Anda di halaman 1dari 19

Hemodialisis

1. Pengertian
Dialisis adalah suatu proses difusi zat terlarut dan air secara pasif melalui
suatu membran berpori dari suatu kompartemen cair menuju kompartemen cair
lainnya. Hemodialisis dan peritoneal dialisis merupakan dua teknik utama yang
digunakan dalam dialisis dan prinsip dasar kedua teknik itu sama yaitu difusi zat
terlarut dan air dari plasma ke larutan dialisat sebagai respon terhadap perbedaan
konsentrasi atau tekanan tertentu. (Price, 2006)
Hemodialisis adalah terafi pengganti ginjal buatan yang merupakan salah satu
tindakan pada manajemen pasien gagal ginjal akut (GGA), acute on renal failure,
intoksikasi obat atau bahan kimia (dialiyzable drugs), dan penyakit ginjal kronik tahap
akhir atau gagal ginjal terminal (GGT) serta persiapan transplantasi ginjal. Hanya
sebagian kecil (20-30%) klien dengan gagal ginjal terminal mendapat penanganan
terapi pengganti ginjal (Sukandar, 2006).
Hemodialisis adalah salah satu bentuk terapi pengganti ginjal di mana darah
dilewatkan ke ginjal buatan melalui selang khusus dan diatur oleh mesin khusus dan
di dalam ginjal buatan tersebut terjadi pemisahan zat sisa dan penarikan cairan
berlebih melalui mekanisme difusi dan konveksi.
2. Indikasi
Secara ideal, semua pasien dengan LFG < 15 cc/menit dapat mulai
menjalani dialisis. Namun dalam pelaksanaan pedoman yang dapat dipakai adalah:
1) LFG < 10 cc/menit dengan gejala uremia/malnutrisi.
2) LFG < 5 cc/menit walaupun tanpa gejala
3) Indikasi khusus :
a) Terdapat komplikasi akut (oedema paru, hiperkalemia, asidosis metabolik).
b) ,Pada pasien nefropati diabetik dapat dilakukan lebih awal.

c) ,Hemodialisis dapat mengeluarkan zat-zat toksin dari darah. Pada keadaan keracunan
obat atau zat toksin yang tidak terikat albumin darah maka dialisis dapat dilakukan
dengan tujuan mengeluarkan zat toksin tersebut secara cepat.

3. Mekanisme
Terdapat dua mekanisme dalam hemodialisis yaitu difusi dan konveksi.
Kedua mekanisme ini terjadi di dalam dializer (ginjal buatan) yang diatur dan
dimonitor oleh mesin hemodialisis melalui proses dialisis dan ultra filtrasi.
1) Dialisis
Dialisis adalah proses transport zat terlarut melalui mekanisme difusi. Difusi
adalah proses transport spontan dan pasif dari zat terlarut (solute) dari kompartemen
darah ke kompartemen dialisat (dan sebaliknya, misalnya backdifussion) melalui
membran dializer seperti terungkap pada gambar 2.2.
Kecepatan transport difusi tergantung dari beberapa faktor :
a) Koefisien difusi zat terlarut dalam darah, dialisat dan membran.
b) Luas permukaan membran.
c) Perbedaan konsentrasi zat terlarut yang melewati membran.

Awal
Akhir
Gambar 2.3 Skema Representasi Mekanisme Difusi Zat Terlarut
Sumber: Nefrologi Klinik (2006)

2) Ultra Filtrasi
Ultra filtrasi adalah proses perpindahan zat dengan mekanisme konveksi.
Dalam hemodialisis dikenal sebagai proses penarikan cairan dari darah pasien.
Konveksi adalah proses transport simultan pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute)
dari

kompartemen

darah

ke

kompartemen

dialisat

(dan

sebaliknya

backfiltration) melalui membran dializer seperti terungkap pada gambar 2.4.


Kecepatan transport konveksi tergantung dari beberapa faktor :
a) Permeabilitas hidrolik.

yaitu

b),Sieving coefficient dari zat terlarut (solute) dan luas permukaan membran.
c) Konsentrasi zat terlarut (solute) dalam darah dan perbedaan tekanan (pressure
gradient) di antara membran.
Koefisien permeabilitas hidrolik dan sieving coefficient merupakan karakteristik
dari membran dan tergantung dari diameter pori membran serta jumlah pori per unit
luas permukaan membran.
Pada saat ini membran mempunyai permeabilitas tinggi disertai sieving
coefficient yang menyerupai barrier glomerulus ginjal alamiah. Sieving coefficient
suatu zat terlarut (solute) adalah rasio konsentrasi filtrat terhadap air plasma.
Efektivitas tekanan transmembran adalah perbedaan tekanan hidrostatik dan
onkotik terutama ditentukan tekanan onkotik protein darah yang tidak dapat melewati
membran dialisis.
Untuk melakukan ultra filtrasi, pasien hemodialisis dilakukan penimbangan
berat badan sebelum dilakukan cuci darah rutin. Berat badan yang didapat dikurangi
berat badan kering. Selisih yang didapatkan ditambah perkiraan normal salin yang
masuk (sekitar 200 cc) dan makan-minum selama dialisis.
Berat badan kering adalah berat badan yang dirasakan secara subjektif enak
oleh pasien. Data objektif berat badan kering adalah tidak adanya overhidrasi
seperti oedema, peningkatan vena jugularis, ronchi dan pada saat dilakukan
penarikan cairan (ultra filtrasi) tidak terjadi hipotensi, kram, muntah.

Awal

Akhir

Gambar 2.4 Skema Representasi Mekanisme Konveksi Air Dan Transport Zat
Terlarut (Solute Transport)
Sumber: Nefrologi Klinik (2006)

4. Peralatan Hemodialisis
Tindakan

hemodialisis

memerlukan

peralatan

khusus

yang

meliputi

mesin

hemodialisis, dializer, blood line, fistula needle. Peralatan ini memerlukan biaya yang
cukup mahal dan bisa menyebabkan seseorang mengalami kenilangan pekerjaan
sehingga menjadi masalah psikososial klien yang menjalani hemodialisis rutin
(Daurgidas, 2007). Peralatan ini terdiri dari:
1),Mesin hemodialisis adalah mesin khusus yang dirancang untuk hemodialisis. Mesin
ini mengatur dialisat dengan sistem proporsional, memantau tekanan dan
konduktivitas dialisat dan darah, mengatur suhu, kecepatan aliran darah dan
dialisat. Terdapat beberapa sensor untuk mendeteksi dan pencegahan resiko
komplikasi, pompa darah untuk mengalirkan darah dan syringe pump untuk
pemberian antikoagulan.
2) Dializer disebut juga dengan ginjal buatan atau hollow fiber adalah tabung yang
berisi serabut berongga yang merupakan kompartemen darah dan dialisat yang
dipisahkan oleh membran. Di dalam dializer inilah terjadi mekanisme difusi dan
konveksi.
3) Blood line adalah selang-selang untuk hemodialisis yang berfungsi untuk
mengalirkan darah ke dan dari dializer. Terdiri dari dua untai yaitu arterial line yang
mengalirkan darah ke dializer dan venous line yang mengalirka darah dari ginjal
buatan ke tubuh.
4) Fistula needle adalah jarum yang ditusukkan pada akses vaskular untuk mengalirkan
darah ke ginjal buatan melalui line blood. Terdapat dua buah jarum yaitu jarum inlet
dan outlet.

5. Durasi Hemodialisis
Durasi

hemodialisis

disesuaikan

dengan

kebutuhan

individu.

hemodialisis dilakukan 4-5 jam dengan frekuensi 2 X/minggu.

Tiap

Frekuensi

hemodialisis dapat diberikan 3 X/minggu dengan durasi 4-5 jam. Idealnya 10-15
jam/minggu. Berdasarkan pengalaman selama ini, frekuensi 2 X/minggu telah
menghasilkan nilai adekuasi yang mencukupi dan pasien merasa lebih nyaman.
Selain itu, dana asuransi kesehatan yang tersedia juga terbatas dan hanya dapat
menanggung hemodialisis dengan frekuensi rata-rata 2X/minggu selama 4-5 jam
dengan memperthatikan kebutuhan individual.
6. Akses Vaskular Hemodialisis
Akses vaskular adalah titik-titik tempat penusukan fistula needle untuk
mengeluarkan dan memasukkan darah yang di-hemodialisis. Akses vaskular yang
adekuat adalah akses vaskular yang dapat memberikan aliran darah minimal 200300 cc/menit. Akses tersebut memerlukan perawatan agar bebas dari infeksi,
stenosis, tromboembolik dan aneurisma. Terdapat dua jenis akses vaskular:
1) Akses vaskular permanen
Adalah akses yang dianjurkan dalam hemodialisis.

Terdiri dari AV shunt/AV

fistula/cimino dan graft.


2) Akses vaskuler temporer
Adalah akses yang digunakan bila akses permanen belum tersedia/bermasalah.
Akses ini meliputi akses vena femoralis, akses jugularis interna, dan akses vena
subklavia.
7. Antikoagulasi
Selama berlangsungnya hemodialisis, diperlukan antikoagulasi supaya tidak
terjadi pembekuan darah di dalam sirkulasi ekstrakorporeal. Terdapat tiga jenis dosis

pemberian antikoagulan yaitu standar, ketat dan tanpa heparin, hal ini disesuaikan
dengan keadaan pasien/status resiko perdarahan.

8. Adekuasi hemodialisis
Adekuasi hemodialisis adalah kecukupan dialisis untuk menilai keberhasilan
pelaksanan hemodialisis. Secara ideal, pasien kembali dapat memenuhi kebutuhan
dasarnya dan mengalami peningkatan kualitas hidup. Dalam hemodialisis adekuasi
dilihat dari formula Kt/V dan URR.
Kt/V adalah penilaian keberhasilan cuci darah dengan melibatkan faktor-faktor
kemampuan dari ginjal buatan, lamanya cuci darah dan volume tubuh pasien. Angka
idealnya 1,8 untuk cuci darah 2X/minggu selama 4-5 jam tiap dialisis.
URR (ureum ratio rate) adalah rasio ureum sebelum dan sesudah
hemodialisis. Target ideal URR adalah 65%.
HEMODIALYZER
I.

Latar Belakang
Proses transportasi darah dalam tubuh dapat digantikan oleh suatu mesin dimana

mesin tersebut menunjang kerja organ vital tubuh tertentu yaitu ginjal. Penurunan fungsi
ginjal terjadi karena penderita mengalami kondisi klinis gagal ginjal kronik atau gagal ginjal
terminal dimana fungsi penyaring pada organ ginjal tidak bekerja sehingga berdampak
sistemik pada organ-organ lain ditubuh penderita. Oleh karena itu dialisa dibutuhkan oleh
penderita gagal ginjal untuk memperpanjang usia penderita.
Dialisa merupakan suatu proses pembuangan limbah metabolik dan kelebihan cairan
dari tubuh. Terdapat dua metode dialisa yaitu :
a. Hemodialisa, suatu proses dimana darah dikeluarkan dari tubuh penderita dan
dipompa ke dalam mesin yang akan menyaring zat-zat racun keluar dari darah,
kemudian darah yang sudah bersih dikembalikan lagi kedalam tubuh penderita.

b. Dialisa peritoneal, suatu proses dimana cairan yang mengandung campuran


gula dan garam khusus dimasukkan ke dalam rongga perut dan akan menyerap
zat-zat racun dari jaringan.
Hemodialisa merupakan suatu prosedur dimana darah dikeluarkan dari tubuh
manusia/penderita dan beredar dalam suatu perangkat/mesin diluar tubuh yang biasa disebut
dialyzer.Prosedur ini memerlukan jalan masuk ke aliran darah, sehingga dibuatkan hubungan
diantara arteri dan vena (fistula arteriovenosa) melalui pembedahan.

Gamba
r 1. Alat Hemodialisa

II. Bagian beserta fungsi dialis


a. Pompa darah
Pompa ini berguna untuk memompa darah dari dalam tubuh ke alat hemodialisa dan
mengalirkannya ke blood path. Pompa juga berguna untuk memompa darah dari alat
ke dalam tubuh.

Gambar 2. Pompa Hemodialisa


b. Blood path (jalur darah)

Blood path ini merupakan saluran darah pada proses hemodialisa. Digunakan untuk
mengalirkan darah dari pasien ("arterial" catheter port) menuju filter dan detektor
udara gumpalan dan kembali ke pasien.
c. Ultrafiltrate path

Ultrafiltrate path merupakan jalur yang digunakan untuk mengeluarkan air, zat
terlarut, creatinin, dan zat tertentu lainnya dari darah pasien. Zat-zat tersebut
dikeluarkan melewati detektor dan saringan ultrafiltrasi, yang nantinya berakhir pada
collection bag (kantong penampung).
d. Fluid replacement path
Cairan yang diambil oleh pompa ketiga, dipanaskan, dan dipompa kembali ke sirkuit
sebelum filter.
e. Quinton catheter
Kateter ini memiliki ujung terbuka (bercabang). Masing-masing ujung terbuka
tersebut digunakan sebagai aliran darah pasien untuk mengalir ke luar tubuh dan
kembali lagi ke tubuh.

f.

Hemofilter

Gambar 3. Hemofilter
Darah mengalir melalui bagian ini. Hemofilter memiliki beberapa ruang di sekitar
tabung clump dan dinding plastik bening.
g. Membran
Digunakan untuk menyaring molekul-molekul yang lewat, dengan ukuran lebih besar
dari lubang-lubang membran. Membran bersifat semipermeabel.
h. Air detector
Detektor udara ini berguna untuk memantau blood path utama, memantau kondisi
darah sebelum kembali ke tubuh pasien agar tidak terdapat udara yang masuk.
i.

Sehingga menghindarkan terjadinya penyumbatan darah karena adanya udara.


Blood leak detector
Detektor ini digunakan untuk mendeteksi adanya darah pada jalur ultrafiltrasi

j.

(ulttrafiltrate path).
Transducer
Transduser berfungsi untuk memantau tekanan dalam sistem. Terdapat beberapa
macam transduser, yaitu arterial transducer, venous transducer, dan transducer lainnya.
Arterial transducer digunakan untuk mengukur tekanan negatif, yaitu ketika darah
ditarik ke luar tubuh pasien. Venous transducer digunakan untuk mengukur tekanan
positif yaitu ketika darah dikembalikan masuk ke dalam tubuh. Transduser lainnya
salah satunya berfungsi untuk mengukur tekanan yang berasal dari blood leak detector
yang penuh dengan ultrafiltrat.

k. Circuit heater

Digunakan untuk meningkatkan suhu (panas) pada aliran replacement fluid bags,
karena cairan pada replacement fluid bags akan terasa dingin pada tubuh pasien jika
tanpa pemanasan.
III.

Prinsip Kerja Dialysis

Prinsip dialisis digunakan dalam alat cuci darah bagi penderita gagal ginjal, di mana
fungsi ginjal digantikan oleh dialisator. Prinsip dari Hemodialisis adalah dengan menerapkan
proses osmotis dan ultrafiltrasi pada ginjal buatan, dalam membuang sisa-sisa metabolisme
tubuh. Pada hemodialisis, darah dipompa keluar dari tubuh lalu masuk kedalam mesin dialiser
(yang berfungsi sebagai ginjal buatan) untuk dibersihkan dari zat-zat beracun melalui proses
difusi dan ultrafiltrasi oleh cairan khusus untuk dialisis (dialisat).
Tekanan di dalam ruang dialisat lebih rendah dibandingkan dengan tekanan di dalam
darah, sehingga cairan, limbah metabolik dan zat-zat racun di dalam darah disaring melalui
selaput dan masuk ke dalam dialisat. Proses hemodialisis melibatkan difusi solute (zat
terlarut) melalui suatu membrane semipermeable. Molekul zat terlarut (sisa metabolisme) dari
kompartemen darah akan berpindah kedalam kompartemen dialisat setiap saat bila molekul
zat terlarut dapat melewati membran semipermiabel demikian juga sebaliknya. Setelah
dibersihkan, darah dialirkan kembali ke dalam tubuh

Gambar 4. Skema Hemodialisa

Gambar 5. Proses Hemodialisa

Mesin hemodialisis (HD) terdiri dari pompa darah, sistem pengaturan larutan dialisat,
dan sistem monitor. Pompa darah berfungsi untuk mengalirkan darah dari tempat

tusukan vaskuler ke alat dializer.


Dializer adalah tempat dimana proses HD berlangsung sehingga terjadi pertukaran zatzat dan cairan dalam darah dan dialisat. Sedangkan tusukan vaskuler merupakan
tempat keluarnya darah dari tubuh penderita menuju dializer dan selanjutnya kembali

lagi ketubuh penderita. Kecepatan dapat di atur biasanya diantara 300-400 ml/menit.
Lokasi pompa darah biasanya terletak antara monitor tekanan arteri dan monitor
larutan dialisat. Larutan dialisat harus dipanaskan antara 34-39 C sebelum dialirkan
kepada dializer. Suhu larutan dialisat yang terlalu rendah ataupun melebihi suhu tubuh

dapat menimbulkan komplikasi.


Sistem monitoring setiap mesin HD sangat penting untuk menjamin efektifitas proses
dialisis dan keselamatan.

IV.

Prosedur Hemodialisa
Setelah pengkajian pradialisis, mengembangkan tujuan dan memeriksa keamanan

peralatan, perawat sudah siap untuk memulai hemodialisis. Akses ke system sirkulasi dicapai
melalui salah satu dari beberapa pilihan: fistula atau tandur arteriovenosa (AV) atau kateter
hemodialisis dua lumen. Dua jarum berlubang besar (diameter 15 atau 16) dibutuhkan untuk
mengkanulasi fistula atau tandur AV. Kateter dua lumen yang dipasang baik pada vena

subklavikula, jugularis interna, atau femoralis, harus dibuka dalam kondisi aseptic sesuai
dengan kebijakan institusi.

Gambar 6. Fistula (Arteriovenous Fistula)


Jika akses vaskuler telah ditetapkan, darah mulai mengalir, dibantu oleh pompa darah.
Bagian dari sirkuit disposibel sebelum dialiser diperuntukkan sebagai aliran arterial,
keduanya untuk membedakan darah yang masuk ke dalamnya sebagai darah yang belum
mencapai dialiser dan dalam acuan untuk meletakkan jarum: jarum arterial diletakkan
paling dekat dengan anastomosis AV pada vistula atau tandur untuk memaksimalkan aliran
darah. Kantong cairan normal salin yang di klep selalu disambungkan ke sirkuit tepat sebelum
pompa darah.
Pada kejadian hipotensi, darah yang mengalir dari pasien dapat diklem sementara
cairan normal salin yang diklem dibuka dan memungkinkan dengan cepat menginfus untuk
memperbaiki tekanan darah. Tranfusi darah dan plasma ekspander juga dapat disambungkan
ke sirkuit pada keadaan ini dan dibiarkan untuk menetes, dibantu dengan pompa darah. Infus
heparin dapat diletakkan baik sebelum atau sesudah pompa darah, tergantung peralatan yang
digunakan.
Dialiser adalah komponen penting selanjutnya dari sirkuit. Darah mengalir ke dalam
kompartemen darah dari dialiser, tempat terjadinya pertukaran cairan dan zat sisa. Darah yang
meninggalkan dialiser melewati detektor udara dan foam yang mengklem dan menghentikan
pompa darah bila terdeteksi adanya udara. Pada kondisi seperti ini, setiap obat-obat yang akan
diberikan pada dialysis diberikan melalui port obat-obatan. Penting untuk diingat, bahwa
kebanyakan obat-obatan ditunda pemberiannya sampai dialysis selesai kecuali memang
diperintahkan.

Darah yang telah melewati dialysis kembali ke pasien melalui venosa atau selang
postdialiser. Setelah waktu tindakan yang diresepkan, dialysis diakhiri dengan mengklem
darah dari pasien, membuka selang aliran normal salin, dan membilas sirkuit untuk
mengembalikan darah pasien. Selang dan dialiser dibuang kedalam perangkat akut, meskipun
program dialisis kronik sering membeli peralatan untuk membersihkan dan menggunakan
ulang dialiser.

Gambar 7. Prosedur Hemodialisis


Tindakan kewaspadaan umum harus diikuti dengan teliti sepanjang tindakan dialysis
karena pemajanan terhadap darah. Masker pelindung wajah dan sarung tangan wajib untuk
digunakan oleh perawat yang melakukan hemodialisis.
Prosedur ini memerlukan jalan masuk ke aliran darah. Untuk memenuhi kebutuhan
ini, maka dibuat suatu hubungan buata diantara arteri dan vena (fistula arteriovenosa), lebih
populer disebut (Brescia-) Cimino Fistula, melalui pembedahan yang cukup baik agar dapat
diperoleh aliran darah yang cukup besar. Fistula arteriovenosa dapat berupa kateter yang
dipasang di pembuluh darah vena di leher atau paha dan bersifat temporer.

Gambar 8. Pemasangan selang inlet dan outlet


Kemudian aliran darah dari tubuh pasien masuk ke dalam sirkulasi darah mesin HD
yang terdiri dari selang Inlet/arterial (ke mesin) dan selang Outlet/venous (dari mesin ke
tubuh). Kedua ujungnya disambung ke jarum dan kanula yang ditusukkan ke pembuluh darah
pasien. Selama proses HD, darah pasien diberi Heparin agar tidak membeku ketika berada di
luar tubuh yaitu dalam sirkulasi darah mesin. Selama menjalani HD, posisi pasien dapat
dalam keadaan duduk atau berbaring. Selain menjalani HD, dalam jangka panjang, obat-obat
yang diperlukan antara lain obat yang mengatasi anemia seperti suntikan hormon eritropoetin
serta pemberian zat besi. Selain itu obat yang menurunkan kadar fosfat darah yang meningkat
yang dapat mengganggu kesehatan tulang, diberikan obat pengikat fosfat (Phosphate binder).
Obat-obat lain yang diperlukan sesuai kondisi pasien misalnya obat hipertensi, obat-obat
antigatal, vitamin penunjang (yang bebas fosfor maupun mineral yang tidak perlu).

DAFTAR PUSTAKA

PROSEDUR DAN TEKNIK HEMODIALISA


http://bandungsehat.blogspot.com/2009/04/prosedur-dan-teknik-hemodialisa.html
Achmad Rizal.

2011. http://arl.blog.ittelkom.ac.id/blog/2011/07/hemodialisis/

http://apri-impossible.blogspot.com/
HEMODIALISA.2011.Daryadi . http://nsyadi.blogspot.com/2011/12/hemodialisa.html

http://planetcopas.blogspot.com/
http://planetcopas.blogspot.com/2012/06/prinsip-kerja-mesin-hemodialisa.html

PERITONEAL DIALYSIS
Add Comment
Treatments

Apa Itu Peritoneal Dialysis?

Peritoneal Dialysis merupakan salah satu terapi pengganti ginjal yang fungsinya
sama dengan hemodialisa, tetapi dengan metode yang berbeda. Peritoneal
dyalisis adalah metode cuci darah dengan bantuan membran peritoneum
(selaput rongga perut), jadi darah tidak perlu dikeluarkan dari tubuh untuk
dibersihkan dan disaring oleh mesin dialysis.

Proses Peritoneal Dialysis


Dalam peritoneal dialysis dilakukan pergantian cairan setiap hari tanpa
menimbulkan rasa sakit. Proses mengeluarkan cairan tersebut dalam jangka
waktu tertentu dan kemudian menggantikannya dengan cairan baru. Proses ini
terdiri dalam 3 langkah:
1. Mengeluarkan cairan, proses pengeluaran cairan dari rongga peritoneal
berlangsung dengan bantuan gaya gravitasi dan memerlukan waktu
sekitar 20 menit.
2. Memasukan cairan, cairan dialysis ke dalam rongga peritoneal melalui
kateter dan memerlukan proses 10 menit.
3. Waktu tinggal, tahap cairan disimpan di dalam rongga peritoneal selama 4
samapi 6 jam (tergantung anjuran dari dokter). Pergantian cairan diulang
setiap 4 atau 6 jam, dengan maksud minimal 4 kali sehari, 7 hari dalam

seminggu. Anda dapat melakukan pergantian di mana saja seperti di


rumah, tempat bekerja, atau di tempat lainnya yang anda kunjungi, namun
tempat-tempat tersebut harus memenuhi syarat agar terhindar infeksi.

Pemilihan tempat yang baik untuk pergantian cairan memiliki beberapa kriteria :
1. Pastikan tempat tersebut : bersih, tidak ada hembusan agin (kipas angin,
pintu / jendela terbuka), dan memiliki penerangan yang baik.
2. Tidak diperkenankan adanya binatang disekitar saat pergantian cairan dan
di tempat penyimpanan peralatan anda.
3. Bebas gangguan dari luar.
Jenis Peritoneal Dialysis
1. APD (Automated Peritoneal Dialysis) / Dialysis Peritoneal Otomatis.
Merupakan bentuk terapi dialysis peritoneal yang baru dan dapat
dilakukan di rumah, pada malam hari sewaktu tidur dengan menggunakan
mesin khusus yang sudah diprogram terlebih dahulu. Mesin khusus ini
dapat dibawa ke mana saja, dikarenakan mesin ini tidak bekerja dengan
daya gravitasi maka keharusan untuk menimbang dan menggantung
kantung cairan.
2. CAPD (Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis) / Dialysis Peritoneal
Mandiri Berkesinambungan. Bedanya tidak menggunakan mesin khusus
seperti APD. Dialysis peritoneal diawali dengan memasukkan cairan
dialisat (cairan khusus untuk dialysis) ke dalam rongga perut melalui
selang kateter, lalu dibiarkan selama 4-6 jam. Yang dimaksud dengan
kateter adalah selang plastik kecil (silikon) yang dimasukan ke dalam
rongga peritoneal melalui pembedahan sederhana, kateter ini berfungsi
untuk mengalirkan cairan dialysis peritoneal keluar dan masuk rongga
peritoneum anda. Ketika dialisat berada di dalam rongga perut, zat-zat
racun dari dalam darah akan dibersihkan dan kelebihan cairan tubuh akan
ditarik ke dalam cairan dialisat.
Peralatan Peritoneal Dialysis
1. Ultrabag / twinbag sistem : Kateter, Konektor titanium, Short transfer
set, Cairan dialysis (ultra bag / twin bag system), Minicap, Outlet port
clamps (untuk twin bag system).
2. Sistem Ultraset / Easi-Y_system : Kateter, Konektor titanium, Short transfer
set, Cairan dialysis, Minicap, Outlet port Clamps (untuk sistem kantung
kembar), Ultra set / Easi-Y set, Kantong drainase untuk Easi-Y system.
Fungsi Setiap Alat Peritoneal Dialysis
Kantung cairan dialysis
Kantung yang berisi cairan ini dimasukan ke dalam peritoneum dan akan
membuang produk sisa cairan yang berlebihan dari darah. Bagian depan kantung
ini tertera informasi yang sebaiknya dibaca terlebih dahulu sebelum digunakan,
antara lain :

Pastikan konsentrat cairan dialysis yang digunakan sudah sesuai dengan


ketentuan (1.5%, 2.5% dan 4.25%).
Tanggal kadaluarsa, volume kantong.

Tidak mengalami kebocoran pada kantung.

Nomor kode produk.

Pastikan bagian ujung kantong masih dalam kondisi tetutup.

Pastikan cairan dalam kontong berwarna jernih.

Anda dapat menghangatkan kantung cairan dengan cara pemanasan kering,


seperti : bantal panas atau lampu pemanas. Hindari dengan pemanasan basah
(merebus dengan air), dikarenakan dapat menimbulkan pertumbuhan kuman.
Cara membuang cairan bekas pakai dapat dibuang di toilet dan kantungnya
dapat dibuang di tempat sampah, pastikan anda mencuci tangan dengan bersih
setelah mebuangnya.

Outlet port clamps


Klem yang terbuat dari plastik ini berwarna merah dan berfungsi untuk
mencegah aliran cairan pada setiap tahap yang berbeda pada waktu pertukaran
cairan. Klem ini tidak bersifat steril, pastikan dengan mencuci menggunakan air
dan sabun, dan mengeringkan dengan bersih dan disimpan dalam posisi terbuka.

Short transfer set


Sistem PD produksi baxter merupakan sistem tertutup yang bertujuan
melindungi rongga peritoneal.

Mini Cap disconnect cap


Penutup ini berfungsi melindungi ujung short transfer line dan memberikan
keamanan dan kemudahan bagi pasien. Sehingga patients line tetap tertutup
dengan baik, dan sistem tidak terkontaminasi. Mini cap ini bersifat steril dan di
dalamnya terdapat busa yang dibasahi povidone iodine.

Titanium connector
Berfungsi menghubungkan kateter dengan transfer line konektor ini terbuat
dari bahan yang ringan, kuat dan anti infeksi.

Kateter
Kateter dipasang bedasarkan keputusan anda dan dokter anda. Lebih baik
dijadwalkan waktu yang memadai untuk proses penyembuhan luka perut karena
operasi pemasangan kateter. Pemasangan kateter direkomendasikan untuk
dikakukan pada saat klirens kreatinin antara 5-10 ml/menit.

Kateter terletak di dalam lobang peritoneum sebagian besar berlubang. Lubanglubang ini berfungsi untuk mengalirkan cairan masuk ke dalam maupun keluar
dari rongga peritoneum. Biasanya kateter dilengkapi dengan manset fiksasi putih
yang berfungsi mempertahankan posisi kateter tetap berada di otot di antara
kulit dan rongga selaput perut (peritoneal). Tempat an,sebagian kateter muncul
dari dalam perut disebut exit site. Sesudah pemasangan, jika ditemukan
sejumlah kecil cairan bening dan darah disekitar exit site merupakan hal yang
normal. Cairan tersebut akan hilang dengan sendirinya dalam satu atau dua
minggu seiring dengan sembuhnya exit site. Konektor titanium adalah sejenis
logam yang berfungsi sebagai penghubung antara kateter dengan transfer set.

Metode Pemasangan Kateter


1. Metode PERCUTANEUS, dilakukan oleh dokter spesialis ginjal, pada tempat
baring pasien dilakukan pembiusan lokal, kateter diarahkan ke dalam dan
ditempatkan di dalam rongga perut dengan menggunakan pemadu. Untuk
metode ini pasien tidak memerlukan rawat inap.
2. Metode BEDAH, dilakukan di ruangan operasi, pasien diharuskan menjalani
rawat inap, dapat dilakukan bius lokal maupun umum.
Perawatan kateter ditujukan agar tidak terjadi infeksi dalam waktu panjang dan
diperlukan perawatan pasca operasi yang sifatnya mencegah pertumbuhan
bakteri pada luka operasi maupun exit site. Perawatan ini berupa:
1. Mandi setiap hari tanpa membahasahi exit site maupun luka operasi yang
belum sembuh.
2. Melakukan pergantian cairan ditempat yang memenuhi syarat seperti yang
dijelaskan diatas.
3. Mempertahankan posisi kateter, dan tidak diperkenankan untuk menarik
atau memutar kateter, karena akan melukai exit site dan sering
menyebabkan timbulnya infeksi.
4. Menjaga exit site dan luka operasi anda tetap kering. Keduanya harus
tetap kering paling tidak 10 hari setelah pemasangan.
5. Menggunakan masker pada saat pergantian cairan, hal ini dimaksudkan
agar mencegah kuman dari hidung dan mulut anda masuk ke dalam
kateter.
6. Cuci tangan sebaik mungkin menggunakan sabun dan keringkan dengan
lap atau handuk yang bersih. Mintalah cara mencuci tangan oleh perawat
anda.