Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Apendisitis perforasi adalah pecahnya apendiks yang sudah gangren
yang menyebabkan pus masuk ke dalam rongga perut sehingga terjadi
peritonitis umum.8 Walaupun apendisitis dapat terjadi pada setiap usia, namun
paling sering terjadi pada remaja dan dewasa muda.1 Insiden apendisitis di
negara industri lebih tinggi dibandingkan dengan negara berkembang. Hal ini
disebabkan oleh kurangnya asupan serat serta tingginya asupan gula dan
lemak2, sedangkan di negara berkembang konsumsi seratnya masih cukup
tinggi.3
Di Amerika Serikat, apendisitis paling sering terjadi pada usia diantara
10 sampai 20 tahun4 dengan perbandingan laki laki dan perempuan yaitu
1,4 : 1. Insiden tertinggi apendisitis pada laki laki adalah pada umur 10 14
tahun dengan angka kejadian 27,6 kasus per 10.000 populasi. Sedangkan
insiden tertinggi untuk perempuan yaitu pada usia 15 19 tahun dengan angka
kejadian 20,5 kasus per 10.000 populasi.2 Rata rata terdapat 80.000 anak
menderita apendisitis, 4 anak dari setiap 1000 anak kurang dari 14 tahun
menderita apendisitis.3 Apendisitis pada anak paling sering terjadi pada usia 9
10 tahun, dengan insiden secara keseluruhan tiap tahun rata rata 20 kasus

per 10.000 populasi. Puncak insiden apendisitis pada anak terjadi pada usia 10
12 tahun dan insiden terendah terjaadi pada bayi.5
Depkes pada tahun 2008 menyatakan dari hasil Survei Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) di Indonesia, apendisitis merupakan salah satu
penyebab dari akut abdomen dan beberapa indikasi untuk dilakukan operasi
kegawatdaruratan abdomen. Insiden apendisitis di Indonesia diperkirakan
berkisar 24,9 kasus per 10.000 populasi dan menempati urutan tertinggi
diantara kasus kegawatdaruratan abdomen lainnya.6
Diagnosis apendisitis diawali dengan melakukan anamnesis dan
pemeriksaan fisik.2 Namun pada anak diagnosis lebih sulit ditegakkan dari
pada dewasa,7 karena anak anak tidak dapat menceritakan riwayat
penyakitnya, sering mengalami nyeri abdomen yang berasal dari penyebab
penyebab lain dan mungkin mempunyai tanda dan gejala yang tidak spesifik.
Faktor- faktor tersebut menyebabkan lebih dari 50% anak mengalami perforasi
apendiks sebelum diagnosis ditegakkan.8 Risiko perforasi pada anak anak
usia 1 4 tahun yaitu 70 75%, lebih besar dari pada usia remaja yaitu 30
40%

dan secara keseluruhan, perforasi apendiks terjadi pada 19,2% kasus

apendisitis akut.2
Perjalanan dari mulai timbulnya gejala menuju perforasi terjadi begitu
cepat. Menurut Smith dan Soybel, 20% kasus perforasi apendiks terjadi 24 jam
setelah timbulnya gejala, bahkan salah seorang pasiennya menunjukkan
perforasi apendiks terjadi 11 jam setelah timbulnya gejala. Hal ini

menunjukkan bahwa timbulnya perforasi sangat cepat sehingga perlu


mendapatkan perhatian yang lebih dari para dokter.2
Untuk menunjang diagnosis, dilakukan pemeriksaan hitung leukosit.
Sembilan puluh persen pasien apendisitis akut menunjukkan peningkatan
hitung leukosit antara 10.000 sel/l sampai dengan 15.000 sel/l. Peningkatan
hitung leukosit melebihi 20.000 sel/l menandakan kemungkinan terjadi
perforasi apendiks.9
Setelah diagnosis ditegakkan, tindakan bedah yang paling tepat dan
paling baik adalah apendektomi.5,10 Terjadinya perforasi apendiks dapat
meningkatkan risiko terjadinya komplikasi paska apendektomi, meskipun
secara umum apendektomi merupakan tindakan bedah yang relatif tidak
membahayakan.

Komplikasi

yang

sering

terjadi

setelah

dilakukan

apendektomi yaitu infeksi paska bedah dan abses intraabdomen. Dengan


terjadinya perforasi apendiks, angka kejadian perforasi tersebut menjadi lebih
besar.4
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka penulis melakukan
penelitian yang berjudul Gambaran Penderita Apendisitis Perforasi pada
Pasien Anak di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Periode
Tahun 2010 2013.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan masalah pada kasus ini adalah bagaimana gambaran
penderita apendisitis perforasi pada pasien anak di RSUD Dr. H. Abdul
Moeloek Provinsi Lampung periode tahun 2010 sampai dengan 2013 ?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum

dari penelitian ini adalah untuk mengetahui

gambaran penderita apendisitis perforasi pada pasien anak di RSUD Dr.


H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung periode tahun 2010 sampai
dengan 2013.

1.3.2 Tujuan Khusus


Tujuan khusus dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui distribusi frekuensi usia insidensi penderita
apendisitis perforasi pada pasien anak di RSUD Dr. H. Abdul
Moeloek Provinsi Lampung periode tahun 2010 sampai dengan
2013.
2. Untuk mengetahui distribusi frekuensi jenis kelamin pasien
apendisitis perforasi di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi
Lampung periode tahun 2010 sampai dengan 2013.
3.

Untuk mengetahui distribusi frekuensi gambaran gejala dan tanda


klinis apendisitis perforasi pada pasien anak di RSUD Dr. H. Abdul

Moeloek Provinsi Lampung periode tahun 2010 sampai dengan


2013.
4. Untuk mengetahui distribusi frekuensi pemeriksaan laboratorium
apendisitis perforasi pada pasien anak di RSUD Dr. H. Abdul
Moeloek Provinsi Lampung periode tahun 2010 sampai dengan
2013.

1.4 Manfaat Penelitian


1.

Bagi Institusi Pendidikan


Sebagai kesesuaian terhadap penerapan teori di pendidikan dengan
di lahan praktek guna meningkatkan mutu pendidikan.

2.

Bagi Rumah Sakit


Sebagai informasi kepada pihak rumah sakit mengenai gambaran
tentang apendisitis perforasi, sehingga dapat melakukan perencanaan dan
evaluasi pada waktu mendatang untuk meningkatkan penanganan dan
kewaspadaan para dokter terhadap pasien apendisitis perforasi dan
peritonitis.

3.

Bagi Peneliti
Menambah wawasan dalam melakukan penelitian serta ilmu yang
dimiliki baik yang di dapat dari materi perkuliahan maupun dari tempat
atau sumber lain, seperti literature yang dibaca.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian


Jenis Penelitian

: Kuantitatif Deskriptif.

Tempat Penelitian : RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung.


Waktu Penelitian : Mei - Juni 2014
Subjek Penelitian : Data Rekam Medik anak usia 0 bulan 12 tahun yang
terdiagnosa apendisitis perforasi.
Cara Penelitian

: Observasi.