Anda di halaman 1dari 5

A.

Latar Belakang
Lanjut usia (lansia) adalah orang yang telah mencapai usia 60 tahun ke
atas yang mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara (UU RI No 13 tahun 1998). Menurut WHO (World
Health Organization) membagi masa usia lanjut sebagai berikut: usia 45-60
tahun, disebut middle age, usia 60-75 tahun, disebut elderly (usia lanjut atau
wreda utama), usia 75-90 tahun, disebut old (tua atau wreda prawasana), usia
diatas 90 tahun, disebut very old (tua sekali atau wreda wasana).
Masyarakat kita saat ini memandang para lanjut usia sebagai orangorang yang kurang produktif, kurang menarik, kurang energik, mudah lupa,
barangkali kurang bernilai dibandingkan dengan mereka yang masih dalam
keadaan prima (Kroll dan Hawkins, 1999), untuk itu dalam pembangunan
nasional pemerintah telah berhasil mewujudkan hasil yang positif diberbagai
bidang, yaitu adanya kemajuan ekonomi, perbaikan lingkungan hidup,
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang medis atau
ilmu kedokteran, sehingga dapat meningkatkan kualitas kesehatan penduduk
serta meningkatkan umur harapan hidup manusia. Akibatnya jumlah penduduk
yang berusia lanjut meningkat dan bertambah cenderung lebih cepat atau
sering disebut dengan Lansia Booming (Nugroho, 2000).
Salah. satu upaya Pernerintah dalam menyediakan fasilitas kesehatan
dan penyelenggaraan upaya kesehatan antara lain adalah dengan mengadakan
Posyandu. Posyandu merupakan salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang
diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan dukungan teknis dari
petugas kesehatan dalam rangka pencapaian. Norma Kelurga Kecil Bahagia
dan Sejahtera (Effendy, 1998). Sedangkan menurut Azwar (2002), posyandu
merupakan fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat yang didirikan di desadesa kecil yang tidak terjangkau oleh Rurnah Sakit atau klinik.
Berdasarkan hasil pengkajian komunitas di RW IV, VII, dan VIII desa
gedaren yang dilakukan pada tanggal 11 22 November 2014 didapatkan data
bahwa masyarakat belum memiliki Posyandu Lansia. Masalah kesehatan yang
terjadi pada lansia antara lain hipertensi 47,2 %, nyeri sendi 13,9 %, perut
kembung 9,7 %, asam urat 9,7 %, nyeri punggung 5,6 %, pusing 5,6 %,

Diabetes mellitus 4,2 %, batuk 1,4 %, masuk angin 1,4 %, darah rendah 1,4 %.
Diagnose keperawatan dari masalah di atas adalah defisiensi kesehatan
komunitas dan ketidakefektifan manajemen kesehatan diri.
Hasil pertemuan MMD (Musyawarah Masyarakat Desa) I dan II peru
dibentuk Posyandu Lansia dan Pelatihan bagi kader agar dapat mempunyai
suatu ketrampilan yang dapat diterapkan pada saat posyandu lansia.
Keterampilan yang dimaksud adalah keterampilan dalam hal
mengukur tekanan darah dan cara pengisian KMS Lansia,
dengan pertimbangan bahwa cara mengukur tekanan darah
dan cara pengisian KMS cukup mudah dilaksanakan karena
tidak menggunakan prosedur yang rumit, selain itu dilihat dari
tingkat pendidikan para kader sebagian besar merupakan
lulusan Sekolah Menengah Pertama, dengan adanya pelatihan
pengukuran tekanan darah dan cara pengisian KMS tersebut
diharapkan para kader dapat memberikan pelayanan kepada
masyarakat khususnya para Lansia dan dengan terbentuknya
Posyandu Lansia maka masalah-masalah yang muncul akan
segera diketahui dan sekaligus membantu mengatasi masalah
yang ada.
B. Perencanaan Keperawatan
1. Diagnosa keperawatan komunitas
a. Defisiensi kesehatan komunitas
b. Ketidakefektifan manajemen kesehatan diri
2. Tujuan umum
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 minggu defisiensi
kesehatan komunitas dan ketidakefektifan manajemen kesehatan diri tidak
terjadi.
3. Tujuan khusus
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 4 minggu diharapkan:
a. Lansia dapat mengetahui manfaat latihan rutin (skala 3)
b. Lansia dapat menjaga tekanan darah tetap stabil (skala 4)
c. Lansia dapat mengikuti diet yang dianjurkan (skala 5)

d. Kader dapat ikut serta dalam peningkatan status kesehatan lansia (skala
4)
e. Kader mampu berpartisipasi dalam pemeliharaan kesehatan komunitas
(skala 4)
C. Rencana Kegiatan
1. Topic
Role play, senam lansia, pengobatan gratis.
2. Metode
Role play dan praktek langsung
3. Media
Video senam lansia
4. Waktu dan tempat
Launching posyandu lansia dilakukan di Aula TPA Al-Fatah hari Rabu 23
Desember 2014.
5. Pengorganisasian
a.
b.
c.
d.
e.

Ketua
Sekretaris
Bendahara
Seksi Acara
Sie Konsumsi

:
:
:
:
:

Fitria Nur Hayati, S.Kep


Daru Ardi Utomo, S.Kep
Mukarromah Dwi Nugraheni, S.Kep
Dwi Astuti, S.Kep
Faidah Nur Wahyuningsih, S.Kep

Nur Istiqomah, S.Kep


Indra Gunawan H, S.Kep

g. Sie Peralatan

Tifuk Hesti Oktanti, S.Kep


Bambang Supriyadi, S.Kep

h. Sie Dokumentasi

Sholikhah Nurhidayati, S.Kep


Firdaus Amanu Mutohat, S.Kep

f. Sie Humas

Erfita Edi Yati, S.Kep

D. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi Struktur
a. Persiapan kader, tim posyandu puskesmas, dan lansia sudah terlaksana
dengan baik berupa kontrak waktu, topik, dan tempat.
b. Persiapan alat bantu dan media yang digunakan untuk materi.
2. Evaluasi Proses
a. Lansia mampu mengikuti proses posyandu dengan baik sampai selesai
b. Lansia kooperatif dalam mengikuti posyandu.

c. Media dan alat bantu dapat digunakan dengan baik


d. Lingkungan mendukung dalam pelaksanaan posyandu
3. Evaluasi Hasil
a.
Evaluasi kognitif
Setelah mengikuti Posyandu, diharapkan lansia mampu:
1) Mengikuti posyandu secara rutin.
b.
Evaluasi Afektif
1) Lansia mampu mengungkapkan perasaan setelah mengikuti

c.

posyandu lansia.
2) Lansia memahami pentingnya posyandu lansia bagi dirinya.
Evaluasi Psikomotor
1) Lansia dapat melakukan senam lansia secara mandiri.

LAPORAN PENDAHULUAN
LAUNCHING DAN PELAKSANAAN POSYANDU LANSIA
KOMUNITAS DI DUKUH BLOK V GEDAREN, DEREPAN DAN
GEDAREN DESA GEDAREN KECAMATAN JATINOM
KABUPATEN KLATEN

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


STIKES MUHAMMADIYAH KLATEN
ANGKATAN V
2014