Anda di halaman 1dari 11

IJTIHAD MENURUT PEMIKIRAN MUHAMMAD AL-BAQIR

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas


Dalam Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Dosen Pembimbing : Drs. M. Fajar Pramono M.Si

Oleh :
Muhammad Afdhal
FAKULTAS USHULUDDIN
JURUSAN AQIDAH FILSAFAT
INSTITUT STUDI ISLAM DARUSSALAM
KAMPUS PUSAT SIMAN
1433 / 2011

KATA PENGANTAR

[Type text]

Page iii

Penulis makalah ini bukan seorang filsuf. Oleh karena itu tiada presentasi
baginya, bahwa dengan penulisan makalah ini penulis menemukan hal-hal yang baru.
Apa yang ditulis oleh penulis makalah ini telah banyak ditulis oleh orang yang lebih ahli
dibidangnya.
Menyadari ketergantungan pada begitu banyak pribadi maupun lembaga dalm
penyelesaian makalah ini, saya menyampaikan terima kasih saya atas segala bantuan itu.
Pertama, saya mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan
nikmatNya kepada penulis sehingga selesailah makalah ini tepat pada waktunya. Kedua,
saya mengucapkan terima kasih kepada ISID sebagai almamater pendidikan saya. Ketiga,
kepada dosen pembimbing dalam penulisan makalah ini yang telah memberikan
bimbingan dan dorongan serta evaluasi yang membangun kepada saya pribadi. Keempat,
saya berterima kasih kepada teman-teman saya yang tidak dapat saya sebutkan satu
persatu yang telah membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini.
Terakhir penulis berharap agar makalah yang banyak kekuragannya ini dapat
membantu sebagian masyarakat dan yang membutuhkannya. Dan terakhir mari berdoa
bagi kesuksesan kita bersama dan bagi kemajuan lembaga pendidikan kita dan bagi
Negara kita.
Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar

Daftar Isi .

ii

[Type text]

Page iv

Bab I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang................................................................................

1.2 Rumusan Masalah...........................................................................

1.3 Tujuan Penulisan.............................................................................

1.4 Mamfaat Penulisan.........................................................................

Bab II Pembahasan
2.1 Pembahasan Umum.........................................................................
2.2 Pembahasan khusus.........................................................................
2.2.1 Pengertian Ijtihad dan perkembanganya dikalangan kaum
muslimin......................................................................
2.2.2

Ruang lingkup berijtihad menurut Muhammad Al-Baqir.....

Bab III Penutup


3.1.Kesimpulan .

11

3.2.Saran ...

13

3.3.Penutup ...

14

Daftar Pustaka

15

BAB I
Pendahuluan

[Type text]

Page v

1.1.

Latar Belakang
Hukum, dalam masyarakat manapun, adalah bertujuan untuk mengendalikan

masyarakat. Ia adalah sebuah sistem yang ditegakan terutama untuk melindungi hak-hak
individu maupun hak-hak masyarakat. Sistem hukum disetiap masyarakat memilki
sifat,karakter dan ruang lingkupnya sendiri. Sama halnya, islam memiliki sistem hukum
sendiri yang dikenal sebagai fiqh.
Hukum islam bukanlah hukum murni dalam pengertiaanya yang sempit; ia
mencakup seluruh bidang kehidupan-etika, keagamaan, politik, dan ekonomi. Ia
bersumber dari wahyu ilahi. Wahyu menentukan norma-norma dan konsep dasar hukum
islam serta dalam banyak hal merintis dobrakan terhadap adat dan sistem hukum
kesukuan arab pra islam.
Hendaklah dicatat bahwa terdapat perbedaan mendasar antara tujuan dan ruang
lingkup haukum dalam antrian modern dan dalam artian Al-Quran. Hukum dalam artian
modern adalah aturan-aturan khusus yang mengatur permasalahn sosial, ekonomi, dan
politik dari suatu bangsa, yang disusun oleh suatu badan berwenang yang kompeten dan
diberlakukan dengan sanksi-sanksi dari negara
Aturan-aturan prilaku moral individu tidak termasuk dalam lingkup hukum
modern, meskipun aturan prilaku tersebut ada dalam bentuk adat istiadat dan prilaku
sosial, dan sampai sejauh tertentu dipaksakan berlakunya oleh polisi susila dan dengan
menggunakan opini publik semata-mata.

1.2. Rumusan Makalah


Dalam makalah ini penulis mengajak pembaca sekalian untuk membahas
beberapa persoalan, suatu pemikiran Muhammad Al- Baqir tentang sebuah makna ijtihad
1. Apakah itu ijtihad? Dan bagaimana perkembangannya dikalangan kaum
muslimin?
2. Bagaimana sebuah ruang lingkup dalam berijtihad?

[Type text]

Page vi

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah penulis ingin memberi wawasan tentang
sejauh mana perkembangan manusia dalam memaknai sebuah ijtihad dalam suatu
kehidupan umat muslim dimuka bumi ini, serta penulis mengajak untuk mengetahui
hakikat makna yang terkandun dalam sebuah ijtihad.
1.4 mamfaat penulisan
Manfaat yang penulis harapkan dari penulisan makalah ini adalah sebagaimana
yang berikut ini:
1. Menambah wawasan dan khazanah tentang suatu makna berijtihad.
2. Untuk lebih memahami pemikiran Muhammad Al-Baqir tentang ruang linkup
dalam menjalankan suatu ijtihad dan perkembangannya di kalangan kaum
muslimin.

BAB II

Pembahasan

2.1 Pembahasan umum

[Type text]

Page vii

Membicarakan tentang Muhammad Al-Baqir yang lahir di solo pada 20 Desember


1930 adalh seorang dai, penulis, dan penerjemah,(buku-buku bahsa arab). Pengetahuan
agamanya lebih banyak di dapat secara otodidak ataupun lewat pendidikan nonformal
lainnya. Pendidikan formalnya dimulai pada 1937, dari Holand Arbiche Scholl (HAS)
kemudian, ketika jepang masuk, beliau melanjutkan ke Al-Madrasah Al-Arabiyah AlDiniyah. Disamping itu, pelajaran agama juga diperoleh dari ayahnya dan dari ulama
setemapat pada halaqah diniyah di sebuah masjid dikotanya. Pada 1950, penulis yang
berasal dari marga Alhabsyi ini sempat mengunjungi hadhramaut(yaman selatan), negri
ini waktu itu masih merupakan salah satu pusat aktivitas intelektual islam, khususnya
tasawuf, di timur tengah. Sejak 1957 hingga sebelum perpindahanya ke bandung( 1979),
Beliau Aktif di bidang pendidikan islam antara lain dengan menduduki jabatan serkertaris
dan kemudian, ketua yayasan pendidikan islam Diponegoro(Al-Rabithah Al-Alawiyah).
Sejauh yang disajikan pada umum, Muhammad Al-Baqir dalam pemikrannya
tentang ijtihad disimpulkan dari prinsip-prinsip umum Al-Quran dan As-Sunnah dan
kemudian dituangkan dalam disiplin ilmu yang disebut ushulul fiqh.
Ruang linkup hukum Al-Quran mencangkup aturan-aturan prilaku manusia dalam
semua bidang kehidupan, menjamin kesejahteraan manusia dalam kehidupan duniawi
maupun ukhrawi. Pelaksanaan hkum islam yang terkandung dalam Al-Quran adalah
tugas sebuah negara islam. Penerapan aturan-aturan individual prilaku moral diatur oleh
dua faktor penting, yaitu tanggung jawab kolektif masyarakt muslim untuk melaksanakan
ajaran-ajaran islam dan hubungan masing-masing antara individu dengan penciptanya
maupun dengan sesamanya. Menurut Al-Quran, masyarakat muslim, mempunyai
kewajiban melaksanakan penerapan aturan prilaku moral sebagai perintah Ilahi.
Al-Quran berulang ulang menyuruh hati nurani manusia untuk mengikuti ajaranajaran demi kesejahteraan dirinya maupun sesama manusia. Dengan demikian AlQuran,dengan menjadikan ketaatan pada aturan syariah sebagai masalah kesadaran hati
nurani, telah meninggikan derajat konsep hukum dan tata nilai etika dan ajaran-ajarannya,
yang merupakan landasan hukum yang universal.

[Type text]

Page viii

2.2 Pembahasan khusus


Masalah yang bagaimana yang dapat dilakukan ijtihad? Sebelum menjawab soal
tersebut perlu diketahui bahwa tidak ada perbedaan pendapat dikalangan ulama, bahwa
tuhan tidak membiarkan manusia begitu saja dalam kebingungan tidak mempunyai
pedoman hukum. Sebagian hukum di tunjuki oleh nash, tetapi sebagian lagi tidak
diberikan hukum itu dengan nash yang jelas dan terperinci. Mengandung hikmah yang
tinggi tuhan hanya memberikan hukum dengan nash-nashnya terhadap sebagian saja dari
kejadian yang di hadapi manusia, dalam masalah yang tuhan tidak memberi nash dan
nabi juga tidak memberikan sunnahnya. Tuhan memberikan petunjuk-petunjuk dan caracarauntuk mencapai hukum yang di maksud, bagi para ahli yang mempunyai minat dan
kesanggupan untuk itu, dengan dasar dan metode ijtihad.
Adapun terhadap kejadian yang tuhan menyebutkan hukumnya dengan nash
qath,i (Al-Quran dan Hadist mutawatir) maka tidaklah ada lapangan ijtihad padanya,
wajiblah kita menurut saja apa yang tersebut dalam hukum itu, seoerti pada masalah tidak
adanya lapangan ijtihad terhadap masalah bahwa mengerjakan shalat lima waktu itu
wajib atau fardhu. Dan juga tidak ada lapangan ijtihad dalam ketentuan-ketentuan ke
warisan bagi ahli waris yang ketentuannya tersebut dalam alquran
tidak boleh mengadakan ijtihad pada sesuatu masalah di mana telah ada nash
yang tegas1

2.2.1 Pengertian ijtihad dan perkembangannya di kalangan kaum muslimin


menurut bahasa, pengertian ijtihad adalah pengerahan segala kesanggupan untuk
mengerjakan sesustu yang sulit. Maka, adalah salah bila kata ijtihad di terapkan pada
pengerjaan sesuatu yang mudah atau ringan. Misalnya dikatakan : orang itu berijtihad
dalam mengangkat tongkat. Sebab, mengangkat tongkat merupakan sesuatu pekerjaan
yang mudah atau ringan yang dapat di lakukan oleh siapapun tanpa harus mengerahkan
segala tenaganya. Pengertian ijtihad menurut bahasa ini berkaitan dengan ijtihad menurut
istilah yang untuk melakukannya di perlukan beberapa persyaratan. Karna itu, ijtihad
tidak dapat di lakukan oleh sembarang orang
[Type text]

Page ix

menurut peraktek para sahabat pengertian ijtihad adalah penelitian dan pemikiran
untuk mendapatkan sesuatu yang terdekat dengan Kitab Allah dan Sunnah Rasul SAW
Baik menggunakan suatu nash, yang disebut Qiyas (masyqul nash ), maupun melalui
maksud dan tujuan umum hikmah syariat, yang disebut maslahat.
Sedangkan menurut mayorutas ulama muslim ushul, pengertian ijtihad adalah
pengerahan segenap kesanggupan oleh seorang ahli fiqh atau mujtahid untuk memperoleh
pengertian mengenai suatu hukum syara. Hal ini menunjukan bahwa fungsi ijtihad
adalah untuk mengeluarkan hukum syara. Dengan demikian, ijtihad tidak berlaku di
bidang aqidah dan akhlaq. Dan fungsi ijtihad bukanlah untuk mengeluarkan hukum syara
amaliy yg statusnya qhatiy.
Adapun menurut minoritas ulama ushul, pengertian ijtihad adalah pengerahan segala
kekuatan untuk mencari hukum suatu peristiwa dalam nash Al-Quran dan hadish
shahihh. Definisi ini merupakan : ijtihad adalah mencari hukum suatu masalah dalam
nash Al-Quran dan hadist.
Dan perkembangan ijtihad berkenaan dengan hukum-hukum syariat, secara singkat
dapatlah disebutkan mengenai beberapa perbedaan cara penyimpulan dan penerapannya
di berbagai kelompok muslim:
Pertama, mereka yang berpendapat bahwa nash nash hukum agam islam (yakni
yang menyangkut kepentingan esensial manusia berkenaan dengan pemeliharaan dan
perlindungan terhadap agama, akal, jiwa, harta dan keturunan) semuanya telah tercakup
didalam Al-Quran dan Al-Sunnah. Hal itu ada kalanya dapat dipahami secara langsung.
Atas dasar pengertiaan ini, tugas kita hanyalah meneliti dan menyimpulkan dari sumber
itu. Paham seperti ini, antara lain dianut - dengan beberapa perbedaan- oleh kelompok
imamiyah dari kalangan syiah, dan mazhab zhahiri dari klngan ahl Al-Sunnah.
Kedua, mereka yang menetapkan bahwa sumber hukum islam ialah Al-Quran,
Sunnah dan ijtihad. Dengan pengertian, pertama-tama mengambil dari Alquran,
kemuadian dari As-Sunnah bila mana hukum yang dimaksud tidak terdapat pada AlQuran. Jika tidak terdapat dalam keduanya, maka digunakanlah ijtihad.

[Type text]

Page x

2.2.2 Ruang lingkup berijtihad menurut Muhammad Al-baqir.


Sebagaimana setiap ketentuan yang berlaku dikalangan masyarakat beradab,
memilki aturan permainan,demikian pula soal ijtihad dan ketentuan hukum agamapun
memiliki aturan permainan. Oleh para ulama yang kompoten, aturan permainan tersebut
telah disimpulkan dari prinsip-prinsip umum Al-Quran dan Al-Sunnah serta praktek para
sahabat dan tabiin (ushulil fiqh).
Telah disepakati bahwa hukum-hukum islam yang berkaitan dengan ibadah maupun
muamalah, harus berdasarkan nash atau dalil Al-Quran atau Sunah Nabi SAW apabila
tidak dijumpai dalam kedua-duanya, atau dalil yang ada dianggap kurang jelas, maka
digunakanlah ijtihad untuk menentukan hukumnya, dengan tidak meninngalkan prinsipprinsip umum yang dapat diketahui dari ayat-ayat ataupun hadist-hadist lainnya.
Dari uraian tersebut ditariklah suatu kesimpulan yang merupakan salah satu kaidah
yang disepakati oleh para ahli ushulul fiqh:
tidak diperkenankan berijtihad dalam hukum-hukum yang berdasarkan nash
qhatiy.
Berdasarkan hal itu, apabila suatu nash telah diyakini sumbernya dari firman Allah
atau sunnah Rasulullah SAW dan juga telah diyakini makna dan sasaran yang ditujunya,
maka tidak ada lagi ruang untuk berijtihad padanya. Termasuk dalam hal ini, ketepanketetapan syariat yang telah menjadi kesepakatan umum para ulama besar terdahulu
maupun yang kemudian, seperti tentang kewajiban lima shlat fardhu dalam sehari
semalam, atau tentang wanita-wanita yang haram dinikahi disebabkan adanya hubungn
kekeluargaan tertentu, atau tentang kadar pembagian harta warisan bagi masing-masing
ahli waris, atau tentang diharamkannya makan daging babi atau minum khamr, dan lain
sebagainya seperti tersbut dalam Al-Quran dengan jelas dan pasti .
Sebaliknya, apabila nash yang mendasari suatu hukum masih bersifat zhanniy yakni mengandung unsur keraguan dan kesamaran, baik berkaitan dengan arah
sumbernya ataupun makna dan tujuannya maka disinilah terdapat ruang untuk
berijtihad. Keraguan itu bisa datang dari arah sanad para rawi sebuah hadist, sehingga
harus diteliti terlebih dahulu mengenai kelayakan mereka satu perstu dalam
[Type text]

Page xi

periwayatannya sebelum dapat ditetapkan apakah hadist yang mereka riwayatkan itu bisa
dijadikan dalilm atau tidak. Adakalanya juga, suatu hadist telah diyakini keshahihan
sumbernya, namun susunan kata-katanya ataupun materinya masih menimbulkan
keraguan dan ketidak pastian dalam memahami makna dan tujaunnya. Munkin pula
bersama nash itu terdapat syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi sebelum dapat
dijadikan dalil.
Jadi , ijtiahad hanya dibolehkan dalam hal-hal yang memang tidak ada nashnya,
atau ada nashnya namun bersifat zanniy. Terus sebaliknya, tidak ada ruang selain untuk
berijtihad dalam sesuatu yang telah ada nash qhatiy padanya.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

[Type text]

Page xii

Telah disimpulakan bahwa pengertiaan ijtihad adalah pengarahan segala


kesanggupan untuk mengerjakan sesuatu yang sulit. Maka, adalah salah
bila kata ijtihad diterapkan pada pengerjaan sesuatu yang mudah atau
ringan.

Perkembangan ijtihad dikalangan kaum muslimin berkenaan dengan


hukum-hukum syariat, secara singkat dapat dibedakan dengan cara
penerapan dan penyimpulannya.

Bahwasanya ruang lingkup berijtihad pada dasarnya disimpulkan dari


prinsip-prinsip umum Al-Quran dan Al-Sunnah serta praktek para sahabat
dan tabiin.

3.2 Penutup

[Type text]

Page xiii