Anda di halaman 1dari 41

MESIN PEMINDAH

BAHAN

TIK ;
Diharapkan
mahasiswa
dapat
memahami mengenai komponen dan
teori perlengkapan pengangkat
Designed by TheTemplateMart.com
LITERATUR
N. RUDENKO

RANTAI LASAN

Rantai lasan (welded) terbuat dari jalinan baja


oval yang berurutan. Ukuran utama rantai
(gambar 1) adalah :
kisar (t), sama dengan panjang bagian dalam
mata rantai lebar luar (B), dan diameter batang
rantai (d).

Gambar 1. ukuran utama mata rantai beban

LITERATUR N. RUDENKO

tergantung pada perbandingan kisar dan


diameter batang rantai, rantai lasan
diklasifikasikan menjadi rantai mata pendek
(t 3d) dan rantai mata panjang (t > 3d).

Gambar. 2
mata rantai menghubungkan
rantai beban..

LITERATUR N. RUDENKO

Rantai lasan terbuat dari baja CT. 2 dan CT. 3. Mata


rantai untuk rantai lasan dibentuk dengan berbagai
macam metode,yaitu :
Pengelasan tempa dan pengelasan tahanan listrik.
Dengan pengelasan tempa mata rantai dibuat dari satu
batang baja, sedangkan bila menggunakan las tahanan
listrik mata rantai terbuat dari dua potong baja
lengkung yang dilas temu.

LITERATUR N. RUDENKO

Rantai lasan digunakan untuk mesin pengangkat


kapasitas kecil (katrol, Derek, dan crane yang
digerakan tangan), & sebagai perabot pengangkat
utama
Rantai lasan mempunyai kelemahan yakni berat, rentan
terhadap sentuhan dan beban lebih, keausan yang
berlebihan pada sambungan antar mata rantai , dan
hanya digunakan untuk kecepatan rendah
Keunggulannya ialah flexible untuk semua arah,
dapat menggunakan puli dan drum dengan diameter
yang kecil serta desain dan pembuatan yang
sederhana
LITERATUR N. RUDENKO

Rumus umum untuk memilih tegangan tarik


rantai adalah :

Sbr
Ss
K

Dengan
Ss
= beban aman yang diterima rantai, dalam kg
Sbr = beban putus dalam kg
K
= Faktor keamanan

LITERATUR N. RUDENKO

Intensitas keausan yang terjadi pada rantai tergantung


pada faktor berikut :
-Perbandingan kisaran rantai dengan drum atau puli rantai
-Tegangan dan kecepatan puli rantai
- sudut belok relative bila rantai tersebut melewati
pulinya
- keadaan lingkungan kerja dan sebagainya.
Rantai las tempa selalu putus pada bagian lasnya. Pada
rantai las tahanan listrik yang bermutu tinggi, biasanya
mata rantai putus berbentuk putus miring dengan
penampang yang bersudut kecil terhadap sumbu memanjang
rantai, yang bermula pada bagian bagian tepi batas
permukaan kontak mata rantai yang dihubungkan.

LITERATUR N. RUDENKO

2.

Rantai Rol

Rantai rol terdiri atas pelat


yang
dihubung- engsel
pena
Rantai untuk
beban ringan
terbuat
dari dua keping plat saja, sedangkan untuk
beban berat dapat
menggunakan sampai
lebih
dari 2 keping pelat

Gambar 9 rantai rol

LITERATUR N. RUDENKO

Rantai rol mempunyai beberapa keunggulan


dibandingkan dengan rantai lasan. Karena rantai
rol padat maka keandalan operasinya jauh lebih
tinggi dibandingkan rantai lasan. Rantai rol
mempunyai flexisibelan yang baik sehingga dapat
dipakai pada sprocket dengan diameter lebih
kecil dan jumlah gigi yang lebih sedikit. Hal ini
akan mengurangi ukuran mekanisme dan sekaligus
mengurangi harganya. Juga, gesekan pada rantai
rol jauh lebih kecil dibandingkan dengan rantai
lasan dengan kapasitas angkat yang sama.
LITERATUR N. RUDENKO

Kecepatan maximum rantai rol ditentukan oleh standar


Negara dan tidak boleh melebihi 0.25 mm/detik.
Nilai factor keamanan K, rasio D/d
dan jumlah gigi
sprocket untuk rantai las dan rol diberikan pada table 4.
Table 4. Data rantai yang terseleksi
RANTAI

Factor K
keamanan

Ras
io
D/d

Jumlah minimum
gigi pada
sprocket

3
6
4.5
8

20
30
20
30

5
5
..
..

..

5
5

.
.

..
8

Digerak
an
Dilas dikalibrasi dan tidak dikalibrasi.
..
dilas dikalibrasi pada katrol ...............
..............................
dilas tidak dikalibrasi tidak mengikat
beban
Dilas tidak dikalibrasi tidak mengikat
beban
Roller

Tangan
Daya
Tangan
Daya

LITERATUR N. RUDENKO

3. Tali Rami
Tali rami hanya cocok digunakan untuk mesin pengangkat
yang digerakan tangan (puli tali) karena sifat mekanisnya
yang lemah (cepat aus, kekuatan yang rendah, mudah
rusak oleh benda tajam, pengaruh lingkungan dan
sebagainya)
Tali rami harus memenuhi standar Negara dan terbentuk
dari tiga untai rami dan tiap untai terdiri atas beberapa
serabut yang berbeda. Arah lilitan untaian harus
berlawanan dengan serabut.
d

d
a)

b)

Gbr. Penampang lintang tali rami,a)tali polos, b) tali kabel

LITERATUR N. RUDENKO

Berdasarkan metode pembuatan dan jumlah untaian tali


rami dikelompokan menjadi tali polos dan tali kabel.
Yang terakhir terbuat dari lilitan 3 buah lilitan yang
berbeda. Tali sering dicelupkan pada aspal untuk
mengurangi pelapukan. Walaupun tali rami yang
dicelupkan pada aspal lebih tahan terhadap pengaruh
cuaca, namun jauh lebih berat dan lebih kurang
flexible dan kekuatannya berkurang 20% dibanding tali
biasa. Kekuatan putusnya membagi tali rami menjadi
dua kelas : kelas 1 dan kelas 2.

LITERATUR N. RUDENKO

Pemilihan tali rami.


Tali rami dipilih hanya berdasarkan kekuatan
tariknya berdasarkan rumus :

d
4

br

dengan :
d = Diameter keliling dari untai, dalam cm
S = Beban pada tali, dalam kg
br = 100 kg/cm2, untuk tali putih tanpa aspal
br = 90 kg/cm2, untuk tali dengan aspal
LITERATUR N. RUDENKO

4.
TALI BAJA
Tali baja mempunyai keunggulan sebagai berikut :
1. Lebih ringan;
2. Lebih tahan terhadap sentakan;
3. Operasi yang tenang walaupun pada kecepatan operasi
yang tinggi;
4. Keandalan operasi yang tinggi.

Gbr. Susunan tali baja

LITERATUR N. RUDENKO

Tali baja terbuat dari kawat baja dengan


kekuatan = 130 sampai 200 kg/mm2. Didalam
proses pembuatannya kawat baja diberi perlakuan
panas tertentu dan digabung dengan penarikan
dingin, sehingga menghasilkan sifat mekanis kawat
baja yang tinggi.

LITERATUR N. RUDENKO

Lapisan dalam tali mengelompokan menjadi :


1) Tali pintal silang atau tali biasa;
2)Tali pintal parallel atau jenis lang;
3)Tali komposit atau pintal balik.

Tali Baja Serba Guna.


Tali yang terdapat pada Gambar 13 adalah tali
baja konstruksi biasa (kawat seragam) yang
berupa kawat anyaman kawat yang sama
diameternya

LITERATUR N. RUDENKO

TALI BAJA ANTI PUNTIR

Pada tali ini sebelum dipintal setiap kawat dan


untaian dibentuk sesuai dgn kedudukannya
didalam tali. Akibatnya tali yang tidak
dibebani tidak akan mengalami tegangan
internal.
Tali
ini
tidak
mempunyai
kecenderungan untuk terurai walaupun ujung
tali ini tidak disimpul

LITERATUR N. RUDENKO

Jenis Tali Baja Puntir mempunyai keunggulan


sebagai berikut :
1. Distribusi beban yang merata pada setiap kawat
sehingga tegangan internal yang terjadi minimal.
2. Lebih fleksibel.
3. Keausan tali lebih kecil bila melewati puli dan
digulung pada drum, karena tidak ada untaian atau
kawat yang menonjol pada kontur tali, dan
keausan kawat terluar seragam; juga kawat yang
putus tidak akan mencuat keluar dari tali.
4. Keselamatan operasi yang lebih baik.
LITERATUR N. RUDENKO

Tali Baja Dengan Untaian


Yang Dipipihkan.
Tali ini dipakai pada
crane yang bekerja pada
tempat yang mengalami
banyak
gesekan
dan
abrasi. Biasanya tali ini
tebuat dari lima buah
untaian yang dipipihkan
dengan inti kawat yang
juga dipipihkan; untaian
ini dipintal pada inti yang
terbuat dari rami

Gambar 16. Tali dengan untaian yang


dipipihkan.

LITERATUR N. RUDENKO

Tali dengan Anyaman Terkunci

Tali ini banyak digunakan pada crane kabel dan


kereta gantung. Tali ini mempunyai keunggulan
dalam hal permukaan yang halus, susunan kawat
yang padat dan tahan terhadap keausan,
kelemahannya adalah tidak fleksibel.

LITERATUR N. RUDENKO

Gbr.
Cara
mengukur
diameter tali baja

LITERATUR N. RUDENKO

Tabel 5 Tali Rami untuk Pengangkat


KONSTRUKSI TALI
Faktor mulamula
dari keamanan
tali terhadap
tegangan

kurang

6 x 9 = 114 + 1c*
Posisi
berpotongan

Posisi sejajar

6 x 37 = 222 + 1c*
Posisi
berpotongan

Posisi sejajar

Jumlah serat patah sepanjang satu tingkatan setelah tali


tertentu dibuang
14

23

12

'9 - 10

16

26

13

'10 - 12

18

29

14

'12 - 14

20

10

32

16

24

12

38

19

diatas 16

* Enam posisi dari 19 serat pada setiap ditambah poros

LITERATUR N. RUDENKO

Tabel 6 Tali Untuk Crane dan Pengangkat


Faktor
mula-mula
dari
keamanan
tali
terhadap
tegangan

Kurang 6

KONSTRUKSI TALI
6 x 19 = 114 + 1c

6 x 37 = 222 + 1c

6 x 61 = 366 + 1c

18 x 17 = 342 + 1c

Posisi
berpotongan

Posisi
berpotongan

Posisi
berpotongan

Posisi
berpotongan

Posisi
sejajar

Posisi
sejajar

Posisi
sejajar

Posisi
sejajar

Jumlah serat yang patah pada panjang tertentu setelah tali


dibuang

12

22

11

36

18

36

18

6-7

14

26

13

38

19

38

19

Diatas 7

16

30

15

40

20

40

20

LITERATUR N. RUDENKO

Percobaan-percobaan menunjukkan bahwa umur tali


sangat dipengaruhi oleh kelelahan. Umur tali dapat
ditentukan dengan memakai perbandingan
Dmin/d dan Dmin/
Dimana ;
Dmin = diameter minimum puli atau drum
d
= diameter tali

= diameter kawat pada tali


Penyelidikan memperlihatkan bahwa dengan Dmin/d yang sama umur
tali kira-kira berbanding terbalik dengan jumlah lengkungan
Jumlah lengkungan dapat ditentukan dengan cukup akurat bila kita
membuat suatu diagram seperti jenis yang ditentukan dalam Gambar
berikut

Setiap perubahan arah lengkungan tali maka dihitung dua


lengkungan, jika searah dihitung satu (sumber mahasiswa)
LITERATUR N. RUDENKO

Lengkungan = 8/2 = 4
1
b
2

2
f

d
3

5 lengkungan

f
4

d
4
e

e
5

Gbr. Menentukan jumlah


lengkungan tali dengan satu puli
bergerak

3 4

4
5

h
a

5
6

Gbr. Menentukan jumlah


lengkungan tali dengan puli
majemuk

LITERATUR N. RUDENKO

Untuk mendapatkan umur tali yang seragam, pengaruh jumlah


lengkungan harus dikompensasikan dengan suatu perubahan pada
perbandingan Dmin/d. seperti diperlihatkan pada tabel dibawah ;
Tabel 7 menunjukkan nilai

Jumlah
Dmin
lengkun
/d
gan

Dmin/d sebagai fungsi jumlah lengkungan.

Jumlah
Dmin
lengkun
/d
gan

Jumlah
Dmin/
lengkun
d
gan

Jumlah
Dmin
lengkun
/d
gan

16

26,5

32

13

36

20

28

10

33

14

37

23

30

11

34

15

37,5

25

31

12

35

16

38

LITERATUR N. RUDENKO

Diameter tali baja dapat dihitung dengan menggunakan persamaan


berikut ;

d 1,5

Dengan ;
= diameter satu kawat
i = jumlah kawat dalam satu tali

Dm in

1,5

Tegangan pada tali yang dibebani pada bagian yang melengkung


karena tarik dan lentur ;

Dengan ;
b
K
S
F

E'
S

K
F Dmin

= kekuatan putus bahan kawat tali, dalam kg/cm2


= faktor keamanan tali
= tarikan pada tali, dalam kg
= penampang berguna tali, dalam cm2

LITERATUR N. RUDENKO

E
E

= 3/8 E merupakan modulus elastisitas yang dikoreksi ;


= 3/8 2,100,000 = 800,000 kg/cm2

Dengan mengubah rumus sebelumnya (F) akan diperoleh rumus untuk


satu ukuran kawat.

b
K

Dm in

S
S

cm 2
b
b
d
d
E'
E'

. E'

.
K
Dm in d
K
Dm in 1,5 i

Dengan menentukan K dan memilih jumlah kawat i yang tergantung pada


konstruksi tali, pada b dan d/Dmin tertentu maka luas penampang tali
dapat ditentukan.
Kekuatan putus tali P dapat dapat dihitung ;

S . b
P
b
d
E'

.
K
Dm in 1,5 i

LITERATUR N. RUDENKO

S
E'

K
F Dmin

Rumus diatas diperoleh dari perbandingan antara momen dengan


jari-jari kelengkungan pada lengkungan dinyatakan sebagai ;

EI

M
Dengan ;

E
I
M

=
=
=
=

jari-jari kelengkungan
modulus elastisitas kawat
momen inersia dari penampang kawat
momen lengkung

LITERATUR N. RUDENKO

Tegangan tarik atau tekan terjadi ketika membengkokkan kawat


lurus pada serat yang terluar yang berada pada jarak /2 dari
pusat.

M
EI


.
. E
E
I 2
I 2
2
Dm in

Pengalaman memperlihatkan bahwa momen lentur akan lebih


rendah nilainya dan rumus untuk harus dikoreksi dengan
faktor khusus yang berbeda menurut jenis pintalan dan kondisi
operasi. Nilainya berkisar 3/8

S 3

S E '*

8
F
Dm in F
Dm in
LITERATUR N. RUDENKO

Tali hannya diperiksa satu kali terhadap tegangan tarik, rumus ;

P
S
K

Dengan ;
S
P
K

= tarikan maksimum yang diijinkan tali, kg.


= Kekuatan putus tali sebenarnya, kg
= faktor keamanan sesuai jenis mekanisme dan
kondisi
Tarikan kerja maksimum pada bagian tali dari sistem puli beban
Sw, dihitung dengan rumus ;

Dengan ;
Q
n

Q
Sw
n . . 1

=
=
=
=

berat muatan yang diangkat, kg


jumlah muatan puli yang menyangga muatan
efisiensi puli
efisiensi yang disebabkan kerugian tali karena
kekakuan, 0,98
LITERATUR N. RUDENKO

Diameter drum atau puli minimum yang diizinkan ;

D e1 . e2 .d

Dengan ;
D
d
e1
e2

= diameter drum dan puli pada dasar alurnya, mm


= diameter tali, mm
= faktor yang tergantung pada alat pengangkat
dan kondisi operasi
= faktor yang tergantung pada konstruksi tali

LITERATUR N. RUDENKO

Tabel 8 EFISIENSI PULI


Puli Tunggal

Puli Ganda

Efisiensi

Jumlah
alur

Jumlah puli
yang
berputar

Jumlah
alur

Jumlah
puli yang
berputar

Gesekan
pada
permukaan
puli (faktor
resisten
satu puli)

Gesekan
anguler pada
permukaan
puli (faktor
resisten satu
puli

0,951

0,971

0,906

0,945

0,861

0,918

10

0,823

0,892

12

10

0,784

0,873

LITERATUR N. RUDENKO

Tabel 9 Harga Minimum Faktor k dan e1 yang diizinkan


TIPE ALAT PENGANGKAT
1. Lokomotif,caterpilar-mounted, traktor
dan truk yang mempunyai crane pilar
(termasuk excavator yang dioperasikan
sebagai crane dan pengangkat mekanik
pada daerah konstruksi dan pekerjaan
berkala.
2. Semua tipelain dari crane dan
pengangkat mekanis
3. Derek yang dioperasikan dengan tangan,
dengan kapasitas beban terangkat
diatas 1 ton yang digandeng pada
berbagai peralatan otomotif (mobil,
truk, dan sebagainya).
4. Pengangkat dengan troli
5. Penjepit mekanis (kecuali untuk puli
pada grabs) untuk pengangkat mekanis
pada no.1
6. Idem untuk pengangkat mekanik pada
no.2

Kondisi
Digerak
pengoperasian
kan
oleh:

Tangan
Daya
Daya
Daya
Tangan
Daya
Daya
-

Ringan
Ringan
Medium
Berat dan
sangat
berat
Ringan
Ringan
Medium
Berat dan
sangat
berat
-

Faktor

Faktor

4
5
5,5
6
4,5
5
5,5
6
4
5,5
5
5

16
16
18
20
18
20
25
30
12
20
20
30

e1

LITERATUR N. RUDENKO

Tabel 10 Harga faktor e

yang tergantung pada konstruksi tali


Faktor

Konstrusi Tali

Biasanya 6 x 19 = 114 + 1 poros


Posisi berpotongan
Posisi sejajar.
Compound 6 x 19 = 114 + 1 poros
a). Warrington
Posisi
berpotongan..
Posisi sejajar
b). Seale
Posisi
berpotongan..
Posisi sejajar
Biasanya 6 x 37 = 222 + 1 poros
Posisi berpotongan
Posisi sejajar.

e2

1,00
0,90
0,90
0,85
0,95
0,85
1,00
0,90

LITERATUR N. RUDENKO

Type

Struktur dan diameter

Contoh penerimaan

7 x 7 (6/1)
Inti tengah : baja
12 sampai 28 mm

Standing rigging

6 x 7 ( 6/1 )
Inti tengah : tekstil
8 Sampai 16 mm

Standing rigging
Harp untuk trawler kecil
Kapal-kapal kecil

6 x 12 (12/fibre)
Inti tengah : strand cores,
serat, 8 sampai 16 mm

8ridle dan warp pada trawl


kecil
Morring dan running rigging

++

6 x 19 (9/9/1)
Inti tengah : darl baja
atau textil, 16 - 30 mm

Tali penarik trawl (warp)

6 x 19 (12/6/1)
Inti tengah : darl tekstil
8 sampai 30 mm

Tali penyapu (sweep) dan warp pada trawl


Running rigging

6 x 24 (15/9/fibre)
Inti tengah : darl tekstil
Running rigging

Tali penyapu (sweep) dan warp


pada trawl
Running rigging

6 x 37 (18/12/6/1)
Inti tengah : dari tekstil
20 sampai 72 mm

Purse wire
Morring dan running
Rigging mooring

++

CONTOH PEMAKAIAN TALI BAJA PADA LINGKUNGAN LAUT


S kelenturan
+ Kurang
++ Baik

LITERATUR N. RUDENKO

LITERATUR N. RUDENKO

Penggulungan ke gelondongan tergantung pada arah pilinan


tali

Lebar sheaves dibanding diameter tali baja

LITERATUR N. RUDENKO

Klem tali baja harus dipasang dengan baut pada bagian tali
baja yang tengah

LITERATUR N. RUDENKO

Contoh
Sebuah tali baja digunakan pada crane yang digunakan untuk menarik beban (S)
400 kg dengan sistem penggerak menggunakan satu buah puli yang digerakkan
oleh daya (motor). Dalam operasinya tali mengalami 5 kali lengkungan. Jika
diketahui kekuatan tarik tali 150 kg/mm2. Jumlah kawat untuk setiap tali 222 buah.
Modulus elastisitas yang dikoreksi sebesar 800.000 kg/cm2.
Hitung penampang berguna tali (cm2)
Penyelesaian ;

S
F
cm 2
b
d
E'

.
K
Dm in 1,5 i

LITERATUR N. RUDENKO

LITERATUR N. RUDENKO