Anda di halaman 1dari 8

Tinea Pedis pada sela Jari Kaki Kanan dan Kiri

Angela Merici Sengo Bay


102011145
Kelompok A7
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta 11510
Email : angelameci@yahoo.com

Pendahuluan
Istilah dermatofitosis harus dibedakan dengan dermatomikosis. Dermatofitosis adalah penyakit
pada jaringan yang mengandung zat tanduk atau stratum korneum pada lapisan epidermis di
kulit,

rambut

dan

kuku

yang

disebabkan

oleh

golongan

jamur

dermatofita.Dermatomikosis merupakan arti umum, yaitu semua penyakit jamur yang


menyerang kulit.
Tinea pedis merupakan infeksi dermatofita pada kaki terutama mengenai sela jari dan telapak
kaki sedangkan yang terdapat pada bagian dorsal pedis dianggap sebagai tinea korporis. Sinonim
dari tinea pedis adalah foot ringworm, athlete foot, foot mycosis. Keadaan lembab dan hangat
pada sela jari kaki karena bersepatu dan berkaos kaki disertai daerah tropis yang lembab
mengakibatkan pertumbuhan jamur makin subur. Efek ini lebih nyata pada sela jari kaki keempat
dan kelima, dan lokasi ini paling sering terkena disamping itu tinea pedis lebih banyak diderita
oleh orang dewasa. Kenyataaannya, tinea pedis jarang ditemukan pada populasi yang tidak
menggunakan sepatu. Pada makalah ini, saya akan membahas mengenai Tinea pedis sesiau

Page

dengan skenatio 11.

Pembahasan
Anamnesis
Wawancara yang baik seringkali sudah dapat mengarahkan masalah pasien ke diagnosis penyakit
tertentu. Di dalam Ilmu Kedokteran, wawancara terhadap pasien disebut anamnesis. Anamnesis
dapat langsung dilakukan terhadap pasien (auto-anamnesis) atau terhadap keluarganya atau
pengantarnya (alo-anamnesis) bila keadaan pasien tidak memungkinkan untuk diwawancarai,
misalnya keadaan gawat-darurat, afasia akibat strok dan lain sebagainya.1 Anamnesis yang baik
akan terdiri dari identitas, keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu,
riwayat penyakit dalam keluarga, anamnesis susunan sistem dan anamnesis pribadi (meliputi
keadaan sosial ekonomi, budaya, kebiasaan, obat-obatan, lingkungan).

Berdasarkan kasus, anamnesa yang harus dilakukan terhadap pasien ialah:


Menanyakan identitas pasien seperti umur dan pekerjaannya.
Menanyakan keluhan utama pasien : apakah ada gatal atau tidak ?
Menanyakan riwayat penyakit sekarang, seperti gatalnya dimana, sejak kapan gatalnya,
gatal saat melakukan aktifitas atau tidak, dll.
Menanyakan riwayat penyakit dahulu seperti sebelumnya pernah gatal-gatal, atau
mungkin ada alergi obat tertentu.
Menanyakan riwayat penyakit keluarga seperti pernah menderita penyakit yang sama
seperti pasien.
Menanyakan riwayat social dan kebiasaan, seperti menanyakan bagaimana lingkungan

Page

Pemeriksaan fisik

tempat tinggalnya, lalu bagaimana kebiasaan mandi, dll.

Pemeriksaan fisik didapat dengan memeriksa bagian selajari kaki kanan dan kiri serta memeriksa
tipe warna kulit, adanya kelembaban kulit, suhu kulit serta ada tidaknya tanda-tanda macula
hipopigmentasi seperti achromia, atrofi, alopesis, dll, sehingga dapat menyingkirkan diagnose
banding.
Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan Kalium Hidroksida (KOH) 10 % pada kerokan sisik kulit akan terlihat hifa
bersepta. Pemeriksaan ini sangat menunjang diagnosis dermatofitosis. KOH digunakan
untuk mengencerkan jaringan epitel sehingga hifa akan jelas kelihatan di bawah
mikroskop.

Kultur jamur dapat dilakukan untuk menyokong pemeriksaan dan menentukan spesis
jamur. Pemeriksaan ini dilakukan dengan menanam bahan klinis pada media buatan.
Yang dianggap paling baik adalah medium agar dekstrosa Sabouraud. Media agar ini
ditambahkan dengan antibiotik (kloramfenikol atau sikloheksimid).

Diagnosis kerja : Tinea pedis


Tinea pedis merupakan infeksi jamur dermatofita pada kulit yangpenyakitnya disebut
dengan

dermatofitosis.

Dermatofitosis

adalah

penyakit

pada jaringan yang mengandung zat tanduk, misalnya stratum corneum pada epidermis,ra
mbut, dan kuku. Dermatofitosis ini disebabkan oleh 3 jenis jamur, yaitu
:Epidermophyton, Trichophyton dan Microsporum. Penyakit ini termasuk dalam mikosis
yang paling sering dijumpai di dunia. Infeksinya anthropophilic dermatophytes biasanya
disebabkan oleh adanya elemen hifa dari jamur yang mampu menginfeksi kulit. Skala
desquamasi kulit bisa terinfeksi di lingkungan selama berbulan-bulan atau tahun. Oleh
karena itu transmisi bisa terjadi dengan kontak tidak langsung lama setelah infeksi

terjadi.2

Diagnosis banding :

Page

Dermatitis kontak ititan kronis


Penyebab DKI kronis adalah kontak berulang-ulang dengan iritan lemah, misalnya kator
fisik, juga bahan, misalnya deterjen, sabun, pelarut, tanah atau bahkan juga air. Kelainan
baru nyata setelah kontak berminggu-minggu atau bahkan sampai berbulan-bulan.

Kandidiosis intertriginosa
Kandidiasis adalah penyakit jamur, yang bersifat akut atau subakut disebabkan oleh
spesies Candida yaitu Candida albicans. Kandidiasis intertriginosa biasanya berupa lesi
didaerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, lipat payudara, antara sela jari tangan aatau kaki,
dan umbilicus, yang berupa bercak yang berbatas tegas, bersisik, basah dan eritematosa.
Dermatitis intertriginosa.
Intertrigo merupakan istilah umum untuk kelainan kulit didaerah lipatan/intertriginosa,
yang dapat berupa inflamasi maupun infeksi bakteri atau jamur. Sebagai factor
predisposisi ialah keringat/kelembaban, kegemukan, gesekan antar 2 permukaan kulit dan
oklusi.

Epidemologi
Tinea pedis adalah dermatofitosis yang paling umum. Prevalensi pada laki-laki lebih
tinggi disbanding perempuan. Insiden meningkat sesuai dengan meningkatnya umur dan
umumnya setelah pasca pubertas.3

Etiopatologi
Tinea padis adalah dermatofitosis pada telapak kaki dan sela jari kaki. Penyebabnya
adalah semua genus dermatofita terutama Tricophyton rubrum dan Tricophyton
mentagrophytes. Biasanya kelainan yang ada mengenai kulit diantara jari-jari kaki,
terutama antara jari 3-4 dan 4-5 telapak kaki bagian lateral kaki. Karena tekanan dan
kelembaban maka gambaran klinis khas dermatofitosis tidak terlihat. Bila terjadi infeksi

sekundeoleh kuman, timbul pustul dan rasa nyeri. 4


Page

Penatalaksanaan : Medika mentosa :


Untuk terapi topokal biasanya diberikan preparat derivat Imidazol, seperti :
a.

Imidazol Topikal. Efektif untuk semua jenis tinea pedis tetapi lebih cocok pada
pengobatan tinea pedis interdigitalis karena efektif pada dermatofit dan kandida.

Klotrimazole 1 %. Antifungal yang berspektrum luas dengan menghambat

pertumbuhan bentuk yeast jamur. Obat dioleskan dua kali sehari dan diberikan sampai
waktu 2-4 minggu. Efek samping obat ini dapat terjadi rasa terbakar, eritema, edema dan
gatal.5
-

Ketokonazole 2 %

krim

merupakan

antifungal

berspektrum

luas

golongan Imidazol; menghambat sintesis ergosterol, menyebabkan komponen sel yang


mengecil hingga menyebabkan kematian sel jamur. Obat diberikan selama 2-4 minggu.
-

Mikonazol krim, bekerja merusak membran sel jamur dengan menghambat

biosintesis ergosterol sehingga permeabilitas sel meningkat yang menyebabkan keluarnya


zat nutrisi jamur hingga berakibat pada kematian sel jamur. Lotion 2 % bekerja pada
daerah-daerah intertriginosa. Pengobatan umumnya dalam jangka waktu 2-6 minggu.
b.

Tolnaftat 1% merupakan suatu tiokarbamat yang efektif untuk sebagian besar

dermatofitosis tapi tidak efektif terhadap kandida. Digunakan secara lokal 2-3 kali sehari.
Rasa gatal akan hilang dalam 24-72 jam. Lesi interdigital oleh jamur yang rentan dapat
sembuh antara 7-21 hari. Pada lesi dengan hiperkeratosis, tolnaftat sebaiknya diberikan
bergantian dengan salep asam salisilat 10 %.5

Intuk terapi sistemik biasanya digunakan obat :


Itrakonazole cukup 2 x 100-200 mg sehari dalam selaput kapsul selama 3 hari.
Griseofulvin 500mg/hr sampai sembuh (4-6 minggu)

Non medika mentosa :


Jangan berjalan tanpa alas kaki di gym, kamar mandi, loker, kolam renang, atau kamar

kaki atlet, taburkan bubuk anti-jamur pada kaki Anda dan di dalam sepatu. Jangan

Page

anda, pakailah sandal kamar mandi atau sandal jepit. Bila Anda berisiko tinggi terkena

hotel. Jamur yang menyebabkan kaki atlet mungkin ada di lantai. Untuk melindungi kaki

memakai sepatu orang lain. Cuci kaki Anda setiap hari dengan sabun, dan benar-benar
keringkan kaki Anda. Kenakan kaus kaki yang terbuat dari kain yang cepat kering atau
menjaga kelembaban kulit. Jangan lupa untuk mengganti kaus kaki Anda setiap hari, dan
cepat mengganti jika kaus kaki basah.

Manifestasi klinik
1. Bentuk maserasi interdigitalis terdapat skuama dan erosi di sela-sela jari serta fisura
dengan warna kulit putih. Paling sering pada jari 3-4 dsn 4-5.
2. Bentuk hyperkeratosis berupa penebalan kulit dengan sisik pada tumit, telapak kaki,
punggung kaki, dan tepi kaki.
3. Bentuk vesicular bulosa subakut merupakan reaksi radang yang berupa vesikel dan
pustule yang dapat pecah, disertai rasa gatal yang hebat.

Pencegahan
Salah satu pencegahan terhadap reinfeksi tinea pedis yaitu menjaga kaki tetap dalam
keadaan kering dan bersih, menghindari lingkungan yang lembab, menghindari
pemakaian sepatu yang terlalu lama, tidak berjalan dengan kaki telanjang di tempattempat umum seperti kolam renang serta menghindari hindari kontak dengan pasien yang
sama. Penularan jamur ini biasanya asimptomatik, sehingga umumnya tidak terlihat.
Eradikasi jamur merupakan suatu hal yang sulit dan membutuhkan proses yang panjang.
Setelah mandi sebaiknya kaki dicuci dengan benzoil peroksidase. 4,5

Komplikasi
Selulitis. Infeksi tinea pedis, terutama tipe interdigital dapat mengakibatkan selulitis.
Selulitis dapat terjadi pada daerah ektermitas bawah. Selulitis merupakan infeksi bakteri

Faktor predisposisi selulitis adalah trauma, ulserasi dan penyakit pembuluh darah perifer.
Dalam keadaan lembab, kulit akan mudah terjadi maserasi dan fissura, akibatnya

pada daerah subkutaneus pada kulit sebagai akibat dari infeksi sekunder pada luka.
Page

1.

pertahanan kulit menjadi menurun dan menjadi tempat masuknya bakteri pathogen
seperti -hemolytic

streptococci

(group

A,

C,

F,

and

G), Staphylcoccus

aureus, Streptococcus pneumoniae, dan basil gram negatif. Apabila telah terjadi selulitis
maka diindikasikan pemberian antibiotik. Jika terjadi gejala yang sifatnya sistemik
seperti demam dan menggigil, maka digunakan antibiotik secara intravena. Antibiotik
yang dapat digunakan berupa ampisillin, golongan beta laktam ataupun golongan
kuinolon.
Tinea Ungium. Tinea ungium merupakan infeksi jamur yang menyerang kuku dan
biasanya dihubungkan dengan tinea pedis. Seperti infeksi pada tinea pedis, T.
rubrum merupakan jamur penyebab tinea ungium. Kuku biasanya tampak menebal,
pecah-pecah, dan tidak berwarna yang merupakan dampak dari infeksi jamur tersebut.
3.

Dermatofid. Dermatofid juga dikenal sebagai reaksi id, merupakan suatu

penyakit imunologik sekunder tinea pedis dan juga penyakit tinea lainnya. Hal ini dapat
menyebabkan vesikel atau erupsi pustular di daerah infeksi sekitar palmaris dan jari-jari
tangan. Reaksi dermatofid bisa saja timbul asimptomatis dari infeksi tinea pedis. Reaksi
ini akan berkurang setelah penggunaan terapi antifungal. Komplikasi ini biasanya terkena
pada pasien dengan edema kronik, imunosupresi, hemiplegia dan paraplegia, dan juga
diabetes. Tanpa perawatan profilaksis penyakit ini dapat kambuh kembali.

Prognosis
Tinea pedis pada umumnya memiliki prognosis yang baik. Beberapa minggu setelah
pengobatan dapat menyembuhkan tinea pedis, baik akut maupun kronik. Kasus yang
lebih berat dapat diobati dengan pengobatan oral. Walaupun dengan pengobatan yang
baik, tetapi bila tidak dilakukan pencegahan maka pasien dapat terkena reinfeksi.

Kesimpulan
Tinea pedis merupakan infeksi dermatofita pada kaki terutama mengenai sela jari dan
telapak kaki. Penyakit ini lebih sering dijumpai pada laki-laki usia dewasa dan jarang

bersepatu dan berkaos kaki disertai berada di daerah tropis yang lembab mengakibatkan
pertumbuhan jamur makin subur.Jamur penyebab tinea pedis yang paling umum

pada perempuan dan anak-anak. Keadaan lembab dan hangat pada sela jari kaki karena
Page

2.

ialah Trichophyton rubrum (paling sering), T. interdigitale, T. tonsurans (sering pada


anak) dan Epidermophyton floccosum.
Gambaran klinis dapat dibedakan berdasarkan tipe interdigitalis, moccasion foot, lesi
vesikobulosa, dan tipe ulseratif. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan adalah
pemeriksaan KOH dan pemeriksaan lampu Wood dan ditemukan adanya hifadouble
counture, dikotomi dan bersepta. Diagnosis banding dapat berupa dermatitis kontak,
pemfolix, psoriasis, dan hiperhidrosis pada kaki. Penatalaksanaan disesuaikan
berdasarkan tipe tinea pedis. Pengobatan dapat berupa antifungal topikal maupun oral dan
apabila ditemukan infeksi sekunder maka indikasi penggunaan antibiotik. Salah satu
pencegahan terhadap reinfeksi tinea pedis yaitu menjaga agar kaki tetap dalam keadaan
kering dan bersih, hindari lingkungan yang lembab dan pemakaian sepatu yang terlalu
lama.

Daftar isi
1. Welsby, philip d. Pemeriksaan Fisik dan Anamnesa Klinis.Jakarta: EGC .2006.Hal
182-3.
2. Susanto I, Ismid IS, Sjarifuddin PK, Sungkar S. Parasitologi kedokteran. Edisi 4.
Balai Penerbitan FKUI. Jakarta ; 2008 : 32-41.
3. Hadidjaja P, Margono Sri S. Dasar parasitologi klinik. Ed 1. Jakarta:FKUI, 2007. Hal
204-11.
4. Unandar B. Mikosis. In. Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors. Ilmu penyakit kulit
dan kelamin. 5th ed. Jakarta: Balai penerbitan FKUI; 2007. p. 89- 104.
5. Gunawan SG, Setiabudy R, Nafrialdy, editors. Farmakologi dan terapi. Edisi 5.

Page

Jakarta: Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI; 2007.