata pada jarak 50 cm dari pokok

Pupuk P, K, Mg, ditabur 1 3 meter dari pokok

Pupuk B jarak 30 50 cm dari pokok.

PENGOLAHAN
Tandan buah segar menjadi CPO melalui proses :
a.Pengangkutan buah ke pabrik.

Buah segera diangkut ke pabrik. Buah yang tidak segera diolah akan menyebabkan Kandungan
asam lemak bebas (free fatty acid/ffa) tinggi. Untuk menghindari KALB, paling lambat 8 jam harus sudah
diolah. Buah diangkut dengan truk kemudian ditimbang lalu dimasukkan dalam lori perebusan dengan
kapasitas 2,5 ton/lori.
b.Perebusan

Buah direbus dengan mengalirkan uap panas selama 60 menit suhu 125o C dengan tekanan 2,5
atm .
Maksud perebusan:

Buah mudah dilepas dari tandannya

Membunuh enzim penstimulir pembentukan asam lemak bebas.

Daging buah lunak

Memudahkan inti lepas dari cangkang

Menambah kelembaban daging buah sehingga minyak mudah dikeluarkan.

c.Pelepasan buah dan pelumatan

Tandan yang telah direbus masuk ke mesin pelepas buah (threser), buah yang lepas/rontok
dibawa ke mesin pelumat (digester), sambil dilumat, buah diuapi supaya daging buah hancur dan lepas
dari bijinya (memudahkan proses pengeluaran minyak/ekstraksi). Tandan kosong menuju tempat
pembakaran (incinerator) digunakan sebagai bahan bakar. Sisa pembakaran diperoleh abu digunakan
sebagai pupuk kalium.
d.Pengeluaran minyak

Pengeluaran minyak dengan pengepresan (mesin pengepres type hydraulic) setelah daging buah
lumat kemudian dipres untuk dipisahkan dari ampasnya.
e.Pemurnian dan penjernihan minyak

Minyak dari mesin pengepres mengandung 45 % sampai 55 % air, Lumpur dan bahan-bahan
lainnya menuju ke tangki pemurnian (klarifikasi) akan diperoleh minyak murni 95 %, sisanya lumpur.

Minyak murni ditampung dalam tangki, dipisahkan dengan air yang masih terkandung di
dalamnya. Selanjutnya dilewatkan continuous vacuum drier sehingga diperoleh minyak dengan kadar air
kurang dari 0,1 %. Lumpur disaring masuk dalam tangki kemudian dipanasi lagi untuk dipisahkan dengan
kotorannya(klarifikasi)
f.Pemisahan biji dari sisa-sisa daging buah

Sisa pengepresan (ampas) masuk pada pembuangan sisa daging buah (depericarper). Pada proses
pemisahan biji dari sabutnya digunakan proses pengeringan dan penghembusan sehingga serat-serat
dan bahan bahan lain yang kering/ringan terhembus keluar (ditampung) sebagai bahan bakar ketel
uap.
g.Pengeringan dan pemisahan biji

Biji dari depericarper masuk dalam silo untuk dikeringkan. Biji yang kering intinya mengkerut
sehingga mudah lepas dari cangkangnya.

h.Pemisahan inti dari cangkangnya.

Prinsipnya perbedaan berat jenis antara inti dan cangkang, dengan cara mengapungkan biji dalam
larutan lempung (BJ 1,16) sehingga inti melayang dan cangkang mengendap di dasar. Alat pemisah
cangkang dari inti disebut hydrocyclone separator. Inti dibawa ke silo kemudian dikeringkan dengan

suhu 80o C . Inti kering dipak untuk diolah lebih lanjut. Cangkang digunakan sebagai bahan
bakar/pengerasan jalan/arang karbon aktif.

KELAPA (Cocus nucifera L)

Hasil

- Memungut Hasil
Umur

3 4 tahun genjah
6 7 tahun dalam
-+ 3 tahun hibrida

- Saat memetik
Buah berumur -+ 12 bulan
- Cara petik : Dipanjat, galah, kera
- Giliran petikan: 1 3 bulan sekali
- Banyak hasil

: 1.5 2 ton/ pohon/tahun

2. Menyimpan Buah Kelapa


Keuntungan

- Pengupasan lebih mudah


- Tempurung kerin
- Kandungan air putih lembaga
- Kualitas lebih baik

3. Pengolahan

Pengolahan Kopra
- Pengupasan sabut
- Membelah buah
- Mengeringkan
a. Panas Matahari

( Kopra )

b. Menggarang di atas api


c. Dengan udara yang dipanasakan

Minyak Kelapa
Pengolahan seerhana
Pengolahan cara modern
Pengolahan destilasi

Parutan Kelapa kering ( Dessicated coconut )


Potongan potongan kecil putih lembaga

Serat sabut kelapa


Serat Pintal, Serat Sikat

Arang Tempurung
Mengabsorbsi gas beracun

Nira dan gula kelapa


Nira : Memilih mayang perlakuan mayang, penyadapan gula kelapa : gula semut, gula merah

Nata de Coco
Air kelapa fermentasi bakteroi leukonostoc messenteroides

http://ahmadwantoha.blogspot.com/2012/03/teh.html

PERMASALAHAN HAMA Helopeltis sp PADA


TANAMAN TEH (Cammelia sinensis L.)
April 2, 2008 at 6:13 pm 9 komentar
Oleh: Dian A Yamin
PENDAHULUAN
Tanaman teh (Camellia sinensis L.) telah lama diusahakan orang sebagai tanaman perkebunan dan tersebar di
benua-benua Afrika, Australia, dan Asia termasuk Indonesia (Adisewejo, 1982). Teh merupakan bahan perdagangan
yang dikonsumsi oleh penduduk dunia. Kebiasaaan minum teh diduga berasal dari China yang kemudian
berkembang di Jepang dan Eropa (Wibowo et al., 1997). Sekitar sejuta ton teh dikonsumsi penduduk di seluruh
dunia, baik di negara yang menghasilkan teh maupun di negara yang harus mengimpor berpuluh-puluh maupun
beratus-ratus ton teh tiap tahun (Siswoputranto, 1978).
Persaingan perdagangan teh di pasar dunia merupakan tantangan bagi Indonesia untuk meningkatkan produksi teh
baik kualitas maupun kuantitasnya. Produksi teh di Indonesia ditinjau dari sentra produksi teh yang hampir menyebar
ke berbagai daerah, maka Jawa Barat memegang peranan penting dengan produksi yang tinggi dari areal yang
terluas. Daerah- daerah yang mengusahakan tanaman teh lainnya adalah Sumatera Utara, Jawa Tengah, Jawa
Timur, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, dan Lampung. Laju pertumbuhan areal penanaman setiap tahun
dari tahun 1984-1989 mencapai 3,2%. Hal ini tercermin dari perhatian pemerintah terhadap usaha pengembangan,
pembudayaan dan perluasan terhadap usaha teh hingga ke daerah lain ( Nazzarudin et al., 1996).
Luas lahan perkebunan teh yang semakin berkurang bukan menjadi penghambat untuk meningkatkan produksi teh.
Usaha peningkatan produksi teh masih dapat dilakukan yaitu dengan peremajaan. Nazzarudin et al.(1996),
mengatakan bahwa kunci keberhasilan pada semua pertanaman adalah perawatan yang baik dan teratur. Dengan
perawatan ini, tanaman akan tumbuh sehat, segar dan produksinya tinggi. Perawatan perkebunan teh harus
dilakukan sejak tanaman masih kecil, semenjak pembibitan. Perawatan tersebut meliputi pemupukan, pemangkasan,
pengendalian gulma, dan peremajaan. Setelah umur 40 tahun, usia kritis dari tanaman teh mulai berjalan.
Pertumbuhannya kurang baik dan daun yang dihasilkan lebih sedikit serta ukurannya lebih kecil. Untuk itu perlu
diadakan program peremajaan maupun rehabilitasi kebun berlangsung secara terus-menerus maka produktivitas
kebun teh diharapkan akan meningkat dengan kualitas yang baik serta biaya produksi yang rendah. Usaha
peremajaan kebun teh ini membutuhkan bahan tanaman dalam jumlah yang banyak dengan umur yang relatif sama
dan seragam.
Dalam usaha pengembangan dan peningkatan mutu hasil tanaman teh akan selalu dipengaruhi faktor-faktor yang
bersifat membatasi, antara lain serangan hama dan patogen. Menghadapi masalah hama dan patogen tidaklah
mudah, karena terbatasnya pengetahuan tentang pengendaliannya atau bilamana pengetahuan itu telah ada
namaun sarana dan prasarana belum ada. Tanaman mengalami sakit, tidak normal pertumbuhan dan
perkembangannyasehingga hasil tanaman mengalami penurunan.
Keadaan tanaman teh yang tidak sesuai dengan persyaratan tumbuh, penggunaan bibit atau klon-klon yang rentan
merupakan suatu predisposisi terjadinya serangan hama dan patogen pada tanaman teh di perkebunan. Hama dan
patogen tanaman teh merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi produksi tanaman teh.
ULASAN SEDERHANA
Kebiasaan minum teh sudah ada sejak dahulu. Adisewojo (1982) mengatakan pada abad ke-6 atau ke-7 di Tiongkok
air teh sudah umum diminum orang. Hal ini disebabkan selain sebagai minuman penyegat teh juga dapat dijadikan

sebagai obat. Nazarudin et al. (1993) mengatakan Menurut hasil penelitian yang dilakukan di Rusia dan Jepang ada
beberapa nilai nutrisi dan dan manfaat yang diperoleh dari teh yaitu sebagai berikut: Kaya akan vitamin dan terutama
thiamin dan riblofiravin yang dibutuhkan tubuh; membantu menguirangi kerapuhan dinding kapiler dari aliran darah
karena mengandung bahan polyphenol yang mempunyai vitamin P aktif; teh mempunyai kemampuan mengantisipasi
pengaruh yang merugikan karena aktivitas bakteri maupun basil sinteri.
Teh termasuk genus camellia yang memiliki sekitar 82 spesies, terutama tersebar di kawasan Asia Tenggara,orang
menduga bahwa tanaman teh berasal dari Cina, pertama kali masuk Indonesia tahun 1684, berupa biji teh dari
Jepang yang dibawa oleh seorang Jerman. Pada tahun 1826 tanaman teh berhasil ditanam melengkapi Kebun Raya
Bogor. Pada tahun 1910 mulai dibangun perkebunan teh disaerah simalungun, sumatera Utara (Wibowo, 1997).
Tanaman teh (Camellia sinensis) berasal dari daerah subtropis, karena itu di Indonesia teh lebih cocok ditanam di
daerah pegunungan. Tanaman teh termasuk tanaman perdu, jika ditanam jarang dan dibiarkan tumbuh maka akan
menjadi sebesar pohon buah-buahan. Di kebun-kebun perusahaan teh selalu ditanam dengan jarak yang rapat dan
berkali-kali dipangkas sehingga batang tanaman tetap rendah dan tidak lekas membesar ( adisewejo, 1982).
Pertumbuhan dan perkembangan tanaman teh dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Faktor lingkungan fisik terdiri dari
iklim dan tanah, sesdangkan faktor lingkungan biologi terdiri dari tanaman naungan dan gulma. Sebagai tanaman
yang berasaldari daerahy subtropis, maka tanaman teh di Indonesia menghendaki udara yang sejuk. Suhu udara
yang baik bagi tanaman teh adalah suhu harian yang berkisar antara 130-250 C yang diikuti oleh cahaya matahari
yang cerah dan kelembaban relatif pada siang hari tidak kurang dari 70%. Tanaman teh akan berhenti
perkembangannya apabila suhu dibawah 130 C dan diatas 300 C serta kelembaban relatif kurang dari 70% (Wibowo
et al, 1997). Opeke (1982) mengatakan bahwa curah hujan minimum yang diperlukan tanaman teh adalah 1.100
mm/tahun.
Faktor lingkungan fisik lainhnya yang mempengaruhi tanaman teh adalah tanah. Tanaman teh menghendaki tanah
yang subur, yang mengandung banyak makanan bagi tanaman. Tanaman teh menyukai tanah yang agak masam
dengan pH 5,5 (adisewejo, 1982), sedangkan untuk ketinggian tempat dari permukaan laut Opeke (1982)
mengatakan akan baik bila tumbuh dan berkembang pada ketinggian 1200-1800 m diatas permukaan laut, namun
menurut Wibowo et al. (1997) ketinggian tempat dari permukaan laut btidak menjadi faktor pembatas bagi
pertumbuhan tanaman teh, sepanjang iklim dan tanahnya serasi bagi tanamn teh. Oleh karena itu, kebun-kebun teh
di di daerah rendah memerlukan pohon pelindung. Salah satu maksud dari pohon pelindung ini ialah untuk
mempengaruhi suhu udara, agar suhu udara lebih rendah yang memungkinkan teh dapat tumbuh dengan baik.
Tanaman teh merupakan komoditas yag mempunyai nilai ekonomis tinggi. Apabila dikelola dengan baik dapat
dimanfaatkan sebagai pemasok devisa negara. Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk dapat memecu dan
meningkatkan produksi teh, namun dalam pelaksanaanya sering mengalami hambatan-hambatan. Salah satunya
adalah serangan hama dan patogen. Salah satu jhama tyang menyerang tanaman teh adalah helopeltis sp., bentuk
serangga dewasanya nyamuk, kepala berwarna hitam, bagian dada dan punggung berwarna hitam, merah atau
jingga, perut berwarna putih berselang hitam. Pada bagian punggung terdapat jarum atau tanduk. Mikung atau nimfa
berwarna kuning pucat. Telur berwarna putih dan diletakan pada bagian internodus (Wibowo et al., 1997). Pracaya
(1991) menambahkan hama Helopeltis sp. memiliki panjang tubuh 7-9 mm dan lebar 2 mm, mempunyai kaki yang
panjang dan antena yang sangat panjang. Serangga ini mempunyai tipe metamorfosis tidak lengkap. Telur serangga
ini mempunya panjang 1,5-2,0 mm berbentuk seperti tabung tetapi sedikit bengkokdengan tutup yang bulat dan
berambut pada bagian ujungnya. Telur dimasukan satu-satu dalamjaringan tanaman yang lunak sehingga hanya
tutup dan rambut saja yang terlihat dari luar. Nimfa yang telah selesai perkembangannya memiliki panjang tubuh 7
mm dengan antena yang panjangnya melebihi panjang tubuhnya. Hellopeltis betina bisa hidup sampai 6-10 minggu
danbertelur sebanyak 30-60 butir, pada beberapa jenis dapat bertelur sampi 500 butir.
Menurut Wibowo et al. (1997) bagian yang terserang adalah pucuk daun teh dan ranting-ranting muda serta daun
muda. Bagian yang terserang berbecak cokelat kehitaman, dan pada awalnya becak itu tembus pandang, kemudian

kehitaman, dan akhirnya mengering. Hal ini disebabkan serangga dewasa (indung) dan nimfa (mikung) menyerang
pucuk, daun muda, dan internodus dengan cara menusukan stilet-nya. Bagian daun yang terserang akan menjadi
kering and mengkriting, sedangkan pada serat berat ranting dapat menjadi kanker cabang.

TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN TEH

Morfologi Tanaman Teh

Tanaman teh merupakan tanaman subtropis yang sejak lama telah dikenal dalam peradaban
manusia.Penanaman botani tanaman ini memiliki sejarah sen-diri.
Dalam buku Species Plantarum, menamakan tanaman ini sebagai Thea sinensis. Kemudian, selama
bertahun-tahun, diperkenalkan dua nama ilmiah oleh para ahli botani, yaitu Camellia thea di India dan
Sri Lanka dan Cohen Stuart dari Indonesia menggunakan nama Camellia theiufera. Tetapi sekarang
terdapat ke-seragaman nama ilmiah untuk tanaman ini yaitu Camellia sinensis (L) yang di-perkenalkan
oleh O. Kuntze (Eden, 1956). Tanaman teh termasuk marga (genus) Camelia dari famili Theaceae.
Klasifikasi Tanaman Teh

Menurut Graham (1984), tanaman teh (Camellia sinensis) diklasifikasikan sebagai berikut.
Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Sub Kelas

: Dialypetalae

Ordo

: Clusiales

Familia

: Theaceae

Genus

: Camellia

Spesies

: Camellia sinensis

Syarat Tumbuh Tanaman Teh

Iklim untuk budidaya teh yang tepat yaitu dengan curah hujan tidak kurang dari 2.000 mm/tahun.
Tanaman memerlukan matahari yang cerah. Suhu udara harian tanaman teh adalah 13-25o
C.Kelembaban kurang dari 70%. Untuk media tanamnya jenis tanah yang cocok untuk teh adalah
Andasol, Regosol, dan Latosol. Namun teh juga dapat dibudidayakan di tanah podsolik (Ultisol), Gley
Humik, Litosol, dan Aluvia. Teh menyukai tanah dengan lapisan atas yang tebal, struktur remah,
berlempung sampai berdebu, dan gembur. Derajat kesamaan tanah (pH) berkisar antara 4,5 sampai 6,0.
Berdasarkan ketinggian tempat, kebun teh di Indonesia dibagi menjadi tiga daerah yaitu dataran rendah
sampai 800 m dpl, da-taran sedang 800-1.200 m dpl, dan dataran tinggi lebih dari 1.200 m dpl. Perbedaan ketinggian tempat menyebabkan perbedaan pertumbuhan dan kualitas teh. Ketinggian tempat
tergantung dari klon, teh dapat tumbuh di dataran rendah pada 100 m dpl sampai ketinggian lebih dari
1000 m dpl (Setyamidjadja, 2000).
Persiapan Lahan

Persiapan lahan dimulai dengan pembongkaran tunggul-tunggul dan pohon sampai ke akar agar tidak
menjadi sumber penyakit akar. Lahan yang digunakan untuk penanaman baru dapat berupa hutan
belantara, semak belukar atau lahan pertanian lain, yang telah diubah dan dipersiapkan bagi tanaman
teh. Secara umum urutan kerja persiapan lahan bagi penanaman baru adalah sebagai berikut.
1.

Survey dan pemetaan tanah

Survey dan pemetaan tanah perlu dilakukan karena berguna dalam me-nentukan sarana dan prasarana
yang akan dibangun seperti jalan-jalan kebun untuk transportasi dan kontrol, pembuatan fasilitas air,
serta pembuatan peta kebun dan peta kemampuan lahan.
2.

Pembongkaran pohon dan tunggul

Pelaksanaan Pembongkaran pohon dan tunggul dapat dilakukan dengan tiga cara berikut.
a.
Pohon dan tunggul dibongkar langsung secara tuntas sampai keakar-akarnya, agar tidak menjadi
sumber penyakit akar bagi tanaman teh.
b. Pohon dapat dimatikan terlebih dahulu sebelum dibongkar dengan cara pengulitan pohon (ring
barking), mulai dari batas permukaan tanah sampai setinggi 1m. setelah 6-12 bulan, pohon akan kering
dan mati.
c.
Pohon dimatikan dengan penggunaan racun kimia atau aborosida seperti Natrium arsenat atau
Garlon 480 P. Pada cara ini kulit batang dikupas berkeliling selebar 10-20cm, pada ketinggian 50-60 cm
dari atas tanah, kemudian diberikan racun dengan dosis 1,5 g/cm lingkaran batang. Pohon akan mati
setelah 6-12 bulan, yaitu setelah cadangan pati dalam akar habis. Batang ditebang pada batang leher
akar dan tunggul ditimbun sedalam 10 cm dengan tanah.
1.

Pembersihan semak belukar dan gulma

Setelah dilaksanakan pembongkaran dan pembuangan pohon, semak belukar dibabat, kemudian
digulung kemudian dibuang ke jurang yang tidak ditanami teh, atau ditumpuk di pinggir lahan yang akan
ditanami. Sampah tersebut tidak boleh dibakar karena pembakaran akan merusak keadaan teh,
membunuh mikroorganisme tanah yang berguna, dan akan membakar humus tanah, sehingga akan
menyebabkan tanah menjadi tandus. Pembersihan gulma dapat juga menggunakan bahan kimia yaitu
herbisida dengan dosis yang telah tercantum dalam merk dagang.
2.

Pengolahan tanah

Maksud pengolahan tanah adalah mengusahakan tanah menjadi subur, gembur dan bersih dari sisa-sisa
akar dan tunggul, serta mematikan gulma yang masih tumbuh. Areal yang akan ditanami dicangkul
sebanyak dua kali. Pencangkulan pertama dilakukan sedalam 60 cm untuk menggemburkan tanah,
membersihkan sisa-sisa akar dan gulma. Sedangkan pencangkulan kedua dilakukan setelah 2-3 minggu
pencangkulan pertama, dilakukan sedalam 40 cm untuk maratakan lahan.
3.

Pembuatan jalan dan saluran drainase

Setelah pengolahan selesai selanjutnya dilakukan pengukuran dan pematokkan. Ajir/patok dipasang
setiap jarak 20 m, baik kearah panjang maupun kearah lebar. Dengan demikian akan terbentuk petakanpetakan yang berukuran 20m x 20m atau seluas 400 m2.
Selesai membuat petakan selanjutnya pembuatan jalan kebun. Dalam pembuatan jalan kebun ini
hendaknya dipertimbangkan faktor kemiringan lahan serta faktor pekerjaan pemeliharaan dan
pengangkutan pucuk. Dengan demikian jalan kebun dibuat secukupnya, tidak terlalu banyak yang
menyebabkan tanah terbuang dan tidak terlalu sedikit sehingga menyulitkan pelaksanaan pekerjaan di
kebun (Darmawijaya, 1977).
Pembibitan

Tanaman teh dapat diperbanyak secara generative maupun secara vegetative. Pada perbanyakan
secara generative digunakan bahan tanam asal biji, sedangkan perbanyakan secara vegetative
digunakan bahan tanaman asal setek berupa klon.Biji yang baik ditandai dengan beberapa ciri, antara
lain:
a.

Kulit biji berwarna hitam dan mengkilap.

b.

Berisi penuh, dengan isi biji berwarna putih.

c.
Mempunyai berat jenis yang lebih besar dari pada air, sehingga apabila dimasukkan kedalam air
akan tenggelam.
d.

Mempunyai bentuk dan ukuran yang normal.

e.

Tidak terserang penyakit, cendawan ataupun kepik biji.

Biji yang dipungut untuk dijadikan benih adalah biji yang telah jatuh ke tanah, dikumpulkan secara
teratur setiap hari, benih yang digunakan adalah benih yang baik. Sebaiknya biji segera disemai karena
daya kecambah biji teh cepat menurun dan biji teh mudah menjadi busuk.
1.

Penyemaian biji

Persiapan lahan untuk persemaian harus dilaksanakan 6 bulan sebelum penyemaian benih. Tanah
dibersihkan dan dicangkul sedalam 30 cm, ke-mudian dibuat bedengan. Diantara bedengan dibuat
saluran drainase untuk membuang kelebihan air. Bedengan diberi atap naungan miring timur-barat
dengan sudut kemiringan 300. Pengecambahan biji dimaksudkan untuk memperoleh biji yang tumbuh
seragam dan serempak sehingga memudahkan pemindahannya ke persemaian bibit atau ke kantong
plastik.

2.

Pemeliharaan dipersemaian bibit asal biji

Untuk memperoleh bibit yang baik, yang tumbuh subur dan sehat serta terhindar dari gangguan hama
dan penyakit, bibit dipersemaian harus dijaga dengan baik.

Pemeliharaan bibit terdiri atas:


1.

Penyiraman

2.

Penyulaman

3.

Penyiangan

4.

Pemupukan

5.

Pengendalian hama dan penyakit

6.

Pengaturan naungan

3.

Pemindahan bibit ke lapangan

Setelah bibit berumur dua tahun, benih yang mempunyai ukuran lebih besar dari pensil, dapat
dibongkar untuk dipindahkan ke kebun.
Cara pembongkaran bibit adalah sebagai berikut:
a.

Dua minggu sebelum bibit dibongkar, batang dipotong setinggi 15-20 cm dari permukaan tanah.

b. Bibit dibongkar dengan cara mencangkul tanah disekitar bibit sedalam 60 cm, selanjutnya dicabut
dengan hati-hati, akar tunggang dan akar se-rabut yang terlalu panjang bisa dipotong.
c.
Bibit ini disebut bibit stump, yang sebaiknya ditanam segera pada hari itu juga di kebun yang telah
dipersiapkan.
d.

Bibit yang ukuran batangnya lebih kecil dari pensil sebaiknya tidak di-gunakan.

Pertanaman teh diarahkan pada cara memperoleh produksi yang tinggi dan mantap, sehingga
perusahaan perkebunan teh menjadi lebih efisien. Hal ini sulit dicapai apabila digunakan bahan tanam
asal biji. Karena biji merupakan hasil per-silangan yang dapat menimbulkan perubahan sifat pada
keturunannya.
Pembibitan menggunakan stek merupakan cara yang paling cepat untuk memenuhi kebutuhan bibit
dalam jumlah yang banyak, dan jenis klon yang di-tentukan dapat dipastikan sifat keunggulannya sama
dengan induknya. Untuk memperoleh hasil pembibitan setek berupa setek bibit yang baik, diperlukan
adanya perencanaan, persiapan, dan pelaksanaan yang baik dan tepat waktu.

Adapun lokasi untuk pembibitan, diantaranya:


1.

Lokasi terbuka, drainase tanah baik dan tidak becek.

2.

Dekat dengan sumber air, untuk keperluan penyiraman.

3.

Dekat dengan sumber tanah, untuk mengisi polibag.

4.

Lebih baik bila lahan melandai kearah timur, agar mendapat sinar matahari pagi.

5. Dekat dengan jalan agar memudahkan dalam pengawasan dan peng-angkutan ke lokasi yang akan
ditanami.
Media tanah untuk setek terdiri dari tanah lapisan atas (topsoil) dan lapisan bawah (subsoil). Syaratsyarat subsoil yang baik adalah mengandung liat yang relatif tinggi sehingga dapat menahan ataupun
menyerap air lebih lama, kan-dungan pasir tidak boleh lebih dari 30%, dan bahan organik maksimal 10%.
Serta pH ta-nah 4,5 5,6. Mengingat pentingnya penggunaan media yang steril untuk persemaian guna
untuk membantu terciptanya bibit yang sehat dan layak untuk dikem-bangkan. Karena suatu kondisi
media persemaian merupakan salah satu faktor dalam menentukan keberberhasilan ataupun kegagalan
bibit yang dihasilkan.
Tanah disimpan selama 4-6 minggu dalam bangunan penyimpanan, dan tanah harus tetap dalam
keadaan lembab. Setelah disimpan, ayaklah tanah menggunakan ayakan kawat yang berdiameter 1
cm. sebelum media tanah di-masukkan kedalam kantong plastik, terlebih dahulu dicampur dulu dengan
pupuk, fungisida dan tawas. Bahan campuran dan dosis untuk media tanah dapat dilihat pada Tabel 1.

Adapun pengambilan ranting stek atau stekres mulai dapat diambil 4 bulan setelah pemangkasan. Tanda
bahwa setekres matang ialah apabila pangkal stekres sepanjang 10 cm sudah menunjukkan warna
coklat. ranting dipotong dengan pisau tajam. Satu stek terdiri dari satu lembar daun dengan ruas
sepanjang 0.5 cm diatas dan 3-4 cm dibawah buku. Setek ditampung dalam satu tempat yang berisi air
bersih. Stek tidak boleh direndam lebih dari 30 menit. Dari satu ranting stek hanya digunakan bagian
tengahnya saja dan rata-rata diperoleh 3-4 stek yang baik untuk dijadikan bibit.
Tabel 1. Bahan Campuran untuk Media Tanam
No
Bahan Campuran
Dosis per m3 Tanah
Keterangan
Topsoil
Subsoil
1
2
3

4
5
6
TSP
KCl
Dithane
M 45/Manzate/Vandozep
Tawas
Vapam
Basamid

500 g
500 g
400 g

600 g
250 ml
150 g
300 g

1000 g
250 ml
150 g

Fumigan
Fumigan
Sumber: Setyamidjaja (2000).
Penanaman setek:
1. Satu hari sebelum setek ditanam, kantong plastik/polibag yang sudah berisi tanah disiram dengan
air bersih sampai cukup basah.

2. Setek dicelupkan dalam larutan Dithane M 45 0,2% selama 1 menit dan Atonik 0,025% selama 2
menit.
3. Setek ditanam dengan mengarah daun ke tangan si penanam. Arah daun miring ke atas dan tidak
boleh saling menutupi satu sama lain.
4.

Setelah itu disiram kembali dengan air bersih secara hati-hati agar setekan tidak goyah.

5.

Bedengan ditutup dengan sungkup plastik

6. Sungkup plastik ditutup selama 3-4 bulan tergantung pertumbuhan bibit, dan hanya dibuka untuk
keperluan pemeliharaan saja setelah itu segera ditutup kembali (setelah pemeliharaan selesai)
Langkah-langkah penanaman setek sebagai berikut:
1. Siapkan polibag berukuran 12cm x 25cm yang sudah berlubang agar memudahkan untuk
membuang kelebihan air.
2. Isi kantong plastik dengan media tanah yang sudah dibuat lebih awal dan telah matang. 1/3 bagian
diisi dengan tanah bawah dan 2/3 bagian diisi dengan tanah bagian atas.
3. Ambil setek teh yang sudah dipersiapkan dan memenuhi syarat selanjutnya ditanam dalam polibag
tersebut (Chasandoerjat, 1969).
Penanaman

Dalam penanaman, hal-hal yang harus diperhatikan adalah penentuan jarak tanam yang tepat,
pengajiran, pembuatan lubang tanam, teknik penanaman dan penanaman tanaman pelindung yang
diperlukan.
Menurut Puslitbun Gambung (1992), jarak tanam yang dianjurkan dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Jarak Tanam Teh
Kemiringan tanah
Jarak tanan
cm x cm x cm
Jumlah tanaman per ha
Keterangan
Datar 15%
1530%

> 30%
Batas tertentu
120 x 90
120 x 75
120 x 60
120x60x60
9.260
11.110
13.888
18.500
Baris tunggal lurus
Baris tunggal lurus
Kontur
Baris berganda

Pembuatan lubang tanam dilakukan 1-2 minggu sebelum dilakukan penanaman. Lubang tanam yang
dibuat tepat di tengah-tengah diantara dua ajir. Ukuran lubang tanamnya adalah:
1.

Untuk bibit asal stump biji: 30 cm x 30 cm x 40 cm.

2.

Untuk bibit stek dalam kantong plastik: 20 cm x 20 cm x 40 cm.

Ada dua kegiatan dalam proses penanaman, yaitu:


1.

Pemberian pupuk dasar

Pupuk dasar yang dianjurkan terdiri atas Urea 12,5 g + TSP 5 g + KCl 5 g per lubang. Apabila pH tanah
diatas 6, maka lubang tanam diberikan belerang murni (belerang cirrus) sebanyak 10-15 g per lubang.
2.

Cara penanaman

a.

Menanam bibit stump

Bibit stump biasanya ditanam pada umur 2 tahun. Bibit ditanam dengan cara dimasukkan ke dalam
lubang tanam, persis di tengah-tengah lubang, dengan leher akar tepat dipermukaan tanah. Selanjutnya

lubang tanam ditimbun dan dipadatkan dengan diinjak. Bibit tidak boleh miring dan tanah di sekitar
lubang tanam diratakan.
b.

Menanam bibit asal stek

Mula-mula kantong plastik disobek pada bagian bawah dan sampingnya untuk memudahkan
melepaskan bibit dari plastik. Ujung kantong plastik bagian bawah yang telah sobek ditarik keatas
sehingga bagian bawah kantong plastik terbuka . selanjutnya bibit dipegang dengan tangan kiri,
disanggga dengan belahan bambu, kemudian dimasukkan ke dalam lubang, sementara tangan kanan
menimbun lubang dengan tanah yang berada di sekitar lubang dengan menggunakan kored.
Adapun untuk penanaman pohon pelindung atau pohon naungan pertanaman teh terdiri atas pohon
pelindung sementara dan pohon pelindung tetap. Untuk dataran rendah dan sedang, pohon pelindung
sangat diperlukan oleh tanaman teh agar pertumbuhannya baik. Jenis jenis pohon pelindung, yaitu :
1.

Pohon pelindung sementara

Pohon pelindung sementara adalah pupuk hijau seperti Theprosia sp. Atau Crotalaria sp. Penanaman
pohon pelindung sementara dilakukan setelah penanaman teh selesai. Kebutuhan benih pupuk hijau
tersebut adalah 10 kg-12 kg/ha.
2.

Pohon pelindung tetap

Penanaman pohon pelindung tetap diutamakan untuk daerah dengan ketinggian kurang dari 1.000 m
dpl. Penggunaan pohon pelindung tetap bukan jenis Leguminoceae, ini tidak dianjurkan. Jenis pelindung
yang akan ditanam harus dipilih yang memenuhi persyaratan sebagai pelindung, yaitu memilki mahkota
yang baik, perakarannya dalam dan kuat, dan resistensinya terhadap serangan hama atau penyakit baik.

Agar pohon pelindung tetap berfungsi baik pada tanaman teh, pohon pelindung harus sudah dapat
melindungi tanaman teh pada saat tanaman teh berumur 2-3 tahun. Untuk itu, pohon pelindung
sebaiknya ditanam satu tahun sebelum dilakukan penanaman teh.

Pemeliharaan

1.

Pemeliharaan dan pemangkasan

Tanaman teh yang belum menghasilkan mendapat naungan sementara dari tanaman pupuk hijau
seperti Crotalaria sp. atau Theprosia sp. Namun sementara ini biasa ditanam selang dua baris dari
tanaman teh, dan pada umur sekitar enam bulan tingginya telah mencapai lebih dari satu meter. Agar
tanaman pupuk hijau ini tidak mengganggu pertumbuhan tanaman teh, perlu dilakukan pemangkasan.
Pemangkasan dilakukan pada tinggi 50 cm dan sisa pangkasan dihamparkan sebagai mulsa disekitar

tanaman. Pemangkasan tanaman pupuk hijau dilakukan setiap enam bulan sekali yaitu pada waktu
musim hujan. Jangan melakukan pemangkasan pada musim kemarau karena pada saat itu tanaman teh
muda membutuhkan naungan.
2.

Pengendalian gulma

Pengendalian teh di perkebunan teh merupakan salah satu kegiatan rutin yang sangat penting dalam
pemeliharaan tanaman teh. Populasi gulma yang tumbuh tidak terkendali, akan merugikan tanaman teh
karena terjadinya persaingan di dalam memperoleh unsur hara, air, cahaya matahari, dan ruang
tumbuh. Jenis-jenis gulma tertentu diduga pula mengeluarkan senyawa racun (allelopati) yang
membahayakan tanaman teh.
Gulma akan menimbulkan masalah besar terutama pada areal tanaman teh muda atau pada areal
tanaman teh produktif yang baru dipangkas. Hal ini sebabkan sebagian besar permukaan tanah terbuka
dan secara langsung mendapatkan sinar matahari, sehingga perkecambahan maupun laju per-tumbuhan
berbagai jenis gulma berlangsung sangat cepat. Pengendalian gulma pada pertanaman teh bertujuan
untuk menekan serendah mungkin kerugian yang ditimbulkan akibat gulma, sehingga diperoleh laju
pertumbuhan tanaman teh dan produksi pucuk yang maksimal.
3.

Pengendalian Hama dan Penyakit

Penyakit cacar yang disebabkan oleh jamur Exobasidium VexansMassae berasal dari Assam, India.
Untuk pertama kalinya penyakit ini ditemukan di Indonesia pada tahun 1949, yaitu di perkebunan Bah
Butong, Sumatera Utara. Sejak saat ini penyakit cacar meluas ke hampur seluruh perkebunan teh di
Indonesia, dan menjadi penyakit yang paling merugikan, terutama untuk kebun-kebun teh di dataran
tinggi. Penyakit cacar dapat mengakibatkan kehilangan hasil sampai dengan 40% dan penurunan
kuallitas teh jadi, yang ditandai berkurangnya kandungan theaflavin, thearubigin, kafein, substansi
polimer tinggi, dan fenol total pucuk.
Intensitas serangan 28% sudah dapat mengakibatkan penurunan kualitas teh jadi, sedangkan
kehilangan hasil baru dapat terjadi pada intensitas serangan 35%. Sampai saat ini tindakkan
pengendalian penyakit cacar yang paling umum dilakukan di kebun-kebun teh adalah penggunaan
fungisida sintetik, terutama fungisida tembaga, karena dianggap sebagai suatu teknik pengendalian yang
efektif, praktis, dan ekonomis. Pada umumnya pekebun merasa puas dengan hasil yang diperoleh,
sehingga kurang memperhatikan dampak negatif yang dapat ditimbulkan dari penggunaan fungisida
tembaga. Kenyataan bahwa penggunaan fungisida tembaga dapat memacu per-kembangan populasi
tungau atau Brevipalpus phoenicis (Martosupono, 1985).
Walaupun sampai saat ini terbukti bahwa penggunaan fungisida tembaga merupakan cara yang paling
efektif untuk mengendalikan penyakit cacar, namun mengingat dampak negatif yang ditimbulkannya,
maka perlu dipertimbangkan untuk mulai menerapkan strategi pengendalian penyakit cacar yang
meminimalkan penggunaan fungisida sintetik umumnya, dan fungisida tembaga khususnya, yaitu suatu
strategi pengendalian yang tidak hanya menggantungkan diri pada penerapan satu teknik pengendalian
penyakit saja, tetapi mengkombinasikan berbagai teknik pengendalian penyakit yang sesuai dan

kompatibel berdasarkan pertimbangan ekologi dan ekonomi, atau yang disebut dengan pengendalian
penyakit tanaman terpadu.
Pemetikan

Pemetikan adalah pemungutan hasil pucuk tanaman teh yang memenuhi syarat-syarat pengolahan.
pemetikan berfungsi pula sebagi usaha membentuk kondisi tanaman agar mampu berproduksi tinggi
secara berkesinambungan. Panjang pendeknya periode pemetikan ditentukan oleh umur dan kecepatan
pembentukan tunas, ketinggian tempat, iklim dan kesehatan tanaman. Pucuk teh di petik dengan
periode antara 6-12 bulan. Teh hijau Jepang dipanen dengan frekuensi yang lebih lama yaitu 55 hari
sekali. Di samping faktor luar dan dalam, kecepatan pertumbuhan tunas baru dipengaruhi oleh daundaun yang tertinggal pada perdu yang biasa disebut daun pemeliharaan. Tebal lapisan daun
pemeliharaan yang optimal adalah 15-20 cm, lebih tebal atau lebih tipis dari ukuran tersebut
pertumbuhan akan terhambat. kecepatan pertumbuhan tunas akan mempengaruhi beberapa aspek
pemetikan, yaitu: jenis pemetikan, jenis petikan, daur petik, pengaturan areal petikan, pengaturan
tenaga petik, dan pelaksanaan pemetikan.
Beberapa istilah perlu diketahui baik dalam pemetikan maupun dalam menentukan rumus-rumus
pemetikan. Istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Peko adalah kuncup tunas aktif berbentuk runcing yang terletak pada ujung pucuk, dalam rumus
petikan tertulis dengan huruf p.
2. Burung adalah tunas tidak aktif berbentuk titik yang terletak pada ujung pucuk dalam rumus petik
tertulis dengan huruf b.
3. Kepel adalah dua daun awal yang keluar dari tunas yang sebelahnya tertutup sisik. Sisik ini segera
berguguran apabila daun kepel mulai tumbuh. Mula-mula tumbuh daun kecil berbentuk lonjong, licin,
tidak bergerigi, biasa disebut kepel ceuli. Selanjutnya kepel ceuli diikuti oleh pertumbuhan sehelai daun
kepel yang lebih besar yang disebut kepel licin. Setelah daun-daun ini terbentuk, baru diikuti oleh
pertumbuhan daun yang bergerigi atau normal. Daun kepel ini dalam rumus petikan ditulis dengan
huruf k.
4. Daun biasa/normal adalah daun yang tumbuh setelah terbentuk daun-daun kepel, berbentuk dan
berukuran normal serta sisinya bergerigi. Dalam rumus petik ditulis dengan angka 1,2,3,4 dan
seterusnya tergantung beberapa helai daun yang terdapat pada pucuk tersebut.
5. Daun muda adalah daun yang baru terbentuk tetapi belum terbuka seluruhnya, dan dalam rumus
pemetikan ditulis dengan huruf m mengikuti angka (1m, 2m, 3m).
6. Daun tua adalah daun yang berwarna hijau gelap, terasa keras, dan bila dipatahkan berserat.
Dalam rumus pemetikan ditulis dengan huruf t mengikuti angka (1t, 2t, 3t).

7. Manjing adalah pucuk yang telah memenuhi syarat sesuai dengan sistem pemetikan yang telah
ditentukan.
Macam dan rumus petikan adalah sebagai berikut:
1.

Petikan imperial: bila yang dipetik hanya kuncup peko (p + 0).

2.

Petikan pucuk pentil: bila yang dipetik peko dan satu lembar daun dibawahnya (p + 1m).

3. Petikan halus: bila yang dipetik peko dengan satu lembar atau dua lembar daun burung dengan
satu lembar daun muda (p + 1m, b + 1m).
4. Petikan medium: bila yang dipetik peko dengan dua lembar atau tiga lembar daun muda dan pucuk
burung dengan satu, dua atau tiga lembar daun muda ( p + 2m, p + 3m, b + 1m, b + 2m, b + 3m).
5. Petikan kasar: bila yang dipetik dengan tiga lembar daun tua atau lebih daun burung dengan satu,
dua, tiga lembar daun tua (p + 3, p + 4, b + 1t, b + 2t, b + 3t).
6.

Petikan kepel: bila daun yang ditinggalkan pada perdu hanya kepel (p + n/k, b + n/k).

Jenis pemetikan yang dilakukan selama satu daun pangkas terdiri dari:
1.

Pemetikan jendangan

Pemetikan jendangan ialah pemetikan yang dilakukan pada tahap awal setelah tanaman dipangkas,
untuk membentuk bidang petik yang lebar dan rata dengan ketebalan lapisan daun pemeliharaan yang
cukup, agar tanaman mempunyai potensi produksi yang tinggi.
2.

Pemetikan produksi

Pemetikan produksi dilakukan terus menerus dengan daur petik tertentu dan jenis petikan tertentu
sampai tanaman dipangkas kembali. Pemetikan produksi yang dilakukan menjelang tanaman dipangkas
disebut petikan gendesan, yaitu memetik semua pucuk yang memenuhi syarat untuk diolah tanpa
memperhatikan daun yang ditinggalkan (Kartawijaya, 1978).
Pascapanen

Pengolahan daun teh dimaksudkan untuk mengubah komposisi kimia daun teh segar secara terkendali,
sehingga menjadi hasil olahan yang memunculkan sifat-sifat yang dikehendaki pada air seduhannya,
seperti warna, rasa, dan aroma yang baik dan disukai. Bahan kimia yang terkandung dalam daun teh
terdiri dari empat kelompok yaitu subtansi fenol (catechin dan flavanol), subtansi bukan fenol (pectin,
resin. vitamin, dan mineral), subtansi aromatik dan enzim-enzim.
Daun teh yang dipetik, awal mula melewati proses pelayuan yang memakan waktu 18 jam disebuah
tempat berbentuk persegi panjang bernama withered trough. Setiap 4 jam daun dibalik secara manual.

Masing-masing withered trough memuat 1 sampai 1,5 ton daun teh. Fungsi dari proses pelayuan ini
adalah untuk menghilangkan kadar air sampai dengan 48%.
Daun-daun teh yang sudah layu kemudian dimasukan kedalam gentong dan diangkut menggunakan
monorel ke tempat proses berikutnya. Dari monorel daun-daun dimasukan ke mesin penggilingan. 1
mesin memuat 350 kg daun teh dan waktu untuk menggiling adalah 50 menit. Setelah digiling, daun teh
dibawa ketempat untuk mengayak. Proses untuk mengayak ini terjadi beberapa kali dengan hasil
hitungan berdasarkan jumlah mengayak: bubuk 1, bubuk 2, bubuk 3, bubuk 4, dan badag.
Sementara itu hasil ayakan terakhir yaitu badag tidak melewati proses fermentasi. Badag dan bubukbubuk yang telah melewati proses fermentasi kemudian dibawa ke ruangan berikutnya untuk
dikeringkan. Lamanya proses pengeringan adalah 23 menit dengan suhu 100o C. Bahan bakar untuk
proses pengeringan ini adalah kayu dan batok kelapa untuk rasa yang lebih enak.
Usai dikeringkan, daun dibawa ke ruangan sortasi,. Ada 3 jenis pekerjaan yang dilakukan diruangan
sortasi. pertama, memisahkan daun teh yang berwarna hitam dan yang berwarna merah dengan
menggunakan alat yang disebut Vibro. Kedua, memisahkan ukuran besar dan ukuran kecil. Setelah
semua proses selesai dikerjakan maka teh harus diperiksa dahulu (quality control). Bila daun tersebut
memenuhi standar maka akan dikemas ditempat penyimpanan sementara (disimpan didalam tong
plastik berukuran besar). Bila sudah siap untuk dipasarkan, contohnya di ekspor maka daun teh yang
siap dipasarkan tersebut akan dikemas kedalam papersack (Setyamidjadja, 2000).