Anda di halaman 1dari 2

DERMATITIS KONTAK ALERGI

2.1 Definisi
Dermatitis kontak alergi (DKA) adalah suatu reaksi peradangan kulit yang timbul
setelah kontak dengan alergen. DKA dimanifestasikan dalam berbagai derajat eritema,
edema, dan vesikulasi, yang timbul pada individu yang telah mengalami proses sensitisasi
terhadap alergen.1

2.2 Epidemiologi
Diperkirakan bahwa kejadian DKI akibat kerja sebanyak 80% dan DKA sebanyak
20%, namun data terbaru dari Inggris dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa persentase
DKA kemungkinan lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya, berkisar antara 50% - 60%. Dari
data NHANES (National Health and Nutritional Examination Survey), berdasarkan
pemeriksaan fisik, diperkirakan prevalensi DKA di Amerika Serikat sebanyak 13,6 kasus per
1000 orang. Sedangkan prevalensinya di Swedia dan Belanda masing-masing sebanyak 2,7
dan 12 kasus per 1000 orang. Suatu studi cross-sectional di Denmark pada tahun 1998
melaporkan sebanyak 18,6% memiliki alergi pada satu alergen potensial untuk menimbulkan
dermatitis kontak alergi. Predileksi dermatitis kontak alergi umumnya pada tangan, kaki, dan
wajah dimana bagian tersebut memang sering terjadi kontak dengan dunia luar. DKA dapat
mengenai semua ras/suku bangsa, dan lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan dengan
laki-laki. Usia tidak mempengaruhi timbulnya sensitisasi, namun DKA lebih jarang dijumpai
pada anak-anak. Lebih sering timbul pada usia dewasa muda tapi dapat mengenai segala usia.
Gejala dermatitis kontak alergi pada orang tua munculnya lebih lambat.2,3

2.3 Etiopatogenesis
DKA merupakan bagian dari hipersensitivitas tipe IV. Hipersensitivitas tipe IV
merupakan respon imun yang diperantari oleh sel (cell-mediated immune response) dan
merupakan suatu reaksi imunologik tipe lambat.2 Kurang lebih sekitar 3000 bahan kimia
yang telah diketahui menyebabkan dermatitis kontak alergi.
DKA disebabkan suatu substansi kimia sederhana yang molekulnya amat kecil
(berat molekul < 1000 Da). Molekul yang disebut hapten ini merupakan alergen yang belum
diproses, bersifat lipofilik, sangat reaktif dan mampu menembus stratum korneum. Berbagai
faktor mempengaruhi timbulya DKA, antara lain: potensi sensitisasi alergen, dosis per unit

area, luas daerah yang terkena, lama pajanan, suhu, kelembaban, oklusi, vehikulum, dan pH.
Selain itu faktor individu seperti usia, keadaan kulit dan status imunologis.2