Anda di halaman 1dari 19

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Permintaan energi dunia terus meningkat sepanjang sejarah peradaban umat
manusia. Proyeksi permintaan energi pada tahun 2050 hampir mencapai tiga kali
lipat dari permintaan di tahun 20121. Tampaknya masalah energi akan tetap
menjadi topik yang harus dicarikan solusinya bersama. Usaha-usaha untuk
mendapatkan energi alternatif telah lama dilakukan untuk mengurangi
ketergantungan terhadap sumber daya minyak bumi. Pemanfaatan minyak bumi
diperkirakan akan habis dalam waktu yang tidak lama jika pola pemakaian seperti
sekarang ini yang justru semakin meningkat dengan meningkatnya industri
maupun transportasi. Selain itu dari berbagai penelitian telah didapat gambaran
bahwa kualitas udara telah semakin mengkawatirkan akibat pembakaran minyak
bumi.
Dalam menanggapi krisis energi yang terjadi, pemerintah mengupayakan
berbagai cara untuk mengembangkan berbagai energi alternatif. Sebagaimana kita
ketahui, Indonesia berada pada daerah khatulistiwa dan akan selalu disinari
matahari selama 10 - 12 jam dalam sehari. Maka potensi untuk mengembangkan
energi surya sangatlah besar. Total intensitas penyinaran rata-rata 4,5 kWh per
meter persegi perhari, matahari bersinar berkisar 2000 jam per tahun, sehingga
tergolong kaya sumber energi matahari. Data Ditjen Listrik dan Pengembangan
Energi pada tahun 1997, kapasitas terpasang listrik tenaga surya di Indonesia
mencapai 0,88 MW dari potensi yang tersedia 1,2 x 109 MW.2 Dengan potensi
yang cukup besar tersebut diharapkan energi surya ini dapat membantu dalam
memenuhi kebutuhan energi bangsa ini dan juga mengurangi ketergantungan kita
terhadap pemakaian energi fosil.

1
2

http://www.esdm.go.id/news-archives/, diakses tanggal 18-03-2013


http://www.greenradio.fm/technology/energy/solar-cell/, diakses 18-03-2013

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang akan dibahas adalah :
1. Bagaimana cara memanfaatkan energi surya menjadi energi alternatif?
2. Apa saja dampak energi surya terhadap lingkungan?
3. Bagaimana penanggulangan dampak negatif dari energi surya terhadap
lingkungan?
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah :
1. Memahami proses pemanfaatan energi surya sebagai energi alternatif
2. Mengetahui dampak pengembangan energi surya terhadap lingkungan
3. Memahami konsep penanggulangan dampak negatif dari energi surya
terhadap lingkungan
1.4 Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu :
1. Dapat mengimplementasikan teknologi terbaru dalam pengembangan
enerfi surya
2. Dapat memberikan solusi terhadap permasalahan lingkungan yang timbul
akibat dalam pengembangan energi surya

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Energi Surya
Energi surya merupakan energi yang dikeluarkan oleh sinar matahari yang
hanya diterima oleh permukaan bumi sebesar 69 persen dari total energi pancaran
matahari. Suplai energi surya dari sinar matahari yang diterima oleh permukaan
bumi mencapai 3 x 1024 Joule pertahun (setara dengan 2 x 1017 Watt). Jumlah
energi sebesar itu setara dengan 10.000 kali konsumsi energi di seluruh dunia saat
ini. Menutup 0,1 persen saja permukaan bumi dengan divais solar sel yang
memiliki efisiensi 10 persen sudah mampu untuk menutupi kebutuhan energi di
seluruh dunia saat ini.3
Indonesia berpotensi untuk menjadikan solar sel sebagai salah satu sumber
energi masa depan mengingat posisi Indonesia pada daerah khatulistiwa. Dalam
kondisi puncak atau posisi matahari tegak lurus, sinar matahari yang jatuh di
permukaan panel surya di Indonesia seluas 1 m 2 mampu mencapai 900 hingga
1000 Watt. Total intensitas penyinaran perharinya di Indonesia mencapai 4500
watt hour/m2 yang membuat Indonesia tergolong kaya sumber energi matahari ini.
Dan matahari di Indonesia mampu bersinar hingga 2.000 jam pertahunnya.4
2.2 Potensi Energi Surya
Posisi matahari dan kedudukan wilayah dipermukaan bumi memberikan
pengaruh nyata terhadap potensi energi surya pada suatu wilayah. Potensi ini akan
berubah tiap waktu, tergantung dari kondisi atmosfer, dan tempat (garis lintang)
serta waktu (hari dalam tahun dan jam dalam hari). Indonesia yang berada dalam
wilayah khatulistiwa mempunyai potensi energi surya yang cukup besar sepanjang
tahunnya. Energi surya sangat berpotensi untuk dimanfaatkan secara langsung
sebagai sumber energi alternatif. Pemanfaatan energi surya ini dapat dilakukan
secara termal maupun melalui energi listrik. Pemanfaatan secara termal dapat
3
4

Sumber : http://www.esdm.go.id, diakses tanggal 12-03-2013


Sumber : http://www.esdm.go.id, diakses tanggal 12-03-2013.

dilakukan secara langsung dengan membiarkan objek pada radiasi matahari, atau
menggunakan peralatan yang mencakup kolektor dan konsentrator surya.
Informasi mengenai ketersediaan energi matahari merupakan hal penting dalam
rangka mendukung usaha pemanfaatan energi matahari secara optimal.
Pengetahuan mengenai besarnya radiasi matahari pada suatu lokasi merupakan hal
yang penting dalam beberapa aplikasi energi matahari seperti desain arsitektur dan
dan kenyamanan termal bangunan, sistem pemenfaatan energi matahari
(photovoltaic/PV, solar concentrator, solar collector) dan lain-lain [Mubiru,
2008]. Perlu dilakukan diversifikasi pemanfaatan sumber energi selain fosil yang
memiliki keterbatasan dan rentan memicu kerusakan lingkungan. Diversifikasi ini
dapat dimulai dengan melakukan pendayagunaan energi matahari yang sangat
potensial dan tak terbatas terutama untuk wilayah Indonesia.
Indonesia memiliki potensi energi surya yang cukup besar mengingat letak
geografisnya yang berada pada daerah tropis. Berdasarkan data penyinaran
matahari yang dihimpun dari 18 lokasi di Indonesia, radiasi surya di Indonesia
untuk kawasan Barat Indonesia mencapai 4,5 kWh/m2/hari dengan variasi
bulanan sekitar 10%, sementara itu untuk Kawasan Timur Indonesia sekitar 5,1
kWh/m2/hari dengan variasi bulanan sekitar 9%. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada tabel 1.
Menurut artikel yang dimuat di situs Departemen ESDM,

untuk

memanfaatkan potensi energi surya tersebut, telah dikenal teknologi energi surya
termal dan energi surya fotovoltaik. Energi surya termal pada umumnya
digunakan untuk memasak, mengeringkan hasil pertanian dan memanaskan air.
Sedangkan energi surya fotovoltaik digunakan untuk memenuhi kebutuhan listrik,
pompa air, televisi, telekomunikasi, dan lemari pendingin dengan kapasitas total
sekitar 6 MW.
Pemanfaatan energi surya sebagai sumber energi listrik ditargetkan akan
mencapai 25 MW pada tahun 2020. Selain untuk memenuhi listrik pedesaan,
energi surya diharapkan juga mampu berperan sebagai salah satu sumber energi
alternatif di wilayah perkotaan, yang dimanfaatkan untuk lampu penerangan jalan,
penyediaan listrik untuk rumah peribadatan, sarana umum, dan lain-lain.

Tabel 1. Potensi Sumber Daya Energi Surya di Beberapa Kota di Indonesia


No

Kota

Provinsi

Tahun
Pengukuran

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Banda Aceh
Palembang
Menggala
Rawasragi
Jakarta
Bandung
Darmaga, Bogor
Serpong, Tangerang
Semarang
Surabaya
Kenteng,
Yogyakarta
Denpasar
Pontianak

Aceh
Sumatera Selatan
Lampung
Lampung
Jakarta
Jawa Barat
Jawa Barat
Jawa Barat
Jawa Tengah
Jawa Timur

1980
1979 1981
1972 1979
1965 1979
1965 1981
1980
1980
1991 1995
1979 1981
1980

Radiasi
rata- rata
(W/m2)
4.1
4.95
5.23
4.13
4.19
4.15
2.56
4.45
5.49
4.30

Yogyakarta

1980

4.50

Bali
Kalimantan Barat

1977 1979
1991 1993

5.26
4.55

11
12
13

Sumber : Rencana Induk Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan, 1997.


Direktorat Jenderal Listrik dan Pengembangan Energi, DESDM

2.3 Pemanfaatan Energi Surya


Energi surya merupakan energi yang dapat dimanfaatkan secara luas.
Pemanfaatannya dapat dilihat pada skema dibawah ini.

Gambar 1. Skema Pemanfaatan Energi Surya


Sumber : Erlinawati, Modul Energi Konvensional dan Non Konvensional.2012

Pada tahap I, radiasi matahari diterima oleh tumbuh-tumbuhan yang


digunakan untuk proses fotosintesis. Dengan begitu tumbuhan seperti jenis kayukayuan dan tumbuhan lainnya akan dapat berlangsung hidup. Seperti yang kita
ketahui, kayu dapat digunakan sebagai bahan bakar. Pada tahap II radiasi matahari
yang memanasi atmosfer sehingga terjadi perpindahan udara yang berupa angin
dan arus pancar.Proses III.an dipanaskan. Di sini terjadi 2 hal. Pertama air naik
sebagai uap menjadi awan dan turun lagi ke bumi dalam bentuk hujan.Hujan yang
turun di gunung dan air mengalir di sungai merupakan potensi tenaga air. Selain
itu lautan dipanaskan. Lapisan laut sebelah atas lebih panas dari lapisan bawah.
Panas ini merupakan potensi energi yang dapat dimanfaatkan dengan cara
Konversi Energi Panas Lautan (KEPL), atau yang biasa disebut dalam bahasa
inggris Ocean Thermal Energi Converter (OTEC). Proses IV.Panas matahari
dimanfaatkan secara langsung, misalnya pada saat kita menjemur pakaian,
menjemur ikan kering atau membuat garam di pantai. Pada Proses V,VI dan VII
Pemanfaatan panas matahari dengan kolektor buatan manusia. Dengan kolektor
dimaksud suatu alat untuk penangkap dan pengumpul sinar matahari.
2.3.1 Teknologi Energi Surya Termal
Selama ini, pemanfaatan energi surya termal di Indonesia masih dilakukan
secara tradisional. Para petani dan nelayan di Indonesia memanfaatkan energi
surya untuk mengeringkan hasil pertanian dan perikanan secara langsung.
Berbagai teknologi pemanfaatan energi surya termal untuk aplikasi skala
rendah (temperatur kerja lebih kecil atau hingga 60oC) dan skala menengah
(temperatur kerja antara 60 hingga 120oC) telah dikuasai dari rancang-bangun,
konstruksi hingga manufakturnya secara nasional. Secara umum, teknologi surya
termal yang kini dapat dimanfaatkan termasuk dalam teknologi sederhana hingga
madya. Beberapa teknologi untuk aplikasi skala rendah dapat dibuat oleh bengkel
pertukangan kayu/besi biasa. Untuk aplikasi skala menengah dapat dilakukan oleh
industri manufaktur nasional.

Beberapa peralatan yang telah dikuasai perancangan dan produksinya


seperti sistem atau unit berikut:

Pemanas air domestic;

Dalam sistem pemanas air, panas matahari merupakan sumber utama yang
dibutuhkan,

serta

sebuah

kolektor

pengumpul

panas

yang

berfungsi

mengumpulkan panas matahari serta memperbesar suhu dari panas matahari


dalam suatu ruangan tertutup yang didalamnya terdapat pipa tembaga yang
dirancang sedemikian rupa sebagai tempat air melakukan sirkulasi. Pemanas air
dengan tenaga surya dapat digunakan dalam kebutuhan sehari-hari seperti
mencuci, mandi, dan lain sebagainya.
Karena menggunakan panas matahari sebagai sumber energinya, maka
hasilnya bergantung pada keadaan cuaca dalam mempengaruhi radiasi panas
matahari yang sampai ke bumi.
Panas dari matahari masuk kedalam kolektor melalui kaca kristal yang
akan menyebarkan panas tersebut secara merata di dalam kolektor, lalu air yang
mengalir melalui pipa tembaga di dalam kolektor akan menyerap panas tersebut,
sehingga dihasilkan panas yang sebanding dengan panas yang berada di dalam
kolektor.

Gambar 2. Mekanisme Kerja Pemanas Air Tenaga Surya


Sumber : ejournal.undip.ac.id

Menunjukan arah aliran air, warna biru adalah air dingin setalah melewati
kolektor bagian bawah akan mengalami pemasanan di gambarkan berwarna
merah. Gambar diatas menunjukan mekanisme kerja pemanas air tenaga surya,

dimana terdapat sebuah pompa yang mengalirkan air dingin masuk melalui bagian
bawah kolektor sehingga berubah menjadi air panas yang keluar melalui bagian
atas kolektor menuju tangki penampungan air panas yang sudah di rancang untuk
mencegah radiasi panas keluar.

Kompor Surya;
Kompor tenaga surya adalah perangkat masak yang menggunakan sinar

matahari sebagai sumber energi. Kompor jenis ini tidak menggunakan bahan
bakar konvensional dan biaya operasinya rendah sehingga sangat disayangkan jika
tidak dimanfaatkan. Terdapat tiga prinsip dasar kompor surya yaitu, pemusatan
cahaya matahari, mengubah cahaya menjadi panas dan memerangkap panas.
Kompor dengan prinsip kerja mengubah cahaya menjadi panas menggunakan
bahan panci yang berwarna hitam hal ini dapat meningkatkan efektivitas
pengubahan cahaya menjadi panas. Panci berwarna hitam dapat menyerap hampir
semua cahaya matahari dan mengubahnya menjadi panas, secara mendasar
meningkatkan efektivitas kerja kompor surya. Semakin baik kemampuan panci
menghantarkan panas, semakin cepat kompor bekerja.

Prinsip kerja kompor

memerangkap panas merupakan upaya mengisolasi udara di dalam kompor dari


udara diluarnya akan menjadi penting. Penggunaan bahan yang keras dan bening
seperti kantong plastik atau tutup panci berbahan kaca memungkinkan cahaya
untuk masuk ke dalam panci. Setelah cahaya terserap dan berubah jadi panas,
kantong plastik atau tutup berbahan gelas akan memerangkap panas didalamnya
seperti efek rumah kaca. Hal ini memungkinkan kompor untuk mencapai
temperatur yang sama ketika hari dingin dan berangin seperti halnya ketika hari
cerah dan panas. Sedangkan prinsip kerja yang digunakan pada praktikum ini
adalah pemusatan cahaya matahari. Pada kompor ini terdapat bahan metal/logam
yang memantulkan cahaya, digunakan untuk memusatkan cahaya dan panas
matahari ke arah area memasak yang kecil, membuat energi lebih terkonsentrasi
dan lebih berpotensi menghasilkan panas yang cukup untuk memasak. Kompor
berbentuk parabola, sehingga pemusatan cahaya matahari dapat menghasilkan
panas yang cukup untuk memanaskan air.

Gambar 3. Kompor Matahari

Untuk diameter cermin sebesar1,3 meter kompor ini memberikan daya


thermal sebesar 800 watt pada panci. Dengan menggunakan kompor ini maka
kebutuhan akan energi fosil dan energi listrik untuk memasak dapat dikurangi.
Selain teknologi pemanfaatan diatas, energi surya juga dapat dimanfaatkan
dalam peralatan seperti Pompa air (dengan Siklus Rankine dan fluida kerja
Isopentane), Penyuling air ( Solar Distilation/Still ), Pendingin (radiatif, absorpsi,
evaporasi, termoelektrik, kompressip, tipe jet), Sterilisator surya dan Pembangkit
listrik dengan menggunakan konsentrator dan fluida kerja dengan titik didih
rendah.
2.3.2 Teknologi Energi Surya Fotovoltaik
Salah satu cara penyediaan energi listrik alternatif yang siap untuk
diterapkan secara masal pada saat ini adalah menggunakan suatu sistem
teknologi yang diperkenalkan sebagai Sistem Energi Surya Fotovoltaik
(SESF) atau secara umum dikenal sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya
Fotovoltaik (PLTS Fotovoltaik). Sebutan SESF merupakan istilah yang telah
dibakukan oleh pemerintah yang digunakan untuk mengidentifikasikan suatu
sistem

pembangkit

energi

yang

memanfaatkan

energi

matahari

dan

menggunakan teknologi fotovoltaik. Dibandingkan energi listrik konvensional

10

pada umumnya, SESF terkesan rumit, mahal dan sulit dioperasikan. Namun dari
pengalaman lebih dari 15 tahun operasional di beberapa kawasan di Indonesia,
SESF merupakan suatu sistem yang mudah didalam pengoperasiannya, handal,
serta memerlukan biaya pemeliharaan dan operasi yang rendah menjadikan
SESF mampu bersaing dengan teknologi konvensional pada sebagian besar
kondisi wilayah Indonesia yang terdiri atas pulau - pulau kecil yang tidak
terjangkau oleh jaringan PLN dan tergolong sebagai kawasan terpencil.
Sel surya konvensional bekerja menggunakan prinsip p-n junction, yaitu
junction antara semikonduktor tipe-p dan tipe-n. Semikonduktor ini terdiri dari
ikatan-ikatan atom yang dimana terdapat elektron sebagai penyusun dasar.
Semikonduktor tipe-n mempunyai kelebihan elektron (muatan negatif)
sedangkan semikonduktor tipe-p mempunyai kelebihan hole (muatan positif)
dalam struktur atomnya. Kondisi kelebihan elektron dan hole tersebut bisa
terjadi dengan mendoping material dengan atom dopant. Sebagai contoh untuk
mendapatkan material silikon tipe-p, silikon didoping oleh atom boron,
sedangkan untuk mendapatkan material silikon tipe-n, silikon didoping oleh
atom fosfor. Ilustrasi dibawah menggambarkan junction semikonduktor tipe-p
dan tipe-n.

Gambar 5 Ilustrasi cara kerja sel surya dengan prinsip p-n junction
Sumber : sun-nrg.org

11

2.3.2.1 Sel Surya dan Komponen Utamanya


Sel surya atau juga sering disebut fotovoltaik adalah peralatan yang
mampu mengkonversi langsung cahaya matahari menjadi listrik. Sel surya bisa
disebut sebagai pemeran utama untuk memaksimalkan potensi sangat besar energi
cahaya matahari yang sampai kebumi, walaupun selain dipergunakan untuk
menghasilkan listrik, energi dari matahari juga bisa dimaksimalkan energi
panasnya melalui sistem solar thermal. Sel surya dapat dianalogikan sebagai
device dengan dua terminal atau sambungan, dimana saat kondisi gelap atau tidak
cukup cahaya berfungsi seperti dioda, dan saat disinari dengan cahaya matahari
dapat menghasilkan tegangan. Ketika disinari, umumnya satu sel surya komersial
menghasilkan tegangan dc sebesar 0,5 sampai 1 volt, dan arus short-circuit dalam
skala milliampere per cm2. Besar tegangan dan arus ini tidak cukup untuk
berbagai aplikasi, sehingga umumnya sejumlah sel surya disusun secara seri
membentuk modul surya. Satu modul surya biasanya terdiri dari 28-36 sel surya,
dan total menghasilkan tegangan dc sebesar 12 V dalam kondisi penyinaran
standar (Air Mass 1.5). Modul surya tersebut bisa digabungkan secara paralel atau
seri untuk memperbesar total tegangan dan arus outputnya sesuai dengan daya
yang dibutuhkan untuk aplikasi tertentu.

Modul surya biasanya terdiri dari 28-36 sel surya yang dirangkai seri untuk memperbesar total daya output.
(Gambar :The Physics of Solar Cell, Jenny Nelson)

Gambar 6. Modul Surya

12

2.3.2.2 Struktur Sel Surya


Sesuai dengan perkembangan sains & teknologi, jenis-jenis teknologi sel
surya pun berkembang dengan berbagai inovasi. Ada yang disebut sel surya
generasi satu, dua, tiga dan empat, dengan struktur atau bagian-bagian penyusun
sel yang berbeda pula (Jenis-jenis teknologi surya akan dibahas di tulisan Sel
Surya : Jenis-jenis teknologi). Dalam tulisan ini akan dibahas struktur dan cara
kerja dari sel surya yang umum berada dipasaran saat ini yaitu sel surya berbasis
material silikon yang juga secara umum mencakup struktur dan cara kerja sel
surya generasi pertama (sel surya silikon) dan kedua (thin film/lapisan tipis).

Gambar 7. Struktur dari sel surya komersial


Gambar diatas menunjukan ilustrasi sel surya dan juga bagian-bagiannya. Secara
umum terdiri dari :
1. Substrat/Metal backing
Substrat adalah material yang menopang seluruh komponen sel surya.
Material substrat juga harus mempunyai konduktifitas listrik yang baik karena
juga berfungsi sebagai kontak terminal positif sel surya, sehinga umumnya
digunakan material metal atau logam seperti aluminium atau molybdenum. Untuk
sel surya dye-sensitized (DSSC) dan sel surya organik, substrat juga berfungsi
sebagai tempat masuknya cahaya sehingga material yang digunakan yaitu material
yang konduktif tapi juga transparan sepertii ndium tin oxide (ITO) dan flourine
doped tin oxide (FTO).
2. Material semikonduktor

13

Material semikonduktor merupakan bagian inti dari sel surya yang


biasanya mempunyai tebal sampai beberapa ratus mikrometer untuk sel surya
generasi pertama (silikon), dan 1-3 mikrometer untuk sel surya lapisan tipis.
Material semikonduktor inilah yang berfungsi menyerap cahaya dari sinar
matahari. Untuk kasus gambar diatas, semikonduktor yang digunakan adalah
material silikon, yang umum diaplikasikan di industri elektronik. Sedangkan
untuk sel surya lapisan tipis, material semikonduktor yang umum digunakan dan
telah masuk pasaran yaitu contohnya material Cu(In,Ga)(S,Se) 2 (CIGS), CdTe
(kadmium telluride), dan amorphous silikon, disamping material-material
semikonduktor potensial lain yang dalam sedang dalam penelitian intensif
seperti Cu2ZnSn(S,Se)4 (CZTS) dan Cu2O (copper oxide).
Bagian semikonduktor tersebut terdiri dari junction atau gabungan dari
dua material semikonduktor yaitu semikonduktor tipe-p (material-material yang
disebutkan diatas) dan tipe-n (silikon tipe-n, CdS,dll) yang membentuk p-n
junction. P-n junction ini menjadi kunci dari prinsip kerja sel surya. Pengertian
semikonduktor tipe-p, tipe-n, dan juga prinsip p-n junction dan sel surya akan
dibahas dibagian cara kerja sel surya.
3. Kontak metal / contact grid
Selain substrat sebagai kontak positif, diatas sebagian material
semikonduktor biasanya dilapiskan material metal atau material konduktif
transparan sebagai kontak negatif.
4.Lapisan antireflektif
Refleksi cahaya harus diminimalisir agar mengoptimalkan cahaya yang
terserap oleh semikonduktor. Oleh karena itu biasanya sel surya dilapisi oleh
lapisan anti-refleksi. Material anti-refleksi ini adalah lapisan tipis material dengan
besar indeks refraktif optik antara semikonduktor dan udara yang menyebabkan
cahaya dibelokkan ke arah semikonduktor sehingga meminimumkan cahaya yang
dipantulkan kembali.
5.Enkapsulasi / cover glass
Bagian ini berfungsi sebagai enkapsulasi untuk melindungi modul surya
dari hujan atau kotoran.

14

2.3.3 Perhitungan Pemasangan Panel Surya


Misalnya diambil sebuah contoh pemasangan panel surya pada sebuah
rumah. Rata-rata penggunaan sistem panel surya adalah pada puku 16.00 06.00
(12 jam) dan total daya yang dibutuhkan adalah 2.880 watt.
Beban sebesar 2.880 watt dibagikan dengan 12 V (yaitu tegangan umum
yang dimiliki baterai) maka kuat arus yang dibutuhkan adalah 240 Ampere. Maka,
jika digunakan baterai sebesar 65 Ah 12 V, maka kita membutuhkan empat buah
baterai (65 x 12 x 4 = 3.120 watt).
Dengan mendapatkan 3.120 watt ini, maka akan didapatkan jumlah panel
yang dibutuhkan. Ukuran panel beragam, mulai dari 50 wp, 100 wp, 150 wp, 200
wp, 300 wp, 500 wp. Jika digunakan ukuran panel 100 wp maka dalam sehari
panel ini akan menghasilkan suplai listrik sebesar 500 watt (100 wp x 5 jam),
angka 5 jam merupakan waktu penyinaran efektif untuk negara tropis seperti
Indonesia dalam satu hari. Sehingga total panel yang dibutuhkan adalah sebanyak
7 buah panel (3.120 watt per 500 watt).
Perihal harga, saat ini harga panel surya adalah berkisar 9 10 USD / watt.
Jadi untuk penggunaan 7 panel surya membutuhkan biaya 7,000 USD ( 7 panel x
100 wp x 10 USD ) atau sekitar 74 juta rupiah.

15

BAB III
DAMPAK ENERGI SURYA TERHADAP LINGKUNGAN DAN CARA
PENANGGULANGANNYA
Radiasi Matahari adalah pancaran energi yang berasal dari proses
termonuklir yang terjadi di matahari. Kehidupan manusia memang tidak terlepas
dari sumber-sumber radiasi. Radiasi yang berarti pemancaran atau penyinaran
merupakan penyebaran partikel-patikel elementer dan energi radiasi dari suatu
sumber radiasi.
Menggunakan energi surya memang tidak mengakibatkan polusi udara
atau polusi air, dan tidak juga menghasilkan gas rumah kaca, tetapi tetap memiliki
beberapa dampak tidak langsung terhadap lingkungan. Dampak tersebut antara
lain dijelaskan pada penjelasan dibawah ini.
3.1 Dampak Energi Surya Terhadap Lingkungan
3.1.1 Pada Proses Produksi Modul Surya
Efek lingkungan yang berhubungan dengan manufaktur pembangkit sel
surya khususnya terjadi selama proses produksi sel surya. Dalam beberapa tahun
terakhir, telah dibahas terutama terhadap penggunaan sumber mineral yang langka
dan beracun. Material yang digunakan umumnya adalah silikon. Terdapat juga
material berupa galium arsenide, amorphous silikon, copper indium diselenide,
dan germanium. Dalam pembuatan modul surya sendiri memerlukan senyawa
asam dan basa. Oleh karena itu selama proses pengerjaan modul surya, bahanbahan yang digunakan ini haruslah diolah dahulu sebelum dibuang kelingkungan
begitu saja. Maka dari itu Sistem Manajemen Lingkungan sangatlah penting
diterapkan pada industri panel surya.

16

Gambar 8. Panel Surya


3.1.2 Pada Pemasangan Modul Surya
Pembangkit listrik dengan sel surya yang ditempatkan pada tanah (seperti
pembangkit listrik yang dipasang pada tanah bekas pertanian atau pertambangan)
sebagian atau seluruhnya akan membatasi penggunaan lahan untuk keperluan lain.
Oleh karena permukaan yang ditutupi relatif besar dan juga karena penyerapan
dan pemantulan yang beragam jika dibandingkan dengan lahan pertanian,
pengaruhnya terhadap iklim mikro dapat saja terjadi. Namun, efek lingkungan ini
hanya relevan dalam kasus penggunaan sel surya secara besar-besaran, yang
sangat jarang terjadi karena alasan ekonomi.
Operasi dari pembangkitan dengan sel surya juga berhubungan dengan
transmisi radiasi elektromagnetik (aspek dari kompatibilitas elektromanget). Tidak
seperti pembangkit listrik umumnya, pembangkit dengan sel surya umumnya
dilengkapi dengan kabel arus searah secara besar-besaran dan dalam hal generator
sel surya dibutuhkan permukaan radiasi yang luas, selain itu ditempatkan pada
daerah perumahan penduduk sekitar.
3.2 Penanggulangan Dampak Permasalahan Lingkungan Energi Surya
3.2.1 Penanggulangan Dampak Cadmium terhadap Lingkungan
Upaya penanganan pencemaran logam berat sebenarnya dapat dilakukan
dengan menggunakan proses kimiawi. Seperti penambahan senyawa kimia
tertentu untuk proses pemisahan ion logam berat atau dengan resin penukar ion
(exchange

resins),

serta

beberapa

metode

lainnya

seperti

penyerapan

menggunakan karbon aktif, electrodialysis dan reverse osmosis. Penanganan


logam berat dengan mikroorganisme atau mikrobia (dalam istilah Biologi dikenal

17

dengan bioakumulasi,bioremediasi, atau bioremoval), menjadi alternatif yang


dapat dilakukan untuk mengurangi tingkat keracunan elemen logam berat di
lingkungan perairan tersebut.
3.2.2 Penanggulangan Dampak dari Lahan yang Dipakai sebagai PLTS
Oleh karena permukaan yang ditutupi relatif besar dan juga karena
divergensi penyerapan dan pemantulan yang beragam jika dibandingkan dengan
lahan pertanian, pengaruhnya terhadap iklim mikro dapat saja terjadi. Namun,
efek lingkungan ini hanya relevan dalam kasus penggunaan sel surya secara besarbesaran, yang sangat jarang terjadi karena alasan ekonomi. Operasi dari
pembangkitan dengan sel surya juga berhubungan dengan transmisi radiasi
elektromagnetik (aspek dari kompatibilitas elektromanget). Tidak seperti
pembangkit listrik umumnya, pembangkit dengan sel surya umumnya dilengkapi
dengan kabel arus searah secara besar-besaran dan dalam hal generator sel surya
dibutuhkan permukaan radiasi yang luas, selain itu ditempatkan pada daerah
perumahan penduduk sekitar.
Namun begitu, selama proses pemasangan, umumnya terjamin bahwa
lintasan tertutup dari pengkabelan, yang dapat bersifat sebagai antena dijaga
sekecil mungkin. Hal ini merupakan tindakan protektif untuk menjaga iradiasi dan
penerimaan

radiasi

elektromagnetik.

Penerimaan

radiasi

gelombang

elektromagnetik secara khusus merupakan permasalahan yang kritis dalam hal


terjadinya petir di sekitar modul sel surya dan dapat menghasilkan tegangan dan
arus berlebih jika daerah penerimaannya yang terlalu besar. Rusaknya komponen
listrik dapat terjadi akibat hal tersebut. Namun begitu, medan magnetik dengan
frekuensi rendah yang dihasilkan dari komponen sel surya tidaklah lebih besar
dibandingkan dengan peralatan rumah tangga, dimana emisinya dapat dianggap
lebih rendah seperti jika dibandingkan dengan televisi. Usaha manufaktur dalam
hal desain modul akan lebih jauh mengurangi emisi, sehingga tidak ada pengaruh
yang besar yang dapat terjadi.

18

BAB IV
PENUTUP

Energi surya merupakan energi alternatif yang memiliki potensi cukup


besar di Indonesia. Energi terbarukan ini telah dikembangkan dengan dua metode
yaitu energi surya fotovoltaik yang secara umum dikenal sebagai Pembangkit
Listrik Tenaga Surya Fotovoltaik (PLTS Fotovoltaik) dan energi surya termal
yang mana pemanfaatannya di Indonesia masih dilakukan secara tradisional,
seperti untuk mengeringkan hasil pertanian dan perikanan secara langsung.
Menggunakan energi surya memang tidak mengakibatkan polusi udara atau polusi
air, dan tidak juga menghasilkan gas rumah kaca, tetapi tetap memiliki beberapa
dampak tidak langsung terhadap lingkungan. Meskipun begitu pembangkit listrik
dengan sel surya memiliki kecenderungan terhadap dampak negatif lingkungan
yang rendah, dan dampak negatif ini dapat diminimalisir, dengan syarat bahwa
modul terpasang dan dioperasikan secara baik, pengaruh lingkungan yang
signifikan akan jarang ditemukan.

19

DAFTAR PUSTAKA
Erlinawati, Modul Energi Konvensional dan Non Konvensional.2012
http://www.greenradio.fm/technology/energy/solar-cell/, diakses 18-09-2014
http://www.esdm.go.id/news-archives/, diakses tanggal 18-09-2014
http://www.litbang.esdm.go.id , diakses tanggal 18-09-2014
http://tenagasuryaku.com/2011/12/03/solar-sell/ diakses tanggal 20-09-2014
http://sentradaya.com/solar-cell/ diakses tanggal 20-09-2014
http://konversi.wordpress.com/2009/06/12/dampak-lingkungan-penggunaanphotovoltaic/ diaksess tanggal 20-09-2014