Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II

PENENTUAN TITIK BEKU LARUTAN

Nama Praktikan
NIM
Kelompok
Fak/Jurusan
Nama asisten

: Handariatul Masruroh
: 121810301003
:2
: MIPA/KIMIA
: Putri Zakiah Bellaninda

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
TAHUN 2014

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Pendahuluan
Larutan merupakan campuran homogen. Sifat kimia suatu larutan bergantung pada
suatu pelarut dan zat terlarut yang terlibat, sedangkan sifat fisikanya dapat diketahui
berdasarkan titikbeku, titik didih, tekanan uap, dan takanan osmosis. Tekanan uap larutan
pada tiap temperatur selalu lebih rendah dari pada tekanan uap pelarut murni. Tekanan uap
larutan lebih rendah dari pada tekanan uap pelarut murni padatitik beku nomal,. Agar
larutan dapat membeku, haruslah didinginkan ke temperatur yang terletak di bawah titik
beku normal.
Titik beku larutan adalah temperatur pada saat larutan setimbang dengan pelarut
padatnya Larutan akan membeku pada temperatur lebih rendah dari pelarutnya. Penurunan
titik beku (Tf) dan kenaikan titik didih adalah akibat dari penurunan tekanan uap. Adanya
perbedaan

tekananan uap pelarut murni dengan tekanan uap larutan disebut dengan

penurunan titik beku. Penurunan titik beku (Tf) merupakan salah satu yang termasuk sifat
koligatif larutan. Adanya zat terlarut menyebabkan titik beku larutan lebih rendah daripada
titik beku pelarut murni, Sehingga pengukuran titik beku larutan didasarkan jumlah
komponen zat terlarut yang dinyatakan dengan fraksi mol. Dalam menentukan penurunan
titik beku larutan dibutuhkan tetapan penurunan titik beku larutan.
Dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari banyak sekali sesuatu hal yang
merupakan reaksi kimia dan mungkin salah satunya merupakan proses penurunan titik
beku larutan. Dengan di lakukannya praktikum ini diharapkan praktikan dapat menentukan
bagaimana cara menentukan tetapan penurunan titik beku suatu larutan, selain itu dengan
penurunan titik beku kita dapat menentukan berat molekul (BM) zat non volatil.

1.2 Tujuan
-

Menentukan tetapan penurunan titik beku molal pelarut

Menentukan berat molekut zat nonvolatil yang tidak diketahui

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Material Safety Data Sheet (MSDS)


2.1.1 Asam Asetat Glasial
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik
yang dikenal sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Sifat dari asam asetat
antara lain, massa molar 60.05 g/mol, densitas dan fase 1.049 g.cm3 (padatan) dan 1.266
gcm3 (cairan), titik lebur 16.5C, serta titik didih 118.1C, keasaman (pKa) 4.76 pada
25C. Asam asetat ini tidak berwarna atau kristal (Anonim, 2014).
Kontak dengan kulit menyebabkan luka bakar dan dermatis. Tindakan pertolongan
yang harus dilakukan adalah bilas daerah kulit yang terkena kontak asam klorida
menggunakan air bersih mengalir minimal 15 menit dan segera lepaskan pakaian yang
etrkontaminasi. Kontak dengan mata menyebabkan iritasibahkan dapat menyebabkan
kebutaan. Tindakan pertolongan yang harus dilakukan adalah cuci mata dengan air bersih
minimal 15 menit dengan sesekali mata diangkat dan ditutup. Bila terhirup dapat
menyebabkan bronchitis kronis. Tindakan pertolongan yang harus dilakukan adalah
dipindahkan ketempat yang cukup udara, diberikan nafas buatan atau oksigen. Jika tertelan
akan menyebabkan luka bakar pada membrane mukosa di mulut dan esophagus. Tindakan
pertolongan yang harus dilakukan adalah diberikan beberapa gelas air atau susu
(Anonim, 2014).

2.1.2 Akuades
Akuades merupakan molekul dengan rumus H2O yang berwujud cairan, tak berwana,
tak berbau dan memiliki berat molekul 18,02 gram/mol. Air memiliki kemampuan untuk
melarutkan banyak zat kimia lainnya, seperti garam, gula, asam, beberapa jenis gas, dan
banyak macam molekul organik. Air merupakan jenis senyawa liquid yang tidak berwarna,
tidak berasa, dan tidak berbau pada keadaan standar. Massa jenis air sebesar 1000 kg/cm 3
dan viskositasnya 0,001 Pa/s (20 C).Titik didihnya 1000C dan tekanan uapnya 2,3 Kpa.
Akuades tidak menimbulkan korosif, tidak menyebabkan iritasi dan tidak sensitif terhadap
kulit. Akuades tidak menyebabkan bahaya dalam kasus terhirup dan dalam kasus tertelan
(Sciencelab, 2014).

2.1.3 Naftalen
Naftalen memiliki sifat fisik dan kimia dengan keadaan fisik dan penampilan padat
atau berbentuk kristal, berbau aromatik, berat molekul 128,19 g/mol, berwarna putih, titik
didih 218 oC, titik lebur 80,2 oC. Sebagian tersebar dalam air panas, metanol, n-oktanol.
Sangat sedikit terdispersi dalam air dingin. Identifikasi bahaya untuk naftalen yaitu sangat
berbahaya dalam kasus menelan, berbahaya dalam kasus kontak mata (iritan), sedikit
berbahaya dalam kasus kontak kulit. Tindakan pertolongan pertama untuk kontak mata
yaitu periksa dan lepaskan lensa kontak, segera basuh mata dengan banyak air mengalir
selama minimal 15 menit. Apabila kontak dengan kulit segera cuci dengan air yang
banyak. Biarkan korban untuk beristirahat di tempat yang berventilasi baik jika terjadi
penghirupan dan jangan dimuntahkan jika tertelan, kecuali diarahkan oleh tenanga medis
untuk melakukannya (Anonim, 2014).
2.1.4 NaCl
Natrium klorida, juga dikenal dengan garam dapur, atau halit, adalah senyawa kimia
dengan rumus kimia NaCl. Senyawa ini adalah garam yang paling mempengaruhi salinitas
laut dan cairan ekstraselular pada banyak organisme multiselular. Sebagai komponen
utama pada garam dapur, natrium klorida sering digunakan sebagai bumbu dan pengawet
makanan. Sodium Chlorida atau Natrium Chlorida (NaCl) yang dikenal sebagai garam
adalah zat yang memiliki tingkat osmotik yang tinggi. Massa molar 58.44 g/mol, tidak
berwarna/berbentuk kristal putih, densitas 2.16 g/cm3 ,titik leleh

801C, titik didih

1465C, kelarutan dalam air 35.9 g/100 mL (25C) (Sciencelab, 2014).


Senyawa ini dapat berbahaya dalam kasus kontak kulit (iritan), menelan, dan
inhalasi. Tindakan pertama yang dapat dilakukan jika terjadi kontak mata ialah
memeriksakan dan lepaskan lensa kontak. Segera basuh mata dengan air mengalir selama
minimal 15 menit, menjaga kelopak mata
Mendapatkan perhatian medis.

terbuka. Air dingin dapat digunakan.

Apabila terjadi kontak kulit maka segera siram kulit

dengan banyak air. Tutupi kulit yang teriritasi dengan yang melunakkan. Hilangkan
terkontaminasi pada pakaian dan sepatu (Sciencelab, 2014).

2.2 Dasar Teori


Sifat sifat koligatif adalah sifat sifat yang hanya ditentukan oleh jumlah partikel
dalam larutan dan tidak tergantung oleh jenis partikelnya, tidak bergantung pada ukuran
ataupun berat molekul zat terlarut. Sifat koligatif larutan dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu sifat larutan non elektrolit dan elektrolit. Hal itu disebabkan zat terlarut

dalam larutan elektrolit bertambah jumlahnya karena terurai menjadi ion-ion, sedangkan
zat terlarut pada larutan non elektrolit jumlahnya tetap karena tidak terurai menjadi ionion, sesuai dengan hal-hal tersebut maka sifat koligatif larutan non elektrolit lebih rendah
daripada sifat koligatif larutan elektrolit. Larutan merupakan suatu campuran yang
homogen dan dapat berwujud padatan, maupun cairan. Akan tetapi larutan yang paling
umum dijumpai adalah larutan cair, dimana suatu zat tertentu dilarutkan dalam pelarut
berwujud cairan yang sesuai hingga konsentrasi tertentu (Bird, 1993).
Peralihan wujud suatu zat ditentukan oleh suhu dan tekanan , contohnya air pada
tekanan 1 atm mempunyaititik beku 0C. Jika air mengandung zat terlarut yang sukar
menguap (misalkan gula), maka titik bekunya lebih kecil dari 0C. titik beku larutan lebih
rendah dari pada titik beku air murni. Perbedaan itu disebut penurunan titik beku (Tf).
Besarnya penurunan titik beku larutan bergantung pada konsentrasi zat terlarut (Syukri,
1999).
Titik beku larutan adalah temperatur pada saat larutan setimbang dengan pelarut
padatnya. Larutan akan membeku pada temperatur lebih rendah dari pelarutnya. Pada
setiap saat tekanan uap larutan selalu lebih rendah dari pada pelarut murni. Sifat penurunan
titik beku bergantung pada jumlah molekul zat terlarut yang ada dan tidak bergantung pada
ukuran atau berat molekul zat terlarut. Penentuan penurunan titik beku lebih mudah
dilaksanakan daripada untuk menentukan kenaikan titik didih. Dengan peralatan yang lebih
sederhana dan dapat dilakukan dengan lebih mudah. Pada suhu tinggi beberapa pelarut
bersifat kurang stabil sehingga menyulitkan pengukuran (Sukardjo, 1997).
Titik beku larutan ialah temperatur pada saat larutan setimbang dengan pelarut
padatnya. Larutan akan membeku pada temperatur lebih rendah dari pelarutnya. Pada
setiap saat tekanan uap larutan selalu lebih rendah dari pada pelarut murni.
Tf = Kf . m

(2.1)

Tf = penurunan titik beku


Kf

= tetapan penurunan titik beku molal atau tetapan krioskopik

= kemolalan

1. Pada tekanan tetap, penurunan titik beku suatu larutan encer berbanding lurus dengan
konsentrasi massa.
2. Larutan encer semua zat terlarut yang tidak mengion, dalam pelarut yang sama,
dengan konsentrasi molal yang sama, mempunyai titik beku yang sama, pada tekanan
yang sama (Achmad, 1996: 40).

Jika kedalam suatu zat pelarut dimasukkan zat lain yang tidak mudah menguap
(non volatil), maka tenaga bebas pelarut tersebut akan turun. Penurunan tenaga bebas ini
mengikuti persamaan Nernst.
G1 - G = RT ln x

(2.2)

G1 - G

= Penurunan tenaga bebas pelarut

= Tetapan gas murni umum

= suhu mutlak

= Penurunan tenaga bebas ini akan menurunkan zat pelarut untuk berubah

menjadi fase uapnya, sehingga tekanan uap pelarut dalam larutan akan lebih rendah bila
dibandingkan dengan tekanan uap pelarut yang sama dalam keadaan murni (Tim Kimia
Fisika, 2014).
Pengaruh penurunan tekaknan uap terhadap titik beku larutan mudah dipahami
dengan bantuan diagram fasa berikut :

Grafik 2.1. Diagram Fasa


Berdasarkan diagram di atas terlihat bahwa titik beku larutan Tf lebih rendah
dibandingkandenga titik beku pelarut murni Tf. Dari uraian di atas jelas bahwa penurunan
titik beku larutan secara matematis dituliskan:
Tf = Tf - Tf

(2.3)

Besarnya tergantung pada fraksi mol pelarut karena fraksi mol zat terlarut X1 : menurut
persamaan X = 1- X1 maka Tf dapat dinyatakan sebagai X1 berikut:
Tf = (R(T0f )2/Hf) X1

(2.4)

Dimana Hf adalah panas pencairan pelarut. Jika m ml zat terlarut ke dalam1000 gram zat
terlarut, maka di dapat larutan dengan molarutas m. sehingga larutan tersebut mempunyai
fraksi mol zat terlarut sebesar :
X1 = m / {(1000/M)+ m}

(2.5)

Dimana M adalah berat molekul zat pelarut. Untuk larutan encer m mendekati 0 (nol),
maka X1 = mM/1000, sehingga penurunan titik beku larutan dapat di tulis :
Tf = (R(T0f )2 Mm)/1000Hf

(2.6)

Kf = {R(T0f )2 M.m}/1000Hf

(2.7)

Bila di substitusikan :

Dari X1 = mM/1000 di atas didapat


m = 1000X1 / M
Sedangkan X1= m1 / (m1 + m) = (W1 / M1) / {(W1 / M1 + W/M)}
W1 = berat zat terlarut
M1 = BM zat terlarut
W = berat pelarut
Oleh karena larutan encer, maka (W1 / M1) >>(W /M) , sehingga didapat :
X1 = (W1. M) / (W.M1) dan Tf = (1000 / kf) / M1 x (W1 /W)

(2.8)

Rumus untuk menghitung harga kf adalah :


Kf = (W.M1 Tf) /(1000W1)

(2.9)

sedangkan rumus untuk menghitung BM zat terlarurt :


M1 = (1000 kf )/ Tf x (W1/W)
(Tim Kimia Fisika, 2014).

(2.10)

BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan


3.1.1 Alat
- Termometer alkohol
- Tabung gelas
- Pengaduk
- Stopwatch
- Gelas beker 100 cc
- Erlenmeyer
- Gelas ukur 100 cc

3.1.2 Bahan
- air
- Es
- Garam
- Asam cuka
- Asam cuka glasial
- Naphtalen

3.2 Skema Alat

Keterangan:
A. Thermometer
B. Tabung gelas 1
C. Pengaduk
D. Tabung gelas 2
E. Tabung gelas 3
3.3 Skema Kerja
3.3.1 Penentuan tetapan penurunan titik beku molal
20 mL Asam cuka glasial
- dimasukkan kedalam tabung b, didinginkan, dicatat suhunya setiap
menit
- diamati pelarut (membekku atau
belum) jika suhu sudah tetap
- diulangi percobaan diatas sekali lgi
- ditentukan Tf
- dimasukkan naftalen
- diulangi percobaan,dicatat Tf
- didapat Tf
- di hitung kf
Hasil

3.3.2 Penentuan BM zat x


Larutan percobaan I
- Ditambah 2 gram zat x
- Diamati Tf
- Dihitung Tf
- Dihitung BM zat x
Hasil

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


4.1.1 Penentuan Titik Beku Asam Cuka Glasial (Tof)
Bahan

Larutan asam cuka


Glasial

Menit ke-

Suhu (C)

Perubahan

29

21

19

17

Mulai terbentuk
kristal

17

Terbentuk kristal

17

Terbentuk Kristal

4.1.2 Penentuan Titik Beku Larutan Naftalen (Tof)


Bahan

Larutan asam cuka


Glasial + 2 gram
Naftalen

Menit ke-

Suhu (C)

Perubahan

27

16

14

14

Mulai terbentuk
kristal

14

Terbentuk kristal

Menit ke-

Suhu (C)

Perubahan

29

20

15

13

4.1.3 Penentuan BM zat X


Bahan

Larutan asam cuka


Glasial + 2 gram
naftalen +2 gram zat

Mulai terbentuk
kristal

X
4

13

Terbentuk kristal

13

Terbentuk Kristal

4.2 Pembahasan
Percobaan yang dilakukan dalam praktikum kali ini berhubungan dengan titik beku
suatu larutan dimana tujuan dari praktikum ini adalah menetukan tetapan penurunan titik
beku suatu larutan dan menentukan berat molekul dari suatu senyawa nonvolatil. Titik
beku merupakan suhu kesetimbangan antara padat-cair pada tekanan 1 atm, sedangkan
penurunan titik beku merupakan selisih antara titik beku pelarut dengan titik beku
larutannya. Penurunan titik beku larutan merupakan salah satu dari sifat koligatif larutan.
Sifat koligatif merupakan suatu sifat larutan yang hanya dipengaruhi oleh jumlah zat dan
tidak dipengaruhi oleh jenisnya. Penurunan titik beku dari suatu larutan ini berkaitan
dengan sifat nonvolatil dari zat terlarut dari larutan tersebut. Sifat nonvolatil dari zat
terlarut menyebabkan zat terlarut tersebut tidak berkontribusi terhadap uapnya.
Penambahan zat non volatil ini berkaitan dengan penurunan tenaga bebas dari pelarut.
Penurunan tenaga bebas ini menyebabkan penurunan terhadap kemampuan pelarut untuk
berubah menjadi fase uapnya sehingga tekanan uap pelarut dalam larutan akan lebih
rendah bila dibandingkan dengan tekanan uap pelarut yang sama dalam keadaan murni.
Penurunan tekanan uap ini sebanding dengan penurunan titik beku. Sehingga semakin kecil
penurunan tekanan uap, maka semakin kecil pula penurunan titik bekunya dan sebaliknya.
Terdapat tiga percobaan yang dilakukan dalam praktikum kali ini, yaitu menentukan
titik beku dari asam cuka glasial, menentukan tetapan penurunan titik beku asam cuka dan
menentukan berat molekul dari NaCl yang merupakan senyawa nonvolatil. Percobaan
pertama yang dilakukan adalah menentukan titik beku larutan asam cuka glasial.
Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan suatu rangkaian alat sesuai pada prosedur
kerja. Rangkaian alat ini terdiri dari gelas piala 1 dimasukan dalam gelas piala 2 dan
kemudian dimasukan ke dalam tabung pendingin yaitu gelas piala 3 yang dilengkapi
dengan pengaduk gelas. Gelas piala 1 berisi larutan asam cuka glasial yang akan
ditentukan titik bekunya. Gelas piala 2 diisi dengan air dan beaker 3 diiisi dengan es batu
dan garam kasar. Es batu pada gelas piala tiga berfungsi untuk proses pendinginan dan
garam kasar yang ditaburkan berfungsi untuk menurunkan tekanan uap dari es batu
sehingga akan bertahan pada bentuk padatnya. Air pada gelas piala 2 berfungsi untuk
menghindari pendinginan yang terlalu cepat terhadap cairan di gelas piala 1 yang akan
ditentukan titik bekunya. Perubahan suhu asam cuka glasial setiap menit selama proses
pendinginan dicatat hingga dicapai suhu yang konstan. Suhu konstan yang didapat saat
proses pendinginan ini dicatat sebagai titik beku dari asam cuka glasial (Tof). Titik beku
asam cuka glasial yang yang didapatkan dari percobaan adalah 17C dimana pada suhu ini

asam cuka glasial mulai membeku. Berdasarkan literatur, titik beku dari asam cuka glasial
adalah 17C. Hasil yang didapatkan dari percobaan sesuai dengan literatur. Grafik
hubungan antara waktu dengan suhu dari asam cuka glasial yaitu:

Grafik Hubungan Waktu dengan Suhu Asam


cuka glasial
30
25
Suhu

20
15
Series1

10
5
0
0

Waktu

Percobaan kedua yaitu menentukan tetapan penurunan titik beku larutan asam cuka
glasial. Percobaan ini dilakukan dengan menambahkan 2 gram naftalen yang merupakan
zat nonvolatil pada asam cuka glasial yang telah dicairkan dari percobaan pertama dan
kemudian dilakukan perlakuan yang sama seperti percobaan pertama. Berdasarkan hasil
percobaan, titik beku dari larutan naftalen sebesar 14C. Hasil ini menunjukkan bahwa
titik beku larutan naftalen lebih rendah daripada titik beku pelarut murni yaitu asam cuka
glasial. Hal ini sesuai dengan teori yang sudah ada dimana jika suatu zat terlarut yang
nonvolatil ditambahkan pada pelarut murni, maka titik beku dari larutan akan lebih rendah
atau terjadi penurunan titik beku. Penurunan titik beku yang dihasilkan adalah sebesar 3C.
Besarnya penurunan titik beku ini kemudian digunakan untuk perhitungan tetepan
penurunan titik beku (

dari asam asetat glasial dengan menggunakan persamaan

sebagai berikut:

Kf

Wasamcuka Mrnaftalen T f
1000Wnaftalen

(4.2.1)

Berdasarkan hasil perhitungan, besarnya nilai Kf dari asam cuka glasial adalah 4,03
g.mol-1.K. Nilai Kf berdasarkan literatur adalah 3,9 g.mol-1.K. Hasil yang didapatkan dari
percobaan berbeda dengan litetarur. Perbedaan yang terjadi kemungkinan disebabkan oleh
pendinginan yang terlalu cepat pada larutan naftalen, sehingga memengaruhi besarnya
penurunan titik beku dan nilai Kf. Grafik hubungan antara waktu dengan suhu asam cuka
glasial yang telah ditambah naftalen yaitu:

Grafik Hubungan Waktu dengan Suhu Asam


cuka glasial + Naftalen
30
25
Suhu

20
15
10

Series1

5
0
0

Waktu

Gambar 4.2.2. Grafik hubungan waktu dengan suhu Asam cuka glasial + Naftalen
Percobaan selanjutnya yaitu menetukan berat molekul (BM) dari zat X. Penururnan
titik beku merupakan salah satu sifat koligatifumplah partike zat, sehingga konsep
penurunan titik beku larutan dapat digunakan untuk menentukan berat molekul dari suatu
zat. dimana sifat ini hanya tergantung pada Zat yang digunakan adalah NaCl. Percobaan ini
dilakukan dengan menambahkan 2 gram NaCl pada larutan naftalen yang telah dicairkan
dari percobaan sebelumya dan kemudian dilakukan perlakuan yang sama seperti prosedur
percobaan sebelumnya. Titik beku larutan garam dengan pelarut naftalen dan asam cuka
glasial yang didapatkan dari literatur adalah sebesar 13C dan besarnya penurunan titik
beku larutan NaCl terhadap pelarut asam murni asam cuka glasial adalah 4K. Nilai berat
molekul dari NaCl dapat ditentukan dari harga perununan titik beku total (naftalen dan
garam) terhadap pelarut murni asam cuka glasial dan dari besarnya tatapan penurunan titik
beku dari asam cuka glasial. Berdasarkan hasil perhitungan, besarnya penurunan titik beku
total adalah sebesar 7 K dan nilai Kf sebesar 4,03 g.mol-1K. Nilai BM NaCl ditentukan
dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
(

) {(

)}

(4.2.2)

Berdasarkan hasil perhitungan, besarnya BM dari NaCl adalah sebesar 96,05 g/mol,
sedangkan berdasarkan literatur, BM dari naCl adalah 58,5 g/mol. Perbedaan hasil
percobaan dengan literatur kemungkinan disebabkan oleh beberapa kesalahan. Kesalahankesalahan yang terjadi disebabkan karena adanya kesalahan praktikan dalam mengamati
percobaan dan penurunan suhunya, praktikan kurang teliti dalam melakukan percobaan.

Selain itu proses pembekuannya berlangsung cepat sehingga mengakibatkan data yang
diperoleh kurang akurat. Grafik hubungan antara waktu dengan suhu asam cuka glasial
yang telah ditambah naftalen yaitu:

Grafik Hubungan Waktu dengan Suhu Asam


cuka glasial + Naftalen + zat X
35
30

Suhu

25
20
15

Series1

10
5
0
0

waktu

Gambar 4.2.2. Grafik hubungan waktu dengan suhu Asam cuka glasial + Naftalen + zat X

BAB 5. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan tujuan dan pembahasan yang telah
diuraikan sebelumnya adalah:
- Titik beku larutan lebih kecil daripada titik beku pelarut.
- Hasil perhitungan menunjukkan bahwa nilai Kf adalah 4,03 g.mol-1.K dan BM zat X
yang diperoleh sebesar 96, 05 g/mol.

5.2 Saran
Praktikan harus lebih teliti dalam melakukan percobaan yaitu dalam mengamati
perubahan suhu agar hasil yang diperoleh dapat sesuai dan kesalahan dapat diminimalisir.

DAFTAR PUSTAKA

Achmad, Hiskia. 1996. Kimia Larutan. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.


Anonim. 2014. Asam Cuka Glasial. http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId
=9922769 [diakses pada tanggal 5 Oktober 2014].
Anonim. 2014. Naftalen. http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927671
[diakses pada tanggal 5 Oktober2014]
Bird, Tony. 1993. Kimia Untuk Universitas. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Fessenden, dkk. 1997. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.
Sciencelab.com. 2014. Akuades. [ serial online] http://www.sciencelab.com/msds/php//id=
9927321. [diakses pada tanggal 29 September 2014, 18.50 WIB].
Sciencelab.com. 2014. NaCl. [ serial online] http://www.sciencelab.com/msds/php//id=
9927593. [diakses pada tanggal 29 September 2014, 18.50 WIB].
Sukardjo. 1997. Kimia Fisika. Yogyakarta: Rineka Cipta.
S, Syukri. 1999 . Kimia Dasar. Bandung: Penerbit ITB.
Tim Kimia Fisika. 2011. Penuntun Praktikum Kesetimbangan dan Dinamika Kimia.
Jember: Laboratorium Kimia Fisika Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Jember.

LAMPIRAN

Bahan

Menit ke-

Suhu (C)

Perubahan

29

21

19

17

Larutan asam cuka


Glasial

Mulai terbentuk
kristal

17

Terbentuk kristal

17

Terbentuk Kristal

Menit ke-

Suhu (C)

Perubahan

27

16

14

14

Titik beku asam cuka = 17C

Bahan

Larutan asam cuka


Glasial + 2 gram
Naftalen

Mulai terbentuk
kristal

14

1. Perhitungan penurunan titik beku asam cuka ( Tf 1)


Tf 1 =
Tf asam cuka Tf 1 asam cuka+naftalen
=

17C - 14 C

290 K - 287 K

3K

Terbentuk kristal

2. Menghitung tetapan penurunan titik beku asam cuka

Keterangan : W

= masssa asam cuka

Mi

= Mr naftalen

Wi

= massa naftalen

xV

= 1,049 gr/mL x 20 mL
= 20,98 gram
Sehingga,
Kf

20,98g 128g / mol 3K


1000 2,00 gram

K f 4,03 g.mol1 .K

3. Menghitung Tf zat X
Tf 2
=
Tf - Tf 2
Keterangan :

Sehingga, Tf 2

Tf 2

suhu asam cuka

Tf 2

suhu asam cuka + zat X

17C - 13C

290 K 286 K

4K

4. Menetukan BM zat X
Tf total = Tf 2 + Tf 1
= 4K + 3K = 7K
(

) {(

7 K = 192,09

) {(

7K=(
7K=

)
)

+ 3,00

)}

)}

4X

= 384,18
= 96,05 gr/mol