Anda di halaman 1dari 4

Penulisan Gabungan Kata dalam Bahasa Indonesia

1. Gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk ditulis terpisah.


Contoh: tanda tangan; terima kasih; rumah sakit; tanggung jawab; kambing hitam; dll.
Perhatikan kalau gabungan kata itu mendapatkan imbuhan!
Apabila gabungan kata itu mendapatkan awalan atau akhiran saja, awalan atau akhiran itu
harus dirangkai dengan kata yang dekat dengannya. kata lainnya tetap ditulis terpisah dan
tidak diberi tanda hubung.
Contoh: berterima kasih; bertanda tangan; tanda tangani; dll.
Apabila gabungan kata itu mendapatkan awalan dan akhiran, penulisan gabungan kata
harus serangkai dan tidak diberi tanda hubung.
Contoh: menandatangai; pertanggungjawaban; mengkambinghitamkan; dll.
2. Gabungan kata yang sudah dianggap satu kata.
Dalam bahasa Indonesia ada gabungan kata yang sudah dianggap padu benar. Arti gabungan
kata itu tidak dapat dikembalikan kepada arti kata-kata itu.
Contoh: bumiputra; belasungkawa; sukarela; darmabakti; halalbihalal; kepada; segitiga;
padahal; kasatmata; matahari; daripada; barangkali; beasiswa; saputangan; dll
Kata daripada, misalnya, artinya tidak dapat dikembalikan kepada kata dari dan pada. Itu
sebabnya, gabungan kata yang sudah dianggap satu kata harus ditulis serangkai.
3. Gabungan kata yang salah satu unsurnya tidak dapat berdiri sendiri sebagai satu
kata yang mengandung arti penuh, unsur itu hanya muncul dalam kombinasinya.
Contoh: tunanetra; tunawisma; narasumber; dwiwarna; perilaku; pascasarjana; subseksi; dll.
Kata tuna berarti tidak punya, tetapi jika ada yang bertanya, Kamu punya uang? kita tidak
akan menjawabnya dengan tuna. Begitu juga dengan kata dwi, yang berarti dua, kita tidak
akan berkata, saya punya dwi adik laki-laki. Karena itulah gabungan kata ini harus ditulis
dirangkai.
Perhatikan gabungan kata berikut!
1. Jika unsur terikat itu diikuti oleh kata yang huruf awalnya kapital, di antara kedua unsur
itu diberi tanda hubung.
Contoh: non-Indonesia; SIM-ku; KTP-mu.
1. Unsur maha dan peri ditulis serangkai dengan unsur yang berikutnya, yang berupa kata
dasar. Namun dipisah penulisannya jika dirangkai dengan kata berimbuhan.

Contoh: Mahabijaksana; Mahatahu; Mahabesar; Maha Pengasih; Maha Pemurah; peri


keadilan; peri kemanusiaan.
Tetapi, khusus kata ESA, walaupun berupa kata dasar, gabungan kata maha dan esa ditulis
terpisah => Maha Esa.
4. Gabungan Kata
1. Unsur-unsur gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk ditulis terpisah.
Misalnya:
duta besar

model linear

kambing hitam orang tua


simpang empat persegi panjang
mata pelajaran rumah sakit umum
meja tulis

kereta api cepat luar biasa

2. Gabungan kata yang dapat menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan
menambahkan tanda hubung di antara unsur-unsurnya untuk menegaskan pertalian
unsur yang
bersangkutan.
Misalnya:
anak-istri Ali

anak istri-Ali

ibu-bapak kami

ibu bapak-kami

buku-sejarah baru buku sejarah-baru


3. Gabungan kata yang dirasakan sudah padu benar ditulis serangkai.
Misalnya:
acapkali

darmasiswa puspawarna

adakalanya

darmawisata radioaktif

akhirulkalam dukacita

saptamarga

alhamdulillah halalbihalal saputangan

apalagi

hulubalang

saripati

astagfirullah

kacamata

sebagaimana

bagaimana

kasatmata

sediakala

barangkali

kepada

segitiga

beasiswa

kilometer

sekalipun

belasungkawa manakala

sukacita

bilamana

manasuka

sukarela

bismillah

matahari

sukaria

bumiputra

padahal

syahbandar

daripada

peribahasa

waralaba

darmabakti

perilaku

wiraswata

5. Gabungan kata peristilahan


gabungan kata yang terbentuk dari beberapa kata
misalnya :
Angkatan bersenjata
persegi panjang

daya angkut
komisaris utama
pusat listrik tenaga air

6. proses Penggabungan
istilah yang berupa gabungan kata sedapat-dapatnya berbentuk singkat mengikuti contoh meja tulis
kerja sama, sekolah menengah.
misalnya :
angkat besi
daya angkut
garis lintang
balok kotak
direktur muda
getaran lintang
jembatan putar
tampak depan
sistem tabung
gabungan kata yang mewujudkan istilah dapat diulis menurut 3 cara berikut, sesuai dengan aturan
ejaan yang berlaku.
a. Gabungan kata ditulis terpisah. Misalnya :
model linear
perwira menengah
b. Gabungan kata ditulis dengan menggunakan tanda hubung jika dirasa perlu menegaskan
pengertian diantara dua unsur. Misalnya :

Dua-sendi
mesin-hitung tangan
c. Gabungan kata ditulis serangkai. Misalnya :
bumiputera
olahraga
syahbandar