Anda di halaman 1dari 4

Nama: Gama Ufiz Arfakhsyadz (0706163962)

Nama Partner: Annisa Rizkytia (0706276860)


Mata Kuliah: Praktik Peradilan Tata Usaha Negara
Fakultas : Hukum
ANALISIS KASUS POSISI MEREK

Kasus Posisi
Pada tanggal 14 Februari 2005, PT. Petualang telah mengajukan Permohonan Pendaftaran
Merek Dagang ADVENTUROUS TRAVEL dibawah Nomor Agenda : D00-2005-028402853 dengan jenis jasa paket wisata dan agen perjalanan.Permohonan Pendaftaran Merek
tersebut telah ditolak oleh Direktur Merek padaDirektorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual
dengan Surat Keputusan tanggal 4 September 2006 Nomor : D00-01-02840 dengan alasan :
Merek ADVENTUROUS TRAVEL tersebut mempunyai persamaan pada pokoknya dengan
Merek milik orang lain yang sudah terdaftar lebih dahulu dengan Nomor Daftar : 346210
untuk barang sejenis yang mempunyai merek ADVENTUROUS. (Pasal 6 ayat (1) UndangUndang
Nomor
15
Tahun
2001
Tentang
Merek).
Lalu, PT. Petualangmenempuh upaya Banding Administratif kepada Komisi Banding Merek
pada tanggal 4 Desember 2006 sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam Bagian Keenam
Bab IV Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001. Menurut Pasal 31 Undang-undang Nomor 5
Tahun 2001, Keputusan Komisi Banding Merek diberikan dalam waktu paling lama 3 (tiga)
bulan sejak tanggal Penerimaan Permohonan Banding, berarti selambat-lambatnya tanggal 5
Maret 2007. Akan tetapi, sampai dengan tanggal 5 Maret 2007 Komisi Banding Merek
ternyata tidak juga memberikan keputusannya, sehingga menurut Pasal 3 ayat (2) Undangundang Nomor 5 Tahun 1986 telah terjadi penolakan yang bersifat fiktif.
Dalam hal demikian, menurut Pasal 3 ayat (2) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1986 dan
Pasal 53 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004, PT. Petualang mengajukan gugatan kepada
Pengadilan Tata Usaha Negara dengan objek gugatan Surat Keputusan tanggal 4 September
2006 Nomor : D00-01-02840 tentang Penolakan Permohonan Pendaftaran Merek
Adventurous Travel. Gugatan tersebut berdasarkan bahwa menurut ilmu hukum dan
yuriprudensi, dalam menentukan ada tidaknya persamaan pada pokoknya antara suatu Merek
dengan Merek yang lain, maka merek-merek yang bersangkutan harus dipandang pada
keseluruhannya sebagai satu kesatuan yang bulat tanpa mengadakan pemecahan atas bagianbagian dari merek-merek tersebut. (lihat putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia
Nomor : 431 K/Pdt/1993 tanggal 17September 1994 dalam kasus Cola Candy versus Coca
Cola, Nomor : 2452 K/Pdt/1989 tanggal 25 September 1991 dalam kasus Sen Thong versus
Xiao Shen Tong, Nomor : 389 K/Pdt/1988 tanggal 3 Juli 1992 dalam kasus Bally dan Tally,
Nomor. 2451 K/Pdt/1989 tanggal 1 April 1991 jo putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat
Nomor : 565/Pdt.G.D/1988/PN.Jkt.Pst tanggal 16 Maret 1989 dalam kasus Salute versus
Royal Salute)

Analisis Objek Gugatan


Objek gugatan dalam suatu peradilan tata usaha negara adalah Keputusan Tata Usaha
Negara. Sedangkan yang dimaksud Keputusan Tata Usaha Negara (TUN) menurut ketentuan
Pasal 1 angka 9 UU No. 51 tahun 2009 tentang perubahan kedua UU No. 5 Tahun 1986
tentang Peradilan Tata Usaha Negara adalah suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh
Badan/Pejabat TUN yang berisi tindakan hukum TUN berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku, yang bersifat konkrit, individual dan final sehingga menimbulkan
akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.
Dari rumusan pasal tersebut, persyaratan keputusan TUN yang dapat menjadi obyek di
Pengadilan TUN meliputi :
1. Penetapan tertulis;
2. Dikeluarkan oleh Badan/Pejabat TUN;
3. Berisi tindakan hukum TUN;
4. Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
5. Bersifat konkrit, individual dan final;
6. Menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.
Keenam persyaratan tersebut bersifat komulatif, artinya untuk dapat dijadikan obyek
sengketa di Peradilan TUN, keputusan TUN harus memenuhi keenam persyaratan tersebut.
Sekarang mari kita analisis keenam persyaratan tersebut terhadap Keputusan Presiden Nomor
37 Tahun 2009 tentang Satuan Tugas Pemberantasan Mafia Hukum.
1.Penetapan tertulis;
Surat Keputusan tanggal 4 September 2006 Nomor : D00-01-02840 tentang
Penolokan Permohonan Pendaftaran Merek Adventurous Travel merupakan suatu
keputusan yang tertulis.
2.Dikeluarkan oleh Badan/Pejabat TUN;
Surat Keputusan tanggal 4 September 2006 Nomor : D00-01-02840 tentang
Penolokan Permohonan Pendaftaran Merek Adventurous Travel dikeluarkan oleh
Pejabat TUN, yaitu Direktu Merek pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan
Intelektual.
3.Berisi tindakan hukum TUN;
Tindakan hukum TUN yang terdapat dalam Surat Keputusan tanggal 4
September 2006 Nomor : D00-01-02840 tentang Penolokan Permohonan

Pendaftaran Merek Adventurous Travel adalah menolak suatu permohonan


pendaftaran merek.
4.Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku;
PengeluaranSurat Keputusan tanggal 4 September 2006 Nomor : D00-0102840 tentang Penolokan Permohonan Pendaftaran Merek Adventurous Travel ini
berdasarkan peraturan peundang-undangan yang berlaku, yaitu: Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek.
5.Bersifat konkrit, individual dan final;
Surat Keputusan tanggal 4 September 2006 Nomor : D00-01-02840 tentang
Penolokan Permohonan Pendaftaran Merek Adventurous Travel bersifat konkrit,
yaitu menolak permohonan pendaftaran merek Adventurous Travel.
Surat Keputusan tanggal 4 September 2006 Nomor : D00-01-02840 tentang
Penolokan Permohonan Pendaftaran Merek Adventurous Travel juga bersifat
indvidual, di mana ditujukan kepada PT. Petualang.
Surat Keputusan tanggal 4 September 2006 Nomor : D00-01-02840 tentang
Penolokan Permohonan Pendaftaran Merek Adventurous Travel bersifat final, di
mana sudah berkekuatan hukum tetap sehingga tidak memerlukan lagi persetujuan
lagi.
6.Menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.
Surat Keputusan tanggal 4 September 2006 Nomor : D00-01-02840 tentang
Penolokan Permohonan Pendaftaran Merek Adventurous Travel menimbulkan
akibat hukum bagi badan hukum perdata, yaitu PT. Petualang
Akibat hukumnya adalah PT. Petualang tidak boleh menggunakan merek
Adventurous Travel.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa Surat Keputusan tanggal 4 September 2006 Nomor : D00-0102840 tentang Penolokan Permohonan Pendaftaran Merek Adventurous Travel adalah sebuah
objek gugatan TUN. Hal ini dikarenakan Keputusan tersebut telah memenuhi syarat sebagai
Keputusan Tata Usaha Negara yaitu suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh
Badan/Pejabat TUN yang berisi tindakan hukum TUN berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku, yang bersifat konkrit, individual dan final sehingga menimbulkan
akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata.

Analisis Para Pihak


Berdasarkan Pasal 1 poin 10 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 yang berbunyi
Sengketa Tata Usaha Negara adalah sengketa yang timbul dalam bidang tata usaha negara
antara orang atau badan hukum perdata dengan badan atau pejabat tata usaha negara, baik di
pusat maupun di daerah, sebagai akibat dikeluarkannya keputusan tata usaha negara,

termasuk sengketa kepegawaian berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


Ini berarti penggugat adalah orang atau badan hukum perdata. Dalam kasus ini, penggugat
adalah badan hukum perdata, yaitu PT. Petualang.
Berdasarkan Pasal 1 poin 12 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 yang berbunyi,
Tergugat adalah badan atau pejabat tata usaha negara yang mengeluarkan keputusan
berdasarkan wewenang yang ada padanya atau yang dilimpahkan kepadanya yang digugat
oleh orang atau badan hukum perdata. Lalu, menurut Pasal 1 poin 8 Undang-Undang Nomor
51 Tahun 2009 yang berbunyi, Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara adalah badan atau
pejabat yang melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan
yang berlaku. Dalam kasus ini, tergugat adalah pejabat tata usaha negara, yaitu Direktur
Merek pada Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa penggugat adalah badan hukum perdata, yaitu PT.
Petualang, dan tergugat adalah pejabat tata usaha negara, yaitu Direktur Merek pada
Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.