Anda di halaman 1dari 28

RESIDUAL STRESS

Kelompok 10:
1. Douglas Simbolon
(130421007)
2. Hendrik V S
(130421006)
3. Agus Suparjo
4. Rahman Sonowijoyo
(130421036)
5. Lastri Situmorang
6. Wilsen Ginting
7. Bangun Sigalingging
(130421003)
8. Yosua Ignatius

(130421018)

(130421024)
(130421026)

(130421025)

residual stress adalah tegangan yang bekerja pada bahan


setelah semua gaya-gaya luar yang bekerja pada bahan tersebut
dihilangkan. residual stress ditimbulkan karena adanya deformasi
plastis yang tidak seragam dalam suatu bahan, antara lain akibat
perlakuan panas yang tidak merata atau perbedaan laju
pendinginan pada bahan yang mengalami proses pengelasan
Adanya residual stress dalam suatu bahan kemungkinan
dapat menguntungkan atau malah merugikan tergantung pada
fungsi bahan, besar, dan arah tegangan sisa. Walaupun tegangan
sisa secara visual tidak nampak, namun sesungguhnya tegangan
sisa tersebut juga bertindak sebagai beban yang tetap yang akan
menambah nilai beban kerja yang diberikan dari luar.

Teknik pengukuran residual stress

Residual stress measurement techniques

Non Destructive Methods

Destructive
Methods
Residual stresses

Hole Drilling
Method

Curvature
Method

X ray
Diffraction

Neutron
or
Synchroton
diffraction

Ultrasonics

Magnetic
waves

Aplikasi Residual Stress


Kajian Keretakan Drum Bagian Atas Pada
Ketel Uap Pipa Air

Ketel Uap diperlukan di semua industri, baik industri


kimia, tekstil maupun industri pengolahan lainnya serta
pembangkit tenaga listrik. Disamping itu ketel upa juga di
perlukan padakapal laut dan rumah sakit. Prinsip bekerjanya ketel
uap adalah memanaskan air dalam suatu bejana dan setelah
mendidih air itu akan menguap, uap itulah yang digunakan untuk
proses-proses pemanas, pencuci, penggerak dan lain-lain. Ketel
uap pada dasarnya terdiri dari bumbung (drum) yang tertutup
pada ujung dan pangkalnya, dimana pada bagian dalam drum
terdapat pipa-pipa yang yang berfungsi untuk mengalirkan air
atau gas panas. Seperti terlihat pada gambar di bawah,

Ketel uap pipa air

Konstruksi upper drum ketel uap pipa air

Kerusakan komponen
Kerusakan dapat didifinisikan sebagai suatu
perubahan fisik atau unjuk kerja komponen atau struktur
mesin atau peralatan yang tidak mampu melaksanakan fungsi
sebenarnya secara memuaskan. Dengan kata lain suatu
komponen atau struktur dapat dipandang atau dikatakan rusak
apabila memenuhi salah satu dari 3 (tiga) kondisi sebagai
berikut:

bila komponen, peralatan atau konstruksi secara keseluruhan

tidak mampu lagi dioperasikan.


Bila komponen, peralatan atau konstruksi masih mampu
dioperasikan tetapi tidak mampu lebih lama lagi untuk
melaksanakan fungsi seperti yang diharapkan dengan
memuaskan.
Bila komponen, peralatan atau kostruksi dalam kondisi sangat
buruk sehingga tidak dapat diandalkan atau tidak aman lagi untuk
dioperasikan; akibatnya komponen, peralatan atau konstruksi
tersebut harus diperbaiki atau siganti.
Pada kondisi tersebut terakhir, sebelum kerusakan fatal
terjadi biasanya didahului dengan beberapa tahapan gangguan,
seperti mulai atau sering gagal, mulai rusak, memburuk dan
akhirnya rusak total.

Metode Penelitian
Metode penelitian analisa kerusakan upper drum
boiler, secara umum merupakan tata cara penelitian yang
direalisasikan dalam pemeriksaan dan pengujian. Metode
yang dingunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus
(cases study). Diawali dengan melakukan pengumpulan
informasi dan dokumentasi berupa data engineering
(spesifikasi material), data manufactur dan kronologis dari
poros yang rusak. Proses penelitian kerusakan upper drum
boiler ini terdiri dari beberapa tahap beberapa tahap seperti:
pemeriksaan visual, pemeriksaan komposisi kimia, uji tarik,
uji kekerasan, uji metalografi, dan uji fraktografi.

Peralatan Penelitian
Adapun peralatan yang dingunakan pada penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Peralatan pembuatan benda uji, yaitu mesin potong
abrasive, mesin poles, ampelas, dll
2. Peralatan spectrometer dengan sistem komputerisasi
untuk analisa komposisi kimia.
3. Peralatan uji fraktografi
4. Peralatan uji structur mikro berupa mikroskop optic.
5. Peralatan uji mekanis, seperti alat uji kekerasan dan alat
uji tarik.
6. Perelatan uji EDX ( energy dispersive X-Ray)

Potongan sampel uji drum bagian atas

Pemeriksaan Komposisi Kimia


C
Hasil Uji

Hasil Uji 2
SA 515 Gr 70
Specs.

0.129

Mn

Si

Fe

1.36

0.017

0.003

0.281

Balance

0.171 1.398

0.023

0.010

0.265

Balance

< 0.27 < 0.98 < 0.035 < 0.035 0.13 -0.45 Balance

Data dalam tabel menunjukkan bahwa kekuatan material upper


drum water tube memenuhi spesifikasi SA 515 Grade 70

Uji Tarik
Test-1

Test-2

SA 515 Gr 70
Specs.

Tensile Strength, N/mm2

500

500

485 - 620

Yield Strength, N/mm2

314

314

260

Elongation, %

30

31

21

Data dalam tabel menunjukkan bahwa kekuatan material upper drum


menunjukkan water tube memenuhi spesifikasi SA 515 Grade 70

Uji Kekerasan
Uji kekerasan mikro dilakukan dengan menggunakan alat
uji Vickers dengan beban 200 gram. Pengujian dilakukan di
daerah base metal, heat affected zone (HAZ), dan weld metal.
Hasil uji tersebut ditunjukkan dalam Tabel.
Location

Measurement (VHN)

Average Hardness
(VHN)

Base metal

177, 187, 177, 177

180

HAZ

171, 155, 168

165

Weld Metal

171, 168, 171, 171

170

Kekerasan base metal adalah 180 VHN, lebih tinggi dari


kekerasan weld metal dan HAZ. Data kekerasan ini menunjukkan
bahwa tidak terjadi penggetasan akibat pengelasan

Uji Metalografi

Photo makro etsa sample metallografi Upper Drum. Etsa; nital 2%


Retak dimulai dari diameter luar Upper Drum, perbesaran 5x

Struktur mikro berupa ferrite (putih)-Pearlite (hitam) dan terjadi


Transgranular CorrosionCrackings. Etsa: nital 2%, perbesaran 500x

Uji Fraktografi

Foto SEM retakan antar butir akibat SCC

Hasil difraksi sinar-x deposit dalam tube

Hasil difraksi sinar-x deposit permukaan luar tube

Hasil uji energy dispersive spectroscopy (EDS)

Unsur-unsur deposit permukaan dalam lebih banyak,


karena berasal dari endapan chemical untuk water treatment,
sedangkan unsur-unsur di permukaan luar hanyalah berasal
dari oksida besi dan oksida silika.
Deposit permukaan dalam mengandung kalium dan chlor.

Dari data-data hasil uji, maka ada beberapa


kemungkinan penyebab retaknya top water tube drum
tersebut adalah overheating, creep, laminasi,
hydrogen embrittlement, dan stress corrosion cracking

Stress Corrosion Cracking


Stress corrosion cracking adalah penyebab terjadinya retak pada top water
tube drum. Stress corrosion cracking pada carbon steel dapat terjadi akibat
akumulasi dari KOH ataupun NaOH pada temperature di atas 100 oC. SCC yang
disebabkan oleh KOH atau NaOH seringkali dikenal sebagai caustic stress
corrosion cracking.
Beberapa alasan yang mendukung bahwa retakan tersebut disebabkan oleh

SCC adalah:

Retakan tersebut melalui batas butir

Retakan yang terjadi adalah retakan bercabang

Terdapat trace K dalam deposit di permukaan dalam


Temperatur drum berada antara 100 sampai 250 oC.

SCC akan lebih mudah terjadi pada daerah lasan, karena terjadinya
akumulasi KOH dalam cacat di daerah lasan tersebut. Walaupun jumlah
K yang terdeteksi sangat kecil, tetapi akumulasi KOH dalam cacat akan

menyebabkan kenaikan konsentrasinya.


Penambahan KOH kedalam water treatment bertujuan untuk
menaikkan pH sehingga tidak terjadi pitting corrosion. Penambahan ini

tidak boleh terlalu berlebihan karena dapat mengakibatkan SCC

Kesimpulan percobaan
Pemeriksaan struktur mikro menunjukkan bahwa retakan yang

terjadi adalah akibat stress corrosion cracking, karena ditandai


dengan terbentuknya sejumlah retakan yang bercabang (cracks
braching).
Faktor penyebab terjadinya SCC ini adalah tegangan tarik yang
bersenergi dengan lingkungan korosif. Sumber tegangan sisa adalah
dari proses pengelasan pada drum boiler pada saat plugging. Di
samping itu, tegangan sisa kemungkinan juga terjadi akibat pengaruh
cold forming. Sedangkan lingkungan korosif diperkirakan
disebabkan oleh pengaruh air umpan boiler.
Retak yang terjadi membentuk pola transgranular.
SCC dapat terjadi karena akumulasi KOH di daerah cacat las dan
temperature kerja adalah antara 100 sampai 250 oC.
Pemeriksaan deposit dengan difraksi sinar-x menunjukkan bahwa
deposit permukaan dalam tube mengandung banyak posfat dan
karbonat, sedangkan permukaan luar tube hanya mengandung oksida
besi.

Pemeriksaan komposisi kimia menunjukkan bahwa terdapat

trace K yang berasal dari KOH dan menjadi penyebab


terjadinya SCC. KOH tersebut akan berakumulasi dalam cacat
las dan mengawali retakan.
SCC akibat KOH (caustic) tersebut dapat dihindari dengan
tidak melakukan pengelasan di daerah drum, dan mengatur pH
agar berada didaerah aman.

Terima kasih