Anda di halaman 1dari 24

UJIAN KULIAH HACCP

HACCP PADA PRODUK TELUR ASIN

Disusun oleh:
GOHAN FRANSISKA MANURUNG (H3112039)

DIPLOMA III TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

TELUR ASIN

1. Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP)


HACCP adalah suatu sistem jaminan mutu yang mendasarkan kepada kesadaran atau
perhatain bahwa hazard (bahaya) akan timbul pada berbagai titik atau tahap produksi,
tetapi pengendaliannya dapat dilakukan untuk mengontrol bahaya-bahya tersebut.
HACCP merupakan salah satu bentuk manejemen resiko yang dikembangkan untuk
menjamin keamanan pangan dengan pendekatan pencegahan (preventive) yang dianggap
dapat memberikan jaminan dalam menghasilkan makanan yang aman bagi konsumen.
Kunci utama HACCP adalah antisipasi bahaya dan identifikasi titik pengawasan yang
mengutamakan kepada tindakan pencegahan dari pada mengandalkan kepada pengujian
produk akhir. Perancangan konsep HACCP ini penting diterapkan pada produk telur asin
karena untuk meminimalkan potensi bahaya yang ada di bahan baku yang digunakan
maupun proses yang dijalanisehingga dapat menjamin keamanan pangan bagi konsumen.
Pada perencanaan konsep HACCP pada produk telur asin ini dilakukan dengan
beberapa tahap yaitu pengamatan terhadap bahan baku pembuatan telur asin,
pengamatan proses produksi dan proses pengemasan. Tahapan pelaksanaan HACCP
antara lain identifikasi bahaya yang kemungkinan timbul pada bahan baku maupun
proses pengolahan, penentuan titik kritis (critical control point), batasan kritis CCP, cara
pemantauan, tindakan koreksi pelaku pembuat tempe kedelai dan verivikasi dari seluruh
proses.
1. Deskripsi Produk
Deskripsi produk merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk
merancang konsep HACCP. Identifikasi produk dilakukan dengan tujuan untuk
mengetahui karakteristik produk secara terperinci. Identifikasi telur asin yaitu
pada tabe1.1
Jenis produk
Bahan Baku
Kenampakan
pengemasan
Umur simpan
Sumber: Hasil pengamatan

Telur asin
Telur bebek, garam, abu gosok, dan air
Produk berbentuk bulat telur dan warnanya
biru
dikemas dengan plastik
14 hari

2. Penyusunan Diagram Alir Proses Pembuatan telur asin


Diagram alir proses disusun dengan tujuan untuk menggambarkan
keseluruhan proses produksi. Diagram alir mencangkup kauntitatif dan kualitatis
setiap proses pengolahan mulai dari penerimaan bahan baku hingga proses
pengemasan. Penentuan diagram alir sangat penting untuk menentukan potensi
bahaya yang terjadi pada setiap proses yang dilakukan. Diagram alir proses
pembuatan telur asin mulai dari perendaman dengan air garam.
3. Verifikasi Diagram Alir
Verifikasi dilakukan agar diagram alir proses yang dibuat lebih lengkap
dan sesuai dengan pelaksanaan di lapangan, sehingga tim peneliti harus meninjau
operasinya untuk menguji dan membuktikan ketepatan serta kesempurnaan
diagram alir proses sesuai dengan GAP (Good Agricultural Practices), GHP
(Good Handling Practices), GMP (Good Manufacturing Practices), GDP (Good
Distribution Practices) dan atau GDC (Good Catering Practices). Bila ternyata
diagram alir proses tersebut tidak tepat atau kurang sempurna, maka harus
dilakukan modifikasi. Diagram alir proses yang telah dibuat dan diverifikasi
harus didokumentasikan

Diagram alir proses pembuatan Telur asin

Telur bebek

Telur bebek

Dibersihkan

Diamplas seluruh
permukaan telur

Air sedikit demi sedikit

Dicampurkan adonan
abu gosok dan garam
1:1
Dibungkus setebal 1-2
mm

Disimpan pada kuali


tanah 15-20 hari

Air hangat

2. Analisis Bahaya
Bahaya adalah suatu faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan konsumen secara
negatif yang meliputi bahaya biologis, kimia atau fisik baik dalam atau kondisi dari
makanan yang berpotensi untuk menyebabkan dampak merugikan kesehatan. Analisis
bahaya dilakukan dengan menyusun daftar yang memuat semua potensi bahaya yang
berhubungan pada masing-masing tahapan melakukan analisis potensi bahaya yang telah
diidentifikasi menggunakan decision tree.

Tabel 1.1. Analisis Bahan baku pembuatan telur asin


No
Bahan baku
Identifikasi bahaya
Tipe
Bahaya
1
Telur
Biologi
- Aspergillus
Flavus
Kimia
- Aflatoksin
Fisik
- Kotoran dari
bebek

Penyebab
-

Abu gosok

Biologi

Jamur
Serangga

Kimia
Fisik

Residu pestisida
Tanah
Kerikil

Garam

Biologi

Kimia
Fisik

Jamur
Semut
Bakteri osmofilik Cemaran logam
Kerikil

Tindakan pengendalian

Pembelian bahan
baku
Proses
penimbangan
bahan baku
Penanganan
bahan baku yang
kurang tepat
Penyimpanan
bahan baku yang
kurang tepat

Penyimpanan
bahan bahan
baku yang kurang
tepat
Pencucian yang
kurang bersih
Pengupasan kulit
yang tidak bersih
Kurangnya
pengawasan
terhadap
keberishan abu
gosok
Pemilihan garam
yang tidak baik
Kualitas
garamyang tidak
baik (keras)

Memperbaiki sistem
pembelian bahan baku
Memilih telur dengan
kualitas paling baik
Memilih telur yang tidak
retak, dan bersih dari
kotoran
Melakukan proses
pencucian

Menyimpan bahan baku


pada wadah dan tempat
yang baik
ekstrak jahe dengan benar

Memilih pemasok garam


yang sudah dipercaya
memiliki kualitas bagus
Melakukan inspeksi dan
sortasi dari garam yang

pasir

Air

Biologi

Kimia
Fisik

E.coli
Bakteri
Serangga
Lumut
Kaporit
Cemaran logam
Rambut
Debu

Penyimpanan
garam yang tidak
tepat
Penumbukan
garam yang tidak
bersih

Pemakaian air
PAM
Tidak dilakukan proses filtrasi
Tidak
membersihkan
saluran air
Menggunakan air
yang ada di
ember

diterima
Menyimpan garam di
temmpat yang tepat

Menggunakan air dengan


strandar air minum
Melakukan filtrasi
terhadap air
Pembersihan saluran air
setiap hari

Telur asin memiliki potensi bahaya berupa cemaran fisik, kimia dan biologi.
Kontaminasi fisik terutama diakibatkan oleh kotoran serangga atau biologis lainnya.
Bahaya fisik diantaranya adalah pecaha gelas, logam, batu daun, ranting, kayu, perhiasan,
pasir dan lain-lain (Winarno, 2004). Hal ini disebabkan oleh kontaminasi dari lingkungan
atau pekerja. Terdapat dua faktor yang mempengarui pertumbuhan bahaya biollogis yaitu
pertama adalah factor-faktor intrinsic, seperti pH, kadar air/aktifitas air (aw), nutrient,
senyawa anitimikrobia, struktir biologis,dan lain-lain. Kedua adalah factor eksterinsik,
sepeti suhu, kelembapan, gas (karbon dioksida, ozon, sulfur dioksida), dan lain-lain
(Winarno, 2004).

Untuk campuran biologi berupa jamur yang disebabkan oleh

pengemasan yang tidak tepat, sehingga bakteri mudah masuk. Sedangkan cemaran kimia
drai kaporit. Hal ini disebabkan oleh penggunaan pemutih berbahan dasar kaporit
menyebabkan produk tercemar kaporit. Kontaminasi bahan kimia pada makanan dapat
terjadi pada setiap tahap produksi, dan pertumbuhan bahan baku dilapangan sampai
konsumsi produk akhir. Pengaruh kontaminasi kimia terhadap konsumen dapat berjangka
panjang (akut) seperti pengaruh makanan yang mengadung allergen. Sumber logam
beracun berasal dari polusi lingkungan, tanah/lahan budidaya, peralatan, air pengolahan
makanan, bahan kimia yang diaplikasikan dalam pertanian (Winarno, 2004). Bahan
sangat berpotensi menjadi sumber bahaya, baik fisik, biologis, maupun kimia. Bahaya
tersebut dapat diidentifikasi sengaja ditambahakan untuk keuntungan, namun dapat pula
dikontaminasi silang yang tidak diketahui. Bahan Baku pada pembuatan telur asin adalah
Telu bebek. Telur memiliki potensi terkena campuran biologi, fisik dan kimia. Cemaran
fifiknya dapat berupa kotoran dari bebek yang belum dibersihkan. Kotoran itu
mengandung racun jika belum dibersihkan. Cara mengendalikannya yaitu pada saat
sortasi dan penyimpanan lebih di perketat dan dikontrol agar dapat mengurangi cemaran.
Dan pada saat pencucian telur benar-benar harus dalam keadaan bersih dan data digojog
tidak berbunyi. Telur dalam keadaan bersih, Kulit telur rata, Isi dalam telur tidak
berbunyi jika digoncang, telur tidak cacat atau retak.
Itu menandakan bahwa telur dapat dikonsumsi. Garam yang digunakan harus
terjaga kualitasnya, jauh dari kerikil dan cemaran fisik lainnya. Yang tidak akan
memberika dampak buruk pada telur misalnya retak atau pecah. Dan pemilihan abu

gosok yang baik. Pada saat dioleskan usahakan agar berhati-hati untuk mengurangi hal
yang tidak diinginkan pada telur asin.

Tabel 1.2. Analisa bahaya Tahapan Proses Pengolahan Telur Asin


No

Proses

Pencucian

Identifikasi bahaya
Tipe
Bahaya
Biologi
Kimia
Fisik

Lumut,
serangga,
Kaporit,
cemaran logam
debu, kotoran
lain

Penyebab

Pengolesan

Biologi
Kimia
Fisik

Perendaman

Fisik
Kimia
Fisik

Pengemasan

Biologi
Kimia

Fisik

Jamur pada abu


gosok
Kotoran dari
bahan lain

Debu , batang,
kerikil
Kotoran dari alat yang digunakan
Serangga
Migrasi bahan
pengemas ke
produk
Debu, kerikil,

Asessemen bahaya
Tindakan Pengendalian
Peluang Keparahan Resiko
(T/S/R)
(T/S/R)
(T/S/R)
Saluran
air S
S
T
- Menggunakan air yang
yang kotor
bersih, tak berwarna,
Tempat
tak berbau
T
T
T
pencucian
- Menghindari
yang kotor
penggunaan air yang
S
R
S
Penggunaan
tidak mengalir
air PAM
- Membersihkan saluran
Penggunaan
air dan tempat cuci
air yang tidak
setiap hari sebelum dan
mengalir
sesudah digunakan
Pisau
yang R
S
T
- Menggunakan
kain
digunakan
yang bersih
tidak bersih
- Memisahkan kotoran
R
T
T
Tidak
dengan telor
T
S
R
dipisahkan
- Melakukan sortasi pada
R
antara kotoran T
abu gosok
kulit dengan S
R
R
rimpang yang
telah bersih
Penggunaan
S
S
T
pisau
yang
berkarat
Pengemasan
S
R
R
- Melakukan pengecekan
dilakukan
sebelum disealer
T
T
T
diruang
- Melakukan
terbuka
sanitasipekerja
dan
Produk yang S
ruangan
R
R
telah
diisi
- Proses
pengemasan
produk
diperhatikan keeratan

ditempatkan
dibawah
lantai
Pengemas
yang
digunakan
berjenis
plastik PP

pengemas

Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memiliki rasa
yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Telur terdiri dari protein 13%,
lemak 12%, serta vitamin, dan mineral. Nilai tertinggi telur terdapat pada
bagian kuningnya. Kuning telur mengandung asam amino esensial yang
dibutuhkan serta mineral seperti: besi, fosfor, sedikit kalsium, dan vitamin B
kompleks. Sebagian protein (50%) dan semua lemak terdapat pada kuning
telur. Adapun putih telur yang jumlahnya sekitar 60% dari seluruh bulatan
telur mengandung 5 jenis protein dan sedikit karbohidrat. Kelemahan telur
yaitu memiliki sifat mudah rusak, baik kerusakan alami, kimiawi maupun
kerusakan akibat serangan mikroorganisme melalui pori-pori telur. Oleh
karena itu usaha pengawetan sangat penting untuk mempertahankan kualitas
telur. Pada telur asin ada 4 proses yaitu pencucian, pengolesan, perendaman,
dan pengemasan. Pencucian telur asin ini berguna untuk membersihkan
kotoran yang ada pada telur. Beberapa proses pengawetan telur utuh yang
diawetkan bersama kulitnya antara lain: proses pendinginan, proses
pembungkusan kering, proses pelapisan dengan minyak, proses pencelupan
dalam berbagai cairan.
Telur asin merupakan salah satu metode untuk mengawetkan telur.
Teknik mengasinkan telur telah ada dilakukan sejak dahulu dengan tujuan
untuk memperpanjang masa simpan telur sekaligus menambah cita rasanya.
Namun sayangnya, saat ini telur asin sudah mulai ditinggalkan konsumen dan
hal ini mungkin karena kualitas telur asin yang dihasilkan tidak mengikuti
selera konsumen yang berubah. Memilih telor yang baik sebelum disortir
kepada pengusaha telor asin, supaya telor asin yang dihasilkan dapat
memuaskan pelanggan atau konsumen. Pada proses ke dua pengolesan yaitu
telur yang diasinkan bersifat stabil, dapat disimpan tanpa mengalami proses
perusakan. Pastikan telur benar-benar baik tidak retak atau busuk (bisa dengan
cara merendam di air, telur yang mengapung berarti jelek, jangan dipakai).
Bersihkan telur dengan air bersih atau air hangat kemudian dilap kemudian

dikeringkan. Agar garam bisa meresap maka sebaiknya telur diamplas.


Tujuannya agar pori-pori telur terbuka. Buat campuran untuk mengasinkan
telur, caranya dengan mencampur abu gosok/ bubuk bata dan garam, dengan
perbandingan sama (1:1). Tambah air pada campuran tadi hingga menjadi
seperti pasta.
Langkah selanjutnya cara membuat telur asin ini dengan membungkus
telur dengan adonan satu persatu pada permukaan telur dengan ketebalan 1-2
mm. Selanjutnya simpan telur dalam kuali atau ember plastik 15 20 hari.
Usahakan dalam proses penyimpanan telur tidak pecah atau retak. Setelah
waktu yang ditentukan, bersihkan telur asin dari pasta campuran kemudian
bersihkan. Telur sudah bisa di masak (rebus maupun kukus). Pada proses ke
tiga perendaman berguna untuk mendapatkan telur yang memiliki kualitas
terbaik. Biasanya perendaman dalam jangka 15-20 hari. Dan Proses terakhir
yaitu pengemasan. Ini berguna untuk membungkus telor asin dapat terhindar
dari

Tabel. 1.3. Penetapan CCP bahan baku


No

Bahan Baku

P1

P2

P3

Apakah terdapat

Apakah proses atau

Apakah ada resiko

bahaya dalam

konsumen akan

kontaminasi silang

bahan baku ini?

menghilangkan

terhadap fasilitas

bahaya tersebut?

atau produk lain

Keterangan ( CCP
atau bukan CCP)

yang tidak dapat


dikendalikan?
1

Telur bebek

Ya

Ya

Ya

Bukan CCP

Air

Ya

Ya

Ya

Bukan CCP

Garam

Ya

Ya

Ya

Bukan CCP

Abu gosok

Ya

Ya

Ya

Bukan CCP

Tabel 1.4. Penentuan CCP Proses Pembuatan telur Asin


No Tahapan
Proses

Identifikasi
Bahaya

P1
Apakah

P2
Apakah

P3

P4

ada Apakah proses Apakah

Keterangan

Apakah proses

terdapat tindakan

ini

bahaya

pencegahan

khusus

pada

untuk

menghilangkan meningkat menghilangkan

proses

mengendalikan atau

sampai

atau

ini? Ya

bahaya

batas

mengurangi

: ke P2

tersebut?

Tidak:

Ke P3 Tidak: aman?

Bukan

Bukan CCP

CCP

dirancang bahaya

P5

untuk dapat

mengurangi

Ya: bahaya sampai tidak


Ya: aman?

selanjutnya
dapat

bahaya?
bukan

Ya:
Tidak:

CCP Tidak : Ya: ke P5 CCP


ke P4

Tidak:
BUkan
CCP

Pencucian

Pengolesan

Biologi:
Lumut
serangga
Kimia:
Kaporit
cemaran
logam
Fisik:
Kotoran
Biologi:
Jamur pada
abu gosok

Ya

Ya

Tidak

Tidak

Tidak

CCP

Ya

Tidak

Bukan CCP

Kimia:

Fisik:
kotoran dari
bahna lain
Perendaman Fisik: Debu Ya
batang
kerikil
Kimia
Fisik:
Kotoran
dari alat
yang
digunakan
Ya
Pengemasan Biologi:
serangga
Kimia:
migrasi
bahan
pengemasan
ke produk
Fisik: debu,
kerikil

Ya

Ya

CCP

Ya

Ya

CCP

Dari hasil penetapan CCP pada bahan baku menggunakan decision tree dapat
diketahui bahwa bahan baku yang digunakan dalam pembuatan proses telur asin
semuanya tidak termasuk CCP yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Potensi
bahaya dapat dihilangkan dan dapat diminimalisir, sehingga bukan merupakan CCP.
Setelah menetapkan CCP pada bahan baku, selanjutnya adalah menetapkan CCP pada
proses produksi telur asin.
Dari keempat tahapan proses pembuatan telur asin, ada tiga yang menjadi titik
kritis dan perlu dikontrol (CCP). Ketiga tahapan proses tersebut adalah tahapan
pencucian, perendaman, dan pengemasan. Kegiatan selanjutnya adalah penetapan batas
kritis dan pemantauan (Monitoring) terhadap efektifitas proses mengendalikan CCp serta
tindakan koreksi apabila terjadi penyimpangan terhadap batas kritis suatu CCP. Hal ini
bertujuan untuk menjamin keamanan produk yang dihasilkan.
Penentuan CCP ditentukan berdasarkan pertanyaan untik mennetukan apakah
suatu titik kendali merupakan CCP atau bukan. Kriteria CCP ditentukan jika dalam
proses produksi pembuatan telur asin mengandung bahaya tanpa adanya proses yang
dapat menghilangkan bahaya tersebut atau ada proses untuk menghilangkan bahaya
tersebut. Tiga tahap itu adalah Pencucian, Perendaman dan pengemasan:
1. Pencucian
Proses pencucian ini bertujuan untuk menghilangkan kotoran yang
terdapat pada telur bebek. Kotoran yang terdapat pada telur menagandung
bakteri yang sangat merugikan, dan menjadi factor yang tidak disukai
konsumen atau pelanggan
2. Perendaman
Proses perendaman dengan air garam ini membuat telur bebek menjadi
asin, proses ini menjadi factor penentu telur asin yang memiliki hasil yang
bagus dan tidak. Semua itu tergantung berapa lama waktu pengendapan.
3. Pengemasan
Proses pengemasan adalah proses akhir dari pembuatan telur asin ini.
Pengemasan berguna untuk mencegah terjadinya kontak dari udara luar yang
dapat menyebabkan telur pecah atau retak akibat benturan atau senggolan dari
konsumen

UJIAN KULIAH HACCP


CONTOH CODEX PADA PRODUK MAKANAN
KOKTIL BUAH DALAM KALENG

Disusun oleh:
GOHAN FRANSISKA MANURUNG (H3112039)

DIPLOMA III TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2014

Codex Stan 78-1981


KOKTIL BUAH DALAM KALENG
1. Deskripsi
Produk yang dibuat dari campuran tiga jenis buah atau lebih dan atau irisannya,
dikemas menggunakan media cair yang sesuai di dalam kaleng yang tertutup rapat,
dengan atau tanpa penambahan bahan pangan lain atau bahan tambahan makanan yang
diijinkan dan diproses menggunakan panas untuk mencegah terjadinya kerusakan
cocktail merupakan produk olahan buah-buahan yang diberi larutan gula dan
biasanya dikemas dalam kemasan kaleng atau gelas. Produk ini dapat tahan beberapa
bulan sampai beberapa tahun. Sifat awet produk ini disebabkan oleh beberapa hal, yaitu
penggunaan larutan gula dengan konsentrasi tinggi, pH produk yang rendah (pH <4.5),
perlakuan proses panas (thermal process) dan pengemasan yang tertututp rapat.
a. Bahan Utama
1. Buah-buahan (Nanas, melon, lemon, strawberry)
2. Bahan Pengawet seperti garam, gula, dan asam organic
b. Bahan tambahan dan komposisi akhir
1. Bahan tambahan:

Glukosa

Enzim katalase

Enzim peroksida

2. Komposisi akhir :

Kandungan gula yang terkandung pada produk akhir yang tidak boleh kurang
dari 25% b/b

3. Bahan tambahan pangan


Pengawet
Glukosa
Nitrit, potassium dan/atau
natrium

Jumlah maksimum
100 mg/kg total glukosa sebagai pemanis
garam 50 mg/kg total nitrit dinyatakan sebagai
natrium nitrit

Antioksidan
Asam askorbat dan garam natrium
Asam iso-askorbat dan glukosa

4. Kontaminan
Kontaminan
Lead (Pb)
Tin (Sn) untuk produk dalam tinplate
Zn (zeng)
Aluminium

Jumlah maksimum
300 mg/kg (dinyatakan sebagai asam
askorbat secara tunggal atau kombinasi)
300 mg/kg (dinyatakan sebagai asam
askorbat secara tunggal atau kombinasi)

Jumlah maksimum
2 mg/kg1
200 mg/kg1
100 mg/kg
5 mg/kg

Syarat Mutu Koktil buah dalam kaleng SNI 01-3834-2004


No
Jenis uji
satuan
Buah sub tropis Buah tropis
1
Keadaan kaleng normal
Normal
senelum
dan
sesudah dieram
2
3
3.1
3.1.1
3.1.2
3.1.3
3.1.4
3.2
3.2.1
3.2.2
3.2.3
4
5
5.1
5.2
5.3
5.3
5.4
5.5.
6

7
7.1
7.2
7.3
8

8.1

8.2
8.3

Ruang kosong
Keadaan isi
buah
Jenis buah
warna
bau
Tekstur
Medium
perendam
keadaan
Bau
Rasa
Bobot tuntas
Proporsi buah
Pepaya/nenas
Nenas
persik
Pir
anggur
Ceri
Keseragaman
ukuran buah
Bahan asing

Maks.10

Maks. 10

Sesuai tabel
Khas normal
Normal
Khas, normal

Sesuai tabel
Khas normal
Normal
Khas, normal

%b/b

Normal
Normal
Normal
Min. 60

Normal
Normal
Normal
Min.60

%b/b
%b/b
%b/b
%b/b
%b/b
%b/b
%b/b

6-25
30-50
25-45
6-20
2-15
Min. 75

25-55

Kulit
buah
(agrerat)
Tangkai buah
Bahan
asing
lain
Jumlah
gula
dalam
media
perendam
Media larutan
gula
sangat
encer
Media larutan
gula encer
Media larutan
gula kental

Cm/kg

Maks.25

Maks.25

Per kg
-

Maks 5
Tidak
ada

Maks.5
boleh Tidak
ada

Brix, 200C

Min 10

Min 10

Brix, 200C

Min 14

Min 14

Brix, 200C

Min 18

Min 18

Min. 75

boleh

8.4

9.1

Media larutan
gula
sangat
kental
Bahan
tambahan
makanan
Pemanis buatan

9.2

Pengawet

9.3

Pewarna
tambahan

10
10.1
10.2
10.3
10.4
11

Cemaran logam
Tembaga (Cu)
Timbal (Pb)
Seng (Zn)
Timah (sn)
Cemaran arsen
( As)
12
Cemaran
Mikroba
12.1
Total
bakteri
(pembentuk
spora)
12.2
Bakteri bentuk
koli
12.3
Clostridium
perfringens
12.4
Staphilococcus
aureus
Sumber : SNI 01-3834-2004

Brix, 200C

Min 2

Min 22

Sesuai dengan
SNI 01-02221995
Sesuai dengan
SNI 01-02221995
Sesuai dengan
SNI 01-02221995
Sesuai dengan
SNI 01-02221995

Sesuai dengan
SNI 01-02221995
Sesuai dengan
SNI 01-02221995
Sesuai dengan
SNI 01-02221995
Sesuai dengan
SNI 01-02221995

Sesuai dengan
SNI 01-02221995
Sesuai dengan
SNI 01-02221995
Sesuai dengan
SNI 01-02221995
Sesuai dengan
SNI 01-02221995

Mg/kg
Mg/kg
Mg/kg
Mg/kg
Mg/kg

Maks. 50
Maks. 2.0
Maks 40.0
Maks 250.0
Maks 1.0

Maks. 50
Maks. 2.0
Maks 40.0
Maks 250.0
Maks 1.0

Koloni/g

Maks. 100

Maks 100

APM/g

<3

<3

Per g

negatif

negatif

Per g

negatif

negatif

c. Higiene
Koktil buah dalam kaleng harus diproduksi secara higienis termasuk cara penyiapan
dan penanganan yang mengacu pada peraturan Dapartemen Kesehatan R.I yang berlaku
tentang pedoman cara produksi yang baik untuk makanan.

d. Pemberian Label
Pada pemberian label harus mencakup hal- hal sebagai berikut :
a. Nama produk pangan :
Koktil dalam buah kaleng (Nenas, papaya, Melon)
b. Tanggal pembuatan, kadaluarsa, dan cara penyimpanan
Tanggal produksi dan akhir produk tidak dapat diproduksi lagi. Untuk
penyimpanan koktil buah kaleng adalah Head space adalah ruang hampa
diantara permukaan atas bahan dan tutup kaleng.
c. Kemasan non-retail hanya disertakan nama produk dan alamat produsen

Gambar produk Koktil Buah dalam kaleng