Anda di halaman 1dari 19

BAB II

LANDASAN TEORI
II.1. Tinjauan Pustaka
II.1.1. Kehamilan
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin. Lamanya
hamil normal adalah 280 hari (40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung dari hari
pertama haid terakhir. Kehamilan dibagi dalam 3 triwulan yaitu triwulan pertama
dimulai dari konsepsi sampai 3 bulan, triwulan kedua dari bulan keempat sampai
6 bulan, triwulan ketiga dari bulan ketujuh sampai 9 bulan (Saifuddin, 2002).

Menurut Cunningham, 2006 tahap perkembangan manusia yang diambil dari


Moore yaitu :
1. Zigot yaitu sel yang terbentuk sebagai hasil fertilisasi ovum dan spermatozoa.
2. Blastomer. Pembelahan mitotik (cleavage) zigot menghasilkan sel anak yang
disebut blastomer.
3. Morula yaitu sel berbentuk bola padat yang terbentuk dari 16 atau lebih
blastomer.
4. Blastokista. Setelah morula mencapai uterus, terbentuk suatu rongga berisi
cairan yang mengubah morula menjadi blastokista.
5. Mudigah (embrio). Sel-sel pembentuk mudigah, yang berkelompok sebagai
suatu massa sel dalam (inner cell mass), menghasilkan mudigah yang biasanya
disebut demikian apabila sudah terbentuk lempeng embrionik bilaminar.
Periode mudigah memanjang sampai akhir minggu ke 7 saat struktur-struktur
utama mulai ditemukan.
6. Janin (fetus) yaitu setelah periode mudigah konseptus yang tumbuh disebut
janin.
7. Konseptus yaitu kata yang digunakan untuk menyebut semua produk jaringan
hasil konsepsi-mudigah, janin, membran janin, dan plasenta. Konseptus
mencakup semua jaringan, baik embrionik maupun ekstraembrionik, yang
berkembang dari zigot.

II.1.2. Persalinan
II.1.2.1. Definisi
Partus adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup dari
dalam uterus melalui vagina ke dunia luar. Sebab terjadinya partus sampai kini
masih merupakan teori yang kompleks. Faktor-faktor humoral, pengaruh
prostaglandin, struktur uterus, sirkulasi uterus, pengaruh saraf dan nutrisi disebut
sebagai faktor-faktor yang mengakibatkan partus mulai. Perubahan-perubahan
dalam biokimia dan biofisika telah banyak mengungkapkan mulai dari
berlangsungnya partus, antara lain penurunan kadar hormon estrogen dan
progesteron. Seperti diketahui progesteron merupakan penenang bagi otot uterus.
Menurunnya kadar kedua hormon ini terjadi kira-kira 1-2 minggu sebelum partus
dimulai (Prawirohardjo, 2007).

II.1.2.2. Mekanisme Persalinan


Partus dibagi menjadi 4 kala. Pada kala I serviks membuka sampai terjadi
pembukaan 10 cm. Kala I dinamakan pula kala pembukaan, Kala II disebut pula
kala pengeluaran, oleh karena berkat kekuatan his dan kekuatan mengedan janin
didorong ke luar sampai lahir. Dalam kala III atau kala uri plasenta terlepas dari
dinding uterus dan dilahirkan. Kala IV dimulai dari lahirnya plasenta dan lamanya
1 jam (Prawirohardjo, 2007).

Kala I
Klinis dapat dinyatakan partus dimulai bila timbul his dan wanita tersebut
mengeluarkan lendir yang bersemu darah (bloody show). Lendir yang bersemu
darah ini berasal dari lendir kanalis servikalis karena serviks mulai membuka atau
mendatar. Sedangkan darahnya berasal dari pembuluh-pembuluh kapiler yang
berada di sekitar kanalis servikalis itu pecah karena pergeseran-pergeseran ketika
serviks membuka.
Proses membukanya serviks sebagai akibat his dibagi dalam 2 fase. Fase
laten yang berlangsung selama 8 jam. Pembukaan terjadi sangat lambat sampai
mencapai ukuran diameter 3 cm. Selanjutnya yaitu fase aktif yang dibagi dalam 3
fase lagi, yakni fase akselerasi, dalam waktu 2 jam pembukaan 3 cm tadi menjadi

4 cm. Fase dilatasi maksimal, dalam waktu 2 jam pembukaan berlangsung sangat
cepat, dari 4 cm menjadi 9 cm. Fase deselerasi pembukaan menjadi lambat
kembali. Dalam waktu waktu 2 jam pembukaan dari 9 cm menjadi lengkap.
Fase fase tersebut dijumpai pada primigravida. Pada multigravida pun
terjadi demikian, akan tetapi fase laten, fase aktif, dan fase deselerasi terjadi lebih
pendek. Kala I selesai apabila pembukaan serviks uteri telah lengkap. Pada
primigravida kala I berlangsung kira-kira 13 jam, sedangkan pada multipara kirakira 7 jam.
Ketuban akan pecah dengan sendirinya ketika pembukaan hampir atau telah
lengkap. Tidak jarang ketuban harus dipecahkan ketika pembukaan hampir
lengkap atau telah lengkap. Bila ketuban telah pecah sebelum mencapai
pembukaan 5 cm, disebut ketuban pecah dini (KPD) (Prawirohardjo, 2007).

Kala II
Pada kala II his menjadi lebih kuat dan lebih cepat, kira-kira 2 sampai 3
menit sekali. Karena biasanya dalam hal ini kepala janin sudah masuk di ruang
panggul, maka pada his dirasakan tekanan pada otot-otot dasar panggul, yang
secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan. Wanita merasa pula tekanan
kepada rektum dan hendak buang air besar. Kemudian perineum mulai menonjol
dan menjadi lebar dengan anus membuka. Labia mulai membuka dan tidak lama
kemudian kepala janin tampak dalam vulva pada waktu his. Bila dasar panggul
sudah lebih berelaksasi, kepala janin tidak masuk lagi diluar his, dan dengan his
dan kekuatan mengedan maksimal kepala janin dilahirkan dengan suboksiput
dibawah simfisis dan dahi, muka dan dagu melewati perineum. Setelah istirahat
sebentar, his mulai lagi untuk mengeluarkan badan, dan anggota bayi. Pada
primigravida kala II berlangsung rata-rata 1,5 jam dan pada multipara rata-rata 0,5
jam (Prawirohardjo, 2007).

Kala III
Setelah bayi lahir, uterus teraba keras dengan fundus uteri agak di atas
pusat. Beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan
plasenta dari dindingnya. Biasanya plasenta lepas dalam 6 sampai 15 menit

setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri.
Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah (Prawirohardjo, 2007).

Kala IV
Seperti diterangkan diatas, kala ini dianggap perlu untuk mengamati apakah
ada perdarahan post partum. Setelah plasenta lahir masih ada masa kritis yang
dihadapi oleh ibu dalam masa tersebut dapat terjadi perdarahan. Penyebab utama
dari perdarahan ialah kontraksi uterus yang kurang baik. Oleh karena itu sebelum
1 jam berlalu, penderita belum boleh dipindahkan ke kamarnya dan masih
memerlukan pengawasan yang seksama. Nadi dan tensi diawasi tiap 15 menit ()
(Prawirohardjo, 2007; Wiknjosastro, 2007).

II.1.3. Selaput Ketuban dan Cairan Amnion


II.1.3.1. Selaput Ketuban
Selaput ketuban (selaput janin) terdiri dari amnion dan korion. Amnion
adalah membran janin paling dalam dan berdampingan dengan cairan amnion.
Sktuktur avaskular khusus ini memiliki peran penting dalam kehamilan pada
manusia. Amnion adalah jaringan yang menentukan hampir semua kekuatan
regang membran janin. Dengan demikian, pembentukan komponen-komponen
amnion yang mencegah ruptur atau robekan sangatlah penting bagi keberhasilan
kehamilan (Cunningham, 2006).
Menurut Helen, 2001 amnion (selaput ketuban) merupakan membran
internal yang membungkus janin dan cairan ketuban. Selaput ini licin, tipis, ulet,
dan transparan. Selaput amnion melekat erat pada korion (sekalipun dapat dikupas
dengan mudah). Selaput ini menutupi permukaan fetal plasenta sampai pada
insersio tali pusat dan kemudian berlanjut sebagai pembungkus tali pusat yang
tegak lurus hingga umbilikus janin. Sedangkan korion merupakan membran
eksternal yang berwarna putih dan terbentuk dari vili-vili sel telur yang
berhubungan dengan desidua kapsularis. Selaput ini berlanjut dengan tepi plasenta
dan melekat pada lapisan uterus.

Gambar II.1. Selaput amnion dan korion (Parry, 1998)

II.1.3.2. Cairan Amnion


II.1.3.2.1. Volume cairan amnion
Cairan yang normalnya jernih dan menumpuk di dalam rongga amnion ini
akan meningkat jumlahnya seiring dengan perkembangan kehamilan sampai
menjelang aterm, saat terjadi penurunan volume cairan amnion pada banyak
kehamilan normal.

Tabel II.1 Volume cairan amnion yang lazim (Cunningham, 2006)

Minggu

Janin (g)

Plasenta (g)

gestasi

Cairan amnion

Persen cairan

(ml)

16

100

100

200

50

28

1000

200

1000

45

36

2500

400

900

24

40

3300

500

800

17

Dari Queenan (1991), dengan izin.

10

Volume cairan amnion pada hamil aterm sekitar 1000 1500 ml, warna
putih, agak keruh, serta mempunyai bau yang khas, agak amis dan manis. Cairan
ini dengan berat jenis 1,008, terdiri atas 98% air. Sisanya terdiri atas garam
anorganik serta bahan organik dan bila diteliti benar, terdapat rambut lanugo, selsel epitel dan verniks kaseosa. Protein ditemukan rata-rata 2,6% g per liter,
sebagian besar sebagai albumin (Prawirohardjo, 2007).
Keadaan normal cairan amnion menurut Yulaikhah 2009 antara lain pada
usia kehamilan cukup bulan volume 1000-1500 cc, keadaan jernih agak keruh,
steril, bau khas, agak manis dan amis, terdiri dari 98-99% air, 1-2% garam-garam
anorganik dan bahan organik (protein terutama albumin), runtuhan rambut lanugo,
verniks kaseosa, dan sel-sel epitel dan sirkulasi sekitar 500 cc/jam.

II.1.3.2.2. Fungsi cairan amnion


Beberapa fungsi dari cairan amnion menurut Prawirohardjo 2007 :
1.

Proteksi : melindungi janin terhadap trauma dari luar.

2.

Mobilisasi : memungkinkan ruang gerak bagi janin.

3.

Homeostasis : menjaga keseimbangan suhu dan lingkungan asam basa (pH)


dalam rongga amnion untuk suasana lingkungan yang optimal bagi janin.

4.

Mekanik : menjaga keseimbangan tekanan dalam seluruh ruang intrauterin.

5.

Pada persalinan, membersihkan atau melicinkan jalan lahir dengan cairan


steril sehingga melindungi bayi dari kemungkinan infeksi jalan lahir.

II.1.4. Ketuban Pecah Dini


II.1.4.1. Definisi
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda
persalinan mulai dan ditunggu satu jam sebelum terjadi inpartu. Sebagian besar
ketuban pecah dini adalah hamil aterm di atas 37 minggu, sedangkan di bawah 36
minggu tidak terlalu banyak (Manuaba, 2009).
Sedangkan menurut Yulaikhah, 2009 ketuban pecah dini adalah pecahnya
ketuban sebelum terdapat tanda persalinan, dan setelah ditunggu satu jam, belum
ada tanda persalinan. Waktu sejak ketuban pecah sampai terjadi kontraksi rahim

11

disebut kejadian ketuban pecah dini (periode laten). Kondisi ini merupakan
penyebab terbesar persalinan prematur dengan segala akibatnya.
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu, yaitu bila
pembukaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm
(Mochtar, 1998).
Ada juga yang disebut ketuban pecah dini preterm yakni ketuban pecah saat
usia kehamilan belum masa aterm atau kehamilan di bawah 38 42 minggu
(Sinsin, 2008).
Arti klinis ketuban pecah dini adalah :
1.

Bila bagian terendah janin masih belum masuk pintu atas panggul maka
kemungkinan terjadinya prolapsus tali pusat atau kompresi tali pusat
menjadi besar.

2.

Peristiwa KPD yang terjadi pada primigravida hamil aterm dengan bagian
terendah yang masih belum masuk pintu atas panggul seringkali merupakan
tanda adanya gangguan keseimbangan feto pelvik.

3.

KPD seringkali diikuti dengan adanya tanda-tanda persalinan sehingga


dapat memicu terjadinya persalinan preterm dengan segala akibatnya.

4.

Peristiwa KPD yang berlangsung lebih dari 24 jam ( prolonged rupture of


membrane) seringkali disertai dengan infeksi intrauterin dengan segala
akibatnya.

5.

Peristiwa KPD dapat menyebabkan oligohidramnion dan dalam jangka


panjang kejadian ini akan dapat menyebabkan hilangnya fungsi amnion bagi
pertumbuhan dan perkembangan janin (Widjanarko, 2009).

II.1.4.2. Insidensi
Ketuban pecah dini dapat terjadi pada kehamilan aterm, preterm, dan pada
midtrimester kehamilan. Frekuensi kejadiannya yaitu 8%, 1% 3% dan kurang
dari 1 %. Secara umum, insiden dari KPD terjadi sekitar 7 12 % (Chan, 2006).
Menurut EASTMAN insidensi ketuban pecah dini ini kira-kira 12 % dari semua
kehamilan (Mochtar, 1998), sedangkan menurut Rahmawati 2011 insiden KPD
adalah sekitar 6-9 % dari kehamilan.

12

II.1.4.3. Etiologi
Penyebab KPD menurut Manuaba, 2009 dan Morgan, 2009 meliputi:
1.

Serviks

inkompeten

menyebabkan

dinding

ketuban

paling bawah

mendapatkan tekanan yang semakin tinggi.


2.

Faktor keturunan (ion Cu serum rendah, vitamin C rendah, kelainan


genetik).

3.

Pengaruh dari luar yang melemahkan ketuban seperti infeksi genitalia dan
meningkatnya enzim proteolitik. Masa interval sejak ketuban pecah sampai
terjadi kontraksi disebut fase laten. Makin panjang fase laten, makin tinggi
kemungkinan infeksi. Makin muda kehamilan, makin sulit upaya
pemecahannya tanpa menimbulkan morbidiats janin dan komplikasi ketuban
pecah dini makin meningkat.

4.

Multipara, grandemultipara. Pada kehamilan yang terlalu sering akan


mempengaruhi proses embriogenesis sehingga selaput ketuban yang
terbentuk akan lebih tipis yang akan menyebabkan selaput ketuban pecah
sebelum tanda-tanda inpartu.

5.

Overdistensi uterus pada hidramnion, kehamilan ganda dan sefalopelvik


disproporsi. Hidramnion atau kadang-kadang disebut polihidramnion adalah
keadaan di mana banyaknya air ketuban melebihi 2000 cc (Prawirohardjo,
2007). Hidramnion dapat terjadi pada kasus anensefalus, atresia esophagus,
gemeli dan ibu yang mengalami diabetes mellitus gestasional (DMG). Ibu
dengan DMG akan melahirkan bayi dengan berat badan berlebihan pada
semua usia kehamilan sehingga kadar cairan amnion juga akan berlebih
(Saifuddin, 2002). Kehamilan ganda adalah kehamilan dengan dua janin
atau lebih sehingga kemungkinan terjadinya hidramnion bertambah 10 kali
lebih besar (Mochtar, 1998).

6.

Kelainan letak yaitu letak lintang sungsang.

7.

Pendular abdomen (perut gantung).

8.

Usia ibu yang lebih tua mungkin menyebabkan ketuban kurang kuat
daripada ibu muda.

9.

Riwayat KPD sebelumnya sebanyak dua kali atau lebih.

10.

Merokok selama kehamilan.

13

II.1.4.4. Mekanisme ketuban pecah dini


Mekanisme KPD menurut Manuaba, 2009 antara lain :
1.

Terjadi pembukaan prematur serviks.

2.

Membran terkait dengan pembukaan terjadi :


a. Devaskularisasi
b. Nekrosis dan dapat diikuti pecah spontan
c. Jaringan ikat yang menyangga membran ketuban makin berkurang
d. Melemahnya daya tahan ketuban dipercepat dengan infeksi yang
mengeluarkan enzim proteolitik dan enzim kolagenase.

II.1.4.5. Patogenesis
Penelitian terbaru mengatakan KPD terjadi karena meningkatnya apoptosis
dari komponen sel dari membran fetal dan juga peningkatan dari enzim protease
tertentu. Kekuatan membran fetal adalah dari matriks ekstraselular amnion.
Kolagen amnion interstitial terutama tipe I dan III yang dihasilkan oleh sel
mesenkim juga penting dalam mempertahankan kekuatan membran fetal.
Matriks metalloproteinase (MMP) adalah kumpulan proteinase yang terlibat
dalam remodeling tissue dan degradasi dari kolagen. MMP-2, MMP-3 dan MMP9 ditemukan dengan konsentrasi yang tinggi pada kehamilan dengan ketuban
pecah dini. Aktivitas MMP ini diregulasi oleh tissue inhibitor of matrix
metalloproteinases (TIMPs). TIMPs ini pula ditemukan rendah dalam cairan
amnion pada wanita dengan ketuban pecah dini. Peningkatan enzim protease dan
penurunan dari inhibitor mendukung teori bahwa enzim-enzim ini mempengaruhi
kekuatan dari membran fetal.
Selain itu terdapat teori yang mengatakan meningkatnya marker-marker
apoptosis di membran fetal pada ketuban pecah dini berbanding dengan membran
pada kehamilan yang normal. Banyak penelitian yang mengatakan bahwa ketuban
pecah dini terjadi karena gabungan aktivasi aktivitas degradasi kolagen dan
kematian sel yang membawa pada kelemahan dinding membran fetal (Parry,
1998).

14

II.1.4.6. Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakan dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan laboratorium.
Anamnesis
Dari anamnesis bisa menegakkan 90% dari diagnosis. Kadangkala cairan
seperti urin dan vaginal discharge bisa dianggap cairan amnion. Penderita merasa
basah pada vagina atau mengeluarkan cairan yang banyak secara tiba-tiba dari
jalan lahir (Chan, 2006).
Inspeksi
Pengamatan dengan mata biasa akan tampak keluarnya cairan dari vagina,
bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, pemeriksaan ini
akan lebih jelas.
Pemeriksaan inspekulo
Merupakan langkah pertama dalam mendiagnosis KPD karena pemeriksaan
dalam seperti vaginal toucher dapat meningkatkan risiko infeksi. Cairan yang
keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau dan pH-nya. Yang
dinilai adalah :
1.

Keadaan umum dari serviks, juga dinilai dilatasi dan pendataran dari
serviks. Dilihat juga dari prolaps dari tali pusat atau ekstremitas bayi. Bau
dari amnion yang khas juga diperhatikan.

2.

Pooling pada cairan amnion dari forniks posterior mendukung diagnosis


KPD. Melakukan perasat valsava atau menyuruh pasien batuk untuk
mempermudah melihat pooling.

3.

Cairan amnion dikonfirmasikan dengan menggunakan nitrazine test. Kertas


nitrazin akan berubah menjadi biru jika pH cairan diatas 6.0 6.5. Sekret
vagina ibu hamil memiliki pH 4 5, dengan kertas nitrazin tidak
memberikan perubahan warna. Tes nitrazin ini bisa memberikan hasil positif
palsu bila tersamarkan dengan cairan seperti darah, semen atau vaginitis
seperti trichomoniasis.

4.

Mikroskopis (tes pakis). Jika dengan pooling dan tes nitrazin masih samar
dapat dilakukan pemeriksaan mikroskopis dari cairan yang diambil dari
forniks posterior. Cairan di swab kemudian dikeringkan di atas gelas objek

15

dan dilihat dibawah mikroskop. Gambaran ferning menandakan cairan


amnion.
5.

Dilakukan juga kultur dari swab untuk Chlamydia, gonnorhea dan group B
Streptococcus.

Pemeriksaan lab
1.

Pemeriksaan alpha-fetoprotein (AFP). Konsentrasinya tinggi di dalam cairan


amnion tetapi tidak di semen dan urin.

2.

Pemeriksaan darah lengkap dan kultur dari urinalisis.

3.

Tes pakis.

4.

Tes lakmus (Nitrazine test).

Pemeriksaan ultrasonography (USG)


Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam
kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit
(oligohidramnion atau anhidramnion). Oligohidramnion ditambah dengan
anamnesis dari pasien bisa membantu diagnosis tetapi bukan menegakkan
diagnosis rupturnya membran fetal. Selain itu dinilai Amniotic Fluid Index (AFI),
presentasi

janin,

berat

janin,

dan

usia

janin.

Ultrasonografi

dapat

mengidentifikasikan kehamilan ganda, janin yang tidak normal atau melokalisasi


kantong cairan amnion pada amniosentesis dan sering digunakan dalam
mengevaluasi janin. Pemeriksaan USG berguna untuk menegakkan diagnosis
ketuban pecah dini (Chan, 2006).

II.1.4.7. Komplikasi
Ketuban pecah dini dapat menimbulkan komplikasi pada ibu maupun pada
janin yang dikandungnya. Komplikasi tersebut antara lain:
1.

Terhadap janin
Walaupun ibu belum menunjukkan gejala-gejala infeksi tetapi janin
mungkin sudah terkena infeksi, karena infeksi intrauterin lebih dahulu
terjadi (amnionitis, vaskulitis) sebelum gejala pada ibu dirasakan. Jadi akan
meninggikan mortalitas dan morbiditas perinatal (Mochtar, 1998). Pada
janin dapat terjadi infeksi bahkan sepsis. Sepsis neonatorum adalah infeksi
aliran darah yang bersifat invasif dan ditandai dengan ditemukannya bakteri

16

dalam cairan tubuh seperti darah, cairan sumsum tulang atau air kemih
(Sholeh Kasim, 2010).
2.

Terhadap ibu
Karena jalan telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi intrapartal, apalagi
bila terlalu sering periksa dalam. Selain itu dapat juga dijumpai infeksi
puerpuralis (nifas), peritonitis dan septikemia serta dry-labour. Ibu akan
merasa lelah karena terbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama,
maka suhu badan naik, nadi cepat dan tampaklah gejala-gejala infeksi. Hal
tersebut akan meninggikan angka kematian dan morbiditas pada ibu
(Mochtar, 1998). Menurut Chan, 2006 pasien yang mengalami ketuban
pecah

dini

akan

mengalami

peningkatan

kejadian

infeksi

baik

korioamnionitis, endometritis, sepsis.

II.1.4.8. Penatalaksanaan
Konservatif
Rawat di rumah sakit , berikan antibiotik (ampisilin 4 x 500 mg atau
eritromisin bila tidak tahan ampisilin dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari).
Jika umur kehamilan < 32 34 minggu, dirawat selama air ketuban masih keluar
atau sampai air ketuban tidak lagi keluar. Jika usia kehamilan 32 37 minggu,
belum inpartu, tidak ada infeksi, tes busa negatif beri deksametason, observasi
tanda-tanda infeksi, dan kesejahteraan janin. Terminasi pada kehamilan 37
minggu. Jika usia kehamilan 32 -37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi,
berikan tokolitik (salbutamol), deksametason, dan induksi sesudah 24 jam. Jika
usia kehamilan 32 37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan lakukan induksi,
nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intrauterin). Pada usia
kehamilan 32 -37 minggu berikan steroid untuk memacu kematangan paru janin,
dan bila memungkinkan periksa kadar lesitin dan spingomielin tiap minggu. Dosis
betametason 12 mg sehari dosis tunggal selama 2 hari, deksametason IM 5 mg
setiap 6 jam selama 4 kali.

17

Aktif
Kehamilan > 37 minggu,, induksi dengan oksitosin. Bila gagal seksio
sesarea. Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotik dosis tinggi dan persalinan
diakhiri. Bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan serviks, kemudian induksi. jika
tidak berhasil, akhiri persalinan dengan seksio sesarea. Bila skor pelvik > 5,
induksi persalinan (Prawirohardjo, 2008).

Penatalaksanaan ketuban pecah dini menurut Rahmawati, 2011 yaitu :


1.

Penatalaksanaan ketuban pecah dini tergantung pada umur kehamilan dan


tanda infeksi intrauterin.

2.

Pada umumnya lebih baik untuk membawa semua pasien dengan KPD ke
rumah sakit dan melahirkan bayi yang berumur > 37 minggu dalam 24 jam
dari pecahnya ketuban untuk memperkecil risiko infeksi intrauterin.

3.

Tindakan konservatif (mempertahankan kehamilan) diantaranya pemberian


antibiotik dan cegah infeksi (tidak melakukan pemeriksaan dalam),
tokolisis, pematangan paru amnioinfusiepitelisasi (vit C dan trace element,
masih kontroversi), fetal and maternal monitoring. Tindakan aktif
(terminasi/mengakhiri kehamilan) yaitu dengan sectio caesarea atau pun
partus per vaginam.

4.

Dalam penetapan langkah pelaksanaan tindakan yang dilakukan apakah


langkah konservatif ataukah aktif, sebaiknya perlu mempertimbangkan usia
kehamilan, kondisi ibu dan janin, fasilitas perawatan intensif, kondisi, waktu
dan tempat perawatan, fasilitas/kemampuan monitoring, kondisi/status
imunologik ibu dan kemampuan finansial keluarga.

5.

Untuk usia kehamilan < 37 minggu dilakukan penanganan konservatif


dengan mempertahankan kehamilan sampai usia kehamilan matur.

6.

Untuk usia kehamilan 37 minggu atau lebih, lakukan terminasi dan


pemberian profilaksis Streptococcus grup B. untuk kehamilan 34-36 minggu
lakukan penatalaksanaan sama halnya dengan aterm.

7.

Untuk kehamilan 32-33 minggu lengkap lakukan tindakan konservatif /


expectant management kecuali jika paru-paru sudah matur (maka perlu
dilakukan tes pematangan paru), profilaksis Streptococcus grup B,

18

pemberian kortikosteroid (belum ada konsensus namun direkomendasikan


oleh para ahli), pemberian antibiotik selama fase laten.
8.

Untuk previable preterm (usia kehamilan 24-31 minggu lengkap) lakukan


tindakan konservatif, pemberian profilaksis Streptococcus grup B, singlecourse kortikosteroid, tokolisis (belum ada konsensus), dan pemberian
antibiotik selama fase laten (jika tidak ada kontraindikasi).

9.

Untuk non viable preterm (usia kehamilan < 24 minggu) lakukan konseling
pasien dan keluarga, lakukan tindakan konservatif atau induksi persalinan.
Tidak

direkomendasikan

profilaksis

Streptococcus

grup

dan

kortikosteroid. Pemberian antibiotik tidak dianjurkan karena belum ada data


untuk pemberian yang lama.
10.

Rekomendasi klinik untuk KPD yaitu pemberian antibiotik karena pada


periode fase laten yang panjang, kortikosteroid harus diberikan antara 24-32
minggu (untuk mencegah terjadinya risiko perdarahan intraventrikuler,
respiratory distress syndrome, dan necrotizing examinations). Tidak boleh
dilakukan digital cervical examinations jadi pilihannya adalah dengan
spekulum, tokolisis untuk jangka waktu yang lama tidak diindikasikan
sedangkan

untuk

jangka

pendek

dapat

dipertimbangkan

untuk

memungkinkan pemberian kortikosteroid, antibiotik dan transportasi


maternal, pemberian kortikosteroid setelah 34 minggu dan pemberian
multiple course tidak direkomendasikan.
11.

Pematangan paru dilakukan dengan pemberian kortikosteroid yaitu


deksametason 2 x 6 mg selama 2 hari atau betametason 1 x 12 mg selama 2
hari.

12.

Agentokolisis yaitu 2 agonis (terbutalin, ritodrine), kalsium antagonis


(nifedipine), prostaglandin sintase inhibitor (indometasin), magnesium
sulfat, oksitosin antagonis (atosiban).

13.

Tindakan epitelisasi masih kontroversial, walaupun vitamin C dan trace


element terbukti berhubungan dengan terjadinya ketuban pecah terutama
dalam metabolisme kolagen untuk maintenance integritas membran korioamniotik, namun tidak terbukti menimbulkan epitelisasi lagi setelah terjadi
KPD.

19

14.

Tindakan terminasi dilakukan jika terdapat tanda-tanda korioamnionitis,


terdapat tanda-tanda tali pusat/janin (fetal distress) dan pertimbangan antara
usia kehamilan, lamanya ketuban pecah dan lamanya menunda persalinan.

15.

KPD dengan usia kehamilan < 37 minggu tanpa infeksi, berikan antibiotik
eritromisin 3 x 250 mg, amoksisilin3 x 500 mg dan kortikosteroid.

16.

KPD dengan usia kehamilan > 37 minggu tanpa infeksi (ketuban pecah > 6
jam) berikan ampisilin 2 x 1 gr IV dan penisilin G 4 x 2 juta IU, jika serviks
matang lakukan induksi persalinan dengan oksitosin, jika serviks tidak
matang lakukan sectio caesarea.

17.

KPD dengan infeksi (kehamilan < 37 minggu ataupun > 37 minggu) berikan
antibiotik ampisilin 4 x 2 gr IV, gentamisin 5 mg/ kgBB, jika serviks matang
lakukan induksi persalinan dengan oksitosin, jika serviks tidak matang
lakukan sectio caesarea.

Berikut tabel yang menjelaskan tentang skor kematangan serviks.

Tabel II.2. Tabel Skor Bishop (Achadiat 2004)

TABEL SKOR BISHOP


SKOR

Pembukaan

1-2

3-4

5-6

Pendataran

0-30%

40-50%

60-70%

80%

-3

-2

-1

+1,+2

Keras

Sedang

Lunak

Amat lunak

Posterior

Tengah

Anterior

Anterior

Station
Konsistensi
Posisi ostium

CARA PEMAKAIAN :
Tambah 1 angka untuk :

Kurangi 1 angka untuk :

Preeklampsia

Post date

Setiap partus normal

Nullipara
Ketuban negatif/lama

20

Bila total
skor

KEMUNGKINAN :
BERHASIL

GAGAL

04

50-60%

40-50%

59

90%

10%

10 13

100%

0%

Skor Bishop adalah suatu cara untuk menilai kematangan serviks dan
responsnya terhadap suatu induksi persalinan, karena telah diketahui bahwa
serviks dengan skor bishop rendah memberikan angka kegagalan yang lebih tinggi
dibandingkan serviks yang matang (ripened) (Achadiat, 2004).

Tabel II.3. Tatalaksana Ketuban Pecah Dini (Saifuddin, 1998)


KETUBAN PECAH
37 MINGGU

< 37 MINGGU
Infeksi

Berikan

Tidak ada infeksi

penisilin,

gentamisin,

dan

amoksisilin

Infeksi

Berikan penisilin,

eritromisin untuk 7

gentamisin,

metronidazol

hari

metronidazol

Lahirkan bayi

Steroid

untuk

pematangan paru

Tidak ada infeksi

Lahirkan bayi

Lahirkan bayi

dan

Berikan

penisilin

ampisilin

ANTIBIOTIKA SETELAH PERSALINAN


Profilaksis

Stop antibiotik

Infeksi

Tidak ada infeksi

Lanjutkan untuk
24

setelah
panas

48

jam
bebas

Tidak perlu antibiotik

atau

21

II.1.4.9.

Pencegahan

Diskusikan pengaruh merokok selama kehamilan dan dukung usaha untuk


mengurangi atau berhenti, motivasi untuk menambah berat badan yang cukup
selama hamil, anjurkan pasangan agar menghentikan koitus pada trimester akhir
bila ada predisposisi (Morgan, 2009).

22

II.2. Kerangka Teori

FAKTOR IBU

FAKTOR JANIN
-

Gemeli
Malposisi
Berat janin berlebih

Serviks inkompeten
Multipara
Hidramnion
Sefalopelvik disproporsi
Usia terlalu tua ( 35 tahun)
Riwayat KPD
Merokok

Kelemahan dinding
membran janin

Rupturnya membran
amnion dan khorion
sebelum terdapat tanda
persalinan

KETUBAN PECAH
DINI

Bagan II.1. Kerangka Teori

Infeksi pada ibu

23

II.3. Kerangka Konsep

USIA IBU

KETUBAN
PECAH
DINI

PARITAS

BERAT BAYI
LAHIR
Bagan II.2. Kerangka Konsep

II.4. Hipotesis Penelitian


Adapun hipotesis-hipotesis dari penelitian ini antara lain :
1. Ada hubungan antara usia ibu terhadap kejadian ketuban pecah dini.
2. Ada hubungan antara paritas terhadap kejadian ketuban pecah dini.
3. Ada hubungan antara berat bayi lahir terhadap kejadian ketuban pecah dini.