Anda di halaman 1dari 16

1.

ILUSTRASI KASUS
I. IDENTITAS PENDERITA
Nama

: Tn. A

Umur

: 30 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Status Perkawinan

: Menikah

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Pedagang

Alamat

: Jln MT Haryono no 15 gang XIX, Lowokwaru


Malang

Suku

: Jawa

II. ANAMNESIS
A. Keluhan Utama
Sakit kepala bagian belakang
B. Riwayat Penyakit Sekarang
Penderita datang dengan sering mengeluh sakit kepala bagian belakang
sejak 1 bulan yang lalu. Sakit kepala dirasakan di pagi hari saat pasien bangun
tidur. Pasien juga mengeluh jantung berdebar-debar. Tidak di dapatkan
keluhan sesak dan nyeri dada.
Pasien mengaku belum pernah berobat sebelumnya dan hanya
membiarkan saja gejalanya jika sakit kepala biasanya pasien beristirat saja.
C. Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat sakit gula

: disangkal

Riwayat darah tinggi

: disangkal

Riwayat alergi obat dan makanan

: disangkal

Riwayat sakit ginjal

: disangkal

Riwayat mondok

: disangkal

Riwayat transfusi

: disangkal

D. Riwayat Kebiasaan
-

Riwayat minum obat-obatan bebas

: disangkal

Riwayat minum jamu

: disangkal

Riwayat minum alkohol

: disangkal

Riwayat merokok

: (+) sejak SMA , 4-6 batang per


hari

E. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat sakit jantung

: disangkal

Riwayat sakit gula

: disangkal

Riwayat asma bronkiale

: disangkal

Riwayat alergi obat dan makanan

: disangkal

Riwayat sakit kuning

: disangkal

Riwayat tekanan darah tinggi

: ayah pasien

F. Riwayat Lingkungan Sosial dan Asupan Gizi


Penderita adalah seorang laki-laki dengan seorang istri dan 1 orang
anak. Penderita adalah seorang pedagang di pasar. Sedangkan istri pasien
adalah ibu rumah tangga. Kehidupan social dengan keluarga dan tetangga baik,
tidak ada masalah.
G. Anamnesa Sistem
a. Kulit : tidak ada keluhan
b. Kepala : nyeri kepala (+), kepala terasa berat (-), perasaan berputar-putar (-),
rambut mudah rontok (-)
c. Leher : cengeng (-), kaku (-)
d. Mata : tidak ada keluhan
e. Hidung : tidak ada keluhan
f. Telinga : pendengaran berkurang (-), keluar cairan atau darah (-),
g. Mulut : tidak ada keluhan
h. Tenggorokan : tidak ada keluhan
i. Sistem respirasi : sesak (-)
j. Sistem kardiovaskuler : Jantung berdebar-debar
k. Sistem gastrointestinal : tidak ada keluhan
2

l. Sistem muskuloskeletal : tidak ada keluhan


m. Sistem genitourinaria : tidak ada keluhan
n. Ekstremitas : tidak ada keluhan
o. Sistem neuropsikiatri : tidak ada keluhan

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Keadaan Umum

: tampak lemah, kesadaran compos mentis ( GCS

E4V5M6), status gizi kesan normal


-

Berat badan

: 80 kg

Tinggi badan

: 160 cm

B. Tanda vital
Tekanan Darah
Nadi
RR
Suhu
C. Kulit

: 150/90 mmHg
: 90 x/menit,
: 24 x/menit
: 36,7 0C per axiller
: warna sawo matang, lembab, ujud kelainan

kulit (-),

uji turniquet (-)


D. Kepala

: bentuk mesocephal, rambut hitam sukar dicabut

E. Mata

: conjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), Refleks


cahaya (+/+), pupil isokor

(3 mm/ 3 mm), bulat, di

tengah, mata cekung (-/-)


F. Hidung

: nafas cuping hidung (-/-), sekret (-/-)

G. Mulut

: bibir pucat (-), sianosis (-), mukosa basah (+)

H. Telinga

: sekret (-), mastoid pain (-), tragus pain (-)

I. Tenggorok

: uvula di tengah, mukosa faring hiperemis (-), tonsil T1


T1,

J.

Leher

: kelenjar getah bening tidak membesar

K. Thorax
Bentuk

: normochest

Cor
bunyi jantung I/II normal, bising (-), gallop (-)
Pulmo
dalam batas normal, suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)
L. Abdomen
Inspeksi

: dinding perut sejajar dinding dada

Auskultasi

: peristaltik (+) normal

Perkusi

: timpani

Palpasi

: hepar/lien tak teraba, turgor kulit baik

M. Ekstremitas

Akral dingin

Oedema

- -

- -

Sianosis ujung jari


-

Capilary refill time < 2 detik

IV. DIAGNOSIS KERJA


Hipertensi grade 1

2. IDENTIFIKASI MASALAH PASIEN


Pasien mengalami Hipertensi grade 2 yaitu kondisi medis di mana terjadi
peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu lama).

Kategori

Sistol (mmHg)

Dan/atau

Diastole (mmHg)

Normal

<120

Dan

<80

Pre hipertensi

120-139

Atau

80-89

Hipertensi tahap 1

140-159

Atau

90-99

Hipertensi tahap 2

160

Atau

100

JNC VII
Sakit kepala
Jantung berdebar-debar
3. TUJUAN TERAPI
a) Menurunkan tekanan darah
b) Mengurangi beban jantung
Tujuan terapi adalah mencapai dan mempeartahankan tekanan sistolik
dibawah 140 mmHg dan tekanan diastolic dibawah 90 mmHg dan mengontrol
factor resiko
Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja
tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi

4. MENENTUKAN P-TREATMENT
Obat-obat yang sering digunakan pada hipertensi saat ini adalah
1. Diuretik
2. Beta blocker
3. Alfa blocker
4. ACE Inhibitor
5. Antagonis kalsium
6. Vasodilator

P-Group
Diuretik

EFFICACY
Hidroklorotiazid,
bendroflumetiazid, klorotiazid
dan gugus lain yang memiliki
gugus
arylsulfonamida
(indapamid).
Farmakokinetik
Dalam dosis yg ekuipoten,
berbagai golongan
tiazid
memiliki efek dan efek samping
yang hampir sama. Perbedaan
utama terletak pada masa
kerjanya
bendroflumetiazid
memliki waktu paruh 3 jam,
hidroklorotiazid 10-12 jam, dan
indapamid 15-25 jam.
Gol. Tiazid umumnya kurang
efektif pada gangguan fungsi
ginjal, dan dapat memperburuk
fungsi ginjal dan pemakaian
jangka lama dapat menyebabkan
hiperlipidemia.

SAFETY
Efek samping
Dalam dosis tinggi dapat
menyebabkan
hipokalemi.
Selain itu juga dapat
menyebabkan
hiponatremia
dan
hipomagnesemia serta
hiperkalsemia.
Selain itu Tiazid dapat
menghambat
ekskresi
asam urat dari ginjal,
dan
pada
pasien
hiperurisemia
dapat
mencetuskan serangan
gout.
Tiazid
juga
dapat
meningkatkan
kadar
kolesterol LDL dan
trigliserida.

SUITABILITY
Kontraindikasi
Hati-hati
penggunaan pada
pasien
yang
mempunyai
presisposisi untuk
aritmia jantung.
Harus
dihindari
untu pengobatan
hipertensi
penderita diabetes
atau pasien dengan
hiperglikemia

Farmakodinamik
Derivat tiazid bekerja terutama
pada tubulus distal untuk
menurunkan reabsorbsi Na+
dengan
menghambat
kontrasporter Na+/Cl- pada
membrane lumen.
Meningkatkan ekskresi NA+
dan Cl- dieresis, ekskresi
urine yang hiperosmolar.
Kehilangan K+
Menurunkan
ekskresi
kalsium dalam urine
Menurunkan tahanan perifer
vaskuler
ACEinhibitor

Farmakokinetik
Kaptopril
Diabsorpsi dengan baik pada
pemberian
oral
dengan
biavailabilitas
70-75%.
Pemberian dengan makanan
akan
mengurangi
absorpsi
sekitar 30%.
Sebagian besar ACE-inhibitor
mengalami metabolism di hati.

Efek samping
Kontraindikasi
Hipotensi
Ibu hamil dan ibu
Dapat terjadi pada
menyusui
awal pemberian.
Hati-hati
Batuk kering
penggunaan
terhadap
pasien
Hiperkalemia
dengan
ganggguan
Rash
elektrolit,
Sekitar
10%
hiperkalemi.
pemakaian kaptopril
menyebabkan rash

Eliminasi umumnya melalui


ginjal, kecuali fosinopril yang
mengalami eliminasi di ginjal
dan bilier.
Farmakodinamik

sistem angiotensi-aldosteron
dan menghambat konversi
angiotensin I menjadi
angiotensin II

Menurunkan kadar
angiotensin II, meningkatkan

aktivitas renin, dan


menurunkan sekresi
aldosteron.
Menurunkan tahanan perifer
Dgradasi bradikinin dihambat

makulopapuler atau
morbiliform
Edema angioneurotik
0,1-0,2%
berupa
pembengkakan
di
hidung,
bibir,
tenggorokan, laring,
dan dapat terjadi
sumbatan
jalan
napas.
Gagal ginjal akut
Proteinuri
Efek teratogenik

Per oral : diberikan 1 jam


sebelum makan

Antagonis
reseptor
angiotensin II
(angiotensin
reseptor
blocker,
ARB)

Reseptor angiotensin II terdiri


dari 2 reseptor besar yaitu AT1
dan AT2.
Reseptor AT1 terdapat terutama
di otot polos pembuluh darah
dan di otot jantung, selain itu
juga terdapat di ginjal, otak dan
kel. Adrenal. homeostasis
kardiovaskuler\
Reseptor AT2 terdapat di
medulla adrenal dan SSP.

Efek samping
Hipotensi dapat
terjadi pada pasien
dengan kadar rennin
tinggi seperti
hipovolemia, gagal
jantung, hipertensi
renovaskuler, dan
sirosis hepatis.

Losartan merupakan prototipe


obat golongan ARB yang
bekerja selektif pada reseptor
AT1.
Pemberian obat ini
menimbulkan efek yang mirip
dengan ACE inhibitor. Akan
menghambat semua efek

angiotensin II seperti
vasokonstriksi, sekresi
aldosteron, rangsangan saraf
simpatis, stimulasi jantung, efek
renal serta efek jangka panjang
berupa hipertrofi otot polos
pembuluh darah dan miokard.
Tapi karena tidak mempengaruhi

Kontraindikasi
Ibu hamil trimester
2 dan 3
Ibu menyusui
Stenosis arteri
renalis bilateral

Hiperkalemia
biasanya terjadi pada
keadaan insufisiensi
ginjal atau bila
dikombinasi dengan
obat yang cenderung
meretensi kalium
seperti diuretic hemat
kalium dan AINS.
Fetotoksik

metabolisme bradikinin, maka


tidak memberikan efek samping
batuk kering dan angioedema.
ARB sangat efektif menurunkan
tekanan darah pada pasien
hipertensi dengan kadar rennin
yang tinggi seperti hipertensi
renovaskular dan hipertensi
genetic, tapi kurang efektif pada
hipertensi dengan aktivitas
rennin yang rendah.
Pemberian ARB menurunkan
tekanan darah anpa
mempengaruhi frekuensi denyut
jantung, penghentian mendadak
tidak menimbulkan hipertensi
rebound.
Pemberian jangka panjang tidak
mempengaruhi lipid dan glukosa
darah
Farmakokinetik
Losartan diabsorpsi melalui sal
cerna dengan bioavailabilitas
sekitar 33%. Absorpsinya tidak
dipengaruhi oleh makanan di
lambung.
Waktu paruh eliminasi + 1-2
jam, tapi obat ini cukup
diberikan satu atau dua kali
sehari.
Losartan dan metabolitnya tidak
dapat menembus sawar darah
otak.
Sebagaian besar obat diekskresi
melalui feses.
Penghambat
adrenergik

Penghambat adrenoreseptor
beta (-blocker)
Farmakokinetik
Penyekat- aktif per oral.
Propanolol menjalani
metabolisme fase pertama yang
luas. Efek penyekat- baru
terlihat beberapa minggu sampai
tercapai efek penuh.
Farmakodinamik
Penyekat- menurunkan tekanan
darah terutama mengurangi isi
sekuncup jantung, menurunkan
aliran simpatik dari SSP dan

Penghambat
adrenoreseptor beta
(-blocker)
Efek samping
Bradikardi, blokade AV,
hambatan nodus SA,
menurunkan kekuatan
kontraksi miokard, pada
SSP (kelelahan, letargi,
insomnia, dan
halusinasi), hipotensi,
menurunkan libido,
menyebabkan
impotensi, mengganggu
metabolisme lipid,

Penghambat
adrenoreseptor beta
(-blocker)
Kontraindikasi
Pada keadaan
bradikardi, blokade
AV derajat 2 dan , sick
sinus syndrome, gagal
jantung yang belum
stabil

menghambat pelepasan renin


dari ginjal (mengurangi
pembentukan angiotensin II dan
sekresi aldosteron.
Penghambat adrenoreseptor alfa
(-blocker)
Hambatan reseptor 1
menyebabkan Vasodilatasi di
arteriol dan venula sehingga
menurunkan resistensi perifer
dan menurunkan curah jantung.
Merupakan satu-satunya obat
anti hipertensi yang memberikan
efek positif pada lipid darah,
mengurangi LDL, dan trigliserid
dan meningkatkan HDL juga
dapat mengurangi serangan
asma dan tidak berinteraksi
dengan AINS.

Antagonis
kalsium

Vasodilator

Farmakokinetik
Sebagian besar obat ini
mempunyai waktu paruh pendek
(waktu paruh 3-8 jam) setelah
dosis oral. Pengobatan
memerlukan 3 X sehari untuk
mempertahankan kontrol
hipertensi yang bagus. Preparat
lepas lambat dapat mengurangi
dosis berulang.
Farmakodinamik
Antagonis kalsium menghambat
influks kalsium pada sel otot
polos pembuluh darah dan
miokard. Di pembuluh darah,
antagonis kalsium terutama
menimbulkan relaksasi arteriol,
sedangkan vena kurang
dipengaruhi.
Hidralazin
Farmakokinetik
Diabsorbsi dengan baik melalui
saluran cerna, tapi
bioavailabilitasnya relatif rendah
(16% pada asetilator cepat dan
32% pada asetilator lambat)
karena adanya metabolisme
lintas pertama yang besar. Pada

menurunkan lipoprotein
HDL dan meningkatkan
trigliserol plasma,
penghentian obat secara
mendadak dapat
menimbulkan rebound
hipertensi.

Penghambat
adrenoreseptor alfa
(-blocker)
Efek samping
Hipotensi orthostatik
sering terjadi pada
pemberian dosis awal
atau pada peningkatan
dosis (gejalanya berupa
pusing sampai sinkop),
sakit kepala, palpitasi,
edema perifer, hidung
tersumbat, mual.
Efek samping
Konstipasi, retensio
urin, pusing, sakit
kepala, dan rasa lesu,
hipotensi, iskemia
miokard atau serebral,
edema perifer,
bradiaritmia.

Hidralazin
Efek samping
Sakit kepala, mual,
flushing, hipotensi,
takikardi, palpitasi,
angina pectoris, neuritis
perifer, diskrasiab darah,
hepatotoksisitas, dan
kolangitis akut

Penghambat
adrenoreseptor alfa
(-blocker)
Dianjurkan untuk
penderita hipertensi
disertai diabetes,
dislipidemia,
obesitas, gangguan
resistensi perifer,
asma, hipertrofi
prostat, perokok,
dan mereka yang
menggunakan
AINS.
Kontraindikasi
Pada pasien hipertensi
dengan PJK

Hidralazin
Kontra indikasi
Pada pasien hipertensi
dengan PJK dan tidak
dianjurkan pada pasien
usia diatas 40 tahun.

asetilator lambat dicapai kadar


plasma yang lebih tinggi, dengan
efek hipotensi berlebihan dan
efek samping yang lebih sering.
Farmakodinamik
Bekerja langsung
merelaksasikan otot polos
arteriol dengan mekanisme yang
belum dapat dipastikan.
Minoksidil
Farmakokinetik
Diserap bengan baik pada
pemberian peroral.
Bioavailabilitas mencapai 90%
dan kadar puncak plasma
tercapai dalam 1 jam. Kadar
plasma tidak berkorelasi
langsung dengan efek terapi.
Waktu paruh 3-4 jam, tetapi efek
terapi bertahan sampai 24 jam
atau lebih. Metabolisme didalam
hati dengan cara konjugasi
dengan glukuronida. Ekskresi
terutama melalui urin, 20%
dalam bentuk tidak berubah.
Farmakodinamik
Obat ini bekerja dengan
membuka kanal kalium sensitif
ATP dengan akibat terjadinya
effluks kalium dan
hiperpolarisasi membran yang
diikuti oleh relaksasi otot polos
pembuluh darah dan
vasodilatasi.

Minoksidil
Efek samping
Retensi cairan dan
garam, efek samping
kardiovaskuler karena
refleks simpatis dan
hipertrikosis.
Gangguan toleransi
glukosa dengan tendensi
hiperglikemia, sakit
kepala, mual, erupsi
obat, rasa lelah dan
nyeri tekan di dada

Minoksidil
Kontra indikasi
Pada pasien PJK

10

5. MENENTUKAN P-DRUG
1. Pengobat untuk memperbaiki sirkulasi sistemik yaitu ACE inhibitor berikut
ini adalah perbandingan golongan obat ACE Inhibitor
P Drug

Kemanjuran

Keamanan

Kecocokan

Biaya
Tablet

Captopril
Tab 12,5 mg
Tab 25 mg

Dosis 25-100

12,5mg @

mg/hari

Tidak ada

Tidak ada

Rp 320

diberikan 2-

perbedaan

perbedaan

Tablet 25

3x/hari

mg @ Rp
650
Tablet 5mg

Lisinopril

Dosis 10-40 mg

Tab 5 mg

diberikan

Tab 10 mg

1x/hari

Tidak ada

Tidak ada

perbedaan

perbedaan

@ Rp 1.600
Tablet 10
mg @ Rp
2.650
Tablet 5mg

Perindopril

Dosis 4-8 mg

Tab 5 mg

diberikan 1-

Tab 10 mg

2x/hari

Tidak ada

Tidak ada

perbedaan

perbedaan

@ Rp 9.300
Tablet 10
mg @ Rp
12.800

Enalapril

Dosis 2,5-40 mg

Tab 5 mg

diberikan 1-

Tab 10 mg

2x/hari

Ramipril
Tab 10 mg

Dosis 2,5-20 mg
diberikan
1x/hari

Tidak ada

Tidak ada

perbedaan

perbedaan

Tablet 5mg
@ Rp 2.576

Tablet 10mg
Tidak ada

Tidak ada

@ Rp

perbedaan

perbedaan

11.500

11

1. Nama Generik : Captopril


2. Nama Dagang :
-

Acepress : Tab 12,5mg, 25mg

Capoten : Tab 12,5mg, 25mg

Captensin : Tab 12,5mg, 25mg

Captopril Hexpharm : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg

Casipril : Tab 12,5mg, 25mg

Dexacap : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg

Farmoten : Tab 12,5mg, 25mg

Forten : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg

3. Indikasi :
-

Hipertensi esensial (ringan sampai sedang) dan hipertensi yang parah.

Hipertensi berkaitan dengan gangguan ginjal (renal hypertension).

Diabetic nephropathy dan albuminuria.

Gagal jantung (Congestive Heart Failure).

Postmyocardial infarction

4. Kontraindikasi :
-

Penderita yang hipersensitif atau alergi terhadap captopril atau penghambat


ACE lainnya (misalnya pasien mengalami angioedema selama pengobatan
dengan penghambat ACE lainnya).

Wanita hamil atau yang berpotensi hamil.

Wanita menyusui.

Penderita gagal ginjal.

Stenosis aorta.

12

5. Bentuk sediaan : Tablet, Tablet salut selaput, Kaplet, Kaplet salut selaput.
6. Dosis dan aturan pakai captopril pada pasien hipertensi dengan gagal jantung :
7. Dosis inisial : 6,25-12,5mg 2-3 kali/hari dan diberikan dengan pengawasan
yang tepat. Dosis ini perlu ditingkatkan secara bertingkat sampai tercapai target
dosis.
8. Target dosis : 50mg 3 kali/hari (150mg sehari)
9. Aturan pakai : captopril diberikan 3 kali sehari dan pada saat perut kosong
yaitu setengah jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Hal ini
dikarenakan absorbsi captopril akan berkurang 30%-40% apabila diberikan
bersamaan dengan makanan.
10. Efek samping :
Sekitar 10% pasien yang mengkonsumsi captopril mengalami kulit
kemerahan, yang terkadang cepat hilang dengan dosis yang lebih kecil dan
melanjutkan perawatan. Hilangnya kemampuan mengecap reversibel atau
gangguan dalam pengecapan (dysgeusia) telah dilaporkan pada sekitar 6%
pasien yang menerima captopril. Tingginya kejadian kulit kemerahan,
dysgeusia, dan proteinuria dengan captopril dihubungkan dengan gugus
sulfhydril yang tidak terdapat di enalapril maupun lisinopril. Sekitar 1020% pasien mengalami batuk yang sulit hilang pada pemberian ACE
inhibitor
Hipotensi akut bisa terjadi pada onset terapi ACE inhibitor, terutama pada
pasien yang natrium dan volume airnya berkurang banyak. Mungkin perlu
untuk menghentikan diuretic dan mengurangi dosis agen antihipertensi lain
sebelum memulai terapi. Penting untuk memulai terapi ACE inhibitor pada
dosis rendah.
Efek samping paling serius dari ACE inhibitor adalah netropenia dan
agranulocytosis, proteinuria, glomerulonephritis, gagal ginjal akut, dan
angoiedema; efek ini terjadi pada <1% pasien. Pasien yang sebelumnya
mengidap penyakit ginjal atau jaringan connective paling rentan terhadap
efek samping ginjal dan hematologis. Pasien dengan stenosis arteri renal
bilateral atau stenosis unilateral dari ginjal yang bekerja sendiri dan pasien

13

yang tergantung pada efek vasokontriksi dari angiotensin II pada arteriol


efferent paling rentan terhadap terjadinya gagal ginjal akut.
Hiperkalemia terlihat umumnya pada pasien dengan penyakit ginjal atau
diabetes melitus (terutama dengan asidosis renal tipe IV) atau pada pasien
yang menerima NSAID, suplemen kalium, atau diuretik hemat kalium.
ACE inhibitor tidak boleh diberikan selama kehamilan karena ancaman
masalah neonatal yang serius, termasuk hipotensi janin, kegagalan ginjal
dan kadang disertai malformasi dan kematian pada bayi, telah dilaporkan
pada ibu yang mengkonsumsi agen ini selama trimester kedua dan ketiga.

6. PENULISAN RESEP
Nama : Arief Satriyo Raharjo, S. Ked
SP/SIP 20/0110710111
Alamat : PERUM Dinoyo Permai 14A
Jam praktek 15.00-17.00

R/

Captopril tab mg 12,5 No.XXVIII


S 2 dd tab 1 ac

Pro : Tn. A. (30 tahun)

Pro : Tn. A
Usia : 30 tahun
Alamat :

14

7. INSTRUKSI, INFORMASI DAN WARNING OBAT


- Di minum 2 kali sehari sebelum makan Karena penyerapan obatnya
dipengeruhi oleh makanan. Jadi harus sebelum makan agar penyerapan
obatnya tidak menurun.
- Obat ini saya berikan selama 14 hari, jadi setelah obatnya habis, 2 minggu lagi
bapak kontrol lagi kesini. Kita lihat apakah keluhannya berkurang atau tidak
- Efeknya bisa hipotensi, pusing, batuk kering

8. KIE
a. Modifikasi Gaya hidup
1. Penurunan Berat Badan
2. berhenti merokok

9. MONITORING EFEK OBAT

Tanda dan gejala TOD, komplikasi kardiovaskular dan cerebrovascular :


- Gangguan penglihatan
- Gangguan pernafasan
- LVH (ekektrokardiography)
- Proteinuria
- Fungsi ginjal

BP, dievaluasi 2 hingga 4 minggu setelah mulai terapi atau perubahan terapi

Selanjutnya tiap 3 hingga 6 bulan

Penggunaan obat

Class

Parameter

Diuretics

BP, BUN/SCr, elektrolyt K, Mg, Na,


uric acid (thiazid)

ACEI, ARB & Aldosteron antagonis

BP, BUN/SCr, Potassium serum

CCBs & Blocker

BP, heart rate

15

DAFTAR PUSTAKA

Arief Mansjoer, Kuspuji Triyanti, Rakhmi Savitri, et al, eds. Kapita Selekta
Kedokteran, edisi 3, jilid I. Jakarta: Penerbit Media Aesculapius, 2001; 518-522
Bertram G. Katzung, Susan B. Masters, Anthony J. Trevor. Basic and clinical
pharmacology. McGraw-Hill Medical, 2009.
Burn, Maria. A. Et al, 2008, ebook pharmakoterapy

principle and practice,

McGrawhill, USA
Ganiswara, G. Sulistia. 1995. Farmakologi dan Terapi, edisi 4. Jakarta : Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Gauci, Maris, 2011, Evidence-based drug therapy in the management of heart failure
Clinical Pharmacist, Rehabilitation Hospital Karin Grech, GMangia, Malta
Supandiman, I., Fadjari, H. 2006. Anemia pada Penyakit Kronik. Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam. Edisi IV. Jilid II. Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Pp: 651-652
Kee, Joyce L. dan Evelyn R. Hayes, 1996. Farmakologi pendekatan proses
keperawatan, EGC, Jakarta,
Yogiantoro, M. Sudoyo, A. W., Setiyohadi, B., Alwi, I., Simardibrata K. M., Setiati, S.
2006. Hipertensi Esensial. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi IV. Jilid I.
Jakarta: Balai Penerbit FK UI. Pp: 610-614

16