Anda di halaman 1dari 2

Pada praktikum kali ini melakukan identifikasi formalin menggunakan metode

destilasi dan kolorimetri. Destilasi adalah suatu proses pemurnian yang didahului dengan
penguapan senyawa cair dengan cara memanaskannya, kemudian mengembunkan uap yang
terbentuk. Prinsip dasar dari destilasi adalah perbedaan titik didih dari zat-zat cair dalam
campuran zat cair tersebut sehingga zat (senyawa) yang memiliki titik didih terendah akan
menguap lebih dahulu, kemudian apabila didinginkan akan mengembun dan menetes sebagai
zat murni (destilat). Dan Kolorimetri adalah metode perbandingan menggunakan perbedaan
warna pada praktikum kali ini menggunakan pemanasan.
Tahap pertama dalam melakukan uji formalin yaitu dengan menimbang sampel
sebanyak 10 gram. dalam praktikum ini menggunakan digunakan yaitu perendaman atau
maserasi. perlakuan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh air pada boraks yang
terkandung dalam sampel. Kemudian sampel dicincang dan dihaluskan menggunakan mortar
untuk memperkecil ukuran sampel sehingga luas permukaannya semakin besar dan reaksi
akan semakin cepat berlangsung.
Tahap kedua dimasukan dalam labu destilasi kemudian ditambahkan asam posfat dan
batu didih . Asam posfat mempunyai rumus kimia H3PO4, merupakan asam mineral
(anorganik) yang kuat. Asam posfat dalam praktikum metode destilasi dan kolorimetri ini
berfungsi sebagai katalisator, dimana tujuannya untuk mempercepat reaksi dimana asam
posfat sendiri tidak ikut berekasi dan kembali ke bentuk senyawa awal setelah proses reaksi
selesai. Fungsi penambahan batu didih ada 2, yaitu:
1. Untuk meratakan panas sehingga panas menjadi homogen pada seluruh bagian
larutan.
2. Untuk menghindari titik lewat didih.
Pori-pori dalam batu didih akan membantu penangkapan udara pada larutan dan
melepaskannya ke permukaan larutan (ini akan menyebabkan timbulnya gelembunggelembung kecil pada batu didih). Tanpa batu didih, maka larutan yang dipanaskan akan
menjadi superheated pada bagian tertentu, lalu tiba-tiba akan mengeluarkan uap panas yang
bisa menimbulkan letupan/ledakan (bumping).
Detilasi ini dilakukan untuk memisahkan formaldehid dari sampel dan air berdasarkan
titik didih , titik didih formalin lebih rendah dibandingkan air yakni 96C sedangkan air 100
,sehingga yang akan menguap terlebih dahulu adalah formalin.
Tahap ketiga yakni melakukan identifikasi formlin 1ml destilat + 5 ml asam
kromotropat dan dipanaskan , asam kromatofat dengan rumus molekul C10H6O8S2Na2.2H2O
untuk mengikat formalin agar terlepas dari bahan. Formalin juga bereaksi dengan asam
kromatofat menghasilkan senyawa kompleks yang berwarna ungu.
Sebenarnya batas toleransi formalin yang dapat diterima tubuh manusia dengan aman
adalah dalam bentuk air minum, menurut International Programme on Chemical Safety
(IPCS), adalah 0,1 mg per liter atau dalam satu hari asupan yang dibolehkan adalah 0,2 mg.

Sementara formalin yang boleh masuk ke tubuh dalam bentuk makanan untuk orang dewasa
adalah 1,5 mg hingga 14 mg per hari. Berdasarkan standar Eropa, kandungan formalin yang
masuk dalam tubuh tidak boleh melebihi 660 ppm (1000 ppm setara 1 mg/liter). Sementara
itu, berdasarkan hasil uji klinis, dosis toleransi tubuh manusia pada pemakaian secara terusmenerus (Recommended Dietary Daily Allowances/RDDA) untuk formalin sebesar 0,2
miligram per kilogram berat badan.
Hasil penelitian identifikasi formalin pada beberapa produk baso di kota Bandung
menunjukkan produk mengandung formalin. Tetapi tidak dilakukan analisa kadarnya
sehingga tidak dapat dipastikan apakah kadar formalin dalam makanan tersebut melewati
batas toleransi formalin untuk tubuh, tetapi karena makanan tersebut dikonsumsi secara terus
menerus maka formalin yang terpapar dalam jumlah sangat sedikit sekalipun tetap akan
memberikan efek sangat berbahaya bagi tubuh dan kesehatan karena formalin masuk ke
dalam tubuh secara rutin dan terus menerus akan mengakibatkan penumpukan pada tubuh.

KESIMPULAN :
Berdasarkan hasil penelitian tentang identifikasi formalin pada produk makanan
seperti baso dapat diambil kesimpulan bahwa baso mengandung formalin dan tidak layak
dikonsumsi karena masih adanya kandungan formalin.

Anda mungkin juga menyukai