Anda di halaman 1dari 22

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

EKSPLORASI UMUM PASIR BESI


DI DAERAH KABUPATEN JENEPONTO,
PROVINSI SULAWESI SELATAN
Oleh :
Moetamar
Kelompok Program Penelitian Mineral
SARI
Lokasi penyelidikan dilakukan di sepanjang pantai Desa Bulo-bulo, Kecamatan
Arungkeke dan Kelurahan Pabiringa, Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto,
Provinsi Sulawesi, secara geografis terletak diantara 50 38 42 50 42 20 Lintang
Selatan dan 1190 42 16 1190 50 35 Bujur Timur
Pelaksanaan penyelidikan dilakukan dengan metoda pemetaaan endapan di
permukaan, dan pengeboran dengan menggunakan bor tangan tipe Dormer dengan
interval 400 meter arah base line dan 25 meter arah cross line guna mengetahui
ketebalan lapisan pasir besinya.
Morfologi wilayah Kabupaten Jeneponto terdiri dari Perbukitan terjal
menempati bagian utara, Perbukitan bergelombang menempati bagian tengah dan
pedataran menempat bagian selatan hingga pantai.
Stratigrafi daerah penyelidikan dari tua ke muda disusun oleh: Batu gamping,
Tuf berlapis, Batuan gunungapi (Breksi dengan fragmen andesit-Basalt dan Lahar)
mendominasi daerah penyelidikan >50%, batuan termuda adalah endapan permukaan
yang menempati pedataran pantai dan sungai.
Daerah penyelidikan terbagi dalam 4 sektor mulai dari utara ke barat daya
yaitu sektor Punagaya, Bulo-Bulo, Kampala dan Pabaringa, secara visual kandungan
pasir besi tertinggi di sektor bulobulo ditandai dengan meningkatnya perbandingan
pasir besi berwarna abu-abu kehitaman sedangkan kearah barat daya(sektor
kampala,Pabiringa) dan utara (sektor Punagaya)kandungan pasir besi relatif menurun
hal ini ditandai oleh meningkatnya perbandingan pasir gamping berwarna putih
kecoklatan
Berdasarkan hasil perhitungan, sumber daya tertunjuk konsentrat pasir besi :
Sektor Punagaya adalah 20.101,40 ton dengan MD rata-rata = 0,781 %, SG rata-rata
= 2,516 ton/m3 dan kandungan Fe Totalrata-rata = 45,23 %.,
Sektor Bulo-bulo1 63.509,79 ton MD rata-rata = 2,972 %, SG rata-rata = 2,767
ton/m3 dan kandungan Fe Totalrata-rata = 47,29 % .
Sektor Bulo-bulo2 9.202,71 ton dengan MD rata-rata = 2,672 % SG rata-rata =
2,639 ton/m3 dan kandungan Fe Total rata-rata = 45,74 %.
Sektor Kampala adalah 19.693,13 ton dengan MD rata-rata = 1,922 %, SG rata-rata
= 2,326 ton/m3 dan kandungan Fe Total rata-rata = 45,57 %.
Sektor Pabiringa adalah 8.047,31 ton MD rata-rata = 1,127 %, SG rata-rata =
2,326 ton/m3 dan kandungan Fe Totalrata-rata = 43,05 %.
Total sumber daya konsentrat pasir besi di empat daerah tersebut adalah :
120.554,36 Ton.Dengan potensi yang tidak begitu besar, maka penyelidikan endapan
pasir besi ini tidak perlu dilanjutkan

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

Pemetaan ini
dan conto dari
horizon C (yang
dimulai
dengan
PENDAHULUAN
terletak di bawah
orientasi
Latar Belakang
permukaan
air
lapangan dan
pengeplotan
laut).
Besi diperlukan dalam industri berat,obyek pengamatan
kendaraan bermotor dan bahan konstruksi,Pengamatan singkapan Pengurangan
berat conto
yang mana pemakaiannya akhir-akhir inimengetahui kondisi
dikerjakan di
semakin meningkat, sehingga dalam jangkatersebut
lapangan
dari
dengan cara
waktu tertentu kemungkinan bahan baku besi segala
aspek
increment
untuk kebutuhan industri tersebut akan habis. termasuk
berdasarkan
genetiknya.
Untuk menjaga kesinambungan industriJ.I.S.
Pemetaan
geologi
industri tersebut diperlukan pencarian bahan
(Japanese
dilakukan
di
baku besi, dimana pasir besi merupakan salah daerah sepanjang
Industrial
Standard ), yaitu
satu sumber daya yang potensial.
pantai
timur
dengan jalan
Berkenaan dengan salah satu tugasJeneponto.
topografimenampung
dan fungsi Pusat Sumber Daya Geologi,Pengukuran
conto asli ke
maka pada Tahun Anggaran 2008, Kelompokmenggunakan T0, untuk dalam baki kayu
Program Penelitian Mineral melakukantitik ikat pemboran
berukuran 90 cm
x 60 cm x 2 cm.
eksplorasi umum pasir besi di Kabupaten pengambilan conto
Pemisahan
fraksi
Jeneponto, Provinsi Sulawesi Selatan.
secara
kuantitatif. Sedangkan
magnetituntuk
dari
titik ikat global
Maksud dan Tujuan
non
magnetit menggunakan magnet batang
Kegiatan ini dimaksudkan untukmengunakan
300
gaus
secara berulang-ulang
koordinat
mendapatkan data primer tentang potensi
GPS.
sebanyak
7
kali
untuk
sumber daya pasir besi yang terdapat di daerah Untuk
pengambilan mendapatkan conto konsentrat yang
Kabupaten Jeneponto, Provinsi Sulawesibesi menggunakan alat
cukup
bersih.
Selatan
yang
akan
bermanfaat
bagiauger) dengan interval Kosentrat
yang
pengembangan daerah.
sejajar pantai) 400 m
diperoleh
dari
pemisahan
Tujuan kegiatan ini adalah dapatdan cross line
sekitar
25m.
magnet ditimbang
membantu Pemerintah Provinsi Sulawesiauger yang
dalam
satuan
Selatan khususnya Kabupaten Jenepontodipakai jenis
gram. Nilai MD
Doormer
yang
dalam merencanakan pengembangan wilayah
dilengkapi dengan casing(Magnetic
berdiameter
guna menggali dan meningkatkan pendapatan 2,5 inchi. Conto-conto
Degree) diperoleh
asli daerah.
atas permukaan
air dengan
membandingkan
Lokasi Penyelidikan
dengan sendok
berat konsentrat
pasir (sand
dan berat asal,
Lokasi penyelidikan dilakukan diauger) jenis
dengan rumus :
sepanjang pantai Desa Bulo-bulo, KecamatanIvan
berdiameter
Arungkeke dan Kelurahan Pabiringa,sedangkan conto pasir
Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto,bawah permukaan air
Provinsi Sulawesi, secara geografis terletak dengan bailer.
diantara 50 38 42 50 42 20 LintangConto-conto diambil
Selatan dan 1190 42 16 1190 50 35kedalaman satu
Bujur Timur (Gambar 1).
meter atau lebih
dan
dibedakan
Metoda
antara conto dari
Pelaksanaan penyelidikan di daerahhorizon A (diatas
ini dilakukan dengan metoda pemetaan permukaan
air
endapan
di
permukaan,
pengukurantanah),
conto
topografi, pemboran, sumur uji, dan analisishorizon B (antara
permukaan
air
laboratorium.
tanah dan air laut)

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI


Berat konsentrat
M.D. = ------------------------- --- X
% Berat asal

100

Sedangkan
untuk
mengetahui
komposisi
dan kadarnya dilakukan
analisis kimia yang meliputi SiO2,
Al2O3, Fetotal, Fe2O3, Fe3O4, TiO2,
terhadap conto komposit. Selain itu
analisis fisika mineral juga dilakukan
untuk conto
pasir besi meliputi ,
analisis butir .
Untuk mengetahui sumber daya adalah
dengan rumus :

Sinjai, Maros,
Bone dan
Bantaeng,
Provinsi
Sulawesi
Selatan
GEOLOGI DAN
INDIKASI
MINERALISASI
(BAHAN
GALIAN)
Tatanan Tektonik
P. Sulawesi

Secara
regional
Pulau
Sulawesi terletak
Dimana :
di
antara
C = Sumber daya dalam ton
lempeng-lempeng
L = Luas daerah pengambilan bor dalam m benua
Eurasia,
t = Tebal endapan dalam
Indian-Australia
meter MD = Kadar magnetik
dan Pasifik yang
dalam % SG = Berat Jenis
saling
bertabrakan, dan
Penyelidik Terdahulu
serta
Data mengenai sumber daya pasirterletak
merupakan
besi di daerah Kabupaten Jeneponto dan
sekitarnya telah dicantumkan dalam Neracapinggiran
aktif
Sumber Daya Mineral Logam Tahun 2007,lempeng
Pasifik
bagian
yaitu di daerah Kelara, Parapungta dan Tanah
Jampea namun tidak disebutkan sumberbarat. (Gambar 2)
Proses
datanya.
yang
Berbagai penyelidik terdahulu terkait geologi
dengan kondisi geologi dan geokimia daerah rumit di Sulawesi
penyelidikan yang juga menjadi acuan dalam telah
menghasilkan
kegiatan penyelidikan ini antara lain:
1 Rab Sukamto dan Sam Supriatna (Pusat perubahan
Penelitian dan Pengembangan Geologi) bermacam-macam
pada tahun 1982 telah menyusun Peta daerah tektonik
seperti
struktur
Geologi Lembar Ujung Pandang,
busur kepulauan
Bantaeng dan Sinjai, Sulawesi sekala 1:
yang
normal
250.000
sampai ke suatu
2 M. Bagdja, S. Kamal, dan Wawandeformasi jalur
Suherman
(Direktorat
Sumberdayatektonik
yang
Mineral) pada tahun 1995 menyusun,sekarang
ada,
Laporan
Penyelidikan
Geokimiapenggabungan
Regional Bersistim Daerah Kabupatendari
fragmen
Bulukumba,
terhadap bagian
daerah lain, sesar
sungkup
dari
lempeng samudra
dan mantel ke atas
busur kepulauan,
tertutupnya
cekungan
laut
C = (L X t ) X MD X SG

dalam di belakang
busur,
pembentukan tepi
cekungan akibat
terjadinya
pemekaran dasar
samudra
di
belakang busur,
pengembangan
zona
subduksi
kecil
dengan
polarisasi
yang
berlawanan, dll.
Pola
tektonik
Pulau
Sulawesi
dapat
disimpulkan
terdiri dari dua
zona
busur
tektonik.
Salah
satunya
adalah
busur
tektonik
bagian barat yang
terdiri dari lengan
selatan,
lengan
utara dan bagian
tengah
Pulau
Sulawesi. Busur
tektonik
yang
lainnya
adalah
busur
tektonik
bagian timur yang
terdiri dari lengan
tenggara
dan
timur
Pulau
Sulawesi.
Menurut
beberapa penulis
terdahulu, evolusi
Sulawesi dimulai
dari Miosen atau
bahkan lebih awal,
ketika
terbentuknya 800
km
busur
kepulauan
di
bagian
timur
Kalimantan yang
berarah
utara
selatan,
menghadap
ke
timur,
sebagai
akibat
adanya
suatu pemekaran
dasar samudera di

Pasifik. Kemudian terjadi volkanisma danAwal


telah
plutonisma setelah proses subduksi ini.merubah
bentuk
Selanjutnya tumbukan Lempeng Sulawesi danSulawesi menjadi
Lempeng Australia-New Guinea pada Pliosen sebuah pulau

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

memanjang
melengkung ke arah benua, dan pada saat progresif
dari
yang sama terbentuk pula obduksi ofiolit di zona
subduksi
busur bagian timur pulau tersebut.
muda
di
Pada akhir Paleosen, pergerakansepanjang
sisi
Lempeng Pasifik berlanjut dan perlahan-lahanutara lengan utara
mendorong Sulawesi ke arah Benua Asia,Pulau Sulawesi.
menyebabkan tertutupnya laut antara Sulawesi
dan Kalimantan. Kemudian terjadi tumbukanStratigrafi
Geologi
antara bagian barat Busur Sulawesi dan bagian
umum
daerah
timur Busur Kalimantan, menyebabkan
terbentuknya obduksi ofiolit di Pegununganpenyelidikan
ke
Meratus dan sedikit deformasi batuan sedimen termasuk
Peta
di cekungan minyak Kalimantan Timur. Pada dalam
Kuarter, selama terjadinya proses patahan geserGeologi Lembar
Palu-Koro, Selat Makassar menjadi terbuka.Pangkajene dan
Gerakan ke timur Sulawesi ini dapat dibuktikanLembar
dengan terjadinya patahan geser Palu-KoroUjungpandang
yang baru. Gerakan ini mungkin menyebabkansekala 1 : 250.000
terjadinya patahan-patahan di lengan Sulawesi(Sukamto, 1982).
(Gambar
3).
bagian selatan.
Kelompok batuan
tua
yang
Daerah penyelidikan terletak di
umumnya belum
daerah busur tektonik bagian barat. Secara
diketahui
umum busur ini terdiri dari batuan gunungapi
umurnya, terdiri
dan batuan plutonik, sedangkan busur
dari
batuan
tektonik bagian timur terdiri dari jalur batuan
ultrabasa, batuan
metamorfik, fragmen ofiolit dan komplek
malihan
dan
subduksi.
batuan melange.
Di busur tektonik bagian barat, Batuan tua ini
komplek subduksi Kapur ditutupi oleh tertindih
secara
batuan sedimen. Di atasnya terletak lapisan tidak selaras oleh
paparan benua Paleogen Atas, yang endapan
flysch
kemudian ditutupi oleh batuan volkanik dan Formasi
sedimen Neogen dan diintrusi oleh batuan Balangbaru (Kb)
granitik Neogen.
yang
berumur
Busur
tektonik
bagian
timur,
Kapur Akhir. Ciri
nampaknya secara umum menjadi lebih muda
litologinya
ke arah timur hingga mendekati Miosen Akhir. hampir
sama
Urut -urutan lapisan batuan yang luas di busur dengan Formasi
tektonik bagian barat dan timur ini Marada di daerah
diinterpretasikan dari pergerakan kearah timur Kahu, terdiri dari
busur magmatiknya, akibat dari pemekaran serpih
dan
tektonik melalui proses subduksi. Mungkin batusabak. Batuan
pola tumpang tindih demikian ini adalah gunungapi
pengaruh dari rifting Sulawesi dari Kalimantan, Paleosen
(Tpv)
yaitu akibat suatu pemisahan dan distorsi terpropilitkan,
lengan-lengan serta peregangan
menutup
tidak
selaras di atas
batuan tersebut.
Batuan gunungapi
ini
telah
mengalami
ubahan
berkomposisi

andesit
hingga
basal, terdiri dari
tufa, breksi dan
lava,
berwarna
kelabu tua hingga
kehijauan, kadang
dengan
kekarkekar yang terisi
mineral
kontak
epidot
yang
sangat
intensif,
sehingga
pada
beberapa tempat
kadang
membentuk lensa
atau diisi oleh
urat
kuarsa.
Batuan breksinya,
pada
beberapa
tempat
disusun
dari
komponen
aneka
bahan,
berukuran lapili
hingga 50 cm.
Di
atas
batuan serpih dan
batuan gunungapi
Paleosen tersebut
diendapkan batuan
sedimen
darat
dengan
sisipan
batubara Formasi
Mallawa
(Tem).
Secara berangsur
ke atasnya beralih
menjadi endapan
karbonat
(batugamping)
yang diperkirakan
dari
Formasi
Tonasa
(Temt).
Formasi
ini
sebagian
memperlihatkan
batugamping padat
kristalin berlapis
dan
sebagian
merupakan
batugamping koral,
tersebar luas di
bagian
barat
menempati
topografi
tinggi
membentuk bukitbukit, diperkirakan

berumur Miosen Tengah.

batugamping
Formasi Tonasa ini
Di sebagian bagian tengah dan utara terendapkan
daerah Blok Camba, tidak selaras di atas batuan
sedimen

berselingan dengan
batuan gunungapi
berumur

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

dataran tinggi dan


Miosen Tengah hingga Pliosen, yang secara bukit-bukit yang
bersamaan membentuk Formasi Cambamembentang dari
barat ke timur
(Tmc).
Kegiatan gunungapi masih terjadidengan
500
selama Pliosen menghasilkan batuanketinggian
dengan
gunungapi Baturappe-Cindako. Terobosansampai
meter
batuan beku yang terjadi di daerah ini1.400
semuanya berkaitan erat dengan kegiatandiatas permukaan
gunungapi tersebut. Bentuknya berupa stok,laut. Di bagian
sil dan retas bersusunan mulai dari basal, tengah meliputi
andesit, trakit, diorit dan granodiorit.
wilayah -wilayah
dataran
dengan
Indikasi Mineralisasi
ketinggian
100
Berdasarkan
data-data
yang
sampai
dengan
diperoleh dari basis data yang ada di Pusat
Sumber Daya Geologi maupun data-data 500 meter diatas
laporan yang ada di Dinas Pertambangan danpermukaan laut,
bagian
Energi
Provinsi
Sulawesi
Selatan,dan
selatan
meliputi
kebanyakan mineralisasi logam yang terdapat
di daerah ini berupa mineralisasi logam dasarwilayah-wilayah
rendah
(Cu, Pb, Zn) dan logam besi dan paduan besidataran
dengan
(Fe, Mn).
0
Dari data yang ada (PT. Mintekketinggian
sampai
dengan
Dendrill Indonesia, 2006), logam besi primer
terdapat di daerah Tanjung dan Pakke, 100 meter di atas
laut.
Kecamatan Bontocani, Kabupaten Bone yangpermukan
mempunyai sumber daya tertunjuk 8.171.060(Gambar 4)
ton bijih yang berupa bijih besi deluvial dan
besi primer tipe skarn.
Sedang lokasi untuk pasir besi
ditemukan pada beberapa tempat yakni di
daerah Parapungta, Batubatu-Bontosunggu
dan Bontokonan-Bantomanu kesemuanya di
Kabupaten Takalar.
Sesuai dengan genesa pasir besi yakni
adanya batuan gunungapi diorit basal yang
ditoreh/dipotong oleh aliran sungai dan
diendapkan di pantai maka diharapkan pantai di
wilayah Kabupaten Jeneponto mempunyai
prospek endapan pasir besi yang cukup besar. Gambar
4.
HASIL PENYELIDIKAN
Morfolog
Geologi Daerah Penyelidikan
i daerah
Morfologi
Bentang alam wilayah Kabupatenpenyelidi
Jeneponto
pada
umumnya
memiliki
kan dan
permukaan yang sifatnya bervariasi. Bagian
sekitarny
utaranya terdiri dari
a
Litologi
Berdasark
an pengamatan di
lapangan, litologi
daerah

penyelidikan
secara berurutan
dari tua ke muda
adalah
sebagai
berikut (Gambar
5) :
1. Batugamping
Batuan ini
dijumpai
di
sebelah
barat
daerah
penyelidikan,
berwarna
putih
kotor
hingga
kuning
muda,
berlapis,
pada
beberapa tempat
tersesarkan,
terlihat
adanya
zona
hancuran.
Satuan batuan ini
termasuk
ke
dalam
Formasi
Tonasa
(Rab
Sukamto dan Sam
Supriatna, 1982).
2. Tufa berlapis
Satuan ini
mempunyai
kontak
struktur
dengan
satuan
batugamping,
tersebar di bagian
timur-utara
daerah
penyelidikan.
Secara
megaskopis
teramati
tufa
berlapis,
berukuran halus,
kedudukan
perlapisan relatif
mendatar. Secara
fisik karakteristik
batuan
ini
memperlihatkan
kesamaan dengan
Formasi Camba
(Rab
Sukamto
dan
Sam
Supriatna,1982).
3. Batuan
Gunungapi

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

seterusnya hingga
Satuan batuan ini terdiri dari breksi dan lahar,mencapai keadaan
tersingkap baik di Kecamatan Batang bagianseperti sekarang
utara penyelidikan. Penyebaran batuan ini ini.
Proses
mendominasi daerah penyelidikan (> 50%).pengendapan
Secara megaskopik batuan berwarna abu-abupasir
besi
di
terdiri dari kepingankepingan andesit-basaltdaerah Bulo-Bulo
berdiameter dari 1 cm hingga 100 cm, satuan dan sekitarnya.
batuan ini termasuk ke dalam satuan
Proses
gunungapi Lompobatang diduga berumurperombakan terjadi
Plistosen (Rab Sukamto dan Sam Supriatna,akibat
dari
1982
pelapukan batuan
yang
umumnya
4. Aluvium
terjadi
karena
Penyebaran endapan permukaan ini
proses
alam
akibat
mendominasi daerah pantai dan sungai terdiri
panas
dan
hujan
dari lempung, lumpur, pasir kerikil dan kerakal.
membuat
butiran
Khususnya endapan pantai terdiri dari pasir
terlepas
lempungan dan pasir yang mengandung mineral
dari
batuan,
magnetit (pasir besi) ( Foto 1)
dimana
untuk
endapan pasir besi
umumnya terdiri
dari
mineralmineral magnetit,
ilmenit, hematit,
titanomagnetit dan
mineral
lainnya
yang secara umum
berasal dari batuan
gunungapi. Media
transportasi
endapan pasir besi
pantai antara lain
adalah aliran air
Foto 1. Sebaran lateral pasir besi di
sungai
dan
daerah penyelidikan
gelombang arus air
laut.
Mineralisasi Pasir Besi
Secara umum endapan pasir besi Data Lapangan
yang terdapat di desa-desa Punagaya, Bulo- dan Interpretasi
Bulo, Kampala dan Pabiringa berasal dari Model Endapan

hasil rombakan batuan gunungapi berupa 1. Data Lapangan


Data
lava, breksi, endapan lahar sisipan tufa yang
lapangan
yang
bersusunan andesitik hingga basaltik dari
hasil erupsi Gunungapi Lompobatang yang diperoleh terdiri
disebut Formasi Lompompobatang kemudian dari :
terbawa oleh aliran Sungai Jeneponto sampai 1 Pengukuran
mencapai muara sungai, kemudian oleh
titik bor dan
kinerja gelombang laut mineral-mineral yang
daerah
mengandung
besi
terakumulasi
oleh
pengeboran
perbedaan berat jenis, demikian
total 79 titik
bor dari empat
lokasi
yaitu
Punagaya 19
titik bor, Bulo-

bulo 31 titik
bor, Kampala
18 titik dan
Pabiringa 11
titik bor.

2 Pengambilan
conto
pasir
besi dari 4
sektor lubang
bor
adalah
259
contoh
dan 69 conto
komposit
3 Pemerian
lubang
bor
sebanyak 79
log bor
2. Pengolahan
Data
Penggam
baran
Penampang
Tegak
Pengeboran
Sejajar Pantai
Tujuanny
a adalah untuk
mengetahui
sebaran pasir besi
sejajar pantai dan
hasilnya
dapat
dilihat
pada
Gambar 6.
Penggambaran
Penampang
Tegak
Pengeboran
Tegak
Lurus
Pantai
Tujuanny
a adalah untuk
mengetahui
sebaran pasir besi
tegak lurus pantai
dan
hasilnya
dapat dilihat pada
Gambar 7.
Penentua
n
Derajat
Kemagnetan
(MD)

Derajat

kemagnetan

ditentukandengan

rumuss

sebagai berikut :

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

Sumber Daya
MD = Berat Konsentrat / Berat conto hasil Konsentrat Pasir
Besi
reduksi x 100 %.
Penentuan
Sebaran derajat kemagnetan dapat dilihat
sumber
daya
pada Gambar 8, Gambar 9, Gambar 10 dan
konsentrat
Gambar 11.
endapan pasir besi
Hasil analisis kimia
dilakukan dengan
Conto-conto yang dianalisis kimia
metoda
daerah
adalah
conto
individu maupun
pengaruh dengan
komposit yang mewakili dari empat
menggunakan
sektor. Senyawa kimia yang dianalisis
adalah SiO2, Al2O3, Fetotal, Fe2O3, CaO, rumus C = (L x t)
x MD x SG
MgO, TiO2, K2O dan H2O.
Hasil analisis kimia dalam satuan persen (%) C = sumber daya
dari conto komposit untuk masing-masing dalam ton
senyawa adalah sebagai
L = luas daerah
berikut : SiO2 berkisar antara 1,44pengaruh dalam
17.01%; Al2O3 antara
3,91% m2
11,79%;
Fetotalantara 24,71% t = tebal rata-rata
51,48%; Fe2O3 antara 35,33% -73,60%;
CaO antara 0,31% - 12,32%; MgO
endapan pasir besi
antara 2,31% - 4,64%; TiO2 antara
dalam meter
5,70% - 13,62%, K2O antara 0,15% MD = persentase
3,97%.
dan H2O antara 0,13% kemagnetan
1,31%.
dalam persen (%)
SG = Berat jenis
Hasil analisis mineralogi butir
dalam
Hasil analisis mineral butir terhadap conto
ton/m3
komposit di empat sektor penyelidikan
teridentifikasi mineral sebagai berikut :
Berdasark
piroksen, Magnetit Kuarsa ilmenit, oksida
an
besi, karbonat, biotit, hematite kadang
perhitung
kadang hadir dan zirkon sama sekali tidak
hadir
an
sementara
PEMBAHASAN
Permintaan pasar untuk komoditi pasir besidiperoleh sumber
dalam perdagangan internasional konsumendaya konsentrat
besi
di
sangat tergantung dari mutu pasir besi pasir
sektor
Punagaya,
dengan kandungan Fe total dan TiO2. Secara
keseluruhan kandungan Fetotal daerahBulo-Bulo,
dan
Jeneponto tidak terlalu tinggi dengan kisaran Kampala
Pabiringa
sebagai
antara 43,05% - 47,29%, dengan variasi yang
hampir merata pada setiap lubang.berikut :
Sedangkan untuk kandungan TiO2 dalam
kisaran 5,70% hingga 13,62% diatas angka Sektor
10%, dengan kandungan tersebut diatas maka Punagaya
daerah
lebih cocok untuk konsumsi pabrik semen. Luas
pengeboran
=
Umumnya untuk pabrik besi baja kadar besi
444.800,.00 m2
minimal 63% Fe, sehingga untuk memenuhiTebal rata-rata
ini kadar besi harus ditingkatkan denganendapan pasir =
pengolahan (dibuat konsentrat) di tempat,2,30 m MD
atau dengan penambangan secara selektif.rata-rata =
Selain itu kebutuhan bijih besi untuk pabrik 0,781 %
SG rata-rata =
baja harus berbentuk pelet.
2,516 ton/m3
Jadi sumber daya
tertunjuk
konsentrat
pasir

besi
sektor
Punagaya adalah C
= 444.800,00 m2 x
2,30 m x 0,781 /
100 x 2,516 ton/m3
=
20.101,406 ton,
dengan kandungan
Fe Total rata-rata =
45,23 %.

Sektor BuloBulo 1
Luas
daerah
pengeboran
(Bulo-Bulo 1) =
216.700,00 m2
Tebal rata-rata
endapan pasir =
3,564 m MD
rata-rata = 2,972
%
SG rata-rata =
2,767 ton/m3
Jadi sumber daya
tertunjuk
konsentrat
pasir
besi sektor BuloBulo 1 adalah C =
216.700,00 m2 x
3,564 m x 2,972 /
100 x 2.767 ton/m3
= 63.509,799 ton,
dengan kandungan
Fe Total rata-rata =
47,29 %.
Sektor BuloBulo 2.
Luas
daerah
pengeboran
(Bulo-Bulo 2) =
53.400,00 m2
Tebal rata-rata
endapan pasir =
2,444 m MD
rata-rata = 2,672
%
SG rata-rata =
2,639 ton/m3
Jadi sumber daya
tertunjuk
konsentrat
pasir
besi sektor BuloBulo 2 adalah C =
53.400,00m2
x
2,444 m x 2,672 /
100 x

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

DAFTAR

2,639 ton/m3 = 9.202,713 ton, dengan PUSTAKA


kandungan Fe Total rata-rata = 45,74 %.

Bagdja, M,
Kamal, S.
Daerah Kampala
dan
Luas daerah pengeboran = 115.600,00 m
Suherman
Tebal rata-rata endapan pasir = 3,811 m MD
, W.,
rata-rata = 1,922 %
3
1995,
SG rata-rata = 2,326 ton/m
Laporan
Jadi sumber daya tertunjuk konsentrat pasir
Penyelidi
besi sektor Kampala adalah C = 115.600,00 m 2
3
kan
x 3,811 m x 1,922/100 x 2,326 ton/m =
Geokimi
19.693,131 ton, dengan kandungan Fe Total
rata-rata = 45,57 %.
a
Regional
Daerah Pabiringa
Bersistim
Luas daerah pengeboran = 82.030,00 m
Daerah
Tebal rata-rata endapan pasir = 3,741 m MD
Kabupat
rata-rata = 1,127%
en
SG rata-rata = 2,326 ton/m3
Bulukum
Jadi sumber daya tertunjuk konsentrat pasir
ba,
besi sektor Pabiringa adalah C = 82.030,00 m2
Sinjai,
x 3,741 m x 1,127/100 x 2,326ton/m3 =
Maros,
8.047,316 ton, dengan kandungan Fe Total
Bone dan
rata-rata = 43,05 %.
Bantaeng
, Provinsi
Total sumber daya konsentrat pasir
Sulawesi
besi di empat sektor tersebut adalah :
Selatan,
120.554,36 Ton dan klasifikasi sumber daya
Direktorat
ini adalah tertunjuk.
Sumberda
ya
KESIMPULAN DAN SARAN
Mineral,
Berdasarkan
hasil
pengamatan
Bandung.
lapangan dan analisis MD, sumber daya
tertunjuk konsentrat pasir besi daerahSoleh, A., Ramli,
Punagaya adalah 20.102 ton, sektor Bulo-Y.R., 1995,
bulo-1 69.465 ton, sektor Bulo-bulo-2 9.202 Laporan
ton sektor Kampala adalah 19.695 ton dan
Penyelidi
sektor Pabiringa adalah 8.047 ton, sehingga
kan
total sumber daya tertunjuk pasir besi
Geokimi
keempat sektor tersebut sebesar 120.554 ton.
a
Dengan potensi yang tidak begitu
Regional
besar ini, maka kegiatan penambangan ini
Bersistim
menjadi tidak layak untuk dilakukan.
Daerah
Kabupat
en Bone
dan
Sinjai,
Provinsi
Sulawesi
Selatan,
Direktorat
Sumberda
ya
Mineral,
Bandung.

Sukamto, R.,
Supriatna, S.,
1982,
Geologi
Lembar
Ujung
Pandang,
Bantaeng
dan
Sinjai,
Sulawesi
sekala 1:
250.000,
Pusat
Penelitian
dan
Pengemba
ngan
Geologi,
Bandung.
Sukamto, R.,
1982, Geologi
Lembar
Pangkaje
ne
dan
Watampo
ne bagian
Barat,
Sulawesi
sekala 1 :
250.000,
Pusat
Penelitian
dan
Pengemba
ngan
Geologi,
Bandung.
Sukamto, R., and
Simanjunt
ak,
R.O.,1983
. Tectonic
Relations
hip
Between
Geologic
Provinces
of
Western
Sulawesi,
Eastern
Sulawesi
and

Banggai-Sula in the Light of


Sedimentological Aspect. Bull.
Geol. Res and Dev. Centre, No. 7.
Sukamto, Rab, 1990, Peta Geologi
Lembar Ujung Pandang, Sulawesi
Selatan, sekala 1 : 1000.000, Pusat

Penelitian
dan
Pengemb
angan
Geologi,
Bandung.

http://sulsel.bps.g
o.id/gov/gov_1.ht
ml

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

Gambar 1. Peta Lokasi Penyelidikan

Gambar 2. Peta Tektonik P. Sulawesi

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

Gambar 3. Peta Geologi Daerah Makassar dan sekitarnya

Gambar 5. Peta Geologi Daerah Penyelidikan

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

Gambar 6. Penampang tegak endapan pasir besi sejajar pantai daerah


Bulo-Bulo

Gambar 7. Penampang tegak endapan pasir besi tegak lurus pantai


daerah Bulo-Bulo

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

Gambar 8. Peta Geologi dan Sebaran Isograde (Level 0-1 m) daerah Punagaya

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN

TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

Gambar 9. Peta Geologi dan Sebaran Isograde (Level 0-1 m) daerah Bulo-bulo

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN


TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

Gambar 10. Peta Geologi dan Sebaran Isograde (Level 0-1 m) daerah Kampala

PROCEEDING PEMAPARAN HASIL-HASIL KEGIATAN LAPANGAN DAN NON LAPANGAN


TAHUN 2008, PUSAT SUMBER DAYA GEOLOGI

Gambar 11. Peta Geologi dan Sebaran Isograde (Level 0-1 m) daerah Pabiringa